- Masalah yang Terjadi Disekitar Remaja –
Masalah Seksualitas
Masuknya masa remaja, organ-organ reproduksi dan hormon-hormon seksual mulai
berfungsi. Hormon tersebut yang menjadi penyebab munculnya dorongan seksual. Bentuk dari
perkembangan dorongan seksual biasanya diekspresikan sebagai rasa tertarik terhadap lawan
jenis. Pada saat remaja, mereka sudah dapat terdorong untuk mendapatkan kepuasan seksual dan
menjadi lebih sadar terkait sensasi seksualnya dibandingkan saat masih anak-anak. Hasrat
seksual diwujudkan dalam bentuk perilaku mulai dari saling lirik, berpegangan tangan, memeluk,
mencium bahkan melakukan hubungan seksual. Sehingga, semua kegiatan yang bertujuan dalam
mencapai suatu kepuasan seksual dinamakan dengan seksualitas.
Menurut Sarwono (2014), seksualitas merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh
hasrat seksual, baik itu terhadap lawan jenis ataupun sesama jenis. Seksualitas ini memiliki
bentuk-bentuk yang bervariasi dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu
dan bersenggama. Obyek seksualnya dapat berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri
sendiri.
Moeliono (2014) mengemukakan tindakan seksual remaja dipengaruhi oleh faktor
internal yaitu mencakup pengetahuan, sikap, dan kepribadian. Kemudian mencakup faktor
eksternal juga seperti lingkungan tempat remaja tersebut tinggal. Laksmiwati (1999)
menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi seksualitas remaja secara umum yaitu
faktor yang berasal dari dalam diri remaja itu sendiri dan faktor yang berasal dari lingkungan
sekitar remaja. Artinya, faktor yang berasal dari dalam diri remaja berupa kurangnya
pengetahuan dan sikap serba boleh (permissif) remaja terhadap seksualitas, sedangkan faktor dari
luar terdiri dari keluarga, teman sebaya dan media massa.
Sarwono (2014) mengemukakan terkait faktor-faktor yang menimbulkan masalah
seksualitas, sebagai berikut:
a) Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Sehingga
peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku
seksual tertentu.
b) Penyaluran akan hasrat seksual tidak dapat segera dilakukan, diakibatkan oleh adanya
penundaan usia perkawinan, baik secara hukum ataupun norma sosial.
c) Setelah mendapatkan penundaan karena usia kawin, norma-norma agama tetap berlaku.
Artinya seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum adanya ikatan
pernikahan.
1
d) Kecenderungan pelanggaran semakin meningkat karena adanya penyebaran informasi
dan rangsangan seksual melalui media massa, maka tidak lepas dengan adanya
tekonologi yang canggih dan menjadi tidak terbendung. Ketika remaja menjadi ingin tahu
dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa,
sebab mereka pada umumnya belum pernah mengetahui terkait masalah seksualitas
secara lengkap dari orang tuanya.
e) Orang tua sendiri, karena ketidaktahuan maupun masih menganggap tabu terkait
pembicaraan mengenai seks dengan anak.
f) Pergaulan semakin bebas yang terjalin antara pria dan wanita dalam masyarakat,
dikarenakan berkembangnya peran dan pendidikan wanita, maka kedudukan wanita
semakin sejajar dengan pria.
Menurut Santrock (2007) masalah-masalah seksual remaja meliputi kehamilan remaja,
infeksi yang ditularkan secara seksual, dan pelecehan seksual.
A. Kehamilan Remaja
Para remaja perempuan yang hamil dapat terjadi pada berbagai kelompok etnik dan tempat yang
berbeda-beda, tetapi lingkungan kehidupan mereka memunculkan tekanan yang sama. Sebagian
besar orang dewasa merupakan representasi dari struktur sosial Amerika yang rusak. Tercatat
lebih dari 200.000 perempuan di Amerika Serikat memiliki anak sebelum mencapai usia 18
tahun.
Berdasarkan studi lintas-budaya terdapat tiga penyebab, yaitu:
a) Melahirkan anak dipandang sebagai aktivitas orang dewasa. Bahwa negara-negara Eropa
menyepakati terkait melahirkan anak merupakan tugas masa dewasa, seperti setelah
menyelesaikan pendidikan, telah bekerja dan mandiri dari orang tuanya dan menjalani
relasi yang stabil.
b) Pesan yang jelas mengenai perilaku seksual. Para orang dewasa di negara-negara lain
sangat menyarankan untuk para remaja menunda memiliki anak hingga mencapai
kehidupan mapan, tetapi berbeda di Amerika yaitu lebih menerima para remaja
melakukan hubungan seksual. Di Prancis dan Swedia, ekspresi seksual yang dilakukan
remaja dipandang sebagai hal yang normal dan positif, meskipun demikian tetap
diharapkan agar hubungan seks terjadi dalam relasi yang sudah memiliki suatu
komitmen. Kecenderungan kuat yang lainnya adalah harapan bahwa mereka ketika
berhubungan seks melakukan langkah-langkah untuk melindungi dirinya ataupun
pasangannya dari kehamilan dan infeksi yang dapat ditularkan secara seksual.
