0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan29 halaman

Fungsi Khusus PLC: Timer dan Counter

Bab 4 membahas fungsi-fungsi khusus pada PLC seperti latch, timer, dan counter. Latch berfungsi menahan keluaran untuk masukan sesaat menggunakan fungsi SET dan RST. Timer memiliki fungsi TON, TOFF, dan TMR untuk menunda waktu hidup dan mati. Counter memiliki fungsi CTU dan CTD untuk menghitung naik dan turun.

Diunggah oleh

hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan29 halaman

Fungsi Khusus PLC: Timer dan Counter

Bab 4 membahas fungsi-fungsi khusus pada PLC seperti latch, timer, dan counter. Latch berfungsi menahan keluaran untuk masukan sesaat menggunakan fungsi SET dan RST. Timer memiliki fungsi TON, TOFF, dan TMR untuk menunda waktu hidup dan mati. Counter memiliki fungsi CTU dan CTD untuk menghitung naik dan turun.

Diunggah oleh

hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 4

FUNGSI-FUNGSI KHUSUS PADA PLC

Seiring pertambahan kompleksitas proses yang akan dikontrol maka kebutuhan


akan program yang sifatnya canggih tentunya juga semakin meningkat. Dewasa ini,
banyak proses di industri yang secara praktis membutuhkan program yang mamapu
mendukung fungsi-fungsi tambahan di Luar fungsi relay sebagai komponen standar
sebuah diagram ladder.
Dengan perkembangan perangkat keras dan perangkat lunak PLC yang begitu
luar biasa, hampir semua PLC yang beredar di pasaran telah dilengkapi dengan berbagai
instruksi yang beragam. Jenis induksi pada PLC ini dapat dikategorikan ke dalam
beberapa kelompok berikut ini :
 Kelompok induksi dasar : instruksi-instruksi yang termasuk kategori ini
merupakan instruski dasar logika, seperti NOT, AND dan lain-lain.
 Kelompok instruksi perbandingan (comparison) : instruksi-instruksi yang
termasuk kategori ini berkaitan dengan operasi-operasi perbandingan
 Kelompok instruksi timer/counter : instruksi-instruksi yang berkaitan dengan
operasi timer dan counter.
 Kelompok instruksi aritmatik : intrusksi-instruksi uuntuk mengeksekusi operasi-
operasi logika
 Kelompok instruksi rotasi/ geser : instruksi-instruksi yang berkaitan dengan
operasi penggeseran dan rotasi data
 Kelompok instruksiu konversi : intruksi-instruksi yang berkaitan dengan
pengubahan tipe data.
 Kelompok instruksi manipaulasi data : instruksi-instruksi yang berkaitan dengan
manipulasi data
 Kelompok instruksi transfer data : instruksi-instruksi yang berkaitan dengan
transfer, penyalinan, dan pertukaran data
 Kelompok instruksi lompat/interupsi : instruksi-instruksi yang berkaitan dengan
deteksi kesalahan
 Kelompok instruksi komunikasi : instruksi-instruksi yang berkaitan dengan
pertukaran data dengan perangkat luar lewat komunikasi serial.

Secara khusus pada bab ini akan dibahas komponen-komponen soft PLC (Seperti
timer, conter internal, serta fungsi penting lain yang banyak digunakan dalam aplikasi
sistem kontrol sekuensial di industri.
Oleh karena nama-nama fungsi yang berkaitan dengan komponen-komponen
tersebut sangat spesifik untuk setiap vendor PLC, dalam bab ini penjelasannya akan
mengacu pada salah satu merek PLC saja, yaitu PLC produk dari LG. Sebagai bahan
perbandingan, akan diberikan juga instruksi padanannya dalam format PLC OMRON
dalam kotak catatan (jika memang ada). Untuk mempercepat pemahaman tentang materi
ini, sebaiknya dicoba untuk memprogramnya secara langsung dalam perangkat lunak
pemprograan PLC merek LG yaitu KGL (dapat di-dowload pada alamat situs
[Link] atau menghubungi penulis lewat e-mail dengan alamat
iwan@[Link]).

