0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan14 halaman

Risiko Bunuh Diri: Definisi dan Tindakan Keperawatan

Laporan pendahuluan tentang risiko bunuh diri membahas definisi, etiologi, faktor risiko, gejala, pengkajian, diagnosa dan tujuan penatalaksanaan. Risiko bunuh diri merupakan tindakan agresif yang dapat mengancam jiwa dan membutuhkan pendekatan keperawatan yang holistik.

Diunggah oleh

Kristiana Natalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan14 halaman

Risiko Bunuh Diri: Definisi dan Tindakan Keperawatan

Laporan pendahuluan tentang risiko bunuh diri membahas definisi, etiologi, faktor risiko, gejala, pengkajian, diagnosa dan tujuan penatalaksanaan. Risiko bunuh diri merupakan tindakan agresif yang dapat mengancam jiwa dan membutuhkan pendekatan keperawatan yang holistik.

Diunggah oleh

Kristiana Natalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

“RISIKO BUNUH DIRI”

STASE KEPERAWATAN JIWA

Dosen Pembimbing : [Link] Mardiyani, [Link]

DISUSUN OLEH :
NAMA : KRISTIANA NATALIA
NIM : RP23320019

PROGRAM STUDI NERS


INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN MUHAMMADIYAH
KALIMANTAN BARAT
2023
1. Definisi
Risiko bunuh diri adalah rentan terhadap penyakit diri sendiri dan cedera
yang mengancam jiwa (NANDA-I, 2018). Tindakan mengakhiri hidupnya
berupa isyarat, ancaman, dan percobaan buunuh diri (Stuart, Keliat, Pasaribu,
2016). Bunuh diri merupakan tindakan yang secara dasar dilakukan oleh
seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Perilaku bunuh diri adalah tindakan
yang dilakukan secara sengaja untuk membunuh diri sendiri. Bunuh diri dapat
melibatkan ambivalensi antara keinginan untuk hidup dan keinginan untuk
mati. Perilaku bunuh diri terdiri dari tiga tingkatan yaitu berupa ide atau isyarat
bunuh diri, ancaman bunuh diri, dan percobaan bunuh diri (Dewi dan Erawati,
2020).
Bunuh diri merupakan tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan
dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri
karena pasien berada dalam keadaan stres yang tinggi dan menggunakan koping
yang maladaptif. Situasi gawat pada bunuh diri adalah saat ide bunuh diri
timbul secara berulang tanpa rencana yang spesifik atau percobaan bunuh diri
atau rencana yang spesifik untuk bunuh diri. Oleh karena itu, diperlukan
pengetahuan dan keterampilan perawat yang tinggi dalam merawat pasien
dengan tingkah laku bunuh diri, agar pasien tidak melakukan tindakan bunuh
diri (Yusuf, Fitryasari, & Nihayati, 2015).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa resiko bunuh diri adalah
suatu tindakan yang bersifar agresif yang dapat mengancam jiwa. Bunuh diri
merupakan kegawatdaruratan prikiatri yang membutuhkan koping yang adaptif.

2. Etiologi, Faktor Predisposisi dan Presipitasi


a. Etiologi
Menurut Keliat dkk (2019) penyebab dari risiko bunuh diri yaitu :
a) Stres yang berlebihan
b) Gangguan konsep diri
c) Kehilangan dukungan sosial
d) Kejadian negatif dalam hidup
e) Penyakit kritis
f) Perpisahan dan/atau perceraian
g) Kesulitan ekonomi
h) Korban kekerasan
i) Riwayat bunuh diri individu dan/atau keluarga
b. Faktor Predisposisi
Menurut Fitria (2012) faktor predisposisi terdiri dari :
1) Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan
cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan
jiwa yang dapat membuat individu beresiko untuk melakukan
tindakan bunuh diri adalah gangguan efektif, penyalahgunaan zat
dan skizofrenia.
2) Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya
resiko bunuh diri adalah antisipasi, impulsife, dan depresi.
3) Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya
adalah pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan social,
kejadian-kejadian negative dalam hidup, penyakit kronis,
perpisahan, atau bahkan perceraian. Kekuatan sosial sangat penting
dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih
dahulu mengetahui penyebab masalah, respons seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lainlain.
4) Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan
faktor yang penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
bunuh diri.
5) Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri
terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat didalam otak seperti
serotonin, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat
dilihat melalui rekaman gelombang EEG.
c. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan
yang dialami oleh individu. Pencetusnya seringkali berupa kejadian hidup
yang memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat
atau membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri
ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal
tersebut menjadi sangat rentan (Fitria, 2012).

3. Tanda Dan Gejala


Tanda dan gejala risiko bunuh diri menurut Keliat dkk (2019) yaitu :
Mayor
Subjektif
a) Mengungkapkan kata-kata seperti "Tolong jaga anak-anak karena saya
akan pergi jauh!" atau "Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.”
b) Mengungkapkan kata-kata "Saya mau mati", "Jangan tolong saya",
"Biarkan saya", "Saya tidak mau ditolong".
c) Memberikan ancaman akan melakukan bunuh diri
d) Mengungkapkan ingin mati
e) Mengungkapkan rencana ingin mengakhiri hidup.
Objektif
a) Murung, tak begairah
b) Banyak diam
c) Menyiapkan alat untuk melakukan rencana bunuh diri
d) Membenturkan kepala
e) Menjatuhkan kepala dari tempat yang tinggi
f) Melakukan percobaan bunuh diri secara aktif dengan berusaha memotong
nadi, menggantung diri, meminum racun
Pengkajian dengan menggunakan SIRS (Suicidal Intervention Rating
Scale) (Stuart & Sundeen, 1987, dalam Keliat, B.A., 1991):
Skor 0: Tidak ada ide bunuh diri yang lalu dan sekarang
Skor 1: Tidak ada ide, ancaman dan percobaan bunuh diri
Skor 2: Ada ide dan pikiran bunuh diri tapi tidak ada ancaman dan percobaan
Skor 3: Ada ancaman bunuh diri
Skor 4: Ada percobaan bunuh diri
Minor
Subjektif
a) Mengungkapkan isyarat untuk melakukan bunuh diri, tetapi tidak disertai
dengannn ancaman
b) Mengungkapkan perasaan bersalah, sedih, marah, putus asa, atau tidak
berdaya.
c) Mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan
harga diri rendah.
Objektif
a) Kontak mata kurang
b) Tidur kurang
c) Mondar-mandir
d) Banyak melamun
e) Terlihat sedih
f) Menangis terus-menerus
4. Pengkajian Keperawatan Jiwa yang Dikaji
Pengkajian yang dapat dilakukan seorang perawat untuk mengetahui
adanya risiko bunuh diri antara lain (Wuryaningsih, 2018):
1) Apakah saudara tinggal serumah dengan orang tua?
2) Apakah orang tua saudara dalam keadaan bercerai?
3) Apakah saudara bercerita kepada orang lain jika mempunyai masalah?
4) Adakali anggota keluarga saudara yang melakukan bunuh diri?
5) Adakah teman saudara yang melakukan bunuh diri?
6) Apakah saudara pernah mengalami peristiwa menyakitkan yang tidak bisa
dilupakan?
7) Apakah saudara sedang memakai narkoba?
8) Apakah saudara menderita sakit kepala atau nyeri perut yang berulang-
ulang?
9) Apakah saudara sebelumnya melakukan pcrcobaan bunuh diri?
10) Apakah saudara memiliki kelainan orientasi seksual (lesbian, gay,
biseksual)?
11) Adakah keinginan untuk hidup?
12) Masih adakah keinginan untuk mati?
13) Apa alasan saudara untuk hidup/mati?
14) Masih adakah keinginan saudara untuk melakukan bunuh diri?
Data yang Perlu Dikaji
Masalah Kesehatan Data yang Perlu Dikaji
Resiko Bunuh Diri Subjektif:
 Menungkapkan keinginan bunuh diri
 Mengungkapkan keinginan untuk mati
 Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusaan
 Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri
sebelumnya dari keluarga
 Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang
dosis obat yang mematikan
 Mengungkapkan adanya konflik interpersonal
 Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku
kekerasan saat kecil

Objektif:
 Implusif
 Menunjukkan perilaku yang mencurigakan
 Ada riwayat pnyakitmental
 Ada riwayat penyakit fisik
 Pengangguran
 Umur 15-19 tahun
 Status perkawinan yang tidak harmonis
Sumber: (Fitria, 2012)
Pohon Masalah

Sumber: (Fitria, 2012).


5. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko bunuh diri
b. Bunuh diri
c. Isolasi social
d. Harga diri rendah kronis

6. Kondisi Klinis Terkait


a) Depresi
b) Skizofrenia
c) Penyalahgunaan NAPZA
d) Peyakit terminal (Keliat, 2019).
7. Tujuan Asuhan Keperawatan
a) Kognitif, klien mampu:
- Menyebutkan penyebab risiko bunuh diri
- Menyebutkan tanda dan gejala risiko bunuh diri
- Menyebutkan akibat yang ditimbulkan bunuh diri
- Menetapkan harapan dan masa depan
- Menyebutkan aspek positif dan kemampuan diri sendiri, keluarga
dan kelompok
b) Psikomotor, klien mampu:
- Mengendalikan lingkungan yang aman
- Melatih diri berpikir positif dan afirmasi positif
- Menggunakan kelompok untuk bercakap-cakap dalam
menyelesaikan masalah
- Melakukan aspek positif dalam mencapai harapan da masa depan.
c) Afektif, klien mampu:
- Merasakan manfaat diri sendir
- Membedakan perasaan sebelum dan sesudah latihan
- Merasa hidup lebih optimis (Keliat, 2019).
8. Tindakan Keperawatan Ners Pada Individu
1. Tindakan keperawatan ners
a. Pengkajian: Kaji tanda dan gejala risiko bunuh diri, penyebab dan
kemampuan mengatasinya
b. Diagnosis: Jelaskan proses terjadinya risiko bunuh diri dan akibatnya
serta skor skala intervensi bunuh diri
c. Tindakan keperawatan:
1) Mengamankan lingkungan dari risiko bunuh diri (lingkungan aman)
2) Membangun harapan dan masa depan
a) Diskusikan tujuan dari kehidupan
b) Diskusikan membangun harapan terkait diri sendiri, orang yang
berarti dalam kehidupan
c) Diskusikan cara dan tekad untuk mencapai harapan dan masa
depan
d) Latih untuk mencapai harapan dan masa depan
3) Latih cara mengendalikan dorongan bunuh diri:
a) Diskusikan dan buat daftar aspek positif diri dan lakukan
afirmasi positif
b) Diskusikan dan buat daftar aspek positif dari orang yang berarti
dalam hidup dan lakukan afirmasi positif
c) Diskusikan dan buat daftar aspek positif dari lingkungan dan
lakukan afirmasi positif
d) Latih semua aspek positif yang dimiliki: dari diri sendiri, orang
yang berarti dan
e) Latih mengevaluasi perasaan dan pikiran atas keberhasilan
latihan
4) Berikan motivasi untuk membangun harapan dan mengendalikan
dorongan bunuh diri
5) Minta klien menghubungi care giver (keluarga) dan tenaga kesehatan
jika tidak dapat mengendalikan dorongan bunuh diri
6) Berikan pengawasan ketat dan terkendali jika klien tidak dapat
mengendalikan dorongan bunuh diri (perawatan intensif)

Tingkat Observasi Risiko Bunuh Diri (Appleby, et. al, 2015)


Level Observasi
Skore 1 Observasi umum minimal setiap 60 menit
Skore 2 Observasi intermiten setiap 15-30 menit
Skore 3 Observasi konstan setiap saat pagi-siang-malam
Skore 4 Observasi ketat dan melekat setiap saat (selalu bersama-sama)
2. Tindakan keperawatan spesialis
a. Terapi kognitif
1) Sesi 1: Mengidentifikasi pengalaman yang tidak menyenangkan dan
menimbulkan pikiran otomatis negatif.
2) Sesi 2: Melawan pikiran otomatis negatif
3) Sesi 3: Memanfaatkan sistem pendukung
4) Sesi 4: Mengevaluasi manfaat melawan pikiran negatif
b. Terapi kognitif perilaku
1) Sesi 1: Mengidentifikasi pengalaman yang tidak menyenangkan dan
menimbulkan pikiran otomatis negatif dan perilaku negatif
2) Sesi 2: Melawan pikiran otomatis negatif
3) Sesi 3: Mengubah perilaku negatif
4) Sesi 4: Memanfaatkan sistem pendukung
5) Sesi 5: Mengevaluasi manfaat melawan pikiran negatif dan
mengubah perilaku negatif (Keliat, 2019).

9. Tindakan Keperawatan Ners Pada Keluarga


1. Tindakan keperawatan ners
a. Kaji masalah klien yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.
b. Menjelaskan proses terjadinya risiko bunuh diri pada klien.
c. Mendiskusikan cara merawat risiko bunuh diri dan memutuskan cara
merawat sesuai dengan kondisi klien.
d. Melatih keluarga cara merawat risiko bunuh diri:
1) Menyediakan lingkungan yang aman dari risiko bunuh diri antara
lain menjauhkan alat-alat yang berbahaya yang dapat melukai diri.
2) Memberi pujian atas semua aspek positif klien, hindari
menyampaikan aspek negatif atau kekurangan.
3) Berdiskusi tentang harapan dan masa depan.
4) Memotivasi dan membimbing klien melakukan kegiatan sesuai
dengan asuhan yang telah diberikan perawat.
5) Mendampingi klien sampai melakukan kegiatan positif.
e. Melibatkan seluruh anggota keluarga menciptakan suasana positif: saling
memuji, mendukung dan peduli.
f. Menjelaskan tanda dan gejala risiko bunuh diri (tidak dapat
mengendalikan dorongan bunuh diri) yang memerlukan rujukan segera
serta melakukan follow up ke pelayanan kesehatan secara teratur.
2. Tindakan keperawatan spesialis: Psikoedukasi keluarga
a. Sesi 1: Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami klien dan
masalah keluarga dalam merawat klien
b. Sesi 2: Merawat masalah kesehatan klientadace Agents
c. Sesi 3: Melatih manajemen stres untuk keluarga
d. Sesi 4: Melatih manajemen beban untuk keluarga
e. Sesi 5: Memanfaatkan sistem pendukung
f. Sesi 6: Mengevaluasi manfaat psikoedukasi keluarga (Keliat, 2019).

10. Tindakan Keperawatan Ners Kelompok


1. Tindakan keperawatan ners
a. Terapi aktivitas kelompok
b. Kelompok sabantu (self-help group).
2. Tindakan keperawatan spesialis
a. Terapi suportif (Keliat, 2019).
11. Tindakan Kolaborasi
a) Melakukan kolaborasi dengan dokter menggunakan ISBAR dan TbaK.
b) Memberikan program terapi dokter (obat): edukasi 8 benar pemberian obat
dengan menggunakan konsep safety pemberian obat.
c) Mengobservasi manfaat dan efek samping obat (Keliat, 2019).
12. Discharge Planning
a) Menjelaskan rencana persiapan pasca-rawat di rumah untuk memandirikan
klien.
b) Menjelaskan rencana tindak lajut perawatan dan pengobatan.
c) Melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan (Keliat, 2019).

13. Evaluasi
a) Penurunan tanda dan gejala risiko bunuh diri.
b) Peningkatan kemampuan klien mengatasi risiko bunuh diri.
c) Peningkatan kemampuan keluarga dalam merawat klien (Keliat, 2019).
14. Rencana Tindak Lanjut
a) Rujuk klien dan keluarga ke fasilitas praktik mandiri perawat spesialis
keperawatan jiwa.
b) Rujuk klien dan keluarga ke case maager di fasilitas pelayanan kesehatan
primer di puskesman, pelayanan kesehatan sekunder dan tersier di rumah
sakit.
c) Rujuk klien dan keluarga ke kelompok pendukung, kader kesehatan jiwa,
kelompok swabantu dan fasilitas rehabilitasi psikososial yang tersedia di
masyarakat (Keliat, 2019).
15. Referensi
Dewi, I. W. P. dan Erawati, E. (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien
Skizofrenia Dengan Risiko Bunuh Diri. Jurnal Kepearwatan Jiwa, 8(2),
211-216.
Fitria, Nita. (2012). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP Dan SP) untuk 7
Diagnosa Keperawatan Jiwa Berat Bagi Program S-1 Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Keliat, B.A., Hamid, A.Y.H.,..dkk. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta:
EGC.
Struarrt, G. W., Keliat, B.A., & Pasaribu, J. (2016). Prinsip dan Praktik
Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi Indonesia. Singapura: Elsevier.
Wuryaningsih, N. E. W., Kep, M., Windarwati, H. D., Kep, M., Dewi, N. E. I.,
Kep, M., ... & Kep, M. (2018). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa 1.
UPT Percetakan & Penerbitan, Universitas Jember.
Yusuf, A., Fitryasari, R., Nihayati, H. E. (2015). Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai