BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Radiator
Radiator adalah alat penukar panas yang digunakan untuk memindahkan
energi panas dari satu medium ke medium lainnya yang tujuannya untuk
mendinginkan maupun memanaskan. Radiator yang kita kenal pada umumnya
digunakan pada kendaraan bermotor (roda dua atau roda empat), namun tidak jarang
radiator juga digunakan pada mesin yang memerlukan pendinginan [Link]
pada mesin mesin produksi atau mesin mesin lainnya yang bekerja dalam kondisi
kerja berat atau lama. Pada kendaraan baik motor atau mobil radiator pada
umumnya terletak di depan dan berada didekat mesin atau pada posisi tertentu yang
menguntungkan bagi sistem pendinginan. Hal ini bertujuan agar mesin mendapatkan
pendinginan yang maksimal sesuai yang dibutuhkan mesin.
Untuk diketahui, saat mesin bekerja efek panas yang tinggi terjadi dan sangat
berpengaruh terhadap komponen lainnya. Jika suhunya terlalu tinggi, mesin akan
mengalami overheating, karena itu seharusnya ada zat seperti Coolant yang
mempertahankan titik didih air agar radiator tetap bekerja optimal. “Coolant bukan
untuk mendinginkan temperatur, tetapi memperpanjang titik didih air di dalam
sistem pendinginan (bukan hanya radiator)”.
2.2 Radiator Sepeda Motor
Tidak cuma mobil saja yang menggunakan radiator, motor masa kini juga
telah dilengkapi dengan komponen tersebut. Fungsi radiator pada sepeda motor
adalah sebagai komponen pendingin agar performa kuda besi tetap tinggi sekaligus
efisien.
Secara garis besar, fungsi radiator pada sepeda motor memang sebagai
pendingin mesin. Panas yang dihasilkan mesin akan diserap cairan atau radiator
coolant yang bersirkulasi lewat water jacket di silinder dan kepala silinder. Lalu,
cairan panas ini akan didorong (disedot) menuju radiator. Di komponen yang terbuat
dari banyak pipa kecil ini, cairan akan tersebar. Karena banyak sirip yang dilalui
angin, maka suhu otomatis turun. Kemudian, cairan yang sudah didinginkan akan
berputar kembali ke dalam mesin. Radiator terdiri dari tangki air bagian atas (upper
tank), tangki bagian bawah (lower water tank) dan radiator core pada bagian
tengahnya.
Jika cairan sudah bersirkulasi namun suhu tetap tinggi, maka kinerja radiator
akan dibantu extra fan atau kipas tambahan. Fungsinya, tentu untuk menyedot udara
dari depan radiator,sehingga pendinginan bisa berlangsung.
Program StudiTeknikMesin
FakultasTeknik UNTAG Surabaya
2.3 Komponen-komponen Radiator Motor
2.3.1 Tutup Raditor
Komponen ini memiliki fungsi di antaranya untuk menaikkan titik
didih air pendingin dengan jalan menahan ekspansi air pada saat air
menjadi panas sehingga tekanan air pada saat air menjadi panas sehingga
tekanan air menjadi lebih tinggi dari tekanan udara luar. Selain fungsi
tersebut diatas komponen ini juga berfungsi untuk mempertahankan air
pendingin di dalam sistem agar tetap penuh walaupun mesin dalam
keadaan panas atau dingin. Agar fungsi tersebut terjaga maka tutup
radiator dilengkapi dengan relief valve dan vacum valve.
Gambar 2.1 Tutup Radiator
2.3.2 Thermostat Pada Radiator Motor
Komponen ini memiliki fungsi untuk mempercepat terjadinya suhu
kerja pada mesin saat mesin masih dingin dan juga berfungsi untuk
mempertahankan mesin selalu pada suhu kerjanya. Thermostat yang ada
pada radiator motor biasanya dipasang antara radiator dan sirkuit
pendingin (silinder block dan silinder heat). Komponen ini bekerja seperti
katup otomatis yang bekerja berdasarkan panas, dimana pada waktu
dingin katup akan menutup dan pada waktu panas katup akan terbuka.
