PENGARUH PERAWATAN WIRE ROPE ALAT
BONGKAR MUAT TERHADAP KELANCARAN
PROSES BONGKAR MUAT DI MV. MDM BROMO
SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan Pelayaran pada
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang
Oleh
M. FAISAL SAFIUDIN
NIT. 531611105975 N
PROGRAM STUDI NAUTIKA DIPLOMA IV
POLITEKNIK ILMU PELAYARAN
SEMARANG
2020
i
ii
iii
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto :
1. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S Al-Baqarah 216)
2. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau
telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang
lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (Qs. Al-Insyirah,6-8)
Persembahan:
1. Orang tua
2. Almamater PIP Semarang
3. Saudara kandung
vi
PRAKATA
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat menyusun dan menyelesaikan
penelitian yang berudul "PENGARUH PERAWATAN WIRE ROPE ALAT
BONGKAR MUAT TERHADAP KELANCARAN PROSES BONGKAR
MUAT DI MV. MDM BROMO"
Penulisan skripsi ini disusun bertujuan untuk memenuhi persyaratan sebagai
tugas akhir (semester VIII) Program Diploma IV di Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang. Dan untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan Pelayaran (S. Tr. Pel)
dalam bidang Nautika Program Diploma IV di Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan,
dukungan, dan saran serta petunjuk dari berbagai pihak dengan penuh kesabaran
dan keikhlasan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyarnpaikan
ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Capt. Mashudi Rofik, [Link]., selaku Direktur Politeknik Ilmu
Pelayaran Semarang.
2. Bapak Capt. Dwi Antoro, M.M., [Link]., selaku Ketua Program Studi Nautika
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang.
3. Bapak Dr. Capt. Mashudi Rofik, [Link]., selaku Dosen Pembimbing Materi
Skripsi atas arahan dan bimbingannya.
vii
4. Bapak Vega Fonsula Andromeda, [Link], [Link]., M.T. selaku Dosen
Pembimbing Metodologi Penelitian dan Penulisan atas arahan dan
bimbingannya.
5. Seluruh Jajaran Dosen, dan Staf Pengajar Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dalam penyusunan
skripsi ini.
6. Ibu Rumiyati dan Bapak Ngadiono yang senantiasa memberikan dukungan
dan doa agar peneliti dalam menggapai harapannya.
7. Seluruh crew MV. MDM BROMO, PT. Meratus Advance Maritim.
8. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang membantu
dalam menyelesaikan penelitian ini.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amalan
yang akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Akhir kata, penulis berharap
semoga skripsi ini dapat memberikan pengetahuan yang baru serta bermanfaat
bagi berbagai pihak.
Semarang,.........................2020
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN.............................................................................iv
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................... v
PRAKATA ............................................................................................... vii
DAFTAR ISI ........................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ..................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xii
DAFTAR LAMPIRAN…............................................................................ xiii
ABSTRAKSI ............................................................................................. xiv
ABSTRACT .............................................................................................. xv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ........................................................... 2
1.3 Batasan Masalah ................................... .............................. 3
1.4 Tujuan Penelitian ................................................................ 3
1.5 Manfaat Penelitian ............................................................. 3
1.6 Sistematika Penulisan..................................................................5
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Tinjuan Pustaka ................................................................. 7
ix
2.2 Definisi Operasional .......................................................... 18
2.3 Kerangka Pikir Penelitian .................................................. 19
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Desain Penelitian ....................................... 21
3.2 Fokus dan Lokus Penelitian ................................................ 23
3.3 Sumber Data Penelitian....................................................... 23
3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................. 25
3.5 Teknik Keabsahan Data ...................................................... 27
3.6 Teknik Analisis Data .......................................................... 28
BAB IV ANALISA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Obyek Yang Diteliti ............................... 30
4.2 Analisa Hasil Masalah ........................................................ 33
4.3 Pembahasan Masalah ......................................................... 41
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ........................................................................ 60
5.2 Saran ................................................................................. 61
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
x
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Ship Particular MV. MDM Bromo.....................................................32
xi
DAFTAR
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir..........................................................................19
Gambar 4.1 MV. MDM Bromo.........................................................................32
xii
DAFTAR
Lampiran 1 Wawancara 1..................................................................................64
Lampiran 2 Wawancara 2..................................................................................68
Lampiran 3 Gambar wire rope rantas dan putus................................................69
Lampiran 4 Gambar perawatan wire crane dan wire grab................................70
Lampiran 5 Gambar wire rope baru dan wire rope lama..................................71
Lampiran 6 Ship’s Maintenance Plan................................................................72
Lampiran 7 Monthly report of maintenance......................................................75
Lampiran 8 Crew list..........................................................................................76
Lampiran 9 Ship’s particulars............................................................................77
xiii
ABSTRAK
M. Faisal Safiudin, 2020. NIT: 531611105975 N, “Pengaruh Perawatan Wire
Rope Alat Bongkar Muat Terhadap Kelancaran Proses Bongkar Muat Di
MV. MDM Bromo”, Program Diploma IV, Program studi Nautika,
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Dr. Capt. Mashudi
Rofik, [Link]., Pembimbing II: Vega Fonsula Andromeda, [Link], [Link]., M.T.
Alat bongkar muat merupakan faktor penting untuk kelancaran kegiatan
bongkar muat. Alat bongkar muat memiliki komponen yang membuat alat tersebut
dapat dioperasikan. Komponen tersebut adalah wire rope yaitu sebagai penerus
dari gerakan yang dihasilkan dari motor penggerak. Berdasarkan fakta tersebut
penulis menulis skripsi dengan judul ”Pengaruh Perawatan Wire Rope Alat
Bongkar Muat Terhadap Kelancaran Proses Bongkar Muat di MV. MDM
Bromo”. Permasalahan yang penulis angkat yaitu: Dampak yang ditimbulkan dari
perawatan wire rope yang tidak tepat, perawatan wire rope yang tepat, dan
pengaruh perawatan wire rope yang tepat terhadap kelancaran proses bongkar
muat.
