OPTIMALISASI PENGHAWAAN ALAMI RUSUNAWA BERTINGKAT
TINGGI PASKA PANDEMI
Natalia Suwarno1), Budi Prayitno2)
Departemen Teknik Arsitektur dan Perancangan Universitas Gadjah Mada 1)
Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada2)
Email: natsuwarno@[Link]
Abstrak: Kepadatan penduduk di Indonesia karena terjadinya pertumbuhan jumlah penduduk,
khususnya di Jakarta memicu pembangunan gedung hunian bertingkat tinggi untuk memaksimalkan
penangkap nilai lahan. Pembangunan berimbang didengungkan untuk mengimbangi kebutuhan dan
menumbuhkan daya beli masyarakat dengan memberi pilihan perumahan yang terjangkau bagi
kalangan menengah ke bawah. Rusunawa merupakan salah satu turunan dari kebijakan rumah
berimbang, yaitu dari kebijakan KotaKU untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Awal tahun 2020
dihebohkan dengan munculnya kasus pertama COVID-19 di Indonesia sehingga menyebabkan
perubahan pada pola kehidupan, tidak terkecuali di Rusunawa. Perubahan pola kehidupan dari
hunian horizontal ke hunian vertikal membutuhkan adaptasi dari penghuni dan adanya COVID-19
ini menyebabkan bertambahnya variabel penyebab perubahan pola kegiatan dalam hunian.
Kegiatan bersama dalam bangunan perlu diawasi untuk mengurangi kepadatan sehingga dapat
mengurangi kemungkinan penularan dalam bangunan/terjadinya kluster baru. Virus COVID-19 ini
penularannya diketahui utamanya melalui droplet dan dibawa angin dan apabila penghawaan
dalam ruang kurang baik akan menyebabkan virus ini mudah menyebar. Karena rusunawa menurut
standar diharuskan untuk menggunakan penghawaan alami, dalam perancangan perlu dipikirkan
cara memaksimalkan penggunaan penghawaan alami. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui cara
identifikasi kepadaatan dalam ruang dengan space syntax dan pengaruh pengahwaan alami dalam
mitigasi COVID-19 dalam bangunan rusunawa bertingkat tinggi.
Kata kunci: penghawaan alami, kepadatan dalam ruang, COVID-19
Title: Optimizing the Natural Air Conditioning of High-rise Building After the Pandemic
Abstract: Population density in Indonesia due to the population growth, especially in Jakarta,
triggered the construction of high-rise residential buildings to maximize land value capture.
Balanced development is buzzed to offset the needs and grow the community's purchasing power by
providing affordable housing options for the lower middle class. Rusunawa is one of the derivatives
of balanced housing policy, namely from Kotaku policy, to meet these needs. The beginning of 2020
was horrendous with the emergence of the first case of COVID-19 in Indonesia, causing changes in
life patterns, not least in rusunawa. Changes in life patterns from horizontal to vertical settlements
require adaptation from residents, and the presence of COVID-19 leads to increasing variables
causing changes in activity patterns in the settlement. Joint activities in buildings need to be
supervised to reduce density to reduce the possibility of transmission in buildings/occurrence of new
clusters. The COVID-19 virus is mainly transmitted through droplets and carried by the wind, and
if the air conditioning in the room is not good, it will cause the virus to spread quickly. Because
rusunawa, according to standards, is required to use natural air conditioning, in design, it is
necessary to think about how to maximize the use of natural air conditioning. This paper aims to
find out how to identify the nature of space with space syntax and the influence of natural awareness
in the mitigation of COVID-19 in high-rise rusunawa buildings.
Keywords: natural ventilation, indoor density, COVID-19
PENDAHULUAN 2019; Prayitno, 2020; Prayitno, 2018; Prayitno,
2020). Dalam usahanya, pemerintah ibukota
Demi memenuhi tujuan SDGs dan untuk merancang kebijakan mengenai rusunawa
mengurangi permukiman kumuh di kota besar, di bertingkat tinggi untuk meningkatkan nilai
Indonesia dibuat kebijakan KotaKU (BAPPENAS,
Natalia Suwarno & Budi Prayitno: Optimalisasi Penghawaan Alami
Rusunawa Bertingkat Tinggi Paska Pandemi
tangkapan lahan ruang dalam pemenuhan Subjek penelitian ini adalah masyarakat
perumahan berimbang khususnya untuk kalangan penghuni rusunawa bertingkat tinggi di kawasan
menengah kebawah. Dalam pembangunan iklim tropis. Objek amatan dari penelitian ini adalah
rusunawa tertuang dalam Perarturan Menteri bangunan rusunawa bertingkat tinggi yang
Pekerjaan Umum nomor 05/PRT/M/2007 mengunakan penghawaan alami di ruang bersama
mengenai pedoman teknis pembangunan rumah dan atau ruang yang digunakan untuk kegiatan
susun sederhana bertingkat tinggi (Kementerian
bersosialisasi antar penghuni rusunawa di dalam
Pekerjaan Umum, 2007), terdapat pembahasan
mengenai pemenuhan kualitas/keandalan bangunan ruang.
salah satunya mengenai kualitas tata udara dan Penelitian ini dilakukan dengan tahapan
kenyamanan termal dalam bangunan. Penghuni sebagai berikut: 1. Pembahasan teori mengenai
rusunawa sendiri dulunya merupakan penghuni kepadatan dalam ruang dan analisisnya dengan
perumahan horizontal yang berpindah ke
menggunakan software space syntax, 2. Cara
perumahan vertikal.
pengumpulan data penghawaan alami dalam ruang,
Dalam perubahan pola perumahan yang 3. Cara analisis data penghawaan alami dalam
dihuni, terjadi juga perubahan pola kehidupan ruang dengan kepadatan tinggi di bangunan
bersama sehingga adanya indikasi penggunaan bertingkat tinggi menggunakan CFD-based
ruang yang tidak sesuai peruntukan aslinya salah software.
satunya penggunaan koridor lantai hunian untuk
kegiatan bersama. Pandemi COVID-19 yang TEMUAN DAN PEMBAHASAN
datang pada awal tahun 2020 menyebabkan pola Ada beberapa rusunawa bertingkat tinggi di
berkegiatan dalam bangunan seperti itu dapat Jakarta dan beberapa diantaranya adalah Rusunawa
menyebabkan terjadinya penularan/kluster baru Jatinegara Barat, Rusunawa Pasar Rumput,
dalam bangunan (Escombe, et al., 2007; Rusunawa Pasar Jumat, dan Rusunawa
Goniewicz, et al., 2020; Pfefferbaum & North, Penggilingan. Untuk mengidentifikasi kepadatan
2020). dalam ruang kasus, diperlukan validasi dan
verifikasi. Dalam hal ini pengamatan dalam ruang
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui cara rusunawa diperlukan sebagai data untuk
identifikasi kepadatan dalam ruang serta menganalisis penilaian kepadatan dalam ruang
pengaruhnya dalam penularan virus COVID-19 dengan menggunakan space syntax sebagai alat
dalam bangunan apabila penghawaan alami yang bantu analisis.
