Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan
Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan
Kami berharap panduan ini dapat menjadi rujukan utama bagi pemegang IUPHHK
dalam menyusun Prosedur Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan. Secara
substansi, panduan ini telah mempedomani peraturan perundang-undangan yang
berlaku terkait kebakaran hutan.
Ucapan terima kasih kepada Dewan Pengurus APHI yang telah bekerja bersama-
sama menyusun panduan ini, khususnya kepada Tim Pencegahan dan Pengendalian
Kebakaran Hutan dan Lahan APHI.
Akhir kata, semoga upaya APHI ini membawa manfaat untuk mendukung
pengelolaan hutan produksi lestari.
Salam
Sugiono
Ketua Umum APHI
i
DAFTAR ISI
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
Meskipun telah banyak perusahaan pemegang IUPHHK yang telah memiliki Prosedur
Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan, namun menyadari akan dampak atau
implikasi hukum yang mungkin timbul terkait POS tersebut, APHI memandang perlu
menyusun Panduan Pembuatan Prosedur Operasi Standar Pengendalian Kebakaran
Hutan sebagai rujukan bagi anggota APHI.
1
3. Penyelenggaraan penanggulangan (represif), meliputi kegiatan pemadaman awal,
koordinasi pemadaman, mobilisasi pemadaman, pemadaman lanjutan,
demobilisasi pemadaman, evakuasi dan penyelamatan.
4. Penyelenggaraan penanganan pasca kebakaran, meliputi kegiatan pengawasan
areal bekas kebakaran, inventarisasi luas kebakaran hutan, penaksiran kerugian
dan koordinasi penanganan pasca kebakaran hutan.
5. Pelaporan dan pengawasan.
Untuk memberikan gambaran detail, Panduan ini dilengkapi dengan contoh Prosedur
Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan. Alur proses dan penanggung jawab
dalam penyelenggaraan pengendalian kebakaran hutan disusun lebih konstruktif
sehingga lebih mudah untuk dipahami.
2
BAB 2
SUBSTANSI PROSEDUR OPERASI STANDAR
PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN
Substansi Prosedur Operasi Standar memuat hal-hal pokok yang harus ada dalam
Prosedur Operasi Standar Pengendalian Kebakaran Hutan.
2.1. Perencanaan
2.1.1. Organisasi Dalkarhut
(1) Perusahaan pemegang IUPHHK wajib membentuk organisasi
pengendalian kebakaran hutan (Brigdalkarhut).
(2) Brigdalkarhut mempunyai perangkat organisasi dan tugas pokok,
sebagai berikut:
a. Kepala Brigdalkarhut, bertanggung jawab kepada Pimpinan
Unit Pengelolaan Hutan, melaksanakan tugas di bidang
perencanaan, pengorganisasian, operasional, pengawasan
dan evaluasi dalam setiap usaha dalkarhut di wilayah
kerjanya;
b. Sekretaris Brigade, bertanggung jawab kepada Kepala
Brigdalkarhut, melaksanakan tugas di bidang perencanaan
pendanaan, penyiapan dan pemeliharaan sarana prasarana
(sarpras), penyiapan logistik dan administrasi/tata usaha
dalkarhut;
c. Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan, bertanggung
jawab kepada kepala Brigdalkarhut, melaksanakan tugas
pengorganisasian, operasional, pengawasan dan evaluasi di
bidang pemberdayaan masyarakat, penyadartahuan,
pengurangan resiko, peningkatan kapasitas kelembagaan,
pelaksanaan patroli, dan peringatan dini serta deteksi dini;
d. Koordinator Pemadaman dan penanganan Pasca Kebakaran,
bertanggung jawab kepada Kepala Brigdalkarhut,
melaksanakan tugas pengorganisasian, operasional,
pengawasan dan evaluasi di bidang pemadaman awal dan
lanjutan, inventarisasi dan monitoring areal bekas kebakaran,
koordinasi penanganan pasca kebakaran, dukungan evakuasi
dan penyelamatan;
e. Kepala Regu Dalkarhut, bertanggung jawab kepada Kepala
Brigdalkarhut, melaksanakan tugas operasional dalkarhut di
lapangan.
(3) Organisasi Brigdalkarhut melalui Kepala Brigdalkarhut
mempertangungjawabkan pelaksanaan pengendalian kebakaran
hutan kepada Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan.
(4) Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan pengelolaan seluruh kegiatan dalkarhut di
wilayah kerjanya.
