0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan100 halaman

Peningkatan Hasil Belajar Matematika CTL

Laporan ini membahas penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi bangun ruang siswa kelas VI SD Islam Al Ma'ruf Jakarta dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas melalui 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus ke siklus.

Diunggah oleh

Nurina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan100 halaman

Peningkatan Hasil Belajar Matematika CTL

Laporan ini membahas penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi bangun ruang siswa kelas VI SD Islam Al Ma'ruf Jakarta dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas melalui 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus ke siklus.

Diunggah oleh

Nurina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI

BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN


CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA
KELAS VI SD ISLAM AL MA’RUF JAKARTA

DEWI PURNAMASARI
857136326

LAPORAN

PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PDGK4501)

PROGRAM STUDI PGSD BI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UPBJJ-UNIVERSITAS TERBUKA JAKARTA
2022
LEMBAR PENGESAHAN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI


BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA
KELAS VI SD ISLAM AL MA’RUF JAKARTA

Jakarta, 12 Juni 2022


Menyetujui,
Supervisor , Mahasiswa

Iman Nurjaman, [Link] Dewi Purnamasari


NIDN. 0414018101 NIM. 857136326

i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya menyatakan dengan susungguhnya bahwa laporan praktek Pemantapan


Kemampuan Profesional (PKP) yang saya susun sebagai syarat untuk memenuhi
mata kuliah PKP pada Program Studi S1 PGSD Universitas Terbuka (UT)
seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan laporan PKP yang saya kutip dari
hasil karya orang lain telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah, dan etika penulisan karya ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PKP ini bukan
hasil karya saya sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian-bagian tertentu, saya
bersedia menerima sanksi, termasuk pencabutan gelar akademik yang saya sandang
sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Jakarta, 18 Juni 2022


Yang membuat pernyataan,

Dewi Purnamasari
NIM. 857136326

ii
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, puji syukur


penulis panjatkan kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala atas berkat rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Penelitian yang
berjudul “ Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Bangun Ruang Model
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Siswa Kelas VI SD
Islam Al Ma’ruf Jakarta”.

Keberhasilan penulisan laporan penelitian ini tentu tidak lepas dari bantuan,
bimbingan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan
ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada:

1. Ir. Edward Zubir, MM selaku kepala UPBJJ-UT Jakarta


2. Ibu Sri Yuniarsih, M. Pd selaku ketua pengelola UT Pokjar Makasar
3. Bapak Iman Nurjaman, [Link] sebagai dosen pembimbing
4. Ibu Khudzaifah, [Link] selaku Kepala SD Islam Al Ma’ruf Jakarta.
5. Keluarga yang telah memberikan dorongan dalam penulisan laporan ini.
6. Semua teman-teman yang telah memberikan bantuan serta saran sehingga
dapat memperlancar penulisan laporan ini.

Semoga kebaikan yang telah diberikan memperoleh ridha dan imbalan dari
Allah Subhaanahu wa ta’ala.

Penulisan laporan penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai pertimbangan penelitian yang
akan datang. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan di
dunia pendidikan.

Jakarta, 04 Juni 2022 Penulis


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………..... i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT…………………....... ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………. iii
DAFTAR ISI ……………………………………………….................... iv
DAFTAR TABEL ………………………………………….................... v
DAFTAR GANBAR ………………………………………..................... vi
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………….... vii
ABSTRAK ……………………………………………………………… viii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………..
A. Latar Belakang Masalah ………………………………………….
B. Rumusan Masalah ………………………………………………..
C. Tujuan Penelitian dan Perbaikan Pembelajaran…………………..
D. Manfaat Penelitian dan Perbaikan Pembelajaran …………...........
BAB II KAJIAN PUSTAKA ……………………………………………
A. Hakikat Hasil Belajar Matematika…….…………………………
1. Pengertian Belajar……………………………………………...
2. Hasil Belajar……………………………………………………
3. Hakikat Matematika…………………………………………...
B. Bangun Ruang.…………………………………………..……….
1. Kubus…………………………………………………………..
2. Balok…………………………………………………………...
3. Prisma segitiga……………………………………………........
4. Limas segiempat……………………………………………….
5. Tabung……………………………………………………........
6. Kerucut…………………………………………...……………
7. Bola…………………………………………………………….
C. Model Pembelajaran CTL ……………………………………..........
1. Pengertian Model Pembelajaran CTL………………………….
2. Manfaat Model Pembelajaran CTL…………………………….
3. Komponen Model Pembelajaran CTL…………………………
D. Karakteristik Siswa…………. ……………………………….......
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN
PEMBELAJARAN……………………………………………
A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian, Pihak yang membantu
Penelitian ……………………………………………………......
1. Subjek Penelitian……………………………………………….
2. Tempat Penelitian………………………………………………
3. Waktu Penelitian………………………………………….........
4. Pihak yang membantu………………………………………….
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran ……………………….
1. Metodologi Penelitian………………………………………….
2. Prosedur Perbaikan Pembelajaran……………………………...
3. Instrumen Penelitan…………………………………………….
C. Teknik Analisis Data …………………………………………….
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN ………….........
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran……………...
1. Temuan awal…………………………………………………...
2. Siklus 1…………………………………………………………
3. Siklus 2…………………………………………………………
B. Pembahasan Hasil Penelitian ………………………………….…
BAB V SIMPULAN DAN TINDAK LANJUT ………………………..
A. Simpulan …………………………………………………………
B. Saran Tindak Lanjut………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA…….……………………………….……….........
LAMPIRAN……………………………………………………………...
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Data siswa kelas 1………………………………………...20

Tabel 3.2 Jadwal materi penelitian perbaikan pembelajaran………..24

Tabel 3.3 Kisi-kisi soal…………………………………...…………26

Tabel 4.1 Daftar nilai pembelajaran pra siklus……………………...29

Tabel 4.2 Catatan lapangan siklus 1 ………………………………...31

Tabel 4.3 Daftar nilai pembelajaran siklus 1 ………….....................33

Tabel 4.4 Catatan lapangan siklus 2…………...……………………36

Tabel 4.5 Daftar nilai pembelajaran siklus 2………………………...38

Tabel 4.6 Hasil belajar PKN per siklus……………………………...40


DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Gedung SD Angkasa 7 Halim P ……….…………….…. 21

Gambar 3.2 Model alur siklus PTK …………………….………….…23

Gambar 4.1 Gambar grafik hasil nilai pra siklus …………....………..30

Gambar 4.2 Gambar grafik nilai siklus 1…… …………….........……34

Gambar 4.3 Gambar grafik nilai siklus 2 …………........………….….39

Gambar 4.4 Gambar grafik hasil perbandingan nilai persiklus…….....41


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat kesediaan supervaisor 2 sebagai pembimbing PKP……. 54

Lampiran 2 Perencanaan perbaikan pembelajaran………………………… 55

Lampiran 3 RPP pra siklus, RPP berbaikan siklus 1, RPP perbaikan siklus 2 56

Lampiran 4 Lembar Observasi/ pengamatan Terisi …………………….. 82

Lampiran 5 Junal pembimbing dengan supervisor 2 ……………………. 86

Lampiran 6 Hasil pekerjaan siswa ………………………………………. 87

Lampiran 7 Alat penilaian kemampuan guru (APKG) 1 dan 2………..... 90

Lampiran 8 Dokumentasi……..……………………………………….. 100

Lampiran 9 Daftar riwayat hidup ………………………………………. 102


ABSTRAK

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI


BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA
KELAS VI SD ISLAM AL MA’RUF JAKARTA

DEWI PURNAMASARI

857136326

dewipurnamasarisd@[Link]

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya temuan hasil belajar Matematika materi


Bangun Ruang siswa kelas VI SD Islam Al Ma’ruf masih perlu ditingkatkan
(persentase ketuntasan 30%). Berdasarkan hal tersebut, peneliti melakukan
Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan metode PTK model Kemmis dan
Mc Taggart sebanyak 2 siklus. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan hasil
belajar dan memperbaiki proses pembelajaran Matematika materi bangun ruang siswa
kelas VI dengan menggunakan model pembelajaran CTL. Subjek penelitian adalah
siswa kelas VI SD Islam Al Ma’ruf Jakarta yang berjumlah 23 siswa. Kondisi awal
sebelum dilaksanakan tindakan, nilai rata-rata siswa 59,56 (persentase ketuntasan
30%), siklus 1 nilai rata-rata siswa 72,17 (persentase ketuntasan 61%), dan siklus 2
nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 89,56 (persentase ketuntasan 91%). Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan CTL pada pembelajaran Matematika
materi Bangun Ruang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI.

Kata kunci: Hasil Belajar, CTL, , Bagun Ruang


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pembelajaran adalah proses berubahnya tingkah laku seseorang (siswa)
tidak hanya dalam aspek kognitif dan afektif saja, melainkan aspek
psikomotorik. Kemampuan intelektual seorang anak dalam berpikir dan
mengingat sesuatu sampai dengan kemampuan memecahkan suatu
permasalahan disebut kognitif. Sedangkan afektif yakni berkaitan dengan sikap
dan nilai yang mencakup watak prilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan
nilai. Sementara kemampuan tentang kegiatan fisik, contohnya berlari, lompat,
melukis dan seterusnya disebut dengan psikomotorik.
Ketika guru menjelaskan dengan cara ceramah, mungkin kemampuan
siswa hanya terukur pada kemampuan kognitifnya saja, sedangkan afektif dan
psikomotoriknya tidak dapat terukur. Biasanya kegiatan pembelajaran
matematika di sekolah, guru hanya menjelaskan dengan menggunakan metode
ceramah. Untuk materi bangun ruang sendiri guru hanya menggambarkan
macam-macam bangun ruang dipapan tulis dan menerangkankan unsur-
unsurnya. Biasanya siswa tidak dapat membedakan antara sisi dan rusuk, serta
keliru dalam menentukan jumlah sisi dan rusuk pada bangun ruang. Hal ini
mungkin dikarenakan siswa tidak melihat bangun ruang tersebut secara nyata/
kongkret.
Pada pembelajaran matematika di kelas VI di SD Islam Al Ma’ruf pada
materi bangun ruang, banyak siswa yang belum memahami materi yang
disampaikan oleh guru. Dari hasil ulangan yang dilakukan guru pada tanggal 8
April 2022 di kelas VI SD Islam Al Ma’ruf menunjukkan siswa masih kesulitan
dalam menerima dan memahami materi yang berhubungan dengan menentukan
unsur-unsur pada bangun ruang. Hal ini dibuktikan dengan lebih dari setengah
siswa yang nilainya dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Adapun
KKM untuk mata pelajaran matematika yang diterapkan di SD Islam Al Ma’ruf
adalah 70. Dari 23 siswa kelas VI, baru 7 siswa mampu mencapai KKM Hal ini
mungkin dikarenakan penyampaian materi hanya berupa contoh-contoh soal
yang ada pada buku dan dilanjutkan dengan mengerjakan latihan-latihan yang
ada di buku paket siswa. Siswa tidak dilibatkan secara langsung dalam proses
pembelajaran. Sehingga membuat siswa merasa tidak tertarik dengan materi
yang diberikan, merasa bosan dan pada akhirnya tidak memahami materi yang
dijelaskan oleh guru.
Idealnya proses pembelajaran harus bisa mengkontruksikan pemahaman
siswa secara mendalam yang didasarkan pada apa yang siswa telah ketahui.
Dalam penerapan model pembelajaran, guru harus memperhatikan dan
menyesuaikan dengan kondisi kelas serta tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Guru juga harus memperhatikan karakteristik siswa yang diajar.
Ada banyak model pembelajaran, salah satunya adalah model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL). Model pembelajaran ini dapat
mengubah teacher centre (berpusat pada guru) menjadi student centre (berpusat
pada siswa) yang pada akhirnya proses pembelajaran akan semakin hidup. Selain
itu pada model pembelajaran ini terdapat 7 komponen yaitu ; Constructivism,
Questioning, Inquiry, Learning Comunity, Modeling dan Authentic Assessment.
Diharapkan dengan 7 komponen ini siswa akan lebih memahami materi bangun
ruang sehingga bisa meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun
ruang siswa kelas 6 di SD Islam Al Ma’ruf Jakarta.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat diidentifikasi masalah
sebagai berikut :
a) Pembelajaran masih berpusat pada guru.
b) Guru belum melibatkan siswa secara langsung dalam proses penemuan
rumus-rumus volume dan luas permukaan pada bangun ruang maupun
dalam pembelajaran di kelas.
c) Guru hanya menggambar bangun ruang di papan tulis dan menuliskan
rumus-rumusnya.
d) Guru tidak menghubungkan materi bangun ruang dengan kehidupan sehari-
hari.
e) Hasil ulangan matematika siswa pada materi bangun ruang cenderung
rendah. Dari 23 siswa hanya 7 siswa yang mencapai KKM.
2. Analisis Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, dapat disimpulkan analisis masalah
sebagai berikut :
a) Guru masih menggunakan model pembelajaran yang membosankan.
b) Guru kurang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Untuk meningkatkan hasil belajar matematika mengenai materi bangun ruang
pada siswa kelas VI di SD Islam Al Ma’ruf Jakarta, maka guru akan
memprioritaskan pemecahan masalah dengan menggunakan model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apakah penggunaan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat
meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang pada kelas
VI SD Islam Al Ma’ruf Jakarta?
2. Bagaimana penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi
bangun ruang siswa kelas VI SD Islam Al Ma’ruf Jakarta?

C. Tujuan Penelitian Dan Perbaikan Pembelajaran


Dari rumusan masalah di atas, merupakan tujuan penelitian yang ingin di capai
yaitu:
1. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika mengenai bangun ruang pada
siswa kelas VI SD Islam Al-Ma’ruf Jakarta Timur dengan model
pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
2. Untuk memperbaiki proses pembelajaran matematika mengenai bangun
ruang pada siswa kelas VI di SD Islam Al-Ma’ruf Jakarta melalui model
pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

D. Manfaat Penelitian Dan Perbaikan Penelitian


Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagi siswa
a) Meningkatnya hasil belajar matematika siswa pada materi bangun ruang
melalui model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
b) Dapat menciptakan suasana pembelajaran aktif dan kreatif
c) Dapat mempermudah penguasaan konsep, memberikan pengalaman
nyata sehingga meningkatkan hasil belajar.
2. Bagi guru
a) Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan yang bermanfaat
untuk meningkatkan kreativitas dalam merancang model pembelajaran
yang inovatif
b) Meningkatkan profesionalisme guru.
c) Menambah wawasan pengetahuan serta mempermudah proses
pembelajaran.
d) Mengembangkan pengelolaan kelas yang lebih efektif.
3. Bagi Sekolah
a) Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kemampuan hasil
pembelajaran di sekolah.
b) Meningkatkan kemampuan belajar siswa agar menjadi berprestsi di
sekolah.
c) Meningkatkan profesionalisme guru agar menjadi inovatif dan kreatif
dalam pembelajaran di kelas.
d) Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hasil Belajar

1. Pengertian Belajar
Belajar bukan hanya menghafal atau mengingat tetapi suatu proses yang
ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Belajar merupakan
suatu kegiatan pemrosesan kognitif, keterampilan dan sikap. Pelajar (siswa)
sepenuhnya harus melakukan upaya mengubah perilaku melalui pengalaman,
latihan maupun kegiatan-kegiatan lain yang dianggap efektif sebagai proses
untuk mengubah perilaku (Anitah, 2022).
Pendapat lain mengungkapkan bahwa, belajar adalah suatu proses
dimana peserta didik yang harus aktif, guru hanya berperan sebagai
fasilitator. Guru hanyalah merangsang keaktifan dengan jalan menyajikan
bahan pelajaran, sedangkan yang mengolah dan mencerna adalah peserta
didik itu sendiri sesuai dengan kemauan, kemampuan, bakat, dan latar
belakang masing-masing individu (Akhiruddin, 2019).
Dengan demikian, berdasarkan definisi belajar di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa belajar itu berlangsung secara aktif dan integratif dengan
menggunakan berbagai cara dan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. Selain
itu, belajar juga merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan melalui
pengalaman dan latihan manusia dalam hidupnya melalui kegiatan membaca,
mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya.
Selain itu, belajar juga merupakan usaha yang dilakukan sesorang untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang meliputi aspek kognitif, afektif,
dan psikomotor melalui interaksi dengan lingkungan. Adapun perubahan
tersebut terlihat dengan bertambahnya kemampuan, misalnya dengan belajar
siswa yang tidak tahu menjadi tahu, yang awalnya siswa tidak bisa maka
dengan belajar siswa menjadi bisa dan memiliki keterampilan yang
bermanfaat dalam kehidupannya. Selain itu, perubahan tingkah laku adalah
sebagai hasil belajar yang terjadi secara sadar, memiliki sifat berkelanjutan,
relatif permanen, dan mengarah pada tujuan serta bersifat progresif

2. Hasil Belajar
Mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan
tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup
bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik (Sudjana dalam Setiawati, 2018).
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru, mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar
(Hartoto, 2016).
Berdasarkan uraian para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar merupakan sesuatu yang dicapai setelah mengalami proses belajar yang
menunjukkan taraf kemampuannya dalam mengikuti program belajar dalam
waktu tertentu sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan. Adapun hasil
belajar tidak hanya selalu pada nilai yang berbentuk angka-angka saja namun
lebih dari itu yakni menunjukkan pencapaian pada ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik setelah dilakukan kegiatan belajar yang meningkat.

3. Hakikat Matematika
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang dijarkan di SD.
Seorang guru SD yang akan mengajarkan matematika kepada siswanya,
hendaklah mengetahui dan memahami objek yang akan diajarkannya, yaitu
matematika. Kata matematika berasal dari perkataan Latin mathematika yang
mulanya diambil dari perkataan Yunani mathematike yang berarti mempelajari.
Perkataan itu mempunyai asal kata nyamathema yang berarti pengetahuan atau
ilmu (knowledge, science). Kata mathematike berhubungan pula dengan kata
lainnya yang hampir sama, yaitu mathein atau mathenein yang artinya
belajar(berpikir). Jadi, berdasarkan asal katanya, maka perkataan matematika
berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar). Matematika
lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio (penalaran), bukan menekankan
dari hasil eksperimen atau hasil observasi matematika terbentuk karena
pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan idea, proses, dan penalaran
(Rusefendi dalam Rahman, 2013).
Berdasarkan uraian ahli tersebut, maka matematika adalah ilmu
pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar). Matematika terbentuk
dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian
pengalaman itu diproses di dalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan
penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep
matematika supaya konsep-konsep matematika yang terbentuk itu mudah
dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi secara tepat, maka digunakan
bahasa matematika atau notasi matematika yang bernilai global (universal).
Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah
dasar terbentuknya matematika.

B. Bangun Ruang
Perhatikan benda-benda seperti dus TV, drum minyak tanah, kaleng susu,
terompet, dan rubik. Benda-benda itu merupakan benda ruang. Bangun yang
menyerupai benda ruang itu biasa kita sebut sebagai bangun ruang (Indriyastuti,
2020). Ada berbagai benda di sekitar kita yang berbentuk bangun ruang. Bangun
ruang yang akan kita pelajari kali ini adalah kubus, balok, prisma, tabung, limas,
kerucut, dan bola.
1. KUBUS
Kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh 6 buah sisi berbentuk
persegi yang kongruen. Pemberian nama kubus disesuaikan dengan sisi alas
dan sisi atas (Sari, 2015).

Gambar 2.1
Kubus memiliki 6 sisi, 12 rusuk sama panjang, dan 8 titik sudut. Benda yang
ada disekitar kita yang berbentuk kubus diantaranya adalah dadu, kardus, dan
rubik. Kubus terdiri dari enam buah bangun datar berbentuk persegi yang
semua sisinya berukuran sama.
Beberapa contoh jaring-jaring kubus diantaranya adalah sebagai berikut:

Gambar 2.2
2. BALOK
Paararlelepipida tegak yang alasnya persegi panjang disebut balok
(Muhsetyo, 2022). Balok adalah salah satu bangun ruang yang menyerupai
kubus, namun pada balok ada sedikit perbedaan jika dilihat dari panjang rusuk
yang ukurannya tidak sama. Balok memiliki 6 sisi dengan sisi-sisi yang
berhadapan sejajar dan sama besar, memiliki 12 rusuk, dan 8 titik sudut.

Gambar 2.3
Beberapa contoh jaring-jaring balok adalah sebagai berikut :

Gambar 2.4

3. PRISMA SEGITIGA
Prisma adalah bidang banyak yang dibatasi oleh dua bidang yang sejajar dan
beberapa bidang lain yang berpotongan menurut garis-garis yang sejajar
(Muhsetyo, 2022). Prisma yang dibahas kali ini adalah prisma tegak segitiga.
Prisma tegak segitiga memiliki 5 sisi yang terdiri atas sisi alas, sisi atas, dan 3
sisi tegak. Sisi alas dan sisi atasnya berbentuk segitiga, sedangkan sisi tegaknya
berbentuk persegi atau persegi panjang. Selain itu prisma tegak segitiga juga
memiliki 9 rusuk dan memiliki 6 titik sudut. Berikut adalah gambar prisma tegak
segitiga.

Gambar 2.5
Beberapa contoh jaring-jaring prisma segitiga :

Gambar 2.6
4. LIMAS SEGI EMPAT
Limas adalah suatu benda ruang yang dibatasi oleh sebuah segi banyak dan
segitiga-segitiga yang mempunyai titik puncak persekutuan di luar segibanyak
tersebut, sedangkan sisi-sisi segi banyak itu merupakan alas-alas segitiga itu
(Muhsetyo, 2020). Limas yang akan dibahas kali ini adalah limas segiempat,
yang memiliki ciri-ciri yaitu memiliki 5 sisi yang terdiri atas sebuah sisi alas
dan 4 sisi tegak. Sisi alasnya berbentuk segi empat dan sisi tegaknya berbentuk
segitiga. Selain itu limas segiempat juga memiliki 8 rusuk, 5 titik sudut yang
salah satunya merupakan titik puncak. Berikut adalah gambar dari limas
segiempat:

Gambar 2.7
Beberapa contoh jaring-jaring limas segi empat :

Gambar 2.8

5. TABUNG
Tabung adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua sisi yang kongruen dan
sejajar yang berbentuk lingkaran serta sebuah sisi lengkung (Husein dalam
Adiwinata, 2018). Tabung memiliki ciri-ciri yaitu sisi alas dan tutup berbentuk
lingkaran yang sama luas. Memiliki 2 rusuk lengkung, sisi lengkungnya disebut
juga sebagai selimut tabung dan tidak memiliki titik sudut.

Gambar 2.9
Jaring-jaring tabung:

Gambar 2.10
6. KERUCUT
Kerucut adalah suatu bangun ruang yang merupakan suatu limas beraturan yang
bidang alasnya berbentuk lingkaran (Husein dalam Adiwinata, 2018). Kerucut
memiliki ciri-ciri yaitu memiliki sisi alas berbentuk lingkaran, memiliki 1 rusuk
lengkung serta memiliki sisi lengkung yang disebut juga sebagai selimut
kerucut. Selain itu kerucut juga memiliki 1 titik puncak. Berikut adalah gambar
kerucut :

Gambar 2. 11

Jaring-jaring kerucut :

Gambar 2.12

7. BOLA

Bola berbentuk bulat dengan sisinya melengkung. Bola memiliki ciri-ciri yaitu
tidak memiliki rusuk, memiliki satu sisi dan tidak memiliki titik sudut.

Gambar 2.13
C. Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
1. Pengertian Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti
hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks). Adapun pengertian CTL
adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka seharihari, dengan melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme
(constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat
belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection)
dan penelitian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas, 2012).
Pembelajaran kontekstual pada awalnya dikembangkan oleh John
Dewey dari pengalaman pembelajaran tradisionalnya. Pada tahun 1918
Dewey merumuskan kurikulum dan metodologi pembelajaran yang berkaitan
dengan pengalaman dan minat siswa. Siswa akan belajar dengan baik jika
yang dipelajarinya terkait dengan pengetahuan dan kegiatan yang telah
diketahuinya dan terjadi di sekelilingnya (Trianto dalam Pramono, 2014).
Model pembelajaran kontekstual (Contexstual Teaching and Learning)
adalah proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa
untuk memahami makna materi ajar dan mengaitkannya dengan konteks
kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga
siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk
mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya (Hasibuan, 2014).
Dari beberapa ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa Contextual
Teaching and Learning adalah model pembelajaran yang mengaitkan
kehidupan sehari-hari dan memberikan kesempatan pada siswa untuk
membangun pemahamannya sendiri dengan cara mengamati secara langsung
materi yang hendak dipelajari, berdiskusi dengan teman satu kelompok dan
bertukar pikiran dengan teman satu kelas tentang apa yang mereka pelajari.
Hal ini diharapkan pengalaman belajar siswa akan lebih bermakna dan
pembelajaran di kelas menjadi lebih hidup.
2. Manfaat Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Adapun manfaat dari CTL antara lain adalah kemampuan pemahaman
konsep akan lebih baik. Hal ini disebabkan anak mengalami langsung dalam
kehidupan nyata. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima
informasi dari guru, namun kelas digunakan untuk saling membelajarkan
(Rahman, 2020).
Dari pendapat tersebut dapat kita simpulkan bahwa model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning bermanfaat dalam pembelajaran siswa
terutaman materi-materi yang dapat dikaitkan langsung dengan kehidupan
sehari-hari. Dimana siswa dapat merasakan pengalaman langsung dalam
mempelajari materi tersebut.
3. Komponen pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Terdapat 7 (tujuh) komponen pembelajaran kontekstual yaitu
konstruktivisme, penemuan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan,
refleksi, dan penilaian otentik (Nurhadi dalam Hasibuan, 2014).
a) Konstruktivisme (Constructivism).
Konstruktivisme adalah mengembangkan pemikiran siswa akan
belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri,
dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
Menurut Sardiman, teori atau aliran ini merupakan landasan berfikir bagi
pendekatan kontekstual (CTL).
Pengetahuan riil bagi para siswa adalah sesuatu yang dibangun atau
ditemukan oleh siswa itu sendiri. Jadi pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta, konsep atau kaidah yang diingat siswa, tetapi siswa harus
merekonstruksi pengetahuan itu kemudian memberi makna melalui
pengalaman nyata.
b) Menemukan (Inquiry).
Menemukan atau inkuiri adalah proses pembelajaran yang didasarkan
pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara
sistematis, yaitu proses pemindahan dari pengamatan menjadi
pemahaman sehingga siswa belajar mengunakan keterampilan berfikir
kritis. Menurut Lukmanul Hakiim, guru harus merencanakan situasi
sedemikian rupa, sehingga para siswa bekerja menggunakan prosedur
mengenali masalah, menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur
penelitian/investigasi, dan menyiapkan kerangka berfikir , hipotesis, dan
penjelasan yang relevan dengan pengalaman pada dunia nyata.
c) Bertanya (questioning).
Bertanya, yaitu mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui dialog
interaktif melalui tanya jawab oleh keseluruhan unsur yang terlibat dalam
komunitas belajar. Dengan penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih
hidup, akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas
dan mendalam.
Dengan mengajukan pertanyaan, mendorong siswa untuk selalu
bersikap tidak menerima suatu pendapat, ide atau teori secara mentah. Ini
dapat mendorong sikap selalu ingin mengetahui dan mendalami
(curiosity) berbagai teori, dan dapat mendorong untuk belajar lebih jauh.
d) Masyarakat Belajar (learning community).
Konsep masyarakat belajar (learning community) ialah hasil
pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Guru
dalam pembelajaran kontekstual (CTL) selalu melaksanakan
pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen.
Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu
yang belum tahu, dan seterusnya.
Dalam praktiknya masyarakat belajar terwujud dalam pembentukan
kelompok kecil, kelompok besar, bekerja sama dengan kelas paralel,
bekerja kelompok dengan kelas di atasnya, bekerja sama dengan
masyarakat.
e) Pemodelan (modeling)
Dalam pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, perlu
ada model yang bisa ditiru oleh siswa. Model dalam hal ini bisa berupa
cara mengoperasikan, cara melempar atau menendang bola dalam olah
raga, cara melafalkan dalam bahasa asing, atau guru memberi contoh cara
mengerjakan sesuatu. Guru menjadi model dan memberikan contoh
untuk dilihat dan ditiru. Apapun yang dilakukan guru, maka guru akan
bertindak sebagai model bagi siswa. Ketika guru sanggup melakukan
sesuatu, maka siswapun akan berfikir sama bahwa dia bisa
melakukannya juga.
f) Refleksi (Reflection).
Refleksi merupakan upaya untuk melihat, mengorganisir,
menganalisis, mengklarifikasi, dan mengevaluasi hal-hal yang telah
dipelajari. Realisasi praktik di kelas dirancang pada setiap akhir
pembelajaran, yaitu dengan cara guru menyisakan waktu untuk
memberikan kesempatan bagi para siswa melakukan refleksi berupa :
pernyataan langsung siswa tentang apa-apa yang diperoleh setelah
melakukan pembelajaran, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan
saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, diskusi, dan hasil karya.
g) Penilaian Otentik (Authentic assessment).
Pencapaian siswa tidak cukup hanya diukur dengan tes saja, hasil
belajar hendaknya diukur dengan assesmen autentik yang bisa
menyediakan informasi yang benar dan akurat mengenai apa yang benar-
benar diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa atau tentang kualitas
program pendidikan. Penilaian otentik merupakan proses pengumpulan
berbagai data untuk memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Data ini dapat berupa tes tertulis, proyek (laporan kegiatan), karya siswa,
performance (penampilan presentasi) yang terangkum dalam portofolio
siswa.
D. Karakteristi Siswa
Masa usia SD sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia 6
tahun sampai 11 atau 12 tahun. Pada masa ini, siswa usia SD memiliki
karakteristik utama yaitu menampilkan perbedaan-perbedaan individual dan
personal dalam banyak segi dan bidang diantaranya perbedaan dalam intelegensi,
kemampuan kognitif dan bahasa,serta perkembangan kepribadian dan
perkembangan fisik. Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia
sekolah atau masa SD. Masa kanak-kanak akhir dibagi menjadi dua fase, yaitu:
1. Masa kelas rendah Sekolah Dasar yang berlangsung antara usia 6 atau 7 tahun
sampai 9 atau 10 tahun, biasanya siswa duduk di kelas 1, 2, dan 3 Sekolah
Dasar.
2. Masa kelas tinggi Sekolah Dasar yang berlangsung antara usia 9 atau 10 tahun
sampai 12 atau 13 tahun, biasanya siswa duduk di kelas 4, 5, dan 6 Sekolah
Dasar.
(Felicia, 2022).
Adapun Menurut Izzaty ciri-ciri khas siswa masa kelas tinggi Sekolah Dasar
adalah:
1. Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari.
2. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis.
3. Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus (Izzaty dalam Ramlah, 2022).
John W. Santrock juga mengemukakan bahwa selama tahapan operasional
konkret siswa dapat menunjukkan operasioperasi konkret, berpikir logis,
mengklasifikasikan benda, dan berpikir tentang relasi antara kelas-kelas benda
(Izzati dalam Majid, 2017).
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, karakteristik perkembangan
siswa kelas VI SD berada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, siswa berpikir
atas dasar pengalaman yang konkret atau nyata yang pernah dilihat dan dialami.
Siswa belum bisa berpikir secara abstrak. Karakteristik yang muncul pada
tahap ini dapat dijadikan landasan dalam menyiapkan dan melaksanakan
pembelajaran bagi siswa SD. Pelaksanaan pembelajaran di kelas perlu didesain
menggunakan model pembelajaran yang sesuai dan tepat dengan memperhatikan
karakteristik perkembangan siswa kelas VI SD pada tahap operasional konkret.
Hal tersebut memungkinkan siswa untuk dapat melihat, berbuat sesuatu,
melibatkan diri dalam pembelajaran, serta mengalami langsung pada hal-hal yang
dipelajari.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

