0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan63 halaman

Aturan Pelayaran dan Keselamatan Kapal

Peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di Laut 1972 mengatur tentang berbagai aturan untuk mencegah terjadinya tabrakan antar kapal di laut, termasuk kewajiban melakukan pengamatan secara terus-menerus, berlayar dengan kecepatan aman, serta menggunakan semua sarana untuk mendeteksi potensi bahaya tabrakan.

Diunggah oleh

rsc infinix
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan63 halaman

Aturan Pelayaran dan Keselamatan Kapal

Peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di Laut 1972 mengatur tentang berbagai aturan untuk mencegah terjadinya tabrakan antar kapal di laut, termasuk kewajiban melakukan pengamatan secara terus-menerus, berlayar dengan kecepatan aman, serta menggunakan semua sarana untuk mendeteksi potensi bahaya tabrakan.

Diunggah oleh

rsc infinix
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERATURAN INTERNASIONAL

UNTUK MENCEGAH TUBRUKAN DI LAUT 1972

BAGIAN UMUM

ATURAN I

PEMBERLAKUAN

(a). Aturan-aturan ini berlaku bagi semua kapal di laut lepas dan di semua perairan
yang berhubungan dengan laut yang dapat dilayari oleh kapal-kapal laut.

(b). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini yang menghalangi berlakunya
peraturan-peraturan khusus yang dibuat oleh penguasa yang berwenang,untuk alur
pelayaran ,pelabuhan,sungai , danau atau perairan pedalaman yang berhubungan
dengan laut dan dapat dilayari oleh kapal laut.

Aturan-aturan khusus demikian itu harus semirip mungkin dengan aturan-aturan ini.

(c). Tidak ada suatu apapun dari aturan ini yang akan menghalangi berlakunya
aturan-aturan khusus yang manapun yang dibuat oleh pemerintah negara manapun
berkenaan dengan tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat, sosok benda atau
isyarat suling untuk kapal –kapal perang dan kapal-kapal yang berlayar dalam
beririnng-iringan atau lampu-lampu isyarat atau sosok-sosok benda untuk kapal-
kapal ikan yang sedang menangkap ikan dalam suatu armada.

Tambahan –tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat ,sosok-sosok benda


atau isyarat –isyarat suling ini harus dibuat sejauh yang dapat dilaksanakan ,supaya
tidak dapat disalah artikan dengan lampu manapun sosok benda atau isyarat yang
ditentukan di lain tempat dalam peraturan ini.

(d). Bagan-bagan pemisah lalu lintas dapat disyahkan oleh organisasi untuk maksud
aturan-aturan ini.

(e). Manakala pemerintah yang bersangkutan berpendapat bahwa kapal berkonstruksi


atau kegunaan khusus tiadak dapat memenuhi ketentuan dari aturan-aturan ini
sehubungan dengan jumlah , jarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok
benda ,maupun penempatan dari ciri-ciri atau isyarat bunyi ,tanpa menghalangi
tugas khusus kapal-kapal itu ,maka kapal yang demikian itu harus memenuhi
ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan jumlah ,tempat,jarak atau busur
tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda manapun yang berhubungan dengan
penempatan dan ciri-ciri alat isyarat bunyi sebagaimana ditentukan oleh
pemerintahnya yang semirip mungkin dengan aturan-aturan ini,bagi kapal yang
bersangkutan.

ATURAN 2

TANGGUNG JAWAB

(a). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini akan membebaskan tiap kapal
atau pemiliknya,nakhoda atau awak kapalnya,atas akibat-akibat setiap kelalaian
untuk memenuhi aturan-aturan ini atau atas kelalaian terhadap setiap tindakan
berjaga-jaga yang dipandang perlu menurut kebiasaan pelaut atau terhadap keadaan-
keadaan khusus dimana kapal itu berada.

(b). Dalam menafsirkan dan memenuhi aturan-aturan ini , harus benar-benar


memperhatikan semua bahaya navigasi dan bahaya tubrukan serta setiap keadaan
khusus termasuk keterbatasan-keterbatasan dari kapal-kapal yang terlibat,yang
dapat memaksa menyimpang dari aturan-aturan ini untuk menghindari bahaya
mendadak.

ATURAN 3

DEFINISI-DEFINISI UMUM

Untuk maksud atruan-aturan ini kecuali di dalamnya diisyaratkan lain :

(a). Kata “kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air ,termasuk kapal tanpa
benaman (displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat
diguakan sebagai sarana angkutan di air.

(b). Istilah” kapal tenaga “ berarti setiap kapal yang digerakkan dengan mesin.
(c). Istilah”kapal layar” berarti setiap kapal yang sedang berlayar dengan
menggunakan layar, dengan syarat bahwa mesin penggeraknya bila ada sedang tidak
digunakan.

(d). Istilah ”kapal yang sedang menagkap ikan” berarti setiap kapal yang menangkap
ikan dengan jaring, tali, pukat atau jaring penangkap ikan lainnya yang membatasi
kemampuan olah geraknya, tetapi tidak meliputi kapal yang menangkap ikan dengan
tali pancing atau alat penangkap ikan lainnya yang tidak membatasi kemampuan
mengolah geraknya diair.

(e). Kata ”pesawat terbang laut” mencakup setiap pesawat terbang yang dibuat untuk
mengolah gerak di air.

(f). Istilah ”Kapal yang tidak terkendalikan ” berarti kapal yang karena sesuatu
keadaan yang istimewa tidak mampu untuk mengolah gerak seperti yang diisyaratkan
oleh aturan-aturan ini dan karenanya tidak mampu menyimpangi kapal lain.

(g). Istilah ”kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas” berarti kapal yang
karena sifat pekerjaannya mengakibatkan kemampuannya untuk mengolah gerak
seperti diisyaratkan oleh aturan-aturan ini menjadi terbatas dan karenanya tidak
mampu untuk menyimpangi kapal lain.

Kapal –kapal berikut harus dianggap sebagai kapal-kapal yang kemampuan olah
geraknya terbatas.

Kapal yang digunakan memasang merawat atau mengangkat merkah navigasi atau
pipa laut.

Kapal yang melakukan kegiatan pengerukan, penelitian atau pekerjaan-pekerjaan di


bawah air.

Kapal yang melakukan pengisian atau memindahkan orang-orang, perbekalan atau


muatan pada waktu sedang berlayar.

Kapal yang sedang meluncurkan atau sedang mendaratkan kembali pesawat


terbang.

Kapal yang melakukan kegiatan pembersihan ranjau.


Kapal yang menunda sedemikian rupa sehingga menjadikan tidak mampu untung
menyimpang dari haluannya.

(h). Istilah “ Kapal yang terkendala oleh saratnya” berati kapal tenaga yang kerena
saratnya terhadap kedalaman air dan lebar perairan yang dapat dilayari
mengakibatkan kemampuan olah geraknya untuk menyimpang dari garis haluan
yang sedang diikuti menjadi terbatas sekali.

(i). Istilah “sedang berlayar“ Berarti kapal tidak berlabuh jangkar atau diikat pada
daratan atau kandas.

(j). Kapal-kapal yang harus dianggap melihat satu sama lainnya apabila kapal yang
satu dapat dilihat visual oleh kapal lainnya.

(k). Istilah penglihatan terbatas berarti setiap keadaan dalam mana daya tampaknya
dibatasi oleh kabut, halimun, hujan salju, hujan badai,badai pasir,atau setiap sebab
lain yang serupa dengan itu.
BAGIAN B

ATURAN –ATURAN MENGEMUDIKAN KAPAL DAN MELAYARKAN KAPAL

SEKSI 1

SIKAP KAPAL-KAPAL DALAM SETIAP KEADAAN PENGLIHATAN

ATURAN 4

PEMBERLAKUAN

Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam setiap keadaan penglihatan

ATURAN 5

PENGAMATAN

Tiap kapal harus senantiasa melakukan pengamatan yang layak,baik dengan


penglihatan dan pendengaran maupun dengan semua sarana tersedia yang sesuai
dengan keadaan dan suasana yang ada sehingga dapat membuat penilaian
sepenuhnya terhadap situasi dan bahaya tubrukan.

***Hal – hal yang harus dilakukan pada saat mengadakan pengamatan keliling adalah
:

Menjaga kewaspadaan secara terus – menerus dengan penglihatan maupun dengan


pendengaran dan juga dengan alat – alat yang lain.

Memperhatikan sepenuhnya situasi dan resiko tubrukan, kandas dan bahaya navigasi.

Petugas pengamat harus melaksanakan dengan baik atas tugasnya dan tidak boleh
diberikan tugas lain karena dapat mengganggu pelaksanaan pengamatan.

Tugas pengamat dan pemegang kemudi harus terpisah dan tugas kemudi tidak boleh
merangkap atau dianggap merangkap tugas pengamatan, kecuali di kapal – kapal
kecil dimana pandangan ke segala arah tidak terhalang dari tempat kemudi.
Jika dipandang perlu personel yang melaksanakan tugas jaga ditambah sesuai dengan
kondisi yang ada.

Jika kapal menggunakan kemudi otomatis diharapkan selalu mengadakan


pengecekan terhadap haluan kapal dalam jangka waktu tertentu.

***Kondisi – kondisi khusus yang harus mendapat prioritas untuk dilaksanakannya


pengamatan keliling yang lebih intensif adalah :

Berlayar di daerah yang padat lalu lintas kapalnya.

Berlayar di daerah dekat pantai.

Berlayar di dalam atau di dekat bagan pemisah dan di dalam alur pelayaran sempit.

Berlayar di daerah tampak terbatas.

Berlayar di daerah yang mempunyai banyak bahaya navigasi.

Berlayar pada malam hari.

ATURAN 6

KECEPATAN AMAN

Setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman sehingga dapat
mengambil tindakan yang tepat dan berhasil untuk menghindari tubrukan dan dapat
dihentikan dalam jarak yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang [Link]
menentukan kecepatan aman, faktor-faktor berikut termasuk faktor-faktor yang
harus diperhitungkan :

1. Oleh semua kapal :

Tingkat penglihatan ;

Kepadatan lalu lintas termasuk pemusatan kapal-kapal ikan atau kapal lain ;

Kemampuan olah gerak kapal ,khususnya yang berhubungan jarak henti dan
kemampuan berputar ;
Pada malam hari, terdapatnya cahaya latar belakang misalanya lampu lampu dari
daratan atau pantulan lampu-lampu sendiri ;

Keadaan angin,laut dan arus dan bahaya-bahaya navigasi yang ada disekitarnya;

Sarat sehubungan dengan keadaan air yang ada ;

1. Tambahan bagi kapal kapal yang radarnya dapat bekerja dengan baik

Ciri-ciri effesiensi dan keterbatasan pesawat radar

Setiap kendala yang timbul oleh skala jarak radar yang dipakai;

Pengaruh keadaan laut ,cuaca dan sumber sumber gangguan lain pada penggunaan
radar;

Kemungkinan bahwa kapal-kapal kecil ,gunung es dan benda-benda terapung lainnya


tidak dapat ditangkap oleh radar pada jarak yang cukup;

Jumlah, posisi dan gerakan kapal-kapal yang ditangkap oleh radar;

Berbagai macam penilaian penglihatan yang lebih tepat yang mungkin dapat bila
radar digunakan untuk menentukan jarak kapal-kapal atau benda lain disekitarnya.

ATURAN 7

BAHAYA TUBRUKAN

(a). Semua kapal harus menggunakan semua sarana yang tersedia sesuai dengan
keadaan dan suasana yang ada untuk menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan
.Jika timbul keragu-raguan maka bahaya demikian itu harus dianggap ada.

(b). Penggunaan pesawat radar harus dilakukan dengan tepat ,jika dipasang dikapal
dan bekerja dengan baik ,termasuk penyimakan jarak jauh untuk memperoleh
peringatan dini akan adanya bahaya tubrukan dan pelacakan posisi radar atau
pengamatan sistematis yang sepadan atas benda-benda yang terindra.

(c). Praduga-praduga tidak boleh dibuat berdasarkan oleh keterangan yang sangat
kurang khususnya keterangan radar.
(d). Dalam menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan ,pertimbangan-
pertimbangan berikut ini termasuk pertimbangan-pertimbangan yang harus
diperhitungkan.