3
2.1.2. Pengelolaan Sumberdaya Manusia Dalkarhut
(1) Perusahaan pemegang IUPHHK wajib menyiapkan sumberdaya
manusia dalkarhut dalam Brigdalkarhut.
(2) Sumberdaya manusia dalkarhut, dipersiapkan untuk mengisi
organisasi Brigdalkarhut dan Regu Dalkarhut.
(3) Regu Dalkarhut, terdiri atas:
a. Regu Inti Dalkarhut;
b. Regu Pendukung Dalkarhut;
c. Regu Perbantuan Dalkarhut.
(4) Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dalkarhut dilakukan
melalui:
a. Pendidikan dan pelatihan;
b. Pembekalan (in-house training dan on-the job training);
c. Bimbingan teknis.
(5) Pendidikan dan pelatihan, meliputi bidang:
a. Pemberdayaan masyarakat;
b. Penyadartahuan atau kampanye pencegahan;
c. Teknis pencegahan kebakaran hutan;
d. Teknis pemadaman kebakaran hutan;
e. Dukungan evakuasi dan penyelamatan;
f. Dukungan manajemen; dan
g. Manajemen dalkarhut.
(6) Pembekalan (in-house training dan on-the job training) berupa
pelatihan singkat keterampilan di bidang dalkarhut.
(7) Bimbingan teknis berupa peningkatan keterampilan melalui
bimbingan/pendampingan.
4
(5) Sarana posko penanganan kebakaran hutan, sekurang-kurangnya
terdiri dari:
a. Ruang yang diperuntukkan secara khusus untuk posko yang
dilengkapi meja kursi;
b. Laptop, komputer meja, printer, infokus, perangkat monitor
display, layar;
c. Mesin faksimili
(6) Sarana deteksi dini kebakaran hutan, meliputi menara pengawas
atau CCTV atau sensor panas sejenisnya, perangkat pendukung
untuk mengolah data informasi hotspot, GPS, peralatan sistem
penyebarluasan informasi hasil deteksi dini.
5
(8) Sarana transportasi, sekurang-kurangnya kendaraan roda 2 jenis
lapangan, kendaraan roda 4, sarana transportasi lain yang
menyesuaikan wilayah kerja.
(9) Perusahaan pemegang IUPHHK, dapat mencadangkan sarpras
pemadaman kebakaran hutan untuk Regu Pendukung
Pengandalian Kebakaran hutan dan atau Regu Perbantuan
Pengendalian Kebakaran Hutan.
(10) Jumlah dan jenis sarpras pemadaman kebakaran hutan untuk
Regu Pendukung Pengandalian Kebakaran hutan dan atau Regu
Perbantuan Pengendalian Kebakaran Hutan diatur lebih lanjut
oleh masing-masing perusahaan pemegang IUPHHK.
6
2.2.2. Penyadartahuan
Kegiatan penyadartahuan, meliputi:
(1) Sosialisasi dan/atau penyuluhan pencegahan kebakaran hutan
melalui berbagai ragam metode
(2) Kampanye pencegahan kebakaran hutan
(3) Pembuatan bahan kampanye dan/atau alat peraga
(4) Gerakan pencegahan kebakaran hutan
(5) Pendampingan MPA
2.2.4. Kesiapsiagaan
(1) Pemantapan organisasi dan prosedurnya.
(2) Petunjuk operasional penyelenggaraan pencegahan kebakaran
hutan yang memperhatikan tupoksi masing-masing (apa, dimana,
kapan, mengapa, siapa dan bagaimana) sesuai dengan kalender
tahunan pengendalian kebakaran.
(3) Simulasi mobilisasi berbagai tingkatan.
(4) Peningkatan koordinasi melalui rapat kerja, rapat koordinasi,
kunjungan kerja dan lain-lain.
(5) Pembangunan dan pemeliharaan sekat bakar, pengelolaan bahan
bakar, jalur hijau, upaya silvikultur dan pemeliharaan embung atau
kanal sebagai sumber air.
(6) Pemasangan rambu-rambu himbauan atau larangan yang mudah
terlihat terutama di area rawan kebakaran.
7
(2) Penerapan deteksi dini dilakukan dengan berbagai metode
pengamatan seperti deteksi melalui menara pengawas, aplikasi
berbagai jenis kamera/CCTV, penginderaan jauh (potret udara
atau citra satelit).
(3) Pengolahan data dan informasi hotspot.
(4) Penyebarluasan data dan informasi hotspot.
(5) Penetapan level kesiagaan.
(6) Penetapan posko dalkarhut.
