18
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Strategi
1. Pengertian Strategi
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis besar
haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah di
tentukan16. Namun jika di hubungkan dengan belajar mengajar, strategi
bisa di artikan sebagai pola umum kegiatan guru murid dalam perwujudan
belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah di gariskan. 17
Strategi dasar dari setiap usaha meliputi 4 masalah, yaitu :
1) Pengidentifikasian dan penetapan spesifikasi dan kualifikasi yang
harus di capai dan menjadi sasaran usaha tersebut dengan
mempertimbangkan aspirasi masyaraklat yang memerlukanya.
2) Pertimbangan dan penetapan pendekatan utama yang ampuh untuk
mencapai sasaran
3) Pertimbangan dan penetapan langkah langkah yang di tempuh sejak
awal sampai akhir.
4) Pertimbangan dan penetapan tolak ukur dan ukuran buku yang akan di
gunakan untuk menilai keberhasilan usaha yang di lakukan. 18
16
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka
Cipta, 1997), hal. 5
17
Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetyo, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: Pustaka
Setia, 1997), hal. 11
18
Ibid., hal. 12.
18
19
Dari keempat poin yang di sebuttkan di atas bila ditulis dengan
bahasa yang sederhana, maka secara umum hal yang harus diperhatikan
dalam strategi dasar yaitu; Pertama menentukan tujuan yang ingin di capai
dengan mengidentifikasi, penetapan spesifikasi, dan kualifikasi hasil yang
harus di capai. Kedua, melihat alat alat yang sesuai di gunakan untuk
mencapai tujuan yang telah di tentukan. Ketiga, menentukan langkah
langkah yang di gunakan untuk mencapai tujuan yang telah di rumuskan,
dan yang keempat, melihat alat untuk mengevaluasi proses yang telah di
lalui untuk mencapai tujuan yang ingin di capai.
Kalau di terapkan dalam konteks pendidikan, keempat strategi
dasar tersebut bisa di terjemahkan menjadi:
a. Mengidentifikasi serta menetapakan spesifikasi dan kualifikasi
perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang
di harapkan.
b. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan
pandangan hidup masyarakat.
c. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar
mengajar yang di anggap paling tepat dan efektif, sehingga dapat di
jadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
d. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau
kriteria serta standar keberhasilan, sehingga dapat di jadikan pedoman
oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar
yang evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan
20
di jadikan umpan balik buat penyempurnaan system instruksional
yang bersangkutan secara keseluruhan.19
Menurut Crown Dirgantoro, strategi dibagi ke dalam tiga tahapan
yaitu:
a. Formulasi Strategi
Pada tahapan ini penekanan lebih diberikan kepada aktivitas-aktivitas
utama antara lain adalah menyiapkan strategi alternative, pemilihan
strategi, menetapkan strategi yang akan digunakan.
b. Implementasi Strategi
Tahap ini adalah tahapan dimana strategi yang telah diformulasikan
tersebut kemudian diimplementasikan. Pada tahap implementasi ini
beberapa aktivitas atau cakupan kegiatan yang mendapat penekanan
antara lain adalah menetapkan tujuan, menetapkan kebijakan,
memotivasi, mengembangkan budaya yang mendukung, menetapkan
struktur organisasi yang efektif, mendayagunakan sistem informasi.
c. Pengendalian Strategi
Untuk mengetahui atau melihat sejauh mana evektifiitas dari
implementasi strategi, maka dilakukan tahapan berikutnya, yaitu
evaluasi strategi yang mencakup aktivitas-aktivitas utama antara lain
adalah review factor eksternal dan internal yang merupakan dasar dari
19
Syaiful Bahri Djamarah,. Guru dan Anak Didik Dalam Intreraksi Edukatif, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2005), hal. 5
21
strategi yang sudah ada, menilai performance strategi, malakukan
langkah koreksi20.
Dalam pelaksanaan pembelajaran peserta didik diharapkan
mengerti dan paham tentang strategi pembelajaran. Pengertian strategi
pembelajaran dapat dikaji dari dua kata bentuknya, yaitu strategi dan
pembelajaran. Kata strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber
daya untuk mencapai tujuan tertentu.21
Penggunaan strategi dalam pembelajaran sangat perlu digunakan,
karena untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat
mencapai hasil yang optimal. Tanpa startegi yang jelas, proses
pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan sulit tercapai secara optimal, dengan kata lain pembelajaran
tidak dapat berlangsung secara efektif dan efisien. strategi pembelajaran
sangat berguna bagi guru lebih-lebih bagi peserta didik. Bagi guru, strategi
dapat dijadikan pedoman dan acuan bertindak yang sistematis dalam
pelaksanaan pembelajaran. Bagi peserta didik atau santri, pengguna
strategi pembelajaran dapat mempermudah proses belajar (mempermudah
dan mempercepat memahami isi pembelajaran), karena setiap strategi
pembelajaran dirancang untuk mempermudah proses belajar bagi peserta
didik.
2. Strategi Belajar Mengajar Menurut Konsep Islam
20
Crown Dirgantoro, Manajemen Strategik - Konsep, Kasus, dan Implementasi, (Jakarta:
Grasindo, 2001), hal. 13-14.
21
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual
Operasional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hal. 2
22
Strategi belajar mengajar menurut konsep Islam pada dasarnya
adalah sebagai berikut:
a. Proses belajar mengajar dilandasi dengan kewajiban yang dikaitkan
dengan niat karena Allah SWT.
Kewajiban seorang guru dalam menilai tujuan dan
melaksanakan tugas mengajar ilmu seharusnya dengan niat untuk
mendekatkan diri kepada Allah semata-mata, dan hal ini dapat
dipandang dari dua segi, yaitu:
1) Sebagai tugas kekhalifahan dari Allah
Pada dasarnya setiap manusia yang terlahir kedunia ini
mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi. Dengan akal
yang di anugerahkan padanya, manusia lebih memiliki banyak
kesempatan untuk menata dunia. Akal akan berfungsi dengan baik
dan maksimal, bila dibekali dengan ilmu.
2) Sebagai pelaksanaan ibadah dari Allah
“Menjadi guru berdasarkan tuntutan pekerjaan adalah suatu
hal yang mudah”, namun bila semua itu tidak didasari semata-mata
untuk mendapat ridho Allah, maka bisa jadi pekerjaan tersebut
yang sebenarnya mudah menjadi sebuah beban bagi pelakunya.
Dengan orientasi mendapatkan ridho Allah, maka mengajar bisa
menjadi salah satu bagian ibadah kepada Allah. 22
22
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak didik dalam Interaksi Edukatif..., hal. 2.
23
Suatu pekerjaan bila diniatkan ibadah kepada Allah, insya
Allah akan memiliki nilai yang lebih mulia daripada bekerja hanya
berorientasi material/penghasilan.
b. Konsep belajar mengajar harus dilandasi dengan niat ibadah.
Landasan ibadah dalam proses belajar mengajar merupakan
amal shaleh, karena melalui peribadatan, banyak hal yang dapat
diperoleh oleh seorang muslim (guru dan murid) yang kepentinganya
bukan hanya mencakup individual, melainkan bersifat luas dan
universal.
Pendidikan yang disertai dengan ibadah adalah sebagai berikut:
1) Religious skill people
Religious skill people yaitu insan yang akan menjadi
tenaga-tenaga terampil (sekaligus mempunyai iman yang teguh dan
utuh). Religiusitasnya diharapkan terefleksi dalam sikap dan
prilaku, dan akan mengisi kebutuhan tenaga di berbagai sector
ditengah-tengah masyarakat global.
2) Religiusitas community leader
Religiusitas community leader yaitu insan yang akan
menjadi penggerak dinamika transformasi sosial cultural, sekaligus
menjadi penjaga gawang terhadap akses masyarakat, terutama
golongan the silent majority, serta melakukan kontrol atau
pengadilan sosial (sosial control) dan reformer.
24
Dengan ilmu yang diperoleh dibangku sekolah terutama
tentang ilmu akhlak sudah selayaknya orang berpendidikan bisa
memilah budaya mana yang seharusnya dihindari, seorang yang
berpendidikan seharusnya mampu menjadi suri tauladan bahkan
pelopor untuk menjadi insan yang baik.
3) Religiusitas intellectual
Religiusitas intellectual yaitu insan yang mempunyai
intregritas, istiqomah, cakap melakukan analisis ilmiah serta
concern terhadap masalah-masalah sosial dan budaya.
Agama Islam adalah agama yang mengajarkan pada
umatnya untuk tidak mempelajari yang ada di sekitar ini secara
tekstual saja, tetapi juga secara kontekstual. Misalnya dalam
masalah Shalat berjamaah, secara tekstual hukumnya wajib, namun
secara kontekstual dengan berjamaah akan tercipta kerukunan,
persatuan, dan persamaan, sehingga dengan shalat berjamaah
terdapat hablu minallah dan hablu minannas.
c. Di dalam proses belajar mengajar harus saling memahami posisi guru
sebagai guru dan murid sebagai murid.
Pendidikan hakikatnya adalah bapak rohani (spirititual father)
bagi anak didiknya yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu,
pembinaan akhlak mulia, sekaligus meluruskanya. Seorang Guru harus
bisa menjadi suri tauladan bagi murid dan murid harus patuh pada guru
25
di samping tetap bersikap kritis, karena guru pun juga manusia yang
bisa lupa dan salah.
Dalam pengelola belajar mengajar, guru dan murid memegang
peranan penting. Fungsi murid dalam interaksi belajar mengajar adalah
sebagai subyek karena murid lah yang menerima pelajaran dari guru.
