Pembinaan Atlet FPTI Surabaya
Pembinaan Atlet FPTI Surabaya
ABSTRAK
Olahraga panjat tebing di Surabaya merupakan salah satu cabang olahraga yang saat ini mulai
digemari masyarakat mulai dari kalangan usia dini hingga dewasa. Olahraga ini di Surabaya dari tahun ke
tahun selalu berkembang dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan pencapaian prestasi dari FPTI Kota
Surabaya yang selalu menjadi juara umum di beberapa kejuaraan tahun-tahun terakhir ini. Adapun tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembinaan atlet di FPTI Kota Surabaya ditinjau
dari segala aspek pendukungnya, mulai dari sumber daya manusia, program latihan, dan sarana prasarana.
Penelitian yang akan dilakukan adalah berjenis penelitian kuantitatif karena data penelitian berupa
angka-angka. Sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan
pendekatan deskriptif yaitu dari data angka untuk kemudian didapatkan deskripsi atau penjelasan tentang
sebuah fenomena atau peristiwa yang hanya fokus pada apa yang sedang terjadi.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa untuk pembinaan
cabang olahraga di FPTI Kota Surabaya mempunyai rata-rata mencapai 79 dengan persentase 79% yaitu
dalam kategori baik. Hal tersebut bisa dilihat dari segi sumber daya manusia, sarana prasarana dan program
latihan yang sangat menunjang untuk pembinaan cabang olahraga panjat tebing sehingga FPTI Kota
Surabaya bisa dibilang adalah kota atau kontingen yang tangguh terutama dari segi prestasi di setiap
kompetisi atau kejuaraan. Dari mulai pengurus, pelatih, dan atlet di FPTI Kota Surabaya adalah mereka-
meraka yang berkompeten dan berkualitas. Pelatih telah memiliki lisensi kepelatihan walaupun hanya
beberapa saja, akan tetapi hal tersebut dapat ditutupi dengan pengalamannya di bidang panjat tebing dan
ditunjang dengan loyalitas serta kemampuan untuk menganyomi atlet-atletnya. Sarana dan prasarana yang
dimiliki oleh FPTI Kota Surabaya sangat memadai untuk melakukan pembinaan prestasi.
ABSTRACT
Sport climbing in Surabaya is one sport that is currently gaining popular society ranging from the
early childhood to adulthood. This sport in Surabaya from year to year is always well developed. This was
evidenced by the achievement of FPTI Surabaya, which has always been the overall champion in several
championships in recent years. The purpose of this research was to describe the process of coaching athletes
in FPTI Surabaya in terms of all aspects of his supporters, ranging from human resources, training programs,
and infrastructure.
Research that will be done are of the quantitative research because research data are numbers. While
the approach used in this research is a quantitative research with a descriptive approach of the numeric data
for later earned a description or explanation of a phenomenon or event that only focus on what is
happening.
Based on the results of research and discussion, it can be concluded that for coaching sports in the
city of FPTI Surabaya has average reached 79 with percentage 79%% which is good category. It can be seen in
terms of human resources, infrastructure and the training program is support for coaching the sport of rock
climbing so FPTI Surabaya arguably the city or a strong contingent, especially in terms of achievements in
any competitions or championships. From the start of administrators, coaches, and athletes in FPTI Surabaya,
they are those who are competent and qualified. The coach has had a coaching license even though only a
few, but it can be covered with rock climbing experience in the field and supported by the loyalty and the
1
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544
ability to protect athletes. Facilities and infrastructure owned by FPTI Surabaya is sufficient to do the
coaching achievements.
2
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544
ekstrim karena sangat mengacu adrenalin. Tidak 3. Kejuaraan Nasional Kelompok Umurr FPTI
hanya skill, tetapi juga diperlukan mental yang kuat 4. Kompetisi Regional.
dalam olahraga ini. Memang di awal tujuan dari 5. Kompetisi Regional kelompok Umur.
olahraga ini adalah hanya merupakan olahraga 6. Kejuaraan daerah atau Sirkuit Daerah
prestasi, namun seiring berkembangnya jaman 7. Even Kompetisi Nasional dan Daerah. (FPTI,
olahraga ini telah menjadi olahraga prestasi. 2014:1-2)
Perkembangan panjat tebing di Indonesia mulai4. Kategori kegiatan, yang terdiri dari :
pada sekitar tahun 1960, dimana tebing di Citataha. a. Lead (Runner) : pemanjatan dilakukan
Bandung mulai dipakai sebagai ajang latihan oleh dengan pemanjat memasang titik pengaman saat
pasukan angkatan darat kita. Pertama kali panjat melakukan pemanjatan. Gerak maju sepanjang
tebing modern di Indonesia adalah tahun 1976, sumbu jalur menentukan peringkat pemanjat. (FPTI,
dimana Harry Suliztiarto mulai berlatih memanjat 2014:7)
di Citatah. Diteruskan tiga orang rekannya, Heri Sedangkan menurut Yunarto (2009:10), dalam
Hermanu, Dedy Hikmat, dan Agus R, yang pada panjat tebing, digunakan alat pengaman dimana tali
tahun 1977 mendirikan SKYGERS Amateur Rock dikaitkan di dalamnya untuk menjaga pengaman
Climbing Group. SKYGERS sendiri yaitu komunitas agar tidak terjatuh.
yang bergerak di bidang panjat tebing. Hinggab. b. Boulder : Boulder dilakukan tanpa
akhirnya diadakan rapat paripurna Nasional FPTI menggunakan tali pengaman. Rute boulder
yang pertama kali diselenggarakan di Jawa Barat biasanya pendekdan tidak mudah. Olahraga ini
tahun 1991. Kejurnas panjat tebing I, dilakukan pada batu atau dinding dengan
diselenggarakan di Padang tahun 1992 dengan juara ketinggian maksimal lima meter dari permukaan
adalah kontingen asal Jakarta. ( Darsono, 2008:29) tanah. Jika dilakukan lebih tinggi dari itu, pemanjat
akan mengalami cidera serius ketika terjatuh.
B. Federasi Panjat Tebing Indonesia (Yunarto, 2009:8)
Federasi Panjat Tebing Indonesia adalah sebuah Pemanjatan jalur pendek dilakukan tanpa tali
federasi yang bertanggung jawab terhadap dan dilengkapi dengan matras pendaratan untuk
admanistrasi serta pengembangan segala aspek keamanan. Jumlah jalur boulder yang berhasil
yang berhubungan dengan olahraga dan kompetisi diselesaikan menentukan peringkat pemanjat. (FPTI,
panjat tebing Indonesia. 2014:7)
Hanya anggota FPTI, atau organisasi-organisasic. c. Speed : Pemanjatan dilakukan
khusus yang telah dikenal oleh FPTI yang dengan sebuah tali pengaman yang telah terpasang
diperbolehkan untuk mengajukan permohonan top rope. Waktu untuk menyelesaikan jalur
menyelenggarakan sebuah kompetisi yang diakui menentukan peringkat pemanjat. (FPTI, 2014:7)
oleh FPTI. Kompetisi panjat tebing nasional yang Sedangkan top rope sendiri adalah teknik
memerlukan rekomendasi untuk disetujui dan memanjat dengan tali sudah dikaitkan di puncak
diakui FPTI adalah sebagai berikut : dinding sebagai pengaman. (Yunarto, 2009:11)
1. Jenis Kejuaraan, yang terdiri dari :
1. Terbuka. C. Pengertian Pembinaan
2. Militer. Menurut Lutan Rusli dkk (2000:11), pembinaan
3. Kelompok Umur. adalah sebagai usaha mengorganisasi atau cara
4. Pelajar. untuk mencapai suatu tujuan. Pembinaan berarti
2. Tingkat Kejuaran, yang terdiri dari : usaha, atau tindakan dan kegiatan yang dilakukan
1. Nasional. secara berdayaguna dan berhasil guna untuk
2. Regional. memperoleh hasil yang lebih baik.
3. Provinsi atau Daerah. Pembinaan dan pengembangan olahraga
4. Kabupaten atau Kota. melalui tahap pengenalan olahraga, pemantauan,
3. Kejuaraan yang direkomendasikan FPTI, yaitu : pemanduan, pengembangan bakat dan peningkatan
1. Sirkuit Nasional prestasi dalam jalur keluarga, jalur pendidikan dan
2. Kejuaraan Nasional FPTI jalur masyarakat. Pembinaan dan pengembangan
2
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544
sebagaimana dimaksud harus dilakukan sebagai Menurut Lutan Rusli dkk (2000: 49-51)
proses yang terpadu, berjenjang dan berkelanjutan. pembinaan atlet dibagi menjadi empat tahap
(Muryadi Agustanico Dwi, 2013:5) berdasarkan usia, yaitu Pembinaan usia kurang
Suatu sistem memiliki beberapa komponen dari 10 tahun, Remaja awal 11 – 14 tahun, Remaja
yang didalamnya perlu mendapat penanganan akhir 15 – 19 tahun, dan Dewasa.
individu-individu tertentu yang disesuaikan dengan
pertimbangan tertentu untuk menjalankan sistem E. Pembinaan Kualitas Atlet
tersebut. sehingga proses pembinaan selalu Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
membutuhkan keterlibatan organisasi. Proses pembinaan dalam olahraga :
pembinaan olahraga harus dipahami sebagai sebuah 1. Tersedianya atlet potensial yang mencukupi
sistem yang kompleks, sehingga masalah-masalah [Link] pelatih profesional & dapat
yang terdapat di dalamnya perlu di telaah dari menerapkan IPTEK
sudut pandang yang luas. (Ruslan, 2011: 47-48) 3. Tersedianya sarana prasarana dan kelengkapan
olahraga yang mencukupi
D. Tahap Pembinaan [Link] program yang berjenjang dan
Untuk mencapai prestasi atlet secara maksimal berkelanjutan, ditunjang dengan adanya anggaran
diperlukan pembinaan yang terprogram, terarah yang mencukupi dan hubungan yang baik antara
dan berkesinambungan serta didukung dengan semua pihak (atlet, pelatih, pembina, pengurus,
penunjang yang memadai. Dan untuk mancapai Pengprov, KONI, dan Pemerintah)
prestasi optimal atlet, juga diperlukan pelatihan [Link] adanya tes and pengukuran kondisi
yang intensif dan berkesinambungan, bervariasi, kesehatan, fisik , dan psikologis atlet secara
bermutu dan berkualitas. periodik. (Danardono, 2008:4)
Menurut Nugroho (2014:2), prestasi olahraga Menurut Harsono (1988:199), konsekuensi yang
panjat tebing tidak dapat dicapai dengan serta logis dari sistem latihan dengan kualitas yang tinggi
merta. Berbagai strategi dan upaya pembinaan perlu biasanya adalah prestasi yang tinggi. Kecuali faktor
ditempuh dalam rangka untuk meningkatkan pelatih, ada faktor-faktor lain yang mendukung dan
perkembangan prestasi olahraga panjat tebing. ikut menentukan kualitas training yaitu hasil-hasil
Upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan penemuan penelitian, fasilitas dan peralatan latihan,
prestasi olahraga panjat tebing secara nasional hasil-hasil evaluasi dari pertandingan-pertandingan,
diantaranya yaitu dengan pemassalan, pembibitan, kemampuan atlet dan sebagainya.
pemanduan bakat, peningkatan prasarana dan Dari beberapa kutipan di atas, terdapat banyak
sarana, serta penerapan ilmu pengetahuan dan sekali faktor yang mempengaruhi prestasi atlet.
teknologi dalam pelatihan. Karena banyaknya faktor yang berpegaruh prestasi
Menurut Hartono (2008:20), dalam pembinaan atlet, maka peneliti meneliti pada faktor langsung
olahraga, biasa mengikuti tahap–tahap pembinaan yang tentunya dapat berpengaruh terhadap
yang didasarkan pada teori piramida. Berdasarkan peningkatan kualitas atlet di FPTI Kota Surabaya
konsep piramida pembinaan olahraga yang yang terdiri dari :
bertahap, berjenjang dan bersinambungan, maka 1. Faktor Organisasi
jangkauan pembinaan olahraga yang populis, Menurut Nitisusastro (2010:155), organisasi
sasarannya adalah : kegiatan olahraga masyarakat adalah sekelompok orang yang bekerja sama
yang bersifat 5 – M (murah, meriah, massal, menarik dalam suatu struktur dan pola tertentu untuk
dan manfaat). mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Menurut Irianto Djoko Pekik (2002:27), para ahli Menurut Handoko (2009:8), secara umum
olahraga seluruh dunia sependapat, bahwa organisasi diartikan proses perencanaan,
perlunya tahap-tahap pembinaan untuk pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan
menghasilkan prestasi olahraga yang tinggi, yaitu usaha-usaha para anggota organisasi dan
melalui tahap pemassalan, pembibitan dan penggunaan sumber daya-sumber daya
pembinaan prestasi. organiasi lainnya agar mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.
3
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544
4
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544
5
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544
6
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544
Dari hasil persepsi atlet dan pelatih terhadap Dalam pembinaan prestasi olahraga
program latihan di FPTI Kota Surabaya mendapat membutuhkan figur yang dapat memenuhi
rata-rata 83% dan dikategorikan dengan kriteria kriteria sesuai dengan standard kepelatihan.
sangat baik. Begitu juga dengan pembinaan di FPTI Kota
Surabaya, proses penentuan figur atau
4. Pembinaan rekruitmen pelatih didasarkan pada beberapa
Hasil angket atau kusioner penelitian persepsi kriteria atau kualifikasi yang harus dimiliki. Hal
atlet, pengurus, dan pelatih terhadap pembinaan tersebut telah dimiliki oleh FPTI Kota Surabaya,
cabang olahraga panjat tebing di FPTI Kota dimana mereka mempunyai sosok pelatih yang
Surabaya adalah sebagai beikut : sebagai berikut :
1) Berkompeten di bidangnya, yaitu bidang
Tabel Persepsi Atlet, Pengurus, dan Pelatih panjat tebing
Terhadap Pembinaan
2) Aktif dan memiliki loyalitas yang tinggi
Indikator
Total Persentase 3) Berangkat dari atlet sehingga punya
Pembinaan
pengalaman yang baik tentang panjat tebing
SDM 773 75% 4) Berpengalaman ataupun punya dasar
Sarana sebagai seorang pelatih dan pernah juara
Prasarana 1265 79% 5) Mempunyai program latihan yang jelas
Program 6) Mampu menganyomi atlet-atletnya
1123
Latihan 83% 7) Mempunyai disiplin waktu
Rata-Rata 79% 8) Mampu berkoordinasi dengan pelatih lain
dalam menjalankan program latihan
Berdasarkan tabel persentase di atas maka FPTI Kota Surabaya, untuk proses
pembinaan cabang olahraga panjat tebing di FPTI perekrutan atlet dilakukan dengan melihat hasil
Kota Surabaya termasuk kategori baik dengan prestasi atlet di kompetisi tahun sebelumnya.
angka persentase 79%. Diluar itu juga diserahkan kepada pelatih
dengan melihat atlet-atlet yang berpotensi di
B. Pembahasan Surabaya. Atlet FPTI Kota Surabaya semua
mempunyai skill yang berkompeten dan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap kualitasnya pun juga tidak perlu diragukan lagi.
pembinaan cabang olahraga panjat tebing di FPTI Hal itu dibuktikan dari kejuaraan-kejuaraan
Kota Surabaya mempunyai persentase 79% dengan yang pernah diikuti mereka hingga prestasi
kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi yang mereka miliki di tiap kejuaraan tersebut.
atlet, pelatih, dan pengurus terhadap pembinaan Akan tetapi dari atlet, mereka terkadang masih
adalah baik sekali. kurang disiplin karena terkadang tidak semua
Saat ini roda organisasi di FPTI Kota Surabaya atlet bisa hadir dalam latihan. Apalagi mereka
berjalan relatif baik. Mereka telah mempunyai suatu terbilang masih anak-anak sehingga dalam
struktur kepengurusan untuk menjalankan suatu berjalannya latihan masih ada atlet yang kurang
organisasi tersebut. Untuk proses perekrutan serius dalam berlatih. Penegakan peraturan
pengurus di FPTI Kota Surabaya akan melihat sangat perlu dilakukan kepada atlet yang
kompetensi, selain itu juga melihat kinerja atau berperilaku kurang disiplin dan tidak mengikuti
loyalitas dari suatu SDM. Untuk kekurangan yang latihan pada jadwal yang telah ditentukan.
dimiliki FPTI Kota Surabaya adalah jumlah Program latihan di FPTI Kota Surabaya
pengurus yang dirasa masih kurang. Ada sedikit sudah berjalan dengan sistematis dan terjadwal.
kekurangan dari kinerja di beberapa seksi, akan Adapun program latihan atlet secara berkala
tetapi hal itu masih bisa diatasi. Sebenarnya dalam satu minggu yaitu lima kali setiap hari
kekurangan jumlah pengurus diupayakan untuk senin, selasa, rabu, kamis, dan sabtu setiap
adanya penambahan SDM agar FPTI Kota Surabaya pukul empat sore hingga delapan malam. Ada
bisa berjalan lebih baik lagi. hari-hari dimana atlet menjalankan fisik yang
7
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544
berfokus pada kekuatan dan ketahanan atlet suatu cabang olahraga bisa berjalan sesuai
dan ada hari dimana atlet berfokus pada dengan terget dan proses pencapaian prestasi
memanjat untuk mengasah skill dan teknik atlet. bisa menjadi lebih maksimal.
Untuk latihan sendiri disesuaikan dengan
kategori masing-masing. Ketika menjelang PENUTUP
kejuaraan, maka akan diberikan program
khusus sesuai dengan kebutuhan masing- A. Simpulan
masing atlet yang akan tampil dalam kejuaraan Dari hasil penelitian menjelaskan bahwa
tersebut. Selain program latihan, di FPTI Kota pembinaan cabang olahraga panjat tebing di
Surabaya juga dilakukan evaluasi guna untuk FPTI Kota Surabaya mempunyai persentase
memperbaiki kekurangan atlet. Evaluasi rata-rata mencapai 79% yaitu baik dan dapat
tersebut langsung diberikan oleh pelatih ketika diambil simpulan sebagai berikut:
atlet usai melakukan pemanjatan. Ada juga Pembinaan cabang olahraga panjat tebing di
evaluasi rutin yang dilaksanakan dalam waktu FPTI Kota Surabaya adalah sangat baik. Hal
dua minggu sekali dimana skill, fisik, maupun tersebut bisa dilihat dari segi sumber daya
mental atlet yang akan dijadikan puast manusia, sarana prasarana dan program latihan
perhatian. Selain itu, ada juga evaluasi yang yang sangat menunjang untuk pembinaan
dilakukan paska kompetisi. Sehingga dari cabang olahraga panjat tebing sehingga FPTI
evaluasi-evaluasi tersebut diharapkan FPTI Kota Kota Surabaya bisa dibilang adalah kota atau
Surabaya juga semakin berprestasi di bidang kontingen yang tangguh terutama dari segi
panjat tebing. prestasi di setiap kompetisi atau kejuaraan. Dari
Sarana dan prasarana olahraga merupakan mulai pengurus, pelatih, dan atlet di FPTI Kota
hal yang sangat penting dan mendasar dalam Surabaya adalah mereka-meraka yang
pelaksanaan olahraga, tanpa adanya fasilitas berkompeten dan berkualitas. Pelatih telah
yang memadai maka seorang atlet tidak memiliki lisensi kepelatihan walaupun hanya
mungkin tersalurkan bakatnya dalam latihan beberapa saja, akan tetapi hal tersebut dapat
secara maksimal. Adapun sarana dan prasarana ditutupi dengan pengalamannya di bidang
yang dimiliki oleh FPTI Kota Surabaya sudah panjat tebing dan ditunjang dengan loyalitas
memadai. (Kusnanik, 2013: 135) serta kemampuan untuk menganyomi atlet-
FPTI Kota Surabaya telah memiliki atletnya. Sarana dan prasarana yang dimiliki
sekretariat ataupun asrama yang dapat oleh FPTI Kota Surabaya sangat memadai untuk
dijadikan tempat penginapan dan istirahat atlet melakukan pembinaan prestasi.
yang kecapekan setelah latihan. Kemudian, FPTI
Kota Surabaya juga telah memiliki tiga dinding B. Saran
panjat, yaitu speed, lead, dan border yang sesuai Dari atlet perlu adanya sanksi tegas atau
dengan standard kompetisi di Indonesia. penegakan peraturan kepada atlet yang
Kondisinya pun juga masih sangat layak baik berperilaku kurang disiplin dan tidak mengikuti
digunakan untuk latihan maupun kompetisi. latihan pada jadwal yang telah ditentukan.
Selain itu juga memiliki alat-alat panjat yang Untuk pengurus seharusnya melakukan
layak. Sarana prasarana juga dilakukan penambahan jumlah pengurus kalau memang
peremajaan dan perawatan, serta penambahan dirasa diperlukan agar sistem organisasi di FPTI
alat kalau memang dirasa diperlukan. Kota Surabaya bisa berjalan dengan baik lagi.
Pembinaan yang tercapai secara maksimal Perlu adanya tim ahli fisioterapi khusus untuk
tidaklah lepas dari beberapa aspek pendukung FPTI Kota Surabaya yang berguna untuk
mulai dari sumber daya manusia yang menangani atlet yang cidera baik saat latihan
berkompeten, sarana prasarana yang memadai, maupun saat kejuaraan. Dari pelatih setidaknya
dan program latihan yang jelas. FPTI Kota harus memiliki sertifikat atau lisensi pelatih
Surabaya telah memiliki hal tersebut. Sehingga sebagai penunjang selain pengalaman di
hal itulah yang dibutuhkan agar pembinaan bidangnya. Untuk sarana dan prasarana perlu
8
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544