0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan4 halaman

Definisi dan Makna Risiko dalam Kehidupan

Risiko merupakan ketidakpastian tentang hasil di masa depan yang dapat membawa akibat merugikan. Dokumen tersebut menjelaskan berbagai pengertian risiko dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu. Risiko dapat muncul dari berbagai sumber seperti bencana alam, kelalaian manusia, atau ketidakpatuhan terhadap peraturan. Dokumen tersebut juga membedakan antara risiko, bahaya, dan bencana sebag

Diunggah oleh

ongki adi wijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan4 halaman

Definisi dan Makna Risiko dalam Kehidupan

Risiko merupakan ketidakpastian tentang hasil di masa depan yang dapat membawa akibat merugikan. Dokumen tersebut menjelaskan berbagai pengertian risiko dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu. Risiko dapat muncul dari berbagai sumber seperti bencana alam, kelalaian manusia, atau ketidakpatuhan terhadap peraturan. Dokumen tersebut juga membedakan antara risiko, bahaya, dan bencana sebag

Diunggah oleh

ongki adi wijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengertian Risiko

Perkataan risiko hampir selalu ditemukan dalam setiap segi kehidupan manusia baik sebagai
individu, keluarga, masyarakat maupun dalam dunia usaha baik terkait secara ekonomi, sosial
maupun politik. Kata "risiko" pada umumnya membuat bayangan akan sesuatu yang menakutkan,
tak mengenakkan dan kondisi tak nyaman. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak orang
menganggap bahwa risiko itu selalu berkonotasi negatif, membawa keburukan, tak ada untungnya,
dan patut dihindari bahkan dijauhi atau jika mungkin, ditiadakan. Berbagai usaha dilakukan manusia
dalam rangka menghindari, menghapuskan, mengurangi, membatasi atau mengalihkan kepada pihak
lain. Risiko merupakan suatu konsepsi dengan berbagai makna, tergantung atas konteks disiplin ilmu
atau cara pandang yang menggunakannya. Bagi orang awam, risiko diartikan sebagai menghadapi
kesulitan atau bahaya, yang mungkin menimbulkan musibah cedera atau hal-hal semacam itu yang
sifatnya akan merugikan. Cara pandang matematis melihat risiko dari sudut tingkah laku daripada
fenomenanya, "Risiko adalah tingkat penyebaran nilai dalam suatu distribusi di sekitar nilai rata-
ratanya". Ini berarti, makin besar tingkat penyebarannya, akan makin besar risikonya. Kamus Besar
Bahasa Indonesia mendefinisikan risiko sebagai akibat yang kurang menyenangkan (merugikan,
membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Adapun Joel G. Siegel dan Jae K. Shim
mendefinisikan risiko pada tiga hal: pertama, adalah keadaan yang mengarah kepada sekumpulan
hasil khusus, ketika hasilnya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh
pengambil keputusan. Kedua, adalah variasi dalam keuntungan, penjualan, atau variabel keuangan
lainnya. Dan ketiga, adalah kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang memengaruhi kinerja
operasi perusahaan atau posisi keuangan seperti risiko ekonomi, ketidakpastian politik, dan masalah
industri. Pandangan dari berbagai pihak terkait risiko dimana masing-masing melihat dari sudut
pandang yang berbeda sehingga menimbulkan pengertian berbeda pula antara lain berikut ini.

 Sasaran yang diragukan berkaitan dengan hasil dalam situasi tertentu.


 Risiko adalah keraguan atau ketidakpastian hasil dalam suatu situasi yang telah ditetapkan
semula.
 bahwa hasil yang sebenarnya bisa berbeda dengan hasil yang diperkirakan sebelumnya.
 Risiko adalah kemungkinan akan terjadinya suatu kejadian yang merugikan atau risiko
adalah peluang terjadinya kerugian.
 Risiko adalah kombinasi dari bahaya-bahaya.
 Risiko adalah kemungkinan terjadinya suatu peristiwa di masa yang akan datang, dan jika
peristiwa tersebut terjadi, akan mendatangkan kerugian.
 Kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang tidak diinginkan.
 Kerugian yang kebetulan terjadi. (9) Uncertainty about future events.
 (10)The mismatching of interest rate bases for associated assets and liabilities.
 (11)Risk is a conditions in which there is a possibility of an adverse deviation from a desired
outcome that is expected or hope for.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, sebenarnya dapat disimpulkan bahwa risiko


adalah bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi nantinya
(future) dengan keputusan yang diambil berdasarkan berbagai pertimbangan pada saat ini.

