Peningkatan Hasil Belajar Matematika CTL
Peningkatan Hasil Belajar Matematika CTL
DEWI PURNAMASARI
857136326
LAPORAN
i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan laporan PKP yang saya kutip dari
hasil karya orang lain telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah, dan etika penulisan karya ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PKP ini bukan
hasil karya saya sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian-bagian tertentu, saya
bersedia menerima sanksi, termasuk pencabutan gelar akademik yang saya sandang
sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Dewi Purnamasari
NIM. 857136326
ii
KATA PENGANTAR
Keberhasilan penulisan laporan penelitian ini tentu tidak lepas dari bantuan,
bimbingan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan
ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada:
Semoga kebaikan yang telah diberikan memperoleh ridha dan imbalan dari
Allah Subhaanahu wa ta’ala.
Penulisan laporan penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai pertimbangan penelitian yang
akan datang. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan di
dunia pendidikan.
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………..... i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT…………………....... ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………. iii
DAFTAR ISI ……………………………………………….................... iv
DAFTAR TABEL ………………………………………….................... v
DAFTAR GANBAR ………………………………………..................... vi
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………….... vii
ABSTRAK ……………………………………………………………… viii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………..
A. Latar Belakang Masalah ………………………………………….
B. Rumusan Masalah ………………………………………………..
C. Tujuan Penelitian dan Perbaikan Pembelajaran…………………..
D. Manfaat Penelitian dan Perbaikan Pembelajaran …………...........
BAB II KAJIAN PUSTAKA ……………………………………………
A. Hakikat Hasil Belajar Matematika…….…………………………
1. Pengertian Belajar……………………………………………...
2. Hasil Belajar……………………………………………………
3. Hakikat Matematika…………………………………………...
B. Bangun Ruang.…………………………………………..……….
1. Kubus…………………………………………………………..
2. Balok…………………………………………………………...
3. Prisma segitiga……………………………………………........
4. Limas segiempat……………………………………………….
5. Tabung……………………………………………………........
6. Kerucut…………………………………………...……………
7. Bola…………………………………………………………….
C. Model Pembelajaran CTL ……………………………………..........
1. Pengertian Model Pembelajaran CTL………………………….
2. Manfaat Model Pembelajaran CTL…………………………….
3. Komponen Model Pembelajaran CTL…………………………
D. Karakteristik Siswa…………. ……………………………….......
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN
PEMBELAJARAN……………………………………………
A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian, Pihak yang membantu
Penelitian ……………………………………………………......
1. Subjek Penelitian……………………………………………….
2. Tempat Penelitian………………………………………………
3. Waktu Penelitian………………………………………….........
4. Pihak yang membantu………………………………………….
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran ……………………….
1. Metodologi Penelitian………………………………………….
2. Prosedur Perbaikan Pembelajaran……………………………...
3. Instrumen Penelitan…………………………………………….
C. Teknik Analisis Data …………………………………………….
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN ………….........
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran……………...
1. Temuan awal…………………………………………………...
2. Siklus 1…………………………………………………………
3. Siklus 2…………………………………………………………
B. Pembahasan Hasil Penelitian ………………………………….…
BAB V SIMPULAN DAN TINDAK LANJUT ………………………..
A. Simpulan …………………………………………………………
B. Saran Tindak Lanjut………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA…….……………………………….……….........
LAMPIRAN……………………………………………………………...
DAFTAR TABEL
Lampiran 3 RPP pra siklus, RPP berbaikan siklus 1, RPP perbaikan siklus 2 56
DEWI PURNAMASARI
857136326
dewipurnamasarisd@[Link]
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apakah penggunaan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat
meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang pada kelas
VI SD Islam Al Ma’ruf Jakarta?
2. Bagaimana penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi
bangun ruang siswa kelas VI SD Islam Al Ma’ruf Jakarta?
KAJIAN PUSTAKA
A. Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar bukan hanya menghafal atau mengingat tetapi suatu proses yang
ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Belajar merupakan
suatu kegiatan pemrosesan kognitif, keterampilan dan sikap. Pelajar (siswa)
sepenuhnya harus melakukan upaya mengubah perilaku melalui pengalaman,
latihan maupun kegiatan-kegiatan lain yang dianggap efektif sebagai proses
untuk mengubah perilaku (Anitah, 2022).
Pendapat lain mengungkapkan bahwa, belajar adalah suatu proses
dimana peserta didik yang harus aktif, guru hanya berperan sebagai
fasilitator. Guru hanyalah merangsang keaktifan dengan jalan menyajikan
bahan pelajaran, sedangkan yang mengolah dan mencerna adalah peserta
didik itu sendiri sesuai dengan kemauan, kemampuan, bakat, dan latar
belakang masing-masing individu (Akhiruddin, 2019).
Dengan demikian, berdasarkan definisi belajar di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa belajar itu berlangsung secara aktif dan integratif dengan
menggunakan berbagai cara dan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. Selain
itu, belajar juga merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan melalui
pengalaman dan latihan manusia dalam hidupnya melalui kegiatan membaca,
mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya.
Selain itu, belajar juga merupakan usaha yang dilakukan sesorang untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang meliputi aspek kognitif, afektif,
dan psikomotor melalui interaksi dengan lingkungan. Adapun perubahan
tersebut terlihat dengan bertambahnya kemampuan, misalnya dengan belajar
siswa yang tidak tahu menjadi tahu, yang awalnya siswa tidak bisa maka
dengan belajar siswa menjadi bisa dan memiliki keterampilan yang
bermanfaat dalam kehidupannya. Selain itu, perubahan tingkah laku adalah
sebagai hasil belajar yang terjadi secara sadar, memiliki sifat berkelanjutan,
relatif permanen, dan mengarah pada tujuan serta bersifat progresif
2. Hasil Belajar
Mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan
tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup
bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik (Sudjana dalam Setiawati, 2018).
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru, mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar
(Hartoto, 2016).
Berdasarkan uraian para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar merupakan sesuatu yang dicapai setelah mengalami proses belajar yang
menunjukkan taraf kemampuannya dalam mengikuti program belajar dalam
waktu tertentu sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan. Adapun hasil
belajar tidak hanya selalu pada nilai yang berbentuk angka-angka saja namun
lebih dari itu yakni menunjukkan pencapaian pada ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik setelah dilakukan kegiatan belajar yang meningkat.
3. Hakikat Matematika
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang dijarkan di SD.
Seorang guru SD yang akan mengajarkan matematika kepada siswanya,
hendaklah mengetahui dan memahami objek yang akan diajarkannya, yaitu
matematika. Kata matematika berasal dari perkataan Latin mathematika yang
mulanya diambil dari perkataan Yunani mathematike yang berarti mempelajari.
Perkataan itu mempunyai asal kata nyamathema yang berarti pengetahuan atau
ilmu (knowledge, science). Kata mathematike berhubungan pula dengan kata
lainnya yang hampir sama, yaitu mathein atau mathenein yang artinya
belajar(berpikir). Jadi, berdasarkan asal katanya, maka perkataan matematika
berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar). Matematika
lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio (penalaran), bukan menekankan
dari hasil eksperimen atau hasil observasi matematika terbentuk karena
pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan idea, proses, dan penalaran
(Rusefendi dalam Rahman, 2013).
Berdasarkan uraian ahli tersebut, maka matematika adalah ilmu
pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar). Matematika terbentuk
dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian
pengalaman itu diproses di dalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan
penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep
matematika supaya konsep-konsep matematika yang terbentuk itu mudah
dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi secara tepat, maka digunakan
bahasa matematika atau notasi matematika yang bernilai global (universal).
Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah
dasar terbentuknya matematika.
B. Bangun Ruang
Perhatikan benda-benda seperti dus TV, drum minyak tanah, kaleng susu,
terompet, dan rubik. Benda-benda itu merupakan benda ruang. Bangun yang
menyerupai benda ruang itu biasa kita sebut sebagai bangun ruang (Indriyastuti,
2020). Ada berbagai benda di sekitar kita yang berbentuk bangun ruang. Bangun
ruang yang akan kita pelajari kali ini adalah kubus, balok, prisma, tabung, limas,
kerucut, dan bola.
1. KUBUS
Kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh 6 buah sisi berbentuk
persegi yang kongruen. Pemberian nama kubus disesuaikan dengan sisi alas
dan sisi atas (Sari, 2015).
Gambar 2.1
Kubus memiliki 6 sisi, 12 rusuk sama panjang, dan 8 titik sudut. Benda yang
ada disekitar kita yang berbentuk kubus diantaranya adalah dadu, kardus, dan
rubik. Kubus terdiri dari enam buah bangun datar berbentuk persegi yang
semua sisinya berukuran sama.
Beberapa contoh jaring-jaring kubus diantaranya adalah sebagai berikut:
Gambar 2.2
2. BALOK
Paararlelepipida tegak yang alasnya persegi panjang disebut balok
(Muhsetyo, 2022). Balok adalah salah satu bangun ruang yang menyerupai
kubus, namun pada balok ada sedikit perbedaan jika dilihat dari panjang rusuk
yang ukurannya tidak sama. Balok memiliki 6 sisi dengan sisi-sisi yang
berhadapan sejajar dan sama besar, memiliki 12 rusuk, dan 8 titik sudut.
Gambar 2.3
Beberapa contoh jaring-jaring balok adalah sebagai berikut :
Gambar 2.4
3. PRISMA SEGITIGA
Prisma adalah bidang banyak yang dibatasi oleh dua bidang yang sejajar dan
beberapa bidang lain yang berpotongan menurut garis-garis yang sejajar
(Muhsetyo, 2022). Prisma yang dibahas kali ini adalah prisma tegak segitiga.
Prisma tegak segitiga memiliki 5 sisi yang terdiri atas sisi alas, sisi atas, dan 3
sisi tegak. Sisi alas dan sisi atasnya berbentuk segitiga, sedangkan sisi tegaknya
berbentuk persegi atau persegi panjang. Selain itu prisma tegak segitiga juga
memiliki 9 rusuk dan memiliki 6 titik sudut. Berikut adalah gambar prisma tegak
segitiga.
Gambar 2.5
Beberapa contoh jaring-jaring prisma segitiga :
Gambar 2.6
4. LIMAS SEGI EMPAT
Limas adalah suatu benda ruang yang dibatasi oleh sebuah segi banyak dan
segitiga-segitiga yang mempunyai titik puncak persekutuan di luar segibanyak
tersebut, sedangkan sisi-sisi segi banyak itu merupakan alas-alas segitiga itu
(Muhsetyo, 2020). Limas yang akan dibahas kali ini adalah limas segiempat,
yang memiliki ciri-ciri yaitu memiliki 5 sisi yang terdiri atas sebuah sisi alas
dan 4 sisi tegak. Sisi alasnya berbentuk segi empat dan sisi tegaknya berbentuk
segitiga. Selain itu limas segiempat juga memiliki 8 rusuk, 5 titik sudut yang
salah satunya merupakan titik puncak. Berikut adalah gambar dari limas
segiempat:
Gambar 2.7
Beberapa contoh jaring-jaring limas segi empat :
Gambar 2.8
5. TABUNG
Tabung adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua sisi yang kongruen dan
sejajar yang berbentuk lingkaran serta sebuah sisi lengkung (Husein dalam
Adiwinata, 2018). Tabung memiliki ciri-ciri yaitu sisi alas dan tutup berbentuk
lingkaran yang sama luas. Memiliki 2 rusuk lengkung, sisi lengkungnya disebut
juga sebagai selimut tabung dan tidak memiliki titik sudut.
Gambar 2.9
Jaring-jaring tabung:
Gambar 2.10
6. KERUCUT
Kerucut adalah suatu bangun ruang yang merupakan suatu limas beraturan yang
bidang alasnya berbentuk lingkaran (Husein dalam Adiwinata, 2018). Kerucut
memiliki ciri-ciri yaitu memiliki sisi alas berbentuk lingkaran, memiliki 1 rusuk
lengkung serta memiliki sisi lengkung yang disebut juga sebagai selimut
kerucut. Selain itu kerucut juga memiliki 1 titik puncak. Berikut adalah gambar
kerucut :
Gambar 2. 11
Jaring-jaring kerucut :
Gambar 2.12
7. BOLA
Bola berbentuk bulat dengan sisinya melengkung. Bola memiliki ciri-ciri yaitu
tidak memiliki rusuk, memiliki satu sisi dan tidak memiliki titik sudut.
Gambar 2.13
C. Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
1. Pengertian Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti
hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks). Adapun pengertian CTL
adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka seharihari, dengan melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme
(constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat
belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection)
dan penelitian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas, 2012).
Pembelajaran kontekstual pada awalnya dikembangkan oleh John
Dewey dari pengalaman pembelajaran tradisionalnya. Pada tahun 1918
Dewey merumuskan kurikulum dan metodologi pembelajaran yang berkaitan
dengan pengalaman dan minat siswa. Siswa akan belajar dengan baik jika
yang dipelajarinya terkait dengan pengetahuan dan kegiatan yang telah
diketahuinya dan terjadi di sekelilingnya (Trianto dalam Pramono, 2014).
Model pembelajaran kontekstual (Contexstual Teaching and Learning)
adalah proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa
untuk memahami makna materi ajar dan mengaitkannya dengan konteks
kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga
siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk
mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya (Hasibuan, 2014).
Dari beberapa ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa Contextual
Teaching and Learning adalah model pembelajaran yang mengaitkan
kehidupan sehari-hari dan memberikan kesempatan pada siswa untuk
membangun pemahamannya sendiri dengan cara mengamati secara langsung
materi yang hendak dipelajari, berdiskusi dengan teman satu kelompok dan
bertukar pikiran dengan teman satu kelas tentang apa yang mereka pelajari.
Hal ini diharapkan pengalaman belajar siswa akan lebih bermakna dan
pembelajaran di kelas menjadi lebih hidup.
2. Manfaat Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Adapun manfaat dari CTL antara lain adalah kemampuan pemahaman
konsep akan lebih baik. Hal ini disebabkan anak mengalami langsung dalam
kehidupan nyata. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima
informasi dari guru, namun kelas digunakan untuk saling membelajarkan
(Rahman, 2020).
Dari pendapat tersebut dapat kita simpulkan bahwa model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning bermanfaat dalam pembelajaran siswa
terutaman materi-materi yang dapat dikaitkan langsung dengan kehidupan
sehari-hari. Dimana siswa dapat merasakan pengalaman langsung dalam
mempelajari materi tersebut.
3. Komponen pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Terdapat 7 (tujuh) komponen pembelajaran kontekstual yaitu
konstruktivisme, penemuan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan,
refleksi, dan penilaian otentik (Nurhadi dalam Hasibuan, 2014).
a) Konstruktivisme (Constructivism).
Konstruktivisme adalah mengembangkan pemikiran siswa akan
belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri,
dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
Menurut Sardiman, teori atau aliran ini merupakan landasan berfikir bagi
pendekatan kontekstual (CTL).
Pengetahuan riil bagi para siswa adalah sesuatu yang dibangun atau
ditemukan oleh siswa itu sendiri. Jadi pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta, konsep atau kaidah yang diingat siswa, tetapi siswa harus
merekonstruksi pengetahuan itu kemudian memberi makna melalui
pengalaman nyata.
b) Menemukan (Inquiry).
Menemukan atau inkuiri adalah proses pembelajaran yang didasarkan
pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara
sistematis, yaitu proses pemindahan dari pengamatan menjadi
pemahaman sehingga siswa belajar mengunakan keterampilan berfikir
kritis. Menurut Lukmanul Hakiim, guru harus merencanakan situasi
sedemikian rupa, sehingga para siswa bekerja menggunakan prosedur
mengenali masalah, menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur
penelitian/investigasi, dan menyiapkan kerangka berfikir , hipotesis, dan
penjelasan yang relevan dengan pengalaman pada dunia nyata.
c) Bertanya (questioning).
Bertanya, yaitu mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui dialog
interaktif melalui tanya jawab oleh keseluruhan unsur yang terlibat dalam
komunitas belajar. Dengan penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih
hidup, akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas
dan mendalam.
Dengan mengajukan pertanyaan, mendorong siswa untuk selalu
bersikap tidak menerima suatu pendapat, ide atau teori secara mentah. Ini
dapat mendorong sikap selalu ingin mengetahui dan mendalami
(curiosity) berbagai teori, dan dapat mendorong untuk belajar lebih jauh.
d) Masyarakat Belajar (learning community).
Konsep masyarakat belajar (learning community) ialah hasil
pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Guru
dalam pembelajaran kontekstual (CTL) selalu melaksanakan
pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen.
Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu
yang belum tahu, dan seterusnya.
Dalam praktiknya masyarakat belajar terwujud dalam pembentukan
kelompok kecil, kelompok besar, bekerja sama dengan kelas paralel,
bekerja kelompok dengan kelas di atasnya, bekerja sama dengan
masyarakat.
e) Pemodelan (modeling)
Dalam pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, perlu
ada model yang bisa ditiru oleh siswa. Model dalam hal ini bisa berupa
cara mengoperasikan, cara melempar atau menendang bola dalam olah
raga, cara melafalkan dalam bahasa asing, atau guru memberi contoh cara
mengerjakan sesuatu. Guru menjadi model dan memberikan contoh
untuk dilihat dan ditiru. Apapun yang dilakukan guru, maka guru akan
bertindak sebagai model bagi siswa. Ketika guru sanggup melakukan
sesuatu, maka siswapun akan berfikir sama bahwa dia bisa
melakukannya juga.
f) Refleksi (Reflection).
Refleksi merupakan upaya untuk melihat, mengorganisir,
menganalisis, mengklarifikasi, dan mengevaluasi hal-hal yang telah
dipelajari. Realisasi praktik di kelas dirancang pada setiap akhir
pembelajaran, yaitu dengan cara guru menyisakan waktu untuk
memberikan kesempatan bagi para siswa melakukan refleksi berupa :
pernyataan langsung siswa tentang apa-apa yang diperoleh setelah
melakukan pembelajaran, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan
saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, diskusi, dan hasil karya.
g) Penilaian Otentik (Authentic assessment).
Pencapaian siswa tidak cukup hanya diukur dengan tes saja, hasil
belajar hendaknya diukur dengan assesmen autentik yang bisa
menyediakan informasi yang benar dan akurat mengenai apa yang benar-
benar diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa atau tentang kualitas
program pendidikan. Penilaian otentik merupakan proses pengumpulan
berbagai data untuk memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Data ini dapat berupa tes tertulis, proyek (laporan kegiatan), karya siswa,
performance (penampilan presentasi) yang terangkum dalam portofolio
siswa.
D. Karakteristi Siswa
Masa usia SD sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia 6
tahun sampai 11 atau 12 tahun. Pada masa ini, siswa usia SD memiliki
karakteristik utama yaitu menampilkan perbedaan-perbedaan individual dan
personal dalam banyak segi dan bidang diantaranya perbedaan dalam intelegensi,
kemampuan kognitif dan bahasa,serta perkembangan kepribadian dan
perkembangan fisik. Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia
sekolah atau masa SD. Masa kanak-kanak akhir dibagi menjadi dua fase, yaitu:
1. Masa kelas rendah Sekolah Dasar yang berlangsung antara usia 6 atau 7 tahun
sampai 9 atau 10 tahun, biasanya siswa duduk di kelas 1, 2, dan 3 Sekolah
Dasar.
2. Masa kelas tinggi Sekolah Dasar yang berlangsung antara usia 9 atau 10 tahun
sampai 12 atau 13 tahun, biasanya siswa duduk di kelas 4, 5, dan 6 Sekolah
Dasar.
(Felicia, 2022).
Adapun Menurut Izzaty ciri-ciri khas siswa masa kelas tinggi Sekolah Dasar
adalah:
1. Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari.
2. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis.
3. Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus (Izzaty dalam Ramlah, 2022).
John W. Santrock juga mengemukakan bahwa selama tahapan operasional
konkret siswa dapat menunjukkan operasioperasi konkret, berpikir logis,
mengklasifikasikan benda, dan berpikir tentang relasi antara kelas-kelas benda
(Izzati dalam Majid, 2017).
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, karakteristik perkembangan
siswa kelas VI SD berada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, siswa berpikir
atas dasar pengalaman yang konkret atau nyata yang pernah dilihat dan dialami.
Siswa belum bisa berpikir secara abstrak. Karakteristik yang muncul pada
tahap ini dapat dijadikan landasan dalam menyiapkan dan melaksanakan
pembelajaran bagi siswa SD. Pelaksanaan pembelajaran di kelas perlu didesain
menggunakan model pembelajaran yang sesuai dan tepat dengan memperhatikan
karakteristik perkembangan siswa kelas VI SD pada tahap operasional konkret.
Hal tersebut memungkinkan siswa untuk dapat melihat, berbuat sesuatu,
melibatkan diri dalam pembelajaran, serta mengalami langsung pada hal-hal yang
dipelajari.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN
A. SUBJEK PENELITIAN
1) Subjek Penelitian
Subjek Penelitian Perbaikan Pembelajaran adalah peserta didik kelas VI
SD Islam Al-Ma’ruf Jakarta Timur dengan jumlah peserta didik
sebanyak 23 siswa dengan rincian 12 laki-laki dan 11 perempuan.
Perbaikan pembelajaran yaitu pelajaran matematika materi bangun
ruang.
Tabel. 3.1
Tabel Subjek Kelas VI
No NIS Nama L /P
2) Lokasi/Tempat Penelitian
Lokasi penelitian dan perbaikan pembelajaran dilaksanakan di SD Islam Al-
Ma’ruf Jakarta Timur.
Gambar 3.1
Gedung SD Islam Al-Ma’ruf Jakarta Timur
SD tersebut beralamat di Jalan Raya Lapangan Tembak Cibubur,
Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur yang
dilaksanakan pada bulan April - Mei 2022. Pemilihan pada kelas ini didasarkan
atas pertimbangan bahwa hasil belajar matematika kurang memuaskan.
3) Waktu Penelitian
Waktu Pelaksanaan perbaikan pembelajaran matematika materi bangun ruang
dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus pada semester genap tahun
2021/2022. Waktu pelaksanaan siklus I yaitu tanggal 25 April 2022, sedangkan
siklus II dilaksanakan tanggal 9 Mei 2022.
Tabel 3.2
Jadwal Penelitian
Kegiatan Pertemuan Tanggal
Gambar 3.2
Kepala SD Islam Al Ma’ruf, Jakarta Timur
Nama : Khudzaifah, [Link]
Tempat Tanggal Lahir : Mojokerto, 09 Juli 1976
Pendidikan : S1
Jabatan : Kepala SD Islam Al-Ma’ruf
Alamat : Jalan Muara No.31 RT. 004 / RW 03
Tanjung Barat Jagakarsa, Jakarta Selatan
No Hp : 081513337190
3. Instrumen
Kerjakan soal di bawah ini dengan benar!
1. Diantara bangun ruang berikut ini yang merupakan prisma adalah…
2. Sebuah bangun ruang terdiri atas empat sisi. Bangun ruang yang
mungkin adalah…
a. Prisma segitiga
b. Prisma segiempat
c. Limas segi tiga
d. Limas segi empat
3. Bangun ruang yang memiliki dua rusuk, tiga sisi, alasnya berbentuk
lingkaran, dan tidak memiliki titik sudut adalah ciri-ciri dari bangun…
a. Limas segitiga
b. Kerucut
c. Tabung
d. Bola
4. Bangun ruang yang memiliki bentuk dan ukuran sisi alas dan sisi atasnya
sama dinamakan…
a. Setengah bola
b. Kerucut
c. Prisma Segitiga
d. Limas segiempat
5. Perhatikan gambar berikut!
d. Refleksi
Pada tahap refleksi ini merupakan uraian mengenai prosedur analisis
proses kegiatan mengingat kembali apa yang telah dilakukan terhadap
penelitian dan pelaksanaan proses pembelajaran. Peneliti melakukan
refleksi, mengkaji proses pembelajaran yang telah dilakukan yaitu berupa
kegiatan antara siswa dan guru, serta hasil belajar yang diperoleh. Apakah
sudah mencapai standar ketuntasan minimum dan kefektifan pembelajaran
dengan melihat ketercapaian dalam indicator daftar permasalahan dan
hambatan yang terjadi dalam siklus pertama, kemudian membuat
perencanaan tindak lanjut perbaikan untuk siklus kedua.
Keterangan:
NKD = Nilai Kompetensi Dasar
Σ skor benar = Jumlah skor nilai yang benar dari
setiap butir soal
Σ soal = Jumlah seluruh soal yang diujikan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa pada pembelajaran pra siklus, hanya
7 siswa (30,43%) yang sudah mencapai nilai KKM dan 16 siswa (69,57%) belum
dapat mencapai KKM.
Data hasil nilai pra siklus diatas dapat disimpulkan kedalam sebuah table perolehan nilai
hasil belajar sebagai berikut:
Tabel 4.2
Distribusi Hasil Belajar Prasiklus
NO SKOR (S) FREKUENSI (F) SXF
1 40 8 320
2 50 2 100
3 60 6 360
4 80 4 320
5 90 3 270
Rata-rata 59,56
Tuntas 7 Siswa ( 30,43 %)
Tidak Tuntas 16 Siswa (69,57 %)
KKM 70
Grafik 4.1
Distribusi Hasil Belajar Prasiklus
2. SIKLUS 1
a. Perencanaan Siklus 1
Kegiatan siklus 1 akan direncanakan sebanyak 1 kali pada kelas 6 pada
pelajaran 4 materi bangun ruang di semester 2 Tahun Pelajaran
2021/2022. Dengan rincian sebagai berikut
b. Pelaksanaan Siklus 1
Pelaksanaan tindakan siklus 1 dilaksanakan dalam waktu satu kali
pertemuan, dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pertemuan pada siklus 1
dilaksanakan pada hari Senin, 25 April 2022. Pada pukul 08.10 sampai
09.20.
1) Catatan Lapangan
Catatan lapangan selama siklus 1 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Catatan Lapangan Siklus 1
Tahap Modelling
❖ Guru menyiapkan contoh bangun
ruang yang nyata kepada siswa.
Tahap Reflection
❖ Guru menugaskan siswa
mengidentifikasi benda-benda
yang berada disekitar yang
berbentuk bangun ruang.
❖ Guru menugaskan untuk
meyimpulkan rusuk dan sisinya
bangun ruang kubus melalui
pengalaman belajarsiswa.
❖ Guru memberikan penghargaan
bagi kelompok terbaik yang
dapat berbagi pendapat dengan
baik dan benar.
10
Kegiatan Tahap (Authentic Assesment)
menit
Penutup ❖ Mengevaluasi siswa dengan
memberikan beberapa soal yang
berkaitan dengan rusuk dan sisi
bangun ruang kubus.
❖ Guru bersama-sama siswa
membuat kesimpulan.
❖ Mengajak semua siswa berdoa
dan memberi salam.
2) Refleksi
Refleksi yang diperoleh pada siklus 1 adalah sebagai berikut :
Kelebihan
a) Guru sudah baik dalam penyampaian materi.
b) Guru sudah melaksanakan tahapan model pembelajaran Contextual Teaching
Learning (CTL) pada kegiatan pembelajaran secara berurutan.
Kekurangan
a) Suara dalam video pembelajaran masih terlalu kecil, sehingga kurang jelas
didengar.
b) Tampilan dari video pembelajaran masih kurang menarik.
c) Tulisan pada papan tulis masih kurang jelas dan papan tulis kurang bersih.
Berdasarkan hasil tersebut maka perbaikan pada pertemuan berikutnya adalah:
a) Memperbaiki kwalitas suara pada video.
b) Memperbaiki tampilan video sehingga lebih menarik untuk dilihat.
c) Menggunakan latar belakang virtual sehingga papan tulis menjadi lebih
bersih.
c. Observasi Siklus 1
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus satu ini suara guru pada video tidak
jelas, pencahayaan pada video kurang terang, latar belakang dari video tidak
menarik, semua benda-benda yang ditampilkan oleh guru kurang terlihat dengan
jelas.
d. Refleksi Siklus 1
Hasil belajar matematika siswa pada materi bangun ruang pada siklus 1 lebih
baik dari prasiklus. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa pada pembelajaran
siklus I, terdapat 14 siswa (60,86%) yang dinyatakan tuntas karena mereka telah
memperoleh nilai di atas KKM dan 9 siswa (39,14%) dinyatakan belum tuntas
karena nilai yang mereka peroleh masih di bawah KKM. Untuk KKM
matematika pada kelas VI SD Islam Al Ma’ruf adalah 70. Nilai tertinggi yang
diperoleh siswa adalah 100, sedangkan nilai terendahnya adalah 50.
Pembelajaran sudah berlangsung cukup baik, namun saat tahap Learning
Community siswa masih kesulitan untuk berdiskusi secara online. Selain itu pada
tahap modeling siswa mengalami keterbatasan dalam keberagaman bentuk benda
yang dimiliki. Hal ini menjadi perhatian dari guru untuk mencari solusi yang
lebih baik pada siklus ke 2.
Adapun hasil belajar matematika siswa pada siklus 1 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4
Hasil Belajar Siswa Siklus 1
Jumlah 1.660
Tabel 4.5
Distribusi Hasil Belajar Siklus 1
NO SKOR (S) FREKUENSI (F) SXF
1 50 3 150
2 60 7 420
3 70 3 210
4 80 5 400
5 90 3 270
6 100 2 200
Rata-rata 72,17
Tuntas 14 Siswa ( 60,86 %)
Tidak Tuntas 9 Siswa (39,14 %)
KKM 70
Grafik 4.2
Distribusi Hasil Belajar Prasiklus
Berdasarkan data dari pra siklus kemudian dibuat perbadingan dengan hasil dari
siklus 1, hasilnya dapat dilihat pada tabel seperti berikut :
Tabel 4.6
Nilai Perbandingan Pra Siklus & Siklus 1
PRA
NO. NAMA SIKLUS 1 KETERANGAN
SIKLUS
1. Adinda intan larassati 60 80 Tuntas
100
80
60
40
20
Tahap Modelling
❖ Guru memberikan contoh bangun ruang
yang ada dikehidupan sehari-hari.
Tahap Reflection
❖ Guru menugaskan siswa
mengidentifikasi benda-benda yang
berada disekitar yang berbentuk bangun
ruang dan mengelompokannya
kedalam kubus, balok, prisma, limas,
tabung dan kerucut.
❖ Guru menugaskan untuk meyimpulkan
rusuk dan sisinya bangun ruang kubus,
balok, prisma, limas, tabung dan
kerucut melalui pengalaman belajar
siswa.
09.10 – Kegiatan
09.20 Tahap (Authentic Assesment)
Penutup
❖ Guru mengevaluasi siswa dengan
memberikan beberapa soal yang
berkaitan dengan rusuk, sisi dan titik
sudut bangun ruang kubus, balok,
prisma, tabung, limas dan kerucut.
❖ Guru membuat kesimpulan tentang
materi yang dibahas hari ini.
2) Refleksi
Kelebihan pada pelaksanaan siklus 2 yaitu kegiatan yang diterapkan oleh guru
sudah sangat jelas jika disbanding dengan siklus 1. Berdasarkan kegiatan pada
pertemuan tesebut dapat diketahui bahwa kelebihan dan kekurangannya adalah
sebagai berikut :
Kelebihan
a) Suara pada video sudah terdengar dengan jelas.
b) Tampilan video sudah sangat menarik dan pencahayaannya terang.
c) Pada video guru sudah melaksanakan tahapan model pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan baik.
e. Observasi
Dari hasil pengamatan pada siklus dua ini suara guru pada video terdengar
sangat jelas, pencahayaan pada video bagus, latar belakang dari video colourful
dan menarik, semua benda-benda yang ditampilkan oleh guru terlihat dengan
jelas.
f. Refleksi Siklus 2
Setelah proses pembelajaran siklus 2 selesai, peneliti dapat melihat perbedaan
yang ada pada siklus 1 dan siklus 2. Pada siklus 1 ada beberapa siswa yang masih
terkendala dalam membedakan rusuk dan sisi, namun pada siklus 2 siswa sudah
dapat membedakan sisi dan rusuk dengan baik. Pada siklus 2 guru lebih banyak
mengenalkan benda-benda yang berbentuk bangun ruang baik secara kongkrit
maupun dengan bantuan gambar tiga dimensi, sehingga siswa mampu untuk
mengenal lebih banyak dan mengidentifikasi masing-masing benda tergolong
dalam bentuk kubus, balok, prisma, limas, tabung ataupun kerucut. Dari hasil
catatan dan tes hasil belajar siswa ternyata ada 2 siswa yang belum mencapai KKM.
Adapun hasil tes belajar siswa pada siklus 2 adalah sebagai berikut:
1. Hasil belajar matematika siswa pada materi bangun ruang dari mulai
prasiklus, siklus 1, dan siklus 2 sudah mengalami kenaikan.
2. Siswa sudah dapat menjelaskan unsur-unsur dalam bangun ruang dengan
baik dan benar.
3. Tingkat pemahaman siswa sudah lebih baik dari siklus 1, hal ini dapat dilihat
dari banyak siswa yang sudah mencapai KKM.
Tabel 4.8
HASIL PEROLEHAN NILAI SIKLUS 2
NILAI
NO NAMA SISWA KETERANGAN
SIKLUS 2
Siklus II
Tabel 4.9
Distribusi Hasil Belajar Siklus 2
NO SKOR (S) FREKUENSI (F) SXF
2 60 2 120
3 70 6 420
4 80 6 480
5 90 6 540
6 100 3 300
Rata-rata 89,56
Tuntas 21 Siswa ( 89,56%)
Tidak Tuntas 2 Siswa (8,7 %)
KKM 70
Dengan hasil rata–rata hasil belajar siswa yang telah mencapai 89,56 , peneliti
memutuskan untuk mengakhiri penelitian karena hasil yang didapat sudah baik dan
memenuhi target yang diinginkan. Namun begitu pada siklus II ini masih ada
kekurangan dengan adanya 2 siswa atau 8,7% dari seluruh siswa yang belum dapat
mencapai KKM. Hal tersebut dapat dilihat seperti pada tabel berikut :
Tabel 4.10
Hasil Perolehan Nilai Siklus 1 dan Siklus 2
NO. NAMA SIKLUS 1 SIKLUS 2 KETERANGAN
1. Adinda intan larassati 80 90 Tuntas
Dalam bentuk grafik data tersebut dapat dibandingkan menjadi sebagi berikut:
Grafik 4.5
Hasil Perolehan Nilai Siswa Pada Siklus 1 dan Siklus 2
100
100
100
90
90
90
90
90
90
90
90
90
80
80
80
80
80
80
80
80
80
80
80
70
70
70
70
70
70
70
70
70
60
60
60
60
60
60
60
60
50
50
Dari hasil siklus 2 yang telah dilakukan ternyata hasil yang di dapat sangat
memuaskan, sehingga tidak perlu dilanjutkan pada tahap berikutnya. Maka
peneliti menyimpulkan bahwa tindakan penelitian ini sudah cukup dan dapat
dihentikan pada siklus 2 karena hasil belajar pencapaiannya meningkat dan
memperoleh target yang diinginkan.
2. Ahmad syechan
80 90 90
3. Allure sangesthi
90 100 100
mahamboro
4. Annisa arba'a miftahun
60 80 90
nikmah
5. Aurelia nayla
60 90 90
anindhita
Grafik 4.6
Perbandingan Nilai Prasiklus, Siklus 1 dan Siklus 2
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning
(CTL) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada materi bangun
ruang kelas VI di SD Islam Al-Ma’ruf dan siswa lebih memahami materi
dalam proses pembelajaran di sekolah. Siswa lebih bersemangat dan
termotivasi dalam kegiatan belajar dengan menggunakan model pembelajaran
ini. Dengan pengalaman belajar seperti ini, tingkat kebosanan dapat
diminimalkan dan dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna untuk
siswa.
Hasil belajar siswa pun mengalami perolehan yang meningkat dan
menjadi bukti bahwa penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching
and Learning sangat efektif dilakukan untuk pelajaran matematika.
Peningkatan tersebut terlihat sebagai berikut:
1. Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran meningkat.
2. Dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning hasil belajar matematika materi bangun ruang meningkat. Hal ini
terbukti dari nilai rata-rata peserta didik siklus 1 dan siklus2
3. Dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning dapat membantu siswa untuk berbagi pendapatnya didepan kelas.
B. SARAN
Beberapa saran yang perlu diperhatikan oleh siswa, guru, sekolah dalam
meningkatkan hasil belajar siswa antara lain :
1. Saran bagi siswa
Siswa diharapkan harus lebih bersemangat lagi dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guru di kelas. Siswa juga
diharapkan aktif, baik itu dalam berdiskusi maupun dalam berbagi
pendapat dalam kegiatan pembelajaran sehingga daya keaktifan dan
kreatifitas para siswa semakin meningkat.
2. Saran bagi guru
Guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran sebelum
mengajar. Mulai membuat RPP, penyusunan lembar kerja untuk siswa,
penggunaan alat peraga yang dapat membantu penyampaian materi,
sampai menentukan model pembelajaran yang akan digunakan ketika
kegiatan pembelajaran berlangsung. Karena dengan adanya model
pembelajaran yang bervariasi, yang dibuat lebih menarik, dan
disesuaikan dengan karakteristik materi yang akan disampaikan, akan
dengan mudah para siswa menyerap materi yang disampaikan guru.
3. Saran bagi sekolah
Sekolah hendaknya dapat memberikan atau menyediakan serta
memudahkan siswa dalam pembelajaran dengan menyediakan
pelayanan pendidikan dan fasilitas.
Akhiruddin dkk. (2019). Belajar dan Pembelajaran. (hal 20-21). Makasar: CV.
CAHAYA BINTANG CEMERLANG.
Ramlah. (2022). Penerapan Media Kartu Domino Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa Kelas VI Pada Pelajaran IPS Di SDN Jango Tahun Pelajaran 2020/2021.
Jurnal Penddikan, 7(1), hal. 138
Sari, D. (2015). Pengembangan Bahan Ajar Bangun Ruang Sisi Datar Melalui
Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR). Tesis. hal.31
Setiawati, S. (2018). Telaah Teoritis: Apa Itu Belajar. Jurnal Penddikan. 35(1), hal.
33
Lampiran 1
I. Kompetensi Inti
KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya.
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati,
menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.
KI 4: Menyajikan pengetahuan factual dan konseptual dalam bahasa yang jelas,
sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan
perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
Bangun ruang merupakan salah satu pokok bahasan yang banyak dijumpai di
dalam kehidupan sehari-hari. Contoh bangun ruang adalah tenda segitiga, kaleng
susu, atap rumah, topi petani, bola, dan beberapa benda lainnya.
1. Prisma
Prisma adalah adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas dan tutup
identik berbentuk segibanyak dan sisi-sisi tegak berbentuk persegi atau persegi
panjang. Nama Prisma bergantung bentuk alas dan tutupnya. Prisma segitiga jika
alas dan tutupnya segitiga. Prisma segiempat jika alas dan tutupnya segiempat,
dan seterusnya. Tabel berikut menunjukkan gambar ilustrasi prisma dan sifat-
sifatnya.
Gambar Bangun Sifat-sifat bangun
2. Tabung
Tabung atau silinder adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh dua
buah lingkaran identik yang sejajar dan sebuah persegi panjang yang mengelilingi
kedua lingkaran tersebut. Tabung memiliki 3 sisi dan 2 rusuk. Tabel dibawah ini
menunjukkan gambat ilustrasi tabung dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun
3. Limas
Limas adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas berbentuk segi
banyak dan sisi-sisi tegak berbentuk segitiga. Tabel dibawah ini menunjukkan
gambar ilustrasi limas dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun
4. Kerucut
Kerucut adalah sebuah limas istimewa yang beralas lingkaran. Kerucut memiliki
2 sisi dan 1 rusuk. Sisi tegak kerucut tidak berupa segitiga tapi berupa bidang
miring yang disebut selimut kerucut. Tabel berikut menunjukkan gambar ilustrasi
kerucut dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun
5. Bola
Bola adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh tak hingga lingkaran
berjari-jari sama panjang dan berpusat pada satu titik yang sama. Bola hanya
memiliki 1 sisi. Tabel berikut ini menunjukkan gambar ilustrasi bola dan sifat-
sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun
V. Sumber Belajar
❖ Lembar Kerja Siswa (LKS)
❖ Indriyastuti. 2020. Dunia Matematika Kelas 6 SD. Jakarta : Platinum
VI. Kegiatan Pembelajaran
Tahap Waktu
Kegiatan Guru
Pembelajaran (Menit)
Kegiatan 10 ❖ Sebelum pembelajaran di mulai, melalui
Pendahuluan
grup WhatsApp/Google classroom guru
menyampaikan video pembelajaran dan
meminta siswa untuk mempelajarainya.
❖ Guru menyapa dan menanyakan kabar
siswa serta mengingatkan siswa untuk
selalu mematuhi protokol kesehatan covid-
19.
❖ Guru menanyakan dan memotivasi siswa
untuk melakukan kegiatan pembelajaran
hari ini.
❖ Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
kepada siswa.
Kegiatan Inti 5 ❖ Guru menggali pengetahuan awal siswa
dengan menanyakan tentang bangunan
ka’bah dan piramida .
VII. Penilaian
Penilaian Pengetahuan
2. Sebuah bangun ruang terdiri atas empat sisi. Bangun ruang yang
mungkin adalah…
a. Prisma segitiga
b. Prisma segiempat
c. Limas segi tiga
d. Limas segi empat
3. Bangun ruang yang memiliki dua rusuk, tiga sisi, alasnya berbentuk
lingkaran, dan tidak memiliki titik sudut adalah ciri-ciri dari bangun…
a. Limas segitiga
b. Kerucut
c. Tabung
d. Bola
4. Bangun ruang yang memiliki bentuk dan ukuran sisi alas dan sisi atasnya
sama dinamakan…
a. Setengah bola
b. Kerucut
c. Prisma Segitiga
d. Limas segiempat
5. Perhatikan gambar berikut!
NAMA MATA
: Dewi Purnamasari : Matematika
MAHASISWA PELAJARAN/TEMA
WAKTU
NIM : 857136326 : 2 x 35 Menit
(JAM)
TEMPAT : SDI Islam Al Ma’ruf : Selasa, 26 April
HARI,... TANGGAL
MENGAJAR 2022
KELAS : VI UPBJJ-UT : Jakarta
I. Kompetensi Inti
KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya.
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati,
menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.
KI 4: Menyajikan pengetahuan factual dan konseptual dalam bahasa yang jelas,
sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan
perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
Bangun ruang merupakan salah satu pokok bahasan yang banyak dijumpai di
dalam kehidupan sehari-hari. Contoh bangun ruang adalah tenda segitiga, kaleng
susu, atap rumah, topi petani, bola, dan beberapa benda lainnya.
1. Prisma
Prisma adalah adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas dan tutup
identik berbentuk segibanyak dan sisi-sisi tegak berbentuk persegi atau persegi
panjang. Nama Prisma bergantung bentuk alas dan tutupnya. Prisma segitiga jika
alas dan tutupnya segitiga. Prisma segiempat jika alas dan tutupnya segiempat,
dan seterusnya. Tabel berikut menunjukkan gambar ilustrasi prisma dan sifat-
sifatnya.
Gambar Bangun Sifat-sifat bangun
2. Tabung
Tabung atau silinder adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh dua
buah lingkaran identik yang sejajar dan sebuah persegi panjang yang mengelilingi
kedua lingkaran tersebut. Tabung memiliki 3 sisi dan 2 rusuk. Tabel dibawah ini
menunjukkan gambat ilustrasi tabung dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun
3. Limas
Limas adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibatasi oleh alas berbentuk segi
banyak dan sisi-sisi tegak berbentuk segitiga. Tabel dibawah ini menunjukkan
gambar ilustrasi limas dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun
4. Kerucut
Kerucut adalah sebuah limas istimewa yang beralas lingkaran. Kerucut memiliki
2 sisi dan 1 rusuk. Sisi tegak kerucut tidak berupa segitiga tapi berupa bidang
miring yang disebut selimut kerucut. Tabel berikut menunjukkan gambar ilustrasi
kerucut dan sifat-sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun
5. Bola
Bola adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh tak hingga lingkaran
berjari-jari sama panjang dan berpusat pada satu titik yang sama. Bola hanya
memiliki 1 sisi. Tabel berikut ini menunjukkan gambar ilustrasi bola dan sifat-
sifatnya.
Gambar bangun Sifat-sifat bangun
V. Sumber Belajar
❖ Lembar Kerja Siswa (LKS)
❖ Indriyastuti. 2020. Dunia Matematika Kelas 6 SD. Jakarta : Platinum
VII. Penilaian
Penilaian Pengetahuan
2. Sebuah bangun ruang terdiri atas empat sisi. Bangun ruang yang
mungkin adalah…
a. Prisma segitiga
b. Prisma segiempat
c. Limas segi tiga
d. Limas segi empat
3. Bangun ruang yang memiliki dua rusuk, tiga sisi, alasnya berbentuk
lingkaran, dan tidak memiliki titik sudut adalah ciri-ciri dari bangun…
a. Limas segitiga
b. Kerucut
c. Tabung
d. Bola
4. Bangun ruang yang memiliki bentuk dan ukuran sisi alas dan sisi atasnya
sama dinamakan…
a. Setengah bola
b. Kerucut
c. Prisma Segitiga
d. Limas segiempat
5. Perhatikan gambar berikut!
NAMA MATA
: Dewi Purnamasari : Matematika
MAHASISWA PELAJARAN/TEMA
WAKTU
NIM : 857136326 : 2 x 35 Menit
(JAM)
TEMPAT : SD Islam Al Ma’ruf : Senin, 09 Mei 2022
HARI, TANGGAL
MENGAJAR
KELAS : VI UPBJJ-UT : Jakarta
No Deskripsi Skor
1 2 3 4 5
1. Menentukan bahan perbaikan pembelajaran dan √
merumuskan
Tujuan/ Indikator perbaikan pembelajaran
2. Mengembangkan dan mengorganisasikan materi, √
menentukan tema, media
(alat bantu pembelajaran) dan sumber belajar
3. Merencanakan skenario perbaikan pembelajaran √
4. Merancang pengolahan kelas perbaikan pembelajaran √
5. Merencanakan prosedur, jenis dan menyiapkan alat √
Penilaian perbaikan pembelajaran
7. Tampilan dokumen rencana perbaikan pembelajaran √
Rerata (jumlah skor dibagi 6) 4,6
B. Alat Penilaian Simulasi PKP 2 (APS-PKP 2)-Lembar Penilaian Simulasi
Melaksanakan Perbaikan Pembelajaran
Petunjuk: Amatilah dengan cermat video pembelajaran. Pusatkanlah perhatian
Anda pada kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta dampaknya
pada diri siswa. Nilailah kemampuan guru tersebut dengan menggunakan butir-
butir penilaian berikut
No Deskripsi Skor
1 2 3 4 5
1. Mengelola ruang dan fasilitas belajar √
2. Melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran √
3. Mengelola interaksi kelas √
4 Bersikap terbuka dan luwes serta membantu √
mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar
5. Mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam √
perbaikan
Pembelajaran mata pelajaran
6. Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar √
7 Kesan umum pelaksanaan pembelajaran √
Rerata (jumlah skor dibagi 7) 4,0
…………………………………..
Identifikasi Masalah
1. Pembelajaran masih berpusat pada guru.
2. Guru belum melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran.
3. Guru hanya menggambar bangun ruang di papan tulis dan menuliskan
unsur-unsurnya.
4. Guru tidak menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari
5. Hasil ulangan matematika siswa pada materi bangun ruang cenderung
rendah. Dari 23 siswa hanya 7 siswa yang mencapai KKM.
Analisis Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi, maka penyebab permasalahan dalam
pembelajaran tersebut di atas adalah guru masih menggunakan model pembelajaran
yang membosankan. Guru kurang melibatkan siswa secara langsung dalam
pembelajaran
Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Untuk meningkatkan hasil belajar matematika mengenai materi bangun ruang pada
siswa kelas VI di SD Islam Al Ma’ruf Jakarta, maka guru akan memprioritaskan
pemecahan masalah dengan menggunakan model pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL).
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apakah penggunaan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat
meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang pada kelas VI
SD Islam Al Ma’ruf Jakarta?
2. Bagaimana penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning
(CTL) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang
siswa kelas VI SD Islam Al Ma’ruf Jakarta?
Lampiran 4
LEMBAR OEBSERVASI
SIKLUS I
B Ketepatan Waktu √
C Kerapihan √
Khudzaifah, [Link]
Lampiran 7
LEMBAR OEBSERVASI
SIKLUS II
Khudzaifah, [Link]
Lampiran 5