TUGAS MAKALAH
KONSEP DASAR MANAJEMEN SUMBER DAYA
KESEHATAN
PEMBIMBING : Dr. H. Haeruddin, SKM,. [Link]
NAMA MAHASISWA : Iva Astriva Ahmad
NIM : 004610142020
PROGRAM PASCA SARJANA
MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2021
1
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puja dan puji marilah senantiasa kita ucapkan atas limpahan
rahmat dan nikmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang diberikan
kepada kami.
Sholawat bersamaan dengan salam juga mari hadirkan kepada Baginda Nabi kita
Muhammad SAW. Semoga kita, orangtua, nenek dan kakek kita, guru-guru dan orang
terdekat kita mendapat syafaat Beliau di Yaumil Mahsyar kelak. Amin ya Rabbal’Alamin.
Adapun tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah MANAJEMEN SUMBER DAYA KESEHATAN dengan Topik “ KONSEP DASAR
MANAJEMEN SUMBER DAYA KESEHATAN “.
Kami ucapkan terimakasih kepada bapak Dr. H. Haeruddin, SKM,. [Link] selaku
dosen pembimbing dan kepada semua pihak yang sudah membantu dalam penulisan makalah
ini.
Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah dan juga
kami sangat mengharapkan kritik serta saran dari para pembaca untuk bahan pertimbangan
perbaikan makalah.
Makassar, Oktober 2021
Penulis
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………….. 2
DAFTAR ISI ………………………………………………………………….………………
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………….
1. LATAR BELAKANG …………………………………………………………….. 4
2. RUMUSAN MASALAH ………………………………………………………..…
3. TUJUAN PEMBAHASAN ………………………………………………………...
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………..……
BAB III PENUTUP ………………………..………………………………………….……..
18
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….……
19
3
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Masalah
Manajemen adalah ilmu dan seni memproses mengatur pemanfaatan sumber daya
manusia dan sumber- sumber daya lainnya secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Manajemen terdiri dari enam unsur yaitu : men, money, methode, materials,
machines, dan market.
Unsur men (manusia) berkembang menjadi suatu bidang ilmu manajemen yang
disebut manajemen sumber daya manusia atau disingkat MSDM yang merupakan terjemahan
dari man power management. MSDM adalah suatu bidang manajemen yang khusus
mempelajari hubungan dan peranan manusia dalam organisasi perusahaan.
Manusia berperan aktif dan dominan dalam kegiatan setiap organisasi, karena
manusia menjadi perencana pelaku dan penentu terwujudnya tujuan organisasi. Mengatur
4
karyawan adalah sulit dan kompleks, karena mereka memiliki pikiran, perasaan, status,
keinginan, dan latar belakang yang heterogen yang dibawa kedalam organisasi. Karyawan
tidak dapat diatur dan dikuasai sepenuhnya seperti mengatur mesin, modal atau gedung.
Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, juga diperhatikan dinamika
kependudukan, epidemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan IPTEK,
serta globalisasi dan demokrasi dengan semangat kemitraan dan kerjasama lintas sektoral.
Berbagai studi menunjukkan bahwa tenaga kesehatan merupakan kunci utama dalam
keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan. Sumber daya manusia kesehatan
(SDM Kesehatan) merupakan tatanan yang menghimpun berbagai upaya perencanaan
pendidikan, serta pendayagunaan tenaga kesehatan secara terpadu dan saling mendukung
guna mencapai derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya.
SDM atau tenaga kesehatan berperan sebagai perencana, penggerak dan sekaligus
pelaksana pembangunan kesehatan sehingga tanpa tersedianya tenaga dalam jumlah dan jenis
yang sesuai, maka pembangunan kesehatan tidak akan dapat berjalan secara optimal. SDM
Kesehatan juga merupakan tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan
tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan
berkerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya manajemen kesehatan.
