Aturan Pelayaran dan Keselamatan Kapal
Aturan Pelayaran dan Keselamatan Kapal
BAGIAN UMUM
ATURAN I
PEMBERLAKUAN
(a). Aturan-aturan ini berlaku bagi semua kapal di laut lepas dan di semua perairan
yang berhubungan dengan laut yang dapat dilayari oleh kapal-kapal laut.
(b). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini yang menghalangi berlakunya
peraturan-peraturan khusus yang dibuat oleh penguasa yang berwenang,untuk alur
pelayaran ,pelabuhan,sungai , danau atau perairan pedalaman yang berhubungan
dengan laut dan dapat dilayari oleh kapal laut.
Aturan-aturan khusus demikian itu harus semirip mungkin dengan aturan-aturan ini.
(c). Tidak ada suatu apapun dari aturan ini yang akan menghalangi berlakunya
aturan-aturan khusus yang manapun yang dibuat oleh pemerintah negara manapun
berkenaan dengan tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat, sosok benda atau
isyarat suling untuk kapal –kapal perang dan kapal-kapal yang berlayar dalam
beririnng-iringan atau lampu-lampu isyarat atau sosok-sosok benda untuk kapal-
kapal ikan yang sedang menangkap ikan dalam suatu armada.
(d). Bagan-bagan pemisah lalu lintas dapat disyahkan oleh organisasi untuk maksud
aturan-aturan ini.
ATURAN 2
TANGGUNG JAWAB
(a). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini akan membebaskan tiap kapal
atau pemiliknya,nakhoda atau awak kapalnya,atas akibat-akibat setiap kelalaian
untuk memenuhi aturan-aturan ini atau atas kelalaian terhadap setiap tindakan
berjaga-jaga yang dipandang perlu menurut kebiasaan pelaut atau terhadap keadaan-
keadaan khusus dimana kapal itu berada.
ATURAN 3
DEFINISI-DEFINISI UMUM
(a). Kata “kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air ,termasuk kapal tanpa
benaman (displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat
diguakan sebagai sarana angkutan di air.
(b). Istilah” kapal tenaga “ berarti setiap kapal yang digerakkan dengan mesin.
(c). Istilah”kapal layar” berarti setiap kapal yang sedang berlayar dengan
menggunakan layar, dengan syarat bahwa mesin penggeraknya bila ada sedang tidak
digunakan.
(d). Istilah ”kapal yang sedang menagkap ikan” berarti setiap kapal yang menangkap
ikan dengan jaring, tali, pukat atau jaring penangkap ikan lainnya yang membatasi
kemampuan olah geraknya, tetapi tidak meliputi kapal yang menangkap ikan dengan
tali pancing atau alat penangkap ikan lainnya yang tidak membatasi kemampuan
mengolah geraknya diair.
(e). Kata ”pesawat terbang laut” mencakup setiap pesawat terbang yang dibuat untuk
mengolah gerak di air.
(f). Istilah ”Kapal yang tidak terkendalikan ” berarti kapal yang karena sesuatu
keadaan yang istimewa tidak mampu untuk mengolah gerak seperti yang diisyaratkan
oleh aturan-aturan ini dan karenanya tidak mampu menyimpangi kapal lain.
(g). Istilah ”kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas” berarti kapal yang
karena sifat pekerjaannya mengakibatkan kemampuannya untuk mengolah gerak
seperti diisyaratkan oleh aturan-aturan ini menjadi terbatas dan karenanya tidak
mampu untuk menyimpangi kapal lain.
Kapal –kapal berikut harus dianggap sebagai kapal-kapal yang kemampuan olah
geraknya terbatas.
Kapal yang digunakan memasang merawat atau mengangkat merkah navigasi atau
pipa laut.
(h). Istilah “ Kapal yang terkendala oleh saratnya” berati kapal tenaga yang kerena
saratnya terhadap kedalaman air dan lebar perairan yang dapat dilayari
mengakibatkan kemampuan olah geraknya untuk menyimpang dari garis haluan
yang sedang diikuti menjadi terbatas sekali.
(i). Istilah “sedang berlayar“ Berarti kapal tidak berlabuh jangkar atau diikat pada
daratan atau kandas.
(j). Kapal-kapal yang harus dianggap melihat satu sama lainnya apabila kapal yang
satu dapat dilihat visual oleh kapal lainnya.
(k). Istilah penglihatan terbatas berarti setiap keadaan dalam mana daya tampaknya
dibatasi oleh kabut, halimun, hujan salju, hujan badai,badai pasir,atau setiap sebab
lain yang serupa dengan itu.
BAGIAN B
SEKSI 1
ATURAN 4
PEMBERLAKUAN
ATURAN 5
PENGAMATAN
***Hal – hal yang harus dilakukan pada saat mengadakan pengamatan keliling adalah
:
Memperhatikan sepenuhnya situasi dan resiko tubrukan, kandas dan bahaya navigasi.
Petugas pengamat harus melaksanakan dengan baik atas tugasnya dan tidak boleh
diberikan tugas lain karena dapat mengganggu pelaksanaan pengamatan.
Tugas pengamat dan pemegang kemudi harus terpisah dan tugas kemudi tidak boleh
merangkap atau dianggap merangkap tugas pengamatan, kecuali di kapal – kapal
kecil dimana pandangan ke segala arah tidak terhalang dari tempat kemudi.
Jika dipandang perlu personel yang melaksanakan tugas jaga ditambah sesuai dengan
kondisi yang ada.
Berlayar di dalam atau di dekat bagan pemisah dan di dalam alur pelayaran sempit.
ATURAN 6
KECEPATAN AMAN
Setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman sehingga dapat
mengambil tindakan yang tepat dan berhasil untuk menghindari tubrukan dan dapat
dihentikan dalam jarak yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang [Link]
menentukan kecepatan aman, faktor-faktor berikut termasuk faktor-faktor yang
harus diperhitungkan :
Tingkat penglihatan ;
Kepadatan lalu lintas termasuk pemusatan kapal-kapal ikan atau kapal lain ;
Kemampuan olah gerak kapal ,khususnya yang berhubungan jarak henti dan
kemampuan berputar ;
Pada malam hari, terdapatnya cahaya latar belakang misalanya lampu lampu dari
daratan atau pantulan lampu-lampu sendiri ;
Keadaan angin,laut dan arus dan bahaya-bahaya navigasi yang ada disekitarnya;
1. Tambahan bagi kapal kapal yang radarnya dapat bekerja dengan baik
Setiap kendala yang timbul oleh skala jarak radar yang dipakai;
Pengaruh keadaan laut ,cuaca dan sumber sumber gangguan lain pada penggunaan
radar;
Berbagai macam penilaian penglihatan yang lebih tepat yang mungkin dapat bila
radar digunakan untuk menentukan jarak kapal-kapal atau benda lain disekitarnya.
ATURAN 7
BAHAYA TUBRUKAN
(a). Semua kapal harus menggunakan semua sarana yang tersedia sesuai dengan
keadaan dan suasana yang ada untuk menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan
.Jika timbul keragu-raguan maka bahaya demikian itu harus dianggap ada.
(b). Penggunaan pesawat radar harus dilakukan dengan tepat ,jika dipasang dikapal
dan bekerja dengan baik ,termasuk penyimakan jarak jauh untuk memperoleh
peringatan dini akan adanya bahaya tubrukan dan pelacakan posisi radar atau
pengamatan sistematis yang sepadan atas benda-benda yang terindra.
(c). Praduga-praduga tidak boleh dibuat berdasarkan oleh keterangan yang sangat
kurang khususnya keterangan radar.
(d). Dalam menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan ,pertimbangan-
pertimbangan berikut ini termasuk pertimbangan-pertimbangan yang harus
diperhitungkan.
Bahaya demikian harus dianggap ada jika baringan pedoman kapal yang sedang
mendekat tidak menunjukkan perubahan yang berarti.
ATURAN 8
(a). Setiap tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan ,jika keadaan
mengijinkan harus tegas, dilakukan dalam waktu yang cukup lapang dan benar-benar
memperhatikan syarat-syarat kepelautan yang baik.
(b). Setiap perubahan haluan dan atau kecepatan untuk menghindari tubrukan jika
keadaan mengizinkan harus cukup besar sehingga segera menjadi jelas bagi kapal lain
yang sedang mengamati dengan penglihatan atau dengan radar ,serangkaian
prubahan kecil dari haluan dan atau kecepatan hendaknya dihindari.
(c). Jika ada ruang gerak yang cukup perubahan haluan saja mungkin merupakan
tindakan yang paling berhasil guna untuk menghindari situasi saling mendekat
terlalu rapat,dengan ketentuan bahwa perubahan itu dilakukan dalam waktu cukup
dini ,bersungguh sungguh dan tidak mengakibatkan terjadinya situasi saling
mendekat terlalu rapat.
(d). Tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan dengan kapal lain harus
sedemikian rupa sehingga menghasilkan pelewatan dengan jarak aman .Hasil guna
tindakan itu harus dikaji secara seksama sampai kapal yang lain itu pada akhirnya
terlewati dan bebas sama sekali.
(e). Jika diperlukan untuk menghindari tubrukan atau untuk memberikan waktu yang
lebih banyak untuk menilai keadaan ,kapal harus mengurangi kecepatannya atau
menghilangkan kecepatannya sama sekali dengan memberhentikan atau
menjalankan mundur sarana penggeraknya.
(f). Kapal yang oleh aturan ini diwajibkan tidak boleh merintangi jalan atau jalan
aman kapal lainnya,bilamana diwajibkan oleh suatu keadaan harus mengambil
tindakan sedini mungkin untuk memberikan untuk memberi ruang gerak yang cukup
bagi jalan kapal orang lainnya.
(g). Kapal yang diwajibkan untuk tidak merintangi jalannya atau jalan aman kapal lain
tidak dibebaskan dari kewajiban ini jika mendekati kapal lain mengakibatkan bahaya
tubrukan ,dan bilamana akan mengambil tindakan harus memperhatikan tindakan
yang diwajibkan oleh aturan-aturan dalam bagian ini.
(h). Kapal yang jalannya tidak boleh dirintangi tetap wajib sepenuhnya untuk
melaksanakan aturan-aturan dibagian ini bilamana kedua kapal itu sedang
berdekatan satu dengan lainnya yang mengakibatkkan bahaya tubrukan.
ATURAN 9
(a). Kapal jika berlayar mengikuti arah alur pelayaran atau air pelayaran sempit
harus berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur pelayaran yang terletak disis
lambung kanannya selama masih aman dan dapat dilaksanakan.
(b). Kapal dengan panjang kurang dari 20 meter atau kapal layar tidak boleh
menghalang-halangi jalannya kapal lain yang hanya dapat berlayar dengan aman
didalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.
(c). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh menghalang-halangi jalannya
kapal lain yang berlayar di dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.
(d). Kapal tidak boleh memotong air pelayaran sempit atau alur pelayaran sempit
,jika pemotongan demikian itu menghalangi jalannya kapal yang hanya dapat
belayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran demikian itu.
(e). Kapal yang disebut belakangan boleh menggunakan isyarat bunyi yang diatur
dalam aturan 34 d jika ragu –ragu mengenai maksud pada kapl yang memotong
haluan itu.
(f). Dialur atau air pelayaran sempit jika penyusulan dapat dilaksanakan ,hanya
kapal yang disusul itu merlakukan tindakan untuk memungkinkan dilewatinya
dengan aman,maka kapal yang bermaksud untuk menyusul harus menunjukkan
maksudnya dengan membunyikan isyarat yang sesuai diisyaratkan dalam aturan
34(c) (i).Kapal yang disuusl itu jika menyetujui harus mermperdengarkan isyarat
sesduai dengan yang ditentukan dalam aturan 34(c) (ii)dan mengambil langkah
untuk memungkinkan dilewati dengan [Link] ragu-ragu boleh membunyikan
isyarat –isyarat yang diatur dalam aturan 13.
13. Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyusul dari kewajibannya
berdasarkan aturan 13.
(f). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah pelayaran atau air pelayaran
sempit dimana kapal-kapal lain dapat dikaburkan oleh rintangan yang terletak
diantaranya harus berlayar dengan kewaspadaan dan hati-hati dan harus
membunyikan isyarat yang sesuai yang diisyaratkan dalam aturan 34(e).
Setiap kapal ,jika keadaan mengijinkan harus menghindarkan diri dari berlabuh
jangkar di alur pelayaran sempit.
ATURAN 10
(a). Aturan ini berlaku bagi tata pemisahan lalu lintas yang ditrima secara syah oleh
organisasi dan tidak membebaskan setiap kapal dari kewajibannya untuk melaksanan
aturan lainnya.
(b). Kapal yang sedang menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus :
Berlayar dijalur lalu lintas yang sesuai dengan arah lalu lintas umum untuk jalur itu;
Sedapat mungkin tetap bebas dari garis pemisah atau zona pemisah lalu lintas.
Jalur lalu lintas pada umumnya dimasuki atau ditinggal kan dari ujung jalur ,tetapi
bilamana tindakan memasuki maupun meninggalkan jalur itu dilakukan dari salah
satu sisi ,tindakan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah
sudut yang sekecil-kecilnya terhadap arah lalu lintas umum.
(c).Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari memotong jalur lalu lintas tetapi jika
terpaksa melakukannya harus memotong dengan haluan sedapat mungkin tegak
lurus terhadap arah lalu lintas umum.
(d). i Kapal yang berada di sekitar tata pemisah lalu lintas tidak boleh menggunakan
zona lalu lintas dekat pantai bilamana ia dapat menggunakan jalur lalu lintas yang
sesuai dengan aman. Akan tetapi kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter ,kapal
layar dan kapal yang sedang menangkap ikan boleh menggunakan zona lalu lintas
dekat pantai.
ii Lepas dari sub ayat (d)(i) kapal boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai
bilamana sedang berlayar menuju atau dari sebuah pelabuhan ,instalasi atau
bangunan lepas pantai ,stasion pandu atau setiap tempat yang berlokasi di dalm zona
lalu lintas dekat pantai atau untuk menghindari bahaya mendadak.
(e). Kapal kecuali sebuah kapal yang sedang memotong atau kapal-kapal yang sedang
memasuki atau sedang meninggalkan jalur ,pada umumnya tidak boleh memasuki
zona pemisah atau memotong garis pemisah kecuali :
Dalam keadaan darurat untuk menghindari bahaya mendadak.
(f). Kapal yang sedang berlayar di daerah dekat ujung tata pemisahan lalu lintas harus
berlayar sangat hati-hati.
(g). Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari dirinya berlabuh jangkar didalam tata
pemisahan lalu lintas atau di daerah-daerah dekat ujung-ujungnya.
(h). Kapal yang tidak menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus menghindarinya
dengan ambang batas selebar-lebarnya.
(i). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh merintangi kapal jalan setiapa
kapal lain yang sedang mengikuti jalur lalu lintas.
(j). Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter atau kaapl layar tidak boleh
merintangi pelayaran aman dari kaapl tenaga yang sedang mengikuti suatu jalur lalu
lintas.
(k). Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas apabila sedang tugas untuk
memelihara keselamatan pelayaran/navigasi dalam bagan tata pemisah lalu lintas
dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan
tugasnya.
(l). Kapal yang terbatas kemampuan olah geraknya apabila dalam tugas memasang
,merawat atau mengangkat kabel laut dalam bagan tata pemisah lalu lintas
dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan
tugasnya
SEKSI II
ATURAN 11
PEMBERLAKUAN
ATURAN 12
KAPAL LAYAR
a). Bilamana dua kapal layar saling mendekati, sehingga mengakibatkan bahaya
tubrukan ,satu diantarnya harus menghindari yang lain sebagai berikut :
Bilamana masing-masing dapat angin pada lambung yang berlainan maka kapal yang
mendapat angin pada lambung kiri harus menghindar kapal lain.
Bilaman keduanya mendapat angin dari lambung yang sama maka kapal yang berada
di atas angin harus mengindari kapal yang di bawah angin.
Jika kapal mendapat angin dari lambung yang kiri melihat kapal berada di atas angin
dan tidak dapat memastikan apakah kapal lain itu mendapat angin dari lambung kiri
atau kanannya ,ia harus menghindari kapal yang lain itu
(b). Untuk mengartikan aturan ini sisi diatas angin ialah sisi yang berlawanan dengan
sisi dimana layar utama berada atau dalam hal kapal dengan layar persegi sisi yang
berlawanan dengan sisi dimana layar muka belakang yang terbesar di pasang.
ATURAN 13
PENYUSULAN
(a). Lepas dari apapun yang tercantum dalam aturan-aturan bagian B seksi I dan II
setiap kapal yang menyusul kapal lain ,harus menyimpangi kapal yang disusul.
(b). Kapal dianggap sedang menyusul ,bilamana mendekat kapal lain dari jurusan
lebih dari 22.5 derajat di belakang arah melintang ,ialah dalam kedudukan sedemikain
sehingga terhadap kapal yang disusul itu pada malah hari ia dapat melihat hanya
penerangan buritan ,tetapi tidak satupun penerangan-penerangan lambungnya.
(c). Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah ia sedang menyusul kapal lain ia harus
menganggap bahwa demikain halnya dan bertindak sesuai dengan hal itu.
(d). Setiap perubahan baringan selanjutnya antara kedua kapal itu tidak akan
mengakibatkan kapal yang sedang menyusul sebagai kapal yang menyilang,dalam
pengertian aturan-aturan ini atau membebaskan dari kewajibannya unutk tetap
bebas dari kapal yang sedang di susul itu sampai akhirnya lewat dan bebas.
ATURAN 14
SITUASI BERHADAPAN
(a). Bilamana dua buah kapal tenaga sedang bertemu dengan haluan berhadapan atau
hampir berhadapan, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,masing-masing kapal
harus berubah haluannya ke kanan sehingga saling berpapasan pada lambung kirinya.
(b). Situasi demikian itu selalu dianggap ada ,bilamana sebuah kapal melihat kapal
lain tepat atau hampir tepat di depannya pada malam hari ia dapat melihat
penerangan tiang kapal lain segaris atau hampir segaris dan/atau kedua penerangan
lambung pada siang hari dengan memperhatikan penyesuaian sudut pandangan dari
kapal lain.
(c).Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah situasi demikian itu ada ,ia harus
menganggap demikian halnya dan bertindak sesuai dengan keadaan itu.
ATURAN 15
SITUASI BERSILANGAN
ATURAN 16
ATURAN 17
(a). i. Apabila salah satu dari kedua kapal diharuskan menyimpang ,maka kapal
yang lain harus mempertahankan haluan dan kecepatannya.
1. Bagaimanapun juga ,kapal yang di sebut terakhir ini boleh bertindak untuk
menghindari tubrukan dengan olah geraknya sendiri,segera setelah jelas baginya
,bahwa kapal yang diwajibkan menyimpang itu tidak mengambil tindakan yang
sesuai dalam memenuhi aturan-aturan ini.
(c). Kapal tenaga yang bertindak dalam situasi bersilangan sesuai dengan sub
paragraph(a) (ii) aturan ini untuk menghindari tubrukan dengan kapal tenaga yang
lain, jika keadaan mengijinkan, tidak boleh merubah haluannya ke kiri untuk kapal
yang berada di lambung kirinya.
(d). Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyimpang dari kewajibannya untuk
menghindari jalannya kapal lain.
ATURAN-18
Kapal layar.
(c). Kapal yang sedang menangkap ikan sedapat mungkin , harus menghindari :
[Link] yang terkendala oleh saratnya harus berlayar dengan kewaspadaan khusus
dengan benar – benar memperhatikan keadaannya yang khusus itu.
(e). Pesawat terbang laut di air, pada umumnya harus tetap benar-benar bebas dari
semua kapal dan menghindarkan dirinya merintangi navigasi kapal-kapal itu.
Sekalipun demikian jika ada bahaya tubrukan, pesawat terbang laut itu harus
memenuhi aturan – aturan bagian ini.
SEKSI III
ATURAN 19
(a). Aturan ini berlaku bagi kapal-kapal yang tidak saling melihat bilamana sedang
berlayar disuatu daerah yang berpenglihatan terbatas atau didekatnya.
(b). Setiap kapal harus berjalan dengan kecepatan aman yang disesuaikan dengan
keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada.
Kapal tenaga harus menyiapkan mesin-mesinnya untuk segera dapat berolah gerak.
(c). Setiap kapal harus benar-benar memperhatikan keadaan dan suasana penglihatan
terbatas yang ada bilamana sedang memenuhi aturan-aturan Seksi I bagian ini.
(d). Kapal yang mengindera kapal lain hanya dengan radar harus menentukan apakah
sedang berkembang situasi saling mendekat terlalu rapat dan / atau apakah ada
bahaya tubrukan. Jika demikian kapal itu harus melakukan tindakan dalam waktu
yang cukup lapang, dengan ketentuan bahwa bilamana tindakan demikian terdiri dari
perubahan haluan, maka sejauh mungkin harus dihindari hal-hal berikut :
1. Perubahan haluan kekiri terhadap kapal yang ada didepan arah melintang, selain
dari pada kapal yang sedang disusul ;
2. Perubahan haluan kearah kapal yang ada diarah melintang atau dibelakang arah
melintang.
(e). Kecuali apabila telah yakin bahwa tidak ada bahaya tubrukan, setiap kapal yang
mendengar isyarat kabut kapal lain yang menurut pertimbangannya berada didepan
arah melintangnya, atau yang tidak dapat menghindari situasi saling mendekat
terlalu rapat hingga kapal yang ada didepan arah melintangnya harus mengurangi
kecepatannya serendah mungkin yang dengan kecepatan itu kapal tersebut dapat
mempertahankan haluannya.
Jika dianggap perlu, kapal itu harus meniadakan kecepatannya sama sekali dan
bagaimanapun juga berlayar dengan kewaspadaan khusus hingga bahaya tubrukan
telah berlalu.
BAGIAN C
ATURAN 20
PEMBERLAKUAN
(a). Aturan-aturan didalam bagian ini harus dipenuhi dalam segala keadaan cuaca.
(d). Aturan-aturan tentang sosok-sosok benda harus dipenuhi pada siang hari.
ATURAN 21
DEFINISI
ATURAN 22
(b). Di kapal-kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 50 meter :
– Penerangan tiang 5 mil, kecuali apabila panjang kapal itu kurang dari 20
meter 3 mil ;
(d). Di kapal-kapal yang terbenam sebagian atau benda-banda yang sedang ditunda
yang tidak kelihatan dengan jelas :
ATURAN 23
Penerangan tiang kedua di belakang dan lebih tinggi dari pada penerangan tiang
depan kecuali kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter, tidak wajib
memperlihatkan penerangan demikian, tetapi boleh memperlihatkannya ;
Penerangan-penerangan lambung ;
Penerangan buritan.
(b).Kapal bantalan udara bilamana sedang beroperasi dalam bentuk tanpa berat
benaman disamping penerangan-penerangan yang ditentukan di dalam paragrap (a)
aturan ini, harus memperlihatkan penerangan keliling kuning kedip.
(c). i. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter, sebagai ganti
penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh
memperlihatkan penerangan keliling putih dan penerangan-penerangan lambung.
1. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 7 meter yang kecepatan meximumnya
tidak lebih dari 7 mil setiap jam, sebagai ganti penerangan-penerangan yang
ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, memperlihatkan penerangan keliling
putih dan jika mungkin, harus juga memperlihatkan penerangan-penerangan
lambung.
Penerangan tiang atau penerangan keliling putih dikapal tenaga yang panjangnya
kurang dari 12 meter boleh dipindahkan dari sumbu membujur kapal jika pemasangan
disumbu membujur tidak dapat dilakukan,dengan ketentuan bahwa penerangan-
penerangan lambung digabungkan dalam satu lentera yang harus diperlihatkan
disumbu membujur kapal atau ditempatkan sedekat mungkin disumbu membujur
yang sama dengan penerangan tiang atau penerangan keliling putih.
ATURAN 24
Penerangan pengganti peneranganyang ditentukan didalam aturan (23) (a) (i) atau (a)
(ii), dua penerangan tiang yang bersusun tegak.
Bilamana panjang tundaan diukur dari buritan kapal yang sedang menunda sampai
keujung belakang tundaan lebih dari 200 meter, tiga penerangan yang demikian itu,
bersusun tegak lurus ;
Penerangan-penerangan lambung ;
Penerangan buritan ;
Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat
yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.
(b).Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju
diikat erat-erat dalam suatu unit berangkai, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai
sebuah kapal tenaga dan memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan
didalam aturan 23.
1. Sebagai pengganti penerangan yang ditentukan didalam aturan 23 (a) (i) atau (a)
(ii) dua penerangan tiang yang bersusun tegak lurus ;
2. Penerangan-penerangan lambung ;
(d).Kapal tenaga yang dikenai paragrap (a) atau (c) aturan ini, harus juga memenuhi
aturan 23 (a) (ii) .
(e).Kapal atau benda yang sedang ditunda, selain dari pada yang dinyatakan didalam
paragrap (g) aturan ini harus memperlihatkan :
1. Penerangan-penerangan lambung ;
2. Penerangan buritan ;
[Link] panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu
tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.
(f).Dengan ketentuan bahwa berapapun jumlah kapal yang sedang digandeng atau
didorong dalam suatu kelompok, harus diberi penerangan sebagai satu kapal :
1. Kapal yang sedang didorong maju yang bukan merupakan bagian dari suatu unit
berantai, harus memperlihatkan penerangan-penerangan lambung di ujung depan ;
2. Kapal yang sedang digandeng harus memperlihatkan penerangan buritan dan ujung
depan, penerangan-penerangan lambung.
(g) Kapal atau benda yang terbenam sebagian, atau gabungan dari kapal-kapal atau
benda-benda demikian yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas, harus
memperlihatkan :
Jika lebarnya kurang dari 25 meter, satu penerangan keliling putih diujung depan atau
didekatnya dan satu diujung belakang atau didekatnya kecuali apabila naga umbang
itu tidak perlu memperlihatkan penerangan diujung depan atau didekatnya ;
Jika lebarnya 25 meter atau lebih, dua penerangan keliling putih tambahan diujung-
ujung paling luar dari lebarnya atau didekatnya ;
Sosok belah ketupat di atau didekat ujung paling belakang dari kapal atau benda
paling belakang yang sedang ditunda dan jika panjang tundaan itu lebih dari 200
meter, sosok belah ketupat tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan
sejelas-jelasnya serta ditempatkan sejauh mungkin di depan.
(h). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan
kapal atau benda yang sedang ditunda memperlihatkan penerangan-penerangan atau
sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (e) atau (g) aturan ini, semua upaya
yang mungkin harus ditempuh untuk menerangi kapal atau benda yang ditunda itu
atau setidak-tidaknya menunjukan adanya kapal atau benda demikian itu.
(i). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan
kapal yang tidak melakukan operasi-operasi penundaan untuk memperlihatkan
penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (c) aturan ini,
maka kapal demikian itu tidak diisyaratkan untuk memperlihatkan penerangan-
penerangan itu bilamana sedang menunda kapal lain dalam bahaya atau dalam
keadaan lain yang membutuhkan pertolongan. Segala upaya yang mungkin harus
ditempuh untuk menunjukan sifat hubungan antara kapal yang sedang menunda
dan kapal yang sedang ditunda sebagaimana yang diharuskan dan dibolehkan oleh
aturan 36 terutama untuk mrnerangi tali tunda.
ATURAN 25
(a). Kapal layar yang sedang berlayar yang sedang berlayar harus memperlihatkan :
Penerangan-penerangan lambung ;
Penerangan buritan.
(d). i. Kapal layar yang panjangnya kurang dari 7 meter, jika mungkin harus
memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau
(b) aturan ini, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal layar itu harus selalu siap
dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya
putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang cukup untuk mencegah tubrukan.
ATURAN 26
KAPAL IKAN
(a). Kapal yang sedang menangkap ikan, apakah sedang berlayar atau berlabuh
jangkar hanya boleh memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok
benda yang ditentukan oleh aturan ini.
(b). Kapal yang sedang mendogol, maksudnya sedang menarik pukat tarik atau
perkakas lain di dalam air digunakan sebagai alat menangkap ikan, harus
memperlihatkan :
Dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas hijau dan yang di bawah
putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya
berimpit bersusun tegak lurus, kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai
pengganti sosok benda ini boleh memperlihatkan keranjang ;
Penerangan tiang lebih kebelakang dan lebih tinggi dari pada penerangan hijau
keliling, kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter tidak wajib memperlihatkan
penerangan demikian itu, tetapi boleh memperlihatkannya ;
Bilaman mempunyai laju di air, sebagai tambahan atas penerangan- penerangan yang
ditentukan dalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan
buritan.
(c). Kapal yang sedang menangkap ikan, kecuali yang sedang mendogol harus
memperlihatkan :
Dua penerangan keliling bersusun tegaklurus, yang di atas merah dan di bawah putih,
atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit
bersusun tegaklurus. Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti
sosok benda ini, boleh memperlihatkan keranjang ;
Bilamana mana ada alat penangkap ikan yang terjulur mendatar dari kapal lebih dari
150 meter, penerangan putih keliling atau kerucut yang titik puncaknya ke atas diarah
alat penangkap ;
(d). Kapal yang sedang menangkap ikan dekat sekali dengan kapal-kapal lain yang
menangkap ikan, boleh memperlihatkan isyarat-isyarat tambahan yang diuraikan
dengan jelas didalam Lampiran II Peraturan ini.
(e). Bilamana sedang tidak menangkap ikan tidak boleh memperlihatkan penerangan-
penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan ini tetapi hanya
penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang
panjangnya sama dengan panjang kapal itu.
ATURAN 27
Dua penerangan merah keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat
kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;
Dua bola atau sosok benda yang serupa, bersusun tegak lurus disuatu tempat yang
dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;
Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan
dengan sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah,
sedangkan penerangan yang tengah harus putih ;
Tiga sosok benda bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan
sejelas-jelasnya. Sosok benda yang tertinggi dan yang terendah harus bola,
sedangkan yang di tengah sosok belah ketupat ;
(c). Kapal tenaga yang sedang melaksanakan pekerjaan penundaan sedemikian rupa
sehingga sangat membatasi kemampuan kapal yang sedang menunda dan
tundaannya itu menyimpang dari haluannya yang ditentukan di dalam Aturan 24 (a)
harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang
ditentukan didalam sub paragrap (b) (i) dan (ii) Aturan ini.
(d). Kapal yang sedang melaksanakan pengerukan atau pekerjaan di dalam air,
bilamana kemampuan olah geraknya terbatas, harus memperlihatkan penerangan-
penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam su paragrap (b) (i), (ii)
dan (iii) Aturan ini dan sebagai tambahan bilamana ada rintangan ,harus
memperlihatkan :
Dua penerangan merah keliling atau dua bola bersusun tegak lurus untuk
menunjukkan sisi tempat rintangan itu berada ;
Dua penerangan hijau keliling atau dua sosok belah ketupat bersusun tegak lurus
untuk menunjukan sisi yang boleh dilewati kapal lain ;
Bilaman berlabuh jangkar, penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di
dalam paragrap ini sebagai ganti penerangan-penerangan atau sosok benda yang
ditentukan di dalam Aturan 30.
Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus dis suatu tempat yang diperlihatkan
sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah,
sedangkan penerangan yang di tengah harus putih ;
Tiruan bendera kaku “A” dari Kode Internasional yang tingginya tidak kurang dari 1
meter. Langkah-langkah harus dilakukan untuk menjamin agar tiruan itu dapat
kelihatan keliling.
(g). Kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, kecuali kapal-kapal yang
sedang menjalankan pekerjaan penyelaman, tidak wajib memperlihatkan
penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan
ini.
(h). Isyarat-isyarat yang yang ditentukan di dalam Aturan ini bukan isyarat-isyarat
dari kapal-kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan. Isyarat-isyarat
demikian tercantum di dalam Lampiran IV Peraturan ini.
ATURAN 28
ATURAN 29
KAPAL PANDU
Di puncak tiang atau di dekatnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang
di atas putih dan yang di bawah merah ;
(b). Kapal pandu bilaman tidak sedang bertugas memandu harus memperlihatkan
penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang
serupa sesuai dengan panjangnya.
ATURAN 30
(a). Kapal yang berlabuh jangkar harus memperlihatkan disuatu tempat yang dapat
kelihatan dengan sejelas-jelasnya :
Di bagian depan, penerangan putih keliling atau satu bola ;
Di buritan atau di dekatnya dan di suatu ketinggian yang lebih rendah dari pada
penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), sebuah penerangan putih
keliling.
(e). Kapal yang panjangnya kurang dari 7 meter bilamana berlabuh jangkar, tidak
didalam atau didekat alur pelayaran sempit, air pelayaran atau tempat berlabuh
jangkar, atau tempat yang biasa dilayari oleh kapal-kapal lain, tidak disyaratkan
memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam
paragrap (a) dan (b) Aturan ini.
(f). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, bilamana kandas, tidak disyaratkan
memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan
didalam su paragrap (d) (i) dan (ii) Aturan ini.
ATURAN 31
BAGIAN D
ATURAN 32
DEFINISI
(a). Kata “ suling “ berarti alat isyarat bunyi yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan
yang ditentukan dan yang memenuhi perincian-perincian didalam Lampiran III
Peraturan-peraturan ini.
(b). Istilah “ tiup pendek “ berarti tiupan yang lamanya kira-kira satu detik ;
(c). Istilah “ tiup panjang “ berarti tiupan yang lamanya 4 sampai 6 detik.
ATURAN 33
(a). Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih harus dilengkapi dengan suling dan
genta serta kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih sebagai tambahan, harus
dilengkapi dengan gong yang nada dan bunyinya tidak dapat terkacaukan dengan
nada dan bunyi genta. Suling, genta dan gong itu harus memenuhi, perincian-
perincian didalam Lampiran III Peraturan ini.
Genta atau gong atau kedua-duanya boleh diganti dengan perlengkapan lain yang
mempunyai sifat-sifat khas yang sama dengan bunyi masing-masing, dengan
ketentuan bahwa alat-alat isyatar yang ditentukan itu harus selalu mungkin
dibunyikan dengan tangan.
(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memasang alat-alat
isyarat bunyi yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini, tetapi jika tidak
memasangnya, kapal itu harus dilengkapi dengan beberapa sarana lain yang
menghasilkan isyarat bunyi yang efisien.
ATURAN 34
(a). Bilamana kapal-kapal dalam keadaan saling melihat, kapal tenaga yang sedang
berlayar, bilamana sedang berolah gerak sesuai dengan yang diharuskan atau
dibolehkan atau disyaratkan oleh Aturan-aturan ini, harus menunjukan olah gerak
tersebut dengan isyarat-isyarat berikut dengan menggunakan sulingnya :
– Satu tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekanan “
;
– Dua tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekiri “
;
– Tiga tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin
penggerak “.
(b). Setiap kapal boleh menambah isyarat-isyarat suling yang ditentukan didalam
paragrap (a) Aturan ini dengan isyarat-isyarat cahaya, diulang-ulang seperlunya
sementara olah gerak sedang dilakukan :
Dua kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekiri “ ;
Tiga kedip untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak
“;
Lamanya masing-masing kedip harus kira-kira satu detik, selang waktu antara kedip-
kedip itu harus kira-kira satu detik, serta selang waktu antara isyarat-isyarat
beruntun tidak boleh kurang dari 20 detik ;
Penerangan yang digunakan untuk isyarat ini jika dipasang, harus penerangan putih
keliling, dapat kelihatan dari jarak minimum 5 mil dan harus memenuhi ketentuan-
ketentuan Lampiran I Peraturan ini.
(c). Bilamana dalam keadaan saling melihat dalam alur pelayaran atau air pelayaran
sempit :
Kapal yang sedang bermaksud menyusul kapal lain, sesuai dengan Aturan 9 (e) (i)
harus menyatakan maksudnya itu dengan isyarat berikut dengan sulingnya :
– Dua tiup panjang diikuti satu tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud
menyusul anda di sisi kanan anda “ ;
– Dua tiup panjang diikuti dua tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud
menyusul anda di sisi kiri anda “.
Kapal yang sedang siap untuk disusul itu bilamana sedang melakukan tindakan sesuai
dengan Aturan 9 (e) (i), harus menyatakan persetujuannya dengan isyarat-isyarat
dengan sulingnya :
-Satu tiup panjang, satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek dengan
tata urutan tersebut.
(d). Bilamana kapal-kapal yang dalam keadaan saling melihat sedang saling mendekat
dan karena suatu sebab, apakah salah satu dari kapal-kapal itu atau kedua-duanya
tidak berhasil memahami maksud-maksud atau tindakan-tindakan kapal yang lain
atau dalam keadaan ragu-ragu apakah kapal yang lain sedang melakukan tindakan
yang memadai untuk menghindari tubrukan, kapal yang dalam keadaan ragu-ragu itu
harus segera menyatakan keragu-raguan demikian dengan memperdengarkan
sekurang-kurangnya 5 tiup pendek dan cepat dengan suling. Isyarat demikian boleh
ditambah dengan isyarat cahaya yang sekurang-kurangnya terdiri dari 5 kedip,
pendek dan cepat.
(e). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur pelayaran atau air
pelayaran yang ditempat itu kapal-kapal lain dapat terhalang oleh alingan, harus
memperdengarkan satu tiup panjang.
Isyarat demikian itu harus disambut dengan tiup panjang oleh setiap kapal yang
sedang mendekat yang sekiranya ada didalam jarak dengar disekitar tikungan atau
dibalik alingan itu.
(f). Jika suling-suling dipasang di kapal secara terpisah dengan jarak lebih dari 100
meter, hanya satu suling saja yang harus digunakan untuk memberikan isyarat olah
gerak dan isyarat peringatan.
ATURAN 35
Didalam atau didekat daerah yang berpenglihatan terbatas baik pada siang hari atau
pada malam hari, isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Aturan ini harus digunakan
sebagai berikut :
(a). Kapal tenaga yang mempunyai laju di air memperdengarkan satu tiup panjang
dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.
(b). Kapal tenaga yang sedang berlayar tetapi berhenti dan tidak mempunyai laju di
air harus memperdengarkan dua tiup panjang beruntun dengan selang waktu tidak
lebih dari 2 menit dan selang waktu tiup-tiup panjang itu kira-kira 2 detik.
(c). Kapal yang tidak terkendalikan, kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas,
kapal yang terkendala oleh saratnya, kapal layar, kapal yang sedang menangkap ikan
dan kapal yang sedang menunda atau mendorong kapal lain sebagai pengganti
isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini harus
memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup panjang diikuti oleh dua tiup
pendek dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.
(d). Kapal yang sedang menangkap ikan bilamana berlabuh jangkar dan kapal yang
kemampuan olah geraknya terbatas bilamana sedang menjalankan pekerjaannya
dalam keadaan berlabuh jangkar, sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan
didalam paragrap (g) Aturan ini, harus memperdengarkan isyarat yang ditentukan
dadalam paragrap (c) Aturan ini.
(e). Kapal yang ditunda atau jika yang kapal ditunda itu lebih dari satu, maka kapal
yang paling belakang dari tundaanitu jika diawaki, harus memperdengarkan 4 tiup
beruntun, yakni 1 tiup panjang diikuti 3 tiup pendek, dengan selang waktu tidak lebih
dari 2 menit. Bilamana mungkin, isyarat ini harus diperdengarkan oleh kapal yang
menunda.
(f). Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju
diikat erat-erat dalam kesatuan gabungan, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai
sebuah kapal tenaga dan harus memperdengarkan isyarat-isyarat yang ditentukan
didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini.
(g). Kapal yang berlabuh jangkar harus membunyikan genta dengan cepat selama
kira-kira 5 detik dengan selang waktu tidak lebih dari 1 menit.
Di kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih genta itu harus dibunyikan dibagian
depan kapal dan segera setelah pembunyian genta, gong harus dibunyikan cepat-
cepat selama kira-kira 5 detik dibagian belakang kapal.
Kapal yang berlabuh jangkar, sebagai tambahan boleh memperdengarkan tiga tiup
beruntun, yakni satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek untuk
mengingatkan kapal lain yang mendekat mengenai kedudukannya dan adanya
kemungkinan tubrukan.
(h). Kapal yang kandas harus memperdengarkan isyarat genta dan jika
dipersyaratkan, isyarat gong yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, dan
sebagai tambahan harus memperdengarkan tiga ketukan terpisah dan jelas dengan
genta sesaat sebelum dan segera setelah pembunyian genta yang cepat itu. Kapal
yang kandas, sebagai tambahan boleh memperdengarkan isyarat suling yang sesuai.
(i). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memperdengarkan
isyarat-isyarat tersebut diatas, tetapi jika tidak memperdengarkannya, kapal itu harus
memperdengarkan isyarat bunyi lain yang efisien dengan selang waktu tidak lebih
dari 2 menit.
(j). Kapal pandu bilamana sedang bertugas memandu, sebagai tambahan atas isyarat-
isyarat yang ditentukan didalam paragraph (a), (b) atau (g) Aturan ini boleh
memperdengarkannya isyarat pengenal yang terdiri dari 4 tiup pendek.
ATURAN 36
Jika perlu untuk menarik perhatian kapal lain, setiap kapal boleh menggunakan
isyarat cahaya atau isyarat bunyi yang tidak dapat terkelirukan dengan setiap isyarat
yang diharuskan atau dibenarkan dimanapun didalam Aturan ini, atau boleh
mengarahkan berkas cahaya lampu kejurusan manapun. Sembarang cahaya yang
digunakan untuk menarik perhatian kapal lain harus sedemikian rupa sehingga tidak
dapat terkelirukan dengan alat bantu navigasi manapun. Untuk memenuhi maksud
Aturan ini penggunaan penerangan berselang-selang atau penerangan berputar
dengan intensitas tinggi, misalnya penerangan-penerangan stroba, harus
dihindarkan.
ATURAN 37
ISYARAT BAHAYA
Bilaman kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan, kapal itu harus
menggunakan atau memperlihatkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam
Lampiran IV Peraturan ini.
BAGIAN E
PEMBEBASAN – PEMBEBASAN
ATURAN 38
PEMBEBASAN
Setiap kapal ( atau kelas kapal-kapal ) dengan ketentuan bahwa kapal itu memenuhi
syarat-syarat Peraturan internasional tentang pencegahan tubrukan di laut 1960 yang
lunasnya diletakkan sebelum peraturan ini berlaku atau yang pada tanggal itu dalam
tahapan pembangunan yang sesuai, dibebaskan dari kewajiban untuk memenuhi
Peraturan ini sebagai berikut :
Aturan 39
Definisi
(a) Audit berarti proses yang sistematis, independen dan terdokumentasi untuk
memperoleh
kriteria terpenuhi.
(b) Skema Audit berarti Skema Audit Negara Anggota IMO yang ditetapkan oleh
Organisasi*.
* Lihat kerangka kerja dan prosedur untuk skema audit negara anggota IMO,
(c) Kode untuk Implementasi berarti Kode Implementasi Instrumen IMO (III
Kode) diadopsi oleh Organisasi dengan resolusi A.1070 (28).
Aturan 40
Aplikasi
pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab mereka yang terkandung dalam Konvensi
ini.
Aturan 41
Verifikasi kepatuhan
(a) Setiap Pihak wajib menjalani audit berkala oleh Organisasi dalam sesuai dengan
standar audit untuk memverifikasi kepatuhan dan implementasi Konvensi ini.
(b) Sekretaris Jenderal Organisasi bertanggung jawab untuk: mengelola Skema Audit,
berdasarkan pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi*.
(c) Setiap Pihak wajib memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pelaksanaan
audit dan implementasi program tindakan untuk mengatasi temuan, berdasarkan
pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi *.
Definisi
Istilah ” tiang di atas badan ” berarti ketinggian diatas geladak jalan terus yang
teratas. Ketinggian ini harus diukur dari kedudukan tegak lurus dibawah tempat
penerangan.
Penerangan tiang depan atau jika hanya dipasang satu penerangan tiang saja, maka
penerangan tersebut pada ketinggian diatas badan tidak kurang dari 6 meter dan jika
lebar kapal lebih dari 6 meter maka tidak pada ketinggian tidak kurang dari lebar
tersebut, tetapi sekalipun demikian penerangan itu tidak perlu ditempatkan pada
ketinggian diatas badan lebih dari 12 meter.
Penerangan tiang kapal tenaga yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang
dari 20 meter harus ditempatkan pada ketinggian diatas tutup tajuk tidak kurang dari
2,5 meter.
Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter boleh memasang penerangan
yang teratas pada ketinggian yang kurang dari 2,5 meter diatas tutup. Tetapi bilamana
penerangan tiang dipasang sebagai tambahan penerangan-penerangan lambung dan
penerangan buritan,maka penerangan tiang demikian itu harus dipasang sekurang-
kurangnya 1 meter lebih tinggi dari pada penerangan-penerangan lambung.
Salah satu dari dua atau tiga penerangan tiang yang ditentukan bagi kapal tenaga
yang sedang menunda atau mendorong kapal lain harus ditempatkan ditempat yang
sama dengan penerangan tiang didepan atau penerangan tiang belakang, dengan
ketentuan bahwa apabila dipasang ditiang belakang, penerangan tiang belakang yang
paling bawah harus sekurang-kurangnya 4,5 meter tegak lurus lebih tinggi dari pada
penerangan
Tiang depan.
1. Penerangan atau penerangan-penerangan tiang yang ditentukan didalam Aturan 23
(a) harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga berada diatas dan bebas dari
semua
Penerangan yang terendah dari kedua penerangan keliling yang ditentukan bagi kapal
bilamana sedang menangkap ikan harus berada pada ketinggian diatas penerangan-
penerangan lambung tidak kurang dari dua kali jarak antara kedua penerangan tegak
lurus.
Penerangan labuh depan yang ditentukan didalam Aturan 30 (a) (i) bilamana dipasang
dua penerangan labuh belakang.
Di kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih, penerangan labuh depan ini harus
ditempatkan pada ketinggian yang tidak kurang dari 6 meter diatas badan.
Bilamana penerangan tiang disyaratkan bagi kapal tenaga, maka jarak mendatar
antara penerangan-penerangan itu tidak boleh kurang dari setengah panjang kapal,
tetapi tidak boleh lebih dari 100 meter. Penerangan yang didepan harus ditempatkan
tidak lebih dari seperempat panjang kapal diukur dari linggi depan.
Penerangan yang menunjukan arah alat penangkap ikan yang menjulur dari kapal
yang sedang menangkap ikan sebagaimana yang ditentukan didalam Aturan 26 (c)
(ii), harus ditempatkan dengan jarak mendatar yang tidak kurang dari 2 meter diukur
dari dua penerangan merah dan putih keliling yang ditentukan didalam Aturan 26 (c)
(i) dan tidak lebih rendah dari pada penerangan-penerangan lambung.
Sosok-sosok Benda
Sosok benda harus berwarna hitam dan dengan ukuran-ukuran berikut :
Bola harus dengan garis tengah tidak kurang dari 0,6 meter ;
Kerucut harus dengan bidang alas yang garis tengahnya tidak kurang dari 0,6 meter
dan tingginya sama dengan garis tengahnya ;
Silinder harus dengan garis tengah tidak kurang dari 0,6 meter dan tingginya sama
dengan dua kali garis tengahnya ;
Sosok belah ketupat harus terdiri dari dua kerucut sebagaimana yang diuraikan
dengan jelas didalam sub paragrap (ii) diatas yang mempunyai bidang alas
persekutuan.
Jarak tegak lurus antara sosok-sosok benda harus sekurang-kurangnya 1,5 meter
Di kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter boleh digunakan sosok-sosok benda
dengan ukuran-ukuran yang lebih kecil tetapi sebanding dengan ukuran kapal dan
jarak antaranya boleh dikurangi sesuai dengan itu.
Putih
Hijau
x 0,028 0,009 0,300 0,203
Merah
Kuning
Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya minimum dari penerangan-penerangan harus dihitung dengan
menggunakan rumus :
D I
1 0,9
2 4,3
3 12
4 27
5 52
6 94
Hal ini tidak boleh dicapai dengan pengatur intensitas cahaya yang dapat diatur.
Sektor-sektor mendatar
1. Kearah depan penerangan-penerangan lambung jika dipasang di kapal harus
memperlihatkan intensitas cahaya minimum yang disyaratkan. Intensitas cahaya
harus berkurang sampai praktis lenyap antara 1 derajat dan 3 derajat diluar sektor-
sektor yang ditetapkan.
Persetujuan
Konstruksi penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda serta pemasangan
penerangan-penerangan di kapal harus memperoleh persetujuan dari negara yang
benderanya dikibarkan oleh kapal secara sah.
LAMPIRAN II
Umum
Pada malam hari : lampu sorot diarahkan kedepan dan kearah kapal lain dari
pasangan itu ;
1. Bilamana sedang memasang atau menarik pukat-pukatnya atau bilamana pukat-
pukatnya tersangkut disuatu rintangan, penerangan-penerangan yang ditentukan
didalam Aturan 2 (a) diatas.
Kapal-kapal yang sedang menangkap ikan dengan alat penangkap ikan jaring lingkar
boleh memperlihatkan dua penerangan kuning bersusun tegak lurus.
Suling
Jarak dengar isyarat dari suling harus ditentukan oleh frekuensi-frekuensi itu yang
dapat meliputi frekuensi dasar dan atau satu atau beberapa frekuensi yang lebih
tinggi, yang terletak dalam batas 180 – 700 Hz ( ± 1 persen ) dan yang menghasilkan
tingkat-tingkat tekanan bunyi yang disebutkan secara terperinci didalam paragrap 1
(c) dibawah ini.
Untuk menjamin keragaman yang luas dari ciri-ciri suling, frekuensi dasar sebuah
suling harus terletak diantara batas-batas :
2. 130 – 350 Hz bagi kapal yang panjangnya 75 meter, tetapi kurang dari 200 meter ;
iii. 250 – 700 Hz bagi kapal yang panjangnya kurang dari 75 meter.
Suling yang dipasang di kapal didalam arah kekuatan maksimum dari suling itu dan
disuatu tempat yang jaraknya 1 meter dan suling itu harus menghasilkan suatu
tingkat tekanan bunyi didalam sekurang-kurangnya 1 bidang ⅓ oktaf didalam batas-
batas frekuensi-frekuensi 180 – 700 Hz ( ± 1 persen ) yang tidak lebih kecil dari pada
angka yang sesuai dengan yang tercantum didalam tabel dibawah ini :
Panjang Kapal Tingkat lebar bidang Jarak dengar
⅓ oktaf di 1 meter dB
Dalam meter Dalam mil laut
Dengan acuan 2 x 10 N/m
-5 2
Kurang dari 75
Jarak dengar didalam tabel diatas itu digunakan sebagai informasi dan merupakan
perkiraan jarak yang pada jarak itu bunyi suling dapat terdengar disumbu depannya
dengan 90% kemungkinan dalam keadaan cuaca tenang disebuah kapal dengan
tingkat kebisingan latar belakang rata-rata di pos-pos pendengaran ( diambil sebesar
68 dB didalam bidang oktaf yang dipusatkan di 500 Hz ).
Didalam praktek, jarak terdengarnya bunyi suling itu sangat berubah-ubah dan
tergantung sekali pada keadaan cuaca, nilai-nilai yang diberikan itu dapat dianggap
sebagai nilai-nilai khas, tetapi dalam kondisi angin kencang atau keadaan tingkat
kebisingan sekitar yang tinggi di pos pendengaran, jarak dengar itu dapat banyak
berkurang.
Sifat-sifat Arah
Tingkat tekanan bunyi sebuah suling yang berarah disumbu disetiap arah dibidang
mendatar didalam ± 45° dari sumbu tidak boleh lebih dari 4 dB dibawah tingkat
tekanan bunyi diarah lain manapun dibidang mendatar itu tidak boleh lebih dari 10
dB dibawah tekanan bunyi yang ditentukan disumbu itu sehingga jarak dengan
disetiap arah akan sekurang-kurangnya sama dengan setengah jarak dengar disumbu
depan.
Tingkat tekanan bunyi itu harus diukur didalam bidang ⅓ oktaf yang menentukan
jarak dengar tersebut.
Penempatan Suling-suling
Jika suling-suling dipasang dengan jarak lebih dari 100 meter, maka harus ditata
sedemikian rupa hingga suling-suling itu tidak dibunyikan secara serentak.
Jika oleh adanya rintangan-rintangan sehingga isyarat bunyi dari suling tunggal atau
salah satu dari suling-suling yang diacukan didalam paragrap 1 (f) diatas itu sekiranya
mempunyai zona yang tingkat isyaratnya sangat kurang dianjurkan agar memasang
suatu sistem suling gabungan dengan maksud untuk mengatasi pengurangan ini.
Untuk memenuhi maksud-maksud dari Aturan-aturan ini sistem suling gabungan
harus dianggap sebagai suling tunggal.
Suling-suling dari sistem suling gabungan harus ditempatkan secara terpisah dengan
jarak yang tidak lebih dari 100 meter dan ditata untuk dibunyikan secara serentak,
frekuensi salah satu suling yang manapun harus berbeda dengan frekuensi suling-
suling yang lain dengan nilai sekurang-kurangnya 10 Hz.
Intensitas Isyarat
Genta atau gong atau alat bunyi lain yang mempunyai ciri-ciri bunyi yang serupa
harus menghasilkan tingkat tekanan bunyi yang tidak lebih dari 110 dB pada jarak 1
meter dari genta atau gong itu.
Konstruksi
Genta-genta dan gong-gong harus dibuat dari bahan tahan karat dan dirancang untuk
menghasilkan nada yang bening.
Garis tengah mulut gentatidak boleh kurang dari 300 mm bagi kapal-kapal yang
panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 20 meter.
Persetujuan
Konstuksi alat-alat isyarat bunyi, cara kerjanya dan pemasangannya di kapal harus
dengan persetujuan pengusaha yang berwenang dari negara yang benderanya
dikibarkan oleh kapal secara sah.
LAMPIRAN IV
Tembakan senjata atau isyarat ledak lainnya yang ditembakkan dengan selang waktu
kira-kira 1 menit ;
Isyarat yang dipancarkan dengan telegrap radio atau dengan cara lain manapun yang
terdiri dari kelompok • • • ▬ ▬ ▬ • • • ( SOS ) dalam kode morse ;
Isyarat yang dipancarkan dengan telephon radio yang terdiri dari kata yang
dituturkan ” MEDE ” ;
Isyarat yang terdiri dari sehelai bendera segi empat yang dibawah atau diatasnya
disambung dengan bola atau sesuatu yang menyamai bola ;
Nyala api di kapal ( misalnya dari tong ter, tong minyak yang sedang terbakar, dan
sebagainya ) ;
Cerawat payung roket atau obor tangan yang memperlihatkan cahaya merah ;
Buku petunjuk pencarian dan pemberian pertolongan kapal niaga serta isyarat-
isyarat berikut :
Sehelai kain terpal berwarna jingga dengan segi empat dan lingkaran hitam atau
lambung lain yang sesuai ( untuk pengenalan dari udara ) ;
PASAL I
PASAL II
Konvensi ini akan tetap terbuka untuk penandatanganan sampai 1 Juni 1973 dan
setelah tanggal itu akan tetap terbuka untuk penyertaan.
Negara-negara Anggota Perserikatan Bangsa-bangsa atau setiap Perwakilan Khusus
atau Badan Tenaga Atom Internasional, atau Peserta Penandatanganan Ketentuan-
ketentuan Mahkamah Internasional boleh menjadi Peserta Konvensi ini dengan :
Pengertian.
PASAL III
PENERAPAN WILAYAH
Konvensi yang sekarang ini pada tanggal penerimaan pemberitahuan atau semenjak
tanggal lain yang demikian yang dapat disebutkan didalam pemberitahuan akan
diperluas kewilayah yang disebut didalamnya.
Setiap pemberitahuan yang dilakukan sesuai dengan ayat 1 pasal ini dapat ditarik
kembali berkenaan dengan setiap wilayah yang disebutkan didalam pemberitahuan
tersebut dan perluasan konvensi ini kewilayah tersebut akan tidak berlaku lagi setelah
satu tahun atau suatu kurun waktu yang lebih lama yang dapat disebut pada saat
penarikan kembali.
PASAL IV
MULAI BERLAKUNYA
1. Konvensi ini mulai berlaku dua belas bulan setelah tanggal yang pada waktu
itu sekurang-kurangnya 15 Negara yang jumlah armada niaga seluruhnya
merupakan sekurang-kurangnya 65% jumlah armada dunia atau tonase armada
kapal dunia yang isi kotornya 100 ton keatas telah menjadi peserta Konvensi, mana
saja yang dicapai lebih dahulu.
2. Lepas dari pada ketentuan-ketentuan didalam sub ayat (a) ayat ini, konvensi ini
tidak akan mulai berlaku sebelum tanggal 1 Januari 1976.
Setelah tanggal mulai berlakunya suatu perubahan Konvensi ini sesuai dengan ayat 3
Pasal VI, maka setiap pengesahan, penerimaan, penyetujuan atau penyertaan akan
berlaku terhadap Konvensi yang telah diubah.
PASAL V
KONPERENSI PERBAIKAN
Suatu Konperensi dengan maksud untuk meninjau kembali Konvensi atau Peraturan-
peraturan ini atau kedua-duanya dapat diselenggarakan oleh Organisasi.
PASAL VI
Apabila diterima oleh dua pertiga mayoritas dari para Peserta Penandatangan yang
hadir dan memberikan suara didalam Komisi Keselamatan Maritim dari Organisasi,
maka perubahan demikian akan diberitahukan kepada semua Peserta Penandatangan
dan para Anggota Organisasi sekurang-kurangnya enam bulan sebelum
dipertimbangkan oleh Majelis Organisasi.
Setiap Peserta penandatangan yang bukan Anggota Organisasi akan diberi hak untuk
berperan serta bilamana perubahan itu dipertimbangkan oleh Majelis.
Apabila diterima oleh duapertiga mayoritas dari para Peserta Penandatangan yang
hadir dan memberikan suara didalam majelis, maka Sekretaris Jenderal akan
memberitahukan perubahan itu kepada semua peserta penandatangan atas
penerimaan mereka.
Perubahan demikian akan mulai berlaku pada suatu tanggal yang akan ditentukan
oleh Majelis pada waktu yang sama, lebih dari sepertiga dari para Peserta
Penandatangan memberitahu Organisasi tentang keberatan-keberatan mereka
terhadap perubahan itu. Penentuan oleh Majelis sehubungan dengan tanggal-tanggal
yang teracu didalam ayat ini harus dilakukan oleh dua pertiga mayoritas dari mereka
yang hadir dan memberikan suara.
Dengan mulai berlakunya maka setiap ketentuan terdahulu yang teracu oleh
perubahan, bagi semua Peserta Penandatangan yang tidak berkeberatan terhadap
perubahan tersebut.
PASAL VII
PEMUTUSAN
Konvensi ini dapat diputuskan oleh Peserta Penandatangan pada setiap waktu setelah
berakhirnya lima tahun terhitung sejak tanggal mulai berlakunya Konvensi bagi
peserta tersebut.
Suatu pemutusan akan berlaku satu tahun, atau kurun waktu yang lebih lama yang
dapat disebutkan didalam dokumen setelah penyampaiannya.
PASAL VIII
Konvensi dan Peraturan-peraturan ini akan disimpan oleh Organisasi dan Sekretaris
Jenderal akan mengirimkan salinan-salinanya sesuai dengan aslinya yang disahkan
kepada semua Pemerintah dari Negara-negara yang telah menandatangani Konvensi
ini atau menyertainya.
Bilamana Konvensi ini mulai berlaku, naskahnya akan dikirimkan oleh Sekretaris
Jenderal ke Sekretariat Perserikatan Bangsa-bangsa untuk didaftar dan diumumkan
sesuai dengan Pasal 102 Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.
PASAL IX
BAHASA
Alih bahasa – alih bahasa dalam bahasa Rusia dan bahasa Spanyol akan disiapkan dan
disimpan bersama dengan naskah asli yang ditanda tangani.
Selaku saksi untuk hal-hal tersebut di atas, yang bertanda tangan di bawah ini diberi
wewenang dengan sepatutnya oleh Pemerintah mereka untuk maksud itu, telah
menandatangani Konvensi yang sekarang ini.
Dilakukan di London, pada tanggal dua puluh Oktober seribu sembilan ratus tujuh
puluh dua.