Distance Learning (Pembelajaran
Jarak Jauh)
Salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia adalah masalah
keterbatasan akses warga masyarakat terhadap pelayanan
pendidikan,terutama pendidikan yang bermutu. Pada hal, mendapatkan
layanan pendidikan yang bermutu adalah merupakan hak warga negara.
Artinya bahwa negara berkewajiban untuk memberikan akses kepada warga
negara untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. Diantara
penyebab permasalahan ini adalah keterbatasan anggaran negara dalam
membangun fasilitas pendidikan (sekolah) di seluruh wilayah Indonesia
secara merata. Selain itu juga disebabkan oleh terbatasnya tenaga pendidik
(guru) yang di sediakan oleh negara, sementara di lain pihak jumlah
penduduk Indonesia sangat besar sehingga kemampuan lembaga pendidikan
yang ada, belum mampu melayani proses pendidikan seluruh masyarakat
secara bermutu. Namun demikian, para praktisi pendidikan tidak boleh hanya
“duduk berdiam diri” dalam menghadapi tantangan pembangunan pendidika
ini, oleh karena itu harus segera di usahakan solusi pemecahannya.
Usaha pembangunan pendidikan dengan cara-cara yang konvensional
seperti membangun gedung-gedung sekolah dan mengangkat guru baru, hal
ini tidak lagi dapat dipandang sebagai langkah yang mampu memecahkan
masalah pendidikan. Pembaharuan pendidikan tidak mungkin lagi dapat
dilakukan dengan cara-cara yang lama dengan menggunakan metode yang
lama.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan
media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb.
Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan
tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media
tersebut. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya e-learning yang
dalam pelaksanaannya banyak digunakan untuk menunjang apa yang disebut
Distance Learning (DL) atau pendidikan jarak jauh.
Distance Learning atau pendidikan jarak jauh, yang dalam UU Sisdiknas
pasal 1 ayat 15 diartikan sebagai pendidikan yang peserta didiknya terpisah
dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar
melalui teknologi komunikasi, informasi dan media lain (Supradono, B.,
2009).
Di Indonesia pembelajaran distance learning masih tergolong sistem
pendidikan dengan teknologi baru ( Adhiatma, N., 2011), tidak semua institusi
pendidikan berhasil melaksanakan. Menurut Singh, H., (2003) Informasi
terbaru mengatakan dengan kemajuan teknologi pembelajaran jarak jauh
menjadi lebih diakui untuk berpotensi dalam memberikan perhatian secara
individual dan komunikasi dengan siswa dapat dilakukan dengan fleksibel
(Salim, K., dan Tiawa DH., 2014).
Brown, Mary Daniels., (2000) menjelaskan bahwa pembelajaran jarak
jauh berbasis e-education ini mempunyai keuntungan yang berbeda dengan
sistem pembelajaran berbasis komputer konvensional yang biasa digunakan
di antaranya iaitu; (1) dapat menghemat biaya pendidikan lebih jauh dari
pada pembelajaran kelas konvensional, (2) dapat menghemat biaya biaya
seperti; biaya perjalanan dinas, biaya fasilitas dan penyelenggaraan
pendidikan, buku-buku siswa(teksbook) dapat diganti dengan e-book (virtual
library), sistem administrasi pembelajaran lebih mudah dan murah tidak
dilakukan dengan cara konvensional (Salim, K., dan Tiawa DH., 2014).
Selanjutnya untuk menjawab permasalahan mengenai terpusatnya
pendidikan dikota-kota besar seperti saat ini, maka distance learning sudah
selayaknya mendapat perhatian khusus. Seorang peserta didik dapat terdaftar
di instansi pendidikan yang berbasis dimanapun yang dirasa memiliki kualitas
yang baik, tentunya setelah melalui tes seleksi yang ditentukan instansi itu
sendiri atau pemerintah. Setelah itu, proses pembelajaran dapat dilakukan
dimanapun dan kapanpun seperti yang diinginkan. Peserta didik dapat
melaksanakan kegiatan belajarnya di daerah asalnya tanpa harus menuju
basis instansi pendidikan tersebut seperti yang terjadi pada pendidikan
konvensional. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi terpusat di kota-kota
besar saja. Semua warga negara Indonesia dari daerah manapun dapat
mengenyam pendidikan di daerah masing-masing (Supradono, B., 2009)
Untuk itu kita harus bisa mengembangkan sistem pendidikan yang lebih
terbuka, lebih luwes, dan dapat diakses oleh siapa saja yang memerlukan
tanpa memandang usia, jender, lokasi, kondisi sosial ekonomi, maupun
pengalaman pendidikan sebelumnya. sistem tersebut juga mampu
meningkatkan mutu pendidikan secara merata. Sistem pendidikan tersebut
adalah sistem pendidikan terbuka atau sistem belajar jarak jauh (distance
learning), yang merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Oleh
karena itu dalam makalah ini akan bahas mengenai metode mengajar distance
learning dengan harapan agar praktisi pendidikan di Indonesia dapat lebih
memahaminya lebih mendalam.
A. Pengertian Distance Learning
Tahun 1980 Keegan memberikan definisi sistem pendidikan jarak jauh
berdasarkan analisisnya terhadap beragam definisi dan tradisi praksis.
Menurut Keegan. System pendidikan jarak jauh memiliki karakteristik sebagai
berikut: ([Link]
1. Terpisahnya siswa dan pengajar yang membedakan pendidikan jarak jauh
dengan pengajaran tatap muka.
2. Ada pengaruh dari suatu organisasi pendidikan yang membedakannya
dengan belajar sendiri di rumah (home study).
3. Penggunaan beragam media—cetak, audio, video, computer, atau multi
media—untuk mempersatukan antara siswa dan pengajar dalam suatu
interaksi pembelajaran.
4. Penyediaan komunikasi dua arah sehingga siswa dapat mengambil
manfaat darinya dan bahkan mengambil inisiatif untuk dialog.
5. Kemungkinan pertemuan sekali-sekali untuk keperluan pembelajaran dan
sosialisasi (pembelajaran diarahkan kepada individu, bukan kepada
kelompok).
6. Proses pembelajaran yang memilik bentuk hamper sama dengan proses
industri.
Selanjutnya, Distance learning (DL) atau pendidikan jarak jauh dalam UU
Sisdiknas pasal 1 ayat 15 diartikan sebagai pendidikan yang peserta didiknya
terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber
belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain (Supradono,
B., 2009).
Sedangkan menurut Simonson, Smaldino, Albright & Zvacek (2006). Mereka
mendefinisikan pendidikan jarak jauh sebagai berikut: “Distance education is
defined as institution-based formal education where the learning group is
separated, and where interactive telecommunications systems are used to
connect learners, resources, and instructors”. Definisi ini menunjukkan bahwa
pendidikan jarak jauh memilki ciri-ciri sebagai berikut:
([Link]
• Adanya lembaga formal yang menyelenggarakan program pendidikan.
• Kelompok peserta belajar terpisah dengan pengajar
• Digunakannya sistem telekomunikasi untuk menghubungkan peserta
belajar, sumber-sumber belajar, dan pengajar
Departemen Pendidikan Amerika Serikat, mendefinisikan pendidikan jarak
jauh seperti dkutip oleh Schlosser dan Simonson (2006) “Distance education
is the application of telecommunications and electronic devices which enable
students and learners to receive instruction that originate from some distant
location”. Pengertian ini lebih spesifik menyebutkan penggunaan alat
telekomunikasi dan elektronik sebagai media untuk memungkinkan
terjadinya pembelajaran dari jarak yang jauh dari sumber belajarnya
([Link]
Distance Learning atau pembelajaran jarak jauh, adalah bidang pendidikan
yang berfokus pada pedagogi, teknologi, dan desain sistem instruksional yang
bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada para siswa yang tidak secara
fisik "di situs" di kelas tradisional atau kampus. Ini telah digambarkan sebagai
"suatu proses untuk membuat dan menyediakan akses untuk belajar ketika
sumber informasi dan peserta didik dipisahkan oleh waktu dan jarak, atau
keduanya". Dengan kata lain, pembelajaran jarak jauh adalah proses
menciptakan pendidikan pengalaman kualitas yang sama bagi pelajar terbaik
sesuai dengan kebutuhan mereka di luar kelas. Teknologi baru ini menjadi
banyak digunakan di universitas-universitas dan lembaga di seluruh dunia.
Dengan tren baru-baru ini kemajuan teknologi, pembelajaran jarak jauh
menjadi lebih diakui untuk potensialnya dalam memberikan perhatian
individual dan komunikasi dengan siswa internasional
([Link] diposkan oleh Febri Sabtio W di 2:44 PM,
di browsing 2 Mei 2016).
Sementara itu pengertian Distance learning menurut Haryono (2001)
mengetengahkan ada 6 (enam) unsur dasar pengertian dari distance learning
atau pendidikan jarak jauh, yaitu (Agus Lahinta, Seminar Internasional, ISSN
1907-2066)
o Terpisahnya dosen dan mahasiswa, karakteristik inilah yang membedakan
Distance Learning dari pendidikan konvensional.
o Adanya lembaga yang mengelola Distance Learning. Hal ini yang
membedakan orang yang mengikuti Distance Learning dari orang yang belajar
sendiri (self study).
o Digunakannya media sebagai sarana untuk menyajikan isi perkuliahan.
o Diselenggarakanya sistem komunikasi dua arah antara dosen dan
mahasiswa atau lembaga dan mahasiswa sehingga mahasiswa mendapatkan
manfaat darinya. Dalam hal ini mahasiswa dapat berinisiatif untuk terjadinya
komunikasi itu.
o Pada dasarnya Distance Learning bersifat pendidikan individual.
Pertemuan tatap muka untuk melengkapi proses pembelajaran berkelompok
maupun untuk sosialisasi dapat bersifat keharusan (compulsory), pilihan
(optional), ataupun tidak sama sekali tergantung kepada organisasi
penyelenggaranya.
Selanjutnya Greenberg (1998) mendefinisikan pembelajaran jarak jauh
sebagai "sebuah rencana pengajaran/pengalaman belajar yang menggunakan
spektrum yang luas dari teknologi untuk menjangkau peserta didik di
kejauhan dan dirancang untuk mendorong interaksi peserta didik belajar dan
sertifikasi". Sedangkan Teaster dan Blieszner (1999) berpendapat "istilah
pembelajaran jarak jauh telah diaplikasikan ke berbagai metode
instruksional". Proses distance learning bisa secara synchronous, di mana
pengajar dan peserta didik dapat berinteraksi dalam waktu yang sama
walaupun tidak dalam satu tempat, seperti contohnya teleconference.