Metode penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif
kualitatif. Sumber data dari penelitian ini berasal dari hasil pengamatan,
wawancara, dan dokumentasi selama peneliti di atas kapal, kemudian dianalisa
menjadi sebuah temuan yang diberikan pemecahan masalahnya dan menjadi
sebuah tulisan penelitian.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dampak dari perawatan wire rope yang
tidak tepat meliputi wire rope cepat mengalami kerusakan bahkan putus dan wire
rope hoisting mengalami twist. Perawatan yang tepat yaitu sesuai ship's
maintenance plan (rencana perawatan kapal). Pengaruh prosedur perawatan
tersebut meliputi meningkatkan perform alat bongkar muat, terhindar dari
kerusakan atau hambatan dan meningkatkan kecepatan waktu bongkar muat.
Kata kunci: Alat bongkar muat, wire rope, ship's maintenance plan
xiv
ABSTRACT
M. Faisal Safiudin, 2020. NIT: 531611105975 N, “The Effect of Wire Rope Care
of Loading and Unloading Tool on the Smooth Loading and Unloading
Process in MV. MDM Bromo”, Diploma IV Program, Nautical Studies
Program, Semarang Sailing Science Polytechnic, Supervisor I: Dr. Capt.
Mashudi Rofik, [Link]., Supervisor II: Vega Fonsula Andromeda, [Link],
[Link]., M.T.
Loading and unloading equipment is an important factor for the smooth
loading and unloading activities. The loading and unloading tool has components
that make the tool running. The component is the wire rope which is the successor
of the movement produced by the drive motor. Based on these facts, the author
wrote a thesis entitled "The Effect of Wire Rope Care of Loading and Unloading
Tool on the Smooth Loading and Unloading Process in MV. MDM Bromo”. The
issues raised by the author are: The impact caused by improper wire rope
treatment, proper wire rope treatment, and the effect of proper wire rope treatment
on the smooth loading and unloading process.
The research method in writing this thesis is a qualitative descriptive
method. The source of data from this study came from the results of observations,
interviews, and documentation during the researcher on board, then analyzed into
a solution given the problem solving, and into a research paper.
The results showed that the impact of improper wire rope treatment
including wire rope quickly damaged and even broken and wire rope hoisting
suffered a twist. Proper care is by following per under the ship's maintenance
plan. The effects of these treatment procedures include improving the loading and
unloading equipment, avoiding damage or obstruction, and increasing the loading
and unloading speed.
Keywords: Load loading, wire rope, ship's maintenance plan
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Dunia perdagangan, baik perdagangan nasional maupun internasional,
maka pelayaran niaga sangat berperan penting untuk pendistribusian barang.
Hampir sebagian besar barang ekspor dan impor menggunakan sarana
angkutan kapal laut, dan sebagian kecil pengangkutan dilakukan oleh moda
transportasi lain. Pengangkutan barang dengan kapal laut dipilih karena
jumlah barang yang diangkut akan lebih besar dan biaya angkut lebih kecil
di bandingkan dengan menggunakan moda transportasi lainnya. Salah satu
tujuan pengangkutan melalui kapal laut adalah mengangkut muatan melalui
laut dengan cepat dan selamat sampai ke tempat tujuan agar perusahaan
akan mendapatkan keuntungan yang besar sebagai mana telah di tetapkan
oleh perusahaan tersebut.
Kelancaran operasional kapal ditentukan oleh kondisi operasional kapal
pada waktu melakukan kegiatan operasional bongkar muat dan pengurusan
administrasi di pelabuhan asal dan pelabuhan tujuan. Untuk kelancaran
kegiatan bongkar muat dari dan ke kapal, peralatan alat bongkar muat
merupakan salah satu faktor yang terpenting untuk menjamin kegiatan
bongkar muat di pelabuhan (Andromeda & Pratama, 2018).
Di kapal MV. MDM Bromo, tempat dimana penulis melaksanakan
praktek laut memiliki 5 buah palka di mana kelima palka tersebut besarnya
tidak sama dan di setiap masing-masing palka tersebut di lengkapi dengan
1
2
alat bongkar muat yaitu : 4 buah Crane dan 4 buah Grab. Alat bongkar muat
tersebut memiliki komponen – komponen tertentu yang membuat alat
tersebut dapat dioperasikan. Salah satu komponen tersebut adalah wire rope
yaitu sebagai penerus dari gerakan yang dihasilkan dari motor penggerak
(winch) dalam alat bongkar muat. Mengingat pentingnya wire rope dalam
alat bongkar muat diatas kapal, maka wire rope tersebut secara rutin harus
selalu dirawat dengan baik. Dengan adanya perawatan wire rope secara
rutin diharapkan tidak ada lagi kendala pada wire rope alat bongkar muat
saat proses bongkar muat berlangsung, sehingga proses bongkar muat dapat
berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan. Berdasarkan uraian
tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul :
“Pengaruh Perawatan Wire Rope Alat Bongkar Muat Terhadap
Kelancaran Proses Bongkar Muat di MV. MDM Bromo”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, penulis
mengidentifikasikan pokok-pokok permasalahan yang dirumuskan sebagai
berikut:
1.2.1. Apakah dampak yang ditimbulkan dari perawatan wire rope alat
bongkar muat yang tidak tepat ?
1.2.2. Bagaimana perawatan wire rope alat bongkar muat yang tepat
sehingga dapat memperlancar proses bongkar muat?
1.2.3. Bagaimana pengaruh perawatan wire rope alat bongkar muat yang
tepat terhadap kelancaran proses bongkar muat?
