0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan21 halaman

Konsep Penyakit pada Tanaman Budidaya

Makalah ini membahas konsep penyakit pada tanaman, termasuk konsep segitiga penyakit dan segiempat penyakit. Makalah ini juga menjelaskan komponen-komponen yang berperan dalam timbulnya penyakit pada tanaman seperti inang, patogen, dan lingkungan serta peran manusia.

Diunggah oleh

Angelina manorek
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan21 halaman

Konsep Penyakit pada Tanaman Budidaya

Makalah ini membahas konsep penyakit pada tanaman, termasuk konsep segitiga penyakit dan segiempat penyakit. Makalah ini juga menjelaskan komponen-komponen yang berperan dalam timbulnya penyakit pada tanaman seperti inang, patogen, dan lingkungan serta peran manusia.

Diunggah oleh

Angelina manorek
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

DASAR DASAR PROTEKSI TANAMAN

TENTANG
“ KONSEP PENYAKIT PADA TANAMAN “

DI SUSUN OLEH :

ANASTASYA ENGELINA MANOREK

220311040095

FAKULTAS PERTANIAN

PRODI AGRIBISNIS

UNIVERSITAS SAMRATULANGI
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................


KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR ISI ...................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................

1.1 Latar Belakang ..............................................................................

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................

1.3 Tujuan .............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................

2.1 Konsep Bagaimana Tanaman Dapat Menjadi Sakit .....................

2.2 Konsep Segitiga Penyakit (Disease Triangle) ................................

2.3 Konsep Sigiempat Penyakit (Disease Square) ...............................

BAB III PENUTUP ...........................................................................................

3.1 Kesimpulan ....................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit pada tumbuhan akan selalu muncul sepanjang manusia mengusahakan

tanaman atau tumbuhan tersebut sebagai tanaman budidaya, dibidang kehutanan

khususnya di Indonesia hal ini mulai menjadi bahan pemikiran disaat mulai

diusahakannya jenis-jenis tanaman hutan secara monokultur, seperti jati, agathis,

pinus, mahoni, sengon, acacia, eucalyptus. Kondisi ini semakin menjadi persoalan

jika kerusakan-kerusakan yang terjadi menimbulkan kerugian ekonomi.

Penyakit sebenarnya adalah suatu proses dimana bagian-bagian tertentu dari

organisme tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal dengan sebaik-

baiknya karena adanya suatu gangguan. Tanaman dapat dilihat dari dua sudut

pandang, yaitu secara biologi dan ekonomi maka penyakit tanamanpun

mengandung unsur dua sudut pandang ini. Dari segi biologi, tanaman adalah

organisme yang melakukan kegiatan fisiologis, sehingga dari segi ini penyakit

tanaman adalah penyimpangan dari sifat normal sehingga tanaman tidak dapat

melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana konsep terjadinya segitiga penyakit? Bagaimana konsep terjadinya

segiempat penyakit? Bagaimana konsep timbulnya penyakit dari penguraian

komponen abiotik dan biotik?

Tujuan

Untuk mengetahui konsep terjadinya segitiga penyakit untuk mengetahui konsep

terjadinya segiempat penyakit untuk mengetahui konsep timbulnya penyakit dari

penguraian komponen abiotik dan biotik

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Bagaimana Tanaman Dapat Menjadi Sakit

Konsep timbulnya suatu penyakit semakin berkembang seiring dengan

berkembangnya ilmu penyakit tumbuhan, pada awalnya para pakar yang dipelopori

oleh DeBary menujuk pathogen sebagai penyebab penyakit yang utama,

selanjutnya diketahui bahwa dalam berbagai buku teks mengenai penyakit

tumbuhan umunya dianut konsep segitiga penyakit (disease triangle).

Ketiga komponen penyakit tersebut adalah inang, pathogen dan lingkungan.

