100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
85 tayangan6 halaman

Modul Kendaraan Listrik dan Komponennya

Modul ini membahas tentang kendaraan listrik dan komponen utamanya. Kendaraan listrik terdiri atas baterai sebagai sumber energi, controller untuk mengatur aliran energi, dan motor listrik sebagai penggerak. Modul ini menjelaskan cara memilih komponen-komponen tersebut seperti kapasitas baterai dan spesifikasi motor berdasarkan kebutuhan kendaraan.

Diunggah oleh

Warta Surabaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
85 tayangan6 halaman

Modul Kendaraan Listrik dan Komponennya

Modul ini membahas tentang kendaraan listrik dan komponen utamanya. Kendaraan listrik terdiri atas baterai sebagai sumber energi, controller untuk mengatur aliran energi, dan motor listrik sebagai penggerak. Modul ini menjelaskan cara memilih komponen-komponen tersebut seperti kapasitas baterai dan spesifikasi motor berdasarkan kebutuhan kendaraan.

Diunggah oleh

Warta Surabaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul Kendaraan Listrik

Pendahuluan
1. Mengenal kendaraan listrik: Merupakan kendaraan konvensional sama seperti pada umumnya,
yang menjadi pembeda adalah motor penggerak dan sumber energinya saja.
2. Menjelaskan pentingnya konversi energi fosil ke listrik: Kendaraan listrik digadang menjadi
kendaraan masa depan yang ramah lingkungan, karena tidak mengeluarkan gas emisi saat
proses pembakaran. Selain dari segi alam, Indoneisa juga harus perlahan-lahan melakukan
konversi energi dari kendaraan energi fosil menjadi energi baterai. Info terakhir yang didapat,
bahwa negara menanggung subsidi energi BBM hingga 500T tiap tahun.
3. Menyebutkan komponen penyusun kendaraan listrik: Secara umum, kendaraan listrik terdiri
dari 4 penyusun komponen penting, yaitu:
- baterai Digunakan sebagai sumber energi seperti BBM yang digunakan untuk
menggerakkan mesin bakar pada kendaraan.
- controller Berfungsi seperti otak pada tubuh manusia, dimana controller mengatur
energi yang keluar dari baterai, begitu juga untuk mengatur besaran
kapasitas arus motor listrik yang keluar.
- motor Motor yang digunakan pada kendaraan listrik terbagi menjadi dua, yaitu
motor induksi AC atau BLDC. Namun, pada umumnya kendaraan listrik
banyak menggunakan motor BLDC, fungsi dari motor ini tidak lain untuk
menggerakkan kendaraan listrik dan memberikan torsi pada kendaraan.
- throttle Berfungsi untuk mengatur besar kecil kecepatan pada kendaraan, berperan
seperti aktuator pada keran air. Jika bak mandi ingin cepat terisi, maka
keran air dibuka lebar full 100%, hal serupa seperti fungsi throttle sebagai
aktuator kendaraan listrik.
4. Memahami struktur kendaraan listrik: Struktur kendaraan listrik secara keseluruhan sama
seperti kendaraan konvensional, memiliki rangka baik turbular ataupun lainnya, konstruksi bisa
menggunakan casting, atau full CNC, dan berbagai teknik manufaktur lain. Hal yang menjadi
pembeda hanya dari suara kendaraan lebih redam, dan tidak memerlukan knalpot sebagai gas
buang hasil pembakaran.
5. Cara kerja kendaraan listrik: Secara umum, cara Kerja kendaraan listrik terbagi menjadi
beberapa unit, hampir sama seperti poin ke-3, antara lain.
- saat kondisi ON, dalam arti baterai telah terhubung Dengan controller. Maka,

controller udah berada pada posisi ready.


- lakukan setting controller jika menggunakan tipe programable, atau jika
menggunakan universal non-programable, controller akan langsung mengirimkan
sejumlah energi kepada motor listrik sesuai bukaan katup throttle.
- motor listrik yang diberikan energi langsung mengubah bentuk energi menjadi
energi mekanik berupa rotasi atau putaran.
- dari energi mekanik yang keluar dari motor, bisa langsung dihubungkan ke
transmisi, rantai, ataupun hal serupa untuk menggerakkan kendaraan listrik baik itu
maju atau mundur.
Tujuan:
1. Peserta workshop dapat memahami komponen kendaraan listrik dan penyusun kendaraan
listrik baik secara mekanikal maupun electrical.
2. Peserta mampu melakukan pemilihan komponen yang tepat sesuai Dengan kebutuhan
kendaraan listrik.
3. Peserta mampu melakukan desain konsep kendaraan listrik secara utuh.
4. Peserta mampu melakukan wiringn kendaraan listrik Dengan komponen yang telah disediakan.