Sumber daya manusia (SDM) Kesehatan dipandang sebagai komponen kunci untuk
menggerakkan pembangunan kesehatan, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang
5
optimal. Dalam hal pencapaian target pembangunan millennium bidang kesehatan, dapat
dikatakan secara nasional sudah sejalan dengan target yang diharapkan, namun beberapa
masalah kesehatan masih menuntut kerja keras semua pihak, antara lain penurunan angka
kematian ibu, pencegahan penularan infeksi baru HIV, perluasan akses terhadap sarana air.
II. Rumusan Masalah
1. Pengertian SDM Kesehatan dan Tenaga kesehatan
2. Perencanaan SDM Kesehatan
3. Pendidikan dan pelatihan SDM Kesehatan
4. Pendayagunaan SDM Kesehatan
5. Isue strategis SDM Kesehatan
III. Tujuan Pembahasan
Untuk mengetahui pengertian dari SDM kesehatan dan tenaga kesehatan, perencanaan
SDM kesehatan, pendidikan dan pelatihan, pendayagunaan SDM kesehatan, serta issue
strategis SDM kesehatan.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian SDM Kesehatan Dan Tenaga Kesehatan
Berdasarkan Word Health Organization (WHO), SDM adalah semua orang yang
kegiatan pokoknya ditujukan untuk meningkatkan kesehatan. Mereka terdiri atas orang-orang
yang memberikan pelayanan kesehatan seperti dokter, perawat, apoteker, teknisi
laboratorium, manajemen, serta tenaga pendukung seperti bagian keuangan, sopir, dan lain
sebagainya. Secara kasar, WHO memperkirakan terdapat 59,8 juta tenaga kesehatan di dunia
dan dari jumlah tersebut di perkirakan dua pertiga (39,5 juta) dari jumlah keseluruhan tenaga
kesehatan memberikan tenaga kesehatan dan sepertiganya (19,8 juta) merupakan tenaga
pendukung dan manajemen (WHO, 2006).
Menurut sistem kesehatan nasional (SKN) yang dikutip oleh adisasmito (2007), SDM
kesehatan adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya perencanaan, pendidikan, dan
pelatihan serta terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi – tingginya. Sementara itu, SDM kesehatan menurut PP No.
32/1996 yang juga dikutip oleh Adisasmito (2007), adalah semua orang yang bekerja secara
7
aktif dibidang kesehatan, baik yang memiliki pendidikan formal kesehatan, maupun tidak
yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melaksanakaan upaya kesehatan.
Definisi lain dari tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
kesehatan, serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan (PP 32, 1996; UU 36, 2009). Ditetapkan bahwa tenaga kesehatan terdiri atas medis
(dokter dan dokter gigi), tenaga keperawatan (perawat dan bidan ), tenaga kefarmasian
(apoteker, analis farmasi, dan analis apoteker), tenaga kesehatan masyarakat (epidemiologi
kesehatan, entomologi kesehatan, mikrobiologi kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator
kesehatan, dan sanitarian), tenaga gizi ( nutrisionis dan dietisien), tenaga keterampilan fisik
(fisioterapis, okupasiterapis, dan terapis wicara), serta tenaga keteknisian medis (radiografer,
radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik
prostetik, teknisi transfusi,dan perekam medis).
SDM kesehatan menurut SKN 2009 adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga
kesehatan straktegis, tenaga kesehatan nonprofesi, serta tenaga pendukung/penunjang
kesehatan, yang terlibat dan bekerja secara mengabdikan dirinya dalam upaya dan
manajemen kesehatan. Tenaga kesehatan straktegis di sini merupakan tenaga kesehatan yang
tidak diproduksi secara merata di provinsi, tidak dapat disubstitusi oleh tenaga kesehatan lain
dan mempunyai daya ungkit yang besar bagi pelayan kesehatan. Unsur-unsur dalam SDM
kesehatan meliputi SDM kesehatan itu sendiri, sumber daya pengembangan dan
pemberdayaan SDM kesehatan, serta penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan
SDM (Kemkes, 2009).
