0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan11 halaman

Determinan Triple Eliminasi Ibu Hamil

Dokumen tersebut merangkum hasil penelitian mengenai hubungan pemanfaatan kelas ibu hamil, sumber informasi, dan peran bidan desa terhadap pemeriksaan triple eliminasi pada ibu hamil di Desa Sukaresmi, Bogor. Penelitian menemukan adanya hubungan antara ketiga faktor tersebut dengan pelaksanaan pemeriksaan triple eliminasi untuk mendeteksi dini HIV, sifilis, dan hepatitis pada ibu hamil.

Diunggah oleh

Riska Amalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan11 halaman

Determinan Triple Eliminasi Ibu Hamil

Dokumen tersebut merangkum hasil penelitian mengenai hubungan pemanfaatan kelas ibu hamil, sumber informasi, dan peran bidan desa terhadap pemeriksaan triple eliminasi pada ibu hamil di Desa Sukaresmi, Bogor. Penelitian menemukan adanya hubungan antara ketiga faktor tersebut dengan pelaksanaan pemeriksaan triple eliminasi untuk mendeteksi dini HIV, sifilis, dan hepatitis pada ibu hamil.

Diunggah oleh

Riska Amalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Determinan Pemeriksaan Triple Eliminasi Ibu Hamil di Desa Sukaresmi

Kecamatan Megamendung Tahun 2021


Dinar Inayah
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju
Jl. Harapan No. 50, Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan
Email: dinar.inayah83@[Link]

Abstrak Editor: YL

Latar belakang: Infeksi HIV, Sifilis, dan Hepatitis B pada anak lebih Hak Cipta:
dari 90% tertular dari ibunya. Prevalensi infeksi HIV, Sifilis dan Hepatitis ©2022 Artikel ini memiliki akses
B pada ibu hamil berturut-turut 0,3%, 1,7% dan 2,5%. Risiko penularan terbuka dan dapat di distribusikan
dari ibu ke anak untuk HIV adalah 20%-45%, untuk Sifilis adalah 69- berdasarkan ketentuan Lisensi
80%, dan untuk Hepatitis B adalah lebih dari 90%. Atribusi Creative Commons, yang
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pemanfaatan kelas ibu hamil, memungkinkan penggunaan, distribusi
sumber informasi, dan peran bidan desa terhadap pemeriksaan triple dan reproduksi yang tidak dibatasi
eliminasi ibu hamil di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung Bogor dalam media apa pun, asalkan nama
tahun 2021. penulis dan sumber asli disertakan.
Metode: Jenis penelitian ini berupa deskriptif analitik dengan rancangan Karya ini dilisensikan dibawah
cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 124 responden dengan Lisensi Creative Commons
menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan Attribution-ShareAlike 4.0 Interna-
dalam penelitian ini adalah kuesioner tentang pemanfaatan kelas ibu sional.
hamil, sumber informasi, peran bidan desa, dan pemeriksaan triple
eliminasi ibu hamil.
Hasil: Hasil analisis menunjukan hubungan pemanfaatan kelas ibu hamil
(p-value = 0,000 ≤ 0,05, OR 95% CI=3,624 (1,292-5,957)), sumber
informasi (p-value = 0,009 ≤ 0,05, OR 95% CI=2,383 (0,674-4,092)), dan
peran bidan desa (p-value = 0,024 ≤ 0,05, OR 95% CI=2,054 (0,389-
3,719)) dengan pemeriksaan triple eliminasi di Desa Sukaresmi
Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor tahun 2021.
Kesimpulan: Ada hubungan pemanfaatan kelas ibu hamil, sumber
informasi, dan peran bidan desa terhadap pemeriksaan triple eliminasi
ibu hamil di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung Bogor tahun
2021.

Kata kunci: bidan desa, kelas ibu hamil, sumber informasi, triple
eliminasi

Pendahuluan
Tujuan pembangunan yang berkesinambungan atau Sustainable Development Goals
(SDGs) khususnya SDGs, harus dilakukan promosi hidup sehat dan kesejahteraan bagi semua
orang dari segala usia dengan memperhatikan prioritas kesehatan sebagai wawasan pembangunan,
termasuk kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, dan penanggulangan penyakit menular.
Beberapa penyakit menular seperti infeksi HIV, Sifilis, dan Hepatitis B adalah penyakit yang dapat
ditularkan dari ibu yang terinfeksi ke anaknya selama kehamilan, persalinan, dan menyusui, serta
menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian, sehingga berdampak buruk pada kelangsungan

