TUGAS 2
TA2104 MEKANIKA FLUIDA
Oleh:
Muhammad Bayu Prasetyo 12120053
Karlin Gaoki 12120055
I Gede Surya Pratama Djelantik 12120139
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2021
Persoalan
Pemompaan dilakukan pada open pit batu bara yang terendam air hujan dan air tanah
(air pit), berikut ini adalah informasi yang ada:
▪ Posisi pompa : 100 m dpl
(mengambang di atas ponton pada sump air pit)
▪ Posisi crest (bibir pit) : 210 m dpl
▪ Kemiringan Lereng Highwall : 43°
▪ Kemiringan Lereng Lowwall : 13°
▪ Debit minimal yang diinginkan : 150 L/s
▪ Diameter pipa HDPE yang tersedia (D) : 8 dan 10 inch (inch = 2.54 cm)
▪ Pipa HDPE cukup halus (n) : 6.5
▪ Percepatan gravitasi (g) : 9.8 m/det2
▪ Suhu air : 25o C
▪ Massa jenis air sump (𝜌) : 1100 Kg/m3
▪ Efisiensi pompa (η) : 75 %
▪ Minor loss (HK) bisa diabaikan karena lebih kecil dari major loss (HL)
Di dalam sump pit sekarang ini terdapat air tambang kurang lebih sebanyak 1,3 juta m3
dengan kedalaman air antara 10-15 m. Air di dalam sump tersebut harus dikeringkan
dalam waktu 1 bulan, karena pada lantai tambang di dalam open pit akan dilakukan
penggalian dalam rangka kemajuan tambang. Air dipompa dan dialirkan melalui pipa
HDPE sepanjang lowwall dari sump ke arah crest lowwall dimana kolam pengendap
berada sejarak 100 m dari crest. Ada dua pilihan pemasangan pompa, yaitu: (1) pompa
pada sump tanpa booster dan (2) pompa pada sump dengan pompabooster pada low
wall. Di atas crest, air pit dialirkan dengan kanal (open channel) menuju kolam
pengendap.
Rumusan Masalah
1. Berikan sketsa permasalahan di atas, lengkap dengan informasi dimensinya !
2. Tentukan kebutuhan panjang pipa dan Hitung total head minimal yang harus
diatasi pompa, untuk kedua skenario diameter pipa !
3. Apakah daya pompa mencukupi untuk kasus di atas (tanpa booster) !
4. Dimana dipasang booster pada low wall agar diperoleh debit optimum ?
5. Hitung debit yang bisa dialirkan oleh pompa dengan booster !
6. Gambarkan garis energi tanpa dan dengan pompa booster !
7. Berikan analisis untuk rekomendasi terkait diameter pipa yang optimal !.
8. Berapa jumlah lines pemompaan yang digunakan ?
9. Tentukan geometri dan Hitung dimensi kanal (open channel) yang diperlukan !
Catatan:
• Tipe dan spesifikasi impeler pompa dapat dipilih sendiri dari Kurva Pompa.
• Bila ada informasi yang kurang dan dibutuhkan bisa diasumsikan sendiri.
Pembahasan
1. Sketsa permasalahan
Sketsa pompa pada sump
2. Penghitungan panjang pipa dan total head
Untuk menghitung kebutuhan panjang pipa, maka akan dihitung panjang dari sisi miring crest.
Sisi miring dapat dihitung dengan aturan sinus pada lereng lowwall sebagai berikut:
ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2
sin 13° =
𝐿𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡
Dari persamaan tersebut didapatkan rumus untuk panjang sisi miring:
(ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 )
𝐿𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 =
sin 13°
Masukkan nilai yang sudah diketahui untuk mencari panjang sisi miring dengan nilai ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2
adalah tinggi bibir pit dikurangi tinggi pompa saat berada di dasar pit.
(210 − (100 − 15))
𝐿𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 = 𝑚
sin 13°
𝐿𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 = 555,7 𝑚
Setelah mendapatkan nilai 𝐿𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 yang nantinya akan menjadi 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒2 , kita akan mengasumsikan
nilai untuk 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒1 , 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒3 , 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒4 agar panjang pipa dapat mencukupi kebutuhan di lapangan.
Dengan nilai masing-masing panjang pipa sebagai berikut:
𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒1 = 5 𝑚
𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒3 = 7 𝑚
𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒4 = 3 𝑚
Setelah perhitungan dan asumsi ditentukan, maka total panjang pipa yang akan digunakan
adalah sebagai berikut:
𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒 = 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒1 + 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒2 + 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒3 + 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒4
𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒 = 5 + 7 + 3 + 555,7 = 570,7 𝑚
Sehingga panjang pipa yang diperlukan dalam kasus tersebut adalah 570,7 m.
Setelah menemukan panjang dari pipa yang diperlukan, maka akan dicari nilai dari total head
minimal yang harus diatasi pompa untuk pipa berdiameter 8 dan 10 inch, atau 0,2032 𝑚 dan
0,254 𝑚.
Sebelumnya telah diketahui nilai dari 𝐿𝑝𝑖𝑝𝑒 = 570,7 𝑚 ; 𝐷1 = 0,2032 𝑚 ; 𝐷2 =
0,254 𝑚 ; 𝑄 = 0,15 𝑚3/𝑠 ; 𝑛 = 6,5 ; ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 = 210 𝑚 ; ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 = 85 𝑚. Untuk mencari nilai
dari total head, diperlukan komponen faktor gesekan yang dapat dicari dengan melihat pada
diagram moody atau dapat juga dicari dengan rumus:
1 1
𝑓= 2
→𝑓= = 0,0237
𝑛 6,52
Setelah itu, kita juga perlu menentukan luas penampang pipa untuk masing-masing diameter:
1 2 𝜋. 0,20322
𝐴1 = 𝜋𝐷1 → 𝐴1 = = 0,0324 𝑚2
4 4
1 2 𝜋. 0,2542
𝐴2 = 𝜋𝐷2 → 𝐴2 = = 0,0506 𝑚2
4 4
Luas pipa akan digunakan untuk mencari laju dari fluida untuk masing-masing pipa dengan
perhitungan sebagai berikut:
𝑄 0,15
𝑣1 = → 𝑣1 = = 4,630 𝑚/𝑠
𝐴1 0,0324
𝑄 0,15
𝑣2 = → 𝑣2 = = 2,964 𝑚/𝑠
𝐴2 0,0506
Setelah menghitung komponen kecepatan, kita dapat menghitung nilai dari head loss untuk
masing-masing pipa, yaitu dengan perhitungan berikut:
𝑓. 𝐿. 𝑣12 0,0237.570,8. 4,6302
ℎ𝐿 1 = → ℎ𝐿 1 = = 72,81 𝑚
𝐷1 . 2𝑔 0,2032.2.9,8
𝑓. 𝐿. 𝑣22 0,0237.570,8. 2,9642
ℎ𝐿 2 = → ℎ𝐿 2 = = 23,87 𝑚
𝐷2 . 2𝑔 0,254.2.9,8
Setelah semua komponen yang diperlukan telah diketahui, dapat ditentukan nilai dari total head
untuk masing-masing keadaan yang dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:
𝑣12 4,6302
ℎ𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 1 = + ℎ𝐿 1 + (ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 ) = + 72,81 + 125 = 198,90 𝑚
2𝑔 2.9,8
𝑣22 2,9642
ℎ𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 2 = + ℎ𝐿 2 + (ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 ) = + 23,87 + 125 = 149,32 𝑚
2𝑔 2.9,8
Perhitungan akhir didapatkan nilai dari total head (1) adalah 198,90 m dan total head (2) adalah
149, 32 m. Untuk ringkasan dari semua komponen yang telah dihitung dapat dilihat pada tabel
berikut:
Jenis Pipa Diameter (m) Luas (𝑚2 ) Laju (𝑣) Head loss (m) total head (m)
8 inch 0,2032 0,0324 4,630 72,81 198,90
10 inch 0,254 0,0506 2,964 23,87 149,32
3. Pengecekan kecukupan daya pompa
Pertama, perlu ditentukan nilai dari resistansi pompa untuk masing-masing pipa terlebih
dahulu. Perhitungan ini memiliki asumsi nilai ∑𝐾 = 0 karena minor loss diabaikan.
1 𝐿 0,0237.570,7 2 5
𝑅1 =2 𝑓 (𝐷 ) = 2.9,8.0,03242 . 0,2032 = 3235,1 𝑠 /𝑚
2𝑔𝐴1 1
1 𝐿 0,0237.488,995
𝑅2 = 𝑓 ( ) = = 1061,12 𝑠 2 /𝑚5
2𝑔𝐴22 𝐷2 2.9,8.0,05062. 0,254
Setelah resistansi ditemukan, maka akan dicari nilai dari head pompa pada masing-masing
diameter sebagai berikut:
ℎ𝑝 = (ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 ) + 𝑅1 𝑄2 = 125 + 3235,1.0,152 = 197,8 𝑚
1
ℎ𝑝 2 = (ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 ) + 𝑅2 𝑄2 = 125 + 1061,12.0,152 = 148,9 𝑚
Kemudian, dapat dihitung daya yang diperlukan untuk mengalirkan air melewati crest dengan
perhitungan untuk masing-masing diameter pipa sebagai berikut:
𝛾. 𝑄. ℎ𝑝1 1100.9,8.0,15.197,8
𝑊𝑝1 = = = 426456 𝑤𝑎𝑡𝑡
𝜂 0,75
𝛾. 𝑄. ℎ𝑝2 1100.0,15.148,9
𝑊𝑝2 = = = 321028 𝑤𝑎𝑡𝑡
𝜂 0,75
Ringkasan perhitungan daya yang diperlukan pada masing-masing pipa dapat dilihat pada
tabel berikut:
Jenis Pipa Reistansi (𝑠 2 /𝑚5 ) Head pompa (𝑚) Daya (watt)
8 inch 3235,1 197,8 426456
10 inch 1061,12 148,9 321028
Dalam kasus ini, penulis menggunakan pompa Pioneer 100CH PP64C17 dengan spesifikasi
sebagai berikut:
Pump size : 150 x 100 mm
Max Flow 𝑚3 /ℎ𝑟 : 320
Max head m : 155
Max efficiency % : 67
Solids size mm : 20
Performance at BEP : 235 𝑚3 /ℎ𝑟@115𝑚
Engine Type : Perkins 1106D/JD
Nominal speed rpm : 2000
Rated Power kw : 90-175
Dry Weight kg : 3500-4000
Berdasarkan spesifikasi pompa yang digunakan, dapat dihitung daya yang dihasilkan oleh
pompa tersebut pada masing-masing pipa yaitu sebagai berikut:
320
𝛾. 𝑄𝑝𝑢𝑚𝑝 . ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝 1100.9,8. (3600) . 155
𝑊𝑝𝑢𝑚𝑝 = = = 221678 𝑤𝑎𝑡𝑡
𝜂𝑝𝑢𝑚𝑝 0,67
Dari hasil yang didapatkan, dapat dilihat bahwa 𝑊𝑝𝑢𝑚𝑝 < 𝑊𝑝1 dan 𝑊𝑝𝑢𝑚𝑝 < 𝑊𝑝2 . Sehingga
dapat disimpulkan bahwa daya dari pompa tidak cukup dan perlu adanya pemasangan
booster agar proses penyaliran air dapat dilakukan.
4. Pemasangan booster agar didapatkan debit optimum
Dapat ditentukan nilai dari debit optimum (𝑄𝑜𝑝𝑡 ) dari masing-masing pipa dengan
menggunakan persamaan berikut:
ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 210 − 85
𝑄𝑜𝑝𝑡1 = √ =√ = 0,196 𝑚3 /𝑠
𝑅1 3235,1
ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 210 − 85
𝑄𝑜𝑝𝑡2 = √ =√ = 0,343 𝑚3 /𝑠
𝑅2 1061,12
Sehingga dapat dihitung nilai head pompa ℎ𝑝 pada masing-masing pipa saat debitnya
optimum:
𝑊𝑝 𝜂 221678.0,67
ℎ𝑝 1 = = = 70,3 𝑚
𝛾𝑄1 1100.9,8.0,196
𝑊𝑝 𝜂 22620,23.0,67
ℎ𝑝 2 = = = 18,8 𝑚
𝛾𝑄2 1100.0,733
Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa 𝑄𝑜𝑝𝑡 dihasilkan hanya sampai ketinggian
70,3 m untuk pipa pertama dan 18,8 m untuk pipa kedua di atas permukaan sump. Kemudian,
untuk mencari posisi minimal booster dengan acuan mdpl dapat dilakukan melalui perhitungan
berikut:
ℎ𝑏𝑠𝑡𝑟1 = 85 + 70,3 = 155,3 𝑚
ℎ𝑏𝑠𝑡𝑟2 = 85 + 18,8 = 103,8 𝑚
Sehingga booster haruslah dipasang pada ketinggian 155,3 mdpl untuk pipa pertama dan
103,80 mdpl untuk pipa kedua agar debitnya optimum. Kedua hasil juga dapat diterima karena
1
peletakkan booster-nya pada kedua kasus berada di atas 2 ∆ℎ.
Untuk ringkasan hasil perhitungan peletakan booster dapat dilihat pada tabel berikut:
Jenis Pipa 𝑄𝑜𝑝𝑡 (𝑚3 /𝑠) Head pompa opt (m) ℎ𝑏𝑠𝑡𝑟 (𝑚)
8 inch 0,196 70,3 155,3
10 inch 0,343 18,8 103,8
Berikut disajikan sketsa dari permaslahan saat dipasang booster:
5. Debit yang dialirkan pompa dengan booster
Pada ilustrasi dapat dilihat bahwa susunan pipa termasuk sistem pipa sederhana seri. Debit
yang dialirkan pompa pada masing-masing pipa dengan booster dapat dihitung dengan formula
berikut.
ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 210 − 85
𝑄𝑏𝑠𝑡𝑟1 = √ =√ = 0,139 𝑚3/𝑠
2𝑅1 2.3235,1
ℎ𝑐𝑟𝑒𝑠𝑡 − ℎ𝑝𝑢𝑚𝑝2 210 − 85
𝑄𝑏𝑠𝑡𝑟2 = √ =√ = 0,243 𝑚3 /𝑠
2𝑅2 2.1061,12
Maka didapatkan debit setelah diberikan booster pada pipa pertama adalah 0,139 𝑚3 /𝑠 dan
untuk debit pada pipa kedua setelah diberikan booster adalah 0,243 𝑚3/𝑠 .
6. Gambar garis energi
Garis energi pompa pada sump tanpa booster
Garis energi pompa pada sump dengan booster
7. Analisis rekomendasi diameter pipa yang optimal
Sebelumnya telah dihitung untuk debit optimum dan daya pompa dari masing-masing pipa baik
dengan booster maupun tanpa booster. Kedua parameter inilah (debit optimum dan daya
pompa) yang menurut kelompok kami akan menjadi pertimbangan terbesar dalam memberikan
rekomendasi pipa dengan diameter yang optimal. Beriku tabel rangkuman dari komponen yang
sudah dihitung.
Jenis pipa Debit optimum (𝑚3 /𝑠) Daya pompa (𝑤𝑎𝑡𝑡)
Diameter 8 inch 0,139 426456
Diameter 10 inch 0,243 321028
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pipa 8 inch memiliki debit optimum lebih kecil
dibandingkan dengan pipa berdiameter 10 inch. Namun, pipa berdiameter 8 inch membutuhkan
daya yang lebih tinggi dibandingkan pipa dengan daya 10 inch. Dari sini dapat disimpulkan
bahwa diameter pipa yang optimum adalah 10 inch karena dengan daya yang lebih sedikit, pipa
10 inch memiliki debit optimum yang lebih besar.
8. Jumlah lines pemompaan
Sebelum menghitung jumlah dari lines dari pemompaan tersebut, kita harus mengasumsikan
berapa lama waktu yang diperlukan untuk pompa bekerja tiap tiga puluh hari. Asumsikan
bahwa tiap hari terdapat 15 menit, tiap minggu terdapat 30 menit, dan tiap bulannya juga ada
30 menit waktu pengecekan, maka total waktu yang diperlukan untuk melakukan pengecekan
pompa adalah:
𝑡𝑐𝑒𝑘 = 15.30 + 30.4 + 30 = 195 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
Jumlah lines yang digunakan untuk melakukan pemompaan terhadap air sump pada masing-
masing pipa dapat ditentukan sebagai berikut:
𝑉𝑠𝑢𝑚𝑝 1,3.106
𝑁1 = = = 3,62 ≈ 4
𝑄1 . 𝑡 0,139. (30.24.3600 − 195.60)
𝑉𝑠𝑢𝑚𝑝 1,3.106
𝑁2 = = = 2,37 ≈ 3
𝑄2 . 𝑡 0,243. (30.24.3600 − 195.60)
Pemompaan yang efektif untuk pipa pertama agar dalam satu bulan semua air sump dapat
dipompa, maka memerlukan empat pompa dan empat booster. Sehingga, dalam empat line,
masing-masing line memiliki satu pompa dan satu booster.
Kemudian, untuk pipa kedua, agar pemompaannya efektif dan dalam satu bulan semua air sump
dapat dipompa, maka memerlukan 2 pompa dan dua booster. Sehingga, dalam dua line,
masing-masing line memiliki satu pompa dan satu booster.
9. Geometri dan dimensi kanal
Setelah dilakukannya proses pemompaan, air pit akan dialirkan dengan kanal ke kolam
pengendap. Sebelumnya telah diketahui bahwa nilai 𝑄𝑏𝑠𝑡𝑟1 = 0,141 𝑚3 /𝑠 dan nilai 𝑄𝑏𝑠𝑡𝑟2 =
0,519 𝑚3 /𝑠. Diasumsikan bahwa bentuk penampang kanal yang digunakan berbentuk
trapesium dengan tipe dinding saluran beton. Asumsi berikutnya adalah kanal tersebut
memiliki kekasaran manning (n) sebesar 0,001. Kemiringannya (s) sebesar 0,001 dan sudut
𝛼 = 60°. Debit yang mengalir pada pipa akan memiliki nilai yang sama dengan debit pada
kanal.
Berdasarkan komponen yang diketahui dan asumsi yang telah ditetapkan, kita dapat
menghitung dimensi geometri untuk masing-masing pipa sebagai berikut:
3 3
0,968. (𝑄𝑏𝑠𝑟𝑡1. . 𝑛)8 0,968. (0,141.0,001)8
𝑦1 = 3 = 3 = 0,127 𝑚
𝑠 16 0,00116
3 3
0,968. (𝑄𝑏𝑠𝑟𝑡2. . 𝑛)8 0,968. (0,519.0,001)8
𝑦2 = 3 = 3 = 0,207 𝑚
𝑠 16 0,00116
Setelah ditemukan nilai y, kita dapat mencari nilai b pada tiap pipa dengan perhitungan
sebagai berikut:
2 2.0,127
𝑏1 = 𝑦1 = = 0,146 𝑚
√3 √3
2 2.0,127
𝑏2 = 𝑦2 = = 0,239 𝑚
√3 √3
Selain nilai b, kita juga dapat mencari nilai x dari nilai y dengan perhitungan sebagai berikut:
𝑥1 = 𝑦1 tan 𝛼 = 0,127. tan 60° = 0,220 𝑚
𝑥2 = 𝑦2 tan 𝛼 = 0,207. tan 60° = 0,358 𝑚
Terakhir, dengan ditemukannya nilai x dan b, kita bisa menghitung nilai p dengan hitungan
sebagai berikut:
𝑝1 = 𝑏1 + 2𝑥1 = 0,146 + 0,440 = 0,586 𝑚
𝑝2 = 𝑏2 + 2𝑥2 = 0,239 + 0,716 = 0,955 𝑚
Karena sudah ditemukan semua nilai yang diperlukan, maka kita dapat menggambarkan
geometri kanal dan dimensinya. Berikut tabel rangkuman dari penghitungan di atas.
Jenis pipa y (m) b (m) x (m) p (m)
Diameter 8 inch 0,127 0,146 0,220 0,586
Diameter 10 inch 0,207 0,239 0,358 0,995
Dari tabel tersebut, dapat digambarkan geometri kanal dan dimensi-dimensinya. Berikut
geometri dan dimensi dari kanal dengan diameter pipa 8 inch.
0,586 m
0,127 m
0,146 m
Penampang Depan
S = 0,001
0,127 m
Penampang Samping
Kemudian, dilakukan juga penggambaran untuk geometri untuk kanal dengan diameter 10
inch, dengan gambar sebagai berikut.
0,955 m
0,207 m
0,239 m
Penampang Depan
S = 0,001
0,207 m
Penampang Samping
LAMPIRAN