BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan tentang hasil penelitian yang meliputi aspek
geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, lingkungan pengendapan dan geologi
sejarah yang berkembang di daerah penelitian.
4.1. Geomorfologi
Dalam analisis geomorfologi, penulis menggunakan aspek morfometri,
aspek morfografi, dan aspek morfogenetik. Dalam tiga aspek tersebut peneliti
meninjau dari bentuk lahan (perbedaan ketinggin), kemiringan lereng, jenis
litologi penyusun daerah tersebut, serta pola pengaliran yang berkembang
didaerah penelitian.
4.1.1. Morfometri
Berdasarkan perhitungan analisis persentase dan derajat kemiringan lereng
maka didapatkan tiga klasifikasi bentuk lereng yaitu landai atau datar,
bergelombang, agak curam dan curam. Dengan persentase 0-2 % datar atau
landai, bergeolombang 2-7%, agak curam 7-30%, dan curam >30%.
4.1.2. Morfografi
Daerah penelitian tersusun oleh bentuk lahan dengan elevasi berkisar
antara 225-325mdpl, dengan lembah berbentuk U. Berdasarkan bentuk lahan pada
daerah penelitian terbagi menjadi dua yaitu pedataran, dan perbukitan.
[Link]. Bentuk Lembah
Bentuk lembah yang didapat pada daerah penelitian berdasarkan analisis
topografi dan kenampakan lapangan termasuk dalam jenis lembah U. Lembah U
terdapat didaerah Batu Kuali.
37
4.1.3. Morfogenetik
Dari hasil analisa peta topografi dan kenampakan dilapangan yang didapat
dari penelitian, maka didapatkan morfogenetik pada daerah penelitian adalah
bentuk asal lahan fluvial, dan denudasional.
4.1.4. Satuan Geomorfologi
Penentuan satuan geomorfologi dihaliskan berdasarkan hasil analisis
geomorfologi melalui aspek morfometri, morfologi dan morfologi. Berdasarkan
analisis aspek geomorfologi tersebut daerah penelitian dibagi menjadi empat
satuan geomorfologi, yaitu:
1. Satuan Geomorfologi Pedataran Landai
2. Satuan Geomorfologi Perbukitan Agak Curam
[Link]. Satuan Geomorfologi Pedataran Landai
Satuan ini menempati 60% daerah penelitian yang memiliki litologi
lanau, lempung, batupasir dan konglomerat. Dengan persentase kemiringan 0%-
2%. Bentuk lahan pedataran landai fluvial ini ditunjukkan pada gambar 4.1
sebagai berikut :
Gambar 4.1. Satuan Geomorfologi Pedataran Landai
38
[Link]. Satuan Geomorfologi Perbukitan Agak Curam
Satuan ini menempati 40% daerah penelitian, dengan persentase
kemiringan 7% - 15% . Satuan geomorfologi ini tersusun atas litologi batupasir,
lanau, breksi dan granit. Bentuk lahan dari Perbukitan agak curam ini ditunjukkan
pada gambar 4.2 sebagai beikut :
Gambar 4.2. Satuan Geomorfologi Agak Curam
4.1.5. Kolom Satuan Geomorfologi Daerah Penelitian
Berdasarkan analisa morfometri, morfologi dan morfogenesa dapat di lihat pada
tabel 4.1 sebagai berikut :
Tabel 4.1 Kolom Satuan Geomorfologi
39
4.2. Analisis Batuan
Dalam analisis batuan menggunakan beberapa parameter untuk
menganalisis litologi batuan yaitu, warna yang terdiri dari warna lapuk dan warna
segar, tekstur yang terdiri dari besar butir, bentuk butir, kemas, pemilahan,
permeabilitas, kekerasan, struktur sedimen, kandungan karbonat, komposisi
mineral, kekerasan dan kontak. Berikut jenis litologi yang didapatkan di daerah
penelitian yang lakukan :
4.2.1. Batulempung
Batulempung di kawasan penelitian menunjukkan ciri-ciri warna lapuk
coklat kemerahan sedangkan warna segar coklat kekuningan, besar butirnya <1/256
mm, bentuk butirnya sangat membundar, kemasnya tertutup ditunjukkan dengan
butiran yang saling bersentuhan, pemilahan baik ditunjukkan dengan besar butir
yang seragam, permeabilitas sedang ditunjukkan dengan penyerapannya cukup
cepat ketika ditetesi air, agak keras. Persebarannya banyak terdapat di bagian
timurlaut dan bagian tenggara dikawasan penelitian.
Kenampakan batulempung di kawasan penelitian dapat ditunjukkan pada gambar
4.3 berikut ini:
Gambar 4.3. Singkapan batulempung pada stasiun ketujuh pada hari kedua
40
4.2.2. Breksi
Breksi dikawasan penelitian menunjukkan ciri-ciri warna lapuk coklat
kehitaman sedangkan warna segarnya cokelat kehitaman, besar fragmennya 64-
256 mm di golongkan sebagai berangkal, bentuk butir menyudut, kemasnya
terbuka ditunjukkan dengan butirannya tidak saling bersentuhan, pemilahannya
buruk ditunjukkan dengan besar butir tidak seragam, sangat kompak. Breksi ini
merupakan jenis polimik dengan fragmen batuan beku dan batuan sedimen.
Persebarannya banyak terdapat diselatan daerah penelitian. Kenampakkan breksi
di daerah penelitian dapat ditunjukkan pada gambar 4.4 sebagai berikut :
Gambar 4.4. Singkapan breksi pada stasiun kelima hari pertama
4.2.3. Batupasir
Batupasir di kawasan penelitian menunjukkan ciri-ciri dengan warna lapuk
cokelat keabu-abuan sedangkan warna segar cokelat kekuningan, besar butir 0,125-
0,25 mm digolongkan sebagai batupasir halus, bentuk butirnya membundar,
kemasnya tertutup ditunjukkan dengan butirannya saling bersentuhan,
pemilahannya sangat baik
ditunjukkan dengan ukuran
butirnya seragam, permeabilitasnya
41
buruk ditunjukkan dengan lamanya batupasir menyerap ketika ditetesi air,
kekerasannya agak keras.
Kenampakkan batupasir di daerah penelitian dapat ditunjukkan pada gambar 4.5
sebagai berikut :
Gambar 4.5. Singkapan batupasir pada stasiun ketiga hari pertama
4.3. Stratigrafi
Dalam pembahasan stratigrafi daerah penelitian, menggunakan kesebandingan
regional dan berdasarkan analisis litologi dilapangan seperti satuan batuan
berdasarkan ciri fisik batuan yang diamati di lapangan, meliputi jenis batuan,
keseragaman litologi serta posisi stratigrafi antar satuan batuan tersebut.
Pembagian satuan batuan ini dilakukan untuk setiap jenis batuan yang seragam,
sedangkan penamaan batuannya didasarkan pada jenis batuan yang dominan.
Berdasarkan litostratigrafi tidak resmi, tatanan stratigrafi pengamatan di
daerah penelitian dapat dibagi menjadi empat satuan batuan, berurutan dari muda
ke tua sebagai berikut :
Tabel 4.2. Kolom Staratigrafi Daerah Penelitian Berdasarkan Kesebandingan
Regional
42
4.4. Struktur Daerah Penelitian
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian berupa rekahan dan
lipatan. Hal ini didapatkan berdasarkan pengamatan dilapangan yang
ditemukannya anomali pola jurus, diolah kedalam stereonet.
GAMBAR STREONET ST 3 H5 GAMBAR STREONET H1 ST 2
(KEKAR) (KEKAR)
43
GAMBAR STEREONET 2 H 3
Gambar Stereonet Lipatan
4.4.1. Pola Jurus
Pola jurus daearah penelitian menunjukan penyebaran dari bidang lapisan suatu
batuan dengan arah relatif barat laut – tenggara.
4.4.2. Rekahan
Rekahan
44
Gambar Rekahan pada Singkapan
Gambar 4 Digram Rose
4.5. Lingkungan Pengendapan
Lingkungan pengendapan daerah penelitian berdasarkan analisa litologi dan
pendekatan regional memiliki empat jenis lingkungan yang berbeda yaitu:
1. Satuan Batulempung
Satuan ini memiliki ukuran butir yang sangat halus dengan memiliki struktur
masif dan paralel laminasi menjadi asumsi pengendapannya pada lingkungan
lakustrin.
45
2. Satuan Batupasir
Satuan ini memiliki warna lapuk cokelat keabu-abuan dengan warna segar
cokelat kekuningan, ukuran butir berupa pasir halus, dengan kekompakan keras
dengan struktur sedimen perlapisan menjadi asumsi lingkungan pengendapannya
lakustrin.
3. Satuan Breksi
Satuan ini memiliki matriks berupa pasir halus dan fragmen berangkal dengan
struktur sedimen masif dan perlapisan, lingkungan pengendapan satuan ini
diasumsikan berada pada lingkungan Lakustrin.
4. Satuan Granit
Satuan ini mengalami proses intrusi.
Gambar 4.17. Model Lingkungan Pengendapan Daerah Penelitian Berdasarkan
Pendekatan Regional
46
4.6. Geologi Sejarah
Geologi sejarah daerah penelitian berdasarkan kesinambungan regional dimulai
dari adanya granit berumur Trias dan mempunyai komposisi berkisar leucogranite
sampai monzonik kuarsa (Kastowo dan Silutonga 1975).
Lalu pada Jura hingga tersier bagian paleosen pemberhentinya pengendapan.
Proses ini berlanjut dengan adanya aktifitas tektonik berupa rifting sehingga
terbentuknya formasi Sangkarewang yang terdiri dari serpih yang berselang seling
dengan lanau dan batupasir halus hingga kasar pada Eosen hingga Oligosen
tengah berupa lingkungan pengendapan lakustrin. Proses selanjutnya granit tadi
mengalami proses intrusi hingga mengenai formasi sangkarewang, hal ini di
jadikan adanya ketidakselarasan atau non conformity.
47