0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
120 tayangan7 halaman

Kode Etik Profesi Konselor Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang landasan legal Kode Etik Profesi Konselor di Indonesia. Landasan tersebut meliputi Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, peraturan pemerintah terkait pendidikan, serta perkembangan sejarah profesi bimbingan dan konseling di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
120 tayangan7 halaman

Kode Etik Profesi Konselor Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang landasan legal Kode Etik Profesi Konselor di Indonesia. Landasan tersebut meliputi Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, peraturan pemerintah terkait pendidikan, serta perkembangan sejarah profesi bimbingan dan konseling di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.

1 Kode Etik Profesi Konselor


Konseling merupakan proses pelayanan bantuan yang pelaksanaannya didasarkan atas
keahlian. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa konseling tidak bisa dilaksanakan secara
asal-asalan, namun harus ada keterampilan khusus yang dimiliki konselor. Keterampilan tersebut
tidak terbatas hanya pada kompetensi profesional, dalam artian bagaimana konselor mampu
memahami teoritis pelayanan konseling dan menerapkannya, namun lebih luas seorang konselor
harus memenuhi dirinya dengan kompetensi pribadi, sosial, dan pedagogik. Berdasarkan
karakteristik seperti yang telah dikemukakan di atas, maka setiap praktisi bimbingan dan
konseling dalam melaksanakan tugasnya harus diiringi etika-etika khusus. Etika dalam proses
konseling disusun dalam bentuk kode etik profesi sehingga mudah dipahami, dihayati, dan
dilaksanakan oleh konselor. Menurut Sunaryo Kartadinata (2011:15) kode etik profesi adalah
regulasi dan norma perilaku profesional yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi dalam
menjalankan tugas profesi dan dalam kehidupannya di dalam masyarakat.

Menurut Abkin (2006:94) kode etik merupakan suatu aturan yang melindungi profesi dari
campur tangan pemerintah, mencegah ketidaksepakatan internal dalam suatu profesi, dan
melindungi atau mencegah para praktisi dari perilaku-perilaku malpraktik. Selanjutnya Abkin
(2006:92) mengemukakan bahwa kekuatan dan eksistensi suatu profesi muncul dari kepercayaan
publik. Etika konseling harus melibatkan kesadaran dan komitmen untuk memelihara pentingnya
tanggungjawab melindungi kepercayaan klien. Abkin (2006:94) mengemukakan bahwa
penegasan identitas profesi Bimbingan dan Konseling harus diwujudkan dalam implementasi
kode etik dan supervisinya. Sunaryo Kartadinata (2011:15) menjelaskan bahwa penegakan dan
penerapan kode etik bertujuan untuk:

(1) Menjunjung tinggi martabat profesi;


(2) Melindungi masyarakat dari perbuatan malpraktik;
(3) Meningkatkan mutu profesi;
(4) Menjaga standar mutu dan status profesi, dan
(5) Penegakan ikatan antara tenaga profesi dan profesi yang disandangnya.

1
Kode Etik Bimbingan dan Konseling di Indonesia sebagaimana disusun oleh ABKIN
(2006:69) memuat hal-hal berikut:

1. Kualifikasi
a. Nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan dan wawasan dalam bidang Bimbingan dan
Konseling
b. Memperoleh pengakuan atas kemampuan dan kewenangan sebagai Konselor.
2. Informasi, testing dan riset
a. Penyimpanan dan penggunaan informasi
b. Testing, diberikan kepada Konselor yang berwenang menggunakan dan menafsirkan
hasilnya
c. Riset, menjaga prinsip-prinisp sasaran riset serta kerahasiaan.
3. Proses pada pelayanan
a. Hubungan dalam pemberian pada pelayanan
b. Hubungan dengan klien.
4. Konsultasi dan hubungan dengan rekan sejawat atau ahli lain
a. Pentingnya berkonsultasi dengan sesama rekan sejawat
b. Alih tangan kasus apabila tidak dapat memberikan bantuan kepada klien tersebut.
5. Hubungan kelembagaan; memuat mengenai aturan pelaksanaan layanan konseling yang
berhubungan dengan kelembagaan
6. Praktik mandiri dan laporan kepada pihak lain
[Link] praktik mandiri, menyangkut aturan dalam melaksanakan konseling secara
private
[Link] kepada pihak lain.
7. Ketaatan kepada profesi
[Link] hak dan kewajiban
[Link] terhadap kode etik.