Tenaga kesehatan menurut SKN yang dikutip oleh adisasmito (2007), adalah semua
orang yang bekerja secara aktif dan profesional dibidang kesehatan, baik yang memiliki
pendidikan formal kesehatan, maupun tidak yang untuk jenis tertentu memerlukan upaya
8
kesehatan. Sedangkan menurut PP No. 32/1999 yang juga dikutip oleh adisasmito (2007),
tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan formal dibidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam upaya kesehatan.
Berdasarkan dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tenaga kesehatan
adalah setiap orang yang memperoleh pendidikan baik formal maupun nonformal yang
mendedikasikan diri dalam berbagai upaya yang bertujuan mencegah, mempertahankan, serta
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
B. Perencanaan SDM Kesehatan
Berdasarkan penjelasan diatas tentang manajemen kesehatan, tahapan dalam
manajemen kesehatan dimulai dari perencanaan. Semua orang menyadari bahwa perencanaan
bagian terpenting dalam proses manajemen dan oleh karena itu menyita banyak waktu dalam
proses manajemen. Untuk manajemen sumber daya manusia, perencanaan berarti penentuan
program karyawan (sumber daya manusia) dalam rangka membantu tercapainya sasaran atau
tujuan organisasi itu. Dengan kata lain mengatur orang – orang yang akan menangani tugas –
tugas yang dibebankan kepada masing – masing orang, dalam rangka mencapai tugas
organisasi (Notoatmojo, 2003).
Perencanaan SDM kesehatan adalah sebuah proses estimasi terhadap jumlah SDM
berdasarkan tempat, keterampilan dan perilaku yang dibutuhkan untuk memberikan
pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, kita meramalkan siapa mengerjakan apa, dengan
keahlian apa, kapan dibutukan dan berapa jumlahnya. Melihat kepada pengertian diatas
perencanaan SDM puskesmas seharusnya berdasarkan fungsi dan beban kerja pelayanan
kesehatan yang akan dihadapi di masa depan. Hal ini dimaksudkan agar fungsi puskesmas
dapat berjalan dengan baik, maka kompetensi SDM seharusnya sesuai dengan spesifikasi
SDM yang dibutuhkan puskesmas (Ilyas, 2004).
9
Determinan yang berpengaruh dalam perencanaan kebutuhan SDM kesehatan adalah :
1. Perkembangan penduduk, baik jumlah, pola penyakit, daya beli, maupun
keadaan sosiobudaya dan keadaan darurat/bencana.
2. Pertumbuhan ekonomi
3. Berbagai kebijakan di bidang pelayanan kesehatan (Depkes, 2004)
Pada dasarnya kebutuhan SDM kesehatan dapat ditentukan berdasarkan :
1. Kebutuhan epidemiologi kesehatan
2. Permintaan (demand) akibat beban pelayanan kesehatan atau
3. Sarana upaya kesehatan yang ditetapkan
4. Standar atau rasio terhadap nilai tertentu (Depkes, 2004)
Dasar hukum perencanaan SDM kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Garis-garis besar Hukum Negara Tahun 1999-2004
2. Ketetapan MPR No. 4 Tahun1999
3. Undang-undang No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan (Lembaran Negara
tahun 1992 No. 100, Tambahan Lembaran Negara No. 3495).
4. Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran
Negara Tahun 1999 No. 60. Tambahan Lembara Negara No. 3839).
5. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara No. 3637).
6. Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah
dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun
2000 No. 54, Tambahan Lembaga Negara No. 3952).
7. Peraturan Pemerintah No. 8 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
[Link] Menkes No.850/MENKES/SK/V/2000 tentang Kebijakan
Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2000-2010.
10
9. Keputusan Menkes No. 1277/MENKES/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Departemen Kesehatan.
10. Keputusan Menkes No. 004/Menkes/SK/2003 Tentang Kebijakan dan
Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan.
11. Kepmenkes No. 145/Menkes/SK/X/2003 tentang SPM Bidang Kesehatan,
di Kabupaten/Kota (Depkes,2004).
Memperhatikan dasar-dasar hukum serta adanya kebijakan desentralisasi, termasuk
didalamnya desentralisasi di bidang kesehatan, maka fungsi perencanaan SDM kesehatan
bagi daerah menjadi sangat penting dan menjadi tanggung jawab daerah itu sendiri. Oleh
karena itu, dengan adanya desentralisasi di bidang kesehatan, pejabat pengelola SDM di
Kabupaten/Kota dan provinsi perlu memiliki kemampuan atau kompetensi yang memadai
dalam membuat perencanaan SDM kesehatan (Depkes, 2004).
Secara garis besar, perencanaan kebutuhan SDM kesehatan dapat dikelompokkan
kedalam tiga kelompok besar sebagai berikut :
1. Perencanaan kebutuhan SDM pada tingkat institusi : Perencanaan SDM kesehatan
pada kelompok ini ditujukan pada perhitungan kebutuhan SDM kesehatan untuk memenuhi
kebutuhan sarana pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik dan lain-
lain.
2. Perencanaan kebutuhan SDM pada tingkat wilayah : Perencanaan disini
dimaksudkan untuk menghitung kebutuhan SDM kesehatan berdasarkan kebutuhan di tingkat
wilayah (provinsi/Kabupaten/kota) yang merupakan gabungan antara kebutuhan institusi dan
organisasi.
11
3. Perencanaan kebutuhan SDM kesehatan untuk bencana : Perencanaan ini
dimaksudkan untuk mempersiapkan SDM kesehatan saat prabencana, terjadi bencana dan
post bencana, termasuk pengelolaan kesehatan pengungsi (Adisasmito, 2007).
Untuk itu pengelola kebutuhan SDM kesehatan yang bertanggung jawab pada ketiga
kelompok diatas perlu memahami secara lebih rinci teknis perhitungannya untuk masing-
masing kelompok. Dalam perencanaan SDM kesehatan perlu memperhatikan Strategi
Perencanaan SDM Kesehatan :
1. Rencana kebutuhan SDM kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan
kesehatan baik kebutuhan nasional,lokal, maupun global.
2. Pelayanan SDM kesehatan diselenggarakan secara merata, serasi, seimbang dan
selaras oleh pemerintah, masyarakat dan dunia usaha baik ditingkat pusat maupun tingkat
daerah. Dalam upaya pemerataan SDM kesehatan perlu memperhatikan keseimbangan antara
hak dan kewajiban perorangan dengan kebutuhan masyarakat. Pendayagunaan SDM
kesehatan oleh pemerintah diselenggarakan melalui pendelegasian wewenang yang
proporsional dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
3. Penyusun perencanaan berdasarkan pada sasaran nasional upaya kesehatan dan
Rencana Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010.
4. Pemilihan metode perhitungan kebutuhan SDM kesehatan didasarkan pada
kesesuaian metode dengan kemampuan dan keadaan daerah masing-masing (Depkes, 2004).
Sistem perencanaan sumber daya manusia pada pokoknya meliputi perkiraan,
permintaan dan suplai karyawan atau tenaga di suatu organisasi. Dari uraian itu, secara terinci
dapat disimpulkan bahwa kagiatan perencanaan sumber daya manusia terdiri dari 4 kegiatan
yang saling berkaitan, yakni :
1. Inventarisasi persediaan sumber daya manusia : Yaitu menelaah dan menilai
sumber daya manusia yang ada atau tersedia saat ini (tentang jumlahnya, kemampuannya,
12
keterampilannya dan potensi pengembangannya) serta menganalisis penggunaan sumber daya
sekarang ini.
2. Perkiraan (peramalan) sumber daya manusia : Melakukan prediksi atau taksiran
kebutuhan (permintaan) dan penawaran (suplai) sumber daya manusia di waktu yang akan
datang baik jumlah (kuantitas), maupun kualitasnya.
3. Penyusunan sumber daya manusia : Memadukan kebutuhan (permintaan) dengan
penawaran (suplai) sumber daya manusia, melalui rekruitmen (penarikan), seleksi pelatihan,
penempatan, pemindahan, promosi dan pengembangan.
4. Monitoring dan sumber evaluasi : Untuk memberikan umpan balik terhadap
pencapaian tujuan sasaran perencanaan sumber daya manusia perlu disusun perencanaan
sumber daya manusia, perlu disusun rencana monitoring dan evaluasi serta indikator
menitoring dan evaluasi tersebut (Notoadmodjo, 2003).
C. Pendidikan Dan Pelatihan
Salah satu cara pengembangan SDM kesehatan agar sesuai dengan tuntutan pekerjaan
adalah melalui pendidikan dan pelatihan SDM kesehatan. Fungsi dari pendidikan dan
pelatihan ini adalah sebagai investasi SDM dan merupakan tuntutan luar dan dalam
organisasi. Selain itu juga bertujuan untuk memperbaiki, mengatasi kekurangan dalam
pelaksanaan pekerjaan agar sesuai dengan iptek.
Pendidikan dan pelatihan ini meliputi :
1. Knowledge
2. Ability
3. Skill
Bentuk pelatihan yang biasa dilakukan adalah diklat yang dilaksanakan oleh Pusdiklat
(Pusat Pendidikan dan Pelatihan). Pusdiklat adalah suatu unit yang bertugas
13
menyelenggarakan diklat bagi pegawai/calon pegawai. Fungsinya adalah mendidik dan
melatih tenaga kerja dalam rangka pengembangan dan atau peningkatan kemampuan.
Secara khusus program pendidikan dan pelatihan ini bertujuan untuk menghasilkan
sumber daya manusia kesehatan yang memiliki kompetensi sebagai berikut :
1. Mampu mengembangkan dan memutakhirkan ilmu pengetahuan dan teknologi
dibidang promosi kesehatan dengan cara menguasai dan memahami pendekatan, metode dan
kaidah ilmiahnya disertai dengan ketrampilan penerapannya didalam pengembangan dan
pengelolaan sumber daya manusia kesehatan.
2. Mampu mengidentifikasi dan merumuskan pemecahan masalah pengembangan dan
pengelolaan sumber daya manusia kesehatan melalui kegiatan penelitian.
3. Mampu mengembangkan/meningkatkan kinerja profesionalnya, yang ditunjukkan
dengan ketajaman analisis permasalahan kesehatan, merumuskan dan melakukan advokasi
program dan kebijakan kesehatan dalam rangka pengembangan dan pengelolaan sumber daya
manusia kesehatan.
D. Pemberdayagunaan SDM Kesehatan
Perkembangan distribusi tenaga kesehatan di Indonesia telah dimulai sejak tahun
1960 dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok
Kesehatan. Undang-Undang ini menyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab dalam
pemerataan tenaga kesehatan. Selanjutnya dalam beberapa tahun kemudian, tenaga kesehatan
melaksanakan Wajib Kerja Sarjana. Pada masa itu semua tenaga kesehatan, utamanya dokter,
dokter gigi, perawat, bidan, sanitarian, dan ahli gizi diangkat sebagai pegawai negeri sipil
pusat (PNS Pusat) dan ditempatkan ke daerah yang memerlukan untuk jangka waktu tertentu
(antara 2 sampai 5 tahun sesuai dengan tingkat kesulitan daerah penempatan) melalui Inpres
No. 5 Tahun 1974. Dalam perkembangan selanjutnya,maka ditetapkan Undang-Undang
14
No.13 Tahun 2003 tentang Ketenaga-kerjaan yang mencabut Undang-Undang No. 8 Tahun
1961 tentang Wajib Kerja Sarjana. Sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang tersebut,
ditetapkanlah Peraturan Menkes No. 1540/Menkes/ Per/XII/2002 tentang Penempatan
Tenaga Medis Melalui Masa Bakti dan Cara Lain. Dengan kebijakan ini, program dokter dan
dokter gigi PTT yang semula bersifat wajib menjadi sukarela. Disatu sisi, kebijakan tersebut
di atas mencerminkan penghargaan pemerintah terhadap Hak Asasi Manusia pada tenaga
kesehatan. Namun disisi lain, Hak Asasi Manusia bagi rakyat terutama di daerah tertinggal,
perbatasan, kepulauan dan daerah-daerah yang tidak diminati menjadi terabaikan. Hal ini
bertentangan dengan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 4 yang menyatakan
bahwa setiap orang berhak atas kesehatan dan pasal 5 yang menyatakan setiap orang
mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan.
Tenaga kesehatan dapat didayagunakan di :
1. Instansi pemerintah baik pusat maupun daerah termasuk TNI dan POLRI,
2. Sektor pelayanan kesehatan swasta,
3. Sektor non pelayanan kesehatan termasuk industri, pendidikan dan penelitian baik
pemerintah maupun swasta,
4. Di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Kesehatan Indonesia (TKKI).
Tenaga kesehatan yang didayagunakan di instansi pemerintah, utamanya di sektor
kesehatan dapat diangkat melalui :
1. Formasi PNS baik pusat maupun daerah,
2. Pegawai Tidak Tetap (PTT) pusat maupun daerah;
3. Penugasan khusus baik residen maupun tenaga D3-Kesehatan, terutama untuk daerah
terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).
15
E. Issue Strategis SDM Kesehatan
Memiliki perkembangan tenaga kesehatan sebagaimana telah diuraikan diatas, dengan
ini dan ke depan masih dihadapi isu strategis atau masalah pokok dalam pengembangan
tenaga kesehatan sebagai berikut :
1. Pengembangan tenaga kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan tenaga
kesehatan untuk pelayanan/pembangunan kesehatan. Tenaga kesehatan terus membaik dalam
jumlah, kualitas dan penyebarannya, namun masih belum mampu memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan di seluruh wilayah terutama pada daerah tertinggal, terpencil, perbatasan
dan kepulauan. Mutu tenaga kesehatan belum memiliki daya saing dalam memenuhi
permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri.
2. Regulasi untuk mendukung upaya pengembangan tenaga kesehatan masih terbatas.
3. Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan masih perlu ditingkatkan dan belum
didukung dengan sistem informasi tenaga kesehatan yang memadai. Rencana kebutuhan
tenaga kesehatan yang menyeluruh belum disusun sesuai yang diharapkan, sehingga belum
sepenuhnya dapat dipergunakan sebagai acuan dalam pengadaan/pendidikan tenaga
kesehatan, pendayagunaan tenaga kesehatan, serta pembinaan dan pengawasan mutu tenaga
kesehatan.
4. Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan/pendidikan berbagai jenis
tenaga kesehatan. Kajian jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan tersebut belum dilakukan
sebagaimana mestinya. Kualitas hasil pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan pada
umumnya masih kurang memadai. Masih banyak institusi pendidikan tenaga kesehatan yang
belum terakreditasi dan memenuhi standard. Hal ini akan berdampak terhadap kompetensi
dan kualitas lulusan tenaga kesehatan. Masih banyak institusi pendidikan tenaga kesehatan
yang belum terakreditasi dan memenuhi standar. Hal ini akan berdampak terhadap
kompetensi dan kualitas lulusan tenaga [Link] pendidikan tenaga kesehatan
16
pada umumnya bersifat sistemik, antara lain terdapat ketidaksesuaian kompetensi lulusan
pendidikan dengan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat, lemahnya kerjasama
antara pelaku dalam pembangunan kesehatan dan pendidikan tenaga kesehatan, lebih
dominannya pendidikan tenaga kesehatan yang berorientasi ke Rumah Sakit dibandingkan
dengan Primary Health Care.
5. Dalam pendayagunaan tenaga kesehatan, pemerataan dan pemanfaatan tenaga
kesehatan yang berkualitas masih kurang, utamanya di daerah tertinggal, terpencil,
perbatasan, kepulauan dan daerah yang kurang diminati. Hal ini disebabkan oleh disparitas
sosial ekonomi, budaya maupun kebijakan pemerintah daerah termasuk kondisi geografis
antar daerah mengurangi minat tenaga kesehatan untuk ditempatkan di daerah tersebut. Selain
itu pengembangan dan pelaksanaan pola pengembangan karir, sistem penghargaan dan sanksi
belum dilaksanakan sesuai yag diharapkan. Pengembangan profesi yang berkelanjutan
(Continue Professional Development = CPD), serta Training Need Assesment (TNA) masih
perlu dikembangkan.
6. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan masih belum dapat
dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan. Registrasi dan sertifikasi tenaga kesehatan masih
terbatas pada tenaga dokter dan dokter gigi. Sosialisasi dan penerapan peraturan perundang-
perundangan di bidang pengembangan tenaga kesehatan belum dilaksanakan secara
memadai.
7. Sumber daya pendukung pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan
masih terbatas. Sistem informasi tenaga kesehatan belum sepenuhnya dapat menyediakan
data yang akurat, terpercaya dan tepat waktu. Dukungan sumber daya pembiayaan dan lain-
lain sumber daya belum memadai.
Dalam upaya menjawab issue strategis atau masalah pokok dalam pengembangan
tenaga kesehatan, Indonesia memiliki beberapa modal dasar antara lain :
17
1. Telah disahkannya beberapa aturan perundang-undangan terkait tenaga kesehatan.
2. Ikut sertanya Indonesia dalam meratifikasi aturan-aturan di tingkat Internasional
terkait tenaga kesehatan seperti ‘International Code of Practice’
3. Mulai terbangunnya komitmen diantara pemangku kepentingan terkait
pengembangan tenaga kesehatan seperti terbentuknya Tim Koordinasi dan Fasilitasi
Pengembangan Tenaga Kesehatan.
4. Kepercayaan dunia Internasional semakin meningkat terhadap kualitas tenaga
kesehatan Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya permintaan tenaga
kesehatan Indonesia untuk bekerja diluar negeri.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Tenaga kesehatan adalah orang yang mengabdikan dirinya dibidang kesehatan yang
memiliki pengetahuan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan.
2. Perencanaan kesehatan adalah strategi untuk memenuhi komponen yang dibutuhkan
berdasarkan keterampilan, pengetahuan serta perilaku sumber daya manusia.
3. Pendidikan dan pelatihan Sumber daya manusia bertujuan untuk memperbaiki, mengatasi
kekurangan dalam pelaksanaan pekerjaan agar sesuai dengan IPTEK meliputi 3 aspek
yaitu Knowledge, Ability dan Skill.
4. Pendayagunaan Sumber daya manusia kesehatan di instansi pemerintah, utamanya di
sektor kesehatan dapat diangkat melalui formasi PNS baik pusat maupun daerah, Pegawai
18
Tidak Tetap (PTT) pusat maupun daerah dan penugasan khusus baik residen maupun tenaga
D3-Kesehatan, terutama untuk daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).
5. Salah satu Issue startegi atau masalah pokok dalam pengembangan tenaga kesehatan yaitu
Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan masih perlu ditingkatkan karena belum dapat
memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan untuk pelayanan / pembangunan kesehatan.
B. SARAN
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan para pembaca secara
umum, saran dan kritikan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan
makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Cardoso Gomes. Faustino, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta, Andi, 2003.
2. Departement Bakti Husada, 2011, Jurnal Kesehatan, 'Rencana Pengembangan Tenaga
Kesehatan Tahun 2011-2025', Jakarta, Hal 17-19.
3. Kemenkes RI, 2015, Jurnal Kesehatan, 'Rencana Aksi Kegiatan Pusata Pendidikan dan
Pelatihan Tenaga Kesehatan Tahun 2015-2019', Jakarta.
4. Kurniati, A, Efendi, F, 2012, Kajian SDM Kesehatan di Indonesia, Selemba Medika,
Jakarta Selatan, Hal 3-5.
5. Masram, Mu’ah. Manajemen Sumber Daya Manusia, Sidoarjo, Zifatama Publisher, 2015.
19
6. Puji Lestari, S, 2008, 'Gambaran Perencanaan Kebutuhan Tenaga Dokter Umum dan
Dokter Gigi Puskesmas serta Analisis Perhitungannya dengan Metode WISN di Kota Bekasi
Tahun 2008', Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta.
7. Sofyandi. Herman, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogjakarta, Graha Ilmu, 2008.
8. [Link], Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta, Bumi Aksara, 2008.
20