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 125


dan kualitas hidup anak. Namun demikian, hal ini dapat dicegah dengan intervensi sederhana dan
efektif berupa deteksi dini (skrining) pada saat pelayanan antenatal, penanganan dini, dan
imunisasi.1 Triple eliminasi adalah program yang bertujuan mencapai dan mempertahankan
eliminasi ibu ke bayi dari HIV/AIDS, Hepatitis B, dan Sifilis agar mencapai kesehatan yang lebih
baik bagi perempuan, anak-anak, dan keluarga mereka melalui pendekatan terkoordinasi.2
Infeksi HIV, Sifilis, dan Hepatitis B pada anak lebih dari 90% tertular dari ibunya.
Prevalensi infeksi HIV, Sifilis dan Hepatitis B pada ibu hamil berturut-turut 0,3%, 1,7% dan 2,5%.
Risiko penularan dari ibu ke anak untuk HIV adalah 20%-45%, untuk Sifilis adalah 69-80%, dan
untuk Hepatitis B adalah lebih dari 90%. Sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam menjamin
kelangsungan hidup anak maka perlu dilakukan upaya untuk memutus rantai penularan HIV,
Sifilis, dan Hepatitis B melalui Eliminasi Penularan. Upaya Eliminasi Penularan HIV, Sifilis dan
Hepatitis B dilakukan secara bersama-sama karena infeksi HIV, Sifilis, dan Hepatitis B memiliki
pola penularan yang relatif sama, yaitu ditularkan melalui hubungan seksual,
pertukaran/kontaminasi darah, dan secara vertikal dari ibu ke anak. Eliminasi Penularan HIV,
Sifilis, dan Hepatitis B bersama-sama atau yang sering disebut “triple eliminasi” ini dilakukan
untuk memastikan bahwa sekalipun ibu terinfeksi HIV, Sifilis, dan/atau Hepatitis B sedapat
mungkin tidak menular ke anaknya. Oleh karena itu, diperlukan suatu pedoman untuk mencapai
Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak sebagai acuan bagi Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, tenaga kesehatan sesuai kompetensi dan kewenangannya, masyarakat,
dan pemangku kepentingan terkait.3
Menurut data World Health Organization, di Asia Tenggara pada tahun 2019, angka HIV
mencapai 5,1 juta jiwa pasien dengan 77.000 wanita hamil hidup dengan HIV, dan 19.000
kasusinfeksi HIV pediatrik baru telah ditemukan. Hal itu merupakan angka yang bisa dibilang
fantastis dibandingkan dengan daerah lain. Sementara untuk sifilis, incidence rate telah
menunjukkan peningkatan sebanyak 0,32% di wilayah Asia Tenggara. Jumlah pasien
menunjukkan angka hingga 167.000 kasus sifilis pada ibu hamil. Hal itu mempunyai dampak yang
amat buruk dengan menghasilkan 65.800 hasil yang merugikan termasuk kematian janin dini.
Untuk Hepatitis B, Asia Tenggara menanggung 15% dari jumlah total pasien Hepatitis B di seluruh
dunia dengan jumlah 39 juta orang.4
Berdasarkan Ditjen P2P Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2021, selama
tahun 2020 terdapat 2.370.473 ibu hamil yang di periksa HIV. Dari pemeriksaan tersebut di
dapatkan 6.439 (0,27%) ibu hamil yang positif HIV. Program Nasional dalam Pencegahan dan
Pengendalian Virus Hepatitis B saat ini fokus pada pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA)
karena 95% penularan Hepatitis B adalah secara vertical, yaitu dari Ibu yang Positif Hepatitis B
ke bayi yang dilahirkannya. Pada tahun 2020 terdapat 29 Provinsi di Indonesia yang sudah
mencapai target. Jumlah Ibu hamil yang diperiksa Hepatitis B dengan menggunakan Rapid
Diagnostic Test (RDT) HbsAg tahun 2020 yaitu sebanyak 2.540.158 orang atau sebanyak 48,25%
dari target ibu hamil. Hasil pemeriksaan RDT HbsAg menemukan bahwa sebanyak 46.064
(1,81%) ibu hamil terdeteksi HBsAg Reaktif (Positif). Persentase di Provinsi Jawa Barat tahun
2020 ibu hamil yang positif HIV (0,22%) dan HbsAg (1,29%).5 Berdasarkan data Dinas Kabupaten
Bogor tahun 2019, kasus HIV di Jawa Barat mencapai 40.000 kasus, sedangkan untuk AIDS
mencapai 10.000 kasus.6

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 126


Berdasarkan data Profil Puskesmas Megamendung Kecamatan Megamendung, sejak tahun
2015 Puskesmas tersebut telah melaksanakan pelayanan Antenatal Care terpadu, termasuk di
dalamnya meliputi pelayanan deteksi dini triple eliminasi, diantaranya HIV, Sifilis, dan Hepatitis
B. Pada tahun 2018, cakupan K1 di Puskesmas Megamendung sebanyak 1.011 orang, sedangkan
yang melakukan pemeriksaan triple eliminasi ke Puskesmas hanya 386 ibu hamil, dan diperoleh
hasil HBsAg positif sebanyak 47 orang. Penyakit HIV, Hepatitis dan Sifilis dapat menular dari ibu
ke janinnya yang menyebabkan tingginya morbiditas dan mortalitas utamanya pada Negara
berkembang.
Bayi sendiri, dia akan terlahir dengan gangguan imunitas yang sangat rendah karena
mengidap HIV sejak dini. Hepatitis B pada ibu hamil juga akan menyebabkan berat badan lahir
rendah (BBLR), prematur, kelainan kongenital, hingga kematian. Bayi juga akan berisiko
menderita penyakit liver dari yang ringan hingga berat. Sifilis menyebabkan 40% bayi yang
dilahirkan dari ibu hamil pasien sifilis lahir mati atau meninggal setelah beberapa saat dilahirkan.
Bayi dengan sifilis kongenital juga akan mengalami kerusakan tulang, anemia berat, pembesaran
liver dan limpa, jaundice, masalah saraf yang menyebabkan kebutaan atau tuli, meningitis, atau
ruam kulit.7
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chasanah, Dewanti, dan Anis mengenai
pengaruh faktor internal ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan triple eliminasi, menunjukkan
bahwa dari 69 responden, 13 ibu tidak bersedia melakukan pemeriksaan. Faktor internal ibu hamil
memiliki nilai rata-rata yang berbeda antara yang bersedia dan tidak bersedia, tetapi perbedaannya
tidak signifikan (>0,05) dan tidak berpengaruh pada keputusan ibu melakukan pemeriksaan triple
eliminasi. P-value tiap faktor, didapatkan hasil karakteristik dan sosial ekonomi (usia (0,550),
pendidikan (0,602), gravida (0,829), usia kehamilan (0,612), tipe keluarga (0,567), jumlah anggota
keluarga (0,407), pekerjaan ibu (0,886), pekerjaan suami (0,761), penghasilan (0,733)),
pengetahuan (0,311), motivasi (0,281), dan sikap (0,714), maka dari itu tidak ada faktor internal
ibu yang memengaruhi kesediaan melakukan pemeriksaan triple eliminasi selama kehamilan,
maka diperlukan penelitian lanjutan tentang faktor eksternal dari ibu hamil untuk memaksimalkan
cakupan pemeriksaan triple eliminasi.1
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fauzini, Nadapdap, dan Safitri, mengenai
pengaruh faktor internal ibu hamil dalam pemeriksaan HIV di Puskesmas Idi Rayeuk Kabupaten
Aceh Timur, menunjukkan bahwa variabel pengetahuan (p=0,036), pekerjaan (p=0,012), sikap
(p=0,011), dukungan suami (p=0,031), dukungan petugas kesehatan (p=0,014), dan sarana dan
prasarana dengan (p=0,036, maka dari itu ada pengaruh pengetahuan, pekerjaan, sikap, dukungan
suami dukungan petugas kesehatan dan sarana prasarana. Faktor yang paling berpengaruh dalam
penelitian ini adalah pekerjaan. Hendaknya sosialisasi yang lebih luas tentang bahaya jika ibu
terkena HIV/AIDS yang berdampak pada kelangsungan hidup ibu dan bayi lebih dimaksimalkan.
Tidak Hanya kepada ibu hamil tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat.8
Berdasarkan hasil survey awal, pada 10 ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC,
dimana ada sebanyak 4 orang ibu hamil yang sudah melakukan pemeriksaan HIV, Sifilis, dan
Hepatitis B, karena telah mendapatkan informasi mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan
triple eliminasi selama masa kehamilan pada saat mengikuti kelas ibu, disamping itu ada sebanyak
6 orang ibu hamil yang tidak mau menerima pemeriksaan triple eliminasi dan belum pernah
mengikuti kelas ibu, diantaranya 2 orang ibu hamil merasa tidak memiliki resiko dan kondisi

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 127


keluarga mereka baik baik saja, 2 ibu hamil lagi mengatakan takut dan tidak siap untuk menerima
hasil pemeriksaan, akan menjadi dilema dimasyarakat apabila diketahui hasilnya positif, 2 ibu
hamil lagi masih menunda pemeriksaan karena merasa tidak perlu dan kesibukan ibu bekerja,
sehingga mereka menganggap hanya pemeriksaan kehamilan saja yang penting, alasan lain yang
dikemukakan oleh ibu hamil adalah petugas kesehatan belum pernah memberikan konseling dan
pemahaman tentang pentingnya melakukan pemeriksaan triple eliminasi pada masa kehamilan dan
karena belum mendapatkan ijin dari suami.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik melakukan penelitian mengenai hubungan
pemanfaatan kelas ibu hamil, sumber informasi, dan peran bidan desa terhadap pemeriksaan triple
eliminasi ibu hamil di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung Bogor tahun 2022. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemanfaatan kelas ibu hamil, sumber informasi, dan
peran bidan desa terhadap pemeriksaan triple eliminasi ibu hamil di Desa Sukaresmi Kecamatan
Megamendung Bogor tahun 2022.
Metode
Desain penelitian ini berupa deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2022 di Desa Sukaresmi. Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh ibu di Desa Sukaresmi sebanyak 124 orang. Kriteria inklusi, yaitu; Ibu hamil
yang tercatat pada periode Januari tahun 2021, Bersedia menjadi responden, Kooperatif dan Ibu
hamil yang berdomisili di Desa Sukaresmi tahun 2022. Sedangkan Kriteria eksklusi, yaitu; Ibu
yang sedang sakit dan Ibu yang memiliki gangguan jiwa. Sampel pada penelitian ini yaitu
sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Alat
penelitian dalam pengumpulan data adalah kuesioner.
Analisis data bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi derajat
kepercayaan 95% dengan batas kemaknaan α = 0,05. Jika nilai p-value ≤ 0,05, menunjukan adanya
hubungan yang bermakna antara variabel dependen dengan variabel independen. Sebaliknya jika
p-value ≥ 0,05, menunjukan tidak ada hubungan antara variabel dependen dan independen. Data
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh
langsung dari responden. Sedangkan data sekunder berupa rekam data mengenai identitas
responden dari Desa Sukaresmi tahun 2022.9
Hasil
Analisis Univariat
Tabel 1. Distribusi frekuensi masing-masing variabel
Variabel n %
Pemeriksaan Triple Eliminasi
Kurang 16 53,3
Baik 14 46,7
Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil
Kurang 19 63,3
Baik 11 36,7
Sumber Informasi
Kurang 17 56,7
Baik 13 43,3
Peran Bidan Desa

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 128


Kurang 18 6
Baik 12 40
Jumlah 30 100

Berdasarkan tabel 1 menunjukan, bahwa sebagian besar responden melakukan


pemeriksaan triple eliminasi yang kurang yaitu sebanyak 16 orang (53,3%), pemanfaatan kelas
ibu hamil yang kurang yaitu sebanyak 19 orang (63,3%), sumber informasi yang kurang yaitu
sebanyak 17 orang (56,7%), dan peran bidan desa yang kurang yaitu 18 orang (60%).
Tabel 2. Hubungan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil, Sumber Informasi, dan Peran Bidan Desa
terhadap Pemeriksaan Triple Eliminasi Ibu Hamil di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung
Bogor Tahun 2022
Pemeriksaan Triple Eliminasi
Total OR
Variabel Kurang Baik p-value
95% CI
F % F % F %
Pemanfaatan Kelas Ibu
Hamil 3,624
0,000
Kurang 15 78,9 4 21,1 19 100 (1,292-5,957)
Baik 1 9,1 10 90,9 11 100
Sumber Informasi
2,383
Kurang 13 76,5 4 23,5 17 100 0,009
(0,674-4,092)
Baik 3 23,1 10 76,9 13 100
Peran Bidan Desa
2,054
Kurang 13 72,2 5 27,8 18 100 0,024
(0,389-3,719)
Baik 3 25 9 75 12 100

Berdasarkan tabel 2 menunjukkan, bahwa hasil variabel pemanfaatan kelas ibu hamil pada
responden yang memanfaatkan kelas ibu hamil yang kurang dengan pemeriksaan triple eliminasi
yang kurang yaitu sebanyak 15 orang (78,9%), sedangkan responden yang memanfaatkan kelas
ibu hamil yang baik dengan pemeriksaan triple eliminasi yang baik yaitu sebanyak 10 orang
(90,9%). Hasil analisis Chi-square diperoleh p-value sebesar 0,000 yang berarti, hal ini
menunjukan bahwa adanya hubungan pemanfaatan kelas ibu hamil dengan pemeriksaan triple
eliminasi di Desa Sukaresmi tahun 2022. Diperoleh pula nilai OR 95% CI sebesar 3,624 (1,292-
5,957), artinya responden yang memiliki pemanfaatan kelas ibu hamil yang kurang mempunyai
peluang sebesar 3,624 kali responden memiliki pemeriksaan triple eliminasi yang kurang.
Pada variabel sumber informasi pada responden yang memiliki sumber informasi yang
kurang dengan pemeriksaan triple eliminasi yang kurang yaitu sebanyak 13 orang (76,5%),
sedangkan responden yang memiliki sumber informasi yang baik dengan pemeriksaan triple
eliminasi yang baik yaitu sebanyak 10 orang (76,9%). Hasil analisis Chi-square diperoleh p-value
sebesar 0,009 yang berarti, hal ini menunjukan bahwa adanya hubungan pemanfaatan kelas ibu
hamil dengan pemeriksaan triple eliminasi di Desa Sukaresmi tahun 2022. Diperoleh pula nilai
OR 95% CI sebesar 2,383 (0,674-4,092), artinya responden yang memiliki sumber informasi yang
kurang mempunyai peluang sebesar 2,383 kali responden memiliki pemeriksaan triple eliminasi
yang kurang.
Pada variabel peran bidan desa, menunjukkan bahwa peran bidan desa yang kurang dengan
pemeriksaan triple eliminasi yang kurang yaitu sebanyak 13 orang (72,2%), sedangkan peran

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 129


bidan desa yang baik dengan pemeriksaan triple eliminasi yang baik yaitu sebanyak 9 orang (75%).
Hasil analisis Chi-square diperoleh p-value sebesar 0,024 yang berarti, hal ini menunjukan bahwa
adanya hubungan pemanfaatan kelas ibu hamil dengan pemeriksaan triple eliminasi di Desa
Sukaresmi tahun 2022. Diperoleh pula nilai OR 95% CI sebesar 2,054 (0,389-3,719), artinya peran
bidan desa yang kurang mempunyai peluang sebesar 2,054 kali responden memiliki pemeriksaan
triple eliminasi yang kurang.
Pembahasan
Pemeriksaan Triple Eliminasi
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan, bahwa sebagain besar responden melakukan
pemeriksaan triple eliminasi yang kurang yaitu sebanyak 16 orang (53,3%). Berdasarkan teori
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, bahwa triple elimiasi
merupakan eliminasi penularan adalah pengurangan penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari
ibu ke anak.10
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chasanah, et al., menunjukkan bahwa
dari 69 responden, didapatkan bahwa ibu yang bersedia melakukan pemeriksaan triple eliminasi
yaitu sebanyak 56 orang (81,2%), sedangkan ibu tidak bersedia melakukan pemeriksaan triple
eliminasi yaitu sebanyak 13 orang (18,8%). Tidak ada faktor internal dari ibu hamil yang
mempengaruhi keputusan ibu untuk bersedia atau tidak bersedia melakukan pemeriksaan triple
eliminasi, baik dari karakter (usia, pendidikan, kehamilan, usia kehamilan), sosial ekonomi
(pekerjaan ibu, pekerjaan suami, penghasilan), pengetahuan, motivasi, dan sikap ibu.1
Menurut asumsi peneliti, bahwa pemeriksaan triple eliminasi diwajibkan untuk ibu hamil
untuk mendeteksi secara dini adanya penyakit HIV/AIDS, Sifilis, dan Hepatitis B untuk
menentukan tindakan medis selanjutnya. Dengan adanya tindakan medis yang lebih awal,
setidaknya dapat mengurangi rasa cemas pada ibu hamil. Skrining ini juga dimaksudkan untuk
memberi tambahan informasi kepada ibu hamil tentang HIV/AIDS, Sifilis, dan Hepatitis B, seperti
pengertian, tanda dan gejala, cara pencegahan, dan penularan. Dengan bertambahnya pengetahuan
ibu hamil, maka ibu hamil bisa mengantisipasi kemungkinan kemungkinan yang terjadi. Ibu hamil
juga bisa membagi informasi yang diperoleh kepada orang-orang disekitarnya sehingga setidaknya
bisa membantu menekan angka kejadian HIV/AIDS, Sifilis, dan Hepatitis B, terutama pada ibu
hamil.
Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan, bahwa sebagian besar responden memiliki
pemanfaatan kelas ibu hamil yang kurang yaitu sebanyak 19 orang (63,3%). Berdasarkan teori
Notoatmodjo, bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah interaksi yang kompleks antara
pengguna jasa pelayanan (konsumen) dan penyelenggara jasa pelayanan (provider).(15) Menurut
teori Departemen Kesehatan RI, kelas ibu hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan
jumlah peserta masimal 10 orang.11
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayani dan Mariadi, menunjukkan
bahwa didapatkan responden memiliki keikutsertaan dalam pemanfaatan kelas ibu hamil yang
tidak aktif yaitu sebanyak 65 orang (31,9%), kurang aktif yaitu sebanyak 85 orang (41,7%) dan
aktif yaitu sebanyak 54 orang (26,5%).12

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 130


Menurut asumsi peneliti, bahwa pemanfaatan kelas ibu hamil berperan dalam
meningkatkan pemenuhan standar minimal kunjungan ANC pada ibu hamil terutama dalam
pemeriksaan triple eliminasi. Dalam keikutsertaan kelas ibu hamil dapat menambah pengetahuan
ibu hamil akan pentingnya pemeriksaan triple eliminasi dalam kehamilan dan dapat mengetahui
tanda bahaya dalam kehamilan. Pada kelas ibu hamil bidan selalu menjelaskan kepada ibu
melakukan pemeriksaan triple eliminasi agar dapat melakukan skrinning HIV/AIDS, Sifilis,
Hepatitis B kepada masyarakat khususnya ibu hamil, sehingga kondisi kesehatan ibu dan janin
tetap terjaga serta mencegah dini penularan HIV/AIDS dari ibu ke janinnya.
Sumber Informasi
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan, bahwa sebagian besar responden memiliki
sumber informasi yang kurang yaitu sebanyak 17 orang (56,7%). Berdasarkan teori Taufik, sumber
informasi adalah media yang berperan penting bagi seseorang dalam menentukan sikap dan
keputusan untuk bertindak. Meningkatkan minat ibu hamil mendorong bagi ibu hamil itu sendiri
untuk selalu berusaha mencari informasi dalam berbagai bentuk. Sumber informasi itu dapat
diperoleh dengan bebas mulai dari teman sebaya, buku-buku, film, video, bahkan dengan mudah
membuka situs-situs lewat internet.13
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nainggolan, et al., menunjukkan bahwa
dari 65 responden yang diteliti, menunjukkan bahwa terdapat 25 orang (38,5%) responden yang
mendapatkan informasi tentang skrinning HIV/AIDS secara langsung yaitu dari tenaga kesehatan,
keluarga, dan teman, dengan kategori tidak melakukan skrinning HIV/AIDS sebanyak 18 orang
(27,7%) dan kategori sudah melakukan skrinning HIV/AIDS sebanyak 7 orang (10,8%). Terdapat
40 orang (61,5%) responden yang mendapatkan informasi tentang skrinning HIV/AIDS secara
tidak langsung yaitu dari media cetak (koran, majalah, leaflet, booklet, poster, lembar balik)
dengan kategori tidak melakukan skrinning HIV/AIDS sebanyak 38 orang (58,5%) dan kategori
sudah melakukan skrinning HIV/AIDS sebanyak 2 orang (3,0%).14
Menurut asumsi peneliti, bahwa semakin banyak informasi yang diterima semakin
banyak pengetahuan yang didapat, termasuk pengetahuan tentang pemeriksaan triple eliminasi.
Setiap ibu memiliki perbedaan dalam kemampuan menyimpan informasi yang diterima sehingga
ibu dapat mengingat informasi dengan baik, ibu yang dapat mengingat dengan baik umumnya
mempunyai kemampuan belajar yang baik pula.
Peran Bidan Desa
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan, bahwa sebagian besar peran bidan desa yang
kurang yaitu 18 orang (60%). Berdasarkan teori Prawirohardjo, peran adalah perilaku individu
yang diharapkan sesuai dengan posisi yang dimiliki. Peran yaitu suatu pola tingkah laku,
kepercayaan, nilai dan sikap yang diharapkan dapat menggambarkan perilaku yang seharusnya
diperlihatkan oleh individu pemegang peran tersebut dalam situasi yang umumnya terjadi.15
Menurut Sari, bidan adalah seorang yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan bidan
yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang telah berlaku, dicatat
(registrasi), diberi izin secara sah untuk menjalankan praktek.16
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mardiyah dan Pamungkas, menunjukkan
bahwa peran bidan dalam Triple Eliminasi dengan katagori, bahwa peran provider Triple Eliminasi
dibagi dua kategori yaitu baik dan kurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50 % responden

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 131


menyatakan provider berperan dengan baik dan 50 % responden menyatakan provider kurang
berperan.17
Menurut asumsi peneliti, bahwa bidan desa dapat melakukan pendekaan edukasi pada
suami melibatkan kepala desa, tokoh maasyarakat melalui kegiatan sosial kemasyarakatan seperti
pengajian, dan minilok yang dilakukan setiap triwulan, sehingga suami atau keluarga dapat
memberikan dukungan terhadap ibu seperti, mengantar, mengingatkan ibu untuk memeriksakan
kehamilannya, serta menanyakan hasil dari pemeriksaan kehamilannya. Serta bidan desa dapat
melakukan penyuluhan tentang pentingnya skrinning HIV/AIDS, Sifilis, Hepatitis B, maka
haruslah turut serta melakukan tes pemeriksaan triple eliminasi, dan berkenan membagikan
informasi tentang skrinning HIV/AIDS, Sifilis, Hepatitis B kepada masyarakat khususnya ibu
hamil, sehingga kondisi kesehatan ibu dan janin tetap terjaga serta mencegah dini penularan
HIV/AIDS dari ibu ke janinnya
Hubungan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil dengan Pemeriksaan Triple Eliminasi
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa responden yang memanfaatkan kelas
ibu hamil yang kurang dengan pemeriksaan triple eliminasi yang kurang yaitu sebanyak 15 orang
(78,9%), sedangkan responden yang memanfaatkan kelas ibu hamil yang baik dengan pemeriksaan
triple eliminasi yang baik yaitu sebanyak 10 orang (90,9%). Berdasarkan hasil uji statistik Chi-
Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 ≤ 0,05, berarti adanya hubungan pemanfaatan
kelas ibu hamil dengan pemeriksaan triple eliminasi di Desa Sukaresmi tahun 2022. Berdasarkan
hasil analisis diperoleh pula nilai OR sebesar (95% CI =3,624), artinya responden yang memiliki
pemanfaatan kelas ibu hamil yang kurang mempunyai peluang sebesar 3,624 kali responden
memiliki pemeriksaan triple eliminasi yang kurang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nainggolan, et al., menunjukkan bahwa
nilai p-value sebesar 0,158 > 0,05 yang berarti tidak ada pengaruh antara faktor sarana dan fasilitas
pelayanan kesehatan dengan pelaksanaan skrinning HIV/AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Darul
Aman Kabupaten Aceh Timur Tahun 2020. Fasilitas adalah alat penunjang keberhasilan suatu
proses upaya yang dilakukan di dalam pelayanan masyarakat, karena apabila hal ini tidak tersedia
maka semua pelayanan kegiatan yang dilakukan tidak akan memenuhi target yang diharapkan
sesuai dengan perencanaan. Sebaliknya fasilitas pelayanan yang sudah maksimal namun terlihat
rendahnya kunjungan dari masyarakat yang menggunakan layanan VCT.14
Menurut asumsi peneliti, bahwa pemanfaatan kelas ibu hamil dapat menambah
pengetahuan ibu hamil akan pentingnya pemeriksaan triple eliminasi dalam kehamilan, serta ibu
memahami betapa pentingnya melakukan skrinning HIV/AIDS, Sifilis, Hepatitis B kepada
masyarakat khususnya ibu hamil, sehingga kondisi kesehatan ibu dan janin tetap terjaga serta
mencegah dini penularan HIV/AIDS dari ibu ke janinnya, sehingga ibu mau melakukan
pemeriksaan triple eliminasi.
Hubungan Sumber Informasi dengan Pemeriksaan Triple Eliminasi
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa responden yang memiliki sumber
informasi yang kurang dengan pemeriksaan triple eliminasi yang kurang yaitu sebanyak 13 orang
(76,5%), sedangkan responden yang memiliki sumber informasi yang baik dengan pemeriksaan
triple eliminasi yang baik yaitu sebanyak 10 orang (76,9%). Berdasarkan hasil uji statistik Chi-
Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,009 ≤ 0,05, berarti adanya hubungan sumber

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 132


informasi dengan pemeriksaan triple eliminasi di Desa Sukaresmi tahun 2021. Berdasarkan hasil
analisis diperoleh pula nilai OR sebesar (95% CI =2,383), artinya responden yang memiliki sumber
informasi yang kurang mempunyai peluang sebesar 3,624 kali responden memiliki pemeriksaan
triple eliminasi yang kurang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nainggolan, et al., menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh yang signifikan antara sumber informasi dengan pelaksanaan skrinning
HIV/AIDS pada ibu hamildi Wilayah Kerja Puskesmas Darul Aman Kabupaten Aceh Timur
Tahun 2020 dengan nilai p-value = 0,022 < 0,05. Variabel sumber informasi mempunyai 0,264
artinya responden yang mendapatkan sumber informasi berpeluang 0,2 kali dalam pelaksanaan
skrinning HIV/AIDS dibandingkan responden yang tidak mendapatkan sumber informasi.14
Menurut asumsi peneliti, bahwa ibu hamil yang mendapatkan informasi yang jelas tentang
triple eliminasi dari sumber informasi yang dipercaya akan berdampak pada pengambilan
tindakan. Sumber informasi melalui media agar penyampaian pesan mudah dipahami oleh ibu
dapat berupa leaflet, lembar balik, banner, poster dan lain sebagainya tentang pencegahan
penularan HIV/AID, Hepatitis B, dan Sifilis dari ibu ke janin kesediaan petugas kesehatan dalam
memberi pelayanan konseling dan pendampingan petugas kesehatan dalam pemeriksaan kesehatan
reproduksi di pelayanan kesehatan, jelas sangat mempengaruhi kesediaan ibu hamil dalam
melakukan pemeriksaan triple eliminasi secara sukarela.
Hubungan Peran Bidan Desa dengan Pemeriksaan Triple Eliminasi
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa peran bidan desa yang kurang dengan
pemeriksaan triple eliminasi yang kurang yaitu sebanyak 13 orang (72,2%), sedangkan peran
bidan desa yang baik dengan pemeriksaan triple eliminasi yang baik yaitu sebanyak 9 orang (75%).
Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,024 ≤ 0,05, berarti
adanya hubungan peran bidan desa dengan pemeriksaan triple eliminasi di Desa Sukaresmi tahun
2021. Berdasarkan hasil analisis diperoleh pula nilai OR sebesar (95% CI =2,054), artinya peran
bidan desa yang kurang mempunyai peluang sebesar 2,054 kali responden memiliki pemeriksaan
triple eliminasi yang kurang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nainggolan, et al., menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh yang signifikan antara peran dukungan tenaga kesehatan dengan pelaksanaan
skrinning HIV/AIDS pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Aman Kabupaten Aceh
Timur Tahun 2020 dengan nilai p=0,036 < 0,05. Variabel dukungan tenaga kesehatan 2,156 artinya
responden yang mendapatkan dukungan tenaga kesehatan berpeluang 2,1 kali dalam pelaksanaan
skrinning HIV/AIDS dibandingkan responden yang tidak mendapatkan dukungan tenaga
kesehatan.14
Menurut asumsi peneliti, bahwa peran bidan desa dalam menginformasikan tentang
pemeriksaan triple eliminasi adalah salah satu faktor utama penerimaan tes HIV/AIDS, Sifilis, dan
Hepatitis B pada ibu hamil. Peran tenaga kesehatan yang diharapkan dalam mendukung ibu hamil
dalam melakukan pemeriksaan triple eliminasi salah satunya yaitu pemberian informasi mengenai
pemeriksaan triple eliminasi, saran untuk pemeriksaan dan pemberian rujukan paska pemeriksaan.
Peran bidan desa sangat berpengaruh, sebab bidan desa sering berinteraksi, sehingga pemahaman
terhadap kondisi fisik maupun psikis lebih baik, dengan sering berinteraksi akan sangat
mempengaruhi rasa percaya dan menerima kehadiran bidan desa bagi dirinya, serta edukasi dan