4.1 Latch (Pengunci)


Seperti pada hardwired-Nya, komponen ini berfungsi menahan keluaran untuk
masukan sesaat. Ada dua ungsi yang berkaitan dengan komponen ini :
1. SET : Menahan keluaran untuk status ON (Latch)
Bentuk umumnya : SET address
Keterangan : Addess adalah alamat bit (relay) internal atau output yang akan ditahan
statusnya.
2. RST : Menahan keluaran untuk status OFF (unlatch)
Bentuk umumnya : RST address
Keterangan : Addres adalah alamat bit (relay) internal atau output yang akan di reset
statusnya.

Pada umumnya, penggunaan fungsi di atas selalu berpasangan. Cara kerjanya


dapat dilihat dari diagram ladder PLC beserta pewaktuannya di bawah ini :

SET P0010
P0000
0000
RST P0010

Gambar 4.1 Contoh Aplikasi fungsi SET-RST

P0000

P0001

P0010

Gambar 4.2 Diagram perwaktuan untuk Gambar 4.1


Catatan : Dalam PLC OMRON, nama instruksi untuk fungsi yang sama
seperti di atas berturut-turut adalah SET dan RSET

Secara fungsional, sebenarnya fungsi lacth (unlacth) ini dapat saja


diimplementasikan dengan menggunakan susunan ladder seperti terlihat pada Gambar
4.3 berikut :
P0000 P0001 P0010

P0010

Gambar 4.3 Susunan diagram ladder yang ekivalen dengan Gambar 4.1
Susunan instruksi (diagram ladder) nama yang lebih baik digunakan untuk
tujuan-tujuan penguncian, tentunya sangat tergantung pada kebiasaan programer
(subjektif) Namun sebagai informasi, para programer yang sangat terlatih cendrung
menggunakan susunan diagram ladder seperti pada Gambar 4.3 dibandingkan instruksi
SET (RST) untuk menginplementasikan fungsi-fungsi latching ini.

4.2 Timer
Fungsi yang berkaitan dengan komponen ini pada setiap PLC bisa sangat
beragam, tetapi secara umum ada tiga fungsi yang relatif banyak digunakan
1. TON : ON delay timer , yaitu menunda waktu hidup selama selang waktu
tertentu.
Bentuk umunya : TON No. Timer Time
Keterangan : No. Timer adalah nomor timer yang akan digunakan sedangkan
Time adalah selang waktu tunda dalam satuan 100 ms atau 10 ms, tergantung
No. Timer dan tipe (seri) PLC-nya. Sebagai contoh, PLC seri K30S memiliki 128
timer, dimana No. Timer antara T000-T095 memiliki tundaan 100 ms, sedangkan
No. Timer antara T096 –T127 memiliki tundaan 10 ms untuk setiap satu nilai
Time
Gambar kerjanya dapat dilihalihat dari diagram ladder PLC beserta
perwaktuannya di bawah ini :
P0000
TON T096 500

T096 P0010

Gambar 4.4 Contoh aplikasi fungsi TON

P0000

T096

P0010

5S

Gambar 4.5 Diagram Perwaktuan untuk Gambar 4.4


Seperti komponen hardwired-nya, jika selang waktu setting belum capai dan
input timer tersebut dihilangkan maka nilai setting timernya akan kembali pada
nilai awal (tidak berkurang).
Sebagai informasi, dalam banyak aplikasi, intruksi TON ini lebih intensif
digunakan dibandingkan jenis-jenis instruksi timer lainnya
Catatan : Dalam PLC OMRON, nama instruksi untuk fungsi yang sama seperti di
atas adalah TIM.

2. Toff : OFF delay timer, yaitu menunda waktu mati selama selang waktu tertentu.
Bentuk umum : TOFF No. Timer Time
Keterangan : No. Timer dan Time penjelasaanya sama dengan TON.
Cara kerjanya dapat dilihat dari diagram ladder PLC beserta perwaktuannya
berikut ini :
P0000
TOFF T127 500

T127 P0010

Gambar 4.6 Contoh aplikasi fungsi TOFF

P0000

T127

P0010

5S

Gambar 4.7 Diagram perwaktuan untuk Gambar 4.6


3. TMR : Integrating timer, yaitu menunda waktu hidup selama selang integral
waktu tertentu
Bentuk umum : TMR No. Timer Time
Keterangan : Penjelasan untuk No. Timer dan Time sama dengan TON
Cara kerjanya dapat dilihat dari digram ladder PLC beserta perwaktuannya
berikut ini :
P0000
TMR T001 500

T001 P0010
C

P0001
RST T001

Gambar 4.8 Contoh aplikasi fungsi TMR


P0000
C
T0001

P0010
C
P0001

2S 3S

Gambar 4.9 Diagram perwaktuan untuk Gambar 4.8

4.3 Counter
Berapa fungsi yang berkaitan dengan komponen counter di antaranya adalah :
1. CTU : Up counter (Counter pencacah naik)
Bentuk umum : CTU No. Counter Constanta
Keterangan : No. Counter adalah nomor counter yang akan digunakan sedangkan
Contanta adalah nilai cacah dalam counter yang akan dicacah naik.
Cara kerjanya dapat dilihat dari diagram ladder PLC beserta perwaktuannya
berikut ini :
P0000

P0001 U CTU 001


R <S> 00005

T0001
C001 P0010

Gambar 4.10 Contoh aplikasi fungsi CTU


P0001

P0000

T0001

P0010
Gambar 4.11 Diagram perwaktuan untuk Gambar 4.10

Dalam hal ini, U adalah masukan counter, R adalah reset counter tersebut,
sedangkan nomor counter-nya adalah 001 dengan nilai cacah sebesar 5 (00005).
Cara kerja fungsi ini relatif sederhana. Nilai counter akan dinaikkan untuk setiap
pulsa yang masuk pada kaki U dalam blok counter di atas. Kontraktor yang dimiliki
counter akan berubah kondisinya jika pulsa yang masuk telah sama dengan nilai setting
pada counter tersebut.
Catatan : Dalam PLC OMRON, nama instruksi untuk fungsi yang sama seperti
di atas adalah CNT.

2. CTD : Down Conter (Counter pencacah turun)


Bentuk umum : CTD No. Conter Constant
Keterangan : No. Conter adalah nomor conter yang akan digunakan sedangkan
Constanta adalah nilai cacah dalam conter yang akan dicacah menurun.
Cara kerjanya dapat dilihat dari diagram ladder PLC beserta perwaktuannya
berikut ini :
P0000

P0001 D CTD 000


R <S> 00005

T0001
C000 P0010

Gambar 4.12 Contoh aplikasi fungsi CTD


P0001

P0000

T0001

P0010

Gambar 4.13 Diagram perwakilan untuk Gambar 4.12

Dalam hal ini. D adalah masukan conter, R adalah masukan resert counter tersebut,
sedangkan nomor conter adalah 000 dengan nilai cacah sebesar 5 (00005).

Cara kerjanya pada dasarnya merupakan kebalikan fungsi CTU. Dalam fungsi CTD ini,
nilai awal setting counter akan diturunkan (decrement) untuk setiap cacah yang masuk
pada conter tersebut. Jika nilai pada counter tersebut telah mencapainol maka
kontraktor-kontraktor conter tersebut akan berubah kondisinya.