Sering orang mempersamakan pengertian risiko dengan peril dan hazard. Memang
ketiga istilah tersebut berkaitan erat satu sama lain akan tetapi berbeda dalam pengertian.
Peril adalah suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan hazard adalah
keadaan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya suatu peril.
a. Perils (Bencana, Musibah) Peril dapat didefinisikan sebagai penyebab langsung
terjadinya kerugian. Orang-orang dapat mengalami kerugian atau kerusakan karena
terjadinya berbagai perils atau bencana. Bencana yang sering terjadi adalah kecelakaan,
kebakaran, kecerobohan dan ketidak-jujuran. Bencana-bencana yang dapat menimpa
harta-benda dan penghasilan seharusnya dicermati dan dipelajari oleh pengelola risiko
sehingga perlindungan yang tepat dapat dilakukan untuk mengendalikannya.

b. Hazards (Bahaya) Dibalik suatu bencana atau peril biasanya ada penyebab
sesungguhnya. Misalnya, kebakaran yang berkobar di sebuah bengkel adalah peril,
tetapi mungkin sebelum kebakaran di tempat tersebut terdapat kain-kain berlumuran
minyak tanah berserakan di sekitar bangunan bengkel sebagai penyebab awal dari
kebakaran tersebut. Keadaan yang buruk tersebut menjadi penyebab kebakaran yang
sesungguhnya. Hazard atau bahaya dapat didefinisikan sebagai keadaan yang dapat
menimbulkan atau meningkatkan terjadinya kerugian (chance of loss) dari suatu
bencana yang terjadi. Hal-hal seperti pemeliharaan rumah tangga yang buruk, jalan raya
yang rusak berlobang, mesin yang tidak terawat, dan pekerjaan yang berbahaya adalah
hazards, karena itu semua merupakan keadaan yang dapat meningkatkan terjadinya
kerugian. Terdapat empat tipe Hazard, antara lain berikut ini.

1. Hazard Fisik (Physical Hazard)


Physical Hazards adalah hazards yang berkenaan dengan aspek-aspek fisik dari
risiko yang dapat memengaruhi timbulnya atau besarnya suatu kerugian, baik dari
segi sering atau jarang terjadinya (frequency) maupun dari segi tingkat keparahan
dari kerugian atau kerusakannya (severity). Untuk memperjelas pengertian dan
memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini adalah contoh-contoh physical
hazard.

A. Bangunan
(1) Dinding yang terbuat dari kayu.
(2) Atap dari bahan lemah dan mudah terbakar.
(3) Gudang yang menyimpanbarang-barang mudah terbakar, seperti: bahan-bahan
kimia dan minyak tanah.
(4) Dinding bangunan dari batu bata atau beton. Hazards pada item

(1), (2), dan (3) mengandung physical hazard tinggi yang dapat memudahkan
terjadinya kebakaran ataupun juga dapat memperbesar kerugian yang ada jika
terjadinya kebakaran. Sedangkan hazards pada item (4) mengandung physical
hazards yang rendah.

B. Kendaraan Bermotor Berkendara di kota-kota sibuk dan padat lalu lintas:


(1) parkir di luar (tidak dalam garasi) pada waktu malam hari;
(2) penggunaan sebagai taksi (komersil);
(3) parkir dalam garasi tertutup.

C. Tanggung gugat
(1) penggunaan bahan-bahan kimia, minyak tanah atau bensin di tempat kerja.
(2) kegiatan kerja yang menimbulkan banyak debu di tempat kerja.
(3) Upah karyawan/buruh yang terlalu rendah, atau kurangnya kesejahteraan dan
keselamatan kerja.
(4) penggunaan sistem pencegahan polusi di lingkungan ternpat kerja.

Kondisi pada item (1), (2), dan (3) menunjukkan physical hazards yang bagus,
sedangkan item (4) adalah physical hazard yang rendah.

2. Hazard Moral (Moral Hazards)

Moral Hazards adalah hazards yang berkenaan dengan sikap dan tingkah laku
orang-orang yang terkait dengan suatu risiko. Moral hazards ini sangat berpengaruh
terhadap besarnya atau tingkat keparahan kerugian. Contoh dari moral hazards
adalah seseorang mempertanggungkan rumah tinggalnya terhadap risiko kebakaran.
Pada suatu hari rumah tersebut mengalami kebakaran. Sebenarnya, kebakaran
tersebut dapat dicegah seandainya ia berusaha melakukan pemadaman selagi api
masih kecil. Namun hal itu tidak ia lakukan sehingga api membesar dan
memusnahkan rumahnya. Dalam contoh ini tampak sikap mental seseorang yang
dapat memperbesar terjadinya kerugian. Kadang-kadang Moral Hazards dapat
timbul akibat hubungan yang buruk dari suatu manajemen perusahaan yang salah
(Bad or Mismanagement) seperti upah pekerja yang rendah atau perlakuan yang
tidak adil, dan lain-lain. Hal-hal seperti ini akan memicu timbulnya suatu peluang
risiko kerusuhan/pemogokan yang lebih tinggi dari normalnya. Selain itu dalam
hubungannya dengan moral hazard yang ada, perlu juga dipertimbangkan faktor
budaya dan kultur masyarakat (Social Culture) karena faktor tersebut cukup
berpengaruh terhadap tingkat risiko dan kejadian klaim yang mungkin muncul.
Misalnya, dalam suatu kota yang mempunyai tingkat kemiskinan tinggi akan
mengakibatkan meningkatnya tingkat kejahatan yang ada dalam masyarakat kota
tersebut, sehingga dapat mempunyai hubungan dengan tingkat klaim terhadap
risiko kehilangan atau kebongkaran.

3. Morale Hazards

Morale hazards adalah adanya peningkatan bahaya-bahaya kerugian karena


risiko yang timbul dari sikap berbeda tertanggung yang disebabkan sudah adanya
jaminan asuransi. Contoh adalah seseorang yang memiliki kendaraan dan telah ia
asuransikan. Karena merasa mobilnya telah diasuransikan maka ia sering kali
bersikap kurang hatihati, misalnya dalam memarkir kendaraan atau dalam
mengendarainya dibandingkan dengan jika kendaraan tersebut tidak diasuransikan.
Sikap yang demikian adalah berbahaya dan dapat memperbesar terjadinya bencana
atau peril. Perbedaan antara bahaya moral dan bahaya morale adalah bahaya moral
timbul apabila tertanggung menciptakan kerugian untuk mendapatkan keuntungan,
sedangkan bahaya morale timbul karena tertanggung tidak melindungi hartanya
atau ia lalai karena merasa hartanya telah diasuransikan.

4. Legal Hazard

Sering kali berdasarkan peraturan atau perundang-undangan yang bertujuan


melindungi masyarakat dalam kenyataan sehari-hari justru diabaikan atau tidak
dihiraukan, sehingga memperbesar terjadinya peril atau bencana. Sebagai contoh
adalah asuransi kecelakaan kerja yang bersifat wajib diselenggarakan oleh pemberi
kerja bagi kepentingan para pekerja. Kewajiban-kewajiban hukum lain seperti
pengadaan fasilitas keselamatan kerja, aturan jam bekerja, dan lain-lain sering
diabaikan oleh pihak pemberi kerja. Hal demikian disebut legal hazard karena dapat
meningkatkan terjadinya peril atau bencana yang merugikan.

Anda mungkin juga menyukai