0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
127 tayangan30 halaman

Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan

Panduan ini memberikan panduan bagi perusahaan pemilik izin penggunaan hutan dalam menyusun Prosedur Operasi Standar pengendalian kebakaran hutan. Panduan ini mencakup substansi yang harus ada dalam prosedur operasi standar tersebut, seperti perencanaan, pencegahan, penanggulangan, dan penanganan pasca kebakaran hutan."

Diunggah oleh

Farhan Gamming
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
127 tayangan30 halaman

Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan

Panduan ini memberikan panduan bagi perusahaan pemilik izin penggunaan hutan dalam menyusun Prosedur Operasi Standar pengendalian kebakaran hutan. Panduan ini mencakup substansi yang harus ada dalam prosedur operasi standar tersebut, seperti perencanaan, pencegahan, penanggulangan, dan penanganan pasca kebakaran hutan."

Diunggah oleh

Farhan Gamming
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PANDUAN PEMBUATAN

PROSEDUR OPERASI STANDAR (POS)


PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN

ASOSIASI PENGUSAHA HUTAN INDONESIA


JAKARTA, APRIL 2016
KATA PENGANTAR

Kebakaran hutan telah menjadi isu yang banyak diperbincangkan karena


dampaknya yang sangat merugikan. Kebakaran hutan yang lebih luas dapat
menimbulkan bencana asap yang sangat membahayakan sendi-sendi kehidupan serta
gangguan lainnya. Isu kebakaran hutan telah menjadi isu nasional dan internasional
sehingga penanganannya harus dilakukan secara bersama-sama, tidak hanya
Pemerintah, para pemegang IUPHHK dan juga masyarakat harus melibatkan diri.

Mencermati perkembangan kejadian kebakaran di areal IUPHHK, Asosiasi


Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) memandang perlu menyiapkan para pemegang
IUPHHK anggotanya agar mampu melakukan pengendalian kebakaran hutan di areal
kerjanya. Tindakan pengkondisian dan tindakan pencegahan kebakaran hutan
merupakan langkah awal yang baik agar tidak terjadi kebakaran yang lebih luas. Oleh
karenanya perlu dibuat panduan dalam penyusunan prosedur operasi standar
pengendalian kebakaran hutan.

Panduan Pembuatan Prosedur Operasi Standar (POS) Pengendalian Kebakaran


Hutan disusun untuk membantu pemegang IUPHHK anggota APHI. Panduan ini berisi
tentang hal-hal pokok yang harus ada dalam prosedur operasi standar pengendalian
kebakaran hutan. Panduan juga dilengkapi dengan contoh Prosedur Operasi Standar
Pengendalian Kebakaran Hutan.

Kami berharap panduan ini dapat menjadi rujukan utama bagi pemegang IUPHHK
dalam menyusun Prosedur Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan. Secara
substansi, panduan ini telah mempedomani peraturan perundang-undangan yang
berlaku terkait kebakaran hutan.

Ucapan terima kasih kepada Dewan Pengurus APHI yang telah bekerja bersama-
sama menyusun panduan ini, khususnya kepada Tim Pencegahan dan Pengendalian
Kebakaran Hutan dan Lahan APHI.

Akhir kata, semoga upaya APHI ini membawa manfaat untuk mendukung
pengelolaan hutan produksi lestari.

Jakarta, 22 April 2016

Salam

Sugiono
Ketua Umum APHI

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. I


DAFTAR ISI .......................................................................................................................... II
BAB 1. PENDAHULUAN...................................................................................................... 1
BAB 2. SUBSTANSI POS PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN .................................. 3
2.1. Perencanaan.................................................................................................. 3
2.2. Penyelenggaraan Pencegahan..................................................................... 6
2.3. Penyelenggaraan Penanggulangan ............................................................. 8
2.4. Penyelenggaraan Penanganan Pasca Kebakaran Hutan ........................... 9
2.5. Pelaporan dan Pengawasan ......................................................................... 9
BAB 3. PENUTUP .............................................................................................................. 11
LAMPIRAN. CONTOH POS PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN dan FLOW
CHART PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN ................................................ 12

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

Sebagaimana kegiatan usaha pemanfaatan sumberdaya alam lainnya yang berbasis


hutan dan lahan, usaha pemanfaatan hutan memiliki risiko yang harus ditangani secara
serius. Salah satunya berupa bencana asap akibat kebakaran hutan. Bencana asap
tersebut telah berdampak luas terhadap kehidupan manusia, sehingga tidak berlebihan
apabila bencana asap ditetapkan sebagai bencana nasional. Dalam banyak kasus
kebakaran hutan, pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) baik
hutan alam (IUPHHK-HA) maupun hutan tanaman (IUPHHK-HTI) sering kali dituduh
sebagai “penyebab” serta ditempatkan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab,
meskipun pelaku pembakaran bukan berasal dari perusahaan pemegang IUPHHK.
Kerugian pemegang IUPHHK yang mengalami kebakaran hutan, selain kerugian
investasi juga terkena sanksi dari Pemerintah. Sanksi Pemerintah atas peristiwa
kebakaran hutan tersebut dapat berupa sanksi paksaan Pemerintah, pembekuan,
bahkan pencabutan izin.

APHI sebagai organisasi pengusaha pemegang IUPHHK terpanggil untuk bersama-


sama menanggulangi kebakaran hutan dan dampaknya serta berupaya melakukan
langkah-langkah antisipasi pencegahan dan penanganan pasca kebakaran hutan di
tahun-tahun yang akan datang. Penanganan pengendalian kebakaran hutan yang
diterapkan oleh IUPHHK sangat beragam bahkan beberapa diantaranya belum memiliki
prosedur pengendalian kebakaran hutan. Belum tertanganinya dengan baik semua
upaya pengendalian kebakaran hutan oleh pemegang IUPHHK, mendorong APHI untuk
kembali menekankan pentingnya ketersediaan Prosedur Operasi Standar (POS) atau
Standard Operating Procedure (SOP) Pengendalian Kebakaran Hutan.

Meskipun telah banyak perusahaan pemegang IUPHHK yang telah memiliki Prosedur
Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan, namun menyadari akan dampak atau
implikasi hukum yang mungkin timbul terkait POS tersebut, APHI memandang perlu
menyusun Panduan Pembuatan Prosedur Operasi Standar Pengendalian Kebakaran
Hutan sebagai rujukan bagi anggota APHI.

Penyusunan Panduan Pembuatan Prosedur Operasi Standar Pengendalian Kebakaran


Hutan bertujuan untuk:
1. Memberikan panduan bagi pemegang IUPHHK dalam pembuatan Prosedur
Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan yang praktis, mudah dipahami,
dan implementatif sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
terkait kebakaran hutan.
2. Memberikan arahan operasional penyelenggaraan pengendalian kebakaran hutan
agar penanganannya lebih terkoordinasi dengan baik.

Ruang lingkup Prosedur Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan mencakup


hal-hal sebagai berikut:
1. Perencanaan, meliputi pengorganisasian, pengelolaan sumberdaya manusia dan
sarana prasarana, perencanaan operasional pencegahan, pemadaman dan
penanganan pasca kebakaran hutan;
2. Penyelenggaraan pencegahan (preventif), meliputi kegiatan pemberdayaan
masyarakat, penyadartahuan, pengurangan resiko kebakaran hutan,
kesiapsiagaan, pelaksanaan peringatan dini dan patroli pencegahan serta deteksi
dini kebakaran hutan.

1
3. Penyelenggaraan penanggulangan (represif), meliputi kegiatan pemadaman awal,
koordinasi pemadaman, mobilisasi pemadaman, pemadaman lanjutan,
demobilisasi pemadaman, evakuasi dan penyelamatan.
4. Penyelenggaraan penanganan pasca kebakaran, meliputi kegiatan pengawasan
areal bekas kebakaran, inventarisasi luas kebakaran hutan, penaksiran kerugian
dan koordinasi penanganan pasca kebakaran hutan.
5. Pelaporan dan pengawasan.

Untuk memberikan gambaran detail, Panduan ini dilengkapi dengan contoh Prosedur
Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan. Alur proses dan penanggung jawab
dalam penyelenggaraan pengendalian kebakaran hutan disusun lebih konstruktif
sehingga lebih mudah untuk dipahami.

2
BAB 2
SUBSTANSI PROSEDUR OPERASI STANDAR
PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN

Substansi Prosedur Operasi Standar memuat hal-hal pokok yang harus ada dalam
Prosedur Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan.

Ruang lingkup kegiatan pengendalian kebakaran hutan meliputi kegiatan perencanaan,


penyelenggaraan pencegahan, penanggulangan, penanganan pasca kebakaran, serta
pelaporan dan pengawasan.

2.1. Perencanaan
2.1.1. Organisasi Dalkarhut
(1) Perusahaan pemegang IUPHHK wajib membentuk organisasi
pengendalian kebakaran hutan (Brigdalkarhut).
(2) Brigdalkarhut mempunyai perangkat organisasi dan tugas pokok,
sebagai berikut:
a. Kepala Brigdalkarhut, bertanggung jawab kepada Pimpinan
Unit Pengelolaan Hutan, melaksanakan tugas di bidang
perencanaan, pengorganisasian, operasional, pengawasan
dan evaluasi dalam setiap usaha dalkarhut di wilayah
kerjanya;
b. Sekretaris Brigade, bertanggung jawab kepada Kepala
Brigdalkarhut, melaksanakan tugas di bidang perencanaan
pendanaan, penyiapan dan pemeliharaan sarana prasarana
(sarpras), penyiapan logistik dan administrasi/tata usaha
dalkarhut;
c. Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan, bertanggung
jawab kepada kepala Brigdalkarhut, melaksanakan tugas
pengorganisasian, operasional, pengawasan dan evaluasi di
bidang pemberdayaan masyarakat, penyadartahuan,
pengurangan resiko, peningkatan kapasitas kelembagaan,
pelaksanaan patroli, dan peringatan dini serta deteksi dini;
d. Koordinator Pemadaman dan penanganan Pasca Kebakaran,
bertanggung jawab kepada Kepala Brigdalkarhut,
melaksanakan tugas pengorganisasian, operasional,
pengawasan dan evaluasi di bidang pemadaman awal dan
lanjutan, inventarisasi dan monitoring areal bekas kebakaran,
koordinasi penanganan pasca kebakaran, dukungan evakuasi
dan penyelamatan;
e. Kepala Regu Dalkarhut, bertanggung jawab kepada Kepala
Brigdalkarhut, melaksanakan tugas operasional dalkarhut di
lapangan.
(3) Organisasi Brigdalkarhut melalui Kepala Brigdalkarhut
mempertangungjawabkan pelaksanaan pengendalian kebakaran
hutan kepada Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan.
(4) Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan pengelolaan seluruh kegiatan dalkarhut di
wilayah kerjanya.
3
2.1.2. Pengelolaan Sumberdaya Manusia Dalkarhut
(1) Perusahaan pemegang IUPHHK wajib menyiapkan sumberdaya
manusia dalkarhut dalam Brigdalkarhut.
(2) Sumberdaya manusia dalkarhut, dipersiapkan untuk mengisi
organisasi Brigdalkarhut dan Regu Dalkarhut.
(3) Regu Dalkarhut, terdiri atas:
a. Regu Inti Dalkarhut;
b. Regu Pendukung Dalkarhut;
c. Regu Perbantuan Dalkarhut.
(4) Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dalkarhut dilakukan
melalui:
a. Pendidikan dan pelatihan;
b. Pembekalan (in-house training dan on-the job training);
c. Bimbingan teknis.
(5) Pendidikan dan pelatihan, meliputi bidang:
a. Pemberdayaan masyarakat;
b. Penyadartahuan atau kampanye pencegahan;
c. Teknis pencegahan kebakaran hutan;
d. Teknis pemadaman kebakaran hutan;
e. Dukungan evakuasi dan penyelamatan;
f. Dukungan manajemen; dan
g. Manajemen dalkarhut.
(6) Pembekalan (in-house training dan on-the job training) berupa
pelatihan singkat keterampilan di bidang dalkarhut.
(7) Bimbingan teknis berupa peningkatan keterampilan melalui
bimbingan/pendampingan.

2.1.3. Sarana Prasarana (Sarpras) Dalkarhut


(1) Perusahaan pemegang IUPHHK wajib menyiapkan sarpras untuk
menunjang kegiatan Brigdalkarhut.
(2) Sarpras dalkarhut, sekurang-kurangnya terdiri dari:
a. Sarpras pencegahan kebakaran hutan;
b. Sarpras pemadaman kebakaran hutan;
c. Sarpras lainnya.

[Link]. Sarpras Pencegahan Kebakaran Hutan


(1) Sarpras pencegahan kebakaran hutan, antara lain:
a. Penyadartahuan atau kampanye pencegahan;
b. Keteknikan pencegahan;
c. Sarana pengelolaan kanal pada gambut;
d. Posko penanganan kebakaran hutan;
e. Peringatan dini kebakaran hutan;
f. Deteksi dini kebakaran hutan.
(2) Sarpras penyadartahuan atau kampanye pencegahan, terdiri dari
alat peraga penyadartahuan atau kampanye dan sarpras
pendukung lainnya seperti perangkat komputer, televisi, video
player, screen, infokus, papan clip, poster, leaflet dan booklet.
(3) Sarana keteknikan pencegahan, terdiri dari sekat bakar buatan,
jalur hijau/green belt dan embung/water point atau kantor air.
(4) Sarana pengelolaan kanal pada gambut, terdiri dari peralatan
hidrologi sederhana, sekat kanal dan pintu air.

4
(5) Sarana posko penanganan kebakaran hutan, sekurang-kurangnya
terdiri dari:
a. Ruang yang diperuntukkan secara khusus untuk posko yang
dilengkapi meja kursi;
b. Laptop, komputer meja, printer, infokus, perangkat monitor
display, layar;
c. Mesin faksimili
(6) Sarana deteksi dini kebakaran hutan, meliputi menara pengawas
atau CCTV atau sensor panas sejenisnya, perangkat pendukung
untuk mengolah data informasi hotspot, GPS, peralatan sistem
penyebarluasan informasi hasil deteksi dini.

[Link]. Sarpras pemadaman kebakaran


(1) Sarpras pemadaman kebakaran harus dirancang dengan baik dan
harus selalu terpelihara dengan baik sehingga dapat digunakan
setiap saat.
(2) Sarpras pemadaman kebakaran, meliputi:
a. Perlengkapan pribadi;
b. Perlengkapan regu;
c. Peralatan regu;
d. Kendaraan pengendalian kebakaran hutan roda 4;
e. Sarana pengolahan data dan komunikasi;
f. Sarana transportasi.
(3) Perlengkapan pribadi, sekurang-kurangnya tediri atas: topi
pengaman, kacamata pengaman, masker dan penutup leher,
sarung tangan, sabuk, peples, peluit, ransel, sepatu pemadam,
baju pemadam, kaos, kantor tidur dan ransel standar.
(4) Perlengkapan regu, terdiri atas: tenda, peralatan standar
perbengkelan, peralatan P3K, peralatan penerangan, peralatan
masak, perlengkapan standar evakuasi dan penyelamatan
sederhana.
(5) Peralatan regu, terdiri dari:
a. Peralatan tangan, yang memiliki fungsi :
 Memotong, antara lain kapak satu mata, kapak dua mata,
kapak dua fungsi, parang, pulaski.
 Menggali, antara lain pacul, sekop, garu pacul.
 Menggaru, antara lain garu biasa, garu tajam, garu pacul.
 Memukul, antara lain gepyok, flapper karet.
 Menyemprot, antara lain pompa punggung, pacitan.
 Membakar, antara lain obor tetes, fuesee
b. Peralatan mekanis, sekurang-kurangnya terdiri atas :
 Pompa bertekanan tinggi dan kelengkapannya meliputi
selang, nozzle, nozzle gambut, tangki air lipat
 Chain saw
(6) Kendaraan untuk pengendalian kebakaran hutan roda 4, yang
dapat dimobilisasi ke lokasi kejadian kebakaran dan dapat
mengangkut tangki air.
(7) Sarana pengolahan data dan komunikasi, sekurang-kurangnya
terdiri atas global positioning system (GPS), radio genggam, radio
mobil dan megaphone, peralatan komunikasi tradisional seperti
bendera dan kentongan.

5
(8) Sarana transportasi, sekurang-kurangnya kendaraan roda 2 jenis
lapangan, kendaraan roda 4, sarana transportasi lain yang
menyesuaikan wilayah kerja.
(9) Perusahaan pemegang IUPHHK, dapat mencadangkan sarpras
pemadaman kebakaran hutan untuk Regu Pendukung
Pengandalian Kebakaran hutan dan atau Regu Perbantuan
Pengendalian Kebakaran Hutan.
(10) Jumlah dan jenis sarpras pemadaman kebakaran hutan untuk
Regu Pendukung Pengandalian Kebakaran hutan dan atau Regu
Perbantuan Pengendalian Kebakaran Hutan diatur lebih lanjut
oleh masing-masing perusahaan pemegang IUPHHK.

2.2. Penyelenggaraan Pencegahan


Pencegahan kebakaran hutan adalah semua usaha, tindakan atau kegiatan yang
dilakukan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran
hutan.

2.2.1. Pemberdayaan Masyarakat


(1) Pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam rangka
menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dalam kegiatan
perencanaan, pencegahan, penanggulangan dan penanganan
pasca kebakaran.
(2) Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui kegiatan:
a. Pelatihan;
b. Penguatan kelembagaan;
c. Fasilitasi;
d. Penyuluhan.
(3) Pelatihan yang dilakukan, antara lain:
a. Pelatihan dasar dalkarhut;
b. Pelatihan pengurangan resiko bencana kebakaran hutan;
c. Pelatihan terkait pemantapan kampung iklim.
(4) Penguatan kelembagaan, dapat dilakukan pada tingkat desa, yang
meliputi tahapan:
a. Pembuatan peraturan desa tentang dalkarhut sesuai kondisi
setempat;
b. Pembentukan MPA, yang dimulai dari perencanaan,
persyaratan, pembekalan, hingga penetapan;
c. Pengorganisasian masyarakat melalui kelompok tani;
d. Dukungan sarana dan prasarana, yang meliputi perlengkapan
dan peralatan administrasi dan teknis dalkarhut;
e. Pembentukan kampung iklim.
(5) Fasilitasi dilakukan melalui kegiatan antara lain :
a. Pendampingan;
b. Bimbingan teknis;
c. Pembinaan.
(6) Penyuluhan dilakukan melalui kegiatan antara lain:
a. Kampanye dalam rangka pencegahan kebakaran hutan,
secara langsung maupun melalui media cetak dan elektronik;
b. Tatap muka dan anjangsana.

6
2.2.2. Penyadartahuan
Kegiatan penyadartahuan, meliputi:
(1) Sosialisasi dan/atau penyuluhan pencegahan kebakaran hutan
melalui berbagai ragam metode
(2) Kampanye pencegahan kebakaran hutan
(3) Pembuatan bahan kampanye dan/atau alat peraga
(4) Gerakan pencegahan kebakaran hutan
(5) Pendampingan MPA

2.2.3. Mengurangi Resiko Kebakaran Hutan


Pengurangan resiko kebakaran hutan dilakukan dengan:
(1) Praktek pembukaan lahan tanpa bakar
(2) Pembuatan dan/atau pengelolaan sekat bakar.
(3) Pembuatan kompos hasil limbah vegetasi.
(4) Pengelolaan bahan bakaran.
(5) Pembuatan sekat kanal, embung dan kantong air.

2.2.4. Kesiapsiagaan
(1) Pemantapan organisasi dan prosedurnya.
(2) Petunjuk operasional penyelenggaraan pencegahan kebakaran
hutan yang memperhatikan tupoksi masing-masing (apa, dimana,
kapan, mengapa, siapa dan bagaimana) sesuai dengan kalender
tahunan pengendalian kebakaran.
(3) Simulasi mobilisasi berbagai tingkatan.
(4) Peningkatan koordinasi melalui rapat kerja, rapat koordinasi,
kunjungan kerja dan lain-lain.
(5) Pembangunan dan pemeliharaan sekat bakar, pengelolaan bahan
bakar, jalur hijau, upaya silvikultur dan pemeliharaan embung atau
kanal sebagai sumber air.
(6) Pemasangan rambu-rambu himbauan atau larangan yang mudah
terlihat terutama di area rawan kebakaran.

2.2.5. Peringatan Dini


(1) Peringatan dini dan aplikasi sistem peringkat bahaya kebakaran
atau sistem lainnya.
(2) Pembuatan, pemasangan dan sosialisasi rambu-rambu dan papan
peringatan pencegahan kebakaran hutan.
(3) Pembuatan, penyajian dan penyebarluasan informasi kerawanan
kebakaran hutan melalui peta atau sejenisnya.
(4) Pembuatan, penyajian dan penyebarluasan informasi sumberdaya
pengendalian kebakaran hutan nasional, provinsi, kabupaten/kota,
kecamatan dan desa.

2.2.6. Patroli Pencegahan Kebakaran Hutan


(1) Patroli rutin baik di dalam maupun pada areal batas luar.
(2) Patroli dan penjagaan daerah rawan kebakaran.

2.2.7. Deteksi Dini Kebakaran Hutan


(1) Deteksi dini merupakan kegiatan yang sangat penting untuk
mengetahui adanya kebakaran dan lokasinya. Tanpa mengetahui
lokasinya, kebakaran tersebut tidak bisa dipadamkan.
Kemampuan untuk dapat menemukan lokasi kebakaran dengan
segera dan cepat merupakan dasar pemadaman yang efektif.

7
(2) Penerapan deteksi dini dilakukan dengan berbagai metode
pengamatan seperti deteksi melalui menara pengawas, aplikasi
berbagai jenis kamera/CCTV, penginderaan jauh (potret udara
atau citra satelit).
(3) Pengolahan data dan informasi hotspot.
(4) Penyebarluasan data dan informasi hotspot.
(5) Penetapan level kesiagaan.
(6) Penetapan posko dalkarhut.
(7) Pendirian posko lapangan.

2.3. Penyelenggaraan Pemadaman


Pemadaman kebakaran hutan adalah semua usaha, tindakan atau kegiatan yang
dilakukan untuk menghilangkan atau mematikan api yang membakar hutan.

2.3.1. Pemadaman Awal


(1) Pemadaman awal sedapat mungkin dilakukan ketika api masih
kecil. oleh pihak-pihak yang terdekat dengan sumber kejadian.
(2) Pemadaman awal dilakukan sesegera mungkin setelah menerima
laporan deteksi dini adanya kebakaran.

2.3.2. Koordinasi Pemadaman


(1) Koordinasi antar para pihak dalam Brigdalkarhut.
(2) Koordinasi Brigdalkarhut dengan Pimpinan Unit Pengelolaan
apabila Brigdalkarhut tidak mampu melakukan pemadaman.
(3) Koordinasi Pimpinan Unit Pengelolaan dengan instansi lain terkait
apabila perusahaan tidak mampu melakukan pemadaman secara
mandiri.

2.3.3. Mobilisasi Pemadaman


(1) Mobilisasi pemadaman adalah pengerahan sumberdaya yang
dimiliki untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan.
(2) Koordinasi dengan pihak terkait di perusahaan apabila
pemadaman awal tidak mampu dilakukan dan memerlukan
bantuan dengan mobilisasi alat-alat berat.
(3) Koordinasi dengan instansi lain terkait apabila perusahaan tidak
mampu melakukan pemadaman secara mandiri.

2.3.4. Pemadaman Lanjutan


(1) Pengukuran api (size up)
(2) Pembuatan ilaran api (fire breaks)
(3) Melakukan pemadaman langsung atau tidak langsung.
(4) Dukungan pemadaman udara.
(5) Penyapuan bara api (mopping up)

Apabila pemadaman lanjutan oleh Unit Pengelolaan Hutan tidak berhasil


dilakukan maka Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan meminta bantuan
kepada pihak luar.

8
2.3.5. Demobilisasi Pemadaman
(1) Pengembalian dan penyimpanan kembali sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan.
(2) Inventarisasi dan pendataan ulang sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan.

2.3.6. Evakuasi Dan Penyelamatan


Dukungan evakuasi dan penyelamatan terhadap:
(1) Korban manusia yang berasal dari penduduk sekitar lokasi
kebakaran atau personil Dalkarhut.
(2) Tumbuhan langka dan satwa liar (TSL) yang memungkinkan
dievakuasi.
(3) Aset publik berupa fasilitas umum yang bersifat vital dan berada di
sekitar areal kebakaran.

2.4. Penyelenggaraan Penanganan Pasca Kebakaran Hutan


(1) Penyelenggaraan penanganan pasca kebakaran hutan terdiri dari:
a. Pengawasan areal bekas terbakar.
b. Inventarisasi luas kebakaran hutan.
c. Penaksiran kerugian.
d. Koordinasi penanganan pasca kebakaran hutan.
(2) Kegiatan penanganan pasca kebakaran hutan, meliputi:
a. Penaksiran luas.
b. Analisa vegetasi bekas terbakar.
c. Penaksiran kerugian.
d. Rekomendasi pelaksanaan rehabilitasi areal bekas terbakar.
e. Investigasi sebab-sebab kebakaran.
f. Melakukan penandaan dengan garis Polisi dan/atau garis PPNS
Lingkungan Hidup dan Kehutanan
g. Detasering terhadap areal pasca kebakaran hutan.
h. Melakukan penyidikan.
i. Monitoring dan menindaklanjuti segala hal terkait pelaksanaan
penanganan proses penegakan hukum bidang kebakaran hutan.

2.5. Pelaporan dan Pengawasan


(1) Pelaporan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan dalkarhut dilakukan
secara berjenjang sesuai tingkatan kewenangannya.
(2) Pelaporan dan pengawasan meliputi:
e. Keorganisasian;
f. Sumberdaya manusia;
g. Sarpras;
h. Operasional.
(3) Pelaporan, terdiri dari:
a. Laporan insidentil berupa Laporan Kejadian Kebakaran Hutan.
b. Laporan rutin berupa Laporan Bulanan dan Laporan Tahunan
Pengendalian Kebakaran Hutan.
c. Laporan Kejadian Kebakaran Hutan, sekurang-kurangnya memuat :
(i) Umum.
(ii) Kejadian kebakaran dan upaya penanggulangannya.

9
(4) Laporan Bulanan, sekurang-kurangnya memuat data dan informasi :
a. Umum.
b. Kegiatan pencegahan kebakaran hutan.
 Pembangunan menara pengawas.
 Pembuatan sekat bakar.
 Pemeliharaan embung/kanal.
 Pelaksanaan penyuluhan.
 Monitoring dan pengecekan lapangan hotspot.
 Patroli pencegahan kebakaran.
 Pelibatan dan pemberdayaan masyarakat.
c. Kegiatan pemadaman kebakaran hutan.
 Kejadian kebakaran hutan.
 Pemadaman kebakaran hutan.
d. Kegiatan penanganan pasca kebakaran hutan.
 Monitoring areal bekas kebakaran.
 Realisasi rehabilitasi areal bekas kebakaran hutan.
 Penegakan hukum bidang kebakaran hutan.
e. Kegiatan dukungan manajemen
 Regu dan personil pengendalian kebakaran hutan.
 Pendidikan dan pelatihan bagi personil pengendalian kebakaran
hutan.
 Penyusunan pedoman pengendalian kebakaran hutan.
 Sarana dan prasarana pengendalian kebakaran hutan.
 Pembiayaan pengendalian kebakaran hutan.

(5) Laporan Tahunan Pengendalian Kebakaran Hutan, sekurang-kurangnya


memuat data dan informasi :
a. Umum.
b. Kegiatan pengendalian kebakaran hutan tahunan.
 Monitoring dan pengecekan lapangan hotspot.
 Patroli pencegahan kebakaran hutan.
 Pemberdayaan masyarakat.
 Kejadian dan pemadaman kebakaran hutan.
 Monitoring dan realisasi rehabilitasi areal bekas kebakaran hutan.
 Pembiayaan pengendalian kebakaran hutan.
c. Rencana kerja tahunan berikutnya.
d. Rencana kerja pengendalian kebakaran hutan.
e. Peta kerawanan kebakaran hutan.

(6) Format laporan serta tata cara pelaporan dan monitoring evaluasi dalkarhut
mengacu kepada Peraturan Direktur Jenderal tentang Pedoman Pelaporan
Pengendalian kebakaran Hutan dan Lahan.

10
BAB 3
PENUTUP

Pengendalian kebakaran hutan harus menjadi bagian yang sangat penting untuk
perlindungan hutan dan harus dipersiapkan lebih terencana serta tersedia cukup
kelengkapan sarana prasarananya. Hal tersebut wajib dilakukan untuk menghindari
kerugian material yang jauh lebih besar.

Langkah dan tindakan terbaik adalah dengan melakukan pencegahan dini sebelum
terjadinya kebakaran hutan yang lebih luas, yang berdampak negatif lebih besar. Upaya
pencegahan, pemadaman, dan penanganan pasca kebakaran hutan akan lebih
harmonis apabila dilakukan dengan melibatkan masyarakat sesuai dengan prosedur
yang berlaku pada masing-masing perusahaan pemegang IUPHHK.

Panduan Pembuatan Prosedur Operasi Standar ini merupakan rujukan dari Asosiasi
kepada anggotanya untuk meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan dalam rangka
mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan. Dalam pembuatan Prosedur Operasi
Standar nantinya, perusahaan pemegang IUPHHK dapat melakukan modifikasi
disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan masing-masing serta perlu
mempedomani peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait kebakaran hutan.

Setiap perusahaan pemegang IUPHHK wajib melakukan sosialisasi kepada para pihak
terkait agar terbangun kesepahaman dalam tindakan pencegahan, penanggulangan,
dan penanganan pasca kebakaran hutan. Prosedur Operasi Standar yang dimiliki akan
lebih bermakna apabila diterapkan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan
kemampuan perusahaan pemegang IUPHHK. Semoga bermanfaat.

11
LAMPIRAN. CONTOH STANDARD OPERATING PROCEDURE
PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN

STANDARD OPERATING PROCEDURE


PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN

1. TUJUAN
Untuk memastikan bahwa kegiatan pengendalian kebakaran hutan (dalkarhut)
dapat dikendalikan melalui prosedur dan tanggung jawab yang jelas.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini mencakup perencanaan kegiatan dalkarhut penyelenggaraan
pencegahan, penanggulangan/pemadaman, dan penanganan pasca kebakaran
hutan, serta pelaporan dan pengawasan yang berlaku pada perusahaan pemegang
IUPHHK.

3. DEFINISI
a. Unit Pengelolaan Hutan adalah kesatuan pengelolaan hutan terkecil sesuai
fungsi dan peruntukannya, yang dapat dikelola secara efisien dan lestari.
b. Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan (Brigdalkarhut) adalah satuan kerja
yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan
pencegahan, penanggulangan, penanganan pasca kebakaran, dukungan
evakuasi dan penyelamatan dalam pengendalian kebakaran hutan di lapangan.
c. Regu Pengendalian Kebakaran Hutan (Regu Dalkarhut) adalah kelompok
personil pelaksana teknis Brigdalkarhut yang dilengkapi peralatan dan sarana
prasarana pengendalian kebakaran hutan di lapangan yang dipimpin oleh
Kepala Regu Dalkarhut yang bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit
Pengelolaan Hutan yang terdiri dari Regu Inti, Regu Pendukung, dan Regu
Perbantuan.
d. Regu Inti Pengendalian Kebakaran Hutan adalah regu yang secara khusus
melaksanakan pengendalian kebakaran hutan di wilayah kerjanya.
e. Regu Pendukung Pengendalian Kebakaran Hutan adalah regu yang
mendukung regu inti yang anggotanya karyawan pemegang izin.
f. Regu Perbantuan Pengendalian Kebakaran Hutan adalah regu yang
mendukung regu inti yang anggotanya dari masyarakat desa binaan setempat.
g. Karyawan pemegang izin adalah pekerja yang direkrut oleh perusahaan yang
diikat dalam kontrak kerja berdasarkan aturan dan ketentuan perundang-
undangan di bidang ketenagakerjaan serta aturan perusahaan yang berlaku.
h. Masyarakat Peduli Api (MPA) adalah masyarakat yang secara sukarela peduli
terhadap pengendalian kebakaran hutan yang telah dilatih atau diberi
pembekalan serta diberdayakan untuk membantu pengendalian kebakaran
hutan.
i. Deteksi dini kebakaran hutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui
adanya kejadian kebakaran dan lokasi kebakaran hutan.
j. Hotspot adalah istilah untuk sebuah pixel yang memiliki nilai temperatur di atas
ambang batas (threshold) dari hasil interpretasi citra satelit yang dapat
digunakan sebagai indikasi kejadian kebakaran hutan.

12
k. Pemadaman dini adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencegah
terjadinya kebakaran yang lebih besar saat ditemukan titik api (kejadian
kebakaran) oleh para pihak melalui pemadaman seketika.
l. Pemadaman awal adalah pemadaman yang dilakukan dalam rangka
menindaklanjuti upaya pemadaman yang tidak berhasil dilakukan pada saat
pemadaman dini dengan memobilisasi Regu Dalkarhut.
m. Pemadaman lanjutan adalah pemadaman yang dilakukan dalam rangka
menindaklanjuti upaya pemadaman yang tidak berhasil dilakukan pada saat
pemadaman awal, dengan memobilisasi segenap sumberdaya yang ada di Unit
Pengelolaan Hutan termasuk penggunaan alat-alat berat.
n. Posko Dalkarhut adalah satuan kerja pengendalian kebakaran hutan yang
mempunyai tugas dan tanggung jawab memonitor seluruh kegiatan peringatan
dan deteksi dini selama 24 jam dan sebagai pusat operasi pengendalian
kebakaran di lapangan.

13
4. STRUKTUR ORGANISASI DALKARHUT

PIMPINAN UNIT PENGELOLAAN HUTAN


DI WILAYAH
Fungsi :
 Koordinasi penyelenggaraan/pengelolaan
dalkarhut
 Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran
(RKA)

KEPALA BRIGDALKARHUT

Fungsi :
 Koordinasi pelaksanaan dalkarhut
 Pengawasan pelaksanaan dalkarhut
 Penyusunan Rencana Kerja operasional
(RKO) dan Standar Kegiatan dan Biaya
(SKB) atau Standar Biaya Keluaran (SBK)
 Penyusunan Rencana kontingensi

KOORDINATOR KOORDINATOR TATA USAHA


PENCEGAHAN PEMADAMAN DAN SEKRETARIS BRIGADE
KEBAKARAN HUTAN PENANGANAN PASCA
KEBAKARAN
Fungsi koordinasi: Fungsi koordinasi :  Fungsi perencanaan
 Keteknikan pencegahan  Pemadaman awal dan pendanaan
 Pengelolaan kanal pada lanjutan  Fungsi penyiapan dan
gambut  Inventarisasi dan pemeliharaan sarpras
 Penyuluhan monitoring areal bekas  Fungsi penyiapan
 Pemberdayaan masyarakat kebakaran logistik
 Pelaksanaan posko  Koordinasi penanganan  Fungsi administrasi
dalkarhut pasca kebakaran
 Peringatan dan deteksi dini  Dukungan evakuasi dan
penyelamatan

REGU DALKARHUT

Fungsi :
Pelaksanaan operasional
dalkarhut di lapangan

Gambar 1. Struktur Organisasi Dalkarhut

14
5. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
a. Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan sebagai penanggung jawab
penyelenggaraan pengelolaan seluruh kegiatan dalkarhut di wilayah kerjanya.
b. Kepala Brigdalkarhut, sebagai penanggung jawab pelaksanaan seluruh
kegiatan dalkarhut, bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit Pengelolaan
Hutan.
c. Sekretaris Brigade, bertanggung jawab kepada Kepala Brigdalkarhut, untuk
melakukan perencanaan pendanaan, penyiapan dan pemeliharaan sarpras,
penyiapan logistik dan pengadministrasian.
d. Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan, bertanggung jawab kepada Kepala
Brigdalkarhut, untuk mengkoordinir pelaksanaan kegiatan pencegahan, meliputi
pemberdayaan masyarakat, penyadartahuan, pengurangan resiko, peningkatan
kapasitas kelembagaan, patroli dan peringatan dini serta deteksi dini.
e. Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran, bertanggung
jawab kepada Kepala Brigdalkarhut, untuk mengkoordinir pelaksanaan
pemadaman awal dan lanjutan, penanganan pasca kebakaran serta dukungan
evakuasi dan penyelamatan.
f. Kepala Regu Dalkarhut, bertanggungjawab kepada Kepala Brigdalkarhut untuk
melaksanakan fungsi operasional pencegahan, pemadaman, dan penanganan
pasca kebakaran serta dukungan evakuasi dan penyelamatan.

6. PROSEDUR
6. 1. Perencanaan Pencegahan Kebakaran
a. Membuat dan menyusun informasi dasar
(1) Peta kejadian kebakaran yang menunjukkan jumlah dan lokasi
kebakaran di tahun sebelumnya.
(2) Statistik kebakaran hutan, yang menguraikan tanggal dan waktu
kejadian kebakaran, penyebab kebakaran, luas kebakaran dan
lain-lain.
(3) Peta kerawanan kebakaran (fire risk map), yang menunjukan
lokasi-lokasi aktivitas manusia dapat meningkatkan peluang
terjadinya kebakaran.
(4) Peta sumber bahaya (fire hazard map), yang menunjukkan tipe
bahan bakar sesuai dengan daya nyalanya (flammability).
(5) Peta-peta tematik (peta hidrologi, situasi jaringan, tempat-tempat
penting, dll).

b. Mengevaluasi dan menganalisa penyebab kebakaran tahun sebelumnya


serta usaha-usaha yang telah dilakukan.

c. Membuat rencana dan menetapkan tujuan pencegahan kebakaran hutan


(1) Penyusunan Rencana Kerja operasional (RKO) dan Standar
Kegiatan dan Biaya (SKB) atau Standar Biaya Keluaran (SBK).
(2) Mengkoordinasikan kembali organisasi dalkarhut sesuai tugas dan
fungsi dalam Rencana Kerja operasional (RKO).
(3) Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA).

6.2. Tindakan Pencegahan


a. Melaksanakan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pelatihan,
penguatan kelembagaan, fasilitasi, dan penyuluhan.

15
b. Pelatihan yang dilakukan, antara lain:
(1) Pelatihan dasar dalkarhut.
(2) Pelatihan pengurangan resiko bencana kebakaran hutan.
(3) Pelatihan terkait pemantapan kampung iklim.

c. Penguatan kelembagaan, meliputi kegiatan:


(1) Pembuatan peraturan desa tentang dalkarhut sesuai kondisi
setempat.
(2) Pembentukan MPA, yang dimulai dari perencanaan, persyaratan,
pembekalan, hingga penetapan.
(3) Pengorganisasian masyarakat melalui kelompok tani.
(4) Dukungan sarana dan prasarana, yang meliputi perlengkapan dan
peralatan administrasi dan teknis dalkarhut.
(5) Pembentukan kampung iklim.

d. Fasilitasi dilakukan melalui kegiatan antara lain :


(1) Pendampingan.
(2) Bimbingan teknis.
(3) Pembinaan.

b. Penyuluhan dilakukan melalui kegiatan antara lain:


(1) Kampanye dalam rangka pencegahan kebakaran hutan, secara
langsung maupun melalui media cetak dan elektronik.
(2) Tatap muka dan anjangsana.

d. Melaksanakan penyadartahuan pencegahan kebakaran hutan


menggunakan metode antara lain :
(1) Sosialisasi dan/atau penyuluhan pencegahan kebakaran hutan.
(2) Kampanye pencegahan kebakaran hutan.
(3) Pembuatan bahan kampanye dan/atau alat peraga.
(4) Gerakan pencegahan kebakaran hutan.
(5) Pendampingan MPA.

d. Mengurangi resiko kebakaran hutan, melalui:


(1) Praktek pembukaan lahan tanpa bakar.
(2) Pembuatan dan/atau pengelolaan sekat bakar.
(3) Pembuatan ilaran api.
(4) Pembuatan kompos hasil limbah vegetasi.
(5) Pengelolaan bahan bakaran.
(6) Pembuatan sekat kanal, embung, dan kantong air.

e. Melaksanakan kesiapsiagaan
(1) Menyusun petunjuk operasional penyelenggaraan pencegahan
kebakaran hutan dengan memperhatikan tupoksi masing-masing
(apa, dimana, kapan, mengapa, siapa dan bagaimana) sesuai
dengan RKO pengendalian kebakaran hutan yang telah disusun.
(2) Pemantapan organisasi dan prosedurnya.
(3) Simulasi mobilisasi berbagai tingkatan.
(4) Pembangunan dan pemeliharaan sekat bakar, pengelolaan bahan
bakaran, jalur hijau, upaya silvikultur dan pemeliharaan embung
atau kanal sebagai sumber air.
(5) Pemasangan rambu-rambu himbauan atau larangan yang mudah
terlihat terutama di area rawan kebakaran.

16
f. Peringatan dini
(1) Kegiatan peringatan dini dilakukan beberapa bulan sebelum
memasuki periode waktu biasanya terjadi kebakaran.
(1) Pengoperasian sistem peringatan dini dan aplikasi sistem
peringkat bahaya kebakaran atau sistem lainnya.
(2) Pembuatan, pemasangan, dan sosialisasi rambu-rambu dan papan
peringatan pencegahan kebakaran hutan.
(3) Pembuatan, penyajian, dan penyebarluasan informasi kerawanan
kebakaran hutan melalui peta atau sejenisnya.
(2) Pembuatan, penyajian, dan penyebarluasan informasi sumberdaya
pengendalian kebakaran hutan nasional, provinsi, kabupaten/kota,
kecamatan dan desa.
(3) Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan harus memiliki akses
untuk mendapatkan informasi gambaran keadaan wilayahnya
melalui mekanisme peringatan dini.
(4) Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan mengikuti
perkembangan informasi tentang kondisi terkini wilayahnya yang
bersumber dari “peringatan dini”.
(5) Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan membuat peta rawan
kebakaran, untuk lebih meningkatkan kewaspadaan akan peluang
terjadinya kebakaran.
(4) Pada kawasan yang menurut mekanisme peringatan dini merupakan
daerah yang berpeluang tinggi terjadinya kebakaran, harus segera
diantisipasi baik melalui patroli maupun pendekatan kepada sumber
api.

g. Patroli pencegahan kebakaran hutan


(1) Regu Dalkarhut melakukan patroli rutin baik di dalam maupun
pada areal batas luar unit pengelolaan hutan.
(2) Patroli juga dilakukan di daerah rawan kebakaran.

h. Deteksi dini kebakaran hutan


(1) Deteksi dini, dilakukan oleh:
 Semua karyawan yang bertugas mengawasi pekerjaan di
lapangan.
 Patroli pada areal batas luar yang dilaksanakan oleh security.
 Pemantauan dari menara pengawas oleh petugas piket.
 Masyarakat yang kebetulan melihat asap atau api.
(2) Para pihak yang terdekat dengan sumber kejadian sebagaimana
tersebut di atas, sedapat mungkin melakukan pemadaman dini
ketika api masih kecil.
(3) Deteksi dini juga dilakukan melalui monitoring hotspot
 Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan, secara rutin
melakukan monitoring data hotspot.
 Melakukan verifikasi keberadaan hotspot (dapat
menggunakan alat bantu GPS untuk memastikan keberadaan
hotspot).
 Hasil verifikasi berupa firespot harus segera dilakukan
tindakan pemadaman minimal 2 km dari batas luar areal.
 Mendokumentasikan hasil monitoring hotspot.
(4) Semua laporan deteksi dini kebakaran hutan digunakan untuk
semua kebakaran baik kebakaran di areal IUPHHK maupun 2 km
di luar areal IUPHHK.

17
(5) Semua temuan kebakaran harus segera dilaporkan kepada Kepala
Regu sebelum mencapai 0,1 ha atau dalam 1 kali 24 jam setelah
temuan adanya kebakaran.
(6) Informasi kebakaran disampaikan kepada Posko Dalkarhut melalui
telepon, fax, radio, atau peralatan komunikasi lainnya.
(7) Berdasarkan laporan deteksi dini kebakaran hutan dari Posko
Dalkarhut, Regu Patroli melakukan groundcek dengan membawa
peralatan yang dibutuhkan untuk pemadaman dini.
(8) Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan berkoordinasi dengan
Regu Patroli untuk mengetahui kebakaran yang terdeteksi dan
upaya pemadaman dini yang dilakukan.
(9) Dalam hal pemadaman dini tidak mampu dilakukan, Koordinator
Pencegahan Kebakaran Hutan melaporkan kejadian kebakaran
kepada Kepala Brigdalkarhut dan Koordinator Pemadaman dan
Penanganan Pasca Kebakaran untuk ditangani lebih lanjut.

6.3. Tindakan pemadaman


a. Pemadaman awal
(1) Berdasarkan laporan kejadian kebakaran, Koordinator
Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran menyusun
rencana dan melakukan pemadaman awal dengan memobilisasi
Regu Dalkarhut.
(2) Pemadaman awal oleh Regu Dalkarhut dilakukan dalam waktu
maksimal 2 jam setelah menerima laporan kejadian kebakaran.

b. Koordinasi pemadaman
(1) Regu Patroli berkoordinasi dengan Koordinator Pencegahan
Kebakaran Hutan dalam melakukan pemadaman dini.
(2) Apabila pemadaman dini tidak mampu dilakukan, Koordinator
Pencegahan Kebakaran Hutan berkoordinasi dengan Koordinator
Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran untuk dilakukan
pemadaman awal.
(3) Dalam melakukan pemadaman awal, Koordinator Pemadaman
dan Penanganan Pasca Kebakaran berkoordinasi dengan Kepala
Regu Dalkarhut serta Kepala Brigdalkarhut.
(4) Apabila pemadaman awal tidak mampu dilakukan, Kepala
Brigdalkarhut berkoordinasi dengan Pimpinan Unit Pengelolaan
Hutan untuk dilakukan pemadaman lanjutan dengan melakukan
mobilisasi pemadaman melalui pengerahan sumberdaya yang ada
termasuk penggunaan peralatan berat.
(5) Apabila perusahaan tidak mampu melakukan pemadaman secara
mandiri, Pimpinan Unit Pengelolaan berkoordinasi dengan instansi
lain terkait untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

c. Mobilisasi pemadaman
(1) Mobilisasi Regu Dalkarhut
(i) Mobilisasi Regu Dalkarhut dilakukan apabila pemadaman
dini tidak mampu dilakukan sehingga harus dilakukan
pemadaman awal.
(ii) Kepala Regu Dalkarhut bersama dengan regu pertama
segera ke lokasi kebakaran dengan membawa peralatan
standar regu ringan.
(iii) Regu Dalkarhut pertama terdiri dari karyawan yang pada
saat kejadian berada di base camp.
18
(iv) Apabila regu pertama beserta regu patroli belum mampu
mengatasi pergerakan penjalaran api, Kepala Regu
Dalkarhut menghubungi Koordinator Pemadaman dan
Penanganan Pasca Kebakaran untuk meminta tambahan
Regu Dalkarhut.
(v) Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran mengatur pengiriman sejumlah Regu Dalkarhut
sesuai permintaan Kepala Regu Dalkarhut.
(vi) Setiap Regu Dalkarhut dipimpin seorang Kepala Regu yang
mengatur keselamatan regu, operasional, produktivitas dan
lain-lain dan satu orang operator mesin pompa dengan
anggota tergantung jenis peralatan yang digunakan.
(vii) Sekretaris Brigade segera mengatur dan mengkoordinir
seluruh kebutuhan Regu Dalkarhut di lapangan.
(viii) Kepala Brigdalkarhut memonitor dan memastikan bahwa
operasional telah terorganisir dengan baik dan memastikan
seluruh kebutuhan yang akan menunjang seluruh operasi
pemadaman berlangsung, telah disiapkan dan tersedia.
(ix) Dalam penilaian situasi dimana penjalaran api belum dapat
dihentikan oleh sumber daya yang ada, maka Kepala
Brigdalkarhut melalui Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan
segera melakukan permintaan bantuan kepada pihak terkait
sesuai situasi dan kondisi.

(2) Proses Penambahan atau Penggantian Regu Dalkarhut


(i) Penambahan dan penggantian Regu Dalkarhut di lapangan
berdasarkan permintaan dari Kepala Regu Dalkarhut yang
menguasai situasi di lapangan dalam upaya percepatan
penghentian gerakan ilaran api.
(ii) Pengaturan penambahan dan penggantian Regu Dalkarhut
dilaksanakan oleh Koordinator Pemadaman dan
Penanganan Pasca Kebakaran.
(iii) Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran bertugas menghimpun sumberdaya yang ada
(karyawan dan masyarakat) untuk menjadi Regu Dalkarhut.
Informasi disampaikan melalui radio, telepon atau
penyampaian dari mulut ke mulut.
(iv) Setiap orang di base camp dalam kondisi sehat merupakan
sumberdaya yang harus siap membantu dalam upaya
pemadaman kebakaran.
(v) Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran melengkapi Regu Dalkarhut dengan peralatan
sesuai dengan kebutuhan.
(vi) Sekretaris Brigade mengatur transportasi untuk mobilisasi
Regu Dalkarhut, peralatan, makanan, minuman, dll dibawah
koordinasi Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran.
(vii) Penggantian Regu Dalkarhut dilaksanakan setelah
melaksanakan tugas pemadaman selama 5 (lima) hari
berturut-turut dan diberi waktu istirahat 1 (satu) hari di base
camp dan menjalankan tugas untuk 5 (lima) hari berikutnya.

19
(viii) Jam kerja Regu Dalkarhut dibagi dalam 2 (dua) shiff, satu
shiff bekerja selama 12 jam. Pergantian shiff harus dilokasi
pemadaman dimana Regu Dalkarhut pengganti terlebih
dahulu datang.
(ix) Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran memberikan penjelasan singkat kepada semua
regu mengenai :
 Target waktu, tujuan, prioritas dan taktis pelaksanaan.
 Memberitahukan bahaya yang ada, pohon mati,
bebatuan, kedalaman gambut, hewan buas yang ada,
jebakan, dsb.
 Memberitahukan dimana rute penyelamatan diri dan
daerah aman untuk berkumpul, lokasi penempatan
medical dan paramedisnya siapa.
 Memberitahukan dimana lokasi kerja mereka dan siapa
saja rekan mereka yang bekerja bersebelahan lokasi.
 Memberikan informasi sumber air, perilaku api dan
kemungkinan yang terjadi serta kondisi asap.
 Memberitahukan posisi alat berat (excavator) yang
digunakan untuk pembuatan sekat bakar dalam
pemadaman.

d. Pemadaman lanjutan
(1) Pemadaman lanjutan dilakukan apabila pemadaman awal tidak
berhasil dilakukan.
(3) Diawali dengan melakukan pengukuran api (size up).
(4) Pembatasan (contain) laju penjalaran api dalam waktu 48 jam
sejak dilakukannya pemadaman awal dan menjaga agar luas area
yang terbakar tidak mencapai lebih dari 10 (sepuluh) ha.
(5) Jika laju penjalaran api sulit dibatasi dengan Regu Dalkarhut yang
ada karena keterbatasan sumberdaya (resources) maka laju
penjalaran api harus segera dibatasi dengan pembuatan sekat
bakar dengan menggunakan alat berat (excavator, dozer, dll).
(6) Kepala Brigdalkarhut bersama-sama dengan Koordinator
Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran melakukan
pengukuran api (size up).
(7) Kepala Brigdalkarhut bersama-sama dengan Koordinator
Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran segera
menyusun strategi (pemadaman langsung atau tidak langsung)
untuk menghentikan penjalaran api dengan seluruh sumberdaya
dan peralatan yang ada.
(8) Kepala Brigdalkarhut memberikan penjelasan singkat kepada
seluruh Regu Dalkarhut mengenai :
(i) Target waktu, tujuan, prioritas dan teknis pelaksanaan.
(ii) Memberitahukan bahaya yang ada, pohon mati, bebatuan,
kedalaman gambut, hewan buas dan sebagainya.
(iii) Memberitahukan dimana lokasi kerja mereka dan siapa saja
rekan yang bekerja bersebelahan lokasi.
(iv) Memberitahukan sumber air, perilaku api dan kondisi asap.
(v) Memberitahukan posisi alat berat (excavator) yang
digunakan untuk pembuatan sekat bakar.
(vi) Menyampaikan rencana teknis pelaksanaan evakuasi dan
penyelamatan.

20
(9) Dalam kondisi kebakaran hebat, diperlukan dukungan pemadaman
udara.
(2) Penyapuan bara api (mopping up), dilaksanakan setelah laju
penjalaran api sudah dapat diatasi dimulai dari pinggir mengarah
ke dalam di sekeliling area terbakar.

e. Demobilisasi pemadaman
(1) Pengembalian dan penyimpanan kembali sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan.
(2) Inventarisasi dan pendataan ulang sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan.

f. Evakuasi dan penyelamatan


(1) Pelaksanaan evakuasi dan penyelamatan korban manusia
(i) Kepala Brigdalkarhut memberikan penjelasan singkat
kepada seluruh Regu Dalkarhut mengenai rute
penyelamatan diri, daerah-daerah aman untuk berkumpul,
lokasi penempatan korban dan paramedis yang bertugas.
(ii) Sekretaris Brigade menyiapkan sarpras dan logistis untuk
pelaksanaan evakuasi dan penyelamatan.
(1) Pelaksanaan evakuasi dan penyelamatan tumbuhan langka dan
satwa liar (TSL)
(i) Kepala Brigdalkarhut memberitahukan jenis tumbuhan
langka dan satwa liar (TSL) yang berada di areal kerja
kepada seluruh Regu Dalkarhut.
(ii) Tumbuhan langka dan satwa liar (TSL) yang memungkinkan
untuk dievakuasi sedapat mungkin dilakukan evakuasi.
(2) Pelaksanaan evakuasi dan penyelamatan aset publik
(i) Kepala Brigdalkarhut memberitahukan jenis dan lokasi aset
publik (fasilitas umum yang vital) yang berada di berada di
sekitar lokasi kebakaran kepada seluruh Regu Dalkarhut.
(ii) Dalam pelaksanaannya Kepala Brigdalkarhut dapat meminta
bantuan dari pihak terkait.

g. Posko Dalkarhut
(1) Posko Dalkarhut dibentuk selama musim kemarau dengan tujuan
untuk monitoring seluruh kegiatan peringatan dan deteksi dini
selama 24 jam dan sebagai pusat operasi pengendalian
kebakaran di lapangan.
(2) Kegiatan Posko Dalkarhut berada di bawah koordinasi Koordinator
Pencegahan Kebakaran Hutan.
(3) Posko Dalkarhut dibentuk di base camp, dilengkapi dengan :
(i) Peralatan komunikasi berupa radio RIG, SSB, telepon atau
alat komunikasi lainnya.
(ii) Peralatan komputer untuk monitoring hotspot melalui laporan
monitoring maupun untuk komunikasi melalui Lotus Note dan
Window Massenger.
(iii) Peta areal kerja yang menggambarkan titik rawan
kebakaran, posisi menara pengawas api, dll.
(iv) Buku catatan yang mencatat seluruh laporan dan kejadian.
(v) Petugas jaga posko selama 24 jam.
(vi) Transportasi berupa ketek dan speed boat.

21
6.4. Peralatan dan Perlengkapan Pemadaman
a. Penggunaan peralatan secara umum
(1) Sekretaris Brigade melakukan konsolidasi data kebutuhan
peralatan dan pembelian peralatan.
(2) Sekretaris Brigade harus memastikan bahwa peralatan
pemadaman kebakaran dan peralatan tangan disimpan dalam
gudang yang tertutup rapat, kering, dan bebas dari serangga dan
peralatan harus siap pakai untuk pemadaman.
(3) Izin penggunaan peralatan diberikan oleh Kepala Brigdalkarhut
sesuai dengan kebutuhan, spesifikasi peralatan dan
peruntukannya. Tanggung jawab peralatan menjadi tanggung
jawab pengguna.
(4) Setelah peralatan digunakan dalam suatu kegiatan operasi
pemadaman, harus dikembalikan pada tempatnya semula setelah
diperiksa kondisinya terlebih dahulu. Peralatan yang rusak segera
diperbaiki sehingga umur pakai peralatan dapat lebih
diperpanjang.
(5) Peminjaman peralatan ringan kepada Regu Dalkarhut lain hanya
dibenarkan bila peminjam dalam keadaan terdesak dan peralatan
tersebut masih layak untuk digunakan serta bukan satu-satunya
alat yang tersisa.

b. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan


(1) Perlengkapan personil
(i) Pelindung kepala (topi pengaman).
(ii) Pelindung mata (kacamata).
(iii) Pelindung pernapasan (kain penutup mulut dan leher).
(iv) Pelindung tangan (sarung tangan).
(v) Pelindung kaki (sepatu bersol karet).
(vi) Pelindung badan (baju wearpack).
(2) Perlengkapan regu
(i) Tenda.
(ii) Perlengkapan P3K.
(iii) Selimut pelindung.
(iv) Peralatan penerangan.
(3) Peralatan pemadaman
(i) Kapak dua fungsi.
(ii) Alat pemukul api/gepyok.
(iii) Garu tajam dan garu pacul.
(iv) Sekop.
(v) Pompa punggung.
(vi) Pompa mekanik seperti pompa bertekanan tinggi dan
kelengkapannya (selang, nozzle, tangki air lipat).
(vii) Chain saw.
(4) Sarana pengolahan data dan komunikasi
(i) Global positioning system (GPS).
(ii) Radio genggam.
(iii) Megaphone.
(5) Sarana transportasi, untuk pengangkutan personil dan logistik,
antara lain : truk, ketek, dan speed boat.

c. Perlengkapan personil wajib digunakan oleh setiap anggota Regu


Dalkarhut yang sedang melaksanakan kegiatan pemadaman untuk
melindungi diri dari bahaya atau kecelakaan kerja.
22
d. Gudang penyimpanan peralatan
(1) Base camp menyediakan 1 (satu) gudang penyimpanan peralatan
yang permanen yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan.
(2) Peralatan yang tersimpan dalam gudang penyimpanan disusun
berdasarkan jenis dan penggunaannya dan tidak boleh tumpang
tindih dengan peralatan lainnya.
(3) Kondisi gudang penyimpanan harus mampu menjaga agar
peralatan tidak rusak, artinya gudang tersebut harus kering dan
cukup leluasa untuk keluar masuknya peralatan.
(4) Gudang penyimpanan peralatan harus sering diperiksa secara
rutin dan dibersihkan agar terhindar dari ancaman perusakan.

e. Administrasi peralatan pemadaman kebakaran


(1) Sekretaris Brigade mendata semua peralatan pemadaman
kebakaran menurut jenis, spesifikasi, jumlah, dll.
(2) Keluar masuknya peralatan harus dicatat dan ada bukti
administrasinya.
(3) Minimal 1 (satu) bulan sekali dilakukan inspeksi visual dan testing
peralatan dan pendataan kembali serta pelaporannya kepada
Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran.
(4) Peralatan mesin pompa yang diketahui kondisinya kurang baik
segera diajukan untuk diservis.
(5) Peralatan yang sudah tidak bisa dipakai lagi harus dibuatkan
Berita Acara Penghapusan Aset dari data inventaris peralatan
kebakaran.
(6) Kepala Brigdalkarhut akan melakukan inspeksi secara mendadak
setiap tahun secara periodik berkenaan dengan peralatan
pemadaman dan tingkat kesiagaan secara umum.

6.5. Penanganan Pasca Kebakaran


a. Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran
melakukan inventarisasi dan pengawasan areal bekas kebakaran serta
menaksir kerugian yang dialami sebagai dasar penyusunan rencana
penanganan pasca kebakaran.
b. Rencana penanganan pasca kebakaran disampaikan kepada Pimpinan
Unit Pengelolaan melalui kepala Brigdalkarhut untuk mendapatkan
persetujuan.
c. Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran
melakukan koordinasi untuk pelaksanaan rencana penanganan pasca
kebakaran yang telah disetujui.
d. Apabila diperlukan penegakan hukum, Koordinator Pemadaman dan
Penanganan Pasca Kebakaran menyerahkan penanganannya kepada
pihak yang ditunjuk oleh Pimpinan Unit Pengelolaan.

6.6. Pelaporan dan Pengawasan


a. Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan menyusun laporan
pelaksanaan kegiatan pencegahan kebakaran hutan yang menjadi
tanggung jawabnya.
b. Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca kebakaran menyusun
laporan pelaksanaan kegiatan pemadaman dan penanganan pasca
kebakaran yang menjadi tanggung jawabnya.

23
c. Laporan Kejadian kebakaran, dibuat oleh Koordinator Pemadaman dan
Penanganan Pasca Kebakaran dan disampaikan kepada Kepala
Brigdalkarhut dalam waktu 24 jam setelah kebakaran dinyatakan padam
dengan dilampiri BAP Kebakaran, Laporan Kejadian Kasus dan Peta
Lokasi Kebakaran.
d. Laporan Bulanan yang merangkum semua kejadian kebakaran dan data
terkait seperti areal yang terbakar, luasan kebakaran dan perkiraan
kerugian dibuat oleh Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran.
e. Laporan Tahunan yang merangkum semua kejadian kebakaran selama
setahun dibuat oleh Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran.
e. Laporan Bulanan dan Laporan Tahunan disampaikan kepada Kepala
Brigdalkarhut untuk dilakukan konsolidasi.
f. Kepala Brigdalkarhut mengkompilasi laporan pengendalian kebakaran
hutan dan menyampaikannya kepada Pimpinan Unit Pengelolaan.
g. Kepala Brigdalkarhut melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap
seluruh kegiatan pengendalian kebakaran hutan.
h. Pimpinan Unit Pengelolaan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan
pengendalian kebakaran hutan.

7. Bagan Alir (Flow Chart)


Bagan alir pengendalian kebakaran hutan dibuat dalam tampilan gambar. Masing-
masing penanggung jawab/koordinator memiliki tugas dan fungsi dalam
penanganan dalkarhut. Dalam pelaksanaannya lebih bersifat kerja tim (team work)
yang dipimpin oleh Kepala Brigdalkarhut. Bagan alir tersebut digambarkan menurut
aliran tindakan yang harus dilakukan agar dicapai satu kesatuan gerak dan langkah
dalam penanganan dalkarhut (Gambar 1, 2 dan 3).

24
Gambar 1. Flow Chart Tindakan Pencegahan

Input Sekretaris Brigade Koord. Pencegahan Koord. Pemadaman & Kepala Brigdalkarhut Pimpinan Unit Pengelolaan
Kebakaran Hutan/Posko Penangan Pasca Kebakarn Hutan di Wilayah
Dalkarhut

Informasi dasar:
- Peta kejadian - Penyusunan
kebakaran tahun - Penyusunan RKA
(RKO, SKB atau
sebelumnya - Penyiapan & - Koordinasi
pemeliharaan sarpras SBK, rencana
- Statistik kebakaran pelaksanaan
- Penyiapan logistik kontingensi)
- Peta kerawanan dalkarhut
- Pelaksanaan
kebakaran dalkarhut
- Peta tematik

Ketersediaan : Pemasangan/
- Rambu/larangan, pembangunan/peme
menara pengawas -liharaan
- Sekat bakar, jalur
Penyuluhan
hijau
- Embung/kanal Pelatihan SDM

Regu Dalkarhut Patroli

Hotspot Pendeteksian dini pd


Posko Dalkarhut
Potensi kebakaran di
luar areal IUPHHK - Data & informasi
Pemadaman dini kejadian
kebakaran
- Renc. pemadaman
Pelaporan kegiatan Pelaporan kegiatan
pencegahan pencegahan

Pengawasan & Koordinasi


evaluasi

25
Gambar 2. Flow Chart Tindakan Pemadaman
Input Sekretaris Koord. Pencegahan Koord. Pemadaman & Penanganan Kepala Brigdalkarhut Pimpinan Unit
Brigade Kebakaran Hutan Pasca Kebakaran Pengelolaan Hutan di
Wilayah

- Data & informasi Koordinasi


kejadian pelaksanaan Koordinasi
kebakaran pemadaman penyelenggaraan
- Renc. pemadaman kebakaran dalkarhut
hutan
Regu Dalkarhut

Sarpras, logistik & Penyiapan sarpras, Mobilisasi


pendanaan logistik & pendanaan pemadaman

Laporan kejadian
Pemadaman awal
kebakaran
dan evakuasi
Regu Dalkarhut
Ya Penanganan
Berhasil ? a pasca
kebakaran
Tdk

Pemadaman lanjutan

Ya
Berhasil ? a

Tdk

Permintaan bantuan
Pelaporan
pihak terkait oleh
kegiatan Pelaporan
Pimpinan Unit
pemadaman
Pengelolaan

Pengawasan &
evaluasi

26
Gambar 3. Flow Chart Pelaporan

Input Sekretaris Koord. Pencegahan Koord. Pemadaman & Kepala Brigdalkarhut Pimpinan Unit Pengelolaan
Brigade Kebakaran Hutan Penangan. Pasca Kebakarn Hutan di Wilayah

Hasil kegiatan :
- Peringatan dini
(pemasangan
rambu,
Penyusunan laporan
penyuluhan, dll)
pelaksanaan
- Patroli
pencegahan
- Deteksi dini
kebakaran
- Potensi kebakaran
di luar areal
IUPHHK
- Pemadaman dini

- Konsolidasi
- Pemadaman Penyusunan laporan - Kompilasi
kebakaran pelaksanaan pelaporan
- Penanganan pemadaman & (Laporan Kejadian
pasca kebakaran penanganan pasca Kebakaran,
kebakaran Laporan bulanan,
Laporan tahunan)
Pendokumentasian :
- Laporan Kejadian
Kebakaran Pelaporan kegiatan
- Laporan Bulanan dalkarhut
- Laporan Tahunan
- dll
Penyampaikan
kepada instansi
terkait

27

Anda mungkin juga menyukai