0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan9 halaman

Pencegahan Stunting untuk Ibu Hamil

Penyuluhan ini membahas stunting pada ibu hamil dan balita. Topik utama meliputi pengertian stunting, latar belakang, dan cara pencegahan seperti memenuhi gizi ibu hamil, menyusui eksklusif, dan memantau tumbuh kembang anak. Penyuluhan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stunting.

Diunggah oleh

lulu afina nafsah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan9 halaman

Pencegahan Stunting untuk Ibu Hamil

Penyuluhan ini membahas stunting pada ibu hamil dan balita. Topik utama meliputi pengertian stunting, latar belakang, dan cara pencegahan seperti memenuhi gizi ibu hamil, menyusui eksklusif, dan memantau tumbuh kembang anak. Penyuluhan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stunting.

Diunggah oleh

lulu afina nafsah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Stunting


Sub. Pokok Bahasan : a. Latar Belakang
b. Pengertian Umum
c. cara pencegahan stunting
Waktu : 1 jam x 40
Sasaran : Ibu hamil dan ibu balita
Tempat : Posyandu wilayah puskesmas bantar

A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan informasi terkait stunting untuk meningkatkan
pengetahuan.
2. Tujuan Khusus
 Upaya pencegahan kasus stunting.
 Diharapkan akan memulai adaptasi baru untuk mencegah stunting.

B. Metode
- Ceramah
- Tanya Jawab

C. Media
Leafleat

D. Materi
Terlampir

E. Kegiatan Penyuluhan
1. Pembukaan 5 menit
a. Mengucapkan salam
b. Memperkenalkan diri
c. Memberitahu materi yang akan disampaikan
2. Kegiatan 45 menit
a. Memberikan materi menjelaskan secara garis besar bahasan yang
akan disampaikan
b. Mengadakan tanya jawab diantaranya yaitu:
1) Masyarakat diberikan kesempatan menyampaikan tanggapan
materi
2) Pemberi materi menampung pendapat masyarakat
3) Pemberi materi menjawab pertanyaan dari masyarakat
4) Membuat hasil kesimpulan dari hasil pendapat masyarakat
3. Penutup 10 menit
a. Meminta maaf jika ada kesalahan yang penulis lakukan dalam
pemberian materi penyuluhan
b. Pemberi materi mengucapkan terima kasih dan semoga penyuluhan
ini bermanfaat.
c. Membacakan salam

F. Evaluasi
1. Apa yang dimaksud dengan stunting?
2. Bagaimana cara pencegahan stunting?

MATERI PENYULUHAN
“STUNTING”

A. Latar Belakang
Stunting adalah keadaan paling umum dari bentuk kekurangan gizi (PE
/ mikronutrien), yang mempengaruhi bayi sebelum lahir dan awal setelah
lahir,
terkait dengan ukuran ibu, gizi selama ibu hamil, dan pertumbuhan janin.1
Menurut Sudiman dalam Ngaisyah, stunting pada anak balita merupakan
salah satu indikator status gizi kronis yang dapat memberikan gambaran
gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masa lampau dan
pada 2 tahun awal kehidupan anak dapat memberikan dampak yang sulit
diperbaiki. Salah satu faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi stunting
yaitu status ekonomi orang tua dan ketahanan pangan keluarga.2
Status ekonomi orang tua dapat dilihat berdasarkan pendapatan orang
tua. Pendapatan keluarga merupakan pendapatan total keluarga yang
diperoleh dari berbagai sumber, yaitu hasil kepala keluarga, hasil istri, hasil
pemberian, hasil pinjaman, dan hasil usaha sampingan per bulan.3
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ngaisyah pada tahun 2015
menunjukkan bahwa pada kelompok stunting lebih banyak pendapatannya
adalah dibawah UMR yakni sebanyak 67 responden (35,8%) , sedangkan
yang memiliki pendapatan diatas UMR hanya sedikit yakni sebanyak 45
orang (22%).2 Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Lestari et all. tahun
2014 menunjukkan bahwa pendapatan keluarga yang rendah merupakan
faktor resiko kejadian stunting pada balita 6-24 bulan. Anak dengan
pendapatan keluarga yang rendah memiliki resiko menjadi stunting sebesar
8,5 kali dibandingkan pada anak dengan pendapatan tinggi. Rendahnya
tingkat pendapatan secara tidak langsung akan menyebabkan terjadinya
stunting hal ini dikarenankan menurunnya daya beli pangan baik secara
kuantitas maupun kualitas atau terjadinya ketidaktahanan pangan dalam
keluarga.
Stunting yang terjadi pada balita dapat berdampak pada pertumbuhan
dan perkembangan intelektual anak. Secara tidak langsung dampak
tersebut
dapat berakibat pada penurunan produktivitas, peningkatan risiko penyakit
degenaratif, peningkatan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah di
masa mendatang. Dampak tersebut dapat meningkatkan kemiskinan
dimasa
yang akan datang dan secara tidak langsung akan mempengaruhi
ketahanan
pangan keluarga.
B. Pengertian Umum
1. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat
darikekurangan gizi kronis sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk
usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada
masa awal setelah anak lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2
tahun (Kementerian Keuangan RI, 2018).

C. Tahapan Pencegahan STUNTING


1. Memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil
Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada
anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan. Lembaga
kesehatan Millenium Challenge Account Indonesia menyarankan agar
ibu yang sedang mengandung selalu mengonsumsi makanan sehat nan
bergizi maupun suplemen atas anjuran dokter. Selain itu, perempuan
yang sedang menjalani proses kehamilan juga sebaiknya rutin
memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan.
2. Beri ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan
Veronika Scherbaum, ahli nutrisi dari Universitas Hohenheim, Jerman,
menyatakan ASI ternyata berpotensi mengurangi peluang stunting pada
anak berkat kandungan gizi mikro dan makro. Oleh karena itu, ibu
disarankan untuk tetap memberikan ASI Eksklusif selama enam bulan
kepada sang buah hati. Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada
susu ibu pun dinilai mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi
yang terbilang rentan.
3. Dampingi ASI Eksklusif dengan MPASI sehat
Ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, maka ibu sudah bisa
memberikan makanan pendamping atau MPASI. Dalam hal ini pastikan
makanan-makanan yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro
yang sebelumnya selalu berasal dari ASI untuk mencegah stunting.
WHO pun merekomendasikan fortifikasi atau penambahan nutrisi ke
dalam makanan. Di sisi lain, sebaiknya ibu berhati-hati saat akan
menentukan produk tambahan tersebut. Konsultasikan dulu dengan
dokter.
4. Terus memantau tumbuh kembang anak
Orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak mereka,
terutama dari tinggi dan berat badan anak. Bawa si Kecil secara berkala
ke Posyandu maupun klinik khusus anak. Dengan begitu, akan lebih
mudah bagi ibu untuk mengetahui gejala awal gangguan dan
penanganannya.

5. Selalu jaga kebersihan lingkungan


Seperti yang diketahui, anak-anak sangat rentan akan serangan
penyakit, terutama kalau lingkungan sekitar mereka kotor. Faktor ini pula
yang secara tak langsung meningkatkan peluang stunting. Studi yang
dilakukan di Harvard Chan School menyebutkan diare adalah faktor
ketiga yang menyebabkan gangguan kesehatan tersebut. Sementara
salah satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke
dalam tubuh manusia.

Selain itu ada 8 tips dan langkah mencegah balita mengalami stunting
1. Lakukan pemeriksaan calon pengantin Bagi calon pengantin perempuan, terlebih
dahulu harus melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah, yang meliputi
beberapa indikator pemeriksaan, yakni pemeriksaan lingkar lengan, berat badan,
dan tinggi badan, pemeriksaan hemoglobin (HB) untuk mengetahui adanya
anemia atau tidak. "Jika hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan hasil di
bawah indikator maka calon pengantin perempuan harus melaporkan ke
Puskesmas atau layanan kesehatan ibu dan anak guna mendapat treatment,"
jelasnya. Bagi calon pengantin pria tidak boleh merokok minimal tiga bulan
sebelum pernikahan. Hal ini untuk menguatkan sperma karena sperma pria
diproduksi 75 hari sebelum dikeluarkan. "Calon pasangan pengantin juga
sebaiknya mengunduh dan mendaftarkan diri di aplikasi Elsimil (Elektronik Siap
Nikah dan Siap Hamil) di playstore tiga bulan sebelum melangsungkan
pernikahan," terangnya.
2. Konsumsi makanan yang mengandung nutrisi seimbang Selama kehamilan,
sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung nutrisi
seimbang. Jika mengalami muntah-muntah, sang Ibu harus mencari cara agar
makanan yang mengandung nutrisi seimbang itu dapat masuk dan diserap oleh
tubuh. "Gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan
sehari-hari, terutama bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak
sumber protein (baik nabati maupun hewani) sangat dianjurkan dengan porsi
lebih banyak daripada karbohidrat, di samping itu juga harus dibiasakan
mengkonsumsi sayur dan buah," paparnya.
3. Menyusui dan ASI eksklusif Memberikan ASI sedini mungkin, sesaat setelah
melahirkan juga merupakan hal penting yang bisa dilakukan untuk mencegah
stunting. Colostrum yang diberikan sedini mungkin dapat melindungi bayi baru
lahir dari infeksi dan mengurangi resiko kematian bayi. "Pemberian ASI kepada
bayi sejak dilahirkan sampai bayi berusia 6 bulan, atau disebut dengan
pemberian ASI Ekslusif tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan
makanan atau minuman lain, termasuk air putih (kecuali obat-obatan atau vitamin
yang diberikan Dokter/Bidan)," lanjutnya.
4. Imunisasi Pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), anak memiliki risiko yang
cukup signifikan untuk terinfeksi penyakit apabila asupan gizi yang didapat tidak
memadai. Infeksi yang berulang pada anak dapat mempengaruhi tumbuh
kembang anak yang dapat mengakibatkan stunting. Vaksinasi berperan dalam
menurunkan angka kematian anak dan anak yang mendapatkan vaksinasi
memiliki resiko yang lebih rendah untuk stunting.
5. Sanitasi dan akses air bersih Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan,
termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak
pada risiko ancaman penyakit infeksi pada balita seperti diare dan cacingan yang
dapat menganggu proses pencernaan dalam proses penyerapan nutrisi, jika
kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan masalah
stunting. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir,
serta tidak buang air besar sembarangan.
6. Memberikan vitamin A Asupan rutin suplemen vitamin A setelah usia enam bulan
dapat mengurangi kematian pada balita hingga hampir seperempat di daerah
yang kekurangan vitamin A.
7. Memberi suplemen Asupan rutin suplemen zat besi dan obat cacing dapat
melindungi anak-anak dari kekurangan zat besi, anemia, dan perkembangan
yang buruk. Selain itu, anak-anak juga dapat terlindungi dari gizi buruk dan
anemia melalui suplementasi zat besi dan asam folat mingguan yang diawasi,
pemberian obat cacing dua kali setahun.
8. Pentingnya edukasi bagi orangtua Stunting juga dipengaruhi oleh pola asuh yang
kurang baik, misalnya dalam pemberian makanan penambah ASI (MPASI) atau
makanan bagi balita. Masih banyak orangtua baru yang memberikan MPASI
terlalu dini tanpa rekomendasi dari dokter anak, hal ini tentunya sangat
berbahaya bagi tumbuh kembang anak. Calon orangtua atau calon ibu perlu
diberikan edukasi sejak dini mengenai pentingnya pemenuhan gizi yang baik
saat hamil, serta memeriksakan kandungan minimal empat kali selama
kehamilan juga pentingnya pemenuhan gizi bagi keluarga.
STUNTING
Kondisi gagal Rmbuh
pada anak balito
akibat kekuarangon
gizi kronis terutama
dalam 10C.P hari
pefiama kehidupan

Anda mungkin juga menyukai