16
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran perlu dipahami oleh guru agar dapat
melaksanakan pembelajaran secara efektif dalam meningkatkan hasil
pembelajaran. Dalam penerapannya, model pembelajaran harus
dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan siswa karena masing-masing model
pembelajaran memiliki tujuan, prinsip, tekanan utama yang berbeda-beda.1
Model adalah pola atau bentuk yang dijadikan sebagai acuan
pelaksanaan.2 Miils berpendapat bahwa model adalah representasi akurat
sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok
orang mencoba bertindak berdasarkan model itu.3 Menurut Kemp dalam
Rusman model pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang
harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai
efektif dan efisien.4
Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh
1
Isjoni, Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung : Alfabeta, Cet. 4,
2010), 49
2
Nurhadi, Menciptakan Pembelajaran IPS Efektif dan Menyenangkan, (Jakarta : Multi Kreasi
Satudelapan, cet. 1, 2010), 75
3
Agus suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar,
2009), 45
4
Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme guru, (Jakarta, Rajawali
Pers, 2011), 132
16
17
guru. Dengan demikian model pembelajaran dapat diartikan sebagai satuan
acara yang berisi prosedur, langkah teknis yang harus dilakukan dalam
mendekati sasaran proses dan hasil belajar sehingga mencapai keefektifan
menurut kesesuaian dengan pengaturan waktu, tempat dan subyek ajarnya.
Sukamto, dkk dalam Trianto mengemukakan maksud dari model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang yang melukiskan prosedur
yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas
belajar mengajar.5
Adapun sebelum menentukan model pembelajaran yang akan
digunakan dalam kegiatan pembelajara, ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan guru dalam memmilihnya, yaitu :
a. Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai.
b. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi
pembelajaran.
c. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa.
d. Pertimbangan lainnya yang bersifat non teknis.6
Model pembelajaran mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu :
a. Rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atu
pengembangnya.
5
Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktifistik, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, cet. 1, 2007), 5
6
Rusman, Model-Model Pembelajaran..., 133-134
18
b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan
pembelajaran yang akan dicapai).
c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan dengan berhasil.
d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai.7
Menurut Nieveen dalam Trianto selain memiliki ciri-ciri khusus,
model pembelajaran dikatakan baik jika memenuhi kriteria sebagai
berikut:
a. Sahih (valid), dapat dikatakan valid dapat dikatakan dengan dua hal
yaitu apakah model yang dikembangkan didasarkan pada rasional teoriti
yang kuat dan apakah terdapat konsistensi internal.
b. Praktis, dapat dikatakan praktis jika, para ahli dan praktisi menyatakan
bahwa apa yang dikembangkan dapat diterapkan dan kenyataan
menunjukkan bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan.
c. Efektif, adalah apabila ahli dan praktisi berdasar pengalamannya
menyatakan bahwa model tersebut efektif dan secara operasional model
tersebut memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.8
2. Pembelajaran kooperatif
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu
sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.9
7
Trianto, Model-Model Pembelajaran..., 6
8
Ibid,. 8
19
Menurut Hamid Hasan cooperative mengandung pengertian bekerja
bersama dalam mencapai tujuan bersama. dlam pembelajaran kooperatif,
siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh
anggota kelompoknya. Jadi, pembelajaran kooperatif adalah pemanfaatan
kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerja
bekerja untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya
dalam kelompok tersebut.10
Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-
kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi
heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lalin saling
membantu. Tujuan pembuatan kelompok tersebut adalah untuk
memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara
aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Tugas dalam kelompok
adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling
memmbantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.11
Roger dan David Johnson mengatakan bahwa untuk mencapai hasil
yang maksimal, ada lima unsure dalam model pembelajaran kooperatif
harus diterapkan. Unsur tersebut adalah:12
9
Isjoni, Cooperative Learning Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik,
(Bandung : Pustaka Pelajar, cet. 1, 2009), 22
10
Etin Solihatin, Cooperatif Learning Analisis Model Pembelajaran IPS, (Jakarta : Bumi Aksara,
2007), 4
11
Trianto, Model-Model Pembelajaran.., 41
12
Agus Suprijono, kooperatif learning…, 58-61
20
a. Saling Ketergantungan Positif
Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif
ada dua pertanggung jawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan
yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota
kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut.
b. Tanggung Jawab Perseorangan
Pertanggungjawaban ini muncul jika dialkukan pengukuran
terhadap keberhasilan kelompok.
c. Interaksi Promotif
Ciri-ciri interaksi promotif adalah :
1) Saling membantu secara efektif dan efisien
2) Saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan
3) Memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efisien
4) Saling mengingatkan
5) Saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan
argumentasi serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap
masalah yang dihadapi
6) Saling percaya
7) Saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama.
d. Komunikasi Antar Anggota
Untuk mengoordinasikan kegiatan peserta didik dalam pencapaian
tujuan.
21
e. Pemrosesan Kelompok
Melalui pemrosesan kelompokdapat diidentifikasi dari urutan atau
tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok.
3. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Adapun tujuan pembelajaran kooperatif diantaranya adalah
sebagai berikut:13
a. Pencapaian hasil belajar
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja
siswa dalam tugas-tugas akademik. Slavin dan para ahli lain percaya
bahwa memusatkan perhatian pada kelompok pembelajaran kooperatif
dapat mengubah norma budaya anak muda dan membuat budaya lebih
dapat menerima prestasi menonjol dalam berbagai tugas pembelajaran
akademik.
b. Penerimaa terhadap perbedaan individu
Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa
yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling
bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui
penggunaan struktur penghargaan kooperatif, serta belajar untuk
menghargai satu sama lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan pembelajaran kooperatif yang ketiga adalah untuk
mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi.
13
Ibid., hal. 12-14
22
Selain unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulid
model ini sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan
kemampuan kerja sama.
4. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Langkah-langkah atau fase-fase model pembelajaran kooperatif,
diantaranya adalah sebagai berikut:14
a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
b. Menyampaikan informasi
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
d. Memantau kelompok siswa dan membimbing di mana perlu
e. Evaluasi dan umpan balik dan memberikan penghargaan
5. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif memiliki kelebihan dan kekurangan,
diantaranya adalah sebagai berikut:15
a. Kelebihan pembelajaran kooperatif, yaitu a) Dapat meningkatkan
kecakapan individu maupun kelompok dalam memecahkan masalah,
b) Meningkatkan komitmen, c) Menghilangkan prasangka buruk
terhadap teman sebaya, d) Tidak memiliki rasa dendam.
b. Kekurangan pembelajaran kooperatif, yaitu: a) Dalam menyelesaikan
suatu materi pelajaran dengan pembelajaran kooperatif membutuhkan
waktu yang relatif lebih lama, b) Materi tidak dapat disesuaikan
dengan kurikulum apabila guru belum berpengalaman, c) Siswa
14
Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari, Teknik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa.
(t.t.p: GP Press, 2008), 75.
15
Nur Asma, Model Pembelajaran…, 26-27.
23
berprestasi rendah menjadi kurang dan siswa yang memiliki prestasi
tinggi akan mengarah kepada kekecewaan, d) Siswa yang
berkemampuan tinggi merasakan kekecewaan ketika mereka harus
membantu temannya yang berkemampuan rendah.
6. Model-model Pembelajaran Kooperatif
a. STAD (Student Teams Achievement Division)
1) Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Model Student Teams Achievement Division (STAD) ini
dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari
Universitas John Hopkins. Model ini merupakan salah satu
model yang banyak digunakan dalam pembelajaran kooperatif,
karena model yang praktis akan memudahkan
melaksanakannya. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe
STAD guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil
atau tim belajar dengan jumlah anggota setiap kelompok 4 atau
5 orang secara heterogen. Setiap kelompok menggunakan
lembar kerja akademik dan saling membantu untuk menguasai
materi ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar anggota
kelompok. Kemudian seluruh siswa diberi tes dan tidak
diperbolehkan saling membantu dalam mengerjakannya.16
Sedangkan menurut Slavin menjelaskan bahwa
“pembelajaran kooperatif dengan model STAD”, yaitu siswa
16
Kuntjojo, Model-Model Pembelajaran. (Kediri: Universitas Nusantara PGRI, 2010), 14.
24
ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan 4 atau 5
orang siswa yang merupakan campuran dari kemampuan
akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap
kelompokterdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan
rendah atau variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis, atau
kelompok sosial lainnya.17
Jadi dari beberapa pengertian model pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang di maksud dengan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah
pembelajaran yang terdiri dari kelompok kecil antara 4-5 orang
siswa yang dipilih secara heterogen yang secara kelompok
bekerja sama dalam memecahkan suatu masalah.
Pemahaman siswa merupakan salah satu hal yang sangat
penting dalam proses belajar mengajar, karena berpengaruh
terhadap mencapai hasil belajar yang maksimal. Selain itu,
hasil belajar tidak bisa maksimal disebabkan oleh banyak
kendala yang dihadapi siswa di dalam kegiatan belajar
mengajar, diantaranya: kurangnya sarana dan prasarana belajar
di sekolah, padatnya beban belajar, kurangnya perhatian
keluarga terhadap pendidikan anak, dan sebagainya.
17
Nur Asma, Model Pembelajaran…, 51.
25
Banyaknya kendala yang disebutkan diatas, maka inovasi
pembelajaran kooperatif diharapkan dapat membantu siswa
dalam menghilangkan rasa jenuh dalam proses pembelajaran,
karena rasa jenuh dapat menghalangi informasi yang diberikan.
Dengan demikian materi dapat terserap dengan baik sehingga
hasil belajar yang maksimal dapat diraih.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari 7 tahap,
yaitu:18
a. Tahap 1 : Persiapan pembelajaran
a) Materi
Materi dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD
dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara
berkelompok. Sebelum menyajikan materi pelajaran,
disiapkan dahulu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP), lembar latihan terbimbing, lembar tugas, lembar
jawaban, lembar observasi bagi guru dan lembar
observasi bagi siswa.
b) Menentukan skor dasar
Skor dasar dapat diperoleh dari tes kemampuan prasarat
atau tes pengetahuan awal. Selain itu, juga dapat
diperoleh dari nilai siswa pada semester sebelumnya.
18
Ibid., 51-53
26
b. Tahap 2 : Penyajian materi
Dalam memberikan materi, terlebih dahulu guru
menjelaskan tujuan dari pelajaran yang akan diajarkan,
memberikan motivasi, menggali pengetahuan prasyarat dan
sebagainya. Dalam penyajian kelas dapat digunakan
ceramah, tanya jawab.
c. Tahap 3 : Kegiatan belajar kelompok
Dalam setiap kegiatan belajar kelompok digunakan lembar
kegiatan, lembar tugas, dan lembar kunci jawaban masing-
masing dua lembar untuk setiap kelompok, dengan tujuan
agar terjalin kerjasama di antara anggota kelompoknya.
Dalam kegiatan belajar kelompok, siswa diberi lembar
tugas yang akan dipelajari. Sebelum memulai diskusi dalam
kerja kelompok, hal-hal yang perlu dilakukan siswa untuk
menunjukkan tanggung jawab terhadap kelompok adalah
sebagai berikut: a) menyakinkan bahwa setiap anggota
kelompoknya telah mempelajari materi; b) tidak
seorangpun menghentikan belajar sampai semua anggota
menguasai materi; c) meminta bantuan kepada setiap
anggota kelompoknya untuk menyelesaikan masalah/tugas
sebelum menanyakan kepada guru; d) anggota kelompok
boleh saling berbicara secara sopan dan saling menghargai.
27
Dalam kerja kelompok siswa berbagi tugas dan saling
membantu dalam menyelesaikan tugas tersebut. Setiap
siswa mendapat peran pemimpin anggota-anggota dalam
kelompoknya, dengan harapan bahwa setiap anggota
kelompok termotivasi untuk berbicara dalam diskusi. Dan
setelah selesai mengerjakan, lembar dikumpulkan sebagai
hasil kegiatan kelompok.
d. Tahap 4 : Pemeriksaan terhadap hasil kerja kelompok
Pemeriksaan terhadap hasil kegiatan kelompok dilakukan
dengan mempresentasikan hasil kegiatan kelompok di
depan kelas oleh wakil dari setiap anggota. Pada tahap
kegiatan ini diharapkan terjadi interaksi antar anggota
kelompok penyaji dengan anggota kelompok lain untuk
melengkapi jawaban kelompok tersebut. Kegiatan ini
dilakukan secara bergantian. Pada tahap ini pula dilakukan
pemeriksaan hasil kegiatan kelompok dengan memberikan
kunci jawaban dan setiap kelompok memeriksa sendiri
hasil pekerjaannya serta memperbaiki jika masih terdapat
kesalahan-kesalahan.
e. Tahap 5 : Siswa mengerjakan soal-soal tes secara individual
Pada tahap ini setiap siswa harus memperhatikan
kemampuannya dan menunjukkan apa yang diperoleh pada
kegiatan kelompok dengan cara menjawab soal tes sesuai
28
dengan kemampuannya. Siswa dalam tahap ini tidak
diperkenankan bekerjasama.
f. Tahap 6 : Pemeriksaan hasil tes
Pemeriksaan hasil tes dilakukan oleh guru, membuat daftar
skor peningkatan setiap individu, yang kemudian
dimasukkan menjadi skor kelompok. Peningkatan rata-rata
skor setiap individual merupakan sumbangan bagi kinerja
pencapaian kelompok.
g. Tahap 7 : Penghargaan kelompok
Setelah diperoleh hasil kuis, kemudian dihitung skor
peningkatan individual berdasarkan selisih perolehan skor
kuis terdahulu (skor dasar) dengan skor kuis terakhir.
Perhitungan skor peningkatan individual dihitung poin
perkembangan dengan menggunakan pedoman sebagai
berikut:19
Tabel 2.1 Perhitungan Skor Perkembangan
Nilai Tes Skor
Perkembangan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 0 poin
10 poin di bawah sampai 1 poin di bawah 10 poin
skor awal
Skor awal di bawah 10 poin di atas skor 20 poin
awal
Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30 poin
Nilai sempurna (tanpa memperhatikan 30 poin
skor awal)
19
Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007), hal. 55
29
Pemberian penghargaan kepada kelompok yang
memperoleh poin perkembangan tertinggi dihitung dengan
membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu
dengan menjumlahkan semua skor perkembangan yang
diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota
kelompok.20
Berdasarkan rata-rata skor perkembangan kelompok
diperoleh kategori skor kelompok , yaitu:21
Tabel 2.2 Kriteria Penghargaan Kelompok
Kriteria (Rata-rata Penghargaan
Kelompok) (Predikat)
0<x≤5 -
5 < x ≤ 15 Kelompok baik
15 < x ≤ 25 Kelompok hebat
25 < x ≤ 30 Kelompok super
Model pembelajaran yang mengelompokkan siswa secara
heterogen, kemudian siswa yang pandai menjelaskan pada
anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah pembelajaran:22
a) Membentuk kelompok yang beranggota 4 orang secara
heterogen (campuran menurut prestasi, jenis, jenis kelamin,
suku, dll)
b) Guru menyajikan pelajaran
20
Ibid., hal. 55
21
Ibid., hal. 56
22
Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual…, hal. 63-64
30
c) Guru member tugas kepada kelompok untuk dikerjakan
oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang sudah
mengerti dapat menjelaskan pada anggota dalam kelompok
itu mengerti
d) Guru member kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada
saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
e) Memberi evaluasi
f) Kesimpulan
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki
kelebihan dan kekurangan.23
Kelebihannya antara lain, sebagai berikut:
1) Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan
menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
2) Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk
berhasil bersama.
3) Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih
meningkatkan keberhasilan kelompok.
4) Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan
kemampuan mereka dalam berpendapat.
Kekurangannya antara lain,sebagai berikut:
1) Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga
sulit mencapai target kurikulum.
23
Karmawati Yusuf, Pembelajaran Matematika, dalam http//[Link],
diakses 9 April 2017
31
2) Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk guru sehingga
pada umumnya guru tidak mau menggunakan pembelajaran
kooperatif.
3) Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak
semua guru dapat melakukan pembelajaran kooperatif.
4) Menuntut sifat tertentu dari siswa, masalnya sifat suka
bekerja sama.
5) Kontribusi dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang.
Siswa berprestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan
karena peran anggota yang pandai lebih dominan.
b. Jigsaw
Pembelajaran kooperatif model jigsaw dikembangkan oleh
Elliot Aronson dari Universitas Texas USA. Dalam model ini siswa
dibagi menjadi suatu kelompok kecil yang heterogen yang diberi
nama tim jigsaw materi dibagi sebanyak kelompok menurut anggota
timnya. Tiap-tiap tim diberikan satu set materi yang lengkap dan
masing-masing individu ditugaskan untuk memilih topik mereka.
Kemudian siswa dipisahkan menjadi kelompok ahli atau rekan yang
terdiri seluruh siswa di kelas yang mempunyai bagian informasi yang
sama.
Di group ahli, siswa saling membantu mempelajari materi
dan mempersiapkan diri untuk tim jigsaw. Setelah siswa mempelajari
materi di group ahli, kemudian mereka kembali ke tim jigsaw untuk
32
mengajarkan materi tersebut kepada teman setim dan berusaha untuk
mempelajari sisa materi. Sebagai kesimpulan dari pelajaran tersebut
siswa dengan bebas memilih kuis dan diberikan nilai individual.
c. GI (Group Investigasion)
Pembelajaran kelompok model GI didasari atas minat
anggotanya. Pembelajaran model GI menuntut melibatkan siswa sejak
perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk
mempelajari melalui investigasi.
Dalam hal ini ada enam tahapan yang menuntut keterlibatan
anggota tim, yaitu sebagai berikut:24
a) Identifikasi topik
b) Perencanaan tugas belajar
c) Pelaksanaan tugas penelitian
d) Persiapan laporan akhir
e) Presentasi penelitian
f) Evaluasi
d. Model Problem Solving
1) Pengertian Problem Solving
Secara bahasa problem solving berasal dari dua kata yaitu
problem dan solves. Makna bahasa dari problem yaitu “a thing that
is difficult to deal with or understand” (suatu hal yang sulit untuk
melakukannya atau memahaminya), dapat jika diartikan “a
24
Made Weni, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual. (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2009), hal. 196
33
question to be answered or solved” (pertanyaan yang butuh
jawaban atau jalan keluar), sedangkan solve dapat diartikan “to find
an answer to problem” (mencari jawaban suatu masalah).
Sedangkan secara terminologi problem solving seperti yang
diartikan Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain adalah suatu
cara berpikir secara ilmiah untuk mencari pemecahan suatu
masalah.25 Sedangkan menurut istilah Mulyasa problem solving
adalah suatu pendekatan pengajaran menghadapkan pada peserta
didik permasalahan sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar
tentang cara berpikir kritis dan keterampilan permasalahan, serta
untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi
pembelajaran.26 Metode problem solving yang dimaksud adalah
suatu pembelajaran yang menjadikan masalah kehidupan nyata,
dan masalah-masalah tersebut dijawab dengan metode ilmiah,
rasional dan sistematis. Mengenai bagaimana langkah-langkah
dalam menjawab suatu masalah secara ilmiah, rasional dan
sistematis ini akan penulis dalam sub bab di bawah.
Pembelajaran dengan problem solving ini dimaksud agar
siswa dapat menggunakan pemikiran (rasio) seluas-luasnya sampai
titik maksimal dari daya tangkapnya. Sehingga siswa terlatih untuk
25
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), 102
26
Mulyasa, E. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2004), 111
34
terus berpikir dengan menggunakan kemampuan berpikirnya.27
Pada umumnya siswa yang berpikir rasional akan menggunakan
prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab
pertanyaan dan masalah. Dalam berpikir rasional siswa dituntut
menggunakan logika untuk menentukan sebab-akibat,
menganalisa, menarik kesimpulan, dan bahkan menciptakan
hukum-hukum (kaidah teoritis) dan ramalan-ramalan.
Dari berbagai pendapat di atas metode problem solving atau
sering juga disebut dengan nama metode pemecahan masalah
merupakan suatu cara mengajar yang merangsang seseorang untuk
menganalisa dan melakukan sintesa dalam kesatuan struktur atau
situasi di mana masalah itu berada, atas inisiatif sendiri. Metode ini
menuntut kemampuan untuk dapat melihat sebab akibat atau relasi-
relasi diantara berbagai data, sehingga pada akhirnya dapat
menemukan kunci pembuka masalahnya.
2) Tujuan Metode Pembelajaran Problem Solving
Metode pembelajaran problem solving mengembangkan
kemampuan berfikir yang dipupuk dengan adanya kesempatan
untuk mengobservasi problema, mengumpulkan data, menganalisa
data, menyusun suatu hipotesa, mencari hubungan (data) yang
hilang dari data yang telah terkumpul untuk kemudian menarik
kesimpulan yang merupakan hasil pemecahan masalah tersebut.
27
Armei Arif, Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam. (Jakarta: Ciputat Pers. 2002),
101
35
Cara berfikir semacam itu lazim disebut cara berfikir ilmiah. Cara
berfikir yang menghasilkan suatu kesimpulan atau keputusan yang
diyakini kebenarannya karena seluruh proses pemecahan masalah
itu telah diikuti dan dikontrol dari data yang pertama yang
¥berhasil dikumpulkan dan dianalisa sampai kepada kesimpulan
yang ditarik atau ditetapkan.
Tujuan utama dari penggunaan metode pemecahan masalah
adalah:
a) Mengembangkan kemampuan berfikir, terutama didalam
mencari sebab-akibat dan tujuan suatu masalah. Metode ini
melatih murid dalam cara-cara mendekati dan cara-cara
mengambil langkah-langkah apabila akan memecahkan suatu
masalah.
b) Memberikan kepada murid pengetahuan dan kecakapan praktis
yang bernilai atau bermanfaat bagi keperluan hidup sehari-hari.
Metode ini memberikan dasar-dasar pengalaman yang praktis
mengenai bagaimana cara-cara memecahkan masalah dan
kecakapan ini dapat diterapkan bagi keperluan menghadapi
masalah-masalah lainnya didalam masyarakat.28
Problem solving melatih siswa terlatih mencari informasi
dan mengecek silang validitas informasi itu dengan sumber
lainnya, juga problem solving melatih siswa berfikir kritis dan
28
Ibid.,
36
metode ini melatih siswa memecahkan dilema. Sehingga dengan
menerapkan metode problem solving ini siswa menjadi lebih dapat
mengerti bagaimana cara memecahkan masalah yang akan
dihadapi pada kehidupan nyata atau di luar lingkungan sekolah.
Untuk mendukung strategi belajar mengajar dengan
menggunakan metode problem solving ini, guru perlu memilih
bahan pelajaran yang memiliki permasalahan. Materi pelajaran
tidak terbatas hanya pada buku teks di sekolah, tetapi juga di ambil
dari sumber-sumber lingkungan seperti peristiwa-peristiwa
kemasyarakatan atau peristiwa dalam lingkungan sekolah.29
Tujuannya agar memudahkan siswa dalam menghadapi dan
memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan sebenarnya dan
siswa memperoleh pengalaman tentang penyelesaian masalah
sehingga dapat diterapkan di kehidupan nyata.
3) Langkah-langkah Metode Pembelajaran Problem Solving
Metode problem solving (metode pemecahan masalah)
bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu
metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan
metode- metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai
kepada menarik kesimpulan. Langkah- langkah metode ini antara
lain:
29
W. Gulo,. Stategi Belajar Mengajar (Jakarta: Gramedia Widiasarana, 2002),104
37
a) Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini
harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.
b) Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan
membaca buku- buku, meneliti, bertanya, berdiskusi, dan lain-
lain.
c) Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan
jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah
diperoleh, pada langkah kedua diatas.
d) Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam
langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah
sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut betul-betul
cocok. Apakah sesuai dengan jawaban sementara atau sama
sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban ini tentu
saja diperlukan metode-metode lainnya seperti, demonstrasi,
tugas diskusi, dan lain-lain.
e) Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada
kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah yang ada.30
Langkah-langkah problem solving menurut Suryosubroto
adalah:
1) Penemuan fakta, 2) penemuan masalah berdasar fakta-fakta
yang telah dihimpun, ditentukan masalah atau pertanyaan
kreatif untuk dipecahkan, 3) penemuan gagasan, menjaring
sebanyak mungkin alternatif jawaban, untuk memecahkan
30
Nana Sudjana,. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009),
85-86
38
masalah, 4) penemuan jawaban, penentuan tolok ukur atas
kriteria pengujian jawaban, sehingga ditemukan jawaban
yang diharapkan, 5) penentuan penerimaan, diketemukan
kebaikan dan kelemahan gagasan, kemudian menyimpulkan
dari masing-masing yang dibahas.31
Secara operasional langkah-langkah pembelajaran yang
dilakukan adalah:
1) Pembentukan kelompok (4-5 peserta setiap kelompok)
2) Penjelasan prosedur pembelajaran (petunjuk kegiatan)
3) Pendidik menyajikan situasi problematik dan menjelaskan prosedur
solusi kreatif kepada peserta didik (memberikan pertanyaan,
pertanyaan problematis, dan tugas).
4) Pengumpulan data dan verifikasi mengenai suatu peristiwa yang
dilihat dan dialami (dilakukan dengan mengumpulkan data di
lapangan)
5) Eksperimentasi alternatif pemecahan masalah dengan
diperkenankan pada elemen baru ke dalam situasi yang berbeda
(diskusi dalam kelompok kecil)
6) Memformulasikan penjelasan dan menganalisis proses solusi kreatif
(dilakukan dengan diskusi kelas yang didampingi oleh pendidik).
Dalam mencari informasi dalam menyelesaikan masalah atau
menjawab pertanyaan, peserta didik diberi kesempatan untuk urun
pendapat (brain storming), baik berdasarkan pengalaman dan
31
Suryosubroto, Proses belajar mengajar di sekolah, (Jakarta : Rineka Cipta, 2009), hal. 200
39
pengetahuan siswa, membaca referensi, maupun mencari data atau
informasi dari lapangan.
B. Model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)
1. Pengertian Numbered Heads Together (NHT)
Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama
adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap
struktur kelas tradisional.32 Model pembelajaran NHT ini adalah salah satu
model dalam pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Spencer
Kagan pada tahun 1992. Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa
untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang
paling tepat.33
Model NHT merupakan salah satu tipa pembelajaran kooperatif
yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk
mempelajari materi yang telah ditentukan.
Jadi dengan tehnik tersebut selain dapat mepermudah dalam
pembelajaran, dalam pembagian tugas tehnik ini juga dapat meningkatkan
rasa tanggung jawab pribadi siswa terhadap keterkaitan dengan rekan-
rekan kelompoknya.
32
Trianto, Model-Modrl Pembelajaran…, 62
33
Anita Lie, Cooperative Learning Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas,
(Jakarta : PT Grasindo, cet. 1, 2002), 59
40
2. Langkah-langkah pelaksanaan NHT
Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru
menggunakan struktur empat fase sebagai pola urutan NHT sebagai
berikut:34
a. Fase 1 : Penomoran
Guru membagi siswa ke dalam kelompokyqng beranggotakan 3-5 orang
dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara satu sampai
lima.
b. Fase 2 : Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, pertanyaan yang diberikan
dapat bervariasi dari yang spesifik hingga yang bersifat umum.
c. Fase 3 :Berfkir bersama
Berfikir bersama untuk menemukan jawaban dan meyakinkan tiap
anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.
f) Fase 4 : Menjawab
Guru menyebutkan salah satu nomor dan tiap-tiap anggota kelompok
yang memiliki nomor yang sama mengacungkan tangan dan
menyiapakan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru memilih
secara acak kelompok yang harus menjawab pertanyaan tersebut,
selanjutnya nomor yang disebut guru dari kelompok tersebut
mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Sedang
34
Trianto, Model-Model Pembelajaran…, 63
41
dari kelompok lain yang memiliki nomor yang sama menanggapi
jawaban tersebut.
Langkah-langkah Numbered Heads Together (NHT) :35
1) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok
mendapat nomor.
2) Guru memberi tugas dan masing-masing kelompok
mengerjakannya.
3) Kelompok berdiskusi jawaban yang benar dan memastikan tiap
anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui setiap
jawaban.
4) Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang
dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5) Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor
yang lain.
6) Kesimpulan.
3. Kelebihan dan kelemahan NHT
Kita ketahui bahwa setiap model pembelajaran dan metode
pembelajan manapun memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut ini
merupakan kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).36
35
Tukiran Tanireja, dkk, Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Bandung : Alfabeta, 2011), 101
36
Mayasa, Kekurangan dan Kelebihan Model Numbered Head Together, dalam [Link]
[Link]/2012/05/[Link], diakses 05 Januari 2017
42
a. Kelebihan
1) Setiap siswa menjadi siap semua
2) Dapt melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh
3) Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai
4) Melatih siswa untuk bekerjasama dan menghargai teman dalam
kelompok
b. Kekurangan
1) Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru
2) Tidak semua anggota kelompok dopanggil oleh guru.
B. Kemandirian Belajar
1. Pengertian Kemandirian Belajar Siswa
Kata kemandirian berasal dari kata dasar diri yang mendapatkan
awalan ke dan akhiran an yang kemudian membentuk suatu kata keadaan
atau kata benda.37Karena kemandirian berasal dari kata diri, maka
pembahasan kemandirian difokuskan pada perkembangan diri siswa.
Kemandirian belajar siswa diberlakukan supaya siswa mempunyai
tanggung jawab untuk mengatur dan mendisiplinkan dirinya dan
mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri.38 Belajar
mandiri adalah belajar yang bebas menentukan arah, rencana, sumber dan
kepuytusan untuk mencapai tujuan akademik bukan bebas dari aturan-
37
Mohammad Ali dan Mohammah Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta
Didik,(Jakarta: PT Bumi Aksara. 2012), 109
38
Rusman, Model-model Pembelajaran, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2012), 354
43
aturan keagamaan, aturan-aturan Negara, aturan-aturan adat atau
masyarakat.39 Belajar mandiri adalah belajar yang dilakukan oleh siswa
secara bebas menentukan tujuan belajarnya, arah belajarnya,
merencanakan proses belajarnya, strategi belajarnya, menggunakan
sumber-sumber belajar yang dipilihnya, membuat keputusan akademik dan
melakukan kegiatan-kegiatan untuk tercapainya tujuan belajarnya.
Belajar Mandiri (Self-directed Learning) sebenarnya berakar dari
konsep guruan orang dewasa. Namun demikian berdasarkan beberapa
penelitian yang dilakukan oleh para ahli seperti Garrison tahun 1997,
Schillereff tahun 2001, dan Scheidet tahun 2003 ternyata belajar mandiri
juga cocok untuk semua tingkatan usia. Dengan kata lain, belajar mandiri
sesuai untuk semua jenjang sekolah baik untuk sekolah menengah maupun
sekolah dasar dalam rangka meningkatkan prestasi dan kemampuan
siswa.40
Belajar Mandiri memandang siswa sebagai para manajer dan
pemilik tanggung jawab dari proses pelajaran mereka sendiri. Belajar
Mandiri mengintegrasikan self-management (manajemen konteks,
menentukan setting, sumber daya, dan tindakan) dengan self-monitoring
(siswa memonitor, mengevaluasi dan mengatur strategi belajarnya).Di
dalam belajar mandiri, kendali secara berangsur-angsur bergeser dari para
guru ke siswa. Siswa mempunyai banyak kebebasan untuk memutuskan
pelajaran apa dan tujuan apa yang hendak dicapai dan bermanfaat baginya.
39
Martinis Yamin,. Paradigma Pendidikan Kontruktivistik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008),
204
40
[Link]
44
Pembelajaran mandiri dapat memberikan kebebasan kepada siswa
untuk menemukan bagaiman kehidupan akademik sesuai dengan
kehidupan mereka sehari-hari. Proses penemuan ini butuh waktu, tetapi
hasilnya sebanding waktu yang dihabiskan. Menyusuri jalan yang
berujung pada penemuan ini akan mendorong anak-anak untuk tumbuh
berkembang. Langkah yang mereka ambil inilah, proses yang mereka
jalani adalah penemuan itu sendiri”.41Belajar Mandiri mengembangkan
pengetahuan yang lebih spesifik seperti halnya kemampuan untuk
mentransfer pengetahuan konseptual ke situasi [Link] untuk
menghilangkan pemisah antara pengetahuan di sekolah dengan
permasalahan hidup sehari-hari di dunia nyata.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
belajar mandiri dapat diartikan sebagai usaha individu untuk melakukan
kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain
berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi dan atau
kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan
masalah yang dijumpainya di dunia nyata.
2. Manfaat Belajar Mandiri
Belajar tatap muka di kelas belumlah cukup menciptakan siswa
cerdas dan terampil tanpa dibarengi dengan belajar terstruktur dan belajar
mandiri, belajar terstruktur berbeda dengan belajar mandiri, belajar
terstruktur adalah para siswa belajar sesuai dengan tujuan, rencana, bahan
41
Bobbi Deporter, Contextual Teaching and Learning, (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2003), 151
45
dan sumber yang ditentukan oleh guru. Para guru harus memberi dorongan
kepada siswa untuk belajar mandiri.
Banyak literatur yang mengungkap tentang kelebihan-kelebihan
belajar [Link] yang mengutip dari berbagai ahli memaparkan
tentang keuntungan-keuntungan belajar [Link] yang melakukan
kegiatan belajar mandiri mendapatkan keuntungan-keuntungan sebagai
berikut.
a. Mempunyai kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar
dalam membuat pembelajaran menjadi bermakna terhadap dirinya
sendiri.
b. Menjadi lebih penasaran untuk mencoba hal-hal baru.
c. Siswa pada belajar mandiri memandang permasalahan sebagai
tantangan yang harus dihadapi, minat belajar terus berkembang
dan pembelajaran lebih menyenangkan.
d. Mereka menjadi termotivasi dan gigih, mandiri, disiplin-diri,
percaya diri dan berorientasi pada tujuan.
e. Memungkinkan mereka belajar dan bersosialisasi dengan lebih
efektif.
f. Mereka lebih mampu untuk mencari informasi dari berbagai
sumber, menggunakan berbagai strategi untuk mencapai tujuan,
46
dan dapat mengungkapkan gagasannya dengan format yang
berbeda atau lebih kreatif.42
Belajar mandiri memiliki manfaat adalah sebagai berikut.
a. Memupuk tanggungjawab
b. Meningkatkan keterampilan
c. Memecahkan masalah
d. Mengambil keputusan
e. Berfikir kreatif dan kritis
f. Percaya diri yang kuat
g. Menjadi guru bagi dirinya sendiri
Di samping itu juga manfaat belajar mandiri akan semakin terasa
bila para siswa menelusuri literature penelitian, analisis, dan pemecahan
masalah. Pengalaman yang mereka peroleh semakin kompleks dan
wawasan mereka semakin luas, dan menjadi semakin kaya dengan ilmu
[Link] bila mereka belajar mandiri dalam kelompok, disini
mereka belajar kerjasama, kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
3. Pengembangan Kemandirian Belajar Siswa
Belajar mandiri merupakan belajar dalam mengembangkan diri,
keterampilan dengan cara tersendiri. Peran guru sebagai fasilitator dan
konsultan sebagaimana yang diamanatkan oleh KTSP. Guru bukanlah
satu-satu sumber ilmu, dan dapat mempergunakan sumber dan media
untuk belajar. Dengan belajar mandiri pengalaman yang diperoleh siswa
42
Abdul Rahman Abdullah, Aktualisasi Konsep Dasar Perubahan Islam, (Yogyakarta: UII Press,
2001), 3
47
semakinn kompleks dan wawasan mereka semakin luas, dan menjadi
semakin kaya dengan ilmu pengetahuan.
Menurut Haris Mudjiman belajar mandiri memiliki tiga tahap
pelaksanaan, yaitu tahap pengembangan motivasi, tahap pembelajaran, dan
tahap [Link] keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk
belajar mandiri adalah adalah keterampilan yang diperlukan untuk
mengerjakan setiap tahap belajar mandiri.43
Pada tahap pengembangan motivasi, keterampilan yang perlu
dikuasai adalah keterampilan menumbuhkan self-motivation. Untuk dapat
menumbuhkan self motivation diperlukan beberapa keterampilan seperti :
(1) kemampuan mengetahui detail dari kegiatan; (2) kemampuan
menganalisis dan menyimpulkan bahwa kegiatan sesuai dengan kebutuhan
dan terjangkau; (3) kemampuan menikmati pengalaman belajar; (4)
kemampuan melakukan penilaian secara obyektif.
Pada tahap pembelajaran, keterampilan yang perlu dikuasai adalah
keterampilan dasar, yang meliputi: (1) keterampilan merumuskan masalah;
(2) keterampilan menetapkan tujuan belajar; (3) keterampilan menetapkan
strategi; (4) keterampilan menetapkan jenis informasi yang diperlukan; (5)
keterampilan mengidentifikasi sumber informasi; (6) keterampilan
mencari informasi; (7) keterampilan menganalisis informasi; (8)
keterampilan merumuskan hasil analisisnya; (9) keterampilan
43
Haris Mudjiman, Belajar Mandiri, (Surakarta: LPP dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS
UNS Press Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2005), 120
48
mengkomunikasikan hasil belajarnya; (10) kemampuan menilai pada akhir
kegiatan belajar.
Pada tahap refleksi, keterampilan yang diperlukan antara lain: (1)
kemampuan menentukan kebenaran dan kesalahan; (2) kemampuan
menerima kesalahan sebagai sesuatu yang wajar; (3) menggunakan
kesalahan untuk perbaikan; (4) kemampuan menerima keberhasilan bukan
untuk kebanggaan namun sebagai kenyataan untuk dipahami untuk
ditingkatkan pada proses berikutnya.
Seluruh keterampilan di atas harus ditumbuhkan oleh guru dalam
proses pembelajaran dengan melakukan berbagai strategi pembelajaran
yang memungkinkan untuk berkembangnya seluruh keterampilan di atas.
Kemandirian belajar siswa akan terlihat dari kemampuannya untuk
menguasai berbagai keterampilan. Kemandirian belajar seseorang dapat
terlihat dari 10 kemampuannya sebagai berikut:
a. Kemampuan untuk bertanya, menemukan dan memecahkan masalah.
b. Kemampuan untuk terbuka terhadap pandangan-pandangan orang lain
c. Kemampuan membaca data dan kecepatan memilih sumber-sumber
yang relevan
d. Kemampuan untuk mengumpulkan data mengenai kinerja yang
didasarkan pada pengamatan diri dan masukan dari orang lain.
e. Kemampuan untuk menilai kinerja sendiri dengan menggunakan data
tersebut
49
f. Kemampuan untuk menterjemahkan kebutuhan belajar menjadi
tujuan, rencana, dan kegiatan.
g. Kemampuan untuk menetapkan tujuan untuk memperbaiki kinerja saat
ini.
h. Kemampuan mengamati dan menjadikan model kinerja orang lain
i. Kemampuan menetapkan suatu komitmen yang kuat untuk belajar
agar tujuan-tujuan tersebut tercapai
j. Kemampuan untuk memelihara motivasi diri secara kontinyu.44
Jika seluruh ketrampilan tersebut di atas dikuasai oleh siswa,
kemandirian belajar siswa pasti akan tercipta. Sehingga proses
pembelajaran yang dilakukan olehnya pasti akan berkualitas dan
mendapatkan hasil/ kompetensi belajar sesuai yang diinginkan.
4. Kelebihan Belajar Mandiri
Kelebihan belajar mandiri adalah:
a. Setiap individu siswa berusaha meningkatkan tanggung jawab untuk
mengambil berbagai keputusan dalam usaha belajarnya.
b. Belajar mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada
setiap orang dan situasi pembelajaran.
c. Belajar mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain.
d. Dengan belajar mandiri, siswa dapat mentransfer hasil belajarnya yang
berupa pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi yang lain.
44
Ibid.,
50
e. Siswa yang melakukan belajar mandiri dapat melibatkan berbagai
sumber daya dan aktivitas, seperti: membaca sendiri, belajar
kelompok, latihan-latihan, dialog elektronik, dan kegiatan
korespondensi.
f. Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti
dialog dengan siswa, pencarian sumber, mengevaluasi hasil, dan
memberi gagasan-gagasan kreatif.
g. Beberapa institusi guruan sedang mengembangkan belajar mandiri
menjadi program yang lebih terbuka (seperti Universitas Terbuka)
sebagai alternatif pembelajaran yang bersifat individual dan program-
program inovatif lainnya.45
5. Faktor- faktor yang Mendukung dan Menghambat Kemandirian Belajar
Faktor faktor yang mendukung guru dalam meningkatkan
kemandirian belajar siswa adalah:
a. Guru yang memiliki kompetensi
Guru merupakan faktor terpenting dalam mendukung
kemandirian dalam belajar siswa, karena keberhasilan dan keefektifan
kegiatan mendidik atau mengajar pada hakekatnya adalah tergantung
pada guru. Dalam hal ini kompetensi yang dimiliki guru yang ada
dapat digunakan dalam membentuk atau meningkatkan kemandirian
belajar siswa:
45
Rijal, Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa
di SMPN 1 Kedungwaru, (Tulungagung: STAIN Tulungagung, skripsi tidak diterbitkan, 2009) 10
51
1) Kompetensi Bidang kognitif
Artinya adalah kemampuan intelektual seperti penguasaan
mata pelajaran atau pengetahuan cara mengajar, pengetahuan
mengenai cara belajar, pengetahuan tentang bimbingan
penyuluhan, pengetahuan tentang administrasi kelas. Pengetahuan
tentang cara penilaian hasil pelajaran dan pengetahuan lainnya.
2) Kompetensi Bidang Sikap
Artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal
yang berkenaan dengan tugas dan profesinya, misalnya perencaan
senang terhadap mata pelajaran yang di binanya, sikap toleransi
terhadap sesama teman seprofesi atau kemampuan yang keras.
3) Kompetensi bidang sikap
Kemampuan guru dalam mengajar, membimbing, menilai,
mengunakan alt bantu dan ketrampilan menumbuhkan belajar
siswa.
b. Tersedianya sarana dan prasarana
Kemandirian siswa akan terbentuk dengan baik jika di tunjang
dengan sarana dan prasarana yang memadai, baik jumplah,keadaan
maupun kelengkapannya. Sementara itu yang dimaksud dengan sarana
prasarana guruan adalah semua fasilitas yang diberikan dalam proses
belajar mengajar baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar
52
pencapaian tujuan guruan dapat berjalan dengan lancar teratur, efektif
dan efisien.46
Lebih luasnya sarana adalah fasilitas yang dapat diartikan
sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan dan mempelancar
dalam pelaksanaannya proses belajar mengajar. Dalam hal ini
tersedianya sarana dan prasarana yang dapat menunjang kemandirian
belajar adalah:
1) Sumber Belajar
Sumber belajar antara lain adalah alat peraga, kamus,
ensiklopedia dan buku penlajaran yang dapat digunakan untuk
menunjang keberhasilan belajar. Dalam hal ini sumber belajar yang
paling penting adalah buku pelajaran karena merupakan sarana
yang lanbgsung digunakan oleh siswa yang dapat menyumbang
hasil poendidkan yang mutu dalam konteks lokal, nasional dan
global. Buku yang dipilih sekurang-kurangnya adalah:
a) Isi bukunya mencakup materi yang harus diketahui, dilahirkan
dan di mahirkan oleh siswa pada setiap tingkat.
b) Menciptakan pembelajaran yang melibatkan segala potensi
yang ada dalam masyarakat untuk mendukung terciptanya
guruan yang bermutu.
c) Mengakomodasikan berbagi perbedaan siswa.
d) Memperhatikan masalah kekinian dan kemasadepanan.
46
Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: PT. Rineka Cipta 2009), 292
53
2) Ruang Kelas
Dalam hal ini tidak mungkin guru dapat mengembangkan
kemandirian belajar siswa, jika jumlah siswa yang banyak dan
tidak sebanding dengan jumlah ruang kelas. Ideal kelas adalah ratio
guru dengan siswa 1:32, artinya satu guru melayani 32 siswa.
3) Perpustakaan
Perpustakaan merupakan saran yang dapat mendorong
siswa untuk menyalurkan perhatian dan keinginannya.
4) Peralatan Dan Laboratorium
Untuk membentuk kemandirian belajar, kelengkapan
peralatan dan laboratorium menjadi suatu keharusan, karena hal ini
akan menciptakan dinamika kegiatan belajar mengajar sehingga
siswa menjadi lebih akatif. Mengenai tersedianya sarana dan
prasarana, Undang-undang RI No. 20 tahun 2005 juga
menetapkan:standar saran dan prasaran guruan mencakup ruang
belajar, tempat berolah raga, tempat beribadah, perpustakaan,
laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi
dan sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses
pembelajaran, termasuk pengunaan teknologi informasi dan
komunikasi.
5) Suasana Belajar Yang Demokratis dan Kontruktif.
Suasana belajar yang demokratis akan memberi peluang
mencapai hasil belajar yang optimal di bandingkan dengan suasana
54
belajar yang kaku, disiplinya yang ketat dengan otoritas guru.
Dalam suasan belajar yang demokratis ada kebebasan siswa
belajar, mengajukan pendapat, mengadakan dialog dengan teman-
teman kelas.
Selain suasana demokratis yang dapat mendukung
terbentuknya kemandirian belajar siswa adalah suasana belajar yng
kostruktif, maksudnya adalah pembeljaran yang menekankan
proses pembentukan pengetahuan siswa. Dalam hal ini siswa
bukan di tuntut untuk mengumpulkan banyak fakta melainkan
dapat menemukan sesuatu pengetahuan. Dalam pengembangan
pembelajaran seperti sikap yang perlu dimiliki seorang guru
adalah:
a) Siswa tidak dianggap seperti tabularasa, tetapi subyek yang
sudah tahu sesuatu.
b) Model kelas: siswa aktif dan guru menyertai.
c) Bila ditanya dan tidak bisa menjawab tidak perlu marah dan
tidak mencerca.
d) Menyediakan ruang Tanya diskusi
e) Guru dan siswa saling belajar.
f) Yang penting bukan bahan selesai tapai siswa dapat belajar
mandiri.
g) Memberikan ruang siswa untuk boleh bersalah.
55
h) Pengetahuaan yang luas dan mendalam.
i) Mengerti konteks bahan yang mau diajarkan
j) Hubungan guru dan siswa yang dialokal.
c. Adanya perhatian dan motivasi.
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan
[Link] ini ssesuai dengan pendapat Gage dan Berliener yang
dikutip oleh Dimyati dalam bukunya belajar dan pembelajaran bahwa
“tanpa adanya perhatian tak mungkin ada belajar”.47 Perhatian
terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran
sesuai dengan kebutuhannya.
Di samping perhatian, motivasi, mempunyai peran penting
dalam kegiatan belajar. “motivasi adalah serangkaian usaha untuk
menyedikan kondisi tertentu, sehinga seseorang itu mau dan dan ingin
melakukan sesuatu, dan bila jia tidak suka, maka bakat dan usaha
meniadakan atau mengelakan perasaan tidak suka itu”.48Motivasi
dikatakan sebagai salah satu faktor pendukung kemandirian belajar
karena dapat menumbuhkan gairah, kemauan, rasa senang dan
semangat untuk belajar. Motivasi juga sangat penting karena seseorang
yang mempunyai intelegensi tinggi akan gagal tanpa adanya motivasi.
Dalam hal ini, bentuk-bentuk motivasi yang dapat diberikan
sekolah untuk kemandirian belajar adalah:
47
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 97
48
Sadirman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), 72
56
1) Memberi angka.
Maksudnya adalah sebagai simbol dan kegiatan
[Link] yang baik mempunyai potensi yang besar untuk
memberikan motivasi anak didik agar lebih giat belajar.
2) Hadiah.
Hadiah bisa dijadikan alat motivasi bisa diberikan pada
anak didik yang berprestasi dalam bentuk beasiswa, buku dan alat
tulis lain. Dengan cara ini anak didik akan bermotivasi belajar guna
mrmpertahankan prestasinya
3) Saingan atau kompetensi
Kompetensi ini bisa dijadikan sebagai alat motivasi untuk
mendorong anak bergairah belajar dan dimanfaatkan untuk menjadi
proses interaksi belajar mengajar yang kondusif.
4) Ego-involvaiment.
Menumbuhkan kesadaran pada siswa agar merasakan
pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga
bekerja keras untuk memperoleh apa yang diinginkan.
5) Memberi ulangan.
Ulangan merupakan strategi yang cukup baik memotivasi
siswa karena anak didik akan mempersiapkan diri baik-baik,
melakukan sebagai usaha dan tehnik untuk menguasai semua
bahan pelajaran.
57
6) Mengetahui hasil
Dengan megetahui hasil anak didik akan lebih giat apalagi
bila hasil belajar itu mengalami kemajuan. Bila grafik hasil belajar
semakin meningkat, maka motivasi belajar siswa akan menigkat
pula.
7) Pujian
Pujian yang tepat akan memupuk suasana yang
menyenagkan dan mempertiggi gairah serta sekaligus akan
membangkitkan harga diri.
8) Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negative tetapi kalau
diberikan secara tepat dan bijak akan menjadi alat notivasi.
9) Minat
Merupakan kecenderungan yang menetap untuk
memperhatikan aktivitas dan berpengaruh besar dalam proses
belajar karena dengan minat akan dapat menggairahkan belajar
anak.
10) Hasrat untuk belajar.
Unsur kesengajaan untuk belajar merupakan potensi yang
ada pada siswa sehingga sekolah harus berupaya
menumbuhkannya.
58
11) Tujuan yang di akui.
Dengan memahami tujuan yang harus dicapai, maka akan
menimbulkan kemauan dan semangat untuk terus belajar.49
Faktor-faktor yang menghambat guru dalam meningkatkan
kemandirian belajar
a. Adanya kelemahan dalam proses belajar mengajar.
Kelemahan dalam proses belajar mengajar dapat dikatakan
sebagai salah satu pihak kemandirian belajar siswa. Karena dalam
proses dalam belajar mengajar terjadi perpautan antara interaksi secara
langsung anatara dua belah pihak terdidik dalam hal ini kelemahan
dalam proses belajar mengajar anatara lain adalah:
1) Segenap aktivitas belajar siswa (membaca, menulis, mengerjakan,
berfikir, berpraktek, evaluasi dan lain-lain) tidak sepenuhnya
tertuju pada tujuan siswa sendiri. Kebanyakan aktifitas belajar
siswa telah tertup pada tujuan guru.
2) Dalam proses belajar mengajar, ternyata faktor faktor kebutuhan
minat, tujuan, sikap, kempuan, dan bakat dari masing- masing
siswa belum mendapat pelayanan sebagaiman mestinya.
3) kegitan belajar siswa lebih bersifat statisdan pasif, mereka lebih
banyak menerima apa yang dikehendaki dan di berikan oleh guru-
guru.
49
Ibid., 93
59
Selain pendapat tersebut kelemahan proses belajar mengajar
adalah pembelajaran hanya menekankan aspek hafalan, ingatan,
kemudian guru hanya mengunakan metode ceramah melulu, bentuk
soal yang dibuat hanya pilihan ganda, serta suasana kelas yang pasif,
yang mana siswa sekolah cuma untuk datang, duduk diam, dan
mendengar.
b. Adanya kelemahan dalam segi pengembangan kurikulum.
Kelemahan dalam pengembangan kurikulum adalah dengan
adanya pendapat Paul Suparno yang mengatakan: “kritik terhadap
kurikulum guruan di Negara kita baik kurikulum tahun 1977, 1984,
dan 1994 adalah bahwa mata pelajaran dan materi kurikulum yang
dirasa terlalu padat”.50 Dengan adanya kelemahan itu, maka beban
pelajaran siswa terlalu berat dan semakin berat pula beban orang tua
untuk membeli buku-buku pelajaran. Selain itu kurikulum yang begitu
syarat materi juga akan mendorong guru untuk membahas seluruh
pokok bahasan dengan tatap muka di kelas.
Beban pelajaran yang ada di kelas yang begitu berat maka
akan bisa mengakibatkan semakin terkekangnya siswa sehingga
mereka akan bosan untuk belajar dan hal inilah salah satu hal yang
bisa menghambat kemandirian belajar.
c. Adanya kesulitan belajar pada siswa
50
Paul Suparno, Reformasi Pendidikan, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 27
60
Kemandirian belajar sebenarnya dapat diraih oleh setiap anak
didik jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai
macam ancaman, hambatan dan [Link] sayangnya di dunia
ini tidak ada yang sempurna sehingga hambatan dan gangguan dalam
belajar di alami oleh anak tertentu, sehingga mereka mengalami
kesilitan dalam belajar.
Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab kesulitan dalam
belajar adalah:
1) Faktor anak didik
a) Intelegensi yang kurang baik
b) Bakat yang kurang atau tidak sesuai dengan bahan pelajaran.
c) Aktifitas belajar yang kurang.
d) Kebiasaan belajar yang kurang baik.
e) Penyesuaian sosial yang kurang baik
f) Latar belakang pengalaman yang pahit.
g) Ketahan belajar tidak sesuai dengan tuntutan waktu belajar.
h) Keadaan fisik yang kurang menunjang.
i) Kesehatan yang kurang baik.
j) Pengetahuan dan ketrampilan dasar yang kurang memadai.
k) Tidak ada motifasi dalam belajar.
2) Faktor sekolah
a) Pribadi guru yang kurang baik dan tidak berkualitas.
b) Hubungan guru dengan anak didik yang kurang harmonis
61
c) Guru yang menuntut standart pelajaran di atas kemampuan
siswa.
d) Alat atau media yang kurang memadai
e) Perpustakaan yang kurang memadai dan kuarang merangsang
pengunaannya oleh anak didik.
f) Fasilitas fisik sekolah yang tidak memenuhi standart
kesehatan.
g) Bimbingan dan penyuluhan tidak berfungsi.
h) Waktu sekolah dan disiplin yang kurang.
3) Faktor keluarga
a) Kurangnya alat- alat belajar anak dirumah.
b) Kurangnya biaya guruan.
c) Anak tidak mempunyai tempat dan ruang belajar yang khusus.
d) Kesehatan keluarga yang kurang baik.
e) Perhatian orang tua yang tidak memadai.
f) Kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan.
g) Anak yang terlalu membantu orang tua.
4) Faktor masyarakat sekitar.
a) Wilayah perkampungan kumuh.
b) Teman sepermainan yang nakal.
c) Media elektronik yang seharusnya menjadi media informasi
tidak melaksanakan fungsinya.
d) Komunitas masyarakat yang hitrogen. (Djamarah, 2002 :203).
62
G. Penelitian Terdahulu
1. I Gede Budi Astrawan. Jurnal. 2012. Penerapan Model Kooperatif Tipe
NHT dalam Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran IPA di Kelas
V SDN 3 Tanggobibi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Tadulako. Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol 3 No. 4. Rumusan
masalahnya adalah apakah dengan menggunakan penerapan model
kooperatif Tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa di Kelas V
SDN 3 Tanggobibi. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Data
yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi lembar aktivitas observasi
guru dan lembar aktivitas observasi siswa. Hasil penelitiannya adalah
penerapan model kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar
siswa di kelas V SDN 3 Tonggolobibi.
2. Rika Pristianti Setianingrum dan Tititn Sunarti. Jurnal. 2013. Penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan media Physicround pada
materi cahaya. Jurusan fisika fakultas matematika dan ilmu pengetahuan
alam. Jurnal inovasi pendidikan fisika Vol. 02 no. 02 Tahun 2013. Jenis
penelitian yang dilakukan yaitu eksperimen. Hasil penelitiannya adalah
prestasi belajar kelas eksperimen (yang menerapkan model pembelajaran
kooperatif NHT dengan menggunakan media Physicround) lebih baik dari
pada prestasi belajar siswa pada kelas control (yang menggunakan model
pembelajaran kooperatif NHT tanpa menggunakan media Physicround)
pada sub materi pokok cahaya kelas VIII di SMPN 4 Ponorogo.
63
3. Gusti Ayu Mas Eka Jayanti. [Link]. Jurnal. 2014. Penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap hasil belajar IPA siswa kelas
V sekolah dasar gugus LT. Wisnu Depasar Utara. Jurusan Pendidikan
Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Indonesia.
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD Vol
2 No. 1 Tahun 2014. Jenis penelitian yang digunakan penelitian
eksperimen semu dengan rancangan non equivalent control group design.
Populasinya adalah siswa kelas V sekolah dasar gugus LT. Wisnu Depasar
Utara. Hasil penelitiannya menunjukkan terdapat pengaruh penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap hasil belajar IPA siswa
kelas V sekolah dasar gugus LT. Wisnu Depasar Utara dapat dilihat pada
nilai rata-rata eksperimen yang lebih tinggi dari nilai rata-rata kelompok
control. Sementara uji hipotesiis dilakukan dengan membandingkan nilai
uji t hitun 2,12 > t table 2.00 ini berarti terdapat pengaruh penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap hasil belajar IPA siswa
kelas V sekolah dasar gugus LT. Wisnu Depasar Utara.
4. Nur Wahyuni. “Pembelajaran Matematika dengan Model Kooperatif Tipe
Numbered Head Together (NHT) untuk Meningkatkan Kemandirian
Belajar Siswa Kelas X SMA N 1 Imogiri” pada tahun 2007, hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemandirian
belajar. Peningkatan kemandirian belajar tersebut terbukti dari hasil
analisis angket, dan observasi, dimana setiap aspek kemandirian dari hasil
analisis angket pada siklus I sebesar 70,38% meningkat menjadi 71,84%
64
pada siklus II dan hasil observasi pada siklus 1 sebesar 67,50% meningkat
menjadi 89,44% pada siklus II. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa
model pembelajaran Cooperative tipe NHT menjadikan siswa lebih efektif
dalam belajar, terbukti dari hasil tes siswa dimana pada tes awal rata-rata
nilai tesnya adalah 37,03 sedangkan pada tes siklus I rata-rata nilai tesnya
menjadi 58,58 dan pada tes siklus II rata-rata nilai tesnya menjadi 75,97.
5. Dewi Kurniawati. Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa
Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Model Cooperative Learning
Tipe Kepala Bernomor Terstruktur Pada Siswa SMP N 2 Sewon Bantul,
Hasil penelitiannya adalah pelaksanaan pembelajaran matematika dengan
model pembelajaran tipe Kepala Bernomor Terstruktur di kelas VIII D
SMP N 2 Sewon dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa, hal ini
ditunjukkan dari: (a) pada lembar observasi kemandirian, rata-rata
kemandirian belajar siswa mengalami peningkatan dari 63,57% di siklus I
menjadi 81,34% di siklus II; (b) pada lembar angket, rata-rata kemandirian
belajar siswa mengalami peningkatan dari 66,82% di siklus I menjadi
73,11% di siklus II; (c) hasil wawancara dengan guru dan siswa
menunjukkan bahwa dengan model pembelajaran Kepala Bernomor
Terstruktur, siswa merasa senang belajar menggunakan model
pembelajaran Kepala Bernomor Terstruktur karena dengan berdiskusi
siswa merasa lebih mudah menyelesaikan tugas, terlatih dalam
menyampaikan gagasan matematis, terjalin ketergantungan positif, dan
siswa memiliki tanggung jawab perseorangan.
65
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu di atas dapat
dilihat pada tabel 2.1 sebagai berikut:
Tabel 2.1 perbandingan penelitian terdahulu
No Nama, judul Persamaan Perbedaan
1. I Gede Budi Astrawan. Persamaannya sama- Perbedaanya pada jenis
Jurnal. 2012. Penerapan sama meneliti Model penelitin yang
Model Kooperatif Tipe Kooperatif Tipe NHT digunakan peneliti
NHT dalam terdahulu dengan jenis
Meningkatkan Hasil penelitian tindakan
Belajar pada Mata kelas. Data yang
Pelajaran IPA di Kelas diperoleh dalam
V SDN 3 Tanggobibi. penelitian ini meliputi
Fakultas Keguruan dan lembar aktivitas
Ilmu Pendidikan observasi guru dan
Universitas Tadulako. lembar aktivitas
Jurnal Kreatif Tadulako observasi siswa.
Online Vol 3 No. 4. Penelitian terdahulu
membahas hasil belajar
siswa
2. Rika Pristianti Persamaannya sama- Perbedaannya pada
Setianingrum dan Tititn sama meneliti Model Jenis penelitian yang
Sunarti. Jurnal. 2013. Kooperatif Tipe NHT digunakan peneliti
Penerapan model terdahulu yaitu
pembelajaran eksperimen. Sedangkan
kooperatif tipe NHT penelitian ini
dengan media menggunakan jenis
Physicround pada penelitian kualitatif.
materi cahaya. Jurusan
fisika fakultas
matematika dan ilmu
pengetahuan alam.
Jurnal inovasi
pendidikan fisika Vol.
02 no. 02 Tahun 2013
3. Gusti Ayu Mas Eka Persamaannya sama- Perbedaannya pada
Jayanti. [Link]. Jurnal. sama meneliti Model jenis penelitian yang
2014. Penerapan model Kooperatif Tipe NHT digunakan penelitian
pembelajaran eksperimen semu
kooperatif tipe NHT dengan rancangan non
terhadap hasil belajar equivalent control
66
IPA siswa kelas V group design.
sekolah dasar gugus Sedang penelitian ini
LT. Wisnu Depasar menggunakan
Utara. Jurusan penelitian kualitatif.
Pendidikan Guru Penelitian terdahulu
Sekolah Dasar membahas hasil belajar
Universitas Pendidikan siswa
Ganesha Singaraja
Indonesia. Jurnal
Mimbar PGSD
Universitas Pendidikan
Ganesha Jurusan PGSD
Vol 2 No. 1 Tahun
2014
4. Nur Wahyuni. Persamaannya sama- Perbedaanya pada jenis
“Pembelajaran sama meneliti Model penelitin yang
Matematika dengan Kooperatif Tipe NHT digunakan peneliti
Model Kooperatif Tipe terdahulu dengan jenis
Numbered Head penelitian tindakan
Together (NHT) untuk kelas. Data yang
Meningkatkan diperoleh dalam
Kemandirian Belajar penelitian ini meliputi
Siswa Kelas X SMA N lembar aktivitas
1 Imogiri” pada tahun observasi guru dan
2007 lembar aktivitas
observasi siswa.
Penelitian terdahulu
membahas hasil belajar
siswa
5. Dewi Kurniawati. Persamaannya sama- Perbedaanya pada jenis
Upaya Meningkatkan sama meneliti Model penelitin yang
Kemandirian Belajar Kooperatif Tipe NHT digunakan peneliti
Siswa Dalam dan kemandirian belajar terdahulu dengan jenis
Pembelajaran penelitian tindakan
Matematika Melalui kelas. Data yang
Model Cooperative diperoleh dalam
Learning Tipe Kepala penelitian ini meliputi
Bernomor Terstruktur lembar aktivitas
Pada Siswa SMP N 2 observasi guru dan
Sewon Bantul lembar aktivitas
observasi siswa.
67
H. Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian adalah pandangan atau model pola pikir yang
menunjukkan permasalahan yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan
jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian.51
Paradigma penelitian dalam tesis ini dapat digambarkan sebagai berikut:
perencanaan
Implementasi
Kemandirian
Model Pelaksanaan Belajar Siswa
Pembelajaran
Numbered Heads
Together
Faktor pendukung
dan penghambat
Gambar 2.1 Paradigma Penelitian
Penelitian ini intinya akan mendeskripsikan Implementasi Model
Pembelajaran Numbered Heads Together untuk meningkatkan Kemandirian
Belajar Siswa dengan melalui perencanaan dan pelaksanaan model
pembelajaran Numbered Heads Together untuk meningkatkan Kemandirian
Belajar Siswa serta faktor pendukung dan faktor penghambatnya. Hal tersebut
mesti dilakukan dengan implementasi model pembelajaran kooperatif tipe
51
Sugiono, Metode Penelitian Adminitrasi Dilengkapi dengan Metode R & D, (Bandung: Alfabeta,
2006), hlm. 43.
68
numbered heads together (NHT) yang tepat, dapat menjadi solusi tepat
sehingga dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa dan untuk
memudahkan guru dalam menyampaikan materi sehingga mudah dipahami
oleh siswa.