Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
Budidaya Tanaman Hidroponik Pakcoy Hibrida varietas Samhong
Jade F1 (Pakcoy Hybrid Hydroponic Plants Samhong Jade F1 variety)
Roza Yolanda, Nia Ramadhanti, Nurul Pratiwi, Haqil Triyatdipa, Wulandari,
Resti Pevria, [Link], MP
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Padang
Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar Barat., Kec. Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat 25171
Email: Roza.yolanda10@[Link]
ABSTRAK
Keterbatasan lahan menjadi suatu permasalahan pada pertanian saat ini. Berbagai upaya dilakukan
untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya yaitu dengan budidaya tanaman
hidroponik. Hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, namun
menggunakan air sebagai pengganti. Berbagai jenis tanaman dapat dikembangkan melalui sistem
hidroponik, salah satunya pakcoy hibrida varietas samhong. Tanaman hidroponik dapat
menggunakan media semai seperti rockwool, serabut kelapa, sekam, spons, serbuk gergaji dan
lain-lain. Media hidroponik biasanya tidak mengandung unsur hara. Unsur hara makro dalam
nutrisi AB Mix sangat berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman, terutama unsur hara N dan P.
Pemberian nutrisi yang sesuai akan memberikan hasil yang optimal bagi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Oleh karena itu, kami tertarik untuk mendalami respon pertumbuhan
tanaman Pakcoy Hibrida (Brassica sinensis L) varietas Samhong Jade F1. Penelitian ini
merupakan penelitian eksperimen. Penelitian dilakukan pada November 2021 di Rumah Kawat,
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Padang.
Media semai yang digunakan dalam penelitian ini adalah rockwool. Tinggi batang samhong diukur
pasca semai, diperoleh tinggi batang merata 0,5 cm.
Kata Kunci: Samhong, hidroponik, pakcoy hibrida, AB Mix
PENDAHULUAN
Keterbatasan lahan menjadi suatu permasalahan pada pertanian saat ini. Terutama di
daerah perkotaan yang padat penduduk. Semakin lama lahan pertanian tergantikan dengan
gedung-gedung perkantoran, perumahan dan lain-lain. Keadaan ini mengakibatkan tingkat
pengelolaan sumber daya alam pertanian menurun, sehingga ketersediaan bahan pangan
pun ikut menurun. Padahal, kebutuhan manusia akan sumber pangan terus meningkat
seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Menurut (Ritung et al., 2015) lahan daratan Indonesia mencakup luasan ± 191,09 juta
ha, terdiri atas lahan kering seluas ±144,47 juta ha, lahan rawa seluas ± 34,12 juta ha,
lahan basah non rawa seluas ± 9,44 juta ha, dan sisanya permukiman/perkotaan, areal
pertambangan dan tubuh air (waduk, danau, sungai).
Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya yaitu
dengan budidaya tanaman hidroponik. Hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 734
Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
menggunakan tanah. Dalam hidroponik media yang digunakan adalah air sebagai
pengganti tanah. Budidaya hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas, sehingga
dapat dilakukan dipekarangan rumah. Budidaya hidroponik memiliki banyak kelebihan
seperti dapat mengurangi hama dan penyakit yang menyerang, produk yang dihasilkan
juga lebih sehat dan berkualitas. Kelebihan lain hidropoik yaitu tidak banyak
menggunakan pestisida karena tanaman lebih terlindungi dari hama dan penyakit, juga
dapat menggunakan green house atau rumah tanaman sehingga meningatkan efisiensi
pasokan air (Roidah, 2014)
Berbagai jenis tanaman dapat dikembangkan melalui sistem hidroponik. Sayur-
sayuran, buah-buahan bahkan tanaman hias dapat dikembangkan melalui hidroponik.
Tanaman yang dikembangkan melalui hidroponik biasanya tanaman semusim. Tanaman
yang sering ditanam melalui hidropnik adalah sayuran, alasanya karena sayuran memiliki
batang yang tidak terlalu besar dan berat. Sayuran adalah bahan pangan yang memiliki
nutrisi yang lengkap untuk kepentingan tubuh kita(Badan Ketahanan Pangan Kementrian
Pertanian dalam Wahyuningsih, 2016).
Beberapa jenis tanaman yang sering digunakan seperti sawi, tomat, kangkung, mint,
basil dan lain-lain. Samhong merupakan salah satu jenis pakcoy hibrida yang sering
dikembangkan melalui sistem hidroponik. Tanaman samhong atau dengan nama latin
Brassica sinesis L. sering juga disebut sawi keriting karena memiliki daun lebar dan agak
keriting serta batang yang berwarna putih. Jangka waktu panen samhong (pakcoy hibrida)
tergolong pendek. Samhong (pakcoy hibrida) dapat dipanen setelah 30-35 hari setelah
penanaman.
Tanaman pakcoy hibrida merupakan salah satu sayuran penting di Asia, atau
khususnya di China. Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan
mengkilat, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun
dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun, berwarna putih atau
hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 15–30 cm. Pakcoy bukan
tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai
kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.
Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan1.200
meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang
mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl. Tanaman pakcoy dapat tumbuh
baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan
dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil
yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Tanaman pakcoy tahan terhadap air hujan,
sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan
adalah penyiraman secara teratur. (Lindawati, 2015)
Media hidroponik biasanya tidak mengandung unsur hara. Tanaman hidroponik dapat
menggunakan media seperti rockwool, serabut kelapa, sekam, spons, serbuk gergaji dan
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 735
Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
lain-lain. Tanaman hidroponik menggunakan air dengan kandungan nutrisi, nutrisi
biasanya disalurkan melalui pipa-pipa dan kemudian diserap oleh akar tanaman namun
dapat juga disiramkan secara manual pada tanaman. Konsentrasi nutrisi pada hidroponik
berbeda bergantung pada jenis tanaman. Salah satu nutrisi tanaman yang dapat digunakan
adalah A-B Mix. Cara pengaplikasian AB Mix yaitu diberikan bersamaan dengan air.
Unsur hara makro dalam nutrisi AB Mix sangat berpengaruh dalam pertumbuhan
tanaman, terutama unsur hara N dan P. Pertumbuhan tanaman dalam hidroponik juga
diikuti oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti pH larutan nutrisi. Nilai pH
cenderung mempengaruhi ketersediaan unsur hara pada larutan nutrisi. Pada kultur
hidroponik pH yang dianjurkan antara 5 - 6, namun pada kondisi di lapangan, nilai pH
larutan nutrisi melebihi 7. Hal ini menimbulkan pengendapan unsur-unsur mikro dalam
nutrisi. Sehingga akar tidak dapat menyerap unsur hara mikro tersebut. Salah satu unsur
hara mikro yang tidak dapat diserap secara optimal oleh akar adalah Cl (khlorin). Cl
berperan sebagai aktivator enzim selama produksi oksigen dari air. Hal inilah yang
mengakibatkan kurangnya pertumbuhan akar (Resh, 2013).
Nutrisi yang digunakan dalam budidaya dengan sistem hidroponik adalah nutrisi
AB mix. Nutrisi AB Mix mengandung 16 unsur hara esensial yang diperlukan tanaman,
dari 16 unsur tersebut 6 diantaranya diperlukan dalam jumlah banyak (makro) yaitu N, P,
K, Ca, Mg, S, dan 10 unsur diperlukan dalam jumlah sedikit (mikro) yaitu Fe, Mn, Bo,
Cu, Zn, Mo, Cl, Si, Na, Co (Agustina, 2004). Nutrisi AB mix adalah nutrisi yang
digunakan dibagi menjadi dua stok yaitu stok A dan stok B. Stok A berisi senyawa yang
mengan di Ca, sedangkan Stok B berisi senyawa yang mengandung sulfat dan fosfat.
Pembagiantersebut dimaksudkan agar dalam kondisi pekat tidak terjadi endapan, karena
Ca jika bertemu dengan sulfat atau fosfat dalam keadaan pekat menjadi kalsium sulfat atau
kalsium fosfat dan membentuk endapan (Sutiyoso, 2004).
Pemberian nutrisi yang sesuai akan memberikan hasil yang optimal bagi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu pertumbuhan dan perkembangan
tanaman juga tidak lepas dari lingkungan tumbuh. Pertumbuhan dan perkembangan
tanaman dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Menurut Buntoro
(2014), faktor eksternal merupakan faktor yang disebabkan dari luar tanaman dapat berupa
faktor lingkungan. Faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam tanaman dapat
berupa faktor fisiologis dan genetika tanaman. Semua hara yang terkandung pada nutrisi
hidroponik adalah unsur esensial yang diperlukan tanaman dalam pertumbuhan dan
perkembangannya. Apabila unsur hara makro dan mikro tidak lengkap ketersediaannya,
dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Pairunan dkk, 1997).
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman erat hubungannya dengan kedua faktor
tersebut, apabila salah satu atau semua faktor tidak mendukung maka pertumbuhan dan
perkembangan tanaman tidak dapat berjalan dengan baik.
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 736
Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
Faktor yang berpengaruh terhadap kualitas yang dihasilkan diantaranya adalah unsur
hara. Tanaman membutuhkan 16 unsur hara/nutrisi untuk pertumbuhan yang berasal dari
udara, air, dan pupuk. Tercukupinya kebutuhan hara tanaman akan menghasilkan produk
dengan kualitas dan nilai ekonomis yang tinggi. Fitter et al. (1994) menambahkan
rendahnya ketersediaan unsur hara akan memperlambat pertumbuhan tanaman. Masing-
masing unsur hara mempunyai fungsi dan proses fisiologis tanaman, seperti nitrogen yang
mempunyai peranan sangat besar dalam pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, adapun
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian AB Mix terhadap
respon pertumbuhan tanaman Pakcoy Hibrida (Brassica sinesis L).varietas Samhong Jade
F1.
Faktor lain yang dapat menentukan keberhasilan dari hidroponik adalah perawatan
tanaman. Untuk memastikan sirkulasi air dan nutrisi berjalan dengan baik maka harus
dilakukan perawatan. (Prayitno, 2017)
METODE PENELITIAN
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Penelitian dilakukan pada
November 2021 di Rumah Kawat, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Padang.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah rockwool, nampan, cutter, pinset,
handspriyer, penggaris, alat tulis, ph meter, pipa, ember wadah. Bahan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah benih Pakcoy Hibrida varietas Samhong Jade F1,air, AB mix.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan 1
variabel bebas dan 12 kali pengulangan. Jumlah AB Mix yang dimasukkan mengikuti ppm
dari pakcoy yaitu 1250 – 1500 ppm.
Prosedur Penelitian
1. Mempersiapkan Media Tanam Hidroponik
Media yang digunakan dalam penenaman tanaman dengan sistem NFT sebagai
media tanamnya Media yang digunakan dalam penanaman tanaman dengan sistem
NFT sebagai media tanamnya kita gunakan media selain tanah, karena tanah bisa
menyebabkan jamur, bakteri dan virus, yang menyebabkan produksi tanaman akan
tidak baik kualitasnya. Media yang digunakan dalam penanaman dengan sistem NFT
adalah Rockwool.
2. Penyemaian bibit
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 737
Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
Tahap awal dalam penyemaian benih yaitu memotong rockwool dengan ukuran
panjang dan ketebalan yang telah ditentukan. Kemudian potongan rockwool
diletakkan diatas nampan plastik. Diantara potongan rockwool dilubangi sebagai
tempat penyemaian benih pakcoy varietas samhong jade f1. Bibit pakcoy varietas
samhong jade f1 diletakkan ke rockwool yang telah dipotong dan dilubangi kemudian
ditutup. Penyemaian dilakukan sekitar 2 minggu.
3. Penyiraman bibit
Bibit pakcoy varietas samhong jade f1 yang telah disemai kemudian dirawat
dengan cara menyiram benih pada sore hari dan dilakukan setiap hari. Bibit pakcoy
varietas samhong jade f1 dijemur di bawah sinar matahari sekitar 3 jam kemudian
dipindahkan ke tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung,hal ini dilakukan
agar benih tidak kuning.
4. Pemindahan Bibit
Proses pemindahan bibit dilakukan dengan mengambil bibit pakcoy varietas
samhong jade f1 yang telah berumur sekitar 2 minggu yang memiliki jumlah dan 3-4
slide ke gelas plastik atau netpot dan diletakkan pada pipa paralon yang telah dialiri
nutrisi yang telah dicampur dengan air tadi.
5. Pengukuran
Parameter pengukuran pada penelitian ini adalah tinggi tanaman jumlah daun dan
lebar daun.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambar 1. Kondisi bibit sebelum dipindahkan
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 738
Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
Dari hasil pengamatan pada h+7 HST, dapat dilihat bahwa tidak semua biji tumbuh.
Hal ini dikarenakan beberapa faktor :
1. Tingkat kemasakan benih
Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya belum tercapai maka
tidak mempunyai viabilitas yang tinggi. Oleh karena itu benih yang akan dihasilkan tidak
akan berkecambah karena benih tersebut belum mempunyai cadangan makanan yang
cukup dan juga pembentukan embrionya belum sempurna.
2. Ukuran benih
Ukuran benih ini sangat berpengaruh karena benih yang besar dan berat mengandung
cadangan makanan dibandingkan benih-benih kecil sehingga daya perkecambahannya
tinggi dan itu juga dikarenakan bahan baku yang terdapat pada benih besar dan energi bagi
embrio sangat banyak.
3. Dormansi
Suatu benih dikatakan dorman ketika benih itu viable tetapi tidak mau tumbuh
walaupun sudah berada di lingkungan yang memenuhi syarat perkecambahan. Kecambah
abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk berkembang
menjadi kecambah normal. Kecambah yang digolongkan ke dalam kecambah abnormal
adalah kecambah rusak (kecambah yang struktur pentingnya hilang atau rusak berat.
Plumula atau radikula patah atau tidak tumbuh). Kecambah cacat atau tidak seimbang
adalah kecambah dengan pertumbuhan lemah atau kecambah yang struktur pentingnya
cacat atau tidak proporsional. Plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu
plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah, sedangkan radikula tumbuh
sebaliknya. Kecambah lambat adalah kecambah yang pada akhir pengujian belum
mencapai ukuran normal. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan kecambah benih
normal kecambah pada benih abnormal ukurannya lebih kecil (Rejesus, 2008).
Gambar 2. Pengukuran ppm AB Mix
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 739
Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
Gambar 3. Kondisi pasca dipindahkan
Setelah samhong merata memiliki empat daun. Tinggi batang samhong diukur,
diperoleh tinggi batang merata 0,5 cm. Kemudian samhong dipindahkan ke paralon. Lalu
pada sumber air diberikan nutrisi AB Mix hingga mencapai ppm yang ditetapkan. Karena
penelitian mengenai ppm pakcoy hibdrida ini belum ada, maka digunakan ppm pakcoy
pada umumnya yaitu 1250 – 1500 ppm. Pada H+11 HST. Ketinggian batang samhong
rata-rata yaitu: 3 cm. Jumlah daun samhong sudah lima.
Gambar 4. Pengukuran pertumbuhan samhong
PENUTUP
Dari hasil pengamatan pada h+7 HST, dapat dilihat bahwa tidak semua biji tumbuh.
Beberapa penyebabnya yaitu benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan
fisiologisnya belum tercapai, sehingga tidak mempunyai viabilitas yang tinggi. Selain itu
ukuran benih dan masa dormansi benih juga mempengaruhi pertumbuhan. Kecambah
yang digolongkan ke dalam kecambah abnormal adalah kecambah rusak (kecambah yang
struktur pentingnya hilang atau rusak berat. Kecambah cacat atau tidak seimbang adalah
kecambah dengan pertumbuhan lemah atau kecambah yang struktur pentingnya cacat atau
tidak proporsional. Pasca penyemaian, kemudian samhong dipindahkan ke paralon. Pada
H+11 HST ketinggian batang samhong rata-rata 3 cm.
REFERENSI
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 740
Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
Agustina, L. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Buntoro, B.H. dkk. 2014. Pengaruh Takaran Pupuk Kandang dan Intensitas Cahaya
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Temu Putih (Curcuma zedoaria L.).
Vegetalika Vol.3(4).
Fitter. A. H. dan Hay, R. K. M. ,1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
Hartus T. 2006. Berkebun hidroponik secara murah. Jakarta (ID): Penebar Swadaya
Hartus, T. 2008. Berkebun Hidroponik Secara Murah. Edisi IX. Jakarta: Penerbit Penebar
Swadaya.
Lakitan, B. 2007. Dasar-dasar Fisiologi tumbuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Lindawati, Yesi. 2015. Pengaruh Lama Penyinaran Lampu Led Dan Lampu Neon
Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica Rapa L.)
Dengan Hidroponik Sistem Sumbu (Wick System). Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung.
Pairunan, AK., J. L. Nanere., Arifin, S., Samosir., R. Tangkesari., J. R. Lalopua., B.
Ibrahim., dan H. Asmadji., 1997. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama P.T.N
Indonesia Timur, Ujung Pandang.
Prayitno, WA., Muttaqi A., Syauqy, D.(2017). Sistem Monitoring Suhu, Kelembaban, dan
Pengendali Penyiraman Tanaman Hidroponik menggunakan Blynk Android. Jurnal
Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputere-ISSN: 2548-964X Vol. 1,
No. 4, hlm. 292-297
Rejesus, B.M. 2008. Stored Product Pest Problems and Research Needs in the Philippines.
Proceeding of Biotrop Symposium on Pest of Stored Procuct, Bogor.
Resh, H.M. 2013. Hydroponic Food Production: A Definitive Guidebook for the
Advanced Home Gardener and the Commercial Hydroponic Grower. New Jersey:
Newconcept Press, Inc.
Ritung, S., Suryani, E., D. Subardja, Sukarman, Nugroho, K., Suparto, Hikmatullah,
Mulyani, A., Tafakresnanto, C., Sulaeman, Y., Subandiono, R. E., Wahyunto,
Ponidi, Prasodjo, N., Suryana, U., Hidayat, H., Priyono, A., & Supriatna, W. (2015).
Sumber Daya Lahan Pertanian Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian IAARD Press
Roidah IS. 2014. Pemanfaatan lahan dengan menggunakan sistem hidroponik. Jurnal
Bonorowo Vol. 1 (2): 43-50.
Sutiyoso, S. 2004. Meramu Pupuk Hidroponik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 741
Prosiding SEMNAS BIO 2021
Universitas Negeri Padang
ISBN :2809-8447
Wahyuningsih,Anis. 2016. Komposisi Nutrisi dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan
dan Hasil Tanam Pakcoy Sistem Hidroponik. Jurnal Produksi Tanaman Vol. 4 No.
8, Desember : 595-601
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing kami, Ibu Resti Fevria
[Link], M.P serta pihak yang sudah berkontribusi dan terlibat dalam penelitian ini dan tidak
dimungkinkan untuk disebutkan satu per satu.
Inovasi Riset Biologi dalam Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Lokal 742