0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan10 halaman

Penanganan Batu Bara Suhu Tinggi

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) penelitian menjelaskan syarat muatan batubara yang aman yaitu suhu di bawah 55°C dan kadar air tidak melebihi TML, (2) cara penanganan muatan batubara panas adalah dengan trimming muatan atau mengganti muatan, (3) penelitian ini bertujuan mengetahui syarat dan cara penanganan muatan batubara panas selama proses bongkar muat di kapal MV MENOMONEE.

Diunggah oleh

Ardan fauzi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan10 halaman

Penanganan Batu Bara Suhu Tinggi

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) penelitian menjelaskan syarat muatan batubara yang aman yaitu suhu di bawah 55°C dan kadar air tidak melebihi TML, (2) cara penanganan muatan batubara panas adalah dengan trimming muatan atau mengganti muatan, (3) penelitian ini bertujuan mengetahui syarat dan cara penanganan muatan batubara panas selama proses bongkar muat di kapal MV MENOMONEE.

Diunggah oleh

Ardan fauzi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENANGANAN HIGH TEMPERATURE COAL PADA SAAT KEGIATAN

PEMUATAN DI MV. MENOMONEE


Wahdiana, Da, Indriyani, [Link], Achfan, [Link]
Dosen Program Studi Nautika Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang
a
b
Dosen Program Studi Tata Laksana Angkutan Laut dan Kepelabuhan Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang
c
Taruna (NIT. 551811316710 K) Program Studi Tata Laksana Angkutan Laut dan Kepelabuhan Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang

Abstraksi - Kegiatan pemuatan batu bara ke kapal harus Januari 2011. Tujuan dari IMSBC Code ini yaitu untuk
mengutamakan faktor keselamatan sesuai aturan yang mengatur dan memfasilitasi penyimpanan yang aman
berlaku. Namun terdapat muatan batu bara yang tidak terhadap pengiriman kargo curah padat dengan memberikan
sesuai aturan pemuatan, yaitu ditemukannya titik lokasi informasi tentang bahaya yang terkait dengan pengiriman
muatan batu bara di dalam tongkang dengan suhu lebih dari jenis kargo tertentu dan instruksi tentang prosedur yang
55°C, sehingga muatan tidak dapat dimuat ke kapal. Tujuan tepat.
penelitian ini untuk mengetahui syarat muatan batu bara Kegiatan pemuatan batu bara di daerah Kalimantan dan
yang aman dan sesuai prosedur untuk dilakukan pemuatan, Sumatra, pada umumnya menggunakan metode
dan cara penanganan muatan batu bara high temperature. transhipment, dimana kegiatan pengangkutan barang atau
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif cargo dari satu kapal ke kapal yang lain dilaksanakan di
kualitatif yang menjelaskan tentang penanganan cargo high tengah laut, hal tersebut dikarenakan kondisi area tersebut
temperature pada saat kegiatan pemuatan batu bara di MV aman dari gangguan alam seperti badai atau angin kencang.
MENOMONEE. Teknik pengumpulan data melalui Secara umum, kegiatan bermula dari pemuatan barang dari
observasi, studi pustaka, dokumentasi, dan wawancara. dermaga atau jetty ke atas kapal tongkang, kemudian muatan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa syarat muatan tersebut diangkut ke area atau titik kegiatan transhipment.
batubara yang aman dan sesuai prosedur untuk dilakukan Selanjutnya, muatan tersebut dibongkar untuk dimuat ke
pemuatan di dalam palka adalah suhu muatan batubara kapal yang lebih besar dengan menggunakan ship crane atau
tidak lebih dari 55°C dan nilai kadar air aktual tidak lebih peralatan pemindah muatan yang berada di permukaan laut
tinggi dari TML-nya, serta cara penanganan muatan atau disebut floating crane.
batubara high temperature yaitu dengan cara melakukan Kegiatan pemuatan batu bara dilaksanakan pada bulan
trimming muatan batu bara pada tongkang atau dengan Agustus 2020 di Taboneo anchorage, Kalimantan Selatan.
menggantikan muatan dengan muatan pada tongkang yang Jumlah muatan batu bara yang dimuat dari tongkang (barge)
lainnya. Saran yang diberikan yaitu harus menyiapkan ke kapal MV. MENOMONEE yaitu 58,532 MT, dengan
muatan yang baik dan sesuai aturan untuk dilakukan pelabuhan tujuan atau bongkar yaitu di India. Seluruhnya
pemuatan, mempersiapkan kelengkapan perlengkapan, dan terdapat 11 tongkang yang sandar di sebelah kapal, dengan 2
alat pelindung diri apabila terjadi permasalahan dan tongkang diantaranya terdapat permasalahan pada saat
diperlukan penanganan, serta saling meningkatkan kegiatan pemuatan sedang berjalan, sehingga menghambat
hubungan kerja yang baik. berlangsungnya kegiatan pemuatan batu bara tersebut.
Menindaklanjuti hal tersebut, diperlukan penanganan pada
Kata kunci: Cargo High Temperature, Pemuatan, Batu bara muatan batu bara pada tongkang sebelum dimuat ke kapal.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai
A. PENDAHULUAN berikut:
Ditolaknya muatan batu bara yang dibawa oleh dua 1. Apa saja syarat muatan batu bara yang aman dan sesuai
tongkang (barge) pada saat kegiatan pemuatan batu bara di prosedur untuk dilakukan pemuatan di dalam palka?
MV. MENOMONEE, menyebabkan kegiatan pemuatan 2. Bagaimana cara penanganan muatan batu bara high
tersebut tidak berjalan dengan lancar. Hal tersebut temperature pada proses pemuatan di MV.
disebabkan karena ditemukannya titik lokasi muatan batu MENOMONEE?
bara di dalam tongkang dengan suhu lebih dari 55°C, setelah
dilakukan pengecekan suhu muatan oleh chief officer dan B. KAJIAN TEORI
surveyor. Pihak kapal menolak muatan batu bara tersebut 1. Deskripsi Teori
karena tidak sesuai standar dan aturan dari International Dalam menelusuri pembahasan dan pengetahuan
Maritime Solid Bulk Cargo (IMSBC Code), dan juga aturan mengenai penanganan cargo high temperature pada saat
dari pemilik kapal (owner), yaitu muatan batu bara dengan kegiatan pemuatan batu bara di MV. MENOMONEE,
suhu lebih dari 55°C tidak dapat dimuat ke kapal, karena maka perlu diberikan penjelasan atau uraian terkait
titik panas muatan batu bara mudah menyebar ke muatan istilah-istilah yang berkaitan terhadap pembahasan dalam
batu bara lainnya. penelitian ini. Oleh karena itu, dapat menjawab rumusan
Aturan ini sudah diterapkan mulai tahun 1960 oleh IMO permasalahan yang dikaji secara teoritis, diantaranya
(International Maritime Organization, dan mulai yaitu sebagai berikut:
dikembangkan menjadi sebuah aturan internasional yang di a. Penanganan
dalamnya berisi mengenai aturan untuk mengatasi segala Bahwa pada prinsipnya, penanganan muatan itu
masalah dalam pengiriman kargo curah yaitu Code of Safe ada lima faktor yang perlu diperhatikan seperti
Practice for Solid Bulk Cargoes (BC Code), edisi pertama melindungi kapal, melindungi muatan, keselamatan
diterbitkan pada tahun 1965. Kemudian Code of Safe buruh dan ABK, melaksanakan pemuatan secara
Practice for Solid Bulk Cargoes (BC Code) digantikan oleh sistematis, serta memenuhi ruang muatan sepenuh
International Maritime Solid Bulk Cargo (IMSBC Code), mungkin sesuai dengan daya tampungnya
dan amandemen SOLAS bab VI menjadikan aturan tersebut (Fakhrurrozi, 2017:19).
wajib diterapkan oleh Maritime Safety Committee (MSC) b. Cargo
tahun 2008, amandemen tersebut mulai berlaku pada 1

1
Yang dimaksud dengan cargo atau muatan kapal C. METODE PENELITIAN
adalah semua jenis barang dan barang dagangan 1. Metode Penelitian
(goods and merchandise) yang diberikan kepada Metode penelitian deskriptif kualitatif adalah metode
pengangkut untuk diangkut dengan kapal laut dan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Jenis
diserahkan kepada orang atau badan hukum di penelitian kualitatif ini biasanya bersifat analitis dan
pelabuhan tujuan (Hamdani, 2017:138). deskriptif. Dalam penelitian semacam ini, metode dan
c. Temperature signifikansinya ditekankan dengan landasan teori sebagai
Temperatur merupakan sifat fisik suatu benda pedoman agar fokus penelitian sesuai dengan fakta yang
yang menyatakan tingkat panas atau dinginnya suatu sebenarnya. Berbeda dengan penelitian kuantitatif,
benda secara kuantitatif dengan skala temperatur peneliti mengambil bagian dalam kegiatan atau situasi
tertentu. Jika sebuah benda dikatakan panas atau yang dipelajari dalam gaya penelitian ini. Oleh karena
dingin saja, tingkat panas atau dingin satu orang dan itu, temuan penelitian kualitatif harus dianalisis secara
yang lain pasti berbeda, boleh jadi jika seseorang menyeluruh oleh peneliti. Biasanya, penelitian kualitatif
mengatakan bahwa suatu benda terasa panas, maka menggunakan observasi dan wawancara untuk
belum tentu orang lain juga mengatakan panas. Oleh mengumpulkan sebagian besar datanya
karena itu temperatur diperlukan untuk menyatakan 2. Tempat Penelitian
secara kuantitatif seberapa panas atau seberapa Penelitian yang dilakukan mengenai penanganan
dingin suatu benda (Fathuroya, 2017:61). cargo high temperature pada saat kegiatan pemuatan
d. Pemuatan batu bara di MV. MENOMONEE dilakukan pada saat
Operasi bongkar muat yaitu kegiatan yang kegiatan pemuatan batu bara pada kapal MV.
memerlukan pemindahan produk impor dan atau MENOMONEE di Taboneo anchorage, Kalimantan
kargo antar pulau/interinsuler dari kapal Selatan. Taboneo anchorage merupakan daerah atau
menggunakan crane dan sling kapal ke daratan wilayah untuk berlabuh jangkar bagi kapal yang datang
terdekat di tepi kapal, yang disebut dermaga, dan untuk melaksanakan kegiatan pemuatan atau
kemudian dari dermaga menggunakan truk, forklift, pembongkaran.
atau kereta dorong, selanjutya dimasukkan dan ditata 3. Sampel Sumber Data Penelitian/Informan
ke dalam gudang terdekat yang ditunjuk oleh Dalam penelitian ini, data-data diperoleh melalui
Administrator Pelabuhan. Sementara pemuatan beberapa literatur sumber buku, jurnal, dan juga data
adalah kegiatan sebaliknya (Prof. Dr. Herman Budi yang bersumber pada objek-objek penelitian di lapangan.
Sasono, 2021:131). Berdasarkan cara dalam perolehannya, data dapat
e. Batu bara dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu data primer dan
Menurut UU No. 4 Tahun 2009 tentang data sekunder yaitu:
pertambangan mineral dan batu bara, pengertian batu a. Data Primer
bara merupakan endapan senyawa organik karbonan Perolehan data dari sumber data terkait dengan
yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh- Penanganan Cargo High Temperature pada saat
tumbuhan dan bisa terbakar. Kegiatan Pemuatan Batu bara di MV
f. Kapal MENOMONEE diperoleh pada saat pelaksanaan
Sebuah benda terapung yang digunakan untuk program praktik darat di perusahaan PT. Bahari Eka
sarana pengangkutan di atas air. Besar kecilnya kapal Nusantara sebagai boarding agent di MV
dinyatakan dalam ukuran memanjang, membujur, MENOMONEE yaitu dengan cara observasi atau
melebar, melintang, tegak, dalam dan ukuran isi pengamatan terhadap suatu kejadian yang
maupun berat. Guna dari ukuran-ukuran ini untuk berlangsung pada objek yang diteliti mengenai suatu
mengetahui besar kecilnya sebuah kapal, besar kegiatan di lapangan maupun kegiatan yang bersifat
kecilnya daya angkut kapal tersebut dan besarnya operasional di perusahaan PT. Bahari Eka Nusantara.
bea yang akan dikeluarkan adalah pengertian dari Data primer juga diperoleh secara langsung
kapal (Fakhrurrozi, 2017:43). menggunakan wawancara dengan pihak-pihak yang
2. Kerangka Penelitian terlibat langsung di lapangan.
b. Data Sekunder
Proses kegiatan pemuatan batu bara di Data sekunder dapat berupa informasi tertulis,
kapal MV. MENOMONEE atau dokumen-dokumen yang dikelola dan
dikumpulkan dari beberapa sumber data yang sudah
ada ataupun berasal dari pihak terkait yang sedang
Ditemukannya titik tidak melakukan penelitian tetapi data tersebut diakui
lokasi muatan batu Muatan batu bara keasliannya. Data sekunder juga berasal dari buku,
bara pada tongkang tidak bisa dimuat jurnal, dokumen arsip suatu perusahaan, literatur,
dengan suhu di atas ke dalam kapal internet maupun berasal dari beberapa referensi yang
55°C memiliki keterkaitan dengan penelitian yang sedang
disusun.
4. Teknik Pengumpulan Data
Berikut ini peneliti akan uraikan beberapa metode
Penanganan muatan batu bara high
atau teknik pengumpulan data dalam penelitian ini,
temperature yang dilakukan oleh pihak terkait adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Penerapan metode atau teknik observasi
Kegiatan pemuatan batu lapangan terhadap penelitian ini yaitu peneliti
berjalan dengan lancar berperan secara langsung meninjau tempat penelitian
kegiatan pemuatan batu bara di daerah labuh jangkar
Taboneo anchorage, Kalimantan Selatan selama
Gambar 1. Kerangka Penelitian melaksanakan program praktik darat di Perusahaan

2
PT. Bahari Eka Nusantara. Pada saat melakukan studinya meliputi majalah, dokumen, buku, risalah
penelitian, peneliti meninjau, mengamati kegiatan rapat, aturan, buku harian.
pemuatan batu bara, serta menelusuri upaya 6. Teknik Analisis Data
penanganan pada muatan batu bara yang mengalami Dalam hal melaksanakan proses analisis data,
peningkatan temperatur karena self heating. aktivitas data kualitatif yang dilakukan seorang peneliti
b. Studi Pustaka secara interaktif dan dilaksanakan secara terus-menerus
Studi pustaka memiliki peran sebagai pendukung hingga analisis data yang dihasilkan tuntas, sehingga
dengan mencari, meneliti, mengutip, dan datanya sudah jenuh. Beberapa aktivitas dalam analisis
mengumpulkan data dan informasi dari berbagai data yaitu terdiri dari:
buku, jurnal, literatur, dan referensi lain yang relevan a. Reduksi Data (Data Reduction)
dengan pembahasan penelitian yang disusun. Peneliti dapat menggunakan reduksi data untuk
c. Wawancara mengarahkan penelitian guna mencapai hasil yang
Bentuk wawancara yang peneliti lakukan adalah diinginkan. Karena memberikan gambaran yang
wawancara tidak terstruktur (unstructured interview), lebih jelas dan mempermudah pengumpulan data,
yaitu wawancara yang dilakukan tanpa menggunakan reduksi data menjadi penting untuk penelitian karena
daftar pertanyaan yang telah disiapkan (Jaya, memungkinkan peneliti untuk mencari data baru
2020:154). Peneliti dapat menggali informasi yang sesuai kebutuhan. Jumlah data yang dikumpulkan
lebih mendalam kepada sumber data (informan) akan meningkat dalam jumlah dan variasi karena
tanpa harus berpedoman pada daftar pertanyaan. peneliti menghabiskan lebih banyak waktu di
Pengumpulan data melalui wawancara ini dilakukan lapangan. Sehingga, reduksi data diperlukan untuk
oleh peneliti dengan mengambil sumber data dari mencegah penumpukan data yang banyak dan
pemilik muatan (shipper), surveyor, dan master menyulitkan peneliti karena data yang diperoleh
kapal. semakin kompleks dan canggih.
d. Dokumentasi b. Penyajian Data (Data Display)
Metode atau teknik dokumentasi dalam Kegiatan yang dilakukan setelah reduksi data
penelitian ini merujuk pada sumber data yang berupa adalah penyajian data. Melalui narasi, yang terdiri
kumpulan berkas, foto, dokumen, file, serta beberapa dari penyajian informasi sebagai deskripsi atau
arsip dari pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian kalimat dari temuan penelitian yang telah dilakukan
serta perusahaan PT. Bahari Eka Nusantara selama untuk menjawab rumusan masalah, disajikan data
melaksanakan program praktik darat. dari metode kualitatif. Pada titik ini, peneliti dapat
5. Instrumen Penelitian dengan mudah memahami dan menganalisis
Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian peristiwa yang terjadi, dan mereka kemudian dapat
kualitatif. Peneliti sendiri berfungsi sebagai alat mengatur kegiatan di masa yang akan datang
pengumpulan data dalam penelitian kualitatif. Dengan berdasarkan apa yang telah dipelajari.
kata lain, peneliti yang melakukan pengamatan, c. Penarikan Simpulan/Verifikasi (Conclusion
bertanya, memperhatikan, dan menggunakan data Draeing/Verification)
kuantitatif dan kualitatif adalah membuat pernyataan. Menarik kesimpulan atau memvalidasi data
Peneliti harus mampu mengumpulkan data yang akurat adalah langkah ketiga dalam proses analisis data.
dan relevan sehingga hasilnya dapat Tujuannya pada titik ini adalah untuk menafsirkan
dipertanggungjawabkan, antara lain: data dengan mencari koneksi, paralel, atau perbedaan
a. Wawancara untuk mendapatkan kesimpulan yang akan menjadi
Peneliti menyiapkan sejumlah daftar pertanyaan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.
tentang penelitian yang dilakukannya sebelum Akibatnya, hasil awal masih tentatif dan dapat
melakukan wawancara terkait penanganan cargo direvisi jika diperoleh bukti yang mendukung untuk
high temperature pada saat pemuatan di kapal MV. pengumpulan data putaran berikutnya. Proses untuk
MENOMONEE. Untuk peralatan dan perlengkapan mendapatkan data-data tersebut dapat diartikan
yang digunakan selama proses wawancara yaitu sebagai verifikasi data.
kertas dan pulpen untuk mencatat data-data yang 7. Pengujian Keabsahan Data
diambil dari narasumber. Manfaat utama dari metode Teknik pengujian keabsahan data pada penelitian ini
wawancara adalah menghasilkan tingkat respons yaitu teknik triangulasi. Dalam teknik pengumpulan data,
yang tinggi dan interaksi tatap muka dengan triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data
responden memungkinkan peneliti untuk yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
menjelaskan secara menyeluruh setiap pertanyaan pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila
yang kurang dipahami. peneliti melakukan pengumpulan data dengan
b. Observasi triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan
Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu
pengamatan dari sebelum proses pemuatan dilakukan mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik
hingga terjadi permasalahan pada muatan batu bara pengumpulan data dan berbagai sumber data (Hardani,
pada saat kegiatan pemuatan, serta proses 2020:154).
penanganan muatan batu bara tersebut. Metode yang
digunakan untuk mengumpulkan data melalui D. HASIL PENELITIAN
observasi yaitu dengan melakukan survei di 1. Gambaran Konteks Penelitian
lapangan, dan mencatat hal-hal yang penting selama Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
kegiatan penelitian (daily report). penelitian terdahulu sebagai perbandingan dan
c. Dokumentasi memudahkan dalam melaksanakan penelitian karena
Dalam hal ini, alat dokumentasi adalah jenis memiliki kesamaan topik penelitian yaitu mengenai
instrumen penelitian yang digunakan untuk pemuatan batu bara ke dalam palka kapal. Tujuan lain
pengarsipan yang berisi tipe data berupa catatan dengan melihat penelitian terdahulu supaya peneliti
tulisan tangan tentang berbagai bahan, yang subjek

3
dapat memeriksa kekurangan dan kelebihan data untuk
dikembangkan. Cadet
Alasan peneliti mengambil beberapa contoh
penelitian terdahulu, karena secara umum beberapa Gambar 2. Struktur Organisasi
penelitian tersebut membahas kegiatan pemuatan di c. Laporan Kunjungan Kapal Bulan Agustus 2020
kapal. Penelitian yang peneliti ambil memiliki
persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu.
Oleh karena itu, peneliti dapat mengetahui, mempelajari
dan mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan persamaan
dan perbedaan dari materi penelitian terdahulu.
2. Deskripsi Data
Deskripsi data yaitu upaya untuk menampilkan data,
supaya data tersebut mudah dimengerti, dapat
dipaparkan dengan baik, dan diinterpretasikan secara
mudah. Adapun rincian data perusahaan yang peneliti
peroleh dari perusahaan tempat melaksanakan penelitian
yaitu sebagai berikut:
a. Profil Perusahaan Gambar 3. Struktur Organisasi
PT. Bahari Eka Nusantara cabang Banjarmasin Sumber: Dokumen Perusahaan
merupakan salah satu perusahaan yang beroperasi d. Proses Pelayanan Jasa Keagenan Kapal oleh PT.
dalam hal pelayanan jasa keagenan kapal yang Bahari Eka Nusantara cabang Banjarmasin
merupakan join company dari Ben Line Agencies Dalam melayani jasa keagenan kapal lokal
Indonesia. Peneliti telah melaksanakan praktik darat maupun kapal asing di perusahaan PT. Bahari Eka
dari bulan Juli 2020-Agustus 2021 di PT. Bahari Eka Nusantara cabang Banjarmasin terdapat proses-
Nusantara cabang Banjarmasin.
proses kegiatan yang harus dilakukan sesuai dengan
Tabel 1. Data Perusahaan PT. Bahari Eka Nusantara
prosedur yang berlaku. Proses kegiatan tersebut
Nama PT. Bahari Eka Nusantara cabang
dilakukan dari sebelum kapal tiba di pelabuhan
Perusahaan Banjarmasin
sampai kapal tersebut meninggalkan pelabuhan.
Jalan Soetoyo, Komplek Saleh No.14, Fokus penelitian ini yaitu kegiatan pemuatan batu
Alamat Teluk Dalam, Banjarmasin Tengah, bara dan penanganan cargo high temperature pada
Perusahaan Kalimantan Selatan, Indonesia Kode saat pemuatan di MV. MENOMONEE. Oleh karena
Pos: 70117
itu, peneliti sedikit menjelaskan proses kegiatan pada
Nomor pemuatan batu bara di MV. MENOMONEE oleh PT.
+62 51 142 4541
Telepon Bahari Eka Nusantara cabang Banjarmasin
Pada saat kapal sudah datang di daerah labuh
Fax +62 51 142 4541
jangkar (anchorage) dan sudah diberikan sertifikat
E-mail 1). coal@[Link] (coal) dari KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) yaitu Free
2). tankers@[Link] (tankers) Pratique Granted yang menyatakan kapal telah
3). heavylift-bbulk@[Link]
selesai dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan bebas
(heavylift)
4). drybulk@[Link] (bulk) atau aman dari wabah penyakit, maka kapal tersebut
5). husbandry@[Link] sudah bisa untuk dilakukan pemuatan atau
(husbandry) pembongkaran. Adapun proses kegiatan pemuatan
6). offshore@[Link] yang dilaksanakan sebagai berikut:
(offshore) 1). Pelaksanaan Initial draft survey
Website [Link] Initial Draft Survey dilakukan pada saat
b. Struktur Organisasi Perusahaan kapal sudah tiba di pelabuhan dan sebelum
Adapun struktur organisasi di PT. Bahari Eka kegiatan pemuatan dilakukan dengan tujuan
Nusantara cabang Banjarmasin pada Gambar 2 di untuk menghitung dan menentukan besarnya
bawah ini. nilai constant yang dimiliki kapal, dan digunakan
Branch Manager sebagai perhitungan total muatan yang telah
dimuat atau dibongkar pada sebuah kapal dengan
menghitung perbandingan dengan final draft
Operations Accounting survey. Kegiatan initial draft survey biasanya
Department Department dilakukan oleh surveyor dan chief officer.
2). Pelaksanaan kegiatan pemuatan
Setelah dilakukan initial draft survey, maka
Head of Head of kapal bisa dilakukan kegiatan bongkar atau
Operations Finance pemuatan. Kegiatan pemuatan yang dilaksanakan
di daerah labuh jangkar yaitu Taboneo
anchorage, Kalimantan Selatan dilakukan
Operations Assistant dengan transhipment. Metode pemuatan batu
Staff
bara yang dilakukan pada MV. MENOMONEE
menggunakan metode pemuatan ship crane.

4
Pemuatan yang dilakukan menggunakan ship Banjarmasin akan bertanggungjawab langsung terhadap
crane atau alat distribusi muatan yang dimiliki permasalahan tersebut dan berkoordinasi dengan pihak-
oleh sebuah kapal yang dilengkapi dengan grab. pihak yang terkait dalam kegiatan pemuatan di lapangan
sampai suatu kendala ataupun permasalahan tersebut
Kegiatan pemuatan dilaksanakan ketika foreman
dapat diselesaikan. Untuk memudahkan jalannya suatu
dan kelompok Tenaga Kerja Bongkar Muat kegiatan keagenan kapal, peneliti sebagai boarding agent
(TKBM) sudah naik ke atas kapal. Mereka di lapangan selalu melakukan komunikasi dan koordinasi
bertanggung jawab terhadap kegiatan pemuatan dengan pimpinan perusahaan ataupun kepala operasional
dan sebagai pekerja yang menggerakkan ship di perusahaan PT. Bahari Eka Nusantara cabang
crane secara bergantian. Banjarmasin, sehingga suatu kendala ataupun
Pada kegiatan pemuatan menggunakan ship permasalahan dapat diselesaikan dengan baik.
Salah satu bentuk pelayanan jasa keagenan kapal
crane dan dilakukan dengan metode
yaitu pelayanan kegiatan pemuatan batu bara di MV.
transhipment, perlu dilengkapi dengan fender di MENOMONEE. Kapal tersebut merupakan salah satu
samping kiri atau kanan kapal karena posisi dari kapal asing yang berangkat dari Pelabuhan Cigading
tongkang yang membawa muatan batu bara dengan tujuan daerah labuh jangkar yaitu Taboneo
langsung menempel di samping kiri atau kanan anchorage, Kalimantan Selatan. MV. MENOMONEE
kapal. Fender digunakan untuk meredam merupakan kapal jenis bulk carrier yang merupakan
benturan yang terjadi pada saat tongkang salah satu tipe kapal niaga yang dibangun untuk
mengangkut muatan curah.
merapat ke samping kapal yang akan dimuat.
Perusahaan pemilik muatan batu bara atau shipper
Selain pemasangan fender antara kapal dan yaitu perusahaan PT. Antang Gunung Meratus.
tongkang. Kegiatan pemuatan dengan ship crane Perusahaan ini adalah anak perusahaan yang sepenuhnya
perlu dilengkapi dengan alat distribusi seperti dimiliki oleh PT. Baramulti Suksessarana (BSSR),
wheel loader dan dozer yang berfungsi untuk sebuah perusahaan batu bara Indonesia. Perusahaan
mengumpulkan muatan di dalam tongkang yang memiliki dan mengoperasikan tambang Antang Gunung
Meratus di Kalimantan Selatan (juga disebut sebagai
tidak bisa dijangkau oleh grab. Pada umumnya
tambang AGM) yang saat ini memproduksi sekitar 3 juta
alat-alat penunjang pemuatan seperti fender, ton batu bara sub-bituminus per tahun. Tambang AGM
wheel loader, dozer dibawa menggunakan LCT terletak di 100 km Timur Laut dari kota Banjarmasin,
(Landing Craft Tank). Setelah alat serta fasilitas memproduksi batu bara sub-bituminus rendah sulfur, dan
penunjang pemuatan terpenuhi, maka kegiatan abu rendah. Total luas tambang yaitu 22.433 Ha.
pemuatan dapat dilaksanakan. Pada umumnya, Tambang AGM dibagi menjadi 6 blok dan batu bara
kegiatan pemuatan batu bara memerlukan waktu dipasarkan sesuai dengan blok yang ditambang, AGM
saat ini sedang menambang di Blok 3 Selatan.
kurang lebih 1 (satu) minggu untuk setiap
Adapun karakteristik muatan batu bara dari PT.
kapalnya. Antang Gunung Meratus yang dimuat ke kapal MV.
3. Temuan MENOMONEE. Muatan batu bara ini merupakan batu
Perusahaan PT. Bahari Eka Nusantara cabang bara peringkat rendah (low rank coal) dengan sifat fisik
Banjarmasin merupakan perusahaan yang bergerak di sebagai berikut:
bidang jasa keagenan kapal yang melayani segala bentuk a. Warna cokelat kusam, disebut juga batu bara cokelat
kegiatan keagenan seperti melayani kegiatan pemuatan (brown coal),
batu bara, kegiatan crew change, maupun kegiatan b. Kekerasannya rendah (lunak dan rapuh), disebut juga
lainnya yang berhubungan dengan jasa keagenan kapal. batu bara lunak (soft coal), mudah digerus dan HGI
Dalam hal jasa keagenan kapal khususnya pelayanan jasa tinggi, kecuali jika kadar abunya tinggi dan
pemuatan batu bara di perusahaan PT. Bahari Eka mengandung mineral terutama silika,
Nusantara cabang Banjarmasin merupakan suatu c. Ketahanan terhadap cuaca (weathering index)
kegiatan rutin bagi setiap kapal lokal maupun kapal asing rendah, mudah hancur jika terkena perubahan cuaca
yang datang setiap bulannya. (panas dan hujan). Tingkat segregasi semakin tinggi
Dalam melayani jasa keagenan kapal tersebut, dengan semakin rendahnya peringkat batu bara,
tentunya perusahaan PT. Bahari Eka Nusantara cabang d. Reaktivitasnya tinggi dan mudah terbakar, dengan
Banjarmasin memiliki suatu target yang harus dicapai titik nyala rendah,
yaitu memberikan suatu pelayanan yang baik, e. Dalam penyimpanan (stockpile) mudah terjadi
profesional, handal sesuai pernyataan dari visi dan misi swabakar,
perusahaan. Pelayanan jasa keagenan kapal di f. Titik leleh abu rendah, sering menyebabkan fouling
perusahaan PT. Bahari Eka Nusantara cabang dan slagging,
Banjarmasin khususnya kegiatan pemuatan, dilakukan g. Tidak mempunyai sifat coking (FSI = 0), sehingga
dari sebelum kapal masuk pelabuhan hingga kapal tidak cocok untuk pembuatan kokas, umumnya untuk
bertolak dari pelabuhan, diperlukan suatu kerjasama bahan bakar (steam coal),
yang baik juga di antara pihak-pihak yang berhubungan h. Reflektan vitrinit (Rv) kurang dari 0.5%,
langsung dengan kegiatan pemuatan. Dalam hal jasa i. Bersifat hidrophilik, suatu senyawa yang dapat
keagenan kapal, suatu perusahaan keagenan harus berikatan dengan air.
bertanggung jawab penuh terhadap kapal-kapal yang Sedangkan sifat kimia batu bara peringkat rendah
datang tersebut, karena perusahaan keagenan merupakan (low rank coal) yaitu sebagai berikut:
sebuah perusahaan yang ditunjuk untuk melayani a. Kadar airnya tinggi, kadar bed moisture dapat
sepenuhnya apa yang dibutuhkan oleh suatu kapal yang mencapai 75%, oleh karena itu tidak cocok untuk
diageninya. Apabila terjadi suatu kendala atau transportasi jarak jauh karena biaya mahal, serta jika
permasalahan khususnya dalam kegiatan pemuatan, digunakan untuk pembakaran, efisiensi pembakaran
perusahaan PT. Bahari Eka Nusantara cabang

5
rendah, proses upgrading batu bara sedang penanganan pada muatan batu bara tersebut, sehingga
berkembang untuk mengurangi kadar air, kegiatan pemuatan dapat dilanjutkan. Adanya
b. Kadar zat terbang (volatile matter) tinggi, pada permasalahan tersebut, pihak kapal yaitu Master MV
kondisi ‘dmmf’ > 31% sehingga mudah terbakar, MENOMONEE membuat laporan yang berupa Letter of
c. Sebaliknya kadar karbon rendah, pada kondisi Protest (LOP) dengan tujuan untuk melindungi pemilik
‘dmmf’ <69%, kapal dari tanggung jawab apabila terjadi kerusakan
d. Nilai kalorinya rendah, pada kondisi ‘mmf’ muatan, kerusakan kapal yang disebabkan oleh muatan
(klasifikasi ASTM) <10,500 Btu/lb, batu bara high temperature tersebut. Sebagai pemilik
e. Kadar oksigen tinggi sampai >20% (antrasit 1-2%), muatan (shipper) yang bertanggung jawab terhadap
menambah oksigen untuk reaksi oksidasi atau muatan dan juga kelancaran kegiatan pemuatan, perlu
pembakaran, menyebabkan batu bara mudah melakukan penanganan terhadap permasalahan tersebut.
terbakar, Tindakan penanganan dilakukan supaya kegiatan
f. Kadar hidrogen tinggi sampai >5% (antrasit 3%), pemuatan batu bara dapat dilanjutkan dan berjalan
dan mudah terbakar. dengan lancar.
Dalam penelitian ini, bentuk permasalahan yang 4. Pembahasan Hasil Penelitian
dihadapi yaitu ditemukannya muatan batu bara high Tujuan dari pembahasan ini yaitu untuk
temperature dalam proses pelaksanaan kegiatan mendapatkan kesimpulan akhir dari masalah yang
pemuatan batu bara pada MV. MENOMONEE. Dari peneliti angkat guna menyelesaikan permasalahan
hasil observasi yang peneliti lakukan, terdapat 11 tersebut. Adapun pembahasan hasil penelitian yang
tongkang atau barge yang membawa muatan batu bara diperoleh dalam mengkaji data-data primer maupun data-
yang merapat di samping kiri kapal (alongside at data sekunder yang diperoleh dari penelitian di lapangan.
portside ship). Setiap tongkangnya memiliki waktu Dari uraian temuan dalam penelitian di atas, dapat
pemuatan masing-masing secara bergantian sesuai barge diperoleh suatu masalah yang akan dibahas dalam suatu
schedule. Muatan batu bara pada setiap tongkang pembahasan hasil penelitian sebagai berikut:
dibongkar dan dimuat ke kapal sesuai rencana muat a. Apa saja syarat muatan batu bara yang aman dan
kapal. Pihak-pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan sesuai prosedur untuk dilakukan pemuatan di dalam
pemuatan diantaranya yaitu agent, shipper, surveyor, dan palka?
TKBM. 1). Suhu muatan batu bara yang dimuat ke kapal
Sesuai dengan aturan di kapal MV. MENOMONEE, tidak lebih dari 55°C
bahwa sebelum dilakukan kegiatan pemuatan, semua Sebelum pelaksanaan kegiatan pemuatan
muatan batu bara pada tongkang harus dicek suhu batu bara ke kapal MV. MENOMONEE, pihak
muatan batu bara oleh surveyor dan chief officer dari pemilik muatan (shipper) telah membuat
MV. MENOMONEE dan seorang Surveyor P&I. Suhu dokumen Cargo Declaration yang ditujukan
maksimal muatan batu bara yang diizinkan untuk dimuat kepada Master MV. MENOMONEE, yang
ke kapal mengacu pada aturan International Maritime menyatakan bahwa muatan batu bara
Solid Bulk Cargo (IMSBC Code) yaitu 55°C (derajat sebelumnya telah diinspeksi oleh independent
celcius). Dilakukan pengecekan di beberapa titik lokasi surveyor yang menyatakan muatan aman untuk
pada muatan batu bara di dalam tongkang. Pengecekan diangkut ke dalam kapal. Dalam cargo
suhu dilakukan dengan menggunakan handheld digital declaration juga terdapat aturan suhu standar
thermometer yang dilaksanakan kurang lebih 30-45 muatan batu bara dan juga sertifikat pendukung
menit pada beberapa titik lokasi. yang menyatakan rincian data muatan batu bara.
Permasalahan terjadi pada muatan batu bara yang Sesuai aturan International Maritime Solid Bulk
dibawa oleh 2 tongkang, yaitu tongkang ANGELINE Cargo (IMSBC Code) dinyatakan bahwa kriteria
219-03 dan tongkang INGGRID. Pada saat tongkang batas suhu muatan batu bara tidak melebihi 55°C
merapat ke samping kapal, dilakukan pengecekan suhu untuk dimuat ke kapal.
muatan tersebut dengan mengambil beberapa titik secara Pada aturan ini, menyebutkan bahwa batu
acak dari muatan batu bara di dalam tongkang. Dari hasil bara adalah bahan alami, padat, mudah terbakar
pengecekan tersebut terdapat beberapa titik panas dengan yang terdiri dari amorphous carbon dan
suhu melebihi standar yaitu lebih dari 55°C yang hidrokarbon. Batu bara dapat menciptakan
terdapat pada kedua tongkang tersebut. atmosfer yang mudah terbakar, dapat memanas
Tongkang ANGELINE 219-03 yang ditarik dengan secara spontan, dapat menghabiskan oksigen,
tugboat FERY XXI, berisi muatan batu bara dengan konsentrasi dapat menimbulkan korosi pada
jumlah 7,505 MT, yang sandar di kapal pada 22 Agustus struktur logam. Adapun sifat muatan batu bara
2020 pukul 11.50 WITA. Pada tongkang ini, terdapat 6 sesuai aturan International Maritime Solid Bulk
titik lokasi muatan batu bara dengan suhu antara 60.1°C Cargo (IMSBC Code) yaitu:
sampai 70.8°C. Sedangkan, pada tongkang INGGRID a). Batu bara dapat mengeluarkan metana, gas
yang ditarik dengan tugboat JOHAN, berisi muatan batu yang mudah terbakar. Campuran metana atau
bara dengan jumlah 7,743 MT, dan sandar di kapal pada udara yang mengandung antara 5% dan 16%
24 Agustus 2020 pukul 05.00 WITA. Pada tongkang ini metana merupakan atmosfer eksplosif yang
terdapat 2 titik lokasi muatan yang ditemukan dengan dapat tersulut oleh percikan api atau nyala
suhu yaitu 59.8°C dan 60°C. api, misalnya percikan listrik atau gesekan,
Hal tersebut menyebabkan adanya kendala dalam korek api atau rokok yang menyala. Metana
kegiatan pemuatan batu bara, sehingga tidak dapat lebih ringan dari udara dan oleh karena itu
berjalan dengan lancar. Pihak kapal pun menolak jika dapat menumpuk di wilayah atas ruang kargo
muatan tersebut tetap dimuat ke dalam kapalnya karena atau ruang tertutup lainnya. Jika batas ruang
aturan dari pihak pemilik kapal (owner) dan juga aturan kargo tidak ketat, metana dapat menembus
internasional (International Maritime Solid Bulk Cargo) melalui ruang-ruang yang berdekatan dengan
Code, bahwa muatan batu bara dengan suhu melebihi ruang kargo.
55°C tidak bisa dimuat ke kapal, serta diperlukan

6
b). Batu bara dapat mengalami oksidasi, yang suhu muatan batu bara, harus diambil dari dalam
menyebabkan penipisan oksigen dan tumpukan, dengan membutuhkan penggalian ke
peningkatan konsentrasi karbon dioksida dalam tumpukan. Oleh karena itu, besaran
atau karbon monoksida di ruang kargo. temperatur muatan batu bara dapat diperoleh.
Karbon monoksida adalah gas tidak berbau, Setelah dilakukan pengecekan suhu muatan
sedikit lebih ringan dari udara, dan memiliki batu bara pada kedua tongkang tersebut, muatan
batas mudah terbakar di udara 12% sampai batu bara tidak bisa dimuat ke dalam palka,
75% volume. Zat beracun jika terhirup sebab tidak sesuai syarat muatan batu bara yang
dengan afinitas untuk hemoglobin darah sesuai dengan aturan International Maritime
lebih dari 200 kali lipat dari oksigen. Solid Bulk Cargo (IMSBC Code). Oleh karena
c). Beberapa batu bara dapat memanas secara itu, jika terdapat muatan batu bara dengan suhu
spontan dan pemanasan spontan dapat melebihi 55°C tidak diizinkan untuk dimuat ke
menyebabkan pembakaran di ruang kargo. dalam kapal. Apabila muatan batu bara dengan
Gas yang mudah terbakar dan beracun, suhu melebihi 55°C tetap dimuat ke kapal, maka
termasuk karbon monoksida juga dapat dapat menyebabkan swabakar atau self-heating
diproduksi. ketika sudah dimuat dan dibawa dalam
d). Beberapa batu bara mungkin dapat bereaksi perjalanan ataupun ketika muatan tersebut
dengan air dan menghasilkan asam yang dibongkar.
dapat menyebabkan korosi. Gas yang mudah 2). Kadar air aktual tidak melebihi batas TML-nya
terbakar dan beracun, termasuk hidrogen, Dalam aturan International Maritime Solid
dapat dihasilkan. Hidrogen adalah gas tidak Bulk Cargo (IMSBC Code), klasifikasi muatan
berbau, jauh lebih ringan dari udara, dan
kargo dikelompokkan sebagai berikut:
memiliki batas mudah terbakar di udara 4%
sampai 75% berdasarkan volume. a). Grup A, yaitu kargo yang mudah
Sehingga diperlukan pengawasan dalam terlikuifikasi atau mencair jika dikirimkan
kegiatan pemuatan batu bara ke kapal sesuai pada kadar air lebih dari batas kelembaban
aturan International Maritime Solid Bulk Cargo yang dapat diangkut.
(IMSBC Code) yaitu: b). Grup B, yaitu kargo yang memiliki bahaya
a). Sebelum pemuatan, suhu muatan batu bara secara kimiawi yang dapat menimbulkan
ini harus dipantau. Muatan batu bara ini situasi berbahaya di sebuah kapal.
hanya boleh diterima untuk pemuatan ke c). Grup C, yaitu kargo yang tidak mudah
kapal ketika suhu muatan batu bara tidak terlikuifikasi atau mencair, atau memiliki
lebih tinggi dari 55°C. bahaya secara kimiawi.
b). Ruang kargo harus segera ditutup setelah Muatan batu bara diklasifikasikan sebagai
pemuatan selesai di setiap palka. Penutup Grup B yaitu muatan yang memiliki bahan
palka juga dapat disegel tambahan dengan kimia, atau Grup A dan B yaitu muatan yang
pita segel yang sesuai. Hanya ventilasi memiliki bahaya kimia dan muatan yang mudah
permukaan alami yang diizinkan dan mencair dengan menunjukkan hasil TML
ventilasi harus dibatasi pada waktu minimum (Transportable Moisture Limit). TML adalah
mutlak yang diperlukan untuk kadar air maksimum suatu muatan yang
menghilangkan metana yang mungkin telah dianggap aman untuk pengangkutan di kapal.
terakumulasi. Jika muatan batu bara dinilai memiliki kadar air
c). Personil tidak boleh memasuki ruang kargo aktual atau MC (Moisture Content) yang lebih
selama perjalanan, kecuali jika mereka
tinggi daripada TML-nya, maka tidak diizinkan
mengenakan alat bantu pernapasan mandiri
dan akses sangat penting untuk keselamatan muatan tersebut dimuat ke kapal, karena dapat
hidup dan keselamatan kapal. menyebabkan muatan tersebut terlikuifikasi
d). Ketika tingkat karbon monoksida meningkat sehingga dapat mempengaruhi stabilitas kapal
terus menerus, potensi pemanasan sendiri ketika dalam perjalanan. Muatan batu bara yang
mungkin terjadi dan terus berkembang. dimuat di palka yang tertutup, dalam kondisi
Dalam kasus seperti itu, ruang kargo harus tertentu yang diakibatkan oleh angin dan ombak,
benar-benar tertutup dan semua ventilasi
memungkinkan terjadinya segregasi moisture
berhenti, dan nakhoda harus segera meminta
nasihat ahli. Air tidak boleh digunakan untuk dan finer coal dan membentuk semacam
bahan pendingin atau memerangi kebakaran “liquefaction” yang pada kondisi tertentu dapat
kargo batu bara di laut, tetapi dapat membahayakan kapal tersebut terutama pada
digunakan untuk mendinginkan batas-batas stabilitas kapal selama dalam pelayaran.
ruang kargo. b. Bagaimana cara penanganan muatan batu bara high
e). Ketika tingkat karbon monoksida di setiap temperature pada proses pemuatan di MV.
ruang kargo mencapai 50 ppm atau MENOMONEE?
menunjukkan kestabilan meningkat selama 1). Penanganan dengan trimming muatan batu bara
tiga hari berturut-turut, kondisi pemanasan
pada tongkang
sendiri mungkin terjadi.
Pengecekan muatan batu bara dilakukan Sebelum kegiatan pemuatan, pada saat
sebelum kegiatan pemuatan dilakukan pada tongkang telah berada di samping kiri kapal
setiap tongkang yang merapat ke samping kapal. (alongside at port side ship), harus dilakukan
Untuk mengambil pembacaan temperatur atau pengecekan suhu muatan batu bara oleh chief

7
officer dan surveyor P&I sebelum dimuat ke dengan tongkang muatan lainnya sesuai barge
kapal. Pada tongkang ANGELINE 219-03, schedule, karena muatan batu bara yang panas
terdapat 6 titik lokasi dengan suhu lebih dari sudah tidak bisa dilakukan penanganan, sehingga
55°C. Sedangkan pada tongkang INGGRID menghambat waktu pemuatan.
terdapat 2 titik lokasi dengan suhu lebih dari
55°C. Hal tersebut menyebabkan Master MV. E. SIMPULAN DAN SARAN
MENOMONEE menolak muatan batu bara pada 1. Simpulan
tongkang tersebut dan meminta penanganan Berdasarkan penjelasan dari pembahasan hasil
penelitian dari rumusan masalah yang peneliti temukan
muatan batu bara high temperature tersebut
sehubungan dengan penelitian terhadap penanganan
sebelum muatan batu bara dimuat ke kapal. cargo high temperature pada saat kegiatan pemuatan
Diperlukan penanganan terhadap muatan batu batu bara di MV. MENOMONEE dapat disusun dengan
bara tersebut, sehingga kegiatan pemuatan bisa baik dan menghasilkan beberapa kesimpulan yang
dilaksanakan kembali. didapat. Berdasarkan uraian tersebut untuk mewujudkan
Masalah tersebut terjadi karena batu bara tujuan dari penyusunan penelitian ini, maka diperoleh
mengalami self heating, yaitu peningkatan suhu kesimpulan dengan uraian sebagai berikut:
a. Syarat muatan batu bara yang aman dan sesuai
batu bara yang terjadi dengan sendirinya. Hal
prosedur untuk dilakukan pemuatan di dalam palka
tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab,
adalah temperature muatan batu bara tidak melebihi
diantaranya yaitu batu bara yang dibawa melalui
batas kritis batu bara yaitu 55°C, karena dapat terjadi
jalur perairan menggunakan tongkang (barge)
coal self combustion. Selanjutnya perlu
menuju ke kapal mengalami reaksi oksidasi
memperhatikan kadar air maksimum muatan batu
karena terpapar langsung dengan oksigen dan
bara, apabila dinilai kadar air aktual lebih tinggi dari
suhu lingkungan yang panas juga. Oksidasi batu
TML-nya, maka tidak diizinkan muatan tersebut
bara pada temperature normal bersifat
dimuat ke dalam palka, karena dapat terjadi
melepaskan energi dalam bentuk panas. Apabila
liquefaction dan mempengaruhi stabilitas kapal.
panas yang dihasilkan lebih besar dari panas
b. Cara penanganan muatan batu bara high temperature
yang dihilangkan melalui konduksi dan
pada saat proses pemuatan di MV. MENOMONEE
penguapan, maka dapat terjadi peningkatan
yaitu dengan cara melakukan pemisahan muatan
temperature dengan sendirinya atau disebut coal
yang panas tersebut lalu dilakukan pemerataan oleh
self heating sehingga terjadi steaming pada
dozer, sehingga panas muatan tidak merambat ke
muatan batu bara. Jika temperature self heating
muatan lainnya dan uap panas dapat keluar ke udara,
terus mengalami peningkatan hingga melampaui
dan penanganan dapat dilakukan dengan
suhu kritis batu bara, maka dapat terjadi
menggantikan muatan dengan muatan pada tongkang
swabakar (self combustion).
lainnya.
Penanganan pertama yang dilakukan yaitu
2. Keterbatasan Penelitian
pemerataan dan pembongkaran pada muatan batu
Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini
bara yang ditemukan titik lokasi dengan suhu
terdapat beberapa keterbatasan yang mungkin dapat
melebihi 55°C. Yang selanjutnya dilakukan
mempengaruhi hasil dari penelitian. Adapun beberapa
pemisahan muatan panas tersebut dari muatan
keterbatasan tersebut antara lain:
yang bersuhu normal. Pemindahan muatan
a. Penelitian ini dilaksanakan pada saat peneliti
dilakukan dengan dilakukan pemerataan oleh
melaksanakan praktik darat, dan masih dalam tahap
dozer (trimming by dozer). Ketika muatan panas
proses belajar, sehingga masih memiliki banyak
tersebut dipindah kemudian diratakan, maka uap
kekurangan dalam pengalaman serta pengetahuan
panas dapat keluar, sehingga panas pada suatu
yang didapat.
titik lokasi muatan yang panas tidak merambat
b. Penelitian ini mempunyai keterbatasan dalam proses
ke lokasi muatan lainnya. Penanganan muatan
pengumpulan data. Pihak-pihak narasumber yang
tersebut dapat berjalan 2-5 jam sesuai kondisi
terlibat langsung dalam penelitian memiliki aktivitas
muatan batu bara pada tongkang.
yang padat, sehingga sulit dalam menentukan waktu
2). Penggantian dengan tongkang muatan batu bara
dalam pelaksanaan wawancara.
lain
c. Dalam penelitian ini, peneliti berkedudukan sebagai
Setelah dilakukan pemerataan muatan yang
boarding agent yang bertugas memonitor
panas, dilakukan pengecekan muatan batu bara
pelaksanaan kegiatan pemuatan, oleh karena itu,
kembali oleh chief officer dan surveyor P&I.
peneliti tidak seutuhnya mengetahui seluruh aktivitas
Setelah dilakukan pengecekan, masih ditemukan
yang didapatkan, dan hanya mendapatkan laporan-
titik lokasi muatan pada dua tongkang, yaitu
laporan setiap kegiatan dari narasumber yang terkait.
tongkang ANGELINE 219-03 dan tongkang
3. Saran
INGGRID dengan suhu lebih dari 55°C. Master
Dalam penelitian ini mengenai penanganan cargo
MV. MENOMONEE tetap menolak muatan
high temperature pada saat kegiatan pemuatan batu bara
tersebut, sehingga muatan tidak dapat dimuat ke
di MV. MENOMONEE yang telah disusun,
dalam kapal. Hal tersebut menyebabkan pihak
menyampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat
shipper memutuskan untuk mengganti muatan

8
bermanfaat bagi perusahaan pelayaran khususnya yang
mengurusi kegiatan pemuatan, para pengajar, serta bagi [10] Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2011).
para pembaca ataupun masyarakat secara umum Potensi energi batubara tercairkan (liquefied coal),
[Link]. (Diakses: 15 Juli 2022).
khususnya yang berkepentingan di sektor kemaritiman.
Adapun saran yang akan disampaikan adalah sebagai [11] Marine Safety Agency. Code of Safe Practice for Solid Bulk
berikut: Cargoes (BC Code): 1996 Amendment. Carriage of Coal
a. Guna mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan Cargoes. February 1998.
pemuatan, dibutuhkan persiapan yang baik, salah
satunya pihak shipper selaku pemilik muatan. [12] Maritime Safety Committee. INTERNATIONAL MARITIME
Sebelum dilaksanakan kegiatan pemuatan, pihak SOLID BULKCARGOES (IMSBC) CODE. ANNEX 3. Pages
124-135. 24 December 2008.
shipper harus menyiapkan muatan yang baik dan
[13] Republik Indonesia. (2008). Undang-Undang Republik
sesuai aturan untuk dilakukan pemuatan serta Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Jakarta:
menyiapkan dokumen yang dibutuhkan dalam hal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
pemuatan. Indonesia.
b. Berkaitan dengan pelaksanaan penanganan muatan
batu bara, apabila diamati di lapangan, pihak shipper [14] Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik
masih terdapat kekurangan terhadap penyediaan Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batu bara, Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi
peralatan penanganan muatan salah satunya chemical
Manusia Republik Indonesia.
dust suppressant sebagai penurun suhu muatan batu
bara. Oleh karena itu, diperlukan persiapan, [15] Sitinjak, E. K. (2022). Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi,
kelengkapan perlengkapan, dan alat pelindung diri Apa Dan Bagaimana? (Kajian Empiris pada Materi Suhu dan
apabila terjadi permasalahan dan diperlukan Kalor, Mata Kuliah Fisika Umum). (E. Margareta, Ed.).
penanganan. Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia.
c. Dalam permasalahan yang terjadi dalam proses
[16] Sugiyono. (2017). Metode Penelitian. Alfabeta.
pemuatan ini, diharapkan pihak-pihak yang terlibat
dalam kegiatan pemuatan dapat mempersiapkan
segala hal yang dibutuhkan, dan saling meningkatkan
hubungan kerja yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi Penelitian
Kualitatif. CV Jejak (Jejak Publisher).

[2] ASTM International. Standard Classification of Coal by


Rank. ASTM D388-19a. May 04, 2021.

[3] Aziz, Muhammad. A., Fadila, H., Wahyuni, S., Fitriyah, F.,
Sulastri. (2022). KARAKTERISASI BATUBARA LOW-RANK
ASAL JAMBI DAN BEBERAPA DAERAH DI INDONESIA
SEBAGAI BAHAN BAKU PUPUK HUMAT. Pusat Penelitian
Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia.

[4] Badan Geologi. (2021). Neraca Sumber Daya dan cadangan


batubara Indonesia, [Link] (Diakses: 4
April 2022).

[5] Capt. Edi Purwanto, M. M., Daviq Wiratno, S. Si. T. M. T.,


& Moh. Baidowi, S. T., M. T. (2018). STABILITAS KAPAL
UNTUK PERWIRA PELAYARAN NIAGA. Yayasan Bhakti
Samudera Surabaya.

[6] Fakhrurrozi. (2017). Penanganan, pengaturan, dan


pengamanan muatan kapal untuk perwira pelayaran niaga.
DEEPUBLISH.

[7] Fathuroya, V., Muchlisyiyah, J., Izza, N., & Yuwono, S. S.


(2017). Fisika Dasar untuk Ilmu Pagan. Universitas Brawijaya
Press.

[8] International Organization of Standardization. Classification


of coals. ISO 11760:2005(en). 2005.

[9] IWAN HERMAWAN, S. Ag., M. Pd. I. (2019). Metodologi


Penelitian Pendidikan (Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed
Method). Hidayatul Quran.

9
10

Anda mungkin juga menyukai