0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
254 tayangan54 halaman

Pengaruh Perawatan Wire Rope di MV. MDM Bromo

[Ringkasan] Skripsi ini membahas pengaruh perawatan wire rope alat bongkar muat terhadap kelancaran proses bongkar muat di MV. MDM Bromo. Wire rope merupakan komponen penting alat bongkar muat yang menghubungkan gerakan motor ke alat. Perawatan wire rope yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan proses bongkar muat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dampak dari perawatan wire rope yang tidak tepat dan merumuskan pedoman per

Diunggah oleh

Ardya Wahyu Wibowo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
254 tayangan54 halaman

Pengaruh Perawatan Wire Rope di MV. MDM Bromo

[Ringkasan] Skripsi ini membahas pengaruh perawatan wire rope alat bongkar muat terhadap kelancaran proses bongkar muat di MV. MDM Bromo. Wire rope merupakan komponen penting alat bongkar muat yang menghubungkan gerakan motor ke alat. Perawatan wire rope yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan proses bongkar muat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dampak dari perawatan wire rope yang tidak tepat dan merumuskan pedoman per

Diunggah oleh

Ardya Wahyu Wibowo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PERAWATAN WIRE ROPE ALAT

BONGKAR MUAT TERHADAP KELANCARAN


PROSES BONGKAR MUAT DI MV. MDM BROMO

SKRIPSI

Untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan Pelayaran pada


Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang

Oleh

M. FAISAL SAFIUDIN
NIT. 531611105975 N

PROGRAM STUDI NAUTIKA DIPLOMA IV


POLITEKNIK ILMU PELAYARAN
SEMARANG
2020

i
ii
iii
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :

1. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S Al-Baqarah 216)

2. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau


telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang
lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (Qs. Al-Insyirah,6-8)

Persembahan:
1. Orang tua
2. Almamater PIP Semarang
3. Saudara kandung

vi
PRAKATA

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas

segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat menyusun dan menyelesaikan

penelitian yang berudul "PENGARUH PERAWATAN WIRE ROPE ALAT

BONGKAR MUAT TERHADAP KELANCARAN PROSES BONGKAR

MUAT DI MV. MDM BROMO"

Penulisan skripsi ini disusun bertujuan untuk memenuhi persyaratan sebagai

tugas akhir (semester VIII) Program Diploma IV di Politeknik Ilmu Pelayaran

Semarang. Dan untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan Pelayaran (S. Tr. Pel)

dalam bidang Nautika Program Diploma IV di Politeknik Ilmu Pelayaran

Semarang.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan,

dukungan, dan saran serta petunjuk dari berbagai pihak dengan penuh kesabaran

dan keikhlasan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyarnpaikan

ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Dr. Capt. Mashudi Rofik, [Link]., selaku Direktur Politeknik Ilmu

Pelayaran Semarang.

2. Bapak Capt. Dwi Antoro, M.M., [Link]., selaku Ketua Program Studi Nautika

Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang.

3. Bapak Dr. Capt. Mashudi Rofik, [Link]., selaku Dosen Pembimbing Materi

Skripsi atas arahan dan bimbingannya.

vii
4. Bapak Vega Fonsula Andromeda, [Link], [Link]., M.T. selaku Dosen

Pembimbing Metodologi Penelitian dan Penulisan atas arahan dan

bimbingannya.

5. Seluruh Jajaran Dosen, dan Staf Pengajar Politeknik Ilmu Pelayaran

Semarang yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dalam penyusunan

skripsi ini.

6. Ibu Rumiyati dan Bapak Ngadiono yang senantiasa memberikan dukungan

dan doa agar peneliti dalam menggapai harapannya.

7. Seluruh crew MV. MDM BROMO, PT. Meratus Advance Maritim.

8. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang membantu

dalam menyelesaikan penelitian ini.

Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amalan

yang akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Akhir kata, penulis berharap

semoga skripsi ini dapat memberikan pengetahuan yang baru serta bermanfaat

bagi berbagai pihak.

Semarang,.........................2020

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... iii

HALAMAN PERNYATAAN.............................................................................iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................... v

PRAKATA ............................................................................................... vii

DAFTAR ISI ........................................................................................... ix

DAFTAR TABEL ..................................................................................... xi

DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xii

DAFTAR LAMPIRAN…............................................................................ xiii

ABSTRAKSI ............................................................................................. xiv

ABSTRACT .............................................................................................. xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................... 1

1.2 Perumusan Masalah ........................................................... 2

1.3 Batasan Masalah ................................... .............................. 3

1.4 Tujuan Penelitian ................................................................ 3

1.5 Manfaat Penelitian ............................................................. 3

1.6 Sistematika Penulisan..................................................................5

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Tinjuan Pustaka ................................................................. 7

ix
2.2 Definisi Operasional .......................................................... 18

2.3 Kerangka Pikir Penelitian .................................................. 19

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Desain Penelitian ....................................... 21

3.2 Fokus dan Lokus Penelitian ................................................ 23

3.3 Sumber Data Penelitian....................................................... 23

3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................. 25

3.5 Teknik Keabsahan Data ...................................................... 27

3.6 Teknik Analisis Data .......................................................... 28

BAB IV ANALISA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Obyek Yang Diteliti ............................... 30

4.2 Analisa Hasil Masalah ........................................................ 33

4.3 Pembahasan Masalah ......................................................... 41

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ........................................................................ 60

5.2 Saran ................................................................................. 61

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

x
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Ship Particular MV. MDM Bromo.....................................................32

xi
DAFTAR

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir..........................................................................19

Gambar 4.1 MV. MDM Bromo.........................................................................32

xii
DAFTAR

Lampiran 1 Wawancara 1..................................................................................64

Lampiran 2 Wawancara 2..................................................................................68

Lampiran 3 Gambar wire rope rantas dan putus................................................69

Lampiran 4 Gambar perawatan wire crane dan wire grab................................70

Lampiran 5 Gambar wire rope baru dan wire rope lama..................................71

Lampiran 6 Ship’s Maintenance Plan................................................................72

Lampiran 7 Monthly report of maintenance......................................................75

Lampiran 8 Crew list..........................................................................................76

Lampiran 9 Ship’s particulars............................................................................77

xiii
ABSTRAK

M. Faisal Safiudin, 2020. NIT: 531611105975 N, “Pengaruh Perawatan Wire


Rope Alat Bongkar Muat Terhadap Kelancaran Proses Bongkar Muat Di
MV. MDM Bromo”, Program Diploma IV, Program studi Nautika,
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Dr. Capt. Mashudi
Rofik, [Link]., Pembimbing II: Vega Fonsula Andromeda, [Link], [Link]., M.T.

Alat bongkar muat merupakan faktor penting untuk kelancaran kegiatan


bongkar muat. Alat bongkar muat memiliki komponen yang membuat alat tersebut
dapat dioperasikan. Komponen tersebut adalah wire rope yaitu sebagai penerus
dari gerakan yang dihasilkan dari motor penggerak. Berdasarkan fakta tersebut
penulis menulis skripsi dengan judul ”Pengaruh Perawatan Wire Rope Alat
Bongkar Muat Terhadap Kelancaran Proses Bongkar Muat di MV. MDM
Bromo”. Permasalahan yang penulis angkat yaitu: Dampak yang ditimbulkan dari
perawatan wire rope yang tidak tepat, perawatan wire rope yang tepat, dan
pengaruh perawatan wire rope yang tepat terhadap kelancaran proses bongkar
muat.
Metode penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif
kualitatif. Sumber data dari penelitian ini berasal dari hasil pengamatan,
wawancara, dan dokumentasi selama peneliti di atas kapal, kemudian dianalisa
menjadi sebuah temuan yang diberikan pemecahan masalahnya dan menjadi
sebuah tulisan penelitian.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dampak dari perawatan wire rope yang
tidak tepat meliputi wire rope cepat mengalami kerusakan bahkan putus dan wire
rope hoisting mengalami twist. Perawatan yang tepat yaitu sesuai ship's
maintenance plan (rencana perawatan kapal). Pengaruh prosedur perawatan
tersebut meliputi meningkatkan perform alat bongkar muat, terhindar dari
kerusakan atau hambatan dan meningkatkan kecepatan waktu bongkar muat.

Kata kunci: Alat bongkar muat, wire rope, ship's maintenance plan

xiv
ABSTRACT

M. Faisal Safiudin, 2020. NIT: 531611105975 N, “The Effect of Wire Rope Care
of Loading and Unloading Tool on the Smooth Loading and Unloading
Process in MV. MDM Bromo”, Diploma IV Program, Nautical Studies
Program, Semarang Sailing Science Polytechnic, Supervisor I: Dr. Capt.
Mashudi Rofik, [Link]., Supervisor II: Vega Fonsula Andromeda, [Link],
[Link]., M.T.

Loading and unloading equipment is an important factor for the smooth


loading and unloading activities. The loading and unloading tool has components
that make the tool running. The component is the wire rope which is the successor
of the movement produced by the drive motor. Based on these facts, the author
wrote a thesis entitled "The Effect of Wire Rope Care of Loading and Unloading
Tool on the Smooth Loading and Unloading Process in MV. MDM Bromo”. The
issues raised by the author are: The impact caused by improper wire rope
treatment, proper wire rope treatment, and the effect of proper wire rope treatment
on the smooth loading and unloading process.
The research method in writing this thesis is a qualitative descriptive
method. The source of data from this study came from the results of observations,
interviews, and documentation during the researcher on board, then analyzed into
a solution given the problem solving, and into a research paper.
The results showed that the impact of improper wire rope treatment
including wire rope quickly damaged and even broken and wire rope hoisting
suffered a twist. Proper care is by following per under the ship's maintenance
plan. The effects of these treatment procedures include improving the loading and
unloading equipment, avoiding damage or obstruction, and increasing the loading
and unloading speed.

Keywords: Load loading, wire rope, ship's maintenance plan

xv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Dunia perdagangan, baik perdagangan nasional maupun internasional,

maka pelayaran niaga sangat berperan penting untuk pendistribusian barang.

Hampir sebagian besar barang ekspor dan impor menggunakan sarana

angkutan kapal laut, dan sebagian kecil pengangkutan dilakukan oleh moda

transportasi lain. Pengangkutan barang dengan kapal laut dipilih karena

jumlah barang yang diangkut akan lebih besar dan biaya angkut lebih kecil

di bandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya. Salah satu

tujuan pengangkutan melalui kapal laut adalah mengangkut muatan melalui

laut dengan cepat dan selamat sampai ke tempat tujuan agar perusahaan

akan mendapatkan keuntungan yang besar sebagai mana telah di tetapkan

oleh perusahaan tersebut.

Kelancaran operasional kapal ditentukan oleh kondisi operasional kapal

pada waktu melakukan kegiatan operasional bongkar muat dan pengurusan

administrasi di pelabuhan asal dan pelabuhan tujuan. Untuk kelancaran

kegiatan bongkar muat dari dan ke kapal, peralatan alat bongkar muat

merupakan salah satu faktor yang terpenting untuk menjamin kegiatan

bongkar muat di pelabuhan (Andromeda & Pratama, 2018).

Di kapal MV. MDM Bromo, tempat dimana penulis melaksanakan

praktek laut memiliki 5 buah palka di mana kelima palka tersebut besarnya

tidak sama dan di setiap masing-masing palka tersebut di lengkapi dengan

1
2

alat bongkar muat yaitu : 4 buah Crane dan 4 buah Grab. Alat bongkar muat

tersebut memiliki komponen – komponen tertentu yang membuat alat

tersebut dapat dioperasikan. Salah satu komponen tersebut adalah wire rope

yaitu sebagai penerus dari gerakan yang dihasilkan dari motor penggerak

(winch) dalam alat bongkar muat. Mengingat pentingnya wire rope dalam

alat bongkar muat diatas kapal, maka wire rope tersebut secara rutin harus

selalu dirawat dengan baik. Dengan adanya perawatan wire rope secara

rutin diharapkan tidak ada lagi kendala pada wire rope alat bongkar muat

saat proses bongkar muat berlangsung, sehingga proses bongkar muat dapat

berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan. Berdasarkan uraian

tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul :

“Pengaruh Perawatan Wire Rope Alat Bongkar Muat Terhadap

Kelancaran Proses Bongkar Muat di MV. MDM Bromo”.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, penulis

mengidentifikasikan pokok-pokok permasalahan yang dirumuskan sebagai

berikut:

1.2.1. Apakah dampak yang ditimbulkan dari perawatan wire rope alat

bongkar muat yang tidak tepat ?

1.2.2. Bagaimana perawatan wire rope alat bongkar muat yang tepat

sehingga dapat memperlancar proses bongkar muat?

1.2.3. Bagaimana pengaruh perawatan wire rope alat bongkar muat yang

tepat terhadap kelancaran proses bongkar muat?


3

1.3. Batasan Masalah

Mengingat luasnya pembahasan ini penulis menyadari akan

keterbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki penulis, serta

agar masalah yang akan dibahas menjadi lebih spesifik dan tidak terlalu

luas, maka penulis perlu membatasi masalahnya khusus pada pengaruh

perawatan wire rope alat bongkar muat berupa crane dan grab diatas kapal

MV. MDM Bromo. Selama penulis melaksanakan praktek laut.

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulis melakukan penelitian dan menuangkan

kedalam skripsi adalah:

1.4.1. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari perawatan wire rope

alat bongkar muat yang tidak tepat.

1.4.2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perawatan wire rope alat

bongkar muat yang tepat sehingga dapat memperlancar proses

bongkar muat.

1.4.3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perawatan wire rope alat

bongkar muat yang tepat terhadap kelancaran proses bongkar muat.

1.5. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat – manfaat dari penulisan skripsi ini yaitu :

1.5.1. Manfaat Secara Teoritis

Penelitian ini bermanfaat menambah pengetahuan dalam bidang

perawatan wire rope alat bongkar muat di kapal MV. MDM Bromo.
4

1.5.2. Manfaat Secara Praktis

[Link]. Bagi penulis

[Link].1. Berguna untuk melengkapi dan memenuhi sebagian

syarat akademika guna memperoleh gelar Sarjana

Terapan Pelayaran di Politeknik Ilmu Pelayaran

Semarang.

[Link].2. Penulis dapat memperdalam pengetahuan di bidang

perawatan alat bongkar muat kapal dengan benar

sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,

sehingga dapat mengetahui dan melaksanakan

perawatan wire rope alat bongkar muat yang berada

diatas kapal.

[Link]. Bagi pihak crew kapal

Sebagai bahan masukan kepada pihak-pihak terkait di atas

kapal seperti mualim, cadet, bosun, juru mudi tentang

bagaimana cara menanggulangi gangguan yang di alami alat

bongkar muat dan untuk mengetahui bagaimana merawat wire

rope alat bongkar muat sesuai prosedur dalam menunjang

kelancaran proses bongkar muat di kapal MV. MDM Bromo.

[Link]. Institusi Terkait

Menambah perbendaharaan karya ilmiah di kalangan Taruna

Politeknik Pelayaran Semarang, khususnya jurusan Nautika.


5

1.6. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi V bab, dimana masing-

masing bab saling berkaitan sehingga tercapai tujuan yang ingin penulis

capai dalam penulisan skripsi ini. Sistematika tersebut dapat diuraikan

sebagai berikut:

1.6.1. Bagian Awal

Bagian awal skripsi ini mencakup halaman sampul depan, halaman

judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman kata

pengantar, halaman motto, halaman persembahan, daftar isi, daftar

gambar, daftar lampiran, dan abstraksi.

1.6.2. Bagian Utama

Bagian utama skripsi ini penulis sajikan dalam 5 bab yang memiliki

keterkaitan antara bab satu dengan yang lainnya, sehingga penulis

berhaarap supaya pembaca dapat dengan mudah memahami seluruh

uraian dalam skripsi ini. Adapun sistematika tersebut adalah sebagai

berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini diuraikan tentang berbagai aspek antara lain latar

belakang masalah skripsi, perumusan masalah, batasan masalah,

tujuan penelitian serta sistematika penulisan skripsi ini.

BAB II : LANDASAN TEORI

Pada bab ini menjelaskan mengenai uraian yang melatar belakangi

pemilihan judul, perumusan masalah yang diambil, pembatasan


6

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika

penulisan.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan tentang tinjauan pustaka atau pemikiran-

pemikiran yang melandasi judul penelitian yang disusun sedemikian

rupa sehingga merupakan satu kesatuan utuh yang dijadikan

landasan penyusunan kerangka pemikiran dan definisi operasional

tentang variabel atau istilah lain dalam penelitian yang dianggap

penting.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN MASALAH

Bab ini merupakan inti ataupun isi pokok dari skripsi yang penulis

tulis. Pada bab ini terdiri dari gambaran umum objek yang diteliti,

analisa masalah, dan pembahasan masalah.

BAB V : PENUTUP

Sebagai bagian akhir dari penulisan skripsi ini, maka akan ditarik

kesimpulan dari hasil analisa dan pembahasan masalah. Dalam bab

ini, penulis juga akan menyumbangkan saran yang mungkin dapat

bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait sesuai dengan fungsi

penelitian.

1.6.3. Bagian Akhir

Bagian akhir skripsi ini mencakup daftar pustaka, daftar riwayat

hidup, dan lampiran. Pada halaman lampiran berisi data/keterangan

lain yang menunjang uraian yang disajikan dalam bagian utama

skripsi.
BAB II

LANDASAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1. Perawatan

Pengertian perawatan menurut NSOS (1990) pada

umumnya merupakan faktor tunggal terpenting untuk

menyesuaikan diri dengan masyarakat modern, namun terdapat

juga beberapa bidang dimana perawatan memainkan peranan

sedemikian dominan seperti dalam pelaayaran, kita mengetahui

juga bahwa perawatan itu mahal dan hal ini merupakan godaan

terhadap setiap orang untuk menunda perawatan sampai waktu

yang akan datang dan menyimpan uangnya. Jika kita tunduk

kepada strategi ini, maka akhirnya cepat atau lambat kita tidak

akan mempunyai uang lagi untuk disimpan1.

[Link] Perawatan Insidental Terhadap Perawatan Berencana

Perawatan insidentil mempunyai arti yaitu

membiarkan mesin bekerja sampai mengalami kerusakan.

Modal operasi ini sangat mahal, oleh karena itu beberapa

sistem perencanaan diterapkan dengan sistem perawatan

berencana, tujuannya untuk memperkecil kerusakan dan

beban kerja dari suatu pekerjaan perawatan yang

diperlukan.

1
NSOS, Manajemen Perawatan dan Perbaikan, (Jakarta : Direktur Jendral Perhubungan Laut, 1990), hlm. 13 – 18.

7
8

[Link] Perawatan Rutinitas Terhadap Pemantauan Kondisi

Perawatan rutinitas ini diatas kapal MV. MDM

Bromo di lakukan oleh crew kapal secara rutin dan berkala

selama kapal mengadakan pelayaran dari pelabuhan muat

ke pelabuhan bongkar. Hal ini di lakukan untuk

memastikan bahwa kondisi peralatan bongkar muat tidak

ada yang mengalami kerusakan. Dengan adanya

perawatan secara rutin di harapkan alat bongkar muat di

kapal selalu dalam keadaan baik dan selalu siap di

gunakan.

2.1.3. Alat Bongkar Muat

[Link]. Menurut Suyono (2001) peralatan bongkar muat adalah :

alat-alat pokok penunjang pekerjaan bongkar muat2.

Alat bongkar muat muatan curah antara lain :

[Link].1. Grabes adalah sebuah alat yang berbentuk

sekop yang di gunakan untuk melakukan

operasi bongkar muat di kapal, biasanya di

gerakkan dengan derrick winch. Fungsi dari

grabes adalah sebagai alat utama untuk

mengeruk batu bara dari tongkang atau dari

palka ke dermaga pelabuhan.

[Link].2. Dozzer adalah alat berat untuk meratakan batu

bara dari tongkang atau di dalam palka.

2
R.P. Suyono, SHIPPING : Pengangkutan Intermodal Ekspor Impor Melalui Laut, (Jakarta : Penerbit PPM, 2001), hlm
182.
9

[Link]. Menurut Istopo dalam bukunya yang berjudul ”Kapal dan

Muatannya” dijelaskan bahwa yang termasuk dalam alat –

alat bongkar muat antara lain sebagai berikut :

[Link].1. Tiang

[Link].2. Boom atau (batang pemuat)

[Link].3. Deck Crane (geladak kran)

[Link].4. Derrick winch (mesin derek)

Dibeberapa negara, menggunakan peralatan tersebut

didasarkan atas sertifikat yang dikeluarkan surveyor.

International Cargo Gear Bearau (ICGB) atau (biro

klasifikasi tentang peralatan bongkar muat) menyatakan,

bahwa setelah melakukan tes atau memeriksa, maka

peralatan tersebut telah memenuhi syarat keamanannya.

Pada kapal pelayaran samudra, setiap tiang pada umumnya

terdapat paling sedikit 2 (dua) buah batang pemuat (boom)

(Istopo, 1999)3.

Di kapal kami terdiri dari 5 palka dan memiliki 4

single boom yang di gunakan untuk memuat muatan curah

batu bara. Boom (batang pemuat) itu pada umumnya

terdiri dari tabung Mannemas yang mampu mengangkat

sesuai yang tertera pada bagian boom (batang pemuat)

sebelah bawahnya, misalnya SWL 35 ton ( Safety Working

Load 35

3
Istopo, Kapal dan Muatannya, (Jakarta : Koperasi Karyawan BP3IP, 1999), hlm. 17.
1

ton ) artinya boom (batang pemuat) tersebut mampu

mengangkat beban seberat 35 ton dengan aman.

Adapun alat-alat bongkar muat muatan tersebut adalah :

[Link].1. Ship’s crane

Ship’s crane merupakan alat bongkar muat yang

terdapat pada kapal. Alat tersebut digerakan

dengan winch crane (mesin penggerak crane)

dan dikombinasikan dengan menggunakan

penggaruk (grab), berfungsi untuk mengambil

muatan. Ship’s crane terdiri dari:

[Link].1.1 Tiang Crane yang dilengkapi

dengan lampu untuk menerangi

kegiatan bongkar muat pada malam

hari guna membantu penglihatan

operator crane.

[Link].1.2. Batang pemuat (Boom) yang

dilengkapi dengan hydraulic untuk

mengangkat batang pemuat keatas.

[Link].1.3. Crane house atau rumah crane

adalah tempat untuk mengontrol

crane tersebut dimana operator

sebagai pengoperasiannya.

[Link].1.4. Cargo block atau kerek muat adalah


1

jalur wire untuk bergerak yang

berada di ujung batang pemuat.

[Link].1.5. Wire drum merupakan tempat letak

wire atau tempat melilitnya wire.

[Link].1.6. Wire merupakan penerus dari

gerakan yang dihasilkan dari winch

(motor penggerak).

[Link].1.7. Winch atau motor penggerak adalah

penggerak utama dari setiap gerakan

yang ada, seperti menaikan dan

menurunkan grab.

[Link].1.8. Grab atau penggaruk adalah alat

yang mengangkat muatan dengan

menggaruk dan mencurahkan ke

ruang muat dari tongkang atau

dermaga dan sebaliknya.

[Link].2. Conveyor

Alat bongkar muat yang digunakan untuk

memindahkan muatan curah yang terdiri dari

rangkaian yaitu :

[Link].2.1. Feeder/Hover adalah tempat untuk

curahan atau menampung muatan

yang dikeruk menggunakan grab.


