0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan16 halaman

Biaya Proses dan Akumulasi Produksi

Dokumen tersebut membahas tentang proses perhitungan biaya produksi menggunakan metode harga pokok proses. Metode ini digunakan untuk menghitung biaya produksi per satuan dan harga pokok produk jadi maupun persediaan produk dalam proses pada suatu periode dengan menggunakan konsep unit ekuivalensi. Diberikan pula contoh penerapannya pada suatu perusahaan beserta jurnal pencatatannya.

Diunggah oleh

fani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan16 halaman

Biaya Proses dan Akumulasi Produksi

Dokumen tersebut membahas tentang proses perhitungan biaya produksi menggunakan metode harga pokok proses. Metode ini digunakan untuk menghitung biaya produksi per satuan dan harga pokok produk jadi maupun persediaan produk dalam proses pada suatu periode dengan menggunakan konsep unit ekuivalensi. Diberikan pula contoh penerapannya pada suatu perusahaan beserta jurnal pencatatannya.

Diunggah oleh

fani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik 4 Biaya Proses Persediaan Unit

 Process costing adalah sistem kalkulasi biaya yang digunakan oleh perusahaan yang
memproduksi produk yang sama secara kontinu.

 Persamaan antara job order costing dan process costing terletak pada:
1. Tujuan membebankan biaya bahan baku, tenaga kerja dan overhead ke produk
2. Jenis akun manufaktur dasar yang dipakai- overhead pabrik, bahan baku, BDP
dan barang jadi
3. Aliran biaya melalui akun manufaktur

 Perbedaan antara job order costing dan process costing terletak pada:
1. Aliran unit dalam sistem perhitungan biaya (sesuai pekerjaan/ pesanan vs
terus-menerus)
2. Unit yang diproduksi (heterogen vs homogen)
3. Dokumen pengendali yang digunakan (kartu biaya per pekerjaan vs laporan
produksi per departemen).

 Aliran Biaya dalam Proses Costing


Departemen pemrosesan (processing department) adalah departemen di dalam
organisasi yang digunakan untuk menghasilkan produk dan tempat di mana bahan,
tenaga kerja dan biaya overhead ditambahkan ke dalam produk.
Contoh: Strathmore, Inc. adalah perusahaan yang memproduksi mainan edukatif
memiliki tiga departemen yaitu departemen pembentukan, di mana plastik dipotong
menjadi bentuk- bentuk yang diinginkan; departemen perakitan dimana plastik
dirakit dan bahan pelengkap seperti alat pengunci ditambahkan. Mainan yang sudah
jadi dikirim ke departemen pengemasan, dimana mainan dimasukkan ke dalam kotak
 Akumulasi biaya merupakan sebuah metode untuk mengetahui berapa besar biaya
yang dikeluarkan untuk sebuah produk dan juga jasa atau menyangkut suatu hal.

 Akumulasi Biaya Proses


Akumulasi biaya proses merupakan sebuah metode dalam pengumpulan harga pokok
produk dengan mengumpulkan biaya untuk setiap satuan waktu tertentu. Akumulasi
biaya proses ini bisa diterapkan pada perusahaan yang memakai proses produksi
terus menerus,
Contohnya seperti; perusahaan perakitan mobil, obat-obatan, perusahaan
penerbangan dan rumah sakit serta lain sebagainya. Sistem biaya sebenarnya dan
juga sistem biaya ditentukan di muka bisa dipakai dalam pengumpulan biaya pesanan
dan pengumpulan biaya proses.

 Proses Produksi Ialah kegiatan penciptaan , perubahan maupun penambahan nilai


guna suatu barang. Adapun perencanaan proses produksi adalah :
1. Proses persiapan
2. Penyaringan gagasan
3. Analisi gagasan
4. Percobaan proses produk
5. Uji coba produksi
6. Komersial produk

 Sifat proses produksi yang meliputi:


1. Proses produksi terus menerus
2. Proses produksi terputus-putus atau juga berselingan

 Persyaratan yang harus dipenuhi agar proses prodeksi akan berjalan dengan bak
ialah:
1. Adanya prosedur kerja dalam sistem produksi
2. Adanya tata letak peralatan sistem produksi
3. Adanya tata ruang proses produksi
4. Adanya jenis dan bahan yang akan diproduksi
5. Adanya para karyawan yang dapat mengerjakan proses produksi

 tata cara data penetapan proses produksi barang dan juga jasa terdiri atas:
a. Routing
yakni menetapkan dan juga akan menentukan urut-urutan proses produksi atau
bahan mentah sampai menjadi produk akhir.
b. Scheduling
Yaitu yang menetapkan maupun menentukan jadwal proses operasi produksi
yang disernigikan sebagai suatu kesatuan.
c. Dispatching
Yaitu menetapkan dan menentukan proses dimana pemberian perintah utuk
mulai dilaksanakan operasi proses produksi yang telah direncanakan didalam
routing maupun scheduling.
d. Follow-up
Yaitu menetapkan dan menentukan berbagai kegiatan agar tidak akan terjadi
penundaan dan juga mendorong terkoordinasikannya seluruh perencanaan
produksi.

 Bahan baku (direct material) merupakan sesuatu bahan yang akan membentuk
bagian menyeluruh dari produk jadi. Bahan baku ini dapat diklarifikasikan dengan
produk atau pesanan yang tertentu dengan nilainya yang relatif besar.
contohnya dalam perusahaan mebel, bahan baku ialah kayu atau rotan. Biaya yang
akan timbul akibat pemakaian bahan baku disebut biaya bahan baku.
 Untuk dapat memahami perhitungan harga pokok produk dalam metode harga pokok
proses.

 Berikut ini disajikan contoh metode harga pokok proses yang diterapkan dalam
perusahaan yang mengolah produknya melalui satu departemen produksi.

 Tanpa memperhitungkan adanya persediaan produk dalam proses awal periode.

 Contoh Harga Pokok Proses #1:


PT Era Milenia Jaya mengolah produknya secara masal melalui satu departemen
produksi.
Jumlah biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:
Biaya bahan baku = Rp 5.000.000
Biaya Bahan penolong = Rp 7.500.000
Biaya tenaga kerja = Rp 11.250.000
Biaya overhead pabrik = Rp 16.125.000
Total biaya produksi = Rp 39.875.000
Jumlah produk yang dihasilkan selama bulan tersebut adalah:
Produk jadi = 2.000 kg
Produk dalam proses pada akhir bulan = 500 kg
Dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut:
Biaya bahan baku = 100%
Biaya bahan penolong = 100%
Biaya tenaga kerja = 50%
Biaya overhead pabrik = 50%
Yang menjadi masalah adalah bagaimana menghitung harga pokok produk jadi yang
ditransfer ke gudang.
Dan harga pokok persediaan produk dalam proses yang pada akhir bulan belum
selesai diproduksi.
Untuk tujuan tersebut perlu dilakukan penghitungan biaya produksi per satuan yang
dikeluarkan dalam bulan Januari 2020.
Hasil perhitungan ini kemudian dikalikan dengan kuantitas produk jadi dan akan
dihasilkan informasi harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang.
Untuk menghitung harga pokok persediaan produk dalam proses pada akhir periode,
biaya produksi per satuan tersebut dikalikan dengan kuantitas persediaan produk
dalam proses.
Dengan memperhitungkan tingkat penyelesaian persediaan produk dalam proses
tersebut.
Untuk menghitung biaya per satuan yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut,
perlu dihitung unit ekuivalensi bulan Januari 2020 dengan cara perhitungan sebagai
berikut:
#1: Biaya Bahan Baku:
Dari data contoh soal di atas, kita melihat bahwa biaya bahan baku sebesar Rp
5.000.000 digunakan untuk menyelesaikan produk jadi sebanyak 2.000 kg dan
500 kg persediaan produk dalam proses.
Jadi ekuivalensi biaya harga bahan baku adalah:
= 2.000 + (100% x 500)
= 2.500 kg

#2: Biaya Bahan Penolong


Bahan penolong yang dikeluarkan bulan Januari 2020 sebesar Rp 7.500.000
menghasilkan 2.000 kg produk jadi dan 500 kg persediaan produk dalam proses.
Tingkat penyelesaian 100%.
Dengan demikian unit ekuivalensi biaya bahan penolong adalah 2.500 kg yang
dihitung sebagai berikut:
= 2.000 + (100% x 500) = 2.500 kg
#3: Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan bulan Januari 2020 sebesar Rp 11.250.000
tersebut dapat menghasilkan 2.000 kg produk jadi dan 500 kg persediaan produk
dalam proses.
Dengan tingkat penyelesaian biaya tenaga kerja 50%.
Dengan demikian unit ekuivalensi biaya tenaga kerja adalah 2.250 kg, yang
dihitung sebagai berikut:
= 2.000 + (50% x 500) = 2.250 kg

#4: Biaya Overhead Pabrik


Biaya overhead pabrik yang dikeluarkan bulan Januari 2020 sebesar Rp
16.125.000.
Dan menghasilkan 2.000 kg produk jadi dan 500 kg persediaan produk dalam
proses dengan tingkat penyelesaian 30%.
Dengan demikian unit ekuivalensi biaya bahan penolong dihitung sebagai berikut:
= 2.200 + (30% x 500) = 2.150 kg.
Perhitungan biaya produksi per kilogram produk yang diproduksi dalam bulan
Januari 2020 dilakukan dengan membagi tiap unsur-unsur harga pokok produksi,
yaitu:
• biaya bahan baku,
• biaya bahan penolong,
• biaya tenaga kerja, dan
• biaya overhead pabrik, seperti berikut ini:
Setelah biaya produksi per satuan dihitung, harga pokok produk jadi yang
ditransfer ke gudang dari harga pokok persediaan produk dalam proses dihitung
sebagai berikut:
• Harga pokok produk jadi: 2.000 x Rp 17.500 = Rp 35.000.000
• Harga pokok persediaan produk dalam proses:
o Biaya bahan baku : 100% x 500 x Rp 2.000 = Rp 1.000.000
o Biaya bahan penolong : 100% x 500 x Rp 3.000 = Rp 1.500.000
o Biaya TK : 50% x 500 x Rp 5.000 = Rp 1.250.000
o Jumlah = Rp 4.875.000
• Jumlah biaya produksi bulan Januari 2020 = (1) – (2) = Rp 39.875.000

#5: Jurnal Pencatatan Biaya Produksi


Berdasarkan informasi yang disajikan dalam laporan biaya produksi, biaya
produksi yang terjadi bulan Januari 2020, dicatat dengan jurnal berikut ini:
A: Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:
[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp 5.000.000
[Kredit] Persediaan Bahan Baku Rp 5.000.000
B: Jurnal untuk mencatat biaya bahan penolong:
[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Penolong Rp 7.500.000
[Kredit] Persediaan Bahan Penolonh Rp 7.500.000
C: Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja:
[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp 11.250.000
[Kredit] Gaji dan Upah Rp 11.250.000
D: Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik:
[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp 16.125.000
[Kredit] Berbagai Rekening yang Dikredit Rp 16.125.000
E: Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:
[Debit] Persediaan Produk Jadi Rp 35.000.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp 4.000.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Penolong Rp 6.000.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya TK Rp 10.000.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp 15.000.000
Note:
= 2.000 kg x Rp 5.000
= 2.000 kg x Rp 7.500
F: Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang
belum selesai diolah pada akhir bulan Januari 2020:
[Debit] Persediaan Produk Dalam Proses Rp 4.875.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp 1.000.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Penolong Rp 1.500.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp 1.250.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp 1.125.000

 Metode harga pokok proses dua departemen adalah penggunaan metode harga pokok
proses produk diolah melalui lebih dari satu departemen produksi.

 Jika produk diolah melalui lebih dari satu departemen produksi, perhitungan biaya
produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen produksi pertama
sama dengan yang telah dibahas dalam contoh di atas.

 Perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen
setelah departemen pertama adalah perhitungan yang bersifat kumulatif. Karena
produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama adalah produk
jadi dari departemen sebelumnya, yang juga membawa biaya produksi dari
departemen produksi sebelumnya.

 Maka harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen
pertama, terdiri dari:
1. Biaya produksi yang dibawa dari departemen sebelumnya.
2. Biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen
pertama.

 Contoh perhitungan biaya produksi per satuan, jika produk diolah melalui dua
departemen produksi, dapat diikuti dalam contoh 2 berikut:
Perhatikan contoh metode harga pokok proses berikut ini:
PT Xidev Bening Jaya memiliki dua departemen produksi Departemen A dan
Departemen B untuk menghasilkan produknya.
Dan produksi dan biaya kedua departemen tersebut dalam bulan Januari 2020 adalah
sebagai berikut:
Departemen A:
Dimasukkan dalam proses = 35.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke Dept B = 30.000
Produk selesai yang ditransfer ke gudang = 0
Produk dalam proses akhir bulan = 5.000 kg
Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 2020:
Biaya bahan baku = Rp 70.000
Biaya tenaga kerja = Rp 155.000
Biaya overhead pabrik = Rp 248.000
Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir:
Biaya bahan baku = 100%
Biaya konversi = 20%

Departemen B:
Dimasukkan dalam proses
Produk selesai yang ditransfer ke Dept B
Produk selesai yang ditransfer ke gudang = 24.000 kg
Produk dalam proses akhir bulan = 6.000 kg
Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 2020:
Biaya bahan baku = Rp 0
Biaya tenaga kerja = Rp 270.000
Biaya overhead pabrik = Rp 405.000
Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir:
Biaya bahan baku =–
Biaya konversi = 50%
A: Perhitungan Harga Pokok Produksi di Departemen A
Untuk menghitung harga pokok produk selesai Departemen A yang ditransfer ke
Departemen B.
Dan harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen A pada akhir bulan
Januari 2020, perlu dilakukan penghitungan biaya produksi per satuan yang
dikeluarkan oleh Departemen A dalam bulan yang bersangkutan.
Hasil perhitungan ini kemudian dikalikan dengan kuantitas produk selesai yang
ditransfer Departemen A ke Departemen B.
Dan diperoleh informasi harga pokok produk jadi yang ditransfer tersebut.
Untuk menghitung harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen A
pada akhir periode.
Biaya produksi per satuan tersebut dikalikan dengan kuantitas persediaan produk
dalam proses, dengan memperhitungkan tingkat penyelesaian persediaan produk
dalam proses tersebut.
Untuk menghitung biaya produksi per satuan yang dikeluarkan oleh Departemen A
tersebut, perlu dihitung unit ekuivalensi tiap unsur biaya produksi Departemen A
dalam bulan Januari 2020 dengan cara perhitungan sebagai berikut:
#1: Biaya Bahan Baku:
Biaya bahan baku yang dikeluarkan oleh Departemen A bulan Januari 2020
sebesar Rp 70.00 menghasilkan 30.000 kg produk selesai dan 5.000 kg
persediaan produk dalam proses.
Tingkat penyelesaian 100%.
Dengan demikian unit ekuivalensi biaya bahan baku adalah:
= 30.000 kg + (100% x 5.000 kg) = 35.000 kg.
#2: Biaya Konversi:
Biaya konversi yang terdiri dari biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik yang
dikeluarkan Departemen A bulan Januari 2020 adalah Rp 155.000.
Dan menghasilkan 300.000 kg produk jadi dan 5.000 kg persediaan produk dalam
proses.
Tingkat penyelesaian 20%.
Dengan demikian unit ekuivalensi biaya konversi adalah:
= 30.000 kg + (20% x 5.000 kg) = 31.000 kg.
Perhitungan biaya produksi per kg produk yang dihasilkan oleh Departemen A bulan
Januari 2020 dihitung dengan membagi tiap unsur biaya produksi, yaitu
• biaya bahan baku,
• biaya bahan penolong,
• biaya tenaga kerja, dan
• biaya overhead pabrik yang dikeluarkan oleh Departemen A.

Setelah biaya produksi per satuan dihitung, harga pokok produk selesai yang ditransfer
oleh Departemen A ke Departemen B.
Dan harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen A pada akhir bulan
Januari 2020 dapat dihitung sebagai berikut:
• Harga pokok produk selesai yang di transfer ke Departemen B:
= 30.000 x Rp 15 = Rp 450.000
• Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir:
o Biaya bahan baku: 100% x 5.000 = Rp 10.000
o Biaya TK: 20% x 5.000 = Rp 5.000
o Biaya Overhead Pabrik: 20% x 5.000 = Rp 8.000
• Jumlah biaya produksi Departemen A bulan Januari 2020:
= (a) + (b)
= Rp 450.000 + Rp 23.000 = Rp 473.000

#3: Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen A


Berdasarkan informasi biaya produksi Departemen A tersebut, biaya produksi yang
terjadi dalam Departemen A di bulan Januari 2020 dicatat dengan jurnal berikut ini:
A: Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:
[Debit] Barang dalam Proses – By Bahan Baku Dept A Rp 70.000
[Kredit] Persediaan Bahan Baku Rp 70.000

B: Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja:


[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya TK Departemen A Rp 155.000
[Kredit] Gaji dan Upah Rp 155.000

C: Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik:


[Debit] Barang Dalam Proses – BOP Departemen A Rp 248.000
[Kredit] Berbagai Rekening yang Dikredit Rp 248.000

D: Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh Departemen A
ke Departemen B:
[Debit] BDP – Biaya Bahan Baku Departemen B Rp 450.000
[Kredit] BDP – Biaya Bahan Baku Departemen A Rp 60.0001
[Kredit] BDP – Biaya Tenaga Kerja Departemen A Rp 150.0002
[Kredit] BDP – Biaya Overhead Pabrik Departemen A Rp 240.0003
Note:
1: 30.000 kg x Rp 2 = Rp 60.000
2: 30.000 kg x Rp 5 = Rp 150.000
3: 30.000 kg x Rp 8
E: Jurnal umum untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang
belum selesai diolah dalam Departemen A di akhir bulan Januari 2020:
[Debit] Persediaan Produk Dalam Proses – Dept A Rp 23.000
[Kredit] BDP – Biaya Bahan Baku Dept A Rp 10.000
[Kredit] BDP – Biaya Tenaga Kerja Dept A Rp 5.000
[Kredit] BDP – Biaya Overhead Pabrik Dept A Rp 8.000

