0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan46 halaman

Bab 4

Dokumen tersebut membahas rencana tata ruang wilayah Kabupaten Supiori antara tahun 2010-2030. Termasuk didalamnya adalah rencana pola ruang kawasan lindung yang meliputi kawasan hutan lindung, kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya seperti kawasan resapan air, serta arahan pengelolaan dan perlindungan kawasan-kawasan tersebut.

Diunggah oleh

Heynce Tambuku
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan46 halaman

Bab 4

Dokumen tersebut membahas rencana tata ruang wilayah Kabupaten Supiori antara tahun 2010-2030. Termasuk didalamnya adalah rencana pola ruang kawasan lindung yang meliputi kawasan hutan lindung, kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya seperti kawasan resapan air, serta arahan pengelolaan dan perlindungan kawasan-kawasan tersebut.

Diunggah oleh

Heynce Tambuku
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )

Kabupaten Supiori 2010 - 2030

BAB 4
RENCANA POLA
RUANG WILAYAH

4.1. RENCANA POLA RUANG KAWASAN LINDUNG


Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian kemampuan lingkungan hidup mencakup sumberdaya alam,
sumberdaya buatan guna kepentingan pembangunan bekelanjutan. Pengelolaan kawasan
lindung adalah upaya penetapan, pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan
lindung.
Pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Supiori secara umum ditujukan untuk
mencegah kemungkinan timbulnya berbagai kerusakan fungsi lingkungan hidup
terintegrasi antara kepentingan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal dengan
pelestariannya. Dalam konteks ini diharapkan bahwa penempatan ruang dalam rangka
pengembangan wilayah diserasikan dengan kemampuan dan daya dukung wilayahnya.
Adapun kawasan lindung di Kabupaten Supiori dapat dibagi menjadi : kawasan
yang memberi perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat,
kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan rawan bencana alam dan
kawasan lindung lainnya.

4.1.1. Kawasan Hutan Lindung


Kawasan hutan lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang
mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitarnya maupun kawasan
bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara
kesuburan tanah. Kriteria penetapan kawasan lindung adalah :
1. Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, curah hujan
yang melebihi nilai skor 175; atau
2. Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih; dan atau
3. Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 1000-

LAPORAN AKHIR | IV - 1
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

2000 meter/dpl.
Sesuai dengan Kepres No. 32 Tahun 1990 dan Peraturan Mentri Pekerjaan Umum
No. 21 Tahun 2008 maka lahan-lahan yang memiliki kemiringan diatas 40% atau
memiliki kemiringan 15% – 40% pada tanah-tanah yang sangat peka erosi diarahkan
fungsinya sebagai kawasan hutan lindung. Intensitas pengarahan ini semakin tinggi, karena
pada beberapa lokasi lahan-lahan tersebut diatas ada yang berupa tanah pasir atau berbatu
dan memiliki intensitas hujan diatas 27,7 mm/hari. Secara umum kawasan hutan lindung
dibagi menjadi dua yaitu kawasan hutan lindung mutlak dan hutan lindung terbatas.
1. Kawasan hutan lindung mutlak adalah kawasan perlindungan bawahnya
berupa hutan dengan fungsi utama menjaga kehidupan sekitarnya sebagai
pengatur tata air, pencegah banjir, dan erosi serta memelihara kesuburan
tanah, pemanfaatannya mutlak hanya untuk kelestarian fungsi yang
dimaksud. Perkecualian pemanfaatan hanya terbatas pada fungsi penunjang
telekomunikasi dalam rangka integrasi wilayah nusantara sejauh tidak
mengurangi fungsi kelestarian yang dimaksud.
2. Kawasan hutan lindung terbatas adalah kawasan perlindungan bawahnya
berupa hutan dengan fungsi utama menjaga kehidupan sekitarnya sebagai
pengatur tata iar, pencegah banjir, dan erosi serta memelihara kesuburan
tanah,pemanfaatannya masih dimungkinkan untuk usaha budidaya secara
terbatas, sejauh masih menjamin terpeliharanya fungsi lindung yang ada.
Kriteria kawasan hutan lindung adalah :
1. Kawasan hutan yang mempunyai kemiringan 40 % atau lebih.
2. Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 2.000 m
atau lebih.
Kawasan Hutan Lindung di Kabupaten Supiori berdasarkan kriteria diatas
ditetapkan seluruh wilayah Kabupaten Supiori yaitu Distrik Supiori barat (Kampung
Napisendi, Amyas, Waryei, ), Supiori Utara (Kampung Warsa), Supiori Timur (Wafor,
Masram, Yawemna dan Kampung Wombonda), Supiori Selatan (Kampung
Didiabolo/Kunef, Odori/Ababiadi, Fanindi dan Kampung Baniki) dan Distrik Kepulauan
Aruri (Kampung Ambirisbari, Makasi, Wongkeina/Sowendi, dan Kampung Wanukendi).
Kawasan hutan lindung ini juga memiliki fungsi sebagai kawasan cagar alam dengan luas
11.463 Ha.

LAPORAN AKHIR | IV - 2
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Adapun arahan untuk perlindungan terhadap hutan lindung adalah :


1. Pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan
lindung.
2. Penambahan luasan kawasan lindung, yang merupakan hasil alih fungsi hutan
produksi menjadi hutan lindung.
Sedangkan pengelolaan kawasan ini diarahkan pada :
1. Peningkatan fungsi lindung pada area yang telah mengalami alih fungsi
melalui pengembangan vegetasi tegangan tinggi yang mampu memberikan
perlindungan terhadap permukaan tanah dan mampu meresapkan air;
2. Pengembalian berbagai rona awal sehingga kehidupan satwa langka dan
dilindungi dapat lestari;
3. Percepatan rehabilitasi lahan yang mengalami kerusakan;
4. Peningkatan fungsi lahan melalui pengembangan hutan rakyat yang
memberikan nilai ekonomi melalui pengambilan hasil hutan bukan/non kayu,
sehingga pola ini memiliki kemampuan perlindungan;
5. Meningkatkan kegiatan pariwisata alam (misalnya mendaki gunung, out
bond, camping), sekaligus menanamkan gerakan cinta alam;
6. Pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan
lindung;
7. Penetapan larangan untuk melakukan berbagai usaha dan/atau kegiatan
kecuali berbagai usaha dan/atau kegiatan penunjang kawasan lindung yang
tidak mengganggu fungsi alam dan tidak mengubah bentang alam serta
ekosistem alam;
8. Pelestarian dan penambahan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya,
misalnya mendatangkan spesis cendrawasih, dan kuda sebagai alat
transportasi pegunungan;;
9. Pengaturan berbagai usaha dan/atau kegiatan yang tetap dapat
mempertahankan fungsi lindung;
10. Pencegahan berkembangnya berbagai usaha dan/atau kegiatan yang
mengganggu fungsi lindung;
11. Penerapan ketentuan yang berlaku tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL) bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan yang sudah ada

LAPORAN AKHIR | IV - 3
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

di kawasan lindung yang mempunyai dampak besar dan penting bagi


lingkungan hidup;
12. Pengembangan kerjasama antar wilayah dalam pengelolaan kawasan lindung;
13. Percepatan rehabilitasi lahan milik masyarakat yang termasuk kriteria
kawasan lindung dengan melakukan penanaman pohon lindung yang dapat
digunakan sebagai perlindungan kawasan bawahannya yang dapat diambil
hasil hutan non-kayunya;
14. Percepatan rehabilitasi hutan/reboisasi hutan lindung dengan tanaman yang
sesuai dengan fungsi lindung dengan sistem strip cropping;
15. Penerapan ketentuan-ketentuan untuk mengembalikan fungsi lindung
kawasan yang telah terganggu fungsi lindungnya secara bertahap dan
berkelanjutan sehingga dapat mempertahankan keberadaan hutan lindung
untuk kepentingan hidrologis. Adapun kegiatan yang dapat diperbolehkan
membuat pos pengamatan kebakaran, pos penjagaan, papan petunjuk atau
penerangan, patok triangulasi, tugu, tiang listrik dan menara stasiun televisi
serta jalan setapak untuk pariwisata yang bangunannya bersifat tidak
permanen;
16. Mengembalikan fungsi kawasan sepanjang pantai, sempadan sungai, dan
mata air sebagai fungsi lindung dengan penanaman kembali (reboisasi); serta
17. Melakukakan program pembinaan, penyuluhan kepada masyarakat dalam
upaya pelestarian kawasan lindung dan kawasan rawan bencana.

4.1.2. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya


[Link]. Kawasan Resapan Air
Kawasan resapan air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk
meresap air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna
sebagai sumber air. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk
memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk
keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan
bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Kawasan resapan air ditetapkan dengan
kriteria kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan
sebagai pengontrol tata air permukaan.

