24
berhubungan dengan dokumen perpajakan, wajib pajak diharuskan
untuk mencantumkan NPWP yang dimilikinya.
NPWP terdiri atas 15 digit, 9 digit pertama merupakan kode wajib
pajak dan 6 digit berikutnya merupakan kode administrasi.
Contoh format NPWP :
|0|7| . |8|9|0| . |1|2|3| . |3| . |3|3|5| . |0|0|0|
3.2 Surat Pemberitahuan (SPT)
3.2.1 Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT)
Surat Pemberitahuan (SPT) menurut Undang-Undang No. 16
tahun 2009 mengenai KUP Pasal 1 angka 11 dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 152/PMK.03/2009 adalah surat yang oleh wajib pajak
digunakan untuk melaporkan perhitungan dan/atau pembayaran pajak,
objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Adapun tata cara pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan
diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 80 tahun 2007. Dengan kata lain
SPT merupakan sarana bagi wajib pajak, antara lain untuk
melaporkandan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah pajak
dan pembayarannya. Dalam rangka keseragaman dan mempermudah
pengisian serta pengadministrasiannya, bentuk dan isi SPT, keterangan,
dokumen yang harus dilampirkan serta cara yang digunakan untuk
menyampaikan SPT diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.
Wajib pajak wajib mengisi SPT dengan benar, lengkap dan jelas
dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab,
satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya
ke Kantor Pelayanan Pajak tempat wajib pajak terdaftar. Pengisian SPT
yang benar, lengkap dan jelas dapat dijelaskan sebagai berikut:
25
1. Benar artinya benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam
penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan,
dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
2. Lengkap artinya memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan
objek pajak dan unsur-unsur lainnya yang harus dilaporkan dalam
SPT, dan
3. Jelas artinya melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan
unsur-unsur lainnya yang harus dilaporkan dalam SPT.
3.2.2 Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT)
Fungsi SPT dapat dilihat dari sisi Wajib Pajak, Pengusaha Kena
Pajak, dan dari sisi Pemotong atau Pemungut Pajak, yaitu sebagai
berikut :
a. Wajib Pajak untuk Pajak Penghasilan
Adapun fungsi SPT bagi WP Pajak Penghasilan (PPh) adalah
sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan
penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk
melaporkan tentang:
1. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan
sendiri atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain
dalam satu tahun pajak atau bagian tahun pajak.
2. Penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek
pajak.
3. Harta dan kewajiban.
4. Pemotongan / pemungutan pajak orang atau badan lain dalam 1
(satu) masa pajak.
b. Pengusaha Kena Pajak
Bagi Pengusaha Kena Pajak adalah sebagai sarana untuk
melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah
26
PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan
tentang :
1. Pengkriditan pajak masukan terhadap pajak keluaran.
2. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan
sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain
dalam satu masa pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
c. Bagi Pemotong atau Pemungut
Bagi pemotong atau pemungut pajak adalah sebagai sarana untuk
melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong
atau dipungut dan disetorkan.
3.2.3 Jenis Surat Pemberitahuan (SPT)
SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi terdiri dari 3 jenis formulir,
yaitu:
1. SPT Tahunan PPh Wajib Pjak Orang Pribadi 1770
Digunakan bagi orang pibadi yang sumber penghasilannya antara
lain dari usaha dan/atau pekerjaan bebas, seperti dokter yang
melakukan praktek, pengacara, pedagang, pengusaha, konsultan dan
lain-lain yang pekerjaannya tidak terikat, termasuk
PNS/TNI/POLRI yang memiliki kegiatan usaha lainnya.
2. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi 1770S
Digunakan bagi orang pribadi yang sumber penghasilannya
diperoleh dari satu atau lebih yang bukan dari kegiatan usaha dan/
atau pekerjaan bebas.
Contohnya karyawan, PNS, TNI, POLRI, Pejabat Negara, yang
memiliki penghasilan lainnya antara lain sewa rumah, honor
pembicara /pengajar/pelatih dan sebagainya.
3. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi 1770SS
27
Digunakan bagi orang pribadi yang sumber penghasilannya dari
satu pemberi kerja (sebagai karyawan) dan jumlah penghasilan
brutonya tidak melebihi Rp60.000.000 (enam puluh juta rupah)
setahun serta tidak terdapat penghasilan lainnya kecuali penghasilan
dari bunga bank dan bunga koperasi.
3.2.4 Pengisian dan Penyampaian SPT
Setiap wajib pajak mengisi SPT dalam bahasa Indonesia dengan
menggunakan huruf Latin, satuan mata uang Rupiah, dan
menandatangani serta menyampaikan ke kantor DJP tempat wajib pajak
terdaftar/dikukuhkan. Sesuai dengan Pasal 2 dan Pasal 3 UU No. 16
Tahun 2009 setiap wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan
subjektif dan objektif wajib:
1. Mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP;
2. Wajib mengisi SPT dengan benar, lengkap dan jelas dan
menandatangani serta;
3. Menyampaikan ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib
Pajak terdaftar atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktorat
Jenderal Pajak.
Wajib pajak mengisi dan menyampaikan SPT dengan benar,
lengkap, jelas dan menandatanganinya. Dalam hal wajib pajak
menunjuk seorang kuasa, dengan kuasa khusus untuk mengisi dan
menandatangi SPT, surat kuasa khusus tersebut harus dilampirkan pada
SPT. Sedangkan untuk wajib pajak Badan, SPT harus ditandatangani
oleh pengurus/direksi. SPT disampaikan langsung oleh wajib pajak ke
kantor DJP tempat wajib pajak terdaftar harus diberi tanggal penerimaan
oleh pejabat yang ditunjuk dan kepada wajib pajak diberikan bukti
penerimaan. Penyampaian SPT dapat dikirimkan melalui pos dengan
28
tanda bukti pengiriman surat atau dengan cara lain yang diatur
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
3.2.5 Prosedur Penyelesaian SPT
Menurut Mardiasmo (2009:30) prosedur penyelesaian SPT diantaranya,
adalah:
1. Wajib pajak sebagaimana yang telah diatur, harus mengambil
sendiri SPT di tempat yang telah ditetapkan DJP atau mengambil
dengan cara lain yang tata cara pelaksanaannya diatur berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan. Wajib pajak dapat mengambil SPT
dengan cara lain, misalnya dengan mengakses situs DJP untuk
memperoleh formulir SPT tersebut.
2. Setiap wajib pajak wajib mengisi SPT dengan benar, lengkap, dan
jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin,
angka Arab, satuan mata uang Rupiah dan menandatangani serta
menyampaikan ke kantor DJP tempat wajib pajak
terdaftar/dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh DJP.
3. Wajib pajak yang mendapat izin Menteri Keuangan untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan bahasa asing dan mata uang
selain Rupiah, wajib menyampaikan SPT dalam bahasa Indonesia
dengan menggunakan satuan mata uang selain Rupiah yang
diizinkan.
4. Penandatanganan SPT dapat dilakukan secara biasa dengan
tandatangan stempel atau tandatangan elektronik/digital, yang
semuanya memiliki kekuatan hukum yang sama.
5. Bukti-bukti yang harus dilampirkan dalam SPT, antara lain:
a. Untuk wajib pajak yang mengadakan pembukuan : Laporan
Keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan-
29
keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung berdasarkan
Penghasilan Kena Pajak.
b. Untuk SPT Masa PPN sekurang-kurangnya memuat jumlah
Dasar Pengenaan Pajak/ jumlah Pajak Keluaran, jumlah Pajak
Masukan yang dapat dikreditkan dan jumlah
kekurangan/kelebihan pajak.
c. Untuk wajib pajak yang menggunakan norma perhitungan,
perhitungan jumlah peredaran yang terjadi dalam tahun pajak
yang bersangkutan.
3.2.6 Pembetulan SPT
Apabila dalam pengisian SPT ternyata terdapat kesalahan, maka
wajib pajak atas kemauan sendiri dapat membetulkan sendiri dengan
menyampaikan pernyataan tertulis dalam jangka waktu 2 (dua) tahun
setelah saat terutang atau berakhirnya masa pajak, dengan syarat:
1. DJP belum melakukan tindakan pemeriksaan. Pembetulan SPT
berakibat pajak yang terutang menjadi lebih besar, maka dikenakan
sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) sebulan atau
jumlah pajak yang kurang bayar, dihitung sejak penyampaian SPT
berakhir sampai dengan tanggal pembayaran pembetulan SPT.
2. Walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksaan tetapi belum
dilakukan tindakan penyidikan. Selanjutnya wajib pajak dengan
kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatan dengan
disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang
sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda
sebesar 2 (dua) kali jumlah pajak yang kurang bayar.
Sekalipun jangka waktu pembetulan SPT telah berakhir, dengan
syarat DJP belum menerbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP), wajib
30
pajak dengan kesadaran sendiri dapat mengungkapkannya dalam suatu
laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian SPT atas
pengungkapan wajib pajak, hal ini menimbulkan akibat sebagai berikut:
1. Pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar/lebih
kecil; atau
2. Rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil/lebih
besar; atau
3. Jumlah harta menjadi lebih besar/lebih kecil; atau
4. Jumlah modal menjadi lebih besar/lebih kecil.
Pajak yang kurang bayar timbul sebagai akibat pengungkapan
ketidakbenaran pengisian SPT tersebut, beserta sanksi administrasi
berupa kenaikan 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang bayar,
harus dilunasi sebelum laporan disampaikan.
3.2.7 Batas Waktu dan Perpanjangan Penyampaian SPT
[Link] Batas Waktu Penyampaian SPT
Batas penyampaian SPT dalam Pasal 3 ayat 3 UU
No.16 Tahun 2009 tentang KUP dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010 adalah:
1. Untuk SPT Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah
akhir masa pajak.
2. Untuk SPT Tahunan PPh wajib pajak orang pribadi,
paling lama 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun pajak.
3. Untuk SPT Tahunan PPh wajib pajak, paling lam 4
(empat) bulan setelah akhir tahun pajak.
31
Gambar [Link]
Batas Waktu Penyampaian SPT
Sumber: Kantor Pelayanan Pajak Pratama Madiun
32
Tabel [Link]
Batas Pembayaran dan Pelaporan SPT
No. Jenis SPT Batas Waktu Batas Waktu
Pembayaran Pelaporan
1 PPh Pasal 4 ayat (2) Tanggal 10 bulan Tanggal 20 bulan
berikutnya berikutnya
2 PPh Pasal 15 Tanggal 10 bulan Tanggal 20 bulan
berikutnya berikutnya
3 PPh Pasal 21/26 Tanggal 10 bulan Tanggal 20 bulan
berikutnya berikutnya
4 PPh Pasal 23/26 Tanggal 10 bulan Tanggal 20 bulan
berikutnya berikutnya
5 PPh Pasal 25 (Angsuran pajak) Tanggal 15 bulan Tanggal 20 bulan
untuk wajib pajak orang pribadi berikutnya berikutnya
dan badan
6 PPh Pasal 25 (Angsuran pajak) Akhir masa pajak Tanggal 20 bulan
untuk wajib pajak kriteria berakhir berikutnys masa
terntentu yang diperbolehkan pajak berakhir
melaporkan beberapa masa pajak
dalam satu SPT Masa
7 PPh Pasal 22, PPN & PPnBM 1 hari setelah Hari kerjaterakhir
oleh Bea Cukai dipungut minggu berikutnya
(melapor secara
mingguan)
8 PPh Pasal 22 – Bendahara Pada hari yang Tanggal 14 bulan
Pemerintah sama saat berikutnya
33
penyerahan barang
9 PPh Pasal 22 – Pertamina Sebelum Delivery
Order dibayar
10 PPh Pasal 22 –Pemungut tertentu Tanggal 10 ulan Tanggal 20 bulan
berikutnya berikutnya
11 PPN dan PPnBM – PKP Akhir bulan
berikutnya setelah
berakhirnya masa
pajak dan sebelum
SPT Masa PPN
disampaikan
12 PPN dan PPnBM – Tanggal 7 bulan Tanggal 14 bulan
Bendaharawan berikutnya berikutnya
13 PPN & PPnBM – Pemungut Non Tanggal 15 bulan Tanggal 20 bulan
Bendahara berikutnya berikutnya
14 PPh Pasal 4 ayat (2), Pasal Sesuai batas waktu Tanggal 20 setelah
15,21,23, PPN dan PPnBM per SPT Masa berakhirnya Masa
untuk wajib pajak kriteria Pajak terakhir
tertentu
Sumber : [Link]
[Link] Perpanjangan Penyampaian SPT
Sekalipun batas waktu penyampaian SPT telah
ditetapkan, tetapi wajib pajak dapat memperpanjang waktu
penyampaian SPT tahunan untuk paling lama 2 (dua) bulan
dengan cara mengajukan surat permohonan perpanjangan
batas waktu penyampaian SPT Tahunan kepada DJP dengan
disertai:
34
1. Alasan-alasan penundaan penyampaian SPT Tahunan.
2. Surat pernyataan perhitungan sementara pajak yang
terutang dalam satu tahun pajak.
3. Bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang
terhutang menurut perhitungan sementara tersebut.
Gambar [Link]
Batas Waktu Perpanjangan SPT
Sumber : [Link]
3.2.8 Sanksi Administrasi dan Pidana Terkait SPT
Wajib pajak yang tidak memenuhi ketentuan yang telah
ditetapkan dalam undang-undang sehubungan dengan SPT dikenakan
sanksi administrasi dan/atau sanksi pidana sebagai berikut:
35
1. Pasal 7 UU No. 16 tahun 2009 tentang KUP, disebutkan bahwa:
Apabila wajib pajak terlambat menyampaikan SPT sampai batas
jangka waktu yang ditentukan akan dikenakan sanksi administrasi
berupa denda:
a. SPT Tahunan PPh orang pribadi sebesar Rp 100.000,00.
b. SPT Tahunan PPh badan sebesar Rp 1.000.000,00.
c. SPT Masa PPN sebesar Rp 500.000,00.
d. SPT Masa lainnya sebesar Rp 100.000,00.
2. Pasal 13A UU No. 16 tahun 2009 tentang KUP, disebutkan bahwa
apabila kealpaan tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan
SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan
keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara yang dilakukan pertama kali tidak
dikenai sanksi pidana, tetapi dikenakan sanksi administrasi 200%
dari pajak yang kurang bayar. Sedangkan kealpaan yang kedua akan
didenda paling sedikit 1 (satu) kali dan paling banyak 2 (dua) kali
jumlah pajak terutang yang tidak/kurang bayar atau dipidana
kurungan paling singkat 2 (dua) bulan/paling lama 1 (satu) tahun.
3. Pasal 39 UU No. 16 tahun 2009 tentang KUP, disebutkan bahwa
apabila wajib pajak dengan sengaja tidak menyimpan buku, catatan,
atau dokumen termasuk hasil pengolahan data elektronik, akan
dikenakan:
a. Sanksi pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali paling banyak 4
(empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak/kurang bayar
atau dipidana penjara paling sedikit 6 (enam) bulan atau paling
lama 6 (enam) tahun.
b. Pidana untuk kedua kali ditambahkan satu kali menjadi dua
kali sanksi diatas.
36
c. Percobaan penyalahgunaan NPWP atau PKP menyampaikan
SPT yang tidak benar/lengkap dalam rangka
restitusi/kompensasi/pengkreditan pajak, dipidana penjara
paling sedikit 6 (enam) bulan, paling lama 2 (dua) tahun dan
didenda paling sedikit 2 (dua) kali paling banyak 4 (empat) kali
jumlah pajak terutang yang tidak/kurang bayar.
3.3 E-Filling
3.3.1 Pengertian e-Filling
E-Filling adalah suatu cara penyampaian Surat Pemberitahuan
(SPT) secara elektronik yang dilakukan secara online dan real time
melalui internet pada website Direktorat Jenderal Pajak
([Link] atau Penyedia Layanan SPT Elektronik atau
Application Service Provider (ASP).
3.3.2 Dasar Hukum e-Filling
Wajib Pajak yang menggunakan sistem e-filing ini medapatkan
perlindungan hukum. Direktorat jenderal pajak dapat memberikan
jaminan kepada Wajib Pajak atas keamanan, kerahasiaan dan
keasliannya. Tanda tangan digital yang dibubuhkan dalam SPT
electronic merupakan proses penyisipan status subjek hukum pada
informasi, bahwa pengirim informasi adalah subjek hukum yang benar.
Dasar hukum mengenai e-filing ini antara lain:
1. Peraturan Direktorat Jenderal Pajak No. PER-26/PJ/2012 tentang
Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan
Tahunan;
2. Peraturan Direktorat Jenderal Pajak No. PER-1/PJ/2014 tentang
Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan bagi Wajib