Laporan Project EMG Leg 2022
Laporan Project EMG Leg 2022
OLEH:
Dosen :
Farid Amrin Sani, ST
LABORATORIUM ELEKTRONIKA
JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
2022
LAPORAN RESMI PROJECT AKHIR
ELEKTRONIKA TERAPAN “EMG LEG”
KELAS 3C2
Oleh:
Dosen :
Farid Amrin Sani, ST
LABORATORIUM ELEKTRONIKA
JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
2022
EMG LEG
SURAT PERNYATAAN
Semester : V (Lima)
Dengan ini menyatakan bahwa pengambilan data pada laporan Project kami adalah
benar-benar hasil pengukuran yang sesungguhnya tanpa ada rekayasa sama sekali.
Yang Menyatakan,
Ketua Kelompok Anggota 1 Anggota 2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Project Elektronika Terapan dengan judul “EMG
LEG” dengan baik dan tepat waktu.
Dalam pengerjaan project dan penyusunan laporan ini penulis telah mendapatkan banyak
dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
semua jenis saran, kritik dan masukan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan memberikan wawasan
tambahan bagi para pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul.....................................................................................................................I
Surat Pernyataan....................................................................................................................II
Kata Pengantar.......................................................................................................................III
Daftar Isi................................................................................................................................IV
Daftar Gambar......................................................................................................................VI
Daftar Tabel..........................................................................................................................VII
Abstrak.................................................................................................................................VIII
Abstract.................................................................................................................................IX
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................................1
1.2 Tujuan.......................................................................................................................2
1.2 Manfaat.....................................................................................................................2
BAB II DASAR TEORI.......................................................................................................3
2.1 Pengertian Electromyography (EMG)......................................................................3
2.2 Elektrode...................................................................................................................4
2.3 Otot...........................................................................................................................5
2.4 Rangkaian Pada EMG...............................................................................................6
2.4.1 Rangkaian Basic Instrument...........................................................................6
2.4.2 Rangkaian High Pass Filter (HPF).................................................................6
2.4.3 Rangkaian Low Pass Filter (LPF)..................................................................7
2.4.4 Rangkaian Non-Inverting................................................................................8
2.4.5 Rangkaian Adder.............................................................................................8
2.5 Arduino Uno.............................................................................................................9
2.6 Phyton.......................................................................................................................9
BAB III PEMBAHASAN..................................................................................................10
3.1 Desain Project.........................................................................................................10
3.2 Blok Diagram..........................................................................................................11
3.3 Flowchart................................................................................................................12
3.4 Penjelasan Rangkaian Dan Perhitungan.................................................................13
3.4.1 Rangkaian Power Supply..............................................................................13
3.4.2 Basic Instrument............................................................................................13
3.4.3 Filter HPF dan LPF.......................................................................................14
3.4.4 Non-Inverting Amplifier................................................................................15
3.4.5 Adder.............................................................................................................15
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
ABSTRAK
Electromyography atau EMG adalah teknik yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi
saraf dan otot dengan cara merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot. Ini merupakan tes
penting yang digunakan untuk mendiagnosis kelainan otot dan saraf. Untuk mendeteksi adanya
aktivitas listrik dalam otot dilakukan analisis terhadap rangkaian penguat sinyal. Sinyal EMG
mempunyai range frekuensi pada energi dominan antara 20 Hz – 500 Hz, dengan range
amplitudo antara 0 mV – 10 mV. Untuk mendeteksi sinyal EMG diperlukan elektroda yang di
lekatkan pada otot kaki yang mempunyai denyut nadi paling kuat, otot dan diambil menggunakan
rangkaian instrumentasi dasar. Kemudian rangkaian tersebut disaring menggunakan filter LPF
dan HPF yang memiliki frekuensi antara 20-500 Hz dan notch filter untuk mengurangi terjadinya
gangguan pada sinyal tersebut. Selain itu sinyal kembali dikuatkan dengan rangkaian non
inverting dan adder untuk menaikkan level tegangan sinyal EMG sebelum dikonversi menjadi
sinyal digital sebelum masuk ke pin analog (ADC) mikrokontroler arduino. Untuk menampilkan
hasil perekaman data sinyal EMG dapat dibuat interface menggunakan Pyhton.