Gambar 2.2 contoh Thermostat
4
Program StudiTeknikMesin
FakultasTeknik UNTAG Surabaya
2.3.3 Kipas Pendingin Pada Radiator Motor
Radiator pada motor didinginkan oleh aliran udara luar yang
mengalir melewati sirip-siripnya. Pada saat kendaraan berhenti aliran
udara tidak akan cukup untuk mendinginkan radiator. Hal yang harus
diperhatikan untuk mengatasi masalah ini maka dibelakang radiator
dipasang kipas pendingin untuk membantu agar aliran udara selalu cukup
untuk mendinginkan radiator.
Gambar 2.3 Kipas Radiator Standart
2.3.4 Tangki Cadangan
Tangki cadangan atau reservoir dihubungkan ke radiator melalui
selang overflow. Komponen ini memiliki fungsi untuk menjaga agar
volume air pendingin yang ada pada radiator tetap dalam keadaan stabil.
2.3.5 Water Pump
Pompa air atau water pump merupakan komponen yang ada pada
radiator yang memiliki fungsi mensirkulasikan air pendingin dengan jalan
membuat perbedaan tekanan anatara saluran hisap dengan saluran tekanan
yang terdapat pada pompa. Pompa yang umumhya digunakan pada
radiator motor adalah tipe sentrifugal.
Gambar 2.4 contoh water pump
5
Program StudiTeknikMesin
FakultasTeknik UNTAG Surabaya
2.3.6 Selang Radiator
Selang radiator memiliki fungsi sebagai penghubung antara radiator
dan blok mesin. Selang radiator ada 2 yaitu upper hose berfungsi
mengalirkan air panas dari mesin ke radiator, dan yang kedua ada lower
hose berfungsi untuk menyalurkan air yang sudah didinginkan kembali ke
mesin.
2.3.7 Water Jacket Pada Radiator Motor
Water jacket merupakan komponen terakhir yang ada pada radiator
yang memiliki fungsi sebagai saluran-saluran tempat air mengalir di blok
mesin. Nah inilah komponen-komponen penyusun yang ada pada radiator,
dengan adanya pengetahuan mengenai komponen-komponen ini dan
fungsinya untuk apa saja, maka akan memudahkan anda dalam
memperbaiki radiator apabila bermasalah.
2.4 Prinsip Kerja Radiator Sebagai Pembuangan Panas Mesin
Panas mesin terpusat pada ruang bakar / silinder yang merupakan hasil dari
proses pembakaran udara dan bahan bakar. Panas di ruang mesin ini dipindahkan
dari sisi dalam silinder ke water jacket secara konduksi. Kemudian panas pada
water jacket diteruskan ke fluida pendingin (air) secara konveksi, akibatnya air
menjadi [Link] pendingin yang telah menjadi panas ini disirkulasikan
(dipompakan) ke radiator untuk didinginkan lagi agar mampu menyerap panas
kembali.
Air panas masuk radiator ke upper tank melalui upper hose, selanjutnya ke
lower tank melalui tube (pipa kapiler) pada radiator core dan keluar dari lower tank
melalui lower hose sudah berupa air dingin. Air yang telah didinginkan tersebut
kembali disirkulasikan ke sepanjang water jacket dan melakukan penyerapan panas
seperti diuraikan di atas.
Proses pembuangan panas dari fluida pendingin (air) terjadi di radiator yaitu
pada radiator core. Air panas yang mengalir pada tube memindahkan panas dari air
(fluida pendingin) ke permukaan dalam tube secara konveksi. Panas selanjutnya
dipindahkan dari permukaan dalam ke permukaan luar tube secara konduksi, dan
diteruskan lagi dari permukaan luar tube ke fin (kisi-kisi radiator) secara konduksi
juga. Panas dari fin radiator di pindahkan ke udara luar secara konveksi.
2.5 Pengertian Efektifitas
Pengertian efektifitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh
tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan
pengertian efektifitas menurut Hidayat (1986) yang menjelaskan bahwa :
“Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target
(kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase
target yang dicapai, makin tinggi efektifitasnya”.
6
Program StudiTeknikMesin
FakultasTeknik UNTAG Surabaya
Sedangkan pengertian efektifitas menurut Schemerhon John R. Jr. (1986:35)
adalah sebagai berikut :
“ Efektifitas adalah pencapaian target output yang diukur dengan cara
membandingkan output anggaran atau seharusnya (OA) dengan output
realisasi atau sesungguhnya (OS), jika (OA) > (OS) disebut efektif ”.
Adapun pengertian efektifitas menurut Prasetyo Budi Saksono (1984) adalah :
“ Efektifitas adalah seberapa besar tingkat kelekatan output yang dicapai
dengan output yang diharapkan dari sejumlah input “.
Dari pengertian-pengertian efektifitas tersebut dapat disimpulkan bahwa
efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target
(kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target
tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu. Berdasarkan hal tersebut maka untuk
mencari tingkat efektifitas dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Efektifitas = Ouput Aktual/Output Target >=1
• Jika output aktual berbanding output yang ditargetkan lebih besar atau sama
dengan 1 (satu), maka akan tercapai efektifitas.
• Jika output aktual berbanding output yang ditargetkan kurang daripada 1
(satu), maka efektifitas tidak tercapai.
2.6 Proses Pembuangan Panas Pada Radiator
Besar pembuangan panas radiator adalah suatu nilai yang menunjukkan
besarnya panas pada air radiator yang dapat dibuang ke udara luar. Persamaan yang
digunakan untuk menghitung adalah:
q = [Link] ( Th, in - Th,out )
Keterangan:
q = Laju perpindahan panas (W)
m = Laju aliran massa air (kg/s)
Cp = Kalor spesifik fluida air (kj/kg °C)
Th, in = Temperatur air saat memasuki radiator (K)
Th, out = Temperatur air saat keluar radiator (K)
Perpindahan panas yang terjadi pada mesin radiator merupakan perpindahan
energi dari suatu daerah lainnya sebagai akibat dari perbedaan temperatur antar
daerah tersebut. Pada mesin radiator, perpindahan panas terjadi melalui 2 cara yaitu:
• Konduksi.
Perpindahan panas konduksi merupakan perpindahan energi yang terjadi
pada media padat atau fluida yang diam sebagai sebagai akibat dari perbedaan
[Link] ini merupakan perpindahan energi dari partikel yang lebih
7
Program StudiTeknikMesin
FakultasTeknik UNTAG Surabaya
enerjik ke partikel yang kurang enerjik pada benda akibat interaksi antar partikel
[Link] ini di hubungkan dengan pergerakan translasi, sembarang, rotasi
dan getaran dari molekul molekul. Temeperatur lebih tinggi berarti molukul
lebih berenergi memindahkan energi ke temperatur lebih rendah (kurang
energi). Untuk konduksi panas, persamaan aliran dikenal dengan hukum
Fourier.
Jika kondisi pada dinding datar laju perpindahan panas satu dimensi
adalah sebagai berikut:
Qkond= -K.A dT/dx
Keterangan:
Qkond = Besar laju perpindahan panas konduksi (W)
K = Konduktivitas thermal Bahan (W/m.K)
dT/dx = Temperatur Gradient
A = Luasan Permukaan perpindahan panas (m²)
(-) = Perpindahan panas dari temperatur tinggi ke temperature rendah
• Konveksi
Perpindahan panas konveksi adalah suatu perpindahan panas yang terjadi
antara suatu permukaan padat dan fluida yang bergerak atau mengalir akibat
adanya temperatur. Secara umum konveksi dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Konveksi bebas (free convection) atau natural konveksi, yaitu konveksi
dimana aliran fluida terjadi bukan karena dipaksa oleh suatu alat, tetapi
disebabkan karena gaya apung (bouyancy force).