(7) Pendirian posko lapangan.
8
2.3.5. Demobilisasi Pemadaman
(1) Pengembalian dan penyimpanan kembali sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan.
(2) Inventarisasi dan pendataan ulang sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan.
9
(4) Laporan Bulanan, sekurang-kurangnya memuat data dan informasi :
a. Umum.
b. Kegiatan pencegahan kebakaran hutan.
Pembangunan menara pengawas.
Pembuatan sekat bakar.
Pemeliharaan embung/kanal.
Pelaksanaan penyuluhan.
Monitoring dan pengecekan lapangan hotspot.
Patroli pencegahan kebakaran.
Pelibatan dan pemberdayaan masyarakat.
c. Kegiatan pemadaman kebakaran hutan.
Kejadian kebakaran hutan.
Pemadaman kebakaran hutan.
d. Kegiatan penanganan pasca kebakaran hutan.
Monitoring areal bekas kebakaran.
Realisasi rehabilitasi areal bekas kebakaran hutan.
Penegakan hukum bidang kebakaran hutan.
e. Kegiatan dukungan manajemen
Regu dan personil pengendalian kebakaran hutan.
Pendidikan dan pelatihan bagi personil pengendalian kebakaran
hutan.
Penyusunan pedoman pengendalian kebakaran hutan.
Sarana dan prasarana pengendalian kebakaran hutan.
Pembiayaan pengendalian kebakaran hutan.
(6) Format laporan serta tata cara pelaporan dan monitoring evaluasi dalkarhut
mengacu kepada Peraturan Direktur Jenderal tentang Pedoman Pelaporan
Pengendalian kebakaran Hutan dan Lahan.
10
BAB 3
PENUTUP
Pengendalian kebakaran hutan harus menjadi bagian yang sangat penting untuk
perlindungan hutan dan harus dipersiapkan lebih terencana serta tersedia cukup
kelengkapan sarana prasarananya. Hal tersebut wajib dilakukan untuk menghindari
kerugian material yang jauh lebih besar.
Langkah dan tindakan terbaik adalah dengan melakukan pencegahan dini sebelum
terjadinya kebakaran hutan yang lebih luas, yang berdampak negatif lebih besar. Upaya
pencegahan, pemadaman, dan penanganan pasca kebakaran hutan akan lebih
harmonis apabila dilakukan dengan melibatkan masyarakat sesuai dengan prosedur
yang berlaku pada masing-masing perusahaan pemegang IUPHHK.
Panduan Pembuatan Prosedur Operasi Standar ini merupakan rujukan dari Asosiasi
kepada anggotanya untuk meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan dalam rangka
mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan. Dalam pembuatan Prosedur Operasi
Standar nantinya, perusahaan pemegang IUPHHK dapat melakukan modifikasi
disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan masing-masing serta perlu
mempedomani peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait kebakaran hutan.
Setiap perusahaan pemegang IUPHHK wajib melakukan sosialisasi kepada para pihak
terkait agar terbangun kesepahaman dalam tindakan pencegahan, penanggulangan,
dan penanganan pasca kebakaran hutan. Prosedur Operasi Standar yang dimiliki akan
lebih bermakna apabila diterapkan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan
kemampuan perusahaan pemegang IUPHHK. Semoga bermanfaat.
11
LAMPIRAN. CONTOH STANDARD OPERATING PROCEDURE
PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN
1. TUJUAN
Untuk memastikan bahwa kegiatan pengendalian kebakaran hutan (dalkarhut)
dapat dikendalikan melalui prosedur dan tanggung jawab yang jelas.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini mencakup perencanaan kegiatan dalkarhut penyelenggaraan
pencegahan, penanggulangan/pemadaman, dan penanganan pasca kebakaran
hutan, serta pelaporan dan pengawasan yang berlaku pada perusahaan pemegang
IUPHHK.
3. DEFINISI
a. Unit Pengelolaan Hutan adalah kesatuan pengelolaan hutan terkecil sesuai
fungsi dan peruntukannya, yang dapat dikelola secara efisien dan lestari.
b. Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan (Brigdalkarhut) adalah satuan kerja
yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan
pencegahan, penanggulangan, penanganan pasca kebakaran, dukungan
evakuasi dan penyelamatan dalam pengendalian kebakaran hutan di lapangan.
c. Regu Pengendalian Kebakaran Hutan (Regu Dalkarhut) adalah kelompok
personil pelaksana teknis Brigdalkarhut yang dilengkapi peralatan dan sarana
prasarana pengendalian kebakaran hutan di lapangan yang dipimpin oleh
Kepala Regu Dalkarhut yang bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit
Pengelolaan Hutan yang terdiri dari Regu Inti, Regu Pendukung, dan Regu
Perbantuan.
d. Regu Inti Pengendalian Kebakaran Hutan adalah regu yang secara khusus
melaksanakan pengendalian kebakaran hutan di wilayah kerjanya.
e. Regu Pendukung Pengendalian Kebakaran Hutan adalah regu yang
mendukung regu inti yang anggotanya karyawan pemegang izin.
f. Regu Perbantuan Pengendalian Kebakaran Hutan adalah regu yang
mendukung regu inti yang anggotanya dari masyarakat desa binaan setempat.
g. Karyawan pemegang izin adalah pekerja yang direkrut oleh perusahaan yang
diikat dalam kontrak kerja berdasarkan aturan dan ketentuan perundang-
undangan di bidang ketenagakerjaan serta aturan perusahaan yang berlaku.
h. Masyarakat Peduli Api (MPA) adalah masyarakat yang secara sukarela peduli
terhadap pengendalian kebakaran hutan yang telah dilatih atau diberi
pembekalan serta diberdayakan untuk membantu pengendalian kebakaran
hutan.
i. Deteksi dini kebakaran hutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui
adanya kejadian kebakaran dan lokasi kebakaran hutan.
j. Hotspot adalah istilah untuk sebuah pixel yang memiliki nilai temperatur di atas
ambang batas (threshold) dari hasil interpretasi citra satelit yang dapat
digunakan sebagai indikasi kejadian kebakaran hutan.
12
k. Pemadaman dini adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencegah
terjadinya kebakaran yang lebih besar saat ditemukan titik api (kejadian
kebakaran) oleh para pihak melalui pemadaman seketika.
l. Pemadaman awal adalah pemadaman yang dilakukan dalam rangka
menindaklanjuti upaya pemadaman yang tidak berhasil dilakukan pada saat
pemadaman dini dengan memobilisasi Regu Dalkarhut.
m. Pemadaman lanjutan adalah pemadaman yang dilakukan dalam rangka
menindaklanjuti upaya pemadaman yang tidak berhasil dilakukan pada saat
pemadaman awal, dengan memobilisasi segenap sumberdaya yang ada di Unit
Pengelolaan Hutan termasuk penggunaan alat-alat berat.
n. Posko Dalkarhut adalah satuan kerja pengendalian kebakaran hutan yang
mempunyai tugas dan tanggung jawab memonitor seluruh kegiatan peringatan
dan deteksi dini selama 24 jam dan sebagai pusat operasi pengendalian
kebakaran di lapangan.
13
4. STRUKTUR ORGANISASI DALKARHUT
KEPALA BRIGDALKARHUT
Fungsi :
Koordinasi pelaksanaan dalkarhut
Pengawasan pelaksanaan dalkarhut
Penyusunan Rencana Kerja operasional
(RKO) dan Standar Kegiatan dan Biaya
(SKB) atau Standar Biaya Keluaran (SBK)
Penyusunan Rencana kontingensi
REGU DALKARHUT
Fungsi :
Pelaksanaan operasional
dalkarhut di lapangan
14
5. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
a. Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan sebagai penanggung jawab
penyelenggaraan pengelolaan seluruh kegiatan dalkarhut di wilayah kerjanya.
b. Kepala Brigdalkarhut, sebagai penanggung jawab pelaksanaan seluruh
kegiatan dalkarhut, bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit Pengelolaan
Hutan.
c. Sekretaris Brigade, bertanggung jawab kepada Kepala Brigdalkarhut, untuk
melakukan perencanaan pendanaan, penyiapan dan pemeliharaan sarpras,
penyiapan logistik dan pengadministrasian.
d. Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan, bertanggung jawab kepada Kepala
Brigdalkarhut, untuk mengkoordinir pelaksanaan kegiatan pencegahan, meliputi
pemberdayaan masyarakat, penyadartahuan, pengurangan resiko, peningkatan
kapasitas kelembagaan, patroli dan peringatan dini serta deteksi dini.
e. Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran, bertanggung
jawab kepada Kepala Brigdalkarhut, untuk mengkoordinir pelaksanaan
pemadaman awal dan lanjutan, penanganan pasca kebakaran serta dukungan
evakuasi dan penyelamatan.
f. Kepala Regu Dalkarhut, bertanggungjawab kepada Kepala Brigdalkarhut untuk
melaksanakan fungsi operasional pencegahan, pemadaman, dan penanganan
pasca kebakaran serta dukungan evakuasi dan penyelamatan.
6. PROSEDUR
6. 1. Perencanaan Pencegahan Kebakaran
a. Membuat dan menyusun informasi dasar
(1) Peta kejadian kebakaran yang menunjukkan jumlah dan lokasi
kebakaran di tahun sebelumnya.
(2) Statistik kebakaran hutan, yang menguraikan tanggal dan waktu
kejadian kebakaran, penyebab kebakaran, luas kebakaran dan
lain-lain.
(3) Peta kerawanan kebakaran (fire risk map), yang menunjukan
lokasi-lokasi aktivitas manusia dapat meningkatkan peluang
terjadinya kebakaran.
(4) Peta sumber bahaya (fire hazard map), yang menunjukkan tipe
bahan bakar sesuai dengan daya nyalanya (flammability).
(5) Peta-peta tematik (peta hidrologi, situasi jaringan, tempat-tempat
penting, dll).
15
b. Pelatihan yang dilakukan, antara lain:
(1) Pelatihan dasar dalkarhut.
(2) Pelatihan pengurangan resiko bencana kebakaran hutan.
(3) Pelatihan terkait pemantapan kampung iklim.
e. Melaksanakan kesiapsiagaan
(1) Menyusun petunjuk operasional penyelenggaraan pencegahan
kebakaran hutan dengan memperhatikan tupoksi masing-masing
(apa, dimana, kapan, mengapa, siapa dan bagaimana) sesuai
dengan RKO pengendalian kebakaran hutan yang telah disusun.
(2) Pemantapan organisasi dan prosedurnya.
(3) Simulasi mobilisasi berbagai tingkatan.
(4) Pembangunan dan pemeliharaan sekat bakar, pengelolaan bahan
bakaran, jalur hijau, upaya silvikultur dan pemeliharaan embung
atau kanal sebagai sumber air.
(5) Pemasangan rambu-rambu himbauan atau larangan yang mudah
terlihat terutama di area rawan kebakaran.
16
f. Peringatan dini
(1) Kegiatan peringatan dini dilakukan beberapa bulan sebelum
memasuki periode waktu biasanya terjadi kebakaran.
(1) Pengoperasian sistem peringatan dini dan aplikasi sistem
peringkat bahaya kebakaran atau sistem lainnya.
(2) Pembuatan, pemasangan, dan sosialisasi rambu-rambu dan papan
peringatan pencegahan kebakaran hutan.
(3) Pembuatan, penyajian, dan penyebarluasan informasi kerawanan
kebakaran hutan melalui peta atau sejenisnya.
(2) Pembuatan, penyajian, dan penyebarluasan informasi sumberdaya
pengendalian kebakaran hutan nasional, provinsi, kabupaten/kota,
kecamatan dan desa.
(3) Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan harus memiliki akses
untuk mendapatkan informasi gambaran keadaan wilayahnya
melalui mekanisme peringatan dini.
(4) Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan mengikuti
perkembangan informasi tentang kondisi terkini wilayahnya yang
bersumber dari “peringatan dini”.
(5) Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan membuat peta rawan
kebakaran, untuk lebih meningkatkan kewaspadaan akan peluang
terjadinya kebakaran.
(4) Pada kawasan yang menurut mekanisme peringatan dini merupakan
daerah yang berpeluang tinggi terjadinya kebakaran, harus segera
diantisipasi baik melalui patroli maupun pendekatan kepada sumber
api.
17
(5) Semua temuan kebakaran harus segera dilaporkan kepada Kepala
Regu sebelum mencapai 0,1 ha atau dalam 1 kali 24 jam setelah
temuan adanya kebakaran.
(6) Informasi kebakaran disampaikan kepada Posko Dalkarhut melalui
telepon, fax, radio, atau peralatan komunikasi lainnya.
(7) Berdasarkan laporan deteksi dini kebakaran hutan dari Posko
Dalkarhut, Regu Patroli melakukan groundcek dengan membawa
peralatan yang dibutuhkan untuk pemadaman dini.
(8) Koordinator Pencegahan Kebakaran Hutan berkoordinasi dengan
Regu Patroli untuk mengetahui kebakaran yang terdeteksi dan
upaya pemadaman dini yang dilakukan.
(9) Dalam hal pemadaman dini tidak mampu dilakukan, Koordinator
Pencegahan Kebakaran Hutan melaporkan kejadian kebakaran
kepada Kepala Brigdalkarhut dan Koordinator Pemadaman dan
Penanganan Pasca Kebakaran untuk ditangani lebih lanjut.
b. Koordinasi pemadaman
(1) Regu Patroli berkoordinasi dengan Koordinator Pencegahan
Kebakaran Hutan dalam melakukan pemadaman dini.
(2) Apabila pemadaman dini tidak mampu dilakukan, Koordinator
Pencegahan Kebakaran Hutan berkoordinasi dengan Koordinator
Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran untuk dilakukan
pemadaman awal.
(3) Dalam melakukan pemadaman awal, Koordinator Pemadaman
dan Penanganan Pasca Kebakaran berkoordinasi dengan Kepala
Regu Dalkarhut serta Kepala Brigdalkarhut.
(4) Apabila pemadaman awal tidak mampu dilakukan, Kepala
Brigdalkarhut berkoordinasi dengan Pimpinan Unit Pengelolaan
Hutan untuk dilakukan pemadaman lanjutan dengan melakukan
mobilisasi pemadaman melalui pengerahan sumberdaya yang ada
termasuk penggunaan peralatan berat.
(5) Apabila perusahaan tidak mampu melakukan pemadaman secara
mandiri, Pimpinan Unit Pengelolaan berkoordinasi dengan instansi
lain terkait untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.
c. Mobilisasi pemadaman
(1) Mobilisasi Regu Dalkarhut
(i) Mobilisasi Regu Dalkarhut dilakukan apabila pemadaman
dini tidak mampu dilakukan sehingga harus dilakukan
pemadaman awal.
(ii) Kepala Regu Dalkarhut bersama dengan regu pertama
segera ke lokasi kebakaran dengan membawa peralatan
standar regu ringan.
(iii) Regu Dalkarhut pertama terdiri dari karyawan yang pada
saat kejadian berada di base camp.
18
(iv) Apabila regu pertama beserta regu patroli belum mampu
mengatasi pergerakan penjalaran api, Kepala Regu
Dalkarhut menghubungi Koordinator Pemadaman dan
Penanganan Pasca Kebakaran untuk meminta tambahan
Regu Dalkarhut.
(v) Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran mengatur pengiriman sejumlah Regu Dalkarhut
sesuai permintaan Kepala Regu Dalkarhut.
(vi) Setiap Regu Dalkarhut dipimpin seorang Kepala Regu yang
mengatur keselamatan regu, operasional, produktivitas dan
lain-lain dan satu orang operator mesin pompa dengan
anggota tergantung jenis peralatan yang digunakan.
(vii) Sekretaris Brigade segera mengatur dan mengkoordinir
seluruh kebutuhan Regu Dalkarhut di lapangan.
(viii) Kepala Brigdalkarhut memonitor dan memastikan bahwa
operasional telah terorganisir dengan baik dan memastikan
seluruh kebutuhan yang akan menunjang seluruh operasi
pemadaman berlangsung, telah disiapkan dan tersedia.
(ix) Dalam penilaian situasi dimana penjalaran api belum dapat
dihentikan oleh sumber daya yang ada, maka Kepala
Brigdalkarhut melalui Pimpinan Unit Pengelolaan Hutan
segera melakukan permintaan bantuan kepada pihak terkait
sesuai situasi dan kondisi.
19
(viii) Jam kerja Regu Dalkarhut dibagi dalam 2 (dua) shiff, satu
shiff bekerja selama 12 jam. Pergantian shiff harus dilokasi
pemadaman dimana Regu Dalkarhut pengganti terlebih
dahulu datang.
(ix) Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran memberikan penjelasan singkat kepada semua
regu mengenai :
Target waktu, tujuan, prioritas dan taktis pelaksanaan.
Memberitahukan bahaya yang ada, pohon mati,
bebatuan, kedalaman gambut, hewan buas yang ada,
jebakan, dsb.
Memberitahukan dimana rute penyelamatan diri dan
daerah aman untuk berkumpul, lokasi penempatan
medical dan paramedisnya siapa.
Memberitahukan dimana lokasi kerja mereka dan siapa
saja rekan mereka yang bekerja bersebelahan lokasi.
Memberikan informasi sumber air, perilaku api dan
kemungkinan yang terjadi serta kondisi asap.
Memberitahukan posisi alat berat (excavator) yang
digunakan untuk pembuatan sekat bakar dalam
pemadaman.
d. Pemadaman lanjutan
(1) Pemadaman lanjutan dilakukan apabila pemadaman awal tidak
berhasil dilakukan.
(3) Diawali dengan melakukan pengukuran api (size up).
(4) Pembatasan (contain) laju penjalaran api dalam waktu 48 jam
sejak dilakukannya pemadaman awal dan menjaga agar luas area
yang terbakar tidak mencapai lebih dari 10 (sepuluh) ha.
(5) Jika laju penjalaran api sulit dibatasi dengan Regu Dalkarhut yang
ada karena keterbatasan sumberdaya (resources) maka laju
penjalaran api harus segera dibatasi dengan pembuatan sekat
bakar dengan menggunakan alat berat (excavator, dozer, dll).
(6) Kepala Brigdalkarhut bersama-sama dengan Koordinator
Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran melakukan
pengukuran api (size up).
(7) Kepala Brigdalkarhut bersama-sama dengan Koordinator
Pemadaman dan Penanganan Pasca Kebakaran segera
menyusun strategi (pemadaman langsung atau tidak langsung)
untuk menghentikan penjalaran api dengan seluruh sumberdaya
dan peralatan yang ada.
(8) Kepala Brigdalkarhut memberikan penjelasan singkat kepada
seluruh Regu Dalkarhut mengenai :
(i) Target waktu, tujuan, prioritas dan teknis pelaksanaan.
(ii) Memberitahukan bahaya yang ada, pohon mati, bebatuan,
kedalaman gambut, hewan buas dan sebagainya.
(iii) Memberitahukan dimana lokasi kerja mereka dan siapa saja
rekan yang bekerja bersebelahan lokasi.
(iv) Memberitahukan sumber air, perilaku api dan kondisi asap.
(v) Memberitahukan posisi alat berat (excavator) yang
digunakan untuk pembuatan sekat bakar.
(vi) Menyampaikan rencana teknis pelaksanaan evakuasi dan
penyelamatan.
20
(9) Dalam kondisi kebakaran hebat, diperlukan dukungan pemadaman
udara.
(2) Penyapuan bara api (mopping up), dilaksanakan setelah laju
penjalaran api sudah dapat diatasi dimulai dari pinggir mengarah
ke dalam di sekeliling area terbakar.
e. Demobilisasi pemadaman
(1) Pengembalian dan penyimpanan kembali sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan.
(2) Inventarisasi dan pendataan ulang sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan.
g. Posko Dalkarhut
(1) Posko Dalkarhut dibentuk selama musim kemarau dengan tujuan
untuk monitoring seluruh kegiatan peringatan dan deteksi dini
selama 24 jam dan sebagai pusat operasi pengendalian
kebakaran di lapangan.
(2) Kegiatan Posko Dalkarhut berada di bawah koordinasi Koordinator
Pencegahan Kebakaran Hutan.
(3) Posko Dalkarhut dibentuk di base camp, dilengkapi dengan :
(i) Peralatan komunikasi berupa radio RIG, SSB, telepon atau
alat komunikasi lainnya.
(ii) Peralatan komputer untuk monitoring hotspot melalui laporan
monitoring maupun untuk komunikasi melalui Lotus Note dan
Window Massenger.
(iii) Peta areal kerja yang menggambarkan titik rawan
kebakaran, posisi menara pengawas api, dll.
(iv) Buku catatan yang mencatat seluruh laporan dan kejadian.
(v) Petugas jaga posko selama 24 jam.
(vi) Transportasi berupa ketek dan speed boat.
21
6.4. Peralatan dan Perlengkapan Pemadaman
a. Penggunaan peralatan secara umum
(1) Sekretaris Brigade melakukan konsolidasi data kebutuhan
peralatan dan pembelian peralatan.
(2) Sekretaris Brigade harus memastikan bahwa peralatan
pemadaman kebakaran dan peralatan tangan disimpan dalam
gudang yang tertutup rapat, kering, dan bebas dari serangga dan
peralatan harus siap pakai untuk pemadaman.
(3) Izin penggunaan peralatan diberikan oleh Kepala Brigdalkarhut
sesuai dengan kebutuhan, spesifikasi peralatan dan
peruntukannya. Tanggung jawab peralatan menjadi tanggung
jawab pengguna.
(4) Setelah peralatan digunakan dalam suatu kegiatan operasi
pemadaman, harus dikembalikan pada tempatnya semula setelah
diperiksa kondisinya terlebih dahulu. Peralatan yang rusak segera
diperbaiki sehingga umur pakai peralatan dapat lebih
diperpanjang.
(5) Peminjaman peralatan ringan kepada Regu Dalkarhut lain hanya
dibenarkan bila peminjam dalam keadaan terdesak dan peralatan
tersebut masih layak untuk digunakan serta bukan satu-satunya
alat yang tersisa.
23
c. Laporan Kejadian kebakaran, dibuat oleh Koordinator Pemadaman dan
Penanganan Pasca Kebakaran dan disampaikan kepada Kepala
Brigdalkarhut dalam waktu 24 jam setelah kebakaran dinyatakan padam
dengan dilampiri BAP Kebakaran, Laporan Kejadian Kasus dan Peta
Lokasi Kebakaran.
d. Laporan Bulanan yang merangkum semua kejadian kebakaran dan data
terkait seperti areal yang terbakar, luasan kebakaran dan perkiraan
kerugian dibuat oleh Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran.
e. Laporan Tahunan yang merangkum semua kejadian kebakaran selama
setahun dibuat oleh Koordinator Pemadaman dan Penanganan Pasca
Kebakaran.
e. Laporan Bulanan dan Laporan Tahunan disampaikan kepada Kepala
Brigdalkarhut untuk dilakukan konsolidasi.
f. Kepala Brigdalkarhut mengkompilasi laporan pengendalian kebakaran
hutan dan menyampaikannya kepada Pimpinan Unit Pengelolaan.
g. Kepala Brigdalkarhut melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap
seluruh kegiatan pengendalian kebakaran hutan.
h. Pimpinan Unit Pengelolaan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan
pengendalian kebakaran hutan.
24
Gambar 1. Flow Chart Tindakan Pencegahan
Input Sekretaris Brigade Koord. Pencegahan Koord. Pemadaman & Kepala Brigdalkarhut Pimpinan Unit Pengelolaan
Kebakaran Hutan/Posko Penangan Pasca Kebakarn Hutan di Wilayah
Dalkarhut
Informasi dasar:
- Peta kejadian - Penyusunan
kebakaran tahun - Penyusunan RKA
(RKO, SKB atau
sebelumnya - Penyiapan & - Koordinasi
pemeliharaan sarpras SBK, rencana
- Statistik kebakaran pelaksanaan
- Penyiapan logistik kontingensi)
- Peta kerawanan dalkarhut
- Pelaksanaan
kebakaran dalkarhut
- Peta tematik
Ketersediaan : Pemasangan/
- Rambu/larangan, pembangunan/peme
menara pengawas -liharaan
- Sekat bakar, jalur
Penyuluhan
hijau
- Embung/kanal Pelatihan SDM
25
Gambar 2. Flow Chart Tindakan Pemadaman
Input Sekretaris Koord. Pencegahan Koord. Pemadaman & Penanganan Kepala Brigdalkarhut Pimpinan Unit
Brigade Kebakaran Hutan Pasca Kebakaran Pengelolaan Hutan di
Wilayah
Laporan kejadian
Pemadaman awal
kebakaran
dan evakuasi
Regu Dalkarhut
Ya Penanganan
Berhasil ? a pasca
kebakaran
Tdk
Pemadaman lanjutan
Ya
Berhasil ? a
Tdk
Permintaan bantuan
Pelaporan
pihak terkait oleh
kegiatan Pelaporan
Pimpinan Unit
pemadaman
Pengelolaan
Pengawasan &
evaluasi
26
Gambar 3. Flow Chart Pelaporan
Input Sekretaris Koord. Pencegahan Koord. Pemadaman & Kepala Brigdalkarhut Pimpinan Unit Pengelolaan
Brigade Kebakaran Hutan Penangan. Pasca Kebakarn Hutan di Wilayah
Hasil kegiatan :
- Peringatan dini
(pemasangan
rambu,
Penyusunan laporan
penyuluhan, dll)
pelaksanaan
- Patroli
pencegahan
- Deteksi dini
kebakaran
- Potensi kebakaran
di luar areal
IUPHHK
- Pemadaman dini
- Konsolidasi
- Pemadaman Penyusunan laporan - Kompilasi
kebakaran pelaksanaan pelaporan
- Penanganan pemadaman & (Laporan Kejadian
pasca kebakaran penanganan pasca Kebakaran,
kebakaran Laporan bulanan,
Laporan tahunan)
Pendokumentasian :
- Laporan Kejadian
Kebakaran Pelaporan kegiatan
- Laporan Bulanan dalkarhut
- Laporan Tahunan
- dll
Penyampaikan
kepada instansi
terkait
27