0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan6 halaman

Konfigurasi Dasar Perangkat Switch

Dokumen ini membahas tentang konfigurasi dasar perangkat switch seperti boot sequence, indikator LED, verifikasi konfigurasi, dan masalah-masalah yang sering terjadi pada layer akses jaringan.

Diunggah oleh

Ferry Ardiansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan6 halaman

Konfigurasi Dasar Perangkat Switch

Dokumen ini membahas tentang konfigurasi dasar perangkat switch seperti boot sequence, indikator LED, verifikasi konfigurasi, dan masalah-masalah yang sering terjadi pada layer akses jaringan.

Diunggah oleh

Ferry Ardiansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Basic Device Configuration

1. Configure a Switch with Initial Settings


a. Switch Boot Sequence
Sebelum kita bisa mengkonfigurasi switch, kita perlu menghidupkannya dan mengijinkannya
untuk melewati proses 5 boot sequence. Berikut prosesnya :
- Step 1
Pertama setelah dihidupkan switch akan mengload program power-on-self-test (POST) yang
tersimpan pada ROM. POST akan cek CPU subsystem yang meliputi CPU, DRAM dan
bagian flash device yang membentuk flash file system.
- Step 2
Selanjutnya switch akan mengload boot loader software. Boot loader software merupakan
software yang tersimpan pada ROM yang akan segera dijalankan setelah POST berhasil
diselesaikan.
- Step 3
Boot loader akan melakukan proses inisialisasi low-level CPU. Inisialisasi CPU register
meliputi control mapping memory, jumlah memory dan kecepatannya.
- Step 4
Boot loader akan menginisilisasi flash sytem pada system board.
- Step 5
Terakhir boot loader akan meletakan dan mengload image system operasi default IOS ke
memori dan memberikan kendalinya ke switch.
b. The boot system Command
Switch akan mencoba untuk boot secara otomatis dengan menggunakan informasi pada boot
environment variable. Jika variable tidak diset, maka switch akan mencoba untuk load dan
mengeksekusi file pertama yang dapat dieksekusi. Pada catalyst 2960 series, image file berada
pada direktori yang namanya sama dengan nama image filenya. IOS operating system akan
menginisialisasi cisco ios yang ditemukan pada startup-config file. File startup-config disebut
dengan [Link] dan berada di flash. Contohnya boot environment variable diset menggunakan
boot system command pada global configuration mode. Pastikan IOS berada pada folder yang
berbeda dengan folder path yang spesifik. Gunakan command show boot untuk melihat settingan
boot file saat ini di set kemana.
S1(config)# boot system flash:/[Link]/c2960-
[Link]

c. Switch LED Indicators


- SYST (System LED)
Menunjukan bahwa system telah menerima power dan befungsi dengan baik. Jika LED ini
mati, maka artinya system mati. Jika LED berwarna hijau maka system beroperasi secara
normal. Jika LED berwana kekuningan maka system menerima power tapi tidak berfungsi
dengan baik.
- RPS (Redundant Power System LED)
Menunjukan RPS status. Jika LED mati maka RPS juga mati dan tidak terhubung dengan
power secara baik. Jika LED berwarna hijau maka RPS terhubung dan siap menyediakan
backup power. Jika LED berkedip hijau, maka RPS terhubung tapi tidak tersedia karena RPS
sedang menyediakan power untuk perangkat lain. Jika LED berwana kekuningan maka RPS
sedang berada pada standby mode atau dalam keadaan gagal. Jika LED berkeding
kekuningan, maka internal power supply pada switch telah gagal dan RPS sedang
menyediakan power.
- STAT (Port Status LED)
Menunjukan mode status port sedang digunakan apabila LED berwarna hijau. Jika LED tidak
menyala maka port sedang tidak digunakan atau port dalam keadaan administrative
shutdown. Jika LED berkedip hijau maka port tersebut sedang menerima atau mengirimkan
data. Jika LED berwana hijau kekuningkan maka terdapat kegagalan link. Jika LED
kekuningan maka port sedang di block untuk memastikan tidak terdapat loop pada forwading
domain dan tidak meneruskan data. Jika LED berkedip kekuningan maka port sedang
deblock untuk menghindari kemungkinan loop pada forwading domain.
- DUPLX (Port Duplex LED)
Jika berwana hijau maka sedang pada mode full duplex jika off maka dalam keadaan mode
half duplex.
- SPEED (Port Speed LED)
Jika LED mati maka port sedang beroperasi pada kecepatan 10mbps, jika hijau 100mbps dan
jika berkedip hijau maka 1000mbps.
d. Recovering from a System Crash
Boot loader menyediakan akses ke switch jika operating system tidak dapat digunakan karena
system file rusak atau hilang. Boot loader memiliki command line untuk mengakses file yang
tersimpan pada flash memory. Boot loader dapat diakses dengan koneksi console dengan
beberapa langkah :
- Hubungkan kabel console dari pc ke switch dan siapkan aplikasi terminal emulation
- Cabut kabel power pada switch.
- Sambungkan kembali kabel power pada switch kemudian tekan dan tahan tombol mode
selama 15 detik sampai System LED berkedip hijau.
- Tetap tahan tombol mode sampai System LED menyala kekuningan sebentar hingga menjadi
hijau pekat, lalu lepaskan tombol mode.
- Prompt boot loader switch akan tampil pada terminal emulation aplikasi.
Untuk melihat path dari boot environment variable gunakan command set. Kemudian untuk
menginisialisasi file flash system gunakan command flash_init
switch: set
BOOT=flash:/c2960-lanbasek9-mz.122-55.SE7/[Link]
(output omitted)
switch: flash_init
Initializing Flash...
flashfs[0]: 2 files, 1 directories
flashfs[0]: 0 orphaned files, 0 orphaned directories
flashfs[0]: Total bytes: 32514048
flashfs[0]: Bytes used: 11838464
flashfs[0]: Bytes available: 20675584
flashfs[0]: flashfs fsck took 10 seconds.
...done Initializing Flash.
Setelah flash telah selesai diinisialisai gunakan command dir:flash untuk melihat direktori dan
file flash.
switch: dir flash:
Directory of flash:/
2 -rwx 11834846 [Link]
3 -rwx 2072 multiple-fs
Masukan command BOOT=flash untuk merubah path boot environment variable supaya dapat
mengload ios baru pada flash. Untuk memastikan boot environment variable sudah berubah atau
tidak gunakan command set. Terakhir untuk mengload ios file baru gunakan command boot
tanpa argument.
switch: BOOT=
flash:[Link]
switch: set BOOT=flash:[Link]
(output omitted)
switch: boot
e. Switch SVI Configuration Example
By default, switch telah dikonfigurasi management vlan yaitu vlan 1. Semua port telah dimasuki
vlan 1 secara default. Untuk tujuan keamanan, dianjurkan untuk menggunakan vlan id lain
sebagai management vlan. Berikut Langkah-langkah konfigurasinya :
- Step 1 : Konfigurasi management interface

- Step 2 : Konfigurasi default gateway

- Step 3 : Verifikasi konfigurasi

2. Configure Switch Ports


a. Duplex Communication
Full duplex merupakan komunikasi yang menambahkan efisiensi pada bandwidth karena
mengijinkan penerimaan dan pengiriman data secara bersamaan. Sedangkan half duplex hanya
mengijinkan komunikasi satu arah.
b. Configure Switch Ports at the Pyhsical Layer
Port pada switch dapat dikonfigurasi secara manual settingan duplex dan kecepatannya. Gunakan
command duplex untuk memilih duplex mode untuk port switch dan Speed untuk menentukan
kecepatan port switch secara manual. Berikut contoh konfigurasinya :
c. Auto-MDIX
Ketika auto-mdix diaktifkan, interface secara otomatis mendeteksi type kabel yang digunakan
untuk koneksi (straight-through atau cross-over). Ketika auto-mdix tidak diaktifkan maka kita
perlu memilih tipe kabel secara manual untuk komunikasi antar perangkat. Berikut command
untuk mengaktifkan auto mdix pada switch cisco.
S1(config-if)# mdix auto
Untuk mengecek konfigurasi auto-mdix pada port yang spesifik, gunakan command show
controllers ethernet-controller dengan keyword phy. Untuk membatasi output yang berkaitan
dengan auto-mdix gunakan filter include-MDIX.
S1# show controllers ethernet-controller fa0/1 phy | include MDIX
Auto-MDIX : On [AdminState=1 Flags=0x00052248]
d. Switch Verification Commands

e. Network Access Layer issues


Output dari command show interfaces sangat berguna untuk mendeteksi masalah yang sering
terjadi pada media. Bagian dari output command ini adalah tampilan dari status line dan data link
protocol.
S1# show interfaces fastEthernet 0/18
FastEthernet0/18 is up, line protocol is up (connected) Hardware is Fast
Ethernet, address is 0025.83e6.9092 (bia 0025.83e6.9092)MTU 1500 bytes, BW
100000 Kbit/sec, DLY 100 usec,
Parameter pertama (FastEthernet0/18 is up) merujuk pada layer hardware dan mengindikasikan
bahwa interface tersebut sedang menerima signal. Parameter kedua (line protocol is up) merujuk
pada layer data link dan mengindikasikan bahwa protocol data link layer sedang hidup dan
diterima. Berdasarkan command show interfaces, masalah yang kemungkinan terjadi ialah :
- Jika interface up dan line protocol down kemungkinan karena enkapsulasi type mismatch
yang error, interface perangkat lain yang terhubung sedang terdisable atau error hardware
lainnya.
- Jika interface dan line keduanya down maka kemungkinan kabel tidak terpasang atau koneksi
pada perangkat lain dalam keadaan administrative down.
- Jika status interface administrative down, maka interface tersebut di disable secara manual
oleh administrator.
f. Interface Input and Output Errors
“Input error” merupakan jumlah keseluruhan error pada datagrams yang diterima oleh interface
ketika pengecekan yang termasuk :
- Runt frame
Minium ethernet frame yang diijinkan adalah 64 byte. Malfunctioning ethernet NIC
merupakan penyebab munculnya runt frame (collisions).
- Giants
Ethernet frame yang melewati batas maximum.
- CRC error
CRC (Cyclic Redundancy Error) mengindikasikan bahwa error pada media atau kabel.
Penyebabnya ialah interferensi electrical, koneksi yang hilang atau rusak atau pengkabelan
yang salah karena noise.
“Output error” meliputi :
- Collisions
- Late collisions
Late colissions merujuk pada collisions yang terjadi setelah 512 bits frame ditransmisikan
ulang. Penyebabnya karena panjang kabel dan kesalahan konfigurasi duplex.
g. Troubleshooting Network Access Layer Issues

Anda mungkin juga menyukai