Kemudian berkembang sebuah konsep yang dasari pemikiran bahwa manusia ikut

berperan dalam timbulnya suatu penyakit tumbuhan karena manusia dapat

memberikan pengaruh terhadap pathogen dan tanaman inang itu sendiri serta

kondisi lingkungan dimana tanaman itu tumbuh, konsep ini dikenal dengan segi
empat penyakit atau (disease squaire) dimana manusia dimasukkan sebagai salah

satu faktor dalam komponen timbulnya penyakit.

Beberapa faktor komponen dalam penyakit ini selanjutnya dapat diuraikan kembali

sehingga konsep timbunya suatu penyakit semakin berkembang dan semakin

komplek.

2.2 Konsep Segitiga Penyakit (Disease Triangle)

Konsep pertama yang dikembangkan para pakar adalah konsep segitiga penyakit

dimana konsep ini menjelaskan timbulnya penyakit biotik (penyakit yang

disebabkan oleh pathogen) yang di dukung oleh kondisi lingkungan dan tanaman

inang.

Tanaman Inang

Patogen Lingkungan

Gambar 1. Segitiga Penyakit

• Komponen

Untuk timbulnya suatu penyakit paling sedikit diperlukan tiga faktor yang

mendukung, yaitu tanaman inang atau host, penyebab penyakit atau pathogen dan

faktor lingkungan
Tanaman Inang

Pengaruh tanaman inang terhadapnya timbulnya suatu penyakit tergantung dari

jenis tanaman inang, kerentanan tanaman, bentuk dan tingkat pertumbuhan, struktur

dan kerapatan populasi, kesehatan tanaman dan ketahanan inang. Tanaman inang

dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :

1. Tanaman inang rentan : inang yang mudah terserang pathogen sementara pada

kondisi sama dan pathogen sama, inang lain resisten.

2. Tanaman inang resisten : Inang yang tahan terhadap serangan pathogen

sementara pada kondisi sama dan pathogen sama, inang lain rentan.

3. Tanaman inang toleran : inang yang rentan tetapi inang tersebut masih mampu

menghasilkan produk yang ekonomis.

4. Tanaman inang sekunder : inang yang bukan menjadi makanan utama.

5. Tanaman inang primer : inang yang memang menjadi tempat dan sumber nutrisi

makanan utama/pokok dari pathogen.

6. Tanaman inang alternative : tempat dan nutrisi makanan jika tidak ada inang

sekunder, primer dimana pathogen dimasing-masing inang bias menyelesaikan

siklusnya.

7. Tanaman inang perantara : inang yang dapat dijadikan perantara untuk

menyelesaikan siklus penyakit. Keberadaan inang ini pada salah satu jenis penyakit

menjadi penting, karena tanpa inang perantara ini meskipun pathogen ada dan inang

utama ada, pathogen akan mati sehingga tidak akan terjadi penyakit.
Timbulnya suatu penyakit juga tergantung pada sifat genetic yang dimiliki oleh

inang itu sendiri, terdapat inang yang rentan (suscept), tahan (resisten), toleran

(tolerant), kebal (immune) yaitu tanaman yang tidak dapat diinfeksi oleh pathogen.

Adanya macam-macam sifat ini digunakan untuk melakukan upaya pencegahan

penyakit dengan memanipulasi gen sehingga dapat dihasilkan tanaman yang

resisten bahkan immune Umur, bentuk dan kerapatan pohon juga berpengaruh

terhadap kemungkinan tanaman tersebut diserang penyakit.

Misalnya beberapa marga fungi seperti Fusarium, Phytophthora, Phythium,

Sclerotium dan Rhizoctonia banyak menyerang tanaman sengon, mangium,

eukaliptus, dammar, sonokeling dan gmelina pada tingkat semai.

Faktor lain dari inang yang berpengaruh terhadap kemungkinan terserangnya sutu

penyakit adalah kesehatan tanaman inang. Tanaman yang sehat merupakan

tanaman yang mempunyai pertumbuhan baik (daun dan batang segar), batang lurus,

tajuk lebat dan tidak terserang hama dan penyakit. Salah satu faktor yang

mendukung dihasilkannya tanaman yang sehat adalah bibit yang ditanam adalah

berasal dari bibit yang sehat.