Jika tugas pokok guru adalah mengajar maka tugas pokok muruid
adalah belajar.
d. Harus menciptakan komunikasi yang seimbang, komunikasi yang
jernih dan komunikasi yang transparan. Tujuan pendidikan itu tidak
akan tercapai jika proses belajar mengajar tidak seimbang. 23
B. Tinjauan Tentang Kedisiplinan Beribadah
1. Pengertian Kedisiplinan dan Ibadah
Kedisiplinan beribadah terdiri dari dua kata yaitu “disiplin” dan
“ibadah”. Secara etimologi, kata disiplin berasal dari bahasa latin, yaitu
disciplina dan discipulus yang berarti perintah dan murid. Jadi, disiplin
adalah perintah yang diberikan oleh orang tua kepada anak atau guru
kepada murid. Perintah tersebut diberikan kepada anak atau murid agar ia
melakukan apa yang diinginkan oleh orang tua atau guru. Webster’s New
World Dictionary, Disiplin sebagai latihan untuk mengendalikan diri,
karakter dan keadaan secara tertib serta efisien. Sementara dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, terdapat tiga arti disiplin, yaitu tata tertib,
ketaatan, dan bidang studi. Tata tertib merupakan peraturan yang harus
23
Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung:
Refika Aditama, 2007), hal. 127
26
ditaati. Jika ada yang tidak mentaatinya, si pelanggar akan mendapatkan
hukuman. Itulah sebabnya orang pada umumnya sering mengaitkan
antara disiplin dengan peraturan dan hukuman.24
Seperti yang dikemukakan oleh Conny R. Semiawan yang dikutip
oleh Ngainun Naim,
Disiplin merupakan pengaruh yang dirancang untuk membantu anak
yang mampu menghadapi lingkungan. Disiplin tumbuh dari
kebutuhan menjaga keseimbangan antara kecenderungan dan
keinginan individu untuk berbuat agar memperoleh sesuatu, dengan
pembantasan atau peraturan yang diperlukan oleh lingkungan
terhadap dirinya. 25
Sedangkan menurut Ahmad Fauzi Tidjani yang dikutip oleh
Ngainun Naim,
Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan
suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada
keputusan, perintah, dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain,
disiplin adalah sikap mentaati peraturan dan ketentuan yang telah
ditetapkan tanpa pamrih. 26
Disamping mengandung arti taat dan patuh terhadap peraturan,
disiplin juga mengandung arti kepatuhan kepada pemimpin, perhatian
dan dan kontrol yang kuat terhadap penggunaan waktu, tanggung jawab
atas tugas yang diamanahkan, serta kesungguhan terhadap bidang
keahlian yang ditekuni. Islam mengajarkan agar benar-benar
memerhatikan dan mengaplikasikan nilai-nilai kedisiplinan dalam
24
Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter ..., hal. 41-42
25
Ngainun Naim, Character Building, (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2012), hal. 142
26
Ibid
27
kehidupan sehari-hari untuk membangun kualitas kehidupan masyarakat
yang lebih baik. 27
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan pengertian kedisiplinan
yaitu sikap kapatuhan dan ketaatan dalam menjalankan suatu perintah
atau peraturan yang telah ditetapkan secara rutin melalui tahap tertentu.
Sedangkan pengertian ibadah secara bahasa berarti: taat, tunduk,
turut, mengikuti, dan do’a. Bisa diartikan menyembah, sebagaimana
disebut dalam firman Allah QS. Al-Dzariyat : 56
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku.28
Sedangkan banyak para Ahli yang berpendapat tentang pengertian
ibadah menurut sudut pandang mereka. Menurut Hasby Ash Shiddieqy
ibadah adalah segala taat yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan
Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat.29
Sedangkan menurut Drs. H. Abu Ahmadi,
Ibadah berarti mencakup perilaku dalam sebuah aspek kehidupan yang
sesuai dengan ketentuan Allah SWT yang dilakukan dengan ikhlas
untuk mendapatkan ridha Allah SWT.30
27
Ibid, hal. 143
28
Departemen agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya..., hal. 756
29
Hasby Ash Shiddiqy, Kuliah Ibadah, (Semarang,: PT. Pustaka Rizki Putra, 2000), cet
ke-1, hal. 5
30
Abu Ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2008), hal. 240
28
Ibadah dalam pengetian inilah yang dimaksud dengan tugas hidup
manusia. Dalam pengertian khusus, ibadah adalah perilaku manusia yang
dilakukan atas perintah Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah
SAW, atau disebut ritual, seperti : shalat, zakat, puasa dan lain-lain.
Bahwa semua perbuatan itu secara psikologis merupakan kondisioning
yang bersifat kejiwaan maupun lahir yang dapat dilandasi atau memberi
corak kepada semua perilaku lainnya. 31
Adapun pengertiannya menurut istilah Agama Islam seperti yang
dikutip oleh Moh Ardani adalah sebagai berikut:
a. Menyatakan ketundukan dan kepatuhan sepenuhnya dengan disertai
rasa kekhidmatan yakni bersikap khidmat terhadap yang dipuja,
dengan segenap jiwa raga yang diliputi oleh rasa kekuasaan dan
keagungan-Nya dan senantiasa memohon rahmat dan karuniaNya.
b. Selanjutnya menurut ilmu fikih ibadah ialah amal perbuatan hamba
Allah yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsunya karena
melalaikan keagungan Tuhannya.32
Selain pengertian ibadah di atas, menurut Prof. H. Mohammad
Daud Ali ibadah menurut bahasa bararti taat, tunduk, turut, ikut dan
do’a. Ibadah dalam makna taat atau mentaati (perintah) Allah telah
dijelaskan secara rinci dalam Al Qur’an surat Yasin ayat 60 sebagai
berikut:33
31
Ibid.
32
Moh. Ardani, Fikih Ibadah Praktis, (Jakarta: PT. Mitra Cahaya Utama), Cet-1, hal. 16
33
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2002). Cet ke-4, hal. 244
29
Artinya: Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani
Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.34
Ibadah sering diartikan sebagai menyembah Tuhan. Bagaimana
cara manusia menyembah Allah, Allah lah yang memberikan petunjuk,
berupa Al Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, dan
berupa contoh suri tauladan dalam diri Nabi Muhammad, yang diutus
oleh Allah SWT (Rasulullah). Al Quran menentukan bahwa manusia
wajib shalat, berpuasa, berzakat, dan berhaji, dan banyak lagi perintah
Allah dan larangannya. Ibadah yang ditentukan dalam Al Quran, yang
disebut nash Al Quran disebut pula ibadah syar‟i seperti shalat, puasa.
Di samping itu Rasulullah memberikan pula petunjuk contoh beribadah
yang tidak ditetapkan dalam Al Quran seperti shalat sunnah, puasa
sunnah, dan sebagainya. Yang disebut ibadah sunnah, ibadah yang
langsung berhubungan dengan Allah, sering disebut ibadah ritual,
sedangkan yang berdampak langsung kepada kepentingan masyarakat
seperti zakat, infaq, dan sodaqoh sering disebut ibadah sosial.
Dalam hal ini Ibnu Taimiyah dalam Sidiq Dkk, merumuskan
bahwa ibadah menurut syara’ yaitu “tunduk dan cinta”, artinya tunduk
34
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya..., hal. 631
30
mutlak kepada Allah yang disertai cinta sepenuhnya kapada-Nya. Oleh
karena itu unsur-unsur ibadah yaitu:
a. Taat dan Tunduk kapada Allah
Artinya merasa berkewajiban melaksanakan segala perintah dan
meninggalkan laranganAllah yang dibawakan oleh Rasulnya.
b. Cinta kepada Allah
Bahwasanya rasa wajib, taat dan tunduk itu timbul dari hati yang
cinta kepada Allah yakni ketundukan jiwa dari hati yang penuh
kecintaan pada Allah, dan merasa kebesaranNya, karena memiliki
keyakinan bahwa Allah yang menciptakan Alam semesta dan isinya.
Ibadah merupakan himpunan kesempurnaan cinta, tunduk dan takut
kepada Allah. 35
Manusia yang telah menyataan dirinya sebagai muslim, dituntut
untuk senantiasa melaksanakan ibadah sebagai pertanda keikhlasan
mengabdikan diri kepada Allah Swt. Tanpa adanya ketaatan beribadah,
berarti pengakuannya sebagai muslim diragukan dan dipertanyakan.
Dalam syariat Islam diungkapkan bahwa tujuan akhir dari semua
aktivitas hidup manusi adalah pengabdian kepada Allah, sebab Dialah
wujud yang kreatif, yang telah menciptakan manusia dan alam. Sebagai
Rabb bagi manusia, Allah tidak membebankan kewajiban beribadah
diluar batas kemampuan manusia itu sendiri. Melaksanakan satu perintah
Allah saja sudah dinilai ibadah, sebab tidak satupun anjuran dan perintah-
Nya yang tidak bernilai ibadah. 36
Dari pengertian para ahli dan dari penjelasan diatas terdapat
kesamaan mengenai pengertian ibadah yaitu amal perbuatan yang
dilakukan sebagai wujud penghambaan, ketaatan, pengabdian dalam
35
Tono Sidik dkk, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, (Yogyakarta:UII Press, 1998), hal.51
36
Chabib Thoha et. al., Metodologi Pengajaran Agama..., hal. 187
31
mengerjakan segala perintah Allah dengan mengharap ridha-Nya.
Sebagai seorang muslim, sudah menjadi kewajibannya untuk selalu
beribadah kepada sang Pencipta.
Jadi pengertian kedisiplinan beribadah adalah menjalankan
kewajiban dengan tertib sebagai wujud kepatuhan atau ketaatan
seseorang dalam menjalankan perintah Allah sesuai dengan waktu yang
telah ditetapkan dengan penuh rasa tanggung jawab dan mengharap ridha
Allah Swt.
Mendidik kedisiplinan pada anak merupakan proses yang
dilakukan oleh orang tua dan guru sepanjang waktu. Oleh karena itu,
disiplin harus dilakukan secara kontinu dan istiqamah. Disiplin yang
dilakukan secara kontinu dan istiqamah akan membentuk suatu kebiasaan
sehingga seorang individu akan dengan mudah untuk melakukannya.
Misalnya, jika seorang anak selalu dididik untuk bangun jam 5 pagi
setiap hari untuk melaksanakan sholat subuh, hal itu akan menjadi
kebiasaan dan ia tidak akan merasa berat untuk melakukannya. 37
Jadi, penanaman kedisiplinan beribadah pada anak tidak bisa
dilakukan secara cepat, melainkan membutuhkan proses yang panjang
agar kedisiplinan tersebut benar-benar melekat kepada diri anak dan bisa
menjadi kebiasaan bagi dirinya.
37
Ngainun Naim,Character Building..., hal.42-43
32
2. Tujuan Kedisiplinan Beribadah
Tujuan disiplin bukan untuk melarang kebebasan atau
mengadakan penekanan, melainkan memberikan kebebasan dalam batas
kemampuannya untuk dikelola oleh anak. Sebaliknya kalau berbagai
larangan itu amat ditekankan kepadanya, ia akan merasa terancam dan
frustasi serta memberontak, bahkan akan mengalami rasa cemas yang
merupakan suatu gejala yang kurang baik dalam pertumbuhan
seseorang. 38
Tujuan mendisiplinkan adalah mengajarkan kepatuhan. Ketika
kita melatih anak untuk mengalah, kita sedang mengajar mereka
melakukan sesuatu yang benar untuk alasan yang tepat. Pada awalnya,
disiplin yang terbentuk bersifat eksternal (karena diharuskan orant tua/
lingkungan luar), tetapikemudian menjadi sesuatu yang internal, menyatu
kedalam kepribadian anak sehingga disebut sebagai disiplin diri. 39
Menurut Maman Rachman yang dikutip oleh Ngainun Naim,
Tujuan disiplin sekolah adalah pertama, memberi dukungan bagi
terciptanya perilaku yang tidak menyimpang. Kedua, mendorong
siswa melakukan yang baik dan yang benar. Ketiga, membantu siswa
memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya
dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah.
Keempat, siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik
dan bermanfaat baginya serta lingkungannya.40
38
Conny R. Semiawan, Penerapan Pembelajaran Pada Anak, (Jakarta: PT. Indeks,
2009), hal.92
39
Ngainun Naim, Character Building..., hal. 145
40
Ibid, hal.147-148
33
Menurut pendapat Prof. Dr. Conny R. Semiawan tentang
penerapan disiplin di sekolah yaitu:
Sekolah yang memperlakukan peraturan terlalu ketat tanpa
meletakkan kualitas emosional yang dituntut dalam hubungan
interpersonal antar guru akan menimbulkan rasa tak aman,
ketakutan, serta keterpaksaan dalam perlkembangan anak. Tetapi
sebaliknya, sekolah yang dapat memperlakukan peraturan secara rapi
yang dilandasi oleh kualitas emosional yang baik dalam hubungan
guru dan murid atau manusia lainnya, akan menghasilkan ketaatan
yang spontan. 41
Sedangkan tujuan dari pengajaran ibadah yang dilakukan oleh
guru, orang tua, ustadz maupun kyai sebenarnya sama, yakni agar murid
atau peserta didik dapat:42
a. Mengetahui teori (aspek kognitif) tentang ibadah yang diajarkannya.
Dalam hal ini yang perlu mendapat perhatian guru adalah
pengetahuan peserta didik melalui proses pentahapan, berjenjang,
tidak langsung jadi pintar. Intinya, pengajaran harus diawali hal-hal
yang elementer (dasar), dengan menggunakan pendekatan
ketrampilan proses, agar tujuan pengajaran lebih bisa diterima dan
dipahami oleh peserta didik. Setelah pengetahuan dasar ini tercapai,
baru melangkah kepada materi selanjutnya.
b. Mengamalkan (aspek psikomotorik-skill) yaitu ketrampilan
menjalankan ibadah yang diajarkan. Setelah mengetahui suatu teori,
lebih-lebih pengetahuan tentang ibadah, diharapkan peserta didik
mengamalkan dengan baik. Bentuk pengamalan ibadah ini, misalnya
41
Conny R. Semiawan, Penerapan Pembelajaran..., hal. 92-93
42
Chabib Thoha et. all., Metodologi Pengajaran..., hal. 183-185
34
ditandai dengan terampil dan hafal dalam melafadzkan bacaan
shalat, gerakan shalat, gerakan-gerakan dalam shalat sudah benar,
mendirikan shalat secara rutin, shalat berjamaah, dan lain-lain.
c. Apreasiatif terhadap ibadah (aspek afektif). Pada tahap ini,
diharapkan peserta didik mempunyai sikap apresiatif (menghargai)
dan senang serta merasa bahwa shalat merupakan kebutuhan
spiritual rohaninya, bukan semata-mata merupakan perbuatan yang
hanya menjadi beban atau menggugurkan kewajibannya. Pada tahap
ini diharapkan peserta didik mampu menjadikan ibadah sebagai
bagian integral dari hidup dan kehidupannya, ada kristalisasi dan
internalisasi nilai shalat dalam dirinya, serta shalat yang dilakukan
mampu menjiwai perilakunya, menghiasi dirinya dengan amalan
shaleh, mencegah segala bentuk kemungkaran, dan sebagainya.
Jadi, tujuan dalam menerapkan disiplin pada peserta didik itu
bukan untuk menekan atau mengekang mereka, tapi memberikan
kebebasan kepada mereka dengan batasan-batasan tertentu untuk mereka
berkembang sesuai dengan kemampuannya. Disiplin melatih anak untuk
memiliki sikap patuh. Adapun tujuan dari kedisiplinan beribadah yaitu
menanamkan sikap kepatuhan kepada siswa agar mempunyai sikap
ketaatan dan ketekunan dalam menjalankan perintah agamanya dan dapat
melaksanakan ibadah dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat pada
waktunya.
35
3. Faktor Yang Mempengaruhi Kedisiplinan Beribadah
Dalam melaksanakan suatu kegiatan sering kali terdapat faktor-
faktor yang mempengaruhinya, baik itu faktor pendukung maupun
penghambat keberhasilan atau kelancaran pencapaian tujuan tersebut.
Pada dasarnya ada dua dorongan yang mempengaruhi
kedisiplinan, yaitu:43
a. Dorongan yang datang dari dalam diri manusia yaitu dikarenakan
adanya pengetahuan, kesadaran, keamanan untuk berbuat disiplin.
b. Dorongan yang datangnya dari luar yaitu karena adanya perintah,
larangan, pengawasan, pujian, ancaman, hukuman dan sebagainya.
Jadi faktor utama yang mempengaruhi kedisiplinan beribadah
seseorang yaitu berawal dari kesadaran diri. Hal ini sangat penting karena
tanpa adanya kesadaran dalam diri siswa untuk berlaku disiplin, maka
sulit bagi seorang guru untuk menanamkan kedisiplinan dalam diri siswa
tersebut. Selain itu, guru juga harus bekerjasama dengan pihak-pihak
sekolah yang lain untuk melakukan pengawasan dan mengontrol setiap
tingkah laku peserta didik.
4. Prinsip Kedisiplinan Beribadah
Untuk meningkatkan disiplin perlu diperhatikan prinsip-prinsip
disiplin, menurut Heru Subekti, sebagai berikut:
a. Perilaku positif dari pemimpin
Untuk dapat menjalankan disiplin yang baik dan benar, seorang
pemimpin harus dapat menjadi role model/ panutan bagi
43
Conny R. Semiawan, Penerapan Pembelajaran..., hal. 95
36
bawahannya. Oleh karena itu seorang pemimpin harus dapat
mempertahankan perilaku yang positif sesuai dengan harapan.
b. Perilaku yang cermat yaitu dengan mengumpulkan data dan
informasi secara formal dari rangkain pelanggaran yang di lakukan
oleh anggota.
c. Kesegeraan mengatasi masalah yaitu kesegeraan dalam mengatasi
pelanggaran dengan cara yang bijaksana.
d. Perlindungan kerahasiaan pelanggaran yang dilakukan oleh
anggota/staf, karena dapat mempengaruhi masa depan mereka.
e. Fokus pada masalah.
f. Peraturan dijalankan secara konsisten.
g. Disiplin yang fleksibel, tindakan disipliner ditetapkan apabila seluruh
informasi tentang anggota yang telah dianalisa dan dipertimbangkan.
Hal yang menjadi pertimbangan antara lain adalah tingkat
kesalahannya, prestasi pekerjaan yang lalu meningkat
kemampuannya dan pengaruhnya terhadap organisasi.
h. Mengandung nasehat yaitu dengan menjelaskan secara bijaksana
bahwa pelanggaran yang dilakukan tidak dapat diterima.
i. Tindakan konstruktif.
j. Follow up (evaluasi).44
Pimpinan harus secara cermat mengawasi dan menetapkan,
apakah perilaku bawahan sudah berubah, pimpinan harus melihat
kembali penyebabnya dan mengevaluasi kembali batasan akhir tindakan
indisipliner.
Adapun prinsip-prinsip disiplin menurut Manullang, adalah:
a. Hukuman disiplin hendaknya bersifat membangun
b. Hukuman disiplin dilakukan atas dasar penilaian yang objektif
c. Hukuman disiplin dijatuhkan tepat pada waktunya dan jangan
sampai kadaluarsa.
d. Pendisiplinan dilakukan secara pribadi
e. Keputusan hukuman jabatan hendaknya benar-benar dilaksanakan
dengan penuh pertimbangan dan kebijaksanaan
f. Pimpinan hendaknya tetap bertindak dan bersikap wajar setelah
pelaksanaan hukuman disiplin diberikan
g. Berilah kesan-kesan yang bersifat positif sehingga yang
bersangkutan merasa adanya penyesalan dan kesadaran atas dasar
perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. 45
44
Ibid.,
45
Manullang, Manajemen Personalia, (Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia, 1987), hal. 86
37
Dari prinsip-prinsip diatas maka dapat disimpulkan bahwa
dengan pendekatan yang positif dari guru, setiap siswa akan menerima
secara sadar tanggung jawabnya dalam melaksanakan aturan tentang
disiplin beribadah yang telah diterapkan.
5. Macam-Macam Ibadah
Dalam kaitan dengan tujuan disyariatkannya, ulama’ fiqih
membagi ibadah menjadi tiga macam, yaitu 1) ibadah mahdah, 2) ibadah
ghairu mahdah, 3) ibadah zi al-wahjain.
a. Ibadah mahdah adalah ibadah yang mengandung hubungan dengan
Allah SWT semata-mata, yakni hubungan vertikal. Ibadah ini hanya
sebatas pada ibadah-ibadah khusus. Ciri-ciri ibadah mahdah adalah
semua ketentuan dan aturan pelaksanaannya telah di tetapkan secara
rinci melalui penjelasan-penjelasan Al-Qur’an atau hadits. Ibadah
mahdah dilakukan semata-mata bertujuan untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT.
b. Ibadah Ghairu Mahdah, ialah ibadah yang tidak hanya sekedar
menyangkut hubungan dengan Allah Swt, tetapi juga berkaitan
dengan sesama makhluk (habl min Allah wa habl min an-nas), di
samping hubungan vertikal juga ada hubungan horizontal. Hubungan
sesama makhluk ini tidak hanya terbatas pada hubungan antar
manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungannya.
c. Ibadah zi al-wajhain adalah ibadah yang memiliki dua sifat
sekaligus, yaitu mahdah dan ghair mahdah. Maksudnya adalah
sebagian dari maksud dan tujuan persyariatannya dapat diketahui,
seperti nikah dan iddah. 46
Menurut Muhammad Daud Ali jika ditinjau segi ruang
lingkupnya, ibadah dibagi menjadi dua yaitu:
a. Ibadah khusus (khassah) yang disebut juga ibadah mahdah yaitu
ibadah yang ketentuan pelaksanaannya sudah pasti ditetapkan oleh
Allah dan dijelaskan oleh Rasul-Nya. Seperti shalat, puasa, zakat,
dan haji.
46
Enslikopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1999), cet. ke-3, hal. 592-
594
38
b. Ibadah umum (‘ammah) yakni semua perbuatan yang mendatangkan
kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain, diniatkan ikhlas karena
Allah Swt. Contohnya: belajar, mencari nafkah, menolong orang
susah dan sebagainya. 47
Menurut Hasby Ash Shiedieqy berdasarkan bentuk dan sifatnya,
ibadah dibagi menjadi enam macam, yaitu:
a. Ibadah-ibadah yang berupa perkataan dan ucapan lidah, seperti
tasbih, tahmid, tahlil, takbir, do’a, membaca hamdalah oleh orang
yang bersin, memberi salam, menjawab salam, membaca basmalah
ketika makan, minum dan menyembelih binatang, membaca Al-
Qur’an dan lain-lain.
b. Ibadah-ibadah yang berupa perbuatan yang tidak disifatkan dengan
sesuatu sifat, seperti berjihad dijalan Allah, membela diri dari
gangguan, menyelenggarakan urusan jenazah.
c. Ibadah-ibadah yang berupa menahan diri mengerjakan sesuatu
pekerjaan, seperti puasa, yakni menahan diri dari makan, minum dan
dari segala yang merusak puasa.
d. Ibadah-ibadah yang melengkapi perbuatan dan menahan diri dari
segala sesuatu pekerjaan, seperti i’tikaf (duduk didalam sesuatu
rumah dari rumah-rumah Allah), serta menahan diri jimai dan
mubasyarah, haji, thawaf, wukuf di Arafah, ihram, menggunting
rambut, mengerat kuku, berburu, menutup muka oleh para wanita
dan menutup kepala oleh orang laki-laki.
e. Ibadah-ibadah yang bersifat menggugurkan hak, seperti
membebaskan orang-orang yang berhutang, memaafkan kesalahan
orang, memerdekakanbudak untuk kaffarat.
f. Ibadah-ibadah ynag melengkapi perkataan, pekerjaan, khusyuk
menahan diri dari berbicara dan dari berpaling lahir dan batin untuk
menghadapi-Nya. 48
Dilihat dari segi fasilitas yang dibutuhkan untuk mewujudkannya,
ibadah dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a. Ibadah badaniyyah ruhiyyah mahdah, yaitu suatu ibadah yang untuk
mewujudkannya hanya dibutuhkan kegiatan jasmani dan rohani saja,
seperti shalat dan puasa.
b. Ibadah maliyyah, yakni ibadah yang mewujudkannya dibutuhkan
pengeluaran harta benda, seperti zakat.
47
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam..., hal. 247
48
Hasby Ash Shiedieqy, Kuliah Ibadah..., hal. 19
39
c. Ibadah badaniyyah ruhiyyah maliyyah, yakni suatu ibadah yang
untuk mewujudkannya dibutuhkan kegiatan jasmani, rohani dan
pengeluaran harta kekayaan, seperti haji. 49
Dari segi sasaran manfaat ibadah dapat dibagi menjadi dua
macam:
a. Ibadah keshalehan perorangan (fardiyyah), yaitu ibadah yang hanya
menyangkut diri pelakunya sendiri, tidak ada hubungannya dengan
orang lain, seperti shalat.
b. Ibadah keshalehan kemasyarakatan (ijtimaiiyyah), yaitu ibadah yang
memiliki keterkaitan dengan orang lain, terutama dari segi
sasarannya. Contohnya yaitu sedekah dan zakat. Di samping
merupakan ibadah kepada Allah, juga merupakan ibadah
kemasyarakatan, sebab sasaran dan manfaat ibadah tersebut akan
menjangkau orang lain. 50
6. Ruang Lingkup Ibadah
Beribadah kepada Allah adalah tugas dan tanggung jawab kita
sebagai seorang hamba, yang harus dilaksanakan dengan mengikuti
tuntunan dan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya.51
Untuk mengetahui ruang lingkup ini tidak terlepas dari
pemahaman terhadap pengertian ibadah itu sendiri yaitu ketaatan dan
kerelaan. Oleh sebab itu menurut Ibnu Taimiyah seperti yang dikutip
oleh Ahmad Ritonga, ibadah mencakup semua bentuk cinta dan kerelaan
kepada Allah SWT, baik dalam perkataan maupun perbuatan, lahir dan
batin, maka yang termasuk ke dalam hal ini adalah shalat, zakat, puasa,
haji, benar dalam pembicaraan, menjalankan amanah, berbuat baik
kepada orang tua, menghubungkan silaturrrahmi, memenuhi janji, amar
49
Ensiklopedi Hukum Islam, ..., hal. 594
50
Ibid.
51
Samsul Munir Amin dan Haryanto Al-Fandi, Etika Beribadah Derdasarkan Al-Qur’an
dan Sunnah, (Jakarta: AMZAH, 2011), hal. 4
40
ma’ruf nahi mungkar, jihad terhadap orang kafir dan munafik, berbuat
baik kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin dan ibn sabil, berdoa,
berdzikir, membaca Al-Qur’an, ikhlas sabar, syukur, rela menerima
ketentuan Allah, tawwakal, raja’ (berharap atas rahmat), khauf (takut
terhadap azab), dan lain sebagainya. 52
Berdasarkan pendapat dari Ibnu Taimiyah, ruang lingkup ibadah
sangat luas. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua amal perbuatan yang
sesuai dengan ajaran Islam itu termasuk ibadah. Seluruhnya dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Kewajiban atau syariat Islam seperti shalat, puasa, zakat dan haji.
b. Kewajiban dalam bentuk-bentuk ibadah sunnah, seperti dzikir,
membaca Al Qur’an dan istighfar.
c. Hubungan sosial yang baik serta pemenuhan hak-hak manusia, seperti
bebuat baik kepada orang tua, menjalin silaturrahmi, berbuat baik
kepada anak yatim, fakir miskin dan ibnu sabil.
d. Akhlak yang bersifat kemanusiaan seperti menjalankan amanah dan
menepati janji
e. Akhlak yang bersifat ketuhanan seperti takut kepada Allah Swt, ikhlas
terhadap ketetapan Allah.
Lebih khusus lagi ibadah diklasifikasikan menjadi ibadah umum
dan ibadah khusus. Ibadah umum mempunyai ruang lingkup yang sangat
luas, yaitu mencakup segala amal kebajikan yang dilakukan dengan niat
52
A. Rahman Ritonga, Fiqh Ibadah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), hal. 6
41
dan sulit untuk mengemukakan sistematikanya. Tetapi ibadah khusus
ditentukan oleh syara (nash), bagaimana bentuk dan cara pelaksanaannya.
Oleh karena itu dapat dikemukakan sistematikanya secara garis besar
sebagai berikut:
a. Thaharah
b. Shalat
c. Zakat
d. Puasa
e. Haji dan umrah
f. Penyelenggarakan jenazah
g. Sumpah dan kafarat
h. I’tikaf
i. Nazar
j. Qurban dan aqiqah. 53
Tapi pada hakekatnya semua ajaran dalam agama Islam adalah
ibadah selama itu tidak menyimpang. Allah Swt akan selalu
memperhitungkan setiap ibadah kita meskipun sekecil apapun. Biasanya
ibadah-ibadah yang umum mulai ditanamkan pada anak di bangku
sekolah yaitu ibadah shalat baik shalat fardhu maupun sunnah, puasa,
membaca Al-Qur’an, zakat, infaq dan shadaqah.
Macam-macam ibadah yang ada di sekolah atau madrasah, yaitu:
a. Shalat
Menurut bahasa shalat berarti doa. Dipahami dari arti ini,
bahwa jika seseorang melakukan atau menunaikan shalat, maka
hakikatnya dia sedang berdoa. Ia dalam keadaan memohon kepada
Allah SWT. Sedangkan menurut istilah arti shalat adalah suatu
ibadah yang terdiri dari perkataan-perkataan dan perbuatan-
53
Ibid., hal. 9
42
perbuatan tertentu yang dimulai dari takbiratul ihran dan disudahi
dengan salam, disertai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.54
Shalat dalam Islam memiliki kedudukan yang amat penting,
selain shalat adalah perintah Allah dan merupakan amalan yang
pertama kali ditanyakan nantinya, shalat merupakan tolak ukur atau
barometer baik dan tidaknya amal dan perbuatan seseorang. 55
Seseorang yang baik dalam melaksanakan shalatnya yaitu
selalu disiplin dalam mengerjakannya maka orang tersebut termasuk
arang yang baik amal perbuatannya. Dan sebaliknya, jika shalat
seseorang jelek, maka ia tergolong orang yang jelek amal
perbuatannya. Dan sudah pasti akan mendapat celaka di akhirat
nanti.
Seperti firman Allah QS. Al-Ankabut: 45,
Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al
kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan
Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.56
54
Muhammad Syukron Maksum, Buku Pintar Agama Islam..., hal.120
55
Samsul Munir Amin dan Haryanto Al-Fandi, Etika Beribadah..., hal. 26
56
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan..., hal. 566
43
Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa ibadah shalat memiliki
keutamaan dibanding dengan ibadah yang lain. Melalui ibadah shalat
seseorang akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Hal ini
karena seseorang yang selalu sisiplin dalam shalat, patuh terhadap
Allah maka hatinya akan senantiasa teringan akan Allah. Mereka
menyadari bahwa setiap gerak-geriknya akan selalu diawasi oleh
Allah.
Dilihat dari sejarah diturunkannya maupun perhatian yang
diberikan Al-Qur’an dan hadits ataupun manfaat yang diperoleh,
shalat merupakan ibadah yang utama dan istimewa. Dilihat dari
sejarah turunnya, perintah untuk mengerjakan shalat berbeda dengan
perintah untuk menjalankan ibadah lainnya, misal perintah untuk
mengeluarkan zakat, menjalankan puasa, mengerjakan haji dan
sebagainya. 57 Perintah mengerjakan shalat lima waktu langsung
disampaikan Allah kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad Saw.
dalam peristiwa isra’ mi’raj.
Keutamaan lain dari shalat yaitu ia merupakan elemen dari
risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. karena didalam
ajaran islam terdapat lima pilar, dan pilar-pilar ini menjadikan Islam
tegak sepanang zaman. Salah satunya yaitu mendirikan shalat. 58
Jika kita bersedia mengerjakan shalat dengan tertib dan
konsisten maka sesungguhnya kita telah menegakkan bangunan
57
Samsul Munir Amin dan Haryanto Al-Fandi, Etika Beribadah..., hal. 27
58
Ibid.
44
agama yaitu ajaran Islam. 59 Oleh sebab itu penting sekali arti
kedisiplinan mengerjakan shalat. Jika kita tidak disiplin atau dalam
kata lain meninggalkan shalat tanpa alasan yang dibenarkan oleh
syariat, maka bisa dikatan kita telah merusak bangunan ajaran kita
sendiri.
