AHP untuk Penentuan Penerima BLT
AHP untuk Penentuan Penerima BLT
Oleh:
TEGAR KURNIAWAN
NIM. 18 615 049
TAHUN 2021
i
TUGAS AKHIR
Oleh:
TEGAR KURNIAWAN
NIM. 18 615 049
TAHUN 2021
i
A FINAL PROJECT REPORT
By :
TEGAR KURNIAWAN
NIM. 18 615 049
YEAR 2021
2
PENERAPAN METODE ANALYTIC HIERARCHY
PROCESS (AHP) PADA BANTUAN LANGSUNG TUNAI
(Studi kasus: Kelurahan Loa Bakung)
ABSTRAK
ABSTRACT
Poverty in Indonesia has increased this year, this increase occurred due to the
Covid-19 pandemic. To overcome poverty and food insecurity, the government has
made efforts to overcome them. One of them is the BLT (Direct Cash Assistance)
program. BLT is a social protection program that is part of the National Economic
Recovery (PEN). However, in determining the recipient of this assistance, it does
not use an accurate calculation, so that the assistance provided is not right on
target, therefore the AHP method is needed so that in its application it can find
recommendations for the heads of families who are very deserving of the assistance,
the AHP (Analytical Hierarchy Process) method was developed by Saaty, a
mathematician. This method is a framework for making effective decisions on
complex problems by simplifying and accelerating the decision-making process by
breaking the problem into its parts. After the implementation of the AHP method,
the results of the fifteen heads of families that are most appropriate to be
recommended as beneficiaries are heads of families 3 with the highest score of
0.3087.
PENDAHULUAN
Penduduk miskin di Indonesia per Maret 2021 berkisar 27,54 juta orang, naik
dari periode Maret 2020 yang sebesar 26,42 juta orang dalam setahun ini
peningkatan ini terjadi akibat pandemi Covid-19 yang berdampak pada perubahan
perilaku serta aktivitas ekonomi penduduk sehingga memengaruhi angka
kemiskinan. Kemiskinan adalah sesusatu yang dapat mempengaruhi perkembangan
suatu negara. Dari sisi regulasi negara wajib memberi perlindungan sosial kepada
masyarakat miskin, untuk mengatasi kemiskinan dan kerawanan pangan,
pemerintah telah berupaya menanggulanginya. Salah satunya yaitu adanya program
BLT (Bantuan Langsung Tunai).
Beberapa referensi penelitian serupa yang berkaitan dengan penelitian ini dan
menjadi rujukan diantaranya adalah:
(R Rahmona, 2016) Sebagai akibat dari kenaikan harga BBM (Bahan bakar
minyak), maka pemerintah mengadakan bantuan untuk rakyat indonesia, yaitu
Bantuan Langsung Tunai (BLT). Pemerintah Indonesia meyakini tindakan ini
adalah penting untuk menyelamatkan fiskal negara. Pada masa sulit sekarang ini,
program BLT menjadi kabar gembira bagi masyarakat miskin di seluruh tanah air.
Pada penelitian ini criteria yang digunakan sebanyak 5 kriteria menggunakan
Metode AHP dengan masukkan berupa data-data kepala keluarga yang di peroleh
dari Badan Pusat Statistik kota kendari. Sistem pendukung keputusan ini di
implementasikan menggunakan bahasa pemrograman java yang diintegrasi dengan
database Mysql Hasil Penelitian ini menyatakan metode AHP dapat
diimplementasikan ke dalam sistem pendukung keputusan untuk menentukan
penerima Bantuan Langsung Tunai. Sistem ini dapat memberikan penerima terbaik
sehingga memudahkan para pemerintah dalam memberi bantuan.
2.2 Dasar Teori
1 Kesatuan (Unity), AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur
menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.
2 Kompleksitas (Complexity), AHP memecahkan permasalahan yang kompleks
melalui pendekatan sistem dan pengintegrasian secara deduktif
3 Saling ketergantungan (Inter Dependence), AHP dapat digunakan pada
elemen-elemen sistem yang saling bebas dan tidak memerlukan hubungan
linier.