1

[Link].2.2. Feed belt adalah alat yang

berfungsi menyalurkan atau

meneruskan muatan dari feeder atau

hover ke tempat penampungan

muatan (stockpile).

[Link].2.3. Roller belt berfungsi sebagai alat

bantu yang dapat berputar agar feed

belt dapat bergerak sehingga feed

belt dapat menyalurkan muatan.

[Link].2.4. Stecker memiliki fungsi untuk

menempatkan muatan curah secara

teratur ditempat penyimpanan.

[Link].2.5. Stockpile merupakan tempat

penampungan muatan curah.

[Link].3. Loader vehicle

Loader vehicle merupakan kendaraan yang

dipakai dalam proses bongkar muat muatan

curah. Alat ini berfungsi mengumpulkan muatan

yang bersebaran di dalam palka menjadi satu

tumpukan, kemudian dapat diangkat oleh grab.

2.1.4. Alat bantu bongkar muat

Alat bantu bongkar muat selain yang disebutkan terdahulu

termasuk juga adalah alat-alat bantu yang berupa sling wire untuk
1

mengangkat pontoon dan lain-lain. Secara umum dapat diuraikan

berikut ini sebagai jenis sling (sling) yang digunakan untuk

memuat maupun membongkar muatan.

Dapat dimengerti bahwa kadang-kadang ditemukan

diberbagai pelabuhan, sarana semacam ini sangat terbatas sehingga

akhirnya digunakan alat lain yang kurang sesuai. Tentu saja akan

mengakibatkan berbagai hal yang merugikan, misal rusaknya

suatu muatan.

2.1.5. Alat Penunjang Bongkar Muat

Dengan makin berkembangnya teknologi serta kekhususan

operasi kapal dengan komoditi muatan yang beraneka ragam,

timbul pemikiran tentang alat penunjang guna memperlancar

proses cargo handling (pekerjaan bongkar muat barang) baik di

kapal maupun di pelabuhan-pelabuhan.

2.1.6. Peralatan Bongkar Muat

[Link]. Menurut Arso Martopo dan Soegiyanto Peralatan bongkar

muat adalah suatu susunan dari dan ke dalam kapal.

Adapun susunan tersebut terdiri dari :

[Link].1. Batang pemuat (boom)

[Link].2. Tiang pemuat (mast)

[Link].3. Mesin derek (derrick winch), dan

[Link].4. Dilengkapi dengan berbagai jenis block (blok)

dan tali temali


1

[Link]. untuk kapal cargo modern kebanyakan menggunakan deck

crane (geladak kran) sebagai alat bongkar muat muatan

dan untuk kapal khusus menggunakan alat bongkar muat

sesuai jenis muatan yang diangkut.

[Link]. Panjang batang pemuat (boom) harus mencapai pojok

terjauh dan tali muatnya harus tersisa 5 gulungan di winch

roll (gulungan mesin derek). Pemasangan batang pemuat

(boom) dilakukan sedemikian rupa, sehingga dapat

digerakan naik turun, mendatar kekiri dan kekanan.

Gerakan ini disebabkan oleh adanya baut pada ujung

bawah batang pemuat tersebut (Martopo & Soegiyanto,

2004)4.

2.1.7. Proses Bongkar Muat

[Link]. Menurut Herry & Martopo, (1990) dalam bukunya yang

berjudul “Pengoperasian Pelabuhan Laut” dijelaskan

bahwa proses bongkar muat adalah kegiatan mengangkat,

mengangkut serta memindahkan dari kapal ke dermaga

pelabuhan atau sebaliknya. Sedangkan proses bongkar

muat barang umum di pelabuhan meliputi : stevedoring

(pekerjaan bongkar muat kapal), cargodoring (operasi

transfer tambatan), dan receiving/delivery

4
Arso Martopo, Soegiyanto, Penanganan dan Pengaturan Muatan, (Semarang : Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang,
2004), hlm.38 – 40.
1

(penerima/penyerahan) yang masing-masing dijelaskan di

bawah ini5.

[Link].1. Stevedoring (pekerjaan bongkar muat kapal)

Menurut Suyono (2001) stevedoring

(pekerjaan bongkar muat kapal) adalah jasa

pelayanan membongkar dari/ke kapal, dermaga,

tongkang, truk atau muat dari/ke dermaga,

tongkang, truk ke/dalam palka dengan

menggunakan derek kapal atau yang lain.

Petugas stevedoring (pekerjaan bongkar

muat kapal) dalam mengerjakan bongkar muat

kapal, selain foreman (pembantu stevedor) juga

ada beberapa petugas yang membantu

stevedore (pemborong bongkar muat kapal),

yaitu: [Link].1.1. Cargo surveyor perusahaan

PBM [Link].1.2. Petugas barang berbahaya

[Link].1.3. Administrasi

[Link].1.4. Cargodoring (operasi transfer

tambatan)6.

5
Herry Gianto, Arso Martopo, Pengoperasian Pelabuhan Laut, (Semarang : Balai Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran,
1990), hlm. 30.
6
Ibid., hlm 188 – 201.
1

[Link].2. Receiving atau Delivery (penerima/ penyerahan)

Menurut Suyono (2001), Receiving/delivery

adalah pekerjaan mengambil barang atau

muatan dari tempat penumpukan atau gudang,

hingga menyusunnya diatas kendaraan

pengangkut

keluar pelabuhan atau sebaliknya.

Kegiatan receiving (penerima) ini pada dasarnya

ada dua macam, yaitu :

[Link].2.1. Pola muatan angkutan langsung

yaitu pembongkaran atau pemuatan

dari kendaraan darat langsung dari

dan ke kapal.

[Link].2.2. Pola muatan angkut tidak langsung

adalah penyerahan atau penerimaan

barang / peti kemas setelah melewati

gudang atau lapangan penumpukan.

Terlambatnya operasi delivery (penyerahan)

dapat terjadi disebabkan antara lain : cuaca

buruk/hujan waktu bongkar/muatan dari kapal,

terlambatnya angkutan darat, atau terlambatnya

dokumen, terlambatnya informasi atau alur dari

barang, dan perubahan alur dari nilai pemuatan7.

7
Ibid., hlm 201 - 203.
1

2.2. Definisi Operasional

2.2.1. Mast (tiang) adalah sebuah batang baja yang berfungsi untuk

menahan batang pemuat (boom) dan blok-blok serta wire pada

mesin derek.

2.2.2. Batang pemuat (boom) adalah pipa panjang baja yang pangkalnya

dihubungkan ke tiang kapal, yang mempunyai daya angkut 35 ton

atau lebih. Panjang sedemikian rupa sehingga kalau diturunkan

sampai sudut 20 derajat dengan bidang datar maka tali muat serta

kait muat bisa mencapai 2,5 meter di lambung kanan.

2.2.3. Deck Crane (dek kran), susunan dari berbagai alat sedemikian rupa

dari dan ke dalam kapal.

2.2.4. Derrick winch (mesin derek) adalah mesin pada derek kapal yang

berguna menggerakan batang pemuat, yang konstruksinya terdiri

dari pelindung kawat reep, mesinnya dan terutama tromol bebas.

2.2.5. Winch roller (gulungan mesin derek) adalah mesin yang terdapat

pada derek sebagai tempat untuk menggulung wire.

2.2.6. Crew merupakan kesatuan orang yang bekerja di atas kapal.

2.2.7. SWL ( Safe Working Load ) adalah kemampuan sebuah alat untuk

mengangkut beban seberat ( ton ) dengan aman.

2.2.8. Conveyor (escalator), peralatan bongkar muat untuk muatan curah

pada kapal curah.

2.2.9. Sling wire adalah suatu alat yang terbuat dari wire yang di gunakan

untuk mengangkat pontoon di samping itu di gunakan juga untuk


1

memuat maupun membongkar muatan.

2.2.10. Sling (jerat) adalah tali yang dipergunakan untuk mengangkat atau

menghibob barang.

2.2.11. International of Cargo Gear Bearau (biro klasifikasi), biro

klasifikasi yang mengatur tentang peralatan bongkar muat.

2.2.12. Stevedoring (pekerjaan bongkar muat) merupakan jasa pelayanan

membongkar dari/ke kapal, dermaga, tongkan, truk atau muat

dari/ke dermaga, tongkang, truk ke/dalam palka dengan

menggunakan derek kapal atau yang lain.

2.2.13. Cargodoing (operasi transfer tambatan) merupakan pekerjaan

mengeluarkan muatan atau barang dari sling di lambung kapal di

atas dermaga, mengangkut dan menyusun muatan di dalam gudang

atau lapangan penumpukan dan sebaliknya.

2.2.14. Receiving atau delivery (penerima/penyerahan) merupakan

pekerjaan mengambil muatan atau barang dari tempat penumpukan

atau gudang sampai diatas kendaraan pengangkut keluar atau

sebaaliknya.

2.3. Kerangka Pikir Penelitian

Pada penelitian skripsi ini peneliti menggunakan kerangka berfikir

untuk memaparkan secara kronologis dalam setiap penyelesaian pokok

permasalahan penelitian yaitu pengaruh perawatan wire rope alat bongkar

muat terhadap kelancaran proses bongkar muat di MV. MDM Bromo.


1

Kerangka Pikir

Pengaruh perawatan wire rope alat bongkar muat terhadap kelancaran proses
bongkar muat di MV. MDM Bromo.

Apakah dampak yang ditimbulkan Bagaimana perawatan wire


dari perawatan wire rope alat rope alat bongkar muat yang
bongkar muat yang tidak tepat ? tepat sehingga dapat
memperlancar proses bongkar
muat?

1. Wire rope cepat 1. Melaksanakan perawatan terhadap


mengalami kerusakan wire rope secara rutin.
(rantas) 2. Menggunakan alat bongkar
2. Wire rope menjadi muat tidak melebihi SWL
kering dan mudah putus (safety working load) yang
saat mengangkat beban ditetapkan.
3. Wire rope mudah 3. Memasang wire rope pada
mengalami twist alat bongkar muat secara
(melintir) tepat.
4. Memastikan tidak ada benda
yang menghambat atau
bergesekan dengan wire rope

Bagaimana pengaruh perawatan wire rope alat bongkar muat yang tepat
terhadap kelancaran proses bongkar muat?

1. Meningkatkan perform dari alat bongkar muat yang ada di kapal.


2. Meningkatkan kecepatan waktu bongkar muat.

3. Terhindar dari kerusakan saat proses bongkar muat berlangsung.

Memperlancar proses bongkar muat di MV. MDM Bromo.

Gambar 2.1. Kerangka pikir penelitian


BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan uraian dan pembahasan masalah pada Skripsi ini, maka

penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

5.1.1 Dampak perawatan wire rope alat bogkar muat yang tidak maksimal

pada MV. MDM Bromo menyebabkan terjadinya beberapa masalah

yang menyebabkan terhambatnya proses bongkar muat. Kendala-

kendala tersebut yaitu :

[Link]. wire rope cepat mengalami kerusakan (rantas) dan putus.

[Link]. wire rope hoisting mengalami twist (melintir).

5.1.2 Perawatan yang tepat terhadap wire rope alat bongkar muat adalah

perawatan yang mengacu pada prosedure perawatan terhadap alat

bongkar muat sesuai dengan ship's maintenance plan (rencana

perawatan kapal). Prosedure perawatan tersebut sebagai berikut :

[Link]. Melaksanakan perawatan secara rutin.

[Link]. Menggunakan alat bongkar muat tidak melebihi safety

working load (SWL).

[Link]. Memasang wire rope dengan prosedure yang tepat.

[Link]. Memastikan tidak terdapat benda yang menghambat atau

bergesekan dengan wire rope.

20
2

[Link]. Meningkatkan kesadaran pada crew kapal akan pentingnya

perawatan wire rope alat bongkar muat.

5.1.3 Pengaruh perawatan secara rutin yang sesuai dengan ship's

maintenance plan (rencana perawatan kapal) memberikan pengaruh

sebagai berikut :

[Link]. Meningkatkan perform dari alat bongkar muat.

[Link]. Terhindar dari kerusakan atau hambatan saat prosess bongkar

muat berlangsung.

[Link]. Meningkatkan kecepatan waktu bongkar muat.

5.2 Saran

Sebagai langkah agar tidak terjadi keterlambatan dan dapat berjalan

dengan baik dalam proses bongkar muat muatan, maka peneliti juga

memberikan saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan

pelayaran dan crew kapal sebagai pertimbangan dalam pelaksanaan

perawatan wire rope alat bongkar muat. Adapun saran-saran tersebut akan

penulis jelaskan sebagai berikut :

5.2.1. Perusahaan harus menyediakan peralatan yang menunjang dalam

pelaksanaan perawatan wire rope alat bongkar muat dan merespon

permintaan spare part yang berkualitas dan sesuai standarisasi dari

permintaan kapal. Sehingga dapat memaksimalkan perawatan

terhadap wire rope alat bongkar muat.

5.2.2. Nahkoda sebaiknya melakukan pemeriksaan dan pemantauan secara

langsung serta mengadakan safety meeting untuk mengetahui

kendala-
2

kendala yang dihadapi dalam perawatan wire rope alat bongkar muat

sehingga dapat mendapatkan solusi bersama untuk menjaga agar

perawatan dapat terlaksana sesuai dengan ship's maintenance plan

(rencana perawatan kapal).

5.2.3. Chief officer membuat jadwal perawatan wire rope alat bongkar

muat yang tidak terbentur dengan kegiatan operasional lainnya dan

memastikan perawatan wire rope alat bongkar muat dapat

dilaksanakan secara rutin sesuai dengan ship's maintenance plan

(rencana perawatan kapal) untuk menjaga performa kapal tetap

prima, karena kelancaran proses bongkar muat sangat berpengaruh

pada baik dan tidaknya performa kapal.


2

DAFTAR PUSTAKA

Andromeda, V. F., & Pratama, D. W. (2018). PENANGANAN BONGKAR


MUAT DENGAN CRANE KAPAL DI MV. ORIENTAL JADE.
Dinamika
Bahari, 8(2), 18.

Antoro, D., Purwantono, & Afnan, D. (2017). FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB


RENDAHNYA FUNGSI SHIP CRANE TERHADAP PROSES BONGKAR
MUAT MV . MADISON. 8(1), 1745–1759.

Herry, G., & Martopo, A. (1990). pengoperasian Pelabuhan Laut. Balai


Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran.

Istopo. (1999). Kapal dan Muatannya. Koperasi Karyawan BP3IP.

Martopo, A., & Soegiyanto. (2004). Penanganan dan Pengaturan Muatan.


Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang.

Moleong, L. J. (2016). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Remaja Bosdakarya.

Nazir, M. (2014). Metode Penelitian. Ghalia Indonesia.

NSOS. (1990). manajemen perawatan dan perbaikan. Direktorat jendral


perhubungan laut.

Sarwono. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu.

Sugiyono. (2009a). Metodelogi Penelitian Bisnis. Alfabeta.

Sugiyono. (2009b). Metodelogi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.


Alfabeta.

suyono, R. . (2001). Pengangkutan International Ekspor Impor Melalui Laut.


Penerbit PPM.
2

LAMPIRAN 1

Teknik : Wawancara
Penulis/Deck cadet : M. Faisal Safiudin
Chief Officer : Erry Budhi
Pramada
Kapal : MV. MDM Bromo
Hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan Chief Officer kapal MV.
MDM Bromo pada saat melakukan prala (praktek laut) adalah sebagai berikut :
1. Apakah di kapal anda selalu membuat perencanaan perawatan wire rope

alat bongkar muat ?

Jawab : Sebenarnya perawatan pada deck machinery (peralatan dek)

termasuk wire rope pada crane dan grab sudah tertera pada ship's

maintenance plan (rencana perawatan kapal) perusahaan, setiap

bulannya harus dilakukan pengecekan karat dan greasing

(pelumasan) pada wire, tetapi memang pada kenyataanya sulit

dilakukan perawatan tersebut karena kesibukan yang lain dan

resiko pekerjaan yang tinggi saat kapal di laut. Keadaan dek kapal

setelah muat sangat kotor dan harus segera dilakukan deck

cleaning (cuci dek). Ketidak rutinan perawatan wire rope pada

alat bongkar muat dapat berakibat fatal dan menghambat proses

bongkar muat.

2. Apakah rencana yang anda buat dalam perencanaan perawatan wire rope

alat bongkar muat selalu berjalan lancar ?

Jawab : Rutinitas perawatan wire rope alat bongkar muat sangat penting,

karena dapat mempengaruhi proses bongkar muat. Wire rope alat

bongkat muat yang tidak dirawat dengan baik dapat menyebabkan


2

kerusakan dini dan kehilangan fungsi. Disaat hal itu terjadi maka

dapat menyebabkan proses bongkar ataupun muat terganggu. Saya

mengakui kesibukan yang lain menyebabkan rutinitas perawatan

tidak berjalan dengan baik. Pelabuhan bongkar kapal MV. MDM

Bromo berada di berbagai negara di asia, yang tidak semuanya

memiliki pelabuhan untuk kapal sandar, sehingga kapal harus

berlabuh jangkar dan membongkar muatan dengan menggunakan

alat bongkar muat kapal. sedangkan pelabuhan muat berada di

Indonesia. Setelah kapal bongkar muatan di pelabuhan bongkar,

perjalanan menuju pelabuhan muat di Indonesia dibutuhkan waktu

kurang lebih 4 hari, tetapi waktu dalam perjalanan menuju

pelabuhan muat lebih saya perioritaskan pada kegiatan tank

cleaning (cuci tangki), deck cleaning (cuci dek) dan perawatan

pada akomodasi. Saat tank cleaning (cuci tangki) berlangsung,

seperti yang kita tahu bahwa bildge pump (pompa got) tidak

berfungsi dengan baik, sehingga penyedotan kotoran-kotoran atau

sisa muatan yang ada di dalam tangki got, hal ini meyebabkan

tersitanya banyak waktu.

3. Apakah yang perlu dilakukan oleh perusahaan untuk membantu perawatan

wire rope alat bongkar muat dapat berjalan dengan baik ?

Jawab : Rutinitas perawatan adalah hal wajib yang harus dilakukan agar

peralatan bongkar muat terpelihara dengan baik. Sebagai

penanggung jawab terlaksananya perawatan wire rope alat bongkar

muat, menurut
2

saya sebaiknya perusahaan memenuhi pemesanan spare part (suku

cadang) yang sesuai dengan pemesanan maupun peralatan yang

sudah seharusnya diganti yang dibutuhkan oleh kapal. Pelaksanaan

jadwal perawatan yang lebih efektif dan efisien agar perawatan

terhadap peralatan bongkar muat dapat berjalan dengan baik.

4. Apakah anda sering memberikan pengarahan terhadap crew kapal ?

Jawab : Saya sering memberikan pengarahan-pengarahan kepada crew kapal

agar kegiatan yang akan dilaksanakan dapat berjalan sesuai yang

direncanakan. Dalam safety meeting saya sering memberikan

penjelasan-penjelasan kepada semua crew kapal agar mereka

mengerti pentingnya perawatan alat bongkar muat dan tahu

bagaimana pelaksanaannya.

5. Apakah penyebab terjadinya kerusakan pada wire rope alat bongkar muat ?

Jawab : Penyebab terjadinya kerusakan pada wire rope terjadi karena banyak

hal, seperti : Keterlambatan pengecekan spare part wire rope (suku

cadang tali kawat) dan kualitas spare part yang tidak baik,

Keterlambatan pelumasan terhadap wire rope, kurangnya dilakukan

pengecekan kondisi wire rope, serta mengakut beban melebihi Safe

Working Load (SWL) yang berlaku.

6. Apakah penyebab wire rope hoisting mengalami twist (terpilin) ?

Jawab : Penyebab dari wire hoisting crane mengalami twist (terpilin) karena

pemasangan wire yang tidak di pintal. Dengan pemasangan langsung


2

dari tempat gulungan wire baru tanpa dipintal terlebih dahulu dapat

menyebabkan wire tidak tertata dengan baik sesuai lajur wire

tersebut pada drum wire crane.

7. Bagaimana perawatan wire rope alat bongkar muat yang tepat untuk

memperlancar proses bongkar muat ?

Jawab : Untuk menciptakan proses bongkar muat tetap berjalan lancar dan

selesai tepat waktu yaitu dengan melaksanakan perawatan yang tepat

terhadap wire rope alat bongkar muat. Tindakan yang harus

dilakukan meliputi : melaksanakan perawatan secara rutin,

menggunakan alat bongkar muat tidak melebihi safe working load

(SWL), memasang wire rope dengan prosedure yang tepat,

memastikan gear-gear penggerak wire rope tidak menghimpit

kencang wire rope sehingga dapat bergerak dengan lancar, dan

pastikan tidak terdapat benda yang menghambat atau bergesekan

dengan wire rope agar tidak memberikan luka atau goresan pada

permukaan wire rope.

Mengetahui,

Erry Budhi Pramada


Chief Officer
2

LAMPIRAN 2
Teknik : Wawancara
Penulis/Deck cadet : M. Faisal Safiudin
Boatswain : Ruben Harli
Marlendes
Kapal : MV. MDM Bromo
Selain hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan Chief Officer, penulis

juga melakukan wawancara dengan Boatswain adalah sebagai berikut :

1. Apakah semua deck crew sudah mengetahui prosedur-prosedur dalam

melakukan perawatan alat bongkar muat?

Jawab : Kesadaran crew untuk melakukan perawatan terhadap wire rope alat

bongkar muat memang kurang, peralatan yang sebenarnya sudah

rusak tidak diganti-ganti pastinya banyak terjadi keluhan dalam

melakukan pekerjaan ini. Dalam pengerjaan perawatan terhadap wire

rope alat bongkar muat yang rutin dan mendapatkan hasil yang lebih

optimal, baiknya Chief Officer melakukan pengawasan lebih ketat di

dek secara langsung dan menegur ABK yang kedapatan bekerja

sesuka hatinya atau tidak sesuai dengan instruksi yang telah

disampaikan sebelumnya dalam melakukan pekerjaan.

Mengetahui,

Ruben Harli Malendes


Boatswain
2

Lampiran 3

Gambar wire rope yang mengalami kerusakan (rantas)

Gambar wire rope putus


3

Lampiran 4

Gambar penggantian wire hoisting crane

Gambar pemberian grease pada wire grab


3

Lampiran 5

Gambar Spare part wire rope

Gambar wire rope lama


3

Lampiran 6

Ship’s maintenance

plan
3
3
3

Lampiran 7
3

Lampiran 8
3

Lampiran 9
3
4
4

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : M. Faisal Safiudin

NIT : 531611105975 N

Tempat/Tanggal lahir : Kendal, 26 Juli

1997 Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Nama Orang Tua

Nama Ayah : Ngadiono

Nama Ibu : Rumiyati

Alamat : Desa Margosari RT 01 RW 04 Patebon, Kendal

Riwayat Pendidikan

1. SD Negeri 2 Margosari : Tahun 2003 - 2009

2. SMP Negeri 2 Patebon : Tahun 2009 - 2012

3. SMA Negeri 2 Kendal : Tahun 2012 - 2015

4. PIP Semarang : Tahun 2016 - Sekarang

Pengalaman Praktek Laut

1. Perusahaan Pelayaran : PT. Meratus Advance Maritim

2. Alamat : Sout Quarter, Tower A, lantai 7, unit G Jl. R.A Kartini

kav. 8 Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Indonesia

3. Nama Kapal : MV. MDM Bromo

4. Masa Layar : 10 Agustus 2018 – 18 Agustus 2019

Anda mungkin juga menyukai