Materi
1. Cara menentukan power train kendaraan listrik:

1.1 Motor BLDC:


Untuk membuat kendaraan listrik sendiri, kita perlu melakukan perencanaan terhadap power train
yang ingin kita gunakan pada Kendaraan listrik yang dirancang. Silakan tentukan mau memulai
dari pembuatan kendaraan motor roda dua atau mobil. Dalam study kasus, kita akan mengambil
jenis kendaraan motor roda dua.

1.1.1 Melakukan Spesifikasi Motor BLDC

Sebelum menentukan power train, kita sebagai engineer untuk merancang kendaraan tersebut
wajib meng-estimasi mau sejauh apa kendaraan tersebut dibawa dan Dengan speed berapa.
Untuk mengangkut 2 orang penumpang, dengan rincian 1 penumpang dan 1 pengemudi. Estimasi
bobot kedua orang tersebut adalah 70kg untuk penumpang dan 80kg untuk pengemudi. Total
bobot Sudah mencapai 150kg, sedangkan untuk kendaraan estimasi berat mencapai 50kg, Sudah
termasuk baterai, rangka, body, dan motor BLDC. Jadi total bobot yang harus diangkut kurang
lebih 200Kg.

Untuk menentukan daya kendaraan motor listrik yang diperlukan untuk mencapai top speed 100
km/h, kita perlu menghitung gaya dorong minimum yang dibutuhkan oleh kendaraan tersebut
untuk melawan hambatan udara dan gaya gesekan roda pada kecepatan tersebut. Gaya dorong
minimum ini disebut "gaya dorong minimum yang dibutuhkan" atau "minimum required driving
force".

Kita dapat menghitung gaya dorong minimum yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:

Fmin = Froll + Fair

Dimana:

Fmin adalah gaya dorong minimum yang dibutuhkan (dalam newton atau N)

Froll adalah gaya gesekan roda (dalam newton atau N)

Fair adalah hambatan udara (dalam newton atau N)

Untuk menghitung Froll, kita dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Froll = Crr x m x g

Dimana:

Crr adalah koefisien gesekan gulir (tanpa satuan)

m adalah massa kendaraan (dalam kilogram atau kg)

g adalah percepatan gravitasi (sekitar 9,81 m/s²)

Untuk kendaraan roda dua seperti motor, nilai Crr biasanya berkisar antara 0,01 hingga 0,03,
tergantung pada kondisi permukaan jalan dan jenis ban yang digunakan. Untuk perhitungan ini,
kita akan menggunakan nilai Crr sebesar 0,02.

Maka, Froll = 0,02 x 200 kg x 9,81 m/s² = 39,24 N

Untuk menghitung Fair, kita dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Fair = 0,5 x ρ x Cd x A x V²

Dimana:

ρ adalah densitas udara (sekitar 1,2 kg/m³)


Cd adalah koefisien drag (tanpa satuan)

A adalah luas penampang kendaraan (dalam meter persegi atau m²)

V adalah kecepatan kendaraan (dalam meter per detik atau m/s)

Untuk kendaraan roda dua seperti motor, nilai Cd biasanya berkisar antara 0,5 hingga 0,7,
tergantung pada bentuk bodi dan fairing yang digunakan. Untuk perhitungan ini, kita akan
menggunakan nilai Cd sebesar 0,6.

Untuk luas penampang kendaraan, kita akan menggunakan nilai A sebesar 0,5 m², yang
merupakan perkiraan luas penampang kendaraan roda dua yang umum.

Maka, Fair = 0,5 x 1,2 kg/m³ x 0,6 x 0,5 m² x (27,78 m/s)² = 304,82 N

Jadi, Fmin = 39,24 N + 304,82 N = 344,06 N

Sekarang kita dapat menghitung daya kendaraan motor listrik yang diperlukan untuk mencapai top
speed 100 km/h menggunakan rumus sebagai berikut:

P = Fmin x V

Dimana:

P adalah daya kendaraan motor listrik yang diperlukan (dalam watt atau W)

V adalah kecepatan kendaraan (dalam meter per detik atau m/s)

Jadi, daya motor yang diperlukan untuk mendapatkan speed 100 km/h bila total bobot kendaraan
dan pengemudi serta penumpang sebesar 200kg, adalah.

344,06 N x 27,7 m/s = 9.528 watt

1.2 Baterai
Untuk menentukan baterai sangat mudah dilakukan, setelah kita telah mengetahui spesifikasi
motor BLDC yang akan digunakan. Namun sebelumnya, dalam menentukan baterai tidak hanya
sekeda voltase dan amper hour saja, ada namanya cycle, discharge current, charge current, dan
lain sebagainya.

Poin penting yang menjadi rujukan untuk merancang kendaraan listrik terbagi menjadi 3, antara
lain sebagai berikut:
a. Life cycle: merupakan daya tahan atau battery health, biasanya untuk tiap jenis baterai
memiliki cycle yang berbeda. Seperti lithium Ion memiliki cycle 300-800, sedangkan lithium
feriphospate memiliki cycle 2000-4000. Semakin besar cycle, maka semakin awet juga
baterainya. Karena cycle akan menghilang saat kita melakukan kondisi charging.

Contoh: bila kita memiliki baterai lithium ion dan memiliki cycle 360, dalam 1 hari kita melakukan
charging baterai karena kebutuhan oprasional. Maka penurunan kualitas baterai akan terjadi
selama 1 tahun pemakaian, dan baterai akan drop performanya sebesar 20% (tergantung data
sheet baterai).

b. Discharge current: merupakan kondisi baterai bisa ditarik powernya hingga batas
maksimumnya. Semakin besar discharge current, maka energi yang dikeluarkan juga akan
semakin besar.
Contoh: jika kamu memiliki baterai pack 60v 20ah lithium ion, dengan dischage current rated 2C
dan peak mencapai 3C. 2C dan 3C merupakan besaran discharge current dari baterai tersebut.
Jika ditotal dengan rumus p = v x I, maka power dari baterai pack tersebut 1.2 kWh, dikalikan
dengan discharge current dari spesifikasi baterai tersebut, maka 1.2 kWh x 2C = 2.4 kWh rated,
dan 1.2 kWh x 3C = 3.6 kWh peak.
Note: Kondisi peak dari baterai biasanya hanya beberapa detik saja, tergantung dari spesifikasi
baterai.

c. Charge current: merupakan kebalikan dari discharge current, yaitu kemampuan baterai
menerima arus masuk atau posisi charging.

Dalam studi kasus lain, merujuk power motor yang mencapai hampir 10kW. Kita akan memisalkan
baterai yang dipakai sebesar 72V 40Ah, lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan agar baterai
penuh jika output charger 5A?

Dengan output charger 72V 5A dan kapasitas baterai 72V 40Ah, maka waktu pengisian dapat
dihitung dengan menggunakan rumus yang sama:

Waktu pengisian = (kapasitas baterai x persentase pengisian yang diperlukan) / output charger

Jika Anda ingin mengisi baterai dari 0% hingga 100%, maka persentase pengisian yang diperlukan
adalah 100%. Jadi, waktu pengisian dapat dihitung sebagai berikut:

Waktu pengisian = (72V x 40Ah x 100%) / (72V x 5A) = 9,6 jam

Jadi, waktu pengisian baterai sekitar 9,6 jam jika menggunakan charger dengan output 72V 5A
untuk mengisi baterai mobil listrik dengan kapasitas 72V 40Ah dari 0% hingga 100%. Namun,
perlu diingat bahwa waktu pengisian dapat bervariasi tergantung pada kondisi baterai dan suhu
lingkungan, serta kemampuan charger untuk menampung daya.

1.2.1 Jarak Tempuh Kendaraan


Sebagai contoh lagi untuk menghitung jarak tempuh kendaraan dengan permisalan data yang
telah diberikan sebelumnya, daya motor anggap saja 10kW dan baterai 72V 40Ah, wheel size ring
14 dan kecepatan konstan 50km/h, maka jarak yang dapat ditempuh oleh kendaraan listrik dengan
parameter yang diberikan, dapat menggunakan rumus berikut:

Jarak = (kapasitas baterai x efisiensi baterai x efisiensi motor x efisiensi transmisi) / (massa
kendaraan x percepatan gravitasi x hambatan udara + gaya gesek roda)

Namun, perlu dicatat bahwa untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, perlu diketahui data
tambahan seperti koefisien gesek roda, efisiensi transmisi, dan luas penampang kendaraan.

Untuk kasus ini, kita bisa menggunakan asumsi umum untuk beberapa parameter seperti:

• Efisiensi baterai = 80%


• Efisiensi motor = 90%
• Hambatan udara = 0.5 kg/m
• Koefisien gesek roda = 0.02
• Efisiensi transmisi = 95%
• Luas penampang kendaraan = 2 m2

Maka jarak yang dapat ditempuh oleh kendaraan listrik dengan kecepatan 50 km/h secara konstan
dapat dihitung sebagai berikut:

• Kecepatan dalam meter per detik = 50 km/h x 1000 m/km / 3600 detik/jam = 13.89 m/detik
Gaya gesek roda = koefisien gesek roda x massa kendaraan x percepatan gravitasi = 0.02
x 200 kg x 9.81 m/s^2 = 39.24 N
• Gaya hambatan udara = 0.5 x 1.225 kg/m^3 x 13.89 m/detik^2 x 2 m^2 x 0.5 = 22.59 N
Daya listrik yang dibutuhkan = gaya total x kecepatan = (39.24 N + 22.59 N) x 13.89
m/detik = 834 W
• Efektivitas daya listrik yang dikirimkan ke motor = efisiensi baterai x efisiensi motor x
efisiensi transmisi = 80% x 90% x 95% = 68.4%
• Daya listrik yang perlu dikeluarkan dari baterai = daya listrik yang dibutuhkan / efektivitas
daya listrik = 834 W / 68.4% = 1,219 W
• Waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak 1 km = 1000 m / 13.89 m/detik = 71.94 detik
• Kapasitas energi baterai = 72 V x 40 Ah = 2.88 kWh
• Jarak yang dapat ditempuh = (kapasitas energi baterai x efektivitas daya listrik x waktu) /
(massa kendaraan x percepatan gravitasi x hambatan udara + gaya gesek roda) = (2.88
kWh x 68.4% x 71.94 detik) / (200 kg x 9.81 m/s^2 x 22.59 N + 39.24 N) = 15.67 km

Karena perbandingan antara daya motor dan baterai terlampau jauh, maka akan kita permisalkan
pehitungan rumus di atas menggunakan baterai hampir setara dengan daya motor, yaitu 96V
110Ah, maka jarak yang ditempuh adalah sebagai berikut.

Kapasitas energi baterai = tegangan baterai x kapasitas baterai


= 96V x 110Ah
= 10,560 Wh

Dengan menggunakan angka tersebut dan asumsi efisiensi sistem penggerak sebesar 80%, maka
daya yang tersedia untuk digunakan adalah:

Daya yang tersedia = 10,560 Wh x 0.8


= 8,448 Wh

Dengan menggunakan rumus yang sama seperti sebelumnya, kita dapat menghitung jarak yang
dapat ditempuh oleh kendaraan listrik dengan baterai 96V 110Ah tersebut, yaitu:

Jarak = (8,448 Wh) / (10 kW x 3600 detik) x (50 km/jam x 1000 m/km)
= 186.67 km

Jadi, dengan baterai yang lebih besar yaitu 96V 110Ah, kendaraan listrik dapat menempuh jarak
sekitar 186.67 km pada kecepatan 50 km/jam. Namun, seperti sebelumnya, ini hanya merupakan
perkiraan kasar dan jarak yang sebenarnya dapat ditempuh tergantung pada berbagai faktor,
seperti kondisi jalan, gaya mengemudi, dan sebagainya.

1.3 Controller
Jika kamu telah menentukan kedua komponen di atas, mulai dari motor listrik dan baterainya. Hal
terakhir yang harus diperhatikan adalah pemilihan controller, usahakan spesifikasinya bisa
menampung tegangan dari baterai pack dan arus yang dapat ditampung dari controller bisa
menahan peak dari motor listriknya.

Merk controller programable yang biasa digunakan mulai dari Votol, Golde, hingga Nanjing.
Sedangkan untuk controller non-programable kamu bisa cek spesifikasinya bisa berapa kw. Tidak
ada perlakuan khusus untuk controller non-programable.

Khusus untuk controller programable, kamu bisa menggunakan HP atau laptop untuk setting
controllernya, tergantung kebutuhan masing-masing. Tutorial setting controller programable akan
dibahas pada praktik lapangan.
2. Jalur Kelistrikan Kendaraan Listrik
Kendaraan listrik seperti pada kendaraan umumnya juga memiliki standar jalur kelistrikannya.
Secara sederhana akan kami berikan ilustrasi pada gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1 Rangkaian Sederhana Kendaraan Listrik

Untuk selanjutnya dari serangkaian pembahasan teori, mulai dari pengenalan komponen kendaraan
listrik hingga melakukan pemilihan komponen dan spesifikasinya, akan lebih mudah diserap jika
pembahasan selanjutnya adalah terjun ke lapangan dengan melihat langsung rangkaian lengkap
kendaraan listrik.

Anda mungkin juga menyukai