4 Struktur Hirarki (Hierarchy Structuring), AHP mewakili pemikiran alamiah
yang cenderung mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda
dari masing-masing level berisi elemen yang serupa.
5 Pengukuran (Measurement), AHP menyediakan skala pengukuran dan metode
untuk mendapatkan prioritas.
6 Konsistensi (Consistency), AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam
penilaian yang digunakan untuk menentukan prioritas.
7 Sintesis (Synthesis), AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai
seberapa diinginkannya masing-masing alternatif.
8 Trade Off, AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada sistem
sehingga orang mampu memilih altenatif terbaik berdasarkan tujuan mereka.
9 Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai
pada subkriteria yang paling dalam.
10 Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi
berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan.
11 Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensivitas
pengambilan keputusan.
12 Metode AHP memiliki keunggulan dari segi proses pengambil keputusan dan
akomodasi untuk atribut atribut baik kuantitatif dan kualitatif.
Bantuan
Langsung Tunai
Pendapatan Status
Rumah
>4JT
1-1JT
Rumah
Kontrak
1JT1- 2JT1- 3JT1- Pendidikan Sendiri
2JT 3JT 4JT
TIDAK S3
LAYAK TIDAK
SEKOLAH
LAYAK
SD S2
SMP SMA S1
Tanggungan Umur
>60
Keterangan:
N = Nilai Normalisasi
b = Baris
k = Kolom
𝑎 = Nilai perbandingan
∑k = Jumlah Kolom
n = elemen ke-n
b Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk
memperoleh normalisasi matriks.
𝑎(𝑏,𝑘)
𝑁(𝑏, 𝑘) = ………............................................................(2.2)
∑k
Keterangan:
N = Nilai Normalisasi
b = Baris
k = Kolom
𝑎 = Nilai perbandingan
∑k = Jumlah Kolom
∑b
P = 𝑒 ……….……………………………………………….....(2.3)
Keterangan:
P = Nilai prioritas / nilai rata-rata
∑b = Jumlah baris
e = Jumlah elemen
4. Mengukur Konsistensi
Dalam membuat keputusan, penting untuk mengetahui seberapa baik
konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan berdasarkan
pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Hal-hal yang dilakukan dalam
langkah ini adalah:
a Kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relative elemen
pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relative elemen kedua dan
seterusnya.
b Jumlahkan setiap baris.
c Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang
bersangkutan.
d Jumlahkan hasil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya
disebut λmaks.
λmaks = (∑k1.P1) + (∑k2.P2) + (∑k….P…)+(∑[Link])……(2.4)
Keterangan:
λmaks = lamda maksimal
∑k = Jumlah Kolom
P = Nilai Prioritas / nilai rata-rata
λmaks−n
CI = …………….…………………..……………………...(2.5)
𝑛−1
Keterangan:
n = banyak elemen
CI
CR =RI ………………….….…….……………………………..…..(2.6)
Keterangan:
CR = Consistency Ratio
CI = Consistency Index
RI = Index Random Consistency (dapat dilihat pada table 2.9 ketentuan random
index)
Tabel 2.3 ketentuan Random Index
Orde Matriks RI
1 0
2 0
3 0,8
4 0,9
5 1,12
6 1,24
7 1,32
8 1,41
9 1,45
10 1,49
11 1,51
12 1,48
13 1,56
14 1,57
15 1,59
1 Riset Awal
2 Pengumpulan Data
3 Pengajuan Judul
4 Studi AHP
5 Implementasi
Metode AHP
6 Penyusunan
Laporan
3.2 Objek Penelitian
Alat:
A. Perangkat keras
a. Laptop: Asus
b. RAM: 8 GB
c. Penyimpanan: 228 GB
d. Processor: AMD Ryzen 5 2500U
B. Perangkat Lunak
a. Sistem Operasi: Windows 10
b. Perhitungan: Microsoft Exel 2013
Bahan:
A. Data
Data yang digunakan pada penelitian ini yakni menggunakan data yang
diperoleh langsung dari kelurahan Loa Bakung. Data kriteria yang digunakan
yaitu pendapatan, tanggungan, umur, pendidikan, dan Status rumah.