3
1.3. Batasan Masalah
Mengingat luasnya pembahasan ini penulis menyadari akan
keterbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki penulis, serta
agar masalah yang akan dibahas menjadi lebih spesifik dan tidak terlalu
luas, maka penulis perlu membatasi masalahnya khusus pada pengaruh
perawatan wire rope alat bongkar muat berupa crane dan grab diatas kapal
MV. MDM Bromo. Selama penulis melaksanakan praktek laut.
1.4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulis melakukan penelitian dan menuangkan
kedalam skripsi adalah:
1.4.1. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari perawatan wire rope
alat bongkar muat yang tidak tepat.
1.4.2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perawatan wire rope alat
bongkar muat yang tepat sehingga dapat memperlancar proses
bongkar muat.
1.4.3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perawatan wire rope alat
bongkar muat yang tepat terhadap kelancaran proses bongkar muat.
1.5. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat – manfaat dari penulisan skripsi ini yaitu :
1.5.1. Manfaat Secara Teoritis
Penelitian ini bermanfaat menambah pengetahuan dalam bidang
perawatan wire rope alat bongkar muat di kapal MV. MDM Bromo.
4
1.5.2. Manfaat Secara Praktis
[Link]. Bagi penulis
[Link].1. Berguna untuk melengkapi dan memenuhi sebagian
syarat akademika guna memperoleh gelar Sarjana
Terapan Pelayaran di Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang.
[Link].2. Penulis dapat memperdalam pengetahuan di bidang
perawatan alat bongkar muat kapal dengan benar
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,
sehingga dapat mengetahui dan melaksanakan
perawatan wire rope alat bongkar muat yang berada
diatas kapal.
[Link]. Bagi pihak crew kapal
Sebagai bahan masukan kepada pihak-pihak terkait di atas
kapal seperti mualim, cadet, bosun, juru mudi tentang
bagaimana cara menanggulangi gangguan yang di alami alat
bongkar muat dan untuk mengetahui bagaimana merawat wire
rope alat bongkar muat sesuai prosedur dalam menunjang
kelancaran proses bongkar muat di kapal MV. MDM Bromo.
[Link]. Institusi Terkait
Menambah perbendaharaan karya ilmiah di kalangan Taruna
Politeknik Pelayaran Semarang, khususnya jurusan Nautika.
5
1.6. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi V bab, dimana masing-
masing bab saling berkaitan sehingga tercapai tujuan yang ingin penulis
capai dalam penulisan skripsi ini. Sistematika tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
1.6.1. Bagian Awal
Bagian awal skripsi ini mencakup halaman sampul depan, halaman
judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman kata
pengantar, halaman motto, halaman persembahan, daftar isi, daftar
gambar, daftar lampiran, dan abstraksi.
1.6.2. Bagian Utama
Bagian utama skripsi ini penulis sajikan dalam 5 bab yang memiliki
keterkaitan antara bab satu dengan yang lainnya, sehingga penulis
berhaarap supaya pembaca dapat dengan mudah memahami seluruh
uraian dalam skripsi ini. Adapun sistematika tersebut adalah sebagai
berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini diuraikan tentang berbagai aspek antara lain latar
belakang masalah skripsi, perumusan masalah, batasan masalah,
tujuan penelitian serta sistematika penulisan skripsi ini.
BAB II : LANDASAN TEORI
Pada bab ini menjelaskan mengenai uraian yang melatar belakangi
pemilihan judul, perumusan masalah yang diambil, pembatasan
6
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika
penulisan.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini diuraikan tentang tinjauan pustaka atau pemikiran-
pemikiran yang melandasi judul penelitian yang disusun sedemikian
rupa sehingga merupakan satu kesatuan utuh yang dijadikan
landasan penyusunan kerangka pemikiran dan definisi operasional
tentang variabel atau istilah lain dalam penelitian yang dianggap
penting.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN MASALAH
Bab ini merupakan inti ataupun isi pokok dari skripsi yang penulis
tulis. Pada bab ini terdiri dari gambaran umum objek yang diteliti,
analisa masalah, dan pembahasan masalah.
BAB V : PENUTUP
Sebagai bagian akhir dari penulisan skripsi ini, maka akan ditarik
kesimpulan dari hasil analisa dan pembahasan masalah. Dalam bab
ini, penulis juga akan menyumbangkan saran yang mungkin dapat
bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait sesuai dengan fungsi
penelitian.
1.6.3. Bagian Akhir
Bagian akhir skripsi ini mencakup daftar pustaka, daftar riwayat
hidup, dan lampiran. Pada halaman lampiran berisi data/keterangan
lain yang menunjang uraian yang disajikan dalam bagian utama
skripsi.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1. Perawatan
Pengertian perawatan menurut NSOS (1990) pada
umumnya merupakan faktor tunggal terpenting untuk
menyesuaikan diri dengan masyarakat modern, namun terdapat
juga beberapa bidang dimana perawatan memainkan peranan
sedemikian dominan seperti dalam pelaayaran, kita mengetahui
juga bahwa perawatan itu mahal dan hal ini merupakan godaan
terhadap setiap orang untuk menunda perawatan sampai waktu
yang akan datang dan menyimpan uangnya. Jika kita tunduk
kepada strategi ini, maka akhirnya cepat atau lambat kita tidak
akan mempunyai uang lagi untuk disimpan1.
[Link] Perawatan Insidental Terhadap Perawatan Berencana
Perawatan insidentil mempunyai arti yaitu
membiarkan mesin bekerja sampai mengalami kerusakan.
Modal operasi ini sangat mahal, oleh karena itu beberapa
sistem perencanaan diterapkan dengan sistem perawatan
berencana, tujuannya untuk memperkecil kerusakan dan
beban kerja dari suatu pekerjaan perawatan yang
diperlukan.
1
NSOS, Manajemen Perawatan dan Perbaikan, (Jakarta : Direktur Jendral Perhubungan Laut, 1990), hlm. 13 – 18.
7
8
[Link] Perawatan Rutinitas Terhadap Pemantauan Kondisi
Perawatan rutinitas ini diatas kapal MV. MDM
Bromo di lakukan oleh crew kapal secara rutin dan berkala
selama kapal mengadakan pelayaran dari pelabuhan muat
ke pelabuhan bongkar. Hal ini di lakukan untuk
memastikan bahwa kondisi peralatan bongkar muat tidak
ada yang mengalami kerusakan. Dengan adanya
perawatan secara rutin di harapkan alat bongkar muat di
kapal selalu dalam keadaan baik dan selalu siap di
gunakan.
2.1.3. Alat Bongkar Muat
[Link]. Menurut Suyono (2001) peralatan bongkar muat adalah :
alat-alat pokok penunjang pekerjaan bongkar muat2.
Alat bongkar muat muatan curah antara lain :
[Link].1. Grabes adalah sebuah alat yang berbentuk
sekop yang di gunakan untuk melakukan
operasi bongkar muat di kapal, biasanya di
gerakkan dengan derrick winch. Fungsi dari
grabes adalah sebagai alat utama untuk
mengeruk batu bara dari tongkang atau dari
palka ke dermaga pelabuhan.
[Link].2. Dozzer adalah alat berat untuk meratakan batu
bara dari tongkang atau di dalam palka.
2
R.P. Suyono, SHIPPING : Pengangkutan Intermodal Ekspor Impor Melalui Laut, (Jakarta : Penerbit PPM, 2001), hlm
182.
9
[Link]. Menurut Istopo dalam bukunya yang berjudul ”Kapal dan
Muatannya” dijelaskan bahwa yang termasuk dalam alat –
alat bongkar muat antara lain sebagai berikut :
[Link].1. Tiang
[Link].2. Boom atau (batang pemuat)
[Link].3. Deck Crane (geladak kran)
[Link].4. Derrick winch (mesin derek)
Dibeberapa negara, menggunakan peralatan tersebut
didasarkan atas sertifikat yang dikeluarkan surveyor.
International Cargo Gear Bearau (ICGB) atau (biro
klasifikasi tentang peralatan bongkar muat) menyatakan,
bahwa setelah melakukan tes atau memeriksa, maka
peralatan tersebut telah memenuhi syarat keamanannya.
Pada kapal pelayaran samudra, setiap tiang pada umumnya
terdapat paling sedikit 2 (dua) buah batang pemuat (boom)
(Istopo, 1999)3.
Di kapal kami terdiri dari 5 palka dan memiliki 4
single boom yang di gunakan untuk memuat muatan curah
batu bara. Boom (batang pemuat) itu pada umumnya
terdiri dari tabung Mannemas yang mampu mengangkat
sesuai yang tertera pada bagian boom (batang pemuat)
sebelah bawahnya, misalnya SWL 35 ton ( Safety Working
Load 35
3
Istopo, Kapal dan Muatannya, (Jakarta : Koperasi Karyawan BP3IP, 1999), hlm. 17.
1
ton ) artinya boom (batang pemuat) tersebut mampu
mengangkat beban seberat 35 ton dengan aman.
Adapun alat-alat bongkar muat muatan tersebut adalah :
[Link].1. Ship’s crane
Ship’s crane merupakan alat bongkar muat yang
terdapat pada kapal. Alat tersebut digerakan
dengan winch crane (mesin penggerak crane)
dan dikombinasikan dengan menggunakan
penggaruk (grab), berfungsi untuk mengambil
muatan. Ship’s crane terdiri dari:
[Link].1.1 Tiang Crane yang dilengkapi
dengan lampu untuk menerangi
kegiatan bongkar muat pada malam
hari guna membantu penglihatan
operator crane.
[Link].1.2. Batang pemuat (Boom) yang
dilengkapi dengan hydraulic untuk
mengangkat batang pemuat keatas.
[Link].1.3. Crane house atau rumah crane
adalah tempat untuk mengontrol
crane tersebut dimana operator
sebagai pengoperasiannya.
[Link].1.4. Cargo block atau kerek muat adalah
1
jalur wire untuk bergerak yang
berada di ujung batang pemuat.
[Link].1.5. Wire drum merupakan tempat letak
wire atau tempat melilitnya wire.
[Link].1.6. Wire merupakan penerus dari
gerakan yang dihasilkan dari winch
(motor penggerak).
[Link].1.7. Winch atau motor penggerak adalah
penggerak utama dari setiap gerakan
yang ada, seperti menaikan dan
menurunkan grab.
[Link].1.8. Grab atau penggaruk adalah alat
yang mengangkat muatan dengan
menggaruk dan mencurahkan ke
ruang muat dari tongkang atau
dermaga dan sebaliknya.
[Link].2. Conveyor
Alat bongkar muat yang digunakan untuk
memindahkan muatan curah yang terdiri dari
rangkaian yaitu :
[Link].2.1. Feeder/Hover adalah tempat untuk
curahan atau menampung muatan
yang dikeruk menggunakan grab.
1
[Link].2.2. Feed belt adalah alat yang
berfungsi menyalurkan atau
meneruskan muatan dari feeder atau
hover ke tempat penampungan
muatan (stockpile).
[Link].2.3. Roller belt berfungsi sebagai alat
bantu yang dapat berputar agar feed
belt dapat bergerak sehingga feed
belt dapat menyalurkan muatan.
[Link].2.4. Stecker memiliki fungsi untuk
menempatkan muatan curah secara
teratur ditempat penyimpanan.
[Link].2.5. Stockpile merupakan tempat
penampungan muatan curah.
[Link].3. Loader vehicle
Loader vehicle merupakan kendaraan yang
dipakai dalam proses bongkar muat muatan
curah. Alat ini berfungsi mengumpulkan muatan
yang bersebaran di dalam palka menjadi satu
tumpukan, kemudian dapat diangkat oleh grab.
2.1.4. Alat bantu bongkar muat
Alat bantu bongkar muat selain yang disebutkan terdahulu
termasuk juga adalah alat-alat bantu yang berupa sling wire untuk
1
mengangkat pontoon dan lain-lain. Secara umum dapat diuraikan
berikut ini sebagai jenis sling (sling) yang digunakan untuk
memuat maupun membongkar muatan.
Dapat dimengerti bahwa kadang-kadang ditemukan
diberbagai pelabuhan, sarana semacam ini sangat terbatas sehingga
akhirnya digunakan alat lain yang kurang sesuai. Tentu saja akan
mengakibatkan berbagai hal yang merugikan, misal rusaknya
suatu muatan.
2.1.5. Alat Penunjang Bongkar Muat
Dengan makin berkembangnya teknologi serta kekhususan
operasi kapal dengan komoditi muatan yang beraneka ragam,
timbul pemikiran tentang alat penunjang guna memperlancar
proses cargo handling (pekerjaan bongkar muat barang) baik di
kapal maupun di pelabuhan-pelabuhan.
2.1.6. Peralatan Bongkar Muat
[Link]. Menurut Arso Martopo dan Soegiyanto Peralatan bongkar
muat adalah suatu susunan dari dan ke dalam kapal.
Adapun susunan tersebut terdiri dari :
[Link].1. Batang pemuat (boom)
[Link].2. Tiang pemuat (mast)
[Link].3. Mesin derek (derrick winch), dan
[Link].4. Dilengkapi dengan berbagai jenis block (blok)
dan tali temali
1
[Link]. untuk kapal cargo modern kebanyakan menggunakan deck
crane (geladak kran) sebagai alat bongkar muat muatan
dan untuk kapal khusus menggunakan alat bongkar muat
sesuai jenis muatan yang diangkut.
[Link]. Panjang batang pemuat (boom) harus mencapai pojok
terjauh dan tali muatnya harus tersisa 5 gulungan di winch
roll (gulungan mesin derek). Pemasangan batang pemuat
(boom) dilakukan sedemikian rupa, sehingga dapat
digerakan naik turun, mendatar kekiri dan kekanan.
Gerakan ini disebabkan oleh adanya baut pada ujung
bawah batang pemuat tersebut (Martopo & Soegiyanto,
2004)4.
2.1.7. Proses Bongkar Muat
[Link]. Menurut Herry & Martopo, (1990) dalam bukunya yang
berjudul “Pengoperasian Pelabuhan Laut” dijelaskan
bahwa proses bongkar muat adalah kegiatan mengangkat,
mengangkut serta memindahkan dari kapal ke dermaga
pelabuhan atau sebaliknya. Sedangkan proses bongkar
muat barang umum di pelabuhan meliputi : stevedoring
(pekerjaan bongkar muat kapal), cargodoring (operasi
transfer tambatan), dan receiving/delivery
4
Arso Martopo, Soegiyanto, Penanganan dan Pengaturan Muatan, (Semarang : Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang,
2004), hlm.38 – 40.
1
(penerima/penyerahan) yang masing-masing dijelaskan di
bawah ini5.
[Link].1. Stevedoring (pekerjaan bongkar muat kapal)
Menurut Suyono (2001) stevedoring
(pekerjaan bongkar muat kapal) adalah jasa
pelayanan membongkar dari/ke kapal, dermaga,
tongkang, truk atau muat dari/ke dermaga,
tongkang, truk ke/dalam palka dengan
menggunakan derek kapal atau yang lain.
Petugas stevedoring (pekerjaan bongkar
muat kapal) dalam mengerjakan bongkar muat
kapal, selain foreman (pembantu stevedor) juga
ada beberapa petugas yang membantu
stevedore (pemborong bongkar muat kapal),
yaitu: [Link].1.1. Cargo surveyor perusahaan
PBM [Link].1.2. Petugas barang berbahaya
[Link].1.3. Administrasi
[Link].1.4. Cargodoring (operasi transfer
tambatan)6.
5
Herry Gianto, Arso Martopo, Pengoperasian Pelabuhan Laut, (Semarang : Balai Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran,
1990), hlm. 30.
6
Ibid., hlm 188 – 201.
1
[Link].2. Receiving atau Delivery (penerima/ penyerahan)
Menurut Suyono (2001), Receiving/delivery
adalah pekerjaan mengambil barang atau
muatan dari tempat penumpukan atau gudang,
hingga menyusunnya diatas kendaraan
pengangkut
keluar pelabuhan atau sebaliknya.
Kegiatan receiving (penerima) ini pada dasarnya
ada dua macam, yaitu :
[Link].2.1. Pola muatan angkutan langsung
yaitu pembongkaran atau pemuatan
dari kendaraan darat langsung dari
dan ke kapal.
[Link].2.2. Pola muatan angkut tidak langsung
adalah penyerahan atau penerimaan
barang / peti kemas setelah melewati
gudang atau lapangan penumpukan.
Terlambatnya operasi delivery (penyerahan)
dapat terjadi disebabkan antara lain : cuaca
buruk/hujan waktu bongkar/muatan dari kapal,
terlambatnya angkutan darat, atau terlambatnya
dokumen, terlambatnya informasi atau alur dari
barang, dan perubahan alur dari nilai pemuatan7.
7
Ibid., hlm 201 - 203.
1
2.2. Definisi Operasional
2.2.1. Mast (tiang) adalah sebuah batang baja yang berfungsi untuk
menahan batang pemuat (boom) dan blok-blok serta wire pada
mesin derek.
2.2.2. Batang pemuat (boom) adalah pipa panjang baja yang pangkalnya
dihubungkan ke tiang kapal, yang mempunyai daya angkut 35 ton
atau lebih. Panjang sedemikian rupa sehingga kalau diturunkan
sampai sudut 20 derajat dengan bidang datar maka tali muat serta
kait muat bisa mencapai 2,5 meter di lambung kanan.
2.2.3. Deck Crane (dek kran), susunan dari berbagai alat sedemikian rupa
dari dan ke dalam kapal.
2.2.4. Derrick winch (mesin derek) adalah mesin pada derek kapal yang
berguna menggerakan batang pemuat, yang konstruksinya terdiri
dari pelindung kawat reep, mesinnya dan terutama tromol bebas.
2.2.5. Winch roller (gulungan mesin derek) adalah mesin yang terdapat
pada derek sebagai tempat untuk menggulung wire.
2.2.6. Crew merupakan kesatuan orang yang bekerja di atas kapal.
2.2.7. SWL ( Safe Working Load ) adalah kemampuan sebuah alat untuk
mengangkut beban seberat ( ton ) dengan aman.
2.2.8. Conveyor (escalator), peralatan bongkar muat untuk muatan curah
pada kapal curah.
2.2.9. Sling wire adalah suatu alat yang terbuat dari wire yang di gunakan
untuk mengangkat pontoon di samping itu di gunakan juga untuk
1
memuat maupun membongkar muatan.
2.2.10. Sling (jerat) adalah tali yang dipergunakan untuk mengangkat atau
menghibob barang.
2.2.11. International of Cargo Gear Bearau (biro klasifikasi), biro
klasifikasi yang mengatur tentang peralatan bongkar muat.
2.2.12. Stevedoring (pekerjaan bongkar muat) merupakan jasa pelayanan
membongkar dari/ke kapal, dermaga, tongkan, truk atau muat
dari/ke dermaga, tongkang, truk ke/dalam palka dengan
menggunakan derek kapal atau yang lain.
2.2.13. Cargodoing (operasi transfer tambatan) merupakan pekerjaan
mengeluarkan muatan atau barang dari sling di lambung kapal di
atas dermaga, mengangkut dan menyusun muatan di dalam gudang
atau lapangan penumpukan dan sebaliknya.
2.2.14. Receiving atau delivery (penerima/penyerahan) merupakan
pekerjaan mengambil muatan atau barang dari tempat penumpukan
atau gudang sampai diatas kendaraan pengangkut keluar atau
sebaaliknya.
2.3. Kerangka Pikir Penelitian
Pada penelitian skripsi ini peneliti menggunakan kerangka berfikir
untuk memaparkan secara kronologis dalam setiap penyelesaian pokok
permasalahan penelitian yaitu pengaruh perawatan wire rope alat bongkar
muat terhadap kelancaran proses bongkar muat di MV. MDM Bromo.
1
Kerangka Pikir
Pengaruh perawatan wire rope alat bongkar muat terhadap kelancaran proses
bongkar muat di MV. MDM Bromo.
Apakah dampak yang ditimbulkan Bagaimana perawatan wire
dari perawatan wire rope alat rope alat bongkar muat yang
bongkar muat yang tidak tepat ? tepat sehingga dapat
memperlancar proses bongkar
muat?
1. Wire rope cepat 1. Melaksanakan perawatan terhadap
mengalami kerusakan wire rope secara rutin.
(rantas) 2. Menggunakan alat bongkar
2. Wire rope menjadi muat tidak melebihi SWL
kering dan mudah putus (safety working load) yang
saat mengangkat beban ditetapkan.
3. Wire rope mudah 3. Memasang wire rope pada
mengalami twist alat bongkar muat secara
(melintir) tepat.
4. Memastikan tidak ada benda
yang menghambat atau
bergesekan dengan wire rope
Bagaimana pengaruh perawatan wire rope alat bongkar muat yang tepat
terhadap kelancaran proses bongkar muat?
1. Meningkatkan perform dari alat bongkar muat yang ada di kapal.
2. Meningkatkan kecepatan waktu bongkar muat.
3. Terhindar dari kerusakan saat proses bongkar muat berlangsung.
Memperlancar proses bongkar muat di MV. MDM Bromo.
Gambar 2.1. Kerangka pikir penelitian
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan uraian dan pembahasan masalah pada Skripsi ini, maka
penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Dampak perawatan wire rope alat bogkar muat yang tidak maksimal
pada MV. MDM Bromo menyebabkan terjadinya beberapa masalah
yang menyebabkan terhambatnya proses bongkar muat. Kendala-
kendala tersebut yaitu :
[Link]. wire rope cepat mengalami kerusakan (rantas) dan putus.
[Link]. wire rope hoisting mengalami twist (melintir).
5.1.2 Perawatan yang tepat terhadap wire rope alat bongkar muat adalah
perawatan yang mengacu pada prosedure perawatan terhadap alat
bongkar muat sesuai dengan ship's maintenance plan (rencana
perawatan kapal). Prosedure perawatan tersebut sebagai berikut :
[Link]. Melaksanakan perawatan secara rutin.
[Link]. Menggunakan alat bongkar muat tidak melebihi safety
working load (SWL).
[Link]. Memasang wire rope dengan prosedure yang tepat.
[Link]. Memastikan tidak terdapat benda yang menghambat atau
bergesekan dengan wire rope.
20
2
[Link]. Meningkatkan kesadaran pada crew kapal akan pentingnya
perawatan wire rope alat bongkar muat.
5.1.3 Pengaruh perawatan secara rutin yang sesuai dengan ship's
maintenance plan (rencana perawatan kapal) memberikan pengaruh
sebagai berikut :
[Link]. Meningkatkan perform dari alat bongkar muat.
[Link]. Terhindar dari kerusakan atau hambatan saat prosess bongkar
muat berlangsung.
[Link]. Meningkatkan kecepatan waktu bongkar muat.
5.2 Saran
Sebagai langkah agar tidak terjadi keterlambatan dan dapat berjalan
dengan baik dalam proses bongkar muat muatan, maka peneliti juga
memberikan saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan
pelayaran dan crew kapal sebagai pertimbangan dalam pelaksanaan
perawatan wire rope alat bongkar muat. Adapun saran-saran tersebut akan
penulis jelaskan sebagai berikut :
5.2.1. Perusahaan harus menyediakan peralatan yang menunjang dalam
pelaksanaan perawatan wire rope alat bongkar muat dan merespon
permintaan spare part yang berkualitas dan sesuai standarisasi dari
permintaan kapal. Sehingga dapat memaksimalkan perawatan
terhadap wire rope alat bongkar muat.
5.2.2. Nahkoda sebaiknya melakukan pemeriksaan dan pemantauan secara
langsung serta mengadakan safety meeting untuk mengetahui
kendala-
2
kendala yang dihadapi dalam perawatan wire rope alat bongkar muat
sehingga dapat mendapatkan solusi bersama untuk menjaga agar
perawatan dapat terlaksana sesuai dengan ship's maintenance plan
(rencana perawatan kapal).
5.2.3. Chief officer membuat jadwal perawatan wire rope alat bongkar
muat yang tidak terbentur dengan kegiatan operasional lainnya dan
memastikan perawatan wire rope alat bongkar muat dapat
dilaksanakan secara rutin sesuai dengan ship's maintenance plan
(rencana perawatan kapal) untuk menjaga performa kapal tetap
prima, karena kelancaran proses bongkar muat sangat berpengaruh
pada baik dan tidaknya performa kapal.
2
DAFTAR PUSTAKA
Andromeda, V. F., & Pratama, D. W. (2018). PENANGANAN BONGKAR
MUAT DENGAN CRANE KAPAL DI MV. ORIENTAL JADE.
Dinamika
Bahari, 8(2), 18.
Antoro, D., Purwantono, & Afnan, D. (2017). FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB
RENDAHNYA FUNGSI SHIP CRANE TERHADAP PROSES BONGKAR
MUAT MV . MADISON. 8(1), 1745–1759.
Herry, G., & Martopo, A. (1990). pengoperasian Pelabuhan Laut. Balai
Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran.
Istopo. (1999). Kapal dan Muatannya. Koperasi Karyawan BP3IP.
Martopo, A., & Soegiyanto. (2004). Penanganan dan Pengaturan Muatan.
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang.
Moleong, L. J. (2016). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Remaja Bosdakarya.
Nazir, M. (2014). Metode Penelitian. Ghalia Indonesia.
NSOS. (1990). manajemen perawatan dan perbaikan. Direktorat jendral
perhubungan laut.
Sarwono. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu.
Sugiyono. (2009a). Metodelogi Penelitian Bisnis. Alfabeta.
Sugiyono. (2009b). Metodelogi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Alfabeta.
suyono, R. . (2001). Pengangkutan International Ekspor Impor Melalui Laut.
Penerbit PPM.
2
LAMPIRAN 1
Teknik : Wawancara
Penulis/Deck cadet : M. Faisal Safiudin
Chief Officer : Erry Budhi
Pramada
Kapal : MV. MDM Bromo
Hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan Chief Officer kapal MV.
MDM Bromo pada saat melakukan prala (praktek laut) adalah sebagai berikut :
1. Apakah di kapal anda selalu membuat perencanaan perawatan wire rope
alat bongkar muat ?
Jawab : Sebenarnya perawatan pada deck machinery (peralatan dek)
termasuk wire rope pada crane dan grab sudah tertera pada ship's
maintenance plan (rencana perawatan kapal) perusahaan, setiap
bulannya harus dilakukan pengecekan karat dan greasing
(pelumasan) pada wire, tetapi memang pada kenyataanya sulit
dilakukan perawatan tersebut karena kesibukan yang lain dan
resiko pekerjaan yang tinggi saat kapal di laut. Keadaan dek kapal
setelah muat sangat kotor dan harus segera dilakukan deck
cleaning (cuci dek). Ketidak rutinan perawatan wire rope pada
alat bongkar muat dapat berakibat fatal dan menghambat proses
bongkar muat.
2. Apakah rencana yang anda buat dalam perencanaan perawatan wire rope
alat bongkar muat selalu berjalan lancar ?
Jawab : Rutinitas perawatan wire rope alat bongkar muat sangat penting,
karena dapat mempengaruhi proses bongkar muat. Wire rope alat
bongkat muat yang tidak dirawat dengan baik dapat menyebabkan
2
kerusakan dini dan kehilangan fungsi. Disaat hal itu terjadi maka
dapat menyebabkan proses bongkar ataupun muat terganggu. Saya
mengakui kesibukan yang lain menyebabkan rutinitas perawatan
tidak berjalan dengan baik. Pelabuhan bongkar kapal MV. MDM
Bromo berada di berbagai negara di asia, yang tidak semuanya
memiliki pelabuhan untuk kapal sandar, sehingga kapal harus
berlabuh jangkar dan membongkar muatan dengan menggunakan
alat bongkar muat kapal. sedangkan pelabuhan muat berada di
Indonesia. Setelah kapal bongkar muatan di pelabuhan bongkar,
perjalanan menuju pelabuhan muat di Indonesia dibutuhkan waktu
kurang lebih 4 hari, tetapi waktu dalam perjalanan menuju
pelabuhan muat lebih saya perioritaskan pada kegiatan tank
cleaning (cuci tangki), deck cleaning (cuci dek) dan perawatan
pada akomodasi. Saat tank cleaning (cuci tangki) berlangsung,
seperti yang kita tahu bahwa bildge pump (pompa got) tidak
berfungsi dengan baik, sehingga penyedotan kotoran-kotoran atau
sisa muatan yang ada di dalam tangki got, hal ini meyebabkan
tersitanya banyak waktu.
3. Apakah yang perlu dilakukan oleh perusahaan untuk membantu perawatan
wire rope alat bongkar muat dapat berjalan dengan baik ?
Jawab : Rutinitas perawatan adalah hal wajib yang harus dilakukan agar
peralatan bongkar muat terpelihara dengan baik. Sebagai
penanggung jawab terlaksananya perawatan wire rope alat bongkar
muat, menurut
2
saya sebaiknya perusahaan memenuhi pemesanan spare part (suku
cadang) yang sesuai dengan pemesanan maupun peralatan yang
sudah seharusnya diganti yang dibutuhkan oleh kapal. Pelaksanaan
jadwal perawatan yang lebih efektif dan efisien agar perawatan
terhadap peralatan bongkar muat dapat berjalan dengan baik.
4. Apakah anda sering memberikan pengarahan terhadap crew kapal ?
Jawab : Saya sering memberikan pengarahan-pengarahan kepada crew kapal
agar kegiatan yang akan dilaksanakan dapat berjalan sesuai yang
direncanakan. Dalam safety meeting saya sering memberikan
penjelasan-penjelasan kepada semua crew kapal agar mereka
mengerti pentingnya perawatan alat bongkar muat dan tahu
bagaimana pelaksanaannya.
5. Apakah penyebab terjadinya kerusakan pada wire rope alat bongkar muat ?
Jawab : Penyebab terjadinya kerusakan pada wire rope terjadi karena banyak
hal, seperti : Keterlambatan pengecekan spare part wire rope (suku
cadang tali kawat) dan kualitas spare part yang tidak baik,
Keterlambatan pelumasan terhadap wire rope, kurangnya dilakukan
pengecekan kondisi wire rope, serta mengakut beban melebihi Safe
Working Load (SWL) yang berlaku.
6. Apakah penyebab wire rope hoisting mengalami twist (terpilin) ?
Jawab : Penyebab dari wire hoisting crane mengalami twist (terpilin) karena
pemasangan wire yang tidak di pintal. Dengan pemasangan langsung
2
dari tempat gulungan wire baru tanpa dipintal terlebih dahulu dapat
menyebabkan wire tidak tertata dengan baik sesuai lajur wire
tersebut pada drum wire crane.
7. Bagaimana perawatan wire rope alat bongkar muat yang tepat untuk
memperlancar proses bongkar muat ?
Jawab : Untuk menciptakan proses bongkar muat tetap berjalan lancar dan
selesai tepat waktu yaitu dengan melaksanakan perawatan yang tepat
terhadap wire rope alat bongkar muat. Tindakan yang harus
dilakukan meliputi : melaksanakan perawatan secara rutin,
menggunakan alat bongkar muat tidak melebihi safe working load
(SWL), memasang wire rope dengan prosedure yang tepat,
memastikan gear-gear penggerak wire rope tidak menghimpit
kencang wire rope sehingga dapat bergerak dengan lancar, dan
pastikan tidak terdapat benda yang menghambat atau bergesekan
dengan wire rope agar tidak memberikan luka atau goresan pada
permukaan wire rope.
Mengetahui,
Erry Budhi Pramada
Chief Officer
2
LAMPIRAN 2
Teknik : Wawancara
Penulis/Deck cadet : M. Faisal Safiudin
Boatswain : Ruben Harli
Marlendes
Kapal : MV. MDM Bromo
Selain hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan Chief Officer, penulis
juga melakukan wawancara dengan Boatswain adalah sebagai berikut :
1. Apakah semua deck crew sudah mengetahui prosedur-prosedur dalam
melakukan perawatan alat bongkar muat?
Jawab : Kesadaran crew untuk melakukan perawatan terhadap wire rope alat
bongkar muat memang kurang, peralatan yang sebenarnya sudah
rusak tidak diganti-ganti pastinya banyak terjadi keluhan dalam
melakukan pekerjaan ini. Dalam pengerjaan perawatan terhadap wire
rope alat bongkar muat yang rutin dan mendapatkan hasil yang lebih
optimal, baiknya Chief Officer melakukan pengawasan lebih ketat di
dek secara langsung dan menegur ABK yang kedapatan bekerja
sesuka hatinya atau tidak sesuai dengan instruksi yang telah
disampaikan sebelumnya dalam melakukan pekerjaan.
Mengetahui,
Ruben Harli Malendes
Boatswain
2
Lampiran 3
Gambar wire rope yang mengalami kerusakan (rantas)
Gambar wire rope putus
3
Lampiran 4
Gambar penggantian wire hoisting crane
Gambar pemberian grease pada wire grab
3
Lampiran 5
Gambar Spare part wire rope
Gambar wire rope lama
3
Lampiran 6
Ship’s maintenance
plan
3
3
3
Lampiran 7
3
Lampiran 8
3
Lampiran 9
3
4
4
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : M. Faisal Safiudin
NIT : 531611105975 N
Tempat/Tanggal lahir : Kendal, 26 Juli
1997 Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Nama Orang Tua
Nama Ayah : Ngadiono
Nama Ibu : Rumiyati
Alamat : Desa Margosari RT 01 RW 04 Patebon, Kendal
Riwayat Pendidikan
1. SD Negeri 2 Margosari : Tahun 2003 - 2009
2. SMP Negeri 2 Patebon : Tahun 2009 - 2012
3. SMA Negeri 2 Kendal : Tahun 2012 - 2015
4. PIP Semarang : Tahun 2016 - Sekarang
Pengalaman Praktek Laut
1. Perusahaan Pelayaran : PT. Meratus Advance Maritim
2. Alamat : Sout Quarter, Tower A, lantai 7, unit G Jl. R.A Kartini
kav. 8 Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Indonesia
3. Nama Kapal : MV. MDM Bromo
4. Masa Layar : 10 Agustus 2018 – 18 Agustus 2019