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 133


konseling yang diberikan bidan desa sangat besar artinya terhadap ibu hamil yang memanfaatkan
pelayanan ANC.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di Desa Sukaresmi tahun 2022 ini dapat
disimpulkan, bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan kelas ibu hamil,
sumber informasi, dan peran bidan desa dengan pemeriksaan triple eliminasi di Desa Sukaresmi
tahun 2022.
Konflik Kepentingan
Peneliti menyatakan bahwa penelitian ini independen dari konflik kepentingan individu
dan organisasi
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu seluruh rangkaian proses penelitian ini.
Pendanaan
Penelitian ini di danai oleh dana pribadi
Daftar Pustaka
1. Chasanah, S., Dewanti, L., Anis, W. Pengaruh Faktor Internal Ibu Hamil dalam Melakukan Pemeriksaan
Triple Eliminasi. Original Research Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal. Vol. 5, No. 1 (2021).
2021
2. Asih, N. S. Gambaran Pngetahuan Ibu Hamil Tentang Triple Eliminasi di Puskesmas Gerokgak I Kabupaten
Buleleng. Denpasar: Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar. 2021
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 52 Tahun 2017. Eliminasi Penularan Human
Immuniodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak. Jakarta: KEMENKES RI. 2017
4. World Health Orgainzation. The Triple Elimination of Mother-to-Child Transmission of HIV, Hepatitis B
and Syphilis in Asia and the Pacific, 2018–2030. pp. 2018–2030. 2019
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2020. Jakarta: KEMENKES RI.
2021
6. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Ajak Ratusan Tenaga Kesehatan Se-Kabupaten Bogor Sinergi Eliminasi
HIV AIDS. 2020
7. Dibba, E., Fitriani, D. N., Tampubolon, O. Fundamental of Nursing: Fundamental Keperawatan Jilid 3.
Jakarta: Elsevier Ltd. 2018
8. Fauziani, Nadapdap, T., Safitri, M. E. Faktor–faktor yang Mempengaruhi Ibu Hamil dalam Pemeriksaan HIV
di Puskesmas Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur Tahun 2020. Journal of Healthcare Technology and
Medicine. Vol. 7, No. 1 (2021). 2021
9. Notoatmodjo, S. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 2018
10. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman Nasional Penanganan
Infeksi Menular Seksual. Kesmas: National Public Health Journal. doi: 351.077 Ind R. 2021
11. Departmen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil. Jakarta: DEPKES RI.
2018
12. Mariadi, Y. T. dan Hidayani. Penggunaan Buku KIA, Keikutsertaan Kelas Ibu Hamil, Penggunaan Teknologi
Informasi, dan Peran Bidan dengan Pemenuhan Standar Minimal Kunjungan ANC pada Ibu Hamil. Journal
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju. Vol. 9, No.1. 2019
13. Taufik, A. Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Jakarta: Rajawali Press. 2018

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 134


14. Nainggolan, A. W., Lumbanraja, S., Sibero, J. T. Faktor yang Mempengaruhi Skrinning HIV/AIDS pada Ibu
Hamil di Puskesmas Darul Aman Kabupaten Aceh Timur Tahun 2020. Journal of Healthcare Technology
and Medicine. Vol. 7, No. 1. 2021
15. Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2018
16. Sari, R. N. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2018
17. Mardiyah, S., Pamungkas, C. E. Partisipasi Bidan dalam Implementasi Program Triple Eliminasi HIV, Sifilis,
dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak di Pulau Lombok. Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan.
Vol. 12, No. 1. 2021

IJMS pISSN:2798-4966 | pISSN:2798-4958 Nomor: 04 Volume: 01 Tahun 2022 135

Anda mungkin juga menyukai