Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
PENYULUHAN PENGEMBANGAN DAN PENGENDALIAN ORGANISME
PENGANGGU TANAMAN HORTIKULTURA DI DESA LAWELA
KABUPATEN BUTON SELATAN
Muzuna1, Wa Ode Al Zarliani1, Wardana1 dan Wa Ode Dian Purnamasari1
1
Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Buton
e-mail: waodedianpurnamasari@[Link]
Abstrak
.
Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki masa depan sangat cerah meniliki
keunggulan komparatif dan kompetitif dalam pemulihan perekonomian Indonesia di waktu
mendatang. Oleh karenanya kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat
ini Salah satu tujuan pengembangan hortikultura adalah peningkatan pendapatan petani yang
dicapai melalui peningkatan produksi dan produktivitas. Pembangunan subsektor hortikultura
di Indonesia pada masa mendatang di pacu ke arah sistem agribisnis. Salah satu kendala
dalam prospek pengembangan tanaman hortikultura yaitu pengganggu organisme tanaman.
Kesimpulan yang dapat di ambil yaitu petani dapat mengetahui pengendalian Organisme
Pengganggu Tanaman (OPT) tanaman hortikultura sehingga meningkatan hasil panen petani
sayuran dan petani dapat mengetahui cara pengendalian OPT.
Kata Kunci: Pengembangan, Pengendalian, Hortikultura
A. Pendahuluan
Pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala
perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional, sedangkan jenis
komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Apabila di lihat dari data selama
Pelita V pengembangan hortikultura yang lebih ditekankan pada peningkatan keragaman
komoditas telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, yaitu pada periode 1988-
1992 telah terjadi peningkatan produktivitas sayuran dari 3,3 ton/ha menjadi 7,7 ton/ha, dan
buah-buahan dari 7,5 ton/ha menjadi 9,9 ton/ha (Amrin Kahar, 1994). Terjadinya
peningkatan tersebut dapat dikatakan bahwa petani hortikultura merupakan petani yang
responsif terhadap inovasi teknologi, yaitu berupa penerapan teknologi budidaya,
penggunaan sarana produksi dan pemakaian benih atau bibit yang bermutu. Tampak disini
bahwa komoditas hortikultura memiliki potensi untuk menjadi salah satu pertumbuhan baru
288
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
di sektor pertanian. Oleh karena itu dimasa mendatang perlu ditingkatkan lagi penanganannya
terutama dalam menyongsong pasar bebas abad 21.
Tujuan pembangunan dari sektor pertanian diantaranya adalah peningkatan produksi
dan peningkatan peran petani sebagai produsen yang tangguh dan mampu untuk
menyediakan cadangan pangan bagi konsumen secara berkelanjutan ( Hardin, 2017: 33-34).
Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki masa depan sangat cerah menilik
darikeunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan
perekonomianIndonesia waktu mendatang. Oleh karenanya kita harus berani untuk
memulaimengembangkannya pada saat ini Salah satu tujuan pengembangan hortikultura
adalah peningkatan pendapatan petani yang dicapai melalui peningkatan produksi dan
produktivitas. Pembangunan subsektor hortikultura di Indonesia pada masa mendatang
dipacu ke arah sistem agribisnis. Peranan komoditas hortikultura cukup besar sumbangannya
terhadap perbaikan gizi masyarakat, peningkatan pendapatan petani, perluasan kesempatan
kerja, pengembangan agribisnis dan agroindustri, peningkatan ekspor serta pengurangan
impor (Rukmana, 2004). Prospek bisnis budidaya sayur di daerah dataran rendah, memang
sangat bagus. Seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat akan sayur, yang
semakin hari terus meningkat. Sehingga banyak petani yang beralih untuk membudidayakan
sayur, dibandingkan menanam padi atau palawija yang persaingan bisnisnya sudah sangat
tinggi (Ainda, 2013).
