0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan53 halaman

Evaluasi Program STBM Puskesmas Kawangu

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut merupakan evaluasi pencapaian program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Desa Kambata Tana, Kabupaten Sumba Timur. 2. Program tersebut belum berhasil mewujudkan Desa Bebas Open Defecation. 3. Cakupan jamban keluarga di Desa Kambata Tana masih 46,28% pada April 2016.

Diunggah oleh

Maria Tamar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan53 halaman

Evaluasi Program STBM Puskesmas Kawangu

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut merupakan evaluasi pencapaian program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Desa Kambata Tana, Kabupaten Sumba Timur. 2. Program tersebut belum berhasil mewujudkan Desa Bebas Open Defecation. 3. Cakupan jamban keluarga di Desa Kambata Tana masih 46,28% pada April 2016.

Diunggah oleh

Maria Tamar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS UDAYANA

EVALUASI PENCAPAIAN PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS


MASYARAKAT (STBM) PILAR PERTAMA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KAWANGU KABUPATEN SUMBA TIMUR
(STUDY KASUS DI DESA KAMBATA TANA)

AFRIANI YORINCE BLEGUR

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2016
UNIVERSITAS UDAYANA

EVALUASI PENCAPAIAN PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS


MASYARAKAT (STBM) PILAR PERTAMA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KAWANGU KABUPATEN SUMBA TIMUR
(STUDY KASUS DI DESA KAMBATA TANA)

AFRIANI YORINCE BLEGUR

NIM : 1420015011

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2016

i
UNIVERSITAS UDAYANA

EVALUASI PENCAPAIAN PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS


MASYARAKAT (STBM) PILAR PERTAMA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KAWANGU KABUPATEN SUMBA TIMUR
(STUDY KASUS DI DESA KAMBATA TANA)

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT

AFRIANI YORINCE BLEGUR

NIM : 1420015011

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2016

ii
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur dipanjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Berkat

rahmat-Nyalah Skripsi yang berjudul “Evaluasi Pencapaian Program Sanitasi

Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pilar Pertama Di Wilayah Kerja

Puskesmas Kawangu Kabupaten Sumba Timur (Study Kasus di Desa

KAMBATA TANA)” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Skripsi ini

disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam karya ilmiah Program

Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan Lingkungan Universitas

Udayana.

Penyusunan Skripsi ini tidak terlepas dari berkat bantuan, dorongan dan

petunjuk dari berbagai pihak hingga akhirnya Skripsi ini dapat diselesaikan. Pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak dr. I Made Ady Wirawan, MPH, Ph.D selaku Ketua Program Studi

Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana

2. Bapak I Gede Herry Purnama, ST., MT., MIDEA. selaku Kepala Bagian

Peminatan Kesehatan Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat dan

selaku pembimbing utama yang senantiasa meluangkan waktunya untuk

memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis dalam penyusunan dan

penyelesaian Skripsi ini.

3. Kedua orang tua penulis Bapak Chrinius Blegur dan Ibu Arianje Lapai Bola,

keempat saudara penulis Yusni Rosnawati Blegur, Agnes Novitasari Blegur,

Yunus Tuang Khalang Blegur dan Esau Karel Blegur serta seluruh keluarga

yang telah memberikan doa dan dukungan untuk kelancaran penyusunan Skripsi

ini.

v
4. Bapak / Ibu Dosen, serta teman – teman Matrikulasi angkatan 2014 yang telah

membantu dan memberikan dukungan baik secara moral maupun material dalam

menyelesaikan Skripsi ini.

5. Kepala Puskesmas dan Sanitarian Puskesmas Kawangu yang bersedia menerima

peneliti untuk melakukan penelitian dangan memberikan berbagai data untuk

menyelesaikan tugas akhir dalam pendidikan kesehatan masyarakat.

6. Kepala Desa Kambata tana, Aparat Desa, dan seluruh masyarakat yang telah

bersedia menjadi responden dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Bapak / Ibu Gembala Gereja Protestan Presbiteri Indonesia Jemaat Gembala

Agung Mokmin Bali, serta sahabat pemuda/i yang telah memberikan dukungan

doa dan semangat dalam penyelesaian Skripsi ini.

8. Kepada semua pihak yang tak dapat disebutkan satu per satu terimakasih atas

segala bantuan dalam penelitian dan penyusunan Skripsi ini sehingga dapat

berjalan dengan baik.

Skripsi ini jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik

yang membangun untuk memperbaiki Skripsi ini. Semoga Skripsi ini dapat

bermanfaat bagi pembaca.

Denpasar, Juni 2016

Penulis

vi
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MASYARAKAT
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Skripsi, 13 Juli 2016

Afriani Yorince Blegur

Evaluasi Pencapaian Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)


Pilar Pertama Di Wilayah Kerja Puskesmas Kawangu Kabupaten Sumba
Timur (Study Kasus di Desa Kambata Tana)

ABSTRAK

Dari sudut pandang Ekonomi, Indonesia mengalami kerugian sebesar $ 6,3


Milyar (56,7 triliun ) per tahun akibat buruknya kondisi higiene dan sanitasi. Untuk
mengatasi hal ini diformulasikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Sebagai Program Nasional. Hasil Rikesdas Provinsi NTT tahun 2013 menunjukan
rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi improved adalah 57,2% di
Kabupaten Sumba Timur. Kecamatan Pandawai adalah salah satu kecamatan di
Kabupaten Sumba Timur yang melaksanakan program STBM namun belum
mencapacai ODF dengan 7 desa binaan. Desa Kambata Tana merupakan salah satu
desa pelaksana program Stop BABS yang berada dalam binaan Puskesmas Kawangu.
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pencapaian program Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM) pilar pertama Stop BABS di wilayah kerja Puskesmas
Kawangu Kabupaten Sumba Timur Tahun 2016 (Study Kasus Desa Kambata Tana).
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif
dan kuantitatif. Informan dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap104
informan serta dilakukan pengamatan dan telaah dokumen. Untuk mengetahui
keabsahan data maka dilakukan uji validitas melalui triangulasi sumber dan
triangulasi teknik.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan program Stop BABS di
desa Kambata Tana telah dilaksanakan dari tahun 2012 hingga saat ini, akan tetapi
belum berhasil mewujudkan sebagai desa SBS. Proses pelaksanaan program STBM
meliputi pra pemicuan (persiapan), pemicuan, serta paska pemicuan. Tahapan –
tahapan pelaksanaan program STBM belum seluruhnya berjalan sesuai dengan
strategi sanitasi total berbasis masyarakat. Cakupan jamban keluarga di desa
Kambata Tana pada bulan april 2016 adalah 46,28%, terjadi peningkatan 19% sejak
awal pelaksanaan program STBM tahun 2012.
Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program satitasi total berbasis
masyarakat pilar 1 Stop BABS di desa Kambata Tana belum berjalan secara
maksimal. Sehingga, disarankan untuk peningkatan motivasi dan tanggungjawab
program agar mewujudkan desa ODF.

Kata kunci : Evaluasi Program, STBM, Stop BABS

vii
SCHOOL OF PUBLIC HEALTH
FACULTY OF MEDICINE, UDAYANA UNIVERSITY
DEPARTMENT OF ENVIROMENTAL HEALTH
Mini Thesis, 13 july 2016
Afriani Yorince Blegur
Evaluation Of The Implementation Community – Led Total Sanitation First
Cornerstones in The Work Area Kawangu Public Health Center East Sumba
2016 (Kambata Tana Village Case Study)

ABSTRACT
Economy studies inj Indonesia, our nation suffered a loss of $ 6.3 billion
(56.7 billion) per year due to poor hygiene and sanitation conditions. To overcome
this problem, government formulated Communit Led Total Sanitation program as the
National Program. Results primary health resourch NTT Province in 2013 showed
that 57, 2% have access to improved sanitation in East Sumba. Pandawai is one of
other districts in East Sumba has implementing the program CLTS but has not
achieve village open defecation free with 7 village built. Kambata Tana village is one
of village implementers Program Community-Led Total Sanitation who are in
assisted Kawangu Public health center. The purpose of this study was to evaluate the
achievement of Community Led Total Sanitation program (STBM) first cornerstones
open defecation free in work area Kawangu Health center East Sumba 2016
(Kambata Tana Village case study).
This research is a descriptive study with qualitative and quantitative
approaches. Informants were collected through interviews and observation to 104
informants and review documents. To determine the validity of the data is carried
Validity through triangulation and triangulation techniques.
The results showed that the implementation of the program Stop Babs in the
village of Kambata Tana been implemented from 2012 to the present but has not
succeded in realizing a village open Defecation Free. The implementation process
CLTS program includes Pre-trigger behavior (preparation), trigger behavior, as well
as after the triggering. Stages - phase of the program has not been entirely run
compatible with the community led total sanitation strategies. Family latrine
coverage in the village of Kambata Tana in april 2016 was 46.28%, an increase of
19% since the start of the program CLTS in 2012.
It can be concluded that the implementation of the program community led
total sanitation cornerstones 1 in the village of Kambata Tan has not run optimally.
Thus, it is advisable to increase the motivation and responsibility program in order
to realize the ODF village.

Keywords: Evaluation program, CLTS, Open Defecation Free

viii
DAFTAR ISI
Halaman Judul.............................................................................................................. 1
Halaman Judul dengan Spesifikasi.............................................................................. ii
Halaman Persetujuan.................................................................................................. iii
Kata Pengantar ........................................................................................................... iv
Abstrak ...................................................................................................................... vii
Daftar Isi..................................................................................................................... ix
Daftar Gambar........................................................................................................... xii
Daftar Tabel ............................................................................................................. xiii
Daftar Lampiran ....................................................................................................... xiv
Daftar Singkatan........................................................................................................ xv
BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 6
1.3 Pertanyaan Penelitian ......................................................................................... 6
1.4 Tujuan Penelitian............................................................................................... 7
1.5 Manfaat Penelitian............................................................................................. 7
1.6 Ruang Lingkup penelitian ................................................................................. 9

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 10


2.1 Sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) .................................................... 10
2.1.1 Sejarah STBM ........................................................................................ 10
2.1.2 Pengertian STBM.................................................................................. 12
2.1.3 Prinsip – Prinsip Dasar STBM .............................................................. 13
2.1.4 Lima Pilar STBM .................................................................................. 14
2.1.5 Pilar Pertama STBM ............................................................................. 23
2.2 Evaluasi program............................................................................................. 30
2.2.1 Pengertian Evaluasi Program ................................................................ 30
2.2.2 Macam - Macam Evaluasi.................................................................... 31
2.2.3 Pemantauan dan Evaluasi Penyelenggaraan STBM............................. 32
2.3 Puskesmas ........................................................................................................... 33
2.3.1 Pengertian Puskesmas ........................................................................... 33

ix
2.3.2 Prinsip Puskesmas ................................................................................. 34
2.3.3 Fungsi Puskesmas ................................................................................. 35

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ....................... 37


3.1 Kerangka Konsep ............................................................................................ 37
3.2 Variabel dan Definisi Operasional .................................................................. 38

BAB 4 METODE PENELITIAN............................................................................... 40


4.1 Karakteristik Penelitian .................................................................................. 40
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................................... 40
4.3 Populasi dan Sampel Peneliti .......................................................................... 41
4.4 Peran Peneliti................................................................................................... 41
4.5 Strategi pengumpulan Data ............................................................................. 42
4.6 Teknik Analisa Data ........................................................................................ 42
4.7 Strategi Validasi Data...................................................................................... 43

BAB 5 HASIL PENELITIAN .................................................................................. 44


5.1 Lokasi Penelitian ............................................................................................ 44
5.2 Karakteristik Responden ................................................................................. 44
5.3 Gambaran Pelaksanaan Program STBM Pilar 1 di Desa Kambata Tana ........ 47
5.4 Hasil Pencapaian Program Stop BABS Tahun 2012 s/d April 2016 di desaa
Kambata Tana.................................................................................................. 53
5.5 Penyebab Belum Tercapainya Desa ODF di Desa Kambata Tana.................. 55

BAB 6 PEMBAHASAN ........................................................................................... 56


6.1 Pra Pemicuan ................................................................................................... 56
6.2 Pemicuan ......................................................................................................... 57
6.3 Paska Pemicuan ............................................................................................... 59
6.4 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pelaksanaan Program
Stop BABS ..................................................................................................... 63

x
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 72
7.1 Kesimpulan...................................................................................................... 72
7.2 Saran ................................................................................................................ 73

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Kerangka Konsep ............................................................................... 37

Gambar 5.1 Grafik Tingkat Pendidikan Responden di Desa Kambata Tana ........ 45

Gambar 5.2 Grafik Tingkat Jenis Pekerjaan Responden di Desa Kambata Tana . 45

Gambar 5.3 Grafik Tingkat Pendapatan Responden di Desa Kambata Tana ....... 46

Gambar 5.4 Grafik Masyarakat Yang Mengetahui Adanya Program

STBM Pilar 1 ..................................................................................... 48

Gambar 5.5 Grafik Tingkat Pendidikan Responden di Desa Kambata Tana ........ 50

Gambar 5.6 Grafik Jenis Hambatan Responden Yang BABS di Desa Kambata

Tana .................................................................................................... 51

Gambar 5.7 Grafik Jenis Jamban Keluarga di Desa Kambata Tana ..................... 54

Gambar 5.8 Grafik Cakupan Jamban di Desa Kambata Tana tahun 2012 s/d

April tahun 2016................................................................................. 54

Gambar 6.1 Contoh Pencatatan perkembangan Program Stop BABS di Desa

Kambata tana ..................................................................................... 67

Gambar 6.2 Bentuk Stiker STBM ......................................................................... 68


DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Data Pengguna Jamban Keluarga di Desa Kambata Tana Bulan

April 2016 ................................................................................................. 53


DAFTAR LAMPIRAN

1. Formulir informed consent

2. Pedoman wawancara mendalam

3. Pedoman observasi

4. Contoh format data perkembangan STBM tingkat desa

5. Foto - foto kegiatan


DAFTAR SINGKATAN

AMPL : Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

APBD : Anggaran dan Belanja Daerah

BABS : Buang Air Besar Sembarangan

BPS : Badan Pusat Statistik

CTPS : Cuci Tangan Pakai Sabun

CLTS : community Led Total Sanitation

CWSHP : Community Water Service and Health Project

Depkes : Departemen Kesehatan

Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan

KKM : Kuliah Kerja Mahasiswa

LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat

Menkes : Menteri Kesehatan

NGO : Non Goverment Organisation

NTT : Nusa Tenggara Timur

MDGs : Millenium Development Goals

ODF : Open Defecation Free

PAMM-RT : Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga

PAMSIMAS : Program Peneyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat

PNS : Pegawai Negeri Sipil

PPK-IPM : Program Pengembangan Kompetensi-Indeks Pembangunan Manusia

PRA : Participatory Rural Appraisal

STBM : Sanitasi Total Berbasis Masyarakat


SBS : Stob Buang Air Besar Sembarangan

TSSM : Total Sanitation and Sanitation Market

VERC’a : Village Education Resource Center

WESLIC II : Water and Sanitation for Low Income Community in Indonesia

WHO : World Health Organisation

WASPALO : Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Plan
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pelaksanaan Pembangunan kesehatan pada dasarnya dilaksanakan oleh

semua komponen bangsa indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan, dan kemampuan hidup sehat masyarakat agar terwujud derajat kesehatan

masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber

daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Keberhasilan

pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan antar upaya program

dan sektor - sektor , sehingga tujuan pembangunan kesehatan dapat tercapai dan

masalah kesehatan yang dihadapi bangsa indonesia dapat teratasi. Salah satu masalah

kesehatan yang dihadapi bangsa ini adalah masih ditemukan masyarakat yang buang

air besar di tempat terbuka yang berdampak pada penyakit diare. World Health

Organization (WHO) menyampaikan bahwa kematian yang disebabkan karena

waterborne disease mencapai 3.400.000 jiwa/tahun. Serta menurut WHO, dari semua

kematian yang berakar pada buruknya kualitas air dan sanitasi, diare merupakan

penyebab kematian terbesar yaitu 1.400.000 jiwa/tahun. Demikian pula penduduk

Indonesia yang hidup dengan kondisi sanitasi buruk mencapai 72.500.000 jiwa yang

tersebar di daerah perkotaan (18,2%) dan perdesaan (40%). (Kemenkes, 2013)

Dari sudut pandang Ekonomi, Indonesia mengalami kerugian sebesar $6,3

Milyar (56,7 triliun ) per tahun akibat buruknya kondisi higiene dan sanitasi. Oleh

karena itu adanya intervensi melalui modifikasi lingkungan untuk menurunkan resiko

1
penyakit diare hingga 94 % modifikasi lingkungan tersebut meliputi penyediaan air

bersih menurunkan resiko 25 %, pemanfaatan jamban keluarga menurunkan resiko

2
3

32 % , pengolahan air minum tingkat rumah tangga menurunkan resiko 39 %, dan

cuci tangan pakai sabun menurunkan resiko 45 %. Dari hasil studi tersebut sehingga

diformulasikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Sebagai Program

Nasional. Target dari STBM adalah pencapaian Millenium Development Goals

(MDGs) 7c , Renstra Kemenkes 2010 – 2014 , RPJMN 2010 – 2014 di mana

persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat sebanyak 75 % sementara itu

capaian pada tahun 2012 adalah 56,24 % dari target yang ditetapkan yaitu 69%.

(Kemenkes,2013 )

STBM merupakan program pemerintah dalam rangka memperkuat upaya

membudayakan hidup bersih dan sehat, mencegah penyebaran penyakit berbasis

lingkungan, meningkatkan kemampuan masyarakat, serta mengimplementasikan

komitmen pemerintah untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar yang

berkesinambungan. Upaya sanitasi berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI

Nomor 852 /Menkes /SK /IX /2008 yang disebut Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

(STBM), meliputi 5 Pilar yaitu: Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS),

Cuci tangan pakai sabun ( CTPS ), Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga dan

Makanan Sehat (PAM-RT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PSRT),

Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga (PALRT). (Ditjen PP dan PL, 2011)

Program STBM tergolong program yang baru dilaksanakan dan tidak

adanya subsidi pada program ini merupakan tantangan bagi tenaga kesehatan.

Pelaksanaan program STBM dimulai dari pilar pertama yaitu Stop Buang Air Besar

Sembarangan (Stop BABS). Fokus pertama dilakukan pada Stop BABS karena pilar

tersebut berfungsi sebagai pintu masuk menuju sanitasi total serta merupakan upaya

untuk memutus rantai kontaminasi kotoran manusia terhadap air baku minum,
4

makanan, dan lainnya. Program ini lebih menekankan pada perubahan perilaku

kelompok masyarakat dengan metode pemicuan. Pemicuan dilaksanakan dengan cara

fasilitasi kepada masyarakat dalam upaya memperbaiki keadaan sanitasi di

lingkungan mereka hingga mencapai kondisi Open Defecation Free (ODF). Kondisi

ODF ditandai dengan 100% masyarakat telah mempunyai akses BAB di jamban

sendiri, tidak adanya kotoran di lingkungan mereka, serta mereka mampu menjaga

kebersihan jamban.

Masyarakat di Provinsi NTT masyarakat masih memiliki perilaku buang

air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun, dan tempat terbuka lainya . Hasil riset

kesehatan dasar Propinsi NTT pada tahun 2013 menunjukkan bahwa rumah tangga

yang memiliki akses terhadap sanitasi Improved adalah yang terendah yaitu 30,5 %.

Seluruh Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih terdapat 21,3% rumah

tangga yang belum memiliki fasilitas buang air besar dengan kisaran antara 0,2% di

Kupang, hingga 57,2 % di Sumba Timur. Sebanyak 2% rumah tangga di provinsi

itu memiliki fasilitas buang air besar umum, 6,5% fasilitas buang air besar milik

bersama dan hanya 70,2% yang merupakan milik sendiri. Persentase terbesar

masyarakat yang memiliki fasilitas buang air besar milik sendiri adalah di Timor

Tengah Selatan (91,3 % ) dan Timor Tengah Utara (91,4 %). Serta rumah tangga

yang tidak mempunyai fasilitas tempat buang air yang persentasenya lebih besar

terdapat di pedesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan. ( Kemenkes, 2013 )

Dalam Laporan kemajuan STBM Propinsi NTT menunjukkan bahwa masih

terjadi perilaku buang air besar sembarangan di Kabupaten Sumba Timur. Dari 22

Kecamatan dan 156 Desa yang ada dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 54.940

yang masih BABS pada saat ini adalah sebanyak 34.706 atau 72, 62 % STBM
5

Indonesia, “Laporan kemajuan STBM di Kabupaten Sumba Timur”, Available

:[Link] / accesed : 2016 Maret 5). Hal ini tentu

menunjukan layanan sanitasi dasar yang masih rendah di Kabupaten Sumba Timur

serta implikasi dari kondisi seperti ini adalah pada kasus diare. Hasil Rikesdas tahun

2013 menunjukan insiden diare di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah 4,3 % dan

periode prevalence sebesar 10,9 %. Khusus pada balita, insiden diare tahun 2013

adalah 6,7%. Diare balita tertinggi pada kelompok 12-23 bulan yaitu 9,5 %, sedikit

lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan dan mendominasi di

perdesaan.

Program STBM merupakan program nasional yang telah diterapkan pada 22

Kecamatan di Kabupaten Sumba Timur dan bertujuan mengubah perilaku

masyarakat setempat. Pada saat ini fokus utama program STBM di kabupaten ini

masih tertuju pada pilar pertama yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop

BABS). Indikator keberhasilan pilar pertama adalah tercapainya desa SBS (Stop

Buang Air Besar Sembarangan) yaitu 100% masyarakat desa setempat buang air

besar di jamban yang sehat. Hingga saat ini satu Kecamatan telah berhasil

mendeklarasikan sebagai kecamatan yang ODF. Kecamatan tersebut adalah

Kecamatan Katala Hamu Lingu yang memiliki lima desa sebagai pelaksana program

STBM pilar pertama. (STBM Indonesia,“Laporan kemajuan STBM di Kabupaten

Sumba Timur”, Available :http:// [Link] /accesed : 2016 Maret5).

Upaya peningkatan akses jamban keluarga di 21 kecamatan lainnya terus

dilakukan dengan pelaksanaan program STBM pilar pertama. Salah satu kecamatan

yang melaksanakan adalah kecamatan Pandawai. Akses terhadap jamban di

Kecamatan Pandawai adalah sebesar 32,04% serta KK yang BABS sebanyak 2.484
6

KK yang berasal dari 7 desa. Bila dilihat berdasarkan masing- masing desa

menunjukan 65% di Kadumbul, 51,42% di Watumbaka, 35,61% di Kawangu,

33,03% di KambataTana, 18,46% di Laindeha, 17,80% di Palakahembi, dan 2,22%

di Maubokul. Dengan demikian Kecamatan Pandawai belum memiliki desa yang

ODF( Open Defecation Free ). Oleh karena itu, untuk mengetahui hasil program

STBM di Kecamatan Pandawai yang lebih detail perlu dilakukan evaluasi dengan

tujuan sebagai alat untuk memperbaiki kebijaksanaan pelaksanaan program dan

perencanaan program yang akan datang untuk mewujudkan kecamatan pandawai

yang SBS dan terciptanya masyarakat yang sehat dengan akses layanan sanitasi yang

layak.

Pelaksanaan program STBM di kecamatan Pandawai berada dalam binaan

Puskesmas Kawangu, Sehingga untuk mengetahui tingkat keberhasilan program

STBM pilar satu maka dilakukan evaluasi pada wilayah kerja Puskesmas Kawangu.

Desa KambataTana adalah salah satu desa yang merupakan wilayah kerja puskesmas

kawangu. Sebagai langkah awal pelaksanaan evaluasi kompherensif, maka dilakukan

evaluasi di desa KambataTana sebagai studi kasus pelaksanaan evaluasi program

STBM pilar satu. Evaluasi Program STBM yang dimaksud adalah evaluasi proses

yang meliputi persiapan pemicuan, pemicuan , dan paska pemicuan, serta evaluasi

output pada masyarakat yang telah mengikuti pemicuan STBM pilar satu. Sehingga

dapat mengetahui capaian program yang telah dilaksanakan di desa KambataTana.

1.2. Rumusan Masalah

Menurut data yang diperoleh dari Puskesmas Kawangu bahwa belum

dilaksanakan evaluasi yang kompherensif dengan melihat ketersediaan proses


7

kegiatan dan output dari program STBM di Puskesmas Kawangu serta belum adanya

desa yang ODF sehingga peneliti tertarik untuk mengevaluasi pelaksanakan program

STBM di wilayah kerja Puskesmas Kawangu.

Pelaksanaan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Kabupaten

Sumba Timur masih terfokus pada pilar 1 yaitu Stop BABS sehingga berdasarkan

uraian di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

“Bagaimana pelaksanaan program sanitasi Total berbasis masyarakat

(STBM ) pilar pertama di wilayah kerja Puskesmas Kawangu Kabupaten Sumba

Timur tahun 2016 ?

1.3. Pertayaan Penelitian

Berdasarkan Permasalahan yang dijelaskan pada rumusan masalah, maka

dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana proses pelaksanaan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

(STBM) pilar pertama di wilayah kerja Puskesmas Kawangu (study kasus di

desa Kambata Tana)?

2. Bagaimana hasil pencapaian program STBM pilar pertama di wilayah kerja

Puskesmas Kawangu ?

1.4. Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengevaluasi pencapaian program

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pilar pertama Stop BABS di wilayah

kerja Puskesmas Kawangu Kabupaten Sumba Timur Tahun 2016 (Study Kasus Desa

Kambata Tana).
8

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan dari program STBM pilar petama di

Desa Kambata Tana.

2. Untuk mengetahui proporsi rumah tangga yang melakukan perubahan perilaku

Stop BABS paska pemicuan pilar pertama program STBM di desa Kambata

Tana.

3. Untuk mengetahui penyebab atau kendala yang dihadapi masyarakat di desa

Kambata Tana sehingga masih berperilaku buang air besar sembarangan.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat bagi peneliti lain

1. Sebagai sarana pengaplikasian teori evaluasi dan sanitasi yang telah didapatkan

selama perkuliahan.

2. Sebagai bahan untuk melaksanakan penelitian selanjutnya yang berkaitan

dengan program STBM.

1.5.2 Bagi masyarakat

Sebagai sarana informasi tentang manfaat adanya program STBM bagi

masyarakat sehingga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan

program STBM.

1.5.3 Bagi pemerintah

1. Sebagai sarana informasi tentang hasil evaluasi program nasional pemerintah

yang dijalankan di wilayah kerja Puskesmas Kawangu


9

2. Sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan masyarakat untuk

persiapan meningkatkan kesehatan masyarakat.

3. Sebagai sarana pertimbangan untuk pihak lintas sektor program STBM

terutama di wilayah kerja Puskesmas Kawangu.

1.5.4 Bagi peneliti

1. Sebagai sarana mempelajari program nasional STBM yang dicanangkan untuk

kesehatan masyarakat.

2. Sebagai sarana melatih kemampuan mengevaluasi program nasional kesehatan

masyarakat yang dicanangkan oleh pemerintah pada pelaksanaannya di

wilayah kerja Puskemas Kawangu.

3. Sebagai sarana untuk mempelajari pelaksanaan program terutama STBM,

sehingga nantinya dalam dunia kerja dapat melaksanakan program dengan

lebih baik.

1.6. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah mengevaluasi tentang proses

pelaksanaan dan output dari Program STBM di Wilayah Kerja Puskesmas Kawangu

tahun 2016 yaitu study kasus pada desa KambataTana.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

2.1.1 Sejarah STBM

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan hasil adopsi dari

hasil evaluasi yang dilakukan oleh Kamal Kar terhadap program air dan sanitasi yang

dilaksanakan oleh WaterAid Bangladesh dan organisasi mitra lokal setempat yang

bernama VERC’a (Village Education Resource Centre). Program ini telah

dilaksanakan di Bangladesh sejak akhir tahun 1999 sampai di awal tahun 2000. Hal

ini menandai dimulainya pendekatan CLTS (community Led Total Sanitation) yang

berfokus pada penggunaan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) yang

membuka peluang komunitas setempat melakukan analisa bersama mengenai

keadaan sanitasi mereka. Sejak tahun 2000, melalui pelatihan yang langsung

dilakukan oleh Kamal Kar, dan didukung oleh banyak lembaga serta dilakukan

melalui kunjungan lintas negara, mampu menyebarluaskan CLTS ke organisasi-

organisasi lain di Bangladesh. Selain itu CLTS juga berkembang dinegara lainnya di

Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah. Hingga saat

ini, CLTS telah mengarah pada skala peningkatan cakupan area yang paling besar di

Bangladesh, India, Kamboja, Indonesia dan Pakistan. Telah diperkenalkan pula

pelatihan-pelatihan CLTS yang bervariasi di berbagai tingkatan sebagai upaya untuk

memulai CLTS seperti di China, Mongolia, dan Nepal. Baru-baru ini telah digagas

dengan awal kegiatan yang menjanjikan seperti yang terjadi di Ethiopia, Kenya,

1
Zambia dan negara-negara Afrika lainnya, juga di Bolivia, Amerika Selatan, dan

Yaman di Timur Tengah. Lembaga atau instansi-instansi yang mensponsori pelatihan

- pelatihan yang dilakukan oleh Kamal Kar ini meliputi antara lain, WSP-World

Bank, CARE, Concern, WSLIC II (Water and Sanitation for Low Income Community)

di Indonesia), TSSM (Total Sanitation and Sanitation Marketing) yang didanai oleh

the Bill and Melinda Gates Foundation di Jawa Timur, Dana Sosial untuk

Pembangunan di Yaman, Vita Internasional NGO Irlandia untuk Pemulihan

Pengungsi yang bergerak di Ethiopia, Plan International dan UNICEF. (Kar, K and

Chambers, R, 2008).

Lahirnya konsep strategi pendekatan STBM tidak terlepas dari mulai

dikenalnya suatu metode pendekatan untuk merubah perilaku masyarakat yang

berbasis pada PRA yaitu metode CLTS (Community Led Total Sanitation).

Pelaksanaan CLTS di Indonesia dimulai dengan kunjungan pembelajaran oleh

beberapa pelaku sanitasi ke Bangladesh dan India yang diinisiasi oleh WSP-EAP

pada tahun 2004, dilanjutkan dengan mengundang pakar CLTS Kamal Kar ke

Indonesia untuk mengadakan rapid assessment untuk menilai apakah metode CLTS

dapat diterapkan di Indonesia atau tidak. Kamal Kar juga diminta sebagai

narasumber pada TOT metode CLTS pertama pada awal mei tahun 2005 yang

berlokasi di Lumajang. Setelah pelaksanaan TOT dilanjutkan dengan uji coba

penerapan metode CLTS pada 6 kabupaten yang berada pada propinsi yang berbeda

yaitu : Lumajang di Jawa Timur, Sumbawa di NTB, Sambas di Kalimantan Barat,

Muara Enim di Sumatra Selatan, Muaro Jambi di Jambi, dan Bogor di Jawa Barat.

Setelah enam bulan kemudian dilaksanakan evaluasi dan hasil uji coba tersebut

dinilai sangat baik sehingga dilakukanlah perumusan sebuah konsep strategi nasional
untuk perluasan akses sanitasi pedesaan. (STBM Indonesia, “Sejarah STBM”,

Available :[Link] / accesed : 2016 Januari 15 ).

2.1.2 Pengertian STBM

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat adalah suatu pendekatan untuk

mengubah perilaku hygiene dan sanitasi masyarakat melalui pemberdayaan

masyarakat dengan metode pemicuan yaitu membuat masyarakat merasa jijik, malu,

takut dosa, dan takut sakit sebagai dampak dari perilaku tidak sehat yang mereka

lakukan. STBM merupakan suatu pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat

untuk mengalisa kondisi sanitasi mereka melalui suatu proses pemicuan, sehingga

masyarakat dapat berpikir dan mengambil tindakan untuk meninggalkan kebiasaan

buang air besar di tempat terbuka dan sembarang tempat. Pendekatan yang dilakukan

dalam STBM dapat menyerang/menimbulkan rasa ngeri dan malu kepada

masyarakat tentang kondisi lingkungannya. Melalui pendekatan ini akan membangun

kesadaran untuk mengubah perilaku dan kondisi lingkungan yang sangat tidak bersih

dan tidak nyaman. Dari pendekatan ini juga menimbulkan kesadaran bahwa

kebiasaan BAB di sembarang tempat adalah masalah bersama karena dapat

berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya harus dilakukan dan

dipecahkan secara bersama. (Kemenkes , 2014)

Prinsip pendekatan STBM adalah non subsidi. Masyarakat akan di

“bangkitkan” kesadarannya bahwa masalah sanitasi adalah masalah masyarakat

sendiri dan bukan masalah pihak lain. Dengan demikian yang harus memecahkan

permasalahan sanitasi adalah masyarakat sendiri. Diharapkan dengan bermula dari

STBM, kemudian dilanjutkan dengan program kesehatan lainnya seperti program


kampanye cuci tangan, dan program kesehatan lainnya, sehingga upaya peningkatan

kesehatan masyarakat melalui perilaku hidup bersih dan sehat dapat terwujud.

Desa STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) adalah desa yang sudah

Stop BABS minimal 1 dusun, mempunyai tim kerja STBM atau natural leader, dan

telah mempunyai rencana kerja STBM atau rencana tindaklanjut. Sanitasi total

berbasis masyarakat sebagai pilihan pendekatan strategi dan program untuk

mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan

menggunakan metode pemicuan dalam rangka mencapai target MDGs. Jumlah desa

STBM mengalami peningkatan dari 6.235 menjadi 11.165 desa pada tahun 2011.

Target desa STBM pada tahun 2013 adalah sebanyak 16.000 desa dan yang tercapai

sebanyak 16.228 desa. Jika dilihat jumlah desanya, maka yang terbanyak adalah di

Jawa Timur yaitu 3.618 desa, diikuti soleh Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan

Nusa Tenggara Timur. (Kemenkes, 2013 )

2.1.3 Prinsip – prinsip dasar STBM

Prinsip – prinsip dasar yang harus dianut dan ditegakan dalam setiap

pelaksanaaa program STBM adalah :

1. Tanpa subsidi kepada masyarakat

2. Tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban

3. Masyarakat sebagai pemimpin

4. Totalitas; seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan -

perencanaan – pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan

Community lead tidak hanya dalam sanitasi, tetapi juga dapat di terapkan

dalam hal lain seperti dalam pendidikan, pertanian, dan sektor lainnya dengan

memperhatikan hal – hal berikut :


1. Inisiatif masyarakat

2. Total atau keseluruhan, keputusan masyarakat dan pelaksanaan secara kolektif

adalah kunci utama.

3. Solidaritas masyarakat (laki – laki / perempuan, kaya / miskin) sangat terlihat

dalam pendekatan ini.

4. Semua dibuat oleh masyarakat, tidak ada ikut campur pihak luar, dan biasanya

akan muncul“natural leader”.

2.1.4 Lima Pilar STBM

1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS)

Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) adalah suatu kondisi ketika

setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. Perilaku SBS

diikuti dengan pemanfaatan sarana sanitasi yang saniter berupa jamban sehat. Saniter

merupakan kondisi fasilitas sanitasi yang memenuhi standar dan persyaratan

kesehatan yaitu:

a. Tidak mengakibatkan terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang

berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia; dan

b. Dapat mencegah masuknya vektor penyakit untuk menyebar kuman dan

penyakit pada pemakai dan lingkungan sekitarnya. (Permenkes,2014)

2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

CTPS merupakan perilaku cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air

bersih yang mengalir.

a. Langkah-langkah CTPS yang benar :

1) Basahi kedua tangan dengan air bersih yang mengalir.


2) Gosokkan sabun pada kedua telapak tangan sampai berbusa lalu gosok

kedua punggung tangan, jari jemari, kedua jempol, sampai semua

permukaan kena busa sabun.

3) Bersihkan ujung-ujung jari dan sela-sela di bawah kuku.

4) Bilas dengan air bersih sambil menggosok-gosok kedua tangan sampai

sisa sabun hilang.

5) Keringkan kedua tangan dengan memakai kain, handuk bersih, atau

kertas tisu, atau mengibas-ibaskan kedua tangan sampai kering.

b. Waktu penting perlunya CTPS, antara lain:

1) Sebelum makan

2) Sebelum mengolah dan menghidangkan makanan

3) Sebelum menyusui

4) Sebelum memberi makan bayi/balita

5) Sesudah buang air besar/kecil

6) Sesudah memegang hewan/unggas

c. Kriteria Utama Sarana CTPS

1) Air bersih yang dapat dialirkan

2) Sabun

3) Penampungan atau saluran air limbah yang aman (Permenkes,2014)

3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT)

PAMM-RT merupakan suatu proses pengolahan, penyimpanan, dan

pemanfaatan air minum dan pengelolaan makanan yang aman di rumah tangga.

Tahapan kegiatan dalam PAMM-RT, yaitu:


a. Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga

1) Pengolahan air baku

Apabila air baku keruh perlu dilakukan pengolahan awal: pengendapan dengan

gravitasi alami, penyaringan dengan kain, dan pengendapan dengan bahan

kimia/tawas.

2) Pengolahan air untuk minum

Pengolahan air minum di rumah tangga dilakukan untuk mendapatkan air

dengan kualitas air minum. Cara pengolahan yang disarankan, yaitu: air untuk

minum harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan kuman dan penyakit

melalui :

a) Filtrasi (penyaringan), contoh : biosand filter, keramik filter, dan

sebagainya.

b) Klorinasi, contoh : klorin cair, klorin tablet, dan sebagainya.

c) Koagulasi dan flokulasi (penggumpalan), contoh : bubuk koagulan

d) Desinfeksi, contoh : merebus, sodis (Solar Water Disinfection)

3) Wadah Penyimpanan Air Minum

Setelah pengolahan air, tahapan selanjutnya menyimpan air minum dengan

aman untuk keperluan sehari-hari, dengan cara:

a) Wadah bertutup, berleher sempit, dan lebih baik dilengkapi dengan

kran.

b) Air minum sebaiknya disimpan di wadah pengolahannya.

c) Air yang sudah diolah sebaiknya disimpan dalam tempat yang

bersih dan selalu tertutup.


d) Minum air dengan menggunakan gelas yang bersih dan kering atau

tidak minum air langsung mengenai mulut/wadah kran.

e) Letakkan wadah penyimpanan air minum di tempat yang bersih

dan sulit terjangkau oleh binatang.

f) Wadah air minum dicuci setelah tiga hari atau saat air habis,

gunakan air yang sudah diolah sebagai air bilasan terakhir.

4) Hal penting dalam PAMM-RT

a) Cucilah tangan sebelum menangani air minum dan mengolah

makanan siap santap.

b) Mengolah air minum secukupnya sesuai dengan kebutuhan rumah

tangga.

c) Gunakan air yang sudah diolah untuk mencuci sayur dan buah siap

santap serta untuk mengolah makan siap santap.

d) Tidak mencelupkan tangan ke dalam air yang sudah diolah menjadi

air minum.

e) Secara periodik meminta petugas kesehatan untuk melakukan

pemeriksaan air guna pengujian laboratorium.

b. Pengelolaan Makanan Rumah Tangga

Makanan harus dikelola dengan baik dan benar agar tidak menyebabkan

gangguan kesehatan dan bermanfaat bagi tubuh. Cara pengelolaan makanan yang

baik yaitu dengan menerapkan prinsip higiene dan sanitasi makanan. Pengelolaan

makanan di rumah tangga, walaupun dalam jumlah kecil atau skala rumah tangga

juga harus menerapkan prinsip higiene sanitasi makanan. Prinsip higiene sanitasi

makanan :
1) Pemilihan bahan makanan

Pemilihan bahan makanan harus memperhatikan mutu dan kualitas serta

memenuhi persyaratan yaitu untuk bahan makanan tidak dikemas harus dalam

keadaan segar, tidak busuk, tidak rusak/berjamur, tidak mengandung bahan kimia

berbahaya dan beracun serta berasal dari sumber yang resmi atau jelas.

Untuk bahan makanan dalam kemasan atau hasil pabrikan, mempunyai label

dan merek, komposisi jelas, terdaftar dan tidak kadaluwarsa.

2) Penyimpanan bahan makanan

Menyimpan bahan makanan baik bahan makanan tidak dikemas maupun

dalam kemasan harus memperhatikan tempat penyimpanan, cara penyimpanan,

waktu/lama penyimpanan dan suhu penyimpanan. Selama berada dalam

penyimpanan harus terhindar dari kemungkinan terjadinya kontaminasi oleh bakteri,

serangga, tikus dan hewan lainnya serta bahan kimia berbahaya dan beracun. Bahan

makanan yang disimpan lebih dulu atau masa kadaluwarsanya lebih awal

dimanfaatkan terlebih dahulu.

3) Pengolahan makanan

Empat aspek higiene sanitasi makanan sangat mempengaruhi proses

pengolahan makanan, oleh karena itu harus memenuhi persyaratan, yaitu :

a) Tempat pengolahan makanan atau dapur harus memenuhi

persyaratan teknis higiene sanitasi untuk mencegah risiko

pencemaran terhadap makanan serta dapat mencegah masuknya

serangga, binatang pengerat, vektor dan hewan lainnya.


b) Peralatan yang digunakan harus tara pangan (food grade) yaitu

aman dan tidak berbahaya bagi kesehatan (lapisan permukaan

peralatan tidak larut dalam suasana asam/basa dan tidak

mengeluarkan bahan berbahaya dan beracun) serta peralatan harus

utuh, tidak cacat, tidak retak, tidak gompel dan mudah dibersihkan.

c) Bahan makanan memenuhi persyaratan dan diolah sesuai urutan

prioritas Perlakukan makanan hasil olahan sesuai persyaratan

higiene dan sanitasi makanan, bebas cemaran fisik, kimia dan

bakteriologis.

d) Penjamah makanan/pengolah makanan berbadan sehat, tidak

menderita penyakit menular dan berperilaku hidup bersih dan

sehat.

4) Penyimpanan makanan matang

Penyimpanan makanan yang telah matang harus memperhatikan suhu,

pewadahan, tempat penyimpanan dan lama penyimpanan. Penyimpanan pada suhu

yang tepat baik suhu dingin, sangat dingin, beku maupun suhu hangat serta lama

penyimpanan sangat mempengaruhi kondisi dan cita rasa makanan matang.

5) Pengangkutan makanan

Dalam pengangkutan baik bahan makanan maupun makanan matang harus

memperhatikan beberapa hal yaitu alat angkut yang digunakan, teknik/cara

pengangkutan, lama pengangkutan, dan petugas pengangkut. Hal ini untuk

menghindari risiko terjadinya pencemaran baik fisik, kimia maupun bakteriologis.

6) Penyajian makanan
Makanan dinyatakan layak santap apabila telah dilakukan uji organoleptik

atau uji biologis atau uji laboratorium, hal ini dilakukan bila ada kecurigaan terhadap

makanan tersebut. Adapun yang dimaksud dengan:

a) Uji organoleptik yaitu memeriksa makanan dengan cara meneliti

dan menggunakan 5 (lima) indera manusia yaitu dengan melihat

(penampilan), meraba (tekstur, keempukan), mencium (aroma),

mendengar (bunyi misal telur) menjilat (rasa). Apabila secara

organoleptik baik maka makanan dinyatakan layak santap.

b) Uji biologis yaitu dengan memakan makanan secara sempurna dan

apabila dalam waktu 2 (dua) jam tidak terjadi tanda-tanda

kesakitan, makanan tersebut dinyatakan aman

c) Uji laboratorium dilakukan untuk mengetahui tingkat cemaran

makanan baik kimia maupun mikroba. Untuk pemeriksaan ini

diperlukan sampel makanan yang diambil mengikuti

standar/prosedur yang benar dan hasilnya dibandingkan dengan

standar yang telah baku.

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penyajian makanan yaitu tempat

penyajian, waktu penyajian, cara penyajian dan prinsip penyajian. Lamanya waktu

tunggu makanan mulai dari selesai proses pengolahan dan menjadi makanan matang

sampai dengan disajikan dan dikonsumsi tidak boleh lebih dari 4 (empat) jam dan

harus segera dihangatkan kembali terutama makanan yang mengandung protein

tinggi, kecuali makanan yang disajikan tetap dalam keadaan suhu hangat. Hal ini

untuk menghindari tumbuh dan berkembang biaknya bakteri pada makanan yang

dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan. (Permenkes,2014)


4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga

Tujuan pengamanan sampah rumah tangga adalah untuk menghindari

penyimpanan sampah dalam rumah dengan segera menangani sampah.

Pengamanan sampah yang aman adalah pengumpulan, pengangkutan,

pemrosesan, pendaur-ulangan atau pembuangan dari material sampah dengan cara

yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Prinsip-prinsip

dalam Pengamanan sampah:

a. Reduce

Reduce yaitu mengurangi sampah dengan mengurangi pemakaian barang

atau benda yang tidak terlalu dibutuhkan. Contohnya: mengurangi pemakaian

kantong plastik, mengatur dan merencanakan pembelian kebutuhan rumah tangga

secara rutin misalnya sekali sebulan atau sekali seminggu, mengutamakan membeli

produk berwadah sehingga bisa diisi ulang, memperbaiki barang-barang yang rusak

(jika masih bisa diperbaiki) dan membeli produk atau barang yang tahan lama.

b. Reuse

Reuse yaitu memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai tanpa

mengubah bentuk. Contohnya: sampah rumah tangga yang bisa dimanfaatkan seperti

koran bekas, kardus bekas, kaleng susu, wadah sabun lulur, dan sebagainya. Barang-

barang tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin misalnya diolah menjadi tempat

untuk menyimpan tusuk gigi, perhiasan, dan sebagainya, memanfaatkan lembaran

yang kosong pada kertas yang sudah digunakan, memanfaatkan buku cetakan bekas
untuk perpustakaan mini di rumah dan untuk umum, menggunakan kembali kantong

belanja untuk belanja berikutnya.

c. Resycle

Recycle yaitu mendaur ulang kembali barang lama menjadi barang baru.

Contohnya: sampah organik bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dengan cara

pembuatan kompos atau dengan pembuatan lubang biopori, sampah anorganik bisa

di daur ulang menjadi sesuatu yang bisa digunakan kembali, seperti mendaur ulang

kertas yang tidak digunakan menjadi kertas kembali, botol plastik bisa menjadi

tempat alat tulis, bungkus plastik detergen atau susu bisa dijadikan tas, dompet, dan

sebagainya, sampah yang sudah dipilah dapat disetorkan ke bank sampah terdekat,

kegiatan pengamanan sampah rumah tangga dapat dilakukan dengan cara sampah

tidak boleh ada dalam rumah dan harus dibuang setiap hari dan pemilahan dalam

bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau

sifat sampah. Pemilahan sampah dilakukan terhadap 2 (dua) jenis sampah, yaitu

organik dan nonorganik. Untuk itu perlu disediakan tempat sampah yang berbeda

untuk setiap jenis sampah tersebut serta tempat sampah harus tertutup rapat.

Pengumpulan sampah dilakukan melalui pengambilan dan pemindahan sampah dari

rumah tangga ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah

terpadu. Sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara atau

tempat pengolahan sampah terpadu diangkut ke tempat pemrosesan akhir.

5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga

Proses pengamanan limbah cair yang aman pada tingkat rumah tangga

untuk menghindari terjadinya genangan air limbah yang berpotensi menimbulkan

penyakit berbasis lingkungan. Untuk menyalurkan limbah cair rumah tangga


diperlukan sarana berupa sumur resapan dan saluran pembuangan air limbah rumah

tangga. Limbah cair rumah tangga yang berupa tinja dan urine disalurkan ke tangki

septik yang dilengkapi dengan sumur resapan. Limbah cair rumah tangga yang

berupa air bekas yang dihasilkan dari buangan dapur, kamar mandi, dan sarana cuci

tangan disalurkan ke saluran pembuangan air limbah. Prinsip pengamanan limbah

cair rumah tangga adalah:

a. Air limbah kamar mandi dan dapur tidak boleh tercampur dengan air dari

jamban

b. Tidak boleh menjadi tempat perindukan vektor

c. Tidak boleh menimbulkan bau

d. Tidak boleh ada genangan yang menyebabkan lantai licin dan rawan

kecelakaan

e. Terhubung dengan saluran limbah umum/got atau sumur resapan.

1.1.5 Pilar Pertama STBM

Pilar Pertama STBM adalah Stop buang air besar sembarangan. Pesan yang

ingin disampaikan pada masyarakat dari pilar pertama STBM adalah :

a. Buang air besar sembarangan akan mencemari lingkungan dan akan

menjadi sumber penyakit.

b. Buang air besar dengan cara yang aman dan sehat berarti menjaga harkat

dan martabat diri dan lingkungan.

c. Jangan jadikan kotoran yang dibuang sembarangan untuk penderitaan

orang lain dan diri sendiri.


d. Cara hidup sehat dengan membiasakan keluarga buang air besar yang

aman dan sehat berarti menjaga generasi untuk tetap sehat.

Berdasarkan konsep dan definisi MDGs, akses sanitasi layak yaitu apabila

penggunaan fasilitas tempat buang air besar milik sendiri atau bersama, dengan jenis

kloset leher angsa dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik

atau sarana pembuangan air limbah (SPAL). Metode pembuangan tinja yang baik

yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut :

1. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi

2. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki

mata air atau sumur

3. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan

4. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain

5. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar, atau bila memang benar-

benar diperlukan harus dibatasi seminimal mungkin

6. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang

7. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.

(Depkes, 2013)

1. Indikator Pilar Pertama STBM

Indikator suatu Desa/Kelurahan dikatakan telah mencapai status SBS

adalah:

a. Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban yang sehat dan

membuang tinja/kotoran bayi hanya ke jamban yang sehat (termasuk di

sekolah).

b. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.


c. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk

mencegah kejadian BAB di sembarang tempat.

d. Ada mekanisme pemantauan umum yang dibuat masyarakat untuk

mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat.

e. Ada upaya atau strategi yang jelas untuk dapat mencapai sanitasi total.

2. Pelaku Pemicuan Pilar Satu STBM

a. Tim Fasilitator STBM Desa/Kelurahan yang terdiri dari sedikitnya

relawan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dengan dukungan kepala desa,

dapat dibantu oleh orang lain yang berasal dari dalam ataupun dari luar

Desa tersebut

b. Bidan desa, diharapkan akan berperan sebagai pendamping, terutama

ketika ada pertanyaan masyarakat terkait medis, dan pendampingan

lanjutan serta pemantauan dan evaluasi

c. Posyandu diharapkan dapat bertindak sebagai wadah kelembagaan yang

ada di masyarakat yang akan dimanfaatkan sebagai tempat edukasi,

pemicuan, pelaksanaan pembangunan, pengumpulan alternatif pendanaan

sampai dengan pemantauan dan evaluasi

d. Kader Posyandu diharapkan juga dapat sebagai fasilitator yang ikut serta

dalam kegiatan pemicuan di desa,

e. Natural Leader dapat dipakai sebagai anggota Tim Fasilitator STBM

Desa untuk keberlanjutan STBM.

3. Langkah-langkah pemicuan STBM pilar satu

Proses Pemicuan dilakukan satu kali dalam periode tertentu, dengan lama

waktu pemicuan antara 1-3 jam, hal ini untuk menghindari informasi yang terlalu

banyak dan dapat membuat bingung masyarakat. Pemicuan dilakukan berulang


sampai sejumlah orang terpicu. Orang yang telah terpicu adalah orang yang tergerak

dengan spontan dan menyatakan untuk merubah perilaku. Biasanya sang pelopor ini

disebut dengan Natural Leader.

a. Pengantar pertemuan

1) Memperkenalkan diri beserta semua anggota tim dan membangun

hubungan setara dengan masyarakat yang akan dipicu.

2) Menjelaskan tujuan keberadaan kader dan atau fasilitator.

Tujuannya adalah untuk belajar tentang kebiasaan masyarakat

yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan.

3) Menjelaskan bahwa kader dan atau fasilitator akan banyak bertanya

dan minta kesediaan masyarakat yang hadir untuk menjawab

pertanyaan-pertanyaan dengan jujur.

4) Menjelaskan bahwa kedatangan kader dan atau fasilitator bukan

untuk memberikan bantuan dalam bentuk apapun (uang, semen dan

lain-lain), melainkan untuk belajar.

b. Pencairan suasana

1) Pencairan suasana dilakukan untuk menciptakan suasana akrab

antara fasilitator dan masyarakat sehingga masyarakat akan terbuka

untuk menceritakan apa yang terjadi di kampung tersebut.

2) Pencairan suasana bisa dilakukan dengan permainan yang

menghibur, mudah dilakukan oleh masyarakat, melibatkan banyak

orang.

c. Identifikasi istilah-istilah yang terkait dengan sanitasi

1) Fasilitator dan/atau kader dapat memulai dengan pertanyaan,

misalnya “Siapa yang melihat atau mencium bau kotoran manusia


pada hari ini?” “Siapa saja yang BAB di tempat terbuka pada hari

ini?”

2) Setelah itu sepakati bersama tentang penggunaan kata BAB dan

kotoran manusia dengan bahasa setempat yang kasar, misalkan

“berak” untuk BAB dan “tai” untuk kotoran manusia. Gunakanlah

kata-kata ini selama proses analisis.

d. Pemetaan sanitasi

1) Melakukan pemetaan sanitasi yang merupakan pemetaan sederhana

yang dilakukan oleh masyarakat untuk menentukan lokasi rumah,

sumber daya yang tersedia dan permasalahan sanitasi yang terjadi,

serta untuk memicu terjadinya diskusi dan dilakukan di ruangan

terbuka yang cukup lapang.

2) Menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lokasi (daun, batu,

batang kayu, dan lain-lain) untuk membuat peta.

3) Memulai pembuatan peta dengan membuat batas kampung, jalan

desa, lokasi pemicuan, lokasi kebun, sawah, kali, lapangan, rumah

penduduk (tandai mana yang punya dan yang tidak punya jamban,

sarana cuci tangan, tempat pembuangan sampah, saluran limbah

cair rumah tangga).

4) Memberi tanda pada lokasi-lokasi biasanya digunakan untuk

membuang tinja, sampah dan limbah cair rumah tangga.

Selanjutnya membuat garis dari lokasi pembuangan ke rumah

tangga.

5) Melakukan diskusi tentang peta tersebut dengan cara meminta

peserta untuk berdiri berkelompok sesuai dengan dusun/RT. Minta


mereka mendiskusikan dusun/RT mana yang paling kotor? Mana

yang nomor 2 kotor dan seterusnya. Catat hasil diskusi di kertas

dan bacakan.

6) Memindahkan pemetaan lapangan tersebut kedalam kertas flipchat

atau kertas manila karton, karena peta ini akan dipergunakan untuk

memantau perkembangan perubahan perilaku masyarakat.

e. Transect Walk (Penelusuran Wilayah)

1) Mengajak anggota masyarakat untuk menelusuri desa sambil

melakukan pengamatan, bertanya dan mendengar.

2) Menandai lokasi pembuangan tinja, sampah dan limbah cair rumah

tangga dan kunjungi rumah yang sudah memiliki fasilitas jamban,

cuci tangan, tempat pembuangan sampah dan saluran pembuangan

limbah cair.

3) Penting sekali untuk berhenti di lokasi pembuangan tinja, sampah,

limbah cair rumah tangga dan luangkan waktu di tempat itu untuk

berdiskusi.

f. Diskusi

1) Alur kontaminasi

a) Menanyangkan gambar-gambar yang menunjukkan alur

kontaminasi penyakit.

b) Tanyakan: Apa yang terjadi jika lalat-lalat tersebut hinggap di

makanan anda? Di piring anda? Di wajah dan bibir anak kita?

c) Kemudian tanyakan: Jadi apa yang kita makan bersama makanan

kita?
d) Tanyakan: Bagaimana perasaan anda yang telah saling memakan

kotorannya sebagai akibat dari BAB di sembarang tempat?

e) Fasililator tidak boleh memberikan komentar apapun, biarkan

mereka berfikir dan ingatkan kembali hal ini ketika membuat

rangkuman pada akhir proses analisis.

2) Simulasi air yang terkontaminasi

a) Siapkan 2 gelas air mineral yang utuh dan minta salah seorang

anggota masyarakat untuk minum air tersebut. Lanjutkan ke yang

lainnya, sampai mereka yakin bahwa air tersebut memang layak

diminum.

b) Minta 1 helai rambut kepada salah seorang peserta, kemudian

tempelkan rambut tersebut ke tinja yang ada di sekitar kita,

celupkan rambut ke air yang tadi diminum oleh peserta.

c) Minta peserta yang minum air tadi untuk meminum kembali air

yang telah diberi dicelup rambut bertinja.

d) Minta juga peserta yang lain untuk meminumnya. Ajukan

pertanyaan: Kenapa tidak yang ada berani minum?

e) Tanyakan berapa jumlah kaki seekor lalat dan beritahu mereka

bahwa lalat mempunyai 6 kaki yang berbulu. Tanyakan: Apakah

lalat bisa mengangkut tinja lebih banyak dari rambut yang

dicelupkan ke air tadi?

g. Menyusun rencana program sanitasi

1) Jika sudah ada masyarakat yang terpicu dan ingin berubah, dorong mereka

untuk mengadakan pertemuan untuk membuat rencana aksi.


2) Pada saat pemicuan, amati apakah ada orang-orang yang akan muncul menjadi

Natural Leader.

3) Mendorong orang-orang tersebut untuk menjadi pimpinan kelompok, memicu

orang lain untuk mengubah perilaku.

4) Tindak lanjut setelah pemicuan merupakan hal penting yang harus dilakukan,

untuk menjamin keberlangsungan perubahan perilaku serta peningkatan

kualitas fasilitas sanitasi yang terus menerus.

5) Mendorong natural leader untuk bertanggung jawab terhadap terlaksananya

rencana aksi dan perubahan perilaku terus berlanjut.

6) Setelah tercapai status 100% (seratus persen) STBM (minimal pilar 1),

masyarakat didorong untuk mendeklarasikannya, jika perlu memasang papan

pengumuman.

7) Untuk menjamin agar masyarakat tidak kembali ke perilaku semula,

masyarakat perlu membuat aturan lokal, contohnya denda bagi anggota

masyarakat yang masih BAB di tempat terbuka.

8) Mendorong masyarakat untuk terus melakukan perubahan perilaku higiene dan

sanitasi sampai tercapai Sanitasi Total. (Permenkes,2014)

2.2. Evaluasi Program

2.2.1 Pengertian Evaluasi Program

Evaluasi adalah penilaian secara keseluruhan keberhasilan suatu program

kesehatan masyarakat yaitu dengan melihat dan memberi nilai keberhasilan program

seutuhnya. Evaluasi merupakan bagian terpenting dari pelaksanaan suatu program

kesehatan karena dengan adanya evaluasi diperoleh feed back dari program yang
dijalankan. Tanpa evaluasi terhadap sebuah program yang dijalankan, maka akan

sulit mengetahui sejauh mana tujuan yang diinginkan tercapai. Menurut

Perhimpunan Ahli Kesehatan Amerika, evaluasi adalah suatu proses untuk

menentukan nilai atau jumlah keberhasilan dan usaha pencapaian suatu tujuan yang

telah ditetapkan serta mencakup hal – hal sebagai berikut :

a. Menetapkan atau memformulasikan apa yang akan di evaluasi

b. Menetapkan kriteria yang akan digunakan dalam menentukan keberhasilan

program yang akan dievaluasi

c. Menentukan cara atau metode evaluasi yang akan digunakan

d. Melaksanakan evaluasi, mengolah, dan menganalisis data hasil evaluasi

e. Menentukan keberhasilan program kerja yang dievaluasi berdasarkan kriteria

yang ditetapkan tersebut, serta memberikan penjelasannya.

f. Menyusun rekomendasi atau saran – saran tindak lanjut terhadap program

berikutnya berdasarkan hasil evaluasi tersebut.

(Prasetyawati, 2011 : 208-209)

2.2.2 Macam – Macam Evaluasi

Dalam melakukan evaluasi ada dua macam evaluasi yaitu :

a. Evaluasi formatif , dilakukan ketika program sedang berjalan dan biasanya

digunakan untuk memperbaiki dan mengembangkan program.

b. Evaluasi sumatif, dilakukan setelah semua program selesai dan dilakukan

penilaian.
Dalam suatu program kesehatan masyarakat, evaluasi dilakukan terhadap

tiga hal berikut :

a. Evaluasi proses ditujukan terhadap pelaksanaan program yang menyangkut

penggunaan sumber daya yang meliputi tenaga kerja, dana, dan fasilitas yang

lain.

b. Evaluasi hasil program ditujukan untuk menilai sejauh mana program

tersebut berhasil. Misalnya meningkatnya cakupan imunisasi, meningkatnya

cakupan jamban keluarga, dan lain sebagainya.

c. Evaluasi dampak program ditujukan untuk menilai sejauh mana program itu

mempunyai dampak terhadap peningkatan status kesehatan masyarakat.

Dampak tercermin dari meningkat atau menurunnya indikator – indikator

kesehatan masyarakat, misalnya meningkatnya status gizi balita,

menurunnya angka kesakitan diare, dan lain sebagainya.

2.2.3 Pemantauan dan Evaluasi Penyelenggaraan STBM

Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan STBM dilakukan untuk

mengukur perubahan dalam pencapaian program serta mengidentifikasi

pembelajaran yang ada dalam pelaksanaannya, mulai pada tingkat komunitas

masyarakat di desa/kelurahan. Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan STBM di

setiap tingkat pemerintahan secara berjenjang dilakukan melalui sistem informasi

pemantauan yang dilaksanakan dengan tahapan:

1. Pengumpulan data dan informasi;

2. Pengolahan dan analisis data dan informasi; dan

3. Pelaporan dan pemberian umpan-balik.


Capaian Indikator Pemantauan dan Evaluasi:

1. Desa/Kelurahan yang melaksanakan STBM

Indikator bahwa suatu Desa/Kelurahan dikatakan telah melaksanakan STBM adalah:

a. Minimal telah ada intervensi melalui pemicuan di salah satu dusun dalam

desa/kelurahan tersebut.

b. Ada masyarakat yang bertanggung jawab untuk melanjutkan aksi intervensi

STBM seperti disebutkan pada poin pertama, baik individu (Natural Leader)

ataupun bentuk kelompok masyarakat.

c. Sebagai respon dari aksi intervensi STBM, kelompok masyarakat menyusun

suatu rencana aksi kegiatan dalam rangka mencapai komitmen perubahan

perilaku pilar STBM, yang telah disepakati bersama.

1.3 Puskesmas

2.3.1 Pengertian Puskesmas

Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk

menyelenggarakan upaya pelayanan promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif

yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Pusat

Kesehatan Masyarakat yang disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan

yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan

perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan

preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di

wilayah kerjanya. (Permenkes No. 75 Tahun 2014)

Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana pelayanan kesehatan primer

(Primary Health Care) yang dicanangkan oleh pemerintah dalam upaya


pengembangan pelayanan kesehatan dasar. Pembangunan kesehatan yang

diselenggarakan di Puskesmas adalah untuk mendukung terwujudnya kecamatan

sehat yaitu dengan mewujudkan kehidupan masyarakat seperti hal berikut memiliki

perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat;

mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu, hidup dalam lingkungan sehat;

dan memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan

masyarakat.

2.3.2 Prinsip Puskesmas

Prinsip penyelenggaraan Puskesmas meliputi:

1. Paradigma sehat yaitu Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan

untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko kesehatan

yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

2. Pertanggungjawaban wilayah; yaitu Puskesmas menggerakkan dan

bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.

3. Kemandirian masyarakat; yaitu Puskesmas mendorong kemandirian hidup

sehat bagi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat

4. Pemerataan; yaitu Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang

dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya

secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya dan

kepercayaan.

5. Teknologi tepat guna; yaitu Puskesmas menyelenggarakan pelayanan

kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan

kebutuhan pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi

lingkungan.
6. Keterpaduan dan kesinambungan yaitu Puskesmas mengintegrasikan dan

mengoordinasikan penyelenggaraan UKM dan UKP lintas program dan lintas

sektor serta melaksanakan sistem rujukan yang didukung dengan manajemen

Puskesmas

2.3.3 Fungsi Puskesmas

Puskesmas sebagai ujung tombak upaya kesehatan dalam melaksanakan

tugas penyelenggaraannya memiliki fungsi:

a. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanyas

1) Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan

masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;

2) Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;

3) Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan

masyarakat dalam bidang kesehatan;

4) Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan

masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang

bekerjasama dengan sektor lain terkait;

5) Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya

kesehatan berbasis masyarakat;

6) Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia

Puskesmas;

7) Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;

8) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu,

dan cakupan pelayanan kesehatan; dan


9) Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat,

termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon

penanggulangan penyakit.

b. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya. Yang berfungsi

untuk:

1) Pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan

menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara korehensif,

berkesinambungan dan bermutu;

2) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya

promotif dan preventif;

3) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada

individu, keluarga, kelompok dan masyarakat;

4) Menyelenggarakan pasien, petugas dan pengunjung;

5) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan

kerja sama inter dan antar profesi;

6) Melaksanakan rekam medis;

7) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan

akses pelayanan kesehatan;

8) Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan;

9) Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan

kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

10) Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan

sistem rujukan

c. Puskesmas dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan tenaga kesehatan.

Anda mungkin juga menyukai