Bahaya demikian harus dianggap ada jika baringan pedoman kapal yang sedang
mendekat tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Bahaya demikain kadang-kadang mungkin ada,walaupun perubahan baringan yang


berarti itu nyata sekali ,terutama bilamana sedang menghampiri sebuah kapal dengan
jarak yang dekat sekali.

ATURAN 8

TINDAKAN UNTUK MENGHINDARI TUBRUKAN

(a). Setiap tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan ,jika keadaan
mengijinkan harus tegas, dilakukan dalam waktu yang cukup lapang dan benar-benar
memperhatikan syarat-syarat kepelautan yang baik.

(b). Setiap perubahan haluan dan atau kecepatan untuk menghindari tubrukan jika
keadaan mengizinkan harus cukup besar sehingga segera menjadi jelas bagi kapal lain
yang sedang mengamati dengan penglihatan atau dengan radar ,serangkaian
prubahan kecil dari haluan dan atau kecepatan hendaknya dihindari.

(c). Jika ada ruang gerak yang cukup perubahan haluan saja mungkin merupakan
tindakan yang paling berhasil guna untuk menghindari situasi saling mendekat
terlalu rapat,dengan ketentuan bahwa perubahan itu dilakukan dalam waktu cukup
dini ,bersungguh sungguh dan tidak mengakibatkan terjadinya situasi saling
mendekat terlalu rapat.

(d). Tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan dengan kapal lain harus
sedemikian rupa sehingga menghasilkan pelewatan dengan jarak aman .Hasil guna
tindakan itu harus dikaji secara seksama sampai kapal yang lain itu pada akhirnya
terlewati dan bebas sama sekali.
(e). Jika diperlukan untuk menghindari tubrukan atau untuk memberikan waktu yang
lebih banyak untuk menilai keadaan ,kapal harus mengurangi kecepatannya atau
menghilangkan kecepatannya sama sekali dengan memberhentikan atau
menjalankan mundur sarana penggeraknya.

(f). Kapal yang oleh aturan ini diwajibkan tidak boleh merintangi jalan atau jalan
aman kapal lainnya,bilamana diwajibkan oleh suatu keadaan harus mengambil
tindakan sedini mungkin untuk memberikan untuk memberi ruang gerak yang cukup
bagi jalan kapal orang lainnya.

(g). Kapal yang diwajibkan untuk tidak merintangi jalannya atau jalan aman kapal lain
tidak dibebaskan dari kewajiban ini jika mendekati kapal lain mengakibatkan bahaya
tubrukan ,dan bilamana akan mengambil tindakan harus memperhatikan tindakan
yang diwajibkan oleh aturan-aturan dalam bagian ini.

(h). Kapal yang jalannya tidak boleh dirintangi tetap wajib sepenuhnya untuk
melaksanakan aturan-aturan dibagian ini bilamana kedua kapal itu sedang
berdekatan satu dengan lainnya yang mengakibatkkan bahaya tubrukan.

ATURAN 9

ALUR-ALUR PELAYARAN SEMPIT

(a). Kapal jika berlayar mengikuti arah alur pelayaran atau air pelayaran sempit
harus berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur pelayaran yang terletak disis
lambung kanannya selama masih aman dan dapat dilaksanakan.

(b). Kapal dengan panjang kurang dari 20 meter atau kapal layar tidak boleh
menghalang-halangi jalannya kapal lain yang hanya dapat berlayar dengan aman
didalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh menghalang-halangi jalannya
kapal lain yang berlayar di dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.
(d). Kapal tidak boleh memotong air pelayaran sempit atau alur pelayaran sempit
,jika pemotongan demikian itu menghalangi jalannya kapal yang hanya dapat
belayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran demikian itu.

(e). Kapal yang disebut belakangan boleh menggunakan isyarat bunyi yang diatur
dalam aturan 34 d jika ragu –ragu mengenai maksud pada kapl yang memotong
haluan itu.

(f). Dialur atau air pelayaran sempit jika penyusulan dapat dilaksanakan ,hanya
kapal yang disusul itu merlakukan tindakan untuk memungkinkan dilewatinya
dengan aman,maka kapal yang bermaksud untuk menyusul harus menunjukkan
maksudnya dengan membunyikan isyarat yang sesuai diisyaratkan dalam aturan
34(c) (i).Kapal yang disuusl itu jika menyetujui harus mermperdengarkan isyarat
sesduai dengan yang ditentukan dalam aturan 34(c) (ii)dan mengambil langkah
untuk memungkinkan dilewati dengan [Link] ragu-ragu boleh membunyikan
isyarat –isyarat yang diatur dalam aturan 13.

13. Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyusul dari kewajibannya
berdasarkan aturan 13.

(f). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah pelayaran atau air pelayaran
sempit dimana kapal-kapal lain dapat dikaburkan oleh rintangan yang terletak
diantaranya harus berlayar dengan kewaspadaan dan hati-hati dan harus
membunyikan isyarat yang sesuai yang diisyaratkan dalam aturan 34(e).

Setiap kapal ,jika keadaan mengijinkan harus menghindarkan diri dari berlabuh
jangkar di alur pelayaran sempit.
ATURAN 10

TATA PEMISAHAN LALU LINTAS

(a). Aturan ini berlaku bagi tata pemisahan lalu lintas yang ditrima secara syah oleh
organisasi dan tidak membebaskan setiap kapal dari kewajibannya untuk melaksanan
aturan lainnya.

(b). Kapal yang sedang menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus :

Berlayar dijalur lalu lintas yang sesuai dengan arah lalu lintas umum untuk jalur itu;

Sedapat mungkin tetap bebas dari garis pemisah atau zona pemisah lalu lintas.

Jalur lalu lintas pada umumnya dimasuki atau ditinggal kan dari ujung jalur ,tetapi
bilamana tindakan memasuki maupun meninggalkan jalur itu dilakukan dari salah
satu sisi ,tindakan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah
sudut yang sekecil-kecilnya terhadap arah lalu lintas umum.

(c).Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari memotong jalur lalu lintas tetapi jika
terpaksa melakukannya harus memotong dengan haluan sedapat mungkin tegak
lurus terhadap arah lalu lintas umum.

(d). i Kapal yang berada di sekitar tata pemisah lalu lintas tidak boleh menggunakan
zona lalu lintas dekat pantai bilamana ia dapat menggunakan jalur lalu lintas yang
sesuai dengan aman. Akan tetapi kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter ,kapal
layar dan kapal yang sedang menangkap ikan boleh menggunakan zona lalu lintas
dekat pantai.

ii Lepas dari sub ayat (d)(i) kapal boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai
bilamana sedang berlayar menuju atau dari sebuah pelabuhan ,instalasi atau
bangunan lepas pantai ,stasion pandu atau setiap tempat yang berlokasi di dalm zona
lalu lintas dekat pantai atau untuk menghindari bahaya mendadak.

(e). Kapal kecuali sebuah kapal yang sedang memotong atau kapal-kapal yang sedang
memasuki atau sedang meninggalkan jalur ,pada umumnya tidak boleh memasuki
zona pemisah atau memotong garis pemisah kecuali :
Dalam keadaan darurat untuk menghindari bahaya mendadak.

Untuk menangkap ikan pada zona pemisah.

(f). Kapal yang sedang berlayar di daerah dekat ujung tata pemisahan lalu lintas harus
berlayar sangat hati-hati.

(g). Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari dirinya berlabuh jangkar didalam tata
pemisahan lalu lintas atau di daerah-daerah dekat ujung-ujungnya.

(h). Kapal yang tidak menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus menghindarinya
dengan ambang batas selebar-lebarnya.

(i). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh merintangi kapal jalan setiapa
kapal lain yang sedang mengikuti jalur lalu lintas.

(j). Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter atau kaapl layar tidak boleh
merintangi pelayaran aman dari kaapl tenaga yang sedang mengikuti suatu jalur lalu
lintas.

(k). Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas apabila sedang tugas untuk
memelihara keselamatan pelayaran/navigasi dalam bagan tata pemisah lalu lintas
dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan
tugasnya.

(l). Kapal yang terbatas kemampuan olah geraknya apabila dalam tugas memasang
,merawat atau mengangkat kabel laut dalam bagan tata pemisah lalu lintas
dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan
tugasnya
SEKSI II

SIKAP KAPAL DALAM KEADAAN SALING MELIHAT

ATURAN 11

PEMBERLAKUAN

Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam keadaan saling melihat.

ATURAN 12

KAPAL LAYAR

a). Bilamana dua kapal layar saling mendekati, sehingga mengakibatkan bahaya
tubrukan ,satu diantarnya harus menghindari yang lain sebagai berikut :

Bilamana masing-masing dapat angin pada lambung yang berlainan maka kapal yang
mendapat angin pada lambung kiri harus menghindar kapal lain.

Bilaman keduanya mendapat angin dari lambung yang sama maka kapal yang berada
di atas angin harus mengindari kapal yang di bawah angin.

Jika kapal mendapat angin dari lambung yang kiri melihat kapal berada di atas angin
dan tidak dapat memastikan apakah kapal lain itu mendapat angin dari lambung kiri
atau kanannya ,ia harus menghindari kapal yang lain itu

(b). Untuk mengartikan aturan ini sisi diatas angin ialah sisi yang berlawanan dengan
sisi dimana layar utama berada atau dalam hal kapal dengan layar persegi sisi yang
berlawanan dengan sisi dimana layar muka belakang yang terbesar di pasang.
ATURAN 13

PENYUSULAN

(a). Lepas dari apapun yang tercantum dalam aturan-aturan bagian B seksi I dan II
setiap kapal yang menyusul kapal lain ,harus menyimpangi kapal yang disusul.

(b). Kapal dianggap sedang menyusul ,bilamana mendekat kapal lain dari jurusan
lebih dari 22.5 derajat di belakang arah melintang ,ialah dalam kedudukan sedemikain
sehingga terhadap kapal yang disusul itu pada malah hari ia dapat melihat hanya
penerangan buritan ,tetapi tidak satupun penerangan-penerangan lambungnya.

(c). Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah ia sedang menyusul kapal lain ia harus
menganggap bahwa demikain halnya dan bertindak sesuai dengan hal itu.

(d). Setiap perubahan baringan selanjutnya antara kedua kapal itu tidak akan
mengakibatkan kapal yang sedang menyusul sebagai kapal yang menyilang,dalam
pengertian aturan-aturan ini atau membebaskan dari kewajibannya unutk tetap
bebas dari kapal yang sedang di susul itu sampai akhirnya lewat dan bebas.

ATURAN 14

SITUASI BERHADAPAN

(a). Bilamana dua buah kapal tenaga sedang bertemu dengan haluan berhadapan atau
hampir berhadapan, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,masing-masing kapal
harus berubah haluannya ke kanan sehingga saling berpapasan pada lambung kirinya.

(b). Situasi demikian itu selalu dianggap ada ,bilamana sebuah kapal melihat kapal
lain tepat atau hampir tepat di depannya pada malam hari ia dapat melihat
penerangan tiang kapal lain segaris atau hampir segaris dan/atau kedua penerangan
lambung pada siang hari dengan memperhatikan penyesuaian sudut pandangan dari
kapal lain.

(c).Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah situasi demikian itu ada ,ia harus
menganggap demikian halnya dan bertindak sesuai dengan keadaan itu.
ATURAN 15

SITUASI BERSILANGAN

Bilamana dua buah kapal tenaga bersilangan sedemikian rupa sehingga


mengakibatkan bahaya tubrukan ,maka kapal yang disebelah kanannya terdapat kapal
lain harus menyimpang dan jika keadaan mengijinkan menghindari memotong di
depan kapal lain itu.

ATURAN 16

TINDAKAN KAPAL YANG MENYIMPANG

Setiap kapal yang oleh aturan-aturan ini di wajibkan menyimpangi kapal


lain,sepanjang keadaan memungkinkan ,harus mengambil tindakan dengan segera
dan nyata untuk dapat bebas dengan baik.

ATURAN 17

TINDAKAN KAPAL YANG BERTAHAN

(a). i. Apabila salah satu dari kedua kapal diharuskan menyimpang ,maka kapal
yang lain harus mempertahankan haluan dan kecepatannya.

1. Bagaimanapun juga ,kapal yang di sebut terakhir ini boleh bertindak untuk
menghindari tubrukan dengan olah geraknya sendiri,segera setelah jelas baginya
,bahwa kapal yang diwajibkan menyimpang itu tidak mengambil tindakan yang
sesuai dalam memenuhi aturan-aturan ini.

(b).Bilamana oleh sebab apapun, kapal yang diwajibkan mempertahankan haluan


dan kecepatannya mengetahui dirinya berada terlalu dekat, sehingga tubrukan tidak
terhindari lagi dengan tindakan oleh kapal yang menyimpang itu saja, ia harus
mengambil tindakan sedemikain rupa,sehingga merupakan bantuan yang sebaik-
baiknya untuk menghindari tubrukan.

(c). Kapal tenaga yang bertindak dalam situasi bersilangan sesuai dengan sub
paragraph(a) (ii) aturan ini untuk menghindari tubrukan dengan kapal tenaga yang
lain, jika keadaan mengijinkan, tidak boleh merubah haluannya ke kiri untuk kapal
yang berada di lambung kirinya.

(d). Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyimpang dari kewajibannya untuk
menghindari jalannya kapal lain.

ATURAN-18

TANGGUNG JAWAB ANTAR KAPAL

Kecuali bilamana aturan – aturan 9, 10, dan 13 mensyaratkan lain :

(a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ;

Kapal yang sedang menangkap ikan ;

Kapal layar.

(b). Kapal layar yang sedang berlayar harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ;

Kapal yang sedang menangkap ikan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan sedapat mungkin , harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas


(d). i. Setiap kapal, selain dari pada kapal yang tidak terkendalikan atau kapal
yang kemampuan olah geraknya terbatas, jika keadaan mengijinkan, harus
menghindarkan dirinya merintangi jalan aman sebuah kapal yang terkendala oleh
saratnya yang sedang memperlihatkan isyarat-isyarat dalam aturan 28 ;

[Link] yang terkendala oleh saratnya harus berlayar dengan kewaspadaan khusus
dengan benar – benar memperhatikan keadaannya yang khusus itu.

(e). Pesawat terbang laut di air, pada umumnya harus tetap benar-benar bebas dari
semua kapal dan menghindarkan dirinya merintangi navigasi kapal-kapal itu.

Sekalipun demikian jika ada bahaya tubrukan, pesawat terbang laut itu harus
memenuhi aturan – aturan bagian ini.

SEKSI III

SIKAP KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

ATURAN 19

PERILAKU KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

(a). Aturan ini berlaku bagi kapal-kapal yang tidak saling melihat bilamana sedang
berlayar disuatu daerah yang berpenglihatan terbatas atau didekatnya.

(b). Setiap kapal harus berjalan dengan kecepatan aman yang disesuaikan dengan
keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada.

Kapal tenaga harus menyiapkan mesin-mesinnya untuk segera dapat berolah gerak.

(c). Setiap kapal harus benar-benar memperhatikan keadaan dan suasana penglihatan
terbatas yang ada bilamana sedang memenuhi aturan-aturan Seksi I bagian ini.

(d). Kapal yang mengindera kapal lain hanya dengan radar harus menentukan apakah
sedang berkembang situasi saling mendekat terlalu rapat dan / atau apakah ada
bahaya tubrukan. Jika demikian kapal itu harus melakukan tindakan dalam waktu
yang cukup lapang, dengan ketentuan bahwa bilamana tindakan demikian terdiri dari
perubahan haluan, maka sejauh mungkin harus dihindari hal-hal berikut :

1. Perubahan haluan kekiri terhadap kapal yang ada didepan arah melintang, selain
dari pada kapal yang sedang disusul ;

2. Perubahan haluan kearah kapal yang ada diarah melintang atau dibelakang arah
melintang.

(e). Kecuali apabila telah yakin bahwa tidak ada bahaya tubrukan, setiap kapal yang
mendengar isyarat kabut kapal lain yang menurut pertimbangannya berada didepan
arah melintangnya, atau yang tidak dapat menghindari situasi saling mendekat
terlalu rapat hingga kapal yang ada didepan arah melintangnya harus mengurangi
kecepatannya serendah mungkin yang dengan kecepatan itu kapal tersebut dapat
mempertahankan haluannya.

Jika dianggap perlu, kapal itu harus meniadakan kecepatannya sama sekali dan
bagaimanapun juga berlayar dengan kewaspadaan khusus hingga bahaya tubrukan
telah berlalu.

BAGIAN C

PENERANGAN DAN SOSOK BENDA

ATURAN 20

PEMBERLAKUAN

(a). Aturan-aturan didalam bagian ini harus dipenuhi dalam segala keadaan cuaca.

(b). Aturan-aturan tentang penerangan-penerangan harus dipenuhi semenjak


saat matahari terbenam sampai saat matahari terbit, dan selama jangka waktu
tersebut penerangan-penerangan lain tidak boleh diperlihatkan kecuali apabila
penerangan-penerangan demikian tidak dapat terkelirukan dengan penerangan-
penerangan yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini atau tidak
melemahkan daya tampak atau sifat khususnya atau mengganggu terselenggaranya
pengamatan yang layak.
(c). Penerangan-penerangan yang ditentukan oleh aturan-aturan ini, jika dipasang
harus juga diperlihatkan sejak saat matahari terbit sampai saat matahari terbenam
dalam keadaan penglihatan terbatas dan boleh diperlihatkan dalam semua keadaan
bilamana dianggap perlu

(d). Aturan-aturan tentang sosok-sosok benda harus dipenuhi pada siang hari.

(e). Penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang disebutkan secara


terperinci didalam aturan-aturan ini harus memenuhi ketentuan-ketentuan
Lampiran I Peraturan ini.

ATURAN 21

DEFINISI

(a). “ Penerangan tiang “ berarti penerangan putih yang ditempatkan disumbu


membujur kapal, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur
cakrawala 225º dan dipasang sedemikian rupa sehingga memperlihatkan cahaya dari
arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dikedua sisi kapal.

(b). “ Penerangan lambung “ berarti penerangan hijau dilambung kanan dan


penerangan merah dilambung kiri, masing-masing memperlihatkan cahaya tidak
terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 112,5º dan ditempatkan sedemikian
rupa hingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang
arah melintang dimasing-masing sisinya.

Di kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan lambung itu


boleh digabungkan dalam satu lentera yang ditempatkan disumbu membujur kapal.

(c). “ Penerangan buritan “ berarti penerangan putih yang ditempatkan sedekat


mungkin dengan buritan, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi
busur cakrawala 135º dan dipasang sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya
67,5º dari arah lurus kebelakang dimasing-masing sisi kapal.
(d). “ Penerangan tunda “ berarti penerangan kuning yang mempunyai sifat-sifat
khusus yang sama dengan “ Penerangan buritan “ yang didefinisikan didalam
paragrap (c).

(e). “ Penerangan kedip “ berarti penerangan yang berkedip-kedip dengan selang


waktu teratur dengan frekuensi 120 kedipan atau lebih setiap menit.

(f). “ Penerangan keliling “ berarti penerangan yang memperlihatkan cahaya tidak


terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 360º.

ATURAN 22

JARAK TAMPAK PENERANGAN

Penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan-aturan ini harus


mempunyai kuat cahaya sebagaimana yang disebutkan secara terperinci didalam
didalam Seksi 8 Lampiran I untuk dapat kelihatan dari jarak-jarak minimum berikut
:

(a). Di kapal-kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih :

– Penerangan tiang 6 mil ;

– Penerangan lambung 3 mil ;

– Penerangan buritan 3 mil ;

– Penerangan tunda 3 mil ;

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 3 mil.

(b). Di kapal-kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 50 meter :

– Penerangan tiang 5 mil, kecuali apabila panjang kapal itu kurang dari 20
meter 3 mil ;

– Penerangan lambung 2 mil


– Penerangan buritan 2 mil

– Penerangan tunda 2 mil

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(c). Di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter :

– Penerangan tiang 2 mil ;

– Penerangan lambung 1 mil ;

– Penerangan buritan 2 mil ;

– Penerangan tunda 2 mil ;

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(d). Di kapal-kapal yang terbenam sebagian atau benda-banda yang sedang ditunda
yang tidak kelihatan dengan jelas :

– Penerangan keliling putih 3 mil.

ATURAN 23

KAPAL TENAGA YANG SEDANG BERLAYAR

(a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus memperlihatkan :

Penerangan tiang di depan ;

Penerangan tiang kedua di belakang dan lebih tinggi dari pada penerangan tiang
depan kecuali kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter, tidak wajib
memperlihatkan penerangan demikian, tetapi boleh memperlihatkannya ;

Penerangan-penerangan lambung ;
Penerangan buritan.

(b).Kapal bantalan udara bilamana sedang beroperasi dalam bentuk tanpa berat
benaman disamping penerangan-penerangan yang ditentukan di dalam paragrap (a)
aturan ini, harus memperlihatkan penerangan keliling kuning kedip.

(c). i. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter, sebagai ganti
penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh
memperlihatkan penerangan keliling putih dan penerangan-penerangan lambung.

1. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 7 meter yang kecepatan meximumnya
tidak lebih dari 7 mil setiap jam, sebagai ganti penerangan-penerangan yang
ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, memperlihatkan penerangan keliling
putih dan jika mungkin, harus juga memperlihatkan penerangan-penerangan
lambung.

Penerangan tiang atau penerangan keliling putih dikapal tenaga yang panjangnya
kurang dari 12 meter boleh dipindahkan dari sumbu membujur kapal jika pemasangan
disumbu membujur tidak dapat dilakukan,dengan ketentuan bahwa penerangan-
penerangan lambung digabungkan dalam satu lentera yang harus diperlihatkan
disumbu membujur kapal atau ditempatkan sedekat mungkin disumbu membujur
yang sama dengan penerangan tiang atau penerangan keliling putih.

ATURAN 24

MENUNDA DAN MENDORONG

(a). Kapal tenaga bilamana sedang menunda, harus memperlihatkan :

Penerangan pengganti peneranganyang ditentukan didalam aturan (23) (a) (i) atau (a)
(ii), dua penerangan tiang yang bersusun tegak.

Bilamana panjang tundaan diukur dari buritan kapal yang sedang menunda sampai
keujung belakang tundaan lebih dari 200 meter, tiga penerangan yang demikian itu,
bersusun tegak lurus ;
Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan ;

Penerangan tunda, tegak lurus diatas penerangan buritan ;

Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat
yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(b).Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju
diikat erat-erat dalam suatu unit berangkai, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai
sebuah kapal tenaga dan memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan
didalam aturan 23.

(c).Kapal tenaga bilamana sedang mendorong maju atau sedang menggandeng


kecuali didalam hal suatu unit berangkai harus memperlihatkan :

1. Sebagai pengganti penerangan yang ditentukan didalam aturan 23 (a) (i) atau (a)
(ii) dua penerangan tiang yang bersusun tegak lurus ;

2. Penerangan-penerangan lambung ;

iii. Penerangan buritan.

(d).Kapal tenaga yang dikenai paragrap (a) atau (c) aturan ini, harus juga memenuhi
aturan 23 (a) (ii) .

(e).Kapal atau benda yang sedang ditunda, selain dari pada yang dinyatakan didalam
paragrap (g) aturan ini harus memperlihatkan :

1. Penerangan-penerangan lambung ;

2. Penerangan buritan ;

[Link] panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu
tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(f).Dengan ketentuan bahwa berapapun jumlah kapal yang sedang digandeng atau
didorong dalam suatu kelompok, harus diberi penerangan sebagai satu kapal :
1. Kapal yang sedang didorong maju yang bukan merupakan bagian dari suatu unit
berantai, harus memperlihatkan penerangan-penerangan lambung di ujung depan ;

2. Kapal yang sedang digandeng harus memperlihatkan penerangan buritan dan ujung
depan, penerangan-penerangan lambung.

(g) Kapal atau benda yang terbenam sebagian, atau gabungan dari kapal-kapal atau
benda-benda demikian yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas, harus
memperlihatkan :

Jika lebarnya kurang dari 25 meter, satu penerangan keliling putih diujung depan atau
didekatnya dan satu diujung belakang atau didekatnya kecuali apabila naga umbang
itu tidak perlu memperlihatkan penerangan diujung depan atau didekatnya ;

Jika lebarnya 25 meter atau lebih, dua penerangan keliling putih tambahan diujung-
ujung paling luar dari lebarnya atau didekatnya ;

Jika panjangnya lebih dari 100 meter, penerangan-penerangan keliling putih


tambahan diantara penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap
(i) dan (ii) sedemikian rupa hingga jarak antara penerangan-penerangan itu tidak
boleh lebih dari 100 meter ;

Sosok belah ketupat di atau didekat ujung paling belakang dari kapal atau benda
paling belakang yang sedang ditunda dan jika panjang tundaan itu lebih dari 200
meter, sosok belah ketupat tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan
sejelas-jelasnya serta ditempatkan sejauh mungkin di depan.

(h). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan
kapal atau benda yang sedang ditunda memperlihatkan penerangan-penerangan atau
sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (e) atau (g) aturan ini, semua upaya
yang mungkin harus ditempuh untuk menerangi kapal atau benda yang ditunda itu
atau setidak-tidaknya menunjukan adanya kapal atau benda demikian itu.

(i). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan
kapal yang tidak melakukan operasi-operasi penundaan untuk memperlihatkan
penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (c) aturan ini,
maka kapal demikian itu tidak diisyaratkan untuk memperlihatkan penerangan-
penerangan itu bilamana sedang menunda kapal lain dalam bahaya atau dalam
keadaan lain yang membutuhkan pertolongan. Segala upaya yang mungkin harus
ditempuh untuk menunjukan sifat hubungan antara kapal yang sedang menunda
dan kapal yang sedang ditunda sebagaimana yang diharuskan dan dibolehkan oleh
aturan 36 terutama untuk mrnerangi tali tunda.

ATURAN 25

KAPAL LAYAR YANG SEDANG BERLAYAR DAN

KAPAL YANG SEDANG BERLAYAR DENGAN DAYUNG

(a). Kapal layar yang sedang berlayar yang sedang berlayar harus memperlihatkan :

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan.

(b). Di kapal layar yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan


yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh digabungkan didalam satu
lentera yang dipasang dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat
kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(c). Kapal layar yang sedang berlayar, disamping penerangan-penerangan yang


ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini boleh memperlihatkan dipuncak tiang
atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, dua
penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang diatas merah dan yang dibawah hijau,
tetapi penerangan-penerangan ini tidak boleh diperlihatkan bersama-sama dengan
lentera kombinasi yang dibolehkan paragrap (b) aturan ini.

(d). i. Kapal layar yang panjangnya kurang dari 7 meter, jika mungkin harus
memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau
(b) aturan ini, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal layar itu harus selalu siap
dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya
putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang cukup untuk mencegah tubrukan.

1. Kapal yang sedang berlayar dengan dayung boleh memperlihatkan penerangan-


penerangan yang ditentukan didalam aturan ini bagi kapal-kapal layar, tetapi jika
tidak memperlihatkannya, kapal yang sedang berlayar dengan dayung itu harus
selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang
memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang memadai
untuk mencegah tubrukan.

ATURAN 26

KAPAL IKAN

(a). Kapal yang sedang menangkap ikan, apakah sedang berlayar atau berlabuh
jangkar hanya boleh memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok
benda yang ditentukan oleh aturan ini.

(b). Kapal yang sedang mendogol, maksudnya sedang menarik pukat tarik atau
perkakas lain di dalam air digunakan sebagai alat menangkap ikan, harus
memperlihatkan :

Dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas hijau dan yang di bawah
putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya
berimpit bersusun tegak lurus, kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai
pengganti sosok benda ini boleh memperlihatkan keranjang ;

Penerangan tiang lebih kebelakang dan lebih tinggi dari pada penerangan hijau
keliling, kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter tidak wajib memperlihatkan
penerangan demikian itu, tetapi boleh memperlihatkannya ;

Bilaman mempunyai laju di air, sebagai tambahan atas penerangan- penerangan yang
ditentukan dalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan
buritan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan, kecuali yang sedang mendogol harus
memperlihatkan :

Dua penerangan keliling bersusun tegaklurus, yang di atas merah dan di bawah putih,
atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit
bersusun tegaklurus. Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti
sosok benda ini, boleh memperlihatkan keranjang ;
Bilamana mana ada alat penangkap ikan yang terjulur mendatar dari kapal lebih dari
150 meter, penerangan putih keliling atau kerucut yang titik puncaknya ke atas diarah
alat penangkap ;

Bilamana mempunyai kecepatan di air, disamping penerangan- penerangan yang


ditentukan didalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan
buritan.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan dekat sekali dengan kapal-kapal lain yang
menangkap ikan, boleh memperlihatkan isyarat-isyarat tambahan yang diuraikan
dengan jelas didalam Lampiran II Peraturan ini.

(e). Bilamana sedang tidak menangkap ikan tidak boleh memperlihatkan penerangan-
penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan ini tetapi hanya
penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang
panjangnya sama dengan panjang kapal itu.

ATURAN 27

KAPAL YANG TIDAK TERKENDALIKAN ATAU

YANG KEMAMPUAN OLAH GERAKNYA TERBATAS

(a). Kapal yang tidak terkendalikan harus memperlihatkan :

Dua penerangan merah keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat
kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;

Dua bola atau sosok benda yang serupa, bersusun tegak lurus disuatu tempat yang
dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;

Bilamana mempunyai laju di air sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang


ditentukan didalam paragrap ini, penerangan-penerangan lambung dan penerangan
buritan.
(b).Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kecuali kapal yang sedang
melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, harus memperlihatkan :

Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan
dengan sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah,
sedangkan penerangan yang tengah harus putih ;

Tiga sosok benda bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan
sejelas-jelasnya. Sosok benda yang tertinggi dan yang terendah harus bola,
sedangkan yang di tengah sosok belah ketupat ;

Bilamana mempunyai laju di air, penerangan atau penerangan-penerangan tiang,


penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan, sebagai tambahan atas
penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) ;

Bilamana berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan atau


sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam sub paragrap (i) dan (ii) penerangan,
penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan
30.

(c). Kapal tenaga yang sedang melaksanakan pekerjaan penundaan sedemikian rupa
sehingga sangat membatasi kemampuan kapal yang sedang menunda dan
tundaannya itu menyimpang dari haluannya yang ditentukan di dalam Aturan 24 (a)
harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang
ditentukan didalam sub paragrap (b) (i) dan (ii) Aturan ini.

(d). Kapal yang sedang melaksanakan pengerukan atau pekerjaan di dalam air,
bilamana kemampuan olah geraknya terbatas, harus memperlihatkan penerangan-
penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam su paragrap (b) (i), (ii)
dan (iii) Aturan ini dan sebagai tambahan bilamana ada rintangan ,harus
memperlihatkan :

Dua penerangan merah keliling atau dua bola bersusun tegak lurus untuk
menunjukkan sisi tempat rintangan itu berada ;

Dua penerangan hijau keliling atau dua sosok belah ketupat bersusun tegak lurus
untuk menunjukan sisi yang boleh dilewati kapal lain ;
Bilaman berlabuh jangkar, penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di
dalam paragrap ini sebagai ganti penerangan-penerangan atau sosok benda yang
ditentukan di dalam Aturan 30.

(e) Bilaman ukuran kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan


penyelaman itu membuatnya tidak mampu memperlihatkan semua penerangan dan
sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap (d) Aturan ini, harus diperlihatkan
yang berikut ini :

Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus dis suatu tempat yang diperlihatkan
sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah,
sedangkan penerangan yang di tengah harus putih ;

Tiruan bendera kaku “A” dari Kode Internasional yang tingginya tidak kurang dari 1
meter. Langkah-langkah harus dilakukan untuk menjamin agar tiruan itu dapat
kelihatan keliling.

(f). Kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, sebagai


tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal tenaga di dalam
Aturan 23 atau atas penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan bagi
kapal yang sedang berlabuh jangkar di dalam Aturan 30,mana yang sesuai harus
memperlihatkan tiga penerangan hijau keliling atau tiga bola. Salah atu dari
penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda ini harus diperlihatkan di puncak
tiang depan atau di dekatnya dan satu dimasing-masing ujung andang-andang depan.
Penerangan-penerangan atau sosok benda ini menunjukan bahwa berbahayalah
kapal lain yang mendekat dalam jarak 1000 meter dari pembersih ranjau itu.

(g). Kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, kecuali kapal-kapal yang
sedang menjalankan pekerjaan penyelaman, tidak wajib memperlihatkan
penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan
ini.

(h). Isyarat-isyarat yang yang ditentukan di dalam Aturan ini bukan isyarat-isyarat
dari kapal-kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan. Isyarat-isyarat
demikian tercantum di dalam Lampiran IV Peraturan ini.
ATURAN 28

KAPAL YANG TERKENDALA OLEH SARATNYA

Kapal yang terkendala oleh saratnya, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan


yang ditentukan bagi kapal-kapal tenaga didalam Aturan 23, boleh memperlihatkan
tiga penerangan merah keliling bersusun tegak lurus, atau sebuah silinder di tempat
yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

ATURAN 29

KAPAL PANDU

(a). Kapal yang sedang bertugas memandu harus memperlihatkan :

Di puncak tiang atau di dekatnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang
di atas putih dan yang di bawah merah ;

Bilamana sedang berlayar, sebagai tambahan, penerangan-penerangan lambung dan


penerangan buritan ;

Bilaman berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang


ditentukan didalam sub paragrap (i), penerangan-penerangan atau sosok benda yang
ditentukan didalam Aturan 30 bagi kapal-kapal yang berlabuh jangkar.

(b). Kapal pandu bilaman tidak sedang bertugas memandu harus memperlihatkan
penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang
serupa sesuai dengan panjangnya.

ATURAN 30

KAPAL YANG BERLABUH JANGKAR DAN KAPAL YANG KANDAS

(a). Kapal yang berlabuh jangkar harus memperlihatkan disuatu tempat yang dapat
kelihatan dengan sejelas-jelasnya :
Di bagian depan, penerangan putih keliling atau satu bola ;

Di buritan atau di dekatnya dan di suatu ketinggian yang lebih rendah dari pada
penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), sebuah penerangan putih
keliling.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 50 meterboleh memperlihatkan sebuah


penerangan putih keliling di suatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-
jelasnya, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap
(a) Aturan ini.

(c). Kapal yang berlabuh jangkar boleh juga menggunakan penerangan-


penerangan kerja atau penerangan-penerangan yang sepadan yang ada di kapal
untuk menerangi geladak-geladaknya, sedangkan kapal yang panjangnya 100 meter
ke atas harus memperlihatkan penerangan-penerangan demikian itu.

(d). Kapal yang kandas harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang


ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini dan sebagai tambahan disuatu
tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya :

Dua penerangan merah bersusun tegak lurus ;

Tiga bola bersusun tegak lurus.

(e). Kapal yang panjangnya kurang dari 7 meter bilamana berlabuh jangkar, tidak
didalam atau didekat alur pelayaran sempit, air pelayaran atau tempat berlabuh
jangkar, atau tempat yang biasa dilayari oleh kapal-kapal lain, tidak disyaratkan
memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam
paragrap (a) dan (b) Aturan ini.

(f). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, bilamana kandas, tidak disyaratkan
memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan
didalam su paragrap (d) (i) dan (ii) Aturan ini.
ATURAN 31

PESAWAT TERBANG LAUT

Apabila pesawat terbang laut tidak mampu memperlihatkan penerangan-


penerangan dan sosok-sosok benda dengan sifat-sifat atau kedudukan-kedudukan
yang ditentukan didalam aturan-aturan bagian ini, pesawat terbang laut itu harus
memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benba yang sifat-sifat
dan kedudukan-kedudukannya semirip mungkin dengan penerangan-penerangan
dan sosok-sosok benda.

BAGIAN D

ISYARAT BUNYI DAN ISYARAT CAHAYA

ATURAN 32

DEFINISI

(a). Kata “ suling “ berarti alat isyarat bunyi yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan
yang ditentukan dan yang memenuhi perincian-perincian didalam Lampiran III
Peraturan-peraturan ini.

(b). Istilah “ tiup pendek “ berarti tiupan yang lamanya kira-kira satu detik ;

(c). Istilah “ tiup panjang “ berarti tiupan yang lamanya 4 sampai 6 detik.

ATURAN 33

PERLENGKAPAN UNTUK ISYARAT BUNYI

(a). Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih harus dilengkapi dengan suling dan
genta serta kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih sebagai tambahan, harus
dilengkapi dengan gong yang nada dan bunyinya tidak dapat terkacaukan dengan
nada dan bunyi genta. Suling, genta dan gong itu harus memenuhi, perincian-
perincian didalam Lampiran III Peraturan ini.

Genta atau gong atau kedua-duanya boleh diganti dengan perlengkapan lain yang
mempunyai sifat-sifat khas yang sama dengan bunyi masing-masing, dengan
ketentuan bahwa alat-alat isyatar yang ditentukan itu harus selalu mungkin
dibunyikan dengan tangan.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memasang alat-alat
isyarat bunyi yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini, tetapi jika tidak
memasangnya, kapal itu harus dilengkapi dengan beberapa sarana lain yang
menghasilkan isyarat bunyi yang efisien.

ATURAN 34

ISYARAT OLAH GERAK DAN ISYARAT PERINGATAN

(a). Bilamana kapal-kapal dalam keadaan saling melihat, kapal tenaga yang sedang
berlayar, bilamana sedang berolah gerak sesuai dengan yang diharuskan atau
dibolehkan atau disyaratkan oleh Aturan-aturan ini, harus menunjukan olah gerak
tersebut dengan isyarat-isyarat berikut dengan menggunakan sulingnya :

– Satu tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekanan “
;

– Dua tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekiri “
;

– Tiga tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin
penggerak “.

(b). Setiap kapal boleh menambah isyarat-isyarat suling yang ditentukan didalam
paragrap (a) Aturan ini dengan isyarat-isyarat cahaya, diulang-ulang seperlunya
sementara olah gerak sedang dilakukan :

Isyarat-isyarat cahaya ini harus mempunyai arti berikut :


Satu kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekanan “ ;

Dua kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekiri “ ;

Tiga kedip untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak
“;

Lamanya masing-masing kedip harus kira-kira satu detik, selang waktu antara kedip-
kedip itu harus kira-kira satu detik, serta selang waktu antara isyarat-isyarat
beruntun tidak boleh kurang dari 20 detik ;

Penerangan yang digunakan untuk isyarat ini jika dipasang, harus penerangan putih
keliling, dapat kelihatan dari jarak minimum 5 mil dan harus memenuhi ketentuan-
ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

(c). Bilamana dalam keadaan saling melihat dalam alur pelayaran atau air pelayaran
sempit :

Kapal yang sedang bermaksud menyusul kapal lain, sesuai dengan Aturan 9 (e) (i)
harus menyatakan maksudnya itu dengan isyarat berikut dengan sulingnya :

– Dua tiup panjang diikuti satu tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud
menyusul anda di sisi kanan anda “ ;

– Dua tiup panjang diikuti dua tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud
menyusul anda di sisi kiri anda “.

Kapal yang sedang siap untuk disusul itu bilamana sedang melakukan tindakan sesuai
dengan Aturan 9 (e) (i), harus menyatakan persetujuannya dengan isyarat-isyarat
dengan sulingnya :

-Satu tiup panjang, satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek dengan
tata urutan tersebut.

(d). Bilamana kapal-kapal yang dalam keadaan saling melihat sedang saling mendekat
dan karena suatu sebab, apakah salah satu dari kapal-kapal itu atau kedua-duanya
tidak berhasil memahami maksud-maksud atau tindakan-tindakan kapal yang lain
atau dalam keadaan ragu-ragu apakah kapal yang lain sedang melakukan tindakan
yang memadai untuk menghindari tubrukan, kapal yang dalam keadaan ragu-ragu itu
harus segera menyatakan keragu-raguan demikian dengan memperdengarkan
sekurang-kurangnya 5 tiup pendek dan cepat dengan suling. Isyarat demikian boleh
ditambah dengan isyarat cahaya yang sekurang-kurangnya terdiri dari 5 kedip,
pendek dan cepat.

(e). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur pelayaran atau air
pelayaran yang ditempat itu kapal-kapal lain dapat terhalang oleh alingan, harus
memperdengarkan satu tiup panjang.

Isyarat demikian itu harus disambut dengan tiup panjang oleh setiap kapal yang
sedang mendekat yang sekiranya ada didalam jarak dengar disekitar tikungan atau
dibalik alingan itu.

(f). Jika suling-suling dipasang di kapal secara terpisah dengan jarak lebih dari 100
meter, hanya satu suling saja yang harus digunakan untuk memberikan isyarat olah
gerak dan isyarat peringatan.

ATURAN 35

ISYARAT BUNYI DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

Didalam atau didekat daerah yang berpenglihatan terbatas baik pada siang hari atau
pada malam hari, isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Aturan ini harus digunakan
sebagai berikut :

(a). Kapal tenaga yang mempunyai laju di air memperdengarkan satu tiup panjang
dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(b). Kapal tenaga yang sedang berlayar tetapi berhenti dan tidak mempunyai laju di
air harus memperdengarkan dua tiup panjang beruntun dengan selang waktu tidak
lebih dari 2 menit dan selang waktu tiup-tiup panjang itu kira-kira 2 detik.

(c). Kapal yang tidak terkendalikan, kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas,
kapal yang terkendala oleh saratnya, kapal layar, kapal yang sedang menangkap ikan
dan kapal yang sedang menunda atau mendorong kapal lain sebagai pengganti
isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini harus
memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup panjang diikuti oleh dua tiup
pendek dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan bilamana berlabuh jangkar dan kapal yang
kemampuan olah geraknya terbatas bilamana sedang menjalankan pekerjaannya
dalam keadaan berlabuh jangkar, sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan
didalam paragrap (g) Aturan ini, harus memperdengarkan isyarat yang ditentukan
dadalam paragrap (c) Aturan ini.

(e). Kapal yang ditunda atau jika yang kapal ditunda itu lebih dari satu, maka kapal
yang paling belakang dari tundaanitu jika diawaki, harus memperdengarkan 4 tiup
beruntun, yakni 1 tiup panjang diikuti 3 tiup pendek, dengan selang waktu tidak lebih
dari 2 menit. Bilamana mungkin, isyarat ini harus diperdengarkan oleh kapal yang
menunda.

(f). Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju
diikat erat-erat dalam kesatuan gabungan, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai
sebuah kapal tenaga dan harus memperdengarkan isyarat-isyarat yang ditentukan
didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini.

(g). Kapal yang berlabuh jangkar harus membunyikan genta dengan cepat selama
kira-kira 5 detik dengan selang waktu tidak lebih dari 1 menit.

Di kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih genta itu harus dibunyikan dibagian
depan kapal dan segera setelah pembunyian genta, gong harus dibunyikan cepat-
cepat selama kira-kira 5 detik dibagian belakang kapal.

Kapal yang berlabuh jangkar, sebagai tambahan boleh memperdengarkan tiga tiup
beruntun, yakni satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek untuk
mengingatkan kapal lain yang mendekat mengenai kedudukannya dan adanya
kemungkinan tubrukan.

(h). Kapal yang kandas harus memperdengarkan isyarat genta dan jika
dipersyaratkan, isyarat gong yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, dan
sebagai tambahan harus memperdengarkan tiga ketukan terpisah dan jelas dengan
genta sesaat sebelum dan segera setelah pembunyian genta yang cepat itu. Kapal
yang kandas, sebagai tambahan boleh memperdengarkan isyarat suling yang sesuai.

(i). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memperdengarkan
isyarat-isyarat tersebut diatas, tetapi jika tidak memperdengarkannya, kapal itu harus
memperdengarkan isyarat bunyi lain yang efisien dengan selang waktu tidak lebih
dari 2 menit.

(j). Kapal pandu bilamana sedang bertugas memandu, sebagai tambahan atas isyarat-
isyarat yang ditentukan didalam paragraph (a), (b) atau (g) Aturan ini boleh
memperdengarkannya isyarat pengenal yang terdiri dari 4 tiup pendek.

ATURAN 36

ISYARAT UNTUK MENARIK PERHATIAN

Jika perlu untuk menarik perhatian kapal lain, setiap kapal boleh menggunakan
isyarat cahaya atau isyarat bunyi yang tidak dapat terkelirukan dengan setiap isyarat
yang diharuskan atau dibenarkan dimanapun didalam Aturan ini, atau boleh
mengarahkan berkas cahaya lampu kejurusan manapun. Sembarang cahaya yang
digunakan untuk menarik perhatian kapal lain harus sedemikian rupa sehingga tidak
dapat terkelirukan dengan alat bantu navigasi manapun. Untuk memenuhi maksud
Aturan ini penggunaan penerangan berselang-selang atau penerangan berputar
dengan intensitas tinggi, misalnya penerangan-penerangan stroba, harus
dihindarkan.

ATURAN 37

ISYARAT BAHAYA

Bilaman kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan, kapal itu harus
menggunakan atau memperlihatkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam
Lampiran IV Peraturan ini.
BAGIAN E

PEMBEBASAN – PEMBEBASAN

ATURAN 38

PEMBEBASAN

Setiap kapal ( atau kelas kapal-kapal ) dengan ketentuan bahwa kapal itu memenuhi
syarat-syarat Peraturan internasional tentang pencegahan tubrukan di laut 1960 yang
lunasnya diletakkan sebelum peraturan ini berlaku atau yang pada tanggal itu dalam
tahapan pembangunan yang sesuai, dibebaskan dari kewajiban untuk memenuhi
Peraturan ini sebagai berikut :

(a). Pemasangan penerangan-penerangan dengan jarak yang ditentukan


didalam Aturan 22, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya aturan ini.

(b). Pemasangan penerangan-penerangan dengan perincian warna sebagaimana


yang ditentukan didalam seksi 7 Lampiran I Aturan ini, sampai 4 tahun setelah
tanggal mulai berlakunya Peraturan.

(c). Penempatan kembali penerangan-penerangan sebagai akibat dari


pengubahan satuan-satuan imperial kesatuan-satuan metrik dan pembulatan angka-
angka ukuran, merupakan pembebasan tetap.

(d). i. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang


panjangnya kurang dari 150 meter sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a)
Lampiran I Peraturan ini merupakan pembebasan tetap.

1. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya


150 meter atau lebih sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a)
Lampiran I Peraturan ini sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya
peraturan ini.

(e). Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang, sebagai akibat dari


ketetapan-ketetapan Seksi 2 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah
tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.
(f). Penempatan kembali penerangan-penerangan lambung, sebagai akibat dari
ketetapan-ketetapan Seksi 2 (g) dan 3 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun
setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(g). Syarat-syarat tentang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam


Lampiran III Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya
Peraturan ini.

(h). Penempatan kembali penerangan-penerangan keliling, sebagai akibat dari


ketetapan-ketetapan Seksi 9 (b) Lampiran I Peraturan ini, merupakan pembebasan
tetap.

BAGIAN F - Verifikasi kepatuhan terhadap ketentuan Konvensi

Aturan 39

Definisi

(a) Audit berarti proses yang sistematis, independen dan terdokumentasi untuk
memperoleh

mengaudit bukti dan mengevaluasinya secara obyektif untuk menentukan sejauh


mana audit

kriteria terpenuhi.

(b) Skema Audit berarti Skema Audit Negara Anggota IMO yang ditetapkan oleh

Organisasi dan dengan mempertimbangkan pedoman yang dikembangkan oleh

Organisasi*.

* Lihat kerangka kerja dan prosedur untuk skema audit negara anggota IMO,

diadopsi oleh Organisasi dengan resolusi A.1067 (28).

(c) Kode untuk Implementasi berarti Kode Implementasi Instrumen IMO (III
Kode) diadopsi oleh Organisasi dengan resolusi A.1070 (28).

(d) Standar Audit berarti Kode untuk Pelaksanaan.

Aturan 40

Aplikasi

Para Pihak wajib menggunakan ketentuan-ketentuan Kode Etik untuk Implementasi


dalam

pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab mereka yang terkandung dalam Konvensi
ini.

Aturan 41

Verifikasi kepatuhan

(a) Setiap Pihak wajib menjalani audit berkala oleh Organisasi dalam sesuai dengan
standar audit untuk memverifikasi kepatuhan dan implementasi Konvensi ini.

(b) Sekretaris Jenderal Organisasi bertanggung jawab untuk: mengelola Skema Audit,
berdasarkan pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi*.

(c) Setiap Pihak wajib memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pelaksanaan
audit dan implementasi program tindakan untuk mengatasi temuan, berdasarkan
pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi *.

(d) Audit terhadap semua Pihak dalam Kontrak harus:

(i) berdasarkan jadwal keseluruhan yang dikembangkan oleh Sekretaris Jenderal


Organisasi, dengan mempertimbangkan pedoman yang dikembangkan oleh
Organisasi *; dan

(ii) dilakukan secara berkala, dengan mempertimbangkan pedoman yang


dikembangkan oleh Organisasi*.
LAMPIRAN I

PENEMPATAN DAN PERINCIAN TEKNIS

PENERANGAN –PENERANGAN DAN SOSOK – SOSOK BENDA

Definisi

Istilah ” tiang di atas badan ” berarti ketinggian diatas geladak jalan terus yang
teratas. Ketinggian ini harus diukur dari kedudukan tegak lurus dibawah tempat
penerangan.

Penempatan dan Pemisahan tegak lurus Penerangan ;

Di kapal tenaga yang panjangnya 20 meter atau lebih, penerangan-penerangan tiang


harus di tempatkan sebagai berikut :

Penerangan tiang depan atau jika hanya dipasang satu penerangan tiang saja, maka
penerangan tersebut pada ketinggian diatas badan tidak kurang dari 6 meter dan jika
lebar kapal lebih dari 6 meter maka tidak pada ketinggian tidak kurang dari lebar
tersebut, tetapi sekalipun demikian penerangan itu tidak perlu ditempatkan pada
ketinggian diatas badan lebih dari 12 meter.

Bilamana dipasang 2 penerangan tiang, penerangan tiang belakang harus sekurang-


kurangnya 4,5 meter tegak lurus lebih tinggi dari pada penerangan tiang depan.

Pemisahan secara tegak lurus penerangan-penerangan tiang dari kapal-kapal tenaga


harus sedemikian rupa sehingga dalam segala keadaan trim normal, penerangan tiang
belakang akan terlihat diatas dan terpisah dari penerangan tiang depan, bilamana
terlihat dari permukaan laut pada jarak 100 meter dimuka linggi depan.

Penerangan tiang kapal tenaga yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang
dari 20 meter harus ditempatkan pada ketinggian diatas tutup tajuk tidak kurang dari
2,5 meter.

Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter boleh memasang penerangan
yang teratas pada ketinggian yang kurang dari 2,5 meter diatas tutup. Tetapi bilamana
penerangan tiang dipasang sebagai tambahan penerangan-penerangan lambung dan
penerangan buritan,maka penerangan tiang demikian itu harus dipasang sekurang-
kurangnya 1 meter lebih tinggi dari pada penerangan-penerangan lambung.

Salah satu dari dua atau tiga penerangan tiang yang ditentukan bagi kapal tenaga
yang sedang menunda atau mendorong kapal lain harus ditempatkan ditempat yang
sama dengan penerangan tiang didepan atau penerangan tiang belakang, dengan
ketentuan bahwa apabila dipasang ditiang belakang, penerangan tiang belakang yang
paling bawah harus sekurang-kurangnya 4,5 meter tegak lurus lebih tinggi dari pada
penerangan

Tiang depan.
1. Penerangan atau penerangan-penerangan tiang yang ditentukan didalam Aturan 23
(a) harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga berada diatas dan bebas dari
semua

penerangan dan rintangan lain, kecuali sebagaimana yang termaksud didalam su


paragrap (ii) ;

1. Bilamana tidak dimungkinkan untuk memasang penerangan-penerangan keliling


yang ditentukan oleh Aturan 27 (b) (i) atau Aturan 28 itu boleh dipasang diatas
penerangan-penerangan tiang belakang atau tegak lurus diantara penerangan tiang
depan dan penerangan tiang belakang, dengan ketentuan bahwa dalam hal yang
terahir itu syarat-syarat Seksi 3 (c) Lampiran ini harus dipenuhi.

Penerangan-penerangan lambung kapal tenaga harus ditempatkan pada ketinggian


diatas badan tidak boleh lebih dari tiga perempat tinggi penerangan tiang depan.
Penerangan-penerangan lambung itu tidak boleh ditempatkan sedemikian
rendahnya sehingga akan terganggu oleh penerangan-penerangan geladak.

Penerangan-penerangan lambung , jika dalam lentera gabungan dan dipasang di


kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 20 meter, harus ditempatkan tidak kurang
dari 1 meter dibawah penerangan tiang.

Bilamana aturan-aturan menentukan dua atau tiga penerangan dipasang bersusun


tegak lurus, penerangan-penerangan demikian itu harus berjarak sebagai berikut :

1. Di kapal yang panjangnya 20 meter atau lebih, penerangan-penerangan demikian itu


harus diberi berjarak tidak kurang dari 2 meter, dan penerangan yang terendah dari
penerangan-penerangan ini, kecuali jika wajib memperlihatkan penerangan tunda
harus ditempatkan pada ketinggian yang tidak kurang dari 4 meter diatas badan.

2. Di kapal yang panjangnya 20 meter, penerangan-penerangan demikian itu harus


diberi berjarak tidak kurang dari 1 meter, dan penerangan yang terendah dari
penerangan ini, kecuali jika wajib memperlihatkan penerangan tunda, harus
ditempatkan pada ketinggian yang tidak kurang dari 2 meter diatas badan.

iii. Bilamana diperlihatkan tiga penerangan, penerangan-penerangan itu harus


dipisahkan dengan jarak antara yang sama.

Penerangan yang terendah dari kedua penerangan keliling yang ditentukan bagi kapal
bilamana sedang menangkap ikan harus berada pada ketinggian diatas penerangan-
penerangan lambung tidak kurang dari dua kali jarak antara kedua penerangan tegak
lurus.

Penerangan labuh depan yang ditentukan didalam Aturan 30 (a) (i) bilamana dipasang
dua penerangan labuh belakang.

Di kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih, penerangan labuh depan ini harus
ditempatkan pada ketinggian yang tidak kurang dari 6 meter diatas badan.

Penempatan dan Pemisahan Mendatar Penerangan

Bilamana penerangan tiang disyaratkan bagi kapal tenaga, maka jarak mendatar
antara penerangan-penerangan itu tidak boleh kurang dari setengah panjang kapal,
tetapi tidak boleh lebih dari 100 meter. Penerangan yang didepan harus ditempatkan
tidak lebih dari seperempat panjang kapal diukur dari linggi depan.

Di kapal tenaga yang panjangya 20 meter atau lebih, penerangan-penerangan


lambung tidak boleh ditempatkan didepan penerangan tiang depan. Penerangan-
penerangan lambung itu harus ditempatkan di lambung atau didekatnya.

Bilaman penerangan-penerangan yang ditentukan didalam Aturan 27 (b) (i) atau


Aturan 28 itu ditempatkan tegak lurus diantara penerangan tiang depan dan
penerangan belakang, penerangan-penerangan keliling ini harus ditempatkan
disuatu tempat yang jarak mendatarnya dalam arah melintang kapal tidak kurang dari
2 meter diukur dari sumbu membujur kapal.
Perincian tentang Letak Penerangan Penunjuk arah bagi kapal ikan, kapal keruk dan
kapal yang sedang menjalankan pekerjaan didalam air.

Penerangan yang menunjukan arah alat penangkap ikan yang menjulur dari kapal
yang sedang menangkap ikan sebagaimana yang ditentukan didalam Aturan 26 (c)
(ii), harus ditempatkan dengan jarak mendatar yang tidak kurang dari 2 meter diukur
dari dua penerangan merah dan putih keliling yang ditentukan didalam Aturan 26 (c)
(i) dan tidak lebih rendah dari pada penerangan-penerangan lambung.

Penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda di kapal yang sedang mengeruk atau


yang sedang melakukan pekerjaan didalam air untuk menunjukan sisi yang ada
rintangannya dan/atau sisi yang dapat dilewati dengan aman yang ditentukan
didalam Aturan 27 (d) (i) dan (ii), harus ditempatkan dengan jarak mendatar yang
sejauh mungklin, tetapi bagaimanapun juga tidak kurang dari 2 meter diukur dari
penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 27
(d) (i) dan (ii). Bagaimana juga penerangan atau sosok benda yang teratas dari
penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda ini tidak akan lebih tinggi dari pada
penerangan atau sosok-sosok benda yang terbawah dari tiga penerangan atau sosok
benda yang ditentukan didalam Aturan 27 (b) (i) dan (ii).

Tedeng untuk Penerangan Lambung


Penerangan-penerangan lambung dari kapal-kapal yang panjangnya 20 meter atau
lebih harus dipasangi tedeng dalam yang dicat hitam kusam dan memenuhi syarat-
syarat Seksi 9 Lampiran ini. Di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter
penerangan-penerangan lambung itu, jika harus memenuhi syarat-syarat Seksi 9
Lampiran ini, harus dipasangi tedeng dalam yang dicat hitam kusam. Dilentera
gabungan yang menggunakan kawat pijar tegak lurus tunggal dan penyekat yang
sangat sempit diantara bagian hijau dan bagian merah, tedeng luar tidak perlu
dipasangi.

Sosok-sosok Benda
Sosok benda harus berwarna hitam dan dengan ukuran-ukuran berikut :
Bola harus dengan garis tengah tidak kurang dari 0,6 meter ;

Kerucut harus dengan bidang alas yang garis tengahnya tidak kurang dari 0,6 meter
dan tingginya sama dengan garis tengahnya ;

Silinder harus dengan garis tengah tidak kurang dari 0,6 meter dan tingginya sama
dengan dua kali garis tengahnya ;

Sosok belah ketupat harus terdiri dari dua kerucut sebagaimana yang diuraikan
dengan jelas didalam sub paragrap (ii) diatas yang mempunyai bidang alas
persekutuan.

Jarak tegak lurus antara sosok-sosok benda harus sekurang-kurangnya 1,5 meter

Di kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter boleh digunakan sosok-sosok benda
dengan ukuran-ukuran yang lebih kecil tetapi sebanding dengan ukuran kapal dan
jarak antaranya boleh dikurangi sesuai dengan itu.

Perincian Warna Penerangan


Kromatisitas semua penerangan bavigasi, harus sesai dengan standar berikut yang
terletak didalam batas-batas daerah diagram yang untuk masing-masing warna telah
ditentukan secara terperinci oleh komisi Internasional tentang penerangan ( CIE ).
Batas-batas daerah untuk masing-masing warna ditentukan dengan menunjukan
koordinat titik-titik sudut, sebagai berikut :

Putih

x 0,525 0,525 0,452 0,310 0,310 0,443

y 0,382 0,440 0,440 0,348 0,283 0,382

Hijau
x 0,028 0,009 0,300 0,203

y 0,385 0,723 0,511 0,356

Merah

x 0,680 0,660 0,735 0,721

y 0,320 0,320 0,265 0,259

Kuning

x 0,612 0,618 0,575 0,575

y 0,382 0,382 0,425 0,406

Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya minimum dari penerangan-penerangan harus dihitung dengan
menggunakan rumus :

I = 3,43 x 106 x T x D² x K-D


Dengan ketentuan :

I : intensitas cahaya dalam lilin dalam kondisi kerja

T : faktor ambang 2 x 10-7 lux


D : jarak tampak ( jarak pancar ) penerangan dalam mil laut

K : daya hantar atmosfera

Untuk penerangan-penerangan yang ditentukan nilai K itu harus = 0,8 sesuai


dengan jarak pandang meteorologi kira-kira 13 mil laut.
Pilihan angka-angka yang diperoleh dari rumus itu diberikan didalam tabel berikut :

Jarak tampak ( jarak pancar ) Intensitas cahaya penerangan


Penerangan dalam mil laut Dalam lilin untuk K = 0,8

D I

1 0,9

2 4,3

3 12

4 27

5 52

6 94

Catatan : Intensitas cahaya maksimum dari penerangan-penerangan navigasi harus


dibatasi untuk menghindari kilau yang mengganggu .

Hal ini tidak boleh dicapai dengan pengatur intensitas cahaya yang dapat diatur.

Sektor-sektor mendatar
1. Kearah depan penerangan-penerangan lambung jika dipasang di kapal harus
memperlihatkan intensitas cahaya minimum yang disyaratkan. Intensitas cahaya
harus berkurang sampai praktis lenyap antara 1 derajat dan 3 derajat diluar sektor-
sektor yang ditetapkan.

2. Bagi penerangan-penerangan buritan dan penerangan tiang serta pada 22,5°


dibelakang arah melintang bagi penerangan-penerangan lambung, intensitas cahaya
minimum yang ditetapkan itu harus dipertahankan meliputi busur cakrawala
sampai dengan 5 derajat didalam batas-batas dari sektor-sektor yang ditentukan
dadalam Aturan 21. Dari 5 derajat didalam sektor-sektor yang ditentukan, kuat
cahaya harus berkurang secara berangsur-angsur sampai praktis lenyap diarah
yang tidak lebih dari 5° diluar sektor yang ditentukan.
Semua penerangan keliling harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak akan
terhalang oleh tiang-tiang, puncak-puncak tiang atau bangunan-bangunan meliputi
busur tang lebih besar dari 6°, kecuali penerangan-penerangan labuh yang
ditentukan didalam Aturan 30 yang tidak perlu disuatu ketinggian diatas badan yang
tidak memungkinkan.

Sektor-sektor Tegak lurus


Sektor-sektor tegak lurus penerangan listrik, jika dipasang kecuali penerangan-
penerangan di kapal-kapal layar, akan menjamin bahwa :

1. Sekurang-kurangnya intensitas minimum yang disyaratkan itu dipertahankan


disetiap sudut dari 5° diatas sampai 5° dibawah bidang mendatar.

Bagi penerangan-penerangan yang bukan penerangan listrik, perincian-perincian ini


sedapat mungkin harus disesuaikan :

Sekurang-kurangnya intensitas minimum yang disyaratkan itu harus dipertahankan


disetiap sudut dari 5° diatas sampai 5° dibawah bidang mendatar.

Sekurang-kurangnya 50% intensitas minimum yang disyaratkan itu dipertahankan


dari 25° diatas sampai 25° dibawah bidang mendatar.

Intensitas penerangan-penerangan bukan penerangan listrik

Penerangan-penerangan yang bukan penerangan listrik sejauh mungkin harus


memenuhi intensitas cahaya minimum sebagaimana yang diuraikan secara terperinci
didalam Tabel yang diberikan didalam Seksi 8 Lampiran ini

Penerangan Olah Gerak


Lepas dari pada ketentuan-ketentuan paragrap 2 (f) Lampiran ini, penerangan olah
gerak yang ditentukan didalam Aturan 34 (b) itu harus ditempatkan dibidang tegak
lurus membujur yang sama dengan penerangan atau penerangan-penerangan tiang,
dan apabila mungkin pada ketinggian minimum dua meter tegak lurus diatas
penerangan tiang depan, dengan ketentuan bahwa penerangan olah gerak itu harus
dipasang tidak kurang dari dua meter tegak lurus diatas ataupun dibawah
penerangan tiang belakang.
Di kapal yang hanya dipasangi satu penerangan tiang, penerangan olah gerak itu, jika
dipasang harus ditempatkan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-
jelasnya, terpisah tegak lurus dari penerangan tiang dengan jarak tidak kurang dari
dua meter.

Persetujuan
Konstruksi penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda serta pemasangan
penerangan-penerangan di kapal harus memperoleh persetujuan dari negara yang
benderanya dikibarkan oleh kapal secara sah.
LAMPIRAN II

ISYARAT – ISYARAT TAMBAHAN BAGI KAPAL – KAPAL NELAYAN

YANG SEDANG MENANGKAP IKAN YANG SALING BERDEKATAN

Umum

Penerangan-penerangan yang disebutkan disini, jika diperlihatkan sesuai dengan


Aturan 26 (d), harus ditempatkan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan
sejelas-jelasnya. Penerangan-penerangan itu harus terpisah sekurang-kurangnya 0,9
meter tetapi pada ketinggian yang lebih rendah dari pada penerangan-penerangan
yang ditentukan didalam Aturan 26 (b) (i) dan (c) (i).

Penerangan-penerangan itu harus dapat kelihatan keliling cakrawala dari jarak


sekurang-kurangnya 1 mil tetapi dari jarak yang lebih dekat dari pada penerangan-
penerangan yang ditentukan oleh Aturan-aturan ini bagi kapal-kapal ikan.

Syarat-syarat bagi Kapal-kapal Dogol

Kapal-kapal bilamana sedang menangkap ikan dengan dogol, entah menggunakan


pukat dasar entah pukat laut dalam, boleh memperlihatkan :

Bilamana sedang memasang pukat-pukatnya : dua penerangan putih bersusun tegak


;

1. Bilamana sedang menarik pukat-pukatnya : satu penerangan putih diatas satu


penerangan merah bersusun tegak lurus ;

iii. Bilamana pukat tersangkut disuatu rintangan : dua penerangan merah


bersusun tegak lurus.

Masing-masing kapal yang sedang menangkap ikan dengan dogol secara


berpasangan boleh memperlihatkan :

Pada malam hari : lampu sorot diarahkan kedepan dan kearah kapal lain dari
pasangan itu ;
1. Bilamana sedang memasang atau menarik pukat-pukatnya atau bilamana pukat-
pukatnya tersangkut disuatu rintangan, penerangan-penerangan yang ditentukan
didalam Aturan 2 (a) diatas.

Isyarat-isyarat bagi Kapal-kapal Jaring lingkar

Kapal-kapal yang sedang menangkap ikan dengan alat penangkap ikan jaring lingkar
boleh memperlihatkan dua penerangan kuning bersusun tegak lurus.

Penerangan-penerangan ini harus berkedip secara berganti-ganti setiap detik dan


dengan waktu nyala dan waktu padam yang sama. Penerangan-penerangan ini hanya
boleh diperlihatkan bilamana olah gerak kapal terganggu oleh alat penangkap
ikannya.
LAMPIRAN III

PERINCIAN – PERINCIAN TEKNIS TENTANG ALAT – ALAT ISYARAT BUNYI

Suling

Frekuensi-frekuensi dan Jarak Dengar

Frekuensi dasar isyarat harus terletak dalam batas 70 – 700 Hz.

Jarak dengar isyarat dari suling harus ditentukan oleh frekuensi-frekuensi itu yang
dapat meliputi frekuensi dasar dan atau satu atau beberapa frekuensi yang lebih
tinggi, yang terletak dalam batas 180 – 700 Hz ( ± 1 persen ) dan yang menghasilkan
tingkat-tingkat tekanan bunyi yang disebutkan secara terperinci didalam paragrap 1
(c) dibawah ini.

Batas-batas dari Frekuensi-frekuensi Dasar

Untuk menjamin keragaman yang luas dari ciri-ciri suling, frekuensi dasar sebuah
suling harus terletak diantara batas-batas :

1. 70 – 200 Hz bagi kapal yang panjangnya 200 meter atau lebih ;

2. 130 – 350 Hz bagi kapal yang panjangnya 75 meter, tetapi kurang dari 200 meter ;

iii. 250 – 700 Hz bagi kapal yang panjangnya kurang dari 75 meter.

Kekuatan Isyarat Bunyi dan Jarak Dengar

Suling yang dipasang di kapal didalam arah kekuatan maksimum dari suling itu dan
disuatu tempat yang jaraknya 1 meter dan suling itu harus menghasilkan suatu
tingkat tekanan bunyi didalam sekurang-kurangnya 1 bidang ⅓ oktaf didalam batas-
batas frekuensi-frekuensi 180 – 700 Hz ( ± 1 persen ) yang tidak lebih kecil dari pada
angka yang sesuai dengan yang tercantum didalam tabel dibawah ini :
Panjang Kapal Tingkat lebar bidang Jarak dengar
⅓ oktaf di 1 meter dB
Dalam meter Dalam mil laut
Dengan acuan 2 x 10 N/m
-5 2

200 atau lebih 143 2

75 atau lebih tetapi 138 1,5

Kurang dari 200

20 atau lebih tetapi 130 1

Kurang dari 75

Kurang dari 20 120 0,5

Jarak dengar didalam tabel diatas itu digunakan sebagai informasi dan merupakan
perkiraan jarak yang pada jarak itu bunyi suling dapat terdengar disumbu depannya
dengan 90% kemungkinan dalam keadaan cuaca tenang disebuah kapal dengan
tingkat kebisingan latar belakang rata-rata di pos-pos pendengaran ( diambil sebesar
68 dB didalam bidang oktaf yang dipusatkan di 500 Hz ).

Didalam praktek, jarak terdengarnya bunyi suling itu sangat berubah-ubah dan
tergantung sekali pada keadaan cuaca, nilai-nilai yang diberikan itu dapat dianggap
sebagai nilai-nilai khas, tetapi dalam kondisi angin kencang atau keadaan tingkat
kebisingan sekitar yang tinggi di pos pendengaran, jarak dengar itu dapat banyak
berkurang.

Sifat-sifat Arah

Tingkat tekanan bunyi sebuah suling yang berarah disumbu disetiap arah dibidang
mendatar didalam ± 45° dari sumbu tidak boleh lebih dari 4 dB dibawah tingkat
tekanan bunyi diarah lain manapun dibidang mendatar itu tidak boleh lebih dari 10
dB dibawah tekanan bunyi yang ditentukan disumbu itu sehingga jarak dengan
disetiap arah akan sekurang-kurangnya sama dengan setengah jarak dengar disumbu
depan.

Tingkat tekanan bunyi itu harus diukur didalam bidang ⅓ oktaf yang menentukan
jarak dengar tersebut.

Penempatan Suling-suling

Bilamana sebuah suling berarah akan digunakan sebagai satu-satunya suling di


kapal, suling itu harus dipasang dengan kekuatan maksimumnya diarahkan lurus
kedepan.

Suling harus ditempatkan setinggi mungkin di kapal untuk mengurangi tertahannya


bunyi yang dihasilkan itu oleh rintangan-rintangan, demikian juga untuk
membatasi bahaya rusaknya indera pendengaran petugas hingga serendah mungkin.
Tingkat tekanan bunyi isyarat sendiri dari kapal di pos-pos pendengar tidak boleh
lebih dari 110 dB ( A) dan sedapat mungkin tidak lebih dari 100 dB (A).

Pemasangan lebih dari Satu Suling

Jika suling-suling dipasang dengan jarak lebih dari 100 meter, maka harus ditata
sedemikian rupa hingga suling-suling itu tidak dibunyikan secara serentak.

Sistem Suling Gabungan

Jika oleh adanya rintangan-rintangan sehingga isyarat bunyi dari suling tunggal atau
salah satu dari suling-suling yang diacukan didalam paragrap 1 (f) diatas itu sekiranya
mempunyai zona yang tingkat isyaratnya sangat kurang dianjurkan agar memasang
suatu sistem suling gabungan dengan maksud untuk mengatasi pengurangan ini.
Untuk memenuhi maksud-maksud dari Aturan-aturan ini sistem suling gabungan
harus dianggap sebagai suling tunggal.

Suling-suling dari sistem suling gabungan harus ditempatkan secara terpisah dengan
jarak yang tidak lebih dari 100 meter dan ditata untuk dibunyikan secara serentak,
frekuensi salah satu suling yang manapun harus berbeda dengan frekuensi suling-
suling yang lain dengan nilai sekurang-kurangnya 10 Hz.

Genta atau Gong

Intensitas Isyarat

Genta atau gong atau alat bunyi lain yang mempunyai ciri-ciri bunyi yang serupa
harus menghasilkan tingkat tekanan bunyi yang tidak lebih dari 110 dB pada jarak 1
meter dari genta atau gong itu.

Konstruksi

Genta-genta dan gong-gong harus dibuat dari bahan tahan karat dan dirancang untuk
menghasilkan nada yang bening.

Garis tengah mulut gentatidak boleh kurang dari 300 mm bagi kapal-kapal yang
panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 20 meter.

Persetujuan

Konstuksi alat-alat isyarat bunyi, cara kerjanya dan pemasangannya di kapal harus
dengan persetujuan pengusaha yang berwenang dari negara yang benderanya
dikibarkan oleh kapal secara sah.
LAMPIRAN IV

ISYARAT – ISYARAT BAHAYA

Isyarat-isyarat berikut ini digunakan atau diperlihatkan secara bersama-sama atau


sendiri-sendiri menunjukkan bahaya dan membutuhkan pertolongan :

Tembakan senjata atau isyarat ledak lainnya yang ditembakkan dengan selang waktu
kira-kira 1 menit ;

Membunyikan sembarang alat isyarat kabut secara terus menerus ;

Roket-roket atau peluru-peluru yang menebarkan bintang-bintang merah yang


ditembakkan satu demi satu dengan selang waktu singkat ;

Isyarat yang dipancarkan dengan telegrap radio atau dengan cara lain manapun yang
terdiri dari kelompok • • • ▬ ▬ ▬ • • • ( SOS ) dalam kode morse ;

Isyarat yang dipancarkan dengan telephon radio yang terdiri dari kata yang
dituturkan ” MEDE ” ;

Isyarat bahaya dari kode Internasional yang ditunjukan dengan ” NC ”

Isyarat yang terdiri dari sehelai bendera segi empat yang dibawah atau diatasnya
disambung dengan bola atau sesuatu yang menyamai bola ;

Nyala api di kapal ( misalnya dari tong ter, tong minyak yang sedang terbakar, dan
sebagainya ) ;

Cerawat payung roket atau obor tangan yang memperlihatkan cahaya merah ;

Isyarat asap yang menghasilkan asap berwarna jingga ;

Menaik turunkan lengan-lengan yang terentang kesamping secara perlahan-lahan


dan berulang-ulang ;

Tanda bahaya telegrap radio ;

Tanda bahaya telephon radio ;


Isyarat-isyarat yang dipancarkan oleh rambu-rambu penunjuk kedudukan darurat.

Penggunaan atau penunjukan setiap isyarat yang manapun dari isyarat-isyarat


tersebut diatas itu kecuali dengan maksud untuk menunjukan bahaya dan
membutuhkan pertolongan serta penggunaan isyarat-isyarat lain yang dapat
menimbulkan kekeliruan terhadap isyarat manapun dari isyarat-isyarat tersebut
diatas dilarang.

Perhatian dicurahkan kebagian-bagian kode internasional yang sesuai.

Buku petunjuk pencarian dan pemberian pertolongan kapal niaga serta isyarat-
isyarat berikut :

Sehelai kain terpal berwarna jingga dengan segi empat dan lingkaran hitam atau
lambung lain yang sesuai ( untuk pengenalan dari udara ) ;

Penanda zat warna.


LAMPIRAN TAMBAHAN

KONVENSI TENTANG PERATURAN-PERATURAN INTERNASIONAL

UNTUK MENCEGAH TUBRUKAN DI LAUT 1972

Peserta-peserta konvensi ini :

Berhasrat mempertahankan tingkat tinggi keselamatan di laut, sadar akan kebutuhan


untuk meninjau kembali dan memutakhirkan Peraturan-peraturan Internasional
untuk Mencegah Tubrukan di Laut yang dilampirkan pada Piagam Wasana
Konperensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut 1960.

Setelah mempertimbangkan Peraturan-peraturan itu dengan memperhatikan


perkembangan-perkembangan semenjak disetujui, telah menyetujui sebagai berikut
:

PASAL I

KEWAJIBAN – KEWAJIBAN UMUM

Peserta-peserta konvensi ini terikat untuk melaksanakan Aturan-aturan dan


Lampiran-lampiran lain yang merupakan Peraturan-peraturan Internasional untuk
Mencegah Tubrukan di Laut 1972 ( selanjutnya teracu sebagai ” Peraturan ” yang
dilekatkan padanya.

PASAL II

PENANDATANGANAN PENGESAHAN PENERIMAAN PENYETUJUAN DAN


PENYERTAAN

Konvensi ini akan tetap terbuka untuk penandatanganan sampai 1 Juni 1973 dan
setelah tanggal itu akan tetap terbuka untuk penyertaan.
Negara-negara Anggota Perserikatan Bangsa-bangsa atau setiap Perwakilan Khusus
atau Badan Tenaga Atom Internasional, atau Peserta Penandatanganan Ketentuan-
ketentuan Mahkamah Internasional boleh menjadi Peserta Konvensi ini dengan :

Penandatanganan tanpa syarat mengenai pengesahan, penerimaan atau penyetujuan


;

Penandatanganan dengan syarat pengesahan, penerimaan atau penyetujuan disusul


dengan pengesahan, penerimaan atau penyetujuan ;

Pengertian.

Pengesahan, penerimaan, penyetujuan atau penyerahan akan mulai berlaku dengan


menyerahkan dokumen yang bersangkutan kepada Organisasi Konsultatif Maritim
Antar Pemerintah ( selanjutnya teracu sebagai ” Organisasi ” ) untuk disimpan yang
akan memberitahukan kepada pemerintah dari Negara-negara yang telah
menandatangani atau menyetujui konvensi ini tentang penyampaian masing-masing
dokumen dan tanggal penyerahannya.

PASAL III

PENERAPAN WILAYAH

Perserikatan bangsa-bangsa dalam hal ini menjalankan penguasaan administrasi


untuk suatu wilayah atau setiap peserta penandatanganan yang bertanggung jawab
untuk hubungan Internasional suatu wilayah boleh memperluas konvensi ini
kewilayah demikian pada setiap waktu dengan pemberitahuan secara tertulis kepada
Sekretaris Jenderal Organisasi ( yang selanjutnya teracu sebagai ” Sekretaris Jenderal
”.

Konvensi yang sekarang ini pada tanggal penerimaan pemberitahuan atau semenjak
tanggal lain yang demikian yang dapat disebutkan didalam pemberitahuan akan
diperluas kewilayah yang disebut didalamnya.

Setiap pemberitahuan yang dilakukan sesuai dengan ayat 1 pasal ini dapat ditarik
kembali berkenaan dengan setiap wilayah yang disebutkan didalam pemberitahuan
tersebut dan perluasan konvensi ini kewilayah tersebut akan tidak berlaku lagi setelah
satu tahun atau suatu kurun waktu yang lebih lama yang dapat disebut pada saat
penarikan kembali.

Sekretaris Jenderal akan memberitahukan kepada semua Peserta Penandatanganan


tentang pemberitahuan dari setiap perluasan atau penarikan kembali setiap
perluasan yang diumumkan berdasarkan pasal ini.

PASAL IV

MULAI BERLAKUNYA

1. Konvensi ini mulai berlaku dua belas bulan setelah tanggal yang pada waktu
itu sekurang-kurangnya 15 Negara yang jumlah armada niaga seluruhnya
merupakan sekurang-kurangnya 65% jumlah armada dunia atau tonase armada
kapal dunia yang isi kotornya 100 ton keatas telah menjadi peserta Konvensi, mana
saja yang dicapai lebih dahulu.

2. Lepas dari pada ketentuan-ketentuan didalam sub ayat (a) ayat ini, konvensi ini
tidak akan mulai berlaku sebelum tanggal 1 Januari 1976.

Mulai berlakunya bagi Negara-negara yang mengesahkan, menerima atau menyetujui


atau menyertai Konvensi ini sesuai dengan Pasal II setelah syarat-syarat yang
ditetapkan didalam subayat 1 (a) dipenuhi dan sebelum Konvensi mulai berlaku,
adalah pada tanggal mulai berlakunya Konvensi.

Mulai berlakunya bagi Negara-negara yang mengesahkan, menerima, menyetujui


atau menyertai setelah Konvensi inimulai berlaku, adalah pada tanggal penyampaian
dokumen sesuai dengan Pasal II.

Setelah tanggal mulai berlakunya suatu perubahan Konvensi ini sesuai dengan ayat 3
Pasal VI, maka setiap pengesahan, penerimaan, penyetujuan atau penyertaan akan
berlaku terhadap Konvensi yang telah diubah.

Pada tanggal mulai berlakunya Konvensi Peraturan-peraturan ini menggantikan dan


mencabut Peraturan-peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di laut 1960.
Sekretaris Jenderal akan memberitahukan kepada Pemerintah dari Negara-negara
yang telah menandatangani atau menyetujui Konvensi ini tentang tanggal mulai
berlakunya.

PASAL V

KONPERENSI PERBAIKAN

Suatu Konperensi dengan maksud untuk meninjau kembali Konvensi atau Peraturan-
peraturan ini atau kedua-duanya dapat diselenggarakan oleh Organisasi.

Organisasi akan mengundang suatu Konperensi para peserta Penandatangan dengan


maksud untuk meninjau kembali Konvensi atau Peraturan-peraturan ini atau kedua-
duanya atas permintaan dari tidak kurang dari sepertiga para Peserta Penandatangan.

PASAL VI

PERUBAHAN – PERUBAHAN ATAS PERATURAN – PERATURAN

Setiap perubahan atas Peraturan-peraturan yang diusulkan oleh peserta


penandatangan akan dipertimbangkan didalam Organisasi atas permintaan Peserta
tersebut.

Apabila diterima oleh dua pertiga mayoritas dari para Peserta Penandatangan yang
hadir dan memberikan suara didalam Komisi Keselamatan Maritim dari Organisasi,
maka perubahan demikian akan diberitahukan kepada semua Peserta Penandatangan
dan para Anggota Organisasi sekurang-kurangnya enam bulan sebelum
dipertimbangkan oleh Majelis Organisasi.

Setiap Peserta penandatangan yang bukan Anggota Organisasi akan diberi hak untuk
berperan serta bilamana perubahan itu dipertimbangkan oleh Majelis.

Apabila diterima oleh duapertiga mayoritas dari para Peserta Penandatangan yang
hadir dan memberikan suara didalam majelis, maka Sekretaris Jenderal akan
memberitahukan perubahan itu kepada semua peserta penandatangan atas
penerimaan mereka.

Perubahan demikian akan mulai berlaku pada suatu tanggal yang akan ditentukan
oleh Majelis pada waktu yang sama, lebih dari sepertiga dari para Peserta
Penandatangan memberitahu Organisasi tentang keberatan-keberatan mereka
terhadap perubahan itu. Penentuan oleh Majelis sehubungan dengan tanggal-tanggal
yang teracu didalam ayat ini harus dilakukan oleh dua pertiga mayoritas dari mereka
yang hadir dan memberikan suara.

Dengan mulai berlakunya maka setiap ketentuan terdahulu yang teracu oleh
perubahan, bagi semua Peserta Penandatangan yang tidak berkeberatan terhadap
perubahan tersebut.

Sekretaris Jenderal akan memberitahukan kepada semua peserta penandatangan


tentang setiap permintaan dan komunikasi didalam Pasal ini serta tanggal mulai
berlakunya setiap perubahan.

PASAL VII

PEMUTUSAN

Konvensi ini dapat diputuskan oleh Peserta Penandatangan pada setiap waktu setelah
berakhirnya lima tahun terhitung sejak tanggal mulai berlakunya Konvensi bagi
peserta tersebut.

Pemutusan akan berlaku setelah penyampaian dokumen kepada Organisasi untuk


disimpan. Sekretaris Jenderal akan memberitahukan kepada semua Peserta
Penandatangan tentang penerimaan dokumen pemutusan dan tentang tanggal
penyampaiannya.

Suatu pemutusan akan berlaku satu tahun, atau kurun waktu yang lebih lama yang
dapat disebutkan didalam dokumen setelah penyampaiannya.
PASAL VIII

PENYIMPANAN DAN PENDAFTARAN

Konvensi dan Peraturan-peraturan ini akan disimpan oleh Organisasi dan Sekretaris
Jenderal akan mengirimkan salinan-salinanya sesuai dengan aslinya yang disahkan
kepada semua Pemerintah dari Negara-negara yang telah menandatangani Konvensi
ini atau menyertainya.

Bilamana Konvensi ini mulai berlaku, naskahnya akan dikirimkan oleh Sekretaris
Jenderal ke Sekretariat Perserikatan Bangsa-bangsa untuk didaftar dan diumumkan
sesuai dengan Pasal 102 Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.

PASAL IX

BAHASA

Konvensi ini dibuat bersama-sama dengan Peraturan-peraturannya, dalam naskah


rangkap tunggal dalam bahasa Inggris dan bahasa Perancis, kedua naskah itu sama
Otentiknya.

Alih bahasa – alih bahasa dalam bahasa Rusia dan bahasa Spanyol akan disiapkan dan
disimpan bersama dengan naskah asli yang ditanda tangani.

Selaku saksi untuk hal-hal tersebut di atas, yang bertanda tangan di bawah ini diberi
wewenang dengan sepatutnya oleh Pemerintah mereka untuk maksud itu, telah
menandatangani Konvensi yang sekarang ini.

Dilakukan di London, pada tanggal dua puluh Oktober seribu sembilan ratus tujuh
puluh dua.

Anda mungkin juga menyukai