MAKALAH
DASAR DASAR PROTEKSI TANAMAN
TENTANG
“ KONSEP PENYAKIT PADA TANAMAN “
DI SUSUN OLEH :
ANASTASYA ENGELINA MANOREK
220311040095
FAKULTAS PERTANIAN
PRODI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS SAMRATULANGI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................
1.1 Latar Belakang ..............................................................................
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................
1.3 Tujuan .............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................
2.1 Konsep Bagaimana Tanaman Dapat Menjadi Sakit .....................
2.2 Konsep Segitiga Penyakit (Disease Triangle) ................................
2.3 Konsep Sigiempat Penyakit (Disease Square) ...............................
BAB III PENUTUP ...........................................................................................
3.1 Kesimpulan ....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit pada tumbuhan akan selalu muncul sepanjang manusia mengusahakan
tanaman atau tumbuhan tersebut sebagai tanaman budidaya, dibidang kehutanan
khususnya di Indonesia hal ini mulai menjadi bahan pemikiran disaat mulai
diusahakannya jenis-jenis tanaman hutan secara monokultur, seperti jati, agathis,
pinus, mahoni, sengon, acacia, eucalyptus. Kondisi ini semakin menjadi persoalan
jika kerusakan-kerusakan yang terjadi menimbulkan kerugian ekonomi.
Penyakit sebenarnya adalah suatu proses dimana bagian-bagian tertentu dari
organisme tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal dengan sebaik-
baiknya karena adanya suatu gangguan. Tanaman dapat dilihat dari dua sudut
pandang, yaitu secara biologi dan ekonomi maka penyakit tanamanpun
mengandung unsur dua sudut pandang ini. Dari segi biologi, tanaman adalah
organisme yang melakukan kegiatan fisiologis, sehingga dari segi ini penyakit
tanaman adalah penyimpangan dari sifat normal sehingga tanaman tidak dapat
melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana konsep terjadinya segitiga penyakit? Bagaimana konsep terjadinya
segiempat penyakit? Bagaimana konsep timbulnya penyakit dari penguraian
komponen abiotik dan biotik?
Tujuan
Untuk mengetahui konsep terjadinya segitiga penyakit untuk mengetahui konsep
terjadinya segiempat penyakit untuk mengetahui konsep timbulnya penyakit dari
penguraian komponen abiotik dan biotik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Bagaimana Tanaman Dapat Menjadi Sakit
Konsep timbulnya suatu penyakit semakin berkembang seiring dengan
berkembangnya ilmu penyakit tumbuhan, pada awalnya para pakar yang dipelopori
oleh DeBary menujuk pathogen sebagai penyebab penyakit yang utama,
selanjutnya diketahui bahwa dalam berbagai buku teks mengenai penyakit
tumbuhan umunya dianut konsep segitiga penyakit (disease triangle).
Ketiga komponen penyakit tersebut adalah inang, pathogen dan lingkungan.
Kemudian berkembang sebuah konsep yang dasari pemikiran bahwa manusia ikut
berperan dalam timbulnya suatu penyakit tumbuhan karena manusia dapat
memberikan pengaruh terhadap pathogen dan tanaman inang itu sendiri serta
kondisi lingkungan dimana tanaman itu tumbuh, konsep ini dikenal dengan segi
empat penyakit atau (disease squaire) dimana manusia dimasukkan sebagai salah
satu faktor dalam komponen timbulnya penyakit.
Beberapa faktor komponen dalam penyakit ini selanjutnya dapat diuraikan kembali
sehingga konsep timbunya suatu penyakit semakin berkembang dan semakin
komplek.
2.2 Konsep Segitiga Penyakit (Disease Triangle)
Konsep pertama yang dikembangkan para pakar adalah konsep segitiga penyakit
dimana konsep ini menjelaskan timbulnya penyakit biotik (penyakit yang
disebabkan oleh pathogen) yang di dukung oleh kondisi lingkungan dan tanaman
inang.
Tanaman Inang
Patogen Lingkungan
Gambar 1. Segitiga Penyakit
• Komponen
Untuk timbulnya suatu penyakit paling sedikit diperlukan tiga faktor yang
mendukung, yaitu tanaman inang atau host, penyebab penyakit atau pathogen dan
faktor lingkungan
Tanaman Inang
Pengaruh tanaman inang terhadapnya timbulnya suatu penyakit tergantung dari
jenis tanaman inang, kerentanan tanaman, bentuk dan tingkat pertumbuhan, struktur
dan kerapatan populasi, kesehatan tanaman dan ketahanan inang. Tanaman inang
dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
1. Tanaman inang rentan : inang yang mudah terserang pathogen sementara pada
kondisi sama dan pathogen sama, inang lain resisten.
2. Tanaman inang resisten : Inang yang tahan terhadap serangan pathogen
sementara pada kondisi sama dan pathogen sama, inang lain rentan.
3. Tanaman inang toleran : inang yang rentan tetapi inang tersebut masih mampu
menghasilkan produk yang ekonomis.
4. Tanaman inang sekunder : inang yang bukan menjadi makanan utama.
5. Tanaman inang primer : inang yang memang menjadi tempat dan sumber nutrisi
makanan utama/pokok dari pathogen.
6. Tanaman inang alternative : tempat dan nutrisi makanan jika tidak ada inang
sekunder, primer dimana pathogen dimasing-masing inang bias menyelesaikan
siklusnya.
7. Tanaman inang perantara : inang yang dapat dijadikan perantara untuk
menyelesaikan siklus penyakit. Keberadaan inang ini pada salah satu jenis penyakit
menjadi penting, karena tanpa inang perantara ini meskipun pathogen ada dan inang
utama ada, pathogen akan mati sehingga tidak akan terjadi penyakit.
Timbulnya suatu penyakit juga tergantung pada sifat genetic yang dimiliki oleh
inang itu sendiri, terdapat inang yang rentan (suscept), tahan (resisten), toleran
(tolerant), kebal (immune) yaitu tanaman yang tidak dapat diinfeksi oleh pathogen.
Adanya macam-macam sifat ini digunakan untuk melakukan upaya pencegahan
penyakit dengan memanipulasi gen sehingga dapat dihasilkan tanaman yang
resisten bahkan immune Umur, bentuk dan kerapatan pohon juga berpengaruh
terhadap kemungkinan tanaman tersebut diserang penyakit.
Misalnya beberapa marga fungi seperti Fusarium, Phytophthora, Phythium,
Sclerotium dan Rhizoctonia banyak menyerang tanaman sengon, mangium,
eukaliptus, dammar, sonokeling dan gmelina pada tingkat semai.
Faktor lain dari inang yang berpengaruh terhadap kemungkinan terserangnya sutu
penyakit adalah kesehatan tanaman inang. Tanaman yang sehat merupakan
tanaman yang mempunyai pertumbuhan baik (daun dan batang segar), batang lurus,
tajuk lebat dan tidak terserang hama dan penyakit. Salah satu faktor yang
mendukung dihasilkannya tanaman yang sehat adalah bibit yang ditanam adalah
berasal dari bibit yang sehat.
Bibit yang sehat ini berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-5006.1-2006
tentang Mutu bibit, merupakan bibit segar yang tidak terserang hama dan atau
penyakit dan atau tidak ada gejala kekurangan unsur hara. Teknik memperoleh bibit
sehat ini dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain, kultur jaringan,
perlakuan terhadap benih secara kimiawi dan perlakuaan terhadap benih dengan
mikroorganisme.
1. Pra Infeksi
Pada tahap ini, mekanisme pertahanan fisik-mekanik (pertahanan structural) berupa
duri, bulu, lapisan lilin yang terdapat pada daun,batang ataupun organ lainnya.
Sedangkan pertahanan biokimia berupa senyawa yang dihasilkan, yaitu : senyawa
hasil metabolism sekunder (flavanoid, alkaloid, glycocid), senyawa yang
dikeluarkan sebagai eksudat, senyawa yang menghambat, tidak menghasilkan
senyawa yang diinginkan pathogen.
2. Pasca Infeksi
Pada tahap ini, mekanisme pertahanan fisik-mekanik yang dimiliki inang dapat
berupa pertahanan sitoplasmid (pada waktu pathogen masuk dalam sel pathogen
dikurung dalam sel), pertahanan seluler (sel inang membuta selubung sehingga
pathogen tidak dapat menyentuh sel lain), pertahanan jaringan (pembentukan
lapisan gabus, lapisan absisi), pertahanan organ (menjatuhkan organ yang terkena
penyakit).
• Patogen
Yang dimaksud pathogen adalah organism hidup yang mayoritas bersifat mikro dan
mampu untuk dapat menimbulkan penyakit pada tanaman atau tumbuhan.
Mikroorganisme tersebut antara lain fungi, bakteri, virus, nematoda mikoplasma,
spiroplasma dan riketsia.
- Fungi merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai
akar, batang, dan daun tetapi mampu menimbulkan kerusakan jaringan
bahkan mematikan tanaman inang. Tubuhnya ada yang terdiri dari satu
sel dan ada pula yang terdiri dari banyak sel, yang terdiri banyak sel
umumnya berbentuk benang (hifa), hifa yang bercabang-cabang
membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut miselium. Fungi
mempunyai tiga ciri, yaitu: 1) tidak mempunyai jaringan pembuluh, 2)
salah satu alat berbiaknya adalah spora, 3) tidak mempunyai klorofil.
kelas-kelas dalam jamur dan yang paling banyak menjadi penyebab
penyakit tanaman, yaitu: 1) Ascomycetes, 2) Basidiomycetes, 3)
Deuteromycetes, 4) Phycomycetes. Contoh penyakit yang ditimbulkan
oleh pathogen ini adalah penyakit karat daun (jamur Hemileia vastatrix
[Link] Br) (Gbr. 2), penyakit bercak daun cercospora (jamur Cercospora
coffeicola [Link] Cke.) (Gbr.3), penyakit jamur upas (jamur Corticium
salmonicolor [Link] Br.) (Gbr.4).
- Bakteri merupakan tumbuhan bersel satu dan berdinding sel, tetapi
bersifat prokariotik (tidak mempunyai membran inti). Bakteri mempunyai
kemampuan mereproduksi individu sel dalam jumlah sangat banyak
dengan waktu singkat sehingga menjadi penyebab penyakit yang
mempunyai sifat merusak pada inang. Penyebaran bakteri tidak melalui
spora, sehingga secara adaptif tidak dapat disebarkan melalui angin. Akan
tetapi, bakteri patogenik mampu berpindah dengan perantara air,
percikan air hujan, binatang, dan manusia. Contoh bakteri : Pseudomonas
aeruginosa (Gbr.5), Pseudomonas syringae (Gbr.6). Contooh penyakit
yang disebabkan oleh pathogen bakteri, mis kanker pada jeruk (Citrus
cancer).
- Fitonematoda atau nematoda yang memarasit tanaman mempunyai
ukuran yang sangat kecil, memanjang dan berbentuk silinder. Nematoda
non-parasit memakan jamur, bakteri, nematoda lain atau serangga kecil
yang hidup di tanah. Sedangkan, nematoda parasit tanaman mempunyai
struktur khusus yang disebut spear (lembing) atau stylet (jarum).
Berdasarkan perilaku, nematoda parasitik pohon dibagi menjadi dua,
yaitu: Nematoda ektoparasit, nematoda yang pada saat memarasit
tanaman tubuhnya tetap berada di luar akar dan hanya sebagian kecil dari
tubuh nematoda yang masuk ke dalam jaringan tumbuhan inang ;
Nematoda endoparasit, yaitu: nematoda yang saat memarasit tanaman,
tubuhnya masuk, merusak dan melakukan reproduksi di dalam akar
tanaman. Contoh nematode yaitu : Meloidogyne spp. (Gbr.7),
Paratylenchus spp.
- Virus merupakan organism aseluler, dimana asam nuklead virus hanya
terdiri DNA atau RNA saja. Virus merupakan penyebab penyakit yang
paling merusak, tidak hanya terjadi pada tanaman, tetapi juga pada
manusia dan ternak. Virus dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman
terhambat, mengurangi hasil produksi, bahkan mampu menimbulkan
kematian tanaman inang (penyakit CVPD pada jeruk). Contoh virus adalah
TMV (Tobacco Mozaic Virus) (Gbr.9).
Suatu organisme disebut patogen apabila dapat memenuhi postulat Koch
yaitu :
1. Patogen ditemukan pada pohon yang terserang patogen
2. Patogen dapat diisolasi dan diidentifikasi
3. Patogen dapat diinokulasikan pada spesies inang yang sama dan
menunjukkan gejala yang sama
4. Dapat diisolasi kembali
Pengaruh komponen pathogen dalam timbulnya penyakit sangat tergantung pada kehadiran
pathogen, jumlah populasi pathogen, kemampuan pathogen untuk menimbulkan penyakit
yaitu berupa kemampuan menginfeksi (virulensi) dan kemampuan menyerang tanaman inang
(agresivitas), kemampuan adaptasi patogen, penyebaran, ketahanan hidup dan kemampuan
berkembangbiak pathogen.
Kemampuan pathogen menyerang tanaman inang dipengaruhi oleh senjata yang
dimiliki oleh pathogen, dimana senjata ini sangat tergantung pada jenis pathogen itu
sendiri. Secara umum senjata yang dimiliki pathogen untuk menyerang tanaman dapat
dibedakan menjadi dua yaitu fisik-mekanik dan biokimia.
• Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat memberikan pengaruh terhadap timbulnya suatu
penyakit dapat berupa suhu udara, intensitas dan lama curah hujan, intensitas dan
lama embun, suhu tanah, kandungan air tanah, kesuburan tanah, kandungan bahan
organic, angin, api, pencemaran air. Faktor lingkungan ini memberikan pengaruh
terhadap pertumbuhan tanaman inang dan mnenciptakan kondisi yang sesuai bagi
kehidupan jenis pathogen tertentu.
- Interaksi antar Komponen
Diantara ketiga komponen ini manakah yang paling bertanggung jawab terhadap
timbul dan berkembangnya suatu penyakit? Berkembangnya suatu penyakit
tegantung pada interaksi ketiga komponen tersebut, yaitu kerentanan inang, derajat
virulensi suatu pathogen serta kecenderungan apakah faktor lingkungan lebih
mendukung pathogenesis ataukah sebaliknya mendukung keteguhan pertumbuhan
inang.
Pada konsep segi tiga penyakit ini apabila salah satu faktor penyebab tidak ada,
maka tidak akan ada suatu kejadian penyakit. Contohnya apabila ada satu faktor
yaitu pathogen tidak ada, yang ada hanya tanaman inang yang tumbuh dalam
lingkungan yang tidak optimal untuk pertumbuhannya, maka kemungkinan tidak
akan terjadi penyakit.
Sebaliknya apabila dalam kondisi pertumbuhan tanaman tersebut diatas dan ada
pathogen disekitar tanaman tersebut serta lingkungan mendukung pertumbuhan
pathogen, maka kecenderungan untuk terjadinya infeksi penyakit pada tanaman
cukup besar.
Kemudian apabila ada suatu tanaman inang ditanam pada lingkungan yang baik
yaitu tanah yang subur dengan pengolahn yang baik dan pemberian pupuk yang
cukup dan seimbang, maka tentunya akan menjamin pertumbuhan tanamanyang
sehat, walaupun ada pathogen, maka kecil kemungkinan penyakit dapat terjadi.
Hal ini dikarenakan tanaman inang kemungkinan dapat tahan terhadap serangan
pathogen. Sedangkan apabila tanaman inang tidak baik dalam pertumbuhannya
yang berarti kondisinya rentan, kemudian ada pathogen dan lingkungan mendukung
pertumbuhan pathogen maka kemungkinan terjadinya infeksi penyakit sangat
besar.
2.3 Konsep Segiempat Penyakit (Disease Square)
Konsep penyakit pada dasarnya akan lengkap apabila dapat memberikan penjelasan
dan penekanan pada peran faktor lingkungan terhadap pathogen, inang dan interaksi
antara keduanya yang ternyata ada salah satu faktor yang mempunyai kemampuan
untuk mempengaruhi ketiga komponen tersebut yaitu manusia.
Sehingga penyakit sebenarnya merupakan hubungan segi empat antar faktor
pathogen, faktor inang, faktor lingkungan fisik/kimia dan lingkungan biologi, serta
faktor manusia sehingga disebut segi empat.(gambar.2)
Manusia
Lingkungan
Patogen (fisik/kimia dan
dan biologi)
Inang
Gambar 2. Segiempat Penyakit
- Komponen
Komponen segiempat penyakit ini tediri dari 3 komponen segitiga penyakit yang
telah diuraikan di atas ditambah komponen manusia. Di dalam konsep ini manusia
berada diatas karena manusia memiliki akal budi sehingga mempunyai kemampuan
untuk memanipulasi atau mempengaruhi tiga komponen lainnya, yaitu tanaman
inang, pathogen ataupun lingkungan.
Dimana tindakan yang dilakukan manusia dapat menjadi salah satu faktor
pendukung timbulnya suatu penyakit ataupun bahkan mencegah timbulnya suatu
penyakit.
- Interaksi antar komponen
Jadi menurut konsep ini timbulnya suatu penyakit merupakan penggabungan dan
terjadinya interaksi antara empat faktor tersebut, yaitu :
1. [Link] berinteraksi dengan inang melalui proses-proses parasitisme dan
pathogenesis, dan sebaliknya inang berinteraksi dengan pathogen dalam hal
penyediaan makanan dan ketahanan
Patogen berinteraksi terhadap lingkungan fisik/kimia dalam pengeluaran
racun, pengurasan makanan dan sebaliknya lingkungan fisik/kimia
memberikan tidak hanya
Pengaruh sinergisme terjadi pada saat dua atau lebih pathogen bersama-
sama menyerang tanaman, yang terjadi dapat berupa meningkatkan
serangan, misal beberapa fungi busuk akar bersama nematode akan
menyebabkan serangan yang hebat jika bersama-sama, dalam hal ini
nematode akan melukai akar dan luka yang ada digunakan fungi sebagai
jalan masuk untuk menginfeksi inang.
Kejadian yang lain dapat berupa pathogen yang satu dapat mengubah sifat
ketahanan inang sehingga dapat diserang oleh pathogen yang lain misalnya
pada tanaman tembakau adanya serangan nematode menyebabkan inang
tersebut dapat terserang oleh Phytophtora parasitica.
2. Lingkungan fisik/kimia berinteraksi dengan tanaman inang dalam proses
penyediaan kondisi tempat tumbuh yang sesuai atau tidak bagi pertumbuhan
inang, timbulnya penyakit abiotik dan pra-disposisi dan sebaliknya inang
berpengaruh terhadap lingkungan fisik/kimia berupa pemberian naungan dan
eksudat serta pengurasan hara dan air.
Lingkungan fisik/kimia memberikan fasilitas suhu, kelembaban, makanan dan
juga racun kepada lingkungan biologi, dan sebaliknya lingkungan biologi
menguras hara serta mengeluarkan antibiotic ke dalam lingkungan fisik.
3. Inang memfasilitasi parasit sekunder dan populasi lingkungan biologi dan
sebaliknya lingkungan biologi dapat menjadi parasit sekunder serta
simbion.
4. Manusia mempengaruhi ketiga faktor yang lain baik secara langsung
maupun tidak langsung, misal agar suatu penyakit tidak menyerang, maka
manusia memilih tanaman yang resisten, manusia mampu memanipulasi
ketahanan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, mengusahakan
lingkungan pertanaman agar mengurangi serangan pathogen, melakukan
kegiatan dalam pengelolaan tanaman (pengaturan jarak tanam,
pencampuran jenis, penjarangan).
2.4 Konsep Timbulnya Penyakit Dari Penguraian Komponen Abiotik dan
Biotik
Beberapa komponen dalam segiempat penyakit dapat diuraikan kembali menjadi
beberapa faktor ini, hal ini menjadikan konsep timbulnya suatu penyakit merupakan
suata hal yang komplek bukan hanya pengaruh satu faktor saja.
- Komponen
Pada konsep ini komponen faktor lingkungan diuraikan menjadi faktor abiotik dan faktor
biotic. Dimana faktor lingkungan abiotik dapat mendukung atau tidak mendukung terhadap
pengaruh komponen yang lain, sedangkan faktor biotic dibedakan dengan pathogen
meskipun pathogen itu sendiri adalah faktor biotik. sehingga apabila pengaruh faktorfaktor
tersebut digambarkan dapat dilihat pada Gbr. 3
.
Manusia
Lingkungan
Patogen Abiotik
Inang Lingkungan
Biotik
Gambar 3. Konsep Timbulnya Penyakit
Konsep Timbulnya Penyakit Dari Penguraian Komponen Abiotik dan Biotik Faktor abiotik
penyusun lingkungan tempat tumbuh , terdiri atas cuaca (suhu, kelembaban dan angin), iklim
yang ditentukan oleh banyaknya curah hujan, tanah, air, cahaya dan hara.
Secara umum faktor ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor abiotik yang
mendukung terhadap kelangsungan hidup inang, pathogen dan faktor biotic serta
yang tidak mendukung komponen tersebut. Sedangkan komponen biotic itu sendiri
dapat berupa organism hidup selain yang bersifat pathogen.
- Interaksi antar komponen
Secara umum faktor abiotic menentukan apakah interaksi antara pathogen dan
inang dapat berkembang menjadi suatu penyakit, faktor abiotik juga dapat menjadi
penyebab langsung dari timbulnya suatu penyakit dan fakktor abiotic dapat menjadi
pendukung atau tidaknya pathogen dapat bertahan hidup dalam kondisi normal.
Faktor abiotik berperan sebagai penyebab langsung suatu penyakit apabila berada
dalam kondisi kekurangan atau kelebihan, dan hal ini terjadi umunya tidak
disebabkan oleh faktor tunggal yang terpisah dari faktor penyebab lain. Contoh
faktor abiotik yang dapat menyebabkan suatu penyakit misalnya terjadinya
perubahan persentase kelembaban, saat kelembaban nisbi tinggi, penguapan dari
tumbuhan menjadi rendah, sehingga dapat terjadi penghambatan penyerapan hara,
terutama kalsium, dari dalam tanah.
Kekurangan hara ini dapat berakibat gangguan formasi sel dan daun pada
tumbuhan, sebagai contoh kulit tanaman ceri yang belum dewasa dapat terbelah
selama periode musim basah. Interaksi faktor abiotik dan pathogen dapat menjadi
faktor pra-disposisi timbunya penyakit. Sebagai contoh, suhu rendah, kekahatan
hara dan polusi udara menyebabkan pra-disposisi tumbuhan terhadap infeksi
Alternaria dan fungi penyebab mati kulit, seperti Leucostoma dan Botryosphaeria.
Kerusakan tumbuhan karena kelebihan air seringkali diikuti oleh infeksi Phythium
yang merupakan fungi penyebab penyakit akar. Selain tersebut interaksi faktor
abiotik dan pathogen terjadi dalam penyebaran pathogen yang disebabkan oleh air
dan angin. Interaksi pathogen dan faktor biotic dapat berupa hubungan yang
sinergis,
Suatu pathogen dapat menyebabkan mikroorganisme lain yang semula non-
patogenik menjadi patogenik. Aspergillus spp., Penicillium spp. dan Trichoderma
spp. merupakan fungi yang umum ditemukan didalam tanah, yang pada kondisi
normal tidak bersifat patogenik terhadap tembakau dan tanaman lain, akan tetapi
bila akar tumbuhan tersebut terinfeksi nematode puru akar, jenis fungi ini akan
mampu menginvasi akar.
Interaksi pathogen dan faktor biotic juga dapat terjadi dalam penyebaran pathogen,
beberapa serangga membantu penyebaran pathogen atau juga dapat menjadi agen
atau vector timbullnya penyakit yang disebabkan oleh pathogen. Interaksi faktor
biotic dan pathogen serta inang dapat memberikan pengaruh antagonistic terhadap
inang, sehingga inang akan terangsang untuk melakukan reaksi biokimia sebagai
alat pelindung terhadap serangan pathogen berikutnya.
Misalnya inang mampu memproduksi bahan-bahan bersifat racun pada fungi
(fungitoksik) untuk menghambat perkembangan pathogen fungi. Faktor biologi
dapat menjadi organism antagonis, artinya adalah organism yang berlawanan.
Berlawanan disini berarti berlawanan dengan organism pathogen. Karena adanya
pengaruh antagonis ini maka organism ini dapat digunakan sebagai pengendali
penyakit secara biologi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Konsep bagaimana tanaman menjadi sakit semakin berkembang seiring
bekembangnya pengetahuan sehingga semakin diketahuinya faktor-faktor yang
berpengaruh dan interaksi antar faktor tersebut terhadap timbulnya penyakit.
Penyakit tanaman kemudian dipandang tidak hanya sebagai penyakit biotis, tetapi
kemudian berkembang adanya penyakit abiotis dan kemudian berkembang
pandangan adanya penyakit majemuk yang lebih komplek penyebab dan
interaksinya.
DAFTAR PUSTAKA
Djafarudin. 2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Bumi Aksara.
Jakarta
Martoredjo, T. 1984. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan Bagian dari Perlindungan
Tanaman. Andi Offset. Yogyakarta
Supena, H. 1980. Pengaruh residu tanaman terhadap perkembangan penyakit
cendawan akar putih (Rigidiporus lignosus Klotzch) pada tanaman karet. Tesis.
Institut Pertanian Bogor.
Widyastuti, SM., Sumardi dan Harjono. 2005. Patologi Hutan. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta
Yudiarti, T. 2007. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Graha Ilmu. Yogyakarta