0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan22 halaman

PBL untuk Tingkatkan Hasil Belajar Sejarah

Proposal ini membahas upaya meningkatkan hasil belajar sejarah siswa kelas X IPS 2 SMAN 1 Kulisusu dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang bertujuan meningkatkan minat dan keterampilan berpikir kritis siswa."

Diunggah oleh

Novita Mayang Sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan22 halaman

PBL untuk Tingkatkan Hasil Belajar Sejarah

Proposal ini membahas upaya meningkatkan hasil belajar sejarah siswa kelas X IPS 2 SMAN 1 Kulisusu dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang bertujuan meningkatkan minat dan keterampilan berpikir kritis siswa."

Diunggah oleh

Novita Mayang Sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MODEL

PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PBL PADA SISWA KELAS X IPS 2 DI


SMAN 1 KULISUSU

PROPOSAL PENELITIAN

OLEH
MELATI
A1N120017

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2023
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Rasanya tidak ada ungkapan paling tepat kecuali rasa syukur. Saya sangat
berterima kasih kepada Allah SWT. Berkat kuasa-Nya, saya bisa menyelesaikan salah satu
bagian dari Tugas Akhir Semester dari Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas. Menjelang
tengah semester, saya menyusun Proposal dengan topik yang menarik. Setelah mengumpulkan
data-data relevan dengan judul penelitian ini, akhirnya saya berhasil menyusun proposal
penelitian.
Proposal ini adalah langkah awal sebelum saya beraalih ke langkah selanjutnya dari
bagian penelitian ini. Untuk itu saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan dukungan, motivasi, dan dorongan. Sehingga saya berhasil menyelesaikan proposal
penelitian yang berjudul ‘Upaya meningkatkan hasil belajar sejarah siswa melalui model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SMAN 1 Kulisusu’
Selain kepada Allah SWT, saya ucapkan banyak terima kasih kepada Orang Tua, Sahabat,
dan Teman. Tak lupa kepada dosen Pengampuh mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas. Tanpa
mereka, saya tidak bisa menyelesaikan proposal ini. Proposal penelitian ini masih jauh dari kata
kesempurnah. Saya berharap pembaca tak segan memberikan kritik dan saran. Sehingga saya
bisa melakukan perbaikan di masa depan, agar tidak melakukan kesalahan yang sama untuk
kedua kalinya. Tak perlu panjang-panjang, saya berharap proposal ini memberikan banyak
manfaat untuk semua orang terkhusus bagi pembaca.
Terima Kasih.

