0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan20 halaman

PLC dalam Sterilizer Pemurnian Susu

Bab ini membahas aplikasi PLC pada sterilisasi susu untuk mengontrol proses pemurnian secara otomatis. Sistem sterilisasi menggunakan sensor, aktuator, PLC dan I/O untuk mengaduk, memanaskan dan memindahkan susu secara terkontrol. PLC digunakan untuk mengontrol motor, pompa, pemanas dan katub selama proses sterilisasi susu.

Diunggah oleh

hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan20 halaman

PLC dalam Sterilizer Pemurnian Susu

Bab ini membahas aplikasi PLC pada sterilisasi susu untuk mengontrol proses pemurnian secara otomatis. Sistem sterilisasi menggunakan sensor, aktuator, PLC dan I/O untuk mengaduk, memanaskan dan memindahkan susu secara terkontrol. PLC digunakan untuk mengontrol motor, pompa, pemanas dan katub selama proses sterilisasi susu.

Diunggah oleh

hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

APLIKASI PLC PADA STERILIZER UNTUK

ALAT PEMURNIAN SUSU

4.1. Deskripsi Sistem


Sterilizer yang dimaksud disini adalah alat pemurnian pada proses

produksi susu murni. Awalnya, proses sterilisasi pada usaha susu murni

sepenuhnya menggunakan tenaga manusia untuk mengaduk susu, memanaskan

dan memindahkan. Tetapi hasil yang diharapkan tidak stabil tergantung kondisi

manusia tersebut.

Penerapan PLC pada proses sterilisasi, digunakan untuk mengontrol alat

penggerak motor mixer dan motor pompa, pemanas dan katub. Pada gambar 4.1

diperlihatkan model sistem sterilizer.

Gambar 4.1 Model sistem sterilizer


Dimana :
 Aktuator (A, B, C, D), menggunakan motor
 Sensor (A , A ), menggunakan inductive proximity switch
 Sensor (B ), menggunakan termostat
 1 : Tombol on/off, menggunakan push botton
 2 : Tombol start, menggunakan push botton
 3 : Tombol stop, menggunakan push botton
III-2

 4 : Tombol emergency, menggunakan push botton


 5 : Indikator start, menggunakan LED
 6 : Indikator stop, menggunakan LED
 7 : Indikator emergency, menggunakan LED
Perangkat yang digunakan pada sterilizer antara lain :
 Input : Push botton (4 buah), Inductive peroximity
switch (2 buah) dan Termostat (1 buah).
 Output : LED (3 buah), Motor (3 buah), Solenoid Valve
(3 buah) dan Heater (1 buah).
 Actuator : Motor dan Solenoid valve
Blok diagram pengontrolan sterilizer menggunakan PLC dapat dilihat
pada gambar 4.2.

Gambar 4.2 Blok diagram pengontrolan sterilizer menggunkan PLC.

4.2. Perangkat Keras Kendali Sterilizer

4.2.1. Push Botton (PB)


Push botton (tombol tekan) termasuk salah satu dari saklar yang
dioperasikan secara manual (dikontrol dengan tangan). Push botton terbagi atas
dua kondisi yaitu NO (normaly open) dan NC (normaly close). Pada sterilizer
push botton yang digunakan berupa kedua kondisi push botton diatas.
III-3

(a) (b)

Gambar 4.3 (a) Simbol PB kondisi NO


(b) Simbol PB kondisi NC
(c) Rangkaian Tombol Push Buttom

Push botton pada sterilizer digunakan untuk mengaktifkan dan


menghentikan mesin dalam keadaan stop (tombol on/off) menghentikan mesin
secara darurat (tombol emergency), menjalankan mesin (start), menghentikan
mesin (stop).

4.2.2. Inductive Proximity Switch


Inductive proximity switch adalah sensor kedekatan, dimana sensor
tersebut akan mendeteksi adanya objek (logam) tanpa harus menyentuh (kontak
fisik) dengan objek tersebut. Inductive proximity switch digunakan untuk
medeteksi objek yang terbuat dari logam atau sejenisnya. Dari jenisnya inductive
proximity switch terbagi dua yaitu jenis PNP (beban dihubungkan antara sensor
dan ground), jenis NPN (beban dihubungkan antara sensor dan positif suplay.
Dari kondisi inductive proximity switch juga terbagi dua yaitu NO (normaly open)
dan NC (normaly close). Pada prinsipnya inductive proximity switch terdiri dari
kumparan, osilator, detektor dan output.
III-4

(a) (b) (c)


Gambar 4.4 (a) Simbol inductive proximity switch
(b) Inductive proximity switch jenisPNP
(c) Inductive proximity switch jenis NPN

Inductive proximity switch pada sterilizer digunakan untuk mendeteksi


tinggi rendahnya level susu pada tangki.

4.2.3. Thermostat
Termostat adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi suhu. Dimana
termostat ini dirancang untuk beroperasi apabila batas yang sudah ditentukan
sebelumnya sudah tercapai.

Gambar 4.5 Simbol Termostat

Termostat pada sterilizer digunakan untuk mendeteksi suhu pada tangki


sterilizer.

4.2.4. LED (Light Emitting Diode)


LED adalah dioda yang dapat memancarkan cahaya. LED termasuk jenis
dioda khusus. LED pada sterilizer digunakan untuk indikator start, stop.
emergency.

(a)
III-5

(b)

Gambar 4.6. Pemasangan LED pada PLC

LED menyala pada indikator start menandakan sterilizer bekerja, LED


menyala pada indikator stop menandakan sterilizer dalam keadaan berhenti dan
LED menyala pada indikator emergency menandakan sterilizer dalam keadaan
darurat.

4.2.5. Motor
Motor adalah suatu peralatan listrik yang berfungsi untuk mengubah
energi listrik menjadi energi mekanis atau tenaga gerak, dimana tenaga gerak itu
berupa putaran dari pada rotor.

Gambar 4.7 Simbol motor

Motor pada sterilizer digunakan sebagai pompa penyaluran dan


pemindahan susu, dari awal proses sampai proses sterilisasi selesai dan motor juga
sebagai mixer pada sterilizer. Motor yang digunakan pada sterilizer yaitu motor
DC dan motor AC:

 Motor DC lilitan shunt.


Seperti halnya generator DC, berdasarkan penguat magnetnya motor DC
dapat dibedakan atas:
III-6

1. Motor DC penguat terpisah, bila arus penguat magnetnya diperoleh


dari sumber DC diluar motor.
2. Motor DC penguat sendiri, bila arus penguat magnetnya berasal dari
motor itu sendiri.
Prinsip dasar dari motor arus searah adalah:
Apabila suatu konduktor yang dialiri arus listrik diletakkan di dalam medan
magnet, maka pada konduktor tersebut akan muncul gaya.

Gambar 4.8 Motor dc lilitan shunt

Karakteristik :
Angker dan medan dililit paralel, memberikan momen start yang rendah
tetapi kecepatannya konstan pada beban yang berubah.

 Motor AC serempak satu phasa


Motor AC yang digunakan pada sterilizer yaitu motor AC satu Phasa. Pada
motor tersebut dimasukan tegangan satu phasa. Motor satu phasa lilitan stator-nya
terdiri dari dua jenis lilitan, yaitu lilitan pokok dan lilitan bantu. Kedua jenis
lilitan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga walaupun arus yang mengalir
pada motor adalah arus / tegangan satu phasa tetapi akan mengakibatkan arus
yang mengalir pada masing-masing lilitan mempunyai perbedaan phasa.

Gambar 4.9 Motor serempak, histerisis, satu phasa

Karakteristik :
III-7

Jika kutub diskrit suatu motor relaktansi dihilangkan, rotor masih bersifat
magnit, tetapi fluks-nya tidak lagi diteruskan seperti pada motor reluktansi, jadi
tidak efisien lagi. Kecenderungan rotor untuk menjaga kondisi magnitnya dalam
satu posisi disebut histerisis. Rotor histerisis menggunakan prinsip ini untuk
berputar seperti kutub rotor induksi ditarik oleh medan bolak-balik sehingga
berputar. Tetapi karena kutub dapat berputar terhadap permukaan rotor dengan
lambat, rotor dapat slip ketika masih memberikan momen puntir.

4.2.6. Solenoid Valve


Solenoid valve adalah aktuator yang memanfaatkan sinyal listrik atau arus
listrik menjadi gerak mekanis linier, sehingga menimbulkan gaya megnet untuk
melakukan pekerjaan mekanis yaitu membuka katup.

Gambar 3.10 Simbol solenoid valve

Solenoid valve pada sterilizer digunakan untuk mebuka katup pada pipa
susu.

4.2.7. Heater
Heater atau pemanas merupakan lilitan yang dapat merubah energi listrik
menjadi energi panas.

Gambar 4.11 Simbol Heater

Jika sepotong kawat tahanan teredam dalam zat-cair, dan dimasukkan


sebagai bagian sistem, timbulnya beda potensial konstan V dan arus konstan I
dalam kawat tahanan itu membangkitkan suatu aliran energi, yang disebut
pengerjaan usaha. Jika usaha ini berlangsung terus selama waktu t (t ialah
lambang untuk waktu), jumlah usaha yang dilakukan,W, ialah:
III-8

Untuk pengukuran panas beda suhu yang diperlukan untuk pengaliran


panas diberikan oleh arus listrik I yang mengalir dalam suatu kumparan kawat
tahanan (pemanas) yang biasanya dililitkan pada bahan yang hendak diteliti.
Tahanan listrik memainkan peranan yang sama seperti peranan gesekan dalam
mekanika. Sebelum sakelar pada rangkaian pemanas disambungkan, suhu yang
terbaca harus dicatat dulu. Hasil pembacaan ini dilukiskan pada sebelah kiri
gambar 4.12. Kalau suhu naik sebelum energi diberikan kepada pemanas, ini
menandakan bahwa suhu sekelilingnya lebih tinggi dari suhu contoh bahan. Arus
listrik harus selalu ada dalam pemanas selama selang waktu Δt dalam waktu mana
kita tidak mengukur suhu. Setelah sakelar dalam rangkaian pemanas diputuskan,
pengukuran suhu dilakukan kembali, hasilnya diperlihatkan dibagian kanan
gambar 4.12, dimana kemiringan positif menunjukkan bahwa suhu daerah
sekeliling masih tinggi daripada suhu contoh bahan.

Gambar4.12 Grafik suhu – waktu tentang data yang diambil selama pengukuran kapasitas
panas.

Jika beda potensial antara ujung-ujung pemanas itu V dan arus listrik I
tetap mengalir selama waktu Δt, panas yang pindah ke contoh bahan ialah VI Δt.
Oleh karena itu kapasitas panas molar ialah:
III-9

Di sini C harus dinyatakan dalam joule per mol derajat apabila I dinyatakan dalam
ampere, V dalam volt. t dalam sekon, dan ΔT berdasarkan suatu grafik seperti
dalam gambar 4.12 . Harga kapasitas panas molar C yang diperoleh ialah
harganya pada suhu T yang terletak ditengah daerah pengukuran ΔT. Pada
percobaan-percobaan yang cermat, ΔT mungkin dapat sekecil 0,01 °K.
Heater pada sterilizer digunakan untuk mamanaskan susu sampai susu
dalam keadaan steril.

4.2.8. Relay
Relay adalah sebuah alat elektromagnetik yang dapat mengubah kontak-
kontak saklar sewaktu alat ini menerima sinyal listrik. Relay tersusun atas sebuah
kumparan kawat beserta sebuah inti besi lunak, seperti terlihat dalam gambar
4.13.

Gambar 4.13 Relay

Sewaktu arus kontrol kecil melewati kumparan, inti besi lunak akan
dimagnetisasi. Armatur ditarik oleh inti yang dimagnetisasi. Gerakan armatur ini
akan menutup kontak 1 dan 2 (gambar 4.13) dan akan membuka kontak 2 dan 3.
Dengan kata lain gerakan armatur tadi telah mengubah kontak 1 dan 3. Kontak-
kontak ini dapat dipakai untu mengontrol arus yang lebih besar dalam rangkaian
sekunder. Relay adalah saklar yang sesungguhnya. Fungsi utamanya untuk
mengontrol arus yang lebih besar dalam rangkaian dengan arus kecil yang lewat
III-10

kumparan. Pada pembuatan prototype sterilizer relay yang digunakan terdiri dari
relai 24 volt.

4.3. Formulasi Kerja Sterilizer


Pengontrolan sterilizer diharapkan akan mengontrol proses sterilisasi
dengan asumsi bahwa proses sterilisasi telah dilakukan. Sterilizer menggunakan 3
buah solenoid valve, 4 buah motor, 3 buah sensor dan 4 buah tombol push button.
Prinsip kerja sterilizer ada 3 tahap untuk mencapai proses sterilisasi susu
yaitu:
1. Pengisian tangki
Jika tombol start ditekan sensor dalam keadaan low level maka pompa 1
akan hidup dan valve 1 membuka sehingga susu mengalir ke tangki. Susu
akan memenuhi tangki atau tangki dalam keadaan high level pompa 1
berhenti dan valve 1 menutup.
2. Pengadukan dan pemanasan susu
Setelah pengisian tangki selesai motor mixer akan bekerja mengaduk susu
dan heater memanaskan susu dengan suhu 120ºC selama 10 menit.
3. Pengosongan tangki
Bila panas susu telah mencapai suhu 120ºC selama 10 menit timer akan
membuka valve 2 dan menghidupkan pompa 2, sampai tangki dalam
keadaan low level maka akan berlanjut ketahap pengisian susu.

Tahap - tahap proses sterilisasi susu diatas bekerja secara berulang. Jika
ada kondisi darurat (tombol emergency ditekan) maka sterilizer kembali ketahap
pengisian susu dalam keadaan off tanpa menyelesaikan proses, sehingga valve 3
akan membuka dan pompa 3 hidup mengisi emergency tank. Jika tombol stop
ditekan sterilizer akan berhenti setelah 3 tahap sterilizer selesai.
Formulasi kerja sterilizer juga dapat dibaca pada flowchart (Gambar 4.14)
III-11

Gambar 4.14 Flowchart kerja sterilizer


III-12

Urutan kerja sterilizer juga dapat dituliskan dalam tabel kebenaran (tabel
4.1)
Tabel 4.1. Tabel kebenaran dari sistem sterilisasi susu.

Input Output
Sensor Sensor Sensor
A2 A1 B1 Aktuator A Aktuator B V1 V2 Aktuator D Heater

1 0 0 1 0 1 0 0 0

0 1 0 0 0 0 0 1 1

0 1 1 0 1 0 1 0 0

4.4. Perancangan Sistem Pengawatan


Sistem pengawatan diperlukan untuk menghubungkan input dan output
dengan PLC. Modul I/O pada PLC jumlahnya tergantung pada merek dan tipe
PLC yang digunakan. Pemasangan input pada modul input PLC harus
memperhatikan tipe sensor yang kita gunakan. Pemasangan output pada modul
output PLC tergantung kepada modul output itu sendiri.
Pengawatan pada modul I/O PLC hendaknya berurutan sehingga akan
memudahkan pada saat identifikasi alamat input dan output pada PLC.

4.4.1. Pemasangan I/O Pada PLC


Sebelum memasang input ke modul PLC sebaiknya kita mengetahui tipe
sensor yang digunakan jika tipe PNP maka common yang digunakan pada modul
input PLC adalah common negatif dan jika tipe sensor yang digunakan tipe NPN
maka common yang digunakan pada modul input PLC adalah common positif.
Pada sterilizer sensor yang digunakan adalah tipe NPN maka common yang
dipasang adalah common positif. Pemasangan input sterilizer pada PLC dapat
dilihat pada gambar 4.15.
III-13

Gambar 4.15 Pemasangan input sterilizer pada PLC


Input
Dimana :
o Tombol on/off : PB1
o Tombol emergency : PB2
o Tombol start : PB3
o Tombol stop : PB4
o Sensor A : Sn1
o Sensor A : Sn2
o Sensor B : Sn3
Dari gambar 4.15 dapat dilihat bahwa input yang digunakan 7 input.
Masing-masing input dihubungkan pada modul input yang dipasang berurutan
dari modul input 0 – modul input 6.
Sebelum pemasangan output pada modul output PLC perlu kita perhatikan
common apa yang digunakan pada modul output PLC yang akan digunakan. PLC
yang digunakan pada pengontrolan sterilizer modul output-nya ber-common
negatif, modul output yang digunakan juga memerlukan sumber tegangan sendiri.
Pemasangan output pada PLC dapat dilihat pada gambar 4.16.
III-14

Dari gambar 3.16 dapat dilihat bahwa jumlah output yang digunakan 11
output. Tetapi pada saat pemasangan output ke modul output PLC menjadi 8
output karena motor dan solenoid valve dipasang paralel dengan motor. Sama
seperti input pemasangan pada modul output juga berurutan dari modul output 0 –
modul output 7.

Gambar 416 Pemasangan output sterilizer pada PLC


Output
Dimana :
o Indikator start : L1
o Indikator stop : L2
o Indikator emergency : L3
o Aktuator A & V1 : R1
o Aktuator B & V2 : R2
o Aktuator C & V3 : R3
o Aktuator D : R4
o Heater : R5

4.4.2. Alamat I/O Pada PLC


III-15

Setelah dilakukan pemasangan I/O pada PLC maka kita dapat


mengidentifikasi alamat input dan output pada PLC. Jumlah input yang digunakan
pada sterilizer adalah 7 input dan jumlah output yang digunakan 8 output.
Alamat input pada PLC :
o Tombol on/off : I0.00
o Tombol emergency : I0.01
o Tombol start : I0.02
o Tombol stop : I0.03
o Sensor A : I0.04
o Sensor A : I0.05
o Sensor B : I0.06

Alamat output pada PLC :


o Indikator emergency : O0.00
o Indikator start : O0.01
o Indikator stop : O0.02
o Relay 1 : O0.03
o Relay 2 : O0.04
o Relay 3 : O0.05
o Relay 4 : O0.06
o Relay 5 : O0.07

4.5. Perancangan Ladder Diagram


Agar sterilizer bekerja sesuai yang diharapkan, maka dibuat program
berdasarkan flowchart seperti gambar 4.14, kemudian ditulis menggunakan ladder
diagram, seperti langkah-langkah berikut :

1. Program untuk mengaktifkan dan mematikan sterilizer.


III-16

Gambar 4.18 Ladder diagram untuk mengaktifkan dan mematikan sterilizer.

Jika tombol on/off (I0.0) aktif maka akan mengaktifkan on (F0.1). Jika
tombol on/of tidak aktif maka akan mematikan on (F0.1). Dimana on (F0.1) akan
mengaktifkan sistem.

 Penulisan ladder diagram untuk menjalankan sterilizer.

Gambar 4.19 Ladder diagram untuk menjalankan sterilizer.

Jika tombol start (I0.2) ditekan maka akan mengaktifkan indikator run
(O0.1). Jika tombol stop (I0.3), emergency (I0.1) ditekan dan on (F0.1) tidak aktif
maka akan mematikan idukator run (O0.1).

 Penulisan ladder diagram untuk pengisian tangki sterilizer.


III-17

Gambar 4.20 Ladder diagram untuk pengisian tangki sterilizer.

Indikator run (O0.1) aktif dan sensor A (I0.5) aktif sehingga akan
mengaktifkan aktuator A (O0.3). Jika aktuator D (O0.6), aktuator B (O0.4), TON3
aktif dan emergency (I0.1) ditekan maka akan mematikan aktuator A (O0.3).

 Penulisan ladder diagram untuk pengadukan dan pemanasan susu


pada sterilizer.

Gambar 4.21 Ladder diagram untuk pengadukan dan pemanasan susu pada sterilizer.

Sensor A (I0.4) aktif maka akan mengaktifkan aktuator D (O0.6). Jika


aktuator B (O0.4) aktif dan emergency (I0.1) ditekan maka akan mematikan
aktuator D (O0.6).
III-18

Aktuator D (O0.6) aktif maka akan mengaktifkan heater (O0.7). Jika


emergency (I0.1) ditekan maka akan mematikan mixer (O0.7).
Sensor B (I0.6) dan aktuator D (O0.6) aktif maka akan mengaktifkan
TON1

 Penulisan ladder diagram untuk pengosongan tangki sterilizer.

Gambar 4.22 Ladder diagram untuk pengosongan tangki sterilizer.

TON1 aktif maka akan mengaktifkan aktuator B (O0.4). Jika sensor A


(I0.4) aktif dan emergency (I0.1) ditekan maka akan mematikan aktuator B
(O0.4).
Aktuator B (O0.4) dan emergency (I0.1) ditekan maka akan mereset
TON1.
III-19

 Penulisan ladder diagram untuk menghentikan sterilizer.

Gambar 4.23 Ladder diagram untuk menghentikan sterilizer.

Jika tombol stop (I0.3) ditekan maka akan mengaktifkan indikator stop
(O0.2). Jika on (O0.8) tidak aktif dan tombol start (I0.2) ditekan maka akan
mematikan indikator stop (O0.3).

 Penulisan ladder diagram untudk kondisi darurat sterilizer.

Gambar 4.24 Ladder diagram untuk kondisi darurat sterilizer.


III-20

Jika tombol emergency (I0.1) ditekan dan emergency auto (F0.0) aktif
maka akan mengaktifkan indikator emergency (O0.0).
Indikator emergency (O0.0) akan mengaktifkan aktuator C (O0.5). Jika
sensor A (I0.5) aktif maka akan mematikan aktuator C (O0.5).
Jika aktuator D (O0.6) aktif dan sensor A (I0.4) tidak aktif maka akan
mengaktifkan emergency auto (F0.0). Jika timbol stop (I0.3) ditekan maka akan
mematikan emergency auto (F0.0).

Gambar 4.17 Tampilan ladder diagram pada sofware FST IPC 3.21.

Anda mungkin juga menyukai