B: Perhitungan Harga Pokok Produksi di Departemen B


#1: Perhitungan Biaya Produksi
Dari contoh di atas, terlihat bahwa 30.000 kg produk selesai yang diterima oleh
Departemen B dari Departemen A, telah menambah total biaya produksi dari
Departemen A sebesar Rp 450.000, atau Rp 15 per kg.
Untuk mengolah produk yang diterima dari Departemen A tersebut, Departemen
B mengeluarkan biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik bulan Januari
2020 berturut-turut sebesar Rp 270.000 dan Rp 405.000.
Dari 30.000 kg produk yang diolah Departemen B tersebut dapat dihasilkan
produk jadi yang ditransfer ke gudang sebanyak 24.000 kg.
Dan persediaan produk dalam proses pada akhir bulan sebanyak 6.000 kg dengan
tingkat penyelesaian 50% untuk biaya konversi.
Untuk menghitung harga pokok produk jadi Departemen B yang ditransfer ke
gudang dan harga pokok persediaan produk dalam proses pada akhir Januari
2020.
Perlu dilakukan penghitungan biaya per satuan yang ditambahkan oleh
Departemen B dalam bulan yang bersangkutan.
Hasil perhitungan ini kemudian dikalikan dengan kuantitas produk selesai yang
ditransfer oleh Departemen B ke gudang dan akan diperoleh informasi biaya
yang ditambahkan atas harga pokok produk yang dibawa dari Departemen A.
Untuk menghitung harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen
B pada akhir periode.
Harga pokok produk yang berasal dari Departemen A harus ditambah dengan
biaya produksi per satuan yang ditambahkan Departemen B.
Dikalikan dengan kuantitas persediaan produk dalam proses tersebut dengan
memperhitungkan tingkat penyelesaiannya.
Untuk menghitung biaya produksi per satuan yang ditambahkan oleh
Departemen B perlu dihitung unit ekuivalensi tiap unsur biaya produksi yang
ditambahkan oleh Departemen B dalam Januar 2020.
Dengan cara perhitungan sebagai berikut:
Biaya konversi, yang terdiri dari biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik,
yang ditambahkan oleh Departemen B dalam bulan Januari 2020.
Yaitu biaya untuk memproses 30.000 kg produk yang diterima dari Departemen
A sebesar Rp 155.000 tersebut.
Di mana dalam proses tersebut menghasilkan 24.000 kg produk jadi dan 6.000
kg persediaan produk dalam proses yang tingkat penyelesaian biaya
konversianya sebesar 50%.
Hal ini berarti biaya konversi tersebut telah digunakan untuk menyelesaikan
produk selesai sebanyak 24.000 kg.
Dan 3.000 kg persediaan produk dalam proses.
Dengan demikian unit ekuivalensi biaya konsersi adalah 27.000 kg, yang dihitung
sebagai berikut:
= 24.000 + (50% x 6.000)
= 27.000 kg
Perhitungan biaya produksi per kg yang ditambahkan oleh Departemen B dalam
bulan Januari 2020.
Dihitung dengan membagi tiap unsur biaya produksi yang dikeluarkan oleh
Departemen B seperti berikut ini:
Setelah biaya produksi per kg yang ditambahkan oleh Departemen B dihitung.
Harga pokok produksi selesai yang ditransfer oleh Departemen B ke Gudang
Dan harga pokok persediaan produk dalam proses di Departemen B pada akhir
bulan Januari 2020 dapat dihitung berikut ini:
• Harga pokok produk selesai yang ditransfer Departemen B ke gudang:
o Harga pokok dari Dept A: 24.000 x Rp 15 = Rp 360.000
o Biaya yang ditambahkan oleh Dept B: 24.000 x Rp 25 = Rp 600.000
• Total harga pokok produk jadi yang ditransfer Departemen B ke Gudang:
o 24.000 x Rp 40 = Rp 960.000
• Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir:
• Harga pokok dari Departemen A: 6.000 x Rp 15 = Rp 90.000
• Biaya yang ditambahkan oleh Departemen B:
o Biaya TK: 50% x 6.000 x Rp 10 = Rp 30.000
o BOP: 50% x 6.000 x Rp 15 = Rp 45.000
• Total harga pokok persediaan produk dalam proses Dept B:
o = (d) + (e)
o = Rp 90.000 + 75.000
o = Rp 165.000
• Jumlah biaya produksi kumulatif Dept B bulan Januari 2020:
o = (b) + (f)
o = Rp 960.000 + Rp 165.000
o = Rp 1.125.000

#2: Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen B


A: Jurnal untuk mencatat penerimaan produk dari Departemen A:
[Debit] Barang Dalam Proses Biaya Bahan Baku Dept B Rp 450.000
[Kredit] BDP – Biaya Bahan Baku Departemen A Rp 60.000
[Kreditit] BDP – Biaya Tenaga Kerja Departemen A Rp 150.000
[Kredit] BDP – Biaya Overhead Pabrik Departemen A Rp 240.000
B: Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja:
[Debit] BDP – Biaya Tenaga Kerja Departemen B Rp 270.000
[Kredit] Gaji dan Upah Rp 270.000
C: Jurnal untuk mencatat Biaya Overhead Pabrik:
[Debit] Persediaan Produk Jadi Rp 405.000
[Kredit] Berbagai Rekening yang Dikredit Rp 405.000
D: Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh
Departemen B ke gudang:
[Debit] Persediaan Produk Jadi Rp 960.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Departemen B Rp 360.0001
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Departemen B Rp 240.0002
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Departemen B Rp
360.0003
Note:
1: 24.000 kg x Rp 15 (harga pokok produksi per kg dari Dep A)
2: 24.000 kg x Rp 10 (biaya tenaga kerja yang ditambahkan oleh Dept B)
3: 24.000 kg x Rp 15 (Biaya Ov. Pabrik yang ditambahkan oleh Dept B)
E: Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang
belum selesai diolah dalam Dept B pada akhir bulan Januari 2020:
[Debit] Persediaan Produk Dalam Proses Dept B Rp 165.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Dept B Rp 90.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Dept B Rp 30.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Dept B Rp 45.000

Anda mungkin juga menyukai