digunakan belum sesuai dengan standar yang
berlaku untuk mitigasi COVID-19. Space Syntax
METODE PENELITIAN Konfigurasi antar ruang dapat diintepretasikan
Penulisan ini dengan merupakan penelitian sebagai kumpulan hubungan antara beberapa objek
kualitatif literatur review dengan mencoba dalam satu struktur (Hillier, 2007; Ridwana &
mengkaji beberapa teori tentang COVID-19 yaitu Prayitno, 2017). Space syntax merupakan teknik
cara penularan dan mitigasi untuk menghindari konfigurasi ruang dengan menganalisis pola spasial
penularannya (Escombe, et al., 2007; Goniewicz, et yaitu hubungan antara objek dengan skala mikro,
al., 2020; Kedutaan Besar RI di Brussels, Belgia, mezzo maupun makro (Darjosanyoto, 2005; Hillier
2020; Megahed & Ghoneim, 2020), penghawaan & Hanson, 1987) dengan variabel sebagai berikut:
alami di iklim tropis (EnREI, 1995; ASHRAE 55, 1. Connectivity
2004; Satwiko, 2009), penghawaan alami dan efek 2. Integrity
yang dirasakan manusia (Met Office, 2012; Givoni, 3. Intelligibility
et al., 2006) dan fungsinya untuk mencegah
terjadinya kluster baru dalam ruang bersama hunian Dengan menggunakan software Depthmap
bertingkat tinggi. untuk menjalankan data space syntax peneliti dapat
2
Jurnal Arsitektur Komposisi, Volume 15 No. 1 Oktober 2021 P-ISSN: 1411-6618 & E-ISSN: 2656-551X
mengetahui nilai tangkapan ruang dan memberi Thermal Sensation (TS)
penilaian bagian ruang mana dengan kepadatan
Thermal sensation merupakan 7 poin skala
tinggi. Apabila nilai kepadatan ruang sudah
untuk membantu dalam mengetahui sensasi termal
diketahui, hal yang perlu dilakukan untuk meninjau
yang dirasakan pengguna dalam suatu ruang (A.
ruang yang ada sesuai dengan ketentuan yang ada
Auliciems, 1981; ASHRAE 55, 2004; Givoni, et al.,
dalam hal kenyamanan termal serta penghawaan
2006). Perhitungan untuk mengetahui nilai TS
yang optimum, berikutnya dijelaskan mengenai hal
adalah sebagai berikut:
tersebut.
𝑇𝑆 = 𝐶 𝑥 (0,1115𝑥𝑇𝑒𝑚𝑝) 𝑥 (0,0008𝑥𝑅𝑎𝑑)𝑥 (0,3184𝑥𝐾𝑒𝑐. 𝐴𝑛𝑔𝑖𝑛)
Kenyamanan Termal
Dengan skala 1 sangat dingin, 2 dingin, 3 agak
dingin, 4 netral, 5 agak panas, 6 panas, dan 7 sangat
panas.
Natural Ventilation
Penghawaan alami di iklim tropis khususnya
di Indonesia dapat dimaksimalkan karena di kedua
musim perbedaan suhunya tidak terlalu signifikan.
Penghawaan alami merupakan penghawaan dengan
sistem aktif (Satwiko, 2009) dan dikatakan sudah
baik penggunaannya apabila orientasi bukaan yaitu
pintu dan jendela bangunan mengharap utara dan
selatan serta kecepatan udara di dalam bangunan
ada pada angka 0,6m/s-1,2m/s. Selain itu, terdapat
pula ACH yaitu Air Change per Hour (ACH) untuk
mengetahui kuantitas pergantian udara dalam ruang
Gambar 1. Ilurstrasi Kenyamana Termal pada Manusia. dalam kurun waktu 1 jam. ACH (A. Auliciems,
Sumber: (NZEB, -) 1981; EnREI, 1995; Mediastika, 2002; Escombe, et
al., 2007) yang baik untuk mengurangi
Kenyamanan termal bersifat personal dan kemungkinan penularan virus yang penularannya
sangat berbeda dirasakan setiap orang. Merupakan dengan udara berada pada angka 0,5-1. Untuk
kondisi pikiran dan rasa puas yang dirasakan mengetahui nilai ACH, dilakukan perhitungan
pengguna ketika berkegiatan dalam suatu ruang dengan rumus sebagai berikut:
(Szokolay, 1973; ISO, 2005; ASHRAE 55, 2004;
EnREI, 1995). Dalam iklim tropis seperti di 𝑄
𝐴𝐶𝐻 = ( ) ∗ 3600
Indonesia, kenyamanan termal yang optimum 𝑉
dirasakan apabila kondisi iklim mikro ada pada V adalah volume ruangan (m3) dan Q adalah tingkat
suhu 22,8oC – 25,5oC dan kelembapan relatif 60%- penghawaan alami (m3/s) dengan rumus
75% untuk mencapai suhu tubuh manusia yang
optimum pada angka 37oC (Satwiko, 2009). Selain 𝑄 = 0.025 ∗ 𝐴 ∗ 𝑣
itu, hal yang mempengaruhi kenyamanan termal
A adalah luas bukaan (m2), v adalah kecepatan
seseorang terhadap ruang adalah Radiant
pada bukaan (m/s) dan 0.025 adalah faktor pengali
Temperature, kecepatan angin, pakaian, aktivitas,
tetap (konstanta).
umur dan jenis kelamin.
Penggunaan Software berbasis CFD
Untuk mengetahui persebaran kecepatan udara
dalam ruang, diperlukan alat analisis dengan
3
Natalia Suwarno & Budi Prayitno: Optimalisasi Penghawaan Alami
Rusunawa Bertingkat Tinggi Paska Pandemi
menggunakan data kecepatan udara dalam ruang yang digunakan pada bangunan, jadwal
dan kecepatan udara luar ruang serta data penggunaan energi dalam bangunan(listrik, air,
temperatur udara. Data didapatkan dengan penghawaan buatan) serta data EPW untuk
pengamatan langsung serta penggunaan software menjalankan analisis iklim pada kasus amatan.
berbasis CFD. Setelah itu dilakukan pencatatan hasil dimana pada
gambar 3, warna merah merupakan indikasi
Salah satu contoh software yang dijalankan
nyaman optimum, kuning cenderung biasa saja, dan
dengan CFD (Bazafkan, 2017) adalah Butterfly,
biru merupakan indikasi tidak nyamannya
Ladybug dan Honeybee. Software tersebut
penghuni terhadap keadaan ruang dalam.
dijalankan pada program berbasis CAD bernama
Rhinoceros. Program ini dijalankan dengan input
data EPW (doe2, 2020) untuk analisis indoor
airflow, outdoor airflow, PMV, dan lain sebagainya
berkenaan dengan analisis energi pada bangunan.
Analisis Data
Penelitian berfokus pada bangunan bertingkat
tinggi sehingga ruang yang di analisis adalah pada
lantai 8 ke atas. Dimulai dengan analisis space
syntax dengan depthmap untuk mengetahui nilai Gambar 3. Analisis Indoor PMV dengan Honeybee.
kepadatan dalam ruang. Data yang diperlukan (Sumber: Penulis, 2021)
adalah jumlah penghuni harian pada lantai amatan.
Hasil dari space syntax ini adalah nilai R2 yang Berikutnya dilakukan analisis kecepatan udara
mengindikasikan kepadatan sebuah ruang. Nilai R2 dalam ruang menggunakan Butterfly. Simulasi ini
yang mendekati angka 1 adalah nilai yang dilakukan dengan memasukkan data kecepatan
menunjukkan tingkat kepadatan yang tinggi udara di luar bangunan yang berbeda di setiap
(Ridwana & Prayitno, 2017). Selain itu, pada lantainya. Karena itu, simulasi ini dilakukan
gambar 2, apabila ruang memiliki kepadatan tinggi berulang untuk mengetahui nilai kecepatan udara
akan berwarna merah dan biru merupakan indikasi dalam ruang di beberapa lantai yang berbeda.
ruang dengan kepadatan rendah. Penulis menurut gambar 4 melakukan simulasi
dengan mengambil sample pada lantai 4, 8, 11 dan
15 koridor hunian untuk mengetahui pengaruh
ketinggian lantai terhadap kecepatan udara yang
masuk dalam bangunan.
Gambar 2. Contoh Hasil Analisis VGA dengan
Depthmap. (Sumber: Penulis, 2021)
Berikutnya, dilakukan analisis Indoor PMV
untuk mengetahui tingkat kenyamanan termal
terhadap ruang dalam lantai amatan. Analisis ini Gambar 4. Analisis Indoor Airflow dengan Butterfly.
dilakukan dengan menggunakan Honeybee dengan (Sumber: Penulis, 2021)
memasukan data bukaan pada bangunan, material
4
Jurnal Arsitektur Komposisi, Volume 15 No. 1 Oktober 2021 P-ISSN: 1411-6618 & E-ISSN: 2656-551X
Selanjutnya, hasil simulasi di-overlay-kan apabila dimungkinkan dapat menggunaan bantuan
untuk mengetahui titik mana yang perlu perhatian alat penghawaan pasif seperti exhaust fan.
dalam hal mitigasi COVID-19 ini. Pada
pengamatan di atas, ruang yang perlu diberi KESIMPULAN
perhatian khusus. Terdapat indikasi ruang tersebut Kesimpulan yang bisa didapatkan dari
merupakan ruang dengan kepadatan tinggi serta penulisan ini adalah sebagai berikut:
memiliki kecepatan udara yang belum memenuhi
standar dengan contoh dari hasil kasus berikut ini: 1. Diperlukannya identifikasi kepadatan pada
ruang dengan analisis space syntax untuk
Tabel 1. Kecepatan Udara dari Contoh Kasus
mengetahui nilai kepadatan suatu ruang dan
Lantai Kecepatan Udara juga untuk mengetahui kerentanan suatu ruang
4 0,507 terhadap menularan virus COVID-19.
8 0,787 2. Analisis terhadap kenyamanan termal secara
11 1,131 keseluruhan (A. Auliciems, 1981; EnREI, 1995;
15 1,410 Mediastika, 2002; Escombe, et al., 2007;
Sumber: Penulis, 2021 Satwiko, 2009) diperlukan untuk melihat lebih
jauh apakah pada eksisting atau nantinya pada
Sebagai contoh, dari gambar tersebut telah saat perancangan diperlukan
dilakukan perhitungan untuk mencari nilai Thermal perubahan/penyesuaian untuk mengurangi
Sensation dengan hasil sebagai berikut: menularan virus COVID-19.
Tabel 2. Nilai TS Contoh Kasus
3. Hasil simulasi space syntax dan kenyamanan
Lantai C 0,1115 x 0,0009 0,3185 TS termal yang di-overlay-kan diperlukan untuk
Temp x Rad x kec mengetahui titik mana pada ruang yang
angin memiliki kerentanan tinggi dan perhatian
4 1,2 2,91 0,81 0,16 5 khsusus untuk diperbaiki agar dapat mengurangi
8 1,2 2,91 0,81 0,25 5 kemungkinan penularan virus COVID-19 atau
11 1,2 2,91 0,81 0,37 5 penyakit pernafasan lainnya.
15 1,2 2,89 0,81 0,45 4
Sumber: Penulis, 2021
4. Tulisan ini dapat digunakan sebagai batu
loncatan untuk penelitian berikutnya mengenai
Berikutnya, untuk mengetahui apakah dengan pengaruh kepadatan ruang dan penghawaan
kondisi eksisting sudah sesuai dengan standar (A. alami terhadap mitigasi COVID-19.
Auliciems, 1981; EnREI, 1995; Mediastika, 2002;
Escombe, et al., 2007), dilakukan perhitungan ACH UCAPAN TERIMA KASIH
dengan hasil sebagai berikut: Terima kasih kepada Tuhan serta orang di
Tabel 3. Nilai ACH pada Contoh Kasus sekitar penulis yang mendukung dalam
menyelesaikan tulisan ini sehingga tulisan ini dapat
Vol Cv A V Qp ACH diselesaikan tepat pada waktu-Nya.
4 843,9 0,025 7,5 0,51 0,09 0,41
8 843,9 0,025 7,5 0,79 0,15 0,63 References
11 843,9 0,025 7,5 1,13 0,21 0,90 A. Auliciems, 1981. Towards a psycho-
15 843,9 0,025 7,5 1,41 0,26 1,13 physiological model of thermal perception.
Sumber: Penulis, 2021 International Journalof Biometeorology
25(2), pp. 109-122.
Hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki nilai
ACH adalah dengan menambah luasan bukaan serta
5
Natalia Suwarno & Budi Prayitno: Optimalisasi Penghawaan Alami
Rusunawa Bertingkat Tinggi Paska Pandemi
ASHRAE 55, 2004. ANSI/ASHRAE Standard 5. Indices and Local Thermal Comfort
s.l.:s.n. Criteria, Geneva: ISO.
BAPPENAS, 2019. Rencana Pembangunan Kedutaan Besar RI di Brussels, Belgia, 2020.
Jangka Menengah Nasional 2020-2024. [Link]. [Online]
Jakarta: Kementerian PPN/BAPPENAS. Available at:
[Link]
Bazafkan, E., 2017. Assessment of Usability and
kebijakan-pemerintah-republik-indonesia-
Usefulness of New Building Performance
terkait-wabah-covid-19
Simulation Tools in the Architectural
[Accessed 30 September 2020].
Design Process.. Thesis ed. Wien:
Technischen Universität Wien. Kementerian Pekerjaan Umum, 2007.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum.
Darjosanyoto, E., 2005. "Kembang Jepun":
[Online]
Jalan Dominan Kota Surabaya. Dimensi,
Available at:
33(2), pp. 143-152.
[Link]
doe2, 2020. Index of Weather. [Online] dhukum/permen/05-PRT-M-
Available at: 2007%20PEDOMAN%20TEKNIS%20PE
[Link] MBANGUNAN%20RUMAH%20SUSU
N-US/ N%20SEDERHANA%20BERTINGKAT
%[Link]
EnREI, 1995. Avoiding or Minimising the Use
of Air Conditioning, Enrei Report no 31, Mediastika, C. E., 2002. Desain Jendela
UK: EnREI. Bangunan Domestik untuk Mencapai
"Cooling Ventilation". Dimensi, pp. 77-84.
Escombe, A. R. et al., 2007. Natural Ventilation
for the Prevention of Airborne Contagion. Megahed, N. A. & Ghoneim, E. M., 2020.
PLoS MEDICINE, 4(2), pp. 309-307. Antivirus-built Environment: Lessons
Learned from Covid-19 Pandemic.
Givoni, B. et al., 2006. Thermal sensation Elsevier: Sustainable Cities and Society,
responses in hot, humidclimates: effects of pp. 1-9.
humidity. BUILDING RESEARCH &
INFORMATION, pp. 496-506. Met Office, 2012. Beaufort. London: National
Meteorological Library and ArchiveFact
Goniewicz, K. et al., 2020. Current response and sheet 6 — The Beaufort Scale.
management decisions of the European
union to the COVID-19 outbreak: A NZEB, -. Net Zero Energy Building. [Online]
Review. Sustainability 12(09). Available at: [Link]
centre/passive-design/thermal-comfort/
Hillier, B., 2007. Space is the Machine. London: [Accessed 10 November 2020].
University College London.
Pfefferbaum, B. & North, C., 2020. Mental
Hillier, B. & Hanson, J., 1987. The Social Logic health and the Covid-19 pandemic. The
of Space. Cambridge: Cambridge New England Journal of Medicine.
University Press.
Prayitno, B., 2018. Green Modular Concept of
ISO, 2005. Ergonomics of the Thermal Sustainable Kampong Cityblock in
Environment — Analytical Determination Indonesia. Sustainable Development
and Interpretation of Thermal Comfort Research in the Asia-Pasific Region, pp.
using Calculation of the PMV and PPD 509-523.
6
Jurnal Arsitektur Komposisi, Volume 15 No. 1 Oktober 2021 P-ISSN: 1411-6618 & E-ISSN: 2656-551X
Prayitno, B., 2020. Megahunian Berkelanjutan.
Jakarta: Harian Kompas.
Prayitno, B., 2020. Paradigma Baru
Perumahan dan Pengembangan
Perkotaan. Yogyakarta, s.n., pp. 1-26.
Ridwana, R. & Prayitno, B., 2017. The
Relationship Between Spatial
Configuration and Social Interaction in
High-Rise Flats: A Case Study on the
Jatinegara Barat. s.l., SHS Web of
Conferences.
Satwiko, P., 2009. Fisika Bangunan.
Yogyakarta: Penerbit ANDI Yogyakarta.
Szokolay, 1973. Manual of Tropical Housing
and Building: Part 1: Climatic Design.
London: s.n.