Kendari, Maret 2023

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


KATA PENGANTAR........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................
B. Rumusan Masalah ........................................................................................
C. Tujuan Penelitian...........................................................................................
D. Manfaat Penelitian.........................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Belajar...............................................................................................
B. Konsep Hasil Belajar......................................................................................
C. Konsep Pembelajaran Sejarah........................................................................
D. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
1. Pembelajaran Problem Based Learning
a.) Pengertian Problem Based Learning
b.) Tujuan Pembelajaran Problem Based Learning
c.) Karateristik Model Pembelajaran Problem Based Learning
d.) Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning
e.) Kekurangan Problem Based Learning
E. Penelitian Relevan ..........................................................................................
F. Hipotesis Tindakan .........................................................................................
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................................
B. Jenis Penelitian...............................................................................................
C. Subjek Penelitian............................................................................................
D. Faktor yang Diteliti .......................................................................................
E. Prosedur Penelitian.........................................................................................
F. Jenis Data .......................................................................................................
G. Teknik Pengumpulan Data.............................................................................
H. Teknik Analisis Data......................................................................................
I. Indikator Kinerja.............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang diperoleh dari
hasil interaksi antara individu manusia dan lingkungan sosial dan fisik, yang dimulai sejak
manusia lahir sampai sepanjang hidupnya (Nugraha, 2020 : 4). Permasalahan mutu pendidikan di
Indonesia adalah rendahnya mutu proses pembelajaran seperti mengajar guru yang tidak tepat,
kurikulum manajemen sekolah yang tidak efektif dan kurangnya motivasi belajar siswa (Julianti,
2019 : 50). Pendidikan dikatakan bermutu apabila proses pendidikan berlangsung secara efektif,
manusia memperoleh pengalaman bermakna bagi dirinya dan produk pendidikan merupakan
individu-individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Pendidikan
adalah proses pengembangan daya nalar, keterampilan, dan moralitas sebagai pengembang
potensi yang dimiliki oleh setiap manusia.
Pendidikan bertujuan agar manusia dapat membangun harmonisasi dengan alam dan
masyarakat, memiliki kepribadian yang utama, beradab dan menjadi dewasa sehingga dapat
mencapai tingkat hidup yang lebih tinggi (Ali, 2018: 2). Sistem pendidikkan sering merubah
pikiran kurikulum untuk menyesuaikan dengan kemajuan teknologi dan menyesuaikan tuntunan
kerja. Guru harus mengetahui gaya belajar setiap siswanya dan memberikan model pembelajaran
sesuai dengan gaya belajar mereka, guru di definisikan sebagai seorang pengajar dan pendidik
profesional di lembaga pendidikan formal dengan kualifikasi tertentu dan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik baik di
tingkat dasar maupun menengah (Wijaya, 2019 :36).
Sekolah sebagai tempat pelaksanaan pendidikan bagi peserta didik maka
keberhasilannya bukan hanya dilihat dari jumlah anak yang di tampung, peningkatan jumlah
pelajar, jumlah gedung, guru dan sebagainya, tetapi apakah sekolah tersebut mampu memenuhi
keinginan orang tua yang menyerahkan anaknya untuk dididik di sekolah, maupun individu
mampu memiliki pengetahuan dan dapat menerapkan dalam hidup dan lain sebagainya. Selain
itu, mungkin kegiatan pendidikan di sekolah-sekolah masih mementingkan kualitas, misalnya
kemampuan belajar mengajar masih du undur dengan banyaknya peserta yang lulus sedangkan
lulusan dapat berhasil setelah proses pendidikan atau pendidikan lanjutan tidak pernah di
persoalkan atau dicarikan jalan pemecahannya (Hanafi, 2018: 39).
Pendidikan yang dikembangkan adalah pendidikan yang dapat mengembangkan potensi
masyarakat, mampu generasi bangsa untuk menggali berbagai potensi, dan mengembangkan
secara optimal bagi kepentingan pembangunan masyarakat secara utuh dan menyeluruh.
Pembelajaran akan berjalan dengan baik ketika guru memiliki tanggung jawab di dalam
pembelajaran tersebut misalnya membuat inovasi dalam menggunakan model pembelajaran yang
memungkinkan siswa bisa belajar secara maksimal dan mengembangkan kemampuan yang
dimilikinya. Belajar pada dasarnya merupkan proses mental dan proses berfikir dengan
memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagi hasil pengalaman individu itu sendiri
dalam interaksi lingkungannya.
Berdasarkan penelitian kelas X Ips 2 SMAN 1 Kulisusu dengan guru sejarah, saat ini
model pembelajaran yang diberikan kepada siswa kurang memberikan semangat dalam proses
belajar dimana guru hanya memberikan materi dan latihan mengerjakan soal-soal, hal ini
menyebabkan komunikasi dalam pembelajaran menjadi satu arah sehingga siswa menjadi pasih
dalam proses belajar mengajar. Siswa juga lebih banyak mendengarkan penjelasan guru di depan
kelas dan melaksanakan tugas jika guru memberikan latihan soal-soal kepada peserta didik. Hal
ini menyebabkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam
kehidupan nyata sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang berkembang dengan baik.
Hal ini dilihat dari rata-rata evaluasi hasil belajar siswa kelas X Ips 2 di semester I tahun
ajaran 2023/2024 masih banyak siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal (KKM)
yaitu 75. Salah satu penyebabnya adalah siswa memperoleh nilai di bawah KKM yaitu siswa
kurang berminat dengan pelajaran sejarah karena penerapan model dan metode yang tidak
bervariasi hanya menerapkan metode ceramah saja, sehingga membuat siswa menjadi bosan,
akibat minat hasil belajar siswa menurun dan rendah.
Berhubungan dengan hal tersebut, guru memilih menyajikan strategi dan pembelajaran
yang efektif. Tugas guru adalah menerapkan suatu model yang memberikan jaminan
tertinggiuntuk mencapai tujuan dari kegiatan belajar mengajar. Dengan pemilihan model
pembelajaran yang menarik maka akan tumbuh semangat para siswa untuk lebih aktif dan
menyukai pelajaran sejarah.

Upaya meningkatkan aktivitas belajar siswa, guru juga harus dapat memilih dan
menyajikan strategi dan pendekatan belajar yang efektif. Salah satunya dengan menggunakan
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Dalam model ini terdapat tahapan-tahapan
dan pelaksanaannya salah satunya dengan berdiskusi kelompok dimana siswa harus beraktifitas
dengan kelompok seperti mengeluarkan pendapat, memecahkan soal/masalah dan turor sebaya.
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) secara efektif akan membantu dalam
meningkatkan aktivitas belajar siswa karena mengharuskan siswa untuk aktif dalam tahapan
diskusi kelompok dengan ini diharapkan aktivitas belajar siswa akan meningkat yang berdampak
pada peningkatan hasil belajar. Dan untuk meningkatkan keefektifan guru dalam mengajar dan
mengatasi kelemahan pembelajaran sekolah saat ini. Problem Based Learning (PBL) adalah
model pembelajaran yang mendukung pemikiran tingkat tinggi dalam situasi berorientasi
masalah dalam pembelajaran ini guru menyodorkan berbagai masalah, memberikan pernyataan
dan memfasilitasi investigasi dan diaolog. Dalam kurikulumnya dirancang masing-masing yang
menuntut siswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam
memecahkan masalah, dan memiliki strategi sendiri serta kecakapan berpartisipasi dalam tim
(Hartata, 2020 : 9).
Model pembelajaran Problem Based Learning dapat mempengaruhi pengetahuan proses
siswa dengan adanya peningkatan siswa dengan adanya peningkatan yang diperoleh siswa. Siswa
yang diajarkan dengan model pembelajatran Problem Based Learning memperoleh hasil lebih
baik dalam pencapaian pengetahuan. Hal ini terjadi karena pembelajran Problem Based Learning
melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran aktif dan kolaboratif, serta berpusat kepada
peserta didik, sehingga mampu dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki di dunia nyata.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan
keefektivan mengajar guru kelas X Ips 2 di SMAN 1 Kulisusu?
2. Apakah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan
aktivitas belajar siswa kelas X Ips 2 di SMAN 1 Kulisusu?
3. Apakah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas X Ips 2 di SMAN 1 Kulisusu?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk meningkatkan keefektivan mengajar guru kelas X Ips 2 di SMAN 1 Kulisusu melalui
penerapan model Problem Based Learning (PBL).

2. Untuk meningkatkan aktivita belajar sejarah siswa kelas X Ips 2 di SMAN 1 Kulisusu melalui
penerapan model Problem Based Learning (PBL).
3. Untuk meningkatkan hasil belajar sejarah siswa kelas X Ips 2 di SMAN 1 Kulisusu melalui
penerapam model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dari hasil penelitian ini baik dari segi teoritis maupun praktis :
1. Manfaat Teoritis
Memperkaya literatur tentang penerapan model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL).
2. Manfaat Praktis
1. Bagi siswa
Penelitian ini dapat membantu siswa mengaktifkaan dirinya dalam proses belajar
mengajar sehingga keinginan siswa untuk belajar semakin meningkat. Selain itu siswa dapat
mengembangkan kemampuan berfikir kreatif, serta siswa bisa saling bertugar pikiran atau
informasi.
2. Bagi Guru
Dapat memberikan Masukkan untuk para guru dalam upaya meningkatkan kompetisinya,
dalam meningkatkan hasil belara siswa terutama pada pembelajran sejarah dengan mengunakan
model Problem Based Learning (PBL).
3. Bagi Sekolah
Penelitian ini sebagai bahan informasi bagi sekolah dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan khususnya Pendidikan sejarah di SMAN 1 Kulisusu.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini memberikan masukkan sekaligus pengetahuan untuk mengetahui upaya
meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran Problem Based
learning (PBL).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Belajar
Secara umum belajar dapat di artikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi
individu dengan lingkungannya. Menurut Susanto (2013: 4) menyatakan bahwa belajar adalah
suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengajadalam keadaan sadar untuk memperoleh
suatu konsep, pemahaman atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya
perubahan perilaku yang relatif baik dalam berfikir, maupun dalam bertindak.
Menurut Musitoh dan Laksmi Dewi(2019: 3) menyatakan bahwa belajar adalah suatu
proses atau kegiatan yang dilakukan sehingga membantu suatu perubahan perilaku yang
berbentuk kognitif, afektif, maupun Psikomotorik.
Disamping itu, menurut Pane dan Dasopang (2017: 337) belajar adalah proses perubahan
tingkah laku dan perubahan suatu pemahaman yang pada awalnya seseorang tidak di bekali
dengan potensi fitrah kemudian dengan terjadinya proses belajar mengajar maka seseorang
tersebut akan berubah tingkah laku dan pemahamannya akan semakin bertambah.
Dengan demikian, dapat di simpulkan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah
laku seseorang untuk menjadi lebih baik yang di dapatkan dari pengalaman yang ia peroleh
melalui interaksi dengan lingkungannya.
B. Konsep Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil dari proses kegiatan belajar mengajar untuk mengetahui apakah
suatu program pembelajaran yang dilaksanakan telah berhasil atau tidak,yang di dapat dari jerih
payah siswa itu sendiri sesuai kemampuan yang ia miliki. Jadi hasil belajar merupakan usaha
sadar yang di capai oleh siswa dengan pembuktian untuk mendapatkan umpan balik tentang daya
serap siswa terhadap materi pelajaran yang di tandai dengan peningkatan atau penurunan hasil
belajar dalam pembelajaran (Jakni, 2017: 156).
Menurut Purwanto dalam Ariyanto (2018: 135) menyatakan bahwa hasil belajar
merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar,
hasil belajar juga dapat di artikan sebagai perubahan yang di akibatkan manusia berubah dalam
sikap dan tingkah lakunya.
Menurut Nasrun dalam Rochmatin (2018: 3) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan
hasil akhir pengambilan keputusanmengenai tinggi rendahnya niali yang di peroleh siswa selama
mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar di katakan tinggi apabila tingkat kemampuan siswa
bertambah dari hasil sebelumnya.
C.) Konsep Pembelajaran Sejarah
Menurut Santoso dan Irawan (2020: 82) di dalam sejarah manusia adalah inti, sebab
tanpa manusia sejarah tidak akan ada, dan sebaliknya. Sejarah sangatt erat kaitannya dengan
manusia karena manusia adalah pelaku utama di dalam sejarah yang selama ini dikatakan
sebagai ilmu yang hanya melihat masa lalu, tetapi tanpa sejarahh peristiwa-peristiwa yang telah
terjadi di masa lalu akan di lupakan tanpa tau-menauh kronologi terjadinya.
Lebih lanjut menurut Karim (2014: 247) sejarah merupakan rekam jejak tenntang semua
rentetan peristiwa yang terjadi, yang berfungsi untuk mengungkapkan segala sesuatu dfakta yang
ada tanpa adanya distorsi sedikitpun. Berdasarkan pemahaman dan penjelasan di atas, bahwa
dapat dikatakan sejarah sebagai ilmu pengetahuan tentang peristiwa yang berkaitan dengan
aktivitas maupun kegiatan manusia yang telah terjadi di masa lampau.
Menurut Santosa (2021: 2) pembelajaran sejarah mempunyai tujuan dalam memberikan
pemahaman mengenai setiap peristiwa sejarah, memahami nilai-nilai luhur yang terdapat pada
setiap peristiwa sejarah dan menjadikan rasa kesadaran akan sejarah pada diri peserta didik.
Salah satu kunci keberhasilan atas proses pembelajaran sejarah ialah di dukung pada media
pembelajaran yang di gunakan guru di kelas agar siswa tidak merasa bosan terhadap
pembelajaran sejarah.
Berdasarkan pemahaman dan penjelasan di atas, bahwa dapat dikatakan pembelajaran
sejarah adalah pembelajaran yang dapat membentuk rasa nasionalisme dalam diri peserta didik,
didukung dengan proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
D.) Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
1.) Pembelajaran Problem Based Learning (PBl)
a.) Pengertian Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Menurut Sudarman (2005: 69 ) mendefinisikan problem based learning atau
pembelajaran berbasis masalah sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan
masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir
kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep
yyang esensial dari materi kuluah atau materi pelajaran.
Menurut Rusman (2010: 229) mengatakan problem based learning merupakan
penggunaan berbagai macam kecerdasan yang di perlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap
tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan
kompleksitas yang ada.
Selanjutnya menurut Barret (2011: 4) menguraikan bahwa pembelajaran problem based
learning merupakan pembelajran yang dihasilkan dari suatu awal proses pemecahan masalah
yang di sajikan di awal proses pembelajaran. Siswa belajar dari masalah yang nyata dalam
kehidupan sehari-hari, mengorganisasi, merencana, serta memutuskan apa yang di pelajari dalam
kelompok kecil.
b.) Tujuan Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Adapun tujuan pembelajaran Problem Based Learning menurut Trianto (2009: 94) model
pembelajaran Problem Based Learning memiliki tujuan yakni:
a. Membuat siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah
b. Belajar peranan orang dewasa yang autentik
c. menjadi pelajar yang mandiri.
Rusman (2010: 238) yaitu penguasaan isi belajar dari disiplin heuristik dan
pengembangan keterampilan pemecahan masalah. PBL juga berhubungan dengan belajar tentang
kehidupan yang lebih luas ( lifewide learning), keterampilan memaknai informasi, kolaborasi,
dan belajara tim serta keterampilan berfikir reflektif dan evaluatif.
Berdasarkan pendapat di atas maka penulis berharap dengan di terapkannya model
pembelajaran Problem Based Learning dapat membantu perkembangan berpikir siswa sehingga
c.) Karateristik Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Menurut Rusman (2011: 232) karateristik model pembelajaran problem based learning
(PBL) adalah sebagai berikut:
a) Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
b) Permasalahan yang di angkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata dan tidak
berstruktur.
c) Permasalahan membtuhkan prespektif ganda.
d) Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi
yang dimiliki membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar
e) Belajar mengarahkan diri menjadi hal yang utama.
f) Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya , dan evaluasi sumber
informasi merupakan proses yang esensial dalam pembelajaran Problem Based Learning
(PBL).
g) Belajar adalah kolaboratif, komunikatif dan kooperatif.
h) Pengembangan kemampuan Inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan
penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.
i) Keterbukaan dalam proses pembelajaran Probleem Based Learning meliputi sinteis dan
integrasi dari sebuah proses belajar, dan
j) Problem Based Learning melibatkan evaluai dan review pengalaman siswa dan proses
belajar.
Menurut Trianto (2009: 93) menungkapkan bahwa karateristik model pembelajaran
Problem Based Learning yaitu adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada
keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, menghasilkan produk atau karya dan
mempresentasikan dan kerja sama.
Berdasarkan uraian karateristik menurut para ahli di atas, tampak jelas bahwa
pembelajran dengan model pembelajaran Problem Based Learning dimulai oleh adanya masalah
yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam
pengetahuannya tentag apa yang telah mereka ketahui untuk memecahkan masalah tersebut.
Siswa dapat memilih masalah yang di anggap menarik untuk di pecahkan sehingga mereka
terdorong berperan aktif dalam belajar.

d.) Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning (PBL)
Dilihat dari aspek psikologi belajar pembelajaran berbasis masalah bersandarkan kepada
psikologi kognitif yang berangkat dari asusmsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah
laku berkat adanya pengalaman (Wina Sanjaya 2010:213).
Dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk
mempersiapkan anak didik agar hidup di masyarakat, maka PBL merupakan strategi yang sangat
memungkinkan dan sangat penting untuk di kembangkan (Wina sanjaya 2010:214).
Ngalimun (2013: 90) menyatakn dalam model pembelajaran Problem Based Learning ,
fokus pembelajaran ada pada masalah yang di pilih sehingga pelajar tidak saja mempelajari
konsep-komnsep yang berhubungan dengan masalah tetapi metode ilmiah untuk memecahkan
masalah tersebut. Oleh sebab itu, pelajar tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan
masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang
berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan
menumbuhkan pola berpikir kritis.
Dari uraian di atas maka dapat di simpulkan bahwa penerapan model Problem Based
Learning di harapkan mampu meningkatkan pemahaman pelajar terhadap apa yang mereka
pelajari sehingga di harapkan mereka mampu menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan
sehari-hari.
e.) Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
a.) Kelebihan Model Pembelajaran Problem Based Learning
Sebagai suatu model pembelajaran, pembelajaran berbasis masalah di nilai memiliki
beberapa kelebihan. Menurut Abbudin (2011: 250) di antaranya:
1. Dapat membuat pendidikan di sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya
dengan dunia kerja.
2. Dapat membiasaakan para siswa menghadapi dan memecahkaan masalah secara terampil,
yang selanjutnya dapat mereka gunakan pada saat menghadapi masalah yang
sesungguhnya di masyarakat kelak.
3. Dapat merangsang pengembangan kemampuan berfikir secara kreatif dan menyeluruh,
karena dallaam proses pembelajarannya, para siswwa banyak melakukan proses mental
dengan menyoroti permasalahan dari berbagai aspek.

b.) Kekurangan Model Pembelajaaraan Probllem Based Learning (PBL)


Menurut Sanjaya (2007: 219) kelemahan Problem based Learning adalah sebagai
berikut:
1. Jika seswa tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang di pelajari sulit untuk di
pecahkan, maka siswa akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Perlu di tunjang oelh buku yang dapat di jadikan pemahaman dalam kegiatan
pembelajaran
3. Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) membutuhkan waktu yang lama
4. Tidak semua mata pelajaran sejarah dapat menerapkan model pembelajaran ini.
Selanjutnya menurut Abidin (2014: 1630) kekurangan Problem Based Learning (PBL)
adalah sebagi berikut;
1. Siswa yang terbias dengan informasi yaang di peroleh dari guru sebagai narasumber
utama, akan merasa kurang nyaman dengan cara belajar sendiri dalam pemecahan
masalah.
2. Jika siswa tidak mempunyai rasa kepercayaan bahwa masalah yang di pelajari sulit untuk
di pecahkan maka merasa enggan untuk mencoba masallah.
3. Tanpa adanya pemahaman siswa mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang di pelajari maka mereka tidaak akan belajar apa yang akan mereka pelajari.
E.) Penelitian Relevan
Beberapa penelitian terkait dengan masalah penelitian ini seperti yang telah dilakukan
oleh Asriningtya (2018: 31) mdnyimpulkan bahwa :
1. Kemampuan berpikir kritis yang mengalami peningkatan dari nilai kondidi awal
kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 60,82 (tidak kritis) meningkat menjadi 74,21
(cukup kritis) pada kondisi akhir. Persentase jumlah siswa yang berpikir kritis pada
kondisi awal yaitu 33,33% kemudian meningkat pada konndisi akhir menjadi 83,33%.
2. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari kondisi awal rata-rata sebelum
dilakukan penelitian yaitu 61,85 dengan persentase ketuntasan 44,84%. Setelah dilakukan
penelitian pada siklus I di peroleh di peroleh nilai rata-rata pada siklus I mencapai 69
dengan persentase ketuntasan siswa mencapai 69,44%. Kemudian dilanjutkan dengan
siklus ke II rata-rata meningkat menjadi 80 dengan persentase ketuntasan siswa mencapai
88,89%.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Rerung, Dkk (2017: 53-54) menyimpulkan bahwa
hasil belajar kognitif sebesar 64% pada siklus I dan 84% pada siklus II. Sedangkan, hasil
belajar psikomotor aspek mempersiapkan alat dan bahan meningkat sebesar 4%, aspek
merangkai alat dan bahan meningkat sebesar 6%, aspek melakukan percobaan meningkat
sebesar 12%, aspek mengamati percobaan sebesar 7% dan aspek menyampaikan
percobaan meningkat sebesar 8%.
Penelitian jenis ini dilakukan oleh Zahrawati (2020: 77) bahwa terjadi
peningkatan pada hasil belajar sejarah siswa kelas X dengan jumlah siswa sebanyak 30
orang, siswa perempuan berjumlah 14 orang, dan siswa laki-laki berjumlah 16 orang,
pada siklus I nilai rata-rata sebesar 71,43% menjadi 77,86% pada siklus II.
F.) Hipotesis Tindakan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah di kemukakan sebelumnya, maka hipotesis
tindakan dapat di uraikan sebagai berikut:
1) Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan
keefektivitas mengajar guru sejarah kelas X Ips 2 SMAN 1 Kulisusu
2) Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan aktivitas
belajar sejarah siswa kelas X Ips 2 di SMAN 1 Kulisusu
3) Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil
belajar sejarah siswaa kelas X Ips 2 di SMAN 1 Kulisusu
BAB III
METODE PENELITIAN
A.) Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMAN 1 Kulisusu kelas X Ips 2 Kecamatan Kulisusu
Kabupaten Buton Utara. Penelitian ini di lakukan pada bulan April-Mei semester genap, tahun
pelajaran 2023/2024.
B.) Jenis Penelitian
Penelitian ini termaasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas (PTK) adalh penelitian
yang dilakukan oleh guru di daalam kelas dengan menerapkan model pembelajaran baru yang
dilaksanakan secara berkelanjutan. Menurut Arikunti (2016: 41) Penelitian tindakan kelas (PTK)
adalah penelitian eksperimen berulang atau eksperimen berkelanjutan, yang dimana apabila guru
tidak puas dengan hasil pembelajarannya, maka guru dapat mengubah pembelajaran tersebut
dengan model yang sifatnya baru yang dilakukan secara berulang di dalam kelasnya sendiri.
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui model
pembelajaran Problem Based Learning padaa mata pelajaran Sejarah kelas X Ips 2 di SMAN 1
Kulisusu.
C.) Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adaalah guru sejarah dan siswa SMAN 1 Kulisusu semester genap
tahun pelajaran 2023/2024 sebanyak 30 orang, siswa perempuan berjumlah 14 orang, dan siswa
laki-laki berjumlah 16 orang.
D.) Faktor yang di teliti
Faktor yang di teliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Faktor siswa
Mengamati aktivitas belajar siswa selama kegiatan pembelajaran yang diukur melalui
lembar observasi dan menilai hasil belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas X Ips 2
SMAN 1 Kulisusu melalui tes siklus berupa pertanyaan dari materi pelajaran yang di
berikan.
2. Faktor Guru
Mengamati aktivitas mengajar guru dalam menerapkan model pembelajaran Problem
Based Learning pada pembelajaran sejarah siswa kelas x Ips 2 SMAN 1 Kulisusu melalui
lembar observasi.

E.) Prosedur Penelitian


Penelitian tindakan kelas dalam bentuk pembelajaran dikelas menggunakan model
pembelajaran Problem Based Learning di awali dengan 1. Perencanaan, 2. Pelaksanaan, 3.
Pengamatan, dan 4. Refleksi (Arikunto Dkk, 2014: 16). Secara skematis dapat digambarkan
sebagai berikut:

Perencanaan

Refleksi Siklus ke-I Pelaksanaan


n
Pengamatan

Perencanaan

Refleksi Siklus ke-II Pelaksanaan


n
Pengamatan

Hasil Belajar
Gambar 1 Siklus

Gambar I Siklus PTK (Arikunto, 2014: 16)

1) Tahap 1 : Menyusun Rancangan Tindakan (Planning)


Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang, apa, mengapa, kapan, dimana,
oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya
dilakukan secara berpasangan antara oihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati
proses jalannya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah penelitian kolaborasi. Cara ini dikatakan
ideal karena adana upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan
amatan yang dilakukan. Dengan mudah dapat diiterima bahwa pengamatan yang di arahkan pada
diri sendiri biasanya kurang teliti di banding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-
hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu
cenderung mengunggulkan dirinya. Apabila pengamatan dilakukan oleh orang lain,
pengamatannya lebih cermat dan hasilnya akan lebih objektif.
2) Tahap 2 : Pelaksanaan Tindakan
Tahap kedua dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan
implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. Hal yang perlu
di ingat adalah bahwa dalam tahap kedua ini pelaksana guru harus ingat da berusaha menaati apa
yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak di buat-buat.
Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu di perhatikan secara
seksama agar sinkron dengan maksud semula.
3) Tahap 3 : Pengamatan (Observing)
Tahap ketiga, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat.
Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan
karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya
berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap kedua di berikan untuk memberikan
peluang kepada guru pelaksana yang juga berstatus sebagai pengamat.
4) Tahap 4 : Refleksi (Reflecing)
Tahap ke 4 merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah
dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa Inggris reflection, yang di terjemahkan dalam
bahasa Indoonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru
pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan langsung dengan peneliti
untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan.

F.) Jenis data


Data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif berupa hasil belajar dan data kualitatif
berupa pelaksanaan pembelajaran (keefektifan mengajar guru dan aktifitas belajar siswa) yang
dilakukan melalui observasi.
G.) Teknik Pengumpulan Data
1) Observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengamati keefektifan mengajar guru dan
aktifan belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan menerapkan model
Pembelajaran Problem Based Learning ( PBL).
2) Teknis Tes
Tes hasil belajar, yaitu data hasil belajar diperoleh dengan cara memberikan tes
esay pada setiap akhir siklus.
H.) Teknik Analisis Data
1. Menentukan Presentase aktivitas guru
ΣX
% Aktivitas= × 100 % (Djamarah, 2005: 264)
N
Keterangan:
Σx = Jumlah Skor perolehan guru
N = Jumlah Skor Maksimal

2. Menentukan presentase aktivitas siswa


ΣX
% Aktivitas = × 100 % (Djamarah, 2005: 264)
N
Keterangan:
Σx= Jumlah skor perolehan siswa
N = Jumlah skor maksimal

3. Menentukan presentase ketuntasan belajar siswa

ΣX
% Ketuntasan × 100 % (Djamarah, 2005: 264)
N
Keterangan:
Σx : Jumlah siswa yang tuntas belajar
N : Jumlah seluruh siswa
I.) Indikator Kinerja
Bersumber pada hasil observasi yang menunjukkan aktivitas peserta didik dalam
pembelajaran sejaarah kelas X Ips 2 SMAN 1 Kulisusu, di harapkan adanya peningkatan
aktivitas peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based
Learning (PBL). Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah bahwa penelitian akan di
nyatakan berhasil apabila keberhasilan klasikal mencapai 70%, sedangkan secara individual
peserta didik telah mencapai nilai KKM yang telah di teetapkan oleh sekolah yaitu 65. Hal inilah
yang kemudian menjadikan dasar peserta didik telah mengalami ketuntasan belajar pada pokok
bahasan di setiap siklus.
Untuk memahami pemahaman peserta didik terhadap materi sejarah, peneliti
menggunakan lembar observasi yang di lengkapi dengan kriteria penilaian mengenai aspek
kunjungan lapangan, kriteria yang digunakan untuk mengukur indikator proses, yaitu aktivitas
belajar guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran berdasarkan indikator yang tertera
pada pedoman observasi. Jadi indikator proses pada penelitian ini adalah semua indikator
aktivitas belajar peserta didik dalam proses pembelajaran yang tertera pada pedoman observasi
harus mencapai kualifikasi cukup(C), baik(B), atau sangat baik(SB). Akan tetapi, jika belum
selesai maka di berikan kualifikasi kurang(K), atau sangat kurang(SK). Penelitian ini akan di
hentikan jika indikator keberhasilan dalam proses pembeajaran sejarah di SMAN 1 Kulisusu
dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning(PBL) telah tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Julianti, H. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Tps)
Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi Pada Siswa Kelas Xi Ips-B Sma
Negeri 1 Maginti 1 Oleh.
Nugraha, F, M, dkk. (2020). Pengantar Pendidikan dan Pengajaran Disekolah
Dasar. Jawa Barat; Edu Publisher.
Wijaya, C. Dkk. (2019). Manajemen Suberdaya Pendidik dan Tenaga
Kependidikan. Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan
Indonesia (Lpppi).
Musitoh dan dewi, Laksmi. 2019. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Direkorat
Jendral Pendidikan Islam
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar da Pembeajaran di Sekolah Dasar,
Jakarta: Kencana.
Jakni. 2017. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: alfabeta
Purwanti. 2018. Penerapan Tindakan Kelas (Class Room Action Research)
Beserta Sistematika Proposal dan Laporannya, Jakarta: Bumi Aksara.
Zahrawati, F. (2020). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi Siswa, Indonesian Journal Of Teacher
Education, 1(2), 71-79.
Asriningtyas, A. N., Kristin, F., & Anugraheni, I. (2018). Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Matematika siswa Kelas 4 SD. Jurnal Karya
Pendidikan Matematika, 5(1) 23-32.
Rerung, N., Sinon, I, L., & Widyaningsih, S. W.(2017). Penerapan Model Pembelajaran
Problem Based Learning (Pbl) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik
Sma Pada Materi Usaha dan Energi. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al- Biruni,
6(1), 47-55.
Arikunto, Suharsimi, 2016. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Djamarah, SB. 2005 Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif Suatu
Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arikunto, Suhardjono, & Supardi,. 2014. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Sanjaya. (2007). Metode Pembelajaran, Jakarta: Kencana
Abuddin, Nata (2011). Prespektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta:
Kencana.
Sanjaya, Wina. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana
Ngalimun, Dkk. (2013). Perkembangan dan Pengembangan Kreativitas.
Yogyakarta: Aswaaja Pressindo.
Trianto, (2009). Mendesain Model Pembelajaran
Innovatif – Progresif. Kencana Prenada
Media Group.
Rusman, (2010), Model-model Pembelajarn : Mengembangkan Profesional Guru.
Jakarta: Rajawali Pers.
Barret, T. (2005). Understanding Problem Based Learning. Handbook Of Inquiry
And Problem-Based Learning: Irish Case Studies and International
Perspecives. AISHE READINGS.
Rusman, (2010). Model-model pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme
Guru Edisi Kedua), Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Susanto, Ahmad. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar,
Jakarta: Kencana.
Sudarman, (2007). ‘Problem Based Learning: Suatu Model Pembelajaran Untuk
Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah’.
Jurnal Pendidikan Inovatif Vol.2 No. 2, pp. 68-73.
Musitoh dan Dewi, Laksmi. (2019). Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat
Jendral Pendidikan Islam.
Pane, A,. & Darwis Dasopang, M.(2017). Belajar dan Pembelajaran.
FITRAH: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman, 3(2), 333
Santosa, (2021), Museum Kehutanan IR Djamaludin Suryohadikusumo Sebagai
Media Pembelajaran Sejarah Pada Materi Sumber Sejarah, Jurnal
Pendidikan dan Sejarah, 207.
Karim Abdul, (2014). Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jurnal Fikrah,
273-289.
Santosa, Prasetya, Budi, Yusuf, dan Irawan, Hendi. (2020). Pembelajaran
Sejarah dan Kebebasan Berpikir, Jurnal Chronologia, 79-87.

Anda mungkin juga menyukai