Sedangkan Asynchronous, peserta didik berinteraksi dapat pada waktu yang
tidak sama dan tempat yang tidak sama juga, contohnya media Compact-disk
(CD), dan e-learning. Distance learning juga dapat memperluas jangkauan
dan jumlah peserta didik (Kozlowski, 2002) ([Link]
[Link]/2012/06/[Link], diposkan oleh widhia
maudu'ah di 02.01, di browsing 2 Mei 2016).
Dari definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa distance learning adalah
merupakan bentuk pengembangan dari proses pembelajaran konfensional
yang diakibatkan oleh adanya perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi, dimana proses penyampaian bahan ajar kepada peserta didik
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sehingga proses
pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik dengan pengajar, tidak
mengharuskan saling berhadapan secara langsung pada suatu tempat atau
suatu waktu tertentu.
B. Sejarah Distance Learning
Sistem pendidikan jarak jauh pada awalnya berbentuk pendidikan
koresponden yang mulai dikenal sekitar tahun 1720- an sebagai suatu bentuk
pendidikan orang dewasa. Proses pembelajarannya menggunakan bahan
cetak yang dikenal dengan self-instruksional texts dan dikombinasikan
dengan komunikasi tertulis antara pengajar dan siswa. Dalam
perkembangannya istilah pendidikan koresponden dianggap terlalu sempit.
Kemudian muncul istilah independent study (belajar mandiri), home study
(belajar di rumah) dan external study (belajar di luar sekolah). Baru pada
tahun 1970-an, bersamaan dengan berdirinya Open University di Inggris,
istilah pendidikan jarak jauh menjadi populer dan penggunaannya mencakup
pendidikan korespondensi, independent study, home study dan external study
([Link]
“Distance learning” dikembangkan pertama kali di Amerika Serikat, Perancis,
Jerman, dan Inggris pada pertengahan tahun 1800. Pada tahun 1840, Sir Isac
Pitman mengajar jarak jauh menggunakan surat. Dan pada tahun 1980 an,
International Correspondence Schools (ICS) membangun metode perkuliahan
“home-study courses” yang pada saat itu dikarenakan faktor kemananan pada
era itu. Pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kategori :
([Link]
[Link])
1. Sistem berbasis video mulai muncul tahun 1960-an dimana ketika itu
merupakan era meluasnya kepemilikan televisi. Dengan merekam materi
belajar ke dalam kaset video dan diputar pada stasiun-stasiun televisi, sistem
ini memiliki jangkauan geografis yang cukup besar. Salah satu kelemahan
sistem ini adalah kurangnya interaksi dan komunikasi dua arah antara
pengajar dan peserta.
2. Sistem berbasis data dapat kita klasifikasikan dalam dua kategori :
groupware dan internet. Pada groupware, biasanya menggunakan perangkat
lunak yang termasuk dalam kategori computer-supported coorperative (cscw),
dimana melalui perangkat lunak ini, sudah tersedia layanan seperti electronic
messaging, data conferencing, dan messaging gateways.
C. Prinsip Distance Learning
Untuk pembuatan program ini dititikberatkan pada prinsip-prinsip
pendidikan jarak jauh, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Prinsip Kemandirian
Prinsip ini diwujudkan dengan adanya kurikulum yang memungkinkan dapat
dipelajari secara independent learning, pebelajar dihadapkan pada pilihan
yang terbaik bagi dirinya sendiri, dari mulai pembentukan kelompok belajar,
program pendidikan yang digunakan, pola belajar yang disukai, mengunakan
sumber belajar yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Penyelesaian program
yang ditentukan sendiri oleh pebelajar. Bahan-bahan pelajaran yang
disediakan berupa paket-paket yang dapat dipilih oleh pebelajar, yang
didukung oleh pembimbing atau tutorial dan ujian yang dirancang dengan
pendekatan belajar tuntas. Pebelajar belajar dengan mandiri dengan sesedikit
mungkin melakukan pertemuan dengan tutor yang bersangkutan.
b. Prinsip Keluwesan
Prinsip ini diwujudkan dengan dimungkinkannya peserta didik untuk
memulai, mencari sumber belajar, mengatur jadwal dan kegiatan belajar,
mengikuti ujian dan mengakhiri pendidikannya di luar ketentuan waktu dan
tahun ajaran. Dikatakan luwes, pebelajar dimungkinkan untuk berpindah dari
pendidikan formal ke pendidikan non-formal atau sebaliknya dari pendidikan
non-formal ke pendidikan formal.
c. Prinsip Keterkinian
Prinsip ini diwujudkan dengan tersedianya program pembelajaran yang pada
saat ini diperlukan (just-in-time). Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan
dan pelatihan konvensional yang program atau kurikulumnya termasuk buku-
buku yang tersedia, dirancang untuk mengantisipasi keperluan masa
mendatang (just-in-case). Kecepatan untuk memperoleh informasi yang baru
merupakan suatu peluang untuk dapat bertahan dan berkembang dalam
persaingan bebas.
d. Prinsip Kesesuaian
Prinsip ini terwujud dengan tersedianya sumber belajar yang terkait langsung
dengan kebutuhan pribadi maupun tuntutan lapangan kerja atau kemajuan
masyarakat. Sumber belajar tersebut bobotnya harus setara dengan
kompetensi yang diperlukan, tetapi disajikan dalam bentuk yang sederhana
yang dapat dipelajari sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Prinsip ini
disesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakang pebelajar.
e. Prinsip Mobilitas
Prinsip ini diwujudkan dengan adanya kesempatan bagi pebelajar untuk
berpindah lokasi, jenis, jalur dan jenjang pendidikan yang setara setelah
memenuhi kompetensi yang diperlukan.
f. Prinsip Efisiensi
Prinsip ini diwujudkan dengan pendayagunaan berbagai macam sumber daya
dan teknologi yang tersedia seoptimal mungkin. Pemberdayaan segala sumber
disekeliling pebelajar akan membantu pebelajar untuk dapat menggunakan
sumber tersebut sebanyak mungkin, sehingga pebelajar tidak merasa
kerepotan mengenai sumber belajarnya.
D. Karakteristik atau pola dalam Distance Learning
Berikut penjelasan pola pendidikan jarak jauh : (Supradono, B., 2009)
1. Sistem pendidikan yang pelaksanaannya memisahkan dosen dan
mahasiswa. Sesuai dengan namanya, pendidikan jarak jauh secara nyata
memisahkan dosen dan mahasiswanya baik dari dimensi jarak maupun
waktu. Peserta didik hanya terikat dengan instansi pendidikan yang
menaunginya secara administratif. Seorang peserta didik hanya cukup
terdaftar di sebuah instansi pendidikan sedangkan proses belajar mengajar
tidak lagi berada dalam sebuah kampus layaknya pendidikan konvensional
seperti saat ini.
2. Penggunaan media pendidikan untuk menyatukan dosen dan mahasiswa.
Karena pembelajaran lebih cenderung menggunakan media eLearning seperti
media cetak, audio, video, dan komputer. Peserta didik juga akan
mendapatkan paket modul yang berupa bukubuku maupun modul digital
yang berisi materi-materi yang harus dipelajari. Materi yang disajikan dalam
modul-modul tersebut sama persis dengan apa yang diperoleh para peserta
didik metode konvensional. Karena hampir tidak adanya peran dosen atau
dosen dalam proses belajarnya, sebagai gantinya, maka modul-modul yang
diperoleh nantinya diharapkan lebih variatif, inovatif, dan atraktif.
3. Pembelajaran yang bersifat mandiri. Pendidikan konvensional yang ada
seperti saat ini lebih menampakkan dominasi tenaga pendidik baik dosen
maupun dosen. Campur tangan yang absolut tampak pada saat penyusunan
jadwal pelajaran. Jadwal pelajaran membuat peserta didik menjadi “korban
pendiktean” instansi pendidikan. Peserta didik terkesan “dipaksa” untuk
belajar sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. Peserta didik hampir tidak
dapat belajar menyusun jadwal mereka sendiri. Dengan adanya distance
learning, peserta didik dapat dengan leluasa menyusun jadwal mereka sendiri.
Selain urutan mata pelajaran yang akan dipelajari, peserta didik juga dapat
dengan leluasa menentukan kapan waktunya belajar. Seperti diketahui saat ini
dimana tidak sedikit peserta didik yang melakukan kerja sambilan yang
kebanyakan mengorbankan proses belajar mengajar di kampus atau
sekolahnya. Hal ini jelas sangat tidak baik dan mengancam masa sekolah atau
kuliahnya dan ketaatan kalender akademik. Dengan distance learning, peserta
didik dapat menentukan sendiri waktu belajar dan bekerjanya tanpa harus
mengorbankan salah satu dari keduanya, yang terpenting penyelenggra
pendidikan patuh pada kalender akademik dan pelaporan ke DIKTI.
4. Komunikasinya dua arah, baik yang disampaikan secara langsung
(synchronuous) maupun secara tidak langsung (asynchronuous). Komunikasi
dengan tatap muka pada distance learning sama konsepnya seperti pada
pembelajaran konvensional. Komunikasi tanpa tatap muka dilakukan dengan
menggunakan bantuan media, surat kertas atau digital (e-mail), telepon, dan
media pendukung lainnya.
5. Sistem pembelajarannya dilakukan secarasistemik (terstruktur), teratur
dalam kurunwaktu tertentu. Kadang-kadang juga pertemuan antara dosen
dan mahasiswa, baik dalam forum diskusi, tutorial, atau dengan pertemuan
tatap muka (residential class) yang terstruktur sesuai Satuan Acara
Perkuliahan (SAP). Namun pada dasarnya, pertemuan tatap muka tetap tidak
boleh mendominasi pelaksanaan pendidikan. Dominasi tatap muka dalam
pelaksanaan pendidikan mengindikasikan adanya ketergantungan yang
sangat besar dari seorang peserta didik dengan tenaga pendidiknya.
6. Paradigma baru yang terjadi dalam distance learning adalah peran dosen
yang lebih bersifat "fasilitator" dan mahasiswa sebagai "peserta aktif" dalam
proses belajarmengajar. Karena itu, dosen dituntut untuk menciptakan teknik
mengajar yang baik, menyajikan bahan ajar yang menarik, sementara
mahasiswa dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar. Kejelasan
peran dosen dan mahasiswa tidak begitu tampak dalam sistem pendidikan
konvensional saat ini. Pada sistem konvensional, dosen mayoritas berperan
sebagai sumber dari segala sumber yang pada akhirnya menimbulkan
ketergantungan mahasiswa pada dosennya. Mahasiswa kurang aktif untuk
mencari tambahan materi sendiri. Mahasiswa lebih terkesan selalu didikte
oleh dosen mereka.
Distance Learning dengan bantuan teknologi internet juga dapat menyajikan
pelajaran dengan cara yang menarik. Merill dalam Regeluth (1983)
mengemukakan bahwa dalam mengajar ada empat langkah utama yang
dilakukan dosen yaitu:
(1) pemberian pelajaran;
(2) pemberian contoh;
(3) pemberian latihan;
(4) pemberian umpan balik atau feedback yang berfungsi sebagai re-
informcement.
Dari berbagai faktor yang disebutkan diatas Purbo (2002) mensyaratkan 3
(tiga) hal yang wajib dipenuhi dalam merancang Distance Learning agar
supaya menghasilkan Distance Learning yang menarik dan diminati, yaitu
a. Sederhana; Sistem yang sederhana akan memudahkan mahasiswa dalam
mengunakan teknologi dan menu-menu yang ada atau dengan kata lain
sistem yang dibuat benar-benar user friendly, sehingga waktu belajar dari
mahasiswa dapat diefisiensikan untuk proses belajar.
b. Personal; Syarat personal adalah peserta didik merasakan seolah berada
di kelas nyata, hal ini dengan pembuatan sarana pendukung yang membuat
mahasiswa betah duduk berlama-lama di depan layar monitor dengan
aktifitas belajar.
c. Cepat; Sementara itu syarat kecepatan adalah kecepatan akses dari
internet itu sendiri juga feedback dari dosen untuk hal-hal yang ditanyakan
secara online atau lewat individual contact (e-mail) oleh peserta didik. Dengan
demikian perbaikan pada pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin
oleh dosen atau administrator.
(Agus Lahinta, ____ Seminar Internasional, ISSN 1907-2066).
Secara singkat Distance Learning perlu diciptakan seolah-olah mahasiswa
tetap belajar secara konvensional, hanya saja terjadi pergeseran dari sistem
analog ke sistem digital melalui bantuan teknologi internet. Oleh karena itu
Distance Learning tetap perlu mengadaptasi unsur-unsur yang bisanya terjadi
atau dilakukan pada kelas konvensional. Dan keterlibatan berbagai unsur
dalam perumusan menjadi suatu keharusan untuk terciptanya sistem yang
sempurna bagi dosen, mahasiswa dan lembaga.
Menurut Wolf (1996), untuk menyelenggarakan pendidikan atau pelatihan
jarak jauh harus memperhatikan tahapan berikut ini:
1. Programming (menentukan/mrencanakan program)
2. Course Development (pengembangkan mata kuliah/subjek pelatihan atau
kursus)
3. Pendekatan kurikulum, materi dan didaktik
4. Evaluasi dari kualitas media/bahan ajar
5. Pemanfaatan media elektronik
6. Produksi dan distribusi dari dari mata kuliah/subjek kursus.
E. Jenis program Distance Learning
Ada dua jenis Distance Learning, yaitu: ([Link]
1. Sinkron( Synchronous ).
Teknologi Synchronous adalah cara persalinan online dimana semua peserta
adalah "hadir" pada saat yang sama membutuhkan jadwal yang akan
diselenggarakan. Web conferencing adalah contoh teknologi sinkron.
2. Asinkron( Asyncronous).
Teknologi Asynchronous adalah cara persalinan online di mana peserta
kursus materi akses pada jadwal mereka sendiri. Siswa tidak perlu bersama-
sama pada waktu yang sama. forum papan pesan, e-mail dan video yang
direkam adalah contoh teknologi asynchronous.
Adapun program jenis-jenis program dari distance learning, antara lain
yaitu: ([Link]
1) Correspondence dilakukan melalui surat biasa
2) Internet dilakukan baik sinkron atau asynchronous
3) Telecourse / Penyiaran, di mana konten yang disampaikan melalui radio
atau televise
4) CD-ROM, di mana siswa berinteraksi dengan konten komputer disimpan
pada CD-ROM
5) PocketPC / Mobile Belajar dimana mahasiswa mengakses isi kursus yang
tersimpan pada perangkat mobile atau melalui server nirkabel
6) Pembelajaran jarak jauh Terpadu, integrasi hidup, pengajaran dalam
kelompok atau interaksi dengan kurikulum pembelajaran jarak jauh
F. Manfaat Distance Learning
Beberapa manfaat dari pada sistem pembelajaran Distance Learning yaitu
(Verduin, J.R. & Clark, T.A.,1991, dalam Salim, K., dan Tiawa, DH., 2014);
1. Memungkinkan terjadinya pemerataan kualitas pendidikan (Ali, M.,
2004), terutama untuk pulau-pulau terpencil.
2. Kapasitas dan waktu yang tidak terbatas, di mana dapat menampung
jumlah siswa berapa saja dan siswadapat belajar bila-bila waktu, sesuai
dengan undang-undang yang sudah ditetapkan, siswa dapat mengulang
kembali pelajaran yang belum di fahami.
3. Siswadapat memilih topik pembelajaran sesuai dengan keperluan dan
kemampuannya untuk menguasai materi pembelajaran.
4. Materi pembelajaran mudah diperbaharui dalam bentuk softcopy
dandapat lebih efektif untuk pekerjaan yang berulang-ulang.
5. Pembelajaran jarak jauh dengan e-education dapat dilaksanakan secara
interaktif atau chating sehingga dapat menarik perhatian dan motivasi siswa.
Menurut Soekartawi (2005), ada beberapa manfaat dari pembelajaran jarak
jauh (distance learning), diantaranya adalah:
([Link]
[Link])
1. Pembelajaran dapat dilakukan dengan sifat terbuka, fleksibel dan tidak
terbatas oleh waktu. Lama waktu belajar juga bergantung pada kemampuan
masing-masing pembelajar. Pembelajar dapat menentukan kapan saja waktu
untuk belajar, sesuai dengan ketersediaan waktu masing-masing. Kalau si
pembelajar telah mencapai tujuan pembelajaran, ia dapat menghentikannya.
Sebaliknya, apabila si pembelajar masih memerlukan waktu untuk
mengulangi kembali subjek pembelajarananya, dia bisa langsung
mengulanginya tanpa tergantung pada pembelajar lain atau pengajar.
Mengingat, materi pembelajaran disimpan dalam komputer, berarti materi itu
mudah diperbarui sesuai dengan perkembangan iptek. Kaum pembelajar
dapat menanyakan hal-hal yang kurang dipahami secara langsung kepada
pengajar, sehingga keakuratan jawaban dapat terjamin.
2. Membantu interaksi antara murid yang berada di daerah terpencil dan
pengajar / instrukturnya dengan diadakannya pertemuan berkala;
3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas untuk meningkatkan
pemerataan pendidikan. Dimungkinkan terjadinya distribusi pendidikan ke
semua penjuru Tanah Air dengan kapasitas daya tampung yang tidak terbatas,
karena tidak memerlukan ruang kelas. Guru dan murid tidak perlu bertatap
muka secara langsung dalam ruang kelas, karena yang digunakan adalah
fasilitas komputer yang dihubungkan dengan internet atau intranet. Sehingga,
dengan belajar seperti ini akan mengurangi biaya operasional pendidikan,
seperti biaya pembangunan dan pemeliharaan gedung, transportasi,
pemondokan, kertas, alat tulis dan sebagainya.
4. Mengurangi angka putus sekolah atau putus kuliah.
5. Meningkatkan prestasi belajar, khususnya bagi murid yang mengalami
hambatan secara geografis karena jauh dari lokasi pembelajaran;
6. Meningkatkan rasa percaya diri bagi peserta didiknya;
7. Meningkatkan wawasan keilmuan yang tidak terbatas lagi oleh jarak,
waktu, maupun usia. Pembelajar dapat memilih topik atau bahan ajar sesuai
dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing. Hal ini sangat baik karena
dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Seperti diyakini kaum
pendidik, bahwa pembelajar akan sangat efektif manakala sesuai dengan
keinginan dan kebutuhan peserta didik.
8. Mengatasi kekurangan tenaga pendidikan.
G. Kelebihan dan Kekurangan Distance Learning
Kelebihan Distance Learning
Berdasarkan hasil penelitian Kalbin Salim dan Dayang Hjh Tiawa (2014) yang
berjudul “Teknologi Distance Learning Berbasis e-Education di Wilayah
Kepulauan Riau Indonesia” didapatkan hasil pendidikan dengan sistem
distance learning menggunakan e-education dapat menghemat biaya
pendidikan lebih efektif daripada pembelajaran e-learning konvensional yaitu
60% - 80 %, untuk kepulauan Riau. Keuntungan lain juga daripada e-
education ini adalah dapat mengurangi anggaran operasional seperti
pelatihan guru dan biaya transportasi, akomodasi terutama biaya perjalanan
laut yang jauh lebih mahal. Sistem administrasi juga dapat dihematkan,
untuk mengelola administrasi tidak perlu banyak tenaga, dengan beberapa
orang saja sebagai “admin” dapat melaksanakan kerja seperti pengurusan
pendaftaran, mengatur modul-modul pembelajaran sampai kepada sistem
pembayaran sumbangan pendidikan dan penggajian tenaga guru.
Berikut akan diuraikan lebih rinci keuntungan yang diperoleh dari sistem
pembelajran jarak jauh, khususnya berbasis web ini antara lain :
1) Menghemat biaya
Teknologi yang menggunakan sistem distance learning ini akan lebih
menghemat 40-60% biaya pendidikan pada sistem kelas tradisional. Sistem
ini akan mengurangi biaya-biaya utama yang harus dikeluarkan baik siswa,
dosen, dan kampus. Biaya yang dihemat antara lain pada :
? Biaya Perjalanan, hampir 40% biaya pendidikan adalah pada biaya
perjanlalan ., yang antara lain digunakan untuk membayar transportasi bis,
taxi, parkir, makan, dan lain sebagainya.
? Biaya Fasilitas dan Penyelenggaraan, sistem distance learning berbasis web
ini akan mengemat biaya untuk penyediaan fasilitas kelas seperti meja, kursi,
whiteboard, dan berbagai macam kebutuhan kelas lainnuya. Dengan
menggunakan virtual library, simulasi, dan sistem on-line akan mengurangi
biaya yang harus dikeluarkan oleh kampus sebagai penyelenggara pendidikan.
? Biaya Administrasi, dengan sistem ini administrasi kampus akan lebih
mudah dan ringan. Pekerjaan bagi seorang administrasi seperti : pendaftaran
mahasiswa, penyebaran dan penyediaan materi kuliah, pengaturan penilain,
pengumpulan saran-saran, dan lain sebagainya tidak perlu dilakukan secara
manual.
? Biaya Gaji, seorang pekerja atau dosen akan dibayar sesuai dengan lama
waktu yang dibutuhkan untuk proses mengajar. Meskipun waktu proses
belajar mengajar sistem Distance learning berbasis web dengan sistem kelas
tradisional hampir sama, tetapi biaya yang digunakan untuk biaya
transportasi dan akomodasi akan terkurangi. Sebagai contoh seorang dosen
yang mengajar untuk tiga hari pertemuan, tetapi dia diasumsikan
mebutuhkan waktu lima hari untuk berangkat dan kepulangan. Dengan
sistem ini biaya tiga hari kuliah akan dibayar tiga hari gaji. MCI WorldCom
University telah menggunakan sistem training secara on-line dan telah
menghemat biaya sebesar $2.68 million USD pada tahun 1998, yang
digunakan untuk travel, penyediaan fasilitas, gaji ($ 1500 per siswa), dan
pengemabngan infrastruktur lainnya.
2) Memperbaiki Sistem Pengajaran
Meskipun sebuah sistem baru, implementasi distance learning ini dalam
proses pengajaran sangat banyak, antara lain :
? Memperbanyak aktifitas siswa
Dengan sistem ini akan menuntut siswa untuk lebuh aktif . Siswa tidak hanya
duduk dan medengarkan saja, tetapi dia akan lebih aktif dan harus bepikir.
Siswa akan lebih mengontrol sistem pembelajarannya sendiri. Dengan kondisi
ini maka siswa akan merasa lebih bertanggung jawab dan belajar secara
efektif.
? Memperluas dalam perolehan sumber data dan sumber pengetahuan
(knowledge resource)
Dengan terkoneksi internet secara global maka siswa dapat mengeksplorasi
sendiri sumber-sumber data untuk dipelajari dan dianalisis. Internet yang
menyipan berjuta-juta informasi dapat menjadi media perpustakaan bagi
siswa.
? Kerjasama
Dengan menggunakan discussion board maka siswa dapat saling
berkomunikasi untuk berdiskusi, berdebat, dan saling bertuka pikiran dengan
sesama siswa, dosen, bahkan orang luar secara global menggunakan koneksi
internet.
? Lebih nyaman
Dari berbagai penelitian dipeoleh data bahwa sekitar 81% siswa merasa lebih
nyaman menggunakan sistem pembelajran jarak jauh ini. Mereka lebih
memiliki keberanian untuk bertanya kepada instruktur dan mendapatkan
jawaban dari permasalahan mereka sesuai kebutuhan mereka.
? Kebebasan siswa dan Universalitas
Distance learning ini mampu menyesiakan dengan berbagai type siswa dan
personalitas seperti : kecepatan berpikir, masalah bahasa (verbal), akititas
siswa, introvet/ekstrovet, dan lain sebagainya. Semua siswa akan merasa
diperlakukan sama. Dengan demikian siswa akan lebih merasa bebas dan
mampu berkonsentrasi kepada proses belajarnya daripada harus
mempermasalahkan masalah sosial yang muncul. Cukup menggunakan
sandal dan piyama siswa dapat mengikuti proses belajar.
Dengan metode ini siswa dapat menentukan langkah-langkah pembelajaran
dan penjadwalannya (schedule). Seorang siswea dapat belajar dengan waktu
yang lama, dimana seharusnya dalam sebuah perkuliahan membutuhkan
waktu beberapa jam. Dan dia dapat mengulangi pelajaran kapan pun bila
mungkin mengalami sebuah kesulitan atau mungkin begitu tertarik terhadap
mata kuliah tersebut. Hal ini akan memberikan sisi positif terhadap siswa
yaitu menciptakan rasa bertanggung jawab dan disiplin pribadi terhadap apa
yang telah dilakukan.
? Kemudahan Pengajar
Seorang instruktur akan lebih mudah mengajar karena dia dapat
memeberikan materi kuliah dari mana saja dengan sebuah koneksi internet.
Dengan demikian akan megurangi biaya transportasi seorang instruktur dan
menghemat waktu. Dan seorang instruktur dapat melakukan penilaian
aktivitas siswa, nilai mid, ujian akhir secara penilaian otomatis yang dibuat
pada sistem pembelajaran jarak jauh ini.
? Materi kuliah yang lebih dinamis
Seorang instruktur dapa menambah mata kuliah kapan pun dengan cepat. Dia
dapat mengirimkan materi dari rumah ketika dia tadi lupa memberikan kuliah
ataupun ketika dia mempunyai sebuah inspirasi baru tentang materi kuliah.
Dengan demikian maka informasi materi kuliah dapat up to date.
? Skalabilitas yang lebih luas
Dengan menggunakan perkuliahan berbasis web ini, maka masalah
skalabilitas terhadap jumlah siswa (participant) tidak menjadi masalah lagi,.
Jumlah 10 atau 100 siswa pun tetap sama bagi seorang dosen dalam
mengajar, sehingga energi yang dikeluarkan untuk mengjar akan menjadi
lebih kecil.
? Membentuk sebuah komunitas
Dengan Web orang mampu membuat komunitas yang mana orang dapat
bertukar pikiran dan ilmu pengetahuan dengan mudah dan kapan saja.
Sehingga orang dapat berinteraksi satu sama lain., dengan demikian akan
menjadikan sisi humanisme dai teknologi ini.
Kekurangan Distance Learning:
Disamping adanya banyak manfaat yang diberikan oleh model belajar
distance learning, ada juga kelemahan yang dimilikinya seperti berikut ini:
([Link]
[Link], di pos-kan oleh Rista Ayustri di 16.49, di browsing 2 Mei
2016)
1. Biaya infrastruktur yang mahal menyebabkan imbas pada biaya
pendaftaran calon peserta didik yang juga menjadi mahal.
2. Interaksi antara peserta didik dan pengajar terbatas. Kesulitan mendapat
penjelasan pengajar/fasilitator yang sesegera mungkin apabila pelajar
mendapatkan [Link] harus menunggu pengajar untuk membuka
internetnya.
3. Sulitnya menerapkan pembelajaran jarak jauh berbasis TIK bagi daerah
yang masih belum terjangkau listrik, atau belum tersentuh teknologi
komputer sama sekali.
4. Tingginya kemungkinan gangguan belajar. Karena sifat cara pendidikan
jarak jauh ini merupakan belajar mandiri, sehingga kemungkinan terjadi
gangguan selama belajar sangat mungkin, hal ini bergantung pada motivasi
masing-masing pembelajar. Demikian pula dengan kemungkinan terhentinya
program pembelajaran.
5. Pemahaman pembelajar terhadap bahan ajar. Bisa saja terjadi kesalahan
visi dan persepsi terhadap tujuan yang ditentukan. Si pembelajar merasa
bahwa dia telah mencapai tujuan pembelajaran; sedangkan
pengajar/fasilitator masih menganggap belum tercapai sepenuhnya. Tetapi,
kesalahan visi dan persepsi ini dapat ditanggulangi, karena setiap akhir paket
pembelajaran diadakan evaluasi dan refleksi.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dampak negatif dari Proses
Distance Learning (Pembelajaran Jarak Jauh) sebagai berikut :
1. Memberikan motovasi kepada pelajar agar memiliki rasa ingin tahu dan
semangat belajar dengan cara memberikan tugas-tugas secara online,dengan
bobot yang sesuai denga pelajar tersebut.
2. Memberikan waktu kepada pelajar unuk bertanya apa yang kurang iya
pahami dibantu dengan membuka Internet atau media informasi secara
online.
3. Dengan mengadakan Evaluasi dan Refleksi disetiap ahir paket
pembelajaran
H. Kesimpulan
Dari pembahasa yang telah dilakukan di atas, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Distance learning (DL) diartikan sebagai pendidikan yang peserta
didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai
sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain
2. “Distance learning” dikembangkan pertama kali di Amerika Serikat,
Perancis, Jerman, dan Inggris pada pertengahan tahun 1800. Pada tahun
1840, Sir Isac Pitman mengajar jarak jauh menggunakan surat. Dan pada
tahun 1980 an, International Correspondence Schools (ICS) membangun
metode perkuliahan “home-study courses” yang pada saat itu dikarenakan
faktor kemananan pada era itu.
3. Prinsip-prinsip pendidikan jarak jauh, diantaranya adalah kemandirian,
keluwesan, keterkinian, kesesuaian, mobilitas, dan efisiensi.
4. Pola pendidikan jarak jauh, antara lain: pelaksanaannya memisahkan
antara siswa dan pendidik, penggunaan media yang menyatukan siswa dan
pendidik, pembelajaran bersifat mandiri, komunikasi dua arah, sistimnya
terstruktur, dan guru lebih bersifat fasilitator sementara siswa sebagai
peserta aktif.
5. Berbagai jenis program distance learning, antara lain: Correspondence,
Internet, Telecourse / Penyiaran, CD-ROM, PocketPC / Mobile Belajar dan
Pembelajaran jarak jauh Terpadu
6. Berbagai kelebihan metode mengajar distance learning, diantaranya:
memungkinkan pemerataan pelayanan pendidikan dengan biaya murah, dan
memperbaiki sistim pengajaran. Sementara itu kekurangan metode distance
learning di antaranya adalah biaya infrastruktur yang mahal, Interaksi antara
peserta didik dan pengajar terbatas, sulitnya menerapkan pembelajaran jarak
jauh berbasis TIK bagi daerah yang masih belum terjangkau listrik, tingginya
kemungkinan gangguan belajar, dan pemahaman pembelajar terhadap bahan
ajar.
DAFTAR PUSTAKA
1. Salim, K., dan Tiawa, H.J. 2014. Teknologi Distance Learning Berbasis
e-Education di Wilayah Kepulauan Riau Indonesia. Proseding, ISBN: 978-
979-16353-6-3 (dipresentasikan pada Seminar Nasional Matematika dan
Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Feberuari 2014)
2. Supradono, B., 2009. Perancangan Pengembangan Komprehensif
Sistem Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning) di Institusi Perguruan
Tinggi yang Berbasis E-Learning. Media Elektrika, Vol. 2 No. 2, 2009: 31-36
3. Lahinta, Agus. ______. Berbagai Model Inovasi Pembelajaran dengan
Dukungan Teknologi Informasi. Peran LPTK Dalam Pengembangan
Pendidikan Vokasi di Indonesia. Seminar Internasional, ISSN 1907-2066.
4. [Link]
learning/
5. [Link]
[Link]
6. [Link]
[Link]
7. [Link]
[Link].
8. ([Link] diposkan oleh Febri Sabtio W di
2:44 PM, di browsing 2 Mei 2016).
9. ([Link] [Link]/2012/06/distance-
[Link], diposkan oleh widhia maudu'ah di 02.01, di browsing 2 Mei
2016).
10. ([Link]
11. ([Link]
12. ([Link]