A. SUBJEK PENELITIAN

1) Subjek Penelitian
Subjek Penelitian Perbaikan Pembelajaran adalah peserta didik kelas VI
SD Islam Al-Ma’ruf Jakarta Timur dengan jumlah peserta didik
sebanyak 23 siswa dengan rincian 12 laki-laki dan 11 perempuan.
Perbaikan pembelajaran yaitu pelajaran matematika materi bangun
ruang.

Tabel. 3.1
Tabel Subjek Kelas VI
No NIS Nama L /P

1 162-2432 Adinda intan larassati P

2 162-2463 Ahmad syechan L

3 162-2464 Allure sangesthi mahamboro P

4 162-2436 Annisa arba'a miftahun nikmah P

5 162-2438 Aurelia nayla anindhita P

6 162-2468 Brevy athaya ranu L

7 162-2441 Fakhri rifqi mulawarman L

8 162-2443 Galang panji chezza L

9 162-2444 Haerin almirah chey P

10 162-2473 Hanisah zivana yusifa P

11 162-2446 Izzan waldan nitisara L


12 162-2504 Kallio reza ramadhan L

13 162-2449 Khalish hanan adiatmo L

14 192-2453 Maira hanifah jasmine P

15 162-2479 Malik ahmad raditya L

16 162-2450 Muhammad danu alam L

17 162-2480 Muhammad ihsan 'azami L

18 192-2746 Mylandre rakha athalah L

19 162-2506 Najwa adelia ramadhani P

20 162-2502 Quinsha filia hafshah P

21 162-2459 Reynard raissa al-irshad L

22 162-2483 Sahla khairunnisa P

23 192-2752 Syah meivi ladysta P

2) Lokasi/Tempat Penelitian
Lokasi penelitian dan perbaikan pembelajaran dilaksanakan di SD Islam Al-
Ma’ruf Jakarta Timur.

Gambar 3.1
Gedung SD Islam Al-Ma’ruf Jakarta Timur
SD tersebut beralamat di Jalan Raya Lapangan Tembak Cibubur,
Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur yang
dilaksanakan pada bulan April - Mei 2022. Pemilihan pada kelas ini didasarkan
atas pertimbangan bahwa hasil belajar matematika kurang memuaskan.
3) Waktu Penelitian
Waktu Pelaksanaan perbaikan pembelajaran matematika materi bangun ruang
dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus pada semester genap tahun
2021/2022. Waktu pelaksanaan siklus I yaitu tanggal 25 April 2022, sedangkan
siklus II dilaksanakan tanggal 9 Mei 2022.

Tabel 3.2
Jadwal Penelitian
Kegiatan Pertemuan Tanggal

Siklus I I Senin, 25 April 2022

Siklus II I Senin, 9 Mei 2022

4) Pihak yang membantu


Dalam Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas ini, penulis mendapat
bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil, terutama dari
supervisor :

Gambar 3.2
Kepala SD Islam Al Ma’ruf, Jakarta Timur
Nama : Khudzaifah, [Link]
Tempat Tanggal Lahir : Mojokerto, 09 Juli 1976
Pendidikan : S1
Jabatan : Kepala SD Islam Al-Ma’ruf
Alamat : Jalan Muara No.31 RT. 004 / RW 03
Tanjung Barat Jagakarsa, Jakarta Selatan
No Hp : 081513337190

B. DESAIN PROSEDUR PERBAIKAN PEMBELAJARAN


1. Metodologi Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus yang
masing- masing terdapat empat tahapan yang dilalui, yaitu tahap: (a)
perencanaan, (b) pelaksanaan, (c) observasi dan (d) refleksi. Perlu diketahui
bahwa tahapan pelaksanaan dan pengamatan harus dilakukan secara
bersamaan.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diawali dari siklus pertama yang
terdiri dari empat tahapan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan
hambatan yang muncul dari yang dilaksanakan pada siklus pertama,
selanjutnya menentukan rancangan untuk kegiatan siklus kedua.
2. Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Prosedur dalam penelitian dilakukan dalam 2 siklus. Adapun langkah-
langkah yang dilakukan adalah meliputi:
a. Perencanaan
Perencanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dalam 2 kegiatan
yaitu kegiatan siklus 1 pada tanggal 25 April 2022, dan kegiatan siklus
2 pada tanggal 9 Mei 2022. Lokasi penelitian di laksanakan di SD Islam
Al Ma’ruf yang berlokasi di Jalan Raya Lapangan Tembak Cibubur,
Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.
Adapun objek penelitian adalah siswa kelas VI Sekolah Dasar.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilakukan pada siswa kelas VI
SD Islam Al Ma’ruf mulai dari tanggal 25 April 2022.
c. Pengamatan
a) Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan untuk menjaring data penelitian
(research) adalah tes dan non tes.
1. Non Tes
Non tes merupakan suatu teknik penilaian untuk memperoleh gambaran
terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian siswa. Selama ini
teknik non tes memang kurang digunakan dibandingkan teknis tes. Di dalam
proses pembelajaran pada umumnya kegiatan penilaian mengutamakan
teknik tes. Hal ini disebabkan oleh lebih berperannya aspek pengetahuan
dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan guru pada
saat menentukan pencapaian hasil belajar siswa. Jenis teknik non tes yang
biasa diberikan guru antara lain: observasi, dokumentasi dan catatan
lapangan.
❖ Observasi
Peneliti melakukan pegamatan tingkah laku siswa ketika melakukan
pembelajaran.
❖ Dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian ini untuk memperoleh data berdasarkan
sumber data yang ada di kelas yaitu berupa hasil nilai pra siklus, siklus
1 dan siklus 2 pada siswa kelas VI SD Islam Al Ma’ruf.
❖ Catatan Lapangan
Catatan lapangan ini berisi kegiatan penelitian antara guru dan siswa
baik berupa kekurangan atau hal-hal yang dianggap perlu ditambahkan
guna menyempurnakan penelitian yang sedang dilakukan.
2. Tes
Tes adalah teknik memberikan sejumlah pertanyaan yang memiliki jawaban
yang benar atau salah. Tes juga diartikan sebagai sejumlah pertanyaan yang
membutuhkan jawaban, atau sejumlah pertanyaan yang harus diberikan
tanggapan dengan tujuan mengukur tingkat kemampuan seseorang atau
mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai tes. Ada beberapa jenis
tes seperti tes pilihan ganda, tes benar atau salah, tes menjodohkan dan tes
isian.
b) Instrument Penelitian
1. Definisi Konseptual
Bangun ruang adalah salah satu materi lanjutan dari bangun datar.
Bangun ruang yang dipelajari di kelas 6 terdiri dari kubus, balok, tabung,
prisma, limas kerucut dan bola. Materinya terdiri dari menentukan unsur-
unsur yang ada pada bangun ruang, mencari volume, sampai luas
permukaan. Selain materi tersebut adapula aplikasi mencari volume dan
luas permukaan benda-benda bangun ruang yang ada di kehidupan
sehari-hari.
2. Definisi Operasional
Kemampuan siswa dalam menyelesaikan latihan soal matematika yang
berhubungan dengan unsur-unsur yang ada pada bangun ruang, mencari
volume dan luas permukaan bangun ruang . Skor diperoleh dari hasil
pengamatan aktivitas siswa dalam mengerjakan latihan soal-soal
matematika sebagai bentuk respon dari tindakan yang diberikan.
Tabel 3.3
KISI-KISI SOAL EVALUASI
No. Kompetensi Materi Indikator Bentuk No.
Dasar Soal Soal
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Membandingkan Bangun Siswa Pilihan 1,2,7
prisma, tabung, Ruang mampu ganda
limas, kerucut, membandin
dan bola gkan
bangun
ruang
Siswa Pilihan 3,
mampu Ganda 5,8,10
menidentifi
kasi unsur-
unsur
bangun
ruang.
Siswa Pilihan 4,6,9
mampu Ganda
mengerjaka
n soal yang
berkaitan
dengan
volume dan
luas
permukaan

3. Instrumen
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar!
1. Diantara bangun ruang berikut ini yang merupakan prisma adalah…

2. Sebuah bangun ruang terdiri atas empat sisi. Bangun ruang yang
mungkin adalah…
a. Prisma segitiga
b. Prisma segiempat
c. Limas segi tiga
d. Limas segi empat
3. Bangun ruang yang memiliki dua rusuk, tiga sisi, alasnya berbentuk
lingkaran, dan tidak memiliki titik sudut adalah ciri-ciri dari bangun…
a. Limas segitiga
b. Kerucut
c. Tabung
d. Bola
4. Bangun ruang yang memiliki bentuk dan ukuran sisi alas dan sisi atasnya
sama dinamakan…
a. Setengah bola
b. Kerucut
c. Prisma Segitiga
d. Limas segiempat
5. Perhatikan gambar berikut!

Gambar diatas adalah contoh bangun ruang jenis…


a. Kubus
b. Prisma segitiga
c. Balok
d. Limas segiempat
6. Suatu bangun datar mempunyai dua pasang sisi. Sisi-sisi yang
berhadapan sama panjang dan sejajar. Bangun tersebut adalah…
a. Persegi
b. Persegi panjang
c. Belah ketupat
d. Layang-layang
7. Memiliki 2 sisi, 1 rusuk, 1 titik sudut dan alasnya berbentuk lingkaran
adalah ciri-ciri dari bangun ruang…
a. Tabung
b. Kerucut
c. Bola
d. Limas segitiga
8. Sebuah tabung memiliki panjang jari-jari alas 40 cm dan tinggi 20 cm.
Volume tabung tersebut adalah…listrik
a. 10, 048
b. 100,48
c. 1.004,8
d. 10.048
9. Sebuah limas memiliki alas berbentuk persegi. Volume limas tersebut
adalah 10.800 cm3. Jika tinggi limas 27 cm, luas alas limas tersebut
adalah…
a. 1.200 cm2
b. 1.400 cm2
c. 1.600 cm2
d. 1.800 cm2
10. Kaleng besar berbentuk tabung akan diisi penuh dengan air
menggunakan kaleng kecil. Ukuran diameter kaleng 28 cm dan tinggi 30
cm. Ternyata kaleng besar akan terisi dengan air sebanyak…..kaleng
kecil.
a. 18
b. 20
c. 25
d. 40

d. Refleksi
Pada tahap refleksi ini merupakan uraian mengenai prosedur analisis
proses kegiatan mengingat kembali apa yang telah dilakukan terhadap
penelitian dan pelaksanaan proses pembelajaran. Peneliti melakukan
refleksi, mengkaji proses pembelajaran yang telah dilakukan yaitu berupa
kegiatan antara siswa dan guru, serta hasil belajar yang diperoleh. Apakah
sudah mencapai standar ketuntasan minimum dan kefektifan pembelajaran
dengan melihat ketercapaian dalam indicator daftar permasalahan dan
hambatan yang terjadi dalam siklus pertama, kemudian membuat
perencanaan tindak lanjut perbaikan untuk siklus kedua.

C. Teknik Analisa Data


Jenis penelitian ini adalah tindakan atau action research. Dengan
menggunakan penelitian tindakan, masalah-masalah pembelajaran dapat
dituntaskan, sehingga proses pembelajaran yang inovatif dapat diaktualisasikan
secara sistematis. Setelah mengalisis semua tindakan pada siklus 1 dan siklus 2,
lalu hal yang harus dilakukan adalah merefleksi strategi yang dilakukan dalam
tindakan kelas dan diharapkan siswa mengalami peningkatan hasil belajar.
Data-data yang telah dicatat dalam lembar pengamatan baik siswa atau
guru serta penilaian dalam menyelesaikan lembar kerja dianalisis untuk
mendapat kesimpulan. Hasil analisis ini menentukan apakah pada setiap tahapan
sudah menunjukkan peningkatan atau belum. Karena hasil refleksi ini dilakukan
untuk menentukan tingkat keberhasilan dari tindakan yang telah dilakukan.

Nilai Kompetensi Dasar


NKD = Σ skor benar
Σ soal

Keterangan:
NKD = Nilai Kompetensi Dasar
Σ skor benar = Jumlah skor nilai yang benar dari
setiap butir soal
Σ soal = Jumlah seluruh soal yang diujikan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


1. Temuan Awal
Dari fakta yang didapatkan dari hasil prasiklus yang dilakukan
seminggu sebelum siklus I dimulai, diketahui bahwa nilai ulangan harian
mata pelajaran matematika siswa kelas VI dari 23 orang siswa yang terdiri
dari 12 siswa laki-laki dan 11 siswi perempuan, belum maksimal karena
masih ada nilai siswa yang jauh di dibawah KKM. Adapun hasil belajar yang
diperoleh pada awal pembelajaran adalah berikut ini:
Tabel 4.1
HASIL PEROLEHAN NILAI PRASIKLUS
NILAI
NO NAMA SISWA KETERANGAN
PRASIKLUS

1 Adinda intan larassati 60 Tidak Tuntas

2 Ahmad syechan Tuntas


80

3 Allure sangesthi mahamboro 90 Tuntas

4 Annisa arba'a miftahun nikmah 60 Tidak Tuntas

5 Aurelia nayla anindhita 60 Tidak Tuntas

6 Brevy athaya ranu Tidak Tuntas


40

7 Fakhri rifqi mulawarman 80 Tuntas

8 Galang panji chezza Tidak Tuntas


60

9 Haerin almirah chey 40 Tidak Tuntas

10 Hanisah zivana yusifa 90 Tuntas

11 Izzan waldan nitisara 60 Tidak Tuntas


12 Kallio reza ramadhan 50 Tidak Tuntas

13 Khalish hanan adiatmo Tuntas


80

14 Maira hanifah jasmine Tidak Tuntas


60

15 Malik ahmad raditya Tidak Tuntas


40

16 Muhammad danu alam 40 Tidak Tuntas

17 Muhammad ihsan 'azami Tidak Tuntas


40

18 Mylandre rakha athalah Tidak Tuntas


50

19 Najwa adelia ramadhani 40 Tidak Tuntas

20 Quinsha filia hafshah Tuntas


90

21 Reynard raissa al-irshad Tuntas


80

22 Sahla khairunnisa Tidak Tuntas


40

23 Syah meivi ladysta Tidak Tuntas


40
Jumlah 1.370
Rata- rata 59,56
KKM
Persentase Tuntas 69,57%
Persentase Tidak Tuntas 30,43% 70
Nilai Terendah 40
Nilai Tertinggi 90

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa pada pembelajaran pra siklus, hanya
7 siswa (30,43%) yang sudah mencapai nilai KKM dan 16 siswa (69,57%) belum
dapat mencapai KKM.
Data hasil nilai pra siklus diatas dapat disimpulkan kedalam sebuah table perolehan nilai
hasil belajar sebagai berikut:
Tabel 4.2
Distribusi Hasil Belajar Prasiklus
NO SKOR (S) FREKUENSI (F) SXF

1 40 8 320
2 50 2 100
3 60 6 360
4 80 4 320
5 90 3 270

Rata-rata 59,56
Tuntas 7 Siswa ( 30,43 %)
Tidak Tuntas 16 Siswa (69,57 %)
KKM 70

Grafik 4.1
Distribusi Hasil Belajar Prasiklus

Grafik Distribusi Hasil Belajar Studi Awal


Frekuensi
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
40 50 60 80 90

2. SIKLUS 1
a. Perencanaan Siklus 1
Kegiatan siklus 1 akan direncanakan sebanyak 1 kali pada kelas 6 pada
pelajaran 4 materi bangun ruang di semester 2 Tahun Pelajaran
2021/2022. Dengan rincian sebagai berikut
b. Pelaksanaan Siklus 1
Pelaksanaan tindakan siklus 1 dilaksanakan dalam waktu satu kali
pertemuan, dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pertemuan pada siklus 1
dilaksanakan pada hari Senin, 25 April 2022. Pada pukul 08.10 sampai
09.20.
1) Catatan Lapangan
Catatan lapangan selama siklus 1 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Catatan Lapangan Siklus 1

Waktu Tahapan Aktivitas Guru

10 Kegiatan ❖ Guru memberi salam, menayakan


menit Awal kabar siswa dan mengajak siswa
berdo’a sebelum memulai belajar.
❖ Guru mananyakan apakah siswa
sudah siap belajar
❖ Guru menginformasikan materi yang
akan diajarkan pada hari ini yaitu
bangun ruang dan mengaitkannya
dengan materi yang dulu siswa sudah
dapatkan di kelas 5 semester 2.
❖ Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran pada materi bangun
ruang.
❖ Guru menyampaikan bahwa
pembelajaran hari ini akan
menggunakan model pembelajaran
Contextual Teaching Learning
(CTL).
50 Kegiatan Tahap Kontruktivis
menit Inti
❖ Guru sebelumnya sudah
mengelompokkan siswa kedalam
kelompok belajar yang heterogen
baik dari segi kemampuan maupun
jenis kelamin.
❖ Guru menggali pengetahuan awal
siswa tentang bangunan terkenal
didunia yang termasuk kedalam
bentuk bangun ruang, seperti
ka’bah, piramida dll.
❖ Guru memberi motivasi kepada
siswa untuk bersemangat dalam
melakukan pembelajaran dengan
mengaitkan benda-benda yang
berbentuk bangun ruang.
❖ Siswa dibagikan LKS yang akan
dibahas oleh setiap kelompok pada
Google Classroom atau WA Grup.

Tahap Inquiry (menemukan)

❖ Guru menyiapkan benda-benda


yang termasuk bangun ruang
yang bersifat kongkret.
❖ Guru menugaskan siswa untuk
mengamati benda-benda yang
didemonstrasikan oleh guru
untuk dibahas mana yang
termasuk rusuk, titik sudut, dan
sisinya.
Tahap Questioning (menanyakan)

❖ Guru membantu siswa dalam


memahami rusuk, titik sudut, dan
sisi bangun ruang yang sedang di
pelajari.

❖ Siswa diminta agar dapat


menggolongkan benda-benda
yang dibawa oleh guru apakah
bangun ruang kubus, balok,
prisma, limas ataupun tabung.

Tahap Learning Community


❖ Guru menugaskan siswa untuk
berdiskusi dengan anggota
kelompoknya melalui WA grup
atau Google Meet sesuai dengan
kelompok yang sudah dibagikan
oleh guru.

Tahap Modelling
❖ Guru menyiapkan contoh bangun
ruang yang nyata kepada siswa.

Tahap Reflection
❖ Guru menugaskan siswa
mengidentifikasi benda-benda
yang berada disekitar yang
berbentuk bangun ruang.
❖ Guru menugaskan untuk
meyimpulkan rusuk dan sisinya
bangun ruang kubus melalui
pengalaman belajarsiswa.
❖ Guru memberikan penghargaan
bagi kelompok terbaik yang
dapat berbagi pendapat dengan
baik dan benar.

10
Kegiatan Tahap (Authentic Assesment)
menit
Penutup ❖ Mengevaluasi siswa dengan
memberikan beberapa soal yang
berkaitan dengan rusuk dan sisi
bangun ruang kubus.
❖ Guru bersama-sama siswa
membuat kesimpulan.
❖ Mengajak semua siswa berdoa
dan memberi salam.

2) Refleksi
Refleksi yang diperoleh pada siklus 1 adalah sebagai berikut :
Kelebihan
a) Guru sudah baik dalam penyampaian materi.
b) Guru sudah melaksanakan tahapan model pembelajaran Contextual Teaching
Learning (CTL) pada kegiatan pembelajaran secara berurutan.
Kekurangan
a) Suara dalam video pembelajaran masih terlalu kecil, sehingga kurang jelas
didengar.
b) Tampilan dari video pembelajaran masih kurang menarik.
c) Tulisan pada papan tulis masih kurang jelas dan papan tulis kurang bersih.
Berdasarkan hasil tersebut maka perbaikan pada pertemuan berikutnya adalah:
a) Memperbaiki kwalitas suara pada video.
b) Memperbaiki tampilan video sehingga lebih menarik untuk dilihat.
c) Menggunakan latar belakang virtual sehingga papan tulis menjadi lebih
bersih.
c. Observasi Siklus 1
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus satu ini suara guru pada video tidak
jelas, pencahayaan pada video kurang terang, latar belakang dari video tidak
menarik, semua benda-benda yang ditampilkan oleh guru kurang terlihat dengan
jelas.
d. Refleksi Siklus 1
Hasil belajar matematika siswa pada materi bangun ruang pada siklus 1 lebih
baik dari prasiklus. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa pada pembelajaran
siklus I, terdapat 14 siswa (60,86%) yang dinyatakan tuntas karena mereka telah
memperoleh nilai di atas KKM dan 9 siswa (39,14%) dinyatakan belum tuntas
karena nilai yang mereka peroleh masih di bawah KKM. Untuk KKM
matematika pada kelas VI SD Islam Al Ma’ruf adalah 70. Nilai tertinggi yang
diperoleh siswa adalah 100, sedangkan nilai terendahnya adalah 50.
Pembelajaran sudah berlangsung cukup baik, namun saat tahap Learning
Community siswa masih kesulitan untuk berdiskusi secara online. Selain itu pada
tahap modeling siswa mengalami keterbatasan dalam keberagaman bentuk benda
yang dimiliki. Hal ini menjadi perhatian dari guru untuk mencari solusi yang
lebih baik pada siklus ke 2.
Adapun hasil belajar matematika siswa pada siklus 1 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4
Hasil Belajar Siswa Siklus 1

NO. NAMA SIKLUS 1 KETERANGAN

1. Adinda intan larassati 80 Tuntas

2. Ahmad syechan Tuntas


90
3. Allure sangesthi
100 Tuntas
mahamboro
4. Annisa arba'a miftahun
80 Tuntas
nikmah

5. Aurelia nayla anindhita Tuntas


90
6. Brevy athaya ranu Tidak Tuntas
60
7. Fakhri rifqi
80 Tuntas
mulawarman

8. Galang panji chezza Tuntas


70
9. Haerin almirah chey Tuntas
70
10. Hanisah zivana yusifa Tuntas
80
11. Izzan waldan nitisara 70 Tuntas

12. Kallio reza ramadhan Tidak Tuntas


60
13. Khalish hanan adiatmo Tuntas
80
14. Maira hanifah jasmine Tidak Tuntas
60
15. Malik ahmad raditya Tidak Tuntas
50
16. Muhammad danu alam Tidak Tuntas
60
17. Muhammad ihsan
60 Tidak Tuntas
'azami

18. Mylandre rakha athalah Tidak Tuntas


60
19. Najwa adelia ramadhani Tidak Tuntas
50
20. Quinsha filia hafshah Tuntas
100
21. Reynard raissa al-irshad Tuntas
90
22. Sahla khairunnisa Tidak Tuntas
60
23. Syah meivi ladysta Tidak Tuntas
50

Jumlah 1.660

Rata- rata 72, 17


Persentase Tuntas 60,86% KKM 70
Persentase Tidak Tuntas 39,14%
Nilai Terendah 60
Nilai Tertinggi 100

Tabel 4.5
Distribusi Hasil Belajar Siklus 1
NO SKOR (S) FREKUENSI (F) SXF
1 50 3 150
2 60 7 420
3 70 3 210
4 80 5 400
5 90 3 270
6 100 2 200
Rata-rata 72,17
Tuntas 14 Siswa ( 60,86 %)
Tidak Tuntas 9 Siswa (39,14 %)
KKM 70

Grafik 4.2
Distribusi Hasil Belajar Prasiklus

Grafik Distribusi Hasil Belajar Studi Awal


Frekuensi
120
100
80
60
40
20
0

Berdasarkan data dari pra siklus kemudian dibuat perbadingan dengan hasil dari
siklus 1, hasilnya dapat dilihat pada tabel seperti berikut :
Tabel 4.6
Nilai Perbandingan Pra Siklus & Siklus 1
PRA
NO. NAMA SIKLUS 1 KETERANGAN
SIKLUS
1. Adinda intan larassati 60 80 Tuntas

2. Ahmad syechan Tuntas


80 90
3. Allure sangesthi
90 100 Tuntas
mahamboro

4. Annisa arba'a miftahun


60 80 Tuntas
nikmah

5. Aurelia nayla anindhita 60 Tuntas


90
6. Brevy athaya ranu Tidak Tuntas
40 60
7. Fakhri rifqi
80 80 Tuntas
mulawarman

8. Galang panji chezza Tuntas


60 70
9. Haerin almirah chey 40 Tuntas
70
10. Hanisah zivana yusifa 90 Tuntas
80
11. Izzan waldan nitisara 60 70 Tuntas

12. Kallio reza ramadhan 50 Tidak Tuntas


60
13. Khalish hanan adiatmo Tuntas
80 80
14. Maira hanifah jasmine Tidak Tuntas
60 60
15. Malik ahmad raditya Tidak Tuntas
40 50
16. Muhammad danu alam 40 Tidak Tuntas
60
17. Muhammad ihsan
40 60 Tidak Tuntas
'azami

18. Mylandre rakha athalah Tidak Tuntas


50 60
19. Najwa adelia ramadhani 40 Tidak Tuntas
50
20. Quinsha filia hafshah Tuntas
90 100
21. Reynard raissa al-irshad Tuntas
80 90
22. Sahla khairunnisa Tidak Tuntas
40 60
23. Syah meivi ladysta Tidak Tuntas
40 50

Beradasarkan tabel tersebut, dapat dibuat grafik menjadi sebagai berikut


Grafik 4.3
Grafik Perbandingan Nilai Pra Siklus dan Siklus 1

Grafik Perbandingan Nilai Pra Siklus dan Siklus 1


120

100

80

60

40

20

Pra Siklus Siklus I


Dari hasil analisis data nilai yang diperoleh siswa pada siklus 1 dapat diketahui bahwa
terjadi peningkatan hasil dan ketuntasan hasil belajar. Diketahui bahwa secara statistik
terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari sebelumnya yaitu 30,43% menjadi 60,86%
siswa yang tuntas atau diatas KKM. Namun, perubahan tersebut belum mencapai target
yang diinginkan dalam penelitian ini. Dari hasil evaluasi pada siklus pertama aspek
proses pembelajaran masih kurang baik. Masih ada beberapa siswa yang kebingungan
menentukan rusuk dan sisi bangun ruang. Berdasarkan keadaan tersebut,maka hasil
belajar matematika pada materi bangun ruang dari siklus 1 dianggap masih kurang
maksimal.
Maka peneiti memutuksan untuk melanjutkan ke siklus 2 dengan perbaikan sebagai
berikut :
1. Menambahkan gambar benda-benda yang berbentuk bangun ruang yang ada di
kehidupan sehari-hari.
2. Memberikan materi bangun ruang yang lebih menarik dan menyampaikan manfaat
dari pembelajaran bangun ruang yang berkaitan langsung dalam kehidupan siswa
sehari-hari.
3. Memberikan perhatian dan motivasi yang lebih kepada siswa.
3. SIKLUS 2
a. Perencanaan Siklus 2
Pada tahap perencanaan siklus 2 ini, peneliti melakukan kegiatan penyusunan
rencana perbaikan pembelajaran matematika pada materi bangun ruang yang
mengacu pada perbaikan kekurangan saat pelaksanaan RPP siklus 1. Sesuai
dengan perencanaan tindakan, maka penelitian dilanjutkan pada siklus kedua
pada minggu berikutnya.
b. Pelaksanaan Siklus 2
Pada siklus kedua dilaksanakan dalam satu kali pertemuan dengan alokasi
waktu 2 x 35 menit. Siklus 2 diadakan pada hari Senin, 9 Mei 2022 pukul 08.10
– 09.20.
1) Catatan Lapangan
Catatan lapangan selama siklus 2 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7
Catatan Lapangan Siklus 2

Waktu Tahapan Aktivitas Guru


08.10 – Kegiatan ❖ Guru memberi salam dan mengajak semua
08.20 Awal siswa berdo’a sebelum memulai belajar.
❖ Guru menginformasikan materi yang akan
diajarkan pada hari ini yaitu bangun ruang.
❖ Guru menjelaskan manfaat mempelajari
bangun ruang yang berkaitan langsung
dengan kehidupan nyata.
❖ Guru menyampaikan bahwa hari ini akan
menggunakan model pembelajaran
Contextual Teaching Learning (CTL).

08.20 – Kegiatan Tahap Kontruktivis


09.10 Inti ❖ Menggali pengetahuan awal siswa tentang
bangunan terkenal didunia yang termasuk
kedalam bentuk bangun ruang seperti
Ka’bah, Piramida, Menara miring Pisa dll.
❖ Guru memberi motivasi kepada siswa
dengan menjelaskan tujuan mempelajari
materi bangun ruang dan
menghubungkannya kedalam kehidupan
sehari-hari.
❖ Guru sebelumnya sudah mengelompokkan
siswa kedalam kelompok belajar yang
heterogen baik dari segi kemampuan
maupun jenis kelamin dan mengirimkan
nama kelompok dan anggotanya ke WA
grup.
❖ Guru mengirimkan LKS yang akan
dibahas oleh setiap kelompok kedalam
Google Classroom.

Tahap Inquiry (menemukan)


❖ Guru menyiapkan benda-benda yang
termasuk bangun ruang yang bersifat
kongkret seperti dadu, toples kue,
kardus kue, botol body locion, topi
ulang tahun dan lain-lain.
❖ Guru menugaskan siswa untuk
mengamati bangun ruang kubus, balok,
prisma, limas, tabung dan kerucut
sehingga dapat mengetahui rusuk, titik
sudut, dan sisinya.

Tahap Questioning (menanyakan)

❖ Guru memotivasi siswa agar dapat


mengungkapkan mana rusuk, titik
sudut, dan sisinya pada bangun ruang-
bangun ruang yang sedang dipelajari
dengan menggunakan kata-kata sendiri.
❖ Guru memberikan pertanyaan kepada
siswa benda-benda apa saja yang
tergolong kedalam kubus, balok, prisma,
limas, tabung dan kerucut.

Tahap Learning Community


❖ Guru menugaskan siswa untuk berdiskusi
dengan anggota kelompoknya melalui
google meet atau wa grup.

Tahap Modelling
❖ Guru memberikan contoh bangun ruang
yang ada dikehidupan sehari-hari.

Tahap Reflection
❖ Guru menugaskan siswa
mengidentifikasi benda-benda yang
berada disekitar yang berbentuk bangun
ruang dan mengelompokannya
kedalam kubus, balok, prisma, limas,
tabung dan kerucut.
❖ Guru menugaskan untuk meyimpulkan
rusuk dan sisinya bangun ruang kubus,
balok, prisma, limas, tabung dan
kerucut melalui pengalaman belajar
siswa.

09.10 – Kegiatan
09.20 Tahap (Authentic Assesment)
Penutup
❖ Guru mengevaluasi siswa dengan
memberikan beberapa soal yang
berkaitan dengan rusuk, sisi dan titik
sudut bangun ruang kubus, balok,
prisma, tabung, limas dan kerucut.
❖ Guru membuat kesimpulan tentang
materi yang dibahas hari ini.
2) Refleksi
Kelebihan pada pelaksanaan siklus 2 yaitu kegiatan yang diterapkan oleh guru
sudah sangat jelas jika disbanding dengan siklus 1. Berdasarkan kegiatan pada
pertemuan tesebut dapat diketahui bahwa kelebihan dan kekurangannya adalah
sebagai berikut :
Kelebihan
a) Suara pada video sudah terdengar dengan jelas.
b) Tampilan video sudah sangat menarik dan pencahayaannya terang.
c) Pada video guru sudah melaksanakan tahapan model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan baik.
e. Observasi
Dari hasil pengamatan pada siklus dua ini suara guru pada video terdengar
sangat jelas, pencahayaan pada video bagus, latar belakang dari video colourful
dan menarik, semua benda-benda yang ditampilkan oleh guru terlihat dengan
jelas.
f. Refleksi Siklus 2
Setelah proses pembelajaran siklus 2 selesai, peneliti dapat melihat perbedaan
yang ada pada siklus 1 dan siklus 2. Pada siklus 1 ada beberapa siswa yang masih
terkendala dalam membedakan rusuk dan sisi, namun pada siklus 2 siswa sudah
dapat membedakan sisi dan rusuk dengan baik. Pada siklus 2 guru lebih banyak
mengenalkan benda-benda yang berbentuk bangun ruang baik secara kongkrit
maupun dengan bantuan gambar tiga dimensi, sehingga siswa mampu untuk
mengenal lebih banyak dan mengidentifikasi masing-masing benda tergolong
dalam bentuk kubus, balok, prisma, limas, tabung ataupun kerucut. Dari hasil
catatan dan tes hasil belajar siswa ternyata ada 2 siswa yang belum mencapai KKM.
Adapun hasil tes belajar siswa pada siklus 2 adalah sebagai berikut:
1. Hasil belajar matematika siswa pada materi bangun ruang dari mulai
prasiklus, siklus 1, dan siklus 2 sudah mengalami kenaikan.
2. Siswa sudah dapat menjelaskan unsur-unsur dalam bangun ruang dengan
baik dan benar.
3. Tingkat pemahaman siswa sudah lebih baik dari siklus 1, hal ini dapat dilihat
dari banyak siswa yang sudah mencapai KKM.
Tabel 4.8
HASIL PEROLEHAN NILAI SIKLUS 2
NILAI
NO NAMA SISWA KETERANGAN
SIKLUS 2

1 Adinda intan larassati 90 Tuntas

2 Ahmad syechan Tuntas


90

3 Allure sangesthi mahamboro 100 Tuntas

Annisa arba'a miftahun


4 90 Tuntas
nikmah

5 Aurelia nayla anindhita Tuntas


90

6 Brevy athaya ranu Tuntas


70

7 Fakhri rifqi mulawarman Tuntas


90

8 Galang panji chezza Tuntas


70

9 Haerin almirah chey Tuntas


90

10 Hanisah zivana yusifa Tuntas


80

11 Izzan waldan nitisara 70 Tuntas

12 Kallio reza ramadhan Tuntas


80

13 Khalish hanan adiatmo Tuntas


80

14 Maira hanifah jasmine Tuntas


80

15 Malik ahmad raditya Tuntas


70

16 Muhammad danu alam Tuntas


80

17 Muhammad ihsan 'azami Tuntas


80
18 Mylandre rakha athalah Tuntas
70

19 Najwa adelia ramadhani Tuntas


70

20 Quinsha filia hafshah Tuntas


100

21 Reynard raissa al-irshad Tuntas


100

22 Sahla khairunnisa Tidak Tuntas


60

23 Syah meivi ladysta Tidak Tuntas


60
Jumlah 2.060
Rata- rata 89,56
KKM
Persentase 91,30%
Nilai Terendah 60 70
Nilai Tertinggi 100

Beradasarkan tabel tersebut, dapat dibuat grafik menjadi sebagai berikut


Grafik 4.4
HASIL PEROLEHAN NILAI SIKLUS 2

120 HASIL PEROLEHAN NILAI SIKLUS 2


100
80
60
40
20
0

Siklus II
Tabel 4.9
Distribusi Hasil Belajar Siklus 2
NO SKOR (S) FREKUENSI (F) SXF

2 60 2 120
3 70 6 420
4 80 6 480
5 90 6 540
6 100 3 300
Rata-rata 89,56
Tuntas 21 Siswa ( 89,56%)
Tidak Tuntas 2 Siswa (8,7 %)
KKM 70

Dengan hasil rata–rata hasil belajar siswa yang telah mencapai 89,56 , peneliti
memutuskan untuk mengakhiri penelitian karena hasil yang didapat sudah baik dan
memenuhi target yang diinginkan. Namun begitu pada siklus II ini masih ada
kekurangan dengan adanya 2 siswa atau 8,7% dari seluruh siswa yang belum dapat
mencapai KKM. Hal tersebut dapat dilihat seperti pada tabel berikut :
Tabel 4.10
Hasil Perolehan Nilai Siklus 1 dan Siklus 2
NO. NAMA SIKLUS 1 SIKLUS 2 KETERANGAN
1. Adinda intan larassati 80 90 Tuntas

2. Ahmad syechan Tuntas


90 90
3. Allure sangesthi
100 100 Tuntas
mahamboro

4. Annisa arba'a miftahun


80 90 Tuntas
nikmah

5. Aurelia nayla anindhita Tuntas


90 90
6. Brevy athaya ranu Tuntas
60 70
7. Fakhri rifqi mulawarman Tuntas
80 90
8. Galang panji chezza Tuntas
70 70
9. Haerin almirah chey Tuntas
70 90
10. Hanisah zivana yusifa Tuntas
80 80
11. Izzan waldan nitisara 70 70 Tuntas

12. Kallio reza ramadhan Tuntas


60 80
13. Khalish hanan adiatmo Tuntas
80 80
14. Maira hanifah jasmine Tuntas
60 80
15. Malik ahmad raditya Tuntas
50 70
16. Muhammad danu alam Tuntas
60 80
17. Muhammad ihsan 'azami Tuntas
60 80
18. Mylandre rakha athalah Tuntas
60 70
19. Najwa adelia ramadhani Tuntas
50 70
20. Quinsha filia hafshah Tuntas
100 100
21. Reynard raissa al-irshad Tuntas
90 100
22. Sahla khairunnisa Tidak Tuntas
60 60
23. Syah meivi ladysta Tidak Tuntas
50 60

Dalam bentuk grafik data tersebut dapat dibandingkan menjadi sebagi berikut:
Grafik 4.5
Hasil Perolehan Nilai Siswa Pada Siklus 1 dan Siklus 2

HASIL PEROLEHAN NILAI SIKLUS 1 DAN SIKLUS 2


Siklus I Siklus II
100
100

100
100

100
90
90
90

90
90
90

90

90

90
80
80

80

80

80
80

80
80
80

80

80
70

70
70
70

70
70

70

70

70
60

60

60

60

60

60

60
60
50

50
Dari hasil siklus 2 yang telah dilakukan ternyata hasil yang di dapat sangat
memuaskan, sehingga tidak perlu dilanjutkan pada tahap berikutnya. Maka
peneliti menyimpulkan bahwa tindakan penelitian ini sudah cukup dan dapat
dihentikan pada siklus 2 karena hasil belajar pencapaiannya meningkat dan
memperoleh target yang diinginkan.

B. PEMBAHASAN DARI SETIAP SIKLUS


Tabel 4.11
Tabel Perbandingan Pra Siklus, Siklus 1, dan Siklus 2
NO. NAMA PRA SIKLUS SIKLUS 1 SIKLUS 2
1. Adinda intan larassati 60 80 90

2. Ahmad syechan
80 90 90
3. Allure sangesthi
90 100 100
mahamboro
4. Annisa arba'a miftahun
60 80 90
nikmah

5. Aurelia nayla
60 90 90
anindhita

6. Brevy athaya ranu


40 60 70
7. Fakhri rifqi
80 80 90
mulawarman

8. Galang panji chezza


60 70 70
9. Haerin almirah chey 40 70 90
10. Hanisah zivana yusifa 90 80 80
11. Izzan waldan nitisara 60 70 70

12. Kallio reza ramadhan 50 60 80


13. Khalish hanan adiatmo
80 80 80
14. Maira hanifah jasmine
60 60 80
15. Malik ahmad raditya
40 50 70
16. Muhammad danu alam 40 60 80
17. Muhammad ihsan 40 60 80

18. Mylandre rakha A 50 60 70

19. Najwa adelia R 40 50 70

20. Quinsha filia hafshah


90 100 100
21. Reynard raissa 80 90 100

22. Sahla khairunnisa


40 60 60
23. Syah meivi ladysta
40 50 60

Grafik 4.6
Perbandingan Nilai Prasiklus, Siklus 1 dan Siklus 2

Perbandingan Nilai Prasiklus, Siklus 1 Dan Siklus 2


120
100
100 100
100 100
100 90 909090 90 9090 90 9090 90 90
80 80 80 8080 8080 80808080 80 80 80 80
80 70 7070 70 7070 70 70 70
60 60 60 60 60 60 60 6060 60 60 60 6060 60
60 50 50 50 50 50
40 40 40 40 40 40 40 40
40
20
0

PRA SIKLUS SIKLUS 1 SIKLUS 2

1. Pembahasan Hasil Pembelajaran Siklus 1 dan Siklus 2


Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus 1 terdapat
peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar matematika siswa jika
dibandingkan dengan hasil prasiklus. Namun masih ada beberapa siswa yang
nilainya dibawah KKM. Diperoleh data bahwa dari 23 orang siswa kelas VI
diketahui bahwa 9 siswa atau sekitar 39,14% yang mendapat nilai rendah atau
di bawah KKM dan 14 siswa atau 60,86% yang mendapat nilai sama dengan
atau diatas KKM.
Namun demikian, perubahan tersebut belum mencapai target yang
diinginkan dalam penelitian ini. Oleh karena itu sesuai rencana maka dilakukan
siklus lanjutan, yaitu siklus 2 untuk pencapaian target yang diinginkan dan
memperbaiki hal-hal yang belum dilakukan pada siklus pertama.
Hal ini sesuai dengan Muslich (Muslich dalam Nababan, 2018) dalam
teorinya yang menyebutkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa,
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada saat siswa dapat menghubungkan bangun ruang dengan benda-benda
yang ada disekitar, maka siswa akan lebih mudah untuk mengenal unsur-unsur
bangun ruang yang [Link] siswa dapat memegang langsung benda tersebut
dan mengobservasi benda tersebut dengan cara menyentuhnya langsung dan
melihat berpa banyak sisi, rusuk dan titik sudut yang ada pada benda tersebut.
Hal ini jauh lebih efektif dibandingkan siswa hanya melihat gambar bagun
ruang yang ada pada buku dan diminta untuk menghitung berapa jumlah sisi,
rusuk dan titik sudut. Karena pada gambar yang ada dibuku siswa tidak dapat
menyentuh langsung sisinya. Bangun ruang bersifat tiga dimensi, sedangkan
gambar bersifat dua dimensi. Jadi jika guru tidak mewujudkan kedalam bentuk
kongkrit siswa akan mengalami kesulitah dalam memahami materi tersebut.
Pada hasil data yang diperoleh dari siklus dua terjadi peningkatan yang
sangat berarti dari 23 siswa , sudah hampir seluruhnya yaitu 21 orang siswa (
91,30%) yang sudah memenuhi syarat ketuntasan minimal (KKM), sementara
dua orang sisanya (8,7%) belum dapat tuntas dikarenakan kesulitan belajar yang
dialami oleh siswa tersebut. Data tersebut menandakan bahwa pada siklus 2
sudah mengalami peningkatan pemahaman siswa dalam menentukan unsur-
unsur bangun ruang. Karena hasil dari siklus 2 sudah maksimal dan mencapai
target yang diharapkan maka penelitian berakhir pada siklus 2. Dengan data yang
telah didapat menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran contextual
teaching and learning (CTL) sudah efektif untuk digunakan untuk siswa kelas
VI di SD Islam Al Ma’ruf Jakarta. Hal ini terbukti dengan tercapainya KKM
sebanyak 91,30% dari jumlah keseluruhan siswa di kelas VI.
Berdasarkan hasil pengamatan, hasil belajar siswa dibangkitkan melalui
pengalaman yang diperoleh siswa. Pengalaman ini diperkuat dengan
penggunaan pengetahuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan pembelajaran
untuk memikirkan penyelesaian dari masalah yang ditampilkan dalam
pembelajaran di kelas yaitu dengan menyelesaikan soal-soal dalam lembar kerja.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Sabroni yang menyatakan kelebihan


dari Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu pembelajaran menjadi lebih
bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan
antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Pembelajaran
lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada peserta
didik karena model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
menganut aliran kontruktivisme, dimana seorang siswa dituntut untuk
menemukan pengetahuannya sendiri (Sabroni, 2017).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning
(CTL) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada materi bangun
ruang kelas VI di SD Islam Al-Ma’ruf dan siswa lebih memahami materi
dalam proses pembelajaran di sekolah. Siswa lebih bersemangat dan
termotivasi dalam kegiatan belajar dengan menggunakan model pembelajaran
ini. Dengan pengalaman belajar seperti ini, tingkat kebosanan dapat
diminimalkan dan dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna untuk
siswa.
Hasil belajar siswa pun mengalami perolehan yang meningkat dan
menjadi bukti bahwa penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching
and Learning sangat efektif dilakukan untuk pelajaran matematika.
Peningkatan tersebut terlihat sebagai berikut:
1. Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran meningkat.
2. Dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning hasil belajar matematika materi bangun ruang meningkat. Hal ini
terbukti dari nilai rata-rata peserta didik siklus 1 dan siklus2
3. Dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning dapat membantu siswa untuk berbagi pendapatnya didepan kelas.

B. SARAN
Beberapa saran yang perlu diperhatikan oleh siswa, guru, sekolah dalam
meningkatkan hasil belajar siswa antara lain :
1. Saran bagi siswa
Siswa diharapkan harus lebih bersemangat lagi dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guru di kelas. Siswa juga
diharapkan aktif, baik itu dalam berdiskusi maupun dalam berbagi
pendapat dalam kegiatan pembelajaran sehingga daya keaktifan dan
kreatifitas para siswa semakin meningkat.
2. Saran bagi guru
Guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran sebelum
mengajar. Mulai membuat RPP, penyusunan lembar kerja untuk siswa,
penggunaan alat peraga yang dapat membantu penyampaian materi,
sampai menentukan model pembelajaran yang akan digunakan ketika
kegiatan pembelajaran berlangsung. Karena dengan adanya model
pembelajaran yang bervariasi, yang dibuat lebih menarik, dan
disesuaikan dengan karakteristik materi yang akan disampaikan, akan
dengan mudah para siswa menyerap materi yang disampaikan guru.
3. Saran bagi sekolah
Sekolah hendaknya dapat memberikan atau menyediakan serta
memudahkan siswa dalam pembelajaran dengan menyediakan
pelayanan pendidikan dan fasilitas.

Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran ini, perlu dilakukan tindak lanjut


baik oleh guru maupun sekolah dalam bidang pendidikan. Tindak lanjut tersebut
bisa berupa apresiasi bagi guru yang segenap kemampuannya melakukan
penelitian tindakan kelas dalam rangka perbaikan pembelajaran. Agar dapat
melaksanakan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik, dapat diadakan
pelatihan bagi guru-guru. Penggunaan model pembelajaran Contextual
Teaching and Learning juga dapat digunakan lebih lanjut untuk meningkatkan
serta menunjang pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran matematika di
kelas VI SD Islam Al-Ma’ruf. Penggunaan model pembelajaran Contextual
Teaching and Learning dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran
di kelas untuk menciptakan pembelajaran yang efektif serta dapat meningkatkan
hasil belajar matematika siswa.
DAFTAR PUSTAKA

Adwinata, R. (2018). Pengembangan Desain Didaktis Bahan Ajar Kerucut dan


Tabung untuk Siswa SMP. Jurnal Penddikan, 1(2), hal.89

Akhiruddin dkk. (2019). Belajar dan Pembelajaran. (hal 20-21). Makasar: CV.
CAHAYA BINTANG CEMERLANG.

Anitah, S. (2022). Strategi Pembelajaran di SD. (hal. 2.14). Tanggerang: Universitas


Terbuka.

Departemen Pendidikan Nasional. (2012). Contextual Teaching and Learning.


Dirjen Pend. Dasar dan Menengah.

Felicia, N. (2022). Perkembangan Peserta Didik. (hal. 5.31). Tanggerang: Universitas


Terbuka.

Hartoto, T. (2016). Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI)


Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Sejarah. Jurnal Penddikan, 4(2),
hal.133.

Hasibuan, I. (2018). Model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning).


Jurnal Penddikan, 2(1), hal. 15-17.

Indriyastuti. (2020). Dunia Matematika Kelas 6 SD/MI. (hal.106). Solo: Platinum.

Majid, N. (2017). Pengembangan Instrumen Asesmen Otentik Unjuk Kerja pada


Mata Pelajaran IPA di SDN Jamprang dan SDN Wonosari 03 Kabupaten
Batang. Jurnal Penddikan, 6(1), hal. 57
Muhsetyo, G. (2022). Pembelajaran Matematika SD. (hal. 5.15) Tanggerang:
Universitas Terbuka.

Nababab. (2018). Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Bangun


Ruang Sisi Datar Melalui Implementasi CTL (Contextual Teaching and
Learning) berbantuan Alat Peraga. Jurnal Penddikan, 5(2), hal. 131.

Rahman, W. (2020). Strategi Pembelajaran Kontekstual. Jurnal Penddikan 1(1), hal.


6

Ramlah. (2022). Penerapan Media Kartu Domino Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa Kelas VI Pada Pelajaran IPS Di SDN Jango Tahun Pelajaran 2020/2021.
Jurnal Penddikan, 7(1), hal. 138

Pramono, E. (2014). Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning


(CTL) dalam Upaya Meningkatkan Kreativitas dan Berpikir Kritis Siswa Kelas
X di SMA Negeri Padangsidipuan Pokok Bahasan Bangun Ruang. Jurnal
Penddikan, 1(3), hal.41

Sari, D. (2015). Pengembangan Bahan Ajar Bangun Ruang Sisi Datar Melalui
Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR). Tesis. hal.31

Sabroni, D. (2017). Pengaruh Model Pembelajaran Contextual Teaching and


Learning (CTL) Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa. Jurnal
Penddikan, 1(2), hal. 59.

Setiawati, S. (2018). Telaah Teoritis: Apa Itu Belajar. Jurnal Penddikan. 35(1), hal.
33
Lampiran 1

Rancangan satu siklus (R1S) untuk siklus 1 dan 2

Video Materi Kekurangan/Refleksi Perbaikan


1 Bangun (-)Suara dalam video ➢ Memperbaiki kwalitas
Ruang pembelajaran masih suara pada video.
terlalu kecil, sehingga ➢ Memperbaiki tampilan
kurang jelas didengar. video sehingga lebih
(-)Tampilan dari video menarik untuk dilihat.
pembelajaran masih ➢ Menggunakan latar
kurang menarik. belakang virtual sehingga
(-)Tulisan pada papan tulis papan tulis menjadi lebih
masih kurang jelas dan bersih.
papan tulis kurang bersih.
(+)Guru sudah baik dalam
penyampaian materi.
(+)Guru sudah melak-
sanakan tahapan model
pembelajaran Contextual
Teaching Learning
(CTL) pada kegiatan
pembelajaran secara
berurutan.

2 Bangun (+)Suara pada video sudah


Ruang terdengar dengan jelas.
(+)Tampilan video sudah
sangat menarik dan
pencahayaannya terang.
(+)Pada video guru sudah
melaksanakan tahapan
model pembelajaran
Contextual Teaching and
Learning (CTL) dengan
baik.
Lampiran 2

RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN


(Siklus 1)

Nama Sekolah : SD ISLAM AL MA’RUF


Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit
Pokok Bahasan : Bangun Ruang

I. Kompetensi Inti
KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya.
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati,
menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.
KI 4: Menyajikan pengetahuan factual dan konseptual dalam bahasa yang jelas,
sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan
perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

II. Kompetensi Dasar


3.6 Membandingkan kubus, balok, prisma, tabung, limas, kerucut, dan bola

III. Tujuan Pembelajaran


❖ Siswa mampu mengenali bangun-bangun ruang yang berbentuk kubus, balok,
prisma, tabung, limas, kerucut, dan bola
❖ Siswa mampu mengenali unsur-unsur dan sifat bangun ruang
❖ Siswa mampu memilih benda-benda disekitarnya yang memiliki bentuk yang
sesuai dengan bangun ruang prisma, tabung, limas, kerucut, dan bola dengan
benar.

IV. Materi Pembelajaran


Bangun Ruang: Prisma, Tabung, Limas, Kerucut dan Bola

Bangun ruang merupakan salah satu pokok bahasan yang banyak dijumpai di
dalam kehidupan sehari-hari. Contoh bangun ruang adalah tenda segitiga, kaleng
susu, atap rumah, topi petani, bola, dan beberapa benda lainnya.
1. Prisma
Prisma adalah adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas dan tutup
identik berbentuk segibanyak dan sisi-sisi tegak berbentuk persegi atau persegi
panjang. Nama Prisma bergantung bentuk alas dan tutupnya. Prisma segitiga jika
alas dan tutupnya segitiga. Prisma segiempat jika alas dan tutupnya segiempat,
dan seterusnya. Tabel berikut menunjukkan gambar ilustrasi prisma dan sifat-
sifatnya.
Gambar Bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 2 sisi berbentuk segitiga


2. Memiliki 3 sisi berbentuk persegi panjang
3. Memiliki 9 rusuk
4. Memiliki 6 titik sudut

2. Tabung
Tabung atau silinder adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh dua
buah lingkaran identik yang sejajar dan sebuah persegi panjang yang mengelilingi
kedua lingkaran tersebut. Tabung memiliki 3 sisi dan 2 rusuk. Tabel dibawah ini
menunjukkan gambat ilustrasi tabung dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 2 sisi berbentuk lingkaran


2. Memiliki 1 sisi berbentuk bidang lengkung
3. Memiliki 2 rusuk lengkung
4. Tidak memiliki titik sudut

3. Limas
Limas adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas berbentuk segi
banyak dan sisi-sisi tegak berbentuk segitiga. Tabel dibawah ini menunjukkan
gambar ilustrasi limas dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 1 sisi berbentuk segiempat


2. Memiliki 4 sisi berbentuk segitiga
3. Memiliki 8 rusuk
4. Memiliki 5 titik sudut

4. Kerucut
Kerucut adalah sebuah limas istimewa yang beralas lingkaran. Kerucut memiliki
2 sisi dan 1 rusuk. Sisi tegak kerucut tidak berupa segitiga tapi berupa bidang
miring yang disebut selimut kerucut. Tabel berikut menunjukkan gambar ilustrasi
kerucut dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 1 sisi alas berbentuk lingkaran


2. Memiliki 1 sisi berbentuk bidang lengkung
(berbentuk juring lingkaran)
3. Memiliki 1 rusuk lengkung
4. Memiliki 1 titik puncak

5. Bola
Bola adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh tak hingga lingkaran
berjari-jari sama panjang dan berpusat pada satu titik yang sama. Bola hanya
memiliki 1 sisi. Tabel berikut ini menunjukkan gambar ilustrasi bola dan sifat-
sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 1 sisi berbentuk bidang lengkung


2. Tidak memiliki rusuk
3. Tidak memiliki titik sudut

V. Sumber Belajar
❖ Lembar Kerja Siswa (LKS)
❖ Indriyastuti. 2020. Dunia Matematika Kelas 6 SD. Jakarta : Platinum
VI. Kegiatan Pembelajaran
Tahap Waktu
Kegiatan Guru
Pembelajaran (Menit)
Kegiatan 10 ❖ Sebelum pembelajaran di mulai, melalui
Pendahuluan
grup WhatsApp/Google classroom guru
menyampaikan video pembelajaran dan
meminta siswa untuk mempelajarainya.
❖ Guru menyapa dan menanyakan kabar
siswa serta mengingatkan siswa untuk
selalu mematuhi protokol kesehatan covid-
19.
❖ Guru menanyakan dan memotivasi siswa
untuk melakukan kegiatan pembelajaran
hari ini.
❖ Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
kepada siswa.
Kegiatan Inti 5 ❖ Guru menggali pengetahuan awal siswa
dengan menanyakan tentang bangunan
ka’bah dan piramida .

Kontruktivis ❖ Guru mengelompokkan siswa kedalam


kelompok belajar yang heterogen.
❖ Guru membagikan LKS kepada sisswa
melalui grup WhatsApp/Google classroom
Inquiry 10 ❖ Guru menyiapkan bangun ruang yang
(menemukan) bersifat kongkret.
Merumuskan ❖ Guru menugaskan siswa untuk mengamati
masalah melalui benda-benda yang termasuk kedalam
penemuannya bangun ruang sehingga dapat mengetahui
dengan berpikir rusuk, titik sudut, dan sisinya.
sistematis
Questioning 10 ❖ Guru membantu siswa dalam memahami
(menanyakan) rusuk, titik sudut dan sisi bangun ruang yang
sedang di pelajari dengan memberikan
beberapa pertanyaan yang memancing siswa
untuk mengingat pengetahuan sebelumnya.

❖ Guru memotivasi siswa agar dapat


mengungkapkan mana rusuk, titik sudut,
dan sisinya dengan menggunakan kata-kata
mereka sendiri.

❖ Guru mengarahkan siswa agar


menggunakan kosakata matematika yang
relevan dalam berbicara mengenai konsep
bangun ruang yang sedang dipalajari.
Learning 15 ❖ Siswa melakukan diskusi kelompok
Community melalui WA Grup atau google meet sesuai
(siswa dapat kelompok yang telah terbentuk.
sharing dengan ❖ Guru menugaskan siswa melaporkan hasil
kelompok diskusi kelompoknya melalui sebuah video
lainnya) yang dibuat dan dikirimkan ke google
classroom..
Modelling 10 ❖ Guru memberikan contoh benda yang
(melihat dan menyerupai macam-macam bangun ruang.
meniru apa yang ❖ Guru meminta siswa untuk mencari benda-
ditampilkan benda lain yang berbentuk kubus, balok,
guru) prisma, limas, tabung dan bola.
Reflection 10 ❖ Guru menugaskan siswa
(Mengulang apa mengidentifikasi/mengklasifikasikan
yang telah benda-benda yang berada disekitar yang
dipelajari) berbentuk bangun ruang.
❖ Guru menugaskan untuk meyimpulkan
rusuk, titik sudut dan sisinya bangun ruang
melalui pengalaman belajar siswa.

Penilaian yang 10 ❖ Mengevaluasi siswa dengan memberikan


sebenarnya beberapa soal yang berkaitan dengan materi
(Authentic hari ini.
Assesment)
Proses penilaian
secara tertulis,
untuk
Memperoleh
gambaran
perkembangan
siswa setelah
proses KBM.
Kegiatan 10 ❖ Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini
Penutup ❖ Guru mengirimkan soal formatif melalui
WA Grup atau Google Classroom untuk
dikerjakan siswa sebagai pekerjaan rumah
(PR).
❖ Guru mengingatkan kembali kepada siswa
untuk tetap menjaga kesehatan dan
mengikuti protocol kesehatan covid-19 serta
memotivasi siswa agar tetap semangat
belajar secara daring.
❖ Guru menutup pembelajaran dengan berdoa
dan salam.

VII. Penilaian

Penilaian Pengetahuan

Instrumen penilaian: tes tertulis (skala 1—100)


Kerjakan soal di bawah ini dengan benar!
1. Diantara bangun ruang berikut ini yang merupakan prisma adalah…

2. Sebuah bangun ruang terdiri atas empat sisi. Bangun ruang yang
mungkin adalah…
a. Prisma segitiga
b. Prisma segiempat
c. Limas segi tiga
d. Limas segi empat
3. Bangun ruang yang memiliki dua rusuk, tiga sisi, alasnya berbentuk
lingkaran, dan tidak memiliki titik sudut adalah ciri-ciri dari bangun…
a. Limas segitiga
b. Kerucut
c. Tabung
d. Bola
4. Bangun ruang yang memiliki bentuk dan ukuran sisi alas dan sisi atasnya
sama dinamakan…
a. Setengah bola
b. Kerucut
c. Prisma Segitiga
d. Limas segiempat
5. Perhatikan gambar berikut!

Gambar diatas adalah contoh bangun ruang jenis…


a. Kubus
b. Prisma segitiga
c. Balok
d. Limas segiempat
6. Suatu bangun datar mempunyai dua pasang sisi. Sisi-sisi yang
berhadapan sama panjang dan sejajar. Bangun tersebut adalah…
a. Persegi
b. Persegi panjang
c. Belah ketupat
d. Layang-layang
7. Memiliki 2 sisi, 1 rusuk, 1 titik sudut dan alasnya berbentuk lingkaran
adalah ciri-ciri dari bangun ruang…
a. Tabung
b. Kerucut
c. Bola
d. Limas segitiga
8. Sebuah tabung memiliki panjang jari-jari alas 40 cm dan tinggi 20 cm.
Volume tabung tersebut adalah…listrik
a. 10, 048
b. 100,48
c. 1.004,8
d. 10.048
9. Sebuah limas memiliki alas berbentuk persegi. Volume limas tersebut
adalah 10.800 cm3. Jika tinggi limas 27 cm, luas alas limas tersebut
adalah…
a. 1.200 cm2
b. 1.400 cm2
c. 1.600 cm2
d. 1.800 cm2
10. Kaleng besar berbentuk tabung akan diisi penuh dengan air
menggunakan kaleng kecil. Ukuran diameter kaleng 28 cm dan tinggi 30
cm. Ternyata kaleng besar akan terisi dengan air sebanyak…..kaleng
kecil.
a. 18
b. 20
c. 25
d. 40

Nilai = Total skor x 100


Skor maksimal

Mengetahui Jakarta, 26 April 2022


Kepala SD Islam Al Ma’ruf Guru Kelas

Khudzaifah, S. Pd Dewi Purnamasari


Alat Penilaian Simulasi PKP

NAMA MATA
: Dewi Purnamasari : Matematika
MAHASISWA PELAJARAN/TEMA
WAKTU
NIM : 857136326 : 2 x 35 Menit
(JAM)
TEMPAT : SDI Islam Al Ma’ruf : Selasa, 26 April
HARI,... TANGGAL
MENGAJAR 2022
KELAS : VI UPBJJ-UT : Jakarta

A. Alat Penilaian Simulasi PKP 1 (APS-PKP 1)-Lembar Penilaian Simulasi


Merencanakan Perbaikan Pembelajaran
Petunjuk: Baca dengan cermat rencana perbaikan pembelajaran yang akan
digunakan oleh guru / mahasiswa ketika mengajar. Kemudian, nilailah semua aspek
yang terdapat dalam rencana tersebut dengan menggunakan butir penilaian di
bawah ini.
No Deskripsi Skor
1 2 3 4 5
1. Menentukan bahan perbaikan pembelajaran dan √
merumuskan
Tujuan/ Indikator perbaikan pembelajaran
2. Mengembangkan dan mengorganisasikan materi, √
menentukan tema, media
(alat bantu pembelajaran) dan sumber belajar
3. Merencanakan skenario perbaikan pembelajaran √
4. Merancang pengolahan kelas perbaikan pembelajaran √
5. Merencanakan prosedur, jenis dan menyiapkan alat √
Penilaian perbaikan pembelajaran
6. Tampilan dokumen rencana perbaikan pembelajaran √
Rerata (jumlah skor dibagi 6) 3,6

B. Alat Penilaian Simulasi PKP 2 (APS-PKP 2)-Lembar Penilaian Simulasi


Melaksanakan Perbaikan Pembelajaran

Petunjuk: Amatilah dengan cermat video pembelajaran. Pusatkanlah perhatian


Anda pada kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta dampaknya
pada diri siswa. Nilailah kemampuan guru tersebut dengan menggunakan
butir-butir penilaian berikut :
No Deskripsi Skor
1 2 3 4 5
1. Mengelola ruang dan fasilitas belajar √
2. Melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran √
3. Mengelola interaksi kelas √
4. Bersikap terbuka dan luwes serta membantu √
mengembangkan sikap positif siswa terhadap
belajar
5. Mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam √
perbaikan
Pembelajaran mata pelajaran
6. Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar √
7. Kesan umum pelaksanaan pembelajaran √
Rerata (jumlah skor dibagi 7) 3,7

Penggabungan APS PKP1 + APS PKP2 = (1 x APS PKP1 + 2 x APS


PKP2)/3 x 100/5
Penggabungan = (1 x 3,6 + 2 x 3,7)/3 x 100/5 = 73,3

Mengetahui Jakarta, 26 April 2022


[Link]-UT, Kepala SD Islam Al Ma’ruf
...................................

NIP. ……………………… Khudzaifah. S. Pd


RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
(Siklus 2)

Nama Sekolah : SD ISLAM AL MA’RUF


Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VI/2
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit
Pokok Bahasan : Bangun Ruang

I. Kompetensi Inti
KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya.
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati,
menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.
KI 4: Menyajikan pengetahuan factual dan konseptual dalam bahasa yang jelas,
sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan
perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

II. Kompetensi Dasar


3.6 Membandingkan kubus, balok, prisma, tabung, limas, kerucut, dan bola

III. Tujuan Pembelajaran


❖ Siswa mampu mengenali bangun-bangun ruang yang berbentuk kubus, balok,
prisma, tabung, limas, kerucut, dan bola
❖ Siswa mampu mengenali unsur-unsur dan sifat bangun ruang
❖ Siswa mampu memilih benda-benda disekitarnya yang memiliki bentuk yang
sesuai dengan bangun ruang prisma, tabung, limas, kerucut, dan bola dengan
benar.

IV. Materi Pembelajaran


Bangun Ruang: Prisma, Tabung, Limas, Kerucut dan Bola

Bangun ruang merupakan salah satu pokok bahasan yang banyak dijumpai di
dalam kehidupan sehari-hari. Contoh bangun ruang adalah tenda segitiga, kaleng
susu, atap rumah, topi petani, bola, dan beberapa benda lainnya.
1. Prisma
Prisma adalah adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas dan tutup
identik berbentuk segibanyak dan sisi-sisi tegak berbentuk persegi atau persegi
panjang. Nama Prisma bergantung bentuk alas dan tutupnya. Prisma segitiga jika
alas dan tutupnya segitiga. Prisma segiempat jika alas dan tutupnya segiempat,
dan seterusnya. Tabel berikut menunjukkan gambar ilustrasi prisma dan sifat-
sifatnya.
Gambar Bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 2 sisi berbentuk segitiga


2. Memiliki 3 sisi berbentuk persegi panjang
3. Memiliki 9 rusuk
4. Memiliki 6 titik sudut

2. Tabung
Tabung atau silinder adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh dua
buah lingkaran identik yang sejajar dan sebuah persegi panjang yang mengelilingi
kedua lingkaran tersebut. Tabung memiliki 3 sisi dan 2 rusuk. Tabel dibawah ini
menunjukkan gambat ilustrasi tabung dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 2 sisi berbentuk lingkaran


2. Memiliki 1 sisi berbentuk bidang lengkung
3. Memiliki 2 rusuk lengkung
4. Tidak memiliki titik sudut

3. Limas
Limas adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas berbentuk segi
banyak dan sisi-sisi tegak berbentuk segitiga. Tabel dibawah ini menunjukkan
gambar ilustrasi limas dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 1 sisi berbentuk segiempat


2. Memiliki 4 sisi berbentuk segitiga
3. Memiliki 8 rusuk
4. Memiliki 5 titik sudut

4. Kerucut
Kerucut adalah sebuah limas istimewa yang beralas lingkaran. Kerucut memiliki
2 sisi dan 1 rusuk. Sisi tegak kerucut tidak berupa segitiga tapi berupa bidang
miring yang disebut selimut kerucut. Tabel berikut menunjukkan gambar ilustrasi
kerucut dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 1 sisi alas berbentuk lingkaran


2. Memiliki 1 sisi berbentuk bidang lengkung
(berbentuk juring lingkaran)
3. Memiliki 1 rusuk lengkung
4. Memiliki 1 titik puncak

5. Bola
Bola adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh tak hingga lingkaran
berjari-jari sama panjang dan berpusat pada satu titik yang sama. Bola hanya
memiliki 1 sisi. Tabel berikut ini menunjukkan gambar ilustrasi bola dan sifat-
sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun

1. Memiliki 1 sisi berbentuk bidang lengkung


2. Tidak memiliki rusuk
3. Tidak memiliki titik sudut

V. Sumber Belajar
❖ Lembar Kerja Siswa (LKS)
❖ Indriyastuti. 2020. Dunia Matematika Kelas 6 SD. Jakarta : Platinum

VI. Kegiatan Pembelajaran


Tahap Waktu
Kegiatan Guru
Pembelajaran (Menit)
Kegiatan 10 ❖ Sebelum pembelajaran di mulai, melalui
Pendahuluan
grup WhatsApp/Google classroom guru
menyampaikan video pembelajaran dan
meminta siswa untuk mempelajarainya.
❖ Guru menyapa dan menanyakan kabar
siswa serta mengingatkan siswa untuk
selalu mematuhi protokol kesehatan covid-
19.
❖ Guru menanyakan dan memotivasi siswa
untuk melakukan kegiatan pembelajaran
hari ini.
❖ Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
kepada siswa.
Kegiatan Inti 5 ❖ Guru menggali pengetahuan awal siswa
dengan menanyakan tentang bangunan
ka’bah dan piramida .

Kontruktivis ❖ Guru mengelompokkan siswa kedalam


kelompok belajar yang heterogen.
❖ Guru membagikan LKS kepada sisswa
melalui grup WhatsApp/Google classroom
Inquiry 10 ❖ Guru menyiapkan bangun ruang yang
(menemukan) bersifat kongkret.
Merumuskan ❖ Guru menugaskan siswa untuk mengamati
masalah melalui benda-benda yang termasuk kedalam
penemuannya bangun ruang sehingga dapat mengetahui
dengan berpikir rusuk, titik sudut, dan sisinya.
sistematis

Questioning 10 ❖ Guru membantu siswa dalam memahami


(menanyakan) rusuk, titik sudut dan sisi bangun ruang yang
sedang di pelajari dengan memberikan
beberapa pertanyaan yang memancing siswa
untuk mengingat pengetahuan sebelumnya.
❖ Guru memotivasi siswa agar dapat
mengungkapkan mana rusuk, titik sudut,
dan sisinya dengan menggunakan kata-kata
mereka sendiri.

❖ Guru mengarahkan siswa agar


menggunakan kosakata matematika yang
relevan dalam berbicara mengenai konsep
bangun ruang yang sedang dipalajari.
Learning 15 ❖ Siswa melakukan diskusi kelompok
Community melalui WA Grup atau google meet sesuai
(siswa dapat kelompok yang telah terbentuk.
sharing dengan ❖ Guru menugaskan siswa melaporkan hasil
kelompok diskusi kelompoknya melalui sebuah video
lainnya) yang dibuat dan dikirimkan ke google
classroom..
Modelling 10 ❖ Guru memberikan contoh benda yang
(melihat dan menyerupai macam-macam bangun ruang.
meniru apa yang ❖ Guru meminta siswa untuk mencari benda-
ditampilkan benda lain yang berbentuk kubus, balok,
guru) prisma, limas, tabung dan bola.
Reflection 10 ❖ Guru menugaskan siswa
(Mengulang apa mengidentifikasi/mengklasifikasikan
yang telah benda-benda yang berada disekitar yang
dipelajari) berbentuk bangun ruang.
❖ Guru menugaskan untuk meyimpulkan
rusuk, titik sudut dan sisinya bangun ruang
melalui pengalaman belajar siswa.
Penilaian yang 10 ❖ Mengevaluasi siswa dengan memberikan
sebenarnya beberapa soal yang berkaitan dengan materi
(Authentic hari ini.
Assesment)
Proses penilaian
secara tertulis,
untuk
Memperoleh
gambaran
perkembangan
siswa setelah
proses KBM.
Kegiatan 10 ❖ Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini
Penutup ❖ Guru mengirimkan soal formatif melalui
WA Grup atau Google Classroom untuk
dikerjakan siswa sebagai pekerjaan rumah
(PR).
❖ Guru mengingatkan kembali kepada siswa
untuk tetap menjaga kesehatan dan
mengikuti protocol kesehatan covid-19 serta
memotivasi siswa agar tetap semangat
belajar secara daring.
❖ Guru menutup pembelajaran dengan berdoa
dan salam.

VII. Penilaian

Penilaian Pengetahuan

Instrumen penilaian: tes tertulis (skala 1—100)


Kerjakan soal di bawah ini dengan benar!
1. Diantara bangun ruang berikut ini yang merupakan prisma adalah…

2. Sebuah bangun ruang terdiri atas empat sisi. Bangun ruang yang
mungkin adalah…
a. Prisma segitiga
b. Prisma segiempat
c. Limas segi tiga
d. Limas segi empat
3. Bangun ruang yang memiliki dua rusuk, tiga sisi, alasnya berbentuk
lingkaran, dan tidak memiliki titik sudut adalah ciri-ciri dari bangun…
a. Limas segitiga
b. Kerucut
c. Tabung
d. Bola
4. Bangun ruang yang memiliki bentuk dan ukuran sisi alas dan sisi atasnya
sama dinamakan…
a. Setengah bola
b. Kerucut
c. Prisma Segitiga
d. Limas segiempat
5. Perhatikan gambar berikut!

Gambar diatas adalah contoh bangun ruang jenis…


a. Kubus
b. Prisma segitiga
c. Balok
d. Limas segiempat
6. Suatu bangun datar mempunyai dua pasang sisi. Sisi-sisi yang
berhadapan sama panjang dan sejajar. Bangun tersebut adalah…
a. Persegi
b. Persegi panjang
c. Belah ketupat
d. Layang-layang
7. Memiliki 2 sisi, 1 rusuk, 1 titik sudut dan alasnya berbentuk lingkaran
adalah ciri-ciri dari bangun ruang…
a. Tabung
b. Kerucut
c. Bola
d. Limas segitiga
8. Sebuah tabung memiliki panjang jari-jari alas 40 cm dan tinggi 20 cm.
Volume tabung tersebut adalah…listrik
e. 10, 048
f. 100,48
g. 1.004,8
h. 10.048
9. Sebuah limas memiliki alas berbentuk persegi. Volume limas tersebut
adalah 10.800 cm3. Jika tinggi limas 27 cm, luas alas limas tersebut
adalah…
e. 1.200 cm2
f. 1.400 cm2
g. 1.600 cm2
h. 1.800 cm2
10. Kaleng besar berbentuk tabung akan diisi penuh dengan air
menggunakan kaleng kecil. Ukuran diameter kaleng 28 cm dan tinggi 30
cm. Ternyata kaleng besar akan terisi dengan air sebanyak…..kaleng
kecil.
e. 18
f. 20
g. 25
h. 40

Nilai = Total skor x 100


Skor maksimal

Mengetahui Jakarta, 9 Mei 2022


Kepala SD Islam Al Ma’ruf Guru Kelas

Khudzaifah, S. Pd Dewi Purnamasari


Alat Penilaian Simulasi PKP
(DIGUNAKAN OLEH PENDAMPING/SUPERVISOR)

NAMA MATA
: Dewi Purnamasari : Matematika
MAHASISWA PELAJARAN/TEMA
WAKTU
NIM : 857136326 : 2 x 35 Menit
(JAM)
TEMPAT : SD Islam Al Ma’ruf : Senin, 09 Mei 2022
HARI, TANGGAL
MENGAJAR
KELAS : VI UPBJJ-UT : Jakarta

A. Alat Penilaian Simulasi PKP 1 (APS-PKP 1)-Lembar Penilaian Simulasi


Merencanakan Perbaikan Pembelajaran

Petunjuk: Baca dengan cermat rencana perbaikan pembelajaran yang akan


digunakan oleh guru / mahasiswa ketika mengajar. Kemudian, nilailah
semua aspek yang terdapat dalam rencana tersebut dengan menggunakan
butir penilaian di bawah ini.

No Deskripsi Skor
1 2 3 4 5
1. Menentukan bahan perbaikan pembelajaran dan √
merumuskan
Tujuan/ Indikator perbaikan pembelajaran
2. Mengembangkan dan mengorganisasikan materi, √
menentukan tema, media
(alat bantu pembelajaran) dan sumber belajar
3. Merencanakan skenario perbaikan pembelajaran √
4. Merancang pengolahan kelas perbaikan pembelajaran √
5. Merencanakan prosedur, jenis dan menyiapkan alat √
Penilaian perbaikan pembelajaran
7. Tampilan dokumen rencana perbaikan pembelajaran √
Rerata (jumlah skor dibagi 6) 4,6
B. Alat Penilaian Simulasi PKP 2 (APS-PKP 2)-Lembar Penilaian Simulasi
Melaksanakan Perbaikan Pembelajaran
Petunjuk: Amatilah dengan cermat video pembelajaran. Pusatkanlah perhatian
Anda pada kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta dampaknya
pada diri siswa. Nilailah kemampuan guru tersebut dengan menggunakan butir-
butir penilaian berikut

No Deskripsi Skor
1 2 3 4 5
1. Mengelola ruang dan fasilitas belajar √
2. Melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran √
3. Mengelola interaksi kelas √
4 Bersikap terbuka dan luwes serta membantu √
mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar
5. Mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam √
perbaikan
Pembelajaran mata pelajaran
6. Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar √
7 Kesan umum pelaksanaan pembelajaran √
Rerata (jumlah skor dibagi 7) 4,0

Penggabungan APS PKP1 + APS PKP2 = (1 x APS PKP1 + 2 x APS


PKP2)/3 x 100/5
Penggabungan = (1 x 4,6 + 2 x 4,0)/3 x 100/5 = 85,00

Mengetahui Jakarta, 09 Mei 2022


[Link]-UT, Kepala SD Islam Al Ma’ruf

…………………………………..

NIP. …………………………… Khudzaifah,S. Pd


Lampiran 3

Perencanaan Perbaikan Pembelajaran

Fakta/ data pembelajaran yang terjadi di kelas:


1. Siswa kurang memahami konsep dari volume dan luas permukaan
2. Hasil belajar matematika siswa pada materi bangun ruang dari 23 siswa
hanya 7 siswa yang mencapai KKM, sedangkan 16 siswa lainnya belum
mencapai KKM yaitu 70.
3. Dalam proses belajar mengajar, banyak siswa yang tidak memahami materi
yang disampaikan oleh guru, karena penyampaian materi hanya berupa
contoh yang ada pada buku. Sehingga membuat siswa merasa tidak tertarik
dengan materi yang diberikan dan merasa bosan.

Identifikasi Masalah
1. Pembelajaran masih berpusat pada guru.
2. Guru belum melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran.
3. Guru hanya menggambar bangun ruang di papan tulis dan menuliskan
unsur-unsurnya.
4. Guru tidak menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari
5. Hasil ulangan matematika siswa pada materi bangun ruang cenderung
rendah. Dari 23 siswa hanya 7 siswa yang mencapai KKM.

Analisis Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi, maka penyebab permasalahan dalam
pembelajaran tersebut di atas adalah guru masih menggunakan model pembelajaran
yang membosankan. Guru kurang melibatkan siswa secara langsung dalam
pembelajaran
Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Untuk meningkatkan hasil belajar matematika mengenai materi bangun ruang pada
siswa kelas VI di SD Islam Al Ma’ruf Jakarta, maka guru akan memprioritaskan
pemecahan masalah dengan menggunakan model pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL).

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apakah penggunaan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat
meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang pada kelas VI
SD Islam Al Ma’ruf Jakarta?
2. Bagaimana penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning
(CTL) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang
siswa kelas VI SD Islam Al Ma’ruf Jakarta?
Lampiran 4

LEMBAR OEBSERVASI
SIKLUS I

Mata Pelajaran : Matematika


Kelas/ Semester : VI (Enam)/ II
Nama Sekolah : SD Islam Al Ma’ruf
Jakarta Hari/ Tanggal : Senin, 26 April 2022
Kemunculan
No Aspek yang diobservasi Tidak Komentar
Ada
ada
A Pelaksanaan Kegiatan Mengajar √
Kegiatan Awal/ Apersepsi √
Kegiatan Inti √
Penguasaan materi √
Penguasaan model pembelajaran √
Keaktifan siswa √
Motivasi guru √
Kegiatan Akhir √
Menyimpulkan √
Penilaian √
Kesesuaian butir soal dengan √
tujuan pembelajaran
Analisis hasil penilaian √

Program tindak lanjut √

B Ketepatan Waktu √
C Kerapihan √

Jakarta, 26 April 2022


Kepala SD Islam Al Ma’ruf

Khudzaifah, [Link]
Lampiran 7
LEMBAR OEBSERVASI

SIKLUS II

Mata Pelajaran : Matematika


Kelas/ Semester : VI (Enam)/ II
Nama Sekolah : SD Islam Al Ma’ruf
Jakarta Hari/ Tanggal : Senin, 09 Mei 2022
Kemunculan
No Aspek yang diobservasi Tidak Komentar
Ada
ada
A Pelaksanaan Kegiatan Mengajar √
Kegiatan Awal/ Apersepsi √
Kegiatan Inti √
Penguasaan materi √
Penguasaan model pembelajaran √
Keaktifan siswa √
Motivasi guru √
Kegiatan Akhir √
Menyimpulkan √
Penilaian √
Kesesuaian butir soal dengan √
tujuan pembelajaran
Analisis hasil penilaian √

Program tindak lanjut √


B Ketepatan Waktu √
C Kerapihan √

Jakarta, 09 Mei 2022


Kepala SD Islam Al Ma’ruf

Khudzaifah, [Link]
Lampiran 5

JURNAL PEMBIMBING SUPERVISOR 2 PKP

Nama : Dewi Purnamasari


NIM : 857136326
Mengajar di kelas : VI
Sekolah : SD Islam Al Ma’ruf Jakarta

Hari/ Hasil/ Paraf


No. Kegiatan Tindak Lanjut
Tanggal Komentar Mhs Sup.2
1 Sabtu, 9 Mendiskusik Judul harus Mencari
April an Judul PKP memiliki sumber/kajia
2022 yang sumber yang n teori yang
sebelumnya lengkap agar sesuai
sudah nanti di Bab 2 dengan judul
ditugaskan tidak yang diambil
kebingungan
2 Sabtu, 16 Diskusi untuk Identifikasi Perbaikan
April pelaksanaan masalah, refleksi
2022 pembelajaran analisis terhadap
pra siklus masalah, pembelajaran
(identifikasi alternatif dan
masalah, prioritas
analisis pemecahan
masalah, masalah
alternatif dan masih harus
prioritas diperbaiki.
pemecahan
masalah,
rumusan
masalah).
3 Sabtu, 23 Melakukan Konsep Membuat
April simulasi pembuatan Video
2022 pembelajara video tutorial pembelajaran
n tanpa dengan dengan
anak dengan menggunaka diperlihatkan
mengacu n variabel cuplikan dari
pada tindakan. kegiatan awal,
Rancangan (Misalnya inti, dan akhir
Perbaikan saya pembelahjaran
Pembelajara menggunaka
n Siklus 1 . n model
Simulasi pembelajara
n CTL)
direkam masing2
melalui berbeda
video
berdurasi
maksimum 5
menit

4 Sabtu, 7 Mengamati Memperbai Melakukan


Mei pelaksanaan ki tahapan- perbaikan
2022 perbaikan tahapan video
pembelajaran proses pembelajara
siklus 1 pembelajara n yang
melalui Video n pada video sesuai
yang sudah sesuai dengan
dibuat pada dengan variabel
minggu variabel tindakan .
sebelumnya tindakan. (Misalnya
saya
mengguna
kan model
pembelajar
an CTL)
masing2
berbeda
dan
Membuat
laporan bab
1-3 sesuai
dengan
judul yang
diambil.
5 Sabtu, 14 Meriview Pola Perbaikan
Mei laporan bab penulisan laporan bab 1-3
2022 1-3. kutipan yang tidak
pada kajian sesuai dengan
pustaka juknis yang
menggunaka diberikan dan
n format melakukan
APA (atau rancangan
sesuai pembelajaran
sistematika siklus 2 (Video
laporan Siklus 2)
PKP)
6 Sabtu, 21 Mengamati Secara umum Melanjutkan
Mei pelaksanaan pelaksanaan pembuatan
2022 pembelajaran sudah baik laporan bab 4
siklus 2 dan sesuai dan 5.
dengan
rencana
perbaikan.

7 Sabtu, 28 Mendiskusik Pembahasan Melanjutkan


Mei an hasil sudah sesuai kesimpulan
2022 pembahasan dengan dan saran
dalam pelaksanaan
pembuatan pembelajaran
laporan yang telah
dilaksanakan
8 Sabtu, 4 Mendiskusi- kesimpulan Melanjutkan
Juni kan hasil sudah sesuai melengkapi
2022 pembahasan dengan tujuan lembar
,kesimpulan pembelajaran lampiran,
dan saran dan
membahas
prosedur
format karil.
9 Minggu, Membahas Memperbaiki Memperbaiki
12 Juni karil yang format yang karil
2022 telah dibuat masih salah

Jakarta, 12 Juni 2022


Supervisor

Iman Nurjaman, [Link]

Anda mungkin juga menyukai