ABSTRACT
Electromyography atau EMG adalah teknik yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi
saraf dan otot dengan cara merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot. Ini merupakan
tes penting yang digunakan untuk mendiagnosis kelainan otot dan saraf. Untuk mendeteksi
adanya aktivitas listrik dalam otot dilakukan analisis terhadap rangkaian penguat sinyal. Sinyal
EMG memiliki range frekuensi pada energi yang dominan antara 20 Hz – 500 Hz, dengan range
amplitudo antara 0 mV – 10 mV. Untuk mendeteksi sinyal EMG diperlukan elektroda yang di
lekatkan pada otot kaki yang mempunyai denyut nadi paling kuat, otot dan diambil
menggunakan rangkaian instrumentasi dasar. Kemudian rangkaian tersebut disaring
menggunakan filter LPF dan HPF yang memiliki frekuensi antara 20-500 Hz dan filter notch
untuk mengurangi terjadinya gangguan pada sinyal tersebut. Selain itu sinyal kembali dikuatkan
dengan rangkaian non inverting dan adder untuk menaikkan level tegangan sinyal EMG sebelum
jeda menjadi sinyal digital sebelum masuk ke pin analog (ADC) mikrokontroler arduino. Untuk
menampilkan hasil perekaman data sinyal EMG dapat dibuat interface menggunakan Pyhton.
BAB I
PENDAHULUAN
1
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
Electromyography (EMG). Pada tubuh manusia, pengetahuan mengenai gaya pada otot dan
sendi merupakan nilai besar dalam dunia kedokteran dan terapi fisik, dan juga merupakan
studi yang sangat berguna dalam aktifitas ateletik. Sinyal EMG dapat dianalisis untuk
mendeteksi kelainan medis, tingkat aktivasi, perintah rekrutmen atau untuk menganalisis
biomekanik kondisi manusia. Begitu banyak manfaat yang dapat diaplikasikan dalam
berbagai bidang. Dengan adanya project Elektronika Terapan ini, mahasiswa/i diharapkan
mampu memahami materi mengenai elektronika dalam bidang medis terutama
Electromyography (EMG).
1.2 Tujuan
1.2.1 Mahasiswa dapat mengaplikasikan berbagai komponen dalam suatu rangkaian
Electromyography (EMG) LEG.
1.2.2 Mahasiswa dapat mendesain rangkaian Electromyography (EMG) LEG.
1.2.3 Mahasiswa dapat melakukan trouble shooting pada rangkaian Electromyography
(EMG) LEG.
1.3 Manfaat
1.3.1 Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kerja Electromyography (EMG) LEG.
1.3.2 Mahasiswa dapat membuat rangkaian Electromyography (EMG) LEG dengan baik.
1.3.3 Mahasiswa dapat melakukan trouble shooting dan mengetahui sinyal dari
Electromyography (EMG) LEG.
1.3.4 Mahasiswa mengetahui fungsi masing-masing komponen.
2
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
BAB II
DASAR TEORI
Penelitian tentang EMG memanfaatkan sinyal elektrik yang ada dalam tubuh manusia
agar dapat digunakan sebagai input kendali suatu sistem yang dalam hal ini mengambil
sinyal- sinyal EMG hasil dari aktivitas otot yang mengandung informasi tentang keadaan
otot tersebut (Котов & Котова, 2016).
3
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
Amplitudo, waktu dan frekuensi sinyal EMG adalah dipengaruhi oleh anatomi dan
fisiologis karakteristik otot, mekanisme kontrol dari sistem saraf, dan instrumentasi yang
terlibat. Lebih tepatnya, beberapa faktor menentukan properti dari sinyal EMG seperti
waktu dan intensitas kontraksi otot, jarak dari elektroda ke otot sasaran, jumlah jaringan
adiposa antara kulit dan otot, sifat-sifat elektroda dan amplifier, dan kontak antara kulit dan
elektroda.
2.2 Elektrode
Elektrode adalah penghantar listrik yang terhubung dengan larutan elektrolit dari
sebuah rangkaian listrik. Sensor elektroda pada kulit merupakan sensor yang dapat
digunakan untuk membantu mendeteksi sinyal biolistrik yang dikeluarkan tubuh manusia
melalui kulit. Sensor tersebut dibuat dari bahan Ag/AgCl. Elektroda Ag/AgCl adalah
elektroda pembanding dengan parameter pengukuran dapat berupa arus listrik, beda
potensial listrik, muatan listrik, impedansi maupun kapasitan. Elektroda pada umumnya
ada dua jenis, yaitu elektroda permukaan (surface electrode) dan elektroda jarum atau
kabel (wire or needle electrode). Untuk mendapatkan kontak listrik dalam penggunaannya
pada sensor ini terdapat pasta elektrolit yang terletak diantara elektroda dengan kulit.
Dalam elektroda ini terdapat jely yang menepel langsung pada kulit. Jely ini yang akan
mendeteksi listrik dalam tubuh manusia yang kemudian ion yang ditangkap oleh elektroda
ini masuk dan diproses di dalam penguat.
4
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
2.3 Otot
Otot memainkan peran penting dalam pergerakan anggota badan. Mereka melakukan
kontraksi untuk meluruskan atau menekuk sendi agar dapat bergerak. Fungsi otot berperan
penting dalam setiap aktivitas manusia, misalnya dalam bekerja, berolah raga, belajar,
bahkan tidur tidak terlepas dari kerja otot. Semakin besar otot mengelurkan tenaga maka
frekuensinya akan semakin besar. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas
otot. Aktivitas otot dapat diukur ketika otot rangka mengalami kontraksi. Ada tiga jenis
kontraksi otot yaitu konsentrik, eksentrik dan isometrik.
Otot merupakan alat gerak aktif, karena memiliki kemampuan untuk berkontraksi.
Keadaan otot akan memendek jika melakukan kontraksi dan keadaannya akan memanjang
ketika relaksasi. Kontraksi dari otot tersebut dapat menyebabkan tulang yang ada di
dekatnya bergerak. Otot memiliki range tegangan sebesar 0,4mV sampai 5mV pada
frekuensi 20Hz sampai dengan 500Hz. Otot sendiri memiliki 3 karakteristik, yaitu:
1. Kontraksibilitas : Kemampuan otot untuk memendek, lebih pendek daripada ukuran
semula. Hal ini terjadi ketika otot sedang melakukan kegiatan.
2. Ektensibilitas : Kemampuan otot untuk memendek, lebih pendek daripada ukuran
semula. Hal ini terjadi ketika otot sedang melakukan kegiatan.
3. Elastisitas : Kemampuan otot untuk kembali ke ukuran semula.
Pada penelitian kali ini kami menggunakan otot Gastrocnemius medalis dan soleus.
Otot gastrocnemius memiliki dua bagian yaitu bagian medial yang melekat di planum
popliteum, superior condyles medialis femoris dan bagian lateral yang melekat di
superior sisi lateral condyles lateralis femoris.
Otot soleus terletak di bagian dalam dari otot gastrocnemius, otot soleus berorigo pada
sisi posterior capitulum fibulae, facies posterior corpus fibulae, linea solei serta
margo medialis corpus tibiae, dan insersio. Otot soleus menyatu dengan aponeurosis
otot gastrocnemius untuk membentuk satu tendon besar yaitu tendon calcanei
(Djauhari, 2013).
5
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
6
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
Pada filter high pass akan memberikan respon melemahkan sinyal input apabila
frekuensi sinyal input yang diberikan ke rangkaian filter aktif high pass lebih rendah
dari frekuensi cut-off rangkaian serta juga akan memberikan penguatan tegangan
sebesar Av pada saat frekeunsi sinyal tersebut lebih tinggi dari frekuensi cut-off
kemudian akan terjadi pelemahan 0,707 dari Av pada saat frekuensi sinyal input sama
dengan frekuensi cut-off rangkaian filter aktif high pass tersebut.
Pada tanggapan frekuensi Low Pass Filter, sinyal yang berada di atas
frekuensi cut-off tidak akan dilewatkan. Sementara pada tanggapan frekuensi Low
Pass Filter, sinyal di atas frekuensi cut-off akan dilemahkan, sehingga membentuk
suatu daerah yang disebut dengan transition band (pita transisi), yang nilai
kemiringannya dinyatakan dalam dB/oktav atau dB/dekade. Nilai kemiringan dari
pita transisi dipengaruhi oleh orde filter, dimana semakin besar orde filter maka
akan membuat nilai kemiringan dari pita transisi semakin besar dan bentuknya akan
semakin curam (mendekati bentuk tanggapan frekuensi ideal).
7
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
8
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
2.6 Phyton
Python adalah bahasa pemrograman berorientasi objek (berbasis data) tingkat tinggi
(lebih mudah dipahami manusia). Python dibuat dengan cara yang relatif intuitif untuk
ditulis dan dipahami. Dengan demikian, Python merupakan bahasa coding atau bahasa
pemrograman yang dirancang untuk digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk ilmu
data, pengembangan software dan website serta dapat memprogram semua jenis aplikasi
menggunakan Python. Bahasa pemrograman umum dapat digunakan untuk membaca dan
membuat direktori file, membuat GUI dan API. PyQt5 adalah modul Python untuk
pengembangan aplikasi desktop GUI. PyQt5 menggunakan lebih dari 1000 kelas,
sebenarnya PyQt5 adalah modul yang sangat besar. Selain itu PyQt5 menyertakan Qt
Designaer, yaitu desainer antarmuka pengguna grafis yang selanjutnya memfasilitasi
pembuatan GUI.
9
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
10
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
BAB III
PEMBAHASAN
Keterangan gambar :
1. Rangkaian Basic Intrument
2. Rangkaian Filter HPF dan LPF
3. Rangkaian Non-Inverting Amplifier
4. Rangkaian Adder
5. Arduino UNO
Dari gambar 3.1 project EMG LEG kami menggunakan battery sebagai sumber
untuk rangkaian pada EMG LEG. Tegangan yang dibutuhkan pada setiap rangkaian yang
kami gunakan adalah +12V dan -12V. Pada rangkaian basic instrument, menggunakan IC
TL084 dimana IC ini berisi 4 op-amp dan untuk rangkaian lainnya menggunakan IC
LM741. Susunan peletakan rangkaian sesuai dengan urutan proses pengambilan sinyal.
Dimana battery akan menjalankan rangkaian keseluruhan mulai dari basic instrument,
lalu sinyal difilter oleh HPF LPF. Kemudian akan dikuatkan lagi oleh rangkaian non-
inverting amplifier dan dilanjutkan ke rangkaian adder untuk menaikkan referensi agar
sinyal dapat terbaca oleh Arduino.
11
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
Pada blok diagram Rangkaain EMG LEG diatas rangkaian mendapatkan sumber
tegangan dari battery. Pada rangkaian basic instrument memiliki 3 input yang
disambungan dengan elektroda untuk menyadap sinyal pada otot tubuh. Lalu, setelah
sinyal otot dikuatkan, maka akan difilter menggunakan rangkaian HPF dan LPF. Karena
sinyal otot yang disadap oleh EMG memiliki range antara 20 Hz- 500 Hz, maka pada
rangkaian HPF menggunakan frekuensi cut off sebesar 20 Hz dan untuk rangkaian LPF
menggunakan frekuensi cut off sebesar 500 Hz. Setelah itu, output akan dikuatkan lagi
oleh rangkaian non-inverting amplifier. Lalu dilanjutkan ke rangkaian adder untuk
menaikkan referensi agar sinyal dapat terbaca oleh Arduino. Dan yang terakhir, output
dari rangkaian adder dihubungkan dengan mikrokontroller Arduino uno pada pin analog.
12
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
3.3 Flowchart
Pada Flowchart projek EMG LEG ini seperti pada gambar 3.2 menjelaskan
bagaimana data mentah diproses Electromyography untuk mendapatkan nilai RMS.
Dimana sinyal EMG dari tubuh masuk kerangkaian EMG lalu diubah menjadi data digital
menggunakan ADC, kemudian data dikirim ke komputer menggunkaan komuikasi serial.
Data yang dikirim ke komputer selanjutnya diproses dengan pemograman Python PyQt5.
Dimana ketika EMG sinyal > nilai ambang batas maka buzzer akan aktif untuk
menandakan bahwa adanya kontraksi.
13
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
Dalam projek Electromyography (EMG) dengan sadapan pada otot kaki ini,
power supply yang digunakan yaitu berupa baterai sebesar 3,7 V. Penggunaan
baterai membuat alat yang dibuat menjadi lebih ringkas dan mudah digunakan
dibandingkan dengan menggunakan rangkaian power supply buatan. Namun
karena baterai hanya memiliki tegangan positif, maka dibutuhkan modul step
down untuk menambahkan tegangan negatif agar bisa digunakan sebagai power
supply pada alat yang dibuat.
14
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
mengeluarkan output yang besar setelah dikuatkan oleh rangkaian instrumentasi
dasar.
56 k
=1+2
1k
= 1 + 112
= 113x
Rangkaian filter HPF dan LPF ini digunakan untuk menyaring atau
memfilter frekuensi sinyal otot tubuh yaitu antara 20 Hz- 500 Hz. Rangkaian HPF
dibuat dengan frekuensi cut off sebesar 20 Hz. Yang berarti sinyal yang berada
dibawah frekuensi cut off HPF, maka akan ditekan dan sinyal yang berada diatras
frekuensi cut off HPF akan diloloskan. Sedangkan rangkaian LPF dibuat dengan
frekuensi cut off sebesar 500 hz. Yang berarti sinyal yang diloloskan adalah sinyal
yang berada dibawah frekuensi cut off LPF dan untuk sinyal yang berada diatas
frekuensi cut off LPF akan ditekan.
Perhitungan frekuensi cut off HPF :
Fc =
= 19,96 Hz
Perhitungan frekuensi cut off LPF :
Fc =
15
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
=
= 498,23 Hz
1k
=1+
1k
=1+1
= 2x
3.4.5 Adder
16
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
Zener berguna untuk membatasi tegangan agar tidak melebih 2,[Link] LEG
Kapasitor
berguna untuk menyaring sinyal dari EMG secara pasif dan multiturn dipasang
untuk menaikan referensi sesuai dengan pembacaan ADC pada pin analog
arduino.
17
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
Reads an analog input on pin 0, converts it to voltage, and prints the result to the Serial
Monitor.
Graphical representation is available using Serial Plotter (Tools > Serial Plotter menu).
Attach the center pin of a potentiometer to pin A0, and the outside pins to +5V and
ground.
[Link]
*/
18
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
menampung dan mengatur nilai tegangan referensi dari sinyal yang muncul pada
grafik dalam kondisi 0 (nol).
19
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
TODO:
- Add labels
Useful links:
- [Link]
- [Link]
- [Link]
single-plot-in-pyqtgraph
- [Link]
- [Link]
- [Link]
- [Link]
"""
import sys
import re
import os
import logging
import time
import serial
import [Link].list_ports
from PyQt5 import QtWidgets, QtCore, QtGui
from [Link] import Qt, QRunnable, QThreadPool, QTimer, QTime
from [Link] import (QApplication, QHBoxLayout, QVBoxLayout,
QLabel, QWidget, QDesktopWidget, QMessageBox, QFileDialog)
import pyqtgraph as pg
from [Link] import CSVExporter
import platform
import numpy as np
import winsound
import time
import threading
VERSION = '1.18.8'
TIMESCALESIZE = 450 # = self.plot_timescale and self.plot_data_size
20
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
BAB IV
HASIL DAN ANALISA
Kontraksi 2,5 V
Relaksasi 470 mV
21
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
4.2 Analisa
Berdasarkan data yang sudah kami ambil, sinyal otot tubuh manusia memiliki rentang
frekuensi antara 20 Hz – 500 Hz. Dimana otot yang kami sadap adalah gastrocnemius
muscle sebagai referensi 1, soleus muscle sebagai referensi 2, dan tendon achilles sebagai
referensi ground.
Sinyal otot akan masuk pertama melalui rangkaian basic intrument yang memiliki 3
inputan. 2 inputan dari rangkaian ini berasal dari dua sinyal otot yang berbeda kondisi yaitu
pada saat kontraksi dan relaksasi. Sinyal yang masuk pada rangkaian instrumentasi dasar
dikuatkan sebesar 113x karena sinyal yang masuk sangat kecil sehingga perlu dikuatkan agar
sinyal bisa terbaca.
Proses selanjutnya adalah masuk ke rangkaian filter. Dimana rangkaian filter ini
bertujuan untuk menghilangkan noise pada sinyal otot tubuh manusia. Rangkaian filter ini
terdiri dari rangkaian High Pass Filter (HPF) dengan frekuensi cut off 19,96 Hz dan
rangkaian Low Pass Filter dengan frekuensi cut off 498,23 Hz. Output dari rangkaian
instrumentasi dasar akan masuk ke rangkaian HPF terlebih dahulu yang menyebabkan sinyal
dengan frekuensi yang berada dibawah frekuensi cut off akan ditekan sedangkan sinyal yang
berada diatas frekuensi cut off akan diloloskan. Lalu outputan dari HPF akan masuk ke
rangkaian LPF yang menyebabkan sinyal dengan frekuensi yang berada diatas frekuensi cut
off akan ditekan sedangkan sinyal yang berada dibawah frekuensi cut off akan diloloskan.
22
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
Dengan kata lain, rangkaian HPF dan LPF ini akan meloloskan sinyal yang berada
diantara 19,96 Hz – 498,23 Hz dimana frekuensi ini berada diantara sinyal yang dihasilkan
oleh otot tubuh.
Output dari rangkaian HPF dan LPF ini selanjutnya sinyal akan masuk ke rangkaian
non-inverting amplifier untuk dikuatkan lagi, agar hasil outputnya lebih besar. Lalu sinyal
akan dimasukkan pada rangkaian adder untuk dinaikkan referensinya agar sinyal dapat
terbaca pada data ADC Arduino, karena Arduino hanya dapat membaca nilai positif
sehingga kita perlu menaikkan referensinya.
23
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada project ini dapat disimpulkan bahwa electromyograph (EMG) adalah alat kesehatan
yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot dalam tubuh
dengan rentan frekuensi antara 20 – 500 Hz. Di dalam project EMG LEG ini menyadap
sinyal dari otot gastrocnemius dan soleus, dengan menggunakan rangkaian yang berbeda -
beda, seperti rangkaian instrumentasi dasar, rangkaian HPF dan LPF, rangakaian non-
inverting amplifier dan rangkaian adder sehingga menghasilkan sinyal output yang sesuai.
Dimana semakin besar otot mengeluarkan tenaga maka tegangan outputannya akan semakin
besar.
5.2 Saran
Dengan adanya project EMG LEG ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
pengembangan ilmu mengenai rangkaian elektronika yang mampu menyadap otot dalam
tubuhseperti otot pada kaki. Penempatan elektroda juga harus tepat pada otot yang di
tentukan. Serta, mengatur blok rangkaian terpenting sesuai dengan pasien yang akan diambil
datanya.
24
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
DAFTAR PUSTAKA
[1] Sinduningrum, Estu, dan Rosalina. (2019). Penerapan sensor EMG (Electromyography)
pada alat bantu jalan. ([Link]
Di akses pada : 17 Januari 2021
[2] Pratiwi, Indah dkk. (2017). ANALISA PENILAIAN RISIKO OTOT PADA POSTUR
KERJA BAGIAN KAKI MENGGUNAKAN SURFACE ELECTROMYOGRAPHY
([Link]
Di akses pada : 17 Januari 2021
[3] Yuliansyah, Dhityo. (2017). Deteksi Kelelahan Otot Menggunakan Sinyal Emg Dan
Detektor Gaya Pada Gerak Dasar Ekstensi Dan Fleksi Knee-Joint Untuk Evaluasi
Penggunaan Functional Electrical Stimulation Pada Sistem Rehabilitasi Lower LIMB.
([Link]
Di akses pada : 18 Januari 2021
[4] Multajam, Rizki, dkk. (2016). Desain Dan Analisis Electromyography (Emg) Serta
Aplikasinya Dalam Mendeteksi Sinyal Otot. ([Link]
Di akses pada : 18 Januari 2021
[5] Amrinsani, Farid, dkk. (2019). Identifikasi Sinyal Elektromiografi Otot Vastus Medialis
Dan Erector Spinae Dalam Transisi Gerakan Untuk Kontrol Robot Kaki.
([Link]
Di akses pada : 18 Januari 2021
[6] Gunawan, Jeffrey, dkk. (2018). Kontrol Kecepatan Motor Sepeda Listrik menggunakan
Force Sensor dan Elektromiografi (EMG). ([Link]
Di akses pada : 18 Januari 2021
[7] Yusof Baharuddin, Mohd, dkk. (2018). MUSCLES ACTIVATION DURING FORWARD
LUNGE. ([Link]
Di akses pada : 18 Januari 2021
[8] Simsek, Deniz. (2017). Journal of Electromyography and Kinesiology.
([Link]
Di akses pada : 19 Januari 2021
[9] Utari, Reni. (2020). Elektromiografi (EMG). ([Link]
medis/elektromiografi)
Di akses pada : 19 Januari 2021
[10] Kho, Dickson. (2020). Pengertian High Pass Filter (HPF) atau Tapis Lolos Atas.
([Link]
Di akses pada : 19 Januari 2021
[11] Trusto J.W, Patrick. (2021). Apa Itu Bahasa Pemrograman Python?.
([Link]
Di akses pada : 19 Januari 2021
[12] Abdul. (2019). Band Stop Filter (BSF) - Notch Filter - Reject Filter.
([Link]
Di akses pada : 19 Januari 2021
25
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)
EMG LEG
LAMPIRAN
Layout
a. Rangkaian Instrumentasi Dasar f. Rangkaian EMG LEG Keseluruhan
e. Rangkaian Adder
26
Ilhami (034), Shikin (039), Nuril (040)