Bacalah cerpen berikut!
Menikah dengan Bule
Di rumah Emak, IJah dan kedua anaknya tidur di kamar sekamar.
”Ma, panas. Enggak bisa pasang AC apa di sini?” tanya si sulung Cika sambil berkipas dengan sepotong
kertas karton.
Ah, Ijah hanya bisa menghela napas.
”Ma, Cika enggak tahan kalau panas begini. Di sekolah panas, di rumah panas. Juga mungkin Timur,
pacar Cika lama-lama bosan kalau harus mengantar jemput Cika di tempat terpencil ini. Cika tidak mau
naik angkot, Ma,” Cika bicara dengan ketus.
”Masih mending kamu bisa naik angkot, Mama dulu ke sekolah jalan kaki, empat kilometer pulang
pergi karena tidak ada angkutan ke rumah ini dulu,” Ijah emosi mendengar kemanjaan Cika.
Cika masih terus mengomel, tapi Ijah memunggungi Cika dan berusaha tidak mendengarkan
keluhannya lebih lanjut.
”Ma, dari kecil Mama memang bercita-cita menjadi penyanyi dangdut?” tanya Andre, Anak Ijah nomor
dua degan suara halus.
Ingatan Ijah kembali ke masa di SMP dulu, kemudian dia berkata, ”Ketika seumuran Cika, Mama sangat
bersemangat ke sekolah. Bahkan, punya cita-cita mulia. Meskipun Mama, Uwak Rodiah, dan Amang Dadang
harus berjalan kaki setiap hari. Mama ingin seperti Pak Habibie Menurut Mama, Pak Habibie adalah tokoh
yang sangat luar biasa dan Mama ingin menjadi ilmuwan seperti Pak Habibie.”
”Oh, begitu? Andre juga sangat mengidolakan Pak Habibie, Ma,” Andre tersenyum dengan wajah lucu.
Ketukan di pintu membuat Andre berhenti tersenyum.
”Ya, masuk,” jawab Ijah dengan malas karena dia tahu pasti Teteh yang mengetuk pintu.
”Di luar aja, Jah,” jawab Teteh.
Dengan malas, Ijah menghampiri Teteh di luar.
”Sini duduk, Teteh udah bikin kudapan dan teh manis loh. Kita sudah lama tidak berbincang-bincang
layaknya kakak adik,” Teteh Rodiah duduk sambil menunjuk hidangan di atas meja.
”Tumben, Teteh,” jawab Ijah meskipun Ijah tahu bahwa Teteh pasti ada maunya.
”Jah, suamiku ke luar negeri ngapain sih?” selidik Teteh sambil menyodorkan secangkir teh panas
ke Ijah.
”Urusan bisnis, Teteh.”
”Wah bisnisnya gede, ya? Teteh bertanya sambil menatap mata Ijah langsung.
”Bisnis internasional, Teh,” Ijah mengangguk.
”Teteh iri loh sama kau, Jah. Kau pernah jadi penyanyi dangdut populer. Kau diundang ke acara-acara
penting. Kemudian, kau juga sudah mengunjungi hampir setiap kota di Nusantara ini. Sudah populer, kau
beruntung pula mendapatkan suami bule yang kaya raya. Sementara Teteh? Umur segini pun, belum juga
mendapatkan jodoh. Dari kecil Teteh hanya menemani Emak. Mungkin takdir Teteh hanya menjadi orang
biasa, ya, Jah,” Teteh terkekeh setelah berucap. Kemudian, dia menyentuh lengan Ijah.
”Kau harus bersyukur anak-anakmu cantik dan berwajah blasteran. Peranakan bule banyak dicari
zaman sekarang untuk jadi bintang film dan bintang sinetron,” Teteh melanjutkan sambil berkali-kali
melirih Ijah, menunggu reaksi dari dia.
Ijah tidak menanggapi ucapan Teteh. Dia tersenyum kecut. Kemudian, berpura-pura meniup tehnya
yang tidak lagi panas.
”Apakah putrimu tidak ingin menjadi bintang film?” tanya Teteh Rodiah dengan nada ringan dan
terkesan berbasa-basi.
”Cika masih ingin sekolah, Teh,” jawab Ijah sambil tersenyum tipis.
”Aku ingat, dulu kau bertemu dengan suamimu di salah satu stasiun televisi swasta. Enam belas tahun
yang lalu,” Ijah menjawab dengan mata menerawang dan pandangan mata yang sedikit berair mengingat
kenangan tersebut.
”Kau menangis, Jah?” tanya Teteh dengan lembut.
”Ah, tidak kok. Ini tehnya panas, mataku jadi berembun,” jawab Ijah mencoba mengalihkan perhatian.
Tanpa diduga oleh Ijah, Teteh mencondongkan tubuhnya ke arah Ijah dan menyentuh gelas teh Ijah.
Kemudian, dia berkata dengan senyum licik, ”Sudah dingin kok tehmu.”
Ijah terkejut.
Muka dan matanya merah menahan amarah.
”Diminum dong tehnya, kok diembus terus,” Teteh terkekeh.
Dengan senyum kecut dan mata merah, Ijah meminum teh yang sudah dibuatkan oleh Teteh Rodiah.
Setelah menghabiskan beberapa potong pisang goreng dan secangkir teh, Teteh tidak lagi bertanya kepada
Ijah.
Sumber: Nana Sitompul, ”Menikah dengan Bule” dalam Cerita Para Perambah Kelas Cerpen Kompas 2016, Jakarta, Kompas, 2017