KEMENTRIAN PENDIDIKAN KEBUDAYAAN,
RISET, DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS RIAU
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PEKANBARU
FENOMENA PHUBBING PADA PENGUNJUNG TAMAN JALUR KABUPATEN
KUANTAN SINGINGI
PROPOSAL SKRIPSI
OLEH :
WELLY APRILIANTI
1901124581
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2022
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah SWT yang maha pengasih dan lagi
maha penyayang. Berkat limpahan dan karunia dan nikmat-Nya, peneliti
dapat menyelesainkan proposal penelitian yang berjudul “Fenomena
Phubbing Pada Pengunjung Taman Jalur Kabupaten Kuantan Singingi
“. Pengajuan proposal penelitian ini merupkan legitimasi pelaksanaan
penelitian dan salah satu syarat menyelesaikan program strata satu
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas riau
Dalam proses penyusunannya proposal ini tidak terlepas dari
bantuan, arahan dan masukan dari berbagai pihak. Terimakasih kepada
Ibu Winda Ersa Putri [Link], [Link] sebagai dosen pembimbing
proposal. Terimakasih juga untuk semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan proposal penelitian ini, baik secara langsung
maupun secara tidak langsung.
Demikian proposal ini dibuat. Penulis sangat mengharapkan saran
dan kritik dari segala pihak, khususnya yang terkait dengan masalah dan
objek penelitian yang akan diteliti. Semoga proposal ini dapat
bermanfaat dan memberikan ilmu pengetahuan yang berguna bagi
pembaca dan untuk penulis sendiri khususnya.
Pekanbaru, 30 November 2022
Punulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................ii
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah.......................................................................................1
B. Rumusan Masalah Dan Identifikasi Masalah.......................................................6
C. Tujuan Penelitian..................................................................................................6
D. Manfaat Penelitian................................................................................................6
BAB II............................................................................................................................8
E. Tinjauan Pustaka..................................................................................................8
1.1. Tinjauan Penelitian Sejenis Terdahulu.........................................................8
1.2. Tinjauan Teoritis.........................................................................................10
1.3. Tinjauan Konseptual...................................................................................14
2.1. Pendekatan atau Paradigma Penelitian.......................................................22
2.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian.....................................................................22
2.3. Subjek Dan Objek Penelitian......................................................................23
2.4. Teknik pengumpulan data...........................................................................24
2.5. Teknik analisis data.....................................................................................25
2.6. Teknik pemeriksaan keebsahan data...........................................................26
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................29
ii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemunculan smartphone atau telepon pintar, menjadi tanda majunya
peradaban teknologi informasi dan komunikasi. Hadirnya smartphone
memberikan kemudahan kepada manusia untuk saling berkomunikasi,
bertukar informasi tanpa terkendala oleh jarak, ruang dan waktu. Masyarakat
saat ini cenderung tidak dapat terpisah dari smartphone, terbukti pada
perilaku yang selalu membawa smartphone kemanapun pergi dan dimanapun
tempatnya, seperti supermarket, di kantor, di taman, bahkan pada saat di
tempat tidur. Smartphone bagaikan belahan jiwa yang tidak dapat dilepaskan
dari kehidupan manusia. Masyarakat sangat tertarik dengan smartphone,
meskipun kehadiranya ternyata dapat mengusik proses interaksi sosial tatap
muka antar keluarga, sahabat, rekan kerja dan bahkan pasangan. Mereka
seakan diabaikan karena lebih asyik sendiri menggunakan smartphone
dihadapan mereka dan mejadikan suasana menjadi tidak nyaman. Pada saat
sekarang sering terjadi mau tidak mau manusia harus tetap mengikuti
perkembangan saat ini. Jika tidak mengikuti, maka manusia bakalan
ketinggalan berbagai informasi yang ada dan mungkin akan dikucilkan
dengan keadaan karna tidak tau dengan teknologi. Jika pemakaian teknologi
tidak sesuai dengan fungsinya dan penggunaannya secara berlebihan, maka
kinerjanya tidak sesuai dan tidak efektif. Dengan adanya teknologi yang
semakin canggih, hampir semua segala aktivitas manusia ada pada
smartphone.
Di kutip dari ([Link]) smartphone paling banyak dari segi kelompok
usia berada pada rentang usia 20-29 tahun sebesar 75,95 persen. Lalu,
kelompok rentang usia 30-49 tahun sebesar 68,34 persen. Hingga penggunaan
smartphone paling sedikit berada di rentang usia 50-79 tahun sebesar 50,79
persen. Terkait dengan penggunaan smartphone, kelompok usia yang paling
banyak menggunakan smartphone adalah usia 20-29 tahun tahun dengan
persentase sebesar (75,95 %). Menurut hasil survei Asosiasi Penyelenggara
2
Jasa Internet Indonesia (APJII). Artinya sebagian besar pengguna smartphone
adalah anak muda, mulai dari kuliah sampai usia 34 tahun. Lembaga riset
digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna
aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah
sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif
smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.
([Link]).
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS)
Persentase pengguna smartphone di Indonesia cenderung meningkat. Pada
2021, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase pengguna telepon
genggam di dalam negeri mencapai 65,87%. Persentase itu meningkat
dibandingkan pada 2020 yang sebesar 62,84%. Angkanya pun menjadi yang
paling tinggi dalam tujuh tahun terakhir. Melihat trennya, persentase
pengguna smartphone di Indonesia terus naik di kisaran 1%-3% setiap
tahunnya, kecuali pada 2020. Ketika itu, persentase pengguna telepon
genggam turun menjadi sebesar 62,84%. Dikutip dari bpa [Link] Riau
Persentase Penduduk yang Memiliki/Menguasai smartphone Menurut
Provinsi dan Klasifikasi Daerah tercatat bahwa provinsi Riau untuk wilayah
perkotaan dan pedesaan dari 2019 tercatat persentase penggunaan
3
smartphone 67,29% di tahun 2020 mengalami penurunan yaitu menjadi
66,35% dan di tahun 2021 kembali terjadi peningkatan yaitu menjadi 70,57%.
Di kabupaten kuantan Singingi penggunaan smartphone pada tahun 2019
dengan Persentase Anggota Rumah Tangga Berusia 5 Tahun ke Atas menurut
Karakteristik dan Penggunaan Teknologi Informasi selama Tiga Bulan
Terakhir di tahun 2019 adalah 78,20% ([Link]
Di daerah Australia beberapa ahli bahasa, komunikasi, dan teknologi bersama
dengan salah satu organisasi yang sering disebut dengan Macquaire
Dictionar, organisasi tersebut menciptakan sebuah kata baru untuk
memaparkan suatu sikap yang telah menjadi kebiasaan manusia setiap hari
(Haigh, 2012). Kemudian munculah istilah Phubbing yang dikeluarkan oleh
Varoth (2017) (dalam M. Ali Ridho, 2019:2) yang mengemukakan Phubbing
adalah tindakan acuh tak acuh seseorang didalam sebuah lingkungan karena
lebih fokus pada Smartphone dari pada membangun sebuah percakapan.
Penjelasan Phubbing mempunyai dari “Phone” dan “Snubbing” yang
digunakan untuk menunjukkan perilaku menyakiti teman bicara
menggunakan smartphone secara berlebihan. Dengan kata lain secara terus
menerus menggunakannya didepan lawan bicara. Dalam bersosialisasi,
"Phubber" dapat didefinisikan sebagai orang yang melakukan Phubbing dan
"Phubbee" didefinisikan sebagai korban dari dampak pelaku Phubbing.
Fenomena phubbing akhirnya dianggap sesuatu hal yang negatif karena orang
cenderung untuk meremehkan lawan bicaranya dan tidak menghargai lawan
bicaranya. Salah satu syarat terjadinya komunikasi yang efektif adalah adanya
pengelolaan interaksi dan orientasi kepada orang lain, namun individu harus
bisa saling menghormati sehingga tercipta komunikasi dua arah tanpa adanya
keterpaksaan antara kedua belah pihak untuk saling menghargai (Hanika,
2015). Perilaku phubbing telah terjadi di Indonesia, namun belum ada data
yang pasti mengenai berapa jumlah warga di Indonesia yang melakukan
perilaku phubbing. Kabupaten kuantan singingi (Kuansing), provinsi Riau
merupakan wilayah yang terkenal akan festival budayanya yaitu pacu jalur.
Ferstival budaya pacu jalur yang diadakan setahun sekali membuat
masyarakat nasional maupun internasional banyak berkunjung ke kabupaten
4
kuansing. Salah satu tempat icon di kabupaten kuantan singingi yang wajib
dikunjungi adalah Taman Jalur. Taman jalur ini terletak di pusat kota Taluk
kuantan. disana terdapat gapura selamat datang yang cukup megah dan
sebuah tugu Lancang Kuning yang merupakan lambang Provinsi Riau. Di
area landasan tugu terdapat kolam yang mengelilingi tugu, biasanya kolam ini
dilengkapi dengan air mancur dan lampu warna- warni yang menyoroti air
mancur dimalam hari. Area bermain yang luas dan dipagari ini memiliki
lapangan yang ditumbuhi rumput hijau yang terawat dengan baik. Selain itu
terdapat pula pohon – pohon rindang sebagai tempat berteduh dikala terik
pada siang hari serta bunga-bunga indah yang menghiasi setiap sisi taman.
Taman ini juga dilengkapi dengan bangku-bangku taman untuk tempat
bersantai dan lampu sorot berukuran besar disetiap sudutnya. Taman selalu
ramai dikunjungi apalagi pada sore hingga malam hari, tak hanya para muda-
mudi tapi mereka yang berkeluarga juga kerap kali membawa anak-anaknya
untuk berjalan-jalan dan bermain. Disore hari banyak pengunjung yang
bersantai di tepi kuantan yang dinamakan tepian narosa, dan taman ini
berlokasi beberapa meter dari batang kuantan. Disepanjang pinggiran kuantan
banyak sekali para pedagang kaki lima yang menawarkan menu makanan
mereka, pengunjung yang memesan makanan disini dapat menikmatinya
sambil duduk di tangga batu sepanjang tepian kuantan sambil sibuk
memainkan smartphonenya. Aktivitas phubbing di kalangan pengunjung
taman jalur ini cenderung menyebabkan proses komunikasi dan interaksi
tidak berjalan dengan baik. Proses komunikasi sesungguhnya membutuhkan
respon dan empati pada pelaku komunikasi. Hal ini sering ditemukan di
taman jalur, dimana mereka berkumpul dengan teman atau keluarga, yang
sering dilakukan adalah mengambil foto tempat sekitarnya atau berselfi ria
bersama teman atau keluarganya terlebih dahulu dan mengunggahnya ke
jejaring sosial. Kemudian komentar dari teman-teman virtualnya membuat
dunia maya terlihat lebih menarik dari dunia nyata yang sedang dihadapinya.
Perilaku ini membuat seseorang atau orang-orang di sekitar merasa tersisih
dan orang-orang terabaikan juga memainkan smartphone. Corry berpendapat
bahwa, “Etika komunikasi tidak hanya berkaitan dengan tutur kata yang
5
lembut dan baik, tetapi juga berangkat dari niat yang tulus yang diekspresikan
melalui ketenangan, kesabaran dan empati” (Ditha Prasanti, 2017). Merajuk
dari pendapat tersebut, terdapat empati dalam etika komunikasi yang patut
dilakukan demi tercapainya tujuan komunikasi
Selain itu, etika dalam berkomunikasi dapat menumbuhkan rasa saling
menghormati dan menghargai antar sesama pelaku komunikasi. perilaku
phubbing yang saat ini tengah ramai dan merupakan fenomena, dapat menjadi
jawaban alternatif atas kesangsian banyak pihak yang cenderung berasumsi
bahwa perilaku phubbing termasuk dalam perilaku yang asyik dengan dirinya
sendiri dan tidak memerhatikan keadaan sekitarnya. Para pelaku aktivitas
phubbing tentu memiliki alasan-alasan tersendiri, tetapi di sisi lain banyak
yang berasusmsi bahwa perilaku phubbing sangat mengganggu dan dapat
menjadi masalah sosial. aktivitas phubbing merupakan sebuah fenomena
yang menggugah dan menarik perhatian untuk diteliti, karena pada dasarnya
para pelaku aktivitas phubbing tentu melakukannya secara sadar. Oleh karena
itu, peneliti akan memfokuskan penelitian pada judul “fenomena phubbing
pada pengunjung taman jalur kabupaten kuantan singingi” dengan fokus
penelitian menitik beratkan pada fenomena phubbing. Peneliti memutuskan
untuk memilih masalah ini sebagai fokus penelitian karena saat ini banyak
terjadi di pengunjung taman jalur kabupaten kuansing sebagai bentuk
pergeseran perilaku dalam berkomunikasi yang secara sadar dilakukan oleh
pelaku phubbing baik dari kalangan muda maupun tua, sehingga peneliti
tertarik dan berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan masalah
tersebut.
6
B. Rumusan Masalah Dan Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
Rumusan Masalah
Bagaimana fenomena phubbing pada pengunjung taman jalur kabupaten
kuantan singingi ?
Identifikasi Masalah
1. Bagaimana Smartphone mengubah cara seseorang dalam bertindak
dan berperilaku saat menggunakannya ?
2. Apa yang melatar belakangi seseorang beraktivitas phubbing ?
3. Bagaimana aktivitas phubbing mempengaruhi hubungan sosial
informan ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Smartphone mengubah cara seseorang dalam
bertindak dan berperilaku saat menggunakannya.
2. Untuk mengetahui penyebab yang melatarbelakangi seseorang bisa
berperilaku phubbing pada aktivitasnya.
3. Untuk mengetahui pengaruh aktivitas phubbing terhadap hubungan
sosial pelakunya.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberi sumbangsih pikiran sebagai upaya
pengembangan studi pengetahuan dalam perspektif fenomenologi kepada
Jurusan Ilmu Komunikasi fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Riau. Melalui penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan
rekomendasi dan referensi untuk penelitian dengan tema serupa dan
memberikan kontribusi positif bagi peneliti lain.
7
Manfaat Praktis
Penulis berharap penelitian ini dapat memberi kontribusi sebagai bahan
pertimbangan untuk masyarakat terkhususnya pengunjung taman pacu jalur
kabupaten kuansing dalam menentukan sikap dan perilaku pada saat
berkomunikasi.
8
BAB II
E. Tinjauan Pustaka
1.1. Tinjauan Penelitian Sejenis Terdahulu
Penelitian serupa sebelumnya telah membantu mendukung penelitian.
Penelitian serupa di masa lalu juga dapat dijadikan acuan untuk memperkaya
teori-teori penulis saat mengkaji penelitian. Berikut ini adalah beberapa
penelitian terdahulu yang peneliti gunakan sebagai referensi dalam membuat
dan memperkaya bahan penelitian dalam penelitian penulis :
NO. NAMA JUDUL METODE PENELITIAN HASIL
01 Reni Perilaku jenis penelitian yang Hasil penelitian ini menunjukan
Listyawati Phubbing digunakan yaitu, jenis bahwa faktor jumlah
pada Remaja penelitian kuantitatif, kepemilikan media sosial
di Surabaya dengan analisis data memberikan perbedaan pada
menggunakan analisis perilaku phubbing, sedangkan
statistik deskriptif dan faktor usia, jenis kelamin,
analisis cros-tab tingakat pendidikan dan jumlah
menggunakan bantuan kepemilikan smartphone tidak
IMB SPSS 22,0 for memberikan perbedaan pada
windows. Perolehan perilaku phubbing remaja di
data menggunakan Surabaya. Hal tersebut karena
metode survei dengan jumlah kepemilikan media sosial
kuesioner Generic Scale merupakan prediktor dari
of Phubbing. perilaku phubbing, sedangkan
jenis kelamin, tingkat
pendidikan dan faktor usia tidak
termasuk dalam prediktor
perilaku phubbing.
PERBEDAAN Fokus penelitian Reni Listyawati lebih menitik beraktkan pada mencari
tahu penyebab perilaku phubbing dari berbagai faktor. Sedangkan fokus
penelitian saya lebih menitik beratkan pada fenomena phubbing. Selain itu,
9
Penelitian Reni Listyawati lebih menekankan menggunakan penelitian
kuantitatif dengan pendekatan analisis deskriptif dan analisis cros-tab
menggunakan bantuan IMB SPSS 22,0 for windows. Sedangkan penelitian
ini menggunakan jenis penelitian kualitatif interpretif dengan pendekatan
fenomenologi.
PERSAMAAN Penelitian ini sama-sama mengkaji tentang phubbing.
02 M. Firdaus Pengaruh Jenis penelitian yang Hasil penelitian hanya sebesar
Penggunaan digunakan yaitu jenis 9,6% responden yang
Smartphone penelitian kuantitatif dikategorikan sebagai pengguna
terhadap dengan metode tingkat rendah. Adapun
Perilaku penelitian korelasional. pengaruh penggunaan
Phubbing Teknik analisis data smartphone terhadap faktor
(Siswa SMP dilakukan dengan penyebab perilaku phubbing
di Makassar) pendekatan kuantitatif. menunjukan bahwa adanya
Penentuan sample pengaruh yang signifikan
menggunakan metode terhadap dua faktor yakni faktor
probality sampling internal dan faktor eksternal
dengan nilai signifikanya 0,000
da
PERBEDAAN Fokus penelitian M. Firdaus lebih menitik beraktkan pada dampak
penggunaan smartphone sedangkan fokus penelitian saya lebih menitik
beratkan pada fenomena phubbing. Selain itu, jenis penelitian, pendekatan
dan metode penelitian jelas berbeda. Penelitian M. Firdaus menggunakan
penelitian kuantitatif dengan metode korelasional, sedangkan penelitian ini
menggunakan jenis penelitian kualitatif interpretif dengan pendekatan
fenomenologi.
PERSAMAAN Penelitian ini sama-sama mengkaji tentang penggunaan smartphone.
03. Siti Pengaruh Penelitian ini Hasil penelitian menyimpulkan
Normawati, Kampanye menggunakan adanya kesadaran, pengetahuan,
Maryan “Let‟s metode kuantititif ketertarikan, dan motivasi untuk
Anjang yang bertujuan untuk
10
Prillianti Disconnect to melihat seberapa melakukan sikap anti Phubbing
Connect” besar pengaruh sesuai dengan tujuan kampanye
Terhadap kampanye “Let’s ini. Hal ini diketahui dari sikap
Sikap Anti Disconnect to Connect konsumen yang meletakkan
Phubbing terhadap sikap anti- Smartphone-nya pada sticker
(Survei Pada Phubbing pada yang bertuliskan “Park Your
Followers followers Official Phone Here” yang ada disetiap
Official account LINE meja diseluruh gerai Starbucks
Account Starbucks Indonesia Indonesia.
Line Starbucks
Indonesia)
PERBEDAAN Fokus penelitian Siti Normawati dan Maryan Anjang Prillianti lebih
menitik beraktkan pada melakukan sikap anti Phubbing sesuai dengan
tujuan kampanye sedangkan fokus penelitian saya lebih menitik beratkan
pada fenomena phubbing. Selain itu, jenis penelitian, pendekatan dan
metode penelitian jelas berbeda. Penelitian Siti Normawati dan Maryan
Anjang Prillianti menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan
eksplanatif, sedangkan penelitian ini menggunakan jenis penelitian
kualitatif interpretif dengan pendekatan fenomenologi.
PERSAMAAN Penelitian ini sama-sama mengkaji tentang phubbing
1.2. Tinjauan Teoritis
a. Teori fenomenologi
Teori fenomenologi menurut Alfred Schutz mengatakan bahwa fenomenologi
tertarik dengan pengidentifikasian masalah dari dunia pengalaman inderawi
yang bermakna, suatu hal yang semula yang terjadi di dalam kesadaran
individual kita secara terpisah dan kemudian secara kolektif, di dalam
interaksi antara kesadaran-kesadaran. Bagian ini adalah suatu bagian dimana
kesadaran bertindak (act) atas data inderawi yang masih mentah, untuk
menciptakan makna, dimana cara-cara yang sama sehingga kita bisa melihat
sesuatu yang bersifat mendua dari jarak tersebut. Menurut Schutz cara
11
mengidentifikasikan makna luar dari arus utama pengalaman adalah melalui
proses tipikasi, yaitu proses pemahaman dan pemberian makna terhadap
tindakan akan membentuk tingkah laku. Dalam hal ini termasuk membentuk
penggolongan atau klasifikasi dari pengalaman dengan melihat
keserupaannya. Maka dalam arus pengalaman dilihat dari objek tertentu pada
umumnya memiliki ciri-ciri khusus, bahwa mereka bergerak dari tempat ke
tempat, sementara lingkungan sendiri mungkin tetap diam. Maka
fenomenologi menjadikan pengalaman sesungguhnya sebagai data dasar dari
realitas, sebagai suatu gerakan dalam berfikir fenomenologi (phenomenology)
dapat diartikan sebagai upaya studi tentang pengetahuan yang timbul karena
rasa ingin tahu. Objeknya berupa gejala atau kejadian yang dipahami melalui
pengalaman secara sadar (concius experience).
Tujuan utama fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena di
alami kesadaran, pikiran, dan dalam tindakan, seperti sebagaimana fenomena
tersebut bernilai atau diterima secara estetis atau fenomenologi mencoba
mencari pemahaman bagaimana manusia mengkontruksi makna dan konsep-
konsep penting dalam kerangka intersubjektif. Intersubjektif karena
pemahaman kita mengenai dunia di bentuk oleh hubungan kita dengan orang
lain. Walaupun makna yang kita ciptakan dapat di telusuri dalam tindakan,
karya, dan aktivitas yang kita lakukan, tapi tetap saja ada peran orang lain di
dalamnya. Fenomenologi menganggap bahwa pengalaman yang aktual
sebagai data tentang realitas yang dipelajari. Kata gejala (phenomenom) yang
bentuk jamaknya adalah phenomena merupakan istilah fenomenologi di
bentuk dan dapat diartikan sebagai suatu tampilan dari objek. Kejadian atau
kondisi-kondisi menurut persepsi. Penelaahan masalah dilaksanakan dengan
multi perspektif atau multi sudut pandang. Asumsi dari fenomenologi
menurut Litte John adalah interpretasi dari pengalaman-pengalaman pribadi
seseorang. Fenomenologi berasumsi bahwa orang-orang secara aktif
menginterpretasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia
dengan pengalaman pribadinya (Littlejohn, 2009:57).
12
b. Teori pelanggaran harapan
Menurut Teori pelanggaran harapan adalah salah satu teori komunikasi yang
menggambarkan bahwa seseorang memiliki harapan terhadap jarak perilaku
nonverbal orang lain yang dapat memberikan kenyamanan kepadanya. Teori
ini pertama kali dikemukakan oleh Jude Burgoon, salah seorang profesor
komunikasi di University Of Arizona. Teori ini menjelaskan bahwa dimana
seseorang memiliki harapan pada perilaku nonverbal orang lain. Teori ini
merupakan prediksi yang dimiliki manusia terhadap orang lain lewat pesan
nonverbal yang ditangkap dari orang lain. Teori pelanggaran harapan hanya
tertarik pada struktur pesan-pesan nonverbal. Teori ini dapat dipandang
dengan dua persepsi yakni positif dan negatif. Tergantung persepsi si
penerima (komunikan) terhadap pelanggar (komunikator).
Gagasan dasar dari teori ini adalah cara seseorang mengatakan sesuatu lebih
mempengaruhi proses komunikasi daripada isi dari perkataan itu sendiri,
penerimaan dan penafsiran pesan-pesan verbal seringkali lebih dipengaruhi
oleh komunikasi nonverbal yang menyertainya, salah satu perilaku
komunikasi non verbal yang sangat mempengaruhi komunikasi interpersonal
adalah jarak, jarak menjadi penting karena dengan perubahan jarak yang tidak
diharapkan atau tidak disangka bisa menjadi ambigu atau menumbuhkan
nuansa tertentu, sedangkan disisi lain setiap orang diyakini memiliki harapan
(expectancy) berbeda tentang jarak dan penggunaannya. Fakto-faktor yang
mempengaruhi harapan adalah faktor individual komunikator, yaitu latar
belakang individual komunikator sebagai penyampai pesan nonverbal
tersebut. Selanjutnya faktor rasional, yaitu alam yang membuat harapan.
Terakhir faktor kontekstual yang membuat harapan komunikan melihat
konteks tempat dirinya berada, dari segi lingkungan, situasi dan sebagainya.
Dalam teori pelanggaran harapan terdapat rangsangan, yaitu pada saat
harapan seseorang dilanggar, minat atau perhatian orang tersebut akan
dirangsang, sehingga akan menggunakan mekanisme tertentu untuk
menghadapi pelanggaran yang terjadi. Ketika rangsangan terjadi, minat atau
perhatian seseorang terhadap penyimpangan akan meningkat dan perhatian
13
terhadap pesan akan berkurang. Sementara perhatian terhadap rangsangan
semakin meningkat.
Teori pelanggaran harapan didasarkan pada pesan-pesan yang ditampilkan
pada orang lain dan jenis-jenis perilaku yang dipilih orang lain dalam sebuah
percakapan. Yaitu, Faktor-faktor individual Komunikator (gender,
kepribadian, usia, penampilan, reputasi) Harapan Faktor-faktor relasional
(sejarah hubungan yang melatar belakangi perbedaan, status, tingkat
ketertarikan dan rasa suka) Faktor konteks (formalitas/informalitas, fungsi
tugas/sosial, batasan lingkungan, norma-norma budaya).
Asumsi pertama menyatakan bahwa manusia memiliki harapan dalam
interaksinya dengan orang lain. Harapan dapat diartikan sebagai pemikiran
dan perilaku yang diantisipasi dan disetujui dalam percakapan dengan orang
lain. Oleh karenanya, termasuk didalam harapan ini adalah perilaku verbal
dan nonverbal seseorang yang diinginkan. Burgoon menyatakan, “bahwa
orang tidak memandang perilaku orang lain sebagai sesuatu yang acak,
sebaliknya mereka memiliki berbagai harapan mengenai bagaimana
seharusnya orang berpikir dan berperilaku”. Dengan membahas penelitian
yang dibahas oleh Burgoon dan rekan-rekanya, tim Levine dan koleganya
menyatakan bahwa, harapan adalah hasil dari norma-norma sosial, stereotip,
rumor dan sifat idiosinkratik dari komunikator.
Judee Burgoon dan Jerold Hale menyatakan bahwa terdapat dua jenis harapan
yaitu prainteraksional dan interaksional. Harapan prainteraksional mencakup
jenis pengetahuan dan keahlian interaksional yang dimiliki oleh kounikator
sebelum memasuki sebuah percakapan. Manusia tidak selalu mengetahui apa
yang dibutuhkan untuk memasuki dan mempertahankan percakapan.
Beberapa pemicara atau motivator adalah orang-orang yang argumentatif,
sementara yang lainya sangat pasif. Kebanyakan orang tidak mengharapkan
untuk melihat perilaku yang seekstrim itu didalam pembicaraan mereka
dengan orang lain. Harapan interaksional merujuk pada kemampuan
seseorang untuk menjalani interaksi itu sendiri. Kebanyakan orang
mengharapkan orang lain menjaga jarak sewajarnya dalam sebuah
14
percakapan. Terlebih lagi dalam berkomunikasi dengan orang lain sikap-sikap
mendengarkan seperti kontak mata yang lama sering kali diharapkan.
Perilaku ini dan masih banyak yang lainya sangat penting untuk
dipertimbangkan ketika mempelajari peranan harapan sebelum dan selama
interaksi berlangsung.
Asumsi yang kedua menyatakan bahwa manusia mempelajari harapan
melalui budaya secara luas dan juga individu-individu dalam budaya itu
sendiri. Misalnya, budaya Amerika mengajarkan bahwa hubungan antara
professor dan mahasiswa didasari dengan rasa hormat profesional. Walau
tidak disebutkan secara gambling dalam semua ruang kuliah, para professor
memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa. Oleh sebab itu,
harapan-harapan tertentu muncul pada hubungan mereka. Hubungan dosen
dan mahasiswa hanya menggambarkan bahwa harapan-harapan tertentu
muncul dalam sebuah hubungan.
Asumsi yang ketiga Judee Burgoon dan Joseph Walter memperluas
pemahaman awal melalui ruang personal ke area-area lain dalam komunikasi
nonverbal, termasuk sentuhan dan postur. Burgoon dan Joseph Walter
menyatakan, “bahwa keatraktifan orang lain mempengaruhi evaluasi akan
harapan. Dalam percakapan, manusia tidak hanya memberikan perhatian
terhadap objek yang dikatakan oleh orang lain. Perilaku nonverbal
mendorong orang lain untuk melakukan prediksi terhadap tindakan dan sikap
pada saat berkomunikasi. Perilaku harapan nonverbal yang dilanggar oleh
orang lain dan kemudian melakukan penafsiran sekaligus menilai
pelanggaran tersebut secara positif atau negatif. Penafsiran dan evaluasi
tentang perilaku pelanggaran harapan nonverbal yang biasa disebut Valensi
Pelanggaran. Valensi adalah istilah yang digunakan untuk menguraikan
evaluasi tentang perilaku. Valensi Pelanggaran dikatakan positif bila pelaku
komunikasi interpersonal menyukai tindakan pelanggaran tersebut, dan
sebaliknya dikatakan negatif jika tidak menyukai pelanggaran tersebut.
15
1.3. Tinjauan Konseptual
A. Smartphone
Smartphone pertama kali ditemukan oleh IBM di Amerika Serikat, yakni
sebuah perusahaan yang memproduksi perangkat elektronik. Namun
Smartphone pada saat pertama kali ditemukan tidak secanggih yang ada pada
era millennial ini. Ia hanya dilengkapi oleh fasilitas kalender, buku, telefon,
jam dunia, bagian pencatat, email dan permainan. Namun satu hal yang perlu
diketahui Smartphone buatan IBM ini tidak dilengkapi tombol. Namun telah
dilengkapi dengan teknologi layar sentuh atau touchscreen. Meskipun cara
mempencetnya masih menggunakan tongkat stylus. Smartphone merupakan
sebuah inovasi dari teknologi terbaru dengan kemampuan yang lebih baik dan
fitur terbaru yang memiliki tujuan maupun fungsi lebih praktis dan juga lebih
berguna. Seiring perkembangan, pengertian Smartphone menjadi berkembang
juga. Smartphone adalah sebuah istilah yang berasal dari Bahasa Inggris,
yang artinya perangkat elektronik kecil yang mempunyai fungsi khusus.
Salah satu hal yang membedakan Smartphone dengan perangkat lainnya
adalah unsur “kebaruan”. Artinya dari hari ke hari Smartphone selalu muncul
dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi
lebih praktis. Puji Asmaul Husna (2017) membagi fungsi dan manfaat dari
penggunaan Smartphone, sebagai berikut:
a) Komunikasi
Pengetahuan manusia semakin meluas dan maju. Jika zaman dahualu
manusia berkomunikasi melalui batin, dan berkembang melalui tulisan
yang dikirimkan melalui pos. pada era sekarang ini manusia dapat
berkomunikasi dengan mudah, cepat, praktis dan lebih efisien dengan
menggunakan Smartphone.
b) Sosial
Smartphone memiliki banyak fitur dan aplikasi yang tepat untuk kita
dapat berbagi berita, kabar, dan cerita. Sehingga dengan pemanfaatan
tersebut dapat menambah teman dan menjalin hubungan kerabat yang
jauh tanpa harus menggunakan waktu yang relative lama untuk berbagi.
16
c) Pendidikan
Seiring berkembangnya zaman, sekaranag belajar tidak hanya terfokus
dengan buku. Namun Smartphone kita dapat mengakses berbagai ilmu
pengetahuan yang kita perlukan.
parks (2013: 275-276), mengatakan bahwa “individu yang menggunakan
Smartphone secara berlebihan akan mengalami Short Attention Span
atau gangguan pemusatan perhatian”. Maksudnya, pada level ini mereka
tidak bisa memahami informasi yang disampaikan secara utuh karena
teknologi seperti Smartphone menyebabkan gangguan. Efek jangka
panjang dari penggunaan Smartphone secara berlebihan adalah mereka
akan mengalami gangguan kesehatan. Kaunt menjelaskan bahwa,
“semakin sering anggota seseorang menggunakan internet, maka
semakin besar pula sejumlah efek negatif yang ditimbulkan seperti
menyajikan privasi secara berlebihan di media sosial”. Berarti, adanya
gangguan tersebut dikenal dengan Nomophobia (no mobile phone
phobia).
B. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi merupakan hal terpenting dalam memperpanjang kehidupan
manusia. Komunikasi menjadi jalan penghubung antar sesama manusia
Hampir setiap hari manusia melakukan tindakan komunikasi, baik dengan diri
sendiri atau dengan orang lain. Komunikasi pada dasarnya tercipta karena
terdapat tujuan yang ingin dicapai dan menginginkan perasaan saling
mengerti serta memahami, terutama pada saat berkomunikasi dengan orang
lain. Komunkasi ini disebut dengan komunikasi interpersonal atau
komunikasi antarpribadi. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara
individu denang individu lain secara tatap muka, yang memungkinkan setiap
pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal
maupun non verbal. Peluang tercapainya tujuan komunikasi dalam proses
komunikasi interpersonal sangat tinggi. Hal ini karena dalam proses
komunikasi interpersonal komunikan dapat merespon dan memberikan
17
umpan balik kepada komunikator secara langsung. Dengan demikian,
komunikator dan komunikan telah membangun sebuah interaksi sosial.
Komunikasi interpersonal yang berlangsung pada pelaku komunikasi akan
semakin berkembang karena pihak-pihak yang terlibat dapat berubah peran
dari yang semula berperan sebagai komunikan, menjadi komunikator ketika
terjadi umpan balik dan begitupun sebaliknya. Proses komunikasi
interpersonal tersebut dapat terus berkembang dan cenderung berlangsung
secara teratur serta saling menaggapi satu sama lain. Komunikasi
interpersonal dapat menjadi lebih efektif dengan membangun hubungan sosial
yang baik. Komunikasi interpersonal bukan hanya serangkaian rangsangan-
rangsangan, stimulus, respon, namun merupakan serangkaian proses saling
menerima, penyerahan dan penyampaian tanggapan yang telah diolah
kembali oleh masing-masing pelaku komunikasi. Komunikasi interpersonal
juga berperan untuk mengubah perilaku orang lain.
Litle Jhon mendefinisikan komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang
dilakukan antar individu-individu. Pendapat Litle Jhon tersebut memberikan
gambaran bahwa komunikasi interpersonal dilakukan lebih dari satu orang
dan melibatkan orang lain. Komunikasi interpersonal tidak berdiri sendiri
tetapi harus melibatkan orang lain dalam prosesnya, baik satu orang atau
lebih. Komunikasi interpersonal memiliki peranan penting dalam kehidupan
karena manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat memenuhi kebutuhan
sendiri. Komunikasi interpersonal memungkinkan kepada individu-individu
yang terlibat bersikap saling terbuka. Dengan demikian, komunikasi
interpersonal dapat membangun relasi yang baik antar pelaku komunikasi.
C. Fenomena Phubbing
1) Pengertian Fenomena
Secara epistimologi, istilah fenomena berasal dari Bahasa Yunani
phainomenon yang artinya, memunculkan, menampakan, menunjukan,
meninggikan, memperlihatkan dirinya sendiri.8 Salah seorang filosof
Immanuel Kant yang mengatakan bahwa, “fenomena adalah sesuatu yang
muncul atau tampak (terlihat)
18
dengan sendirinya hasil dari sintesis antara pengindraan dan bentuk konsep
dari sebuah objek, sebagaimana tampak (terlihat) dalam dirinya.”( Engkus
Kuswarno,2009) Menurut Kant, manusia hanya mengenal fenomena-
fenomena yang tampak (terlihat) dalam kesadaran bukan nomena Kata
fenomena digunakan untuk menunjukkan sebuah penampakan didalam
kesadaran, sedangkan nomena adalah realitas yang berada di luar kesadaran.
Pendapat Imanuel Kant sejalan dengan Moustakas yang menekankan
fenomena dalam taraf kesadaran, yang mengatakan bahwa, “fenomena adalah
segala sesuatu, apa saja yang muncul dalam kesadaran manusia.” Sedangkan
Auguste Comte memiliki pendapat tentang fenomena lebih spesifik lagi yang
mengatakan bahwa, “fenomena adalah kejadian nyata atau keadaan yang
harus diterima dandapatdijelaskan oleh ilmu pengetahuan.”. Fenomena yang
dijelaskan oleh Aguste Comte cenderung berbeda dengan Imanuel Kant dan
Moustakas, namun memiliki kesamaan pada penekanan sesuatu yang
nampak.
Pendapat lain oleh seorang filosof Martin Heidegger yang mengatakan
bahwa, “Istilah fenomena dibentuk dari kata phaino yang berarti membawa
pada cahaya menempatkan pada terang benderang, menunjukan eksistensinya
sendiri dalam dirinya, totalitas dari apa yang tampak (terlihat) dibalik kita
pada cahaya.” Martin Heidegger lebih menekankan fenomena kepada cahaya
yang memiliki makna lebih luas dari yang lain. Jika diartikan secara
sederhana cahaya adalah sesuatu yang menyilaukan, dapat dilihat oleh
manusia, hadir dengan sendirinya pada kehidupan manusia, dalam hal ini
cahaya dapat diartikan sebagai suatu kejadian atau sebuah peristiwa. Brower
salah seorang ilmuan menjelaskan fenomena berdasarkan sudut pandang
fenomenolog atau orang yang mengamati fenomena mengatakan bahwa,
“Seorang fenomenolog senang dalam melihat gejala (fenomena).
Melihat gejala adalah dasar dan syarat mutlak untuk semua aktifitas ilmiah. Ia
bukan ilmu, tetapi merupakan sebuah cara pandang, metode pemikiran untuk
meyakinkan individu atas suatu fenomena. Seorang fenomenolog, akan
mengajak orang lain untuk ikut terlibat menyaksikan fenomena secara
langsung atau menunjukanya melalui bahasa. (O. Hasbiansyah,2008).
19
Pendapat Brower cenderung memiliki kesamaan dengan pendapat salah
seorang sosiolog pada awal perkembangan sosiologi Emile Durkheim yang
mengatakan bahwa, “tugas sosiologi adalah mempelajari fenomena dalam
kehidupan manusia dan dunianya, yaitu fakta-fakta sosial.” (Burhan
Bungin,2011). Emile Durkheim berpandangan bahwa fakta sosial (fenomena)
adalah kekuatan (force) dan struktur yang bersifat eksternal serta memaksa
individu. Emile Durkheim membedakan fakta sosial (fenomena) kedalam dua
tipe, yaitu fakta sosial materil dan fakta sosial non materil. Menurut Emile
Durkheim, fakta sosial materil adalah sesuatu yang dapat disimak
(dilihat/diperhatikan), ditangkap dan diobservasi. Sedangkan fakta sosial non
materil adalah sesuatu yang dianggap nyata, fakta ini merupakan sesuatu yang
nampak (terlihat), sifatnya intersubjektif, dan hanya muncul dalam kesadaran
manusia.( David Woodruff Smith, Husser,2013). Fakta sosial (fenomena)
materil yang dikemukanan Emile Durkheim lebih kepada sesuatu yang
sifatnya material atau memiliki perwujudan fisik, dan fakta sosial (fenomena)
non materil lebih kepada sesuatu yang tidak berwujud dalam keadaan fisik,
seperti etika dalam berperilaku. Fenomenologi sendiri adalah ilmu tentang
esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi
kesadaran.
Oleh karena itu, fenomena dipandang dari dua sudut, yaitu fenomena
dipandang dari sudut kesadaran manusia karena selalu berada dalam
kesadaran manusia (ratio) dan fenomena selalu menunjuk keluar atau
berhubungan dengan sebuah realitas diluar pikiran manusia.
2) Pengertian Phubbing
Phubbing adalah sebuah singkatan dari phone snubbing, yang menurut Haigh
diartikan sebagai “Tindakan menyakiti orang lain dalam interaksi sosial
karena lebih berfokus pada smartphone miliknya.”Phubbing merupakan
istilah baru yang muncul akibat dari penggunaan telepon genggam yang
berlebihan. Istilah phubbing mulai dikenalkan oleh agensi periklanan
McCann pada tahun 2012 pada aksi kampanye untuk menghentikan perilaku
orang-orang yang sibuk sendiri dengan telepon genggamnya, sementara orang
20
tersebut sedang berada pada proses komunikasi dengan orang lain. Setelah
itu, istilah phubbing resmi didaftarkan dalam kamus Macquarie. (Ferdy
Thaeras, 2017).
Phubbing sebagai istilah baru memunculkan istilah puber pada waktu
bersamaan. Istilah phubbing ditujukan pada perilaku orangnya. Sedangkkan
istilah puber ditujukan pada orang yang menjadi pelakunya. Phubbing mejadi
salah satu dampak modernisasi teknologi alat komunikasi (Smartphone),
dalam hal ini seorang ilmuan Kanada Marshal McLuhan mengatakan bahwa,
“sebelum alphabet ada, telinga adalah alat komunikasi dominan, apa yang
didengar itulah yang dipercaya. Setelah alphabet ditemukan, peran dominan
telinga bergeser ke mata. dengan demikian, maraknya fenomena phubbing di
kalangan masyarakat dapat disebabkan karena phubber (pelaku phubbing)
yang cenderung menggunakan smartphone secara belebihan, sehingga dapat
membuatnya kecanduan terhadap smartphone. Mengenai hal tersebut telah
dijelaskan oleh Marshal McLuhan dalam (William L. Rivers,1998) yang
mengatakan bahwa, “pada saat manusia menemukan sarana komunikasi baru,
tidak saja menciptakan peralatan baru komunikasi massa, namun juga
merubah esensi dari komunikasi massa itu sendiri.
Cery dalam Wiliam L. Rivers mengatakan bahwa, “teknologi komunikasi
memainkan peran terpenting dalam mempengaruhi organisasi sosial dan
kebudayaan”. Dalam hal ini ilmuan kanada Marshal McLuhan menambahkan
bahwa, “teknologi komunkasi juga mempengaruhi organisasi kehidupan dan
bahkan pemikiran-pemikiran manusia.” Pendapat Cery dan Marshal
McLuhan menjelaskan bahwa hadirnya smarphone mampu mempengaruhi
manusia dari berbagai sisi termasuk pikiran dan budaya manusia. Fenomena
phubbing yang terjadi taman jalur kuantan singingi memberikan gambaran
mengenai pergeseran sebuah etika dalam berkomunikasi yang terlihat
(nampak) secara nyata, karena salah satu pelaku komunikasi dengan jelas
asyik sendiri pada smartphone miliknya, namun seakan-akan memperhatikan
mitra komunikasinya. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini
smartphone menjadi salah satu alat yang wajib dimiliki oleh orang-orang
karena kelebihanya yang banyak membantu pemiliknya. Namun, tidak dapat
21
dipungkiri juga bahwa kehadiran smartphone cenderung mengakibatkan
seseorang berperilaku phubbing. Hadirnya smartphone membawa dampak
tersendiri pada pemiliknya, terutama ketika berkomuikasi. Perilaku phubbing
dapat membuat tujuan sebuah komunikasi menjadi tidak tercapai dan tidak
efektif. Komunikasi yang sebenarnya memiliki tujuan untuk tercapainya
saling pengertian (mutual understanding), pemahaman bersama (common
understanding) atau kesepakatan timbal balik (mutual agreement) menjadi
komunikasi yang tidak efektif dan cenderung memiliki tingkat keberhasilan
rendah. Fenomena phubbing yang saat ini banyak terjadi di kalangan
masyarakat dan menjadi fakta sosial yang cenderung tidak dapat dipungkiri.
22
1.4. Kerangka Pemikiran
Fenomena Phubbing Pengunjung Taman Jalur
Teori fenomenologi 1. Smartphone
2. Komunikasi Interpersonal
3. Pengertian fenomena phubbing
Teori pelanggaran Harapan
Smartphone mengubah cara seseorang dalam
bertindak dan berperilaku saat menggunakannya
Latar belakang orang berperilaku
phubbing
pengaruh aktivitas phubbing terhadap
hubungan sosial informan
Fenomena Phubbing Pada Pengunjung Taman
Jalur Kabupaten Kuantan Singingi
23
BAB II
2.1. Pendekatan atau Paradigma Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian kualitatif interpretif. Penelitian kualitatif
merupakan metode-metiode untuk mengeksplorasi dan memahami makna
dari sejumlah individu atau kemanusiaan yang melibatkan upaya-upaya
penting, seperti mengajukan pertanyaan, prosedur, mengumpulkan data
spesifik dari partisipan, menganlisis data secara induktif mulai dari tema-tema
yang kusus sampai yang umum dan menafsirkan makna data, serta laporan
akhir untuk penelitian ini memiliki struktur atau kerangka yang fleksibel.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif karena sesuai dengan
masalah yang akan diteliti yaitu untuk mengungkap fenomena phubbing di
taman jalur kabupaten Kuansing.
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang akan menitik
beratkan pada wawancara mendalam. Penelitian Fenomenologi bersifat
Induktif. Pendekatan yang dipakai adalah deskriptif yang dikembangkan dari
filsafat fenomenologi (phenomenologi calphiloshop). Fokus filsafat
fenomenologi adalah pemahaman tentang respon atas kehadiran atau
keberadaan manusia, bukan pemahaman atas bagian-bagian yang spesifik
atau perilaku khusus. Tujuan penelitian fenomenologi adalah menjalankan
pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang dalam kehidupan ini,
termasuk interaksinya dengan orang lain. Penelitian ini menggunakan
pendekatan fenomenologi karena sesuai dengan masalah yang akan diteliti
untuk menggambarkan suatu fenomena sosial.
2.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Lokasi dalam sebuah penelitian menjadi salah satu bagian yang harus
dipertimbangkan dalam kesuksesan dan kelancaran penelitian, karena lokasi
penelitian berkaitan erat dengan topik atau tema yang akan diteliti. Lokasi
pada penelitian ini terletak di taman jalur, Kecamatan Kuantan Tengah
kabupaten kuantan Singingi. Peneliti menganggap bahwa lokasi tersebut tepat
24
untuk menjadi tempat penelitian karena tempat tersebut merupakan tempat
berkumpulnya orang-orang dengan latar belakang yang berbeda-beda
(heterogen), namun memiliki tujuan yang sama sebagai media merefresikan
otak atau mencari hiburan dan bersantai. Selain itu, taman jalur ini selalu
ramai di kunjungi baik masyarakat lokal maupun dari daerah-daerah lain.
Oleh karena itu, peneliti tertarik menjadikan taman jalur kabupaten Kuansing
tersebut sebagai lokasi penelitian. Selain itu, akses menuju tempat penelitian
mudah dijangkau.
2.3. Subjek Dan Objek Penelitian
Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah Subjek pada penelitian ini adalah pengunjung
taman jalur kabupaten kuantan singingi Subjek dipilih secara purposive
sampling. Menurut Sugiyono (2019;113), purposive sampling adalah teknik
pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, misalnya
orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan. Dalam
hal ini subjek penelitian adalah pengunjung taman taman jalur. Adapun
informan yang dipilih peneliti dalam penelitian ini adalah pengunung taman
jalur yang teridentifikasi melakukan aktivitas phubbing. Semenatara itu
menurut Burhan Bungin (2012;53), dalam prosedur sampling yang paling
penting adalah bagaimana menentukan informan kunci (key informan) atau
situasi sosial tertentu yang sarat infromasi. Memilih sampel, dalam hal
informan kunci atau situasi sosial lebih tepat dilakukan dengan sengaja atau
bertujuan, yakni dengan purposive sampling. .
Objek Penelitian
Objek penelitian adalah Menurut Sugiyono (2012:38) (dalam Fitri Wahyuni,
2013) objek penelitian yaitu sesuatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,
objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Pendapat lain,
menurut Made (2006) (dalam Fitri Wahyuni, 2013) “Objek penelitian
(variabel penelitian) adalah karakteristik tertentu yang mempunyai nilai, skor
atau ukuran yang berbeda untuk unit atau individu yang berbeda atau
25
merupakan konsep yang diberi lebih dari satu nilai”. Dalam penelitian ini,
peneliti memfokuskan pada sikap acuh tak acuh pengunjung taman jalur
dalam menggunakan Smartphone.
2.4. Teknik pengumpulan data
1. Wawancara/ interview
Proses dimana Peneliti akan turun langsung bertatap muka dengan informan
yang sudah dipilih dan dianggap tepat oleh peneliti untuk diwawancarai.
Pertanyaan dalam wawancara bersifat privasi. Wawancara dalam penelitian
ini ditujukan pada pengunjung taman jalur kabupaten Kuansing yang
terindikasi melakukan aktivitas phubbing. Penentuan informan sebagai target
wawancara dalam penelitian ini menggunakan teknik snowballing atau yang
dikenal dengan teknik bola salju. Teknik ini banyak digunakan pada studi
kasus tertentu. Teknik snowballing adalah menentukan informan yang
dianggap masuk dalam kriteria dengan sekali observasi.
2. Observasi/ pemgamatan
Observasi bisa di artikan sebagai pengamatan dan juga pencatatan sistematik
atas unsur-unsur yang muncul dalam suatu gejala atau gejala-gejala yang
muncul dalam suatu objek penelitian, biasanya observasi dilakukan dengan
cara turun langsung ke lapangan. Pengumpulan data pada penelitian ini
dilakukan dengan cara observasi atau pengamatan secara langsung oleh
peneliti. Objek penelitian dalam penelitian kualitatif yang diobservasi
menurut Spradley dinamakan situasi sosial, yang terdiri atas tiga komponen
yaitu place (tempat), actor (pelaku), activites (aktivitas). Kegiatan observasi
dilakukan sebagai upaya mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah
penelitian melalui proses pengamatan langsung di lapangan. Peneliti
mengamati setiap kejadian dan perilaku informan secara langsung untuk
mendapatkan bukti-bukti yang valid dalam laporan yang akan diajukan.
Dalam penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data yang utama adalah
observasi dan wawancara. Kedua metode penelitian tersebut dapat
dipraktikan dalam waktu bersamaan, artinya selain wawancara juga
melakukan observasi atau sebaliknya.
26
3. Dokumentasi
Dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi penelitian berupa surat-surat
penelitian, buku relevan, buku pendukung, foto-foto, dan data relevan
peneliti. Gottschalk (dalam Imam Gunawan, 2014:175) menyatakan bahwa
dokumentasi dalam pengertiannya lebih luas berupa setiap proses pembuktian
yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik itu yang bersifat tulisan,
lisan, maupun gambaran.
2.5. Teknik analisis data
Tujuan akhir dari penelitian fenomenologi adalah menampilkan gambaran
analisisdari suatu fenomena yang menjadi bahan penelitian. Pengolahan dan
analisis data pada penelitian ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang
tersedia dari berbagai sumber, yaitu informan dari proses pengumpulan data
baik wawancara, observasi atau dokumentasi. Analisis dalam pengumpulan
data, biasanya dilakukan dengan triangulasi. Kegiatan-kegiatan analisis data
selama pengumpulan data meliputi : menetapkan fokus penelitian,
penyusunan temuan-temuan sementara berdasarkan data yang terkumpul,
pembuatan rencana pengumpulan data berikutnya, penetapan sasaran
pengumpulan data berikutnya, penetapan sasaran pengumpulandata
(informan, situasi, dokumen). Adapun teknik analisis data dalam penelitian
kualitatif secara umum dimulai dari :
a. Reduksi data
Proses mereduksi data dalam penelitian inidilakukan dengan memilah-
milah data yang yang terkumpul, kemudian menggologkan, membuang
data yang tidak diperlukan dan mengorganisasi data dengan sedemikian
rupa. Hal ini bertujuan memudahkan dalam menarik kesimpulan pada
hasil akhir dan memudahkan saat verivikasi.
b. Penyajian data
Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan agar data hasil reduksi
dapat terorganisasikan dengan baik dan tersusun dalam pola hubungan,
sehingga memudahkan para pembaca memahami data penelitian. Pada
27
tahap penyajian data, peneliti berusaha menyusun data yang relevan untuk
menghasilkan informasi yang dapat disimpulkan. Proses penyajian data
dilakukan dengan cara menampilkan dan membuat hubungan antar
fenomena untuk memaknai peristiwa yang terjadi dan penentuan sikap
dalam menindaklanjuti pencapaian [Link] data disesuaikan
dengan kebutuhan penelitian, lalu dikelompokkan kemudian diberikan
batasan masalah. Dari penyajian data tersebut, maka diharapkan dapat
memberikan kejelasan data yang substantif dengan data pendukung.
c. Verifikasi/penarikan kesimpulan
Selanjutnya adalah proses penarikan kesimpulan dan verifikasi data.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan dapat
berubah ketika ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung tahap
pengumpulan data berikutnya. Proses untuk mendapatkan bukti-bukti
inilah yang disebut dengan verivikasi data. Apabila kesimpulan yang
diperoleh pada tahap awal sesuai kondisi lapangan pada saat peneliti
kembali meninjau di lapangan berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan
konsisten, maka kesimpulan yang diperoleh merupakan kesimpulan yang
kredibel.
2.6. Teknik pemeriksaan keebsahan data
Pemeriksaan terhadap keabsahan data pada dasarnya digunakan untuk
menyanggah tuduhan terhadap penelitian kualitatif yang mengatakan tidak
ilmiah dan merupakan unsur yang tidak terpisahkan dari penelitian kualitatif.
Agar data dalam penelitian kualitatif dapat dipertanggungjawabkan sebagai
penelitian ilmiah perlu dilakukan uji keabsahan data. Uji keabsahan data
dapat menggunakan beberapa cara sebagai berikut:
1. Kredibilitas (kepercayaan) Uji kredibilitas dimaksudkan untuk
membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan yang
sebenarnya. Selain itu, uji kredibilitas bertujuan untuk menguatkan
hasil penelitian agar tidak diragukan sebagai sebuah karya ilmiah.
2. Perpanjangan Pengamatan Perpanjangan pengamatan berarti peneliti
kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan
28
sumber data yang ditemui maupun sumber data yang lebih baru.
Perpanjangan pengamatan membuat hubungan antara peneliti dengan
sumber datasemakin terjalin, semakin akrab, semakin terbuka, saling
timbul kepercayaan, sehingga informasi yang diperoleh semakin
banyak dan lebih lengkap. Perpanjangan pengamatan berguna untuk
menguji kredibilitas data penelitian terhadap data yang telah
diperoleh, sehingga diketahui terdapat perubahan atau tidak.
3. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan
memanfaatkan berbagai sumber diluar data sebagai bahan
perbandingan. Penelitian ini menggunakan triangulasi sebagai berikut
a) Triangulasi Sumber : Untuk menguji kredibilitas data
dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang
berbeda. Misalnya untuk mengecek data bisa melalui teman-
temanya, pengelola dan informan. Bila dengan teknik
pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang
berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada
sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data mana
yang dianggap benar.
b) Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan
dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan
teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan
wawancara, lalu dicek dengan observasi, dan dokumentasi
atau kuesioner. Bila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas
data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka
peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data
yang dianggap benar.
c) Triangulasi Waktu : Data yang dikumpulkan dengan teknik
wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar,
akan memberikan data lebih valid sehingga lebih kredibel.
Selanjutnya dapat dilakukan dengan pengecekan wawancara,
29
observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang
berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka
dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan
kepastian datanya.
4. Menggunakan Bahan Referensi
Yang dimaksud referensi adalah pendukung untuk membuktikan data
yang telah ditemukan oleh peneliti. Dalam laporan penelitian,
sebaiknya data-data yang dikemukakan perlu dilengkapi dengan foto
foto atau dokumen autentik, sehingga menjadi lebih dapat dipercaya.
5. Mengadakan Membercheck yaitu Tujuan membercheck untuk
mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh dengan data yang
diberikan oleh narasumber. Jadi tujuan membercheck adalah agar
informasi yang diperoleh dan akan digunakan dalam penulisan
laporan sesuai dengan apa yang dimaksud sumber data atau informan.
30
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Afrizal. 2014. Metode Penelitian Kualitatif : sebuah Upaya Mendukung
Penggunaan Penelitian Kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu.
PT Raja Grafindo Persada: Jakarta
Bungin, Burhan. 2012. Analisis Data penelitian Kualitatif. Rajawali
Pers: Jakarta
Mulyana, Dedy dan Solatun. 2013. Metode Penelitian Komunikasi. Cet.
III; Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurdin,Ali. 2020. Teori komunikasi interpersonal disertai contoh
fenomena praktis. Jakarta: Prenada Media
Nurudin. 2015. Pengantar Komunikasi Massa. [Link]; Jakarta:
Rajawali Pers
Jurnal/Skripsi:
Ali Ridho, Muhammad. 2019. Interaksi Sosial Pelaku Phubbing.
Fakultas Psikologi dan Kesehatan: UIN Sunan Ampel.
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta
Asmaul Chusna, Puji. 2017. Pengaruh Media Gadget Pada
Perkembangan Karakter Anak. STIT Al-Muslihun. Vol. 17 No.2
2017
Elok Yanuarti, Inta dan Nur Hidayah. 2018. Perilaku Phubbing Sebagai
Karakter Remaja Generasi Z. Fakultas Bimbingan dan Konseling:
Universitas Negeri Malang. Vol. [Link].1
31
Firdaus,M. 2018. Sistem Pengaruh Penggunaan Smartphone terhadap
Perilaku Phubbing (Siswa SMP di Makassar). Skripsi. Makasar :
universitas Hassanudin.
Listyawati, Reni. 2018. Perilaku Phubbing pada Remaja di Surabaya..
Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.
Normawati,Siti dan Maryan Anjang Prillianti. 2018. Pengaruh
Kampanye “Let‟s Disconnect to Connect” Terhadap Sikap Anti
Phubbing (Survei Pada Followers Official Account Line Starbucks
Indonesia). Jurnal Komunikasi,media dan informatika. Vol. 7,
No.3.
Internet.
[Link]
genggam-ri-capai-6487-pada-2021.
[Link]
memiliki-menguasai-telepon-seluler-menurut-provinsi-dan-
[Link].
Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi.
[Link]
[Link] pada tanggl 15 november 2022.
[Link]. (2019, 4 mei). Phubbing, Fenomena Sosial
yang Merusak Hubungan. Diakses dari CNN Indonesia:
[Link]
277227920/phubbing-fenomena-sosial-yang-merusak-hubungan.
[Link]. 2022, 5 november. mengulik perkembangan penggunaan
smartphone diindonesia.