3. CTUD : Up/Down Counter


Bentuk Umum : CTUD No. Counter Constant
Keterangan : No. Counter adalah nomor counter yang akan digunakan sedangkan
Constant adalah nilai cacah dalam counter yang akan dicacah menaik/menurun.
Cara kerjanya dapat dilihat dari diagram ladder PLC beserta perwaktuan berikut ini :
P0000
U CTUD 002
P0001
D
P0002
R <S> 00006

T0001
C002 P0010

Gambar 4.14 Contoh aplikasi fungsi CTUD


P0002

P0000

P0001

C002

P0010

Gambar 4.15 Diagram perwaktuan untuk Gambar 4.14

Seperti terlihat pada Gambar 4.14 ada tiga buah input pada blok fungsi ini :
U adalah masukan yang berguna untuk menaikkan nilai cacah pada counter (Up
Counter). D adalah masukan yang berfungsi menurunkan nilai cacah pada counter
(Down counter), sedangkan R adalah masukan reset counter tersebut. Dalam hal ini,
nomor counter yang digunakan adalah 002 dengan nilai cacah 6 (00006).

4.4 MCR (Master Control Relay)


Dalam program PLC, penggunaan instruksi MCR ini biasanya selalu
berpasangan. Jika MCR pertama On maka baris-baris ladder dibawahnya akan
dieksekusikan secara normal sampai MCR kedua. Jika MCR pertama Off maka relay
internal atau output pada blok tersebut juga akan Off, kecuali jika digunakan fungsi lacth
untuk relay tersebut. Hal ini seperti dilustrasikan oleh Gambar 4.16
A
MCR

Jika A On maka ladder dalam blok ini akan


dieksekusi, kika A Off maka keluaran pada
blok ini akan Off kecuali keluaran relay lacth

MCR

Gambar 4.16 Ilustrasi blok dengan MCR


Secara teknis, fungsi MCR ini dalam PLC LG diimplementasikan dalam dua fungsi
berikut :
1. MCS (awal blok)
2. MCSCLR (akhir blok)

Bentuk umumnya adalah sebagai berikut : MSC (MCSCLR) No. Blok


Keterangan : No. Blok merupakan bilangan integer antara 0 sampai 8
Cara kerjanya dapat dilihatpada diagram ladder PLC beserta perwaktuannya berikut ini :
M000C
MCS C

P0000 P0010

MCSCLR C

Gambar 4.17 Contoh aplikasi fungsi MCS (MCSCLR)


M0000

P000C

P001C

Gambar 4.18 Diagram perwaktuan untuk Gambar 4.17

Dari digram perwaktuan pada Gambar 4.18 di atas, terlihat bahwa anak tangga
kedua (di dalam blok MCR) hanya akan dieksekusikan jika dan hanya jika blok tersebut
aktif (M0000 On). Jika blok tersebut Off maka relay output P0010 juga akan off, tidak
tergantung pada masukan P0000.
Untuk mempertahankan status relay atau keluaran pada sebuah blok MCR, dapat
digunakan fungsi lacth seperti terlihat pada Gambar 4.19 DAN Gambar 4.20 berikut ini :
M0000
MCS 0
P0000
SET P0010

MCSCLR C
M0001
RST P0010

Gambar 4.19 Contoh aplikasi fungsi lacth pada blok MCS (MCSCLR)

M0000

P0000

P0010

M0001

Gambar 4.20 Diagram perwaktuan untuk Gambar 4.19


Catatan : Dalam PLC OMRON, nama instruksi untuk fungsi tersebut berturut-
turut adalah :
IL : Interlock
ILC : Interlock Clear

Sebagai informasi, fungsi MCR ini pada dasarnya mengacu pada susunan digram
ladder elektromekanik yang mengandung relay utama untuk dapat mengaktifkan atau
menonaktifkan anak-anak tangga di bawahnya. Hal ini dapat diilustrasikan oleh Gambar
4.21 berikut :
PB Master Start
L2
L1 PB Master Stop MCR
(1)
P0010

MCR

PB Start
PB Stop
CR
(2)
CR

CR Input A CNT’
100 (3)
CR

CNT’

CNT’ CNT2
500 (4)
CR

CNT2 PL
(5)

Gambar 4.21 Diagram ladder elektromekanis yang mengandung MCR

Seperti terlihat pada Gambar 4.21 anak tangga 2,3 dan seterusnya hanya akan dievaluasi
jika dan hanya jika kontraktor MCR dalam keadaan On. Jika koil MCR dalam keadaan
Off maka semua output pada anak tangga selanjutnya akan Off juga, tida tergantung
pada kondisi input-nya.