LAPORAN AKHIR | IV - 4
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Kriteria kawasan peresapan air adalah kawasan bercurah hujan yang tinggi,
berstruktur tanah yang mudah meresapkan air dan mempunyai geomorfologi yang mampu
meresapkan air hujan secara besar-besaran.
Berdasarkan kajian penetapan kawasan lindung yang dilakukan dan sinkronisasi
secara keseluruhan dengan kab/kota, maka penambahan kawasan resapan air sekaligus
dapat dibudidayakan perkebunan tanaman tahunan /tanaman keras dapat dilakukan secara
bertahap. Persebaran kawasan resapan air di Kabupaten Supiori tersebar di seluruh wilayah
distrik khususnya pada bagian tengah dari pulau utama Supiori.
Pada kawasan ini dilarang melakukan perubahan fungsi lindung mengingat
perubahan ini rawan menimbulkan erosi, banjir dan bencana alam lainnya. Kawasan
lindung ini vegerasi yang terbaik adalah berupa hutan, akan tetapi pada beberapa kondisi
karena sudah cukup berkembang, maka dapat digunakan perkebunan tanaman tahunan
yang memiliki kemampuan sebagai kawasan lindung.
Langkah-langkah pengelolaan kawasan lindung pada kawasan yang memberikan
perlindungan kawasan bawahannya adalah :
1. Mencegah terjadinya erosi, bencana banjir, sedimentasi dan menjaga fungsi
hidrologis tanah di kawasan hutan lindung sehingga ketersediaan unsur hara
tanah, air tanah dan air permukaan selalu dapat terjamin.
2. Mengendalikan hidrologi wilayah, berfungsi sebagai penghambat air dan
pencegah banjir, serta untuk melindungi ekosistem yang khas di kawasan
bergambut.
3. Memberikan ruang yang cukup bagi resapan air hujan pada kawasan resapan
air untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan
banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan.
Kawasan ini sebagian besar merupakan kawasan hutan lindung. Penetapan dan
pemantapan kawasan resapan air juga merupakan salah satu upaya dalam pelestarian DAS
yang ada di Kabupaten Supiori . Peningkatan manfaat lindung pada kawasan ini dilakukan
dengan cara:
1. Pembuatan sumur-sumur resapan;
2. Pengendalian hutan dan tegakan tinggi pada wilayah-wilayah hulu; serta
3. Pengolahan sistem terasering dan vegetasi yang mampu menahan dan
meresapkan air.

LAPORAN AKHIR | IV - 5
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Sebagian besar kawasan yang berfungsi sebagai kawasan resapan air ini
merupakan kawasan hutan lindung, sehingga pelestarian hutan lindung pada dasarnya juga
meningkatkan kemampuan akan resapan air.
Kawasan resapan air di Kabupaten Supiori seluas 39,89 Km 2 (sesuai dengan
catchment area DAS yang ada di Kabupaten Supiori). Sebaran kawasan resapan air di
Kabupaten Supiori adalah Kampung Masram, Yawerma Distrik Supiori Timur; Kampung
Biniki, Warbefondi, Fanindi, Ordori, Didiabolo Distrik Supiori Selatan; Kampung Amyas,
Wayori Distrik Supiori Barat; dan Kampung Kobari Jaya, Warsa, Fanjur Distrik Supiori
Barat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta 4.2. Kawasan Resapan Air.

[Link]. Kawasan Mangrove


Kawasan Mangrove ditetapkan berada di Distrik Supiori Timur, Distrik Supiori Barat, Distrik
Supiori Selatan, dan Distrik Kepulauan Aruri

[Link]. Kawasan Rawa


Kawasan Rawa ditetapkan berada di Distrik Supiori Timur dan Distrik Supiori Selatan.

4.1.3. Kawasan Perlindungan Setempat


[Link]. Kawasan Sempadan Pantai
Kawasan sempadan pantai adalah kawasan sepanjang pantai yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Luas kawasan sempadan
pantai direncanakan di wilayah Kabupaten Supiori adalah 19,17 Km2. Kawasan sempadan
pantai terletak di sepanjang pantai, yaitu sepanjang pantai yang mengelilingi wilayah
Kabupaten Supiori. Sempadan pantai sekurang-kurangnya adalah 100 meter dari titik
tertinggi muka air ke arah darat.
Perlindungan ekosistem ini terdiri atas perlindungan hutan bakau (mangrove),
perlindungan terumbu karang terdapat hampir di sepanjang kawasan pesisir, Kepulauan
Mapia, Pulau Befondi, Pulau Rani dan Pulau Aruri, sedangkan perlindungan kawasan
estuaria sebagai tempat pertemuan sungai dan laut terdapat di semua distrik.

LAPORAN AKHIR | IV - 6
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.1 Rencana Kawasan Lindung

LAPORAN AKHIR | IV - 7
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.2 Rencana Kawasan Lindung

LAPORAN AKHIR | IV - 8
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Adapun rencana pemantapan kawasan sempadan pantai diatas antara lain:


1. Pengembalian fungsi sempadan pantai dengan melakukan penertiban kegiatan
budidaya yang ada dengan tetap memperhatikan kondisi sosial ekonomi pen-
duduk yang terkena kebijaksanaan.
2. Pencegahan pengembangan kegiatan budidaya di kawasan sempadan pantai
yang dapat mengganggu fungsi utamanya.

[Link]. Kawasan Sempadan Sungai


Berdasarkan Keppres No. 32 Tahun 1990, Sempadan sungai adalah kawasan
sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang
mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan pelestarian fungsi sungai :
1. Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di
kiri-kanan anak sungai yang berada di luar kawasan permukiman.
2. Untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperki-
rakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 – 15 meter.
Luas kawasan sempadan sungai yang direncanakan di wilayah Kabupaten Supiori
adalah sebesar 50,93 Km2. Lokasi persebaran :
1. Kawasan sempadan Sungai Orek, yang mencakup Kampung Syurdori Distrik
Supiori Timur;
2. Kawasan sempadan Sungai Sungai Sur, yang mencakup Kampung Doubo
Distrik Supiori Timur;
3. Kawasan sempadan Sungai Sorendi, yang mencakup Kampung Waryesi Dan
sesa Sorendiweri Distrik Supiori Timur;
4. Kawasan sempadan Sungai Wakre, yang mencakup Kampung Wakre dan
Kampung Duber Distrik Supiori Timur;
5. Kawasan sempadan Sungai Wafor, yang mencakup Kampung Wafor, Kam-
pung Sauyas Distrik Supiori Timur serta Kampung Fanjur di Distrik Supiori
utara;
6. Kawasan sempadan Sungai Kobarijaya, yang mencakup Kampung Fanjur
dan Kampung Kobari Jaya Distrik Supiori Utara;

LAPORAN AKHIR | IV - 9
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

7. Kawasan sempadan sungai Warsa, yang mencakup Kampung Warsa Distrik


Supiori Utara dan Kampung Waryei, Kampung Koryakam Distrik Supiori
Barat;
8. Kawasan sempadan Sungai Rusweri, yang mencakup Kampung Koryakam,
Kampung Wayori Distrik Supiori Barat;
9. Kawasan sempadan Sungai Napisndi, yang mencakup Kampung Napisndi,
Kampung Amyas, Kampung Masyai Distrik Supiori Barat dan Kampung
Imbirsbari, Porisa Distrik Kepulauan Aruri;

[Link]. Kawasan Sempadan Mata Air


Kawasan sekitar mata air, yaitu kawasan kurang lebih berjari – jari 200 m dari
mata air, merupakan kawasan perlindungan setempat. Di Kabupaten Supiori saat ini
melayani beberapa rumah dengan memanfaatkan 1 mata air dan yang lainnya
memanfaatkan sumur bor. Sebagai upaya Konservasi maka dilakukan penataan sekitar
mata air dan menerapkan batas konservasi sekitar dengan jari-jari kurang lebih 200 m.
Lokasi sebaran mata air di Kabupaten Supiori adalah Kampung Masram, Yawerma Distrik
Supiori Timur; Kampung Biniki, Warbefondi, Fanindi, Ordori, Didiabolo Distrik Supiori
Selatan; Kampung Amyas, Wayori Distrik Supiori Barat; dan Kampung Kobari Jaya,
Warsa, Fanjur Distrik Supiori Barat.
Adapun rencana pemantapan kawasan sempadan pantai diatas antara lain:
1. Pengendalian kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan sekitar danau/waduk
dan mata air agar tidak mengganggu fungsi danau dan mata air
2. Pelarangan kegiatan budidaya baru di kawasan sekitar danau/waduk dan mata air
3. Pengembalian fungsi lindung kawasan sekitar danau/waduk dan mata air

4.1.4. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, cagar budaya


[Link]. Cagar alam
Pulau Supiori merupakan ditetapkan sebagai kawasan cagar alam sesuai dengan
ketetapan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Tahun 2008. Kawasan cagar alam
yang ada di Kabupaten Supiori menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Supiori dengan
luas 19.143 ha. Sebaran kawasan cagar alam di Kabupaten Supiori adalah
1. Distrik Supiori Timur meliputi Doubo, Syurdori, Masram, Sauyas, Wafor,

LAPORAN AKHIR | IV - 10
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Yawerma, Wobonda;
2. Distrik Supiori Selatan meliputi Biniki, Maryadori, Ordori, Wongkeina,
Imbisbari;
3. Distrik Supiori Barat meliputi Masyai, Napisdi, Amyas, Wayori, Koryakam,
Waryei;
4. Distrik Supiori Utara meliputi Warsa, Warbor, Kobarijaya, dan Fanjur; dan
5. Distrik Kepulauan Aruri meliputi Rayori dan Insumbrei.

Adapun peraturan cagar alam adalah sebagai berikut:


1. Kawasan yang ditunjuk mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan
satwa serta tipe ekosistemnya.
2. Mewakili formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusunan
3. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan
tidak atau belum diganggu manusia.
4. Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efek-
tif dengan daerah penyangga yang cukup luas.
5. Mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satu-satunya contoh di suatu
daerah serta keberadaannya memerlukan upaya konservasi.
Rencana pengelolaan kawasan cagar alam antara lain dilakukan dengan :
1. Kondisi Cagar alam ini memiliki kecenderungan rusak, maka diperlukan pen-
gawasan dan pemantauan secara berkelanjutan untuk mengatasi meluasnya
kerusakan terhadap ekosistemnya;
2. Untuk menghindari kerusakan, maka perlu dipertahankan hutan hujan tropis
yang lengkap vegetasinya dari perdu hingga kanopi;
3. Sebagai kawasan resapan air, sebab diketahui kawasan cagar alam tersebut
memiliki curah hujan yang cukup tinggi;
4. Pengembangan fungsi tambahan, yaitu sebagai obyek wisata pariwisata
penelitian, out bond dan sebagainya. Dengan tidak mengurangi fungsi perlin-
dungan;
5. Apabila terdapat alih fungsi lindung, maka harus dikembalikan ke fungsi
semula sebagai perlindungan bawahannya;

LAPORAN AKHIR | IV - 11
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

6. Program pengelolaan, hutan kemasyarakatan dengan konsep berkelanjutan


dan konsep desa hutan;
7. Program pengelolaan hutan bersama masyarakat dengan tujuan memberikan
pemahaman tentang pentingnya hutan selain mempunyai fungsi ekologis juga
secara tidak langsung memiliki nilai ekonomis.

