Pengertian dan Dasar Hukum Utang-Piutang
Pengertian dan Dasar Hukum Utang-Piutang
A. UTANG-PIUTANG (AL-QARDH)
(kontan). Transaksi seperti ini dalam fikih dinamakan mudayanah atau tadayun.
dikemudian hari.33 Utang-piutang adalah pemberian harta kepada orang lain yang
dapat ditagih atau diminta kembali. Berdasarkan pengertian ini maka qardh
30
Ahmad Warson Munawir, Kamus al-Munawir Arab-Indonesia,Yogyakarta: PP. al-
Munawwir, 1997, hlm. 1108.
31
Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, Bandung: Pustaka Setia, 2001, Hlm. 151.
32
Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah Fiqih Muamalah, Jakarta: Prenadamedia Group,
2012. Hlm. 331.
33
Abdullah Bin Muhammad Ath-Thayar, et al, Ensiklopedi Fiqih Muamalah Dalam
Pandangan Fikih 4 Madzab, Terj. Miftahul Khairi, Yogyakarta: Maktabah Al-Hanif,
2009, Hlm. 153.
21
22
arti tabarru’ ( )تبرعatau memberikan harta kepada orang dengan dasar akan
dengan perjanjian dia akan membayar yang sama dengan itu.36 Pengertian
sesuatu dari definisi ini mempunyai makna yang luas, selain dapat berbentuk
uang, juga bisa saja dalam bentuk barang, asalkan barang tersebut habis karena
pemakaian.
1754 yang berbunyi: Pinjam-meminjam adalah suatu perjanjian yang mana pihak
yang satu memberikan kepada pihak lain suatu jumlah barang atau uang yang
habis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang lain ini akan
mengembalikan sejumlah yang sama dari barang atau uang yang dipinjamnya.37
34
Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Pengantar Fiqih Muamalah, Semarang:
Pustaka Rizki Putra, 1999, hlm. 103.
35
Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik Dan Kontemporer, Bogor: Ghalia Indonesia,
2012, Hlm. 178.
36
Chairuman Pasaribu, Suhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, Jakarta:
Sinar Grafika, 1996, Hlm. 136.
37
Ibid, hlm. 136.
23
a. Pendapat Syafi‟iyah yang dikutip oleh Ahmad Wardi Muslich sebagai berikut:
.ق شَرْ عا ِب َم ْعنَى ال َّش ْي ِءالْ ُم ْق َرض ْ اَ ْلقَرْ ضُ ي: اَل َّشا ِف ِعيَّتُ قَالُ ْوا
ُ َُطل
adalah akad yang dilakukan oleh dua orang dimana salah satu dari dua orang
38
Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalah, Jakarta: Amzah, Cet I, 2010, hlm. 274.
39
Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jilid V, Jakarta: Gema Insani, Cet. 1,
2011, hlm. 374.
40
M. Yazid Afandi, Fiqih Muamalah, Yogyakarta: Logung Pustaka, Cet 1, 2009, hlm.
137.
41
Gufron A. Mas‟adi, Fiqh Muamalah Kontekstual, Ed 1, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2002 hlm. 171.
24
senilai dengan apa yang diambilnya dahulu, atau suatu akad antara dua pihak
dimana pihak pertama memberikan uang atau barang kepad pihak kedua, untuk
bercorak ta’awun (pertolongan) dan kasih sayang kepada pihak lain yang
pinjaman lebih baik daripada sedekah, karena sesorang tidak akan meminjam
membantu dalam lapangan kebajikan. Firman Allah SWT dalam surat Al-
Maidah: 2
. . . . . .
42
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Op. Cit., hlm. 156.
25
pada dasarnya pemberian utang atau pinjaman pada seseorang harus didasari niat
yang tulus sebagai usaha untuk menolong sesama dalam kebaikan. Ayat ini
berarti juga bahwa pemberian utang atau pinjaman pada seseorang harus
rambu agar berjalan sesuai prinsip syari’ah yaitu menghindari penipuan dan
perbuatan yang dilarang Allah lainnya. Pengaturan tersebut yaitu anjuran agar
setiap transaksi utang piutang dilakukan secara tertulis.43 Ketentuan ini terdapat
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secara
tunai untuk waktu yang ditentukan hendaklah kamu menuliskannya.
Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan
benar...” (Al-Baqarah: 282)44
43
[Link]
hlm. 2, diakses pada tgl 20 Oktober 2016
44
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Op. Cit, hlm. 70.
26
diperoleh pemberi utang atau pemberi pinjaman? Tentang hal ini Allah
Artinya: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik,
Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya,
dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak.”45
disaat dia memerlukannya, lebih besar pahalanya dari pada memberi sedekah.
Karena utang hanya dibutuhkan oleh orang yang dalam kesempitan. 47 Rasulullah
45
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, hlm. 902.
46
Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah , Juz Tsani, Beriut/Lebanon: Darul Fikr, 1990, hlm.
15.
47
Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum 7, Semarang:
PT. Pustaka Rizki Putra, Cet. 3, 2001, hlm. 123.
27
Artinya: “Dari Anas ibn Malik r.a. Berkata, Rasulullah SAW. Bersabda: Pada
malam aku diisra‟kan aku melihat pada sebuah pintu surga tertulis
shadaqah dibalas sepuluh kali lipat dan utang dibalas delapan belas
kalilipat.” Lalu aku bertanya: “Wahai Jibril mengapa mengutangi lebih
utama dari pada shadaqah?” Ia menjawab: “Karena meskipun seorang
pengemis meminta-minta namun masih mempunyai harta, sedangkan
seorang yang berutang pastilah karena ia membutuhkannya.”(H.R.
Ibnu Majah)
Maksud Hadits di atas adalah bahwa dalam hal ini, Nabi SAW. Ingin
memberikan sugesti agar orang tidak berat dalam memberikan pinjaman. Karena
terkadang orang itu merasa keberatan bila harus memberikan pinjaman apalagi
jaminan pahala yang lebih, memberikan pinjaman akan terasa lebih ringan ketika
Selain dasar hukumnya berasal dari al-Qur‟an dan Hadits Rasulullah, para
Kesepakatan Ulama‟ ini didasari pada tabiat manusia yang tidak bisa hidup tanpa
pertolongan dan bantuan saudaranya. Tidak ada seorang pun yang memiliki
48
Ibnu Majah, Op. Cit, hlm. 16.
49
M. Thalib, Pedoman Wiraswasta dan Manajemen Islamy, Solo: CV. Pustaka Mantiq,
Cet 1, 1992, hlm. 125.
28
menjadi satu bagian dari kehidupan di dunia ini. Islam adalah agama yang sangat
harta untuk dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan hidupnya, serta apa yang
macam:
50
Muhammad Syafi‟I Antonio, Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktek, Jakarta: Gema
Insani, 2001, hlm. 132-133.
51
Ghufron A. Mas„adi, Op. Cit, hlm. 173.
52
M. Yazid Afandi, Op. Cit, hlm. 143.
29
syarat daripada utang-piutang itu sendiri. Rukun adalah unsur esensial dari
sesuatu, sedang syarat adalah prasyarat dari sesuatu. Adapun yang menjadi syarat
utang-piutang adalah:
sebab tidak dapat dikatakan sebagai akad jika tidak ada aqid. Begitu pula
yang berutang dan orang yang berpiutang. Untuk itu diperlukan orang yang
Zuhaili mengungkapkan bahwa 4 orang yang tidak sah akadnya adalah anak
kecil (baik yang sudah mumayyiz maupun yang belum mumayyiz), orang gila,
hamba sahaya, walaupun mukallaf dan orang buta. Sementara dalam Fiqh
53
Rahmat Syafei, Op. Cit, hlm. 53.
54
Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Imam Syafi‟i 2, Jakarta: Almahira, Cet I, 2010, hlm. 20.
30
Sunnah disebutkan bahwa akad orang gila, orang mabuk, anak kecil yang
belum mampu membedakan mana yang baik dan yang jelek (memilih) tidak
adanya prinsip saling rela. Oleh karena itu tidak sah utang-piutang yang
b. Obyek Utang
barang yang akan diutangkan. Untuk itu obyek utang-piutang harus memenuhi
2) Dapat dimiliki.
3) Dapat diserahkan kepada pihak yang berutang.
