UNIVERSITAS UDAYANA
EVALUASI PENCAPAIAN PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS
MASYARAKAT (STBM) PILAR PERTAMA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KAWANGU KABUPATEN SUMBA TIMUR
(STUDY KASUS DI DESA KAMBATA TANA)
AFRIANI YORINCE BLEGUR
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
UNIVERSITAS UDAYANA
EVALUASI PENCAPAIAN PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS
MASYARAKAT (STBM) PILAR PERTAMA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KAWANGU KABUPATEN SUMBA TIMUR
(STUDY KASUS DI DESA KAMBATA TANA)
AFRIANI YORINCE BLEGUR
NIM : 1420015011
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
i
UNIVERSITAS UDAYANA
EVALUASI PENCAPAIAN PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS
MASYARAKAT (STBM) PILAR PERTAMA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KAWANGU KABUPATEN SUMBA TIMUR
(STUDY KASUS DI DESA KAMBATA TANA)
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
AFRIANI YORINCE BLEGUR
NIM : 1420015011
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
ii
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur dipanjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Berkat
rahmat-Nyalah Skripsi yang berjudul “Evaluasi Pencapaian Program Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pilar Pertama Di Wilayah Kerja
Puskesmas Kawangu Kabupaten Sumba Timur (Study Kasus di Desa
KAMBATA TANA)” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Skripsi ini
disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam karya ilmiah Program
Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan Lingkungan Universitas
Udayana.
Penyusunan Skripsi ini tidak terlepas dari berkat bantuan, dorongan dan
petunjuk dari berbagai pihak hingga akhirnya Skripsi ini dapat diselesaikan. Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Bapak dr. I Made Ady Wirawan, MPH, Ph.D selaku Ketua Program Studi
Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana
2. Bapak I Gede Herry Purnama, ST., MT., MIDEA. selaku Kepala Bagian
Peminatan Kesehatan Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat dan
selaku pembimbing utama yang senantiasa meluangkan waktunya untuk
memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis dalam penyusunan dan
penyelesaian Skripsi ini.
3. Kedua orang tua penulis Bapak Chrinius Blegur dan Ibu Arianje Lapai Bola,
keempat saudara penulis Yusni Rosnawati Blegur, Agnes Novitasari Blegur,
Yunus Tuang Khalang Blegur dan Esau Karel Blegur serta seluruh keluarga
yang telah memberikan doa dan dukungan untuk kelancaran penyusunan Skripsi
ini.
v
4. Bapak / Ibu Dosen, serta teman – teman Matrikulasi angkatan 2014 yang telah
membantu dan memberikan dukungan baik secara moral maupun material dalam
menyelesaikan Skripsi ini.
5. Kepala Puskesmas dan Sanitarian Puskesmas Kawangu yang bersedia menerima
peneliti untuk melakukan penelitian dangan memberikan berbagai data untuk
menyelesaikan tugas akhir dalam pendidikan kesehatan masyarakat.
6. Kepala Desa Kambata tana, Aparat Desa, dan seluruh masyarakat yang telah
bersedia menjadi responden dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Bapak / Ibu Gembala Gereja Protestan Presbiteri Indonesia Jemaat Gembala
Agung Mokmin Bali, serta sahabat pemuda/i yang telah memberikan dukungan
doa dan semangat dalam penyelesaian Skripsi ini.
8. Kepada semua pihak yang tak dapat disebutkan satu per satu terimakasih atas
segala bantuan dalam penelitian dan penyusunan Skripsi ini sehingga dapat
berjalan dengan baik.
Skripsi ini jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik
yang membangun untuk memperbaiki Skripsi ini. Semoga Skripsi ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Denpasar, Juni 2016
Penulis
vi
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MASYARAKAT
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Skripsi, 13 Juli 2016
Afriani Yorince Blegur
Evaluasi Pencapaian Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Pilar Pertama Di Wilayah Kerja Puskesmas Kawangu Kabupaten Sumba
Timur (Study Kasus di Desa Kambata Tana)
ABSTRAK
Dari sudut pandang Ekonomi, Indonesia mengalami kerugian sebesar $ 6,3
Milyar (56,7 triliun ) per tahun akibat buruknya kondisi higiene dan sanitasi. Untuk
mengatasi hal ini diformulasikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Sebagai Program Nasional. Hasil Rikesdas Provinsi NTT tahun 2013 menunjukan
rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi improved adalah 57,2% di
Kabupaten Sumba Timur. Kecamatan Pandawai adalah salah satu kecamatan di
Kabupaten Sumba Timur yang melaksanakan program STBM namun belum
mencapacai ODF dengan 7 desa binaan. Desa Kambata Tana merupakan salah satu
desa pelaksana program Stop BABS yang berada dalam binaan Puskesmas Kawangu.
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pencapaian program Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM) pilar pertama Stop BABS di wilayah kerja Puskesmas
Kawangu Kabupaten Sumba Timur Tahun 2016 (Study Kasus Desa Kambata Tana).
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif
dan kuantitatif. Informan dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap104
informan serta dilakukan pengamatan dan telaah dokumen. Untuk mengetahui
keabsahan data maka dilakukan uji validitas melalui triangulasi sumber dan
triangulasi teknik.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan program Stop BABS di
desa Kambata Tana telah dilaksanakan dari tahun 2012 hingga saat ini, akan tetapi
belum berhasil mewujudkan sebagai desa SBS. Proses pelaksanaan program STBM
meliputi pra pemicuan (persiapan), pemicuan, serta paska pemicuan. Tahapan –
tahapan pelaksanaan program STBM belum seluruhnya berjalan sesuai dengan
strategi sanitasi total berbasis masyarakat. Cakupan jamban keluarga di desa
Kambata Tana pada bulan april 2016 adalah 46,28%, terjadi peningkatan 19% sejak
awal pelaksanaan program STBM tahun 2012.
Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program satitasi total berbasis
masyarakat pilar 1 Stop BABS di desa Kambata Tana belum berjalan secara
maksimal. Sehingga, disarankan untuk peningkatan motivasi dan tanggungjawab
program agar mewujudkan desa ODF.
Kata kunci : Evaluasi Program, STBM, Stop BABS
vii
SCHOOL OF PUBLIC HEALTH
FACULTY OF MEDICINE, UDAYANA UNIVERSITY
DEPARTMENT OF ENVIROMENTAL HEALTH
Mini Thesis, 13 july 2016
Afriani Yorince Blegur
Evaluation Of The Implementation Community – Led Total Sanitation First
Cornerstones in The Work Area Kawangu Public Health Center East Sumba
2016 (Kambata Tana Village Case Study)
ABSTRACT
Economy studies inj Indonesia, our nation suffered a loss of $ 6.3 billion
(56.7 billion) per year due to poor hygiene and sanitation conditions. To overcome
this problem, government formulated Communit Led Total Sanitation program as the
National Program. Results primary health resourch NTT Province in 2013 showed
that 57, 2% have access to improved sanitation in East Sumba. Pandawai is one of
other districts in East Sumba has implementing the program CLTS but has not
achieve village open defecation free with 7 village built. Kambata Tana village is one
of village implementers Program Community-Led Total Sanitation who are in
assisted Kawangu Public health center. The purpose of this study was to evaluate the
achievement of Community Led Total Sanitation program (STBM) first cornerstones
open defecation free in work area Kawangu Health center East Sumba 2016
(Kambata Tana Village case study).
This research is a descriptive study with qualitative and quantitative
approaches. Informants were collected through interviews and observation to 104
informants and review documents. To determine the validity of the data is carried
Validity through triangulation and triangulation techniques.
The results showed that the implementation of the program Stop Babs in the
village of Kambata Tana been implemented from 2012 to the present but has not
succeded in realizing a village open Defecation Free. The implementation process
CLTS program includes Pre-trigger behavior (preparation), trigger behavior, as well
as after the triggering. Stages - phase of the program has not been entirely run
compatible with the community led total sanitation strategies. Family latrine
coverage in the village of Kambata Tana in april 2016 was 46.28%, an increase of
19% since the start of the program CLTS in 2012.
It can be concluded that the implementation of the program community led
total sanitation cornerstones 1 in the village of Kambata Tan has not run optimally.
Thus, it is advisable to increase the motivation and responsibility program in order
to realize the ODF village.
Keywords: Evaluation program, CLTS, Open Defecation Free
viii
DAFTAR ISI
Halaman Judul.............................................................................................................. 1
Halaman Judul dengan Spesifikasi.............................................................................. ii
Halaman Persetujuan.................................................................................................. iii
Kata Pengantar ........................................................................................................... iv
Abstrak ...................................................................................................................... vii
Daftar Isi..................................................................................................................... ix
Daftar Gambar........................................................................................................... xii
Daftar Tabel ............................................................................................................. xiii
Daftar Lampiran ....................................................................................................... xiv
Daftar Singkatan........................................................................................................ xv
BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 6
1.3 Pertanyaan Penelitian ......................................................................................... 6
1.4 Tujuan Penelitian............................................................................................... 7
1.5 Manfaat Penelitian............................................................................................. 7
1.6 Ruang Lingkup penelitian ................................................................................. 9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 10
2.1 Sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) .................................................... 10
2.1.1 Sejarah STBM ........................................................................................ 10
2.1.2 Pengertian STBM.................................................................................. 12
2.1.3 Prinsip – Prinsip Dasar STBM .............................................................. 13
2.1.4 Lima Pilar STBM .................................................................................. 14
2.1.5 Pilar Pertama STBM ............................................................................. 23
2.2 Evaluasi program............................................................................................. 30
2.2.1 Pengertian Evaluasi Program ................................................................ 30
2.2.2 Macam - Macam Evaluasi.................................................................... 31
2.2.3 Pemantauan dan Evaluasi Penyelenggaraan STBM............................. 32
2.3 Puskesmas ........................................................................................................... 33
2.3.1 Pengertian Puskesmas ........................................................................... 33
ix
2.3.2 Prinsip Puskesmas ................................................................................. 34
2.3.3 Fungsi Puskesmas ................................................................................. 35
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ....................... 37
3.1 Kerangka Konsep ............................................................................................ 37
3.2 Variabel dan Definisi Operasional .................................................................. 38
BAB 4 METODE PENELITIAN............................................................................... 40
4.1 Karakteristik Penelitian .................................................................................. 40
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................................... 40
4.3 Populasi dan Sampel Peneliti .......................................................................... 41
4.4 Peran Peneliti................................................................................................... 41
4.5 Strategi pengumpulan Data ............................................................................. 42
4.6 Teknik Analisa Data ........................................................................................ 42
4.7 Strategi Validasi Data...................................................................................... 43
BAB 5 HASIL PENELITIAN .................................................................................. 44
5.1 Lokasi Penelitian ............................................................................................ 44
5.2 Karakteristik Responden ................................................................................. 44
5.3 Gambaran Pelaksanaan Program STBM Pilar 1 di Desa Kambata Tana ........ 47
5.4 Hasil Pencapaian Program Stop BABS Tahun 2012 s/d April 2016 di desaa
Kambata Tana.................................................................................................. 53
5.5 Penyebab Belum Tercapainya Desa ODF di Desa Kambata Tana.................. 55
BAB 6 PEMBAHASAN ........................................................................................... 56
6.1 Pra Pemicuan ................................................................................................... 56
6.2 Pemicuan ......................................................................................................... 57
6.3 Paska Pemicuan ............................................................................................... 59
6.4 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pelaksanaan Program
Stop BABS ..................................................................................................... 63
x
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 72
7.1 Kesimpulan...................................................................................................... 72
7.2 Saran ................................................................................................................ 73
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Kerangka Konsep ............................................................................... 37
Gambar 5.1 Grafik Tingkat Pendidikan Responden di Desa Kambata Tana ........ 45
Gambar 5.2 Grafik Tingkat Jenis Pekerjaan Responden di Desa Kambata Tana . 45
Gambar 5.3 Grafik Tingkat Pendapatan Responden di Desa Kambata Tana ....... 46
Gambar 5.4 Grafik Masyarakat Yang Mengetahui Adanya Program
STBM Pilar 1 ..................................................................................... 48
Gambar 5.5 Grafik Tingkat Pendidikan Responden di Desa Kambata Tana ........ 50
Gambar 5.6 Grafik Jenis Hambatan Responden Yang BABS di Desa Kambata
Tana .................................................................................................... 51
Gambar 5.7 Grafik Jenis Jamban Keluarga di Desa Kambata Tana ..................... 54
Gambar 5.8 Grafik Cakupan Jamban di Desa Kambata Tana tahun 2012 s/d
April tahun 2016................................................................................. 54
Gambar 6.1 Contoh Pencatatan perkembangan Program Stop BABS di Desa
Kambata tana ..................................................................................... 67
Gambar 6.2 Bentuk Stiker STBM ......................................................................... 68
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Data Pengguna Jamban Keluarga di Desa Kambata Tana Bulan
April 2016 ................................................................................................. 53
DAFTAR LAMPIRAN
1. Formulir informed consent
2. Pedoman wawancara mendalam
3. Pedoman observasi
4. Contoh format data perkembangan STBM tingkat desa
5. Foto - foto kegiatan
DAFTAR SINGKATAN
AMPL : Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
APBD : Anggaran dan Belanja Daerah
BABS : Buang Air Besar Sembarangan
BPS : Badan Pusat Statistik
CTPS : Cuci Tangan Pakai Sabun
CLTS : community Led Total Sanitation
CWSHP : Community Water Service and Health Project
Depkes : Departemen Kesehatan
Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan
KKM : Kuliah Kerja Mahasiswa
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
Menkes : Menteri Kesehatan
NGO : Non Goverment Organisation
NTT : Nusa Tenggara Timur
MDGs : Millenium Development Goals
ODF : Open Defecation Free
PAMM-RT : Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga
PAMSIMAS : Program Peneyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat
PNS : Pegawai Negeri Sipil
PPK-IPM : Program Pengembangan Kompetensi-Indeks Pembangunan Manusia
PRA : Participatory Rural Appraisal
STBM : Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
SBS : Stob Buang Air Besar Sembarangan
TSSM : Total Sanitation and Sanitation Market
VERC’a : Village Education Resource Center
WESLIC II : Water and Sanitation for Low Income Community in Indonesia
WHO : World Health Organisation
WASPALO : Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Plan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelaksanaan Pembangunan kesehatan pada dasarnya dilaksanakan oleh
semua komponen bangsa indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat masyarakat agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber
daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Keberhasilan
pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan antar upaya program
dan sektor - sektor , sehingga tujuan pembangunan kesehatan dapat tercapai dan
masalah kesehatan yang dihadapi bangsa indonesia dapat teratasi. Salah satu masalah
kesehatan yang dihadapi bangsa ini adalah masih ditemukan masyarakat yang buang
air besar di tempat terbuka yang berdampak pada penyakit diare. World Health
Organization (WHO) menyampaikan bahwa kematian yang disebabkan karena
waterborne disease mencapai 3.400.000 jiwa/tahun. Serta menurut WHO, dari semua
kematian yang berakar pada buruknya kualitas air dan sanitasi, diare merupakan
penyebab kematian terbesar yaitu 1.400.000 jiwa/tahun. Demikian pula penduduk
Indonesia yang hidup dengan kondisi sanitasi buruk mencapai 72.500.000 jiwa yang
tersebar di daerah perkotaan (18,2%) dan perdesaan (40%). (Kemenkes, 2013)
Dari sudut pandang Ekonomi, Indonesia mengalami kerugian sebesar $6,3
Milyar (56,7 triliun ) per tahun akibat buruknya kondisi higiene dan sanitasi. Oleh
karena itu adanya intervensi melalui modifikasi lingkungan untuk menurunkan resiko
1
penyakit diare hingga 94 % modifikasi lingkungan tersebut meliputi penyediaan air
bersih menurunkan resiko 25 %, pemanfaatan jamban keluarga menurunkan resiko
2
3
32 % , pengolahan air minum tingkat rumah tangga menurunkan resiko 39 %, dan
cuci tangan pakai sabun menurunkan resiko 45 %. Dari hasil studi tersebut sehingga
diformulasikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Sebagai Program
Nasional. Target dari STBM adalah pencapaian Millenium Development Goals
(MDGs) 7c , Renstra Kemenkes 2010 – 2014 , RPJMN 2010 – 2014 di mana
persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat sebanyak 75 % sementara itu
capaian pada tahun 2012 adalah 56,24 % dari target yang ditetapkan yaitu 69%.
(Kemenkes,2013 )
STBM merupakan program pemerintah dalam rangka memperkuat upaya
membudayakan hidup bersih dan sehat, mencegah penyebaran penyakit berbasis
lingkungan, meningkatkan kemampuan masyarakat, serta mengimplementasikan
komitmen pemerintah untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar yang
berkesinambungan. Upaya sanitasi berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor 852 /Menkes /SK /IX /2008 yang disebut Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM), meliputi 5 Pilar yaitu: Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS),
Cuci tangan pakai sabun ( CTPS ), Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga dan
Makanan Sehat (PAM-RT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PSRT),
Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga (PALRT). (Ditjen PP dan PL, 2011)
Program STBM tergolong program yang baru dilaksanakan dan tidak
adanya subsidi pada program ini merupakan tantangan bagi tenaga kesehatan.
Pelaksanaan program STBM dimulai dari pilar pertama yaitu Stop Buang Air Besar
Sembarangan (Stop BABS). Fokus pertama dilakukan pada Stop BABS karena pilar
tersebut berfungsi sebagai pintu masuk menuju sanitasi total serta merupakan upaya
untuk memutus rantai kontaminasi kotoran manusia terhadap air baku minum,
4
makanan, dan lainnya. Program ini lebih menekankan pada perubahan perilaku
kelompok masyarakat dengan metode pemicuan. Pemicuan dilaksanakan dengan cara
fasilitasi kepada masyarakat dalam upaya memperbaiki keadaan sanitasi di
lingkungan mereka hingga mencapai kondisi Open Defecation Free (ODF). Kondisi
ODF ditandai dengan 100% masyarakat telah mempunyai akses BAB di jamban
sendiri, tidak adanya kotoran di lingkungan mereka, serta mereka mampu menjaga
kebersihan jamban.
Masyarakat di Provinsi NTT masyarakat masih memiliki perilaku buang
air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun, dan tempat terbuka lainya . Hasil riset
kesehatan dasar Propinsi NTT pada tahun 2013 menunjukkan bahwa rumah tangga
yang memiliki akses terhadap sanitasi Improved adalah yang terendah yaitu 30,5 %.
Seluruh Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih terdapat 21,3% rumah
tangga yang belum memiliki fasilitas buang air besar dengan kisaran antara 0,2% di
Kupang, hingga 57,2 % di Sumba Timur. Sebanyak 2% rumah tangga di provinsi
itu memiliki fasilitas buang air besar umum, 6,5% fasilitas buang air besar milik
bersama dan hanya 70,2% yang merupakan milik sendiri. Persentase terbesar
masyarakat yang memiliki fasilitas buang air besar milik sendiri adalah di Timor
Tengah Selatan (91,3 % ) dan Timor Tengah Utara (91,4 %). Serta rumah tangga
yang tidak mempunyai fasilitas tempat buang air yang persentasenya lebih besar
terdapat di pedesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan. ( Kemenkes, 2013 )
Dalam Laporan kemajuan STBM Propinsi NTT menunjukkan bahwa masih
terjadi perilaku buang air besar sembarangan di Kabupaten Sumba Timur. Dari 22
Kecamatan dan 156 Desa yang ada dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 54.940
yang masih BABS pada saat ini adalah sebanyak 34.706 atau 72, 62 % STBM
5
Indonesia, “Laporan kemajuan STBM di Kabupaten Sumba Timur”, Available
:[Link] / accesed : 2016 Maret 5). Hal ini tentu
menunjukan layanan sanitasi dasar yang masih rendah di Kabupaten Sumba Timur
serta implikasi dari kondisi seperti ini adalah pada kasus diare. Hasil Rikesdas tahun
2013 menunjukan insiden diare di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah 4,3 % dan
periode prevalence sebesar 10,9 %. Khusus pada balita, insiden diare tahun 2013
adalah 6,7%. Diare balita tertinggi pada kelompok 12-23 bulan yaitu 9,5 %, sedikit
lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan dan mendominasi di
perdesaan.
Program STBM merupakan program nasional yang telah diterapkan pada 22
Kecamatan di Kabupaten Sumba Timur dan bertujuan mengubah perilaku
masyarakat setempat. Pada saat ini fokus utama program STBM di kabupaten ini
masih tertuju pada pilar pertama yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop
BABS). Indikator keberhasilan pilar pertama adalah tercapainya desa SBS (Stop
Buang Air Besar Sembarangan) yaitu 100% masyarakat desa setempat buang air
besar di jamban yang sehat. Hingga saat ini satu Kecamatan telah berhasil
mendeklarasikan sebagai kecamatan yang ODF. Kecamatan tersebut adalah
Kecamatan Katala Hamu Lingu yang memiliki lima desa sebagai pelaksana program
STBM pilar pertama. (STBM Indonesia,“Laporan kemajuan STBM di Kabupaten
Sumba Timur”, Available :http:// [Link] /accesed : 2016 Maret5).
Upaya peningkatan akses jamban keluarga di 21 kecamatan lainnya terus
dilakukan dengan pelaksanaan program STBM pilar pertama. Salah satu kecamatan
yang melaksanakan adalah kecamatan Pandawai. Akses terhadap jamban di
Kecamatan Pandawai adalah sebesar 32,04% serta KK yang BABS sebanyak 2.484
6
KK yang berasal dari 7 desa. Bila dilihat berdasarkan masing- masing desa
menunjukan 65% di Kadumbul, 51,42% di Watumbaka, 35,61% di Kawangu,
33,03% di KambataTana, 18,46% di Laindeha, 17,80% di Palakahembi, dan 2,22%
di Maubokul. Dengan demikian Kecamatan Pandawai belum memiliki desa yang
ODF( Open Defecation Free ). Oleh karena itu, untuk mengetahui hasil program
STBM di Kecamatan Pandawai yang lebih detail perlu dilakukan evaluasi dengan
tujuan sebagai alat untuk memperbaiki kebijaksanaan pelaksanaan program dan
perencanaan program yang akan datang untuk mewujudkan kecamatan pandawai
yang SBS dan terciptanya masyarakat yang sehat dengan akses layanan sanitasi yang
layak.
Pelaksanaan program STBM di kecamatan Pandawai berada dalam binaan
Puskesmas Kawangu, Sehingga untuk mengetahui tingkat keberhasilan program
STBM pilar satu maka dilakukan evaluasi pada wilayah kerja Puskesmas Kawangu.
Desa KambataTana adalah salah satu desa yang merupakan wilayah kerja puskesmas
kawangu. Sebagai langkah awal pelaksanaan evaluasi kompherensif, maka dilakukan
evaluasi di desa KambataTana sebagai studi kasus pelaksanaan evaluasi program
STBM pilar satu. Evaluasi Program STBM yang dimaksud adalah evaluasi proses
yang meliputi persiapan pemicuan, pemicuan , dan paska pemicuan, serta evaluasi
output pada masyarakat yang telah mengikuti pemicuan STBM pilar satu. Sehingga
dapat mengetahui capaian program yang telah dilaksanakan di desa KambataTana.
1.2. Rumusan Masalah
Menurut data yang diperoleh dari Puskesmas Kawangu bahwa belum
dilaksanakan evaluasi yang kompherensif dengan melihat ketersediaan proses
7
kegiatan dan output dari program STBM di Puskesmas Kawangu serta belum adanya
desa yang ODF sehingga peneliti tertarik untuk mengevaluasi pelaksanakan program
STBM di wilayah kerja Puskesmas Kawangu.
Pelaksanaan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Kabupaten
Sumba Timur masih terfokus pada pilar 1 yaitu Stop BABS sehingga berdasarkan
uraian di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
“Bagaimana pelaksanaan program sanitasi Total berbasis masyarakat
(STBM ) pilar pertama di wilayah kerja Puskesmas Kawangu Kabupaten Sumba
Timur tahun 2016 ?
1.3. Pertayaan Penelitian
Berdasarkan Permasalahan yang dijelaskan pada rumusan masalah, maka
dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pelaksanaan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM) pilar pertama di wilayah kerja Puskesmas Kawangu (study kasus di
desa Kambata Tana)?
2. Bagaimana hasil pencapaian program STBM pilar pertama di wilayah kerja
Puskesmas Kawangu ?
1.4. Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengevaluasi pencapaian program
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pilar pertama Stop BABS di wilayah
kerja Puskesmas Kawangu Kabupaten Sumba Timur Tahun 2016 (Study Kasus Desa
Kambata Tana).
8
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan dari program STBM pilar petama di
Desa Kambata Tana.
2. Untuk mengetahui proporsi rumah tangga yang melakukan perubahan perilaku
Stop BABS paska pemicuan pilar pertama program STBM di desa Kambata
Tana.
3. Untuk mengetahui penyebab atau kendala yang dihadapi masyarakat di desa
Kambata Tana sehingga masih berperilaku buang air besar sembarangan.
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat bagi peneliti lain
1. Sebagai sarana pengaplikasian teori evaluasi dan sanitasi yang telah didapatkan
selama perkuliahan.
2. Sebagai bahan untuk melaksanakan penelitian selanjutnya yang berkaitan
dengan program STBM.
1.5.2 Bagi masyarakat
Sebagai sarana informasi tentang manfaat adanya program STBM bagi
masyarakat sehingga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan
program STBM.
1.5.3 Bagi pemerintah
1. Sebagai sarana informasi tentang hasil evaluasi program nasional pemerintah
yang dijalankan di wilayah kerja Puskesmas Kawangu
9
2. Sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan masyarakat untuk
persiapan meningkatkan kesehatan masyarakat.
3. Sebagai sarana pertimbangan untuk pihak lintas sektor program STBM
terutama di wilayah kerja Puskesmas Kawangu.
1.5.4 Bagi peneliti
1. Sebagai sarana mempelajari program nasional STBM yang dicanangkan untuk
kesehatan masyarakat.
2. Sebagai sarana melatih kemampuan mengevaluasi program nasional kesehatan
masyarakat yang dicanangkan oleh pemerintah pada pelaksanaannya di
wilayah kerja Puskemas Kawangu.
3. Sebagai sarana untuk mempelajari pelaksanaan program terutama STBM,
sehingga nantinya dalam dunia kerja dapat melaksanakan program dengan
lebih baik.
1.6. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah mengevaluasi tentang proses
pelaksanaan dan output dari Program STBM di Wilayah Kerja Puskesmas Kawangu
tahun 2016 yaitu study kasus pada desa KambataTana.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
2.1.1 Sejarah STBM
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan hasil adopsi dari
hasil evaluasi yang dilakukan oleh Kamal Kar terhadap program air dan sanitasi yang
dilaksanakan oleh WaterAid Bangladesh dan organisasi mitra lokal setempat yang
bernama VERC’a (Village Education Resource Centre). Program ini telah
dilaksanakan di Bangladesh sejak akhir tahun 1999 sampai di awal tahun 2000. Hal
ini menandai dimulainya pendekatan CLTS (community Led Total Sanitation) yang
berfokus pada penggunaan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) yang
membuka peluang komunitas setempat melakukan analisa bersama mengenai
keadaan sanitasi mereka. Sejak tahun 2000, melalui pelatihan yang langsung
dilakukan oleh Kamal Kar, dan didukung oleh banyak lembaga serta dilakukan
melalui kunjungan lintas negara, mampu menyebarluaskan CLTS ke organisasi-
organisasi lain di Bangladesh. Selain itu CLTS juga berkembang dinegara lainnya di
Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah. Hingga saat
ini, CLTS telah mengarah pada skala peningkatan cakupan area yang paling besar di
Bangladesh, India, Kamboja, Indonesia dan Pakistan. Telah diperkenalkan pula
pelatihan-pelatihan CLTS yang bervariasi di berbagai tingkatan sebagai upaya untuk
memulai CLTS seperti di China, Mongolia, dan Nepal. Baru-baru ini telah digagas
dengan awal kegiatan yang menjanjikan seperti yang terjadi di Ethiopia, Kenya,
1
Zambia dan negara-negara Afrika lainnya, juga di Bolivia, Amerika Selatan, dan
Yaman di Timur Tengah. Lembaga atau instansi-instansi yang mensponsori pelatihan
- pelatihan yang dilakukan oleh Kamal Kar ini meliputi antara lain, WSP-World
Bank, CARE, Concern, WSLIC II (Water and Sanitation for Low Income Community)
di Indonesia), TSSM (Total Sanitation and Sanitation Marketing) yang didanai oleh
the Bill and Melinda Gates Foundation di Jawa Timur, Dana Sosial untuk
Pembangunan di Yaman, Vita Internasional NGO Irlandia untuk Pemulihan
Pengungsi yang bergerak di Ethiopia, Plan International dan UNICEF. (Kar, K and
Chambers, R, 2008).
Lahirnya konsep strategi pendekatan STBM tidak terlepas dari mulai
dikenalnya suatu metode pendekatan untuk merubah perilaku masyarakat yang
berbasis pada PRA yaitu metode CLTS (Community Led Total Sanitation).
Pelaksanaan CLTS di Indonesia dimulai dengan kunjungan pembelajaran oleh
beberapa pelaku sanitasi ke Bangladesh dan India yang diinisiasi oleh WSP-EAP
pada tahun 2004, dilanjutkan dengan mengundang pakar CLTS Kamal Kar ke
Indonesia untuk mengadakan rapid assessment untuk menilai apakah metode CLTS
dapat diterapkan di Indonesia atau tidak. Kamal Kar juga diminta sebagai
narasumber pada TOT metode CLTS pertama pada awal mei tahun 2005 yang
berlokasi di Lumajang. Setelah pelaksanaan TOT dilanjutkan dengan uji coba
penerapan metode CLTS pada 6 kabupaten yang berada pada propinsi yang berbeda
yaitu : Lumajang di Jawa Timur, Sumbawa di NTB, Sambas di Kalimantan Barat,
Muara Enim di Sumatra Selatan, Muaro Jambi di Jambi, dan Bogor di Jawa Barat.
Setelah enam bulan kemudian dilaksanakan evaluasi dan hasil uji coba tersebut
dinilai sangat baik sehingga dilakukanlah perumusan sebuah konsep strategi nasional
untuk perluasan akses sanitasi pedesaan. (STBM Indonesia, “Sejarah STBM”,
Available :[Link] / accesed : 2016 Januari 15 ).
2.1.2 Pengertian STBM
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat adalah suatu pendekatan untuk
mengubah perilaku hygiene dan sanitasi masyarakat melalui pemberdayaan
masyarakat dengan metode pemicuan yaitu membuat masyarakat merasa jijik, malu,
takut dosa, dan takut sakit sebagai dampak dari perilaku tidak sehat yang mereka
lakukan. STBM merupakan suatu pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat
untuk mengalisa kondisi sanitasi mereka melalui suatu proses pemicuan, sehingga
masyarakat dapat berpikir dan mengambil tindakan untuk meninggalkan kebiasaan
buang air besar di tempat terbuka dan sembarang tempat. Pendekatan yang dilakukan
dalam STBM dapat menyerang/menimbulkan rasa ngeri dan malu kepada
masyarakat tentang kondisi lingkungannya. Melalui pendekatan ini akan membangun
kesadaran untuk mengubah perilaku dan kondisi lingkungan yang sangat tidak bersih
dan tidak nyaman. Dari pendekatan ini juga menimbulkan kesadaran bahwa
kebiasaan BAB di sembarang tempat adalah masalah bersama karena dapat
berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya harus dilakukan dan
dipecahkan secara bersama. (Kemenkes , 2014)
Prinsip pendekatan STBM adalah non subsidi. Masyarakat akan di
“bangkitkan” kesadarannya bahwa masalah sanitasi adalah masalah masyarakat
sendiri dan bukan masalah pihak lain. Dengan demikian yang harus memecahkan
permasalahan sanitasi adalah masyarakat sendiri. Diharapkan dengan bermula dari
STBM, kemudian dilanjutkan dengan program kesehatan lainnya seperti program
kampanye cuci tangan, dan program kesehatan lainnya, sehingga upaya peningkatan
kesehatan masyarakat melalui perilaku hidup bersih dan sehat dapat terwujud.
Desa STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) adalah desa yang sudah
Stop BABS minimal 1 dusun, mempunyai tim kerja STBM atau natural leader, dan
telah mempunyai rencana kerja STBM atau rencana tindaklanjut. Sanitasi total
berbasis masyarakat sebagai pilihan pendekatan strategi dan program untuk
mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan
menggunakan metode pemicuan dalam rangka mencapai target MDGs. Jumlah desa
STBM mengalami peningkatan dari 6.235 menjadi 11.165 desa pada tahun 2011.
Target desa STBM pada tahun 2013 adalah sebanyak 16.000 desa dan yang tercapai
sebanyak 16.228 desa. Jika dilihat jumlah desanya, maka yang terbanyak adalah di
Jawa Timur yaitu 3.618 desa, diikuti soleh Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan
Nusa Tenggara Timur. (Kemenkes, 2013 )
2.1.3 Prinsip – prinsip dasar STBM
Prinsip – prinsip dasar yang harus dianut dan ditegakan dalam setiap
pelaksanaaa program STBM adalah :
1. Tanpa subsidi kepada masyarakat
2. Tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban
3. Masyarakat sebagai pemimpin
4. Totalitas; seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan -
perencanaan – pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan
Community lead tidak hanya dalam sanitasi, tetapi juga dapat di terapkan
dalam hal lain seperti dalam pendidikan, pertanian, dan sektor lainnya dengan
memperhatikan hal – hal berikut :
1. Inisiatif masyarakat
2. Total atau keseluruhan, keputusan masyarakat dan pelaksanaan secara kolektif
adalah kunci utama.
3. Solidaritas masyarakat (laki – laki / perempuan, kaya / miskin) sangat terlihat
dalam pendekatan ini.
4. Semua dibuat oleh masyarakat, tidak ada ikut campur pihak luar, dan biasanya
akan muncul“natural leader”.
2.1.4 Lima Pilar STBM
1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS)
Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) adalah suatu kondisi ketika
setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. Perilaku SBS
diikuti dengan pemanfaatan sarana sanitasi yang saniter berupa jamban sehat. Saniter
merupakan kondisi fasilitas sanitasi yang memenuhi standar dan persyaratan
kesehatan yaitu:
a. Tidak mengakibatkan terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang
berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia; dan
b. Dapat mencegah masuknya vektor penyakit untuk menyebar kuman dan
penyakit pada pemakai dan lingkungan sekitarnya. (Permenkes,2014)
2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
CTPS merupakan perilaku cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air
bersih yang mengalir.
a. Langkah-langkah CTPS yang benar :
1) Basahi kedua tangan dengan air bersih yang mengalir.
2) Gosokkan sabun pada kedua telapak tangan sampai berbusa lalu gosok
kedua punggung tangan, jari jemari, kedua jempol, sampai semua
permukaan kena busa sabun.
3) Bersihkan ujung-ujung jari dan sela-sela di bawah kuku.
4) Bilas dengan air bersih sambil menggosok-gosok kedua tangan sampai
sisa sabun hilang.
5) Keringkan kedua tangan dengan memakai kain, handuk bersih, atau
kertas tisu, atau mengibas-ibaskan kedua tangan sampai kering.
b. Waktu penting perlunya CTPS, antara lain:
1) Sebelum makan
2) Sebelum mengolah dan menghidangkan makanan
3) Sebelum menyusui
4) Sebelum memberi makan bayi/balita
5) Sesudah buang air besar/kecil
6) Sesudah memegang hewan/unggas
c. Kriteria Utama Sarana CTPS
1) Air bersih yang dapat dialirkan
2) Sabun
3) Penampungan atau saluran air limbah yang aman (Permenkes,2014)
3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT)
PAMM-RT merupakan suatu proses pengolahan, penyimpanan, dan
pemanfaatan air minum dan pengelolaan makanan yang aman di rumah tangga.
Tahapan kegiatan dalam PAMM-RT, yaitu:
a. Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga
1) Pengolahan air baku
Apabila air baku keruh perlu dilakukan pengolahan awal: pengendapan dengan
gravitasi alami, penyaringan dengan kain, dan pengendapan dengan bahan
kimia/tawas.
2) Pengolahan air untuk minum
Pengolahan air minum di rumah tangga dilakukan untuk mendapatkan air
dengan kualitas air minum. Cara pengolahan yang disarankan, yaitu: air untuk
minum harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan kuman dan penyakit
melalui :
a) Filtrasi (penyaringan), contoh : biosand filter, keramik filter, dan
sebagainya.
b) Klorinasi, contoh : klorin cair, klorin tablet, dan sebagainya.
c) Koagulasi dan flokulasi (penggumpalan), contoh : bubuk koagulan
d) Desinfeksi, contoh : merebus, sodis (Solar Water Disinfection)
3) Wadah Penyimpanan Air Minum
Setelah pengolahan air, tahapan selanjutnya menyimpan air minum dengan
aman untuk keperluan sehari-hari, dengan cara:
a) Wadah bertutup, berleher sempit, dan lebih baik dilengkapi dengan
kran.
b) Air minum sebaiknya disimpan di wadah pengolahannya.
c) Air yang sudah diolah sebaiknya disimpan dalam tempat yang
bersih dan selalu tertutup.
d) Minum air dengan menggunakan gelas yang bersih dan kering atau
tidak minum air langsung mengenai mulut/wadah kran.
e) Letakkan wadah penyimpanan air minum di tempat yang bersih
dan sulit terjangkau oleh binatang.
f) Wadah air minum dicuci setelah tiga hari atau saat air habis,
gunakan air yang sudah diolah sebagai air bilasan terakhir.
4) Hal penting dalam PAMM-RT
a) Cucilah tangan sebelum menangani air minum dan mengolah
makanan siap santap.
b) Mengolah air minum secukupnya sesuai dengan kebutuhan rumah
tangga.
c) Gunakan air yang sudah diolah untuk mencuci sayur dan buah siap
santap serta untuk mengolah makan siap santap.
d) Tidak mencelupkan tangan ke dalam air yang sudah diolah menjadi
air minum.
e) Secara periodik meminta petugas kesehatan untuk melakukan
pemeriksaan air guna pengujian laboratorium.
b. Pengelolaan Makanan Rumah Tangga
Makanan harus dikelola dengan baik dan benar agar tidak menyebabkan
gangguan kesehatan dan bermanfaat bagi tubuh. Cara pengelolaan makanan yang
baik yaitu dengan menerapkan prinsip higiene dan sanitasi makanan. Pengelolaan
makanan di rumah tangga, walaupun dalam jumlah kecil atau skala rumah tangga
juga harus menerapkan prinsip higiene sanitasi makanan. Prinsip higiene sanitasi
makanan :
1) Pemilihan bahan makanan
Pemilihan bahan makanan harus memperhatikan mutu dan kualitas serta
memenuhi persyaratan yaitu untuk bahan makanan tidak dikemas harus dalam
keadaan segar, tidak busuk, tidak rusak/berjamur, tidak mengandung bahan kimia
berbahaya dan beracun serta berasal dari sumber yang resmi atau jelas.
Untuk bahan makanan dalam kemasan atau hasil pabrikan, mempunyai label
dan merek, komposisi jelas, terdaftar dan tidak kadaluwarsa.
2) Penyimpanan bahan makanan
Menyimpan bahan makanan baik bahan makanan tidak dikemas maupun
dalam kemasan harus memperhatikan tempat penyimpanan, cara penyimpanan,
waktu/lama penyimpanan dan suhu penyimpanan. Selama berada dalam
penyimpanan harus terhindar dari kemungkinan terjadinya kontaminasi oleh bakteri,
serangga, tikus dan hewan lainnya serta bahan kimia berbahaya dan beracun. Bahan
makanan yang disimpan lebih dulu atau masa kadaluwarsanya lebih awal
dimanfaatkan terlebih dahulu.
3) Pengolahan makanan
Empat aspek higiene sanitasi makanan sangat mempengaruhi proses
pengolahan makanan, oleh karena itu harus memenuhi persyaratan, yaitu :
a) Tempat pengolahan makanan atau dapur harus memenuhi
persyaratan teknis higiene sanitasi untuk mencegah risiko
pencemaran terhadap makanan serta dapat mencegah masuknya
serangga, binatang pengerat, vektor dan hewan lainnya.
b) Peralatan yang digunakan harus tara pangan (food grade) yaitu
aman dan tidak berbahaya bagi kesehatan (lapisan permukaan
peralatan tidak larut dalam suasana asam/basa dan tidak
mengeluarkan bahan berbahaya dan beracun) serta peralatan harus
utuh, tidak cacat, tidak retak, tidak gompel dan mudah dibersihkan.
c) Bahan makanan memenuhi persyaratan dan diolah sesuai urutan
prioritas Perlakukan makanan hasil olahan sesuai persyaratan
higiene dan sanitasi makanan, bebas cemaran fisik, kimia dan
bakteriologis.
d) Penjamah makanan/pengolah makanan berbadan sehat, tidak
menderita penyakit menular dan berperilaku hidup bersih dan
sehat.
4) Penyimpanan makanan matang
Penyimpanan makanan yang telah matang harus memperhatikan suhu,
pewadahan, tempat penyimpanan dan lama penyimpanan. Penyimpanan pada suhu
yang tepat baik suhu dingin, sangat dingin, beku maupun suhu hangat serta lama
penyimpanan sangat mempengaruhi kondisi dan cita rasa makanan matang.
5) Pengangkutan makanan
Dalam pengangkutan baik bahan makanan maupun makanan matang harus
memperhatikan beberapa hal yaitu alat angkut yang digunakan, teknik/cara
pengangkutan, lama pengangkutan, dan petugas pengangkut. Hal ini untuk
menghindari risiko terjadinya pencemaran baik fisik, kimia maupun bakteriologis.
6) Penyajian makanan
Makanan dinyatakan layak santap apabila telah dilakukan uji organoleptik
atau uji biologis atau uji laboratorium, hal ini dilakukan bila ada kecurigaan terhadap
makanan tersebut. Adapun yang dimaksud dengan:
a) Uji organoleptik yaitu memeriksa makanan dengan cara meneliti
dan menggunakan 5 (lima) indera manusia yaitu dengan melihat
(penampilan), meraba (tekstur, keempukan), mencium (aroma),
mendengar (bunyi misal telur) menjilat (rasa). Apabila secara
organoleptik baik maka makanan dinyatakan layak santap.
b) Uji biologis yaitu dengan memakan makanan secara sempurna dan
apabila dalam waktu 2 (dua) jam tidak terjadi tanda-tanda
kesakitan, makanan tersebut dinyatakan aman
c) Uji laboratorium dilakukan untuk mengetahui tingkat cemaran
makanan baik kimia maupun mikroba. Untuk pemeriksaan ini
diperlukan sampel makanan yang diambil mengikuti
standar/prosedur yang benar dan hasilnya dibandingkan dengan
standar yang telah baku.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penyajian makanan yaitu tempat
penyajian, waktu penyajian, cara penyajian dan prinsip penyajian. Lamanya waktu
tunggu makanan mulai dari selesai proses pengolahan dan menjadi makanan matang
sampai dengan disajikan dan dikonsumsi tidak boleh lebih dari 4 (empat) jam dan
harus segera dihangatkan kembali terutama makanan yang mengandung protein
tinggi, kecuali makanan yang disajikan tetap dalam keadaan suhu hangat. Hal ini
untuk menghindari tumbuh dan berkembang biaknya bakteri pada makanan yang
dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan. (Permenkes,2014)
4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga
Tujuan pengamanan sampah rumah tangga adalah untuk menghindari
penyimpanan sampah dalam rumah dengan segera menangani sampah.
Pengamanan sampah yang aman adalah pengumpulan, pengangkutan,
pemrosesan, pendaur-ulangan atau pembuangan dari material sampah dengan cara
yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Prinsip-prinsip
dalam Pengamanan sampah:
a. Reduce
Reduce yaitu mengurangi sampah dengan mengurangi pemakaian barang
atau benda yang tidak terlalu dibutuhkan. Contohnya: mengurangi pemakaian
kantong plastik, mengatur dan merencanakan pembelian kebutuhan rumah tangga
secara rutin misalnya sekali sebulan atau sekali seminggu, mengutamakan membeli
produk berwadah sehingga bisa diisi ulang, memperbaiki barang-barang yang rusak
(jika masih bisa diperbaiki) dan membeli produk atau barang yang tahan lama.
b. Reuse
Reuse yaitu memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai tanpa
mengubah bentuk. Contohnya: sampah rumah tangga yang bisa dimanfaatkan seperti
koran bekas, kardus bekas, kaleng susu, wadah sabun lulur, dan sebagainya. Barang-
barang tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin misalnya diolah menjadi tempat
untuk menyimpan tusuk gigi, perhiasan, dan sebagainya, memanfaatkan lembaran
yang kosong pada kertas yang sudah digunakan, memanfaatkan buku cetakan bekas
untuk perpustakaan mini di rumah dan untuk umum, menggunakan kembali kantong
belanja untuk belanja berikutnya.
c. Resycle
Recycle yaitu mendaur ulang kembali barang lama menjadi barang baru.
Contohnya: sampah organik bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dengan cara
pembuatan kompos atau dengan pembuatan lubang biopori, sampah anorganik bisa
di daur ulang menjadi sesuatu yang bisa digunakan kembali, seperti mendaur ulang
kertas yang tidak digunakan menjadi kertas kembali, botol plastik bisa menjadi
tempat alat tulis, bungkus plastik detergen atau susu bisa dijadikan tas, dompet, dan
sebagainya, sampah yang sudah dipilah dapat disetorkan ke bank sampah terdekat,
kegiatan pengamanan sampah rumah tangga dapat dilakukan dengan cara sampah
tidak boleh ada dalam rumah dan harus dibuang setiap hari dan pemilahan dalam
bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau
sifat sampah. Pemilahan sampah dilakukan terhadap 2 (dua) jenis sampah, yaitu
organik dan nonorganik. Untuk itu perlu disediakan tempat sampah yang berbeda
untuk setiap jenis sampah tersebut serta tempat sampah harus tertutup rapat.
Pengumpulan sampah dilakukan melalui pengambilan dan pemindahan sampah dari
rumah tangga ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah
terpadu. Sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara atau
tempat pengolahan sampah terpadu diangkut ke tempat pemrosesan akhir.
5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga
Proses pengamanan limbah cair yang aman pada tingkat rumah tangga
untuk menghindari terjadinya genangan air limbah yang berpotensi menimbulkan
penyakit berbasis lingkungan. Untuk menyalurkan limbah cair rumah tangga
diperlukan sarana berupa sumur resapan dan saluran pembuangan air limbah rumah
tangga. Limbah cair rumah tangga yang berupa tinja dan urine disalurkan ke tangki
septik yang dilengkapi dengan sumur resapan. Limbah cair rumah tangga yang
berupa air bekas yang dihasilkan dari buangan dapur, kamar mandi, dan sarana cuci
tangan disalurkan ke saluran pembuangan air limbah. Prinsip pengamanan limbah
cair rumah tangga adalah:
a. Air limbah kamar mandi dan dapur tidak boleh tercampur dengan air dari
jamban
b. Tidak boleh menjadi tempat perindukan vektor
c. Tidak boleh menimbulkan bau
d. Tidak boleh ada genangan yang menyebabkan lantai licin dan rawan
kecelakaan
e. Terhubung dengan saluran limbah umum/got atau sumur resapan.
1.1.5 Pilar Pertama STBM
Pilar Pertama STBM adalah Stop buang air besar sembarangan. Pesan yang
ingin disampaikan pada masyarakat dari pilar pertama STBM adalah :
a. Buang air besar sembarangan akan mencemari lingkungan dan akan
menjadi sumber penyakit.
b. Buang air besar dengan cara yang aman dan sehat berarti menjaga harkat
dan martabat diri dan lingkungan.
c. Jangan jadikan kotoran yang dibuang sembarangan untuk penderitaan
orang lain dan diri sendiri.
d. Cara hidup sehat dengan membiasakan keluarga buang air besar yang
aman dan sehat berarti menjaga generasi untuk tetap sehat.
Berdasarkan konsep dan definisi MDGs, akses sanitasi layak yaitu apabila
penggunaan fasilitas tempat buang air besar milik sendiri atau bersama, dengan jenis
kloset leher angsa dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik
atau sarana pembuangan air limbah (SPAL). Metode pembuangan tinja yang baik
yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut :
1. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
2. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki
mata air atau sumur
3. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
4. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
5. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar, atau bila memang benar-
benar diperlukan harus dibatasi seminimal mungkin
6. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang
7. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
(Depkes, 2013)
1. Indikator Pilar Pertama STBM
Indikator suatu Desa/Kelurahan dikatakan telah mencapai status SBS
adalah:
a. Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban yang sehat dan
membuang tinja/kotoran bayi hanya ke jamban yang sehat (termasuk di
sekolah).
b. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.
c. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk
mencegah kejadian BAB di sembarang tempat.
d. Ada mekanisme pemantauan umum yang dibuat masyarakat untuk
mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat.
e. Ada upaya atau strategi yang jelas untuk dapat mencapai sanitasi total.
2. Pelaku Pemicuan Pilar Satu STBM
a. Tim Fasilitator STBM Desa/Kelurahan yang terdiri dari sedikitnya
relawan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dengan dukungan kepala desa,
dapat dibantu oleh orang lain yang berasal dari dalam ataupun dari luar
Desa tersebut
b. Bidan desa, diharapkan akan berperan sebagai pendamping, terutama
ketika ada pertanyaan masyarakat terkait medis, dan pendampingan
lanjutan serta pemantauan dan evaluasi
c. Posyandu diharapkan dapat bertindak sebagai wadah kelembagaan yang
ada di masyarakat yang akan dimanfaatkan sebagai tempat edukasi,
pemicuan, pelaksanaan pembangunan, pengumpulan alternatif pendanaan
sampai dengan pemantauan dan evaluasi
d. Kader Posyandu diharapkan juga dapat sebagai fasilitator yang ikut serta
dalam kegiatan pemicuan di desa,
e. Natural Leader dapat dipakai sebagai anggota Tim Fasilitator STBM
Desa untuk keberlanjutan STBM.
3. Langkah-langkah pemicuan STBM pilar satu
Proses Pemicuan dilakukan satu kali dalam periode tertentu, dengan lama
waktu pemicuan antara 1-3 jam, hal ini untuk menghindari informasi yang terlalu
banyak dan dapat membuat bingung masyarakat. Pemicuan dilakukan berulang
sampai sejumlah orang terpicu. Orang yang telah terpicu adalah orang yang tergerak
dengan spontan dan menyatakan untuk merubah perilaku. Biasanya sang pelopor ini
disebut dengan Natural Leader.
a. Pengantar pertemuan
1) Memperkenalkan diri beserta semua anggota tim dan membangun
hubungan setara dengan masyarakat yang akan dipicu.
2) Menjelaskan tujuan keberadaan kader dan atau fasilitator.
Tujuannya adalah untuk belajar tentang kebiasaan masyarakat
yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan.
3) Menjelaskan bahwa kader dan atau fasilitator akan banyak bertanya
dan minta kesediaan masyarakat yang hadir untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan dengan jujur.
4) Menjelaskan bahwa kedatangan kader dan atau fasilitator bukan
untuk memberikan bantuan dalam bentuk apapun (uang, semen dan
lain-lain), melainkan untuk belajar.
b. Pencairan suasana
1) Pencairan suasana dilakukan untuk menciptakan suasana akrab
antara fasilitator dan masyarakat sehingga masyarakat akan terbuka
untuk menceritakan apa yang terjadi di kampung tersebut.
2) Pencairan suasana bisa dilakukan dengan permainan yang
menghibur, mudah dilakukan oleh masyarakat, melibatkan banyak
orang.
c. Identifikasi istilah-istilah yang terkait dengan sanitasi
1) Fasilitator dan/atau kader dapat memulai dengan pertanyaan,
misalnya “Siapa yang melihat atau mencium bau kotoran manusia
pada hari ini?” “Siapa saja yang BAB di tempat terbuka pada hari
ini?”
2) Setelah itu sepakati bersama tentang penggunaan kata BAB dan
kotoran manusia dengan bahasa setempat yang kasar, misalkan
“berak” untuk BAB dan “tai” untuk kotoran manusia. Gunakanlah
kata-kata ini selama proses analisis.
d. Pemetaan sanitasi
1) Melakukan pemetaan sanitasi yang merupakan pemetaan sederhana
yang dilakukan oleh masyarakat untuk menentukan lokasi rumah,
sumber daya yang tersedia dan permasalahan sanitasi yang terjadi,
serta untuk memicu terjadinya diskusi dan dilakukan di ruangan
terbuka yang cukup lapang.
2) Menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lokasi (daun, batu,
batang kayu, dan lain-lain) untuk membuat peta.
3) Memulai pembuatan peta dengan membuat batas kampung, jalan
desa, lokasi pemicuan, lokasi kebun, sawah, kali, lapangan, rumah
penduduk (tandai mana yang punya dan yang tidak punya jamban,
sarana cuci tangan, tempat pembuangan sampah, saluran limbah
cair rumah tangga).
4) Memberi tanda pada lokasi-lokasi biasanya digunakan untuk
membuang tinja, sampah dan limbah cair rumah tangga.
Selanjutnya membuat garis dari lokasi pembuangan ke rumah
tangga.
5) Melakukan diskusi tentang peta tersebut dengan cara meminta
peserta untuk berdiri berkelompok sesuai dengan dusun/RT. Minta
mereka mendiskusikan dusun/RT mana yang paling kotor? Mana
yang nomor 2 kotor dan seterusnya. Catat hasil diskusi di kertas
dan bacakan.
6) Memindahkan pemetaan lapangan tersebut kedalam kertas flipchat
atau kertas manila karton, karena peta ini akan dipergunakan untuk
memantau perkembangan perubahan perilaku masyarakat.
e. Transect Walk (Penelusuran Wilayah)
1) Mengajak anggota masyarakat untuk menelusuri desa sambil
melakukan pengamatan, bertanya dan mendengar.
2) Menandai lokasi pembuangan tinja, sampah dan limbah cair rumah
tangga dan kunjungi rumah yang sudah memiliki fasilitas jamban,
cuci tangan, tempat pembuangan sampah dan saluran pembuangan
limbah cair.
3) Penting sekali untuk berhenti di lokasi pembuangan tinja, sampah,
limbah cair rumah tangga dan luangkan waktu di tempat itu untuk
berdiskusi.
f. Diskusi
1) Alur kontaminasi
a) Menanyangkan gambar-gambar yang menunjukkan alur
kontaminasi penyakit.
b) Tanyakan: Apa yang terjadi jika lalat-lalat tersebut hinggap di
makanan anda? Di piring anda? Di wajah dan bibir anak kita?
c) Kemudian tanyakan: Jadi apa yang kita makan bersama makanan
kita?
d) Tanyakan: Bagaimana perasaan anda yang telah saling memakan
kotorannya sebagai akibat dari BAB di sembarang tempat?
e) Fasililator tidak boleh memberikan komentar apapun, biarkan
mereka berfikir dan ingatkan kembali hal ini ketika membuat
rangkuman pada akhir proses analisis.
2) Simulasi air yang terkontaminasi
a) Siapkan 2 gelas air mineral yang utuh dan minta salah seorang
anggota masyarakat untuk minum air tersebut. Lanjutkan ke yang
lainnya, sampai mereka yakin bahwa air tersebut memang layak
diminum.
b) Minta 1 helai rambut kepada salah seorang peserta, kemudian
tempelkan rambut tersebut ke tinja yang ada di sekitar kita,
celupkan rambut ke air yang tadi diminum oleh peserta.
c) Minta peserta yang minum air tadi untuk meminum kembali air
yang telah diberi dicelup rambut bertinja.
d) Minta juga peserta yang lain untuk meminumnya. Ajukan
pertanyaan: Kenapa tidak yang ada berani minum?
e) Tanyakan berapa jumlah kaki seekor lalat dan beritahu mereka
bahwa lalat mempunyai 6 kaki yang berbulu. Tanyakan: Apakah
lalat bisa mengangkut tinja lebih banyak dari rambut yang
dicelupkan ke air tadi?
g. Menyusun rencana program sanitasi
1) Jika sudah ada masyarakat yang terpicu dan ingin berubah, dorong mereka
untuk mengadakan pertemuan untuk membuat rencana aksi.
2) Pada saat pemicuan, amati apakah ada orang-orang yang akan muncul menjadi
Natural Leader.
3) Mendorong orang-orang tersebut untuk menjadi pimpinan kelompok, memicu
orang lain untuk mengubah perilaku.
4) Tindak lanjut setelah pemicuan merupakan hal penting yang harus dilakukan,
untuk menjamin keberlangsungan perubahan perilaku serta peningkatan
kualitas fasilitas sanitasi yang terus menerus.
5) Mendorong natural leader untuk bertanggung jawab terhadap terlaksananya
rencana aksi dan perubahan perilaku terus berlanjut.
6) Setelah tercapai status 100% (seratus persen) STBM (minimal pilar 1),
masyarakat didorong untuk mendeklarasikannya, jika perlu memasang papan
pengumuman.
7) Untuk menjamin agar masyarakat tidak kembali ke perilaku semula,
masyarakat perlu membuat aturan lokal, contohnya denda bagi anggota
masyarakat yang masih BAB di tempat terbuka.
8) Mendorong masyarakat untuk terus melakukan perubahan perilaku higiene dan
sanitasi sampai tercapai Sanitasi Total. (Permenkes,2014)
2.2. Evaluasi Program
2.2.1 Pengertian Evaluasi Program
Evaluasi adalah penilaian secara keseluruhan keberhasilan suatu program
kesehatan masyarakat yaitu dengan melihat dan memberi nilai keberhasilan program
seutuhnya. Evaluasi merupakan bagian terpenting dari pelaksanaan suatu program
kesehatan karena dengan adanya evaluasi diperoleh feed back dari program yang
dijalankan. Tanpa evaluasi terhadap sebuah program yang dijalankan, maka akan
sulit mengetahui sejauh mana tujuan yang diinginkan tercapai. Menurut
Perhimpunan Ahli Kesehatan Amerika, evaluasi adalah suatu proses untuk
menentukan nilai atau jumlah keberhasilan dan usaha pencapaian suatu tujuan yang
telah ditetapkan serta mencakup hal – hal sebagai berikut :
a. Menetapkan atau memformulasikan apa yang akan di evaluasi
b. Menetapkan kriteria yang akan digunakan dalam menentukan keberhasilan
program yang akan dievaluasi
c. Menentukan cara atau metode evaluasi yang akan digunakan
d. Melaksanakan evaluasi, mengolah, dan menganalisis data hasil evaluasi
e. Menentukan keberhasilan program kerja yang dievaluasi berdasarkan kriteria
yang ditetapkan tersebut, serta memberikan penjelasannya.
f. Menyusun rekomendasi atau saran – saran tindak lanjut terhadap program
berikutnya berdasarkan hasil evaluasi tersebut.
(Prasetyawati, 2011 : 208-209)
2.2.2 Macam – Macam Evaluasi
Dalam melakukan evaluasi ada dua macam evaluasi yaitu :
a. Evaluasi formatif , dilakukan ketika program sedang berjalan dan biasanya
digunakan untuk memperbaiki dan mengembangkan program.
b. Evaluasi sumatif, dilakukan setelah semua program selesai dan dilakukan
penilaian.
Dalam suatu program kesehatan masyarakat, evaluasi dilakukan terhadap
tiga hal berikut :
a. Evaluasi proses ditujukan terhadap pelaksanaan program yang menyangkut
penggunaan sumber daya yang meliputi tenaga kerja, dana, dan fasilitas yang
lain.
b. Evaluasi hasil program ditujukan untuk menilai sejauh mana program
tersebut berhasil. Misalnya meningkatnya cakupan imunisasi, meningkatnya
cakupan jamban keluarga, dan lain sebagainya.
c. Evaluasi dampak program ditujukan untuk menilai sejauh mana program itu
mempunyai dampak terhadap peningkatan status kesehatan masyarakat.
Dampak tercermin dari meningkat atau menurunnya indikator – indikator
kesehatan masyarakat, misalnya meningkatnya status gizi balita,
menurunnya angka kesakitan diare, dan lain sebagainya.
2.2.3 Pemantauan dan Evaluasi Penyelenggaraan STBM
Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan STBM dilakukan untuk
mengukur perubahan dalam pencapaian program serta mengidentifikasi
pembelajaran yang ada dalam pelaksanaannya, mulai pada tingkat komunitas
masyarakat di desa/kelurahan. Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan STBM di
setiap tingkat pemerintahan secara berjenjang dilakukan melalui sistem informasi
pemantauan yang dilaksanakan dengan tahapan:
1. Pengumpulan data dan informasi;
2. Pengolahan dan analisis data dan informasi; dan
3. Pelaporan dan pemberian umpan-balik.
Capaian Indikator Pemantauan dan Evaluasi:
1. Desa/Kelurahan yang melaksanakan STBM
Indikator bahwa suatu Desa/Kelurahan dikatakan telah melaksanakan STBM adalah:
a. Minimal telah ada intervensi melalui pemicuan di salah satu dusun dalam
desa/kelurahan tersebut.
b. Ada masyarakat yang bertanggung jawab untuk melanjutkan aksi intervensi
STBM seperti disebutkan pada poin pertama, baik individu (Natural Leader)
ataupun bentuk kelompok masyarakat.
c. Sebagai respon dari aksi intervensi STBM, kelompok masyarakat menyusun
suatu rencana aksi kegiatan dalam rangka mencapai komitmen perubahan
perilaku pilar STBM, yang telah disepakati bersama.
1.3 Puskesmas
2.3.1 Pengertian Puskesmas
Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif
yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Pusat
Kesehatan Masyarakat yang disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan
preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di
wilayah kerjanya. (Permenkes No. 75 Tahun 2014)
Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana pelayanan kesehatan primer
(Primary Health Care) yang dicanangkan oleh pemerintah dalam upaya
pengembangan pelayanan kesehatan dasar. Pembangunan kesehatan yang
diselenggarakan di Puskesmas adalah untuk mendukung terwujudnya kecamatan
sehat yaitu dengan mewujudkan kehidupan masyarakat seperti hal berikut memiliki
perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat;
mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu, hidup dalam lingkungan sehat;
dan memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2.3.2 Prinsip Puskesmas
Prinsip penyelenggaraan Puskesmas meliputi:
1. Paradigma sehat yaitu Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan
untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko kesehatan
yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2. Pertanggungjawaban wilayah; yaitu Puskesmas menggerakkan dan
bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
3. Kemandirian masyarakat; yaitu Puskesmas mendorong kemandirian hidup
sehat bagi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
4. Pemerataan; yaitu Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang
dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya
secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya dan
kepercayaan.
5. Teknologi tepat guna; yaitu Puskesmas menyelenggarakan pelayanan
kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan
kebutuhan pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi
lingkungan.
6. Keterpaduan dan kesinambungan yaitu Puskesmas mengintegrasikan dan
mengoordinasikan penyelenggaraan UKM dan UKP lintas program dan lintas
sektor serta melaksanakan sistem rujukan yang didukung dengan manajemen
Puskesmas
2.3.3 Fungsi Puskesmas
Puskesmas sebagai ujung tombak upaya kesehatan dalam melaksanakan
tugas penyelenggaraannya memiliki fungsi:
a. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanyas
1) Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan
masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;
2) Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;
3) Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan;
4) Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait;
5) Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat;
6) Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia
Puskesmas;
7) Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;
8) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu,
dan cakupan pelayanan kesehatan; dan
9) Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat,
termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon
penanggulangan penyakit.
b. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya. Yang berfungsi
untuk:
1) Pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan
menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara korehensif,
berkesinambungan dan bermutu;
2) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya
promotif dan preventif;
3) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat;
4) Menyelenggarakan pasien, petugas dan pengunjung;
5) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan
kerja sama inter dan antar profesi;
6) Melaksanakan rekam medis;
7) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan
akses pelayanan kesehatan;
8) Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan;
9) Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan
10) Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan
sistem rujukan
c. Puskesmas dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan tenaga kesehatan.