4.5 Fungsi-fungsi Penting lainnya


Berikut ini akan dijelaskan beberapa fungsi penting lainnya yang penting .
Fungsi-fungsi tersebut adalah berikut.
4.5.1 Differensial Up (D) dan Differensial Down (D NOT)
Keluaran fungsi D ini akan menjadi On selama satu siklus waktu (scanning) saat
sinyalnya input menjadi On (saat transisi naik dari sinyal input-nya), sedangkan keluaran
fungsi D NOT akan menjadi On selama satu siklus waktu saat input menjadi Off (saat
transisi turun dari sinyal output-nya).

Bentuk Umum : D (NOT D) Address


Keterangan : Address adalah alamat bit (relay) internal atau output PLC.
Cara kerja selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.22 dan 4.23 berikut ini :
M1000

D M0001

D NOT M0002

M0001 P0012

P0012

M0002 P0013

P0013

Gambar 4.22 Contoh aplikasi fungsi D dan NOT D


M1000
0C
M0001

M0002

P0012

P0013

Gambar 4.23 Diagram perwaktuan untuk Gambar 4.22


Secara praktis, instruksi Differensial Up dan Differensial Down ini banyak
digunakan dalam aplikasi-aplikasi yang dalam operasinya melibatkan pendeteksian
objek-objek yang sedang bergerak.
Catatan : Dalam PLC OMRON, nama instruksi untuk fungsi tersebut
berturut-turut adalah DIFU dan DIFD

4.5.2 ADD
Fungsi ini berguna untuk menjumlahkan dua buah bilangan berukuran word
Bentuk Umum : ADD s1 s2 d
Keterangan s1, s2 adalah alamat channel atau konstanta yang akan dijumlahkan,
sedangkan hasil penjumlahan disimpan pada alamat channel d
Perhatikan diagram ladder pada Gambar 4.24 berikut ini :
M0000

ADD 0003 0002 D0000

Gambar 4.24 Contoh aplikasi fungsi ADD

Penjelasan ladder di atas adalah sebagai berikut :

Jika M0000 dalam keadaan On maka fungsi ADD pada ladder di atas akan
dieksekusi. Dalam hal ini, fungsi tersebut akan menjumlahkan bilangan 3 dengan 2 dan
hasilnya disimpan di register D0000
Catatan : Dalam PLC OMRON, fungsi untuk menjumlahkan dua buah
bilangan ini menggunakan nama fungsi ADD juga.

4.5.3 Subtatract (SUB)


Fungsi ini berguna untuk mengurangkan dua buah bilangan berukuran word
Bentuk Umum : SUB s1 s2 d
Keterangan : s1 adalah alamat channel atau konstanta yang akan dikurangkan oleh s2
(dapat berupa channel atau konstanta), sedangkan hasil pengurangan disimpan pada
alamat channel d.
Perhatikan gambar ladder pada Gambar 4.25
M0000

SUB D0000 0002 D000C

Gambar 4.25 Contoh aplikasi fungsi ADD

Penjelasan ladder di atas adalah sebagai berikut :


Jika M0000 dalam keadaan On maka fungsi SUB pada ladder di atas akan
dieksekusikan. Dalam hal ini , fungsi tersebut akan mengurangkan data pada register
D0000 dengan bilangan 2 dan hasilnya disimpan di register yang sama (D0000)
Catatan : Dalam PLC OMRON, fungsi untuk mengurangkan dua buah
bilangan ini menggunakan nama fungsi SUB juga.

4.5.4 Compare (CMP)


Fungsi ini berguna untuk membandingkan dua buah bilangan dan mengeset flag-
flag (special bit) yang terkait berdasarkan hasil perbandingannya
Bentuk Umum : CPM s1 s2
Keterangan :s1 adalah alamat channel atau konstanta yang akan dibandingkan oleh s2
(dapat berupa channel atau konstanta). Perbansingan ini secara langsung akan
mempengaruhi special bit yang relevan dengan hasil operasi tersebut. Misalnya, jika s1
>s2 maka spesial bit F0123 akan On, jika s1=s2 maka special bit F0122 akan On,
sedangkan jika s1 < s2 maka spesial bit F0120 akan On.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan diagram ladder pada Gambar 4.26 berikut ini :
M0000

CMP D0000 D000’

F0120 P0010

F0122 P0011

F0123 P0013

Gambar 4.26 Contoh aplikasi fungsi CMP

Penjelasan ladder di atas adalah sebagai berikut :


Jika M0000 dalam keadaan On maka fungsi CMP pada ladder di atas akan dieksekusi.
Jika data pada D0000<D0001 maka output P0010 akan On, jika data pada
D0000=D0001 maka output P0011 akan On, sedangkan jika D0000>D0001 maka output
P0012 yang akan On.
Catatan : Dalam PLC OMRON, fungsi untuk membandingkan dua buah
bilangan ini menggunakan instruksi CPM juga.

4.5.5 END
Secara teknis setiap program ladder yang dibuat harus selalu diakhiri oleh fungsi END.
Hal ini seperti tampak pada Gambar 4.27 berikut :

ENC

Gambar 4.27 Fungsi END untuk mengakhiri program


Catatan : Dalam PLC OMRON, fungsi untuk mengakhiri program
menggunakan nama END juga

4.6 Contoh dan Penyelesaian


Contoh I
Kontrol Lampu Berjalan
Gambar 4.28 dan 4.29 berikut berturut-turut memperlihatkan diagram
penyambungan dan ladder PLC untuk mengontrol 3 buah lampu sehingga lampu-lampu
tersebut menyalakan bergantian secara berurutan (lihat Contoh 4 Bab 1).
L1 PL’ L2
Start
L1 L2
PL2

Stop Program PLC


t PL3

Gambar 4.28 Digram Penyambungan PLC untuk kasus lampu berjalan


Star Stop CR

CR

TONC
CR TON2 5s

TON’
CR TONC 5s

TON2
CR TON’ 5s

TONC TON’ PL’

TON’ TON2 PL2

TON2 TON2 PL3

Gambar 4.29 Diagram ladder PLC untuk kausus lampu berjalan


Implementasikan program ladder di atas dengan menggunakan ladder (intruksi) PLC
LG.

Penyelesaian
Terlebih dahulu, dialokasikan alamat-alamat input/output PLC akan dihubungkan
dengan peralatan fisik beserta relai-relai internalnya dalam tabel berikut :
Peralatan Alamat
Input PB Start P0000
PB Stop P0001
Output PL 1 P0010
PL2 P0011
PL3 P0012
Internal CR P0020
TIMER 0 T096
TIMER 1 T097
TIMER 2 T098
TIMER 3 T099

Berdasarkan tabel tersebut, diagram ladder-nya akan tampak seperti di bawah ini :
P0000 P0001 P0020

P0020

P0020 T099
TON T096 5C

P0020 T096
TON T097 5C

P0020 T097
TON T098 5C

P0020 T098
TON T099 5C

T096 T097 P0010

T097 T098 P0011

T098 T099 P0012

Gambar 4.30 Implementasikan untuk Gambar 4.29

Contoh 2
Kontrol Konveyor Pengepakan Apel
Gambar 4.31 dan 4.32 berikut ini berturut-turut memperlihatkan diagram penyambungan
dan ladder PLC untuk mengontrol sistem konveyor dalam proses pengepakan (lihat
Contoh 5 Bab 1).
Start
L2
L1
L1 RM’ L2

Stop
t
RM2

SE A
Program PLC

SE B

Gambar 4.31 Digram Penyambungan PLC untuk kasus kontrol konveyor


Star Stop CR

CR

SE E R
RMB

CR RMB RMA

R-1 CR RMB

CNT

SEA CNT

12

Gambar 4.32 Digram ladder atau program PLC untuk kasus kontrol konveyor

Implementasikan program ladder di atas dengan menggunakan ladder (instruksi) PLC


LG.
Penyelesaian
Sama seperti penyelesaian soal sebelumnya, terlebih dahulu harus dialokasikan alamat-
alamat input/output PLC yang akan dihubungkan dengan peralatan fisik beserta relay-
relay internalnya dalam tabel seperti berikut ini :
Peralatan Alamat
Input PB Start P0000
PB Stop P0001
SE A (Sensor apel) P0002
SE B (Sensor Box) P0003
Output RM 1 (Motor konveyor apel) P0010
RM2 (Motor konveyor box) P0011
Internal CR P0020
R P0021
Counter C000

Berdasarkan tabel tersebut, diagram ladder-nya akan tampak seperti pada Gambar 4.33
berikut ini :
P0000 P0001 P0020

P0020

P0021
P0003

P0010
P0020 T096

P0021 P0020 P0011

CNT

P0021

U CTU 000

P0021

R <S> 00012

Gambar 4.33 Implementasikan untuk Gambar 4.32

Contoh 3
Kontrol Pintu Garasi Otomatis dengan Ultrasonic Swich
Berikut ini berturut-turut adalah tabel alokasi alamat dan diagram ladder PLC (Gambar
4.34) untuk mengontrol buka/tutup pintu garasi otomatis seperti terlihat pada Gambar
4.35 :
Peralatan Alamat
Input Ultrasonic Swich (NO) P0000
Limit Switch Atas (NO) P0001
Limit Switch bawah (NO) P0002
Photodetector (NO) P0003
Output Motor Penutup pintu (kebawah) P0010
Motor pembuka pintu (keatas) P0011
Internal Internal relay P0020
Keterangan : Dalam hal ini, ultrasonic swich digunakan untuk mendeteksi kehadiran
mobil.
P0000 P0001 P0010 P0011

P0011

P0003
D NOT M0000

M0000 P0002 P0011 P0010

P0010

Gambar 4.34 Diagram ladder PLC format LG untuk kontrol pintu garasi mobil
Ultrasonic Swich

Limit Swich Atas

Atas

Photo Detector Photo Detector

Bawah

Limit Swich Bawah

Gambar 4.35 Pintu garasi kendaraan


Pahami dan jelaskan prinsip sistem kontrol tersebut.
Penyelesaian
Berdasarkan digram ladder tersebut, terlihat bahwa ketika kehadiran sebuah mobil atau
kendaraan terdeteksi maka sensor (switch) ultrasonic ini akan aktif (P0000 On). Hal ini
menyebabkan pintu garasi akan mulai membuka mencapai batas atas (limit swicth atas
aktif). Pintu garasi akan mulai terdeteksi (motor penutup pintu : P0010 ON) jika seluruh
badan mobil telah terdeteksi masuk pada garasi tersebut (perhatikan fungsi D NOT pada
anak tangga kedua diagram ladder tersebut)

Contoh 4
Kontrol Tempat Parkir Kendaraan
Gambar 4.36 berikut ini adalah tempat parkir kendaraan yang hanya memuat maksimum
100 mobil beserta tabel alokasi alamat dan diagram ladder PLC LG pengontrolnya
(Gambar 4.37)
Indikator parkir penuh

Sensor S1
(Mobil Masuk)

Tempat Parkir

Sensor S2
(Mobil keluar)

Gambar 4.36 Tempat parkir kendaraan


Peralatan Alamat
Input Sensor S1 (mobil masuk) P0000
Sensor S2 (mobil keluar) P0001
Output Indikator parkir penuh P0010
Internal Control relay M0000
Register data D0000
Special Bit Bit Always On F0010
S1 = s2 F0122
S1>s2 F0123

P0000

D M0001
M0001

ADD D0000 0001 D0000


P000’

D M0002
M0002

SUB D0000 0001 D0000

F0010

CMP D0000 0100

F0123 P0010
3 3

F0122

Gambar 34.37 Diagram ladder PLC LG untuk kontrol parkir kendaraan


Pahami dan jelaskan prinsip sistem kontrol tersebut
Penyelesaian
Berdasarkan diagram ladder PLC pada Gambar 4.37 terlihat bahwa setiap ada mobil
yang masuk, PLC secara otomatis menambah satu melalui sensor S1 (alamat
PLC:P0000), sedangkan jika ada mobil yang keluar maka PLC secara otomatis akan
mengurangi satu lewat sensor S2 (alamat PLC: P0001). Ketika terdaftar 100 buah mobil
maka tanda parkir penuh (alamat PLC: P0010) akan menyala.

Contoh 5
Kontrol Konveyor Bertingkat

Gambar 4.38. Sistem Konveyor bertingkat


Dalam aplikasi ini, PLC akan digunakan untuk mengontrol sistem konveyor bertingkat
seperti terlihat pada Gambar 4.38. untuk itu, disusun diagram ladder PLC (LG) yang
diperthatikan pada Gambar 4.39 dengfan keterangan alokasi alamat seperti terlihat pada
tabel berikut:
Peralatan Alamat
Input Sensor 1 P0000
Sensor 2 P0001
Sensor 3 P0002
Output Motor 1 P0010
Motor 2 P0011
Motor 3 P0012
Internal Timer 0 TIM 000
Timer 1 TIM 001
Always On F0010
S1Relay Internal M0000
Gambar 4.39. Diagram Ladder PLC LG untuk konveyor bertingkat
Pahami dan jelaskan prinsipsistem kontrol tersebut.
Penyelesaian
Berdasarkan diagram ladder PLC Gambar 4.39, terlihat bahwa motor 3 untuk
menggerakkan konveyor 3 akan selalu aktif (anak tangga terakhir), sedangkan konveyor
2 dan konveyor 1 akan aktif jika kondisi-kondisi berikut terpenuhi:
 Motor2 akan On jika sensor 3 telah mendeteksi kehadiran produk, motor ini akan
tetap aktif sampai motor 1 On dan barang berada di luar jangkauan sensor 2.

 Motor 1 akan On jika sensor 2 telah mendeteksi kehadiran produk, maotor ini
akan tetap bekerja sampai produk berada di luar jangkauan dari sensor 1.

4.7 Latihan
1. Perhatikan diagram ladder elektromekanis untuk perlambatan start dan stop pada
Gambar 4.4. di bawah ini:

Gambar 4.40. Rangkaian perlambatan start dan stop


Realisasikan diagram ladder elektromekanis tersebut ke dalam diagram ladder PLC
produk LG dan jelaskan cara kerjanya.
Rancanglah program ladder PLC LG K30S sedemikian rupa sehingga output P0010
akan On jika masukan pada input P0000 sebanyak 100000 cacahan telah terdeteksi.
Catatan: Pada PLC LG tersebut, nilai cacahan terbesar sebuah counter adalah 65535
(216 – 1).

2. Rancanglah program ladder PLC LG K30S sedemikian rupa sehingga output


P0010 akan On setelah jangka waktu 1000 jam sejak masukan pada input P0000
On.

3. Realisasikan sistem kontrol pemanas cairan dalam tangki pada Contoh 8 Bab 1
dengan menggunakan PLC LG.

4. Realisasikan sistem kontrol pengisi cairan ke dalam botol pada Contoh 9 Bab 1
dengan menggunakan PLC LG.

Peralatan Alamat
Input Sensor 1 P0000
Sensor 2 P0001
Sensor 3 P0002
Output Motor 1 P0010
Motor 2 P0011
Motor 3 P0012
Special Bit Timer 0 TIM 000
Timer 1 TIM 001
Always On F0010
Relay Internal M0000

Anda mungkin juga menyukai