Selain sebagai pilar agama, shalat juga merupakan barometer
atau alat pengukur ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Oleh karena itu
tidak tergolong orang yang bertaqwa apabila kita meninggalkan
shalat yang diwajibkan. Sebab salah satu ciri orang yang bertaqwa
adalah mereka yang bersedia mendirikan shalat dengan baik dan
konsisten. Selain itu, Rasulullah Saw. juga menyatakan bahwa batas
paling nyata antara orang kafir dengan seorang mukmin adalah
shalatnya.60
b. Membaca Al-Qur’an
Menurut bahasa, Qur’an berarti bacaan (dari kata qoroa:
membaca). Al Qur’an adalah kumpulan wahyu Allah SWT yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dihimpun dalam
sebuah kitab suci yang menjadi pegangan umat manusia. 61
Kitab suci Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW untuk
dijadikan petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia, bukan
hanya untuk bangsa Arab. Sebagaimana firman Allah:
59
Ibid., hal. 28
60
Ibid., hal. 28-29
61
Abu Ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2008), hal.241
45
Artinya: “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan
(Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi
peringatan kepada seluruh alam”. (Al Furqaan: 1) 62
Mengimani Al-Qur’an termasuk kedalam rukun iman yang
ketiga. Setiap orang yang mempercayai Al-Qur’an akan bertambah
cinta kepadanya, cinta untuk membancanya, untuk mempelajari dan
memahaminya serta pula untuk mengamalkannya dan
mengajarkannya sampai merata rahmatnya yang dirasakandan
dinikmati oleh semesta.
Setiap mukmin yakin bahwa membaca Al-Qur’an saja, sudah
termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang
berlipat ganda, sebab yang dibacanya itu adalah kitab suci Ilahi. Al-
Qur’an adalah sebaik-baik bacaan bagi orang mukmin, baik dikala
senang ataupun di kala susah, di kala gembira atau di kala sedih.
Malahan membaca Al-Qur’an itu bukan saja menjadi amal dan
ibadah, tetapi juga menjadi penawar bagi orang yang gelisah
jiwanya. 63
Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga menerangkan
bagaimana besarnya Rahmat Allah terhadap orang-orang yang
62
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemaahannya..., hal. 502
63
Maimunah Hasan, Al-Qur’an dan Pengobat Jiwa, (Yogyakarta: Bintang Cemerlang,
2001), cet. Ke 1, hal. 128
46
membaca Al-Qur’andi rumah-rumah peribadatan (masjid, surau,
mushalla dan lain-lain). Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang
mahsyur lagi shahih yang artinya sebagai berikut:
“Kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah
peribadatan, membaca Al-Qur’an secara bergiliran, dan ajar
mengajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah ketenangan
dan ketentraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka
akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan selalu mengingatkan
mereka”. (diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah). 64
Dengan hadits diatas nyatalah bahwa membaca Al-Qur’an,
baik mengetahui artinya ataupun tidak, adalah termasuk ibadah, amal
shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya,
memberi cahaya kedalam hati yang membacanya sehingga terang
benderang, juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga
tempat Al-Qur’an itu dibaca.
Didalam ajaran Islam bukan membaca Al-Qur’an saja yang
menjadi ibadah dan amal yang mendapat pahala dan rahmat, tetapi
mendengarkan bacaan Al-Qur’an pun juga merupakan ibadah dan
amal yang mendapat pahala. 65 Tentang pahala orang yang
mendengarkan bacaan Al-Qur’an, dalam Al-Qur’an dijelaskan
sebagai berikut:
64
Ibid., hal. 130-131
65
Ibid, hal. 132
47
Artinya: Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah
baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu
mendapat rahmat.66
Dengan demikian, ketika dibacakan Al Quran kita diwajibkan
mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam
sembahyang maupun di luar sembahyang, terkecuali dalam shalat
berjamaah ma'mum boleh membaca Al Faatihah sendiri waktu imam
membaca ayat-ayat Al Quran.
c. Infaq dan Shadaqah
Selain zakat, Rasulullah Saw. juga menganjurkan kita
menggalakkan infaq dan sedekah. Baik zakat, infaq atau sedekah
merupakan syariat agama yang sangat utama. 67 Infaq merupakan
harta untuk kepentingan kemanusiaan sesuai dengan ajaran Islam.
Dalam Al-Qur’an. Infaq ada yang memgarah kepada sedekah wajib
semisal zakat, dan nafkah suami terhadap istrinya. 68
Dalam Islam, Infaq sangat dianjurkan, sebab secara
mendasar ajaran agama Islam menaruh kepedulian yang besar
terhadap oranguorang yang lemah. Orang-orang yang diberi
66
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan..., hal. 238
67
Samsul Munir Amin dan Haryanto Al-Fandi, Etika Beribadah..., hal.119
68
Muhammad Syukron Maksum, Buku Pintar Agama Islam..., hal. 208
48
kelonggaran rezeki oleh Allah selain diwajibkan untuk zakat, juga
sangat dianjurkan untuk berinfaq (shadaqah). 69
Firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 261,
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-
orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa
dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-
tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi
siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya)
lagi Maha mengetahui. 70
Dengan demikian pengertian dari infaq adalah memberikan
sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan sesuai
dengan ajaran Islam yang dilakukan dengan ikhlas. Sesuatu yang
diberikan dengan ikhlas meskipun jumlahnya sedikit akan menjadi
barokah dan tetap mendapat balasan pahala dari Allah Swt.
Mengerjakan zakat, infaq dan sedekah tersimpan hikmah dan
juga manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia di dunia
maupun di akhirat. beberapa manfaat yang akan dipetik dengan
menggalakkan zakat, infaq dan sedekah yaitu:
a. Zakat, infaq, dan sedekah merupakan amalan yang dapat
menjauhkan kita dari siksa neraka
69
Ibid,
70
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya..., hal. 55
49
b. Zakat, infaq, dan sedekah memiliki nilai pahala yang berlipat
ganda
c. Zakat, infaq, dan sedekah adalah amal kebajikan yang dapat
memanjangkan umur
d. Zakat, infaq, dan sedekah merupakan amalan yang tidak akan
putus pahalanya
e. Zakat, infaq, dan sedekah akan mendatangkan karunia Allah
Swt.
f. Zakat, infaq, dan sedekah yang diberikan kepada mereka yang
berhak menerima dengan tujuan untuk menolong dan membantu
sesama, terlebih lagi para janda dan anak yatim, kualitas
pahalanya setara dengan berjihad dijalan Allah dan orang-orang
yang berpuasa siang dan malam tanpa henti.
g. Zakat, infaq, dan sedekah untuk membantu meringankan beban
kepada sesama muslim merupakan kunci bagi terkabulnya doa
kita kepada Allah
h. Zakat, infaq, dan sedekah adalah benteng dan pelindung
terhadap harta yang kita miliki
i. Banyak bersedekah maka Allah akan menjamin kesejahteraan
ahli waris dan menyelamatkan kita dari kefakiran
j. Zakat, infaq, dan sedekah akan menjadi pelindung dan penolong
kita pada hari kiamat
k. Zakat, infaq, dan sedekah dapat mempersatukan dua hati yang
terpisah, menumbuhkan rasa persatuan dan persaudaraan,
melahirkan perasaan sinta dan kasih sayang antar sesama
muslim. 71
7. Hikmah Kedisiplinan Ibadah
Fahrur Rozi, [Link] menyebutkan bahwa aqidah merupakan dasar
seseorang dalam melaksanakan ibadah. Implikasinya harus
mencerminkan akhlak yang mulia dari pribadi yang bersangkutan,
sebagai indikasi bahwa ibadah yang dilakukan tersebut dilakukan secara
benar, untuk mencari ridha Allah, dan tidak dimaksudkan untuk riya’. 72
Ibadah merupakan hubungan kontak langsung antara hamba
dengan Tuhannya. Dengan melakukan ibadah, manusia akan tahu dan
71
Ibid., hal. 119-120
72
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam..., hal.191
50
selalu sadar bahwa betapa hina dan lemah dirinya bila berhadapan
dengan kuasa Allah, sehingga ia menyadari benar-benar akan
kedudukannya sebagai hamba Allah. Jika hal ini benar-benar telah
dihayati, maka berbagai manfaat akan diperoleh dengan sendirinya.
Surga yang dijanjikan, tidak akan luput sebab Allah tidak akan menyalahi
janji-Nya. Bagaimana pun, dengan beribadah secara benar dan sempurna,
pribadi seseorang akan menjadi baik (taqwa), jiwanya suci, dan
akhlaqnya menjadi mulia. Namun itu bukanlah tujuan yang
sesungguhnya. 73
Menurut Muhammad Syukron Maksum, hikmah ibadah ada 5
yaitu:
a. Pendekatan diri kepada Allah
b. Menumbuhkan jiwa sosial
c. Menunjukkan syiar
d. Menunjukkan kesatuan
e. Menunjukkan persatuan derajat74
Sedangkan hikmah dari adanya kependidikan ibadah menurut
Abdurrahman An Nadlawi adalah:
a. Konsepsi Islam, melalui ibadah manusia diajari untuk memiliki
intensitas kesadaran berpikir.
b. Dimanapun seorang muslim berada, melalui kegiatan yang
ditujukan semata-mata untuk ibadah kepada Allah, dia akan selalu
merasa terikat oleh ikatan berkesadaran, sistematis, kuat, serta
didasarkan atas perasaan jujur dan kepercayaan diri.
c. Dalam Islam, ibadah dapat mendidik jiwa seseorang muslim
untuk merasakan kebanggaan dan kemuliaan terhadap Allah.
d. Ibadah yang terus menerus dilakukan dalam kelompok yang padu,
di bawah panji Allah yang satu, yang semua bermunajat kepada
73
Lahmudin Nasution, Fiqih Ibadah, (Jakarta : Logos Acara Ilmu, 1999), hal. 6
74
Muhammad Syukron Maksum, Buku Pintar Agama Islam Untuk Pelajar, (Yogyakarta:
Mutiara Media, 2011), hal. 98
51
Rabb yang satu, akan melahirkan rasa kebersamaan sehingga kita
terdorong untuk saling mengenal, saling menasehati, atau saling
bermusyawarah
e. Melalui ibadah, seseorang muslim pun akan terdidik untuk
memiliki kemampuan dalam melakukan berbagai keutamaan
secara konstan dan mutlak. Artinya, setiap gerak seorang muslim
tidak terbatas pada batasan geografis, bangsa, ataupun
kepentingan nasional. Jelasnya, pergaulan seorang muslim itu
meliputi seluruh manusia.
f. Pendidikan yang berdasarkan ibadah dapat membekali manusia
dengan muatan kekuatan yang intensitasnya tinggi dan abadi
karena semuanya bersumber dari kekuatan Allah, kepercayaan
kepada Allah, optimisme yang bersumber dari pertolongan Allah,
dan pahala surga, serta kesadaran dan cahaya yang bersumber dari
Allah.
g. Sesungguhnya mendidik seorang muslim dengan ibadah akan
memperbarui jiwa yang bukan hanya karena didalamnya ada
muatan cahaya, kekuatan, perasaan, dan harapan melainkan
karena melalui ibadah seorang muslim memiliki sarana untuk
mengekspresikan tobatnya.75
Dengan demikian, hikmah utama dari menjalankan ibadah yaitu
mendekatkan diri kepada Allah. Dengan khusyu shalat kita akan merasa
dekat dengan Allah Swt. Selain itu, dengan menjalankan ibadah secara
disiplin maka kita sudah bertindak sebagai hamba Allah yang taat.
C. Strategi Peningkatan Kedisiplinan Beribadah
Webster’s New World Dictionary mendefinisikan strategi sebagai
“science of planning and directing large scale military operation skill in
managing or planning”, yaitu strategi merupakan suatu ilmu tentang
perencanaan dan pengarahan ketrampilan operasi militer pada skala besar
dalam mengatur dan merencanakan. 76
75
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah..., hal. 64-69
76
Agus Maimun dan Agus Zaenul Fitri, (Madrasah Unggulan Lembaga Pendidikan
Alternatif di Era Kompetitif, Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010), cet. Ke-1, hal.50
52
Namun jika dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa
diartikan sebagai “suatu persiapan yang sangat penting dalam pengembangan
kurikulum agar apa yang direncanakan dapat dilaksanakan dengan sebaik-
baiknya”. 77 Sedangkan menurut Haitami dan syamsul, strategi adalah “segala
cara dan daya untuk menghadapi sasaran tertentu dalam kondisi tertentu agar
memperoleh hasil yang diharapkan secara maksimal”. 78
Menurut Mohammad S. Rahmad, makna strategi dalam konteks
pengajaran adalah:
Suatu pola umum tindakan pengajar atau guru dengan peserta didik atau
siswa dalam memanifestasikan aktivitas pengajaran. Sifat umum pola itu
berarti bahwa macam-macam dan sekuensi (urutan) atau tindakan yang
dimaksud nampak diperagakan oleh guru dengan siswa pada beragam
event pengajaran. 79
Sedangkan menurut Djanaid yang dikutip oleh Agus Maimun dan
Agus Zainul Fitri,
Strategi sebagai perencanaan (planning) dan manajemen (management)
untuk mencapai suatu tujuan, tetapi untuk mencapai tujuan tersebut
strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah
saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik
operasionalnya. 80
Jadi dapat dikatakan bahwa strategi merupakan segala cara yang harus
dilakukan oleh lembaga atau seseorang dalam memberikan bimbingan untuk
mencapai tujuan dari suatu organisasi / lembaga yang telah ditentukan.
77
Syaiful Bahri Djaramah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar ,,,, hal. 5
78
Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal. 79
79
Mohammad S. Rahman, “Strategi Penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di
Sekolah”, dalam IQRA, volume 1 Januari-Juni 2006, hal. 28
80
Agus Maimun dan Agus Zaenul Fitri, Madrasah Unggulan ..., cet. Ke-1, hal.50
53
Penggunaan strategi dalam pembelajaran sangat perlu digunakan,
karena untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai
hasil yang optimal. Tanpa startegi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan
terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit tercapai
secara optimal, dengan kata lain pembelajaran tidak dapat berlangsung secara
efektif dan efisien. strategi pembelajaran sangat berguna bagi guru lebih-lebih
bagi peserta didik. Bagi guru, strategi dapat dijadikan pedoman dan acuan
bertindak yang sistematis dalam pelaksanaan pembelajaran. Bagi peserta
didik atau santri, pengguna strategi pembelajaran dapat mempermudah proses
belajar (mempermudah dan mempercepat memahami isi pembelajaran),
karena setiap strategi pembelajaran dirancang untuk mempermudah proses
belajar bagi peserta didik.
Madrasah harus tetap menunjukkan cirinya sebagai lembaga
pendidikan yang berciri khas agama Islam. Ciri khas ini, disamping empat hal
yang lazim disebut, yaitu: (1) suasana kehidupan madrasah yang agamis, (2)
adanya sarana ibadah, (3) penggunaan metode dan pendekatan yang agamis,
dan (4) kualifikasi guru yang harus beragama Islam dan berakhlak mulia, juga
harus diletakkan dalam spektrum yang lebih luas. Maksudnya, madrasah
harus mampu: (1) menjadi wahana pembinaan ruh dan praktik hidup islami,
(2) memperkokoh sistem kelembagaan madrasah agar dapat sejajar bahkan
lebih dengan sekolah umum, dan (3) merespon tantangan masa depan dengan
memanfaatkan kemajuan IPTEK.81
81
Ibid., hal. 4
54
Sebagai suatu lembaga pendidikan, madrasah harus mampu
menciptakan suasana yang agamis baik siswa maupun pendidik dan kepala
madrasahnya. Karena madrasah berlatarbelakang agama Islam, sudah pasti
didalamnya pihak sekolah mengupayakan pembinaan terhadap siswanya
untuk mengamalkan kehidupan islami dalam kesehariannya. Hal ini bisa
dimulai dari peningkatan kedisiplinan beribadah siswanya. Memang dalam
mewujudkan suatu cita-cita seperti ini tidak dapat terwujud dalam waktu
singkat, melainkan membutuhkan proses dan dukungan dari semua unsur
yang ada di madrasah termasuk Kepala madrasah sebagai pemimpin,
pendidiknya, siswanya, dan unsur yang lainnya. Jika sudah begitu, impian
untuk mencapai madrasah unggulan akan cepat terealisasikan. Karena
madrasah unggulan itu tidak hanya mengejar target akademis, melainkan ikut
pula membina pelajar dari sisi spiritual dan kedewasaannya.
Perilaku dan kedisiplinan yang ada di madrasah memiliki nilai
theologis. Agama islam sangat kental sekali mengatur perilaku manusia dan
kedisiplinannya. Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku
diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak”. Sedangkan ibadah yang telah
ditentukan oleh Allah seperti shalat yang telah ditentukan waktunya
memungkinkan manusia untuk berlaku disiplin. 82
Kegiatan shalat berjamaah, penanaman nilai budi pekerti dan
kedisiplinan merupakan karakteristik madrasah unggulan. Nilai akhlak dan
kedisiplinan ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan pra pembelajaran, seperti
82
Ibid., hal. 88
55
siswa sebelum masuk sekolah diadakan kegiatan mengaji pada pukul 06.00-
06.30, kemudian juga kediatan shalat dhuha (sekitar jam 08.00) yang digilir
sesuai dengan kelas masing-masing dan juga kegiatan shalat dzuhur secara
berjamaah (sekitar jam 13.00) misalnya, yang dilakukan oleh semua baik
siswa, guru, maupun karyawan adalah merupakan salah satu bentuk
pemberian contoh dan teladan serta kedisiplinan baik, jika dilaksanakan
secara terus menerus akan menjadi suatu budaya religius sekolah. 83
Dalam kedisiplinan terdapat tiga unsur penting, yaitu peraturan yang
berfungsi sebagai pedoman penilaian, hukuman bagi pelanggaran peraturan,
dan penghargaan untuk perilaku yang baik. 84 Madrasah sebagai tempat
menimba ilmu bagi siswa sudah pasti menerapkan peraturan-peratutan/ tata
tertib yang harus dipatuhi oleh siswa. Begitu juga untuk kedisiplinan
beribadah siswa, madrasah membuat peraturan yang harus ditaati tentang
pelaksanaan kegiatan ibadah siswa, dimana bagi mereka yang melanggarnya
akan dikenakan sangsi atau hukuman yang setimpal. Dalam hal ini
pengawasan dari pihak madrasah juga sangat penting.
Menurut Reisman dan Payne seperti yang dikutip oleh Mulyasa
mengemukakan strategi umum mendisiplinkan peserta didik sebagai berikut:
1. Konsep diri (self-concept); strategi ini menekankan bahwa konsep-
konsep diri peserta didik merupakan faktor penting dari setiap
perilaku. Untuk menumbuhkan konsep diri, guru disarankan
bersikap empatik, menerima, hangat, dan terbuka, sehingga peserta
didik dapat mengeksplorasikan pikiran dan perasaannya dalam
memecahkan masalah.
83
Ibid.
84
Novan Ardy Wiyani, Bina Karakter Anak..., hal. 110
56
2. Ketrampilan berkomunikasi (communication skills); guru harus
memiliki ketrampilan komunikasi yang efektif agar mampu
menerima semua perasaan, dan mendorong timbulnya kepatuhan
peserta didik.
3. Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami (natural and logical
consequences); perilaku-perilaku yang salah terjadi karena peserta
didik telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhadap
dirinya. Hal ini mendorong munculnya perilaku-perilaku salah.
Untuk itu, guru disarankan: a) menunjukkan secara tepat tujuan
perilaku yang salah, sehingga membantu peserta didik dalam
mengatasi perilakunya, dan b) memanfaatkan akibat-akibat logis dan
alami dari perilaku yang salah.
4. Klarifikasi nilai (values clarification); strategi ini dilakukan untuk
membantu peserta didik dalam menjawab pertanyaannya sendiri
tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya sendiri.
5. Analisis transaksional (transactional analysis); disarankan agar guru
bersikap dewasa, terutama apabila berhadapan dengan peserta didik
yang menghadapi masalah.
6. Terapi realitas (reality therapy); guru perlu berperilaku positif dan
bertanggung-jawab terhadap seluruh kegiatan di sekolah, dan
melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran.
7. Disiplin yang terintegrasi (assertive discipline); guru harus mampu
mengendalikan, mengembangkan dan mempertahankan peraturan,
dan tata tertib sekolah, termasuk pemanfaatan papan tulis untuk
menuliskan nama-nama peserta didik yang berperilaku menyimpang.
8. Modifikasi perilaku (behavior modification); guru harus
menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, yang dapat
memodifikasi peserta didik.
9. Tantangan bagi disiplin (dare to discipline); guru harus cekatan,
terorganisasi, dan tegas dalam mengendalikan disiplin peserta
didik.85
Dengan demikian bimbingan, pengarahan dan pengawasan dari pihak
sekolah terutama guru sangat diperlukan dalam membangun kedisiplinan
beribadah siswa. Pendidik harus mampu membangun komunikasi yang baik
dengan para siswanya. Dengan begitu, siswa akan dengan senang hati
mendengarkan dan mengerjakan setiap arahan dari pendidik. Selain itu pihak
sekolah harus selalu konsisten dalam menjalankan setiap peraturan.
85
Mulyasa, Menjadi Guru Profesional..., hal. 171-172
57
Pembinaan ibadah siswa yang dilakukan pendidik di madrasah harus
didukung oleh kepala sekolah yang dibantu oleh waka kesiswaan untuk
melakukan pembinaan kepada siswa di sekolah dan melakukan pemantapan
program kesiswaan tersebut.86
Bentuk pembinaan kedisiplinan beribadah yang bisa dilakukan di
madrasah unggulan meliputi pembinaan belajar membaca Al-Qur’an, shalat
dan pembinaan belajar melalui kegiatan funduq imtihan akhir, pembiasaan
bersalaman, memberikan amal jum’at, melakukan shalat dhuha, jamaah shalat
dhuhur sebelum pulang, hal ini semua untuk pengalaman pelajaran agama
untuk memperoleh nilai tambah. Pembinaan dan pemantapan program
kesiswaan dilaksanakan sekolah berdasarkan atas perencanaan program yang
telah ditetapkan oleh sekolah. Baik yang berada dalam lingkungan sekolah
maupun diluar sekolah. 87
Semua strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kedisiplinan
beribadah merupakan bagian dari pendidikan agama. Bagi seorang pendidik
khususnya guru agama, hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama
bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan melatih ketrampilan
anak dalam melaksanakan ibadah. Akan tetapi pendidikan agama jauh lebih
luas daripada itu, ia pertama-tama bertujuan untuk membentuk kepribadian
anak sesuai dengan ajaran agama. Pembinaan sikap, mental dan akhlak jauh
86
Agus Maimun dan Agus Zaenul Fitri, Madrasah Unggulan..., hal. 96
87
Ibid., hal. 96-97
58
lebih penting dibanding pandai menghafal dalil-dalil dan hukum-hukum
agama yang tidak diresapi dan dihayati dalam hidup.88
Agar agama itu benar-benar dapat dihayati, dipahami dan digunakan
sebagai pedoman hidup bagi manusia, maka agama itu hendaknya menjadi
unsur-unsur dalam kepribadiannya. Hal ini dapat dilakukan dengan
percontohan (keteladanan), latihan-latihan (pengalaman) dan pengertian
tentang agama, jadi agama adalah amaliah dan ilmiah sekaligus. 89
Berangkat dari penjelasan tersebut, maka strategi yang dilakukan guru
Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan kedisiplinan beribadah yaitu:
a. Konsisten Dalam Menerapkan Peraturan
Secara bahasa, peraturan merupakan tatanan yang dibuat untuk
mengatur seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam menerapkan peraturan, pihak sekolah haruslah selalu konsisten.
Dalam memberikan kebijakan hendaknya janganlah berubah-ubah.
Dengan begitu, siswa akan segan dan akan selalu disiplin dalam
menjalankan setiap peraturan sekolah.
b. Memberi Penghargaan
Penghargaan yang diberikan tidak berpatok pada materi,
melainkan juga bisa berupa non materi seperti pujian, acungan jempol,
senyuman, tepuk tangan, atau bisa juga tepukan di punggung. 90
88
Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2003), cet ke-16, hal. 124
89
Ibid, hal. 125
90
Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia
Dini, (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013), cet. Ke.1, hal. 115
59
Setidaknya ada tiga peranan penghargaan dalam membentuk
karakter anak, antara lain: (1) penghargaan mempunyai muatan atau nilai
edukatif, (2) penghargaan dapat berfungsi sebagai dorongan untuk
melakukan perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku, dan (3)
penghargaan mempunyai fungsi untuk memperkuat perilaku yang sesuai
dengan norma yang berlaku.
c. Hukuman
Metode ini sebenarnya berhubungan dengan pujian dan
penghargaan. Imbalan atau tanggapan terhadap orang lain itu terdiri dari
dua, yaitu penghargaan (reward/targhib) dan hukuman
(punishment/tarhib). Hukuman dapat diambil sebagai metode pendidikan
apabila terpaksa atau tidak ada alternatif lain yang bisa diambil.
Agama Islam memberikan arahan dalam memberi hukuman
terhadap anak, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Jangan menghukum ketika marah. Karena pemberian hukuman
ketika marah akan lebih bersifat emosional yang lebih
dipengaruhi nafsu syaithaniyah.
2) Jangan sampai menyakiti perasaan dan harga diri anak atau orang
yang dihukum
3) Jangan sampai merendahkan derajat dan martabat orang yang
bersangkutan, misalnya dengan menghina atau mencaci maki di
hadapan orang lain
4) Jangan menyakiti secara fisik, misalnya menampar mukanya atau
menarik kerah bajunya, dan sebagainya
5) Bertujuan untuk mengubah perilakunya yang kurang atau tidak
baik.
6) Karena itu yang patut dibenci adalah perilakunya, bukan
orangnya. Apabila anak/orang yang dihukum sudah memperbaiki
perilakunya, maka tidak ada alasan untuk tetap membencinya. 91
91
Hari Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hal.
19
60
d. Keteladanan
Pada dasarnya, manusia sangat cenderung memerlukan sosok
teladan dan anutan yang mampu mengarahkan manusia pada jalan
kebenarandan sekaligus menjadi perumpamaan dinamis yang
menjelaskan cara mengamalkan syariat Allah. 92 Begitu juga dengan
para siswa, mereka sudah pasti akan meniru perilaku pendidiknya
yang dianggapnya patut untuk ditiru.
Melalui metode ini maka akan dapat melihat, menyaksikan dan
meyakini cara yang sebenarnya sehingga mereka dapat
melaksanakannya dengan lebih baik dan lebih mudah. Metode
keteladanan ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw., “Mulailah dari
diri sendiri”. Maksud hadis ini adalah dalam hal kebaikan dan
kebenaran, apabila kita menghendaki orang lain juga mengerjakannya,
maka mulai dari diri kita sendiri untuk mengerjakannya. 93
Dengan begitu sudah menjadi tugas seorang guru untuk
memberi contoh yang baik bagi siswanya. Misalnya yaitu selalu
melaksanakan shalat jamaah di masjid sekolah. Jadi seorang guru
bukan hanya membuat peraturan saja, melainkan juga ikut
melaksanakan aturan tersebut bersama siswa. Dengan begitu siswa
dengan sendirinya akan mengikuti apa yang dilakukan oleh guru.
92
Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama..., hal. 260
93
Hari Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan..., hal. 19
61
e. Latihan/ Praktik
Pada dasarnya, pendidikan dan pengajaran yang dilakukan
melalui pengalaman atau praktik langsung akan membiasakan kesan
khusus dalam diri anak didik sehingga kekokohan ilmu pengetahuan
dalam jiwa anak akan semakin terjamin. Dari gambaran tersebut
jelaslah bahwa seorang pendidik harus mengarahkan anak didiknya
pada kebulatan tekad untuk mengaplikasikan ilmu yang telah
dipelajarinya dalam kehidupan individual dan sosial. 94
Jadi, dalam upaya meningkatkkan kedisiplinan beribadah guru
menerapkan praktik langsung di sekolah. Misalnya dalam pelajaran
shalat, siswa diajak langsung mempraktikkannya di masjid sekolah.
Karena melalui praktik langsung, siswa akan terus ingat dan paham
tentang apa yang diparaktikkannya.
f. Pembiasaan
Menurut Armai Arif seperti yang dikutip oleh Muhammad
Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida,
Metode pembiasaan adalah suatu cara yang dapat dilakukan untuk
membiasakan anak berpikir, bersikap, bertindak sesuai dengan
ajaran Islam. 95
Hakekat pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman.
Pembiasaan adalah sesuatu yang diamalkan. Inti dari pembiasaan
adalah pengulangan. Dalam pembinaan sikap, metode pembiasaan
94
Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama..., hal. 270
95
Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter..., hal. 172
62
sangat efektif digunakan karena akan melatih kebiasaan-kebiasaan
yang baik kepada anak.
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,
،اض ِربُ ْوُه ْم َعلَْي َها
ْ َو،ْي ِِ ِ َّ ِمروااَوالَ َد ُكم ب
َ ْ االصالَت َوُه ْم اَبْنَاءُ َسْب ِع سن ْ ْ ُُْ
) (روه اب دود...َوُه ْم اَبْنَاءُ َع ْشر
Artinya: Suruh shalat anak-anakmu yang telah berusia 7 tahun,
dan pukulah mereka karena meninggalkan shalat, jika sudah
berumur 10 tahun …(HR. Abu Dawud) 96
Maksud dari hadis ini adalah tutunan bagi para pendidik dalam
melatih/membiasakan anak untuk melaksanakan shalat ketika mereka
berusia tujuh tahun dan memukulnya (tanpa cidera/bekas) ketika
mereka berumur sepuluh tahun atau lebih apabila mereka tidak
mengerjakannya.
Dalam pelaksanaan metode ini diperlukan pengertian,
kesabaran, dan ketelatenan pendidik terhadap anak-anak didiknya. 97
Karena pendidikan yang efektif dilakukan dengan berulang-ulang
sehingga anak menjadi mengerti. Pelajaran atau nasehat apa pun perlu
dilakukan secara berulang-ulang sehingga mudah dipahami oleh
anak.98
96
Iman An-Nawawi, Terjemahan Riyashus Shalihin, (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra,
2013), hal 119
97
Hari Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan..., hal. 19
98
Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2014), cet. Ke-2, hal.154
63
g. Nasehat
Metode inilah yang paling sering digunakan dalam proses
pendidikan. Memberi nasehat merupakan kewajiban umat Islam.
Rasulullah Saw. bersabda, “agama itu adalah nasihat”. Maksudnya
adalah agama itu berupa nasihat dari Allah bagi umat manusia melalui
para nabi dan rasul-Nya agar manusia hidup bahagia, selamat dan
sejahtera di dunia dan di akhirat. Selain itu mengajarkan agama pun
dapat dilakukan melalui nasihat.
Supaya nasihat ini dapat tersampaikan dengan baik, maka
dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan beberapa hal yaitu:
1) Gunakan kata yang baik dan sopan serta mudah dipahami
2) Jangan sampai menyinggung perasaan orang yang dinasihati
atau orang di sekitarnya
3) Sesuaikan perkataan dengan umur, sifat, dan tingkat
kemampuan/kedudukan anak atau orang yang dinasehati
4) Perhatikan waktu yang tepat saat memberi nasihat, usahakan
jangan memberi nasihat kepada orang yang sedang marah.
