0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan13 halaman

Islam sebagai Objek Kajian Ilmiah

Studi Islam merupakan kajian ilmiah dan objektif tentang Islam yang melibatkan berbagai metode. Metodologi studi Islam membahas prinsip-prinsip dan prosedur untuk memahami Islam secara mendalam melalui sejarah, sosiologi, dan pendekatan lain. Islam dijadikan objek kajian untuk memahami ajaran dan realitas pelaksanaannya dalam kehidupan.

Diunggah oleh

CINDY ALIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan13 halaman

Islam sebagai Objek Kajian Ilmiah

Studi Islam merupakan kajian ilmiah dan objektif tentang Islam yang melibatkan berbagai metode. Metodologi studi Islam membahas prinsip-prinsip dan prosedur untuk memahami Islam secara mendalam melalui sejarah, sosiologi, dan pendekatan lain. Islam dijadikan objek kajian untuk memahami ajaran dan realitas pelaksanaannya dalam kehidupan.

Diunggah oleh

CINDY ALIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISLAM SEBAGAI OBJEK KAJIAN

Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti


Perkuliahan Metodologi studi islam

Dosen Pengampu : Drs. KUSDANI, [Link].i

Disusun Oleh:

Cindy Alia Tasya


Nim (12210322309)

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN)


SULTAN SYARIF KASIM
2022
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Saya panjatkan puji dan syukur atas kehadiratnya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayahnya serta kekuatan iman, islam, dan juga ihsan kepada saya,
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ISLAM SEBAGAI
OBJEK KAJIAN”.
Makalah ini telah saya susun dengan maksimal sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
banyak kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karna itu
dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami
dapat memperbaiki makalah kami ini.
Sebagai bantuan dan dorongan serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis
supaya diterima oleh Allah SWT sebagai sebuah kebaikan. Semoga makalah ini
memberikan manfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya.

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Pekanbaru, 28 February 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................ii

DAFTAR ISI..................................................................................................................................iii

BAB I...............................................................................................................................................1

PENDAHULUAN...........................................................................................................................1

A. LATAR BELAKANG............................................................................................................1

B. RUMUSAN MASALAH.......................................................................................................1

BAB II..............................................................................................................................................2

PENDAHULUAN...........................................................................................................................2

A. Pengertian Metodologi dan Studi Islam.................................................................................2

B. Studi Islam Dalam Peta Kajian Ilmiah...................................................................................3

C. Tujuan Mempelajari Metodologi Studi Islam........................................................................4

D. Manfaat Mempelajari Metodologi Studi Islam......................................................................5

E. Objek Pembahasan Metodologi Studi Islam..........................................................................6

F. Islam Sebagai Objek Kajian...................................................................................................7

G. Islam Normatif Dan Islam Historis........................................................................................8

BAB III.............................................................................................................................................9

PENUTUP........................................................................................................................................9

A. KESIMPULAN......................................................................................................................9

B. SARAN...................................................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Mengapa suatu metode dapat digunakan dalam berbagai obyek? Pertanyaan ini
muncul seiring dengan pemikiran dan penalaran akal manusia, atau yang
menyangkut dengan pekerjaan fisik. Agama dan kehidupan beragama merupakan
fenomena yang tak terlepaskan dari kehidupan dan perjalanan sejarah kehidupan
manusia.
Agama menjadi sesuatu hal yang sangat penting dalam pembinaan karakter
manusia dan mental manusia dalam menjalani proses kehidupan ini. Bagi seorang
muslim, studi Agama tidak lepas dari metode, yakni suatu cara yang teratur dan
terpikir baik-baik guna untuk mencapai suatu pemahaman yang benar tentang apa
yang dimaksudkan oleh Allah di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkannya
kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, kita dapat memahami petunjuk-
petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam
sumber ajarannya, Al Qur’an dan hadits, tampak ideal dan Agung.

B. RUMUSAN MASALAH

a. Pengertian Metodologi dan Studi Islam


b. Studi Islam Dalam Peta Kajian Ilmiah
c. Tujuan Mempelajari Metodologi Studi Islam
d. Manfaat Mempelajari Metodologi Studi Islam
e. Objek Pembahasan Metodologi Studi Islam
f. Islam Sebagai Objek Kajian
g. Islam Normatif Dan Islam Historis

1
BAB II
PENDAHULUAN

A. Pengertian Metodologi dan Studi Islam

Metodologi studi Islam terdiri dari dua kata yaitu Metodologi dan studi Islam.
Pada bahasa Arab Metodologi studi Islam dipahami sebagai dirosah Islamiyah, pada
bahasa Inggris dipahami sebagai Islamic Studies, pada istilah Jerman dipahami
sebagai Islam Wissenschaft.
Metodologi asal kata dari bahasa Latin methodologia, methodus logia dan logy.
Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1800. Makna metodologi adalah sistem
yang luas dari prinsip atau aturan metode atau prosedur yang khusus diturunkan untuk
menafsirkan atau memecahkan berbagai masalah dalam lingkup tertentu pada disiplin
ilmu. Metodologi bukanlah rumus tetapi satu set praktek.
Sedangkan studi Islam dipahami sebagai kajian yang bersifat ilmiah dan objektif
memahami tentang Islam. Studi Islam merupakan upaya yang bersifat aspektual,
polimetodis, pluralistik dan tanpa batas. Studi Islam bersifat aspektual bahwa Islam
harus diperlakukan sebagai salah satu aspek yang eksistensi. Studi Islam bersifat
polimetodis bahwa berbagai metode atau disiplin yang berbeda digunakan untuk
memahami Islam, oleh karena itu perlu memahami Islam dengan metode sejarah,
penyelidikan sosiologis, fenomenologis, dan sebagainya. Studi Islam bersifat
pluralistik karena ada banyak agama- agama dan tradisi lain disamping Islam.
Studi Islam mulai dikembangkan di Indonesia oleh Mukti Ali pada akhir dekade
tahun 70-an. Kajian masih bersifat stadium awal, terfokus pada persoalan praktis
menyangkut penataan, pembinaan dan pengembangan hubungan antar pemeluk
agama di Indonesia. Memasuki dasawarsa tahun 80-an, studi Islam memasuki fase
baru yang segar dimana mulai muncul kajian-kajian yang secara tematik lebih
variatif dan secara kualitatif lebih intensif. Situasi ini disebabkan oleh perkembangan
dunia pendidikan, teknologi komunikasi yang secara langsung membantu
perkembangan internal kajian Islam.
Menurut Mukti Ali bahwa : Islam terdiri dari dua elemen yaitu aqidah dan
syari’ah lalu mendekatinya dengan metode filosofis doktriner, berbeda dengan
metodologi yang dipergunakan ulama sebelumnya yang menyatakan bahwa Islam terdiri

2
dari aqidah dan muammalah, sedangkan muammalah terbagi menjadi dua yaitu
mammalah yang berhubungan dengan tuhan dan muammalah yang berhubungan dengan
manusia mendekatinya dengan metode doktriner saja.
Spesifikasi pengertian terminologis tentang studi Islam dalam kajian ini yaitu
kajian secara sistematis dan terpadu untuk mengetahui memahami dan menganalisis
secara mendalam hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam baik yang menyangkut
sumber-sumber ajaran Islam, pokok ajaran Islam, sejarah Islam, maupun realitas
pelaksanaannya dalam kehidupan.
Secara teoritis Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya di wahyukan tuhan
kepada manusia melalui Muhammad sebagai rasul. Islam pada hakikatnya membawa
ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari
kehidupan manusia. Selanjutnya memahami dan mengkaji Islam dalam konteks
pemaknaan yang sebenarnya bahwa Islam merupakan agama yang mengarahkan
pemeluknya pada dimensi teologis, humanis, dan keselamatan baik di dunia maupun di
akhirat.
Selain daripada itu sumber ajaran Islam berfungsi pula sebagai pokok ajaran
Islam. Islam sebagai sumber ajaran mengindikasikan bahwa ajaran Islam berasal dari
sesuatu yang dapat digali dan di pergunakan untuk kepentingan operasionalisasi
ajaran Islam dan pengembangannya sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang di
hadapi umat Islam.

B. Studi Islam Dalam Peta Kajian Ilmiah

Pembelajaran ilmu agama Islam berusaha mendudukkan Islam sebagai objek studi
yang perlu dikaji dan dianalisis secara analisis kritis-rasional, objektif, historis-
empiris dan sosiologis. Mengkaji Islam melalui nalar dan historis empiris terhadap
nilai-nilai agama Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadist harus disertai
pendekatan keagamaan agar terbangun sikap dan perilaku yang memiliki komitmen,
konsentrasi dan dedikasi terhadap Islam sebagai agama yang diyakin kebenarannya
atas dasar wawasan keilmuan keIslaman yang dimilikinya.
Studi Islam pada peta kajian ilmiah adalah upaya pengkajian Islam dengan
menerapkan metode ilmiah, khususnya dalam konteks sosial sains. Objek ilmiah studi

3
Islam diistilahkan dengan “Islam pada tiga tingkatan yaitu Islam sebagai wahyu, Islam
sebagai pemahaman atau pemikiran dan Islam sebagai pengamalan dalam
masyarakat”. Islam sebagai wahyu adalah hal sudah tetap, yakni Islam seperti halnya
yang tersebut dalam al-Quran, memahami Islam sebagai wahyu melalui studi tafsir
al-Qur’an al-Karim.
Konsep kajian Islam sebagai pemikiran atau pemahaman adalah kajian yang
berangkat dari sumber-sumber yang diakui sebagai sumber-sumber Islam,
seperti al-Quran al-Karim, Hadist, Ijma’ dan lain sebagainya, mengkaji Islam pada
tataran ini memberikan ruang untuk mengkaji Islam sebagaimana dipahami oleh
masyarakat, seperti “konsep wihdatul wujud dalam Tarikat Naqsyabandiah, atau
“syari’ah menurut MUI” dan sebagainya. Kajian Islam sebagai pemahaman akan
menyediakan ruang studi yang sangat luas, seluas agama Islam menyebar di dunia.
Sedangkan Islam pada tataran terakhir, yakni Islam sebagai pengamalan, juga
memberikan ruang kajian ke-Islaman yang sungguh luas. Salah satu perbedaan antara
Islam sebagai pemahaman dengan Islam pada pengamalan adalah aktualisasiya pada
kehidupan. Karena bisa saja suatu pemahaman tentang Islam tidak teraplikasikan
dalam pengamalan, atau malah bertentangan dengan fakta. Objek kajian studi Islam
ini juga memenuhi persyaratan yang diterapkan kepada ilmu-ilmu pengetahuan
lainnya, dapat di observasi, dapat diteliti interdisipliner.
Kembali kebenarannya, dapat diuji intersubjektif dan Karena studi Islam
berobjek kepada tiga tataran objek kajian yaitu Islam sebagai wahyu, Islam sebagai
pemahaman atau pemikiran dan Islam sebagai pengamalan dalam masyarakat, maka
dapat diartikan bahwa kebanyakan studi Islam masuk dalam bagian ilmu-ilmu Sosial dan
Humaniora.

C. Tujuan Mempelajari Metodologi Studi Islam

Studi Islam adalah salah satu studi yang mendapat perhatian dikalangan ilmuwan.
Jika ditelusuri secara mendalam, nampak bahwa studi Islam mulai banyak dikaji oleh
para peminat studi agama dan studi-studi lainnya. Dengan demikian, studi Islam
layak untuk dijadikan sebagai salah satu cabang ilmu favorit. Artinya, studi Islam telah
mendapat tempat dalam percaturan dunia ilmu pengetahuan.

4
Islam sebagai agama tidak hanya mencakup persoalan yang trasedental akan tetapi
mencakup pula berbagai persoalan seperti ekonomi, sosial, budaya, dan
dimensi-dimensi lain dalam kehidupan manusia. Jika tinjau dari perkembangan
Islam masa awal ajaran Islam telah mengalami perkembangan, terkait erat dengan
persoalan-persoalan historis kultural. Perkembangan tersebut dapat diamati dari
praktek-praktek keagamaan diberbagai wilayah Islam, dimana antara wilayah yang
satu dengan wilayah yang lain berbeda-beda dalam praktek sosial keagamaan,
sehingga benang merah yang memisahkan antara wilayah agama dan wilayah sosial dan
budaya yang telah menyatu dengan agama itu sendiri menjadi tidak jelas.
Studi Islam yang dilakukan oleh kebanyakan sarjana-sarjana Barat nonmuslim
disebut Islamic Studies. Islam bukan lagi sebagai otoritas mutlak bagi umat
pemeluknya dalam pengkajiannya, namun terbuka bagi kalangan mana saja untuk
melakukan kajian Islam, baik secara selintas maupun mendalam.
Selain itu, untuk menghindari terjadinya pemahaman yang bersifat campur aduk
tidak dapat menunjukkan secara distingtif mana wilayah agama dan mana wilayah
tradisi atau budaya. Bila pencampuradukan itu terjadi, selanjutnya tidak akan bisa
dihindari munculnya pemahaman yang distortif terhadap konsep kebenaran, antara yang
absolut dan relatif.

D. Manfaat Mempelajari Metodologi Studi Islam

Dengan mempelajari metodologi studi Islam memberikan ruang dalam pemikiran


yang lebih kritis terhadap persoalan agama, sehingga tidak menganggap bahwa
ajaran Islam klasik dianggap sebagai taken for granted, hal ini didasari atas adanya
pujian paradoksal terhadap dunia Islam. Dikatakan, salah satu penyebab kegagalan
Islam dewasa ini justru disebabkan oleh keberhasilannya yang gilang gemilang pada
masa lalu, baik karena keyakinan akan ajarannya yang sudah mutlak sempurna serta
warisan budaya masa lalu yang amat kaya dan menakjubkan, seakan tidak ada lagi ruang
bagi umat Islam untuk melakukan inovasi, yang ada adalah melakukan konservasi,
revitalisasi, dan kembali kepada kaidah-kaidah lama yang dipersepsikan sebagai
zaman keemasan. Kuatnya memori of the past yang kemudian menjadi semacam
ideologi yang disakralkan, maka dunia Islam secara psikologis merasa memiliki dunia
tersendiri. Sikap ketertutupan ini pada urutannya membatasi kita untuk bisa melihat

5
dan menerima realita dunia baru. Bahwa dunia pada abad lalu bukanlah dunia yang
kita huni hari ini
Mengimbangi alur pemikiran keagamaan seringkali menonjolkan warna pemikiran
keagamaan yang bersifat teologis-partikularistik. Hampir semua pengamatan sosial
keagamaan sepakat bahwa pemikiran teologi, seringkali membawa kearah
ketersekatan’ umat. Ketersekatan dan keterkotak-kotakan yang tidak dapat
terhindarkan.

E. Objek Pembahasan Metodologi Studi Islam

Islam sebagai agama tidak datang ke dalam “ruangan” dan kondisi yang
kosong. Islam hadir kepada suatu masyarakat yang sudah sarat dengan keyakinan,
tradisi dan praktik-praktik kehidupan. Masyarakat saat itu bukan tanpa ukuran moralitas
tertentu, namun sebaliknya inheren di dalam diri mereka tentang standar nilai dan
moralitas.
Dalam perjalanan panjang Islam mengalami asimilasi, perkembangan-
perkembangan akibat adanya berbagai macam pemahaman yang dikembangkan oleh
para tokoh-tokoh agama, ulama, pemikir-pemikir Islam.
Menurut pendapat tokoh agama pada istilah wahyu ketika dilangit bersifat maskulin
(tunggal), namun ketika membumi bersifat feminis. Hal ini berarti bahwa penafsiran
terhadap wahyu al-Qur’an mengalami perkembangan tidak hanya tekstual tetapi
memahami wahyu al-Qur’an secara kontekstual. Oleh sebab itu, obyek kajian dalam
Islam tidak hanya membahas tentang persoalan trasedental namun membahas hal
lain yang menyangkut persoalan-persoalan ketika agama membumi.

Berikut obyek kajian dalam studi Islam :


1) Komunitas setiap tradisi memiliki suatu komunitas keagamaan (gereja,
masjid, ummah) yang memiliki beragam cabang dan yang membawa umat
beriman ke dalam suatu konteks global.
2) Ritual yang dapat dipahami dalam tiga aspek penyembahan yang terus
menerus, sakramen, dan upacara-upacara. Sakramen berkaitan dengan
perjalanan kehidupan yang luar biasa, kelahiran, inisiasi (upacara tapabrata),
perkawinan dan kematian. Upacara-upacara sering merayakan tanggal kelahiran

6
atau peristiwa-peristiwa besar lainnya dari kehidupan tokoh-tokoh-tokoh besar
seperti Yesus, Musa, Muhammad, Krishna dan Budha. Aktivitas
penyembahan, sangat beragam dari segi frekuensi, watak, dan signifikansinya
namun seluruh agama memilikinya.
3) Etika, seluruh tradisi memiliki keinginan mengkonseptualisasikan dan
membimbing kearah kehidupan yang baik, dan semua menyepakati persoalan
dasar seperti keharusan menghindari kebohongan, mencuri, pembunuhan,
membawa aib keluarga, mengingkari cinta. Tradisi monoreistik menyerukan
agar mencintai manusia dan Tuhan, sedang tradisi-tradisi timur lebih
cendrung menyerukan concernetis kepada alam.
4) Keterliban sosial dan politis, komunitas-komunitas keagamaan merasa perlu
terlibat dalam masyarakat yang lebih luas untuk mempengaruhi, mereformasi,
atau beradaptasi dengannya kecuali jika agama dan masyarakat saling terpisah
seperti dalam agama-agama primal.
5) Kajian teks dan kitab suci, termasuk mite atau sejarah suci atau tradisi oral yang
dengannya masyarakat hidup, dengan mengesampingkan agama-agama primal,
kebanyakan tradisi memiliki kitab-kitab sebagai suatu canon (peraturan-
peraturan).
6) Konsep atau doktrin
7) Estetika, dalam tingkat akar rumput di sepanjang sejarah, estetika merupakan
hal yang signifikan. Ikonografi di Tajmahal dan permadani di Persia.
8) Spiritualitas yang menekankan sisi dalam batin dari agama.

F. Islam Sebagai Objek Kajian

Dari fenomena sosial yang terjadi di dalam masyarakat, Islam memang menarik
untuk dijadikan sebagai objek kajian dan dalam mengkaji Islam, tentu kita harus
berpedoman pada dua sumber otentiknya yakni al-Quran dan al-Hadits.
Orang yang memeluk agama islam, yang disebut muslim adalah orang yang bergerak
menuju ketingkat eksistensi yang lebih tinggi. Demikian yang tergambar dalam
konotasi yang melekat dalam kata Islam apabila kita melakukan suatu kajian tentang arti
Islam itu sendiri. Untuk memecahkan masalah yang timbul dalam masyarakat, maka
seorang muslim mengadakan suatu penafsiran terhadap al-Quran dan al-Hadits

7
sehingga timbullah pemikiran Islam, baik yang bersifat tekstual maupun kontekstual.
Islam sebagai agama, pemikiran atau juga sebagai objek kajian sebuah sistem yang
hidup dan dinamis. Sistem ini meliputi sebuah matriks mengenai nilai dan konsep yang
abadi, hidup dan realistis sehingga memberikan karakter yang unik bagi peradaban.
Karena Islam merupakan suatu sistem total, maka nilai dan konsep ini menyerap setiap
aspek kehidupan manusia.
ketika pemikiran hendak masuk dalam wilayah Islam untuk dikaji dengan beragam
intensi dan motif, sudut pandang atau perspektif, metodologi dan berbagai aspeknya
maka dalam proses dan bentuknya kemudian Islam dapat dipandang sebagai
pemikiran. Islam yang ditunjuk di sini tentu bukan saja apa yang terdapat dalam al-
Quran dan al-Hadits (tekstual dan skriptual) tetapi mencakup juga Islam yang
berupa pemahaan dan pengejawantahan nilai-nilainya.
Jadi, mengkaji Islam sebagai pemikiran berarti mempelajari apa yang dipahami
oleh pemikir-pemikir yang telah mengkaji ajaran-ajaran Islam yang melahirkan bentuk
pemahaman atau kajian tertentu.

G. Islam Normatif Dan Islam Historis

Islam normatif adalah Islam pada dimensi sakral yang diakui adanya realitas
transendental yang bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau
sering disebut realitas ketuhanan. Kajian Islam normatif melahirkan tradisi teks : tafsir,
teologi, fiqih, tasawuf, filsafat sebagai berikut:
a) Tafsir :tradisi penjelasan dan pemaknaan kitab suci
b) Teologi :tradisi pemikiran tentang persoalan ketuhanan
c) Fiqh : tradisi pemikiran dalam bidang yurisprudensi (tata hukum)
d) Tasawuf: tradisi pemikiran dan laku dalam pendekatan diri pada tuhan
e) Filsafat: tradisi pemikiran dalam bidang hakikat kenyataan, kebenaran

Islam historis adalah Islam yang tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan dan
kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu. Islam yang terangkai
dengan konteks kehidupan pemeluknya. Oleh karenanya realitas kemanusiaan selalu
berada dibawah realitas ketuhanan.

8
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya di wahyukan tuhan kepada manusia
melalui Muhammad sebagai rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran yang
bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.
Selanjutnya memahami dan mengkaji Islam dalam konteks pemaknaan yang
sebenarnya bahwa Islam merupakan agama yang mengarahkan pemeluknya pada
dimensi teologis, humanis, dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.
Selain daripada itu sumber ajaran Islam berfungsi pula sebagai pokok ajaran
Islam. Islam sebagai sumber ajaran mengindikasikan bahwa ajaran Islam berasal dari
sesuatu yang dapat digali dan di pergunakan untuk kepentingan operasionalisasi
ajaran Islam dan pengembangannya sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang di
hadapi umat Islam.

B. SARAN
Menurut penulis kesempurnaan adalah milik Allah SWT. Makalah ini tidaklah
sempurna akan tetapi mencoba memberi kontribusi dalam khazanah keilmuan khususnya
tentang METODOLOGI STUDI ISLAM : ISLAM SEBAGAI OBJEK KAJIAN ini.

9
DAFTAR PUSTAKA

Mukti Ali. Metode Memahami Agama Islam (Jakarta: Bulan Bintang 1999). h 25
Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajagrafindo 2009)
Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Pustaka Setia 2008)
Amin Abdullah, Studi Agama, Normativitas atau Historisitas, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1999), h 50
Jackues Waardenburg, Studi Islam di Jerman, dalam Azim Nanji, Peta Studi Islam
(Yogyakarta: Fajar Baru , 2003) h 3
Frank Whaling, Pendekatan Teologis, Aneka Pendekatan Studi Agama, (Yogyakarta:
LKIS, 1999) h 321
Mukti Ali, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam. (Bandung: Mizan, 1993) h. 15

10

Anda mungkin juga menyukai