BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Pemantapan Mutu Laboratorium
a. Pengertian Pemantapan Mutu Laboratorium
Pemantapan mutu (quality assurance) laboratorium klinik
adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk menjamin kualitas,
ketelitian dan ketepatan hasil suatu pemeriksaan laboratorium klinik
agar dapat dipercaya. Mutu pelayanan laboratorium tidak hanya
penting bagi pelanggan, melainkan juga bagi pemasok. Rendahnya
mutu hasil pemeriksaan pada akhirnya akan menimbulkan
penambahan biaya untuk kegiatan pengerjaan ulang dan klaim dari
pelanggan. Untuk menanggulangi biaya kompensasi yang berasal
dari rendahnya mutu hasil pemeriksaan laboratorium tersebut
diperlukan suatu usaha pemantapan mutu. (Siregar dkk., 2018)
Kegiatan pemantapan mutu terdiri dari pemantapan mutu
internal (PMI) dan pemantapan mutu eksternal (PME). (Siregar dkk.,
2018)
b. Tujuan Pemantapan Mutu
Tujuan dari program pemantapan mutu dalam laboratorium
klinik adalah untuk menjamin keandalan hasil pemeriksaan
laboratorium. Keandalan dari suatu tes atau metode pemeriksaan
8
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
9
adlaah ukuran untuk menilai seberapa jauh tes tersebut dapat
digunakan untuk kepentingan klinik baik sebagai ter panyaring,
untuk menentukan diagnosis, sebagai tes pemantau maupun untuk
menentukan prognosis. Keandalan tes laboratorium meliputi presisi,
akurasi, sensitivitas dan spesifitas analitik. (Pertiwi, 2010)
2. Pemantapan Mutu Internal (PMI)
a. Pengertian Pemantapan Mutu Internal
Pemantapan mutu internal (PMI) adalah kegiatan
pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh masing-
masing laboratorium secara terus menerus agar tidak terjadi atau
mengurangi kejadian eror atau penyimpangan sehingga diperoleh
hasil pemeriksaan yang tepat. Cakupan objek pemantapan mutu
internal meliputi aktivitas tahap pra-analitik, tahap analitik dan tahap
pasca-analitik. (Permenkes, 2013)
b. Tujuan Pemantapan Mutu Internal
Menurut Permenkes No. 43 tentang Penyelenggaraan
Laboratorium Klinik yang Baik, tujuan dari pemantapan mutu
internal laboratorium adalah sebagai berikut.
1) Pemantapan dan penyempurnaan metode pemeriksaan
dengan mempertimbangkan aspek analitik dan klinis
2) Mempertinggi kesiagaan tenaga, sehingga pengeluaran
hasil yang salah tidak terjadi dan perbaikan penyimpangan
dapat dilakukan segera
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
10
3) Memastikan bahwa semua proses telah dilakukan dengan
benar
4) Mendeteksi penuimpangan dan mengetahui sumbernya
5) Membantu memperbaiki pelayanan kepada pelanggan
c. Tahapan-tahapan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (2012), kegiatan
pemantapan mutu internal (PMI) yang sering dilakukan di
laboratorium kimia klinik meliputi tahap pra-analitik, analitik, dan
pasca-analitik.
1) Tahap pra-analitik
Tahap pra-analitik yaitu tahap mulai mempersiapkan pasien,
menerima sampel, penanganan dan penyimpanan sampel
termasuk memberi label pada sampel. Tahap ini sulit
dipantau dan dikendalikan karena terjadi di luar laboratorium.
Tingkat kesalahan yang terjadi pada tahap pra-analitik yaitu
sekitar 60% - 70% dari total kesalahan yang terjadi di
laboratorium.
2) Tahap analitik
Tahap analitik yaitu tahapan mulai dari mengolah sampel
mengkalibrasi alat, uji kualitas reagen hingga uji ketelitian-
ketepatan. Tingkat kesalahan pada tahap analitik tidak
sebesar tahap pra-analitik yaitu sekitar 10% - 15%. Tahap
analitik lebih mudah dikontrol atau dikendalikan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
11
dibandingkan tahap pra-analitik karena semua kegiatannya
berada dalam laboratorium. (Siregar, dkk., 2018)
3) Tahap pasca analitik
Tahap pasca analitik yaitu tahap mulai pencatatan hasil
pemeriksaan, interpretasi hasil sampai dengan pelaporan.
Tingkat kesalahan tahap pasca analitik sekitar 15% - 20%.
Adanya otomatisasi dan komputerisasi maupun sistem
informasi dalam mengurangi kesalahan pasca-analitik.
(Pertiwi, 2010)
3. Uji Ketelitian dan Ketepatan
Dalam Sukorini, dkk., dikemukakan bahwa penanggung jawab
laboratorium perlu menjamin bahwa hasil pemeriksaan laboratorium
dalam keadaan valid dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan
klinis oleh klinisi. Untuk itu, perlu dilakukan upaya sistematik pada
tahap analitik yaitu kontrol kualitas guna mendeteksi kesalahan pada
tahap analitik dan menilai kualitas data analitik. Secara umum kontrol
kualitas dilakukan dengan memeriksa bahan kontrol yang kadarnya
telah diketahui dan membandingkan hasil pemeriksaan dengan rentang
kadar bahan kontrol tersebut. Idealnya penanggung jawab laboratorium
mengetahui nilai benar (true value) dari bahan kontrol yang digunakan.
Namun, sangat sulit untuk mengetahui nilai benar tersebut, sehingga
cukup menggunakan nilai yang dapat diterima (acceptable true value)
sebagai patokan baik buruknya pemeriksaan alat yang digunakan.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
12
Dalam kontrol kualitas tahap analitik hal yang perlu diperhatikan
untuk menjamin hasil pemeriksaan valid dan dapat digunakan untuk
mengambil keputusan klinis antara lain sebagai berikut.
a. Presisi dan akurasi
1) Presisi (ketelitian) adalah kemampuan untuk memberikan
hasil yang sama pada setiap pengulangan pemeriksaan.
Secara kuantitatif, presisi disajikan dalam bentuk impresisi
yang diekspresikan dalam ukuran koefisien variasi. Uji
ketelitian dapat dijadikan indikator adanya penyimpangan
akibat kesalahan acak. Impresisi yaitu penyimpangan dari
hasil pemeriksaan terhadap nilai rata-rata yang dinyatakan
dengan standar deviasi (SD) dan koefisien variasi (CV).
Semakin kecil nilai SD dan CV maka semakin baik pula hasil
pemeriksaan.
2) Akurasi (ketepatan) adalah kesesuaian antara hasil
pemeriksaan dengan true value yang tidak harus selalu sama
rentangnya karena ada nilai rentang yang dapat digunakan
sebagai standar. Uji ketepatan dapat digunakan untuk
mengenali adanya kesalahan sistemik.
3) Presisi dan akurasi adalah independen satu dengan yang lain
4) Daftar batas minimum presisi pada setiap parameter
pemeriksaan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
13
Tabel 1. Daftar Batas Minimum Presisi (CV Maksimum)
Parameter CV
Bilirubin total 7
Kolesterol 6
Kreatinin 6
Glukosa 5
Protein total 3
Albumin 6
Ureum 8
Asam urat 6
Trigliserida 7
GOT 7
GPT 7
Gamma GT 7
LDH 7
Fosfatase Alkali 7
Fosfatase Asam 11
Kolinesterase 7
Kreatin Kinase (CK) 8
Natrium 7
Kalium 2,7
Klorida 2
Kalsium 3,3
Phospor anorganik 5
Magnesium 4
Besi 7
b. Macam-macam kesalahan di Laboratorium
Dalam proses analisis dikenal 3 jenis kesalahan yaitu :
1) Inherent Random Error merupakan kesalahan yang hanya
disebabkan oleh limitasi metodik pemeriksaan
2) Systematic Shift (kesalahan sistematik) yaitu suatu
kesalahan yang terus menerus dengan pola yang sama hal
ini dapat disebabkan oleh standar, kalibrasi atau
instrumentasi yang tidak baik. kesalahan ini berhubungan
dengan akurasi (ketepatan)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
14
3) Random Error (kesalahan acak) yaitu suatu kesalahan
dengan pola yang tidak tetap yang disebabkan oleh ketidak-
stabilan, misalnya pada penangas air, reagen, pipet, dan
lain-lain. Kesalahan ini berhubungan dengan presisi
(ketelitian)
4. Bahan Kontrol
Usaha pemantapan mutu bertujuan untuk memperoleh mutu
pemeriksaan laboratorium dengan dilakukan pemantapan kualitas uji
laboratorium. Salah satu sarana dalam mencapai tujuan tersebut yakni
penyediaan bahan kontrol. Bahan kontrol dipakai sebagai sediaan untuk
penentuan reabilitas suatu progress analisis terutama akurasi dan presisi
suatu pemeriksaan laboratorium untuk dapat dijadikan sebagai bahan
kontrol pemeriksaan.