2. Konveksi paksa (force convection) yaitu konveksi yang terjadi dimana
aliran fluida disebabkan oleh peralatan bantufan, blower dan lain-lain.
3. Konveksi dengan perubahan fase, yaitu sama seperti pendidihan (boiling)
dan pengembunan (kondensasi).
Persamaan laju perpindahan panas konveksi, bila
Ts,> T͚adalah :Qkonv= hA (Ts- T͚ )
Keterangan:
Qkonv = Besar laju perpindahan panas konveksi (W)
h = Koefisien konveksi (W/m²K)
A = Luasan permukaan perpindahan panas (m²)
(Ts- T͚ ) = Perbedaan Temperatur (K)
Persamaan diatas disebut dengan hukum Newton pendinginan atau Newton`s
Law of Cooling.
2.7 Metode Perhitungan
Metode perhitungan pada penelitian ini menggunakan rumus metode
efektifitas pendinginan. Metode efektifitas mempunyai beberapa keuntungan untuk
menganalisa perbandingan berbagai jenis penukar kalor dalam memilih jenis yang
terbaik untuk melaksanakan pemindahan kalor tertentu.
8
Program StudiTeknikMesin
FakultasTeknik UNTAG Surabaya
Efektifitas penukar kalor (Heat Exchange Effectiveness) didefinisikan sebagai
berikut:
𝑃𝑒𝑟𝑝𝑖𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛
ε= ……………….…..(2.1)
𝑃𝑒𝑟𝑝𝑖𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑜𝑟 𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎
Perpindahan kalor yang sebenarnya (actual) dapat dihitung dari energi yang
dilepaskan oleh fluida panas/energi yang diterima oleh fluida dingin untuk penukar
kalor aliran lawan arah.
q = mhch (Th1-Th2) = mccc(Tc1-Tc2)……………………..……….(2.2)
Dimana :
q = perpindahan panas (Watt)
m = laju aliran massa (m3/s)
ch= kalor spesifik fluida panas (J/kgºC)
cc = kalor spesifik fluida dingin (J/kgºC)
Th1 = suhu masuk fluida panas (ºC)
Th2 = suhu keluar fluida panas (ºC)
Tc1 = suhu masuk fluida dingin (ºC)
Tc2= suhu keluar fluida dingin (ºC)
Untuk menentukan perpindahan kalor maksimum bagi penukar kalor itu
dipahami bahwa nilai maksimum akan didapat bila salah satu fluida mengalami
perubahan suhu sebesar beda suhu maksimum yang terdapat dalam penukar kalor
itu, yaitu selisih suhu masuk fluida panas dan fluida dingin.
Fluida yang mungkin mengalami beda suhu maksimum ini ialah yang mc-nya
minimum, syarat keseimbangan energi bahwa energi yang diterima oleh fluida yang
satu sama dengan energi yang dilepas oleh fluida yang lain. Jika fluida yang
mengalami nilai mc yang lebih besar yang dibuat mengalami beda suhu yang lebih
besar dari maksimum, dan ini tidak dimungkinkan. Jadi perpindahan kalor yang
mungkin dinyatakan:
qmak =(mc)min (Th masuk – Tc masuk) ……………………….……………...(2.3)
Perhitungan efektivitas dengan fluida yang menunjukkan nilai mc yang minimum,
untuk penukar kalor lawan arah maka :
𝑚ℎ𝑐ℎ(𝑇ℎ1 −𝑇ℎ2 ) 𝑇ℎ1 −𝑇ℎ2
εh = = ………………………………….………..(2.4)
𝑚ℎ𝑐ℎ(𝑇ℎ1 −𝑇𝑐2 ) 𝑇ℎ1 −𝑇𝑐2
𝑚ℎ𝑐ℎ(𝑇ℎ1 −𝑇ℎ2 ) 𝑇ℎ1 −𝑇ℎ2
εc = 𝑚ℎ𝑐ℎ(𝑇ℎ1 −𝑇𝑐2 )
= 𝑇ℎ1 −𝑇𝑐2
………………………………......…..…...(2.5)
Secara umum efektivitas dapat dinyatakan sebagai :
𝛥𝑇(𝑓𝑙𝑢𝑖𝑑𝑎𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚)
ε = 𝑏𝑒𝑑𝑎𝑠𝑢ℎ𝑢𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚𝑑𝑖𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚𝑝𝑒𝑛𝑢𝑘𝑎𝑟𝑘𝑎𝑙𝑜𝑟 ………………....…………(2.6)
9
Program StudiTeknikMesin
FakultasTeknik UNTAG Surabaya
Jika fluida dingin ialah fluida minimum, maka rumus efektifitas yang digunakan :
𝑇 −𝑇
ε= 𝑇𝑐1 −𝑇𝑐2 ..……………………………………….…………………….(2.7)
ℎ1 𝑐2
2.8 Alat Dan Bahan Penelitian
2.8.1 Persiapan Alat Pengujian Radiator
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sepeda motor bensin 135cc dengan pendinginan cairan
2. Stopwatch
3. Thermometer Digital
4. Flowmeter
5. Anemometer
2.8.2 Persiapan Bahan Pengujian Radiator
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
2.8.2 Radiator Coolant
3.8.2 Air Mineral
4.8.2 Radiator dengan diameter pipa 16 mm
5.8.2 Radiator dengan diameter pipa 20 mm
6.8.2 Radiator dengan diameter pipa 30 mm
2.8.3 Skema Alat Pengujian
Gambar 3.12 Skema alat uji radiator
Keterangan :
1. Radiator 4. Pompa radiator 7. Thermometer out (Th2)
2. Mesin 5. Flowmeter 8. Anemometer (Tc2)
3. Kipas radiator 6. Thermometer in (Th1) 9. Anemometer (Tc1)
10
Program StudiTeknikMesin
FakultasTeknik UNTAG Surabaya
2.9 Metode Penelitian
Pengujian diawali dengan proses penyusunan peralatan, serta diperiksa dan
disetting agar dapat dioperasikan dengan baik. Pelaksanaan pengujian yang
dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Hidupkan mesin
2. Set putaran mesin (rpm) dan dipertahanakan dalam keadaan konstan/stedy
(rpm 1500)
3. Catat debit aliran fluida (m3/min)
4. Ukur temperatur fluida pendingin
Th1: Suhu fluida keluar dari mesin masuk radiator (ºC)
Th2: Suhu fluida keluar radiator masuk ke mesin (ºC)
5. Ukur terperatur aliran udara
Tc1: Suhu udara di depan radiator (udara yang menumbuk radiator) (ºC)
Tc2: Suhu udara di belakang radiator (udara yang keluar dari radiator) (ºC)
6. Mencatat data pengamatan pada menit ke 10 sebanyak 3 kali percobaan
7. Semua data yang diambil dimasukkan ke dalam tabel data
8. Matikan mesin
9. Lakukan langkah 1 sampai dengan 8 untuk tiap pengambilan data pada
setiap variasi percobaan
10. Lakukan metode sampel random untuk analisa data
2.10 Analisis
Penelitian ini bersifat eksploratif yang bertujuan untuk melihat fenomena atau
keadaan tertentu. Model analisis yang diambil ialah dengan mengumpulkan data,
kemudian data yang bersifat kuantitatif diproses dengan cara diklasifikasikan dan
dihitung dengan menggunakan suatu rumus terapan. Data tersebut selanjutnya
diproses lebih untuk kepentingan visualisasi datanya.
Visualisasi ini bertujuan untuk mempermudah penulis maupun orang lain
untuk memahami penelitian ini. Cara visualisasi dalam analisis data penelitian ini
ialah dengan menampilkan data dalam bentuk diagram garis, sehingga dapat
menggambarkan fenomena yang terjadi dengan jelas.
11