2
Selanjutnya Uman Suherman (2007) menegaskan bahwa seorang konselor hendaknya
menunjukkan sikap dan perilaku sebagai berikut:

1) Berusaha meciptakan suasana dan hubungan konseling yang kondusif;


2) Berusaha menjaga sikap objektif terhadap klien;
3) Mengekplorasi faktor penyebab masalah-masalah psikologis, baik masa lalu maupun
masa kini;
4) Menentukan kerangka rujukan atau perangkat kognitif terhadap kesulitan klien dengan
cara yang dapat dimengerti klien;
5) Konseling memiliki strategi untuk mengubah kembali perilaku salah suai, keyakinan
irasional, gangguan emosi dan menyalahkan diri sendiri;
6) Mempertahankan transfer pemahaman tentang perilaku baru yang diperlukan klien dalam
kehidupan sehari-harinya;
7) Menjadi model atau contoh sosok yang memiliki sikap sehat dan normal;
8) Menyadari kesalahan yang pernah dibuat dan resiko yang dihadapi;
9) Dapat dipercaya dan mampu menjaga kerahasiaan;
10) Memiliki orientasi diri yang selalu berkembang; dan
11) Ikhlas dalam menjalankan profesinya.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa seorang konselor tidak
hanya dituntut secara teknis menguasai keseluruhan aspek teoritis dan praktis Bimbingan dan
Konseling, namun juga harus memiliki segenap aspek kepribadian yang positif. Setiap
pelanggaran terhadap kode etik dapat menyebabkan kerugian bagi diri konselor sendiri maupun
pihak yang dilayani. Bahkan Abkin menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap kode etik
akan mendapatkan sanksi berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Asosiasi Bimbingan dan
Konseling Indonesia (Bab V kode etik Profesi Bimbingan dan Konseling).

3
2.2 Landasan Legal
Landasan legal Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga ABKIN. Dalam ranah kenegaraan, Kode Etik ini berlandaskan:

1. Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia.


2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2017 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi
Kemasyarakatan Menjadi Undang-Undang.

Dalam ranah kesejarahan bimbingan dan konseling di Indonesia, maka landasan Kode
Etik ini sebagai berikut.

A. Pada tahun 1960 (tepatnya tanggal 20–24 Agustus 1960) Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (disingkat FKIP yang berkembang menjadi Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan/IKIP) menyelenggarakan Konferensi di Malang, yang bertujuan untuk
memasukkan program layanan bimbingan dan penyuluhan (yang sekarang menjadi
bimbingan dan konseling) ke dalam sistem pendidikan di Indonesia.
B. Tahun 1963 berdiri Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung dan IKIP Malang.
C. Tahun 1968 diberlakukan Kurikulum Gaya Baru. Dalam penyelenggaraan kurikulum tersebut
mulai dirintis di sekolah-sekolah penyelenggaraan layanan Guidance and Counseling (GC),
yang diampu oleh Guru GC.
D. Pada tahun 1971, delapan (8) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri
penyelenggara Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), berhasil menyusun buku
“Pedoman Operasional Pelayanan Bimbingan pada Proyek Perintis Sekolah Pembangunan
(PPSP)”.
E. Pada tanggal 17 Desember Tahun 1975, di Malang, lahir organisasi profesi Bimbingan dan
Konseling dengan nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Selanjutnya, melalui
Kongres IPBI pada tanggal 15 Maret 2001 di Bandar Lampung, IPBI berubah menjadi
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN).
F. Tahun 1975, lahir dan diberlakukan Kurikulum Tahun 1975, mulai Sekolah Dasar sampai
dengan Sekolah Menengah Atas, yang disebut Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum

4
sebelumnya (Kurikulum 1968). Kurikulum 1975 menyatakan bahwa bimbingan dan
penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah, yang memuat beberapa
pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut, yang salah satu di antaranya adalah buku Pedoman
Bimbingan dan Penyuluhan (Buku III/C).
G. Pada tahun 1989 lahir Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pada Pasal 1 ayat (1) ditegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi
peranannya di masa yang akan datang.
H. Pada tahun 1990 lahir Peraturan Pemerintah Nomor 28 dan Nomor 29 tentang Pendidikan
Dasar dan Pendidikan Menengah. Pada PP Nomor 28, Bab X Bimbingan, pasal 25 ayat (1)
dinyatakan bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka
upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan. Pada ayat
(2) bimbingan diberikan oleh guru pembimbing. Pada PP Nomor 29, pasal 29 ayat (1) dan
ayat (2) berbunyi sama dengan ayat (1) dan ayat (2) PP Nomor 28.
I. Tahun 1989 terbit Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.
026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya
kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
J. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
menyatakan bahwa “konselor” adalah pendidik dalam pasal 1 ayat (6).
K. Pada tahun 2003/2004, dikembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang
menekankan layanan bimbingan dan konseling pada kegiatan pengembangan diri.
L. Tahun 2005, Pengurus Besar ABKIN telah menerbitkan Standar Kompetensi Konselor
Indonesia (SKKI).
M. Pada tahun 2005, terbit Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
yang antara lain menyebutkan pendidikan profesi guru.
N. Tahun 2007 terbit buku berjudul Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan
Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, yang diterbitkan oleh Ditjen Dikti
dan Ditjen PMPTK, Depdiknas.
O. Tahun 2008 diterbitkan Permendiknas No. 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK), yang menjelaskan bahwa kualifikasi

5
akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal adalah Sarjana
Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling.
P. Tahun 2010 terbit buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru BK/Konselor
oleh Ditjen Dikti, Depdikbud.
Q. Tahun 2013, terbit Permendikbud No. 81/A tentang Implementasi Kurikulum 2013 yang di
dalamnya menyebutkan tentang konsep dan strategi layanan bimbingan dan konseling.
R. Tahun 2014 terbit Permendikbud No. 111/2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada
Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
S. Tahun 2016 terbit Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di
SD/SMP/SMA/SMK yang diterbitkan oleh Ditjen GTK sebagai penjabaran dari
Permendikbud No. 111/2014.
T. Tahun 2017 terbit Kepmenristekdikti No. 257/M/KPT/2017 tentang Nama Program Studi
Pada Perguruan Tinggi, disebutkan pada lampiran I tentang Pendidikan Bimbingan dan
Konseling pada Rumpun Ilmu Terapan (Profession and Applied Sciences) bergelar [Link].,
sedangkan pada lampiran II disebutkan Pendidikan Profesi Konselor (Counselor Profession
Education) bergelar Konselor.

2.3 Tujuan Kode Etik Bimbingan dan Konseling di Indonesia


Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia memiliki beberapa tujuan yaitu:

1. Kode Etik menetapkan kewajiban etis bagi anggota ABKIN dan memberikan panduan
praktik etis konselor atau guru bimbingan dan konseling yang profesional.
2. Kode Etik mengidentifikasi pertimbangan-perimbangan etis yang relevan dengan konselor
atau guru bimbingan dan konseling yang profesional maupun mahasiswa program studi
bimbingan dan konseling serta pelaku penyelenggaraan pendidikan profesional konselor
atau guru bimbingan dan konseling.
3. Kode Etik memungkinkan ABKIN untuk memberikan penjelasan bagi anggota dan
mahasiswa bimbingan dan konseling serta bagi konseli yang dilayanidengan memperhatikan
sifat tanggung jawab etis yang dimiliki bersama oleh para anggota ABKIN.
4. Kode Etik berfungsi sebagai panduan etis yang dirancang untuk membantu anggota dalam
menyusun suatu tindakan yang paling baik dalam melayanikonseli yang memanfaatkan

6
layanan bimbingan dan konseling dan menetapkan harapan perilaku dengan penekanan
utama pada peran konselor atau guru bimbingan dan konseling yang profesional.
5. Kode Etik memberikan dukungan bagi kinerja bimbingan dan konseling untuk menjalankan
misi ABKIN.
6. Standar yang terkandung dalam Kode Etik ini berfungsi sebagai dasar untuk mengambil
tindakan suportif bagi pelaku bimbingan dan konseling yang berhasil dan sebaliknya
sebagai panduan untuk mengambil tindakan bagi pelanggaran etika profesi anggota ABKIN.

Tujuan ditetapkannya kode etik adalah menjunjung tinggi martabat profesi, melindungi
pelanggan dari perbuatan malpraktik, meningkatkan mutu profesi, menjaga standar mutu dan
status profesi, dan menegakkan ikatan antara tenaga profesi dan profesi yang disandangnya.

Anda mungkin juga menyukai