4) Telah ada pada waktu perjanjian dilakukan.57
dapat dijadikan barang pesanan (muslam fih), yaitu berupa barang yang
jelas. Menurut pendapat shahih, barang yang tidak sah dalam akad pemesanan
tidak boleh dipinjamkan. Jelasnya setiap barang yang tidak terukur atau jarang
Qardh juga hanya boleh dilakukan di dalam harta yang telah diketahui
yang sepadan, jika kadar barang tidak diketahui tentu tidak mungkin
melunasinya.
menjamin agar jangan sampai terjadi kekeliruan atau lupa, baik mengenai
SWT:
,,,
57
Abdurrahman al-Jaziri Al-Fiqh Ala Al-Madzahib Arba‟ah, Juz 2, Beirut:Darul Kitab
Al-Ilmiyah, 1996, hlm. 304.
58
Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Imam Syafi‟i 2, Op. Cit, hlm. 21.
59
Abdul Aziz Dahlan et al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve,
Cet. 1, 1996, hlm. 1892.
32
antara pihak-pihak itu. Perjanjian di dalam hukum Islam disebut dengan akad.
dimana pihak yang satu berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau tidak
melakukan dan lainnya itu berhak atas apa yang dijanjikannya itu untuk
istilah adalah:
60
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Op. Cit, hlm. 70.
61
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008, hlm. 46.
33
antara ijab dan qabul yang menunjukkan adanya kerelaan dari kedua belah
pihak. Sifat kerelaan itu bisa terwujud dan jelas apabila telah nyata-nyata
Ijab adalah pernyataan dari pihak yang memberi utang dan qabul adalah
penerimaan dari pihak yang berutang. Ijab qabul harus dengan lisan, seperti
yang telah dijelaskan di atas, tetapi dapat pula dengan isyarat bagi orang
bisu.62
menyerahkan uang yang diutangkan kepada pihak kedua dan pihak kedua
telah menerimanya dengan akibat bila harta yang diutangkan tersebut rusak
atau hilang setelah perjanjian terjadi tetapi sebelum diterima oleh pihak kedua,
pengertian akad tersebut, maka terdapat ketentuan yang harus dipenuhi dalam
62
Ghufron A Mas‟adi, Op. Cit, hlm. 90-91.
63
Ahmad Azhar Basyir, Asas-asas Hukum Muamalat, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2008, hlm. 38.
34
Di atas telah disebutkan bahwa akad adalah perikatan antara ijab dan
qabul yang menunjukkan adanya kerelaan dari kedua belah pihak. Adapun
ص ُد ُر ِم ْن اَ َح ِد الْ ُمتَ َعاقِ َديْ ِن ُم َعبِّ ًرا َع ْن َج ْزِم أَِر َادتِِو ِِف ٍ
ْ َاب ُى َو اََّو ُل بَيَان ي
ِ
ُ َْاال ْْي
فِ والْ َقب و ُل ىو ما يص ُدر ِمن الطَّر.ئ ِمنْ هما ُ ِ اِنْشاِْء الْع ْق ِد أَيِّا َكا َن ىوالْب
اد
َ َ ُ ْ َ َ َ ُ ْ ُ َ َ ُ َ َُ َ َ
اب ُم َعبِّ ًرا َع ْن ُم َوافَ َقتِ ِو َعلَْي ِو ِْ ْاالَخ ِر ب ع َد
ِ َاال ْْي َْ َ
“Ijab adalah permulaan penjelasan yang keluar dari salah satu seorang yang
berakad, buat memperlihatkan kehendaknya dalam mengadakan akad, siapa
saja yang memulainya. Qabul adalah jawaban dari pihak yang lain sesudah
adanya ijab, buat menyatakanpersetujuannya.”66
Kaitannya dengan masalah utang diperlukan juga adanya akad ini (ijab
64
Depag, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Op. Cit, hlm. 115.
65
Ali Fikri, al-Mu‟allamatul Maiyah wal Adabiyah, Bab I, Beriut: Dar al-Fikr, hlm.
34-39.
66
Teungku Muhammad Hasby Ash-Shiddieqy, Op. Cit, hlm. 27.
35
Akad dalam masalah utang adalah akad tamlik, karena itu tidak sah
kecuali dari orang yang boleh menggunakan harta (milik sendiri dan tidak
berada dalam pengampuan). Tidak sah pula kecuali dengan ijab dan qabul
seperti akad jual beli dan hibah, karena itu akad dinyatakan sah dengan
memakai akad lafadz qardh, salaf dan semua lafadz yang mempunyai arti dan
maksud yang sama, seperti kata-kata aku berikan kepemilikan harta ini
tanda terima atau kwitansi yang menyebutkan besarnya utang, tanggal terjadinya
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secara
tunai untuk waktu yang ditentukan hendaklah kamu menuliskannya.
Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan
benar” (Al-Baqarah: 282)68
67
[Link] hlm. 1,
diakses tgl 20 Oktober 2016
68
Depag, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm.70.
36
Saksi sebaiknya terdiri atas 2 orang laki-laki. Apabila tidak ada 2 orang laki-laki,
maka boleh satu orang laki-laki dan 2 orang perempuan.69 Ketentuan ini terdapat
,,,
,,,
Hak muqridh adalah mendapatkan ganti rugi yang sepadan dari barang
a. Muqridh tidak dapat meminta kembali apa yang telah ia pinjamkan, sebelum
lewat batas waktu yang telah ditentukan.
b. Jika jangka waktu tidak ditetapkan dalam perjanjian, hakim memiliki
kekuasaan untuk memberikan kelonggaran kepada muqtaridh untuk melunasi
utang-utangnya.
c. Jika dalam perjanjian disepakati bahwa muqtaridh akan mengembalikan uang
sesuai dengan kesepakatan, maka hakim dapat menentukan waktu kapan si
muqtaridh wajib melunasi utang-utangnya.71
69
[Link] Op. Cit., hlm. 1.
70
Depag, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Loc. Cit.
71
Evi Ariyani, Hukum Perjanjian,Yogakarta: Ombak, 2013, hlm. 57-58.
37
Menurut pasal 1746 KUH Perdata muqtaridh adalah pemilik barang yang
dipinjamnya, jika barang tersebut musnah disebabkan oleh hal apapun, maka itu
meminjami utang sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama. Jika
seorang muqridh memiliki hak penuh untuk menagih utangnya. Ia memiliki hak
B. RIBA
72
Salim, Hukum Kontrak: Teori dan Tehnik Penyusunan Kontrak, Jakarta: Sinar
Grafika, Cet. 1, 2003, hlm. 79.
73
Evi Ariyani, Op. Cit, hlm. 58.
74
R. Subekti, R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Udang Hukum Perdata, Jakarta: Pradnya
Paramita, hlm. 449.
38
tambah.75 Dalam pengertian lain secara harfiah, riba juga berarti tumbuh
pokok atau modal secara batil.77 Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba,
namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah
dengan arti tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang dilarang
oleh syara', baik dengan jumlah tambahan yang sedikit atau pun dengan jumlah
suku bunga yang tidak masuk akal atau di atas tingkat suku bunga legal yang
relatif tinggi.78
Riba identik dengan bunga bank atau rente, menurut istilah rente berasal
dari bahasa Belanda yang juga dikenal dengan bunga. Sering kita dengar di
disebabkan karena rente merupakan pembayaran lebih atas modal pokok yang
75
Achmad Warson Munawwir, Op. Cit, hlm. 854.
76
Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Islam Dan Kedudukannya Dalam Tata Hukum
Perbankan Indonesia, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti, 2007, hlm. 9.
77
zainuddin Ali, Hukum Perbankan Syariah, Jakarta: Sinar Grafika, Cet. I, 2008, hlm.
88.
78
Zamir Iqbal et al, Pengantar Keuangan Islam: Teori dan Praktik, Jakarta: Kencana,
Cet I, 2008, hlm. 90.
39
dipinjam oleh muqtaridh kepada pihak muqridh.79 Sedangkan uang yag lebih dari
itu adalah riba, dan riba itu haram hukumnya. Kemudian dilihat dari segi lain
bahwa muqridh itu hanya tahu menerima uang, tanpa resiko apa-apa. Pihak
muqridh tidak ingin tahu apakah orang yang meminjam uang itu rugi atau
untung. Mengenai hal ini Allah mengingatkan dalam firman-Nya Surat an-Nisa‟
Dalam kaitannya dengan pengertian al-bathil dalam ayat tersebut, Ibnu al-Arabi
atau komersil yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil, seperti
transaksi jual beli, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek. Dalam transaksi sewa,
79
Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, Jakarta: PT Grafindo Persada,
Cet I, 2003, hlm. 182.
80
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Op. Cit, hlm. 107.
40
penyewa membayar upah sewa karena adanya manfaat sewa yang dinikmati.
Dalam hal jual beli pembeli membayar harga atas imbalan barang yang
diterimanya. Demikian juga dalam proyek bagi hasil para peserta perkongsian
serta menanggung resiko kerugian yang bisa saja muncul setiap saat. Dalam
mengambil tambahan dalam bentuk bunga tanpa adanya suatu penyeimbang yang
diterima peminjam kecuali kesempatan dan faktor waktu yang berjalan selama
proses peminjaman tersebut. Namun, yang tidak adil di sini adalah peminjam
diwajibkan untuk selalu, harus, mutlak, dan pasti untung dalam setiap
penggunaan kesempatan tersebut. Demikian juga dana itu tidak akan berkembang
dengan sendirinya hanya dengan faktor waktu semata, tanpa ada faktor orang
bahwa riba adalah suatu kelebihan yang terjadi dalam tukar-menukar barang
yang sejenis atau jual beli barter, dan kelebihan tersebut disyaratkan dalam
perjanjian. Jika kelebihan tersebut tidak disyaratkan dalam perjanjian itu tidak
termasuk riba.
adalah riba utang-piutang dan riba jual beli. Kelompok pertama terbagi lagi
41
menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah, sedangkan kelompok kedua riba jual beli
terbagi menjadi riba fadl dan riba nasi‟ah. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Riba qardh
b. Riba jahiliyyah
Utang dibayar lebih dari pokoknya, karena peminjam tidak mampu membayar
waktu tertentu. Apabila telah datang saat pembayaran dan pembeli tidak
c. Riba fadl
81
Idri, Hadis Ekonomi, Jakarta: Prenadamedia Group, Cet. I, 2016, Hlm. 192.
82
Wahbah az-Zuhaili, Op. Cit, hlm. 337.
83
Syafi‟I Antonio, Op. Cit,hlm. 39.
42
termasuk barang ribawi.84 Riba fadl ini berlaku hanya timbangan atau tukaran
harta yang sama jenis dan bentuknya seperti emas dengan emas, perak dengan
perak.85
d. Riba Nasi‟ah
Nasi‟ah berasal dari kata dasar nasa‟ yang berarti mengakhirkan. 86 Sedangkan
pengertian riba nasi‟ah adalah tambahan pembayaran atas jumlah modal yang
disyaratkan terlebih dahulu yang harus dibayar oleh peminjam kepada yang
meminjam tanpa resiko sebagai imbalan dari jarak waktu pembayaran yang
lain sampai batas waktu yang ditentukan seperti satu bulan atau satu tahun,
kemudian jika masa tiba pembayaran dan orang yang berutang tidak mampu
bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang
84
Muhammad Muslehuddin, Sistem Perbankan Dalam Islam, Jakarta: Rineka Cipta,
Cet. 1, 1990, hlm. 77.
85
Abdurrahman Ghazaly, et al, Fikih Muamalat, Jakarta: Kencana, 2010,hlm. 220.
86
Shaleh al-Fauzan, Op. Cit, hlm. 54.
87
Abdurrahman Ghazaly, et al, Op. Cit, hlm. 218.
88
Muhammad Abdul Athi Buhairi, Tafsir Ayat-Ayat Ya Ayyuhal-Ladzina Amanu, Cet. I,
Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005, hlm. 189.
43
Artinya: “Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah
pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah.
dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah
orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (ar-Ruum: 39)89
kecewa bahkan rugi. Adapun yang memberi hartanya sebagai hadiah untuk
bukanlah sesuatu yang baik walau tidak terlarang. Dan apa saja yang kamu
berikan dari harta yang berupa riba yakni tambahan pemberian berupa hadiah
terselubung, dengan tujuan agar harta tersebut bertambah, maka hal tersebut
tidak berpahala disisi Allah. Karena Allah tidak memberkati pemberian seperti
itu. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yakni sedekah yang suci yang
89
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, [Link], hlm. 637.
44
dengan tujuan agar harta tersebut bertambah, tidak suci di sisi Allah dan
mengharap ridha Allah tanpa riya dan mengharapkan imbalan, maka itulah
mengancam akan memberi balasan yang keras kepada orang yahudi yang
memakan riba, sebagaimana dalam firman-Nya dalam surat An-nisa ayat 160-
161.
90
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, Cet I, 2002, hlm. 72.
91
Ibid, hlm. 73.
92
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Op. Cit, hlm. 136.
45
dengan menyebut penyebab utamanya, yaitu bahwa mereka berlaku zhalim, tidak
sangat besar sebagaimana dipahami dari kata zhulmin yang menggunakan tanwin
bunyi nun. Salah satu bentuk kezhaliman besar orang Yahudi yaitu menghalangi
manusia menuju jalan Allah, yakni pengharaman sebagian dari apa yang tadinya
perintah Allah.93
yang berlipat ganda. Para ahli tafsir berpendapat bahwa pengambilan bunga
dipraktikkan pada masa tersebut. Alllah berfirman dalam surat ali-Imron ayat
130,
93
M. Quraish Shihab, Op. Cit, hlm. 645-655.
46
bahwa bukanlah sifat dan kelakuan orang-orang yang beriman memakan, yakni
mencari dan menggunakan uang yang diperolehnya dari praktek riba. Menurut
al-Shabuni sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Ghofur, ayat ini termasuk
ditunjukkan pada riba al-fahisy, riba yang sangat buruk dan keji dimana dengan
Riba atau kelebihan yang terlarang oleh ayat di atas adalah yang sifatnya
dari dhi‟f ( )ضعفyang berarti serupa, sehingga yang satu menjadi yang dua. Kata
dhi‟fain ( )ضعفينadalah bentuk ganda, sehingga jika anda mempunyai dua maka
94
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Op. Cit. Hlm. 84.
95
Abdul Ghofur, Larangan Riba dalam al-Qur‟an dan Aplikasinya pada Perbankan
Syari‟ah, Jurnal Al-Ahkam, Volume XVIII, Ed II, 2007, hlm. 78.
47
dan sebagai imbalan penangguhan tersebut pada saatnya ketika membayar utang ,
Sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Saed, Abduh dan Rashid Ridha
yang merupakan pakar hukum Islam menegaskan bahwa bunga yang dilarang
adalah yang berlipat ganda, Keterangan ini berdasarkan bukti faktual dalam
praktek riba pada masa pra-Islam dan juga implikasi yang ditimbulkannya
sehingga bunga yang tidak berlipat ganda tidaklah dilarang. 97 Riba yang
diharamkan adalah riba yang mengandung salah satu dari tiga unsur berikut:
mengandung paksaan, tambahan yang tak ada batasnya, atau berlipat ganda dan
terdapat syarat yang memberatkan, seperti tingkat bunga yang terlalu tinggi.
Setiap utang yang jumahnya kecil akan dapat meningkat dan terus
muqtaridh, dengan meningkat secara berlipat ganda bisa saja akan memberatkan
Kata adh‟afan mudha‟afah bukanlah syarat bagi larangan ini. Dalam arti
jika penambahan akibat penundaan itu sedikit, atau tidak berlipat ganda maka
riba atau penambahan itu boleh. Kata adh‟afan mudha‟afah bukanlah syarat,
96
Ibid, hlm. 216-217.
97
Abdullah Saed, Bank Islam dan Bunga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet I, 2003,
hlm.76.
98
Ibid, hlm. 39.
48
dugaan itu tidak benar. Dengan meninggalkan riba akan terjalin hubungan
harmonis antar anggota masyarakat, serta terbina kerja sama dan tolong-
yakni menghindari siksa-Nya, baik akibat melakukan riba maupun bukan, dan
untuk diingat bahwa yang melanggar perintah ini, atau yang menghalalkan riba,
maka ia terancam dengan ancaman yang sangat berat yakni api neraka yang
yang butuh. Penindasan dalam bidang ekonomi dapat lebih besar dampaknya
dan kehormatan manusia secara bersinambung. Tidak heran jika sekian banyak
ulama salah satunya yaitu Muhammad Abduh yang menilai kafir bagi orang-
orang yang melakukan praktik riba, walau ia mengucapkan kalimat syahadat dan
secara formal melakukan sholat, tapi bagi kaum yang melakukan riba mereka
Surat Ali Imran ayat 130 ini harus dipahami secara komprehensif dengan
ayat 278-279 dalam surat al-Baqarah yang turun pada tahun ke-9 Hijriyyah. Pada
tahap terakhir Allah dengan jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis
99
M. Quraish Shihab, Op. Cit, hlm. 217.
49
menyangkut riba.100
Maksud dengan sisa riba mencakup semua bentuk bunga mencakup baik
itu banyak maupun sedikit, sehingga setiap bentuk pinjaman dengan imbalan
manfaat tertentu adalah riba. Salah satu bentuk riba yang dilakukan kaum
atau dirham dalam jangka waktu tertentu dengan sejumlah imbalan atau
tentang riba dalam al-Qur‟an surat al-Baqarah: 279 yang jelas menunjukan
pelarangannya yaitu :
100
Muhammad Syafi‟I Antonio, Op. Cit. hlm. 50.
101
Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Op. Cit, hlm. 58.
102
Ash-Shadiq Abdurrahman Al-Gharyani, Fatwa Mu‟amalah Kontemporer, Surabaya:
Pustaka Progressif, Cet. I, 2004, hlm. 112.
50
1. Statemen “( ” َفلَ ُك ْم ُرء ُْوسُ اَ ْم َوالِ ُك ْمbagimu pokok hartamu), yang kemudian
disusul dengan statemen kedua, “ ( ” الَ َت ْظلِم ُْو َن َوالَ ُت ْظلَم ُْو َنkamu tidak
melakukan penganiayaan dan tidak pula dianiaya). Statemen pertama
menunjukan tentang penarikan pokok harta yang dipinjamkan oleh muqridh
(pihak piutang) kepada muqtaridh ( pihak yang berhutang), pada sisi lain
dijelaskan bahwa apa yang telah dilakukan oleh muqridh yang hanya
meminta nilai pokok harta yang dipinjamkan kepada muqtaridh tersebut
tidak merupakan perbuatan aniaya, baik terhadap diri sendiri maupun
terhadap muqtaridh ()الَ َت ْظلِم ُْو َن َوالَ ُت ْظلَم ُْون.
2. Masing-masing statemen di atas menunjukan indikasi saling berkaitan, satu
sama lain tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan yang lainnya. Jika
kedua statemen tersebut dipisah dengan cara mengabaikan salah satu
darinya, maka akan terjadi pengkaburan makna dari maksud pesan al-
Qur‟an. Atas dasar itu, maka dalam penafsiran untuk menjelaskan makna
riba harus memberi penekanan yang sama terhadap kedua statemen tersebut.
Lebih parah lagi apabila dalam menafsirkannya hanya memperhatikan
statemen “falakum ruusu amwalikum” dan mengabaikan statemen “la
tazlimuna wala tuzlamun”. Karena statemen yang kedua pada dasarnya
mencerminkan sebagai kerangka metodologi yang hampir diikuti oleh
seluruh madzhab hukum Islam, sekaligus sebagai unsur pokok untuk
mengetahui setiap perintah dan larangan dalam al-qur‟an yang dihasilkan
melalui interpretasi yang mendalam terhadap makna yang relevan dari
sebuah teks, juga dapat memberi perhatian terhadap penyebab-penyebab
utama dari munculnya larangan dan perintah tersebut.103
Orang yang beriman adalah orang yang diliputi oleh rasa kasih sayang
kepada sesama manusia, yang kaya kalau hendak memberikan piutang tidaklah
bermaksud memeras keringat dan tenaga sesama manusia. Pada ayat ini Allah
Riba adalah suatu kejahatan yang meruntuhkan hakikat tujuan Islam dan
103
Abdullah Saed, Bank Islam dan Bunga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet II, 2004,
hlm. 46-47.
51
Pekerjaan melakukan riba adalah suatu perbuatan dosa besar yang wajib
dengan segera dan bertaubat. Allah telah mengancam siapa saja orang yang
melakukan riba. Selain itu eksistensi riba tidak sesuai dengan sistem nilai Islam
yang melarang semua bentuk pencarian kekayaan secara akl amwal an-nas bil
skunder. Kebutuhan primer adalah kebutuhan pokok, baik berupa barang, seperti
makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal, maupun berupa jasa, seperti
tambahan, yang secara kuantitatif maupun kualitatif lebih tinggi atau lebih
mewah dari kebutuhan primer, baik berupa barang, seperti makanan dan
104
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, Cet. I, 1990, hlm.
675.
105
Muhammad Syafi‟I Antonio, Bank Syari‟ah: Dari Teori ke Praktek, hlm. 168.
52
bahwa tujuan pengambilan pinjaman ini pada zaman Jahiliyah ialah untuk tujuan
Menurutnya sifat keharaman dari praktik riba, karena pihak peminjam dalam
keadaan sulit ketika terjadi akad dilaksanakan, kesulitan itu tetap melekat pada
saat mengembalikan dan juga harus membayar tambahan utangnya. Dari hal
kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha baik usaha
boleh diartikan dengan sempit karena ada satu kegiatan yang dinamakan
untuk kegiatan sosial yaitu pembangunan sekolah. Moh. Hatta menghukumi halal
pada pinjaman produktif ini karena bunga yang diambil adalah hasil dari usaha
produksi. Bunga yang diambil juga berbeda dengan bunga yang terdapat pada riba,
karena bunga yang terdapat dalam peminjaman ini terbatas sedangkan dalam riba
bunganya berlipat-lipat.
106
Edi Suandi, Riba dan Bunga Bank Perspektif Moh. Hatta, Jurnal Ekonomi, Vol VII,
2015, hlm. 3.
107
Muhammad Syafi‟I Antonio, Op. Cit. hlm. 167.
53
terbelenggu oleh beban hutang yang tidak mampu untuk melepaskan diri dari
jeratan hutangnya. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka larangan riba dalam
modernis juga mengaitkannya dengan praktek riba pada masa pra-Islam. Karena
pada masa itu dalam skala yang luas tidak terdapat fakta yang menunjukkan
para modernis di luar fenomena Qur'ani. Oleh karena itu, aspek larangannya
mengandung unsur dzulm dan berlipat ganda, tapi menurut Syafi‟i Antonio selain
alasan tersebut masih ada lagi sebab pembenaran pengambilan riba, yaitu dalam
bahwa dharurat adalah suatu keadaan emergency dimana jika seseorang tidak
seputar kadar darurat, sesuai dengan ayat di atas para Ulama merumuskan
kaidah,
Artinya darurat itu ada masa berlakunya serta ada batasan ukuran dan
kadarnya, contohnya seandainya di hutan ada sapi atau ayam, dispensasi untuk
cukup dengan tiga suap, tidak boleh melampaui batas hingga tujuh atau sepuluh
kali suap.110
membangun hukum syariat atas dasar illat (sebab, alasan), bukan atas dasar
109
Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuti, al-Asybab wan-Nadzair fi Quwaidh wa Furu‟
Fiqh Asy-Syafiiyah, Beirut: Darul Kutub al-Amaliyah, 1993, hlm. 85.
110
Muhammad Syafi‟I Antonio, Bunga Bank dari Teori dan Praktek, hlm. 55.
55
hikmah. Hal itu karena illat adalah suatu karakteristik yang senyawa dan baku,
serta merupakan indikasi kuat bagi suatu hukum. Lain halnya dengan hikmah,
yang biasanya bersifat relatif.111 Hikmah yang tampak jelas dibalik pengharaman
riba adalah mewujudkan persamaan yang adil diantara pemilik harta (modal) dan
usaha, serta memikul resiko dan akibatnya secara berani dan penuh rasa
hikmah diharamkannya riba, karena syariat Islam memandang riba sebagai suatu
tindakan kriminal agama dan sosial terburuk. Riba merupakan pangkal kejahatan
dan dosa, maka tidaklah mengherankan jika Allah mengumumkan perang bagi
siapa saja yang berinteraksi dengan riba. 113 hal ini dikarenakan adanya bahanya
111
Yusuf al-Qardhawi, Bunga Bank Haram, Terj. Setiawan Budi Utomo Jakarta: Akbar,
2002 hlm. 50.
112
Ibid, hlm. 52.
113
Muhammad Abdul Athi Buhairi, Op. Cit, hlm.133.
56
ketamkannya.
usaha, karena apabila pemilik uang sudah dapat menambah hartanya dengan
melakukan transaksi riba, baik tambahan itu diperoleh secara kontan atau
sedang yang meminjam adalah orang miskin. Jika dalam pinjaman tersebut
terdapat unsur riba dan orang yang meminjam merasa didzolomi, ini dapat
para ulama telah menetapkan bahwa riba merupakan faktor terbesar yang dapat
114
Yusuf Qardhawi, Al-Halal wal-Haram fil-Islam, Jakarta: Robbani Press, 2009, hlm.
307.
57
kekayaan melalui riba, menurut tradisi yang ada riba tanpaknya indah tetapi hasil