a. Pengertian Bahan Kontrol
Bahan kontrol adalah bahan yang digunakan untuk memantau
ketepatan suatu pemeriksaan di laboratorium atau untuk mengawasi
kualitas hasil pemeriksaan sehari-hari.
b. Syarat Bahan Kontrol
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (2010), untuk dapat
digunakan sebagai bahan kontrol suatu pemeriksaan, bahan tersebut
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
1) Memiliki komposisi sama atau mirip dengan spesimen
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
15
2) Komponen yang terkandung di dalam bahan kontrol harus
stabil, artinya selama masa penyimpanan bahan ini tidak boleh
mengalami perubahan
3) Hendaknya disertai dengan sertiikat analisis yang dikeluarkan
oleh pabrik yang berdangkutan pada bahan kontrol jadi
(komersial)
c. Jenis Bahan Kontrol
Bahan kontrol dapat dibedakan berdasarkan :
1) Sumber bahan kontrol ditinjau dari sumbernya, bahan kontrol
dapat berasal dari manusia, binatang atau merupakan bahan
kimia murni
2) Bentuk bahan kontrol, menurut bentuk bahan kontrol ada
bermacam-macam yaitu bentuk cair, bentuk padat, bubuk dan
bentuk strip
3) Bahan kontrol buatan, bahan kontrol dapat dibuat sendiri atau
dapat dibeli dalam bentuk jadi
d. Macam Bahan Kontrol
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2010, macam-
macam bahan kontrol buatan sendiri yaitu sebagai berikut.
1) Bahan kontrol yang dibuat dari serum kumpulan (pooled
sera). Pooled sera merupakan campuran dari bahan sisa
serum pasien yang bebas hemolisis dan lipemik
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
16
2) Bahan kontrol yang dibuat dari bahan kimia murni disebut
sepagai larutan spikes
3) Bahan kontrol yang dibuat dari lisat disebut hemolisat
Sedangkan macam bahan kontrol yang dibeli dalam bentuk yang
sudah jadi adalah sebagai berikut.
1) Bahan Kontrol Unassayed
Bahan kontrol unassayed merupakan bahan kontrol
yang tidak memiliki nilai rujukan sebagai tolok ukur. Nilai
rujukan dapat diperoleh setelah melakukan periode
pendahuluan. Biasanya dibuat kadar normal maupun
abnormal. Kelebihan bahan kontrol jenis ini ialah tahan
lama, bisa digunakan untuk semua tes, tidak perlu membuat
sendiri, analisis statistik dilakukan satu kali setiap tahun.
Kekurangannya adalah kadang-kadang ada variasi dari
botol kebotol ditambah kesalahan pada rekonstriuksi,
sering kali serum diambil dari hewan yang mungkin tidak
sama dengan serum manusia.
2) Bahan Kontrol Assayed
Bahan kontrol assayed merupakan bahan kontrol yang
diketahui nilai rujukannya serta batas toleransi. Menurut
metode pemeriksaannya, harga bahan kontrol ini lebih
mahal. Untuk laboratorium kecil, penggunaan bahan
kontrol ini ada baiknya karena jika membuat sendiri dengan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
17
serum akan mahal dan penentuan analisis statistiknya lebih
sukar dan mahal. Bahan kontrol ini dapat digunakan untuk
kontrol akurasi, selain itu bahan kontrol ini diperlukan
untuk menilai alat dan cara baru.
e. Stabilitas Bahan Kontrol
Umumnya bentuk padat bubuk (liofilisat) lebih stabil dan tahan
lama daripada bentuk cair karena bahan kontrol liofilisat dibuat
melalui proses liofilisasi yaitu cara pengeringan pada suhu yang
sangat rendah dengan tekanan yang sangat rendah pula. Untuk
memudahkan transportasi, umumnya bentuk padat bubuk dibuat
dalam bentuk strip. Stabilitas bahan kontrol yang dibuat sendiri
kurang terjamin, selain itu juga mempunyai bahaya infeksi yang
tinggi.
5. Dasar-dasar Statistik
Dalam Sukorini, dkk (2010), upaya pemantapan mutu suatu
pemeriksaan memerlukan adanya uji presisi (ketelitian) dan akurasi
(ketepatan) kontrol kualitas. Untuk melakukan uji presisi dan akurasi
diperlukan perhitungan statistik sebagai berikut.
a. Rata-rata (Mean)
Rata-rata adalah hasil pembagian sejumlah nilai hasil
pemeriksaan dengan jumlah pemeriksaan yang dilakukan. Rata-
rata biasanya digunakan sebagai nilai target dari kontrol kualitas.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
18
Adapun rumus rata-rata (mean) sebagai berikut.
∑𝒙
Rata − rata (mean) =
𝒏
Rumus 1. Mean
Keterangan :
∑𝒙 = Jumlah total nilai pemeriksaan
𝒏 = Jumlah sampel/jumlah pemeriksaan
b. Standar Deviasi (SD)
Standar Deviasi (SD) adalah pengukuran variasi dalam
serangkaian hasil pemeriksaan. Standar Deviasi sangat berguna
untuk laboratorium dalam menganalisis hasil pengendalian mutu
Rumus untuk menghitung Standar Deviasi adalah
(𝑥 − x̅ )2
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝐷𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖 = √
𝑛−1
Rumus 2. Standar Deviasi
Keterangan :
∑ = Penjumlahan
x = Nilai individu dalam sampel
x̅ = Rata-rata sampel
n = Jumlah sampel/jumlah pemeriksaan
c. Koefisien Variasi (CV)
Koefisien Variasi (CV) adalah standar deviasi (SD) yang
dinyatakan sebagai persentase mean (rata-rata). Koefisien
Variasi menggambarkan perbedaan hasil yang diperoleh setiap
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
19
kali melakukan pengulangan pemeriksaan pada sampel yang
sama. Idealnya, nilai CV harus kurang dari 5%. Rumus untuk
menghitung CV adalah:
𝑆𝐷
Koefisien Variasi (CV) = 𝑀𝑒𝑎𝑛 𝑥 100%
Rumus 3. Koefisien Variasi
Nilai koefisien variasi (CV) maksimum untuk parameter
albumin sebesar 6% dan penyimpangan maksimumnya sebesar
18%. Semakin kecil nilai CV maka semakin teliti suatu sistem
dan metode yang digunakan dan sebaliknya.
d. Nilai Bias (d%)
Nilai bias (d%) adalah perbedaan antara hasil pengukuran
dengan nilai benar (true value) bahan kontrol yang dijadikan
indikator inakurasi pemeriksaan. Nilai bias dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut.
x̅̅−NA
Nilai bias (d%) = 𝑥 100%
𝑁𝐴
Rumus 4. Bias
Keterangan :
x̅ = Rata-rata nilai pemeriksaan bahan kontrol
NA = Nilai benar bahan kontrol (true value)
Semakin kecil nilai bias (d%) maka semakin tinggi tingkat
akurasi pemeriksaan yang dilakukan. Nilai bias dapat positif
atau negatif. Nilai positif menunjukkan nilai yang lebih tinggi
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
20
dari nilai benar, sedangkan nilai negatif menunjukkan nilai yang
lebih rendah dari nilai benar.
e. Total Eror
Total Eror (TE) atau Total Analytical Error (TAE) merupakan
kesalahan keseluruhan yang mungkin terjadi dalam hasil tes
karena impresisi (random error) dari prosedur pengukuran
(Westgard, 2008). Total Eror dihitung dengan rumus :
TE = % Bias + (1,96 x % CV)
Rumus 5. Total Eror
Penggunaan Total Eror untuk menggambarkan kesalahan
maksimum yang mungkin terjadi dalam hasil pengujian yang
diperoleh dari suatu pengukuran.
f. TEa (Total Error allowed)
TEa adalah persyaratan kualitas analitik yang menetapkan batas
untuk impresisi (random error) dan bias (systematic error) yang
dapat ditoleransi dalam pengukuran tunggal atau hasil tes
tunggal (Westgard, 2008)
g. Rentang
Rentang merupakan penyebaran antara nilai hasil pemeriksaan
terendah hingga pemeriksaan tertinggi.
Rentang = nilai tertinggi – nilai terendah
Rumus 6. Rentang
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
21
6. Grafik Levvey-Jenning
Gambar 1. Contoh Grafik Levvey-Jenning
(Sumber : Siregar, 2018)
Grafik Levvey-Jenning merupakan grafik kontrol yang digunakan
dalam mendeteksi kesalahan yang sifatnya sistematik sehingga
mengikuti suatu pola yang pasti. Kesalahan sistematik mengakibatkan
setiap pengukuran cenderung ke salah satu kutub, selalu lebih tinggi atau
selalu lebih rendah. Terdapat dua tipe kesalahan sistematik, yaitu
kesalahan sistematik konstan dan kesalahan sistematik proporsional.
Sedangkan kesalahan analitik acak merupakan suatu kesalahan yang
tidak mengikuti pola yang dapat diprediksi. Agar lebih mudah dalam
mendeteksi kesalahan analitik, perlu membuat grafik kontrol yang
sering digunakan yaitu grafik Levvey-jenning. Grafik ini bekerja dengan
asumsi sebaran nilai kontrol mengikuti sebaran normal (Ranggaeni,
2016). Penafsiran grafik Levvey-Jenning lebih detail dikembangkan
oleh Westgard yang dikenal dengan Westgard Multirule System.
(Siregar, 2018)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
22
7. Aturan Westgard Multirule
Aturan westgard atau aturan kontrol merupakan suatu kriteria keputusan
untuk menilai apakah pemeriksaan yang dilakukan berada dalam
kendali atau di luar kendali. Beberapa contoh dari aturan kontrol, antara
lain (Westgard, 2016):
a. 12s
Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan
keluar dari kontrol (out of control), apabila hasil pemeriksaan dua
bahan kontrol berturut-turut keluar dari batas yang sama yaitu X
± 2S (Siregar, 2018).
Gambar 2. Contoh Grafik Levvey-Jenning 12s
(Sumber : Westgard, 2016)
b. 13s
Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan
keluar dari kontrol (out of control), apabila hasil pemeriksaan satu
bahan kontrol melewati batas X ± 3S. Merupakan ketentuan
penolakan yang menggambarkan adanya kesalahan acak.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
23
Gambar 3. Contoh Grafik Levvey-Jenning 13s
(Sumber : Westgard, 2016)
c. 22s
Merupakan ketentuan penolakan yang menggambarkan adanya
kesalahan sistemattik. Seluruh pemeriksaan dari satu seri
dinyatakan keluar dari kontrol (out of control), apabila hasil
pemeriksaan 2 kontrol berturut-turut keluar dari batas yang sama
yaitu X ± 2SD.
Gambar 4. Contoh Grafik Levvey-Jenning 22s
(Sumber : Westgard, 2016)
d. R4s
Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan
keluar dari kontrol (out of control), apabila perbedaan antara 2
hasil kontrol yang berturut-turut melebihi 4 SD (+2SD lainnya di
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
24
bawah -2SD). Merupakan ketentuan penolakan yang
menggambarkan kesalahan acak.
Gambar 5. Contoh Grafik Levvey-Jenning R4s
(Sumber : Westgard, 2016)
e. 41s
Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan
keluar dari kontrol (out of control), apabila 4 hasil kontrol yang
berturut-turut keluar dari batas yang sama baik X + SD maupun
X – SD. Merupakan ketentuan penolakan yang menggambarkan
kesalahan acak dan kesalahan sistematik.
Gambar 6. Contoh Grafik Levvey-Jenning 41s
(Sumber : Westgard, 2016)
f. 10x
Ketentuan di mana seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan
keluar dari kontrol (out of control), apabila 10 kontrol berturut-
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
25
turut berada pada pihak yang sama dari nilai rata-rata. Merupakan
ketentuan penolakan yang menggambarkan kesalahan sistematik.
Gambar 7. Contoh Grafik Levvey-Jenning 10x
(Sumber : Westgard, 2016)
g. 8x
Ketentuan di mana 8 (delapan) hasil kontrol berada pada sisi yang
sama di atas atau di bawah nilai rata-rata. Merupakan penolakan
yang menggambarkan kesalahan sistematis.
Gambar 8. Contoh Grafik Levvey-Jenning 8x
(Sumber : Westgard, 2016)
Selain lima aturan di atas, terdapat aturan apabila dilakukan
pengukuran 3 level kontrol yang berbeda yang lebih mudah diterapkan
yaitu sebagai berikut.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
26
a. 6x
Ketentuan di mana 6 (enam) hasil kontrol berada pada sisi yang
sama di atas atau di bawah nilai rata-rata. Merupakan penolakan
yang menggambarkan kesalahan sistematik.
Gambar 9. Contoh Grafik Levvey-Jenning 6x
(Sumber : [Link]
b. 9x
Ketentuan di mana 9 (sembilan) hasil kontrol berada pada sisi
yang sama di atas atau di bawah nilai rata-rata. Merupakan
penolakan yang menggambarkan kesalahan sistematis.
Gambar 10. Contoh Grafik Levvey-Jenning 9x
(Sumber : [Link]
c. 7T
Ketentuan di mana 7 (tujuh) hasil pengukuran kontrol tren
(terturut-turut meningkat atau menurun) dalam arah yang sama.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
27
Merupakan penolakan yang menggambarkan kesalahan
sistematis.
Gambar 11. Contoh Grafik Levvey Jenning 7T
(Sumber : [Link]
d. 2of32s
Ketentuan di mana 2 dari 3 kontrol melewati batas 2 SD maupun
-2 SD yang sama, merupakan penolakan yang menggambarkan
kesalahan sistematis.
Gambar 12. Contoh Grafik Levvey Jenning 2of32s
(Sumber : [Link]
e. 31s
Ketentuan di mana tiga kontrol berturut-turut melewati batas 1
SD yang sama, kontrol dinyatakan ditolak Perlu adanya
pembenahan sebelum instrument digunakan untuk pelayanan
pasien.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
28
Gambar 13. Contoh Grafik Levvey-Jenning 31s
(Sumber : [Link]
8. Albumin
a. Definisi Albumin
Albumin adalah bagian utama dari protein plasma yang
berfungsi mempertahankan tekanan onkotik di dalam darah,
membawa beberapa bahan seperti bilirubin, asam lemak, kalsium
dam obat dalam darah. Albumin merupakan protein yang paling
banyak ditemukan dalam plasma (55%-65%) dari total protein,
sumber nutrisi, dan bagian dari suatu sistem buffer kompleks.
Albumin digunakan untuk evaluasi status nutrisi, albumin hilang
pada penyakit akut, penyakit hati, penyakit ginjal dengan proteinuria,
pernarahan, luka bakar, eksudat dan perdarahan saluran cerna dan
penyakit kronis lainnya. (Kemenkes, 2010)
b. Metabolisme Albumin
Albumin disentesis di hati. Faktor-faktor utama yang
mempengaruhi sintesis albumin, yaitu tekanan osmotik, hormon,
dan penyakit tertentu. Hormon tiroid, hormon pertumbuhan,
kortikosteroid, dan insulin dapat meningkatkan sintesis albumin.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
29
Albumin didistribusikan secara vaskuler dalam plasma dan secara
ekstravaskuler dalam kulit, otot, dan beberapa jaringan lain. Sintesa
albumin dalam sel hati dilakukan dalam dua tempat, yaitu pertama
pada polisom bebas di mana albumin dibentuk untuk keperluan
intravaskuler. Kedua, poliribosom yang berkaitan dengan retikulum
endoplasma dimana albumin dibentuk untuk didistribusikan ke
seluruh tubuh. Sintesa albumin pada orang normal memiliki
kecepatan pembentukan 194 mg/kg/hari dan menghasilkan albumin
12-25 gram/hari (Harjanto, 2017).
Kadar albumin serum ditentukan oleh fungsi laju sintesis,
laju degradasi, dan distribusi antara kompartemen intravaskular dan
ekstravaskular. Cadangan total albumin 3,5-5,0 g/kg BB atau 250-
300 g pada orang dewasa sehat dengan berat 70 kg, dari jumlah ini
42% berada di kompartemen plasma dan sisanya di dalam
kompartemen ektravaskular. Albumin manusia dibuat dari plasma
manusia yang diendapkan dengan alkohol. Albumin secara luas
digunakan untuk penggantian volume dan mengobati
hypoalbuminemia.
c. Nilai Rujukan Kadar Albumin
Tabel 2. Nilai Rujukan Albumin
[g/dL] [g/L]
Dewasa 3,2 – 5,0 32 - 50
Sumber : Kit insert reagen Meril
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
30
d. Prinsip Pemeriksaan Albumin
Pemeriksaan kadar albumin serum pada prinsip pemeriksaan
albumin dengan metode BCG (bromcressol green) yaitu serum
ditambahkan pereaksi albumin akan berubah warna menjadi hijau,
kemudian diperiksa pada spektrofotometer. Intensitas warna hijau
menunjukkan kadar albumin pada serum. Sampel yang didiamkan
pada suhu inkubasi yang stabil dapat menstabilkan kandungan
dalam albumin darah dengan catatan tidak melebihi waktu yang
ditetapkan (Gandasoebrata, 2007)
9. Spektrofotometer
a. Pengertian Spektrofotometer
Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur
transmitansi atau absorbansi sampel sebagai fungsi panjang
gelombang. Spektrofotometer adalah alat yang menggabungkan
perangkat optik dan listrik dengan sifat fisikokimianya.
Spektrofotometer terdiri dari spektroskop dan fotometer.
Spektrometer adalah pemancar cahaya dari spektrum panjang
gelombang tertentu, dan fotometer adalah alat untuk mengukur
intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diserap.
Spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi relatif cahaya
saat ditransmisikan, dipantulkan, atau dipancarkan sebagai fungsi
panjang gelombang. Spektrofotometer terdiri dari sumber cahaya
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
31
kontinu monokromatik ke dalam spektrum cahaya tampak. (Balai
Teknologi Polimer, 2020)
b. Bagian-bagian Spekrofotometer
1) Sumber cahaya
Sumber cahaya ini berasal dari sumbar cahaya polikromatis
yang mempunyai panjang gelombang yang berbeda-beda
mulai dari 380 – 750 nm.
Tabel 3. Panjang Gelombang Spektrofotometer
Warna
Panjang Warna yang
komplemeter
gelombang (nm) diserap
(Warna tampak)
400-435 Violet Kuning-hijau
435-480 Biru Kuning
480-490 Hijau-biru Oranye
490-500 Biru-hijau Merah
500-560 Hijau Ungu
560-580 Kuning-hijau Violet
580-595 Kuning Biru
595-610 Oranye Hijau-hiru
610-750 Merah Biru-hijau
2) Monokromator
Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan
cahaya polikromatis menjadi beberapa komponen panjang
gelombang tertentu (monokromatis) yang berbeda
(terdispersi).
3) Sel sampel
Sel sampel yaitu tempat untuk meletakkan sampel, biasanya
ada bagian ini diletakkan kuvet.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
32
4) Defector
Peranan detektor penerima adalah memberikan respon
terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor
akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik, kemudian akan
ditampilkan oleh penampil data dalam bentuk jarum penunjuk
atau angka digital.
5) Read out
Read out adalah bagian spektrofotometer yang akan
menampilkan angka atau jarum penunjuk panjang gelombang
dari sampel yang diabsorbsi.
c. Prinsip Kerja Spektrofotometer
Prinsip kerja spektrofotometer adalah penyerapan cahaya pada
panjang gelombang tertentu oleh bahan yang diperiksa. Tiap zat
memiliki absorbansi pada panjang gelombang tertentu yang khas.
Panjang gelombang dengan absorbansi tertinggi digunakan untuk
mengukur kadar zat yang diperiksa. Banyaknya cahaya yang
diabsorbsi oleh zat berbanding lurus dengan kadar zat. (Kemenkes,
2010)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
33
B. Kerangka Teori
Pemantapan Mutu
Pemantapan Mutu Internal
Analitik
Uji Ketelitian-
ketepatan
Uji Bahan Kontrol
Normal Low
Apakah terletak
dalam rentang
nilai kontrol ?
Ya Tidak
Dilaporkan Dievaluasi
Gambar 14. Kerangka Teori
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
34
C. Hubungan Antar Variabel
Variabel Bebas Variabel Terikat
Variasi level serum Pemeriksaan Kadar
kontrol (normal dan low) Albumin
Gambar 15. Hubungan Antar Variabel
D. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran nilai presisi, impresisi dan total eror pada serum
kontrol normal dan serum kontrol low pada pemeriksaan albumin?
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta