Pembuatan Garam Kompleks dan Rangkap
Pembuatan Garam Kompleks dan Rangkap
Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab
Percobaan ini berjudul pembuatan garam kompleks dan garam rangkap dengan
tujuan untuk mempelajari pembuatan dan sifat-sifat garam rangkap kupri
ammonium sulfat dan garam kompleks tetraamintembaga (II) sulfat monohidrat
sulfat. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah kristalisasi. Pembuatan
garam rangkap dapat dilakukan dengan cara mereaksikan kristal tembaga sulfat
pentahidrat dengan kristal ammonium sulfat dan juga aquades. Hasil yang
diperoleh pada percobaan pembuatan garam rangkap diperoleh kristal garam
rangkap Cu2SO4(NH4)2SO4.6H2O sebesar 5,5 gram dengan rendemen sebesar
69,8%. Pembuatan garam kompleks dapat dilakukan dengan cara kristal kupri
sulfat pentahidrat direaksikan dengan ammonia, aquades dan etil alkohol. Hasil
yang diperoleh pada percobaan pembuatan garam kompleks diperoleh kristal
garam kompleks Cu(NH3)4SO4.H2O sebanyak 1,5 gram dengan rendemen sebesar
30,5%. Garam kompleks dan garam rangkap jika direaksikan dengan aquades,
maka akan menghasilkan warna yang berkurang, serta garam rangkap apabila
dipanaskan maka akan melepaskan air dan garam kompleks apabila dipanaskan
maka akan mengeluarkan gas ammonia.
Kata kunci : garam rangkap, garam kompleks, senyawa kompleks, tembaga (II).
ABSTRACT
This experiment was entitled preparation of complex salt and double salt which of
studying the preparation and properties of cupric ammonium sulfate triple salt and
tetramincopper(II) sulfate monohydrate sulfate complex salt. The method used in
this experiment is crystallization. Double salt can be made by reacting
pentahydrate copper sulfate crystals with ammonium sulfate crystals and also
distilled water. The results obtained in the experiment of making double salt were
obtained 5.5 grams of Cu2¬SO4(NH4¬)2SO4.6H2O double salt crystals with a
yield of 69.8%. Complex salts can be made by reacting cupric sulfate
pentahydrate crystals with ammonia, distilled water and ethyl alcohol. The results
obtained in the experiment of making complex salt were 1.5 grams of complex
salt crystals of Cu(NH3)4SO¬4.H2O with a yield of 30.5%. Complex salts and
double salts when reacted with distilled water will produce a reduced color, and
double salts when heated will release water and complex salts when heated will
release ammonia gas.
A. Latar Belakang
Cabang ilmu yang mempelajari tentang senyawa koordinasi disebut kimia
koordinasi. Sifat-sifat senyawa koordinasi dapat diprediksi dari sifat ion pusatnya,
Mn+ dan ligan, L1, L2, dan seterusnya. Hal yang sangat spesifik dari senyawa
kompleks adalah adanya spesies bagian dari senyawa itu yang tidak berubah, baik
dalam padatan maupun dalam larutan walaupun sedikit ada disosiasi. Spesies
tersebut dapat berupa nonionik, kation atau anion, bergantung pada muatan
penyusunnya. Jika bermuatan maka spesies itu disebut ion kompleks atau lebih
sederhana spesies kompleks pada suatu senyawa koordinasi (Ramlawati, 2005: 1).
Senyawa kompleks tersusun atas atom pusta (logam transisi) yang
dikelilingi oleh sejumlah anion atau molekul netral. Anion atau molekul netral ini
mengelilingi atom pusat yang disebut dengan ligan. Bila ditinjau dari sistem
asam-basa lewis, atom pusat dalam senyawa kompleks tersebut bertindak sebagai
asam lewis sedangkan ligannya bertindak sebagai basa lewis. Ikatan yang terjadi
antara atom pusat dan ligan merupakan ikatan kovalen koordinasi. Jumlah ligan
yang akan mengelilingi atom pusat menyatakan bilangan koordinasinya pada
ikatan kovalen tersebut (Harefa, 2019: 23).
Suatu garam yang terbentuk melalui kristalisasi dari campuran sejumlah
ekivalen dua atau lebih garam teretentu disebut garam rangkap. Sedangkan,
garam-garam yang mengandung ion-ion kompleks dikenal sebagai senyawa
koordinasi atau garam kompleks. Garam kompleks ini berbeda dengan garam
rangkap, dimana garam rangkap terbentuk dari dua garam yang mengkristal secara
bersama-sama dalam perbandingan molekul tertentu. Garam-garam ini memiliki
struktur tersendiri dan tidak harus sama dengan struktur garam komponennya.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukanlah percobaan
pembuatan garam rangkap dan garam kompleks. Percobaan ini akan dipelajari
pembuatan garam kompleks tetraamintembaga (II) sulfat monohidrat dan garam
rangkap kupri ammonium sulfat dari garam kupri sulfat dan ammonium sulfat,
serta mempelajari sifat-sifatnya. Percobaan ini dilakukan agar mahasiswa kimi
dapat lebih mengetahui mendalam mengenai senyawa koordinasi, khususnya
senyawa kompleks sebab hal tersebut merupakan hal yang penting dalam kimia
anorganik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, adapun rumusan masalah pada percobaan ini
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara pembuatan garam rangkap kupri ammonium sulfat,
(Cu2SO4(NH4)2SO4.6H2O) dan garam kompleks tetraamintembaga (II) sulfat
monohidrat (Cu(NH3)4SO4.H2O)?
2. Bagaimana sifat-sifat garam rangkap kupri ammonium sulfat dan garam
kompleks tetraamintembaga (II) sulfat monohidrat?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuan dari percobaan ini adalah
sebagai berikut:
1. Terampil dalam pembuatan garam rangkap kupri ammonium sulfat,
(Cu2SO4(NH4)2SO4.6H2O) dan garam kompleks tetraamintembaga (II) sulfat
monohidrat (Cu(NH3)4SO4.H2O).
2. Mampu mengetahui sifat-sifat garam rangkap kupri ammonium sulfat dan
garam kompleks tetraamintembaga (II) sulfat monohidrat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Garam ialah senyawa ionik yang terbentuk oleh reaksi antara asam dan
basa. Garam ini merupakan elektrolit kuat yang terurai sempurna dalam air dan
dalam beberapa kasus bereaksi dengan air. Garam yang mengadung ion logam
alkali atau ion logam alkali tanah dan basa konjugat suatu asam serta basa kuat,
maka akan menghasilkan garam yang bersifat netral. Sedangkan, garam dari asam
lemah dan basa kuat, jika dihidrolisis akan menghasilkan larutan basa begitupun
sebaliknya, jika garam dari basa lemah dan asam kuat jika dihidrolisis akan
menghasilkan larutana asam (Chang, 2005: 116-117).
Istilah senyawa koordinasi memberikan pengertian bahwa dua zat yang
lebih sederhana, missal CoCl3 dan NH3 bergabung atau berkooordinasi menjadi
senyawa kompleks. Penulisannya dapat dilihat lebih baik dari senyawa-senyawa
berikut: (a) [Co(NH3)6]; (b) [Co(NH3)5Cl]Cl2; dan (c) [Co(NH3)4Cl2]Cl, dimana
gugus yang terikat pada ion logam pusat disebut ligan serta gabungan ion pusast
dengan ligan yang terikat adala suatu ion kompleks. Ikatan pada senyawa
koordinasi ialah bahwa valensi atau nilai daya gabung atom pusat tetap sama
dengan nilai yang dinyatakan pada bentuk garam sederhana (Petrucci, 1999: 180).
Suatu ion (atau molekul) kompleks terdiri dari satu atom (ion) pusat dan
sejumlah ligan yang terikat erat dengan atom pusat. Atom pusat ini ditandai oleh
bilangan koordinasi atau suatu angka yang bulat yang menunjukkan jumlah ligan
(monodentat) yang suatu ion kompleks dengan satu atom pusat dan bilangan
koordinasi 6 yang terdiri dari ion pusat dengan suatu oktahedron, maka keenam
ligannya akan menempati ruang-ruang yang dinyatakan oleh sudut-sudut
oktahedron tersebut. Sehingga, bilangan koordinasi ini menyatakan jumlah
ruangan yang tersedia sekitar atom atau ion pusat yang disebut bulatan koordinasi
yang masing-masingnya dapat dihuni satu ligan (monodentat), serta susunan
logam sekitar ion pusat adalah simetris (Svehla, 1990: 95).
Ligan adalah spesies yang memiliki atom yang dapat memberikan
sepasang elektron pada ion logam pusat pada tempat tertentu dalam lengkung
koordinasi. Ligan merupakan basa Lewis dan ion logam adalah asam Lewis dan
ligan ini juga merupakan anion monoatomik namun bukan atom netral, juga
berupa poliatomik seperti NO2- dan molekul sederhana seperti NH3 atau molekul
kompleks seperti priding, C5H5N. Ligan yang dapat menyumbangkan lebih dari
sepasang elektron dari atom yang berbeda pada tempat yang berbeda dalam
struktur geometri ion kompleks, maka ligan ini disebut ligan multidentat serta
molekul etilenadiamin (en) yang dapat menyumbangkan dua pasang elektron dari
setiap atom N maka disebutlah ligan bidentat (Petrucci, 1999: 183-184).
Ligan monodentat merupakan ligan yang hanya mampu memberikan satu
pasang elektron kepada satu ion logam pusat dalam senyawa koordinasi, misalnya
semua ion halide, ammonia, air dan PR3. Ligan bidentat merupakan ligan yang
mempunyai dua atom donor sehingga mampu memberikan dua pasang elektron,
ligan bidentat ini dapat berupa molekul netral seperti diamin, difosfin, disulfit, dan
lain sebagainya. Ligan polidentat merupakan ligan-ligan yang memiliki lebih dari
dua atom donor, yang dapat disebut tri, tetra, penta atau heksa dentat bergantung
pada jumlah atom donor yang ada (Ramlawati, 2005: 8).
Garam kompleks adalah garam yang tersusun atas unsur logam dai ion
kompleks. Garam kompleks ini apabila dalam bentuk larutan, elektrolitnya akan
terionisasi menjadi ion logam dan ion kompleks pula. Reaksi-reaksi elektrolit
dalam air adalah reaksi antara ion dan ion, bukan reaksi antara molekul dan
molekul sehingga reaksi yang digambarkan dengan ion-ion ini disebut reaksi ion
atau persamaan ion. Reaksi ion ada beberapa zat yang tidak dapat diionkan,
seperti air, unsur bebas, gas oksida, elektrolit lemah dan elektrolit yang
mengendap. Contoh dari beberapa garam kompleks ini diantaranya ferrisianida,
kalium ferrosianida, dan perak diamin klorida (Saputro, 2015: 152).
Pembentukan senyawa kompleks ini adalah peristiwa dimana terjadinya
interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut sehingga membentuk
garam kompleks. Contohnya seperti iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh.
Kecepatan kelarutan ini dipengaruhi oleh ukuran partikel, dimana semakin halus
solut maka semakin kecil ukuran partikel dan makin luas pula permukaan solut
yang kontak dengan solvent sehingga solute makin cepat larut. Kecepatan
kelarutan juga dipengaruhi oleh suhu, dimana umumnya kenaikan suhu dapat
menambah kelarutan solut, serta dipengaruhi juga pada pengadukannya dalam hal
kelarutan (Rohman, 2018: 4).
Senyawa kompleks ini berbeda dengan garam rangkap, dimana dapat
dilihat dari dua senyawa berikut yaitu 2KCl.HgCl2 dan 2KCl.HgCl2. kedua
senyawa tersebut memang sepintas mirip namun memiliki sifat yang berbeda,
dimana senyawa pertama menghasilakan tiga ion tiap molekul sedangkan senyawa
kedua menghasilkan tujuah ion tiap molekulnya. Perbedaan sifat tersebut, maka
disimpulkan bahwa senyawa pertama dinamakan senyawa kompleks yang secara
umum dapat dituliskan K2[HgCl4], dan senyawa kedua pula dinamakan dengan
garam rangkap serta tetap ditulis sebagaimana mestinya yaitu ditulis dengan
2KCl.HgCl2 (Ramlawati, 2005: 1-2).
Sintesis ion logam Co2+ dari CoCl2.6H2O dengan ligan basa Schiff N,N-
dimetil-4-(feniliminonmetil) anilin dan 1,10-Fenantrolin bertujuan untuk
membentuk senyawa kompleks. Penelitian tersebut membuktikan bahwa
kompleks Co (II) basa Schiff dan kompleks Co (II) Fenantrolin telah terbentuk
karena terjadi adanya pergeseran panjang pada gelombang dari ligan senyawa
kompleks hasil sintesis tersebut. Hal ini telah sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa gugus (M-N) akan muncul dengan adanya bilangan
gelombang sebesar yaitu 400-600 cm-1. Senyawa Co (II) Fenantrolin memiliki
momen magnet sebesar 4,720 BM dengan bentuk geometri octahedral disertai
dengan terbentuknya tiga agen khelat yang dapat menstabilkan struktur senyawa
kompleks. Selain itu, ligan pada Fenontrolin ini merupakan ligan kuat sehingga
senyawa kompleks bersifat paramagnetik (Sembiring, dkk, 2021: 183-187).
Sintesis senyawa kompleks Zn (II)-8-Hidroksikuinolin dilakukan dengan
mencampurkan antara ZnCl2 dan ligan 8-Hidroksikuinolin atau biasa disebut asam
oksin (Hox) dengan varian pelarut yakni pelarut yang digunakan antara lain
asetonitril, methanol dan etanol. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada
sintesis dengan kelarutan yang berbeda maka memiliki sifat yang berbeda pula.
Hal ini disebabkan adanya korelasi antara konstanta dielektrikum dengan
polaritas, dimana semakin tinggi konstanta dielektrikum dari suatu pelarut maka
akan semakin polar pelarut tersebut. Perbedaan pelarut yang digunakan
menyebabkan kelarutan yang berbeda karena atom pusat dan ligan yang
digunakan akan semakin larut pada pelarut polar (Hermawati, dkk, 2016: 95).
Reaksi antara klorofil yang diisolasi dari daun ubi dengan prekursor logam
tembaga (II) pada penelitian sintesis dan transaksi elektronik kompleks tembaga
(II) klorofil yang dibawahi kondisi refluks dalam metanol menghasilkan padatan
yang diduga adalah senyawa kompleks tembaga (II) klorofil. Pengamatan yang
telah dilakukan terjadi kompleksasi pada atom nitrogen dalam cincin firol
menggantikan ion magnesium dua. Masuknya logam tembaga (II) dalam struktur
klorofil mengubah sifat transisi elektronik klorofil dengan terjadinya pergeseran
hipsokromik dengan absorptivitas yang meningkat. Introduksi logam ini diduga
juga mempengaruhi struktur agregat klorofil yang terbentuk dari interaksi antar
molekul melalui atom pusat logam (Silalahi, dkk, 2020: 7).
Hasil penelitian yang telah dilakukan pada sintesis, karakterisasi dan uji
Aktivitas senyawa kompleks Zn (II)-katekin sebagai inhibitor enzim lipase dapat
disimpulkan bahwa karakteristik senyawa kompleks Zn (II)-katekin hasil sintesis
memiliki titik leleh lebih dari 250°C. Panjang gelombang dari senyawa kompleks
tersebut maksimum sebesar 454 mm dan ikatan antara logam dengan ligan terlihat
pada puncak serapan bilangan gelombang 478,35 cm-¹. Pengkompleksan ligan
katekin dengan ion logam Zn2+ dapat meningkatkan persen inhibisi terhadap
aktivitas enzim lipase dari Candisa rugosa. Senyawa kompleks Zn (II)-katekin 50
µg/mL menyebabkan penghambatan. Aktivitas enzim lipase sebesar 53,61%
dengan tipe inhibisi campuran (mixed inhibition) (Putri, dkk, 2019: 38).
Struktur kristal tetraamintembaga (II) [Cu(NH3)4]2+ pada komplikasi
geometri dari ion kompleks pada penelitian yang telah dilakukan menyatakan
bahwa semua anion menunjukkan geometri empat koordinat. Kristal tersebut
hanya bisa dilarutkan oleh air dibandingkan menggunakan pelarut kristal.
Geometri dasar [Cu(NH3)4]2+ adalah kristal planar persegi empat koordinat, namun
keberadaan geometri lainnya tidak dapat juga diabaikan dalam keadaan kristal
(Noguchi, 2022: 64-65).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
B. Prosedur Kerja
1. Pembuatan garam rangkap kupri ammonium sulfat
dilarutkan
CuSO4.5H2O 4,999 g 10 mL aquades
dan (NH3) SO4 2,6999 dalam gelas kima
g
dipanskan
didekantasi dikeringkan
Terbentuk Residu Kristal +
kristal (Kristal) kertas saring
ditimbang
Kristal
dilarutkan
CuSO4.5H2O dalam CuSO4.5H2O 4,999
ammonim sulfat gram
ditambahkan
dilarutkan
Etanol Lrutan ditutup
dengan kaca arloji
- Disaring
- Dicuci 5mL etanol
ditimbang
Kristal Kristal
ditambahkan
4 mL NH3 sampai
volume 3mL 2 Ml H2O
diamati
Terjadi perubahan
warna
ditambahkan
didinginkan
Terjadi perubahan
2 mL H2O
warna
+10mL H2O
Terjadi perubahan
warna
c. ½ garam rangkap
dipanaskan
Terjadi perubahan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Pembuatan garam rangkap kupri ammonium sulfat
No Perlakuan Hasil
5 gram CuSO4.5H2O +
1 264 gram (NH4)2SO4 + Larutan biru tua
10 mL aquades
2 Larutan dipanaskan Larutan biru tua
Berwarna biru muda dan terbentuk
3 Larutan didinginkan
endapan
Larutan disaring lalu
4 Terbentuk kristal berwarna biru muda
diuapkan
5 Kristal ditimbang Berat kristal = 5,5 gram
2. Pembuatan garam kompleks tetraamintembaga (II) sulfat monohidrat
No Perlakuan Hasil
8 mL NH3 + 10 mL
1 Larutan tidak berwarna
aquades
2 + 5 gram CuSO4.5H2O Larutan biru tua
Terbentuk dua lapisan
Larutan biru tua + 8 mL
3 Lapisan atas : biru tua
etanol
Lapisan bawah : biru muda
Dicuci dengan 5 mL NH3, Terbentuk kristal berwarna biru tua
5 mL etanol + disaring
4
Dicuci kembali dengan 5 Kristal berwarna biru tua
mL etanol
5 Campuran diuapkan Kristal berwarna biru tua
6 Kristal ditimbang Berat kristal = 1,5 gram
3. Perbandingan beberapa sifat garam tunggal, garam rangkap, dan garam
kompleks
No Perlakuan Hasil
- Larutan biru tua
Kristal CuSO4 + 2 mL aquades
1
+ 4 mL NH3
- Larutan biru tua
- Larutan biru tua
Garam rangkap + 4 mL aquades
2
Garam kompleks + 2 mL aquades - Larutan biru muda
C. Pembahasan
Beberapa garam dapat mengkristal dari larutannya dengan mengikat
sejumlah molekul air sebagai hidrat (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2022: 12).
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mempelajari pembuatan dan
sifat-sifat garam rangkap kupri ammonium sulfat dan garam kompleks
tetraamintembaga (II) sulfat monohidrat. Berikut ini adalah penjabaran dari dua
aktivitas tersebut :
1. Pembuatan garam rangkap kupri ammonium sulfat Cu2SO4(NH4)2SO4.6H2O
Garam rangkap dibentuk apabila dua garam mengkristal bersama-sama dalam
perbandingan molekul tertentu. Garam rangkap dalam larutan akan mengalami
terionisasi sehingga menjadi ion-ion komponennya (biasanya terhidrat) (Tim
Dosen Kimia Anorganik, 2022: 12). Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari
pembuatan garam rangkap dari kupri ammonium. Prinsip dasar dari percobaan ini
adalah kristalisasi, dimana beberapa garam dapat mengkristal dari larutannya
dengan mengikat sejumlah molekul air sebagai hidrat.
Pembuatan garam rangkap kupri ammonium sulfat
dapat dibuat dengan cara melarutkan kristal kupri sulfat
pentahidrat dan kristal ammonium sulfat, dimana
merupakan bahan utama dalam pembuatan garam
rangkap kupri ammonium sulfat. Kedua kristal tersebut
dilarutkan menggunakan aquades agar kristal lebih cepat
larut sehingga menghasilkan larutan yang berwarna biru
tua. Fungsi aquades disini adalah untuk melarutkan
kristal tembaga sulfat pentahidrat serta untuk
Gambar 1.1
mengionkan garam ammonium sulfat menjadi ion- Dilakukan pelarutan kristal
CuSO4 + kristal (NH4)2SO4
ionnya. Aquades digunakan dalam percobaan ini karena + H2O melalui pemanasan
mempunyai momen dipol yang besar sehingga dapat ditarik baik ke kation
maupun ke anion untuk membentuk ion terhidrat. Pelarutan kedua kristal tersebut
dibantu dengan melakukan pemanasan, dimana pemanasan ini berfungsi agar
kristal dapat larut secara sempurna.
Kristal kupri sulfat pentahidrat berfungsi sebagai penyedia atom pusat (Cu)
dalam proses pembentukan garam rangkap, dan kristal diammonium sulfat
berperan sebagai penyedia ligan NH4 yang akan bereaksi dengan atom pusat (Cu).
Proses pelarutan kristal dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan agar kristal
dapat melarut dan proses reaksi dapat dipercepat akibat pemanasan tersebut.
Setelah dilakukan pemanasan, larutan tersebut didinginkan pada suhu kamar
untuk menurunkan suhu larutan. Karena jika langsung didinginkan pada es batu
dikhawatirkan kristal yang terbentuk kurang maksimal.
Campuran selanjutnya didinginkan melalui suhu ruang dengan menggunakan
es batu agar mempercepat proses pembentukan kristal. Kristal yang terbentuk
kemudian disaring yang bertujuan untuk memisahkan campuran dari zat cair.
Kristal yang telah disaring kemudian dikeringkan dengan bantuan penguapan di
atas spiritus, hal tersebut dilakukan agar mempercepat proses penguapan air pada
kristal sehingga diperoleh kristal yang murni.
Kristal yang sudah kering kemudian ditimbang yang bertujuan untuk
mengetahui berat dari kristal kupri ammonium sulfat
yang diperoleh (Cu2SO4(NH4)2SO4.6H2O). Adapun
hasil yang diperoleh yaitu terbentuknya kristal dari
garam rangkap Cu2SO4(NH4)2SO4.6H2O yang berwarna
biru muda dengan berat sebesar 5,5 gram. Hasil analisis
data yang diperoleh menyatakan bahwa rendemen pada
percobaan kali ini adalah sebesar 69,8%, artinya jumlah
produk garam rangkap Cu2SO4(NH4)2SO4.6H2O hasil Gambar 1.2
praktek yang dihasilkan adalah sebesar 5,5 gram atau Dilakukan penimbangan
hasil kristal rangkap yang
sebesar 69,8% dari 100% atau 7,99 gram dari berat diperoleh
teori.
Hasil yang diperoleh telah sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat
maupun dalam bentuk larutan atau zat cair apabila dilakukan perlakuan (Svehla,
1990: 230). Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
CuSO4.5H2O(s) + (NH4)2SO4(s) + H2O(aq) Cu2SO4(NH4)2SO4.6H2O(s)
(tembaga (II) (ammonium (air) (kupri ammonium sulfat)
sulfat sulfat) (bening) (bening)
pentahidrat (putih)
(biru)
Hibridisasi Cu
telah dilakukan masih ada garam kompleks yang belum terbentuk karena masih
belum mencapai 100%. Hal tersebut mungkin disebabkan ammonia yang
menyediakan ligan banyak yang menguap sehingga tidak diperoleh kristal dengan
sempurna. Adapun reaksi yang terajdi adalah sebagai berikut:
CuSO4.5H2O + NH4OH + H2O [CuSO4(NH3)4SO4]H2O + H2O
(tembaga (II) (ammonium (air) (tetraamintembaga (air)
sulfat hidroksida) (bening) (II) sulfat (tidak
pentahidrat (bening) monohidrat) berwarna)
(biru) (biru)
Hibridisasinya yaitu:
Adapun bentuk geometri dari pembuatan garam kompleks tetraamintembaga (II)
sulfat monohidrat (Cu(NH3)4SO4.H2O) adalah sp3d2 (Oktahedral), yaitu dapat
dilihat sebagai berikut:
A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Pembuatan garam rangkap dapat dilakukan dengan cara mereaksikan kristal
tembaga sulfat pentahidrat dengan kristal ammonium sulfat dan juga
aquades. Sementara itu, pembuatan garam kompleks dapat dilakukan
dengan cara mereaksikan kristal kupri sulfat pentahidrat yang direaksikan
dengan ammonia, aquades dan etil alkohol.
2. Sifat-sifat garam kompleks dan garam rangkap diantaranya, jika garam
rangkap dan garam kompleks direaksikan dengan aquades maka akan
menghasilkan warna yang berkurang. Garam rangkap apabila dipanaskan
akan melepaskan uap air, sedangkan garam kompleks apabila dipanaskan
akan menghasilkan gas ammonia.
B. Saran
Disarankan kepada praktikan selanjutnya untuk lebih memperhatikan
prosedur kerja dan mem[perhatikan ketelitian saat melakukan penimbangan dan
pengukuran. Serta diharapkan agar lebih berhati-hati dalam menggunakan alat-
alat yang ada dalam laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Chang, R. 2005. Kimia Dasar Jilid 2 (Edisi Ketiga). Jakarta: Penerbit Erlangga,
pp: 116-117.
Hermawati, E., S., Suhartana, & Taslimah. (2016). Sintesis dan Karakterisasi
Senyawa Kompleks Zn (II)-8-Hidroksikuinolin. Jurnal Kimia dan
Aplikasi, 19(3), 94-98.
Petrucci, R.H. 1999. Kimia Dasar, Prinsip dan Terapan Modern Jilid 3 (Edisi
Keempat). Jakarta: Penerbit Erlangga, pp: 180-184.
Putri, A.L., Harsasi, S., & Sri, S. (2019). Sintesis, Karakterisasi dan Uji Aktivitas
Senyawa Kompleks Zn (II)-Katekin Sebagai Inhibitor Enzim Lipase.
Jurnal Kimia Riset, 4(1), 33-39.
Sembiring, Z., Syaifal, B., Rinawati, Adita, S.R., Aura, D., & Fiarizky. (2021).
Pengaruh Ligan pada Sintesis Senyawa Kompleks Co (II) dengan Ligan
Basa Schiff N,N-Dimetil-4-(Feniliminometil) Anilin dan 1,10-Fenantrolin.
Analytical and Environmetal Chemistry, 6(2), 180-188.
Silalahi, I.H., Julan, Muhammad, Y., & Rudiyansyah. (2020). Sintesis dan
Transisi Elektronik Kompleks Tembaga (II)-Klorofil. Jurnal Indonesia
Aplikasi Kimia, 3(1), 1-9.
Svehla, G. 1990. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro (Edisi Kelima). Jakarta: Kalman Media Pustaka, p: 95.