0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
135 tayangan13 halaman

Tujuan dan Metode Sampling Pekerjaan

Modul ini membahas tentang sampling pekerjaan sebagai metode pengukuran kerja. Metode ini melibatkan pengamatan terhadap aktivitas kerja pada waktu-waktu yang ditentukan secara acak. Langkah-langkah melakukan sampling pekerjaan antara lain menetapkan tujuan, melakukan penelitian pendahuluan, memilih operator, melatih operator, dan menguraikan pekerjaan menjadi elemen-elemennya.

Diunggah oleh

asuna kimi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
135 tayangan13 halaman

Tujuan dan Metode Sampling Pekerjaan

Modul ini membahas tentang sampling pekerjaan sebagai metode pengukuran kerja. Metode ini melibatkan pengamatan terhadap aktivitas kerja pada waktu-waktu yang ditentukan secara acak. Langkah-langkah melakukan sampling pekerjaan antara lain menetapkan tujuan, melakukan penelitian pendahuluan, memilih operator, melatih operator, dan menguraikan pekerjaan menjadi elemen-elemennya.

Diunggah oleh

asuna kimi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL SAMPLING PEKERJAAN

PRAKTIKUM ANALISIS DAN PENGUKURAN KERJA

TIM PENYUSUN:

ASISTEN LABORATORIUM

LABORATORIUM MENENGAH TEKNIK INDUSTRI


JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS
GUNADARMA DEPOK/BEKASI/KARAWACI
2023
BAB II
MODUL SAMPING PEKERJAAN

2.1 Pengertian Sampling Pekerjaan


Sampling atau dalam bahasa asingnya sering disebut dengan Work Sampling,
Ratio Delay Study, atau Random Observation Method adalah suatu teknik untuk
mengadakan sejumlah besar pengamatan terhadap aktivitas kerja terhadap mesin,
proses dan pekerja. Pengukuran kerja dengan metode sampling kerja ini sperti
halnya dengan pengukuran kerja mengunakan jam henti (stopwatch time study)
diklasifikasikan sebagai pengukuran kerja secara langsung, karena pelaksanaan
kegiatan pengukuran harus secara langsung di tempat kerja yang diteliti (Sritomo,
1995).
Teknik sampling kerja ini pertama kali digunakan oleh seorang sarjana Inggris
bernama L.H.C. Tippet dalam aktivitas penelitiannya di industri tekstil. Selanjutnya
cara atau metode sampling kerja telah terbukti sangat efektif dan efisien untuk
digunakan dalam mengumpulkan informasi mengenai kerja mesin atau operatornya.
Dibandingkan dengan metode kerja yang lain, metode sampling kerja akan terasa
jauh lebih efisien karena informasi yang dikehendaki akan didapatkan dalam waktu
relatif lebih singkat dan dengan biaya yang tidak terlalu besar (Sritomo, 1995).
Metode ini bersama-sama dengan pengukuran jam henti yang merupakan cara
langsung, bedanya bahwa pada cara sampling pekerjaan pengamat tidak terus-
menerus berada di tempat pekerjaan melainkan mengamati hanya pada waktu-
waktu yang ditentukan secara acak. Karena kegunaannya metode ini kemudia
dipakai di negara-negara lain secara lebih luas. Dari namanya dapat diduga bahwa
metode ini menggunakan prinsip-prinsip dari ilmu statistik. Cara jam henti
sebenarnya juga menggunakan ilmu statistik tetapi pada sampling pekerjaan, hal ini
tampak lebih nyata (Sutalaksana, 2006).
Metode sampling kerja dikembangkan berdasarkan hukum probabilitas, karena
itulah pengamatan suatu objek tidak perlu dilaksanakan secara menyeluruh
(populasi) melainkan cukup dilakukan dengan menggunakan contoh (sampel) yang
diambil secara acak. Suatu sampel yang diambil secara acak dari suatu grup
populasi yang besar akan cenderung memiliki pola distribusi yang sama seperti
yang dimiliki oleh grup populasi tersebut. Apabila sampel yang diambil cukup
besar, maka karakteristik yang dimiliki oleh sampel tidak akan jauh berbeda
dibandingkan dengan karakteristik dari grup populasinya (Sritomo, 1995).