Salah satu kendala dalam prospek pengembangan tanaman horticultural yaitu tanaman
mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan
dapat disebut hama karena mereka mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang,
kumbang, ulat, wereng, tikus, walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang
sering menjadi hama tanaman. Gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus,
bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuhan,
tetapi mereka merusak tumbuhan dengan mengganggu proses-proses dalam tubuh tumbuhan
sehingga mematikan tumbuhan. Oleh karena itu, tumbuhan yang terserang penyakit,
umumnya bagian tubuhnya utuh. Akan tetapi, aktivitas hidupnya terganggu dan dapat
menyebabkan kematian. Untuk membasmi hama dan penyakit, sering kali manusia
menggunakan obat-obatan anti hama. Pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga
disebut insektisida. Adapun pestisida yang digunakan untuk membasmi jamur disebut
fungsida. Pembasmi hama dan penyakit menggunakan pestisida dan obat harus secara hati-
289
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
hati dan tepat guna. Pengunaan pertisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat
menimbulkan bahaya yang lebih besar. Hal itu disebabkan karena pestisida dapat
menimbulkan kekebalan pada hama dan penyakit. Oleh karena itu pengguna obat-obatan anti
hama dan penyakit hendaknya diusahakan seminimal dan sebijak mungkin.
B. Masalah
Melihat kondisi petani yang ada di Desa Lawela Kecamatan Batauga Kabupaten
Buton Selatan menanam tanaman hortukultura, maka yang menjadi permasalahan adalah:
1. Tingginya populasi OPT yang menyerang tanaman hortikultura.
2. Petani belum memahami cara pengendalian OPT.
C. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan dari pengabdian kepada masyarakat adalah penyuluhan berupa
ceramah dan diskusi (Indah Kusuma Dewi dan Hardin, 2017: 6).
Gambar 1. Nampak Dosen Memberikan Materi
290
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
Gambar 2. Nampak Dosen Memberikan Materi
Gambar 3. Proses Diskusi Antara Pemateri dan Petani
291
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
Gambar 4. Peserta Pengabdian Masyarakat
Gambar 5. Peserta Kegiatan Pengabdian Masyarakat
D. Pembahasan
1. Pengendalian OPT Tanaman Hortikultura Khususnya Tanaman Sayuran
a. Penanggulangan Hama dan Penyakit Kacang Panjang
Tanaman Kangkung di kenal sebagai salah satu sayuran hijau yang mengandung
banyak vitamin dan mineral yang bermanfaat baik untuk kesehatan. Selain harganya
yang terjangkau dan mudah didapatkan, pembudidayaan tanaman kangkung juga tidak
begitu sulit. Meskipun demikian, dalam proses pembudidayaan tanaman kangkung
292
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
biasanya terdapat beberapa ganggung hama dan penyakit yang menghambat proses
pertumbuhan. Untuk itu petani perlu mengetahui cara untuk mengatasi hama dan
penyakit pada tanaman kangkung agar menghasilkan kualitas kangkung terbaik.
Sebenarnya, hama dan penyakit pada tanaman kangkung tidak begitu banyak
dibandingkan hama dan penyakit pada jenis tanaman lain. Tatapi, jika hama dan
penyakit dibiarkan begitu saja tanpa dilakukan perawatan khusus maka membuat
pertumbuhan kangkung terganggu hingga menyebabkan kematian sebelum masa panen.
Pengendalian perlu dilakukan agar tidak terjadi kegagalan panen pada tanaman
kangkung. Hama dan penyakit kangkung sering terjadi pada saat proses budidaya
kangkung dan proses pembenihan. Karena itu, pengendalian hama dan penyakit harus
memperhatikan kondisi tanaman kangkung untuk mempermudah pengendalian.
b. Hama Tanaman Kangkung
1. Bekicot
Bekicot merusak tanaman kangkung dengan menggerogoti batang dan daun
tanaman kangkung, sehingga membuat tanaman menjadi busuk. Biasanya bekicot
akan menggerogoti calon batang dan daun kangkung. Bekicot menimbulkan bakteri
yang bisa membuat kangkung layu dan perlahan menjadi busuk.
Penyebab: Lahan kangkung yang lembab. Karena bekicot adalah hama yang hidup
didaerah lembab, sehingga lahan kangkung menjadi tempat paling sering dijadikan
rumah bekicot.
Gejala: Merusak daun dan batang muda tanaman kangkung hingga menyebabkan
tanaman menjadi busuk dan menguning, dan perlahan membuat tanaman mati.
Pengendalian: Lakukan sanitasi kebun dengan teratur dan basmi bekicot dengan
membuang bekicot.
2. Ular Grayak
Ular Grayak menyerang tanaman kangkung dengan menggerogoti daun
hingga daun kangkung menjadi bolong-bolong di bagian tengah maupun di bagian
pinggir.
Penyebab: Perawatan kebun yang kurang baik dan kebun tidak terjaga.
Gejala: Ular grayak menyebabkan daun kangkung berlubang kecil dan besar, serta
bagian ujung daun tidak rata atau bergerigi.
293
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
Pengendalian: Lakukan sanitasi kebun secara maksimal. Buang ulat grayak secara
manual atau lakukan cara penyemprotan dengan insektisida diazinon sesuai
petunjuk.
3. Ular Keket
Hama uler keket menyerang tanaman kangkung pada bagian daun yang
menyebabkan kerusakan pada bagian daun kangkung.
Penyebab: Lahan kangkung terlalu banyak semak dan lahan tidak terjaga.
Gejala: Terdapat lubang kecil-kecil pada daun dan daun kangkung akan rusak.
Pengendalian: Lakukan pembersihan lahan dengan baik, jaga jarak tanam dan
pergiliran tanaman. Lakukan pengendalian dengan pestisida nabati seperti daun
sirih, daun nimba, dan gadung.
4. Kutu daun (Aphid)
Kutu daun biasanya menyerang tanaman kangkung dengan bersembunyi di
balik lengkungan daun sambil menghisap cairan tanaman. Kutu daun dapat
menghambat pertumbuhan tanaman kangkung.
Penyebab: Kurang penyiraman, pemupukan terbatas dan penyiangan yang kurang
baik.
Gejala: Tanaman tampak kerdil dan daun melengkung kebawah akibat kutu daun
menghisap cairan tanaman.
Pengendalian: Lakukan sanitasi kebun secara maksimal, dan lakukan penyemprotan
dengan insektisida berbahan aktif.
c. Penyakit Tanaman Kangkung
1. Penyakit Karat putih
Penyebab: Jamur Albugo Ipomoe panduratae.
Gejala: Pada permukaan daun terdapat karat putih dan membuat daun rusak
Pengendalian: Lakukan sanitasi kebun secara maksimal, penyiraman teratur dan
perawatan baik dan melakukan penyemprotan Dithane M-45 atau Benlate sesuai
dengan petunjuk.
Penyakit karat putih menjadi salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman
kangkung. Karat putih memiliki nama lain albugoi pomoea panduratae. Penyakit
karat putih sangat peka terhadap Dithane M-45 atau Benlate.
2. Penyakit Bercak Daun
294
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
Penyebab: Jamur Cercospora bataticola dan Jamur Fusarium sp.
Gejala: Pada permukaan daun kangkung terdapat bercak berwarna kecoklatan
hingga kehitaman, menyebabkan daun menjadi tidak abnormal dan rusak.
Pengendalian: Lakukan pencabutan pada tanaman kangkung yang terserang
penyakit bercak daun, dan pindahkan tanaman yang sehat untuk mencegah
penyebaran jamur dan melakukan penyemprotan menggunakan larutan WT
bakterisida sesuai dosis yang di tentukan.
d. Hama dan Penyakit Tanaman Tomat
Hama merupakan hal yang paling ditakutkan oleh petani tomat. Pasalnya hama
dapat mengganggu pertumbuhan tomat. Akibatnya jika tanaman tomat diserang oleh
hama adalah tanaman tomat dapat saja tidak berproduktivitas tinggi lagi atau bahkan
tanaman tomat dapat saja mati. Hama dapat menyerang tanaman tomat bukan karena
tidak ada sebab. Penyebab dari adanya hama adalah karena gulma tidak pernah disiangi
atau dibersihkan. Selain itu, genangan air yang diakibatkan dari penyiraman yang
terlalu berlebihan juga menjadi penyebab dari serangan hama.
1. Kutu daun thrips tomat
Ciri-ciri dari kutu daun thrips adalah memiliki panjang 1 mm dan berwarna
hitam. Kutu daun thrips ini menyerang bagian daun tanaman. Akibatnya proses
fotosintesis pada tanaman akan terganggu karena proses fotosintesis terganggu atau
bahkan terhenti. Kutu daun thrips menghisap cairan pada daun tanaman. Tanda-
tanda dari serangan kutu daun thrips adalah daun tanaman akan berubah warna
menjadi putih. Serangan yang sudah parah akan mengakibatkan daun menjadi kering
dan lama kelamaan akan mati.
Cara mengendalikannya adalah dengan cara menyemprotkan cairan
insektisida sesuai dengan dosis. Sedangkan untuk pencegahan serangan hama ini
adalah dengan membersihkan gulma disekitar tanaman tomat karena kutu daun
thrips kebanyakan berlindung pada gulma.
2. Ulat buah tomat
Ulat buah tomat ini menyerang bagian daun, bunga, dan buah tanaman tomat.
Ciri-ciri dari hama ulat buah tomat adalah memiliki panjang tubuh sekitar 3 cm.
Warna tubuh dari ulat ini adalah cokelat hingga hitam. Tubuhnya diselubungi oleh
bulu-bulu halus. Yang akan terjadi jika ulat buah tomat ini menyerang salah satu
295
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
bagian tanaman seperti buah tomat adalah munculnya lubang yang mengelilingi
buah. Lama kelamaan buah tomat akan mengalami infeksi dan terjadi busuk lunak.
Pengendalian ulat buah tomat ini dapat dilakukan dengan memasang perangkat yang
memiliki cahaya ultraviolet, membunuh telur beserta ulatnya, dan membersihkan
tanaman liar di sekitar tanaman tomat.
3. Kutu daun aphis hijau pada tomat
Kutu daun aphis hijau lebih sering disebut dengan kutu hijau. Ciri-ciri dari
kutu hijau adalah memiliki panjang tubuh 2 mm. Warna tubuhnya adalah cokelat
hingga hitam. Kutu daun hijau ini biasanya menyerang bagian bawah daun tanaman
tomat. Tanda-tanda dari serangan kutu daun hijau adalah tanaman menjadi kerdil,
daun menjadi jelek dan mengeriting. Lama kelamaan daun menjadi rapuh dan
akhirnya rontok. Kutu hijau merupakan penyalur virus. Itu berarti tanaman tomat
akan terserang penyakit virus. Penyakit virus termasuk penyakit yang dapat
mematikan. Apabila kutu daun hijau ini tidak segera dibasmi, maka akan
mengakibatkan tanaman menjadi mati. Kutu hijau ini dapat dikendalikan dengan
menjaga kebersihan areal budidaya dari tanaman inang. Selain itu, juga dapat
dilakukan dengan penyemprotan akarisida berbahan aktif abamectin.
4. Ulat Tanah (Agrotis ipsilo Hufn)
Serangan hama ini di tandai dengan terpotongnya tanaman pada bagian
pangkal batang yang akan menyebabkan tanaman menjadi mati dan rusak.
Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan melakukan sanitasi kebun atau lahan
selain itu juga dapat dengan melakukan peyemprotan dengan insektisida sesuai
dengan dosis.
5. Lalat Buah (Bactrocera sp)
Hama ini berukuran sekitar 8 mm denga warna tubuh hijau kehitaman dan
memiliki sayap tranparan. Sedangkan saat belatung muda berwarna putih dan
kekuningan jika menjelang dewasa pada daging tomat. Tomat yang terserang hama
ini akan mengalami pembusukan dan terdapat belatung didalamnya. Pengendalian
hama ini dapat dilakukan dengan cara melakukan pengolahan dengan cara yang baik
dan benar, membuat perangkap, namun jika sudah terlanjur terserang dapat
dilakukan pemetikan tomat lalu membakarnya agar tidak menyebar pada buah yang
lainnya.
296
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
6. Ulat Grayak ( Spodoptera liture F )
Tanaman tomat yang terserang hama ini di tandai dengan permukaan daun
atas akan berlubang dan tulang daun akan rusak sehingga daun tidak beraturan atau
tidak rata. Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara melakukan
pemangkasan daun yang terserang atau dengan cara melakukan penyemprotan
dengan insektisida sesuai dengan dosis.
2. Hama Tanaman Cabe
Tanaman cabe merupakan salah satu tanaman yang membutuhkan perawatan yang
istimewa. Penyakit dan hama yang berkaitan pada tanaman cabe ini, mengharuskan petani
untuk selalu mengeceknya. Pencegahan dan pengamatan harus selalu dilakukan, karena jika
sampai terlambat serangan penyakit dan hama akan sulit untuk dikendalikan, maka dari itu
kita harus melakukan penanganan sejak dini “mencegah lebih baik dari pada mengobati”.
Mulai dari penyemaian, persiapan tempat, penanaman, perawatan hingga usia panen petani
harus benar-benar mengetahui ilmu tentang tanaman ini.
1. Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura Fabricus)
Ulat ini bersifat polyfag .Ulat kecil, berwarna hijau, biasanya berjumlah banyak.
Jenis ulat ini merusak tanaman dengan cara memakan dedaunan hingga berlubang-
lubang, yang menyebabkan terganggunya kemampuan tanaman untuk berfotosintesis.
Pada level tertentu hama jenis ini juga bisa menghabiskan seluru daun dari tanaman dan
hanya menyisakan tulang-tulang dari daun tersebut. Ada juga spesies ulat lain yang
menyerang tanaman cabe yaitu spesies spondoptera exigua dan Helicoverpa sp. Ulat
ini merusak langsung ke buah cabe itu sendiri baik yang sudah masak maupun belum
masak. Ulat ini senang membuat kejutan karenan ulat ini melakukan penyerangan di
malam adalah waktu kita untuk beristirahat. Ulat ini juga menyerang saat matahari
teduh, ketika matahari bersinar terik, ulat ini bersembunyi di pangkal tanaman juga
berlindung di balik mulsa yang menyebabkan ulat ini bisa lolos dari penyemprotan.
297
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
a. Pengendalian dengan cara teknis
Ulat di ambil dari tanaman, di lakukan pada malam hari karena pada malam harilah
ulat mulai berkeliaran. Ulat di ambil secara serempak dan menyeluruh, atau bisa
juga dipasang perangkap khusus hama tersebut. Pencegahan yang dapat kita lakukan
antara lain menjaga kebersihan kebun, parit atau lubang-lubang mulsa, Bersihkan
gulma yang tumbuh pada bedengan
b. Pengendalian dengan cara kimiawi
Dilakukan penyemprotan apabila serangan hama sudah mulai merabah, kita gunakan
jenis obat yang berisfat insektisida seperti Curacron, matador atau prevathon.
penyemprotan baik digunakan pada waktu malam hari.
2. Hama Kutu Daun Persik (myzus persicae)
Kutu jenis iniah yang biasanya menyerang tanaman cabe. hama jenis ini
menyerang daun tanaman dengan cara menghisap cairan daun, daun yang terkena
serangan akan nampak bercak-bercak kehitaman, daun akan menjadi keriting dan
kering, lambat laun daun akan mati. Selain itu Hama kutu persik juga merupakan
penular hama yang paling efisien daripada hama lainnya. Tanda-tanda awal terdapat
banyak semut yang berada pada tanaman maka, bisa di pastikan kaulau tanaman
tersebut ada hamanya, Mengapa demikian? Karena hama kutu daun menghisap cairan
daun dan mengeluarkan semacam zat gula, yang dapat mengundang semut dan
cendawan yang menyebabkan timbulnya bulatan hitam pada permukaan daun. Musuh
alama kutu daun jenis ini adalah dapat berupa parasitoid seperti : Diaretiella rapae,
sedangkan musuh predator alami dari hama ini adalah laba-laba, kumbang macan,
belalang sembah dan larva dari syrphid.
a. Pengendalian secara teknis
Petik daun yang terkena serangan, kemudian musnahkan bisa dengan cara di bakar
atau di kubur dalam tanah. Hindari penanaman cabe yang berdekatan dengan
tanaman terong,semangka kacang panjang dan melon, Menjaga,merawat kebersihan
kebun, penggunaan plastik mulsa perak.
b. Pengendalian secara kimiawi
Gunakan jenis obat insektisida berbahan aktif yang mengandung diafenthiuron atau
fipronil, abamektin Penyempropat lebih baik di lakikan pada waktu sore hari.
298
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
3. Hama Kutu Daun (Aphididae)
Tidak jauh beda dengan hama kutu daun sebelumnya hama kutu daun jenis ini
biasa menyerang berat pada musim kemarau. Bagian tumbuhan yang diserang oleh
imago dan nimfa adalah daun yang masih muda dan pucuk tumbuhan/tanaman. Daun
yang terkena serangan hama ini akan mengeriting, melingkar dan mengkerut. Dapat
mengakibatkan pertumbuhan tanaman akan menjadi lambat dan tanaman akan menjadi
kerdil. Hama jenis ini juga bisa mengeluarkan cairan manis layaknya madu, yang biasa
disebut dengan embun madu. Yang dapat menyebabkan datangnya cendawan jelaga
dan semut, Adanya semut dan cendawan jelaga dapat menurunkan kualitas buah
bahkan buah bisa membusuk. Hama Aphid dapat juga berperan sebagai sektor virus
seperti, Watermelon Mosaic Virus, papaya ringsot virus, Cucumbar Mosaic Virus
(CMV).
Penyebaran hama ini tergolong sangat luas, meliputi daerah beriklim sedang dan
tropis kecuali Asia bagian Utara dan Canada bagian Utara. Peralihan inang dari hama
jenis ini juga cukup luas, seperti tanaman dari family Solanaceae, Fabacease (legumes,
lucerne), Asteraceae dan Cucurbitasceae.
Kerusakan yang disebabkan kutu daun ini terbilang cukup serius pada beberapa jenis
tanaman sayuran seperti, cabai, asparagus, okra dan terong. Selain menyerang tanaman
sayur-sayuran, kutu daun jenis ini juga menyerang buah-buahan sperti melon, jeruk dan
kapas.
a. Pengendalian secara teknis
dapat dilakukan dengan cara menginfestasikan musuh alami sepeti, Cresson
(Lysiphlebus testacceipes), (Timberlake) parasitoid aphelinus gossypi, cendawan
entomopatogen Neozygites freseni atau predator coccinella transversalis.
b. Pengendalian secara kimia
dapat dilakuka dengan cara penyemprotan insektisida yang mengandung fipronil atau
diafenthiuron lebih baik penyemprotan dilakukan pada sore hari.
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kegiatan Pengabdian Masyarakat maka dapat diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
299
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN: 2548-8406 (print)
MEMBANGUN NEGERI ISSN: 2684-8481 (online)
Vol. 5 No. 1 April 2021
1. Petani dapat mengetahui pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tanaman
hortikultura sehingga meningkatan hasil panen petani sayuran.
2. Petani dapat mengetahui cara pengendalian OPT
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (2019). [Link]
[Link].
Hardin. (2017). Cara Pembuatan Pestisida Nabati Pada Kelompok Tani Baru Jaya dan
Penerapannya Pada Usahatani Kakao di Kelurahan Waliabuku Kecamatan Bungi Kota
Baubau. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Membangun Negeri Vol. 1 No. 1
Januari 2017.
Indah Kusuma Dewi dan Hardin. (2017). Penyuluhan Kesadaran Hukum Dalam
Mencegah Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Remaja Pada
Persaudaraan Beladiri Indonesia (PERKEMI) Dojo Universitas
Muhammadiyah Buton. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Membangun Negeri Vol. 1 No. 1 Januari 2017.
Suryaningsih, (2004). Pestisida Botani Untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Pada
Tanaman Sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Tonny dkk. (2015). Modul Pelatihan Budidaya Cabai Merah, Tomat, dan Mentimun
Berdasarkan Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu. [Link]
300