c) Akses untuk layanan keluarga berencana. Negara-negara yang lebih menerima terkait
relasi seksual remaja, maka remaja memiliki akses yang mudah dalam memperoleh
layanan kesehatan reprodukitf. Secara umum, para remaja (di negara-negara lain)
mengetahui mengenai tempat yang dapat membantu mereka dalam memperoleh
informasi, layanan dan perawatan yang rahasia yang tidak bersifat menghakimi.
2
B. Infeksi yang Menular Secara Seksual
Infeksi menular seksual atau sexually transmitted infection (STI) utama ditularkan
melalui kontak seksual. Kontak di sini tidak hanya sebatas hubungan seksual namun juga kontak
genital-oral. Pada tahun 2004 diperkirakan terdapat 19 juta kasus baru terkait STI, lebih banyak
dibandingkan dengan 9 juta kasus dengan remaja berusia 15 sampai 24 tahun. Di antara STI
yang dialami remaja, adanya tiga STI yang diakibatkan oleh virus, yaitu AIDS (acquired
immune deficiency syndrome), herpes genital dan kutil genital. Sedangkan yang disebabkan oleh
infeksi bakteri yaitu gonorrhea, sifilis dan chlamydia.
C. Kekerasan Seksual dan Pelecehan Seksual
Pada sebagian besar orang memilih melakukan hubungan seksual ataupun aktivitas
seksual lainnya, tetapi adanya sejumlah orang memaksakan orang lain untuk melakukan
hubungan seksual. Terdapat begitu banyaknya remaja perempuan dan perempuan muda yang
melaporkan terkait dirinya yang tidak memiliki hak-hak seksual yang memadai (East & Adams
dalam Santrock, 2007). Yaitu meliputi hak untuk menolak melakukan hubungan seksual ketika
mereka tidak menginginkan hal itu, hak untuk mengatakan kepada pasangan bahwa ia terlalu
kasar, atau berupa hak untuk memakai segala bentuk pengontrolan kehamilan selama melakukan
hubungan seksual.
Sehingga remaja perempuan juga tidak jarang mendapatkan pelecehan seksual, baik itu
dari komentar yang berkonotasi seksual dan kontak fisik secara tersembunyi (memegang dan
sentuhan ke bagian tubuh tertentu) sampai ajakan dalam bentuk terang-terangan dan serangan
seksual (Kern & Alessi dalam Santrock, 2007).
Pelecehan seksual yaitu suatu bentuk kekuasaan dan dominasi yang dilakukan seseorang
ke orang lain dengan mengakibatkan konsekuensi yang merugikan korban. Jika dilihat secara
khusus, pelecehan seksual dapat berbahaya jika pelakunya merupakan guru, karyawan, dan
orang-orang dewasa lainnya yang memiliki kekuasaan ataupun otoritas terhadap siswa (Lee
dkk.,1995). Kemudian sebagai anggota masyarakat, kita seharusnya tidak bersikap toleran
terhadap pelecahan seksual (Shrier dalam Santrock, 2007).
Sexuality Transmitted Disease
A. Defenisi
3
Sexuality Transmitted Disease (STD) merupakan penyakit yang menyerang manusia dari
transmisi hubungan seksual, seks oral dan seks anal. Sejak tahun 1998, istilah STD mulai
berubah menjadi Sexually Transmitted Infection (STI) untuk dapat mencakup penderita
asimtomatik (Daili, 2009). Lebih jelasnya, infeksi menular seksual (IMS) disebut juga dengan
Penyakit Menular Seksual (PMS) atau dalam bahasa Inggrisnya yaitu Sexually Transmitted
Diseases (STD), Sexually Transmitted Infection (STI), atau Venereal Disease (VD).
IMS yang sering terjadi yaitu Gonorhoe, Sifilis, Herpes, tetapi yang paling terbesar
berupa AIDS, karena mengakibatkan sepenuhnya kematian terhadap penderitanya dan tidak
dapat diobati dengan antibiotik. Menurut Aprilianingrum (2002), Infeksi Menular Seksual (IMS)
didefenisikan sebagai suatu penyakit dikarenakan adanya invasi organisme virus, bakteri,
parasite dan kutu kelamin yang sebagian besar menular melalui hubungan seksual, baik itu yang
berlainan jenis maupun sesama jenis.
B. Cara Penularan
Pada umumnya, PMS menular melalui hubungan seksual, sedangkan cara lainnya yaitu
melalui transfusi darah, jarum suntik, plasenta (berasal dari Ibu kepada anak yang
dikandungnya).
Faktor-faktor yang menyebabkan penularan selain melalui hubungan seksual atau transmisi
seksual, yaitu:
1. Infeksi Pelvik
2. Infeksi Tractus Urinarius
3. Syndrome Shock Toxic
C. Jenis-jenis Penyakit Menular Seksual atau Sexually Transmitted Disease
Menurut Fahmi (2008), adapun jenis-jenis penyakit menular seksual yang umumnya terjadi,
sebagai berikut:
a) Gonore (kencing nanah): Penyakit ini menyerang organ reproduksi, selaput lendir,
mucus, mata, anus dan beberapa organ tubuh lainnya.
b) Sifilis: Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual atau penggunaan barang-barang
dari seseorang yang tertular (seperti baju, handuk dan jarum suntik). Dengan gejala klinis
yaitu luka atau koreng dengan jumlah biasanya satu, berbentuk bulat atau lonjong dengan
perabaan kenyal sampai keras dan tidak adanya rasa nyeri ketika ditekan.
c) Chlamydia Trachomatis: Infeksi ini sering tidak menimbulkan gejala dan sangat beresiko
jika dialami ibu-ibu karena dapat menimbulkan kehamilan ektopik, infertilitas dan
abortus.
4
d) Herpes Genitali: Saat ini dikenal dua jenis herpes, yaitu herpes zoster dan simpleks.
Kedua herpes ini disebabkan oleh virus yang berbeda. Herpes zoster disebabkan varicella
zoster, sedangkan herpes simpleks oleh herpes simplex virus (HSV).
e) Kondiloma Akuminata (Kutil Genitalis): Merupakan kutil di dalam atau disekeliling
vagina, penis atau dubur, yang ditularkan melalui hubungan seksual.
f) HIV-AIDS: Human Immuno Deficiency Virus, yaitu sejenis virus yang menyebabkan
AIDS. HIV ini menyerang sel darah putih dalam tubuh, maka sel darah puith pun
semakin berkurang dan sistem kekebalan juga ikut menurun. AIDS (Acquired Immune
Deficiency) merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus HIV dalam
tubuh makhluk hidup.
g) Ulkus Mole: Ditimbulkan oleh Haemophillus Ducreyi, dengan disertai gejala klinis
berupa korang yang berjumlah banyak, bentuk tidak teratur, sekitar koreng merah dan
edema serta sangat nyeri.
Sehingga, remaja yang pernah melakukan hubungan seks mempunyai resiko untuk
terjangkit infeksi menular seksual yang telah dijelaskan di atas.
Juvenile Deliquency
Menurut R. Kusumanto Setyonegoro, Deliquency merupakan tingkah laku individu yang
bertentangan dengan syarat-syarat dan pendapat umum yang dianggap pantas dan baik, oleh
karena itu sesuatu lingkungan masyarakat yang berkebudayaan tertentu. Sedangkan menurut
Psikolog, Drs. Bimo Walgito istilah Juvenile Deliquency yaitu mencakup perbuatan. Jika
perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, sesuatu
yang melawan hukum. Sehingga kenakalan remaja adalah tindakan para remaja yang tidak
selaras dengan hukum, agama dan norma-norma masyarakat. Perbuatan ini mengakibatkan
kerugian pada orang lain, mengganggu ketentraman umum dan merusak dirinya sendiri.
Adapun bentuk-bentuk kenakalan remaja sebagai berikut:
a) Sering membolos dari sekolah dan berbuat kurang ajar kepada guru ataupun orang tua.
b) Peredaran gambar-gambar pornografi, buku-buku stensilan tanpa pengarang dan isinya
sangat merusak jiwa remaja.
c) Merokok dan minuman keras
d) Ngebut ataupun sejenisnya, berbentuk gangguan lalu lintas jalan dan keamanan umum
e) Kemorosotan moral
5
f) Perbuatan-perbuatan yang melanggar norma hukum, seperti mencari, menganiaya,
mengganggu gadis-gadis dan sebagainya.
NAPZA
NAPZA merupakan singkatan dari narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif
lainnya, mencakup zat alami atau sintesis yang jika dikonsumsi mengakibatkan perubahan fisik
dan psikis serta menjadi ketergantungan. NAPZA beroperasi pada pusat penghayatan
kenikmatan otak, seperti kenikmatan sensasi makan dan stimulasi seksual, maka dari itu sering
terjadi dorongan yang kuat untuk mengkonsumsi NAPZA dengan tujuan mendapatkan
kenikmatan euphoria.
Penyalahgunaan atas NAPZA ini merupakan suatu ancaman yang mampu
menghancurkan generasi muda bangsa. Kasus penyalahgunaan NAPZA di Indonesia itu sendiri
semakin meningkat dari tahun ke tahun dan telah marak dilakukan oleh kalangan remaja.
Terlihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2012,
mencatat bahwa penyalahgunaan NAPZA pada kelompok umur 10-19 tahun sebesar 4,4% atau
sekitar 1 juta orang. Kelompok umur 10-19 tahun ini merupakan kelompok umur remaja.
Beberapa fakta di lapangan menyatakan bahwa perilaku beresiko yang dilakukan remaja
saling berkaitan satu sama lain (Smet, 1994). Merokok merupakan gerbang terhadap remaja
untuk terjerumus ke dalam penggunaan NAPZA dan perilaku beresiko lainnya, seperti mabuk-
mabukan dan perilaku seks pranikah. Disebutkan rokok sebagai gerbang penggunaan NAPZA
karena di dalamnya terdapat nikotin yaitu salah satu jenis obat perangsang yang berfungsi
sebagai penenang, dengan dampak merusak jantung dan sirkulasi darah. Nikotin yang berada di
dalam rokok adalah bagian dari NAPZA, sehingga mengkonsumsi rokok sama dengan
mengkonsumsi narkoba (BNN, 2013).
Alasan yang menjadi dasar untuk seseorang khususnya pada kalangan remaja untuk
mengkonsumsi narkoba adalah agar pengkonsumsi tersebut merasa senang. Hal ini dapat
disebabkan oleh kurangnya teman untuk berkomunikasi terkait permasalahan dalam diri
pemakai. Selain itu juga, untuk dapat diterima oleh suatu kelompok atau teman, rasa penasaran,
dan untuk menghilangkan masalah serta mengurangi rasa stres. Ketika tidak adanya bimbingan
dan arahan yang baik kepada remaja di masa transisinya, maka memiliki potensi yang besar
untuk melakukan penyalahgunaan narkoba (M. Yusuf, 2016).
Obesitas
Menurut WHO (2017), obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan atau
abnormal yang dapat mengganggu kesehatan. Penyebab utama terjadinya obesitas dikarenakan
ketidakseimbangan yang terjadi antara asupan energi dengan pengeluaran energi. Menurut Nelm
(2011) bahwa obesitas yaitu kondisi yang ditandai dengan gangguan keseimbangan energi tubuh,
6
artinya terjadinya keseimbangan energi positif yang akhirnya disimpan dalam bentuk lemak di
jaringan tubuh. Sehingga, obesitas adalah ketika terjadinya penumpukan lemak dalam tubuh
dengan kadar abnormal dengan kurun waktu yang lama.
Remaja merupakan salah satu kelompok rentan gizi, disebabkan berada pada siklus
pertumbuhan atau perkembangan yang membutuhkan zat-zat gizi dengan kadar yang besar
dibandingkan dengan kelompok umur yang lain. Kemudian, adanya perubahan gaya hidup di
kalangan remaja mengakibatkan peningkatan terhadap kebutuhan energi dan zat gizinya, hal ini
dapat mempengaruhi status zat gizi seorang remaja (Tarwoto dkk, 2010).
Masalah gizi pada remaja sering terjadi karena konsumsi makanan yang tidak
memperhatikan terkait kaidah gizi dan kesehatan. Dikarenakan asupan gizi yang tidak sesuai
dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG), baik itu secara kualitas atau kuantitas. Sehingga,
ketidakseimbangan antara makanan yang dikonsumsi dengan kebutuhan pada remaja akan
menyebabkan masalah gizi kurang atau lebih (Kusumajaya dkk, 2008).
Prevelensi gizi lebih mengalami peningkatan tren hingga saat ini. Terlihat dari data hasil
analisis data Riskesdas tahun 2018, dapat dilihat bahwa prevelensi gizi lebih pada remaja
berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) umur 16-18 tahun yang mengalami kelebihan berat
badan yaitu menyentuh 7,3%, terdiri dari 5,7 % gizi lebih dan 1,6% obesitas (Riskesdas, 2013).
Kemudian, data Riskesdas 2018 memperlihatkan bahwa kejadian obesitas sentral pada remaja
dengan usia ≥15 tahun sebanyak 31%, artinya lebih tinggi dibandingkan hasil Riskesdas 2013
(Riskesdas, 2018).
Sehingga, berbagai faktor yang mempengaruhi terkait status gizi remaja yaitu
pengetahuan, gaya hidup, aktivitas fisik, kebiasaan olahraga, kebiasaan makanan atau perilaku
makan berupa asupan energi, perilaku dan kebiasaan yang dipengaruhi oleh pengetahuan terkait
gizi (Robert dan William dalam Brown, 2005).