2.2 Langkah-langkah Melakukan Sampling Pekerjaan


Untuk mendapatkan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan, maka tidak
cukup sekadar melakukan beberapa kali pengukuran dengan menggunakan jam
hentui, apalagi jam biasa. Banyak faktor yang harus diperhatikan agar akhirnya
dapat diperoleh waktu yang pantas untuk pekerjaan yang bersangkutan seperti yang
berhubungan dengan kondisi kerja, cara pengukuran, jumlah pengukuran, dan lain-
lain. Di bawah ini adalah sebagian langkah yang perlu diikuti agar maksud di atas
dapat tercapai (Sutalaksana, 2006).
1. Penetapan tujuan pengukuran
Sebagaimana halnya dengan berbagai kegiatan lain, tujuan melakukan kegiatan
harus ditetapkan terlebih dahulu. Dalam pengukuran waktu, hal-hal penting
yang harus diketahui dan ditetapkan adalah peruntukkan penggunaan hasil
pengukuran, tingkat ketelitian, dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil
pengukuran tersebut. Misalnya jika waktu baku yang akan diperoleh
dimaksudkan untuk dipakai sebagai dasar upah perangsang, maka ketelitian dan
keyakinan tentang hasil pengukuran harus tinggi karena menyangkut prestasi
dan pendapatan buruh disamping keuntungan bagi perusahaan itu sendiri.
Tetapi jika pengukuran dimaksudkan untuk memperkirakan secara kasar waktu
pemesan barang dapat kembali untuk mengambil pesanannya, maka tingkat
ketelitian dan tingkat keyakinannya tidak perlu sebesar tadi.
2. Melakukan penelitian pendahuluan
Tujuan yang ingin dicapai dari pengukuran waktu adalah memperoleh waktu
yang pantas untuk diberikan kepada pekerja dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan. Tentu suatu sistem kerja dengan kondisi yang telah ada selama ini
termasuk di antara yang dapat dicarikan waktu yang pantas tersebut. Artinya
akan didapat juga waktu yang pantas untuk menyelesaikan pekerjaan, namun
dengan kondisi yang bersangkutan itu. Suatu perusahaan biasanya
menginginkan waktu kerja yang sesingkat-singkatnya agar dapat meraih
keuntungan yang sebesar-besarnya. Keuntungan demikian tidak akan diperoleh
jika kondisi kerja dari pekerjaan-pekerjaan yang ada di perusahaan tersebut
tidak menunjang tercapainya hal tadi. Untuk memperbaiki kondisi dan cara
kerja, diperlukan pengetahuan dan penerapan sistem kerja yang baik. Hal lain
yang harus dilakukan yaitu membakukan secara tertulis sistem kerja yang
dianggap baik. Disini semua kondisi dan cara kerja dicatat dan dicantumkan
dengan jelas serta bila perlu dengan gambar-gambar. Pembakuan sistem kerja
yang dipilih adalah suatu hal yang penting baik diulihat untuk keperluan
sebelum maupun sesudah pengukuran dilakukan dan waktu baku didapatkan.
Waktu akhir yang diperoleh setelah pengukuran selesai adalah waktu
penyelesaian pekerjaan untuk sistem kerja yang dijalankan ketika pengukuran
berlangsung. Suatu penyimpangan akan mengakibatkan waktu penyelesaian
yang jauh berbeda dari yang ditetapkan berdasarkan pengukuran, sehingga
catatan yang baku tentang sistem kerja yang telah dipilih perlu ada dan
dipelihara.
3. Memilih operator
Operator yang akan melakukan pekerjaan yang diukur bukanlah orang yang
begitu saja diambil dari tempat kerja. Orang ini harus memenuhi beberapa
persyaratan tertentu agar pengukuran dapat berjalan dengan baik dan dapat
diandalkan hasilnya. Syarat-syarat tersebut adalah berkemampuan normal dan
dapat diajak bekerjasama. Jika jumlah pekerja yang tersedia di tempat kerja
yang bersangkutan banyak dan kemampuan mereka dibandingkan akan terlihat
perbedaan di antaranya dari yang berkemampuan rendah sampai tinggi.
Umumnya kemampuan akan berdistribusi, seperti orang-orang yang
berkemampuan rendah dan tinggi jumlahnya sedikit, sementara orang yang
berkemampuan rata-rata jumlahnya banyak. Secara statistik distribusi
demikian dapat dibuktikan berdistribusi normal atau dapat didekati oleh
distribusi normal. Disamping itu operator yang dipilih adalah orang yang pada
saat pengukuran dilakukan mau bekerja secara wajar walau operator yang
bersangkutan sehari-hari dikenal memenuhi syarat pertama tadi tidak mustahil
dia bekerja tidak wajar ketika pengukuran dilakukan karena alasan tertentu.
Selain itu, operator harus dapat bekerja wajar tanpa canggung walaupun dirinya
sedang diukur dan pengukur berda didekatnya. Penjelasan mengenai maksud
baik dan manfaat pengukuran serta sikap yang seharusnya dilakukan operator
ketika sedang diukur, perlu diberikan terlebih dahulu. Operator harus mengerti
serta menyadari sepenuhnya, inilah yang dimaksud operator dapat diajak
bekerja sama.
4. Melatih operator
Walaupun operator yang baik telah didapat, terkadang pelatihan masih
diperlujkan bagi operator tersebut terutama jika kondisi dan cara kerja yang
dipakai tidak sama dengan yang biasa dijalankan operator. Hal ini terjadi bila
yang diukur adalah sistem kerja baru sehingga operator tidak berpengalaman
menjalankannya. Dalam keadaan seperti ini operator harus dilatih terlebih
dahulu, karena sebelum diukur operator harus sudah terbiasa dengan kondisi
dan cara kerja yang telah ditetapkan dan telah dibakukan. Operator baru dapat
diukur bila sudah berada pada tingkat penguasaan maksimum. Pada tingkat ini
operator telah memiliki penguasaan paling tinggi yang dapat dicapai. Biasanya
latihan-latihan lebih lanjut tidak akan merubah banyak. Penguasaan operator
yang telah baik biasanya tercermin dari gerakan-gerakan yang “halus” tidak
kaku), berirama, dan tanpa banyak melakukan perncanaan-perencanaan
gerakan.
5. Mengurai pekerjaan atas elemen pekerjaan
Pekerjaan dipecah menjadi elemen pekerjaan merupakan gerakan bagian dari
pekerjaan yang bersangkutan, elemen-elemen inilah yang diukur waktunya.
Waktu siklusnya adalah jumlah dari waktu setiap elemen ini. Waktu siklus
adalah waktu penyelesaian satu satuan produk sejak bahan baku mulai diproses
ditempat kerja yang bersangkutan. Namun, satu siklus tidak harus berarti waktu
yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu produk sehingga menjadi barang
jadi. Beberapa alasan yang menyebabkan pentingnya melakukan penguraian
pekerjaan atas elemen-elemennya. Pertama, untuk menjelaskan catatan tentang
tata cara kerja yang dilakukan. Kedua, untuk memungkinkan melakukan
penyesuaian bagi setriap elemen karena ketterampilan bekerjanya operator
belum tentu sama untuk semua bagian dari gerakan-gerakan kerjanya. Ketiga,
untuk memudahkan mengamati terjadinya elemen yang tidak baku yang
mungkin saja dilakukan pekerja. Keempat, untuk memungkinkan
dikembangkannya Data Waktu Standar untuk tempat kerja yang bersangkutan.
Ada beberapa pedoman penguraian pekerjaan atas elemen-elemennya, yaitu:
a. Sesuai dengan ketelitian yang diinginkan, uraikan pekerjaan menjadi
elemenelemennya serinci mungkin, tetapi masih dapat diamati oleh indera
pengukur dan dapat direkam waktunya oleh jam henti yang digunakannya.
b. Untuk memudahkan, elemen-elemen pekerjaan hendknya berupa satu atau
gabungan beberapa elemen gerakan, misalnya seperti yang dikembangkan
oleh Gilberth.

c. Jangan sampai ada elemen yang tertinggal, jumlah dari semua elemen harus
tepat sama dengan keseluruhan pekerjaan yang brsangkutan.

d. Elemen yang satu hendaknya dapat dipisahkan dari elemen yang lain secara
jelas. Batas-batas di antaranya harus dapat dengan mudah diamati agar tidak
ada keragu-raguan dalam menentukan saat suatu elemen berakhir dan saat
elemen berikutnya bermula.

6. Menyiapkan perlengkapan pengukuran


Langkah selanjutnya sebelum melakukan pengukuran kita perlu menyiapkan
perlengkapan atau alat-alat yang nantinya akan digunakan pada saat
pengukuran. Ada beberapa alat yang digunakan, yaitu:
a. Jam henti.
b. Lembaran-lembaran pengamatan.
c. Pena atau pensil.
d. Papan pengamatan.

2.3 Melakukan Perhitungan Waktu Baku


Jika pengukuran telah selesai, yaitu semua data yang didapat memiliki
keseragaman yang dikehendaki dan jumlahnya telah memenuhi tingkat-tingkat
ketelitian dan keyakinan yang diinginkan, maka langkah selanjutnya adalah
mengolah data tersebut sehingga menghasilkan waktu baku. Cara untuk
mendapatkan waktu baku dari data yang yeng terkumpul adalah sebagai berikut
(Sutalaksana, 2006).
1. Hitung waktu siklus, yang merupakan waktu penyelesaian rata-rata selama
pengukuran.
∑i
Ws =
N
Dimana xi merupakan jumlah seluruh waktu pengamatan dan N merupakan
jumlah berapa kali pengamatan dilakukan.
2. Hitung waktu normal.

Wn = Ws x p

Dimana p adalah faktor penyesuaian yang diperhitungkan jika pengukur


berpendapat bahwa operator bekerja dengan kecepatan tidak wajar sehingga
hasil perhitungan waktu perlu disesuaikan atau dinormalkan terlebih dahulu.
Jika pekerja bekerja secara wajar p = 1, pekerja bekerja terlalu lamban p < 1,
dan jika pekerja terlalu cepat p > 1.
3. Hitung waktu baku.

Wb = Wn (1 + l)

Dimana l adalah kelonggaran yang diberikan kepada pekerja untuk


menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal. Beberapa jenis
kelonggaran yaitu kelonggaran untuk kebutuhan pribadi, kelonggaran untuk
menghilangkan rasa fatigue, kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak
terhindarkan.

2.4 Cara Pengukuran dan Pencatatan Waktu Kerja


Ada tiga metode yang umum yang digunakan untuk mengukur elemen- elemen
kerja dengan menggunakan jam henti (stopwatch) yaitu pengukuran waktu secara
terus-menerus (continuous timing), pengukuran waktu secara berulang- ulang
(repetitive timing) dan pengukuran waktu secara pnjumlahan (accumulative timing)
(Sritomo, 1995).
Pada pengukuran waktu secara terus-menerus (continuous timing) maka
pengamat kerja akan menekan tombol stopwatch pada saat elemen kerja pertama
dimulai dan membiarkan jarum petunjuk stopwatch berjalan secara terus-menerus
sampai periode atau siklus kerja selesai berlangsung. Pengamat harus terus
memperhatikan jarum stopwatch dan mencatat pembacaan waktu yang ditunjukkan
setiap akhir dari elemen-elemen kerja pada lembar pengamatan. Waktu sebenarnya
dari masing-masing elemen diperoleh dari pengurangan pada saat pengukuran
waktu selesai dilaksanakan (Sritomo, 1995).
Untuk pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing) kada
disebut sebaga snap-back method, disini jarum penunjuk stopwatch akan selalu
dikembalikan (snap-back) lagi ke posisi nol pada setiap akhir dari elemen kerja yang
diukur. Setelah dilihat dan dicatat waktu kerja diukur kemudian tombol ditekan lagi
dan segera jarum penunjuk bergerak untuk mengukur elemen kerja berikutnya.
Dengan cara demikian maka data waktu untuk setiap elemen kerja yang diukur akan
dapat dicatat secara langsung tanpa ada pekerjaan tambahan untuk pengurangan
seperti yang dijumpai dalam metode pengukuran secara terus menerus (Sritomo,
1995).
Metode pengukuran secara akumulatif memungkinkan pembaca data waktu
secara langsung untuk masing-masing elemn kerja yang ada. Menggunakan dua
atau lebih stopwatch yang akan bekerja secara bergantian. Dua atau tiga stopwatch
akan didekatkan sekaligus pada papan pengamatan dan dihubungkan dengan suatu
tuas (Sritomo, 1995).

2.5 Kelonggaran
Kelonggaran diberikan untuk tiga hal, yaitu untuk kebutuhan pribadi,
menghilangkan rasa fatigue, dan hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan.
Ketiga ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja atau
operator dan yang selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat, ataupun
dihitung. Oleh karena itu sesuai pengukuran dan setelah mendapatkan waktu normal
kelonggaran perlu ditambahkan (Sutalaksana, 2006).
1. Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi
Yang termasuk ke dalam kebutuhan pribadi adalah hal-hal seperti minum, ke
kamar kecil, ataupun bercakap dengan teman. Kebutuhan seperti ini jelas
sebagai suatu yang mutlak, tidak bisa misalnya seseorang harus terus bekerja
sengan rasa dahaga atau melarangnya untuk sama sekali tidak bercakap
sepanjang kerja berlangsung. Larangan demikian tidak saja merugikan pekerja
tetapi juga merugikan perusahaan karena dengan kondisi demikian pekerja tidak
dapat bekerja dengan baik hamper dapat dipastikan produktivitasnya menurun.
Besar kelonggaran yang diberikan untuk kebutuhan pribadi berbeda- beda
karena setiap pekerjaan memiliki karakteristik sendiri-sendiri dengan tuntutan
yang berbeda-beda. Perhitungan khusus perlu dilakukan untuk menentukan
besarnya kelonggaran secara cepat seperti dengan sampling pekerjaan ataupun
secara fisiologis.
2. Kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatigue
Untuk menentukan besarnya kelonggaran ini adalah dengan melakukan
pengamatan sepanjang hari kerja dan mencatat saat-saat dimana menurunnya
hasil produksi disebabkan oleh timbulnya rasa fatigue, karena masih banyak
kemungkinan lain yang dapat menyebabkannya. Jika rasa fatigue telah datang
dan pekerja harus bekerja untuk menghasilkan performansi normalnya, maka
usaha yang dikeluarkan pekerja lebih besar dari normal dan ini akan menambah
rasa fatigue, yang mana jika berlangsung terus akan terjadi fatigue total yaitu
anggota badan yang bersangkutan sudah tidak dapat melakukan gerakan kerja
sama sekali walaupun sangat dikehendaki.
3. Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan
Besarnya hambatan yang tak terhindarkan sangat bervariasi dari suatu pekerjaan
ke pekerjaan lain bahkan satu sistem kerja ke sistem kerja lain karena
banyaknya penyebab seperti mesin, kondisi mesin, prosedur kerja, ketelitian
suplai alat dan bahan, dan sebagainya. Catatan-catatan pabrik tentang lamanya
perawatan atau lamanya arus listrik terputus dan sebagainya akan banyak
membantu penetapan kelonggaran jenis ini.

2.6 Penentuan Jumlah Sampel Pengamatan yang Dibutuhkan


Menentukan jumlah sampel pengamatan yang dibutuhkan untuk tingkat
keyakinan dan ketelitian yang telah ditentukan dengan menggunakan rumus uji
kecukupan data (Sritomo, 1995).
𝑘 2 (1 − 𝑃)
𝑁=
𝑆 2𝑃
Apabila setelah dihitung, ternyata harga N‟ lebih kecil daripada harga sebenarnya,
maka pengamatan berhenti karena dianggap telah mencukupi. Sebaliknya jika harga
N‟ tersebut lebih besar dari harga sebenarnya, maka dilakukan langkah pengamatan
dari awal. Frekuensi pengamatan pada hakikatnya tergantung pada jumlah
pengamatan yang diperlukan dan waktu yang tersedia untuk pengumpulan data
yang direncanakan (Sritomo, 1995).

2.7 Pemakaian Peta Kontrol Dalam Sampling Kerja


Peta control atau control chart yang secara umum telah banyak digunakan
dalam Statistical Quality Control, dapat pula dipergunakan dalam pelaksanaan
sampling kerja. Dengan menggunakan peta kontrol ini maka kita secara tegas akan
dapat melihat dengan segera kondisi-kondisi kerja yang terasa tidak wajar, misalnya
kondisi disaat mana baru saja terjadi kecelakaan pada lokasi yang berdekatan yang
mana secara psikologis hal ini akan dapat mempengaruhi aktivitas kerja dari
operator yang sedang kita amati. Data yang diperoleh untuk kondisi yang dianggap
tidak wajar ini seharusnya tidak usah dimasukkan dalam proses analisa nantinya
(Sritomo, 1995).
Dalam penggunaan peta kontrol ini data yang diharapkan dari hasil pengamatan
akan ditetapkan dalam sebuah peta knotrol yang mempunyai batas- batas kontrol
sebagai berikut (Sritomo, 1995).

- Batas kontrol atas (upper control limit)

p (1 − p)
BKA = p + 3
n

- Batas kontrol bawah (lower control limit)

p (1 − p)
BKB = p − 3
n

Dimana:

BKA = batas kontrol atas


BKB = batas kontrol bawah
̅p = presentase terjadinya kejadian rata-rata yang dinyatakan dalam bentuk angka
desimal.
n = jumlah pengamatan yang dilaksanakan per siklus waktu kerja.

2.8 Aplikasi Dari Metode Sampling


Metode sampling kerja pada umumnya merupakan salah satu cara yang
sederhana, mudah dilaksanakan, serta tidak memerlukan biaya yang besar. Dengan
menggunakan metode ini maka waktu kosong atau menganggur (idle time) dari
mesin atau fasilitas produksi lainnya akan dapat segera diatasi. Hasil studi ini akan
dapat dipakai pula sebagai dasar penetapan tugas dan jadwal kerja yang lebih efektif
dan efisien bagi operator maupun mesin. Berikut beberapa aplikasi dari metode
sampling kerja untuk berbagai macam kegiatan dan kebutuhan (Sritomo, 1995).
1. Aplikasi Sampling Kerja Untuk Penetapan Waktu Baku
Studi sampling kerja dapat menjawab beberapa hal, yaitu prosentase atau
proporsi antara aktivitas dan idle, dan penetapan waktu baku kegiatan. Setelah
halnya dalam stopwatch time study maka disini juga harus diestimasikan terlebih
dahulu performance rating dari operator yang diukur dan waktu longgar yang
ada, sehingga waktu baku penyelesaian suatu produk dapat dinyatakan dalam
rumus berikut.
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑡𝑖𝑚𝑒 (𝑗𝑎𝑚) 𝑥 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒 (%)
𝑥 𝑝𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑛𝑐𝑒 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 (%) 100%
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑑 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡 = 𝑥
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑝𝑖𝑒𝑐𝑒𝑠 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑒𝑑 100% − 𝐴𝑙𝑙𝑜𝑤𝑎𝑛𝑐𝑒

2. Aplikasi Sampling Kerja Untuk Penetapan Waktu Tunggu (Delay Allowance)


Apabila metode sampling kerja dihunakan untuk menetapkan waktu longgar
maka satu hal yang harus ditetapkan terlebih dahulu adalah membakukan metode
kerja yang digunakan. Studi dengan metode sampling kerja pada dasarnya adalah
mengamati fakta yang sebenarnya ada diatras are kerja. Sebagai bagian dari
aktivitas pengukuran kerja, maka metode sampling kerja juga harus dikaitkan
dengan penyederhanaan kerja (work simplification). Dengan mengetahui waktu-
waktu menganggur maka tujuan udari aktifitas ini adalah berusaha menekan
aktivitas-aktivitas yang diklasifikasikan sebagai “non-productive” sampai
presentase yang terkecil. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memperbaiki
metode kerja, alokasi pembebanan mesin atau manusia secara tepat.
3. Aplikasi Sampling Kerja Untuk Aktivitas Maintenance
Untuk menentukan proporsi aktivitas yang umum dijumpai dalam suatu aktivitas
maintenance, maka terlebih dahulu dilakukan penjabaran elemen- elemen kerja
secara lebih detail yaitu antara lain terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut.
a. Pekerja tidak ada ditempat.
b. Mengambil order penugasan kerja atau menerima telepon penugasan dari
Kepala Bagian Pemeliharaan.

c. Mempelajari perintah kerja atau surat atau dokumen lain yang berkaitan
dengan pekerjaan.

d. Bersiap-siap untuk melakukan tindakan pemeliharaan dengan melakukan


pembersihan atau menyiapkan peralatan kerja di sekitar lokasi pekerjaan.
e. Personal dan idle time.
f. Ketidaksinambungan beban kerja dari grup pekerja yang ada dimana satu
pekerja terlihat sibuk dan terlihat langsung dengan tugas pelaksanaan
perbaikan sedangkan yang lain terlihat menganggur.
g. Kegiatan menunggu (delay).
h. Bercakap-cakap dengan supervisor atau atasan lain dengan asumsi bahwa
percakapan tersebut berkaitan dengan pekerjaan.
Sedapat mungkin elemen-elemen ini dipecah secara mendetail kalau dalam hal
ini tidak dapat digabungkan dalam kelompok-kelompok kegiatan yang terdiri
dari elemen-elemen kerja relevan. Untuk kegiatan-kegiatan pemeliharaan
pengelompokan kerja bisa dilaksanakan dalam 3 kelompok, yaitu kegitan
langsung (direct work), kegitan tak langsung (indirect work), kegiatan berjalan
atau bergerak mondar-mandir (travel) (Sritomo, 1995).
4. Aplikasi Sampling Kerja Untuk Kegiatan Perkantoran (Office Work)
Dipergunakan untuk mengamati kegiatan dan perilaku pekerja. Beberapa program
dirancang pula untuk mengukur prosentase waktu dikontribusikan untuk berbagai
macam aktivitas perkantoran dengan hasil akhir berupa saran-saran perbaikan kea
rah peningkatan efisiensi kerja. Berikut adalah elemen-elemen kerja perkantoran
(Sritomo, 1995).
a. Menerima dan mempelajari instruksi-instruksi.
b. Kegiatan diskusi dengan pekerja lain.
c. Kegiatan menghitung, menulis, mengetik, dan lain-lain.
d. Aktivitas yang mengarah ke pemenuhan kebutuhan pribadi.
e. Kegiatan menelepon.
f. Idle, delay, absen, dan lain-lain.
5. Aplikasi Sampling Kerja Untuk Kegiatan Perkantoran (Office stop)
Dari suatu kegiatan sampling kerja terhadap seorang pimpinan perusahaan
diperoleh suatu kesimpulan bahwa seorang pimpinan/ eksekutif sering kali
melaksanakan aktivitas yang tidak efisien. Satu relevansi dari studi ini adalah
kebutuhan untuk memperoleh efisiensi yang besar dalam komunikasi lisan,
karena disekitar 80-85% waktu kerja dari seoran eksekutif perusahaan akan
banyak dipakai untuk bicara. Bisa dipahami bahwa aktivitas sampling ini baik
diaplikasikan dalam suatu area kerja dimana variasi elemen-elemen kegiatan
banyak diperoleh. Berikut secara umum kegiatan dari sampling kerja (Sritomo,
1995).
a. Memperoleh fakta kejadian dengan biaya 1/3 sampai 1/6 bila observasi
dilaksanakan secara terus menerus.

b. Tidak memerlukan pengamat yang terampil yang perlu dididik secara


khusus, meskipun tetap diharapkan bahwa pengamat cukup mengenal baik
pekerjaan yang akan diteliti.

c. Memberikan tingkat ketelitian yang diperoleh meskipun tetap kurang teliti


bila dibandingkan dengan pengamatan yang dilaksanakan secara kontinyu,
dan lain-lain.

Anda mungkin juga menyukai