Bibit yang sehat ini berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-5006.1-2006

tentang Mutu bibit, merupakan bibit segar yang tidak terserang hama dan atau

penyakit dan atau tidak ada gejala kekurangan unsur hara. Teknik memperoleh bibit

sehat ini dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain, kultur jaringan,

perlakuan terhadap benih secara kimiawi dan perlakuaan terhadap benih dengan

mikroorganisme.

1. Pra Infeksi
Pada tahap ini, mekanisme pertahanan fisik-mekanik (pertahanan structural) berupa

duri, bulu, lapisan lilin yang terdapat pada daun,batang ataupun organ lainnya.

Sedangkan pertahanan biokimia berupa senyawa yang dihasilkan, yaitu : senyawa

hasil metabolism sekunder (flavanoid, alkaloid, glycocid), senyawa yang

dikeluarkan sebagai eksudat, senyawa yang menghambat, tidak menghasilkan

senyawa yang diinginkan pathogen.

2. Pasca Infeksi

Pada tahap ini, mekanisme pertahanan fisik-mekanik yang dimiliki inang dapat

berupa pertahanan sitoplasmid (pada waktu pathogen masuk dalam sel pathogen

dikurung dalam sel), pertahanan seluler (sel inang membuta selubung sehingga

pathogen tidak dapat menyentuh sel lain), pertahanan jaringan (pembentukan

lapisan gabus, lapisan absisi), pertahanan organ (menjatuhkan organ yang terkena

penyakit).

• Patogen

Yang dimaksud pathogen adalah organism hidup yang mayoritas bersifat mikro dan

mampu untuk dapat menimbulkan penyakit pada tanaman atau tumbuhan.

Mikroorganisme tersebut antara lain fungi, bakteri, virus, nematoda mikoplasma,

spiroplasma dan riketsia.

- Fungi merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai

akar, batang, dan daun tetapi mampu menimbulkan kerusakan jaringan

bahkan mematikan tanaman inang. Tubuhnya ada yang terdiri dari satu

sel dan ada pula yang terdiri dari banyak sel, yang terdiri banyak sel
umumnya berbentuk benang (hifa), hifa yang bercabang-cabang

membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut miselium. Fungi

mempunyai tiga ciri, yaitu: 1) tidak mempunyai jaringan pembuluh, 2)

salah satu alat berbiaknya adalah spora, 3) tidak mempunyai klorofil.

kelas-kelas dalam jamur dan yang paling banyak menjadi penyebab

penyakit tanaman, yaitu: 1) Ascomycetes, 2) Basidiomycetes, 3)

Deuteromycetes, 4) Phycomycetes. Contoh penyakit yang ditimbulkan

oleh pathogen ini adalah penyakit karat daun (jamur Hemileia vastatrix

[Link] Br) (Gbr. 2), penyakit bercak daun cercospora (jamur Cercospora

coffeicola [Link] Cke.) (Gbr.3), penyakit jamur upas (jamur Corticium

salmonicolor [Link] Br.) (Gbr.4).

- Bakteri merupakan tumbuhan bersel satu dan berdinding sel, tetapi

bersifat prokariotik (tidak mempunyai membran inti). Bakteri mempunyai

kemampuan mereproduksi individu sel dalam jumlah sangat banyak

dengan waktu singkat sehingga menjadi penyebab penyakit yang

mempunyai sifat merusak pada inang. Penyebaran bakteri tidak melalui

spora, sehingga secara adaptif tidak dapat disebarkan melalui angin. Akan

tetapi, bakteri patogenik mampu berpindah dengan perantara air,


percikan air hujan, binatang, dan manusia. Contoh bakteri : Pseudomonas

aeruginosa (Gbr.5), Pseudomonas syringae (Gbr.6). Contooh penyakit

yang disebabkan oleh pathogen bakteri, mis kanker pada jeruk (Citrus

cancer).

- Fitonematoda atau nematoda yang memarasit tanaman mempunyai

ukuran yang sangat kecil, memanjang dan berbentuk silinder. Nematoda

non-parasit memakan jamur, bakteri, nematoda lain atau serangga kecil

yang hidup di tanah. Sedangkan, nematoda parasit tanaman mempunyai

struktur khusus yang disebut spear (lembing) atau stylet (jarum).

Berdasarkan perilaku, nematoda parasitik pohon dibagi menjadi dua,

yaitu: Nematoda ektoparasit, nematoda yang pada saat memarasit

tanaman tubuhnya tetap berada di luar akar dan hanya sebagian kecil dari

tubuh nematoda yang masuk ke dalam jaringan tumbuhan inang ;

Nematoda endoparasit, yaitu: nematoda yang saat memarasit tanaman,

tubuhnya masuk, merusak dan melakukan reproduksi di dalam akar

tanaman. Contoh nematode yaitu : Meloidogyne spp. (Gbr.7),

Paratylenchus spp.
- Virus merupakan organism aseluler, dimana asam nuklead virus hanya

terdiri DNA atau RNA saja. Virus merupakan penyebab penyakit yang

paling merusak, tidak hanya terjadi pada tanaman, tetapi juga pada

manusia dan ternak. Virus dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman

terhambat, mengurangi hasil produksi, bahkan mampu menimbulkan

kematian tanaman inang (penyakit CVPD pada jeruk). Contoh virus adalah

TMV (Tobacco Mozaic Virus) (Gbr.9).

Suatu organisme disebut patogen apabila dapat memenuhi postulat Koch

yaitu :

1. Patogen ditemukan pada pohon yang terserang patogen

2. Patogen dapat diisolasi dan diidentifikasi

3. Patogen dapat diinokulasikan pada spesies inang yang sama dan

menunjukkan gejala yang sama


4. Dapat diisolasi kembali

Pengaruh komponen pathogen dalam timbulnya penyakit sangat tergantung pada kehadiran

pathogen, jumlah populasi pathogen, kemampuan pathogen untuk menimbulkan penyakit

yaitu berupa kemampuan menginfeksi (virulensi) dan kemampuan menyerang tanaman inang

(agresivitas), kemampuan adaptasi patogen, penyebaran, ketahanan hidup dan kemampuan

berkembangbiak pathogen.

Kemampuan pathogen menyerang tanaman inang dipengaruhi oleh senjata yang

dimiliki oleh pathogen, dimana senjata ini sangat tergantung pada jenis pathogen itu

sendiri. Secara umum senjata yang dimiliki pathogen untuk menyerang tanaman dapat

dibedakan menjadi dua yaitu fisik-mekanik dan biokimia.

• Lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat memberikan pengaruh terhadap timbulnya suatu

penyakit dapat berupa suhu udara, intensitas dan lama curah hujan, intensitas dan

lama embun, suhu tanah, kandungan air tanah, kesuburan tanah, kandungan bahan

organic, angin, api, pencemaran air. Faktor lingkungan ini memberikan pengaruh

terhadap pertumbuhan tanaman inang dan mnenciptakan kondisi yang sesuai bagi

kehidupan jenis pathogen tertentu.

- Interaksi antar Komponen

Diantara ketiga komponen ini manakah yang paling bertanggung jawab terhadap

timbul dan berkembangnya suatu penyakit? Berkembangnya suatu penyakit

tegantung pada interaksi ketiga komponen tersebut, yaitu kerentanan inang, derajat

virulensi suatu pathogen serta kecenderungan apakah faktor lingkungan lebih


mendukung pathogenesis ataukah sebaliknya mendukung keteguhan pertumbuhan

inang.

Pada konsep segi tiga penyakit ini apabila salah satu faktor penyebab tidak ada,

maka tidak akan ada suatu kejadian penyakit. Contohnya apabila ada satu faktor

yaitu pathogen tidak ada, yang ada hanya tanaman inang yang tumbuh dalam

lingkungan yang tidak optimal untuk pertumbuhannya, maka kemungkinan tidak

akan terjadi penyakit.

Sebaliknya apabila dalam kondisi pertumbuhan tanaman tersebut diatas dan ada

pathogen disekitar tanaman tersebut serta lingkungan mendukung pertumbuhan

pathogen, maka kecenderungan untuk terjadinya infeksi penyakit pada tanaman

cukup besar.

Kemudian apabila ada suatu tanaman inang ditanam pada lingkungan yang baik

yaitu tanah yang subur dengan pengolahn yang baik dan pemberian pupuk yang

cukup dan seimbang, maka tentunya akan menjamin pertumbuhan tanamanyang

sehat, walaupun ada pathogen, maka kecil kemungkinan penyakit dapat terjadi.

Hal ini dikarenakan tanaman inang kemungkinan dapat tahan terhadap serangan

pathogen. Sedangkan apabila tanaman inang tidak baik dalam pertumbuhannya

yang berarti kondisinya rentan, kemudian ada pathogen dan lingkungan mendukung

pertumbuhan pathogen maka kemungkinan terjadinya infeksi penyakit sangat

besar.

2.3 Konsep Segiempat Penyakit (Disease Square)


Konsep penyakit pada dasarnya akan lengkap apabila dapat memberikan penjelasan

dan penekanan pada peran faktor lingkungan terhadap pathogen, inang dan interaksi

antara keduanya yang ternyata ada salah satu faktor yang mempunyai kemampuan

untuk mempengaruhi ketiga komponen tersebut yaitu manusia.

Sehingga penyakit sebenarnya merupakan hubungan segi empat antar faktor

pathogen, faktor inang, faktor lingkungan fisik/kimia dan lingkungan biologi, serta

faktor manusia sehingga disebut segi empat.(gambar.2)

Manusia

Lingkungan
Patogen (fisik/kimia dan
dan biologi)

Inang

Gambar 2. Segiempat Penyakit

- Komponen

Komponen segiempat penyakit ini tediri dari 3 komponen segitiga penyakit yang

telah diuraikan di atas ditambah komponen manusia. Di dalam konsep ini manusia

berada diatas karena manusia memiliki akal budi sehingga mempunyai kemampuan
untuk memanipulasi atau mempengaruhi tiga komponen lainnya, yaitu tanaman

inang, pathogen ataupun lingkungan.

Dimana tindakan yang dilakukan manusia dapat menjadi salah satu faktor

pendukung timbulnya suatu penyakit ataupun bahkan mencegah timbulnya suatu

penyakit.

- Interaksi antar komponen

Jadi menurut konsep ini timbulnya suatu penyakit merupakan penggabungan dan

terjadinya interaksi antara empat faktor tersebut, yaitu :

1. [Link] berinteraksi dengan inang melalui proses-proses parasitisme dan

pathogenesis, dan sebaliknya inang berinteraksi dengan pathogen dalam hal

penyediaan makanan dan ketahanan

Patogen berinteraksi terhadap lingkungan fisik/kimia dalam pengeluaran

racun, pengurasan makanan dan sebaliknya lingkungan fisik/kimia

memberikan tidak hanya

Pengaruh sinergisme terjadi pada saat dua atau lebih pathogen bersama-

sama menyerang tanaman, yang terjadi dapat berupa meningkatkan

serangan, misal beberapa fungi busuk akar bersama nematode akan

menyebabkan serangan yang hebat jika bersama-sama, dalam hal ini

nematode akan melukai akar dan luka yang ada digunakan fungi sebagai

jalan masuk untuk menginfeksi inang.

