0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan27 halaman

Pemantapan Mutu Laboratorium Klinik

Tinjauan pustaka membahas tentang pemantapan mutu laboratorium klinik yang meliputi pemantapan mutu internal dan eksternal untuk menjamin keandalan hasil pemeriksaan. Pemantapan mutu internal mencakup tahap pra-analitik, analitik dan pasca-analitik dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan. Uji ketelitian dan ketepatan digunakan untuk mendeteksi kesalahan dan menilai kualitas hasil uji.

Diunggah oleh

Wilianus Sulopo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan27 halaman

Pemantapan Mutu Laboratorium Klinik

Tinjauan pustaka membahas tentang pemantapan mutu laboratorium klinik yang meliputi pemantapan mutu internal dan eksternal untuk menjamin keandalan hasil pemeriksaan. Pemantapan mutu internal mencakup tahap pra-analitik, analitik dan pasca-analitik dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan. Uji ketelitian dan ketepatan digunakan untuk mendeteksi kesalahan dan menilai kualitas hasil uji.

Diunggah oleh

Wilianus Sulopo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Pemantapan Mutu Laboratorium

a. Pengertian Pemantapan Mutu Laboratorium

Pemantapan mutu (quality assurance) laboratorium klinik

adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk menjamin kualitas,

ketelitian dan ketepatan hasil suatu pemeriksaan laboratorium klinik

agar dapat dipercaya. Mutu pelayanan laboratorium tidak hanya

penting bagi pelanggan, melainkan juga bagi pemasok. Rendahnya

mutu hasil pemeriksaan pada akhirnya akan menimbulkan

penambahan biaya untuk kegiatan pengerjaan ulang dan klaim dari

pelanggan. Untuk menanggulangi biaya kompensasi yang berasal

dari rendahnya mutu hasil pemeriksaan laboratorium tersebut

diperlukan suatu usaha pemantapan mutu. (Siregar dkk., 2018)

Kegiatan pemantapan mutu terdiri dari pemantapan mutu

internal (PMI) dan pemantapan mutu eksternal (PME). (Siregar dkk.,

2018)

b. Tujuan Pemantapan Mutu

Tujuan dari program pemantapan mutu dalam laboratorium

klinik adalah untuk menjamin keandalan hasil pemeriksaan

laboratorium. Keandalan dari suatu tes atau metode pemeriksaan

8
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
9

adlaah ukuran untuk menilai seberapa jauh tes tersebut dapat

digunakan untuk kepentingan klinik baik sebagai ter panyaring,

untuk menentukan diagnosis, sebagai tes pemantau maupun untuk

menentukan prognosis. Keandalan tes laboratorium meliputi presisi,

akurasi, sensitivitas dan spesifitas analitik. (Pertiwi, 2010)

2. Pemantapan Mutu Internal (PMI)

a. Pengertian Pemantapan Mutu Internal

Pemantapan mutu internal (PMI) adalah kegiatan

pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh masing-

masing laboratorium secara terus menerus agar tidak terjadi atau

mengurangi kejadian eror atau penyimpangan sehingga diperoleh

hasil pemeriksaan yang tepat. Cakupan objek pemantapan mutu

internal meliputi aktivitas tahap pra-analitik, tahap analitik dan tahap

pasca-analitik. (Permenkes, 2013)

b. Tujuan Pemantapan Mutu Internal

Menurut Permenkes No. 43 tentang Penyelenggaraan

Laboratorium Klinik yang Baik, tujuan dari pemantapan mutu

internal laboratorium adalah sebagai berikut.

1) Pemantapan dan penyempurnaan metode pemeriksaan

dengan mempertimbangkan aspek analitik dan klinis

2) Mempertinggi kesiagaan tenaga, sehingga pengeluaran

hasil yang salah tidak terjadi dan perbaikan penyimpangan

dapat dilakukan segera

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


10

3) Memastikan bahwa semua proses telah dilakukan dengan

benar

4) Mendeteksi penuimpangan dan mengetahui sumbernya

5) Membantu memperbaiki pelayanan kepada pelanggan

c. Tahapan-tahapan

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (2012), kegiatan

pemantapan mutu internal (PMI) yang sering dilakukan di

laboratorium kimia klinik meliputi tahap pra-analitik, analitik, dan

pasca-analitik.

1) Tahap pra-analitik

Tahap pra-analitik yaitu tahap mulai mempersiapkan pasien,

menerima sampel, penanganan dan penyimpanan sampel

termasuk memberi label pada sampel. Tahap ini sulit

dipantau dan dikendalikan karena terjadi di luar laboratorium.

Tingkat kesalahan yang terjadi pada tahap pra-analitik yaitu

sekitar 60% - 70% dari total kesalahan yang terjadi di

laboratorium.

2) Tahap analitik

Tahap analitik yaitu tahapan mulai dari mengolah sampel

mengkalibrasi alat, uji kualitas reagen hingga uji ketelitian-

ketepatan. Tingkat kesalahan pada tahap analitik tidak

sebesar tahap pra-analitik yaitu sekitar 10% - 15%. Tahap

analitik lebih mudah dikontrol atau dikendalikan

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


11

dibandingkan tahap pra-analitik karena semua kegiatannya

berada dalam laboratorium. (Siregar, dkk., 2018)

3) Tahap pasca analitik

Tahap pasca analitik yaitu tahap mulai pencatatan hasil

pemeriksaan, interpretasi hasil sampai dengan pelaporan.

Tingkat kesalahan tahap pasca analitik sekitar 15% - 20%.

Adanya otomatisasi dan komputerisasi maupun sistem

informasi dalam mengurangi kesalahan pasca-analitik.

(Pertiwi, 2010)

3. Uji Ketelitian dan Ketepatan

Dalam Sukorini, dkk., dikemukakan bahwa penanggung jawab

laboratorium perlu menjamin bahwa hasil pemeriksaan laboratorium

dalam keadaan valid dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan

klinis oleh klinisi. Untuk itu, perlu dilakukan upaya sistematik pada

tahap analitik yaitu kontrol kualitas guna mendeteksi kesalahan pada

tahap analitik dan menilai kualitas data analitik. Secara umum kontrol

kualitas dilakukan dengan memeriksa bahan kontrol yang kadarnya

telah diketahui dan membandingkan hasil pemeriksaan dengan rentang

kadar bahan kontrol tersebut. Idealnya penanggung jawab laboratorium

mengetahui nilai benar (true value) dari bahan kontrol yang digunakan.

Namun, sangat sulit untuk mengetahui nilai benar tersebut, sehingga

cukup menggunakan nilai yang dapat diterima (acceptable true value)

sebagai patokan baik buruknya pemeriksaan alat yang digunakan.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


12

Dalam kontrol kualitas tahap analitik hal yang perlu diperhatikan

untuk menjamin hasil pemeriksaan valid dan dapat digunakan untuk

mengambil keputusan klinis antara lain sebagai berikut.

a. Presisi dan akurasi

1) Presisi (ketelitian) adalah kemampuan untuk memberikan

hasil yang sama pada setiap pengulangan pemeriksaan.

Secara kuantitatif, presisi disajikan dalam bentuk impresisi

yang diekspresikan dalam ukuran koefisien variasi. Uji

ketelitian dapat dijadikan indikator adanya penyimpangan

akibat kesalahan acak. Impresisi yaitu penyimpangan dari

hasil pemeriksaan terhadap nilai rata-rata yang dinyatakan

dengan standar deviasi (SD) dan koefisien variasi (CV).

Semakin kecil nilai SD dan CV maka semakin baik pula hasil

pemeriksaan.

2) Akurasi (ketepatan) adalah kesesuaian antara hasil

pemeriksaan dengan true value yang tidak harus selalu sama

rentangnya karena ada nilai rentang yang dapat digunakan

sebagai standar. Uji ketepatan dapat digunakan untuk

mengenali adanya kesalahan sistemik.

3) Presisi dan akurasi adalah independen satu dengan yang lain

4) Daftar batas minimum presisi pada setiap parameter

pemeriksaan

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


13

Tabel 1. Daftar Batas Minimum Presisi (CV Maksimum)


Parameter CV
Bilirubin total 7
Kolesterol 6
Kreatinin 6
Glukosa 5
Protein total 3
Albumin 6
Ureum 8
Asam urat 6
Trigliserida 7
GOT 7
GPT 7
Gamma GT 7
LDH 7
Fosfatase Alkali 7
Fosfatase Asam 11
Kolinesterase 7
Kreatin Kinase (CK) 8
Natrium 7
Kalium 2,7
Klorida 2
Kalsium 3,3
Phospor anorganik 5
Magnesium 4
Besi 7

b. Macam-macam kesalahan di Laboratorium

Dalam proses analisis dikenal 3 jenis kesalahan yaitu :

1) Inherent Random Error merupakan kesalahan yang hanya

disebabkan oleh limitasi metodik pemeriksaan

2) Systematic Shift (kesalahan sistematik) yaitu suatu

kesalahan yang terus menerus dengan pola yang sama hal

ini dapat disebabkan oleh standar, kalibrasi atau

instrumentasi yang tidak baik. kesalahan ini berhubungan

dengan akurasi (ketepatan)

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


14

3) Random Error (kesalahan acak) yaitu suatu kesalahan

dengan pola yang tidak tetap yang disebabkan oleh ketidak-

stabilan, misalnya pada penangas air, reagen, pipet, dan

lain-lain. Kesalahan ini berhubungan dengan presisi

(ketelitian)

4. Bahan Kontrol

Usaha pemantapan mutu bertujuan untuk memperoleh mutu

pemeriksaan laboratorium dengan dilakukan pemantapan kualitas uji

laboratorium. Salah satu sarana dalam mencapai tujuan tersebut yakni

penyediaan bahan kontrol. Bahan kontrol dipakai sebagai sediaan untuk

penentuan reabilitas suatu progress analisis terutama akurasi dan presisi

suatu pemeriksaan laboratorium untuk dapat dijadikan sebagai bahan

kontrol pemeriksaan.

a. Pengertian Bahan Kontrol

Bahan kontrol adalah bahan yang digunakan untuk memantau

ketepatan suatu pemeriksaan di laboratorium atau untuk mengawasi

kualitas hasil pemeriksaan sehari-hari.

b. Syarat Bahan Kontrol

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (2010), untuk dapat

digunakan sebagai bahan kontrol suatu pemeriksaan, bahan tersebut

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

1) Memiliki komposisi sama atau mirip dengan spesimen

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


15

2) Komponen yang terkandung di dalam bahan kontrol harus

stabil, artinya selama masa penyimpanan bahan ini tidak boleh

mengalami perubahan

3) Hendaknya disertai dengan sertiikat analisis yang dikeluarkan

oleh pabrik yang berdangkutan pada bahan kontrol jadi

(komersial)

c. Jenis Bahan Kontrol

Bahan kontrol dapat dibedakan berdasarkan :

1) Sumber bahan kontrol ditinjau dari sumbernya, bahan kontrol

dapat berasal dari manusia, binatang atau merupakan bahan

kimia murni

2) Bentuk bahan kontrol, menurut bentuk bahan kontrol ada

bermacam-macam yaitu bentuk cair, bentuk padat, bubuk dan

bentuk strip

3) Bahan kontrol buatan, bahan kontrol dapat dibuat sendiri atau

dapat dibeli dalam bentuk jadi

d. Macam Bahan Kontrol

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2010, macam-

macam bahan kontrol buatan sendiri yaitu sebagai berikut.

1) Bahan kontrol yang dibuat dari serum kumpulan (pooled

sera). Pooled sera merupakan campuran dari bahan sisa

serum pasien yang bebas hemolisis dan lipemik

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


16

2) Bahan kontrol yang dibuat dari bahan kimia murni disebut

sepagai larutan spikes

3) Bahan kontrol yang dibuat dari lisat disebut hemolisat

Sedangkan macam bahan kontrol yang dibeli dalam bentuk yang

sudah jadi adalah sebagai berikut.

1) Bahan Kontrol Unassayed

Bahan kontrol unassayed merupakan bahan kontrol

yang tidak memiliki nilai rujukan sebagai tolok ukur. Nilai

rujukan dapat diperoleh setelah melakukan periode

pendahuluan. Biasanya dibuat kadar normal maupun

abnormal. Kelebihan bahan kontrol jenis ini ialah tahan

lama, bisa digunakan untuk semua tes, tidak perlu membuat

sendiri, analisis statistik dilakukan satu kali setiap tahun.

Kekurangannya adalah kadang-kadang ada variasi dari

botol kebotol ditambah kesalahan pada rekonstriuksi,

sering kali serum diambil dari hewan yang mungkin tidak

sama dengan serum manusia.

2) Bahan Kontrol Assayed

Bahan kontrol assayed merupakan bahan kontrol yang

diketahui nilai rujukannya serta batas toleransi. Menurut

metode pemeriksaannya, harga bahan kontrol ini lebih

mahal. Untuk laboratorium kecil, penggunaan bahan

kontrol ini ada baiknya karena jika membuat sendiri dengan

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


17

serum akan mahal dan penentuan analisis statistiknya lebih

sukar dan mahal. Bahan kontrol ini dapat digunakan untuk

kontrol akurasi, selain itu bahan kontrol ini diperlukan

untuk menilai alat dan cara baru.

e. Stabilitas Bahan Kontrol

Umumnya bentuk padat bubuk (liofilisat) lebih stabil dan tahan

lama daripada bentuk cair karena bahan kontrol liofilisat dibuat

melalui proses liofilisasi yaitu cara pengeringan pada suhu yang

sangat rendah dengan tekanan yang sangat rendah pula. Untuk

memudahkan transportasi, umumnya bentuk padat bubuk dibuat

dalam bentuk strip. Stabilitas bahan kontrol yang dibuat sendiri

kurang terjamin, selain itu juga mempunyai bahaya infeksi yang

tinggi.

5. Dasar-dasar Statistik

Dalam Sukorini, dkk (2010), upaya pemantapan mutu suatu

pemeriksaan memerlukan adanya uji presisi (ketelitian) dan akurasi

(ketepatan) kontrol kualitas. Untuk melakukan uji presisi dan akurasi

diperlukan perhitungan statistik sebagai berikut.

a. Rata-rata (Mean)

Rata-rata adalah hasil pembagian sejumlah nilai hasil

pemeriksaan dengan jumlah pemeriksaan yang dilakukan. Rata-

rata biasanya digunakan sebagai nilai target dari kontrol kualitas.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


18

Adapun rumus rata-rata (mean) sebagai berikut.

∑𝒙
Rata − rata (mean) =
𝒏
Rumus 1. Mean
Keterangan :

∑𝒙 = Jumlah total nilai pemeriksaan

𝒏 = Jumlah sampel/jumlah pemeriksaan

b. Standar Deviasi (SD)

Standar Deviasi (SD) adalah pengukuran variasi dalam

serangkaian hasil pemeriksaan. Standar Deviasi sangat berguna

untuk laboratorium dalam menganalisis hasil pengendalian mutu

Rumus untuk menghitung Standar Deviasi adalah

(𝑥 − x̅ )2
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝐷𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖 = √
𝑛−1

Rumus 2. Standar Deviasi


Keterangan :

∑ = Penjumlahan

x = Nilai individu dalam sampel

x̅ = Rata-rata sampel

n = Jumlah sampel/jumlah pemeriksaan

c. Koefisien Variasi (CV)

Koefisien Variasi (CV) adalah standar deviasi (SD) yang

dinyatakan sebagai persentase mean (rata-rata). Koefisien

Variasi menggambarkan perbedaan hasil yang diperoleh setiap

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


19

kali melakukan pengulangan pemeriksaan pada sampel yang

sama. Idealnya, nilai CV harus kurang dari 5%. Rumus untuk

menghitung CV adalah:
𝑆𝐷
Koefisien Variasi (CV) = 𝑀𝑒𝑎𝑛 𝑥 100%

Rumus 3. Koefisien Variasi

Nilai koefisien variasi (CV) maksimum untuk parameter

albumin sebesar 6% dan penyimpangan maksimumnya sebesar

18%. Semakin kecil nilai CV maka semakin teliti suatu sistem

dan metode yang digunakan dan sebaliknya.

d. Nilai Bias (d%)

Nilai bias (d%) adalah perbedaan antara hasil pengukuran

dengan nilai benar (true value) bahan kontrol yang dijadikan

indikator inakurasi pemeriksaan. Nilai bias dapat dihitung

dengan rumus sebagai berikut.

x̅̅−NA
Nilai bias (d%) = 𝑥 100%
𝑁𝐴

Rumus 4. Bias
Keterangan :

x̅ = Rata-rata nilai pemeriksaan bahan kontrol

NA = Nilai benar bahan kontrol (true value)

Semakin kecil nilai bias (d%) maka semakin tinggi tingkat

akurasi pemeriksaan yang dilakukan. Nilai bias dapat positif

atau negatif. Nilai positif menunjukkan nilai yang lebih tinggi

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


20

dari nilai benar, sedangkan nilai negatif menunjukkan nilai yang

lebih rendah dari nilai benar.

e. Total Eror

Total Eror (TE) atau Total Analytical Error (TAE) merupakan

kesalahan keseluruhan yang mungkin terjadi dalam hasil tes

karena impresisi (random error) dari prosedur pengukuran

(Westgard, 2008). Total Eror dihitung dengan rumus :

TE = % Bias + (1,96 x % CV)

Rumus 5. Total Eror


Penggunaan Total Eror untuk menggambarkan kesalahan

maksimum yang mungkin terjadi dalam hasil pengujian yang

diperoleh dari suatu pengukuran.

f. TEa (Total Error allowed)

TEa adalah persyaratan kualitas analitik yang menetapkan batas

untuk impresisi (random error) dan bias (systematic error) yang

dapat ditoleransi dalam pengukuran tunggal atau hasil tes

tunggal (Westgard, 2008)

g. Rentang

Rentang merupakan penyebaran antara nilai hasil pemeriksaan

terendah hingga pemeriksaan tertinggi.

Rentang = nilai tertinggi – nilai terendah

Rumus 6. Rentang

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


21

6. Grafik Levvey-Jenning

Gambar 1. Contoh Grafik Levvey-Jenning


(Sumber : Siregar, 2018)

Grafik Levvey-Jenning merupakan grafik kontrol yang digunakan

dalam mendeteksi kesalahan yang sifatnya sistematik sehingga

mengikuti suatu pola yang pasti. Kesalahan sistematik mengakibatkan

setiap pengukuran cenderung ke salah satu kutub, selalu lebih tinggi atau

selalu lebih rendah. Terdapat dua tipe kesalahan sistematik, yaitu

kesalahan sistematik konstan dan kesalahan sistematik proporsional.

Sedangkan kesalahan analitik acak merupakan suatu kesalahan yang

tidak mengikuti pola yang dapat diprediksi. Agar lebih mudah dalam

mendeteksi kesalahan analitik, perlu membuat grafik kontrol yang

sering digunakan yaitu grafik Levvey-jenning. Grafik ini bekerja dengan

asumsi sebaran nilai kontrol mengikuti sebaran normal (Ranggaeni,

2016). Penafsiran grafik Levvey-Jenning lebih detail dikembangkan

oleh Westgard yang dikenal dengan Westgard Multirule System.

(Siregar, 2018)

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


22

7. Aturan Westgard Multirule

Aturan westgard atau aturan kontrol merupakan suatu kriteria keputusan

untuk menilai apakah pemeriksaan yang dilakukan berada dalam

kendali atau di luar kendali. Beberapa contoh dari aturan kontrol, antara

lain (Westgard, 2016):

a. 12s

Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan

keluar dari kontrol (out of control), apabila hasil pemeriksaan dua

bahan kontrol berturut-turut keluar dari batas yang sama yaitu X

± 2S (Siregar, 2018).

Gambar 2. Contoh Grafik Levvey-Jenning 12s


(Sumber : Westgard, 2016)
b. 13s

Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan

keluar dari kontrol (out of control), apabila hasil pemeriksaan satu

bahan kontrol melewati batas X ± 3S. Merupakan ketentuan

penolakan yang menggambarkan adanya kesalahan acak.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


23

Gambar 3. Contoh Grafik Levvey-Jenning 13s


(Sumber : Westgard, 2016)
c. 22s

Merupakan ketentuan penolakan yang menggambarkan adanya

kesalahan sistemattik. Seluruh pemeriksaan dari satu seri

dinyatakan keluar dari kontrol (out of control), apabila hasil

pemeriksaan 2 kontrol berturut-turut keluar dari batas yang sama

yaitu X ± 2SD.

Gambar 4. Contoh Grafik Levvey-Jenning 22s


(Sumber : Westgard, 2016)
d. R4s

Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan

keluar dari kontrol (out of control), apabila perbedaan antara 2

hasil kontrol yang berturut-turut melebihi 4 SD (+2SD lainnya di

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


24

bawah -2SD). Merupakan ketentuan penolakan yang

menggambarkan kesalahan acak.

Gambar 5. Contoh Grafik Levvey-Jenning R4s


(Sumber : Westgard, 2016)
e. 41s

Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan

keluar dari kontrol (out of control), apabila 4 hasil kontrol yang

berturut-turut keluar dari batas yang sama baik X + SD maupun

X – SD. Merupakan ketentuan penolakan yang menggambarkan

kesalahan acak dan kesalahan sistematik.

Gambar 6. Contoh Grafik Levvey-Jenning 41s


(Sumber : Westgard, 2016)
f. 10x

Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan

keluar dari kontrol (out of control), apabila 10 kontrol berturut-

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


25

turut berada pada pihak yang sama dari nilai rata-rata. Merupakan

ketentuan penolakan yang menggambarkan kesalahan sistematik.

Gambar 7. Contoh Grafik Levvey-Jenning 10x


(Sumber : Westgard, 2016)
g. 8x

Ketentuan di mana 8 (delapan) hasil kontrol berada pada sisi yang

sama di atas atau di bawah nilai rata-rata. Merupakan penolakan

yang menggambarkan kesalahan sistematis.

Gambar 8. Contoh Grafik Levvey-Jenning 8x


(Sumber : Westgard, 2016)

Selain lima aturan di atas, terdapat aturan apabila dilakukan

pengukuran 3 level kontrol yang berbeda yang lebih mudah diterapkan

yaitu sebagai berikut.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


26

a. 6x

Ketentuan di mana 6 (enam) hasil kontrol berada pada sisi yang

sama di atas atau di bawah nilai rata-rata. Merupakan penolakan

yang menggambarkan kesalahan sistematik.

Gambar 9. Contoh Grafik Levvey-Jenning 6x


(Sumber : [Link]
b. 9x

Ketentuan di mana 9 (sembilan) hasil kontrol berada pada sisi

yang sama di atas atau di bawah nilai rata-rata. Merupakan

penolakan yang menggambarkan kesalahan sistematis.

Gambar 10. Contoh Grafik Levvey-Jenning 9x


(Sumber : [Link]
c. 7T

Ketentuan di mana 7 (tujuh) hasil pengukuran kontrol tren

(terturut-turut meningkat atau menurun) dalam arah yang sama.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


27

Merupakan penolakan yang menggambarkan kesalahan

sistematis.

Gambar 11. Contoh Grafik Levvey Jenning 7T


(Sumber : [Link]
d. 2of32s

Ketentuan di mana 2 dari 3 kontrol melewati batas 2 SD maupun

-2 SD yang sama, merupakan penolakan yang menggambarkan

kesalahan sistematis.

Gambar 12. Contoh Grafik Levvey Jenning 2of32s


(Sumber : [Link]
e. 31s

Ketentuan di mana tiga kontrol berturut-turut melewati batas 1

SD yang sama, kontrol dinyatakan ditolak Perlu adanya

pembenahan sebelum instrument digunakan untuk pelayanan

pasien.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


28

Gambar 13. Contoh Grafik Levvey-Jenning 31s


(Sumber : [Link]
8. Albumin

a. Definisi Albumin

Albumin adalah bagian utama dari protein plasma yang

berfungsi mempertahankan tekanan onkotik di dalam darah,

membawa beberapa bahan seperti bilirubin, asam lemak, kalsium

dam obat dalam darah. Albumin merupakan protein yang paling

banyak ditemukan dalam plasma (55%-65%) dari total protein,

sumber nutrisi, dan bagian dari suatu sistem buffer kompleks.

Albumin digunakan untuk evaluasi status nutrisi, albumin hilang

pada penyakit akut, penyakit hati, penyakit ginjal dengan proteinuria,

pernarahan, luka bakar, eksudat dan perdarahan saluran cerna dan

penyakit kronis lainnya. (Kemenkes, 2010)

b. Metabolisme Albumin

Albumin disentesis di hati. Faktor-faktor utama yang

mempengaruhi sintesis albumin, yaitu tekanan osmotik, hormon,

dan penyakit tertentu. Hormon tiroid, hormon pertumbuhan,

kortikosteroid, dan insulin dapat meningkatkan sintesis albumin.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


29

Albumin didistribusikan secara vaskuler dalam plasma dan secara

ekstravaskuler dalam kulit, otot, dan beberapa jaringan lain. Sintesa

albumin dalam sel hati dilakukan dalam dua tempat, yaitu pertama

pada polisom bebas di mana albumin dibentuk untuk keperluan

intravaskuler. Kedua, poliribosom yang berkaitan dengan retikulum

endoplasma dimana albumin dibentuk untuk didistribusikan ke

seluruh tubuh. Sintesa albumin pada orang normal memiliki

kecepatan pembentukan 194 mg/kg/hari dan menghasilkan albumin

12-25 gram/hari (Harjanto, 2017).

Kadar albumin serum ditentukan oleh fungsi laju sintesis,

laju degradasi, dan distribusi antara kompartemen intravaskular dan

ekstravaskular. Cadangan total albumin 3,5-5,0 g/kg BB atau 250-

300 g pada orang dewasa sehat dengan berat 70 kg, dari jumlah ini

42% berada di kompartemen plasma dan sisanya di dalam

kompartemen ektravaskular. Albumin manusia dibuat dari plasma

manusia yang diendapkan dengan alkohol. Albumin secara luas

digunakan untuk penggantian volume dan mengobati

hypoalbuminemia.

c. Nilai Rujukan Kadar Albumin

Tabel 2. Nilai Rujukan Albumin


[g/dL] [g/L]

Dewasa 3,2 – 5,0 32 - 50

Sumber : Kit insert reagen Meril

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


30

d. Prinsip Pemeriksaan Albumin

Pemeriksaan kadar albumin serum pada prinsip pemeriksaan

albumin dengan metode BCG (bromcressol green) yaitu serum

ditambahkan pereaksi albumin akan berubah warna menjadi hijau,

kemudian diperiksa pada spektrofotometer. Intensitas warna hijau

menunjukkan kadar albumin pada serum. Sampel yang didiamkan

pada suhu inkubasi yang stabil dapat menstabilkan kandungan

dalam albumin darah dengan catatan tidak melebihi waktu yang

ditetapkan (Gandasoebrata, 2007)

9. Spektrofotometer

a. Pengertian Spektrofotometer

Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur

transmitansi atau absorbansi sampel sebagai fungsi panjang

gelombang. Spektrofotometer adalah alat yang menggabungkan

perangkat optik dan listrik dengan sifat fisikokimianya.

Spektrofotometer terdiri dari spektroskop dan fotometer.

Spektrometer adalah pemancar cahaya dari spektrum panjang

gelombang tertentu, dan fotometer adalah alat untuk mengukur

intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diserap.

Spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi relatif cahaya

saat ditransmisikan, dipantulkan, atau dipancarkan sebagai fungsi

panjang gelombang. Spektrofotometer terdiri dari sumber cahaya

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


31

kontinu monokromatik ke dalam spektrum cahaya tampak. (Balai

Teknologi Polimer, 2020)

b. Bagian-bagian Spekrofotometer

1) Sumber cahaya

Sumber cahaya ini berasal dari sumbar cahaya polikromatis

yang mempunyai panjang gelombang yang berbeda-beda

mulai dari 380 – 750 nm.

Tabel 3. Panjang Gelombang Spektrofotometer


Warna
Panjang Warna yang
komplemeter
gelombang (nm) diserap
(Warna tampak)
400-435 Violet Kuning-hijau
435-480 Biru Kuning
480-490 Hijau-biru Oranye
490-500 Biru-hijau Merah
500-560 Hijau Ungu
560-580 Kuning-hijau Violet
580-595 Kuning Biru
595-610 Oranye Hijau-hiru
610-750 Merah Biru-hijau

2) Monokromator

Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan

cahaya polikromatis menjadi beberapa komponen panjang

gelombang tertentu (monokromatis) yang berbeda

(terdispersi).

3) Sel sampel

Sel sampel yaitu tempat untuk meletakkan sampel, biasanya

ada bagian ini diletakkan kuvet.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


32

4) Defector

Peranan detektor penerima adalah memberikan respon

terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor

akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik, kemudian akan

ditampilkan oleh penampil data dalam bentuk jarum penunjuk

atau angka digital.

5) Read out

Read out adalah bagian spektrofotometer yang akan

menampilkan angka atau jarum penunjuk panjang gelombang

dari sampel yang diabsorbsi.

c. Prinsip Kerja Spektrofotometer

Prinsip kerja spektrofotometer adalah penyerapan cahaya pada

panjang gelombang tertentu oleh bahan yang diperiksa. Tiap zat

memiliki absorbansi pada panjang gelombang tertentu yang khas.

Panjang gelombang dengan absorbansi tertinggi digunakan untuk

mengukur kadar zat yang diperiksa. Banyaknya cahaya yang

diabsorbsi oleh zat berbanding lurus dengan kadar zat. (Kemenkes,

2010)

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


33

B. Kerangka Teori

Pemantapan Mutu

Pemantapan Mutu Internal

Analitik

Uji Ketelitian-
ketepatan

Uji Bahan Kontrol

Normal Low

Apakah terletak
dalam rentang
nilai kontrol ?

Ya Tidak

Dilaporkan Dievaluasi

Gambar 14. Kerangka Teori

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


34

C. Hubungan Antar Variabel

Variabel Bebas Variabel Terikat


Variasi level serum Pemeriksaan Kadar
kontrol (normal dan low) Albumin

Gambar 15. Hubungan Antar Variabel

D. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran nilai presisi, impresisi dan total eror pada serum

kontrol normal dan serum kontrol low pada pemeriksaan albumin?

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai