0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan10 halaman

Pembinaan Atlet FPTI Surabaya

Tiga kalimat ringkuman artikel tersebut adalah: Artikel ini mendeskripsikan proses pembinaan atlet panjat tebing di Federasi Panjat Tebing Indonesia Kota Surabaya, yang mencakup sumber daya manusia, sarana prasarana, dan program latihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan atlet di FPTI Kota Surabaya berjalan dengan baik dan mendukung prestasi atlet.

Diunggah oleh

anggi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan10 halaman

Pembinaan Atlet FPTI Surabaya

Tiga kalimat ringkuman artikel tersebut adalah: Artikel ini mendeskripsikan proses pembinaan atlet panjat tebing di Federasi Panjat Tebing Indonesia Kota Surabaya, yang mencakup sumber daya manusia, sarana prasarana, dan program latihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan atlet di FPTI Kota Surabaya berjalan dengan baik dan mendukung prestasi atlet.

Diunggah oleh

anggi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Kesehatan Olahraga Vol.

06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

PEMBINAAN CABANG OLAHRAGA PANJAT TEBING


DI FEDERASI PANJAT TEBING INDONESIA
KOTA SURABAYA

Anang Kurniawan Abadi


Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Surabaya

ABSTRAK

Olahraga panjat tebing di Surabaya merupakan salah satu cabang olahraga yang saat ini mulai
digemari masyarakat mulai dari kalangan usia dini hingga dewasa. Olahraga ini di Surabaya dari tahun ke
tahun selalu berkembang dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan pencapaian prestasi dari FPTI Kota
Surabaya yang selalu menjadi juara umum di beberapa kejuaraan tahun-tahun terakhir ini. Adapun tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembinaan atlet di FPTI Kota Surabaya ditinjau
dari segala aspek pendukungnya, mulai dari sumber daya manusia, program latihan, dan sarana prasarana.
Penelitian yang akan dilakukan adalah berjenis penelitian kuantitatif karena data penelitian berupa
angka-angka. Sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan
pendekatan deskriptif yaitu dari data angka untuk kemudian didapatkan deskripsi atau penjelasan tentang
sebuah fenomena atau peristiwa yang hanya fokus pada apa yang sedang terjadi.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa untuk pembinaan
cabang olahraga di FPTI Kota Surabaya mempunyai rata-rata mencapai 79 dengan persentase 79% yaitu
dalam kategori baik. Hal tersebut bisa dilihat dari segi sumber daya manusia, sarana prasarana dan program
latihan yang sangat menunjang untuk pembinaan cabang olahraga panjat tebing sehingga FPTI Kota
Surabaya bisa dibilang adalah kota atau kontingen yang tangguh terutama dari segi prestasi di setiap
kompetisi atau kejuaraan. Dari mulai pengurus, pelatih, dan atlet di FPTI Kota Surabaya adalah mereka-
meraka yang berkompeten dan berkualitas. Pelatih telah memiliki lisensi kepelatihan walaupun hanya
beberapa saja, akan tetapi hal tersebut dapat ditutupi dengan pengalamannya di bidang panjat tebing dan
ditunjang dengan loyalitas serta kemampuan untuk menganyomi atlet-atletnya. Sarana dan prasarana yang
dimiliki oleh FPTI Kota Surabaya sangat memadai untuk melakukan pembinaan prestasi.

ABSTRACT

Sport climbing in Surabaya is one sport that is currently gaining popular society ranging from the
early childhood to adulthood. This sport in Surabaya from year to year is always well developed. This was
evidenced by the achievement of FPTI Surabaya, which has always been the overall champion in several
championships in recent years. The purpose of this research was to describe the process of coaching athletes
in FPTI Surabaya in terms of all aspects of his supporters, ranging from human resources, training programs,
and infrastructure.
Research that will be done are of the quantitative research because research data are numbers. While
the approach used in this research is a quantitative research with a descriptive approach of the numeric data
for later earned a description or explanation of a phenomenon or event that only focus on what is
happening.
Based on the results of research and discussion, it can be concluded that for coaching sports in the
city of FPTI Surabaya has average reached 79 with percentage 79%% which is good category. It can be seen in
terms of human resources, infrastructure and the training program is support for coaching the sport of rock
climbing so FPTI Surabaya arguably the city or a strong contingent, especially in terms of achievements in
any competitions or championships. From the start of administrators, coaches, and athletes in FPTI Surabaya,
they are those who are competent and qualified. The coach has had a coaching license even though only a
few, but it can be covered with rock climbing experience in the field and supported by the loyalty and the

1
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

ability to protect athletes. Facilities and infrastructure owned by FPTI Surabaya is sufficient to do the
coaching achievements.

pembinaan atlet di FPTI Kota Surabaya ditinjau dari


PENDAHULUAN
segala aspek pendukungnya.
Latar Belakang
Olahraga panjat tebing merupakan salah satu Manfaat Penelitian
cabang olahraga yang saat ini mulai digemari 1. Manfaat Teoritis
masyarakat indonesia khususnya para pemuda dan a. Meningkatkan kemampuan dalam berfikir
orang yang berjiwa muda. Hal ini terlihat dari ilmiah
bertambah banyaknya perkumpulan olahraga b. Bisa dijadikan bahan referensi untuk
panjat tebing baik di kota maupun di daerah yang penelitian berikutnya
tergabung dalam suatu perkumpulan Federasi 2. Manfaat Praktis
Panjat Tebing Indonesia yang biasa disingkat a. Menambah wawasan dan pengetahuan
dengan FPTI. tentang cabang olahraga panjat tebing
Seiring berjalannya waktu, dalam era sekarang b. Mengetahui proses dan perkembangan
olahraga panjat tebing menjadi salah satu cabang pembinaan FPTI Kota Surabaya
olahraga yang cukup popular dan digemari di c. Memberi gambaran tentang skuad yang
Indonesia. Hal itu terbukti dari munculnya bibit- dimiliki FPTI Kota Surabaya
bibit muda yang berkompetensi baik dari kota d. Mampu manjadi bahan evaluasi untuk FPTI
maupun kabupaten. Disisi lain, kategori usia mulai Kota Surabaya
dipertandingkan sehingga hal tersebut
Batasan Masalah
membuktikan bahwa sangat diperlukannya Dalam penelitian ini perlu adanya pembatasan
pembinaan atlet mulai dini. Menurut Efendi (Ketua penelitian mengingat keterbatasan waktu, tempat,
umum FPTI Kota Surabaya), ditengah persaingan dan tenaga, serta agar tidak terlalu melebar dari
atlet yang ketatpun, FPTI kota Surabaya juga masih pokok bahasan sehingga tujuan penelitian dapat
terbilang tangguh. tercapai. Batasan-batasan tersebut antara lain
Pencapaian hasil prestasi yang maksimal sebagai berikut :
didukung oleh peran pembinaan yang sesuai dana. a. Penelitian dilakukan pada susunan pengurus dan
tepat, pelatih yang berkompetensi, sarana dan pelatih FPTI Kota Surabaya
prasarana yang memadai, program pelatihan yangb. b. Penelitian dilakukan pada atlet puslatcab kategori
sesuai karakter, dan lain sebagainya. Dari U-19 putra-putri
pencapaian prestasi yang diraih atlet panjat tebingc. c. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan
Surabaya yang selalu menjadi juara umum di langsung di lapangan, pengisian angket, dan
kategori panjat tebing, maka fenomena inilah yang wawancara
mendorong peneliti untuk melakukan penelitian
ini. Asumsi
Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa proses
Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka rumusan pembinaan kualitas atlet cabang olahraga panjat
masalah yang dapat diangkat dalam penelitian ini dinding di FPTI Kota Surabaya berjalan dengan baik
adalah Bagaimana proses pembinaan atlet di FPTI karena hal itu dibuktikan dengan prestasi yang
Kota Surabaya ditinjau dari segala aspek diraih atlet di tiap event kejuaraan.
pendukungnya.
KAJIAN PUSTAKA

Tujuan Penelitian A. Perkembangan Panjat Tebing


Adapun penelitian ini ingin mendapat informasi Awal dari adanya olahraga panjat dinding
dan jawaban yang jelas tentang fokus penelitian di tidaklah lepas dari yang namanya olahraga panjat
atas yaitu untuk mendeskripsikan proses tebing. Olahraga ini bisa dikatakan sebagai olahraga

2
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

ekstrim karena sangat mengacu adrenalin. Tidak 3. Kejuaraan Nasional Kelompok Umurr FPTI
hanya skill, tetapi juga diperlukan mental yang kuat 4. Kompetisi Regional.
dalam olahraga ini. Memang di awal tujuan dari 5. Kompetisi Regional kelompok Umur.
olahraga ini adalah hanya merupakan olahraga 6. Kejuaraan daerah atau Sirkuit Daerah
prestasi, namun seiring berkembangnya jaman 7. Even Kompetisi Nasional dan Daerah. (FPTI,
olahraga ini telah menjadi olahraga prestasi. 2014:1-2)
Perkembangan panjat tebing di Indonesia mulai4. Kategori kegiatan, yang terdiri dari :
pada sekitar tahun 1960, dimana tebing di Citataha. a. Lead (Runner) : pemanjatan dilakukan
Bandung mulai dipakai sebagai ajang latihan oleh dengan pemanjat memasang titik pengaman saat
pasukan angkatan darat kita. Pertama kali panjat melakukan pemanjatan. Gerak maju sepanjang
tebing modern di Indonesia adalah tahun 1976, sumbu jalur menentukan peringkat pemanjat. (FPTI,
dimana Harry Suliztiarto mulai berlatih memanjat 2014:7)
di Citatah. Diteruskan tiga orang rekannya, Heri Sedangkan menurut Yunarto (2009:10), dalam
Hermanu, Dedy Hikmat, dan Agus R, yang pada panjat tebing, digunakan alat pengaman dimana tali
tahun 1977 mendirikan SKYGERS Amateur Rock dikaitkan di dalamnya untuk menjaga pengaman
Climbing Group. SKYGERS sendiri yaitu komunitas agar tidak terjatuh.
yang bergerak di bidang panjat tebing. Hinggab. b. Boulder : Boulder dilakukan tanpa
akhirnya diadakan rapat paripurna Nasional FPTI menggunakan tali pengaman. Rute boulder
yang pertama kali diselenggarakan di Jawa Barat biasanya pendekdan tidak mudah. Olahraga ini
tahun 1991. Kejurnas panjat tebing I, dilakukan pada batu atau dinding dengan
diselenggarakan di Padang tahun 1992 dengan juara ketinggian maksimal lima meter dari permukaan
adalah kontingen asal Jakarta. ( Darsono, 2008:29) tanah. Jika dilakukan lebih tinggi dari itu, pemanjat
akan mengalami cidera serius ketika terjatuh.
B. Federasi Panjat Tebing Indonesia (Yunarto, 2009:8)
Federasi Panjat Tebing Indonesia adalah sebuah Pemanjatan jalur pendek dilakukan tanpa tali
federasi yang bertanggung jawab terhadap dan dilengkapi dengan matras pendaratan untuk
admanistrasi serta pengembangan segala aspek keamanan. Jumlah jalur boulder yang berhasil
yang berhubungan dengan olahraga dan kompetisi diselesaikan menentukan peringkat pemanjat. (FPTI,
panjat tebing Indonesia. 2014:7)
Hanya anggota FPTI, atau organisasi-organisasic. c. Speed : Pemanjatan dilakukan
khusus yang telah dikenal oleh FPTI yang dengan sebuah tali pengaman yang telah terpasang
diperbolehkan untuk mengajukan permohonan top rope. Waktu untuk menyelesaikan jalur
menyelenggarakan sebuah kompetisi yang diakui menentukan peringkat pemanjat. (FPTI, 2014:7)
oleh FPTI. Kompetisi panjat tebing nasional yang Sedangkan top rope sendiri adalah teknik
memerlukan rekomendasi untuk disetujui dan memanjat dengan tali sudah dikaitkan di puncak
diakui FPTI adalah sebagai berikut : dinding sebagai pengaman. (Yunarto, 2009:11)
1. Jenis Kejuaraan, yang terdiri dari :
1. Terbuka. C. Pengertian Pembinaan
2. Militer. Menurut Lutan Rusli dkk (2000:11), pembinaan
3. Kelompok Umur. adalah sebagai usaha mengorganisasi atau cara
4. Pelajar. untuk mencapai suatu tujuan. Pembinaan berarti
2. Tingkat Kejuaran, yang terdiri dari : usaha, atau tindakan dan kegiatan yang dilakukan
1. Nasional. secara berdayaguna dan berhasil guna untuk
2. Regional. memperoleh hasil yang lebih baik.
3. Provinsi atau Daerah. Pembinaan dan pengembangan olahraga
4. Kabupaten atau Kota. melalui tahap pengenalan olahraga, pemantauan,
3. Kejuaraan yang direkomendasikan FPTI, yaitu : pemanduan, pengembangan bakat dan peningkatan
1. Sirkuit Nasional prestasi dalam jalur keluarga, jalur pendidikan dan
2. Kejuaraan Nasional FPTI jalur masyarakat. Pembinaan dan pengembangan

2
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

sebagaimana dimaksud harus dilakukan sebagai Menurut Lutan Rusli dkk (2000: 49-51)
proses yang terpadu, berjenjang dan berkelanjutan. pembinaan atlet dibagi menjadi empat tahap
(Muryadi Agustanico Dwi, 2013:5) berdasarkan usia, yaitu Pembinaan usia kurang
Suatu sistem memiliki beberapa komponen dari 10 tahun, Remaja awal 11 – 14 tahun, Remaja
yang didalamnya perlu mendapat penanganan akhir 15 – 19 tahun, dan Dewasa.
individu-individu tertentu yang disesuaikan dengan
pertimbangan tertentu untuk menjalankan sistem E. Pembinaan Kualitas Atlet
tersebut. sehingga proses pembinaan selalu Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
membutuhkan keterlibatan organisasi. Proses pembinaan dalam olahraga :
pembinaan olahraga harus dipahami sebagai sebuah 1. Tersedianya atlet potensial yang mencukupi
sistem yang kompleks, sehingga masalah-masalah [Link] pelatih profesional & dapat
yang terdapat di dalamnya perlu di telaah dari menerapkan IPTEK
sudut pandang yang luas. (Ruslan, 2011: 47-48) 3. Tersedianya sarana prasarana dan kelengkapan
olahraga yang mencukupi
D. Tahap Pembinaan [Link] program yang berjenjang dan
Untuk mencapai prestasi atlet secara maksimal berkelanjutan, ditunjang dengan adanya anggaran
diperlukan pembinaan yang terprogram, terarah yang mencukupi dan hubungan yang baik antara
dan berkesinambungan serta didukung dengan semua pihak (atlet, pelatih, pembina, pengurus,
penunjang yang memadai. Dan untuk mancapai Pengprov, KONI, dan Pemerintah)
prestasi optimal atlet, juga diperlukan pelatihan [Link] adanya tes and pengukuran kondisi
yang intensif dan berkesinambungan, bervariasi, kesehatan, fisik , dan psikologis atlet secara
bermutu dan berkualitas. periodik. (Danardono, 2008:4)
Menurut Nugroho (2014:2), prestasi olahraga Menurut Harsono (1988:199), konsekuensi yang
panjat tebing tidak dapat dicapai dengan serta logis dari sistem latihan dengan kualitas yang tinggi
merta. Berbagai strategi dan upaya pembinaan perlu biasanya adalah prestasi yang tinggi. Kecuali faktor
ditempuh dalam rangka untuk meningkatkan pelatih, ada faktor-faktor lain yang mendukung dan
perkembangan prestasi olahraga panjat tebing. ikut menentukan kualitas training yaitu hasil-hasil
Upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan penemuan penelitian, fasilitas dan peralatan latihan,
prestasi olahraga panjat tebing secara nasional hasil-hasil evaluasi dari pertandingan-pertandingan,
diantaranya yaitu dengan pemassalan, pembibitan, kemampuan atlet dan sebagainya.
pemanduan bakat, peningkatan prasarana dan Dari beberapa kutipan di atas, terdapat banyak
sarana, serta penerapan ilmu pengetahuan dan sekali faktor yang mempengaruhi prestasi atlet.
teknologi dalam pelatihan. Karena banyaknya faktor yang berpegaruh prestasi
Menurut Hartono (2008:20), dalam pembinaan atlet, maka peneliti meneliti pada faktor langsung
olahraga, biasa mengikuti tahap–tahap pembinaan yang tentunya dapat berpengaruh terhadap
yang didasarkan pada teori piramida. Berdasarkan peningkatan kualitas atlet di FPTI Kota Surabaya
konsep piramida pembinaan olahraga yang yang terdiri dari :
bertahap, berjenjang dan bersinambungan, maka 1. Faktor Organisasi
jangkauan pembinaan olahraga yang populis, Menurut Nitisusastro (2010:155), organisasi
sasarannya adalah : kegiatan olahraga masyarakat adalah sekelompok orang yang bekerja sama
yang bersifat 5 – M (murah, meriah, massal, menarik dalam suatu struktur dan pola tertentu untuk
dan manfaat). mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Menurut Irianto Djoko Pekik (2002:27), para ahli Menurut Handoko (2009:8), secara umum
olahraga seluruh dunia sependapat, bahwa organisasi diartikan proses perencanaan,
perlunya tahap-tahap pembinaan untuk pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan
menghasilkan prestasi olahraga yang tinggi, yaitu usaha-usaha para anggota organisasi dan
melalui tahap pemassalan, pembibitan dan penggunaan sumber daya-sumber daya
pembinaan prestasi. organiasi lainnya agar mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.

3
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

2. Faktor Sarana dan Prasarana dalam pelaksanaan kegiatan olahraga atau


Dalam latihan panjat dinding, dinding pendidikan jasmani. Sarana olahraga dapat
panjat juga merupakan prasarana yang penting dibedakan menjadi dua kelompok yaitu :
disamping alat-alat keamanan dalam panjat a. Peralatan (Apparatus) adalah sesuatu yang
sendiri. Dalam sarana dan prasarana sendiri, digunakan, misalnya alat-alat keamanan
semua fasilitas harus mampu dimanfaatkan dalam panjat.
seoptimal mungkin. Terlalu sedikit fasilitas b. Perlengkapan (Device) adalah sesuatu
membuat frustasi atlet, sedangkan jika terlalu yang dapat dimainkan atau dimanipulasi
banyak akan membuat berat di biaya dengan tangan atau kaki, misalnya poin
operasional. (Harsuki, 2012:185) panjat.
3. Faktor Dana 2. Prasarana Olahraga
Suatu organisasi yang berjalan dengan baik “Secara umum prasarana olahraga
salah satunya juga disebabkan oleh pengelola berarti segala sesuatu yang merupakan
dana yang baik pula. penunjang terselanggaranya suatu proses
4. Faktor Pelatih (usaha atau pembangunan). “Dalam olahraga
Berkembangnya olahraga pada saat ini di prasarana didefinisikan sebagai segala
dunia sangat pesat sekali, terutama yang sesuatu yang mempermudah atau
sekarang sudah di rasakan olah indonesia bisa memperlancar tugas dan memiliki sifat yang
terkenal di dunia internasional, dengan relative permanen. Dalam penelitian ini yang
terkenalnya itu merupakan sebuah keberhasilan dimaksud prasarana adalah dinding panjat.
dan kerja sama dengan mencapai prestasi dunia (Soepartono, 2000:5)
olahraga. Dan didalam olahraga, pelatih sangat Fasilitas olahraga adalah semua
berperan pada keberhasilan prestasi dimana prasarana olahraga yang meliputi semua
hubungan antara pelatih dan anak didik atau lapangan dan bangunan olahraga beserta
atletnya sangat erat dan berpengaruh terutama perlengkapannya untuk melaksanakan
dalam pencapaian prestasi. program kegiatan olahraga. Dalam hal ini
fasilitas olahraga sudah mencakup sarana
F. Penerapan Program Latihan dan prasarana olahraga. (Soepartono, 2000:5)
Tujuan pokok dari latihan adalah mencapai
peningkatan kualitas yang maksimal, disamping
METODE PENELITIAN
kesehatan dan kesegaran jasmani bagi atlet. Agar
tujuan dari latihan tersebut tercapai maka pelatih A. Pendekatan Penelitian
dan atlet berusaha memahami prinsip-prinsip Penelitian yang akan dilakukan adalah berjenis
latihan, agar atlet lebih cepat dalam meningkatkan penelitian kuantitatif karena data penelitian berupa
prestasinya. Tentunya dalam latihan terutama angka-angka. Sedangkan pendekatan penelitian
dalam olahraga panjat tebing, sangat dituntut yang digunakan adalah penelitian kuantitatif
kekuatan dan ketahanan otot tubuh. Selain itu dengan pendekatan deskriptif yaitu dari data angka
dibutuhkan faktor lain ialah keberanian, untuk kemudian didapatkan deskripsi atau
ketenangan, kelenturan tubuh, dan teknik yang penjelasan tentang sebuah fenomena atau peristiwa
benar. Memanjat tebing hampir melibatkan otot yang hanya fokus pada apa yang sedang terjadi.
tubuh mulai dari otot jari, otot lengan, otot Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan
punggung, otot perut, sampai otot kaki. (Wiyanto, sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada
1987:11) filsafat positivisme yang digunakan untuk meneliti
pada populasi tertentu dengan tujuan untuk
G. Sarana dan Prasarana Olahraga
menguji hipotesis yang telah ditetapkan. (Sugiyono,
1. Sarana Olahraga
2012:7)
Istilah sarana olahraga adalah
terjemahan dari “facilities”, yaitu sesuatu
yang dapat digunakan dan dimanfaatkan

4
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

1. Wawancara adalah teknik pengumpulan data


B. Lokasi Penelitian apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari
Penelitian mengenai pembinaan cabang responden yang lebih mendalam.
olahraga panjat tebing di Federasi Panjat Tebing 2. Angket adalah teknik pengumpulan data
Indonesia Kota Surabaya akan dilakukan baik di yang dilakukan dengan memberi seperangkat
Sekretariat maupun lapangan FPTI kota Surabaya, pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
Jl. Irian Barat 1, kota Surabaya. responden untuk dijawabnya.
3. Dokumentasi merupakan sumber data atau
C. Populasi dan Sampel bukti otentik yang diperlukan seorang peneliti
Populasi dalam penelitian ini adalah pengurus untuk menunjang hasil penelitian. Merupakan
FPTI Surabaya yang berjumlah 2 orang, pelatih yang metode pengumpul data sekunder yang bersumber
berjumlah 2 orang, dan atlet panjat dinding kategori dari literatur, dokumen, media masa, dan hal-hal
U-19 putra-putri berjumlah 7 orang. lain.
Untuk teknik yang digunakan dalam penelitian 4. Pengamatan dilakukan tidak terbatas pada
ini adalah simple random sampling, yaitu orang, tetapi juga obyek-obyek lain yang dilakukan
pengambilan anggota sampel dari populasi peneliti terhadap keadaan nyata saat di lapangan.
dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata (Sugiyono, 2012:137-146)
yang ada dalam populasi itu. (Sugiyono, 2012:82)
F. Teknik Analisis Data
D. Instrumen Penelitian
Untuk proses analisis sendiri akan dilakukan
Sumber data atau informasi akan didapatkan
dalam beberapa tahap :
dari angket yang disediakan oleh peneliti yang
1. Penentuan banyak sampel, fokus atau batasan
didasarkan dari 3 kategori. Dimana informasinya
penelitian yang akan dilakukan
yang terseleksi sesuai dengan fungsi dan
2. Reduksi Data
kewenangan yang dimiliki. Informasi tersebut
Data yang diperoleh dari lapangan
terdiri dari informasi pengurus, pelatih, dan atlet
jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu
mengenai SDM, program latihan, dan sarana
dicatat secara rinci dan teliti. Seperti telah
prasarana di FPTI Kota Surabaya. Selain dari angket
dikemukakan, makin lama peneliti ke lapangan,
yang disebar, dalam penelitian ini juga ditunjang
data akan makin banyak dan rumit. Untuk itu
dengan adanya wawancara, dokumentasi, dan
perlu dilakukan reduksi data, yaitu dengan
pengamatan yang dilakukan oleh peneliti.
merangkum, memilih hal-hal pokok,
Adapun angket yang akan disebar nantinya
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari
harus mendapat validitas untuk mengukur valid
tema dan polanya, dan dibuang yang tidak
atau tidaknya butir kuesioner. Kuesioner dikatan
perlu.
valid jika butir pertanyaan kuesioner mampu untuk
3. Penyajian Data
menjawab rumusan masalah dan mengungkapkan
Penyajian data dilakukan dengan memberi
sesuatu yang benar terjadi saat itu. Validitas juga
uraian singkat yang disampaikan secara
harus diujikan kepada orang yang ahli di bidangnya
deskriptif.
agar hasil yang didapatkan dari angket nantinya
4. Verifikasi
bisa lebih maksimal dan akurat.
Dilakukan dengan memberi kesimpulan
yang didukung dengan bukti-bukti yang kuat di
E. Teknik pengumpulan data
lapangan.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam
Adapun langkah-langkah yang digunakan
Merupakan langkah penting karena data yang
dalam analisis meliputi sebagai berikut:
terkumpul akan digunakan sebagai bahan informasi
1. Pencatatan dilaksanakan setelah melakukan
untuk memecahkan masalah penelitian. Adapun
wawancara dan dokumentasi.
teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitiaan adalah :

5
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

2. Pengelompokan data dilakukan sumber daya manusia, berikut ini adalah


berdasarkan hasil dari wawancara dan uraiannya, persepsi atlet terhadap sarana dan
dokumentasi tersebut, data-data tersebut prasarana mendapat total skor 802 dengan
dikelompokkan berdasarkan masalahnya persentase 86%, persepsi pengurus terhadap
sehingga mempermudah menguraikan sarana prasarana mendapat total skor 218
analisisnya. dengan persentase 70%, persepsi pelatih
3. Penganalisisan data, data yang sudah terhadap sarana prasarana mendapat total skor
dikelompokkan tersebut, kemudian dianalisis 245 dengan persentase 82%, Sebagaimana yang
berdasarkan rumusan masalahnya, serta dalam tertera pada diagram dibawah ini :
menganalisis data tersebut ditunjang dengan
studi pustaka. Tabel Persepsi Atlet, Pengurus, dan Pelatih
Terhadap Sarana dan Prasarana
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Total
SDM Jawaban Persentase
A. Hasil Penelitian Persepsi Atlet 802 86%
1. Persepsi Atlet, Pengurus, dan Persepsi
PelatihTerhadap Sumber Daya Manusia
Pengurus 218 70%
(SDM)
Persepsi
Hasil angket atau kusioner penelitian
Pelatih 245 82%
persepsi atlet, pengurus, dan pelatih terhadap
Hasil 1265 79%
sumber daya manusia, berikut ini adalah
uraiannya, persepsi atlet terhadap SDM
Dari hasil persepsi atlet, pengurus, dan
mendapat total skor 553 dengan persentase 79%,
pelatih terhadap sarana dan prasarana di FPTI
persepsi pengurus terhadap SDM mendapat
Kota Surabaya mendapat rata-rata 79% dan
total skor 106 dengan persentase 71%, persepsi
dikategorikan dengan kriteria baik.
pelatih terhadap SDM mendapat total skor 114
dengan persentase 76%, Sebagaimana yang
3. Persepsi Atlet dan PelatihTerhadap
tertera pada diagram dibawah ini :
Program Latihan
Tabel Persepsi Atlet, Pengurus, dan Hasil angket atau kusioner penelitian
Pelatih Terhadap SDM persepsi atlet dan pelatih terhadap program
latihan, berikut ini adalah uraiannya, persepsi
atlet terhadap program latihan mendapat total
SDM Total Skor Persentase
skor 878 dengan persentase 84%, persepsi
Persepsi Atlet 553 79% pelatih terhadap program latihan mendapat
Persepsi Pengurus 106 71% total skor 245 dengan persentase 82%,
Persepsi Pelatih 114 76% Sebagaimana yang tertera pada diagram
Hasil 773 75% dibawah ini :

Tabel Persepsi Atlet dan Pelatih


Terhadap Program Latihan
Dari hasil persepsi atlet, pengurus, dan
pelatih terhadap sumber daya manusia di FPTI Total
Kota Surabaya mendapat rata-rata 75% dan SDM Jawaban Persentase
dikategorikan dengan kriteria baik. Persepsi Atlet 878 84%
Persepsi
2. Persepsi Atlet, Pengurus, dan Pelatih 245 82%
PelatihTerhadap Sarana dan Prasarana Hasil 1123 83%
Hasil angket atau kusioner penelitian
persepsi atlet, pengurus, dan pelatih terhadap

6
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

Dari hasil persepsi atlet dan pelatih terhadap Dalam pembinaan prestasi olahraga
program latihan di FPTI Kota Surabaya mendapat membutuhkan figur yang dapat memenuhi
rata-rata 83% dan dikategorikan dengan kriteria kriteria sesuai dengan standard kepelatihan.
sangat baik. Begitu juga dengan pembinaan di FPTI Kota
Surabaya, proses penentuan figur atau
4. Pembinaan rekruitmen pelatih didasarkan pada beberapa
Hasil angket atau kusioner penelitian persepsi kriteria atau kualifikasi yang harus dimiliki. Hal
atlet, pengurus, dan pelatih terhadap pembinaan tersebut telah dimiliki oleh FPTI Kota Surabaya,
cabang olahraga panjat tebing di FPTI Kota dimana mereka mempunyai sosok pelatih yang
Surabaya adalah sebagai beikut : sebagai berikut :
1) Berkompeten di bidangnya, yaitu bidang
Tabel Persepsi Atlet, Pengurus, dan Pelatih panjat tebing
Terhadap Pembinaan
2) Aktif dan memiliki loyalitas yang tinggi
Indikator
Total Persentase 3) Berangkat dari atlet sehingga punya
Pembinaan
pengalaman yang baik tentang panjat tebing
SDM 773 75% 4) Berpengalaman ataupun punya dasar
Sarana sebagai seorang pelatih dan pernah juara
Prasarana 1265 79% 5) Mempunyai program latihan yang jelas
Program 6) Mampu menganyomi atlet-atletnya
1123
Latihan 83% 7) Mempunyai disiplin waktu
Rata-Rata 79% 8) Mampu berkoordinasi dengan pelatih lain
dalam menjalankan program latihan
Berdasarkan tabel persentase di atas maka FPTI Kota Surabaya, untuk proses
pembinaan cabang olahraga panjat tebing di FPTI perekrutan atlet dilakukan dengan melihat hasil
Kota Surabaya termasuk kategori baik dengan prestasi atlet di kompetisi tahun sebelumnya.
angka persentase 79%. Diluar itu juga diserahkan kepada pelatih
dengan melihat atlet-atlet yang berpotensi di
B. Pembahasan Surabaya. Atlet FPTI Kota Surabaya semua
mempunyai skill yang berkompeten dan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap kualitasnya pun juga tidak perlu diragukan lagi.
pembinaan cabang olahraga panjat tebing di FPTI Hal itu dibuktikan dari kejuaraan-kejuaraan
Kota Surabaya mempunyai persentase 79% dengan yang pernah diikuti mereka hingga prestasi
kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi yang mereka miliki di tiap kejuaraan tersebut.
atlet, pelatih, dan pengurus terhadap pembinaan Akan tetapi dari atlet, mereka terkadang masih
adalah baik sekali. kurang disiplin karena terkadang tidak semua
Saat ini roda organisasi di FPTI Kota Surabaya atlet bisa hadir dalam latihan. Apalagi mereka
berjalan relatif baik. Mereka telah mempunyai suatu terbilang masih anak-anak sehingga dalam
struktur kepengurusan untuk menjalankan suatu berjalannya latihan masih ada atlet yang kurang
organisasi tersebut. Untuk proses perekrutan serius dalam berlatih. Penegakan peraturan
pengurus di FPTI Kota Surabaya akan melihat sangat perlu dilakukan kepada atlet yang
kompetensi, selain itu juga melihat kinerja atau berperilaku kurang disiplin dan tidak mengikuti
loyalitas dari suatu SDM. Untuk kekurangan yang latihan pada jadwal yang telah ditentukan.
dimiliki FPTI Kota Surabaya adalah jumlah Program latihan di FPTI Kota Surabaya
pengurus yang dirasa masih kurang. Ada sedikit sudah berjalan dengan sistematis dan terjadwal.
kekurangan dari kinerja di beberapa seksi, akan Adapun program latihan atlet secara berkala
tetapi hal itu masih bisa diatasi. Sebenarnya dalam satu minggu yaitu lima kali setiap hari
kekurangan jumlah pengurus diupayakan untuk senin, selasa, rabu, kamis, dan sabtu setiap
adanya penambahan SDM agar FPTI Kota Surabaya pukul empat sore hingga delapan malam. Ada
bisa berjalan lebih baik lagi. hari-hari dimana atlet menjalankan fisik yang

7
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

berfokus pada kekuatan dan ketahanan atlet suatu cabang olahraga bisa berjalan sesuai
dan ada hari dimana atlet berfokus pada dengan terget dan proses pencapaian prestasi
memanjat untuk mengasah skill dan teknik atlet. bisa menjadi lebih maksimal.
Untuk latihan sendiri disesuaikan dengan
kategori masing-masing. Ketika menjelang PENUTUP
kejuaraan, maka akan diberikan program
khusus sesuai dengan kebutuhan masing- A. Simpulan
masing atlet yang akan tampil dalam kejuaraan Dari hasil penelitian menjelaskan bahwa
tersebut. Selain program latihan, di FPTI Kota pembinaan cabang olahraga panjat tebing di
Surabaya juga dilakukan evaluasi guna untuk FPTI Kota Surabaya mempunyai persentase
memperbaiki kekurangan atlet. Evaluasi rata-rata mencapai 79% yaitu baik dan dapat
tersebut langsung diberikan oleh pelatih ketika diambil simpulan sebagai berikut:
atlet usai melakukan pemanjatan. Ada juga Pembinaan cabang olahraga panjat tebing di
evaluasi rutin yang dilaksanakan dalam waktu FPTI Kota Surabaya adalah sangat baik. Hal
dua minggu sekali dimana skill, fisik, maupun tersebut bisa dilihat dari segi sumber daya
mental atlet yang akan dijadikan puast manusia, sarana prasarana dan program latihan
perhatian. Selain itu, ada juga evaluasi yang yang sangat menunjang untuk pembinaan
dilakukan paska kompetisi. Sehingga dari cabang olahraga panjat tebing sehingga FPTI
evaluasi-evaluasi tersebut diharapkan FPTI Kota Kota Surabaya bisa dibilang adalah kota atau
Surabaya juga semakin berprestasi di bidang kontingen yang tangguh terutama dari segi
panjat tebing. prestasi di setiap kompetisi atau kejuaraan. Dari
Sarana dan prasarana olahraga merupakan mulai pengurus, pelatih, dan atlet di FPTI Kota
hal yang sangat penting dan mendasar dalam Surabaya adalah mereka-meraka yang
pelaksanaan olahraga, tanpa adanya fasilitas berkompeten dan berkualitas. Pelatih telah
yang memadai maka seorang atlet tidak memiliki lisensi kepelatihan walaupun hanya
mungkin tersalurkan bakatnya dalam latihan beberapa saja, akan tetapi hal tersebut dapat
secara maksimal. Adapun sarana dan prasarana ditutupi dengan pengalamannya di bidang
yang dimiliki oleh FPTI Kota Surabaya sudah panjat tebing dan ditunjang dengan loyalitas
memadai. (Kusnanik, 2013: 135) serta kemampuan untuk menganyomi atlet-
FPTI Kota Surabaya telah memiliki atletnya. Sarana dan prasarana yang dimiliki
sekretariat ataupun asrama yang dapat oleh FPTI Kota Surabaya sangat memadai untuk
dijadikan tempat penginapan dan istirahat atlet melakukan pembinaan prestasi.
yang kecapekan setelah latihan. Kemudian, FPTI
Kota Surabaya juga telah memiliki tiga dinding B. Saran
panjat, yaitu speed, lead, dan border yang sesuai Dari atlet perlu adanya sanksi tegas atau
dengan standard kompetisi di Indonesia. penegakan peraturan kepada atlet yang
Kondisinya pun juga masih sangat layak baik berperilaku kurang disiplin dan tidak mengikuti
digunakan untuk latihan maupun kompetisi. latihan pada jadwal yang telah ditentukan.
Selain itu juga memiliki alat-alat panjat yang Untuk pengurus seharusnya melakukan
layak. Sarana prasarana juga dilakukan penambahan jumlah pengurus kalau memang
peremajaan dan perawatan, serta penambahan dirasa diperlukan agar sistem organisasi di FPTI
alat kalau memang dirasa diperlukan. Kota Surabaya bisa berjalan dengan baik lagi.
Pembinaan yang tercapai secara maksimal Perlu adanya tim ahli fisioterapi khusus untuk
tidaklah lepas dari beberapa aspek pendukung FPTI Kota Surabaya yang berguna untuk
mulai dari sumber daya manusia yang menangani atlet yang cidera baik saat latihan
berkompeten, sarana prasarana yang memadai, maupun saat kejuaraan. Dari pelatih setidaknya
dan program latihan yang jelas. FPTI Kota harus memiliki sertifikat atau lisensi pelatih
Surabaya telah memiliki hal tersebut. Sehingga sebagai penunjang selain pengalaman di
hal itulah yang dibutuhkan agar pembinaan bidangnya. Untuk sarana dan prasarana perlu

8
Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 06 No 2 edisi Oktober 2016 hal 535-544

adanya penambahan jumlah alat dan Nitisusastro, Mulyadi. [Link] dan


kelengkapan yang memadai agar dapat Menejemen Usaha [Link] : CV.
menunjang program latihan pada atlet, sehingga Alfabeta.
latihan bisa menjadi maksimal dan atlet dapat
Nugroho Djoko. 2012. Analisis Gerak Dasar Panjat
meraih prestasi yang membanggakan. Tebing. Journal Of Physical Education And
Sports (JPES). [Link] ,
DAFTAR PUSTAKA
diunduh pada 30 maret 2016)
Danardono. 2008. Pembinaan Atlet. Jurnal Pembinaan
Prabowo Yunarto. 2009. Panjat Tebing. Solo : Tiga
Atlet([Link]
Serangkai Pustaka Mandiri.
m/search?[Link]/ , diunduh pada 18 mei
2016)
Ruslan. 2011. Meningkatkan Kondisi Fisik Atlet Pusat
Pendidikan Dan Latihan Olahraga Pelajar
Darsono Nono, Setria. 2008. Olahraga [Link] :
(PPLP) Di Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal
PT Perca.
ILARA. (Online) Vol. 2 (2): hal. 45-56.
([Link] , diunduh pada 28
FPTI. 2014. Peraturan Kompetisi Panjat Tebing 2014.
Januari 2016)
Jakarta : FPTI.
Sajoto, Muchamad. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik
Hadjarati, Hartono. 2008. Pembinaan Klub Olahraga
Dalam [Link] : Depdikbud Diren
Karatedi Kota Gorontalo. Jurnal Pembinaan
PTPLPTP.
Klub Olahraga Karate di Kota Gorontalo
([Link] diunduh pada18
Soepartono. 2000. Sarana dan Prasarana Olahraga.
mei 2016)
Surabaya : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Handoko, Hani T. 2009. Menejemen. Yogyakarta :
BPFE.
Sugiyono. [Link] Penelitian Penelitian kualitatif
kuantitatif dan R&D. Bandung : CV Alfabeta.
Harsono. [Link] dan aspek-aspek Psikologis
dalam Coaching. Jakarta : CV Tambak
Wongso Wiyanto. 1987. Memanjat Tebing Menggapai
Kusuma.
Langit. Jakarta : Pustaka Karya Grafika
Utama.
Harsuki. [Link] Manajemen Olahraga. Jakarta
:Rajawali Pers.

Irianto, Djoko Pekik. 2002. Dasar Kepelatihan.


Yogyakarta: Andi.

Kusnanik, Nining Widyah. 2013. “Evaluasi


Manajemen Pembinaan Prestasi PRIMA Pratama
Cabang Olahraga Panahan di Surabaya”. Jurnal
IPTEK Olahraga. Vol. 15 (2): hal. 125-137.

Lutan, [Link]. 2000. Dasar – Dasar Kepelatihan.


Departemen Pendidikan Nasional Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah
Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara
D-III Tahun 2000.

Muryadi, Agustanico Dwi. 2015. Evaluasi Program


Pembinaan Sepakbola Klub Persijap Jepara.
Jurnal Ilmiah PENJAS.
([Link] ,
diunduh pada 28 Januari 2016)

Anda mungkin juga menyukai