Kejadian yang lain dapat berupa pathogen yang satu dapat mengubah sifat

ketahanan inang sehingga dapat diserang oleh pathogen yang lain misalnya
pada tanaman tembakau adanya serangan nematode menyebabkan inang

tersebut dapat terserang oleh Phytophtora parasitica.

2. Lingkungan fisik/kimia berinteraksi dengan tanaman inang dalam proses

penyediaan kondisi tempat tumbuh yang sesuai atau tidak bagi pertumbuhan

inang, timbulnya penyakit abiotik dan pra-disposisi dan sebaliknya inang

berpengaruh terhadap lingkungan fisik/kimia berupa pemberian naungan dan

eksudat serta pengurasan hara dan air.

Lingkungan fisik/kimia memberikan fasilitas suhu, kelembaban, makanan dan

juga racun kepada lingkungan biologi, dan sebaliknya lingkungan biologi

menguras hara serta mengeluarkan antibiotic ke dalam lingkungan fisik.

3. Inang memfasilitasi parasit sekunder dan populasi lingkungan biologi dan

sebaliknya lingkungan biologi dapat menjadi parasit sekunder serta

simbion.

4. Manusia mempengaruhi ketiga faktor yang lain baik secara langsung

maupun tidak langsung, misal agar suatu penyakit tidak menyerang, maka

manusia memilih tanaman yang resisten, manusia mampu memanipulasi

ketahanan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, mengusahakan

lingkungan pertanaman agar mengurangi serangan pathogen, melakukan

kegiatan dalam pengelolaan tanaman (pengaturan jarak tanam,

pencampuran jenis, penjarangan).

2.4 Konsep Timbulnya Penyakit Dari Penguraian Komponen Abiotik dan

Biotik
Beberapa komponen dalam segiempat penyakit dapat diuraikan kembali menjadi

beberapa faktor ini, hal ini menjadikan konsep timbulnya suatu penyakit merupakan

suata hal yang komplek bukan hanya pengaruh satu faktor saja.

- Komponen

Pada konsep ini komponen faktor lingkungan diuraikan menjadi faktor abiotik dan faktor

biotic. Dimana faktor lingkungan abiotik dapat mendukung atau tidak mendukung terhadap

pengaruh komponen yang lain, sedangkan faktor biotic dibedakan dengan pathogen

meskipun pathogen itu sendiri adalah faktor biotik. sehingga apabila pengaruh faktorfaktor

tersebut digambarkan dapat dilihat pada Gbr. 3

.
Manusia

Lingkungan
Patogen Abiotik

Inang Lingkungan
Biotik

Gambar 3. Konsep Timbulnya Penyakit

Konsep Timbulnya Penyakit Dari Penguraian Komponen Abiotik dan Biotik Faktor abiotik

penyusun lingkungan tempat tumbuh , terdiri atas cuaca (suhu, kelembaban dan angin), iklim

yang ditentukan oleh banyaknya curah hujan, tanah, air, cahaya dan hara.

Secara umum faktor ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor abiotik yang

mendukung terhadap kelangsungan hidup inang, pathogen dan faktor biotic serta
yang tidak mendukung komponen tersebut. Sedangkan komponen biotic itu sendiri

dapat berupa organism hidup selain yang bersifat pathogen.

- Interaksi antar komponen

Secara umum faktor abiotic menentukan apakah interaksi antara pathogen dan

inang dapat berkembang menjadi suatu penyakit, faktor abiotik juga dapat menjadi

penyebab langsung dari timbulnya suatu penyakit dan fakktor abiotic dapat menjadi

pendukung atau tidaknya pathogen dapat bertahan hidup dalam kondisi normal.

Faktor abiotik berperan sebagai penyebab langsung suatu penyakit apabila berada

dalam kondisi kekurangan atau kelebihan, dan hal ini terjadi umunya tidak

disebabkan oleh faktor tunggal yang terpisah dari faktor penyebab lain. Contoh

faktor abiotik yang dapat menyebabkan suatu penyakit misalnya terjadinya

perubahan persentase kelembaban, saat kelembaban nisbi tinggi, penguapan dari

tumbuhan menjadi rendah, sehingga dapat terjadi penghambatan penyerapan hara,

terutama kalsium, dari dalam tanah.

Kekurangan hara ini dapat berakibat gangguan formasi sel dan daun pada

tumbuhan, sebagai contoh kulit tanaman ceri yang belum dewasa dapat terbelah

selama periode musim basah. Interaksi faktor abiotik dan pathogen dapat menjadi

faktor pra-disposisi timbunya penyakit. Sebagai contoh, suhu rendah, kekahatan

hara dan polusi udara menyebabkan pra-disposisi tumbuhan terhadap infeksi

Alternaria dan fungi penyebab mati kulit, seperti Leucostoma dan Botryosphaeria.

Kerusakan tumbuhan karena kelebihan air seringkali diikuti oleh infeksi Phythium

yang merupakan fungi penyebab penyakit akar. Selain tersebut interaksi faktor

abiotik dan pathogen terjadi dalam penyebaran pathogen yang disebabkan oleh air
dan angin. Interaksi pathogen dan faktor biotic dapat berupa hubungan yang

sinergis,

Suatu pathogen dapat menyebabkan mikroorganisme lain yang semula non-

patogenik menjadi patogenik. Aspergillus spp., Penicillium spp. dan Trichoderma

spp. merupakan fungi yang umum ditemukan didalam tanah, yang pada kondisi

normal tidak bersifat patogenik terhadap tembakau dan tanaman lain, akan tetapi

bila akar tumbuhan tersebut terinfeksi nematode puru akar, jenis fungi ini akan

mampu menginvasi akar.

Interaksi pathogen dan faktor biotic juga dapat terjadi dalam penyebaran pathogen,

beberapa serangga membantu penyebaran pathogen atau juga dapat menjadi agen

atau vector timbullnya penyakit yang disebabkan oleh pathogen. Interaksi faktor

biotic dan pathogen serta inang dapat memberikan pengaruh antagonistic terhadap

inang, sehingga inang akan terangsang untuk melakukan reaksi biokimia sebagai

alat pelindung terhadap serangan pathogen berikutnya.

Misalnya inang mampu memproduksi bahan-bahan bersifat racun pada fungi

(fungitoksik) untuk menghambat perkembangan pathogen fungi. Faktor biologi

dapat menjadi organism antagonis, artinya adalah organism yang berlawanan.

Berlawanan disini berarti berlawanan dengan organism pathogen. Karena adanya

pengaruh antagonis ini maka organism ini dapat digunakan sebagai pengendali

penyakit secara biologi.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Konsep bagaimana tanaman menjadi sakit semakin berkembang seiring

bekembangnya pengetahuan sehingga semakin diketahuinya faktor-faktor yang

berpengaruh dan interaksi antar faktor tersebut terhadap timbulnya penyakit.

Penyakit tanaman kemudian dipandang tidak hanya sebagai penyakit biotis, tetapi

kemudian berkembang adanya penyakit abiotis dan kemudian berkembang

pandangan adanya penyakit majemuk yang lebih komplek penyebab dan

interaksinya.

DAFTAR PUSTAKA

Djafarudin. 2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Bumi Aksara.

Jakarta

Martoredjo, T. 1984. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan Bagian dari Perlindungan

Tanaman. Andi Offset. Yogyakarta


Supena, H. 1980. Pengaruh residu tanaman terhadap perkembangan penyakit

cendawan akar putih (Rigidiporus lignosus Klotzch) pada tanaman karet. Tesis.

Institut Pertanian Bogor.

Widyastuti, SM., Sumardi dan Harjono. 2005. Patologi Hutan. Gadjah Mada

University Press. Yogyakarta

Yudiarti, T. 2007. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Graha Ilmu. Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai