BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemerintah dan rakyat Indonesia, dewasa ini tengah gencar-gencarnya
mengimplementasikan pendidikan karakter di institusi pendidikan; mulai dari tingkat
dini (PAUD), sekolah dasar (SD/MI), sekolah menengah (SMA/MA), hingga
perguruan tinggi. Melalui pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam
institusi pendidikan, diharapkan krisis degradasi karakter atau moralitas anak bangsa
ini bisa segera teratasi. Lebih dari itu, diharapkan di masa yang akan datang terlahir
generasi bangsa dengan ketinggian budi pekerti atau karakter (Agus Wibowo, 2013:
1).
Pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan
mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti
dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai dengan
standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui implementasi
Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter, dengan
pendekatan tematik dan kontekstual diharapkan peserta didik mampu secara madiri
meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi
serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud
dalam perilaku sehari-hari (Mulyasa, 2014: 7).
Pendidikan karakter dapat diterapkan dalam semua bidang pelajaran baik di
tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan
Perguruan Tinggi tak terkecuali dalam pelajaran kimia. Melalui mata pelajaran kimia
dengan model pembelajaran Project Based Learning diperoleh nilai karakter agar
tidak salah persepsi dalam Ilmu Kimia untuk mengubah perilaku manusia secara
umum yang sekarang ini terjadi dekadensi karakter.
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) adalah model
pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai inti pembelajaran. Peserta
didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis dan informasi untuk
menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Pembelajaran Berbasis Proyek
merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam
1
mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan
pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. PjBL merupakan investigasi
mendalam tentang sebuah topik dunia nyata. Langkah-langkah pelaksanaan
pembelajaran berbasis proyek adalah penentuan pertanyaan mendasar, menyusun
perencanaan proyek, menyususn jadwal, monitoring, menguji hasil, dan evaluasi
pengalaman (Permendikbud, 2014 : 975-976)
Model pembelajaran Project Based Learning mendorong peserta didik untuk
menjadi lebih aktif, mandiri, dan kreatif dalam memecahkan sebuah permasalahan.
Oleh sebab itu melalui model pembelajaran berbasis proyek dapat membangun nilai
karakter peserta didik terutama pada kreatif dan rasa ingin tahu. Model pembelajaran
Project Based Learning dapat digunakan oleh guru untuk mengatasi permasalahan
dalam pembelajaran yaitu metode pembelajaran yang masih monoton dengan
metode ceramah. Melalui model pembelajaran berbasis proyek mengakibatkan
peserta didik menjadi lebih aktif, kreatif, dan memiliki rasa tahu yang tinggi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Model Pembelajaran Project Based Learning
2. Apa saja karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning
3. Apa saja tujuan dan manfaat Model Pembelajaran Project Based Learning
4. Apa saja teori yang melandasi Model Pembelajaran Project Based Learning
5. Bagaimana pelaksanaan Model Pembelajaran Project Based Learning
6. Bagaimana lingkungan dan pengelolaan Model Pembelajaran Project Based
Learning
7. Bagaimana evaluasi atau penilaian Model Pembelajaran Project Based Learning
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari makalah ini sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian Model Pembelajaran Project Based Learning
2. Mengetahui karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning
3. Mengetahui tujuan dan manfaat Model Pembelajaran Project Based Learning
4. Mengetahui teori yang melandasi Model Pembelajaran Project Based Learning
5. Mengetahui cara pelaksanaan Model Pembelajaran Project Based Learning
6. Mengetahui lingkungan dan pengelolaan Model Pembelajaran Project Based
Learning
7. Mengetahui pelaksanaan evaluasi atau penilaian Model Pembelajaran Project
Based Learning
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Model Pembelajaran Project Based Learning
1. Pengertian Model Pembelajaran Project Based Learning
Project based learning adalah model pembelajaran yang mengorganisasi
kelas dalam sebuah proyek (Thomas, 2000, hlm. 1). Menurut NYC Departement
of Education (2009), PjBL merupakan strategi pembelajaran dimana peserta
didik harus membangun pengetahuan konten mereka sendiri dan
mendemonstrasikan pemahaman baru melalui berbagai bentuk representasi (hlm.
8). Sedangkan George Luca Educational Foundation (2005) mendefinisikan
pendekatan pembelajaran yang dinamis di mana peserta didik secara aktif
mengeksplorasi masalah di dunia nyata, memberikan tantangan, dan memperoleh
pengetahuan yang lebih mendalam (hlm. 1).
Berdasarkan beberapa definisi para ahli, dapat ditarik kesimpulan bahwa
PjBL adalah model pembelajaran yang terpusat pada peserta didik untuk
membangun dan mengaplikasikan konsep dari proyek yang dihasilkan dengan
mengeksplorasi dan memecahkan masalah di dunia nyata secara mandiri.
Kemandirian peserta didik dalam belajar untuk menyelesaikan tugas yang
dihadapinya merupakan tujuan dari PjBL. Namun kemandirian dalam belajar
perlu dilatih oleh guru kepada peserta didik agar terbiasa dalam belajar bila
menggunakan PjBL. Peserta didik SD maupun SMP masih perlu dibimbing
dalam menyelesaikan tugas proyek bahkan peserta didik SMA. Bimbingan guru
diperlukan untuk mengarahkan peserta didik agar proses pembelajaran dapat
berjalan sesuai dengan alur pembelajaran. Pembelajaran berbasis proyek
merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal
dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan
pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.
Melalui PjBL, Proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan
penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah
proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam
kurikulum. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia
nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik
(Kemdikbud,2014, hlm. 33).
2. Karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning
Kegiatan belajar aktif dan melibatkan proyek tidak semuanya disebut sebagai
PjBL. Beberapa kriteria harus dimiliki untuk dapat menentukan sebuah
pembelajaran sebagai bentuk PjBL. Lima kriteria suatu pembelajaran merupakan
3
PjBL adalah sentralitas, mengarahkan pertanyaan, penyelidikan kontruktivisme,
otonomi, dan realistis (Thomas, 2000; Kemdikbud, 2014) :
The project are central, not peripheral to the curriculum. Kriteria ini
memiliki dua corollaries. Pertama, proyek merupakan kurikulum. Pada PjBL,
proyek merupakan inti strategi mengajar, peserta didik berkutat dan belajar
konsep inti materi melalui proyek. Kedua, keterpusatan yang berarti jika peserta
didik belajar sesuatu diluar kurikulum, maka tidaklah dikategorikan sebagai
PjBL.
Proyek PjBL difokuskan pada pertanyaan atau problem yang mendorong
peserta didik mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok
dari mata pelajaran. Definisi proyek bagi peserta didik harus dibuat sedemikian
rupa agar terjalin hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang
melatarinya. Proyek biasanya dilakukan dengan pengajuan pertanyaan-
pertanyaan yang belum bisa dipastikan jawabannya (ill-defined problem). Proyek
dalam PjBL dapat dirancang secara tematik, atau gabungan topik-topikdari dua
atau lebih mata pelajaran.
Proyek melibatkan peserta didik pada penyelidikan konstruktivisme. Sebuah
penyelidikan dapat berupa perancangan proses, pengambilan keputusan,
penemuan masalah, pemecahan masalah, penemuan, atau proses pengembangan
model. Aktivitas inti dari proyek harus melibatkan transformasi dan konstruksi
dari pengetahuan (pengetahuan atau keterampilan baru) pada pihak peserta
didik . Jika aktivitas inti dari proyek tidak merepresentasikan “tingkat kesulitan”
bagi peserta didik , atau dapat dilakukan dengan penerapan informasi atau
keterampilan yang siap dipelajari, proyek yang dimaksud adalah tak lebih
darisebuah latihan, dan bukan proyek PjBL yang dimaksud.
Project are sudent-driven to some significant degree. Inti proyek bukanlah
berpusat pada guru, berupa teks aturan atau sudah dalam bentuk paket tugas.
Misalkan tugas laboratorium dan booklet pembelajaran bukanlah contoh PjBL.
PjBL lebih mengutamakan kemandirian, pilihan, waktu kerja yang tidak bersifat
kaku, dan tanggung jawab peserta didik daripada proyek tradisional dan
pembelajaran tradisional.
Proyek adalah realistis, tidak school-like. Karakterisitik proyek memberikan
keotentikan pada peserta didik . Karakteristik ini boleh jadi meliputi topik, tugas,
peranan yang dimainkan peserta didik , konteks di mana kerja proyek dilakukan,
produk yang dihasilkan, atau kriteria di mana produk-produk atau unjuk kerja
dinilai. PjBL melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata, berfokus pada
pertanyaan atau masalah autentik (bukan simulatif), dan pemecahannya
berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya.
4
3. Tujuan Model Pembelajaran Project Based Learning
Dengan diterapkannya suatu model pembelajaran tentu mengandung tujuan yang
hendak dicapai. Adapun tujuan project based learning adalah sebagai berikut.
Melatih sikap proaktif peserta didik dalam memecahkan suatu masalah.
Mengasah kemampuan peserta didik dalam menguraikan suatu
permasalahan di kelas.
Meningkatkan keaktifan peserta didik di kelas dalam menyelesaikan
permasalahan yang kompleks sampai diperoleh hasil nyata.
Mengasah keterampilan peserta didik dalam memanfaatkan alat dan bahan
di kelas guna menunjang aktivitas belajarnya.
Melatih sifat kolaboratif peserta didik.
B. Teori yang Melandasi Model Pembelajaran Project Based Learning
1. Dewey dan Kelas Demokratis
Metode proyek berasal dari gagasan Dewey (1856- 1952) tentang konsep
“Learning by doing”, yaitu proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan
tindakantindakan tertentu sesuai dengan tujuannya (Grant, 2002). Selanjutnya,
kelas demokratis mengandung maksud bahwa peserta didik dalam belajar dibagi
dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik
dan yang menjadi pilihan peserta didik sendiri.
Pandangan Dewey tentang pendidikan yaitu sekolah seharusnya
mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium
untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Selanjutnya, Dewey menyarankan
agar guru mendorong peserta didik terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi
masalah dan membantu peserta didik menyelidiki masalah-masalah intelektual
dan sosial.
Selain di atas, Dewey juga menguatkan tentang pentingnya teori
konstruktivisme. Dewey mengatakan bahwa pendidik yang cakap harus
melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau
membina pengalaman secara berkelanjutan dengan melibatkan peserta didik di
dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran. Dengan demikian
pembelajaran akan mengalami pergeseran yang awalnya berpusat pada guru
menjadi berpusat pada peserta didik.
2. Teori Belajar Kontruktivisme
Menurut M. Thobroni (2015:91) teori kontruktivisme adalah “Sebuah teori
yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari
kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau
kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitas orang lain”.
Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam
psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan
5
pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik harus membangun sendiri
pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk
proses ini, dengan memberi kesempatan peserta didik utuk menemukan dan
menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar peserta didik menjadi sadar
dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat
memberi peserta didik anak tangga yang membawa peserta didik ke pemahaman
yang lebih tinggi, dengan catatan peserta didik sendiri yang harus memanjat
anak tangga tersebut.
Teori belajar kontruktivisme mendukung model pembelajaran Project
Based Learning (PjBL) karena dalam proses pembelajaran dengan
menggunakan model ini peserta didik berperan aktif dalam membangun atau
mengkontruksi pengetahuannya sendiri dengan mencari berbagai ide untuk
menghasilkan suatu produk dan guru berperan sebagai fasilitator dan
membimbing peserta didik dalam menyelesaikan proyek yang dilakukan.
3. Teori Jean Piaget
M. Thobroni (2015:94) terdapat tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya
dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan intelektual
pengembangan kontruktivisme kognitif atau bisa juga disebut tahap
perkembangan mental, yaitu sebagai berikut:
a. Perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang
selalu terjadi dengan urutan yang sama. Setiap manusia akan mengalami
urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama.
b. Tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi
mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis,
dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku
intelektual.
c. Gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan
(equilibration), proses pengembangan yang menguraikan interaksi antara
pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Menurut Ruseffendi dalam M. Thobroni (2015: 95) “Asimilasi adalah
penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah
menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru sehingga
informasi tersebut mempunyai tempat”.
Dari pendapat tersebut teori Jean Piaget melandasi penggunaan model
pembelajaran Project Based Learning karena dalam pembelajaran peserta didik
dapat menerima informasi baru, atau informasi lama dimodifikasi dengan
informasi baru sehingga menghasil kan skema yang baru hasil dari berpikir
kreatif peserta didik dalam membangun pemahaman yang bermakna melalui
pengalamannya sendiri pada saat proses pembelajaran baik itu berinteraksi
dengan guru, teman sebaya ataupun dengan lingkungan sekitarnya, dengan
begitu penggunaan model pembelajaran berbasis proyek sesuai dengan teori ini
karena dalam praktiknya model project based learning menghasilkan sesuatu
6
yang baru/orsinil sebagai hasil dari proyek yang dikerjakan peserta didik
bersama kelompoknya.
4. Teori Vigotsky
Menurut M. Thobroni (2015: 95) Konstruktivisme yang dikembangkan oleh
Vigotsky adalah “Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh
dalam konteks social budaya seseorang”.
Teori Vygotsky dalam Isjoni (2012: 32) “Memandang pengajaran dan
pembelajaran berpusat pada peserta didik . Guru berperan fasilitator yang
membantu peserta didik membina pengetahuan dan menyelesaikan masalah”.
Vigotsky dalam Nurdinah Hanifah & Julia (2014: 251), bahwa pembelajaran
adalah proses peserta didik membangun pengetahuannya secara aktif. Berkaitan
dengan hal tersebut, kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berdasarkan
pada pembelajaran yang melibatkan semua aspek pengetahuan peserta didik,
sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara aktif.
Vygotsky dalam Trianto (2007: 30) Teori Vygotsky dalam pembelajaran
kooperatif memiliki dua implikasi, yaitu:
a. Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok belajar
yang heterogen, hal ini dapat membantu peserta didik untuk berinteraksi
dengan peserta didik lain yang lebih menguasai dalam memecahkan dan
menangani tugas-tugas pada saat peserta didik bekerja menyelesaikan
tugas dalam kelompoknya.
b. Pemberian konsep, tugas atau soal yang sulit tetapi diberikan bantuan
secukupnya untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut, dapat membantu
peserta didik lebih bertanggung jawab terhadap pembelajaran atau
pengetahuannya sendiri.
Berdasarkan pendapat tersebut, teori Vigotsky mendukung penerapan model
pembelajaran karena pada pelaksanaannya kurikulum 2013 pembelajaran
menggunakan pendekatan scientific approach, yang salah satunya menggunakan
model pembelajaran project based learning yang lebih menekankan
pembelajaran di lapangan dan melibatkan peran aktif peserta didik. Penemuan
hal baru atau discovery menurut teori Vigotsky sesuai dengan model
pembelajaran project based learning yang dalam pembelajarannya peserta didik
dikelompokan untuk memecahkan suatu masalah dalam mengerjakan suatu
proyek dengan menemukan berbagai ide dari masing-masing peserta didik
sehingga menghasilkan hal yang baru berupa suatu produk.
5. Ausubel dan Belajar Bermakna
Teori Ausubel tentang belajar terletak pada belajar bermakna, yang
maksudnya adalah suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-
konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Salah satu
faktor penting yang mempengaruhi belajar adalah guru harus mengetahui apa
yang telah diketahui peserta didik. Selanjutnya inti dari teori belajar Ausubel itu
7
dinyatakan dengan pernyataan “Yakinilah ini dan ajarlah ia demikian”. Dengan
demikian agar terjadi belajar bermakna, maka konsep baru atau informasi baru
harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif
peserta didik.
Berdasarkan teori Ausubel tersebut, dapat dikatakan bahwa dalam
membantu peserta didik menanamkan pengetahuan baru dari suatu materi maka
sangat diperlukan konsep-konsep awal yang sudah dimiliki peserta didik yang
berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari. Jadi, jika teori ini dikaitkan
dengan model pembelajaran berbasis proyek, maka peserta didik dengan
menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki akan mampu mengerjakan
proyek.
C. Pelaksanaan Model Pembelajaran Project Based Learning
Model pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang
melibatkan keaktifan peserta didik dalam memecahkan masalah. Nizwardi (2017:
252) mengemukakan implementasi model pembelajaran berbasis proyek yaitu
mengkondisikan proses pembelajaran dengan mengikuti sintaksnya, sehingga
tercipta interaksi antara guru, peserta didik, dan media pembelajaran. Selanjutnya
menurut Stivers (2010), waktu penyelesaian proyek bervariasi, dari beberapa hari
hingga beberapa minggu atau bahkan satu semester. Sintaks model pembelajaran
berbasis proyek menurut The George Lucas Educational Foundation 2005
(Nurohman) sebagai berikut.
a. Memulai dengan Pertanyaan Mendasar (Start with the essential question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan yang mendasar, yaitu pertanyaan
yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu
kegiatan. Topik yang diambil harus sesuai dengan realitas dunia nyata dan
dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Guru berusaha agar topik yang
dipilih relevan dengan peserta didik.
b. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a plan for the project).
Perencanaan proyek dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peserta
didik, sehingga peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” proyek
tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan pelaksanaan, pemilihan kegiatan
yang dapat mendukung untuk menjawab pertanyaan mendasar dengan cara
mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin serta mengetahui alat dan
bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
c. Menyusun Jadwal (Create a schedule).
Guru dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal kegiatan untuk
menyelesaikan proyek. Kegiatan pada langkah ini meliputi
1) Membuat timeline untuk menyelesaikan proyek,
2) Membuat deadline penyelesaian proyek,
3) Membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru,
8
4) Membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak
berhubungan dengan proyek,
5) Meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang
pemilihan suatu cara.
d. Memonitor Keaktifan Peserta didik dan Kemajuan Proyek (Monitor the
student and the progress of the project).
Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap kegiatan peserta
didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara
memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain, guru
berperan menjadi mentor bagi kegiatan peserta didik. Untuk mempermudah
proses monitoring, guru dapat membuat rubrik yang dapat merekam
keseluruhan kegiatan yang penting.
e. Menguji hasil (Assess the outcome).
Penilaian ini dilakukan mempunyai tujuan (1) untuk membantu guru dalam
mengukur ketercapaian standar kompetensi, (2) berperan dalam
mengevaluasi kemajuan setiap peserta didik, (3) memberi umpan balik
tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, dan (4)
membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
f. Mengevaluasi Pengalaman Belajar (Evaluate the experience).
Langkah terakhir dari pembelajaran berbasis proyek ini, guru dan peserta
didik melakukan refleksi terhadap semua kegiatan dan hasil proyek yang
sudah dilakukan. Proses refleksi ini dilakukan baik secara individu maupun
kelompok. Pada langkah ini, peserta didik diminta untuk mengungkapkan
perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Guru dan
peserta didik mengadakan diskusi dalam rangka untuk memperbaiki kinerja
selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu
temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan
pada langkah awal pembelajaran.
Tabel Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Proyek
9
D. No Sintaks Aktivitas Guru
1 Memulai dengan Guru menyampaikan topik dan mengajukan
Pertanyaan pertanyaan bagaimana cara memecahkan
Mendasar masalah.
2 Mendesain Guru memastikan setiap peserta didik
Perencanaan dalam kelompok memilih dan mengetahui
Proyek prosedur pembuatan proyek yang akan
dihasilkan.
3 Menyusun Jadwal Guru dan peserta didik membuat
kesepakatan tentang jadwal pembuatan
proyek (tahapantahapan dan pengumpulan).
4 Memonitor Guru memantau keaktifan peserta didik
Keaktifan Peserta selama melaksanakan proyek, memantau
didik dan realisasi perkembangan dan membimbing
Kemajuan Proyek jika mengalami kesulitan.
5 Menguji Hasil Guru berdiskusi tentang prototipe proyek,
memantau keterlibatan peserta didik,
mengukur ketercapaian standar.
6 Mengevaluasi Guru membimbing proses pemaparan
Pengalaman proyek, menanggapi hasil, selanjutnya guru
Belajar dan peserta didik merefleksi/ kesimpulan.
Lingkungan Belajar dan Pengelolaan Model Pembelajaran Project Based Learning
Pengelolaan kelas dalam model pembelajaran berbasis proyek tidak
dijelaskan secara rinci dalam beberapa literatur. Hal tersebut dikarenakan kegiatan
yang dilakukan dalam pembelajaran berbasis proyek lebih banyak di luar kelas.
Namun berikut ini, Fleming (2000: 47) menjelaskan rincian langkah demi langkah
yang dirancang dapat membantu guru untuk mempersiapkan pengalaman
pembelajaran berbasis proyek yang dikatakan sukses.
Langkah 1 : Pilih fokus untuk proyek yang akan diberikan.
Langkah 2 : Identifikasi bidang pengetahuan dan keterampilan yang penting untuk
dipelajari melalui kegiatan proyek.
Langkah 3 : Mengenalkan proyek dan melibatkan peserta didik dalam
membangunnya. Langkah 4 : Memilih keseimbangan kegiatan yang dipimpin guru
dan berpusat pada peserta didik.
Langkah 5 : Tetapkan batas waktu dan pencapaian proyek.
Langkah 6 : Pantau kemajuan peserta didik menggunakan alat perencanaan,
pelaporan, dan umpan balik.
Langkah 7 : Evaluasi dampak proyek dan hasil pembelajaran.
Langkah 8 : Refleksikan data yang sudah terkumpul dan merencanakan langkah
berikutnya.
10
Pada dasarnya, format pembelajaran ditata dalam 3 tahap utama (Gloria,
2002: 7), yaitu Persiapan (Prepare), Latihan (Practice), dan Penampilan
(Performance). Ketiga tahap tersebut memberikan pembelajar cara untuk mendekati,
mengatur, dan mengimplementasikan proyek dengan sukses. Pada tahap pertama,
yaitu persiapan, meliputi perkenalan proyek, penjelasan mengenai rubrik penilaian,
dan membagi kelompok serta membuat garis besar dari langkah utama proyek yang
akan dibuat. Tahap kedua, yaitu latihan, meliputi peninjauan langkah demi langkah
pembuatan proyek secara detail dan lebih dalam, kemudian mencari referensi
penelitian hingga melakukan kegiatan tambahan untuk mengembangkan pemahaman
dan penyelesaian proyek. Tahap terakhir, yaitu penampilan, meliputi pengumpulan
data-data proyek seperti dokumentasi dan wawancara (bergantung jenis proyek yang
dibuat), kemudian peninjauan tugas akhir seperti laporan, dan yang terakhir
mempresentasikan proyek yang telah dibuat. Selanjutnya pada tabel berikut ini
dijelaskan peran guru dan peserta didik dalam pembelajaran berbasis proyek.
Tabel Peran Guru dan Peserta didik
Peran Guru Peran Peserta
Merencanakan dan mendesain Menggunakan kemampuan
pembelajaran. bertanya dan berpikir.
Membuat strategi pembelajaran. Melakukan riset sederhana
Membayangkan interaksi yang Mempelajari ide dan konsep baru.
akan terjadi antara guru dan Belajar mengatur waktu dengan
peserta didik. baik.
Mencari keunikan peserta didik. Melakukan kegiatan belajar
Menilai peserta didik dengan sendiri/kelompok.
cara transparan dan berbagai Mengaplikasikan hasil belajar
macam penilaian. lewat tindakan.
Membuat portofolio pekerjaan Melakukan interaksi sosial
peserta didik. (wawancara, survey, observasi,
dan lain-lain).
(Kemendikbud, 2014)
Menurut Fleming (2000), penyelesaian proyek dapat berlangsung selama dua
hingga delapan minggu. Selain itu ide proyek dapat dikembangkan oleh guru atau
peserta didik, baik secara individu maupun dalam kelompok. Mereka juga dapat
melibatkan anggota masyarakat sebagai narasumber atau mentor. Pilihan peserta
didik merupakan aspek penting dari tugas proyek. Biasanya, guru memberikan daftar
topik yang memungkinkan untuk dipilih peserta didik atau sebaliknya, meminta
peserta didik mengirimkan topik untuk disetujui. Selanjutnya guru menyediakan
rambu-rambu apa saja yang harus disiapkan peserta didik berkaitan dengan tugas
proyek tersebut. Rambu-rambu tersebut antara lain adalah mengharuskan peserta
didik untuk menyiapkan garis besar proyeknya, ringkasan desain, proposal, atau
analisis sebelum melanjutkan proyek; dan menetapkan timeline.
11
E. Evaluasi Model Pembelajaran Project Based Learning
Asesmen pembelajaran berbasis proyek merupakan penilaian terhadap tugas
yang harus dikerjakan dalam kurun waktu tertentu. Penilaian proyek dilakukan
sematamata untuk mengetahui kemampuan pemahaman peserta didik,
pengaplikasian, dan lain sebagainya. Menurut Kemendikbud (2014: 35), penilaian
proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dikembangkan. Ketiga hal tersebut
dijelaskan sebagai berikut.
a. Kemampuan pengelolaan, meliputi kemampuan peserta didik dalam memilih
topik, mencari suatu informasi dari berbagai sumber, hingga mengelola
waktu dan data untuk penulisan laporan.
b. Relevansi, yaitu penilaian mengenai kesesuaian produk akhir dengan materi
yang dibahas saat pembelajaran.
c. Orisinalitas, yaitu penilaian terkait produk yang dihasilkan harus merupakan
karya asli dari peserta didik.
Teknik penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses
pengerjaan, dan sampai hasil akhir proyek. Oleh karena itu, guru perlu menetapkan
hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, misalnya penyusunan desain, pengumpulan
data, analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil
penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pada saat penilaian dapat
menggunakan alat/instrumen berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Contoh
format penilaian proyek di antaranya seperti berikut ini.
Contoh Format Penilaian Proyek
Selanjutnya penilaian produk dalam pembelajaran berbasis proyek dilakukan
dalam beberapa tahapan, seperti berikut (Kemendikbud, 2014: 95).
1. Tahap Persiapan, mencakup penilaian kemampuan peserta didik dalam
merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan dan mendesain
produk.
2. Tahap Proses pembuatan produk, mencakup penilaian kemampuan peserta
didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
3. Tahap Penilaian produk, mencakup penilaian produk yang dihasilkan peserta
didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
Untuk penilaian produk dalam pembelajaran berbasis proyek dapat dilakukan
melalui 2 teknik. Pertama, cara holistik, yaitu penilaian berdasarkan kesan
12
keseluruhan dari produk. Kedua, cara analitik, yaitu penilaian berdasarkan aspek-
aspek produk.
Setelah proyek selesai guru dapat melakukan penilaian menggunakan rubrik
penilaian proyek. Peserta didik melakukan presentasi hasil proyek, mengevaluasi
hasil proyek, memperbaiki sehingga ditemukan suatu temuan baru untuk menjawab
permasalahan yang diajukan pada tahap awal.
F. Kelebihan dan Kekurangan Project Based Learning
● Kelebihan Metode Pembelajaran Project Based Learning
Beberapa kelebihan metode pembelajaran project based learning adalah
sebagai berikut.
1. Memotivasi peserta didik dengan melibatkannya di dalam
pembelajarannya, membiarkan sesuai minatnya, menjawab pertanyaan dan
untuk membuat keputusan dalam proses belajar. 2. Menyediakan
kesempatan pembelajaran berbagai disiplin ilmu.
1. Membantu keterkaitan hidup di luar sekolah, memperhatikan dunia nyata,
dan mengembangkan keterampilan nyata.
2. Menyediakan peluang unik karena pendidik membangun hubungan dengan
peserta didik, sebagai pelatih, fasilitator, dan co-learner.
3. Menyediakan kesempatan untuk membangun hubungan dengan komunitas
yang besar.
4. Membuat peserta didik lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-
problem yang kompleks.
5. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktekkan
keterampilan komunikasi.
6. Memberikan pengalaman pada peserta didik pembelajaran dan praktik
dalam mengorganisasikan proyek, dan membuat alokasi waktu dan
sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
7. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara
kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
8. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik
maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
● Kekurangan Metode Pembelajaran Project Based Learning
13
Project based learning memang memiliki banyak kelebihan, namun di sisi
lain pembelajaran yang berbasis proyek seperti ini juga memiliki kelemahan.
Kelemahan dalam project based learning antara lain:
1. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
2. Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
3. Banyak pendidik yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, dimana
pendidik memegang peran utama di dalam kelas.
4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
5. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan
pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
6. Ada kemungkinan peserta didik ada yang kurang aktif dalam kerja
kelompok, ketika topik yang diberikan pada masingmasing kelompok
berbeda, dan dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik
secara keseluruhan.
14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Project based Learning atau biasa disebut pembelajaran berbasis proyek
yaitu pendekatan pembelajaran yang menghasilkan suatu karya berbasis proyek,
untuk mendukung kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual baik
individual maupun kelompok. Karakteristik pembelajaran berbasis proyek salah
satunya memiliki hasil akhir berupa produk. Prinsipnya supaya peserta didik dapat
mandiri dalam melaksanakan proses pembelajaran, yaitu bebas menentukan
pilihannya sendiri, bekerja dengan minimal supervisi dan bertanggung jawab.
Pedoman dalam pembelajaran ini dapat membuat peserta didik memahami
kebermaknaan dari tugas yang dikerjakan, mengerjakan tugas sesuai dengan
kemampuannya sehingga peserta didik mampu menyelesaikan tugas tepat waktu,
mengarahkan peserta didik untuk melakukan penelitian dan mampu berkomunikasi
dengan orang lain. Keuntungan dari pembelajaran berbasis proyek peserta didik
mampu mempraktikkan keterampilan dalam mengorganisasi proyek dan membuat
alokasi waktu.
B. Saran
Sebagai calon guru kita harus memahami pembelajaran berbasis proyek
karena pembelajar ini sesuai dengan kurikulum 2013 yang mengharuskan peserta
didik belajar secara mandiri.
15
16
DAFTAR PUSTAKA
Wijayanti, Pradnyo, et al. Model Pembelajaran Matematika Berpusat Pada Peserta
didik. UNESA UNIVERSITY PRESS, 2021.
[Link]. (2019, 20 Agustus). BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dikses pada
tanggal 17 April 2022, dari [Link]
%[Link]. diakses pada tanggal 17 April 2022 pukul 20.00
Afriana, J. 2015. Project based learning (PjBL). Makalah untuk Tugas Mata Kuliah
Pembelajaran IPA Terpadu. Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana.
Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
[Link]
diakses pada tanggal 17 April 2022 pukul 19.29
Aksela, M. dan Haatainen, O. 2019. Project-Based Learning (PBL) In Practise:
Active Teachers’ Views of Its’ Advantages and Challenges.
[Link]
333868087_PROJECTBASED_LEARNING_PBL_IN_PR
ACTISE_ACTIVE_TEACHERS'_VIEWS_OF_ITS'_ADVANTAGES_AND_CHA
LLENGES diakses pada tanggal 17 April 2022 pukul 19.36
Nizwardi. 2017. The Seven Steps of Project Based Learning Model to Enhance
Productive Competences of Vocational Students.
[Link]
Based_Le
arning_Model_to_Enhance_Productive_Competences_of_Vocational_Students.
diakses pada tanggal 17 April 2022 pukul 19.41
Nurohman, Sabar. Pendekatan Project Based Learning Sebagai upaya Internalisasi
Scientific Method Bagi Mahasiswa Calon Guru Fisika.
[Link]
diakses pada tanggal 17 April 2022 pukul 19.48
Baran, M. & Maskan, A. (2010). The Effect of Project-Based Learning On Pre-
Service Physics Teachers’ Electrostatic [Link] Journal of
Educational Sciences vol 5 : 243-257. diakses pada tanggal 17 April 2022 pukul
19.45
George Lucas Educational Foundation. (2005). Instructional module projectbased
learning. [Online]. Diakses dari [Link]
learning. diakses pada tanggal 17 April 2022 pukul 13.20
17
George Lucas Educational Foundation. (2014). Project Based Learning [Link]-
Based Learning vs. X-BL[Online]. [Link] Learning
vs. Problem-BasedLearning vs. X-BL_edutopia.html. diakses pada tanggal 17 April
2022 pukul 13.03
18