[Link]. Kawasan pantai berhutan bakau


Kawasan pantai berhutan bakau yaitu kawasan pelestarian alam yang
dimaksudkan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau
dan tempat berkembangbiaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung pantai
dan pengikisan air laut, serta pelindung usaha budidaya dibelakangnya.
Kawasan pantai berhutan bakau yang jaraknya dari garis air surut terendah ke arah
darat sebesar 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan,
sepanjang pantai di Distrik Supiori Timur, Supiori selatan serta pulau-pulau yang ada di
Distrik Supiori Selatan ditetapkan sebagai kawasan pantai berhutan bakau yang dilindungi.
Kawasan pantai berhutan bakau ini direncanakan memiliki luas 6,37 Km2.
Mangrove merupakan komunitas tumbuhan berkayu yang khas terdapat di
sepanjang pantai terlindung atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Hutan mangrove sering pula disebut sebagai hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau
atau hutan bakau. Mangrove berfungsi menjebak dan menahan sedimen, merendam badai
pantai dan energy gelombang, memberi perlindungan bagi juvenile ikan dan biota
avertebrata dan mengasimilasi nutrient untuk dikonversi menjadi jaringan tumbuhan,
control terhadap erosi, menetralisasi limbah cair dan sebagai sanctuary kehidupan liar
(Clark, 1982). Di Kabupaten Supiori, hutan mangrove ditemukan di sepanjang pesisir
Distrik Supiori Timur sampai Distrik Supiori Selatan dan beberapa pulau kecil di Distrik
Supiori Selatan.
Pemandangan hutan mangrove yang indah sepanjang pesisir sungai. Tercipta
nuansa petualangan selama perjalanan menyusuri hutan mangrove. Rangkaian perjalanan
dari Desa Doubo melewati kawasan hutan mangrove. Terdapat begitu banyak burung
kakaktua, Nuri, ikan bawal yang bermain hingga ke permukaan muara sungai. Nuansa
transportasi sungai di sepanjang hutan mangrove
Selain itu keberadaan hutan yang ada di kawasan darat perlu dilindungi untuk

LAPORAN AKHIR | IV - 12
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

menghindari terjadinya bencana alam yang tidak diinginkan seperti tanah tongsor, erosi,
sidementasi, banjir, dan lain sebagainya. Rencana pemanfaatan kawasan pesisir ke daratan
diarahkan perlindungan mangrove. Upaya reboisasi mangrove masih diupayakan di
beberapa tempat, yang meliputi sepanjang pantai di Dsitrik Supiori Barat, Supiori Utara
dan Kepulauan Aruri. Kawasan budidaya mangrove yang akan direncanakan
dikembangkan adalah seluas 14,8 Km2.
Pada kawasan pantai hutan bakau maka, penetapan kawasan ini sesuai dengan
kriteria dan ketentuan seperti pada Keppres Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung. Pada kawasan pantai berhutan bakau ini wilayahnya adalah minimal
130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari
garis air surut terendah ke arah darat.
Pokok permasalahan yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya mangrove
berakar pada masalah hukum, kelembagaan, sosial ekonomi dan masalah ekologi.
Komponen strategi pengelolaan mangrove adalah: optimasi kombinasi penggunaan
kawasan mangrove secara langsung ataupun tidak, pemeliharaan genetic pool mangrove,
konservasi kawasan mangrove, pemeliharaan habitat untuk flora dan fauna, konservasi
kawasan untuk kepentingan keanekaragaman hayati, pariwisata, penelitian dan pendidikan,
mempertemukan kebutuhan dari komunitas yang hidup dan bergantung pada ekosistem
mangrove.
Strategi pengelolaan mangrove yang diajukan adalah sebagai berikut:
1. Penyelamatan dan pengamanan kawasan mangrove yang telah ditetapkan
sebagai hutan lindung, cagar alam, suaka margasatwa dan hutan lindung,
yang dapat ditempuh dengan cara:
2. Penataan batas, terutama pada kawasan yang belum ditapal batas,
3. Rehabilitasi dan pembinaan untuk kawasan yang mengalami degradasi,
4. Pemantauan dan evaluasi potensi.
5. Penanaman tanaman bakau di pantai yang landai dan berlumpur atau tanaman
keras pada pantai yang terjal/bertebing curam.
Penyisihan kawasan mangrove untuk ditetapkan peruntukkannya, meliputi jalur
hijau dan sempadan pantai, yang dapat ditempuh dengan cara:
1. Inventarisasi dan evaluasi potensi, lokasi dan penyebaran ekosistem
mangrove,

LAPORAN AKHIR | IV - 13
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

2. Penunjukkan, penatabatasan dan pengukuhan ekosistem mangrove sesuai


dengan fungsi dan tata ruangnya,
3. Rehabilitasi ekosistem mangrove yang mengalami degradasi,
4. Perlindungan ekosistem mangrove dari perusakan, gangguan, ancaman, hama
dan penyakit.
5. Penyusunan program dan rencana pengelolaan ekosistem mangrove secara
jelas memuat: tujuan yang harus dicapai, kegiatan yang harus dilaksanakan
dirinci menurut waktu dan tempat, siapa dan bagaimana dilaksanakan, sarana
dan prasarana serta dana yang dialokasikan.
6. Peningkatan dan pemantapan koordinasi di segala bidang, mulai tahap
penelitian, perencanaan sampai dengan pengawasan.
7. Pengembangan kawasan pantai berhutan bakau harus disertai dengan
pengendalian pemanfaatan ruang.
8. Koefisien dasar kegiatan budidaya terhadap luas hutan bakau maksimum
30 %.
Gambar 4.1 Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Doubwo, Supiori

Kawasan pantai berhutan bakau ini memiliki fungsi penyeimbang lingkungan


pantai sehingga harus dilestarikan, diperluas melalui reboisasi bakau.

LAPORAN AKHIR | IV - 14
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.3 Rencana Kawasan Suaka Alam

LAPORAN AKHIR | IV - 15
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

[Link]. Taman wisata alam dan taman wisata alam laut


Perlindungan Taman Wisata Alam dilakukan untuk kebutuhan berwisata yang
didukung oleh arsitektur bentang alam yang baik. Keberadaan taman Wisata Alam di
wilayah Kabupaten Supiori terdapat di air terjun Wabudori Distrik Supiori Barat, Air
Terjun Masrib, pesisir utara Kabupaten Supiori, Kepulauan Mapia, Pulau Befondi, dan
Kepulauan Aruri. Kondisi daya tarik wisata alam yang ada di Kabupaten Supiori masih
baik dan tetap terawat. Mengingat fungsinya sebagai kawasan cagar alam, maka
keberadaannya dilindungi.
Rencana pengelolaan kawasan taman wisata alam dilakukan dengan:
1. Pada kawasan daya tarik wisata alam harus dilestarikan sehingga dapat
menunjang kehidupan flora dan fauna yang hidup di daerah tersebut;
2. Daya tarik wisata alam memiliki nilai wisata dan penelitian/pendidikan,
sehingga diperlukan pengembangan jalur wisata yang menjadikan lokasi daya
tarik wisata alam sebagai salah satu daya tarik wisata yang menarik dan
menjadi salah satu tujuan atau daya tarik wisata penelitian dan pendidikan;
serta
3. Penerapan sistem insentif bagi pemanfaatan kawasan daya tarik wisata alam
yang sesuai dengan fungsinya dan memberikan disinsentif bagi kawasan
obyek wisata alam yang tidak sesuai dengan fungsinya.
Gambar 4.2 Obyek Wisata Alam (Pulau Mapia, Pulau Befondi serta air terjun
Wabudori dan Pulau Rani)

Sedangkan untuk taman wisata laut, Kabupaten Supiori memiliki potensi sangat
besar untuk dikembangkan. Taman wisata alam laut ini terdapat pula di beberapa pulau di

LAPORAN AKHIR | IV - 16
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Kepulauan Supiori, antara lain tersebar di Kepulauan Mapia, Kepulauan Rani, Kepulauan
Aruri dan Kepulauan Befondi.
Keunikan Kepulauan Mapia tedapat pada chanelnya dimana pada saat pasang naik
dan surut terdapat ribuan berbagai macam ikan baik berukuran kecil ataupun besar (Hiu)
masuk menuju laguna. Di laut Mapia terdapat banyak karang kipas (sea fan) yang
membentu hamparan karang (city sea fan). Pada chanel menuju laguna terdapat karang
hidup yang terus membesar hingga hampir menuju permukaan laut. Panorama alam pulau
Mapia dengan hamparan pasir putih dan burung-burung laut memiliki keunikan tersendiri.
Pada ujung (tanjung) pulau mapia berbentuk seperti haluan kapal dimana terdapat trumbu
karang dari jenis soft coral.
Pemandangan pulau Meosbepondi dengan pantai pasir putih. Terdapat hamparan
terumbu karang yang luas dan berbagai spesis biota laut serta spot – spot diving yang
sangat cocok sebagai pusat kegiatan wisata bahari. Pemandangan pulau Meosbepondi
dengan keindahan alam yang sangat eksotik. Terdapat kumpulan ikan yang merupakan
daya tarik bagi wisatawan dalam kegiatan penyelaman. Perairan pulau Mesobepondi
didominasi Acropora, Non Acropora dan soft coral dengan kondisi dasar laut yang datar
(flat).
Gambar 4.3 Potensi Taman Wistaa Laut Kabupaten Supiori
(Pulau Mapia dan Pulau Befondi)

[Link]. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan


Kawasan cagar budaya adalah kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil
budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas. Kawasan
cagar budaya dan ilmu pengetahuan ditetapkan dengan kriteria sebagai hasil budaya
manusia yang bernilai tinggi yang dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan
Kawasan cagar budaya di Kabupaten Supiori sekaligus merupakan kawasan
dengan fungsi pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kawasan pelestarian alam jenis cagar

LAPORAN AKHIR | IV - 17
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

budaya berupa gereja korido menjadi salah satu bukti sejarah bahwa Supiori adalah pulau
Injil, dan salah satu situs tengkorak jepang di Ditsrik Supiori Selatan serta Rumah adat
Rum Son dan Rum Sram,perahu tradisional (Wai Kabasa, Wai Papa, Wai Bok, Sababer,
Wai Ron dan Wai Wansusu), pesta adat/upacara adat (munara famarmar, kapapknik,
kaborinsos, karindan auw, yakyeker farbakbuk, kofkefer afer, wor koreri, dan manura
sabsider) yang terdapat di Supiori Utara, Supiori Selatan dan Supiori Timur.
Rencana pengelolaan kawasan konservasi budaya dan sejarah meliputi :
1. Pada kawasan sekitar bangunan/situs budaya harus dikonservasi untuk
kelestarian dan keserasian benda cagar budaya, berupa pembatasan
pembangunan, pembatasan ketinggian, dan menjadikan candi tetap terlihat
dari berbagai sudut pandang;
2. Pengembangan jalur wisata yang menjadikan sebagai salah satu obyek wisata
yang menarik dan menjadi salah satu tujuan atau obyek penelitian benda
purbakala dan tujuan pendidikan dasar-menengah;
3. Benda cagar budaya berupa bangunan yang fungsional, seperti pabrik gula,
perumahan dan berbagai bangunan peninggalan Jepang/Belanda harus
dikonservasi dan direhabilitasi bagi bangunan yang sudah mulai rusak; serta
4. Penerapan sistem insentif bagi bangunan yang dilestarikan dan pemberlakuan
sistem disinsentif bagi bangunan yang mengalami perubahan fungsi.
Penetapan kawasan yang dilestarikan baik di perkotaan maupun perdesaan
disekitar benda cagar budaya. Juga menjadikan benda cagar budaya sebagai orientasi bagi
pedoman pembangunan pada kawasan sekitarnya. Untuk lebih jelasnya mengenai rencana
kawasan lindung laut pada Peta 4.4 dan rencana kawasan lindung dapat dilihat pada Peta
4.5

4.1.5. Kawasan Rawan Bencana


[Link]. Kawasan Rawan Gelombang Pasang
Kawasan rawan gelombang pasang ditetapkan dengan kriteria kawasan sekitar
pantai yang rawan terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10 sampai dengan
100 kilometer per jam yang timbul akibat angin kencang atau gravitasi bulan atau
matahari. Beberapa kawasan pantai Kabupaten Supiori tidak hanya rawan terhadap
gelombang pasang, tetapi juga bencana lain yang melanda pesisir. Bencana ini terjadi

LAPORAN AKHIR | IV - 18
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

karena peristiwa alam atau karena perbuatan manusia yang menimbulkan perubahan sifat
fisik dan atau hayati pesisir dan mengakibatkan korban jiwa/harta dan atau kerusakan di
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, antara lain ditandai dengan:
1. Pesisir pantai yang pernah mengalami bencana tsunami;
2. Berada di wilayah patahan dan pusat gempa;
3. Potensi / sering terjadi banjir rob/ banjir pasang laut;
4. Memiliki area rawan erosi, longsor dan banjir; dan
5. Sulit akses transportasi dan komunikasi serta berada pada daerah terisolir dan
sulit dijangkau.
Kawasan rawan bencana di wilayah pesisir dan laut terutama adalah akibat
tsunami dan gempa bumi, yang menghanyutkan rumah bahkan kampung dan menimbulkan
banyak korban jiwa, ternak, lahan dan pertanian mereka termasuk juga kapal-kapal
nelayan serta infrastruktur pantai yang ada. Bencana lainnya adalah erosi dan abrasi baik
yang disebabkanoleh ulah manusia ataupun alami. Kawasan rawan gelombang pasang di
Kabupaten Supiori adalah sepanjang pesisir utara dan selatan Kabupaten Supiori, wilayah
Kepulauan Aruri, Kepulauan Befondi, Kepulauan Rani dan Kepulauan Mapia.

[Link]. Kawasan rawan terkena dampak perubahan iklim


Wilayah yang memiliki kerawanan terkena dampak perubahan iklim dapat
diidentifikasi berdasarkan:
1. Pernah atau rentan mengalami pemucatan/ pemutihan karang/ coral leaching
pada kawasan terumbu karang
2. Diindikasikan terjadi kenaikan permukaan air pada bibir pantai
3. Diindikasikan terjadi kenaikan suhu permukaan laut.
4. Diindikasikan dengan adanya peningkatan salinitas pada lokasi-lokasi tertentu
dan intrusi salinitas yang masuk jauh ke wilayah pesisir/daratan.
Untuk rawan bencana perubahan iklim yang berdampak pada kerusakan terumbu
karang, tentu saja akan menyerang wilayah-wilayah yang memiliki tutupan terumbu
karang seperti di wilayah perairan Kepulauan Aruri, Kepulauan Mapia, Kepulauan Rani
dan Kepulauan Befondi. Naiknya suhu permukaan laut akan menyebabkan kerusakan
bahwa dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan kematian masal pada koloni
terumbu karang tersebut.

LAPORAN AKHIR | IV - 19
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Perubahan iklim dan kaitannya dengan pesisir:


1. Perubahan iklim adalah berubahnya kondisi rata-rata dan atau keragaman
iklim dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lain sebagai akibat dari
aktifitas manusia.
2. Adaptasi perubahan iklim, dimaksudkan adalah dalam adaptasi perubahan
iklim adalah suatu proses untuk memperkuat dan membangun strategi
antisipasi dampak perubahan iklim serta melaksanakannya sehingga mampu
mengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya
(Perpres 46, tahun 2008).
Dampak lain secara tidak langsung antara pemanasan suhu permukaan air laut
yang menyebabkan kondensasi di udara dan sering disebut sebagai pencetus terjadinya
badai laut/pesisir dan tidak beraturannya dan tingginya gelombang pasang yang
menerjang. Lokasi-lokasi yang tercatat sering terkena dampak ini adalah hampir di wilayah
pesisir pantai yang berhadapan dengan Laut Pasifik dalam hal ini di Kabupaten Supiori
terdapat di wilayah Pesisir Utara Kabupaten Supiori.

4.1.6. Kawasan Lindung Geologi


[Link]. Kawasan rawan bencana alam geologi
A. Gempa Bumi
Gempa bumi berlaku setiap hari di bumi, tetapi umumnya berskala kecil, sehingga
tidak menyebabkan kerusakan. Gempa bumi yang kuat mampu menyebabkan kerusakan
dan kehilangan nyawa yang besar melalui beberapa cara termasuk retakkan pecah (fault
rupture), getaran bumi (gegaran) banjir disebabkan oleh tsunami, lempengan pecah,
berbagai jenis kerusakan muka bumi kekal seperti tanah runtuh, tanah lembik, dan
kebakaran atau perlepasan bahan beracun.

LAPORAN AKHIR | IV - 20
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Gambar 4.4 Zona Gempa Bumi dan Tsunami Pulau Papua

Kriteria kawasan rawan gempa menurut PP No 26 Tahun 2008 Tentang Rencana


Tata Ruang Wilayah Nasional adalah kawasan yang berpotensi dan/atau pernah mengalami
gempa bumi dengan skala VII sampai dengan XII Modified Mercally Intensity (MMI).
Kabupaten Supiori memiliki potensi gempa MMI VI hingga VII, dengan keterangan
sebagai berikut
Tabel 4.1 Kriteria Kawasan Rawan Gempa Kabupaten Supiori
Skala Keterangan
I Sangat jarang /hampir tidak ada orang dapat merasakan. Tercatat pada alat seismograf
Terasa oleh sedikit sekali orang terutama yang ada di gedung tinggi, sebagian besar orang
II
tidak dapat merasakan
Terasa oleh sedikit orang, khususnya yang berada di gedung tinggi. Mobil parkir sedikit
III
bergetar, getaran seperti akibat truk yang lewat
Pada siang hari akan terasa oleh banyak orang dalam ruangan, diluar ruangan hanya sedikit
IV yang bisa merasakan. Pada malam hari sebagian orang bisa terbangun. Piring, jendela, pintu,
dinding mengeluarkan bunyi retakan, lampu gantung bergoyang.
Dirasakan hampir oleh semua orang, pada malam hari sebagian besar orang tidur akan
terbangun, barang‐barang diatas meja terjatuh, plesteran tembok retak, barang‐barang yang
V
tidak stabil akan roboh,
pandulum jam dinding akan berhenti.
Dirasakan oleh semua orang, banyak orang ketakutan/panik, berhamburan keluar ruangan,
VI banyak perabotan yang berat bergerser, plesteran dinding retak dan terkelupas, cerobong asap
pabrik rusak
Setiap orang berhamburan keluar ruangan, kerusakan terjadi pada bangunan yang desain
konstruksinya jelek, kerusakan sedikit sampai sedang terjadi pada bangunan dengan desain
VII
konstruksi biasa.
Bangunan dengan konstruksi yang baik tidak mengalami kerusakan yang berarti.
Kerusakan luas pada bangunan dengan desain yang jelek, kerusakan berarti pada bangunan
dengan desain biasa dan sedikit kerusakan pada bangunan dengan desain yang baik. Dinding
VIII panel akan pecah
dan lepas dari framenya, cerobong asap pabrik runtuh, perabotan yang berat akan terguling,
pengendara mobil terganggu.
Kerusakan berarti pada bangungan dengan desain konstruksi yang baik, pipa pipa bawah
IX
tanah putus, timbul retakan pada tanah.
Sejumlah bangunan kayu dengan desain yang baik rusak, sebagian besar bangunan tembok
X
rusak termasuk fondasinya. Retakan pada tanah akan semakin banyak, tanah longsor pada

LAPORAN AKHIR | IV - 21
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Skala Keterangan
tebing tebing sungai
dan bukit, air sungai akan melimpas di atas tanggul.
Sangat sedikit bangunan tembok yang masih berdiri, jembatan putus, rekahan pada tanah
XI sangat banyak/luas, jaringan pipa bawah tanah hancur dan tidak berfungsi, rel kereta api
bengkok dan bergeser.
Kerusakan total, gerakan gempa terlihat bergelombang diatas tanah, benda benda
XII
berterbangan keudara.

Kawasan rawan bencana ini memerlukan beberapa pengendalian pemandaatan


ruang antara lain :
1. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan rawan gempa bumi dilakukan
dengan mencermati konsistensi kesesuaian antara pemanfaatan ruang dengan
rencana tata ruang kawasan strategis atau rencana detail tata ruang.
2. Dalam peruntukan ruang kawasan rawan gempa bumi harus
memperhitungkan tingkat risiko.
3. Tidak diizinkan atau dihentikan kegiatan yang mengganggu fungsi lindung
kawasan rawan gempa bumi dengan tingkat risiko tinggi terhadap kawasan
demikian mutlak dilindungi dan dipertahankan fungsi lindungnya.
B. Tsunami
Tsunami sering terjadi akibat gempa bumi tektonik dengan skala di atas 5 SR yang
menyebabkan deformasi permukaan di bawah laut sehinggamenimbulkan gelombang
pasang yang sangat besar melanda daratan atau pulau. Bahaya tsunami dikenal amat
berbahaya dengan tingkat kerusakan yang sangat tinggi dan waktu yang relatif cepat atau
singkat. Meskipun demikian, tsunami dapat diantisipasi dengan mengamati beberapa
parameter pokok, seperti kecepatan, ketinggian, jarak landaan dan intensitas tsunami.
Kecepatan tsunami merupakan kecepatan rambat gelombang laut yang berhubungan
dengan kedalaman dasar laut. Semakin dalam dasar laut maka semakin tinggi kecepatan
rambat gelombang lautnya. Ketinggian tsunami dipengaruhi oleh besar energi penyebab
tsunami. Saat tsunami mendekati garis pantai atau daratan, bagian dasar laut mereduksi
kecepatan gelombang di bagian bawah, tetapi kecepatan gelombang di bagian atas masih
tinggi sehingga amplitudo (ketinggian) gelombang laut semakin tinggi. Jarak landaan
merupakan jarak gelombang laut yang mencapai jarak terjauh di daratan dari garis pantai.
Jarak landaan ini berkaitan dengan bentuk dan jenis pantai, serta morfologi sungai. Pantai
yang terbuka dan tanpa tumbuhan atau bukit penghalang memiliki jarak landaan yang jauh
ke daratan, demikian juga sungai yang lurus dan dalam, serta memiliki muara yang lebar

LAPORAN AKHIR | IV - 22
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

memudahkan gelombang pasang memasuki daratan. Intesitas tsunami menggambarkan


tinggi gelombang di darat dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya.
Bencana tsunami tidak dapat dihindari, tetapi risiko dari bencana terseb utdapat
dikurangi, baik secara fisik maupun non fisik. Kurangnya pengetahuan dan pemahanan
tentang tsunami, ditambah tidak terencananya kawasan di pesisir dan dataran rendah
menyebabkan dampak tsunami menjadi semakin besar. Oleh sebab itu perlu diatur
langkah-langkah seperti:
a. Perlindungan terhadap kawasan pantai, seperti Gambar 5.2.
b. Pemetaan kawasan rawan bencana tsunami.
c. Penyiapan jalur dan sarana evakuasi penduduk.
d. Sistem peringatan dini bahaya tsunami yang terintegrasi dengan wilayah lain.
e. Upaya pendidikan (pembelajaran) dan latihan menghadapi datangnya
tsunami.
Gambar 4.5 Penataan Ruang Kawasan Pesisir Pantai yang Ramah Bahaya
Tsunami

LAPORAN AKHIR | IV - 23
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.4 Rencana Kawasan Rawan Bencana

LAPORAN AKHIR | IV - 24
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

4.1.7. Kawasan Lindung Lainnya


Kawasan lindung lainnya di Kabupaten Supiori berupa kawasan perlindungan
terumbu karang terdapat hampir di seluruh pulau-pulau yang ada di Kabupaten Supiori,
khususnya di Kepulauan Mapia dan Pulau Befondi serta Kepulauan Aruri.
Untuk kawasan lindung pada terumbu karang diatasnya boleh dimanfaatkan untuk
kegiatan budidaya perairan laut (rumput laut dan mutiara) dan aktivitas wisata (seperti
berenang, snorkelling, diving) selama kegiatan ini tidak menganggu kelangsungan hidup
dari terumbu karang tersebut.
Rencana pengelolaan terumbu karang adalah sebagai berikut:
1. Pelestarian, perlindungan, perbaikan/rehabilitasi dan peningkatan kondisi/
kualitas ekosistem terumbu karang. Program yang dapat dikerjakan
sehubungan dengan strategi tersebut adalah:
a. Meningkatkan efektifitas penegakan hukum terhadap kegiatan yang
dilarang oleh hukum (pengeboman, penggunaan alat tangkap yang tidak
sesuai, pembuangan Iimbah dan sebagainya),
b. Memantau dan mengevaluasi kondisi terumbu karang untuk melihat
adanya kecenderungan peningkatan atau penurunan prosentase karang
hidup,
c. Memetakan seluruh gugusan terumbu karang,
d. Menetapkan kawasan konservasi terumbu karang,
e. Melakukan rehabilitasi terumbu karang.
2. Peningkatan partisipasi masyarakat untuk menciptakan mekanisme
kerjasama, koordinasi dan kemitraan antara pemerintah Kabupaten Supiori
dengan masyarakatnya. Program yang dapat dikerjakan sehubungan dengan
strategi tersebut adalah:
a. Meyakinkan masyarakat tentang manfaat jangka panjang yang
berkelanjutan dari konservasi dan pengelolaan terumbu karang,
b. Mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat pengguna atau yang
kehidupannya bergantung pada ekosistem terumbu karang pada upaya
konservasi dan pengelolaan mulai dari perencanaan sampai dengan
pelaksanaan dan pengawasannya.

LAPORAN AKHIR | IV - 25
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

3. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengembangan usaha ekonomi


secara terpadu. Program yang dapat dikerjakan sehubungan dengan strategi
tersebut adalah: Mengembangkan program-program penyuluhan mengenai
konservasi terumbu karang dan mengembangkan mata pencaharian alternatif
yang bersifat berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
4. Pengembangan kapasitas dan kapabilitas pemerintah dan masyarakat daerah
dalam menyusun dan melaksanakan program-program pengelolaan ekosistem
terumbu karang berdasarkan keseimbangan antara eksploitasi sumberdaya
dan lingkungan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai kearifan masyarakat
maupun karakteristik biofisik dan ekonomi wilayah.

4.2. RENCANA POLA RUANG KAWASAN BUDIDAYA


4.2.1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi
Pemanfaatan kawasan pada hutan produksi dilaksanakan untuk memanfaatkan
ruang tumbuh sehingga diperoleh manfaat lingkungan, manfaat sosial, dan manfaat
ekonomi yang optimal, misalnya budidaya tanaman di bawah tegakan hutan.
Pemanfaatan hasil hutan pada hutan produksi dapat berupa usaha pemanfaatan
hutan alam dan usaha pemanfaatan hutan tanaman. Usaha pemanfaatan hutan tanaman
dapat berupa hutan tanaman sejenis dan atau hutan tanaman berbagai jenis. Usaha
pemanfaatan hutan tanaman diutamakan dilaksanakan pada hutan yang tidak produktif
dalam rangka mempertahankan hutan alam.
Izin pemungutan hasil hutan di hutan produksi diberikan untuk mengambil hasil
hutan baik berupa kayu maupun bukan kayu, dengan batasan waktu, luas, dan atau volume
tertentu, dengan tetap memperhatikan azas lestari dan berkeadilan. Kegiatan pemungutan
meliputi pemanenan, penyaradan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran yang
diberikan untuk jangka waktu tertentu.
Kawasan hutan produksi di Kabupaten Supiori direncanakan seluas 19,54 Km 2
terdapat di Distrik Supiori Timur dan wilayah dataran tinggi Kabupaten Supiori yang
sudah dikonversi menjadi kawasan budidaya (pertanian), dimana hutan jati dibudidayakan
untuk diambil hasil hutan kayu sedangkan hutan rimba dibudidayakan untuk diambil hasil
hutan non kayu. Wilayah yang termasuk ke dalam kawasan hutan produksi ini memiliki
kemiringan lereng lahan mayoritas dengan kemiringan 25-40%.

LAPORAN AKHIR | IV - 26
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.5 Rencana Kawasan Mangrove

LAPORAN AKHIR | IV - 27
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Rencana pengelolaan kawasan hutan produksi meliputi:


1. Beberapa hutan produksi yang ada ternyata menunjukkan adanya tingkat
kerapatan tegakan tanaman yang rendah sehingga harus dilakukan percepatan
reboisasi;
2. Pengolahan hasil hutan sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan
memberikan kesempatan kerja yang lebih banyak;
3. Pengelolaan kawasan hutan produksi dengan pengembangan kegiatan
tumpang ari atau budidaya sejenis dengan tidak mengganggu tanaman pokok.
4. Peningkatan partisipasi masyarakat sekitar hutan melalui pengembangan
hutan kerakyatan;
5. Pemantauan dan pengendalian kegiatan pengusahaan hutan serta gangguan
keamanan hutan lainnya;
6. Pengembangan dan diversifikasi penanaman jenis hutan sehingga
memungkinkan untuk diambil hasil non kayu, seperti buah dan getah;
7. Peningkatan fungsi ekologis melalui pengembangan sistem tebang pilih,
tebang gilir dan rotasi tanaman yang mendukung keseimbangan alam; serta
8. Mengarahkan kawasan hutan produksi yang ada di kawasan perkotaan untuk
membentuk hutan kota.

4.2.2. Kawasan Peruntukan Pertanian


[Link]. Peruntukan Pertanian Lahan Basah
Pertanian lahan basah adalah lahan yang sepanjang tahun dapat ditanami padi
karena cukup air yang bersumber dari air irigasi. Belum terdapat lahan petanian basah di
Kabupaten Supiori. Untuk mengembangkan lahan pertanian basah di prioritaskan di Desa
Wayori dan Warsey Distrik Supiori Barat, Desa Koriakam dan Desa Warsa, Distrik Supiori
Utara dan Desa Doubo Distrik Supiori Timur, hal ini sangat di mungkinkan mengingat
lahan pertanian (sawah) dapat berfungsi sebagai lahan cadangan untuk pangan. Luas
kawasan pertanian lahan basah sebesar 4,49 Km2.

[Link]. Peruntukan Pertanian Lahan Kering


Pertanian lahan kering adalah lahan yang ketika musim hujan ditanami padi dan
saat musim kemarau ditanami palawija seperti kacang hijau, kedelai, kacang tanah, ubi

LAPORAN AKHIR | IV - 28
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

kayu. Termasuk dalam pertanian lahan kering adalah peruntukan tegalan dan kebun
campuran. Luas lahan pertanian berupa lahan kering di Kabupaten Supiori sebesar 68 Km2.
Lahan Kering dengan luas yang cukup dominan terdapat di sekitar kawasan
pesisir di Distrik Supiori barat (Pulau Befondi dan Kepulauan Mapia), Supiori Utara,
Supiori Timur, Supiori Selatan hingga Kepulauan Aruri dan Kepulauan Rani. Sebagian
besar lahan dimanfaatkan untuk tanaman kelapa sebagai produk unggulan, sagu dan buah
pinang serta sebagian tanaman jenis lainnya.

[Link]. Kawasan Peruntukan Perkebunan


Luas kawasan perkebunan di Kabupaten Supiori adalah 4.486 Ha. Komoditi
perkebunan utamanya adalah Kelapa. Sagu dan buah pinang. Potensi areal komoditi
perkebunan tersebar di seluruh wilayah distrik khususnya di sekitar kawasan pesisir Distrik
Supiori barat (Pulau Befondi dan Kepulauan Mapia), Supiori Utara, Supiori Timur, Supiori
Selatan hingga Kepulauan Aruri khusunya Pulau Meosebai hingga Pulau Bineki
(Kepulauan Rani).
Dengan demikian kawasan perkebunan di Kabupaten Supiori dikembangkan
berdasarkan fungsi kawasan dan potensi yang ada pada daerah masing-masing berdasarkan
prospek ekonomi yang dimiliki. Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan untuk
meningkatkan peran, efisiensi, produktivitas yang berkelanjutan, mengembangkan
kawasan industri berbasis unggulkan, introduksi komoditas baru yang potensial dan
memiliki kesesuaian lahan dengan kategori sesuai.

4.2.3. Kawasan Perikanan


[Link]. Peruntukan Perikanan Tangkap
Kawasan perikanan tangkap di Kabupaten Supiori terdapat pada kawasan
perikanan laut. Daerah potensi ikan laut terdapat di semua distrik Kabupaten Supiori.
Untuk perikanan tangkap, arahan pengembangan yang dilakukan berupa
pengembangan kawasan perikanan tangkap yaitu Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) di
Distrik Kepulauan Aruri dan dan pengembangan TPI di Distrik Supiori Timur. Selain itu
terdapat prospek pengembangan budidaya air laut sebagai penunjang perikanan tangkap.
Rencana pengembangan perikanan tangkap adalah sebagai berikut:

LAPORAN AKHIR | IV - 29
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.6 Rencana Kawasan Pertanian

LAPORAN AKHIR | IV - 30
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

1. Mengendalikan dan membatasi metode dan penggunaan alat tangkap dalam


rangka mengendalikan pemanfaatan potensi perikanan tangkap khususnya
jenis ikan demersal diarahkan di kawasan yang padat
2. Menerapkan alat tangkap sesuai jalur penangkapan SK Mentan.
3. Mendorong pemanfaatan potensi perikanan melalui peningkatan teknologi
dan kemampuan armada perikanan.
4. Pengadaan dan Pengembangan TPI (tempat Pelelangan Ikan).
5. Pengadaan dan pengembangan koperasi nelayan pada tiap distrik.
6. Melakukan pembinaan kepada para nelayan.
7. Pemberdayaan masyarakat sekitar dalam pengembangan dan pengelolaan
perikanan.
8. Peningkatan sarana dan prasarana berupa Pelabuhan Perikanan Pantai.
9. Pemanfaatan teknologi informasi untuk perikanan (remote, GIS, GPS).
Zonasi yang layak untuk kegiatan perikanan tangkap harus berdasarkan data
sumberdaya ikan (fishing ground), alat tangkap yang dipakai, serta tingkat pemanfaatan
yang sudah dicapai. Walaupun sumber daya ikan bisa pulih sendiri (renewable resources);
pengelolaannya tidak boleh melebihi maximum sustainable yield (MSY) agar supaya tidak
tebih tangkap (over fishing).
Untuk mencegah timbutnya konflik dalam pemanfaatan sumber daya ikan di laut;
maka penataan zonasi perikanan tangkap sangat menentukan berdasarkan tingkat
kemampuan dan teknotogi nelayan; karena itu jalur penangkapan digunakan sebagai
pedoman (SK Mentan Nomor: No. 392/Kpts/IK.120/4/99 tentang Jalur-jalur Penangkapan
Ikan); yaitu
1. Jalur Penangkapan Ikan I dengan batas 0 - 6 mil laut terbagi atas
a. Jalur 0 sampai 3 mil laut bagi nelayan dengan klasifikasi peralatan alat
penangkap ikan menetap dan alat penangkap ikan tidak menetap yang
tidak dimodifikasi.
b. Jalur 3 sampai 6 mil laut : bagi nelayan dengan klasifikasi peralatan:
 Alat penangkap ikan tidak menetap yang dimodifikasi,
 Kapal perikanan tanpa motor atau bermotor tempet dengan ukuran
kurang dari 12 m atau kurang dari 5 GT,
 Pukat cincin (purse seine dengan ukuran kurang dari 150 m), Jaring

LAPORAN AKHIR | IV - 31
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

ingsang hanyut dengan ukuran kurang dari 1.000 m.


2. Jalur penangkapan Ikan II dengan Batas perairan di tuar Jalur Penangkapan
Ikan I sampai 12 mil kearah laut, dengan klasifikasi peralatan:
a. kapal motor dengan maksimum 60 GT,
b. menggunakan pukat cincin, maksimum 600 m (1 kapal); maksimum
1000 m ( 2 kapal),
c. Jaring ingsang hanyut, dengan ukuran maksimum 2.300 m.
3. Jalur Penangkapan Ikan III dengan Batas perairan di luar Jalur Penangkapan
ini sampai Batas tertuar ZEE Indonesia
Perikanan laut telah mendekati titik ambang batas dengan semakin dekatnya total
penangkapan mendekati 100% MSY. Strategi pengelolaan yang diajukan antara lain:
1. Penerapan secara tegas aturan dan perundang-undangan perikanan papua
tentang tingkat pemanfaatan, aturan jumlah dan tipe perahu, tata ruang serta
fungsi zonasi, ukuran mata jaring minimum, alat tangkap yang diijinkan.
2. Pembuatan terumbu karang buatan ataupun rumpon pada lokasi yang jauh
dari terumbu karang alami untuk menciptakan habitat pemijahan yang baru.
3. Meningkatkan keakuratan statistik perikanan dan pengawasan volume
penangkapan dengan implementasi analisa stok secara reguler bagi perikanan
pelagis maupun demersal.
4. Penyebaran dan pemerataan aplikasi teknologi tepat guna yang ramah
Iingkungan dalam usaha penangkapan ikan.
5. Berkaitan dengan perikanan darat, strategi pengelolaan yang diajukan:
6. Memperketat pengawasan pencemaran perairan yang disebabkan oleh
kegiatan industri maupun pemukiman.
7. Menghentikan secara bertahap konversi kawasan mangrove menjadi area
pertambakan.
8. Memperkenalkan teknologi produksi yang bersahabat Iingkungan, khususnya
dalam kaitannya dengan penggunaan pupuk dan pestisida.
9. Memperkenalkan teknologi produksi yang bersahabat lingkungan
(silvofishing, penggunaan pupuk & pestisida).

LAPORAN AKHIR | IV - 32
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

[Link]. Peruntukan Budidaya Perikanan


Kawasan budidaya perikanan yang ada di Kabupaten Supiori yaitu berupa areal
pemeliharaan ikan laut/ keramba terdapat di Distrik Kepulauan Aruri. Sedangkan yang
berupa kolam terdapat hampir di seluruh Distrik khususnya Distrik Kepulauan Aruri. Luas
kawasan budidaya perikanan di Kabupaten Supiori hingga akhir tahun perencanaan seluas
6,04 Km2.
Rencana kawasan perikanan budidaya di wilayah pesisir Kabupaten Supiori
adalah sebagai berikut:
1. Mengendalikan dan membatasi pemanfaatan lahan pantai (pesisir) untuk
kegiatan pertambakan di wilayah pesisir
2. Mengembangkan metode budidaya yang berbasis kelestarian sumberdaya
pesisir
3. Membatasi dan merelokasi kawasan-kawasan budidaya lahan pantai (pesisir)
yang berada pada kawasan-kawasan berfungsi lindung dan dilindungi di
wilayah pesisir
4. Mengembangkan, meningkatkan dan mengoptimalkan kegiatan budidaya
perikanan di wilayah pesisir, berdasarkan potensi yang tersebar di Kabupaten
Supiori
5. Mendorong peningkatan nilai tambah manfaat hasil-hasil perikanan budidaya
yang didukung oleh industri pengolahan ikan dan dukungan akses yang baik
ke pasar.
6. Pengembangan penerapan teknologi dalam kegiatan usaha budidaya
perikanan.
7. Mendorong dan meningkatkan bantuan permodalan usaha kepada kegiatan
usaha masyarakat pertambakan
8. Mendorong dan meningkatkan bantuan permodalan usaha kepada kegiatan
usaha masyarakat pertambakan
9. Pengembangan budidaya perairan laut terutama pada budidaya rumput laut,
mutiara dan keramba dengan peningkatan teknologi dan lokasi
pengembangan
10. Pengembangan budidaya air payau yang diupayakan tidak merusak ekosistem
yang ada

LAPORAN AKHIR | IV - 33
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

11. Pengembangan pengelolaan limbah secara terpadu


12. Pemberdayaan masyarakat sekitar dalam pengembangan dan pengelolaan
perikanan
13. Penerapan dan Sertifikasi CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik)
Adapun beberapa kriteria yang dapat dipakai pedoman penentuan kawasan
budidaya tambak atau rumput laut meliputi parameter kualitas tanah, kualitas air dan faktor
faktor pendukung yang lain. Persyaratan budidaya tambak udang; kualitas tanah dengan
tekstur sandy-clay atau sandy-clay loam, derajat keasaman pH 6,5-7,5 dengan kualitas air
seperti suhu 29 - 30 CO; pH antara 7,5 - 8,5; salinitas 15-25%o kecerahan 30-40 cm; DO
4-7 ppm, NH+4-N < 1,0 mg/l,; N02- N < 0,25 mg/l, dan tidak ada kandungan logam berat.
Persyaratan ini tidak berbeda jauh dengan persyaratan budidaya bandeng, karena kedua
komoditi ini dapat dibudidayakan dengan sistem campuran (poly culture).

[Link]. Kawasan Pengolahan perikanan


Rencana kawasan pengolahan perikanan diarahkan pada kawasan pesisir yang
potensial. Kawasan ini merupakan kawasan yang diarahkan menjadi kawasan minapolitan.
Sesuai dengan program Pemerintah Kabupaten Supiori maka kawasan peruntukan
pengolahan perikanan diarahkan pada kawasan minapolitan yang terletak pada kawasan
pesisir di seluruh distrik di Kabupaten Supiori dengan pusat pengolahan di Distrik Supiori
Timur untuk pengolahan hasil budidaya ikan dan Kepulauan Aruri untuk pengolahan hasil
penangkapan ikan.

4.2.4. Kawasan Pertambangan


Sesuai dengan Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor: 16/PRT/M/2009
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, menyebutkan
rencana kawasan peruntukan pertambangan meliputi: peruntukan mineral dan batubara,
peruntukan minyak dan gas bumi, peruntukan air tanah di kawasan pertambangan. Luas
kawasan pertambangan di Kabupaten Supiori hingga akhir tahun perencanaan seluas 2,70
Km2.
Kawasan peruntukan pertambangan yang memiliki nilai strategis nasional terdiri
atas pertambangan mineral dan batubara, pertambangan minyak dan gas bumi,
pertambangan panas bumi, serta air tanah. Kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan

LAPORAN AKHIR | IV - 34
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

dengan kriteria:
1. Memiliki sumber daya bahan tambang yang berwujud padat, cair, atau gas
berdasarkan peta/data geologi;
2. Merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk pemusatan kegiatan
pertambangan secara berkelanjutan;dan/atau
3. Merupakan bagian proses upaya merubah kekuatan ekonomi potensial
menjadi kekuatan ekonomi riil.
Bahan tambang mineral di Kabupaten Supiori berupa emas. Lokasi tambang
berada di wilayah yang seharusnya berfungsi sebagai cagar alam yaitu di Korido Distrik
Supiori Selatan. Adapun persebaran kawasan tambang di Kabupaten Supiori adalah :
1. Pertambangan emas di Distrik Supiori Selatan (Odori dan Faninda);
2. Pertambangan Gamping Distrik Supiori Timur (Sorendiweri dan Sauyas);
3. Penambangan Nikel di Distrik Supiori Selatan (Waryandori); dan
4. Penambangan Intan di Distrik Kepulauan Aruri (Imbirsbari).

4.2.5. Kawasan Perindustrian


Saat ini di Kabupaten Supiori belum terdapat Kawasan peruntukkan industri
sedang. Kawasan yang akan direncanakan menjadi industri sedang adalah kawasan industri
yang akan mendukung pengembangan kawasan perikanan. Rencana kawasan industri di
wilayah pesisir adalah di Distrik Supiori Timur, Supiori Selatan dan Distrik Kepulauan
Aruri:
1. Pengembangan fungsi dan peran pelabuhan sebagai pusat inlet outlet barang
dan orang dalam rangka mendorong kebangkitan usaha pelayaran
2. Pengembangan dan peningkatan industri perikanan yang diarahkan:
a. Industri Pengolahan Ikan yang diorientasikan pada pengolahan harus
perikanan budidaya di wilayah pesisir Kabupaten Supiori diarahkan di
daerah Sorendiweri;
b. Industri pengolahan hasil tangkapan diarahkan ke Kepulauan Aruri dan
Supiori Selatan
c. Industri Kapal Rakyat (Fiber dll.) diarahkan ke Distrik Kepulauan Aruri

LAPORAN AKHIR | IV - 35
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.7 Rencana Kawasan Perikanan

LAPORAN AKHIR | IV - 36
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.8 Rencana Kawasan Pertambangan

LAPORAN AKHIR | IV - 37
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

4.2.6. Kawasan Pariwisata


Kawasan peruntukan pariwisata ditetapkan dengan kriteria:
1. Memiliki daya tarik wisata; dan/atau
2. Mendukung upaya pelestarian budaya, keindahan alam, dan lingkungan.
Kabupaten Supiori merupakan wilayah potensial untuk pengembangan pariwisata
sebagai salah satu alternatif daerah tujuan wisata unggulkan Provinsi Papua maupun
Nasional, karena keanekaragaman obyek wisata yang dimilikinya serta kealamiannya.
Proses perencanaan dan pengembangan sektor Pariwisata Kabupaten Supiori
menggunakan analisis cluster obyek wisata. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan
kawasan perencanaan yang mencakup beberapa obyek wisata sehingga mempermudah
dalam proses perencanaan dan pengembangannya. Penetapan pusat pengembangan
didasarkan kepada pertimbangan sebagai berikut:
1. Kemudahan aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan salah satu faktor perkembangan suatu wilayah
maupun kawasan. Semakin mudah pencapaian/akses suatu tempat, maka
semakin besar peluang berkembangnya suatu wilayah/kawasan tersebut.
2. Jarak antara obyek wisata
Obyek-obyek wisata yang ada di wilayah perencanaan tersebar di seluruh
wilayah. Karena pertimbangan jarak dari obyek yang satu dengan obyek yang
lain maka perlu dilakukan pembagian berdasarkan cluster. Salah satunya
dilihat dari kedekatan/jarak antara obyek wisata yang ada.
3. Banyaknya pergerakan
Pola pergerakan wisatawan adalah kegiatan/perjalanan wisatawan ke obyek-
obyek yang akan maupun telah dikunjungi. Pada umumnya wisatawan
memiliki kecenderungan untuk berkunjung ke obyek wisata lain dengan jarak
yang dekat dengan lokasi obyek wisata yang telah dikunjungi dan memiliki
kegiatan/ragam wisata yang berbeda dan variatif.
4. Arahan oleh rencana tata ruang
Didalam arahan rencana tata ruang dalam pengembangan kawasan dilakukan
dengan menumbuhkan embrio-embrio pertumbuhan baru. Embrio-embrio ini
diletakkan pada daerah-daerah yang belum berkembang. Adanya embrio ini
akan dilengkapi dengan sarana prasarana. Pembagian cluster salah satunya

LAPORAN AKHIR | IV - 38
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

menjadikan obyek sebagai magnet penarik pertumbuhan. Harapan adanya


pembagian cluster ini adanya penyebaran sarana prasarana berdasarkan
kebutuhan.
Gambar 4.6 Potensi Wisata Alam Kabupaten Supiori

Di dalam pengembangan sektor kepariwisataan, obyek wisata merupakan


komponen penting sebagai sarana daya tarik pengunjung. Ditinjau dari karakteristik dan
potensi obyek-obyek wisatanya, pola pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Supiori
dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian yang meliputi wisata yang telah dikembangkan
dan belum dikembangkan.
Untuk pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Supiori, obyek wisata
potensil dibagi menjadi tujuh kawasan/obyek wisata ditambah satu jenis obyek wisata
yang belum berhasil teridentifikasi jenisnya, seperti berikut ini:

LAPORAN AKHIR | IV - 39
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

1. Kawasan Wisata Bahari: Kawasan Kepulauan Aruri, Kepulauan Rani,


Kepulauan Mapia, Kepulauan Befondi;
2. Kawasan Wisata Air Terjun: Air Terjun Wabudori, dan Air Terjun Masrib;
3. Kawasan Wisata Pulau: Kepulauan rani, Kepulauan Mapia, Kepulauan Aruri,
Kepuluan Befondi;
4. Obyek Wisata Religi: gereja Korido/ Tugu Van Hazel merupakan situs injil
masuk di Kabupaten Supiori.
5. Kawasan Wisata Alam: Cagar alam kepulauan Supiori
Terkait dengan pelaksanaan pengembangan pariwisata di Kabupaten Supiori ini,
maka beberapa aspek yang terkait dengan perencanaan kawasan wisata perlu
ditindaklanjuti dengan:
1. Tetap melestarikan alam sekitar untuk menjaga keindahan obyek wisata.
2. Tidak melakukan pengerusakan terhadap obyek wisata alam seperti
menebang pohon.
3. Melestarikan perairan pantai, dengan memperkaya tanaman mangrove untuk
mengembangkan ekosistem bawah laut termasuk terumbu karang dan biota
laut yang dapat di jadikan obyek wisata taman laut.
4. Tetap melestarikan tradisi petik laut/larung sesaji sebagai daya tarik wisata.
5. Menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah.
6. Meningkatkan pencarian/penelusuran terhadap benda bersejarah untuk
menambah koleksi budaya.
7. Pada obyek yang tidak memiliki akses yang cukup, perlu ditingkatkan
pembangunan dan pengendalian pembangunan sarana dan prasarana
transportasi ke obyek-obyek wisata alam, budaya dan minat khusus.
8. Meningkatkan daya tarik wisata melalui penetapan jalur wisata, kalender
wisata, informasi dan promosi wisata.

LAPORAN AKHIR | IV - 40
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.9 Rencana Kawasan Pariwisata

4.2.7. Kawasan Permukiman

LAPORAN AKHIR | IV - 41
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

[Link]. Kawasan Permukiman Perkotaan


Kawasan permukiman perkotaan adalah merupakan pusat pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi perkotaan, jumlah penduduk yang
padat menduduki lahan yang retatif sempit dan dinamika kehidupan yang retatif tinggi dan
merupakan orientasi pergerakan penduduk yang ada pada wilayah sekitarnya. Penggunaan
lahan perkotaan (urban) termasuk didalamnya penggunaan lahan untuk
perumahan/permukiman, kegiatan perdagangan/jasa,perusahaan/industri dan fasilitas sosial
yang terletak di kota kabupaten maupun kota-kota distrik. Luas kawasan permukiman
perkotaan direncanakan sebesar 4,968 Km2.
Kawasan permukiman perkotaan ini diarahkan pada ibu kota distrik yang ada di
Kabupaten Supiori. Terkait dengan permukiman perkotaan di Kabupaten Supiori, rencana
penataan dan pengembangannya sebagai berikut:
1. Seiring dengan pengembangan Perkotaan Sorendiweri sebagai ibukota
Kabupaten Supiori, maka permukiman di perkotaan Sorendiweri ini akan
meningkat pesat, sehingga perlu peningkatan kualitas permukiman melalui
penyediaan infrastruktur yang memadai, penyediaan perumahan baru, dan
penyediaan Kasiba-Lisiba Berdiri Sendiri. Pada setiap kawasan permukiman
disediakan berbagai fasilitas yang memadai sehingga menjadi permukiman
yang layak dan nyaman untuk dihuni;
2. Pengembangan pusat permukiman baru di sekitar kawaasan pengembangan
agropolitan, juga pengembangan di sekitar pesisir pantai akibat adanya
Rencana pembangunan jalan linta sselatan dan lintas utara yang yang
melintasi wilayah Kabupaten Supiori .
3. Permukiman perkotaan yang merupakan bagian dari ibukota kecamatan
pengembangannya adalah untuk perumahan dan fasilitas pelengkapnya
sehingga menjadi permukiman yang nyaman dan layak huni;
4. Pada permukiman perkotaan yang padat dilakukan peningkatan kualitas
lingkungan permukiman perkotaan melalui perbaikan jalan lingkungan dan
jalan setapak, saluran pembuangan air hujan, pengadaan sarana lingkungan,
pembangunan sarana MCK (mandi, cuci, kakus) dan pelayanan air bersih;
5. Kawasan permukiman baru pengembangannya harus disertai dengan
penyediaan infrastruktur yang memadai, seperti penyediaan jaringan drainase

LAPORAN AKHIR | IV - 42
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

dan pematusan, pelayanan jaringan listrik, telepon, air bersih dan sistem
sanitasi yang baik. Kawasan opermukiman baru harus menghindari pola
enclove; serta
6. Pada kawasan permukiman perkotaan yang terdapat bangunan lama/kuno,
bangunan tersebut harus dilestarikan dan dipelihara; Selanjutnya bangunan
dapat dialihfungsikan asalkan tidak merusak bentuk dan kondisi
bangunannya.

[Link]. Peruntukan Permukiman Perdesaan


Kawasan permukiman perdesaan adalah suatu kawasan untuk permukiman pada
lokasi sekitarnya masih didominasi oleh lahan pertanian, tegalan, perkebunan dan lahan
kosong serta aksesibilitas umumnya kurang, jumlah sarana dan prasarana penunjang juga
terbatas atau hampir tidak ada, kawasan dengan ciri dan karakteristik Sifat dan
karakteristik lingkungan permukiman yang masih mencirikan tata dan lingkungan
kehidupan rural. Luas penggunaan ruang untuk perumahan di lingkungan permukiman
pedesaan ini adalah 500 m2. Interaksi pergerakan di lingkungan permukiman masih rendah
dan sangat dipengaruhi oleh interaksi hubungan eksternal. Rencana kawasna permukiman
perdesaan seluas 11,592 Km2.
Secara fisiografis permukiman perdesaan di Kabupaten Supiori terletak di pesisir
pantai yang memiliki karakter tersendiri dan memerlukan penanganan sesuai karakternya.
Kawasan permukiman perdesaan yang terletak pada dataran rendah, umumnya memiliki
kegiatan pertanian sawah, tegal, kebun campur, termasuk peternakan dan perikanan. Lahan
kosong yang terletak pada tengah permukiman dan sepanjang jalan utama merupakan
kawasan yang rawan perubahan pengunaan lahan dari kawasan pertanian menjadi kawasan
terbangun. Pada kawasan ini diperlukan pembatasan pengembangan untruk kawasan
terbangun. Kawasan perdesaan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada
wilayah perdesaan sebagai sistem produksi perikanan dan pengelolaan sumber daya alam
tertentu yang ditunjukkan adanya keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan
sistem permukiman. Kawasan perikanan di Kabupaten Supiori adalah Distrik Kepulauan
Aruri, Distrik Supiori Selatan, Distrik Supiori Utara, Distrik Supiori Timur serta Distrik
Supiori Barat.

LAPORAN AKHIR | IV - 43
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.10 Rencana Kawasan Pariwisata

LAPORAN AKHIR | IV - 44
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

4.1. Rencana pola ruang kawasan lindung......................................................1


4.2. rencana pola ruang kawasan budidaya...................................................26

4.1.1. Kawasan Hutan Lindung..........................................................................1


4.1.2. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya 4
[Link]. Kawasan Resapan Air..............................................................................4
[Link]. Kawasan Mangrove.................................................................................6
[Link]. Kawasan Rawa.......................................................................................6
4.1.3. Kawasan Perlindungan Setempat.............................................................6
[Link]. Kawasan Sempadan Pantai......................................................................6
[Link]. Kawasan Sempadan Sungai.....................................................................9
[Link]. Kawasan Sempadan Mata Air.................................................................10
4.1.4. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, cagar budaya.............................10
[Link]. Cagar alam...........................................................................................10
[Link]. Kawasan pantai berhutan bakau............................................................12
[Link]. Taman wisata alam dan taman wisata alam laut.....................................16
[Link]. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.......................................17
4.1.5. Kawasan Rawan Bencana......................................................................18
[Link]. Kawasan Rawan Gelombang Pasang......................................................18
[Link]. Kawasan rawan terkena dampak perubahan iklim...................................19
4.1.6. Kawasan Lindung Geologi......................................................................20
[Link]. Kawasan rawan bencana alam geologi...................................................20
4.1.7. Kawasan Lindung Lainnya.....................................................................25
4.2.1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi.....................................................26
4.2.2. Kawasan Peruntukan Pertanian..............................................................28
4.2.3. Kawasan Perikanan...............................................................................29
4.2.4. Kawasan Pertambangan........................................................................34
4.2.5. Kawasan Perindustrian..........................................................................35
4.2.6. Kawasan Pariwisata..............................................................................38
4.2.7. Kawasan Permukiman...........................................................................42

Peta 4.1 Rencana Kawasan Lindung..............................................................................7


Peta 4.2 Rencana Kawasan Lindung..............................................................................8

LAPORAN AKHIR | IV - 45
R e n c a n a Ta t a R u a n g W i l a y a h ( RT RW )
Kabupaten Supiori 2010 - 2030

Peta 4.3 Rencana Kawasan Suaka Alam.......................................................................15


Peta 4.4 Rencana Kawasan Rawan Bencana.................................................................24
Peta 4.5 Rencana Kawasan Mangrove..........................................................................27
Peta 4.6 Rencana Kawasan Pertanian..........................................................................30
Peta 4.7 Rencana Kawasan Perikanan..........................................................................36
Peta 4.8 Rencana Kawasan Pertambangan...................................................................37
Peta 4.9 Rencana Kawasan Pariwisata.........................................................................41
Peta 4.10 Rencana Kawasan Pariwisata.......................................................................44

LAPORAN AKHIR | IV - 46

Anda mungkin juga menyukai