5) Perhatikan keadaan sekitar ketika memberi nasihat, usahakan
jangan di depan umum.
6) Beri penjelasan agar lebih mudah dipahami
7) Agar lebih meyakinkan, sertakan ayat-ayat al-Qur’an, hadits
Rasulallah atau kisah nabi/rasul, para sahabat atau kisah orang-
orang shalih. 99
D. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan penelusuran pustaka yang berupa
hasil penelitian, karya ilmiyah, ataupun sumber lain yang digunakan peneliti
sebagai perbandingan terhadap penelitian yang dilakukan. Dalam skripsi ini
99
Hari Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan..., hal. 20
64
penulis akan mendikripsikan beberapa penelitian yang ada relevansinya
dengan judul penulis antara lain:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Musyarofah pada tahun 2013 dengan
judul “Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatkan Kesadaran Beribadah
Siswa Di Man 2 Tulungagung”. Fokus dan hasil penelitian yang menjadi
bahasan dalam penelitian ini adalah (1) Perencanaan yang dilakukan guru
Fiqih dalam upaya meningkatkan kesadaran beribadah siswa yaitu
dengan disediakannya kartu sholat, adanya jadwal mengaji sebelum
diadakan kegiatan belajar mengajar dan juga jadwal sholat dhuha bagi
kelas global. (2) Pelaksanaan guru fiqih dalam upaya meningkatkan
kesadaran beribadah siswa yaitu mengembangkan wawasan pemahaman
siswa tentang ibadah melalui kegiatan keagamaan, pengarahan atau
nasihat, mengingatkan para siswa untuk mengikuti shalat, terutama shalat
dhuhur berjamaah yang memungkinkan untuk dilaksanakan di sekolah
melalui pengadaan kartu shalat, kegiatan membaca Al-Qur’an setiap pagi
sebelum pelajaran dimulai dan pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah
belajar untuk meningkatkan ketaatan ibadah siswa. Bulan ramadhan
diwajibkan zakat fitrah dan hari raya idul adha diadakan kurban yang
disaksikan dan dilakukan oleh siswa dalam proses penyembelihan hewan
kurban.(3) Kendala guru fiqih dalam meningkatkan kesadaran beribadah
siswa adalah latar belakang setiap siswa sangat mempengaruhi kesadaran
beribadah siswa. Sedangkan solusi guru fiqih dalam meningkatkan
kesadaran beribadah siswa yaitu dengan memberikan nasehat-nasehat
65
arahan-arahan dan juga memberikan wawasan secara mendalam tentang
akibat dari meninggalkan sholat.100
2. Penelitian yang dilakukan oleh Yusron Dimyati pada tahun 2014 dengan
judul “Upaya Guru PAI Dalam Meningkatkan Ibadah Peserta Didik Di
Lembaga Pendidikan Ma’arif SMP Islam Durenan”. Fokus dan hasil
penelitian yang menjadi bahasan dalam penelitian ini adalah (1) Strategi
yang digunakan guru Pendidikan Agama Islam dalam upaya
meningkatkan ibadah peserta didik adalah konsep belajar mengajar harus
dilandasi dengan niat ibadah, didalam proses belajar mengajar harus
saling memahami posisi guru sebagai seorang pendidik dan murid
sebagai peserta didik, menanamkan keikhlasan dalam menjalankan
ibadah dan melatih siswa dengan berpuasa sunnah, memberikan jadwal
untuk kegiatan keagamaan, utamanya jadwal shalat, mengadakan pondok
ramadhan pada saat bulan puasa, membiasakan siswa dalam
melaksanakan ibadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. (2)
Media yang digunakan guru Pendidikan Agama Islam dalam upaya
meningkatkan ibadah peserta didik adalah: auditif, visual, audiovisual.
(3) Faktor pendukung dan penghambat guru Pendidikan Agama Islam
dalam upaya meningkatkat ibadah peserta didik; faktor yang mendukung
diantaranya sarana prasarana yang memadai serta para pendidik yang
berkompeten, faktor penghambatnya ialah kesadaran dari diri siswa akan
100
Siti Musyarofah, Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatkan Kesadaran Beribadah Siswa
Di Man 2 Tulungagung, (Tulungagung: Skripsi Tidak Diterbitkan, 2013), hal. 91-92
66
pentingnya ibadah, dan kurangnya pengawasan yang ketat dari pihak
sekolah maupun orang tua.101
3. Penelitian yang dilakukan oleh Faridotul Khonifah pada tahun 2014
dengan judul “Pembiasaan Beribadah dalam Membentuk Karakter
Peserta Didik di SD Islam Al-Azhaar Tulungagung”. Fokus dan hasil
penelitian yang menjadi bahasan dalam penelitian ini adalah (1) Strategi
Pembiasaan Beribadah Dalam Membentuk Karakter Peserta didik antara
lain : pemberian contoh (keteladanan), memberikan teguran bagi yang
tidak melakukakan, memotivasi, dilakukan secara menyenangkan, dan
pemberian sanksi. (2) Kendala yang dihadapi sekolah dalam pembiasaan
beribadah antara lain: peserta didik, sarana dan prasarana. (3)
Penyelesaian dalam mengatasi kendala pelaksanaan pembiasaan
beribadah dalam membentuk karakter siswa antara lain: Pengawasan,
teguran, memberikan hukuman atau sanksi. Sedangkan dalam mengatasi
kendala yang berasal dari sarana dan prasarana antara lain : pembiasaan
yang dilakukan di kelas, pembiasaan dilakukan di balai (mbale). 102
Demikian penelitian-penelitian terdahulu yang menurut peneliti
memiliki kajian yang hampir sama dengan penelitian yang akan penulis
lakukan. Letak kesamaanya adalah terdapat pada pendekatan penelitian yakni
pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data yakni metode observasi,
101
Yusron Dimyati, Upaya Guru PAI Dalam Meningkatkan Ibadah Peserta Didik Di
Lembaga Pendidikan Ma’arif SMP Islam Durenan, (Tulungagung, Skripsi tidak diterbitkan,
2014), hal. 117-118
102
Faridotul Khonifah, Pembiasaan Beribadah dalam Membentuk Karakter Peserta Didik
di SD Islam Al-Azhaar Tulungagung,(Tulungagung, skripsi tidak diterbitkan, 2014), hal. 106-107
67
wawancara, dan dokumentasi, dan teknik analisis data yang meliputi reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data.
Sekalipun memiliki kesamaan dalam beberapa hal tersebut, tentu saja
penelitian yang akan penulis lakukan ini diusahakan untuk menghadirkan
suatu kajian yang berbeda dari penelitian yang pernah ada. Perbedaan
penilitian ini dengan beberapa penelitian terdahulu adalah terletak pada
fokus/konteks penelitian, kajian teori, dan pengecekan keabsahan data.
Adapun pemaparan aspek perbedaan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.1 Perbedaan Penelitian Ini dengan Penelitian Terdahulu
Aspek Perbedaan
Judul
No Peneliti
Penelitian
Fokus Kajian teori Metode
1. Siti Upaya Guru 1) Perencanaan yang 1) Pengertian guru Pengecekan
Musyarof Fiqih Dalam dilakukan guru 2) Kompetensi guru Keabsahan
ah Meningkatkan Fiqih 3) Pengertian kesadaran Data:
Kesadaran 2) Pelaksanaan guru 4) Konsep dan konsep 1) Perpanjang
Beribadah fiqih kesadaran an
Siswa Di 3) Kendala guru fiqih 5) Indikator kesadaran kehadiran
MAN 2 6) Pengertian ibadah 2) Triangulasi
Tulungagung 7) Hakikat ibadah sumber,
(2013) 8) Macam ibadah metode
9) Hikmah dan teori.
melaksanakan ibadah 3) Diskusi
10) Upaya guru Fiqih teman
dalam sejawat.
meningkatkan
kesadaran ibadah
68
Lanjutan tabel...
Aspek Perbedaan
Judul
No Peneliti
Penelitian
Fokus Kajian teori Metode
2. Yusron Upaya Guru 1) Strategi yang 1) Kajian tentang Pengecekan
Dimyati PAI Dalam digunakan guru ibadah Keabsahan
Meningkatkan Pendidikan 2) Kajian tentang Data:
Ibadah Agama Islam guru pendidikan 1) Ketekunan
Peserta Didik 2) Media yang agama Islam pengamatan
Di Lembaga digunakan guru 3) Upaya guru agama 2) Triangulasi
Pendidikan Pendidikan dalam 3) Pemeriksaan
Ma’arif SMP Agama Islam meningkatkan sejawat
Islam 3) Faktor ibadah siswa melalui
Durenan pendukung dan diskusi.
(2014) penghambat
guru Pendidikan
Agama Islam
3. Faridotul Pembiasaan 1) Strategi 1) Kajian tentang Pengecekan
Khonifah Beribadah Pembiasaan pembiasaan ibadah Keabsahan
dalam Beribadah 2) Kajian tentang Data:
Membentuk Dalam karakter peserta Triangulasi
Karakter Membentuk didik data, metode
Peserta Didik Karakter 3) Pembiasaan dan sumber
di SD Islam Peserta didik beribadah dalam
Al-Azhaar 2) Kendala yang membentuk
Tulungagung dihadapi karakter siswa
(2014) sekolah
3) Penyelesaian
dalam
mengatasi
kendala
pelaksanaan
pembiasaan
beribadah
69
Lanjutan tabel...
Aspek Perbedaan
Judul
No Peneliti
Penelitian
Fokus Kajian teori Metode
4 Penelitian Strategi 1) Gambaran nyata 1) Tinjauan tentang Pengecekan
ini Peningkatan kedisiplinan strategi Keabsahan Data
Kedisiplinan beribadah siswa 2) Tinjauan tentang 1) Perpanjangan
Beribadah 2) Strategi untuk kedisiplinan ibadah keikutsertaan
Siswa di meningkatkan 3) Strategi 2) Ketekunan
MTsN kedisiplinan Peningkatan pengamatan
Bandung shalat kedisiplinan 3) Triangulasi
Tulungagung 3) Strategi untuk beribadah teknik,
(2015) meningkatkan sumber
kedisiplinan data,dan
membaca Al- waktu
Qur’an 4) Pemeriksaaan
4) Strategi untuk sejawat
meningkatkan melalui
kedisiplinan diskusi
infaq dan 5) Review
Shadaqah informan
5) Faktor
pendukung dan
penghambat
serta solusi