0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan25 halaman

Regulasi Ekspor Tuna: Persyaratan dan Standar

Dokumen tersebut membahas persyaratan dan regulasi yang harus dipenuhi untuk mengekspor tuna dari Indonesia ke Uni Eropa, mencakup standar kontaminan, prosedur perizinan seperti sertifikat kelayakan pengolahan, sertifikat kesehatan produk, sertifikat penerapan HACCP, pemberitahuan ekspor barang, dan persyaratan Uni Eropa seperti registrasi eksportir dan sertifikasi pihak ketiga.

Diunggah oleh

Putri Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan25 halaman

Regulasi Ekspor Tuna: Persyaratan dan Standar

Dokumen tersebut membahas persyaratan dan regulasi yang harus dipenuhi untuk mengekspor tuna dari Indonesia ke Uni Eropa, mencakup standar kontaminan, prosedur perizinan seperti sertifikat kelayakan pengolahan, sertifikat kesehatan produk, sertifikat penerapan HACCP, pemberitahuan ekspor barang, dan persyaratan Uni Eropa seperti registrasi eksportir dan sertifikasi pihak ketiga.

Diunggah oleh

Putri Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.1.

Persyaratan dan Regulasi Ekspor Tuna


a. Persyaratan Ekspor Ikan Tuna Sesuai Regulasi Uni Eropa dan Indonesia
Tabel 1. Regulasi Uni Eropa dan Indonesia
Batas Regulasi
Nilai Regulasi Uni Indonesia Nilai
kontaminan Uni Eropa
Salmonella Negatif 2 Negatif (SNI 01-2332.2- 2
(25gr) 2006)
CO Non CO 3 CO 2
Histamine (ppm) 50 2 100 (SNI 2354.10:2016) 1
Mercury (mg/kg) 1 2 1 (SNI 01- 2
2354.6:2016)
Lead / pb 0.30 2 0.40 (SNI 2354.5:2011) 1
(mg/kg)
Cadmium ( 0.10 2 1 (SNI 2354.5:2011) 1
mg/kg)
[Link] Negatif 2 Negatif (SNI 01-2332.4- 2
2006)
Escherchia coli 1.8 2 1.8 (SNI-2332-2006) 2
(mpn/g)
s. aureus 1 2 1 (SNI 2332.9:2015) 2
(colony/g)
Listeria Negatif 2 Negatif 2
monocytogenesis
Clostrodium Negatif 2 Negatif 2
botulinum
SKOR 23 19

b. Prosedur Perizinan/Badan Hukum Ekspor Ikan Tuna


Unit pengolahan ikan yang akan melakukan perdagangan ekspor wajib
memiliki dokumen untuk mendirikan usaha dan menjadi persyaratan ekspor.
Dokumen yang wajib dimiliki unit pengolahan ikan sebagai persyaratan ekspor
mengacu pada Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) tahun 2014
yaitu sebagai berikut:
1. Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP)
Syarat pertama untuk mendirikan unit pengolahan ikan yaitu sertifikat
kelayakan pengolahan (SKP). Dokumen tersebut menandakan bahwa unit

4
pengolahan ikan mempunyai tempat pengolahan ikan yang telah memenuhi standar
kelayakan dasar penanganan/pengolahan ikan atau Good Manufacturing Practices
(GMP), dan menerapkan prosedur operasi sanitasi standar atau Sanitation Standard
Operating Procedures (SSOP). Prosedur pengajuan Sertifikat Kelayakan
Pengolahan (SKP) yaitu:
1) Memiliki Izin Usaha Perikanan (IUP), Surat Izin Usaha Perdagangan
(SIUP), akta notaris pendirian usaha pengolahan.
2) Memiliki perjanjian sewa menyewa untuk melakukan penyewaan.
3) Memiliki dokumen dan menerapkan GMP dan SSOP.
4) Melakukan proses produksi minimal 12 hari kerja dalam 1 bulan.
5) Unit pengolahan ikan memiliki tempat pengolahan, pengemasan, dan
penyimpanan.
6) Mempunyai sekurang kurangnya 1 penanggung jawab mutu yang punya
SPI (Sertifikat Penanganan Ikan).

2. Sertifikat Kesehatan Produk Ikan (Health Certificate)


Dokumen ini dibuat jika negara importir mengharuskan dan meminta
pelengkapan Sertifikat Kesehatan Produk Ikan (Health Certificate). Uni Eropa
merupakan importir yang mewajibkan Sertifikat Kesehatan Produk Ikan yang
berguna untuk menjamin keamanan produk untuk pencegahan hama dan penyakit
ikan. Lembaga yang mengeluarkan Sertifikat Kesehatan Produk Ikan (Health
Certificate) yaitu Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan
Perikanan di pelabuhan setempat. Prosedur pengajuan Sertifikat Kesehatan Produk
Ikan (Health Certificate) yaitu:
1) Unit pengolahan ikan mengajukan permohonan kepada lembaga
sertifikasi.
2) Lembaga sertifikasi melakukan evaluasi.
3) Pengujian dilakukan di laboratorium yang terakreditasi dan diakui
internasional
4) Petugas sertifikasi melakukan pengecekan ke unit pengolahan ikan.

5
3. Sertifikat Penerapan HACCP
Dokumen ini menjadi syarat wajib bagi unit pengolahan ikan untuk melakukan
perdagangan ekspor. Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
[Link].19/MEN/2010 tentang Pengendalian Jaminan Mutu Dan Keamanan Hasil
Perikanan menyatakan perlu upaya pencegahan bahaya yang dilakukan sejak pra
produksi hingga pemasaran maka, unit pengolahan ikan harus memiliki surat
keterangan validasi HACCP (Hazard Analysis Critical Control Points) dari Balai
Keamanan Ikan dan Pengendalian Mutu. Uni Eropa sendiri mewajibkan unit
pengolahn ikan memiliki dokumen HACCP grade A. Prosedur pengajuan HACCP
yaitu:
1) Memiliki unit pengolahan sesuai jenis produk ikan.
2) Mempekerjakan sekurang kurangnya 1 penanggung jawab mutu yang
punya Sertifikat Penanganan Ikan (SPI).
3) Unit pengolahan ikan yang melakukan proses suhu tinggi memiliki
operator khusus.
4) Memiliki penerapan HACCP sesuai jaminan mutu.
5) Melakukan produksi aktif.
6) Unit pengolahan ikan mengajukan surat permohonan kepada kepala Balai
Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Perikanan (BKIPM)
dengan melengkapi panduan mutu berdasarkan HACCP, fotokopi identitas
pemohon.
7) Fotokopi Nomer Peserta Wajib Pajak (NPWP), fotokopi Sertifikat
Kelayakan Pengolahan (SKP), surat pernyataan melakukan produksi aktif
dan penerapan HACCP.

4. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)


Produk yang diekspor wajib membayar pajak ekspor dengan mengisi formulir
Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) di bea dan cukai. Pemberiahuan Ekspor
Barang berisi tentang adanya transaksi ekspor seperti volume barang, ukuran
barang, jenis barang, harga barang per satuan, kondisi barang, harga barang, nama
perusahaan pengangkut, nama kapal pengangkut. Eksportir harus mengisi

6
Pemberitahuan Ekspor Barang dengan lengkap dan mengajukannya kepada kantor
Pabean dengan pelampiran sebagai berikut:
1) LPS-E barang ekspor diperiksa oleh surveyor.
2) Copy Surat Tanda Bukti Setor (STBS) atau Surat Sanggup Bayar (SSB).
3) Copy invoice dan copy packing list.
4) Pelunasan Pungutan Negara Dalam Rangka Ekspor (PNDRE) diajukan ke
bank devisa.

5. Surat Keterangan Asal


Dokumen ini digunakan sebagai bukti bahwa barang yang diekspor berasal dari
Indonesia. Surat Keterangan Asal berguna untuk mendapatkan kemudahan bea
masuk oleh importir yang telah melakukan kerja sama dengan Indonesia. Dokumen
ini diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan. Menurut Peraturan Menteri
Perdagangan RI Nomor 24 Tahun 2018 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan
Surat Keterangan Asal untuk Barang Asal Indonesia bahwa permohonan penerbitan
SKA harus dilengkapi dengan scan dokumen asli:
1) Pemberitahuan Ekspor Barang (PIB).
2) Bill of lading (B/L).
3) Invoice.
4) Packing list.
5) Perhitungan struktur biaya proses produksi.

6. Nomor Induk Berusaha (NIB)


Menurut PP No. 24 Tahun 2018 tentang pelayanan perizinan usaha terintegrasi
secara elektronik dan memperhatikan kesiapan Online Single Submission (OSS).
Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan pelayanan izin usaha dengan
mendaftarkan diri secara online dan mengisi Online Single Submission (OSS).
Berikut prosedur pengisian Online Single Submission (OSS):
1) Membuat user-ID.
2) Login ke sistem Online Single Submission (OSS): dengan menggunakan
user[1]ID.
3) Mengisi data untuk memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB).

7
4) Melakukan proses untuk memperoleh izin dasar, izin usaha, izin komersial
atau operasional untuk usaha baru dan melanjutkan proses untuk
mendapatkan izin usaha yang belum dimiliki atau mengembangkan usaha,
memperbarui data perusahaan.

7. Registrasi eksportir/ Approval number


Persyaratan untuk mendapatkan Approval number diberikan jika Indonesia
terdaftar dalam beberapa organisasi terkait kelestarian lingkungan dan sumberdaya
ikan tuna serta keamanan pangan yang menjadi persyaratan Uni Eropa. Berikut
persyaratan ekspor Uni Eropa yang harus dipenuhi oleh Pemerintah Indonesia.

Tabel 2. Persyaratan ekspor ke Uni Eropa

Persyaratan Uni Eropa

Sustain-ability Big Eye Statistical Document, IOTC, COO, ECO LABEL


CDS, SBT-CCSBT, ICCAT, MSC

Third Party GLOBALGAP, ISO 22000, BRC, ECO LABEL, SQF


Certification

Traceability Catch Certification

Third party certification menandakan bahwa perusahaan mematuhi standar


khusus keselamatan, kualitas, kinerja, pengujian, inspeksi fasilitas untuk
pembuatan suatu produk. Sertifikasi ini semakin banyak digunakan untuk agribisnis
di Uni Eropa (Veiros et al. 2009). Hal tersebut dikarenakan Uni Eropa fokus dalam
keamanan pangan dan perlindungan kesehatan bagi penduduknya.
Traceability menjadi persyaratan ekspor ke Uni Eropa untuk pelacakan produk
mencegah tejadi bahaya pangan (Departemen Perdagangan 2008). Hal tersebut
merupakan tanggung jawab bagi industri ekspor tuna ke Uni Eropa (Kemendag
2015). Indonesia memiliki Catch certification berupa Sertifikat Hasil Tangkapan
Ikan (SHTI) untuk menjaga ketelusuran produk ikan yang akan diekspor. Catch
certification harus dimiliki oleh kapal, supplier dan unit pengolahan ikan yang akan
melakukan ekspor (Febrianik et al. 2017). Pembuatan SHTI tidak hanya untuk kapal

8
yang berukuran besar diatas 20 GT atau kapal skala industri saja, tetapi kapal yang
berukuran kurang dari 20 GT yang memiliki hasil tangkapan dengan kualitas ekspor
juga dapat melakukan pembuatan SHTI.

2.2. Kualitas Ikan Tuna untuk Ekspor


a. Standar Kualitas Ikan Tuna untuk Ekspor
Standar produk perikanan telah menjadi fokus studi dalam beberapa tahun
terakhir. Pelaku usaha, baik eksportir maupun importir, untuk produk tuna dan
cakalang menganggap standar sangat penting karena merupakan prasyarat untuk
dapat memasarkan produk mereka. Penandaan atau pelabelan standar juga penting
sesuai dengan permintaan pembeli di negara tujuan ekspor. Beberapa SNI yang
dijadikan acuan dalam manual HACCP antara lain SNI 01- 2733.1-2006 tentang
Cakalang Beku, SNI 01- 4485.1-2006 tentang Tuna steak beku, SNI 01- 4104.1-
2006 tentang Tuna loin beku, SNI 01- 2710.1-2006 tentang Tuna beku, dan SNI 01-
4104.1-2006 tentang Tuna loin beku. Terdapat perbedaan kualitas tuna untuk
diekspor yang dibagi kedalam bererapa grade mulai dari AAA sampai dengan D,
berikut disajikan tabel beberapa grade pada tuna.
Tabel 3. Grade pada tuna dan ciri-ciri khususnya

Ciri Khusus
No Tingkatan Pelangi
Daging Minyak Warna Sashi/
Grade
Bolong

1 AAA Kenyal Banyak Merah terang Tidak ada Tidak


minyak cerah segar ada

2 AAF Kenyal Banyak Merah terang Tidak ada Tidak


minyak agak cerah ada
segar

3 AF Kenyal Ada minyak Merah terang Tidak ada Tidak


lumayan sangat segar ada
banyak

9
4 AA Kenyal Ada minyak Merah terang Tidak ada Tidak
sedikit ada

5 A+ Kenyal Ada minyak Merah Tidak ada Tidak


sedikit ada

6 A Kenyal Ada minyak Merah Tidak ada Tidak


lebih sedikit ada
dari grade
A+

7 A- Kenyal Ada minyak merah / Tidak ada Tidak


sedikit terang ada

8 B+ Kenyal Tidak ada Merah sedikit Tidak ada Pelangi


minyak/lem redup ada dan
ak tipis

9 B Kenyal Sedikit Merah agak Tidak ada Pelangi


Minyak pucat sedikit
tebal

10 B- Sedikit Minyak/Le Kondisi Tidak ada Pelangi


Kenyal mak tidak minyak jelek tebal
ada

11 Reject/C Lembek Mintak/suda Burem atau Tidak ada Pelangi


h putih merah gelap tebal

12 Oba/D Putih susu Tidak Merah gelap Ada Pelangi


(Daging pucat/daging terdapat sashi/bolon tebal
Hitam) mateng, minyak g
kasar, lembek

Sumber data : PPS Nizam Zachman Jakarta

10
Perbedaan ciri khusus ikan tuna didasarkan pada kondisi daging, banyaknya
minyak, warna daging, sashi/ bolong pada daging dan terlihatnya warna pelangi
pada [Link] tuna yang memilliki kualitas bagus adalah ikan tuna yang
memiliki kondisi daging yang kenyal, banyak minyak, warna daging cerah, tidak
ada kerusakan pada daging seperti adanya sashi atau bolong dan tidak terlihat
adanya gredasi warna pelangi pada [Link] tuna yang memiliki kualitas
yang buruk memiliki kondisi daging yang lembek/pucat, tidak ada minyak, warna
daging merah buram/gelap, ada sashi/bolong dan adanya gredasi warna pelangi
pada [Link] segar yang di ekspor memiliki grade AAA, AAF, AF, AA, A+
dan A. Grade AAA merupakan grade tuna yang paling mahal, harga tuna grade
AAA bisa mencapai Rp. 312.000/kg. Tuna dengan grade AAA, AAF, AF jarang
didapat karena disebabkan oleh beberapa faktor seperti semakin berkurangnya
sumberdaya tuna, kerusakan mutu tuna akibat penanganan mutu yang kurang baik,
unit penangkapan yang kurang memadai dan kurangnya pengetahuan nelayan
terhadap keamanan pangan. Grade tuna yang sering didapat adalah grade A, A+ dan
AA. Harga tuna grade A, A+ dan AA berkisar antara Rp. 83.200-Rp. 135.200. Tuna
dengan grade A, A+ dan AA jarang sekali dijual di pasar lokal dan hampir
semuanya di ekspor.

b. Kriteria Seleksi Ikan Tuna di Uni Eropa


Berdasarkan gambaran mengenai persyaratan/kriteria ekspor yang harus
dipenuhi oleh UPI agar produknya dapat diterima oleh negara tujuan yaitu
diantaranya persyaratan ekspor yang terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
dokumen, kualitas dan keamanan (quality and safety), keberlanjutan
(sustanability), sertifikat pihak ketiga (third party certification) dan ketelusuran
(traceability). Berikut beberapa peraturan persyaratan ekspor tuna tujuan Uni
Eropa.
Tabel 4. Persyaratan/kriteria ekspor tuna

No Persyaratan Negara Tujuan (Uni Eropa)

1 Quality and Safety ● GMP-SSOP, HACCP


● HC gabungan (karantina dan mutu) dari

11
aplikasi TRACES berdasaran regulasi (EU)
2019/628
● Memiliki nomor registrasi (Approval
Number)

2 Sustainability ● Big Eye Statistical Document (IOTC)


● CDS (SBT-CCSBT)

3 Third Party ● ISO 22000


Certification ● MSC

4 Traceability Catch Certification (SHTI)

Sumber : PPSNZJ

1. Kualitas dan keamanan (quality and safety)


Kualitas dan keamanan (quality and safety) adalah suatu pengelolaan perikanan
untuk menjamin mutu dan keamanan pangan di tingkat internasional maupun
nasional karena telah banyak menarik perhatian banyak konsumen di berbagai
negara termasuk Indonesia. Pengelolaan tersebut didasarkan adanya kekhawatiran
kurang amannya suatu produk makanan yang dapat mengakibatkan terganggunya
kesehatan manusia karena adanya beberapa kemungkinan baik dari aspek biologi,
kimia, maupun fisik, seperti kontaminasi mikroba, kerusakan makanan itu sendiri
atau adanya zat-zat atau bahan kimia tertentu yang sengaja maupun tidak
ditambahkan ke dalam suatu produk makanan dengan berbagai tujuan seperti:
sebagai bahan pengawet, pewarna, pengemulsi, penstabil, penyedap rasa, dan
antioksidan yang berlaku pada semua negara tujuan (Riyadi 2006).
Kriteria untuk ekspor tuna ke uni eropa memiliki beberpa persyaratan, pertama
kualitas dan keamanan (quality and safety) oleh negara Uni Eropa sama dengan
Amerika Serikat, dan Jepang yaitu eksportir sudah memberlakukan cara mengolah
ikan yang baik dan sesuai dengan syarat-syarat prosedur operasi sanitasi standar
(SSOP/Standard Sanitation Operating Procedure), dan penerapan HACCP
(Hazard Analysis and Critical Control Points). Hal tersebut dibuktikan UPI yang

12
telah memperoleh dan sertifikat HACCP dan Sertifikat Kelayakan Pengolahan
(SKP).
Persyaratan kedua kualitas dan keamanan (quality and safety) produk tuna
yang diekspor UPI ke Uni Eropa adalah sertifikat kesehatan (Health
Certificate/HC). Dalam Surat Keputusan Kepala BKIPM Nomor 59 Tahun 2016
disebutkan untuk ekspor tujuan negara Uni Eropa, proses sertifikasinya memakai
TRACES (Trade Control and Expert System) yakni sertifikasi pada perdagangan
hewan hidup, aplikasi online multilingual untuk pengendalian, produk non hewan
dan asal hewannya yang dieksporkan ke Uni Eropa melalui sistem tersebut, Otoritas
Kompeten dan UPI bisa memperoleh informasi tentang produk yang mana jika
terdapat bahaya/ancaman/ mengenai consignment bisa diatasi secara terkoordinasi,
tepat, dan cepat.
Persyaratan ketiga kualitas dan keamanan (quality and safety) produk tuna
yang diekspor UPI ke Uni Eropa, harus memiliki nomor registrasi eksportir
(approval number). Nomor registrasi adalah nomor identifikasi yang harus
dipenuhi oleh UPI sebelum melakukan ekspor ke Negara Uni Eropa. Selain Uni
eropa, negara yang mengharuskan nomor registrasi Norwegia, Rusia, Vietnam,
China, Korea, dan Kanada. Untuk mendapatkan nomor tersebut, UPI wajib
diregistrasikan terlebih dahulu oleh BKIPM (Badan Karantina Ikan Pengendalian
Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan), yaitu Otoritas Kompeten Indonesia terhadap
otoritas kompeten negara tujuan ekspor itu sebelum diekspor hasil perikanannya.

2. Keberlanjutan (sustainability)
Penangkapan ikan tuna diatur dalam Regional Fisheries Management
Organizations (RFMO) yang adalah badan-badan regional pengelolaan perikanan
yang dibuat untuk melaksanakan UNCLOS 1982, UN Fish Stock Agreement 1995,
FAO-CCRF dan ataupun persetujuan/konvensi untuk membentuk RFMO. RFMO
mmpunyai tanggung jawab dan kewenangan untuk mengelolaan sumber daya ikan
dan mengatur konservasi yang sifatnya shared fish stocks terhadap suatu perairan
yang disepakati di mana bisa mencakup perairan ZEE negara-negara ataupun laut
bebas (high seas). Shared fish stocks (highly migratory, transboundary, discrete

13
high seas stocks, and straddling stock) merupakan komoditas strategis yang
dimiliki dunia yang pengelolaannya memerlukan kerjasama dunia. (DPSDI 2016).
Hingga sekarang ada 5 badan regional yang melakukan pengelolaan terhadap
highly migratory fish stock dan straddling fish stock, diantaranya International
Commission for the Conservation of Atlantic Tunas (ICCAT), Inter-American
Tropical Tuna Commission (IATTC), Western and Central Pacific Fisheries
Commission (WCPFC), Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna
(CCSBT), dan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC).
Untuk kapal di PPS Nizam Zachman yang melakukan penangkapan ikan tuna
tujuan ekspor ke Jepang, Uni Eropa, dan Amerika Serikat harus melakukan
pendaftaran kapal terlebih dahulu kepada RFMO. Setelah itu melakukan
pemberitahuan hasil tangkapan kepada organisasi regional yaitu IOTC untuk
dokumen Big Eye Statistical Document (BESD) dan CCSBT untuk dokumen Cacth
Documentation Scheme (CDS) melalui UPT PPS Nizam Zachman. IOTC
mempunyai mandat melakukan pengelolaan perikanan tuna, tuna neritik dan hasil
tangkapan sampingan pada perikanan tuna di Samudera Hindia. Indonesia
merupakan salah satu negara anggota IOTC, sehingga pengelolaan tuna neritik di
PPS Nizam Zachman harus sejalan dan mengacu kebijakan yang diberlakukan
IOTC (Widodo et al. 2020). CCSBT juga mengelola daerah penangkapan yang
sama dengan IOTC yaitu di sekitar perairan Samudera Hindia sebelah selatan Jawa.
CCSBT dikhususkan untuk pengeloaan tuna sirip biru selatan yaitu southern bluefin
tuna (SBT) (Rahmawati et al. 2013).

3. Sertifikasi dari Pihak Ketiga (Third Party Certification)


Third party certification (sertifikasi dari pihak ketiga) adalah sertifikasi yang
dikeluarkan oleh lembaga internasional di luar negara pengekspor yang diakui
dalam perdagangan international. Perdagangan internasional mengharuskan
perusahaan pangan menunjukkan kualitas produk, keamanan ketertelusuran dan
pangan, yakni pada tahap seluruh rantai produksi ataupun tahap produksi. Fungsi
penerapan sertifikasi ini adalah untuk memenuhi mengikuti syarat peraturan
perdagangan dan menguatkan kedudukan perusahaan terhadap persaingan global,

14
oleh karena itu perusahaan pangan harus memberlakukan sistem jaminan mutu. Uni
Eropa menerapkan sertifikasi, ISO 22000 dan Marine Stewardship Council (MSC).
ISO 22000 merupakan sebuah syarat yang memberi kemungkinan perusahaan
dalam memperbarui, memelihara, mengoperasikan, menerapkan, dan
merencanakan sebuah sistem manajemen keamanan pangan yang memiliki tujuan
supaya produk yang diadakan aman bagi pelanggan. ISO 22000 memberikan
prosedur dalam membentuk komunikasi konsep HACCP dengan cara internasional.
Strukturnya menyebutkan pemakanian 7 prinsip HACCP pada konsep manajemen
keamanan pangan yang diberlakukan disepanjang rantai makanan dimulai dengan
konsumen, produsen, dan distributor. Melalui perkembangan ISO 22000, aktivitas
keamanan pangan yang lebih terintegrasi ISO 22000 adalah sebuah standarisasi
yang memuat syarat sistem manajemen keamanan pangan. Manfaat sertifikasi ini
yaitu dapat meningkatkan kesehatan dan keselamatan konsumen, meningkatkan
kepuasan pelangggan, dan membantu memenuhi transparansi produk. Transparansi
berkaitan dengan persyaratan ketelusuran produk masing-masing negara tujuan.
Standar tersebut berfokus pada pengendalian terhadap proses dan sistem dalam
memproduksi minuman dan makanan. Tiap-tiap macam produknya yakni minuman
ataupun makanan wajib dibuat perencanaan proses dan pengendaliannya. Secara
umum ISO 22000 tidak beda jauh dengan ISO 9001 hal yang membedakannya ada
pada klausul 7 (realisasi dan perencanaan produk) dan klausul 8 (perbaikan sistem,
validasi, dan verifikasi) (DKP 2021).
MSC (Marine Stewardship Council) merupakan suatu organsiasi nirlaba
internasional mengatasi permasalahan perikanan yang tidak berkelanjutan dan
menjaga pasokan makanan hasil laut bagi generasi mendatang. MSC berpusat di
London, UK dan berkembang dengan kantor cabang lainnya yang tersebar dari
Eropa, Amerika dan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Standar MSC dengan basis ilmu pengetahuan bagi perikanan berkelanjutan
memberi penawaran sebuah cara dalam menjamin keberlanjutan itu memakai tahap
evaluasi dari pihak ketiga yang bisa dipercaya dan independen. Jika dilihat dari
upaya yang dilakukan oleh Uni Eropa, Sertifikat ini dibuat untuk menghindari
penangkapan berlebihan (over fishing) pada stok ikan dunia. Sebab Uni Eropa tidak
membatasi kuota impor ke negara mereka seperti Jepang. Sertifikasi artinya

15
perikanan berkelanjutan bisa dihargai dan mendapat pengakuan di pasar
internasional, dan menjamin konsumen bahwa seafoodnya bersumber pada sumber
yang dikelola secara berkelanjutan dan baik.
Standar perikanan MSC meliputi prinsip antara lain: Prinsip 1: Stok ikan target
yang berkelanjutan praktik perikanan wajib dilaksanakan melalui cara yang tidak
mengakibatkan menurunnya sebuah populasi ataupun penangkapan berlebih,
sementara untuk populasi ikan yang menurun, penangkapannya wajib dilaksanakan
melalui cara yang bisa memulihkan populasi ikan mengalami penurunan itu. Prinsip
2: Dampak lingkungan dari penangkapan ikan aktivitas tersebut wajib bisa menjaga
keragaman, fungsi, produktivitas, dan struktur, ekosistem (contohnya spesies dan
habitat yang terkait dan tergantung dengan cara ekologis) yang menjadi sasaran
ikan itu bergantung. Prinsip 3: Pengelolaan yang efektif praktek perikanan wajib
memberlakukan sistem manajemen efektif yang menunjung tinggi peraturan
internasional dan nasional, standar lokal dan menghomati hukum dan memadukan
operasional dan kerangka kerja kelembagaan yang mewajibkan sumber daya yang
berkelanjutan dan bertanggung jawab (MSC 2018).

4. Ketelusuran (Traceability)
Persyaratan ketelusuran (traceability) oleh negara Uni Eropa adalah catch
certificate (SHTI/ Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan) yaitu surat keterangan yang
menyebutkan bahwa hasil perikanan yang dieksporkan bukanlah bersumber pada
aktivitas IUU (Illegal, Unreported, dan Unregulated) Fishing. Produk perikanan
yang diekspor harus memiliki catch certificate dari otoritas kompeten negara asal
produk yang dikeluarkan oleh BKPIM.
Menururut Permen (2012) SHTI dipergunakan sebagai dokumen ekspor pada
hasil tangkapan ikan di laut dari kapal penangkap ikan asing dan kapal penangkap
ikan Indonesia. SHTI meliputi tiga bagian, yakni SHTI Lembar Turunan yang
disederhanakan, SHTI lembar awal, dan SHTI Lembar Turunan. SHTI Lembar
Awal merupakan surat keterangan yang berisi keterangan hasil tangkapan ikan yang
didaratkan dalam hal tujuan pencatatan. Untuk mendapatkan Sertifikat Hasil
Tangkapan Ikan Lembar Awal, perwakilan, Nakhoda, dan pemilik kapal yang

16
ditugaskan pemilik kapal dalam melakukan pengajuan kepada Otoritas Kompeten
Lokal.
Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Turunan yakni surat yang berisi
keterangan seluruh atau sebagian hasil tangkapan ikan berdasarkan lembar awal
sebagai dokumen yang mengikuti hasil perikanan yang dijual ke Uni Eropa. Untuk
mendapat Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Turunan, UPI mengajukan
permohonan pada Otoritas Kompeten Lokal.
Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Turunan ynang Disederhanakan yakni
surat yang berisi keterangan sebagian atau seluruh hasil penangkapan ikan dari
kapal yang menjadi dokumen dan mengikuti hasil perikanan yang djual ke Uni
Eropa. Untuk mendapatkan Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Turunan yang
disederhanakan, UPI mengajukan permohonan kepada Otoritas Kompeten Lokal.

2.3. Pengemasan dan Labeling


a. Standar Pengemasan Ikan Tuna untuk Ekspor
Standar pengemasan tuna untuk diekspor yaitu diantaranya :
1. Produk tuna segar dikeluarkan dari wadah/bak penyimpanan, lalu dikeringkan
sebelum dikemas. Proses pengeringan ini menggunakan busa/spons sehingga
menghasilkan ikan yang bersih dan kering.
2. Bahan pengemasan yang digunakan sesuai dengan SNI kemasan untuk produk
ikan segar (fresh fish) khusus melalui sarana angkutan udara yaitu SNI 19-
4858-1998 yang telah dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional.
3. Kemasan yang digunakan adalah kemasan tipe III dan V.
- Untuk kemasan tipe III mempunyai ukuran 750x420x400 mm, kemasan
ini digunakan untuk ikan berukuran besar (satu kemasan hanya untuk 1
ekor ikan dengan batas maksimal 35 kg).
- Untuk Kemasan tipe V dengan ukuran 1200x420x400 mm. Kemasan ini
digunakan untuk ikan yang berukuran sedang, yaitu satu kemasan biasanya
berisi 2-3 ekor ikan, dengan batas maksimal 80 kg.
4. kedalam kemasan dimasukan beberapa potong es kering, agar suhu dalam
kemasan tetap rendah selama pengiriman

17
5. Kemasan berupa plastik polyetelene. Tuna utuh segar kemudian dimasukkan
ke dalam styrofoam. Tuna utuh segar biasanya diekspor sesuai permintaan
pembeli yang berasal dari eksportir.

b. Jenis Kemasan yang Umum digunakan untuk Ekspor Ikan Tuna


Jenis kemasan yang umum digunakan adalah kemasan tipe III dan V yang
sesuai SNI 19-4858-1998 yang telah dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional.
Untuk kemasan tipe III mempunyai ukuran 750x420x400 mm, kemasan ini
digunakan untuk ikan berukuran besar (satu kemasan hanya untuk 1 ekor ikan
dengan batas maksimal 35 kg). Untuk Kemasan tipe V dengan ukuran
1200x420x400 mm. Kemasan ini digunakan untuk ikan yang berukuran sedang,
yaitu satu kemasan biasanya berisi 2-3 ekor ikan, dengan batas maksimal 80 kg.

c. Persyaratan Labeling untuk Ekspor Ikan Tuna


Ikan dan produk perikanan harus dikemas dalam kondisi yang higienis untuk
menghindari kontaminasi dari minyak pelumas, minyak, bahan bakar atau bahan
berbahaya lainnya. Bahan pengemas tidak boleh merusak atribut sensori produk
perikanan dan harus tidak menularkan bahan berbahaya. Bahan pengemas yang
digunakan untuk ikan segar yang disertai dengan es harus memiliki saluran
pembuangan air untuk air dari lelehan es.
Informasi berikut harus tercantum dalam kemasan dan dokumen penyerta:
● Surat Keterangan Asal yang diisi secara lengkap;
● Berat dan kadar spesies ikan/produk perikanan
● Alamat eksportir
● Bukti stempel inspeksi BFAR
Produk perikanan beku yang diimpor dalam jumlah besar yang ditujukan
untuk kegiatan pengolahan lebih lanjut tidak termasuk dalam persyaratan ini.

2.4. Logistik dan Pengiriman


a. Transportasi yang digunakan Untuk Ekspor Ikan Tuna
Ekspor ikan tuna Indonesia ke berbagai negara tujuan dengan tetap menjaga
kualitas dan kesegaran ikan tuna diperlukan transportasi yang cepat dan aman

18
dengan jumlah yang banyak menggunakan pengiriman melalui cargo. Definisi
kargo secara sederhana adalah semua barang yang dikirim melalui udara (pesawat
udara), laut (kapal), atau darat (truk kontainer) yang biasanya untuk
diperdagangkan, baik antar wilayah/kota di dalam negeri maupun antar Negara
(internasional) yang dikenal dengan istilah ekspor impor. Ikan tuna termasuk dalam
barang special cargo, yaitu barang-barang kiriman yang memerlukan penanganan
secara khusus seperti kategori live animal (AVI), Perishable goods (PER), Human
remains (HUM), Valuable goods (VAL), Strongly smelling goods, Dangerous
Goods, Outsized and Heavy cargo. Ikan tuna sebagai barang special cargo dan
perishable food memerlukan saluran transportasi tercepat dan tepat dalam
pengirimannya untuk bisa memenuhi kualitas yang diminta pasar luar negeri, dalam
pengiriman ikan tuna ini memiliki jenis transportasi yang digunakan, yaitu :
Transportasi laut menjadi jalur pengiriman yang dapat mengirim ikan tuna,
penanganan dan pengiriman melalui jalur laut lebih diperhatikan karena
membutuhkan waktu yang lebih,banyak dibanding transportasi udara. Penanganan
ikan tuna di pelabuhan perikanan dilakukan secara hati-hati, untuk menjaga ikan
tuna masih tetap dalam mutu yang baik. Tahapan proses penanganan ikan tuna segar
(fresh tuna), mulai pembongkaran (unloading) Sampai pengiriman produk tuna
segar (fresh Tuna).
1. Eksportir mengirimkan "Shipping Instruction" (SI) kepada pelayaran (meminta
atau. booking space kapal pada container kosong).
2. Shipping memberikan "Booking Confirmation", berisi konfirmasi ketersediaan
container, space kapal yang sesuai tujuan, dan tempat yang ditunjuk untuk
pengambilan container (depo container).
3. Eksportir menghubungi perusahaan angkutan/ trucking.
4. Perusahaan atau trucking melakukan pengambilan container kosong di depo
dengan berbekal "Booking Confirmation" dari eksportir yang dibuat oleh
shipping.
5. Container kosong diangkut ke pabrik untuk pemuatan barang ekspor (stuffing).
6. Selama stuffing, eksportir membuat "Commercialx Invoice", "Packing list" dan
Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) ke Bea Cukai
7. Bea cukai memberikan perstujuan ekspor "Nota Pelayanan Ekspor" (NPE)

19
8. Berbekal NPE, barang / container diangkut dan masuk ke pelabuhan
9. Container naik ke kapal dan berangkat ke pelabuhan tujuan luar negeri
10. Setelah kapal berangkat, Shipping menerbitkan "Bill of Lading" dokumen
angkutan kapal
11. .Dokumen ekspor yang meliputi Commercial Invoice, Packing List, bill of
landing dari shipping dikirim oleh eksportir ke pembeli di luar negeri.
12. Dengan dokumen yang diterima dari eksportir, pembeli di luar negeri dapat
mengambil barangnya (dalam kontainer) ke pelabuhan tujuan/ bongkar.
Proses pembongkaran baiknya dilakukan pada pagi hari. ikan dari palka
dilakukan secara Hati-hati, untuk menjaga kondisi fisik ikan tuna. Setelah ikan tuna
terangkat, ikan disemprot Dengan air. Selanjutnya, pemindahan ke transhit sheed.
Ikan tuna yang sudah dibongkar, dipindahkan Ke tuna landing center (TLC) atau
transit . Proses pemindahan menggunakan fasilitas khusus, yaitu atap plastik dan
alat peluncur. Fasilitas ini melindungi ikan agar tidak terkena sinar matahari.
Selanjutnya Pengujian Laboratorium dilakukan untuk mengetahui ikan tuna yang
masih layak atau tidak (reject). Pengujian mencakup uji organoleptik, uji kimiawi,
dan uji mikrobiologis.

b. Pengaturan Pertanggung Jawaban Asuransi


Dalam ekspor ikan tuna memiliki persyaratan kondisi barang yang harus
dilengkapi dalam pengangkutan, beberapa masalah kondisi yang dihadapi dalam
proses pengangkutan tuna seperti kesalahan dalam melakukan pengemasan tuna
yang akan berdampak pada rusaknya tuna atau muatan. Kesalahan pencatatan
dalam dokumen pengangkutan menjadikan tidak sama antara jumlah tuna yang
dikirim dengan diterima. Kelebihan bongkar barang muatan di suatu pelabuhan
yang tidak terdaftar manifest di pelabuhan bersangkutan sehingga terdapat barang
(tuna) hilang atau tidak sampai di pelabuhan tujuan. Human error kelalaian yang
dilakukan karyawan yang menyebabkan ketidak kondusifan atau terjadi kesalahan
dalam melaksanakan kerja. Maka dari itu sebelum melakukan pengiriman barang
karyawan harus lebih konsentrasi, teliti dan bertangung jawab pada tugasnya
masing-masing

20
Pertanggungan merupakan bentuk perjanjian antara pihak penanggung
(insurer) dan tertanggung (assured) untuk mengalihkan resiko yang timbul dari
kejadian atau peristiwa yang tidak dapat diduga sebelumnya. Pertanggungan dapat
diajukan dengan klaim Cargo marine insurance,Cargo marine insurance adalah
kontrak dimana perusahaan asuransi berjanji untuk mengganti kerugian yang
dijamin dengan cara dan sejauh yang disepakati, terhadap kerugian laut, yaitu,
insiden kerugian akibat petualangan laut. Ini juga dapat diperpanjang untuk
melindungi tertanggung terhadap kerugian di perairan pedalaman atau di darat,
risiko dapat terjadi secara insidental untuk setiap pelayaran laut. Proses klaim
asuransi sangat penting untuk meminimalisir kerugian. Apabila ada barang muatan
yang rusak harus diasuransikan agar bisa mendapatkan ganti rugi terhadap barang
tersebut, klaim pertanggung jawaban dapat dilakukan dengan , yaitu :
1. Affidavit yakni laporan kejadian yang ditandatangani perwira kapal dan
stevedore.
2. Long entry yakni buku kapal yang mencatat segala kejadian yang dialami
kapal.
3. Note of protest yaitu akta yang ditanda tangani nahkoda dan syahbandar
tentang kejadian-kejadian yang dialami kapal serta pernyataan nahkoda bahwa
pihaknya tidak bertangung jawab karena kerusakan/kerugian disebabkan oleh
kejadian alam.
4. Survey report yaitu laporan tenaga ahli sebagai hasil pemeriksaan
kerusakan/kehilangan barang dan digunakan sebagai satu dasar penyelesaian
klaim.
5. dokumen-dokumen pendukung sebagai bukti seperti konosemen (Bill of
Lading), manifest, except bewijs (EB), claim contatering bewijs (CCB), short
& overlanded tracers, damage cargo list, letter of subrogation atau notice of
abandonment dan Resi.

2.5. Pemasaran dan Promosi


a. Strategi Pemasaran untuk Ekspor Ikan Tuna
Untuk memasarkan tuna secara global, berikut adalah beberapa strategi
pemasaran :

21
● Mempromosikan keunggulan produk: Ikan tuna memiliki banyak keunggulan,
seperti kaya akan protein nabati, rendah lemak, rendah kalori, dan healty food.
Oleh karena itu, penting untuk mempromosikan keunggulan kepada
konsumen potensial di pasar ekspor.
● Menargetkan pasar yang tepat: Identifikasi pasar potensial yang sesuai dengan
produk ikan tuna, seperti negara maju dengan kualitas konsumsi makan yang
berkualitas.
● Membangun merek: Membuat merek yang kuat dan terkenal dapat membantu
meningkatkan kesadaran merek dan mengembangkan kepercayaan konsumen
kuar negeri pada produk ikan tuna. Pertimbangkan untuk menggunakan logo
yang menarik, kemasan yang menarik, dan media sosial untuk mempromosikan
merek Anda.
● Membuat konten pemasaran yang menarik: Konten pemasaran yang baik dapat
membantu menjangkau konsumen potensial dan membangun hubungan
dengan mereka. Pertimbangkan untuk membuat website dan media sosial yang
mudah dijangkau oleh konsumen luar negeri
● Membentuk kemitraan: Membentuk kemitraan dengan distributor di pasar
ekspor dapat membantu memperluas jangkauan produk ikan tuna. Pastikan
untuk mencari mitra yang memiliki reputasi baik dan pengalaman dalam
menjual produk makanan.
● Menawarkan sampel gratis: Menawarkan sampel gratis dapat membantu
memperkenalkan produk ikan tuna kepada konsumen baru dan memberi
mereka kesempatan untuk mencoba dan mengevaluasi.
● Mengikuti pameran ekspor : Mengikuti pameran ekspor internasional dapat
membantu memperluas jaringan bisnis , mempromosikan merek , dan
memperkenalkan produk ikan tuna Indonesia kepada pembeli potensial.
Dengan strategi pemasaran yang tepat, maka dapat memperluas pasar ekspor
ikan tuna Indonesia dan meningkatkan kesadaran kualitas ikan tuna di pasar
internasional.

22
b. Promosi tuna untuk pasar ekspor
Promosi ikan tuna untuk pasar ekspor dapat dilakukan dengan beberapa cara
berikut:
● Membangun citra merek yang kuat: Membuat citra merek yang kuat dan
dikenal baik di pasar ekspor adalah kunci utama dalam promosi produk ikan
tuna. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan ikan tuna pada pasar
ekspor melalui kampanye pemasaran yang tepat, termasuk iklan digital, media
sosial, dan pameran dagang.
● Melakukan riset pasar: Mempelajari pasar ekspor yang menjadi target dapat
membantu dalam menentukan strategi promosi yang tepat. Pelajari preferensi
dan kebutuhan konsumen di pasar ekspor, serta pesaing yang sudah ada di pasar
tersebut. Maka dapat menyesuaikan produk dan strategi promosi.
● Menawarkan layanan pelanggan yang unggul: Menyediakan layanan
pelanggan yang baik dapat meningkatkan citra merek dan membantu
membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen di pasar ekspor.
Pastikan merespons pertanyaan dan keluhan pelanggan dengan cepat dan
memberikan solusi yang memuaskan.
● Mengikuti standar internasional: Untuk masuk ke pasar ekspor, produk ikan
tuna harus memenuhi standar internasional tertentu. Pastikan ikan tuna
memenuhi standar kualitas dan keamanan makanan yang ditetapkan oleh badan
regulasi internasional seperti FDA atau Halal MUI.
● Menawarkan harga yang bersaing: Pasar ekspor sering kali sangat kompetitif,
sehingga menawarkan harga yang bersaing dapat membantu memenangkan
pasar. Namun, pastikan masih dapat mempertahankan kualitas produk dan
keuntungan yang cukup dalam penawaran harga.
● Mempromosikan keunggulan produk: Terakhir, pastikan mempromosikan
keunggulan produk ikan tuna, seperti nutrisi yang tinggi, rendah lemak, dan
kaya akan protein. Hal ini dapat membantu menarik minat konsumen di pasar
ekspor yang sedang mencari sumber protein yang sehat dan lezat.

23
2.6. Pembayaran
a. Sistem Dan Bentuk Pembayaran Harga Ekspor Ikan Tuna
- Sistem pembayaran perdagangan internasional hasil perikanan terbagi 3 bagian
1. Sale’s Contract Process
Dokumen/peraturan antara penjual dan pembeli, ini merupakan kelanjutan dari
produk pembelian dari permintaan importir. Konten yang terkait dengan syarat
pembayaran untuk produk yang dijual, seperti harga, kualitas, kuantitas, sarana
transportasi, pembayaran asuransi, dll.
2. Cargo Shipment Process
Berkas pengiriman yang menyatakan kalau eksportir sudah mengirimkan
produk yang dipesan oleh importir sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam
letter of credit.
3. Shipping Documents Negotiation Process
Proses monetisasi dokumen pengiriwman untuk eksportir dan menagih
importir atas barang yang dibayarkan.

- Bentuk pembayaran
1. Pembayaran di muka (Advance Payment)
Dilakukan dengan transaksi prabayar sebelum penjual atau eksportir
mengirimkan barang. “Pembayaran dapat dilakukan seluruhnya atau sebagian.
Jenis metode pembayaran ini paling umum digunakan oleh eksportir ikan tuna.
Keuntungan dari prabayar adalah biaya transaksi yang relatif lebih rendah dari pada
letter of credit dan penyerahan dokumen lebih singkat. Namun bagi importir,
pengiriman barang dapat gagal atau tertunda, serta kualitas dan kuantitas barang
mungkin tidak sesuai dengan kesepakatan semula” (Pengeskpor ikan tuna). Metode
prabayar membebankan bunga importir dan menimbulkan biaya tambahan kepada
pembeli.
2. Rekening terbuka
Barang dikirim dahulu dari eksportir dan pembayaran diproses setelah barang
diterima. Keuntungan dalam hal ini terletak pada importir. Artinya, Anda menerima
item terlebih dahulu. Sementara itu, eksportir menanggung risiko, apakah ada risiko

24
keterlambatan pembayaran atau tidak dibayar. Metode rekening terbuka dapat
menyebabkan adanya bunga eksportir, yang memerlukan biaya penjual tambahan.
3. Konsinyasi (Consignment)
Penjual mempercayakan penjualan barang kepada importir. Barang yang dijual
tetap menjadi milik sah eksportir. Manfaat dan risikonya hampir sama dengan
metode rekening koran. “Tidak ada jaminan pembayaran yang tegas karena
kepemilikan barang eksportir telah beralih ke importir. Metode pembayaran ini
merupakan yang paling jarang digunakan dalam kegiatan ekspor ikan tuna.
4. Document againts payment (D/P)
Eksportir mengirimkan barang ke tujuan mereka dan faktur barang dikirim ke
bank. Ini membuat perdagangan lebih mudah. Importir akan dapat menerima
dokumen ketika pembayaran dilakukan melalui bank yang telah disepakati
sebelumnya. Dokumen ini diperlukan untuk memungkinkan importir mengambil
barang di lokasi barang. Risiko ada pada importir.
5. Document againts Acceptance (D/A)
Ini serupa dengan dokumen untuk cara pembayaran. Bedanya, metode ini
memerlukan persetujuan pembayaran dari importir tujuannya agar menerima
semua dokumen ekspor yang diperlukan dari eksportir. “Kontrak ini bertujuan
untuk jangka waktu tertentu, biasanya 30, 60, atau 90 hari dengan kontrak. Dua
metode terakhir, dokumen pembayaran dan metode dokumen penerimaan,
biasanya membeban- kan tingkat bunga eksportir.”
- Prosedur Pembayaran Ekspor Ikan Tuna
1. Eksportir dan importir bernegosiasi. Jika tercapai kesepakatan, maka akan
dibuat perjanjian jual beli.
2. Importir mengajukan permohonan pembukaan L/C pada bank asing.
3. Bank pembuka akan mentransfer letter of credit kepada eksportir melalui bank
koresponden Indonesia.
4. Bank koresponden/penerima meneruskan/ memberitahukan kepada eksportir
L/C.
5. Eksportir memproduksi dan menyiapkan ekspor.
6. Eksportir meminta pengangkut/maskapai untuk mengirimkan barangnya.

25
7. Pada saat barang telah siap untuk diekspor dan jadwal pengapalan telah
ditetapkan, eksportir harus mendaftarkan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)
kepada otoritas pabean pelabuhan muat. Bea dan cukai akan dibebankan
kepada PEB untuk pemuatan di kapal.
8. Kegiatan memuat barang di atas kapal. Dalam hal importir perlu melampirkan
SKA untuk ekspor, eksportir harus memperoleh surat keterangan asal
(certificate of origin) dari kantor penerbit SKA.
9. Eksportir membawa negotiable bill of lading, PEB dengan tarif dan cukai, dan
dokumen lain yang diperlukan untuk L/C ke bank koresponden dan L/C akan
saya negosiasikan.
10. Correspondent/Receiving Bank mengirim dokumen-dokumen tersebut.
11. Pada butir 8 dan melakukan penagihan L/C kepada Opening Bank di Luar
Negeri.

b. Tarif Harga dan Kebijakan Ekspor Ikan Tuna


- Tarif Harga
Tarif yang ditetapkan oleh negara tujuan ekspor ikan tuna yaitu Uni Eropa pada
tahun 2023 berdasarkan Trade statistics for international business development
(Trade Map) sebesar 9.25%
- Kebijakan ekspor tuna
1. Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS)
Tindakan ini diterapkan untuk melindungi kehidupan manusia atau hewan dari
risiko yang timbul dari zat aditif, kontaminan, racun, atau organisme penyebab
penyakit dalam [Link] kebijakan SPS yang terbanyak diberlakukan ialah
persyaratan pelabelan, sertifikasi.

26
Tabel 5. Jenis tindakan Sanitary and Phytosanitary Measures yang terbanyak
diberlakukan atas ekspor ikan tuna

Kode NTM Deskripsi Tindakan

A310 Persyaratan pelabelan

A840 Persyaratan inspeksi

Batas toleransi untuk residu atau kontaminasi zat tertentu


A210
(non-mikrobiologis)

A830 Persyaratan sertifikasi

A330 Persyaratan pengemasan

A820 Persyaratan pengujian

A410 Kriteria mikrobiologis pada produk akhir

A120 Larangan geografis pada eligibilitas

A400 Persyaratan higienis terkait dengan SPS

Perlakuan untuk mengeliminasi hama tumbuhan dan hewan


A590 atau organisme penyebab penyakit dalam produk akhir n.e.s.
atau larangan perlakuan

Keterangan: n.e.s = not elsewhere specified dan NTM = non-tariff measure.


Sumber: Diolah dari International Trade Centre (ITC)

2. Technical Barriers to Trade (TBT)


26 TBT merupakan tindakan yang mengacu pada peraturan teknis dan prosedur
asesmen terkait kesesuaian dengan peraturan teknis yang tidak termasuk ke dalam
cakupan tindakan SPS. Tindakan TBT atas tuna olahan Indonesia meliputi
sertifikasi, pelabelan, pengemasan produksi, kualitas produksi atau persyaratan
kinerja, trasportasi dan penyimpanan, serta penilaian kelayakan TBT. Seperti pada

27
tindakan SPS, peraturan pelabelan dan sertifikasi merupakan persyaratan yang
terbanyak diterapkan pada kebijakan TBT.
Tabel 6. Jenis tindakan Technical Barriers to Trade yang terbanyak diberlakukan
atas ekspor ikan tuna

Kode NTM Tindakan

B830 Persyaratan sertifikasi

B330 Persyaratan pengemasan

B600 Persyaratan identitas produk

B310 Persyaratan pelabelan

B140 Persyaratan otorisasi untuk alasan TBT

B700 Persyaratan mutu produk, keamanan atau kinerja

B820 Persyaratan pengujian

B840 Persyaratan inspeksi

B420 Peraturan TBT mengenai transpor dan penyimpanan

B890 Asesmen kesesuaian terkait TBT, n.e.s

Keterangan: n.e.s. = not elsewhere specified dan NTM = non-tariff measure.


Sumber: Diolah dari International Trade Centre (ITC)

27

28

Anda mungkin juga menyukai