0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
363 tayangan30 halaman

Pengertian dan Model Hubungan Kausal

Hubungan kausal dalam epidemiologi menjelaskan hubungan antara variabel penyebab dan variabel akibat dalam terjadinya suatu penyakit. Terdapat model kausal tunggal dan majemuk. Kriteria kausalitas menurut Bradford Hill mencakup kekuatan, temporalitas, dan lainnya. Unsur penyebab dapat berupa biologis, nutrisi, kimiawi, fisika, dan psikis. Teori Hippocrates menyatakan penyakit disebabkan lingkungan eksternal dan internal tub

Diunggah oleh

Mita Busuk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
363 tayangan30 halaman

Pengertian dan Model Hubungan Kausal

Hubungan kausal dalam epidemiologi menjelaskan hubungan antara variabel penyebab dan variabel akibat dalam terjadinya suatu penyakit. Terdapat model kausal tunggal dan majemuk. Kriteria kausalitas menurut Bradford Hill mencakup kekuatan, temporalitas, dan lainnya. Unsur penyebab dapat berupa biologis, nutrisi, kimiawi, fisika, dan psikis. Teori Hippocrates menyatakan penyakit disebabkan lingkungan eksternal dan internal tub

Diunggah oleh

Mita Busuk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH EPIDEMIOLOGI

“Konsep Hubungan Kausal/Hubungan Sebab Akibat”

Disusun Oleh :

Kelompok 3

Eka Nuwitri

Linda Alifia Yulianti

Tania Aprilianti Fahlevi

Windy Fitrianingsih

Kelas: Sarjana Terapan Kebidanan+profesi (Tingkat 4)

Dosen Pengampuh :

Dr. Halimah, [Link]., MKM

PROGRAM SARJANA TERAPAN KEBIDANAN

JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

TAHUN AJARAN 2022/2023


A. Hubungan Kausal Dalam Epidemiologi
1. Pengertian
Hubungan kausal adalah hubungan antara dua atau lebih variabel, dimana salah
satu atau lebih variabel tersebut merupakan variabel penyebab kausal (primer
dan sekunder) terhadap terjadinya variabel lainnya sebagai akhir dari suatu
proses terjadinya penyakit.

2. Model Kausalitas
Penyebab penyakit dapat dikategorikan menjadi model kausa tunggal dan
kausal majemuk.
a. Model Kausal Tunggal : Model tunggal (monokausal) yaitu konsep
penyakit dimana penyakit hanya disebabkan oleh satu penyebab.
b. Model Kausal Majemuk : Model kausal majemuk (multikausal) adalah
konsep penyebab penyakit dengan penyakit memiliki lebih dari satu
penyebab

3. Kriteria Kausalitas Menurut Bradford Hill


a. Kekuatan : Korelasi yang kuat cenderung bersifat kausal korelasi yang
lemah bersifat nonkausal (tidak selalu benar).
b. Temporalitas : Ada anggapan bahwa kausa mendahului efek (akibat).
c. Dose response/efek dosis-respon : Ketika pajanan meningkat,
kemungkinan terjadinya hasil akhir juga meningkat.
d. Reversibilitas : Penurunan pajanan terhadap kausa diikuti penurunan
kejadian penyakit
e. Konsistensi: Jika kondisi yang sama terus terlihat pada sejumlah populasi
yang berbeda berdasarkan tipe-tipe penelitian epidemiologi yang berbeda,
f. Biological plausibility : Harus ada penjelasan yang rasional untuk korelasi
yang terlihat antara pajanan dan outcome.
g. Specificity : Yaitu satu penyebab menimbulkan satu efek.
h. Analogy: Yaitu hubungan sebab akibat sudah terbukti untuk penyabab atau
penyakit serupa

4. Penilaian Hubungan Kausal


Tiga faktor penting yang harus dijumpai pada hubungan kausal, yakni :
a. Faktor keterpaparan memegang peranan penting dalam timbulnya penyakit
b. Setiap perubahan pada variabel yang merupakan unsur penyebab akan
diikuti oleh perubahan pada variabel lainnya sebagai akibat/hasil akhir
proses
c. Hubungan antara timbulnya penyakit (hasil akhir) serta proses
keterpaparan tidak tergantung atau tidak harus dipengaruhi oleh faktor
lainnya diluar variabel hubungan tersebut.

1
5. Penyebab Kausal Primer (Noor, Nur Nasri. 2014 : 30-32)
Unsur ini dianggap sebagai faktor kausal terjadinya penyakit, dengan
ketentuan bahwa walaupun unsur ini ada, belum tentu terjadi penyakit.
Sebaliknya, pada penyakit tertentu, unsur ini selalu dijumpai sebagai unsur
penyebab kausal. Unsur penyebab kausal ini dapat dibagi dalam enam
kelompok utama.
a. Unsur penyebab biologis yakni semua unsur penyebab yang tergolong
makhluk hidup termasuk kelompok mikroorganisme seperti virus, bakteri,
protozoa, jamur, kelompok cacing dan insekta. Unsur penyebab ini pada
umumnya dijumpai pada penyakit infeksi dan penyakit menular.
b. Unsur penyebab nutrisi yakni semua unsur penyebab yang termasuk
golongan zat nutrisi dan dapat menimbulkan penyakit tertentu karena
kekurangan maupun kelebihan zat nutrisi tertentu seperti protein, lemak,
hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.
c. Unsur penyebab kimiawi yakni semua unsur dalam bentuk senyawaan kimia
yang dapat menimbulkan hatan/penyakit tertentu. Unsur ini pada umumnya
berasal gangguan keseimbangan dari luar tubuh termasuk berbagai jenis zat
racun, obat-obat keras, berbagai senyawaan kimia tertentu dan lain
sebagainya. Bentuk senyawaan kimia ini dapat berbentuk padat, cair, uap
maupun gas. sebagai hasil produk tubuh (dari dalam) yang dapat
menimbulkan penyakit tertentu seperti ureum, kolesterol dan lain-lain.
d. Unsur penyebab fisika yakni semua unsur yang dapat menimbulkan
penyakit melalui proses fisika, umpamanya panas (luka bakar), irisan,
tikaman, pukulan (rudapaksa) radiasi dan lain-lain. Proses kejadian
penyakit dalam hal ini terutama melalui proses fisika yang dapat
menimbulkan kelainan dan gangguan kesehatan
e. Unsur penyebab psikis yakni semua unsur yang bertalian dengan kejadian
penyakit gangguan jiwa serta gangguan tingkah laku sosial. Unsur penyebab
ini belum jelas proses dan mekanisme kejadian dalam timbulnya penyakit,
bahkan sekelompok ahli lebih menitikberatkan kejadian penyakit pada unsur
penyebab genetika. Dalam hal ini kita harus berhati-hati terhadap faktor
kehidupan sosial yang bersifat nonkausal serta lebih menampakkan diri
dalam hubungannya dengan proses kejadian penyakit maupun gangguan
kejiwaan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada sifat hubungan kausal,
antara lain:

2
1) Kuatnya hubungan statistik, artinya makin kuat hubungan statistik
antara kausal dan efek makin besar kemungkinannya mempunyai
hubungan kausal.
2) Adanya hubungan dosis respons, artinya peningkatan dosis pada faktor
kausal akan meningkatkan pula kemungkinan terjadinya efek, dan
sebaliknya.
3) Adanya konsistensi berbagai penemuan penelitian, artinya hasil yang
dicapai relevan dengan penemuan-penemuan sebelumnya.
4) Hubungannya bukan hasil sementara, artinya hasil hubungan tersebut
bukan situasi sementara, melainkan lebih bersifat lanjut.
5) Sesuai dengan teori sudah ada, artinya hasil yang dicapai dalam
hubungan tersebut sesuai pula dengan teori yang sudah ada atau tidak
bertentangan dengan teori yang telah diuji kebenarannya.
6) Sesuai dengan hasil percobaan laboratorium, artinya bila dilakukan uji
coba laboratorium akan memberikan hasil yang tidak berbeda.
7) Sesuai dengan hukum biologis artinya hubungan tersebut tidak
bertentangan dengan hukum biologis yang ada.

6. Pengertian Penyebab Nonkausal (Sekunder) (Noor, Nur Nasri. 2014 : 30-


32)

Penyebab sekunder merupakan unsur pembantu/penambah dalam


proses kejadian penyakit dan ikut dalam hubungan sebab akibat terjadinya
penyakit. Dengan demikian, dalam setiap analisis penyebab penyakit dan
hubungan sebab akibat terjadinya penyakit, kita tidak hanya terpusat pada
penyebab kausal primer semata, tetapi harus memperhatikan semua unsur lain
di luar unsur penyebab kausal primer. Hal ini didasarkan pada ketentuan bahwa
pada umumnya, kejadian setiap penyakit sangat dipengaruhi oleh berbagai
unsur yang berinteraksi dengan unsur penyebab dan ikut dalam proses sebab
akibat. Faktor yang terinteraksi dalam proses kejadian penyakit dalam
epidemiologi digolongkan dalam faktor risiko. Sebagai contoh, pada penyakit
kardiovaskuler, tuberkulosis, kecelakaan lalu lintas dan lain sebagainya.
Kejadiannya tidak dibatasi hanya pada penyebab kausal saja, tetapi harus

3
dianalisis dalam bentuk suatu rantai sebab akibat yang peranan unsur penyebab
sekundernya sangat kuat dalam mendorong penyebab kausal primer untuk
dapat secara bersama-sama menimbulkan penyakit.

B. Teori Hyppocrates (Hippocratic Theory) (Irwan. 2019 : 37-38)


Hippocrates (460-377 SM), yang dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern
telah berhasil membebaskan hambatan-hambatan filosofis pada zaman itu yang
bersifat spekulatif dan superstitif (takhayul) dalam memahami kejadian penyakit. Ia
mengemukakan teori tentang sebab musabab penyakit, yaitu bahwa :
1. Penyakit terjadi karena adanya kontak dengan jasad hidup
2. Penyakit berkaitan dengan lingkungan eksternal maupun internal sesorang.
Teori itu dimuat dalam karyanya berjudul “On Airs, Waters and Places"

Hippocrates sudah dikenal sebagai orang yang tidak pernah percaya dengan
takhayul dan keajaiban tentang terjadinya penyakit pada manusia dan proses
penyembuhannya. Dia mengatakan bahwa masalah lingkungan dan perilaku hidup
penduduk dapat mempengaruhi tersebarnya penyakit dalam masyarakat. Yang
dianggap paling mengesankan dari faham atau ajaran Hippocrates ialah bahwa dia
telah meninggalkan cara-cara berpikir mastis-magis dan melihat segala peristiwa
atau kejadian penyakit semata-mata sebagai proses atau mekanisme yang alamiah
belaka. (Ir. Martini, 2010)

Kausa penyakit menurut Hippocrates tidak hanya terletak pada lingkungan,


tetapi juga dalam tubuh manusia. Sebagai contoh, dalam bukunya "On the Sacred
Disease" Hippocrates menyebutkan bahwa epilepsi bukan merupakan penyakit
yang berhubungan dengan tahayul atau agama, melainkan suatu penyakit otak yang
diturunkan. Dalam bidang psikiatri, Hippocrates mendahului teori Sigmund Freud
dengan hipotesisnya bahwa kausa melankoli (suatu gejala kejiwaan atau emosi
akibat depresi) yang dialami putra Raja Perdica II dari Macedonia adalah depresi
yang dialami Perdica karena jatuh cinta secara rahasia dengan istri ayahnya (ibu
tirinya) (Bannis & Assocatiates, 2001; Grammaticos dan Diamantis, 2003; Saracci,
2010). Kontribusi Hippocrates untuk epidemiologi tidak hanya berupa pemikiran
tentang kausa penyakit tetapi juga riwayat alamiah sejumlah penyakit. Dia
mendeskripsikan perjalanan hepatitis akut pada bukunya About Diseases: Hepatitis

4
akut dengan cepat menyebar ke urinemenunjukkan warna agak kemerahan pada
urin, panas tinggi, serta menunjukkan warna agak kemerahan pada urin, panas
tinggi, serta rasa tidak nyaman. Pasien meninggal dalam waktu 4 hingga 10 hari.
(Bannis & Assocatiates, 2001; Grammaticos dan Diamantis, 2003).

C. Teori Galen (Noor, Nur Nasri. 2014 : 4-5)


Kemudian Galen mengemukakan suatu doktrin epidemiologi yang lebih logis dan
konsisten dengan menekankan teori bahwa beradanya suatu penyakit pada
kelompok penduduk tertentu dalam suatu jangka waktu tertentu (suatu generasi
tertentu) sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama,yakni:
1. faktor atmosfir (the atmospheric Factor);
2. factor internal (internal factor); dan
3. faktor predisposisi (predisposing or procatarctic factor).
Apa yang dikemukakan Galen tidak banyak mengalami perubahan selanjutnya dan
merupakan dasar pengembangan epidemiologi.
Pada abad ke-14 dan 15 Masehi, masalah epidemi penyakit dalam masyarakat
semakin jelas melalui berbagai pengamatan peristiwa wabah penyakit pes dan
variola yang melanda sebagian besar penduduk dunia. Pada waktu itu, orang mulai
menyadari bahwa sifat penularan penyakit dapat terjadi terutama karena adanya
kontak dengan penderita. Dalam hal ini dikenal jasa Veronese Fracastorius (1483-
1553) dan Sydenham (1624-1687) yang secara luas telah mengemukakan tentang
teori kontak dalam proses penularan penyakit. Dan berdasarkan teori kontak inilah
dimulainya usaha isolasi dan karantina yang kemudian ternyata mempunyai
peranan positif dalam usaha pencegahan penyakit menular hingga saat ini.

D. Teori Miasma (Miasmatic Theory) (Irwan. 2019 : 38-40)

Kira-kira pada awal abad ke-18 mulai muncul konsep miasma (diartikan
sebagai udara buruk atau polusi) sebagai dasar pemikiran untuk menjelaskan
timbulnya wabah penyakit. Miasma dipercaya sebagai uap yang dihasilkan dari
sisa-sisa makhluk hidup yang mengalami pembusukan, barang yang membusuk
atau dari buangan limbah yang tergenang, sehingga mengotori udara yang
dipercaya berperan dalam penyebaran penyakit. Dirumuskan bahwa teori ini

5
mengemukakan bahwa penyebab penyakit berasal dari uap yang dihasilkan oleh
sesuatu yang membusuk atau limbah yang menggenang. Jika seseorang
menghirupnya maka akan terjangkit penyakit. (Maryani, 2010). Teori ini juga
menganggap gas-gas busuk dari perut bumi yang menjadi kausa penyakit. (Bustan,
2006). Dikembangkan oleh William Farr yang meneliti tentang kausa epidemi
kolera. Teori ini mempunyai arah cukup spesifik, namun kurang mampu menjawab
pertanyaan tentang penyebab berbagai penyakit.

Dalam perkembanganya, John Snow melakukan eksperimen ke beberapa


rumah tangga di London yang memperoleh air minum dari perusahaan air minum
swasta. Air yang disuplai berasal dari bagian hilir Sungai Thames yang paling
tercemar. Suatu saat, suatu perusahaan yaitu Lambeth Company mengalihkan
sumber air ke bagian hulu Sungai Thames yang kurang tercemar. Perusahaan lain
yang merupakan pesaing yaitu Southwark Vauxhall Company tidak memindahkan
sumber air (tetap di bagian hilir Sungai Thames yang paling tercemar). Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa risiko kematian karena kolera lebih tinggi pada
penduduk yang mendapatkan air minum dari Southwark-Vauxhall Company
daripada yang memperoleh sumber air minum dari Lambeth Company. Penemuan
ini menunjukkan bahwa John Snow tidak sependapat dengan William Farr tentang
kausa kolera. (Adnani, 2010.

Contoh pengaruh teori miasma adalah timbulnya penyakit malaria. Malaria


berasal dari bahasa Italia mal dan aria yang artinya sisa-sisa pembusukan binatang
dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa. Penduduk yang bermukim di dekat rawa
sangat rentan untuk terjadinya malaria karena udara yang busuk tersebut. Pada
waktu itu dipercaya bahwa bila seseorang menghirup miasma, maka ia akan
terjangkit penyakit. Karena penyakit timbul karena sisa-sisa makhluk hidup yang
mengalami pembusukan, sehingga meninggalkan pengotoran udara dan lingkungan.
(Kasjono, 2008). Tindakan pencegahan yang banyak dilakukan adalah menutup
rumah rapat-rapat terutama di malam hari karena orang percaya udara malam
cenderung membawa miasma. Selain itu orang memandang kebersihan lingkungan
hidup sebagai salah satu upaya untuk terhindar dari miasma tadi. Walaupun konsep
miasma pada masa kini dianggap tidak masuk akal, namun dasar-dasar sanitasi

6
yang ada telah menunjukkaan hasil yang cukup efektif dalam menurunkan tingkat
kematian. (Anonim, 2010)

E. Teori Contagion (Contagion Theory) (Irwan. 2019 : 36-37)

Teori yang mengemukakan bahwa untuk terjadinya penyakit diperlukan


adanya kontak antara satu orang dengan orang lainnya. Teori ini tentu
dikembangkan berdasarkan situasi penyakit pada masa itu di mana penyakit yang
melanda kebanyakan adalah penyakit yang menular yang terjadi karena adanya
kontak langsung. Teori ini bermula dikembangkan berdasarkan pengamatan
terhadap epidemic dan penyakit lepra di Mesir. (Bustan, 2002)

Di Eropa, epidemi sampar, cacar dan demam tifus merajalela pada abad ke-
14 dan 15. Keadaan buruk yang dialami manusia pada saat itu telah mendorong
lahirnya teori bahwa kontak dengan mahkluk hidup adalah penyebab penyakit
menular. Konsep ini dirumuskan oleh Girolamo Fracastoro (1483-1553). Teorinya
mengatakan bahwa penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui zat
penular (tranference) yang disebut kontangion. Fracastoro membedakan 3 jenis
kontangion, yaitu :

1. Jenis kontangion yang dapat menular melalui kontak langsung misalnya


bersentuhan, berciuman, dan berhubungan seksual.
2. Jenis kontangion yang dapat menular melalui benda-benda perantara (benda
tersebut tidak tertular, namun mempertahankan benih dan kemudian menularkan
pada orang lain). Misalnya melalui pakaian, handuk, dan sapu tangan.
3. Jenis kontangion yang dapat menularkan dalam jarak jauh.
Pada mulanya teori kontagion ini belum dinyatakan sebagai jasad renik
atau mikroorganisme yang baru karena pada saat itu teori tersebut tidak dapat
diterima dan tidak berkembang. Tapi penemunya, Fracastoro tetap dianggap
sebagai salah satu seorang perintis dalam bidang epidemiologi meskipun baru
beberapa abad kemudian mulai terungkap bahwa teori kontagion sebagai jasad
renik. Karantina dan kegiatan-kegiatan anti epidemik hanya merupakan tindakan
yang diperkenalkan pada zaman itu setelah efektivitasnya dikonfirmasikan
melalui pengalaman praktik (Anonim, 2010)

7
F. Konsep Modern, Jangkauan, dan Keunikan Epidemiologi (Buchari &
Achmad. 2015 : 45-46)

Dalam konsep epidemiologi modern, definisi epidemiologi dapat pula


diartikan sesuai dengan komponen yang menyusun istilahnya, yaitu epi = atas,
demos = penduduk, dan logos = ilmu. Dengan demikian, dalam konsep modern,
epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang menimpa
penduduk. (Omran, 1979). Sejalan dengan definisi ini, jangkauan epidemiologi
semakin meluas, mulai dari mempelajari wabah, penyakit infeksi, penyakit non-
infeksi, kekurangan gizi, dan kelainan metabolisme. Bila diperhatikan evolusi
epidemiologi secara saksama, pengertian Suatu Pendekatan Integratif Mengenai
Kesehatan epidemiologi tidak berubah, namun jangkauannya semakin meluas.
Perluasan jangkauan itu terjadi karena perkembangan dalam ilmu- ilmu lain seperti
ilmu kedokteran, biologi, fisika, matematika, statistik, kependudukan, sosiologi,
dan antropologi. Secara khusus dapat dikatakan epidemiologi tidak berubah, namun
jangkauannya semakin meluas. Perluasan jangkauan itu terjadi karena
perkembangan dalam ilmu-ilmu lain seperti ilmu kedokteran, biologi, fisika,
matematika, statistik, kependudukan, sosiologi, dan antropologi. Secara khusus
dapat dikatakan bahwa jangkauan epidemiologi yang meluas itu dirangsang oleh
hal-hal sebagai berikut:

1. Keberhasilan negara maju dalam memanfaatkan epidemiologi dalam rangka


memberantas penyakit menular sehingga penggu- naan epidemiologi dialihkan
pada masalah lain;
2. Di negara-negara berkembang masalah penyakit yang kompleks, di satu pihak
penyakit menular masih merupakan masalah, tetapi masalah penyakit tidak
menular semakin meningkat; dan
3. Metode epidemiologi bisa digunakan untuk mempelajari masalah penyakit tak
menular, penyakit menahun, kekurangan/kelebihan gizi, penyakit metabolisme,
penelitian operasional, dan lain-lain.

8
Keberhasilan penggunaan epidemiologi kepada masalah lain itu tak terlepas dari
kontribusi disiplin ilmu lain tersebut di atas. Karena itu, sering terlihat tumpang-
tindih antara epidemiologi dengan statistik, biologi, ilmu kedokteran, sosiologi, dan
antropologi. Namun epidemiologi mempunyai keunikan sendiri sebagai berikut:

a. Epidemiologi mempelajari bukan individu tetapi kelompok individu,


sedangkan Ilmu Kedokteran mempelajari individu.
b. Epidemiologi membandingkan antara kelompok yang satu dan kelompok lain.
Tetapi sosiologi dan antropologi juga membandingkan kelompok yang satu
dengan kelompok lain. Hanya antropologi lebih kualitatif daripada
epidemiologi. Adapun sosiologi lebih kuantitatif daripada antropologi. Karena
itu, ditinjau dari aspek kualitatif/kuantitatif timbul keraguan perbedaan antara
sosiologi dan epidemiologi. Namun ada keunikan ketiga dari epidemiologi
yang tidak dipunyai oleh sosiologi.
c. Epidemiologi menyangkut pertanyaan apakah mereka dengan kondisi tertentu
lebih sering mempunyai karakteristik atau factor tertentu daripada mereka yang
tak punya faktor itu. Mereka dengan karakteristik atau faktor itu disebut "high
risk group" (kelompok yang terancam).

9
G. Contoh penyakit Contagion
1. Epidemiologi Penyakit TB
(TB) adalah suatu penyakit granulomatosa kronis menular yang disebabkan
oleh MT. Penyakit ini biasanya mengenai paru, tetapi dapat menyerang semua
organ atau jaringan tubuh, misalnya pada lymph node, pleura dan area
osteoartikular. Biasanya pada bagian tengah granuloma tuberkel mengalami
nekrosis perkijuan.
a. Cara Penularan Penularan penyakit
Tuberkulosis disebabkan oleh kuman Mycobacteriun tuberculosis
ditularkan melalui udara (droplet nuclei) saat seorang pasien Tuberkulosis
batuk dan percikan ludah yang mengandung bakteri terhirup oleh orang lain
saat bernapas. Sumber penularan adalah pasien Tuberkulosis paru BTA
positif, bila penderita batuk, bersin atau berbicara saat berhadapan dengan
orang lain, basil Tuberkulosis tersembur dan terhisap ke dalam paru orang
sehat dan bisa menyebar ke bagian tubuh lain melalui peredaran darah
pembuluh limfe atau langsung ke organ terdekat. Sekali batuk dapat
menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Masa inkubasinya selama 3-6
bulan.
2. Riwayat Alamiah Penyakit
Tahapan riwayat alamiah penyakit Tuberkulosis adalah sebagai berikut.
a. Tahap Peka/ Rentan/ Pre pathogenesis
Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit.
Tetapi interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit
berada di luar tubuh manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu.
Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda-tanda penyakit dan daya
tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat menolak penyakit. Keadaan ini
disebut sehat.
b. Tahap Pra gejala/Masa Inkubasi/ Sub-Klinis
Pada tahap ini telah terjadi infeksi, tetapi belum menunjukkan gejala dan
masih belum terjadi gangguan fungsi organ. Pada penyakit Tuberkulosis
paru sumber infeksi adalah manusia yang mengeluarkan basil tuberkel dari

10
saluran pernapasan, kontak yang rapat (misalnya dalam keluarga) pasien TB
dapat mengeluarkan kuman TB dalam bentuk droplet yang infeksius ke
udara pada waktu pasien TB tersebut batuk (sekitar 3.000 droplet) dan
bersin (sekitar 1 juta droplet). Droplet tersebut dengan cepat menjadi kering
dan menjadi partikel yang sangat halus di udara.
Ukuran diameter droplet yang infeksius tersebut hanya sekitar 1 – 5 mikron.
Pada umumnya droplet yang infeksius ini dapat bertahan dalam beberapa
jam sampai beberapa hari. Pada keadaan gelap dan lembab kuman TB dalam
droplet tersebut dapat hidup lebih lama sedangkan jika kena sinar matahari
langsung (sinar ultra-violet) maka kuman TB tersebut akan cepat mati.
Pasien TB yang tidak diobati maka setelah 5 tahun akan: 50% meninggal,
30% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi, dan 20%
menjadi kasus kronik yang tetap menular.
Masa inkubasinya yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai
menjadi sakit, diperkirakan selama 6 bulan. Waktu yang diperlukan sejak
masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks primer secara lengkap
disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda dengan pengertian masa
inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan sejak
masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB
biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara
2-12 minggu. Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga
mencapai jumlah 103-104, yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang
respons imunitas seluler.
c. Tahap Klinis (stage of clinical disease)
Tahap klinis merupakan kondisi ketika telah terjadi perubahan fungsi
organ yang terkena dan menimbulksn gejala. Gejala penyakit TBC dapat
dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan
organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada
kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
1) Gejala sistemik/umum:
a) Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan
darah).

11
b) Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya
dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang
serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
c) Penurunan nafsu makan dan berat badan.
d) Perasaan tidak enak (malaise), lemah
2) Gejala khusus:
a) Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi
sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru)
akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan
menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai
sesak.
b) Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paruparu), dapat
disertai dengan keluhan sakit dada.
c) Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang
yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada
kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
d) Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah
demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
d. Tahap Penyakit Lanjut/ Ketidakmampuan.
Tahap Penyakit Lanjut/ Ketidakmampuan merupakan tahap saat akibat
dari penyakit mulai terlihat. Pasien yang menderita penyakit Tuberkulosis
semakin bertambah parah dan penderita tidak dapat melakukan pekerjaan
sehingga memerlukan perawatan (bad rest).
e. Tahap Terminal (Akhir Penyakit)
Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya
perjalanan penyakit tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu :
sembuh sempurna, sembuh dengan cacad (fisik, fungsional, dan social),
karier, penyakit berlangsung kronik, berakhir dengan kematian. , Riwayat
alamiah penyakit Tuberkulosis, apabila tidak mendapatkan pengobatan
sama sekali, dalam kurun waktu lima tahun adalah sebagai berikut:
1) Pasien 50 % meninggal

12
2) 25% akan sembuh dengan daya tahan tubuh yang tinggi
3) 25 % menjadi kasus kronik yang tetap menular

Agent tb paru : kuman Mycobacteriun tuberculosis

Host Tb Paru : manusia Environment : kurang adanya


fasilitas

ventilasi yang baik, pencahayaan yang

buruk di dalam ruangan, kepadatan hunian

dalam rumah dan bahan bangunan didalam rumah.

H. Contoh Penyakit Miasma

13
1. Epidemiologi Penyakit Malaria
a. Segitiga Epidemiologi Malaria
Menurut John Gordon dan La Rich(1950), model ini menggambarkan
interaksi tiga komponen penyebab penyakit, yaitu manusia (host), penyebab
(Agent), dan lingkungan (Environment).
1) Host (Pejamu)
a) Host Intermediate (Manusia)
Keadaan manusia dapat menjadi pengandung gametosit yang dapat
meneruskan daur hidup nyamuk. Manusia ada yang rentan yaitu yang
dapat ditular malaria, tapi ada juga yang kebal dan tidak mudah ditular
malaria. Faktor manusia yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit
malaria yaitu :
 Umur
Anak-anak lebih rentan terhadap penyakit malaria dibandingkan
orang dewasa. Anak-anak usia kurang dari 5 tahun adalah kelompok
terbanyak yang berisiko terhadap malaria. Pertahanan tubuh terhadap
malaria yang diturunkan penting untuk melindungi anak kecil atau
bayi karena sifat khusus eritrosit yang relatif resisten terhadap masuk
dan berkembang biaknya parasit malaria.
 Ras
Berbagai bangsa atau ras mempunyai kerentanan yang berbeda-beda
(faktor rasial) terhadap penyakit malaria. Individu yang tidak
mempunyai determinan golongan darah Duffy (termasuk
kebanyakan negro Afrika) mempunyai resistensi alamiah terhadap
Plasmodium vivax.
 Jenis Kelamin
Infeksi parasit plasmodium dapat menyerang semua masyarakat dari
segala golongan termasuk golongan yang paling rentan seperti
wanita hamil. Hasil penelitian Gomes (2001) menyatakan bahwa ibu
hamil yang anemia kemungkinan 8,56 kali menderita malaria
falsiparum dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak anemia.
 Riwayat Malaria

14
Kekebalan residual adalah kekebalan terhadap reinfeksi yang timbul
akibat infeksi terdahulu dengan strain homolog spesies parasit
malaria. Kekebalan ini menetap hanya untuk beberapa waktu.
 Cara Hidup
Cara hidup sangat berpengaruh terhadap penularan malaria, seperti
tidur tidak memakai kelambu, tidak menggunakan repelen nyamuk
pada saat melakukan aktivitas di luar rumah dan pada saat sore hari,
dan penggunaan insektisida yang tidak teratur di dalam rumah.
Menurut penelitian Dasril (2005) dengan desain penelitian case
control menyatakan bahwa penderita malaria kemungkinan 3,2 kali
tidak memakai repelen dibandingkan dengan tidak penderita malaria.
 Imunitas
Masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria memiliki
kekebalan alami terhadap penyakit malaria. Di daerah endemi
dengan transmisi malaria yang tinggi hampir sepanjang tahun,
penduduknya sangat kebal dan sebagian besar dalam darahnya
terdapat parasit malaria dalam jumlah kecil. Selain itu, di daerah
endemis malaria terdapat kekebalan kongenital (atau neonatal) pada
bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan kekebalan tinggi. Kekebalan
(imunitas) di daerah endemis malaria, adalah:
1. Anti parasitic immunity adalah bentuk immunitas yang mampu
menekan pertumbuhan parasit dalam derajat sangat rendah
namun tidak sampai nol, hingga mencegah hiperparasitemia.
2. Anti disease imunity adalah bentuk imunitas yang mampu
mencegah terjadinya gejala penyakit tanpa ada pengaruh
terhadap jumlah parasite.
3. Premunition adalah keadaan semi-imun dimana respon imun
mampu menekan pertumbuhan parasit dalam jumlah rendah
namun tidak sampai nol, mencegah hiperparasitemia dan
menekan virulensi parasit, hingga kasus tidak bergejala/sakit.
 Pekerjaan

15
Pekerjaan yang tidak menetap atau mobilitas yang tinggi berisiko
lebih besar terhadap penyakit malaria, seperti tugas-tugas dinas di
daerah endemis untuk jangka waktu yang lama sampai bertahun-
tahun misalnya petugas medis, petugas militer, misionaris, pekerja
tambang, dan lain-lain. Pekerjaan sebagai buruh perkebunan yang
datang dari daerah yang non endemis ke daerah yang endemiss
belum mempunyai kekebalan terhadap penyakit di daerah yang baru
tersebut sehingga berisiko besar untuk menderita malaria. Begitu
pula pekerja-pekerja yang didatangkan dari daerah lain akan berisiko
menderita malaria. Menurut penelitian Dasril (2005) dengan desain
penelitian case control penderita malaria kemungkinan 4 kali bekerja
di luar rumah malam hari dibandingkan dengan tidak penderita
malaria
 Status Gizi
Seorang penderita malaria yang mengalami gizi buruk akan
mempengaruhi kerja farmakokinetik obat anti malaria seperti diare
dan muntah menurunkan absorpsi obat. Selain itu, disfungsi hati
menyebabkan metabolism obat menurun. Anak yang bergizi baik
dapat mengatasi malaria berat dengan lebih cepat dibandingkan anak
bergizi buruk.

b) Host Definitive (Nyamuk Anopheles)


Nyamuk Anopheles yang menghisap darah hanya nyamuk
Anopheles betina. Darah diperlukan untuk pertumbuhan telurnya.
Perilaku nyamuk sangat menentukan dalam proses penularan malaria.
Beberapa sifat dan perilaku sangat penting adalah :

1) Tempat hinggap atau istirahat

o Eksofilik: nyamuk hinggap dan istirahat di luar rumah.

o Endofilik: nyamuk hinggap dan istirahat di dalam rumah.

2) Tempat menggigit

16
o Eksofagik: lebih suka menggigit di luar rumah.

o Endofagik: lebih suka menggigit di dalam rumah.

3) Obyek yang digigit

o Antrofofilik: lebih suka menggigit manusia.

o Zoofilik: lebih suka menggigit binatang.

4) Faktor lain yang penting adalah :

o Umur nyamuk (longevity) semakin panjang umur nyamuk semakin

besar kemungkinannya untuk menjadi penular atau vektor malaria.

o Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit.

o Frekuensi menggigit manusia.

o Siklus gonotrofik yaitu waktu yang diperlukan untuk matangnya telur

2) Agent (Parasit Malaria)


Agent atau penyebab penyakit malaria adalah semua unsur atau
elemen hidup ataupun tidak hidup dalam kehadirannya bila diikuti dengan
kontak yang efektif dengan manusia yang rentan akan memudahkan
terjadinya suatu proses penyakit. Agent penyebab malaria adalah protozoa
dari genus plasmodium.

3) Environment (lingkungan)
Lingkungan adalah lingkungan manusia dan nyamuk berada.
Nyamuk berkembang biak dengan baik bila lingkungannya sesuai dengan
keadaan yang dibutuhkan oleh nyamuk untuk berkembang biak. Kondisi
lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk tidak sama tiap
jenis/spesies nyamuk. Nyamuk Anopheles aconitus cocok pada daerah
perbukitan dengan sawah non teknis berteras, saluran air yang banyak
ditumbuhi rumput yang menghambat aliran air. Nyamuk Anopheles
balabacensis cocok pada daerah perbukitan yang banyak terdapat hutan

17
dan perkebunan. Jenis nyamuk Anopheles maculatus dan Anopheles
balabacensis sangat cocok berkembang biak pada tempat genangan air
seperti bekas jejak kaki, bekas jejak roda kendaraan dan bekas lubang
galian. Lingkungan yang mendukung kehidupan dan perkembangbiakkan
nyamuk dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) macam yaitu :
a) Lingkungan fisik
Menurut Harya (2015) lingkungan fisik merupakan faktor yang
berpengaruh pada perkembangbiakan dan kemampuan hidup vektor
malaria. Lingkungan fisik yang dimaksud adalah:
1. Lingkungan fisik yang berhubungan dengan rumah tempat tinggal
manusia.
Lingkungan fisik manusia yang erat hubungannya dengan status
kesehatan adalah rumah sehat, karena dapat memberi pencegahan dan
perlindungan terhadap penularan penyakit.
Menurut Harya (2015), lingkungan fisik rumah meliputi:
 Kawat kasa pada ventilasi
Tidak terpasangnya kawat kasa pada ventilasi dapat mempermudah
nyamuk masuk ke dalam rumah (Rahardjo, 2012).
 Kerapatan dinding
Kualitas dinding yang tidak rapat jika dinding rumah terbuat dari
anyaman bambu kasar ataupun kayu/papan yang terdapat lubang
lebih dari 1,5 mm² akan mempermudah nyamuk masuk ke dalam
rumah (Rahardjo, 2012).
 Plafon/ Langit-langit
Langit-langit atau pembatas ruangan dinding bagian atas dengan
atap yang terbuat dari kayu, internit maupun anyaman bambu halus
sebagai penghalang masuknya nyamuk ke dalam rumah dilihat dari
ada tidaknya langit-langit pada semua atau sebagian ruangan rumah
(Rahardjo, 2012).
2. Lingkungan fisik yang berhubungan dengan perindukan nyamuk
Anopheles.

18
Tempat perindukan nyamuk ada bermacam-macam tergantung
spesies nyamuknya, seperti:
a. Rawa-Rawa
Rawa adalah semua macam tanah berlumpur yang terbuat secara
alami, atau buatan manusia dengan mencampurkan air tawar dan
air laut, secara permanen atau sementara, termasuk daerah laut
yang dalam airnya kurang dari 6 m pada saat air surut yakni rawa
dan tanah pasang surut. Daerah yang penuh dengan nyamuk,
seperti rawa-rawa, telah lama memiliki hubungan dengan tingginya
angka serangan malaria (Thamrin, 2011).
Tempat peridukan air payau terdapat muara-muara sungai dan
rawa-rawa yang tertutup hubungannya dengan laut cocok untuk
tempat peridukan Anopheles sundaicus dan Anopheles subpictus
(Rahardjo, 2012).
b. Parit
Parit atau selokan yang digunakan untuk pembuangan air
merupakan tempat berkembangbiak yang disenangi nyamuk
(Thamrin, 2011).
c. Semak-Semak
Semak-semak di sekitar rumah memegang peranan penting sebagai
tempat peristirahatan (resting place) bagi nyamuk pada siang hari
(Sunarsih, 2009). Dengan adanya semak-semak maka sinar
matahari tidak dapat menembus tempat istirahat nyamuk, sehingga
sangat disukai oleh nyamuk (Rahardjo, 2012).
d. Tambak
Adanya tambak udang dan ikan merupakan jenis habitat dari larva
nyamuk Anopheles spp, petani dalam mengelola tambak udang dan
ikan tidak terlepas adanya lahan yang terbengkalai maupun dikelola
akan mengundang nyamuk, untuk berkembangbiak, karena tambak
dengan rumput dan lumut sebagai habitat Anopheles subpictus
(Munif, 2010).

19
3. Lingkungan fisik yang berkaitan dengan umur dan
perkembangbiakkan nyamuk Anopheles antara lain :
1) Iklim
Pengaruh iklim penting sekali terhadap ada atau tidaknya malaria.
Di daerah yang beriklim dingin, transmisi malaria hanya mungkin
terjadi pada musim panas.
2) Suhu Udara
Suhu udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus
sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik. Makin tinggi suhu makin
pendek masa inkubasi ekstrinsik, dan sebaliknya makin rendah
suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik.
3) Kelembapan Udara
Kelembaban yang rendah akan memperpendek umur nyamuk.
Kelembaban mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan
menggigit, istirahat dan lain-lain dari nyamuk.
4) Hujan
Terdapat hubungan langsung antara hujan dan perkembangan larva
nyamuk menjadi bentuk dewasa. Besar kecilnya pengaruh
tergantung pada jenis hujan, derasnya hujan, jumlah hari hujan,
jenis vektor dan jenis tempat perindukan. Hujan yang diselingi
panas akan memperbesar kemungkinan berkembangbiaknya
Anopheles.
Selama musim kemarau, jumlah kasus malaria umumnya menurun,
sedangkan setelah hujan beberapa minggu jumlah kasus malaria
mulai menanjak sampai mencapai puncaknya. Air hujan yang
menyebabkan genangan-genangan air merupakan tempat
perindukan nyamuk sehingga dengan bertambahnya tempat
perindukan populasi nyamuk juga akan bertambah penularannya.
5) Angin
Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam yang
merupakan saat terbangnya nyamuk ke dalam atau ke luar rumah,

20
adalah salah satu faktor yang ikut menentukan jumlah kontak
antara manusia dan nyamuk. Jarak terbang nyamuk dapat
diperpendek atau diperpanjang tergantung kepada arah angin.
6) Sinar Matahari
Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk
berbeda-beda. Anopheles sundaicus lebih suka tempat yang teduh.
Sebaliknya Anopheles hyrcanus lebih menyukai tempat yang
terbuka. Anopheles barbirostris dapat hidup baik di tempat yang
teduh maupun tempat yang terang.
7) Arus Air
Anopheles barbirostris menyukai tempat perindukan yang airnya
statis atau mengalir sedikit. Anopheles minimus menyukai tempat
perindukan yang aliran airnya cukup deras dan Anopheles letifer di
tempat yang airnya tergenang.

b) Lingkungan Kimiawi
 Kadar Garam
Pengaruh kadar garam dari tempat perindukan nyamuk, seperti
Anopheles sundaicus tumbuh pada air payau (kadar garam 12-18)
dan tidak dapat bertahan pada kadar garam 40 ke atas (Harya,
2015).
 Ph
Semakin mendekati batas kadar normal pH air, maka kepadatan
Anopheles akan meningkat demikian sebaliknya kepadatan nyamuk
akan rendah bila kadar pH air tidak normal (Mofu, 2013).

c) Lingkungan Biologis
Lingkungan biologik tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai
jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk
Anopheles karena dapat menghalangi sinar masuk atau melindungi
dari serangan makhluk hidup yang lain. Adanya berbagai jenis ikan

21
pemakan larva seperti ikan kepala timah, ikan gabus, ikan nila, mujair
dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk.

d) Lingkungan Sosial Budaya


Faktor ini besar pengaruhnya dibandingkan dengan factor
lingkungan lain. Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut
malam dimana vektornya lebih bersifat eksofilik dan eksofagik akan
memperbesar jumlah gigitan nyamuk. Penggunaan kelambu,
pemasangan kawat kasa pada ventilasi, jendela yang tidak terbuka
sampai senja, dinding rumah yang rapat dan adanya langit-langit
rumah serta penggunaan zat penolak nyamuk yang intensitasnya
berbeda sesuai dengan perbedaan status sosial masyarakat, akan
mempengaruhi angka kesakitan malaria.
Faktor yang cukup penting adalah pandangan masyarakat
terhadap penyakit malaria, apabila malaria dianggap sebagai suatu
kebutuhan untuk diatasi, upaya untuk menyehatkan lingkungan akan
dilaksanakan oleh masyarakat. Dampak dari laju pembangunan yang
cepat adalah timbulnya tempat perindukan buatan manusia sendiri
seperti pembuatan bendungan, penambangan timah/emas dan tempat
pemukiman baru menimbulkan perubahan lingkungan yang
menguntungkan bagi nyamuk malaria.

22
I. Contoh Penyakit Modern
Epidemiologi penyakit Diare
[Link] Diare

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah yang lebih banyak
dari biasanya (normal 100-200 ml perjam tinja), dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang
meningkat. Pengertian lain diare adalah sebuah penyakit dimana penderita
mengalami buang air besar yang sering dan masih memiliki kandungan air
berlebihan. Ada ribuan jenis organisme yang dapat menginfeksi saluran
pencernaan dan menjadi penyebab diare. Dari kelompok bakteri, ada empat jenis
bakteri penyebab diare yaitu: campylobacter, salmonella, shigella, dan E. Coli.
Secara umum agent penyebab diare dapat berupa bakteri, viris, parasit {Janmur,
cacing dan protozoa}, keracuanan makanan dan minuman yang mengandung
bakteri maupun bahan kimia, serta akibat penurunan daya tahan tubuh {immuno
defisiensi).

B. Penularan Kuman Penyakit Diare Kuman penyakit diare dapat ditularkan


melalui :

• Air dan makanan yang tercemar

• Tangan yang kotor

• Berak disembarang tempat

• Botol susu yang kurang bersih

C. Macam-macam penyakit diare Diare terbagi dua berdasarkan mula dan


lamanya yaitu :

1) Diare akut

Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam
beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.

23
a). Etiologi

Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri, parasit maupun
virus. Penyebab lain yang dapat menimbulkan diare akut adalah toksin dan
Epidemiologi Beberapa Penyakit Menular Utama 91 obat, nutrisi eteral diikuti
puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi tekal (overflow diarrhea)
atau berbagai kondisi lain.

b). Patogenesis

Diare akibat infeksi terutama ditularkan secara fekal oral. Hal ini disebabkan
masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi tinja ditambah dengan
ekresiyang buruk, makanan yang tidak matang, bahkan yang disajikan tanpa
dimasak. Penularannya adalah transmisi orang ke orang melalui aeorosolisasi
(Morwalk, Rotavirus), tangan yang terkontaminasi (Clostridium diffecile), atau
melalui aktivitas seksual. Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktror
penyebab (agent) dan faktor penjamu (host). Faktor penjamu adalah kemampuan
pertahanan tubuh terhadap organisme, yaitu faktor daya tahan tubuh atau
lingkungan lumen saluran cerna, seperti keasaman lambung, motilitas lambung,
imunitas, juga mencakup lingkongan mikroflora usus. Faktor penyebab yang
mempengaruhi patogenesis antara lain daya penetrasi yang merusak sel mukosa,
kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus,
serta daya lekat kuman-kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat
menginduksi diare.

c). Manifestasi klinis

Secara klinis diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan yaitu:

1. Koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja.

2. Disentriform, pada diare di dapat lendir kental dan kadang-kadang darah.

24
d). Penatalaksanaan

Pada orang dewasa, penata laksanaan diare akut akibat infeksi terdiri dari :

1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan Empat hal penting yang perlu
diperhatikan adalah :

1) Jenis cairan

2) Jumlah cairan

3) Jalan masuk atau cara pemberian cairan

4) Jadwal pemberian cairan.

2. Identifikasi penyebab diare akut karena infeksi

3. Terapi simtomatik

4. Terapi defenitif

2) Diare kronik

Diare kronik ditetapkan berdasarkan kesepakatan, yaitu diare yang berlangsung


lebih dari tiga minggu. Ketentuan ini berlaku bagi orang dewasa, sedangkan
pada bayi dan anak ditetapkan batas waktu dua minggu.

a. Etiologi

Diare kronik memiliki penyebab yang bervariasi dan tidak seluruhnya diketahui.

b. Patofisiologi

Proses terjadinya diare dipengaruhi dua hal pokok, yaitu konsistensi feses dan
motilitas usus, umumnya terjadi akibat pengaruh keduanya. Gangguan proses
mekanik dan ensimatik, disertai gangguan mukosa, akan mempengaruhi
pertukaran air dan elektrolit, sehingga mempengaruhi konsistensi feses yang
terbentuk.

25
Diare kronik dibagi tiga yaitu:

1. Diare osmotik Dijelaskan dengan adanya faktor malabsorpsi akobat adanya


gangguan absorpsi karbohidrat, lemak atau protein, danb tersering adanya
malabsorpsi lemak. Feses berbentuk steatore.

2. Diare sekretorik

Terdapat gangguan tranpor akibat adanya perbedaan osmotif intralumen dengan


mukosa yang besar sehingga terjadi penarikan cairan dan alektrolit ke dalam
lumen usus dalam jumlah besar. Feses akan seperti air.

[Link] inflamasi

Diare dengan kerusakan kematian enterosit disertai peradangan. Feses berdarah.


Kelompok ini paling sering ditemukan. Terbagi dua yaitu nonspesitik dan
spesitik.

c. Penatalaksanaan

a. Simtomatis

1. Rehidrasi

2. Antipasmodik, antikolinergik

3. Obat anti diare

a. Obat antimotilitas dan sekresi usus : Laperamid, ditenoksilat, kodein fosfat.

b. Aktreotid (sadratatin).

c. Obat anti diare yang mengeraskan tinja dan absorpsi zat toksin yaitu Arang,
campura kaolin dan mortin.

4. Antiemetik (metoklopromid, proklorprazin, domperidon).

5. Vitamin dan mineral, tergantung kebutuhan, yaitu:

26
a. Vitamin Bie, asam, vitamin A, vitamin K.

b. Preparat besi, zinc,dan lain-lain.

6. Obat ekstrak enzim pankreas.

7. Aluminium hidroksida, memiliki efek konstifasi, dan mengikat asam


empedu.

8. Fenotiazin dan asam nikotinat, menghambat sekresi anion usus.

b. Kausal Pengobatan kausal diberikan pada infeksi maupun non infeksi pada
diare kronik dengan penyebab infeksi, obat diberikan berdasarkan etiologinya.

D. Tanda-Tanda Penyakit Diare

Tanda penyakit diare yang umum adalah penderita mengalami berak encer,
biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari, kadangkadang disertai dengan
demam, muntah, lemah dan lesu.

E. Cara Pencegahan Penyakit Diare Pada Bayi Jika Penyakit diare dialami oleh
anak bayi, maka resiko penyakit akan bisa lebih besar dibandingkan pada orang
dewasa, oleh karena itu upaya pencegahan diare pada bayi yang dapat dilakukan
adalah:

1. Pemberian ASI Dapat mencegah Diare karena terjamin kebersihannya serta


dapat meningkatkan daya tahan tubuh baalita.

2. Pemberian makanan Berilah anak balita makanan yang bersih dan bergizi.

3. Pemakaian air besih Gunakan air bersih untuk membersihkan makanan dan
minuman bayi.

4. Berak pada tempatnya Biasakanlah anak anda buang kotoran pada jamban
(kakus).

5. Kebersihan perorangan Biasakanlah mencuci tangan sebelm makam serta


sesudah buang kotoran.

27
6. Kebersihan makanan dan minuman Perhatikan kebersihan makanan dan
miniman meulai daor cara-cara mencuci, memasak, menghidangkan dan cara
menyimpan makanan

28
DAFTAR PUSTAKA

Noor, Nur Nasri. (2014). Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta

Irwan. (2019). Epidemiologi Penyakit Menular, Yogyakarta: CV ABSOLUTE


MEDIA

Lapau, Buchari dan Achmad Fedyani Syaifuddin. (2015). EPIDEMIOLOGI DAN


ANTROPOLOGI : Suatu Pendekatan Integratif Mengenai Kesehatan.
Jakarta: KENCANA

29

Anda mungkin juga menyukai