Mulai
Riset Awal
Studi AHP
Pengumpulan Data
Implementasi AHP
Selesai
2. Studi AHP
Pada tahap ini dilakukan studi literature. Studi literature dilakukan untuk
mengkaji dan mengetahui secara teoritis metode yang dipakai dalam metode
pemecahan masalah yaitu menggunakan metode Analytical Hierarchy Process
(AHP).
3. Pengumpulan Data
Pada tahap yang ketiga dilakukan pengumpulan data – data yang diperlukan
sebagai bahan untuk memcahkan masalah yang telah dirumuskan.
Pada tahap ini menentukan kriteria dan alternatif yang nantinya digunakan
untuk menyelesaikan permasalahan.
Menghitung CR
Menghitung CI
tidak
CR ≤ 0,1
ya
Menghitung CR
tidak iya
CR ≤ 0,1
Selesai
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Kriteria Keterangan
1. Menentukan prioritas
a Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
b Matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk
merepresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang
lainnya, tabel nilai kepentingan dapat dilihat pada table 2.2.
Kriteria K1 K2 K3 K4 K5
Contoh:
a Nilai 5 pada (baris 1, kolom 3) didapat dari tabel 2.2, dimana kriteria
pendapatan lebih penting daripada pendidikan.
b Nilai 0,2 (baris 3, kolom 1) di peroleh dari tabel 2.2, dimana nilai(baris 3,
kolom 1) adalah kebalikan dari (baris 1, kolom 3) jadi 1/5 = 0,2.
c Nilai 2,2833 (jumlah kolom 1) diperoleh dari persamaan 2.1,jadi, 1 + 0,5 + 0.2
+ 0,3333 + 0,25= 2,2833, begitu seterusnya hingga kolom 5.
2. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesiskan
untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam
langkah ini adalah:
Kriteria
Kriteria K1 K2 K3 K4 K5 Jumlah Prioritas
K1 K2 K3 K4 K5 JUMLAH
Pendapatan (K1) 0,4380 0,4898 0,3333 0,3529 0,4528 2,0669
Tanggungan
Pendapatan (K2)
0,4380 0,4898
0,2190 0,3333 0,3529 0,2353
0,2449 0,2667 0,45280,3396
2,06691,3055
0,4134
Pendidikan (K3) 0,0876 0,0612 0,0667 0,0588 0,0377 0,3120
Umur (K4) 0,2190 0,2449
Tanggungan 0,1460 0,2667
0,1224 0,1333
0,2353 0,1176
0,33960,0566
1,30550,5760
0,2611
Kondisi Perumahan
(K5) 0,1095 0,0816 0,2000 0,2353 0,1132 0,7396
Tabel 4.3 Tabel Matriks Normalisasi
Pendidikan 0,0876 0,0612 0,0667 0,0588 0,0377 0,3120 0,0624
Kondisi
0,1095 0,0816 0,2000 0,2353 0,1132 0,7396 0,1479
Perumahan
Operasi: Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan
untuk memperoleh normalisasi matriks. Setelah itu membagi hasil
penjumlahan setiap baris dengan jumlah elemen yang digunakan.
Contoh:
a Nilai 0,4380 pada (baris 1,kolom 1) didapat dari persamaan 2.2, yaitu
1/2,2833=0,4380, begitu seterusnya hingga N(5,5).
b Nilai 2,0669 pada kolom jumlah didapat dari persamaan 2.3 , yaitu 0,4380 +
0,4898 + 0,3333 + 0,3529 + 0,4528 = 2,0669, selanjutnya dibagi dengan jumlah
elemen yaitu 5.
2,0669/5 =.0,4134 ,begitu seterusnya hingga baris 5.
3. Mengukur Konsistensi
Untuk menghitung λmaks menggunakan persamaaan 2.4.
λmaks=(0,4134*2,2833)+(0,2611*4,0833)+ (0,0624*15,0000) +
(0,1152*8,5000)+ (0,1479*8,8333) = 5,2320
Kriteria Sub-kriteria
100.000-1.000.000
1.000.001-2.000.000
Pendapatan 2.000.001-3.000.000
3.000.001-4.000.000
>4.000.000
1. Menentukan prioritas
a Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
100.000-
1,0000 3,0000 5,0000 7,0000 9,0000
1.000.000
1.000.001-
0,3333 1,0000 3,0000 5,0000 7,0000
2.000.000
2.000.001-
0,2000 0,3333 1,0000 3,0000 5,0000
3.000.000
3.000.001-
0,1429 0,2000 0,3333 1,0000 3,0000
4.000.000
Contoh:
a Nilai 5 pada (baris 1, kolom 3) didapat dari tabel 2.2, dimana pendapatan
100.000-1.000.000 lebih penting daripada 2.000.001-3.000.000.
b Nilai 0,2 (baris 3, kolom 1) di peroleh dari tabel 2.2, dimana nilai (baris 3, kolom
1) adalah kebalikan dari (baris 1, kolom3) jadi 1/5 = 0,2.
c Nilai 1,7873 (jumlah kolom 1) diperoleh dari persamaan 2.1, jadi 1 + 0,3333 +
0.2 + 0,1429 + 0,1111= 1,7873 begitu seterusnya hingga kolom 5.
2. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesiskan
untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah
ini adalah:
3.000.001-
0,0799 0,0428 0,0350 0,0612 0,1200 0,3389 0,0678
4.000.000
Operasi: Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan
untuk memperoleh normalisasi matriks. Setelah itu membagi hasil penjumlahan
setiap baris dengan jumlah elemen yang digunakan.
Contoh:
a Nilai 0,5595 pada (baris 1,kolom 1) didapat dari persamaan 2.2 ,yaitu
1/1,7873=0,5595, begitu seterusnya hingga N(5.5).
b Nilai 2,5141 pada kolom jumlah didapat dari persamaan 2.3 , yaitu 0,5595 +
0,6415 + 0,5245 + 0,4286 + 0,3600 = 2,5141, selanjutnya dibagi dengan jumlah
elemen yaitu 5.
2,5141/5 =.0,5028, begitu seteruhsnya hingga baris 5.
3. Mengukur Konsistensi
Untuk menhitung λmaks menggunakan persamaan 2.4.
Kriteria Sub-kriteria
1-3 orang
4-6 orang
Tanggungan
7-9 orang
>9 orang
1. Menentukan prioritas
a Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
Sub-Kriteria
1-3 4-6 7-9 >9
Tanggungan
Contoh:
a Nilai 0,2 pada (baris 1, kolom3) diperoleh dari tabel 2.2, dimana tanggungan
1-3 orang tidak lebih penting daripada sub kriteria 7-9 orang.
b Nilai 5 (baris 3, kolom 1) di peroleh dari tabel 2.2, dimana nilai (baris 3, kolom
1) adalah kebalikan dari (baris 1, kolom 3) jadi 1/0,2 = 5.
Sub-Kriteria
1-3 4-6 7-9 >9 Jumlah prioritas
Kriteria
Tanggungan
K1 K2 K3 K4 K5 JUMLAH
Pendapatan (K1) 0,4380 0,4898 0,3333 0,3529 0,4528 2,0669
Tanggungan
1-3 (K2)
0,0625 0,2190
0,0357
0,2449 0,0441 0,08520,33960,2276
0,2667 0,2353 1,3055 0,0569
Pendidikan (K3) 0,0876 0,0612 0,0667 0,0588 0,0377 0,3120
Umur (K4) 0,1460 0,1224 0,1333 0,1176 0,0566 0,5760
4-6 0,1875
Kondisi Perumahan 0,1071 0,0735 0,1193 0,4875 0,1219
(K5) 0,1095 0,0816 0,2000 0,2353 0,1132 0,7396
Tabel 4.3 Tabel Matriks Normalisasi
Operasi: Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan
untuk memperoleh normalisasi matriks. Setelah itu membagi hasil
penjumlahan setiap baris dengan jumlah elemen yang digunakan.
Contoh:
a Nilai 0,0625 pada (baris 1, kolom 1) didapat dari persamaan 2.2, jadi
1/16.=0.0625, begitu seterusnya hingga N(5,5).
b Nilai 2,5141 pada kolom jumlah didapat dari persamaan 2.3 , jadi 0,0625 +
0,0357 + 0,0441 + 0,0852 = 2,2276, selanjutnya dibagi dengan jumlah elemen
yaitu 5.
0,2276/4 =.0,0569, begitu seterusnya hingga baris 5.
3. Mengukur Konsistensi
Untuk menghitung λmaks menggunakan persamaan 2.4.
Kriteria Sub-kriteria
tidak sekolah
Sd
Smp
Pendidikan Sma
s1
s2
s3
1. Menentukan prioritas
a Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
Sub-
tidak
kriteria Sd smp sma s1 s2 s3
sekolah
pendidikan
tidak
1,0000 2,0000 3,0000 4,0000 5,0000 6,0000 7,0000
sekolah
Contoh:
a Nilai 5 pada (baris 1, kolom 5) didapat dari tabel 2.2, dimana sub-kriteria tidak
sekolah lebih penting daripada s1.
b Nilai 0,2 (baris 5, kolom 1) di peroleh dari tabel 2.2, dimana (barus 5, kolom
1) adalah kebalikan dari (baris 1, kolom 5) jadi 1/5 = 0,2.
c Nilai 2,5929 (jumlah kolom 1) diperoleh dari persamaan 2.1, jadi 1 + 0,5 +
0,3333 + 0,25+0,2+0,1667+0,1429= 2,5929, begitu seterusnya hingga kolom
7.
2. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesiskan
untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam
langkah ini adalah:
Sub-
tidak
kriteria
Kriteria Sd Smp Sma s1 s2 s3 jumlah prioritas
sekolah K1 K2 K3 K4 K5 JUMLAH
pendidikan
Pendapatan (K1) 0,4380 0,4898 0,3333 0,3529 0,4528 2,0669
tidak
Tanggungan 0,3857
(K2) 0,4494 0,4119 0,3609 0,3158 0,2791 0,2500 2,4528 0,3504
sekolah 0,2190 0,2449 0,2667 0,2353 0,3396 1,3055
Pendidikan (K3) 0,0876 0,0612 0,0667 0,0588 0,0377 0,3120
Sd 0,1928 0,2247 0,2746 0,2707 0,2526 0,2326 0,2143 1,6623 0,2375
Umur (K4) 0,1460 0,1224 0,1333 0,1176 0,0566 0,5760
Kondisi
Smp Perumahan
0,1286 0,1124 0,1373 0,1805 0,1895 0,1860 0,1786 1,1128 0,1590
(K5) 0,1095 0,0816 0,2000 0,2353 0,1132 0,7396
Tabel 4.3 Tabel Matriks Normalisasi
Sma 0,0964 0,0749 0,0686 0,0902 0,1263 0,1395 0,1429 0,7389 0,1056
Operasi: Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan
untuk memperoleh normalisasi matriks. Setelah itu membagi hasil
penjumlahan setiap baris dengan jumlah elemen yang digunakan.
Contoh:
a Nilai 0,3857 pada (baris 1, kolom 1) didapat dari persamaan 2.2, jadi
1/0,5929.=0.3857, begitu seterusnya hingga N(7,7).
b Nilai 2,5141 pada kolom jumlah didapat dari persamaan 2.3 , jadi 0,3857 +
0,4494 + 0,4119 + 0,3609 + 0,3158 + 0,2791+ 0,2500 =2,4528, selanjutnya
dibagi dengan jumlah elemen 2,4528/7 =.0,3504, begitu seterusnya hingga
baris 7.
3. Mengukur Konsistensi
Untuk menghitung λmaks menggunakan persamaan 2.4.
20-29
30-39
Umur 40-49
50-59
>60
1. Menentukan prioritas
a Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
Sub-Kriteria
20-29 30-39 40-49 50-59 >60
Umur
Contoh:
a Nilai 0,2 pada (baris 1, kolom 3) didapat dari tabel 2.2, umur 20-29 tidak lebih
penting daripada sub-kriteria umur 30-39.
b Nilai 5 (baris 3, kolom 1) di peroleh dari tabel 2.2, dimana (baris 3, kolom 1)
adalah kebalikan dari (baris 1, kolom 3) jadi 1/0,2 = 5.
Sub-
Kriteria 20-29 30-39 40-49 50-59 >60 JUMLAH PRIORITAS
Umur
Operasi: Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan
untuk memperoleh normalisasi matriks. Setelah itu membagi hasil penjumlahan
setiap baris dengan jumlah elemen yang digunakan.
Contoh:
a Nilai 0,0400 pada (baris 1, kolom 1) didapat dari persamaan 2.2, jadi 1/25.=
0,0400, begitu seterusnya hingga N(5,5).
b Nilai 0,1741 pada kolom jumlah didapat dari persamaan 2.3 , jadi 0,0400 +
0,0204 + 0,0210 + 0,0305 + 0,0622 = 0,1741, selanjutnya dibagi dengan
jumlah elemen 2,4528/5 =.0,0348 , begitu seterusnya hingga baris 5.
3. Mengukur Konsistensi
Untuk menghitung λmaks menggunakan persamaan 2.4.
Kriteria Sub-kriteria
KONTRAK
Status Rumah
RUMAH SENDIRI
1. Menentukan prioritas
a Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
Sub-kriteria
KONTRAK RUMAH SENDIRI
STATUS RUMAH
a Nilai 3 pada (baris 1, kolom 2) didapat dari tabel 2.2, dimana sub kriteria
kontrak sedikit lebih penting daripada rumah sendiri.
b Nilai 0,3333 (baris 2, kolom 1) di peroleh dari tabel 2.2, dimana (baris 2, kolom
1) adalah kebalikan dari (baris 1, kolom 2) jadi 1/3 = 0,3333.
c Nilai 1,3333 (jumlah sub kriteria kontrak) diperoleh dari persamaan 2.1, jadi 1
+ 0,3333= 1,3333 begitu seterusnya hingga kolom 2.
2. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesiskan
untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam
langkah ini adalah:
Tabel 4.18 Matriks Normalisasi dan niai prioritas Sub-Kriteria Status Rumah
Sub-Kriteria
Kriteria 1-3 4-6 Jumlah prioritas
Status rumah K1 K2 K3 K4 K5 JUMLAH
Pendapatan (K1) 0,4380 0,4898 0,3333 0,3529 0,4528 2,0669
Tanggungan (K2) 0,2190 0,2449
1-3 0,8333 0,83330,2667 0,2353
1,66670,3396 1,3055
0,8333
Pendidikan (K3) 0,0876 0,0612 0,0667 0,0588 0,0377 0,3120
Umur (K4) 0,1460 0,1224
4-6 0,1667 0,16670,1333 0,1176
0,33330,0566 0,5760
0,1667
Kondisi Perumahan
(K5) 0,1095 0,0816 0,2000 0,2353 0,1132 0,7396
Tabel 4.3 Tabel Matriks Normalisasi
Operasi: Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan
untuk memperoleh normalisasi matriks. Setelah itu membagi hasil
penjumlahan setiap baris dengan jumlah elemen yang digunakan
Contoh:
a Nilai 0,0833 pada (baris 1, kolom 1) didapat dari persamaan 2.2, jadi 1/1,2.=
0,0833, begitu seterusnya hingga N(2,2).
b Nilai 0,1741 pada kolom jumlah didapat dari persamaan 2.3 , jadi 0,8333 +
0,8333 = 1,6667, selanjutnya dibagi dengan jumlah elemen 1,6667 /2=.
0,8333,begitu seterusnya hingga baris 2.
3. Mengukur Konsistensi
Untuk menghitung λmaks menggunakan persamaan 2.4.
CR= -0,025/0 = 0
Dalam kriteria status rumah terdapat sub sub-kriteria yang dibutuhkan untuk
menentukan kepala keluarga terbaik. Adapun 2 sub-kriteria yang di gunakan,
ditujukan pada tabel 4.19.
Layak
Status rumah
Tidak Layak
1. Menentukan prioritas
a Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
Contoh:
a Nilai 0,2 pada (baris 1, kolom 2) didapat dari tabel 2.2, dimana sub sub-kriteria
layak tidak lebih penting daripada sub sub-kriteria tidak layak.
b Nilai 5 (baris 2, kolom 1) di peroleh dari tabel 2.2, dimana (baris 2, kolom 1)
adalah kebalikan dari (baris 1, kolom 3) jadi 1/0,2 = 5.
2. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesiskan
untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam
langkah ini adalah:
Sub sub-kriteria
Kriteria Layak Tidak Layak Jumlah Prioritas
status rumah K1 K2 K3 K4 K5 JUMLAH
Pendapatan (K1)
0,4380 0,4898 0,3333 0,3529 0,4528 2,0669
Tanggungan (K2)
0,2190 0,2449 0,2667 0,2353 0,3396 1,3055
Layak 0,1667 0,1667 0,3333 0,1667
Pendidikan (K3)
0,0876 0,0612 0,0667 0,0588 0,0377 0,3120
Umur (K4)
0,1460 0,1224 0,1333 0,1176 0,0566 0,5760
Tidak Layak 0,8333 0,8333 1,6667 0,8333
Kondisi Perumahan (K5)
0,1095 0,0816 0,2000 0,2353 0,1132 0,7396
Tabel 4.3 Tabel Matriks Normalisasi
Operasi: Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan
untuk memperoleh normalisasi matriks. Setelah itu membagi hasil
penjumlahan setiap baris dengan jumlah elemen yang digunakan.
Contoh:
a Nilai 0,0833 pada (baris 1, kolom 1) didapat dari persamaan 2.2, jadi 1/1,2.=
0,0833, begitu seterusnya hingga N(2,2).
b Nilai 0,1741 pada kolom jumlah didapat dari persamaan 2.3 , jadi 0,1667 +
0,1667 = 0,3333, selanjutnya dibagi dengan jumlah elemen 0,3333/2 =. 0,1667,
begitu seterusnya hingga baris 2.
3. Mengukur Konsistensi
Untuk menghitung λmaks menggunakan persamaan 2.4.
λmaks=(0,1667*6)+(0,8333*1,2) = 2,00016
CR= 0,00016/0 = 0
1-1.000.000 0,5028
1.000.001-2.000.000 0,2602
2.000.001-3.000.000 0,1344
3.000.001-4.000.000 0,0678
>4.000.000 0,0348
1-3 0,0569
4-6 0,1219
7-9 0,2633
>9 0,5579
Tabel 4.24 Prioritas Sub-Kriteria Pendidikan
Sd 0,2375
Smp 0,1590
Sma 0,1056
s1 0,0696
s2 0,0462
s3 0,0318
Kontrak 0,8333
Layak 0,1667
Kriteria PRIORITAS
Pendapatan (K1) 0,4134
Tanggungan (K2) 0,2611
Pendidikan (K3) 0,0624
Umur (K4) 0,1152
Kondisi Perumahan (K5) 0,1479
a Nilai 0,0555 pada (baris 1, kolom 1) didapat dari perkalian antara prioritas sub-
kriteria pendapatan KK1, 0,1344 (gaji kepala keluarga 1 berada di range
2.000.001-3.000.000) dengan prioritas kriteria pendapatan yaitu 0,4134 .
b Kolom prioritas didapat dari penjumlahan setiap baris.
KK No Urut Prioritas
KK3 1 0,3087
KK9 2 0,2527
KK6 3 0,2075
KK4 4 0,1705
KK1 5 0,1445
KK13 6 0,1169
KK7 7 0,1147
KK2 8 0,1115
KK12 9 0,1111
KK14 10 0,1000
KK10 11 0,0855
KK8 12 0,0803
KK5 13 0,0701
KK11 14 0,0587
KK15 15 0,0455
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran