PENGARUH SELF EFFICACY, WORK ENGAGEMENT, DAN
KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL TERHADAP KINERJA
KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJASEBAGAI
VARIABEL INTERVENING
(Studi Kasus di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang)
USULAN PENELITIAN
Oleh :
JUM MAEDI
NIM : [Link]
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS
ITB ADIAS
PEMALANG
2023
PENGARUH SELF EFFICACY, WORK ENGAGEMENT, DAN
KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL TERHADAP KINERJA
KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJASEBAGAI
VARIABEL INTERVENING
(Studi Kasus di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang)
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan
Jenjang Strata 1 dan Memperoleh Gelar Sarjana
Program Studi Manajemen
ITB ADIAS Pemalang
USULAN PENELITIAN
Oleh :
JUMMAEDI
NIM : [Link]
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS
ITB ADIAS
PEMALANG
2023
ii
HALAMAN PENGESAHAN USULAN PENELITIAN
Nama : JUM MAEDI
NIM : [Link]
Program Studi : Manajemen (S1)
Judul Skripsi : “PENGARUH SELF EFFICACY, WORK
ENGAGEMENT DAN KEPEMIMPINAN
TRANSAKSIONAL TERHADAP KINERJA
KARYAWAN DENGAN MOTIVASI
KERJA SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING (Studi Kasus di Dinas
Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang)”
Disahkan pada tanggal :
Pembimbing I Pembimbing II
SANTI SUCININGTYAS SE,,[Link] TRI HANDAYANI, S.,E, [Link]
NIDN. 0619017602 NIDN.0623097601
Mengetahui
Rektor ITB ADIAS Pemalang
H. NOOR ROSYADI., SE, MM
NIDN.0630105901
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sumber daya manusia adalah bagian yang mendukung dan
menjalankan setiap proses di organisasi begitupun dalam proses inovasi
organisasi. Sumber daya manusia yang unggul dengan kualitas yang tinggi
menjadi tuntutan bagi setiap organisasi sehingga mampu mencapai tujuan
yang telah ditetapkan Sudarma, (2012). Sumber daya manusia merupakan
bagian yang terpenting guna untuk mencapai tujuan di sebuah organisasi, baik
itu perusahaan swasta maupun lembaga pemerintahan. Bila perusahaan
swasta memiliki karyawan yang akan menjalankan kegiatan perusahaan,
maka lembaga pemerintahan juga memiliki pegawai-pegawai yang akan
menjalankan pemerintahan. Pegawai dan organisasi merupakan dua pihak
yang saling membutuhkan. Organisasi tidak bisa dikatakan organisasi bila
tidak memiliki pegawai. Begitu juga dengan pegawai tidak bisa dikatakan
pegawai apabila tidak ada organisasi yang menaunginya. Pegawai dan
organisasi memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan
kegiatan organisasi, yaitu mencapai tujuan organisasi yang telah
direncanakan, setelah itu, mereka mempunyai hak imbalan atas apa yang
mereka lakukan untuk mencapai tujuan organisasi [Link] sebagai
sumber daya manusia merupakan aset penting bagi setiap organisasi sehingga
menjadi tantangan bagi organisasi untuk bisa mengelola sumber daya
manusia dengan baikApriwandi (2011)
1
2
kinerja merupakan suatu hasil kerja karyawan yang digunakan untuk
menilai karyawan atau organisasi tersebut. Mangkunegara (2009) dalam
Insan, A. Nur. (2017). menyatakan bahwa kinerja merupakan prestasi kerja
atau output kerja, yang dinilai dari kualitas maupun kuantitasnya dalam
melakukan tugas yang diberikan sesuai dengan tanggung jawabnya. Hasil
kerja yang baik dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas pekerjaan dan
dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan prestasi kerja yang dihasilkan
oleh karyawan sesuai dengan peran didalam organisasi atau perusahaan itulah
yang biasanya disebut.
Selanjutnya menurut Mangkunegara dalam Insan, A. Nur.
(2017)menyatakan “Kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya”. Menurut
(Mangkunegara, 2003) kinerja adalah pelaksanaan tanggung jawab karyawan
denganpencapaian hasil kerja sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang ada
didalam [Link] (Rivai, 2013), “Kinerja adalah suatu tampilan
keadaan secara utuh atas perubahan selama periode tertentu, merupakan hasil
atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam
memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki.
Menurut pendapat Segara motivasi dengan kinerja mempunyai
hubungan yang sangat erat karena motivasi merupakan suatu dorongan
individu untuk berprilaku dan melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
3
Kusnoto dan Sitorus. T. (2016) mengemukakan bahwa motivasi merupakan
dorongan terhadap serangkaian proses perilaku manusia pada pencapaian
tujuan.
Mangkunegara (2005) dalam Kusnoto dan Sitorus. T.
(2016)menyatakan motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam
menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation). Motivasi merupakan
kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau
tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan
yang pro dan positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi
kerjanya untuk mencapai kinerja yang maksimal. Motivasi yang dimiliki
diharapkan mampu mendorong diri seseorang untuk bersemangat dalam
bekerja dan akan menghasilkan kinerja yang [Link] Burney dalam
Oluseyi dan Ayo (2009) menyatakan bahwa tingkat kinerja tidak hanya
berdasarkan pada kemampuan aktual tetapi juga berdasarkan tingkat motivasi
yang mereka tunjukkan.
Suatu perusahaan tentunya mengharapkan kinerja yang optimal dari
karyawannya. Untuk mencapai kinerja yang optimal itu salah satunya dapat
dicapai melalui self efficacy. Self efficacysangat diperlukan dalam
mengembangkan kinerja karyawan karena dengan adanya self efficacy dalam
diri individu akan menimbulkan keyakinan akan kemampuan dirinya
menyelesaikan pekerjaan yang diberikan atasanya secara tepat waktu. Self
efficacy menurut Alwisol (2004) adalah penilaian diri, apakah dapat
4
melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak
bisa mengerjakan sesuai yang diisyaratkan.
Lee dan Bobko (1994) dalam Engko (2008), menyatakan bahwa
individu yang memiliki self efficacy tinggi akan mencurahkan seluruh usaha
dan perhatian untuk mencapai tujuan dan kegagalan yang terjadi serta
membuatanya berusaha lebih giat lagi. Seseorang yang memiliki self efficacy
yang tinggi mereka mampu melakukan sesuatu untuk mengubah kejadian-
kejadian disekitarnya, sedangkan seseorang dengan self efficacy yang rendah
menganggap dirinya pada dasarnya tidak mampu mengerjakan segala sesuatu
yang ada disekitarnya. Dalam situasi sulit, orang yang memiliki self efficacy
yang rendah cenderung mudah menyerah, sementara orang yang memiliki self
efficacy yang tinggi akan berusaha lebih keras lagi untuk mengatasi tantangan
yang ada.
Schaufeli, Salanova, Gonzalez-Roma & Bakker (2002)
mendefinisikan work engagement sebagai positivitas, pemenuhan kerja dari
pusat pikiran yang memiliki dimensi vigor, dedication dan absorbtion. Vigor
adalah energi yang tinggi, adanya kemauan untuk investasi tenaga, restasi,
tidak mudah lelah. Dedication adalah keterlibatan yang kuat ditandai dengan
antusiasme, rasa bangga, dan inspirasi. Absorption adalah keadaan pada
pekerja yang dikarakteristikkan oleh waktu yang berjalaan dengan cepat dan
sulitnya memisahkan seseorang dengan pekerjaannya.
5
Schaufeli (2002) membedakan engagement dari konstruk-konstruk peran
pekerjaan lainnya, keadaan sesaat dan spesifik, engagement mengacu pada
keadaan afektif-kognitif yang lebih menetap (persisten) dan menyeluruh, yang
tidak hanya fokus pada objek, kejadian, individu atau perilaku tertentu. Lebih
lanjut lagi dijelaskan bahwa engagement merupakan statepsikologis positif
yang berhubungan dengan pekerjaan yang dicerminkan dengan kata-kata
(antusias, enerjik, passion, vigor) dan engagement juga merupakan suatu state
motivasional yang dicerminkan dalam keinginan yang murni untuk
memberikan usaha yang fokus terhadap tujuan dan kesuksesan organisasi.
Bakker & Leiter (2010) setuju bahwa engagement merupakan konseptualisasi
terbaik dan dikarakteristikkan melaluiSuatu level yang tinggi dari energi dan
suatu identifikasi yang kuat dengan pekerjaan seseorang. Khan (1990)
mendefinisikan engagement sebagai penguasaan pegawai sendiri terhadap
peran individu dalam pekerjaan, dimana pegawai akan mengikat diri dengan
pekerjaannya, kemudian akan bekerja dan mengekspresikan diri secara fisik,
kognitif dan emosional selama memerankan performanya. Aspek kognitif
mengacu pada keyakinan pekerja terhadap organisasi, pemimpin dan kondisi
[Link] emosional mengacu pada bagaimana perasaan pekerja apakah
positif atau negatif terhadap organisasi dan pemimpinnya. Sedangkan aspek
fisik mengenai energi fisik yang dikerahkan oleh pegawai dalam melaksanakan
perannya. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulakan bahwa work
engagement merupakan keadaan positivitas dan adanya pemenuhan diri dalam
pekerjannya seperti keinginan yang murni untuk memberikan usaha yang fokus
6
terhadap tujuan dan kesuksesan organisasi baik secara fisik, kognitif, dan
afektif yang dikarakteristikkan dengan adanya vigor, dedication dan
absorption.
Gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan oleh pimpinan untuk
mempengaruhi para pengikutnya. Gaya kepemimpinan merupakan norma
perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat dia mencoba mempengaruhi
perilaku orang lain (Thoha, 2012).Dalam artian, gaya kepemimpinan yang
digunakan pimpinan tersebut digunakan untuk mempengaruhi bawahan agar
sasaran organisasi tercapai. Dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan
merupakan pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan
didalam memimpin suatu organisasi. Gaya kepemimpinan adalah pola perilaku
yang ditunjukkan oleh pemimpin dalam mempengaruhi orang lain. Pola
tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sepert nilai-nilai, asumsi,
persepsi, harapan, dan sikap yang ada dalam diri pemimpin (Ardana et al,
2012).
Gaya kepemimpinan adalah pola perilaku yang relatif konsisten yang
menjadi ciri seorang pemimpin. Saat ini organisasi membutuhkan pemimpin
yang efektif yang memahami kompleksitas lingkungan global yang berubah
dengan cepat. Kesuksesan atau kegagalan organisasi antara lain ditentukan oleh
gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi tersebut
(Nanjundeswaraswamy & Swamy, 2014). Gaya kepemimpinan adalah cara
memberikan arahan, menerapkan strategi, dan memotivasi individu menuju
pencapaian tujuan yang diinginkan. Gaya kepemimpinan dapat meningkatkan
7
atau menurunkan kinerja karyawan yang bekerja di bawah langsung
pengawasannya (Khan & Nawaz, 2016).Kepemimpinan merupakan komponen
kunci dari semua organisasi. organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan atau
sasaran yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan atau sasaran ini, maka
faktor manusia merupakan salah satu faktor penting. Faktor manusia yang
terpenting adalah pemimpinnya. Seorang pemimpin mempengaruhi anggota
organisasi atau karyawan untuk berkontribusi dalam upaya mencapai tujuan
atau sasaran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jadi kepemimpinan adalah
kemampuan yang pertama dan utama untuk mempengaruhi karyawan agar
melasanaan tugasnya. Kepemimpinan dianggap penting untuk kesuksesan dan
beberapa peneliti berpendapat bahwa itu adalah unsur yang paling kritis (Veliu
et al., 2017).
Tabel 1
Data Jumlah Pegawai Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Pemalang Tahun 2022
Tingkat
Jumlah Pegawai
Pendidikan
No Nama Bagian
Sma/
Pns Pegawai S1
Smk
1 Ketua 2 - - 1
2 Sekretariat 2 7 5 3
3 Bendahara 2 - 3 -
4 Divisi Armada 2 - 2 -
5 Administrasi 5 12 13 2
Petugas
6 Pengambil,pengangkut,drive 130 222 355 3
r
Jumlah 143 241
Sumber : Data Sekunder
8
Data diatas menunjukan data jumlah pegawai DLH Kabupaten
Pemalang tahun 2023 bahwa untuk PNS berjumlah 143 orang dan Pegawai
Honorer berjumlah 241 orang.
Dalam penelitian ini peneliti melakukan pra survey terhadap 20 orang
pegawai DLH Kabupaten Pemalang. Berdasarkan hasil pra survey terhadap 20
orang pegawai DLH Kabupaten Pemalang untuk variabel kinerja. Berikut data
hasil pra survey untuk variabel kinerja :
Tabel 2
Hasil Pra Survey 20 Responden Mengenai Variabel Kinerja (Y)
Di DLH Kabupaten Pemalang
Jawaban
No Pernyataan
Ya Tidak
Pegawai melakukan pekerjaan sesuai dengan
1 12 8
yang diharapkan
Pegawai memiliki pemahaman dan ketrampilan
2 5 15
yang baik dalam melaksanakan pekerjaan
Pegawai menyelesaikan tugas sesuai waktu
3 19 1
yang ditetapkan
Sumber : Hasil olah data pra survey, 2022
Dari hasil pra survey variabel kinerja pada tabel 2 diatas, dapat
diketahui bahwa untuk pertanyaan kedua, dari 20 responden menyatakan
bahwa pegawai tidak selalu memiliki pemahaman dan ketrampilan yang baik
dalam melaksankan pekerjaannya.
Hasil pra survey terhadap 20 pegawai Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Pemalang untuk variabel motivasi kerja. Berikut data hasil pra
survey variabel Motivasi kerja sebagai berikut :
9
Tabel 3
Hasil Pra Survey 20 Responden Mengenai Variabel Motivasi Kerja (Z)
Di Dindikbud Kabupaten Pemalang
Jawaban
No Pernyataan
Ya Tidak
Pegawai senantiasa berupaya menunjukan
1 kinerja terbaik agar atasan memberikan posisi 17 3
yang lebih tinggi
Pegawai mendapatkan kesempatan ikut
2 berpatisipasi dalam menentukan tujuan yang 19 1
ingin dicapai oleh atasan
Pegawai bekerja dalam suasana kerja yang
3 6 14
kondusif
4 Jam kerja yang tidak menentu 20 0
Sumber : Hasil olah data pra survey, 2022
Dari hasil pra survey variabel motivasi kerja pada tabel 3 diatas, dapat
diketahui bahwa untuk pertanyaan ketiga, menjelaskan bahwa pegawai tidak
bekerja dalam suasana kerja yang kondusif. Tetapi pada pertanyaan kedua,
menjelaskan bahwa pegawai merasa senang mendapatkan kesempatan ikut
berpatisipasi dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai poleh atasan.
Hasil pra survey terhadap 20 pegawai Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Pemalang untuk variabel Self Efficacy. Berikut data hasil pra survey
variabel Self Efficacysebagai berikut :
Tabel 4
Hasil Pra Survey 20 Responden Mengenai Self Efficacy (X1)
Di DLH Kabupaten Pemalang
Jawaban
No Pernyataan
Ya Tidak
pegawai merasa jelas dengan tugas yang diberikan
1 17 3
atasan kepada karyawan
pegawai tetap bersemangat dalam bekerja meskipun
2 5 15
tanpa pengawasan dari atasan
10
Pegawai merasa dapat menyelesaikan tugas-tugas
3 16 4
dalam bekerja
Ketika merasa lelah saya selalu mengingat keluarga
4 15 5
untuk membangkitkan tenaga saya kembali
Sumber : Hasil olah data pra survey, 2022
Dari hasil pra survey variabel Self Efficacy pada tabel 4 diatas, dapat
diketahui bahwa untuk pertanyaan kedua pegawai tidak bersemangat dalam
bekerja meskipun tanpa pengawasan dari atasan.
Hasil pra survey terhadap 20 pegawai Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Pemalang untuk variabel Work engagement. Berikut data hasil pra
survey variabel Work engagement sebagai berikut :
Tabel 5
Hasil Pra Survey 20 Responden Mengenai Variabel Work Engagement
(X2)DLH Kabupaten Pemalang
Jawaban
No Pernyataan
Ya Tidak
1 Pegawai merasa bangga atas kinerja instansi 2 18
Melakukan yang terbaik pada pekerjaan yang
2 13 7
dilakukan
3 Mengetahui harapan instansi pada pegawai 6 14
Adanya dukungan untuk berprestasi dari pihak
4 16 4
rekan maupun atasan kerja
Sumber : Olah data pra survey, 2022
Dari hasil pra survey Work engagement tabel 5 diatas, dapat diketahui
bahwa untuk pertanyaan pertama, 20 Pegawai merasa bangga atas kinerja
instansi. Namun pada pertanyaan pertama Pegawai tidak merasa bangga atas
kinerja instansi.
11
Hasil pra survey terhadap 20 pegawai Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Pemalang untuk variabel Kepemimpinan transaksional. Berikut
data hasil pra survey variabel Kepemimpinan transaksionalsebagai berikut :
Tabel 6
Hasil Pra Survey 20 Responden Mengenai Variabel Kepemimpinan
Transaksional (X3) Di DLH Kabupaten Pemalang
Jawaban
No Pernyataan
Ya Tidak
Pimpinan memberikan imbalanjika pegawai
1 2 18
mampu melaksanakan
Pimpinan selalu memantau memantau kesalahan
2 5 15
yang saya lakukan dalam bekerja
Pimpinan selalu melakukan musyawarah dengan
3 20 1
karyawan ketika mau mengambil keputusan
Pipmpinan memberikan peringatan dan sanksi
4 apabila terjadi kesalahan dalam proses kerja yang 19 1
saya lakukan.
Sumber : Hasil olah data pra survey, 2022
Dari hasil pra survey variabel kepemimpinan transaksional pada tabel
6 diatas, dapat diketahui bahwa untuk pertanyaan pertama Pimpinan Tidak
memberikan imbalanjika pegawai mampu melaksanakan.
Dari beberapa penelitian terdahulu, ditemukan hasil penelitian yaitu
Penelitian dengan hasil berbeda dilakukan oleh Gunawan dan Sutanto (2013)
dan Prasetya dkk. (2013) menunjukkan hasil bahwa self efficacy tidak
berpengaruh terhadap kinerja karyawan dan kinerja individual. Penelitian yang
dilakukan oleh rochimah imawati (2011) dengan judul “Pengaruh budaya
organisasi dan work engagement terhadap kinerja karyawan ”, membuktikan
bahwa work engagement mempunyai pengaruh positif dan signifikan kinerja
karyawan. Hasil yang berbeda dilakukan oleh peneliti Ahmad Rivai (2020)
12
dengan judul “Pengaruhnya kepemimpinan transaksional terhadap motivasi
instrisik, work Engagement dan kineja karyawan”, membuktikan bahwa stres
kerja memiliki hubungan yang negatif dengan kinerja. Stres kerja secara tidak
langsung berpengaruh terhadap kinerja melalui kepuasan kerja.
Sehubung dengan hal permasalahan dan perbedaan hasil penelitian
tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil
judul “Pengaruh self efficacy,work engagement dan kepemimpinan
transaksional terhadap kinerja karyawan dengan motivasi kerja Sebagai
Variabel Intervening (Studi Kasus Pada Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Pemalang)”.
B. Rumusan Masalah
Terkait indentifikasi masalah yang ditemukan di Dinas Lingkungan
hidup kabupaten pemalang pada latar belakang penelitian menggambarkan
secara singkat keadaan sebenarnya. Hasil pengamatan menunjukan bahwa
kinerja karyawan masih belum maksimal. Maka perlu adanya faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan, dan masalah yang akan dikaji
lebih lanjut dalam penelitian self efficacy,work engagement, kepemimpinan
transaksional.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka
rumusan masalah yang di angkat dalam penelitian ini yaitu :
13
1. Apakah variabel self efficacy berpengaruh signifikan terhadap kinerja di
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang?
2. Apakah variabel work engagement berpengaruh signifikan terhadap kinerja
di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang?
3. Apakah variabel Kepemimpinan transaksional berpengaruh signifikan
terhadap kinerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang?
4. Apakah variabel self efficacy berpengaruh signifikan terhadap kinerja
melalui motivasi kerja sebagai variabel intervening di Dinas Lingkungan
Hidup Kabupaten Pemalang?
5. Apakah variabel work engagement berpengaruh signifikan terhadap kinerja
melalui motivasi kerja sebagai variabel intervening di Dinas Lingkungan
Hidup Kabupaten Pemalang?
6. Apakah variabel kepemimpinan transaksional berpengaruh signifikan
terhadap kinerja melalui motivasi kerja sebagai variabel intervening di
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang?
7. Apakah kinerja karyawan berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi
kerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh variabel self efficacy terhadap
kinerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang.
2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh variabel work engagement
terhadap kinerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang.
14
3. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh variabel kepemimpinan
transaksional terhadap kinerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten
Pemalang.
4. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh variabel self efficacy terhadap
kinerja melalui motivasi kerja sebagai variabel intervening di Dinas
Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang.
5. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh variabel work engagement
terhadap kinerja dengan motivasi kerja sebagai variabel intervening di Dinas
Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang.
6. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh variabel kepemimpinan
transaksional terhadap kinerja dengan motivasi kerja sebagai variabel
intrervening di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang.
7. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh kinerja terhadap motivasi kerja
di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian ini maka diharapkan dapat menjadi dan
memberikan hasil yang terbaik untuk pihak - pihak terkait, antara lain :
1. Manfaat teoritis
Sebagai salah satu bahan informasi atau bahan kajian dalam menambah
pengetahuan dalam manajemen sumber daya manusia khususnya
mengenai pengaruh self efficacy, work engagement dan kepemimpinan
transaksional terhadap kinerja melalui motivasi kerja sebagai variabel
intervening.
15
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis, yaitu :
a. Bagi penulis
Untuk meraih gelar sarjana pada program studi manajemen S1 ITB
ADIAS Pemalang, dan diharapkan bisa menambah wawasan bagi
penulis, bisa mengambil manfaatnya, sehingga dapat menerapkan
ilmunya baik dalam dunia kerja maupun dalam kehidupan
bermasyarakat.
b. Bagi ITB ADIAS Pemalang
Sebagai tambahan referensi manajemen pemasaran bagi pihak kampus
sehingga dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa
yang akan menyusun skripsi.
c. Bagi objek penelitian
(Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang) penelitian ini
diharapkan dapat memberikan masukan dansebagai bahan referensi
bagiDinas Lingkungan Hidup Kabupatenpemalang agar menjadi bahan
pertimbangan dalam kebijakan dan pengambilan keputusan untuk
meningkatkan kinerja dan motivasi kerja.
16
BAB II
TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
A. Peneliti terdahulu
Di bawah ini adalah penelitian-penelitan sebelumnya yang dijadikan
sebagai referensi bagi peneliti untuk mempelajari apa saja yang dapat
mempengaruhi variabel penelitian dan membantu peneliti menarik kesimpulan
untuk memecahkan masalah permasalahan yang ada. Adapun penelitan
terdahuluyang pernah dilakukan adalah:
Tabel 7.
Penelitian Terdahulu
Hasil
No. Judul Penelitian Variabel Alat Analisis
Penelitian
1 Pengaruh Work -X : Work -Regresi Linier Work
Engagement Berganda engagement
Terhadap Kinerja Engagement berpengaruh
Pegawai BPJS positif dan
KetenagakerjaanMa Y : Kinerja signifikan
nalu (2021) Karyawan terhadap
kinerja
karyawan.
16
17
2 Pengaruh Self X1 : Self -Regresi Linier Self efficacy
Efficacy dan Efficacy X2 : dan motivasi
Motivasi Terhadap Motivasi Y : Berganda berpengaruh
Kinerja Karyawan Kinerja positif dan
pada PT Adi Sarana Karyawan signifikan
Armada Tbk terhadap
BadungSetiawan, kinerja
Sujana & Novarini karyawan baik
(2020) secara parsial
maupun secara
simultan
3 Analisis Deskripsi Analisis Jalur Work
Pengaruh Work X : Work Engagement engagement
Engagement Y : Kinerja Karyawan berpengaruh
Terhadap Kinerja positif dan
Karyawan: Ability signifikan
(A), Effort (E), terhadap
Support (S) PT. kinerja
Surveyor Indonesia. karyawan
Qodariah (2019)
18
4 Pengaruh Stress X1 : Stress Kerja Partial Least Square Stres kerja
Kerja dan Work X2 : Work Regressio n (PLS) berpengaruh
Engagement Engagement Y : dan Structural negatif dan
Terhadap Kinerja Kinerja Equation Modeling tidak signifikan
Karyawan dengan Karyawan Z : (SEM) terhadap
Komitmen Komitmen kinerja
Organisasi Sebagai Organisasi karyawan
Variabel melalui
Intervening. Firdaus komitmen
(2019) organisasi.
Work
engagement
berpengaruh
positif dan
signifikan
terhadap
kinerja
karyawan
melalui
komitmen
organisasi
5 Pengaruh Self X : Self Path Analisis Self efficacy
Efficacy Terhadap Efficacy Y1 : berpengaruh
Employee Employee positif dan
Engagement dan Engagement signifikan
Kinerja Karyawan Y2 : Kinerja terhadap
(Studi pada Karyawan employee
Karyawan PT engagement
Telekomunikasi dan kinerja
Indonesia Regional karyawan.
V Surabaya)Ardi, Employee
Astuti dan Sulistyo engagement
(2017) berpengaruh
positif dan
signifikan
terhadap
kinerja
karyawan.
6 “Pengaruh X1 : Partial Least Square Motivasi
Kepemimpinan Kepemimpi Regressio n (PLS) intrinsik tidak
Transaksional dan nan berpengaruh
Work Engagement Transaksion signifikan
Terhadap Kinerja al X2 : Work dalam
Karyawan Melalui Engagement memediasi
Motivasi Intrinsik Y : Kinerja work
(Studi pada Karyawan Z : engagement
Perusahaan Motivasi dan kinerja
Telekomunikasi di Intrinsik karyawan.
Kota Makassar Work
19
Provinsi Sulawesi engagement
Selatan)”. Insan berpengaruh
(2017) negatif dan
tidak signifikan
terhadap
kinerja
karyawan.
Kepemimpinan
transaksional
berpengaruh
signifikan
terhadap
kinerja
karyawan dan
motivasi
intrinsik. Work
engagement
dan
kepemimpinan
transaksional
berpengaruh
positif dan
signifikan
tehadap
motivasi
intrinsik
7 Kualitas Kehidupan X1: Kualitas Structural Quality Work
Kerja, Self EquationModeling of Life
Efficacy, Dan Kehidupan (SEM) berpengaruh
Kinerja Karyawan: negatif dan
Efek Mediasi Kerja tidak
Motivasi Kerja (Quality signifikanterha
(Study Pada PT. Work of dap kinerja
Bank BRI Cabang Life) X2: karyawan.
BSD).Kusnoto & SelfEfficacy Quality Work
Sitorus (2016) Y : Kinerja of Life
Karyawan Z : berpengaruh
Motivasi positif dan
Kerja signifikan
terhadap
motivasi kerja.
Self-efficacy
berpengaruh
positif dan
signifikan
terhadap
kinerja
karyawan dan
motivasi kerja.
20
8. Pengaruh Self X : Self Partial Least Square Self efficacy
Efficacy Terhadap Efficacy Y : Regressio n (PLS) berpengaruh
Kinerja Karyawan Kinerja Dan Structural negatif dan
Dengan Motivasi Karyawan Z : Equation Modeling tidak signifikan
Sebagai Variabel Motivasi (SEM) terhadap
Intervening (Studi Kerja kinerja
pada Karyawan karyawan. Self
Divisi Finance dan efficacy
Divisi Human berpengaruh
Resource PT. positif dan
CocaCola signifikan
Distribution terhadap
Indonesia, motivasi kerja.
Surabaya). Motivasi kerja
Noviawati (2016) berpengaruh
positif dan
signifikan
terhadap
kinerja
karyawan
B. Manfaat Peneliti Perdahulu
Penelitian ini merupakan replikasi (perluasan) yang dilakukan oleh
Manalu (2021), Setiawan,sujana & Novarini (2020), Qodariah (2019),
Firdaus(2019), Ardi, astuti dan sulistyo (2017), Insan (2017), Kusnoto dan
sitorus (2016), noviwati (2016), Hidayat dan Setiawan (2016) Manfaat
penelitian terdahulu adalah sebagai bahan acuan yang mana terdapat
persamaan dan perbedaan antara peneliti terdahulu dengan penelitian yang
akan dilakukan oleh peneliti. Adapun persamaan dan perbedaan dari peneliti
ini dengan penelitian terdahulu adalah sebagai berikut :
a. Persamaan
Persamaan yang terdapat dalam penelitian ini dan penelitian terdahulu
adalah :
21
1) Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini memiliki
kesamaan dengan penelitian terdahulu diantaranya adalah :
a) Variabel Self efficacy sama dengan penelitian yang dilakukan oleh
Setiawan, Surjana & Novarini (2020), Shinta Devi (2020), Nafriana
Nia (2021), Muhammad Yudha Prawira Negara (2022), Zahra
Haura Imani (2021), dan Skripsi Angtias Azzahra (2021).
b) Variabel Work engagement sama dengan penelitian yang dilakukan
Qodariah (2019), Joushan, Syamsun & Kartika (2015), Sopyan &
Ahman (2015), Dajani (2015), Lianasari, Wardoyo dan Santoso
(2017), dan Muliawan, Perizade & Cahyadi (2017).
c) Variabel Kepemimpinan Transaksional sama dengan penelitian
yang dilakukan oleh I Komang Alan Darmasaputra & I Gede
Adyana Sudibya (2018), Insan (2017), Noermijati dan Primasari
(2015), Nenden Nur Annisa (2017), Rizky Herwinda Putri (2013),
Farah Nur Syafi’ah Wijayanti (2018), dan I Dewa Gede Yoga
Sugama (2017).
d) Variabel Kinerja sama dengan penelitian yang dilakukan oleh
Hascaya Ciptaning Herlambang 2019), Makassar, Shinta devi
(2020), Nafriana, Nia (2021), Pujianto, Zahara Tirta (2020),
Joushan, Syamsun & Kartika (2015), Sopyan & Ahman (2015),
Dajani (2015), Lianasari, Wardoyo, Santoso (2017), Muliawan,
Perizade & Cahyadi (2017), Adawiyah dan Siswanto (2015), dan
Noermijati dan Primasari (2015).
22
e) Variabel Motivasi Kerja Sama Dengan Penelitian Yang Dilakukan
Oleh Sagita Novianti (2015), Sidanti, H ( 2015), Hidayat, Z.,
Taufik, M. Widya (2012), Hascaya Ciptaning Herlambang 2019),
Pujianto, Zahara Tirta (2020)
2) Alat analisis dalam penelitian ini sama dengan penelitian yang
dilakukan oleh Manalu (2021) yaitu alat Regresi Linier Berganda.
Setiawan, Sujanah, & Novarini (2020) yaitu alat Regresi Linier
Berganda,Qodariyah (2019) yaitu alat Analisis Jalur, Firdaus (2019)
yaitu alat Partial Leaste Square Regresion (PLS) dan Struktural
Equation Modeling (SEM), Ardi, Astuti & Sulistiyo ( 2017) yaitu
alat Part analisis, Insan (2017) yaitu alat alat Partial Leaste Square
Regresion (PLS), Kusnoto & Sitorus (2016) yaitu alat Struktural
Equation Modeling (SEM), Noviawati (2016) yaitu alat yaitu alat
Partial Leaste Square Regresion (PLS) dan Struktural Equation
Modeling (SEM), Hidayat & Setiawan (2016) yaitu alat Analisis
Regresi Berganda.
b. Perbedaan
Perbedaan yang terdapat dalam penelitian ini adalah pada objek
penelitian yaitu Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang, jumlah
populasi dan perbedaan lainnya adalah objek penelitiannya. Manalu (2021)
23
objek penelitiannya yaitu pada pegawai BPJS ketenagakerjaan cabang
binjai. Setiawan, Sujana & Novarini (2020) objek penelitiannya pada PT
Adi Sarana Armada TBK badung. Qodariyah (2019) objek penelitiannya
pada PT Surveyor Indonesia. Firdous (2019) objek penelitiannya pada
karyawan PT Karet Batin, Ardi, Astuti & Sulistiyo (2017) objek
penelitiannya pada PT Telekomunikasi indonesia Regional Surabaya. Insan
(2017) objek penelitiannya pada PT Telekomunikasi di kota makasar.
Kusnoto & Sitoru (2016) objek penelitiannya pada PT BRI Cabang BSD.
C. Telaah Pustaka
1. Kinerja pegawai
a. pengertian kinerja pegawai
Kinerja pegawai merupakan suatu hasil yang dicapai oleh
pegawai tersebut dalam pekerjaanya menurut kriteria tertentu yang
berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu. Menurut Robbins (2003) bahwa
kinerja pegawai adalah sebagai fungsi dari interaksi antara kemampuan
dan motivasi. Dalam studi manajemen kinerja pekerja atau pegawai ada
hal yang memerlukan pertimbangan yang penting sebab kinerja
individual seorang pegawai dalam organisasi merupakan bagian dari
kinerja organisasi, dan dapat menentukan kinerja dari organisasi
tersebut.
Berhasil tidaknya kinerja pegawai yang telah dicapai
organisasi tersebut akan dipengaruhi oleh tingkat kinerja dari pegawai
secara individu maupun kelompok. Kinerja (performance) merupakan
24
perilaku organisasional yang secara langsung berhubungan dengan
produksi barang atau penyampaian jasa. Kinerja seringkali difikirkan
sebagai pencapaian tugas, dimana istilah tugas sendiri berasal dari
pemikiran aktivitas yang dibutuhkan oleh pekerja (Gibson, 1997). Yukl
(1998) memakai istilah proficiency yang mengandung arti yang lebih
luas. Kinerja mencakup segi usaha, loyalitas, potensi, kepemimpinan,
dan moral kerja. Profisiensi dilihat dari tiga segi, yaitu: perilaku-
perilaku yang ditunjukan seseorang dalam bekerja, hasil nyata atau
outcomes yang dicapai pekerja, dan penilaian-penilaian pada faktor-
faktor seperti
motivasi, komitmen, inisiatif, potensi kepemimpinan dan moral kerja.
Menurut Mangkunegara, (2017) "Kinerja adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya". Sedangkan Menurut Fahmi Irham., (2017) "Kinerja adalah
hasil dari suatu proses yang mengacu dan diukur selama periode waktu
tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Menurut Rivai & Sagala, (2009) kinerja pegawai adalah
perilaku nyata yang ditampilkan seorang pegawai sebagai prestasi kerja
yang dihasilkan sesuai dengan perannya dalam organisasi, kinerja
pegawai merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam upaya
organisasi untuk mencapai tujuannya. Mangkunegara, (2011)
25
mendefinisikan bahwa kinerja pegawai (prestasi kerja) adalah hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya. Pada umumnya kinerja dibedakan menjadi dua,
yaitu kinerja individu dan kinerja organisasi. Kinerja individu adalah
hasil kerja pegawai baik dari segi kualitas maupun kuantitas
berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan, sedangkan kinerja
organisasi adalah gabungan dari kinerja individu dengan kinerja
kelompok. Gibson (1997) mendefinisikan kinerja sebagai hasil dari
pekerjaan yang terkait dengan tujuan organisasi seperti, kualitas,
efesiensi, dan kriteria efektifitas lainya. Kinerja merefleksikan seberapa
baik dan seberapa tepat seorang individu memenuhi permintaan
pekerjaan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh
seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengantanggung jawab yang diberikan kepadanya.
a) Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja
Siagian (2013) menyatakan bahwa, Kinerja dipengaruhi oleh
dua
faktor, yaitu:
26
1. Faktor Kemampuan
Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk
melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Robbin (2004:45)
menyatakan bahwa kemampuan adalah suatu kapasitas individual
untuk mengerjakan berbagai fungsi dalam suatu
perkerjaan selanjutnya dikatakan seluruh kemampuan seorang
individu pada hakikatnya tersusun dari dua perangkat faktor yaitu
kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Berikut beberap
faktor kemampuan :
a. Pengetahuan pendidikan, pengalaman, latihan dan minat.
b. Ketrampilan: kecakapan dan kepribadian.
2. Faktor Motivasi
Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang
secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan
tujuan tertentu. Menurut Abraham MaslowPengertian motivasi
adalah sesuatu yang bersifat konstan (tetap), tidak pernah berakhir,
berfluktuasi dan bersifat kompleks, dan hal itu kebanyakan
merupakan karakteristik universal pada setiap kegiatan organisme.
a. Kondisi sosial: organisasi formal dan informal, kepemimpinan dan
serikat kerja.
b. Kebutuhan individu fisiologis, sosial dan egoistik.
c. Kondisi fisik: lingkungan kerja.
27
c) Indikator Kinerja Pegawai
Indikator Kinerja Karyawan menurut Bernaddin dan Russel
dalam Priansa (2017) yaitu :
a. Kualitas yaitu pekerja dapat mencapai hasil akhir yang
mendekati sempurna dalam arti memenuhi tujuan yang
diharapkan oleh perusahaan.
b. Kuantitas yaitu pekerja dapat mencapai hasil yang dinyatakan
dalam nilai uang, jumlah unit, atau pekerjaan yang selesai.
c. Ketepatan waktu yaitu pekerja dapat menyelesaikan tugasnya
pada waktu awal yang diinginkan perusahaan.
d. Efektivitas Biaya yaitu penggunaan daya organisasi
dimaksimalkan dalam arti mendapatkan keuntungan tertinggi
atau pengurangan kerugian dan setiap unit sebagai pengganti
dari penggunaan sumber daya.
e. Perlu Pengawasan yaitu pekerja dapat melaksanakan fungsi
pekerjaan tanpa harus meminta bantuan pengawasan.
f. Hubungan antar Individu yaitu keadaan dimana karyawan dapat
menciptakan suasana nyaman dalam bekerja, berpikiran positif,
percaya din, dan kerjasama antar rekan kerja.
b) Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan salah satu faktor
kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien.
28
Karena adanya kebijakan atau program penilaian kinerja, berarti
organisasi telah menunfaatkan secara baik sumber daya manusia yang
ada dalam organisasi Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi
dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan. Melalui
penilaian tersebut, maka dapat diketahui bagaimana kondisi riil
pegawai dilihat dari kinerja Dengan demikian data-data ini dapat
dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan suatu organisasi. Menurut
Robert & John, (2006.) penilaian kinerja adalah proses evaluasi
terhadap
pegawai dalam melakukan pekerjaan yang dikomparasikan dengan
standar yang dilanjutkan dengan memberi informasi tersebut pada
pegawai.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
penilaian kinerja adalah sistem yang digunakan untuk menilai dan
mengetahui apakah seorang karyawan telah melaksanakan
pekerjaannya masing - masing secara keseluruhan.
Menurut Hasibuan (2015), Ada lima pihak yang dapat
melakukan penilaian kinerja karyawan, yaitu:
1. Atasan langsung
Hampir 96 % evaluasi kinerja pada tingkat bawah dan menengah
dalam suatu organisasi dijalankan oleh atasan langsung karyawan
29
karena atasan langsung yang memberikan pekerjaan dan paling
tahukinerja karyawannya.
2. Rekan sekerja
Penilian kinerja yang dilakukan oleh rekan sekerja dilaksanakan
dengan pertimbangan bahwa rekan sekerja dengan dengan tindakan.
Interaksi sehari-hari dapat memberikan pandangan menyeluruh
terhadap kinerja seseorang karyawan dalam bekerja.
3. Evaluasi diri
Evaluasi ini cenderung mengurangi kedefensifan para karyawan
mengenai proses penilaian, dan evaluasi ini merupakan sarana yang
unggul untuk merangsang pembahasan kinerja karyawan dan atasan
karyawan.
4. Bawahan langsung
Penilaian kinerja karyawan oleh bawahan langsung dapat
memberikan informasi yang tepat dan rinci mengenai perilaku
seseorang atasan karena lazimnya penilai mempunyai kontak yang
sering dengan yang
dinilai.
5. Pendekatan menyeluruh
Penilaian kinerja karyawan dilakukan oleh atasan, pelanggan, rekan
sekerja dan bawahan. Penilaian ini biasanya dilakukan di dalam
organisasi yang memperkenalkan tim. Berdasarkan uraian mengenai
yang biasanya menilai kinerja karyawan dalam organisasi dan
30
dengan mempertimbangkan berbagai hal, maka dalam penelitian ini,
penilaian
kinerja pegawai dilakukan berdasarkan evaluasi diri.
2. Motivasi Kerja
a) Pengertian Motivasi Kerja
Dalam pengertian umum, motivasi dikatakan sebagai
kebutuhanyang mendorong perbuatan kearah suatu tujuan tertentu.
Batasanmengenai motivasi sebagai “ The process by which behavior
isenergized and directed” (suatu proses, dimana tingkah laku tersebut
dipupuk dan diarahkan) para ahli psikologi memberikan kesamaan
antara motif dengan needs (dorongan, kebutuhan). Dari batasan diatas,
dapatdisimpulkan bahwa motif adalah yang melatar belakangi individu
untukberbuat mencapai tujuan [Link] pengertian mengenai
motivasi adalah pemberian ataupenimbulan motif. Atau dapat pula
diartikan hal atau keadaan menjadimotif. Jadi motivasi kerja adalah
sesuatu yang menimbulkan semangatatau dorongan kerja. Kuat dan
lemahnya motivasi kerja seorang tenagakerja ikut menentukan besar
kecilnya [Link], arah dan ketekunan seseorang individu
untuk mencapai tujuannya. Menurut Melayu motivasi adalah pemberian
daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar
mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan
31
segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Menurut Herold
Koontz, motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan
kebutuhan atau suatu tujuan. Sedangkan menurut Wayne F. Cassio,
motivasi adalah sesuatu kekuatan yang dihasilkan dari keinginan
seseorang untuk memuaskan kebutuhannya (misalnya: rasa lapar, haus
dan bermasyarakat) Filmore H. Stanford, mengatakan motivasi sebagai
suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu.
Menurut Robert A. Baron, motivasi dapat pula dikatakan sebagai energi
untuk membangkitkan dorongan dalam diri (drive aurosal). Bila suatu
kebutuhan tidak terpuaskan, timbul drive dan aktivitas individu untuk
merespon perangsang (incentive) dalam tujuan yang diinginkan.
Pencapaian tujuan akan menjadikan individu merasa puas. Dalam
hubungannya dengan lingkungan kerja Ernest J. McCormick
mengemukakan bahwa Motivasi kerja adalah merupakansuatu kondisi
yang mempengaruhi membangkitkan, mengarahkan dan memelihara
perilaku yang berhubungan dengan lingkungan [Link] PF.
Drucker, motivasi berperan sebagai pendorong kemauan dan keinginan
seseorang. dan inilah yang motivasi dasar yang mereka usahakan sendiri
untuk menggabungkan dirinya dengan organisasi untuk berperan dengan
baik. Dan seorang ahli dalam aliran behaviorisme, yaitu B.F. Skinner
memberi contoh pengertian motivasi sebagai berikut :
Dalam memotifasi karyawan pimpinan disamping harus
memperhatikan dan mempertimbangkan secara kualitatif kemampuan
32
dan potensi psikis mereka agar dapat disumbangkan semaksimal
mungkin untuk keberhasilan organisasi, juga perlu memperhatikan dan
mempertimbangkan apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan para
karyawan. Dari pengertian para tokoh diatas maka, dapat diambil
kesimpulan bahwa motivasi kerja adalah dorongan yang menggerakkan
seseorang dalam bekerja untuk melakukan pekerjaan dengan segala
upaya dan bekerjaa secara efektif untuk mencapai tujuan yang ingin
dicapai.
b. Ciri-Ciri Motivasi Kerja
Menurut Anoraga terdapat empat ciri motif yakni sebagai berikut :
a)Motif adalah Majemuk Dalam suatu perbuatan sebenarnya tidak hanya
mempunyai satu tujuan tetapi beberapa tujuan yang berlangsung
bersama-sama.
b) Motif dapat Berubah-ubah Motif bagi seseorang sering kali mengalami
perubahan. Hal ini disebabkan keinginan manusia selalu berubah-ubah
sesuai dengan kebutuhan atau kepentingannya.
c) Motif dapat berbeda-beda bagi individu Dua orang yang melakukan
pekerjaan yang sama ternyata memiliki motif yang berbeda.
d) Beberapa motif tidak disadari oleh individu Banyak tingkah laku
manusia yang tidak disadari oleh pelakunya, sehingga beberapa
dorongan yang muncul karena berhadapan dengan situasi yang kurang
menguntungkan, lalu ditekan di bawah sadarnya. Dengan demikian
kalau ada dorongan dari dalam yang kuat menjadikan individu yang
33
bersangkutan tidak bisa memahami motifnya sendiri. Dari semua
motif tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap orang dapat memiliki
motif yang berbeda-beda dan terkadang motif yang timbul tidak
disadari oleh individu tersebut selain itu motifmereka juga bisa
berubah-ubah dan tidak hanya ada satu motif namun terdapat beberapa
motif yang berlangsung bersamaan.
b) Tujuan Motivasi
Tujuan Motivasi Menurut Hasibuan, tujuan motivasi antara lain sebagai
berikut:
a) Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
b) Meningktakan produktifitas kerja karyawan
c) Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan
d) Meningkatkan kedisiplinan karyawan perusahaan
e) Mengefektifkan pengadaan karyawan
f) Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
g) Meningkatkan loyalitas, kreatifitas, dan partisipasi karyawan
h) Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
i) Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap
tugastugasnya
j) Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku Ach.
Mohyi juga membagi tujuan motivasi sebagai berikut:
1. Untuk meningkatkan semangat, gairah dan kedisiplinan kerja
karyawan (meningkatkan moral kerja)
34
2. Memupuk rasa memiliki (sense of belonging), loyalitas dan partisipasi
karyawan
3. Meningkatkan kreatifitas dan kemampuan karyawan untuk
berkembang.
4. Meningkatkan produktivitas (prestasi) kerja karyawan.
5. Meningkatkan kesejahteraan dan kepuasan kerja karyawan. Dari
semua tujuan motivasi ini dapat disimpulkan bahwa motivasi
diberikan untuk pencapaian dari tujuan sebuah organisasi dengan
memaksimalkan semua sarana dan prasarana yang ada, termasuk
didalamnya adalah memaksimalkan kemampuan karyawan.
c) Indikator motivasi Kerja
indikator Motivasi Kerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2009)
dalam Bayu Fadillah (2013) sebagai berikut :
a) Tanggung Jawab
Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi terhadap
pekerjaannya
b) Prestasi Kerja
Melakukan sesuatu/pekerjaan dengan sebaik-baiknya
c) Peluang Untuk Maju
Keinginan mendapatkan upah yang adil sesuai dengan pekerjaan
d) Pengakuan Atas Kinerja
Keinginan mendapatkan upah lebih tinggi dari biasanya.
e) Pekerjaan yang menantang
Keinginan untuk belajar menguasai pekerjaanya di bidangnya
35
3. Self efficacy
a) Pengertian self efficacy
Self-efficacy merupakan keyakinan dalam diri seseorang terhadap
kemampuan yang dimiliki bahwa ia mampu untuk melakukan sesuatu
atau mengatasi suatu situasi bahwa ia akan berhasil dalam
melakukannya. Sebagaimana Bandura mengemukakan bahwa self-
efficacy merupakan keyakinan orang tentang kemampuan mereka untuk
menghasilkan tingkat kinerja serta menguasai situasi yang mempengaruhi
kehidupan mereka, kemudian self-efficacy juga akan menentukan
bagaimana orang merasa, berpikir, memotivasi diri dan berperilaku.
Sesuai dengan pendapat Jeanne Ellis Ormrod, self-efficacy adalah
keyakinan seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan
perilaku tertentu atau mencapai tujuan tertentu. Kemudian Bandura
dalam Howard (2008) juga menambahkan bahwa self-efficacy memiliki
dampak yang penting, bahkan bersifat sebagai motivator utama terhadap
keberhasilan seseorang. Orang lebihmungkin mengerjakan aktivitas yang
yakin dapat mereka lakukan daripada melakukan pekerjaan yang mereka
rasa tidak bisa. Selain itu, Baron dan Byrne juga mengartikanself-
efficacysebagai keyakinan seseorang akan kemampuan atau
kompetensinya atas kinerja tugas yang diberikan, mencapai tujuan, atau
mengatasi sebuah [Link] efikasi menurut Alwisol ialah
penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk,
benar atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang
36
[Link] berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
self- efficacy merupakan keyakinan dalam diri seseorang akan
kemampuan yang dimiliki dalam melakukan suatu tindakan untuk
mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan, serta dapat mempengaruhi
situasi dengan baik, dan dapat mengatasi sebuah hambatan.
b) Dimensi Self-Efficacy
Bandura membedakan self-efficacy menjadi tiga dimensi, yaitu level,
generality, dan strength.
1) Dimensi Level Dimensi ini mengacu pada derajat kesulitan tugas
yang dihadapi. Penerimaan dan keyakinan seeorang terhadap suatu
tugas berbeda- beda. Persepsi setiap individu akan berbeda dalam
memandang tingkat kesulitan dari suatu tugas Persepsi terhadap
tugas yang sulit dipengaruhi oleh kompetensi yang dimiliki
individu. Ada yang menganggap suatu tugas itu sulit sedangkan
orang lain mungkin merasa tidak demikian. Keyakinan ini didasari
oleh pemahamannya terhadap tugas [Link]
(keseimbangan waktu), Time balance merujuk pada jumlah waktu
yang dapat diberikan oleh individu, baik bagi pekerjaannya
maupun hal-hal diluar pekerjaannya.
2) Dimensi Generality Dimensi ini mengacu sejauh mana individu
yakin akan kemampuannya dalam berbagai situasi tugas, mulai dari
dalam melakukan suatu aktivitas yang biasa dilakukan atau situasi
37
tertentu yang tidak pernah dilakukan hingga dalam serangkaian
tugas atau situasi sulit dan bervariasi.
3) Dimensi Strength Dimensi strength merupakan kuatnya keyakinan
seseorang mengenai kemampuan yang dimiliki ketika menghadapi
tuntutan tugas atau permasalahan. Hal ini berkaitan dengan
ketahanan dan keuletan individu dalam pemenuhan tugasnya. Self-
efficacy yang lemah dapat dengan mudah menyerah dengan
pengalaman yang sulit ketika menghadapi sebuah tugas yang sulit.
Sedangkan bila self-efficacy tinggi maka individu akan memiliki
keyakinan dan kemantapan yang kuat terhadap kemampuannya
untuk mengerjakan suatu tugas dan akan terus bertahan dalam
usahannya meskipun banyak mengalami kesulitan dan tantangan.
4. Work Engagement
a) Pengertian work Engagement
Work engagement merupakan sebuah konsep pemikiran dimana
karyawan yang memilki rasa engagement dalam kata lain yakni merasa
terikat terhadap pekerjaan mereka sehingga ketika mereka bekerja
mereka akan lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaan mereka.
Schaufeli dan Bakker (2004) mendefinisikan work-engagement sebagai
sesuatu yang bersifat positif yang berkaitan dengan perilaku dalam
pekerjaan yang meliputi pikiran mengenai hubungan antara pekerja atau
karyawan dengan pekerjaannya, yang ditandai dengan semangat (vigor)
dan dedikasi (dedication) serta penghayatan (absorption) dalam
38
pekerjaan. Dengan kata lain, karyawan yang memiliki work engagement
tinggi mereka akan menyalurkan seluruh pikiran dan tenaga yang
dimiliki terhadap pekerjaan mereka serta lebih bersemangat dalam
bekerja. Kahn (dalam Saks, 2006) mengatakan bahwa keterlibatan berarti
kehadiran secara psikologis ketika menduduki dan melakukan peran
dalam organisasi. Lebih lanjut Rothbard (dalam Saks, 2006) juga
menyatakan hal yang sama bahwa engagement merupakan suatu
kehadiran secara psikologis yang melibatkan dua komponen penting
yaitu attention dan absorption. Dimana attention mengacu pada
kemampuan kognitif dan jumlah waktu yang dihabiskan untuk
memikirkan perannya dalam organisasi, sedangkanabsorption merupakan
kelekatan karyawan terhadap pekerjaanya yang mengacu pada intensitas
fokus seseorang terhadap perannya dalam organisasi. Sehingga karyawan
yang engage dimungkinkan akan lebih memiliki kemampuan kognitif
yang lebih baik dan lebih memahami perannya dalam organisasi.
Keterikatan atau engagagement ini merupakan suatu hal yang positif
sebagai kebalikan dari burnout, dimana karyawan yang merasa ‘engage’
terhadap pekerjaan mereka akan memiliki rasa semangat dan hubungan
yang efektif yang lebih baik dengan pekerjaan mereka (Maslach & Leiter
dalam Bakker & Leiter, 2010). Berbeda dengan workaholic, seperti
diungkapkan oleh Schaufeli, dkk (Bakker & Leitter, 2010) mengatakan
bahwa karyawan yang workaholic memiliki suatu ciri khas yaitu
memandang pekerjaannya merupakan sebuah keharusan. Namun bagi
39
pekerja yang memiliki engagement, mereka lebih menganggap pekerjaan
yang mereka lakukan merupakan suatu hal yang menyenangkan dan
merupakan hal yang disukai oleh mereka. Schaufeli (Bakker &
Demerouti, 2008) meyakini bahwa karyawan yang engage memiliki self-
efficacy yang dapat membantu mereka dalam memberikan feedback
untuk dirinya sendiri, misalnya seperti penghargaan dan pengakuan bagi
dirinya sendiri serta kesuksesan dalam dirinya. Sejalan dengan hal
tersebut, Xanthopoulou, dkk (Bakker, 2011) menyatakan bahwa self-
efficacy merupakan bagian dari personal resource yang dapat
mempengaruhi engagament karyawan, dimana karyawan yang
memilikitingkat engagement tinggi memiliki self-efficacy yang tinggi
pula. Dengan adanya self-efficacy tersebut, karyawan akan lebih merasa
optimis dan percaya bahwa mereka mampu melakukan pekerjaannya
dengan lebih baik. Bakker dan Schaufeli (Bakker & Leitter, 2010)
menjelaskan work engagement melalui teori JD-R model, work
engagement ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu job demand dan job
resource. Job demand merupakan faktor fisik, psikologis dan sosial yang
membutuhkan usaha fisik, kognitif dan emosional yang dapat
mempengaruhi tingkat work engagament seseorang melalui beban kerja
dimana beban kerja yang semakin meningkat dapat menurunkan work
engagament karyawan. Berbeda dengan job resource yang lebih dapat
menurunkan beban kerja sehingga dapat meningkatkan work
engagament. Pada perusahaan yang memiliki karyawan dalam jumlah
40
yang besar, permasalahan work engagement ini tentu perlu diperhatikan.
PT.X adalah salah satu perusahaan yang memiliki jumlah karyawan besar
yang didominasi oleh karyawan berjenis kelamin perempuan. Sama
seperti karyawan laki-laki, karyawan wanita juga memiliki peran yang
penting dalam organisasi. Banyak posisi dan jabatan yang hanya dapat
diisi oleh pekerja wanita (Handini, Haryoko & Yulianto, 2014). Melihat
dari jumlah karyawan yang didominasi oleh perempuan, hal ini juga
dapat memberikan dampak negatif pada perusahaan. Khan (Greenhaus &
Beutell, 1985) menyatakan bahwa hal ini dikarenakan wanita yang
bekerja seringkali mengalami role conflict, yaitu sebuah kondisi dimana
seseorang mengalamikesulitan dalam memenuhi banyaknya tuntutan
dalam satu peran sehingga dirinya kesulitan untuk memenuhi tuntutan
pada peran lain. Sejalan dengan hal tersebut, Floyd dan Lane (2000)
mengatakan bahwa hal ini dapat mempengaruhi kinerja pada karyawan
perempuan yang bekerja. Kemudian Jackson dan Schuler (Floyd & Lane,
2000) menenemukan bahwa role conflict memiliki hubungan negatif
dengan kepuasan kerja, dan berhubungan secara positif dengan tekanan,
kecemasan, kecenderungan untuk meninggalkan organisasi, dan
produktivitas individu. Oleh karena itu, karyawan perempuan juga perlu
memiliki work engagement karena dengan adanya work engagement
mereka juga dapat mengetahui performansi mereka ketika bekerja.
Berdasarkan uraian dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa work engagement merupakan suatu kondisi dimana karyawan
41
memiliki rasa terikat pada pekerjaan mereka yang ditandai dengan
semangat (vigor), dedikasi (dedication) serta penghayatan (absorption)
dalam pekerjaan mereka yang melibatkan proses kognitif serta psikis dan
dapat mempengaruhi kinerja serta produktivitas karyawan dalam bekerja.
Dalam penelitian ini peneliti mengacu pada teori Schaufeli dan Bakker
(2004), hal tersebut dikarenakan teori ini berkesinambungan dengan
aspekaspek dari work engagement yang digunakan untuk menjadi acuan
dalam menjelaskan konsep mengenai work engagement ini serta
digunakan sebagai acuan dalam pembuatan alat ukur.
b) Indikator Work Engagement
Indikator Work Engagement Work Engagement dapat diukur dengan
tiga indikator, yaitu vigor, dedication dan absorption (Schaufeli, 2002)
- Vigor merupakan energi yang cukup tinggi dengan memiliki kemauan
untuk menginvestasikan tenaga, prestasi, dan tidak mudah lelah.
- Dedication adalah keterlibatan seseorang dengan adanya antusiasme,
rasa bangga, serta menginspirasi.
- Sedangkan Absorption adalah keadaan para karyawan yang memiliki
ciri waktu akan berjalan secara cepat dan sulit untuk memisahkan diri
dengan pekerjaan.
[Link] transaksional
a) Pengertian kepemimpinan transaksional
42
Menurut Bass (2003) Kepemimpinan Transaksional didefinisikan
sebagai kepemimpinan yang melibatkan suatu proses pertukaran yang
menyebabkan bawahan mendapat imbalan serta membantu bawahannya
mengidentifikasikan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi hasil yang
diharapkan seperti kualitas pengeluaran yang baik, penjualan atau pelayanan
yang lebih dari karyawan, serta mengurangi biaya produksi. Membantu
bawahannya dalam mengidentifikasi yang harus dilakukan pemimpin
membawa bawahannya kepada kesadaran tentang konsep diri serta harga
diri dari bawahannya tersebut. Seorang pemimpin yang menggunakan
kepemimpinan transaksional membantu karyawannya dalam meningkatkan
motivasi untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan dua cara, pertama
yaitu seorang pemimpin mengenali apa yang harus dilakukan bawahan
untuk mencapai hasil yang sudah direncanakan setelah itu pemimpin
mengklarifikasi peran bawahannya kemudian bawahan akan merasa percaya
diri dalam melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan perannya. Yang
kedua adalah pemimpin mengklarifikasi bagaimana pemenuhan kebutuhan
dari bawahan akan tertukar dengan penetapan peran untuk mencapai hasil
yang sudah disepakati. Menurut Yukl (2010) Kepemimpinan Transaksional
dapat melibatkan nilai- nilai, tetapi nilai-nilai tersebut relevan dengan proses
pertukaran seperti kejujuran, tanggung jawab, dan timbal balik. Pemimpin
transaksional membantu para pengikut mengidentifikasi apa yang harus
dilakukan, dalam identifikasi tersebut pemimpin harus mempertimbangkan
apa yang harus dilakukan, dalam identifikasi tersebut pemimpin
43
harusmempertimbangkan konsep diri, dan self esteem dari bawahan
(Ivancevich, Konopaske, dan Matteson, 2006). Sedangkan menurut Thomas
(2003) Kepemimpinan Transaksional sebagai suatu kepemimpinan yang
mendapatkan motivasi para bawahannya dengan menyerukan ketertarikan
mereka sendiri. Perilaku kepemimpinan terfokus pada hasil dari tugas dan
hubungan dari pekerja yang baik dalam pertukaran untuk penghargaan yang
diinginkan. Kesimpulan dari beberapa definisi tersebut adalah gaya
kepemimpinan transaksional merupakan gaya kepemimpinan dimana
pemimpin diharapkan mampu menyesuaikan dirinya sesuai dengan harapan
dari karyawan agar karyawan merasa dibutuhkan karena adanya hubungan
yang kooperatif antara keduanya.
b) indicator kepemimpinan transaksional
1. Menurut Yukl (2010) indikator – indikator yang mempengaruh Gaya
Kepemimpinan Transaksional yaitu : Imbalan Kontingen (Contingent
Reward) Faktor ini dimaksudkan bahwa bawahan memperoleh
pengarahan dari pemimpin mengenai prosedur pelaksanaan tugas dan
target-target yang harus dicapai. Bawahan akan menerima imbalan
dari pemimpin sesuai dengan kemampuannya dalam mematuhi
prosedur tugas dan keberhasilan mencapai target – target yang telah
ditentukan.
2. Manajemen Eksepsi Aktif (Active Management by Exception) Faktor
ini menjelaskan tingkah laku pemimpin yang selalu melakukan
pengawasan secara direktif terhadap bawahannya. Pengawasan
44
direktif yang dimaksud adalah mengawasi proses pelaksanaan tugas
bawahan secara langsung. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi dan
meminimalkan tingkat kesalahan yang timbul Tuntutan peran,
berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai
suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam suatu
organisasi.
3. Tuntutan antar pribadi, merupakan tekanan yang diciptakan oleh
pegawai lain.
4. Struktur organisasi, gambaran intansi yang diwarnai dengan struktur
organisasi yang tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan,
peran, wewenang, dan tanggung jawab.
5. Kepemimpinan organisasi memberikan gaya manajemen pada
organisasi beberapa pihak didalamnya dapat membuat iklim
organisasi yang melibatkan ketegangan, ketakutan dan
[Link] proses kerja berlangsung. Seorang pemimpin
transaksional tidak segan mengoreksi dan mengevaluasi langsung
kinerja bawahan meskipun proses kerja belum selesai. Tindakan
tersebut dimaksud agar bawahan mampun bekerja sesuai dengan
standar dan prosedur kerja yang telah ditetapkan. Manajemen Eksepsi
Pasif (Passive Management By Exception) Seorang pemimpin
transaksional akan memberikan peringatan dan sanksi kepada
bawahannya apabila terjadi kesalahan dalam proses yang dilakukan
oleh bawahan yang bersangkutan. Namun apabila proses kerja yang
45
dilakukan masih berjalan sesuai standard an prosedur, maka pemimpin
transaksional tidak memberikan evaluasi apapun kepada bawahan
A. Kerangka Pemikiran Teoritis
Menurut Sugiyono (2014) memberikan pengertian mengenai kerangka
berfikir sebagai berikut: "Kerangka berfikir merupakan model konseptual
tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah
diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka pemikiran teoritis pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Kinerja karyawan (Y)
Menurut Mangkunegara (2015), Kinerja adalah hasil kerja yang dapat
dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai
dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya
mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum
dan sesuai dengan moral dan etika.
Motivasi Kerja (Z)
Menurut Maruli (2020) Mengatakan bahwa motivasi Kerja adalah
segala sesuatu yang timbul dari hasrat seseorang, dengan menimbulkan gairah
serta keinginan dari dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi dan
mengarahkan serta memelihara perilaku untuk mencapai tujuan ataupun
keinginan yang sesuai dengan lingkup kerja.
Self efficacy (X1)
Menurut Bandura (2003) efikasi diri adalah evaluasi seseorang terhadap
kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai
46
tujuan, atau mengatasi [Link] juga menambahkan bahwa Efikasi
diri merupakan hasil dari proses kognitif yang terjadi pada diri individu.
Work Engagement (X2)
Schaufeli, Salanova, Gonzalez-Roma & Bakker (2002) mendefinisikan
work engagement sebagai positivitas, pemenuhan kerja dari pusat pikiran yang
memiliki dimensi vigor, dedication dan absorbtion.
Kepemimpinan transaksional (X3)
Menurut Odumeru & Ifeanyi (2013) gaya kepemimpinan transaksional
adalah gaya kepemimpinan dimana seorang pemimpin memfokuskan
perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dengan karyawan
yang melibatkan hubungan pertukaran..Menurut Odumeru & Ifeanyi (2013)
gaya kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan dimana seorang
pemimpin memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara
pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran..
Dari lima variabel di atas akan diuji pengaruh antar variabelnya.
Variabel self efficacy, work Engagement, dan kepemimpinan transaksional
apakah ada pengaruh langsung terhadap Kinerja pegawai ataupun tidak
langsung dengan melalui variabel Motivasi Kerja sebagai variabel
[Link] kerangka pemikiran untuk penelitian ini digambarkan pada
gambar berikut ini:
Gambar 1
Model Penelitian
47
Self Efficacy
(X1) H1
H4
Work Engagement Motivasi kerja Kinerja karyawan
(X2) (Z) (Y)
H5 H7
Kpemimpina H6
n H3
transaksional 3
(X3)
H2
Sumber : Data primer yang diolah, 2022
B. Pengembangan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
dimana masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan
(Sugiyono, 2018). Hipotesis dinyatakan dengan kalimat pernyataan dan bukan
kalimat pertanyaan. Dalam penyusunan penelitian ini penulis juga merumuskan
hipotesis-hipotesis sementara yang mungkin benar terjadi pada Pegawai Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang. Kinerja pegawai dapat di
pengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah self efficacy, work
Engagement, kepemimpinan transaksional, dan motivasi kerja. Berdasarkan hal
tersebut maka pengembangan hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Pengaruh self efficacy terhadap Kinerja.
48
Menurut Mangkunegara (2015), Kinerja adalah hasil kerja yang dapat
dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi,
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka
upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak
melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika. Menurut Singh dan
Khanna (2011), work-life balance adalah konsep luas yang melibatkan
penetapan prioritas yang tepat antara pekerjaan (karir dan ambisi) pada satu
sisi dan kehidupan (kebahagiaan, waktu luang, keluarga dan pengembangan
spiritual) di sisi lain.
Penelitian tentang pengaruh self efficacy terhadap kinerja pegawai yang
dilakukan olehSetiawan, SujanaNovarini (2020)Pengaruh Self Efficacy dan
Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan pada PT Adi Sarana Armada Tbk
Badung Penelitian yang sama dilakukan oleh Shinta devi (2020) dengan
judul “pengaruh self efficacy terhadap kinerja pegawai pada dinas
perumahan dan kawasan permukiman kota Makassar”, dan penelitian yang
dilakukan oleh Nafriana Nia (2021) dengan judul “Pengaruh self efficacy
terhadap kinerja pegawai biro umum kantor gubernur provinsi Riau”,
menyimpulkan adanya pengaruh yang signifikan antara self efficacy
terhadap kinerja. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dibangun
hipotesis sebagai berikut :
H1 : Ada pengaruh yang signifikan antara self efficacy terhadap
Kinerja pada DLH Kabupaten Pemalang.
2. Pengaruh work Engagement terhadap Kinerja pegawai
49
Work engagement merupakan sebuah konsep pemikiran dimana
karyawan yang memilki rasa engagement dalam kata lain yakni merasa
terikat terhadap pekerjaan mereka sehingga ketika mereka bekerja mereka
akan lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaan mereka. Schaufeli dan
Bakker (2004) mendefinisikan work-engagement sebagai sesuatu yang
bersifat positif yang berkaitan dengan perilaku dalam pekerjaan yang
meliputi pikiran mengenai hubungan antara pekerja atau karyawan dengan
pekerjaannya, yang ditandai dengan semangat (vigor) dan dedikasi
(dedication) serta penghayatan (absorption) dalam pekerjaan
Penelitian tentang pengaruh work Engagementterhadap kinerja pegawai
dilakukan oleh Pujianto, Zahara Tirta (2020) dengan judul penelitian
“Pengaruh work engagement terhadap kinerja karyawan dengan kepuasan
kerja sebagai variabel intervening pada pdam kota Malang”, penelitian yang
sama dilakukan oleh Joushan, Syamsun & Kartika (2015) dengan judul
“Pengaruh Budaya Organisasi dan work engangement Terhadap Kinerja
Karyawan pada PT PLN (Persero) Area Bekasi”, dan penelitian yang
dilakukan oleh Sopyan & Ahman (2015) dengan judul “Pengaruh Budaya
Organisasi, Kepuasan Kerja, dan Keterikatan Karyawan (work Engagement)
Terhadap Kinerja Karyawan di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan
Informatika Kabupaten Sukabumi”, menyimpulkan adanya pengaruh yang
signifikan antara employee engagement terhadap kinerja. Berdasarkan
uraian tersebut, maka dapat dibangun hipotesis sebagai berikut :
H2 : Ada pengaruh yang signifikan antara work Engagement terhadap
Kinerja pegawai Pada DLH Kabupaten Pemalang.
50
3. Pengaruh kepemimpinan transaksional terhadap kinerja pegawai
Menurut Bass (2003) Kepemimpinan Transaksional didefinisikan
sebagai kepemimpinan yang melibatkan suatu proses pertukaran yang
menyebabkan bawahan mendapat imbalan serta membantu bawahannya
mengidentifikasikan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi hasil yang
diharapkan seperti kualitas pengeluaran yang baik, penjualan atau pelayanan
yang lebih dari karyawan, serta mengurangi biaya produksi. Membantu
bawahannya dalam mengidentifikasi yang harus dilakukan pemimpin
membawa bawahannya kepada kesadaran tentang konsep diri serta harga
diri dari bawahannya tersebut. Seorang pemimpin yang menggunakan
kepemimpinan transaksional membantu karyawannya dalam meningkatkan
motivasi untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan dua cara, pertama
yaitu seorang pemimpin mengenali apa yang harus dilakukan bawahan
untuk mencapai hasil yang sudah direncanakan setelah itu pemimpin
mengklarifikasi peran bawahannya kemudian bawahan akan merasa percaya
diri dalam melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan perannya. Yang
kedua adalah pemimpin mengklarifikasi bagaimana pemenuhan kebutuhan
dari bawahan akan tertukar dengan penetapan peran untuk mencapai hasil
yang sudah disepakati. Menurut Yukl (2010,p.291) Kepemimpinan
Transaksional dapat melibatkan nilai- nilai, tetapi nilai-nilai tersebut relevan
dengan proses pertukaran seperti kejujuran, tanggung jawab, dan timbal
balik. Pemimpin transaksional membantu para pengikut mengidentifikasi
apa yang harus dilakukan, dalam identifikasi tersebut pemimpin harus
51
mempertimbangkan apa yang harus dilakukan, dalam identifikasi tersebut
pemimpin harusmempertimbangkan konsep diri, dan self esteem dari
bawahan (Ivancevich, Konopaske, dan Matteson, 2006,p.213).
Penelitian tentang kepemimpinan transaksional terhadap kinerja pegawai
yang dilakukan oleh Lianasari, Wardoyo, Santoso (2017) dengan judul
“Pengaruh Stres Kerja, kepemimpoinan transaksional , dan Kedisiplinan
Terhadap Kinerja Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening
pada Karyawan CV. Karya Manunggal Semarang”, penelitian yang sama
dilakukan oleh Pengaruhnya Stres Kerja, terhadap Kinerja Karyawan
dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Mediasi pada Bank Syariah
Kota”, dan penelitian yang dilakukan oleh Noermijati dan Primasari (2015)
dengan judul “The Effect of Job Stress and Job Motivation on Employees’
Performance Through Job Satisfaction A Study at PT. Jasa Marga (Persero)
Tbk. Surabaya – Gempol Branch”, menyimpulkan adanya pengaruh yang
signifikan antara Work stress terhadap kinerja. Berdasarkan uraian tersebut,
maka dapat dibangun hipotesis sebagai berikut :
H3 : Ada pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan
transaksional terhadap kinerja pegawai pada DLH Kabupaten
Pemalang.
4. Pengaruh self efficacy terhadap kinerja dan motivasi kerja sebagai
variabel intervening.
Bandura (1997: 31) mengatakan Self efficacy adalah suatu keyakinan
seseorang akan kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan
serangkaian tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas
tertentu.
52
Penelitian tentang pengaruh self efficacy terhadap kinerja pegawai dan
motivasi yang dilakukan olehSetiawan, SujanaNovarini (2020)Pengaruh
Self Efficacy dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan pada PT Adi Sarana
Armada Tbk Badung Penelitian yang sama dilakukan oleh Shinta devi
(2020) dengan judul “pengaruh self efficacy terhadap kinerja pegawai pada
dinas perumahan dan kawasan permukiman kota Makassar”, dan penelitian
yang dilakukan oleh Nafriana Nia (2021) dengan judul “Pengaruh self
efficacy terhadap kinerja pegawai biro umum kantor gubernur provinsi
Riau”, menyimpulkan adanya pengaruh yang signifikan antara self efficacy
terhadap kinerja. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dibangun
hipotesis sebagai berikut :
menyimpulkan adanya pengaruh yang signifikan antara keseimbangan
kehidupan kerja terhadap kinerja melalui kepuasan kerja sebagai variabel
intervening. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dibangun hipotesis
sebagai berikut :
H4 : Ada pengaruh yang signifikan antara self efficacy terhadap
kinerja dan motivasi kerja sebagai variabel intervening pada DLH
Kabupaten Pemalang.
5. Pengaruh work Engagement terhadap kinerja melalui motivasi kerja
sebagai variabel intervening.
Menurut Mangkunegara (2015:67), Kinerja adalah hasil kerja yang
dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi,
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka
upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak
53
melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika. Employee
engagement mendorong kekuatan ilusif (komitmen terhadap organisasi,
kebanggaan terhadap pekerjaan, pengerahan waktu dan tenaga, passion dan
ketertarikan) yang memotivasi pegawai untuk performasi ke tingkat yang
lebih tinggi Concelmen (2004). Menurut Hamali(2016), menyatakan
bahwa kepuasan kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang
berhubungan dengan situasi kerja, kerjasama antar karyawan, imbalan yang
diterima dalam bekerja, dan hal-hal lain yang menyangkut faktor fisik dan
psikologis.
Penelitian tentang pengaruh work Engagementterhadap kinerja pegawai
dilakukan oleh Pujianto, Zahara Tirta (2020) dengan judul penelitian
“Pengaruh work engagement terhadap kinerja karyawan dengan kepuasan
kerja sebagai variabel intervening pada pdam kota Malang”, penelitian yang
sama dilakukan oleh Joushan, Syamsun & Kartika (2015) dengan judul
“Pengaruh Budaya Organisasi dan work engangement Terhadap Kinerja
Karyawan pada PT PLN (Persero) Area Bekasi”, dan penelitian yang
dilakukan oleh Sopyan & Ahman (2015) dengan judul “Pengaruh Budaya
Organisasi, Kepuasan Kerja, dan Keterikatan Karyawan (work Engagement)
Terhadap Kinerja Karyawan di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan
Informatika Kabupaten Sukabumi”, menyimpulkan adanya pengaruh yang
signifikan antara employee engagement terhadap kinerja. Berdasarkan
uraian tersebut, maka dapat dibangun hipotesis sebagai berikut :
54
H5 : Ada pengaruh yang signifikan antara work Engagement terhadap
kinerja melalui motivasi kerja sebagai variabel intervening pada
DLH Kabupaten Pemalang.
6. Pengaruh kepemimpinan transaksional terhadap kinerja melalui
motivasi kerja sebagai variabel intervening.
Menurut Bass (2003) Kepemimpinan Transaksional didefinisikan
sebagai kepemimpinan yang melibatkan suatu proses pertukaran yang
menyebabkan bawahan mendapat imbalan serta membantu bawahannya
mengidentifikasikan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi hasil yang
diharapkan seperti kualitas pengeluaran yang baik, penjualan atau pelayanan
yang lebih dari karyawan, serta mengurangi biaya produksi. Membantu
bawahannya dalam mengidentifikasi yang harus dilakukan pemimpin
membawa bawahannya kepada kesadaran tentang konsep diri serta harga
diri dari bawahannya tersebut. Seorang pemimpin yang menggunakan
kepemimpinan transaksional membantu karyawannya dalam meningkatkan
motivasi untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan dua cara, pertama
yaitu seorang pemimpin mengenali apa yang harus dilakukan bawahan
untuk mencapai hasil yang sudah direncanakan setelah itu pemimpin
mengklarifikasi peran bawahannya kemudian bawahan akan merasa percaya
diri dalam melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan perannya. Yang
kedua adalah pemimpin mengklarifikasi bagaimana pemenuhan kebutuhan
dari bawahan akan tertukar dengan penetapan peran untuk mencapai hasil
yang sudah disepakati. Menurut Yukl (2010,p.291) Kepemimpinan
Transaksional dapat melibatkan nilai- nilai, tetapi nilai-nilai tersebut relevan
55
dengan proses pertukaran seperti kejujuran, tanggung jawab, dan timbal
balik. Pemimpin transaksional membantu para pengikut mengidentifikasi
apa yang harus dilakukan, dalam identifikasi tersebut pemimpin harus
mempertimbangkan apa yang harus dilakukan, dalam identifikasi tersebut
pemimpin harus mempertimbangkan konsep diri, dan self esteem dari
bawahan (Ivancevich, Konopaske, dan Matteson, 2006,p.213).
Penelitian tentang kepemimpinan transaksional terhadap kinerja pegawai
yang dilakukan oleh Lianasari, Wardoyo, Santoso (2017) dengan judul
“Pengaruh Stres Kerja, kepemimpoinan transaksional , dan Kedisiplinan
Terhadap Kinerja Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening
pada Karyawan CV. Karya Manunggal Semarang”, penelitian yang sama
dilakukan oleh Pengaruhnya Stres Kerja, terhadap Kinerja Karyawan
dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Mediasi pada Bank Syariah
Kota”, dan penelitian yang dilakukan oleh Noermijati dan Primasari (2015)
dengan judul “The Effect of Job Stress and Job Motivation on Employees’
Performance Through Job Satisfaction A Study at PT. Jasa Marga (Persero)
Tbk. Surabaya – Gempol Branch”, menyimpulkan adanya pengaruh yang
signifikan antara Work stress terhadap kinerja. Berdasarkan uraian tersebut,
maka dapat dibangun hipotesis sebagai berikut :
H6 : Ada pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan transaksional
kinerja melalui motivasi kerja sebagai variabel intervening pada
pegawai DLH Kabupaten Pemalang.
7. Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai.
56
Menurut Maruli (2020) Mengatakan bahwa motivasi Kerja adalah
segala sesuatu yang timbul dari hasrat seseorang, dengan menimbulkan
gairah serta keinginan dari dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi
dan mengarahkan serta memelihara perilaku untuk mencapai tujuan ataupun
keinginan yang sesuai dengan lingkup .
Penelitian tentang pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai
sebagai variabel intervening terhadap kinerja yang dilakukan oleh Hascaya
Ciptaning Herlambang (2019) dengan judul “Pengaruh work life balance
terhadap kinerja karyawan dengan kepuasan kerja sebagai variabel
intervening pada serikat pekerja media dan industri kreatif”, penelitian yang
sama dilakukan oleh Pujianto, Zahara Tirta (2020) dengan judul penelitian
“Pengaruh employeee engagement terhadap kinerja karyawan dengan
kepuasan kerja sebagai variabel intervening pada pdam kota Malang”, dan
penelitian yang dilakukan oleh Lianasari, Wardoyo, Santoso (2017) dengan
judul “Pengaruh Stres Kerja, Employee Engagement, dan Kedisiplinan
Terhadap Kinerja Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening
pada Karyawan CV. Karya Manunggal Semarang”, menyimpulkan adanya
pengaruh yang signifikan antara kepuasan kerja sebagai variabel intervening
terhadap kinerja. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dibangun
hipotesis sebagai berikut :
H7 : Ada pengaruh yang signifikan antara motivasi kerja terhadap
kinerja pada pegawai DLH Kabupaten Pemalang.
57
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Sumber Data
Jenis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Kualitatif
dan Data Kuantitatif.
1. Jenis Data
a. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata-kata atau gambar
(Sugiyono, 2010). Data Kualitatif dalam penelitian ini
berupadokumentasi data Dinas lingkungan hidup Kabupaten Pemalang
tentang profil lembaga dan jumlah sumber daya manusia/pegawai.
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif
yang diangkakan (Sugiyono, 2010). Data kuantitatif dalam penelitian
Dinas lingkungan hidup Kabupaten Pemalang yang dijadikan sampel
penelitian.
2. Sumber Data
Terdapat beberapa sumber data yang digunakan penulis dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut:
a. Data primer
Data primer merupakan sumber data yang langsung memberikan
datakepada pengumpul data (Sugiyono, 2011). Data primer yaitu data
yang berasal langsung dari sumber data yang dikumpulkan secara khusus
58
59
dan berhubungan dengan permasalahan yang diteliti atau data yang
diperoleh dengan survey lapangan yang menggunakan semua metode
pengumpulan data original (Kuncoro dalam Afrizal, 2016). Data primer
pada penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung dari wawancara
dan penyebaran daftar pernyataan atau kuesioner kepada pegawai Dinas
lingkungan hidup Kabupaten Pemalang yang menjadi objek penelitian
ini.
b. Data sekunder
Menurut (Kuncoro dalam Afrizal, 2016) data sekunder adalah data yang
diperoleh dari studi pustaka data internal perusahaan menyangkut
gambaran umum perusahaan secara singkat dan sumber-sumber lain yang
mendukung penelitian ini. Data ini diperoleh dari data yang digunakan
sebagai bahan acuan penelitian, antara lain : jurnal, skripsi terdahulu,
internet dan sebagainya. Data sekunder diperoleh dari Dinas Pertanian
Kabupaten Pemalang. Misalkan profil dan jumlah pegawai Dinas
lingkungan hidup Kabupaten Pemalang.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan untuk dapat memberikan
informasi yang sesuai dengan yang diperlukan agar dapat menjelaskan masalah
dan memecahkan masalah yang diteliti, adalah sebagai berikut:
1. Metode Kuesioner/Angket
Kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis
60
kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2009). Menurut Arikunto
(2006), kuesioner atau angket adalah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan pribadinya
atau hal-hal yang ia ketahui. Jadi kuesioner adalah suatu metode untuk
mengumpulkan informasi dengan cara menyebarkan pernyataan untuk diisi
yang ditujukan kepada responden. Sedangkan angket data yang digunakan
dalam penelitian ini berupa angket tentang self efficacy, empowerment,
locus of control, kinerja dan komitmen organisasi dimana jawaban yang
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kuesioner dalam penelitian ini
diberikan kepada pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang yang
menjadi sampel penelitian ini.
2. Metode wawancara
Wawancara dalam penelitian ini merupakan metode pengumpulan data
dengan cara bertanya langsung (berkomunikasi langsung) dengan pihak
yang dapat membantu memberikan data yang bersangkutan dengan materi
penelitian. Jadi, dalam wawancara penelitian ini terdapat interaksi antara
pewawancara dengan responden dan pihak objek penelitian yang
bersangkutan yaitu pegawai Dinas lingkungan hidup Kabupaten Pemalang.
C. Populasi dan Teknik Pemilihan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah lingkup yang akan dijadikan objek penelitian. Dalam suatu
penelitian, populasi harus ditentukan terlebih dahulu sebagai dasar dalam
penentuan sampel. Populasi merupakan objek penelitian dengan daftar
61
persoalan yang sudah jelas. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian
(Arikunto dalam Fitria, 2016). Populasi adalah wilayah yang terdiri atas
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah
pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang tahun
2022 yang berjumlah 384 pegawai terdiri dari 143 PNS dan 241 Pegawai
Honorer.
2. Teknik Pemilihan Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
populasi tersebut (Sugiyono, 2013). Teknik pengambilan sampel yang
dipakai dalam penelitian ini adalah purposive sampling Purposive sampling
merupakan teknik pengambilan sampel dimana peneliti mengandalkan
penilaiannya sendiri ketika memilih anggota populasi untuk berpartisipasi
dalam penelitian. Secara umum purposive sampling adalah metode
pengambilan sampel non-probabilitas dan ini terjadi ketika "elemen yang
dipilih untuk sampel dipilih berdasarkan penilaian teliti", artinya peneliti
percaya bahwa dapat memperoleh sampel yang representatif dengan
menggunakan penilaian yang tepat yang akan menghemat waktu dan uang.
Peneliti mengambil jumlah sampel PNS di Dinas lingkungan hidup
Pemalang yang berjumlah 143 pegawai. Kriteria yang di maksud adalah :
a. Pegawai yang Berstatus PNS
b. Masa kerja lebih dari 3 tahun
62
D. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel merupakan cakupan atau indikator dari
tiap-tiap variabel Variabel dapat diartikan sebagai objek penelitian, atau apa
yang menjadi perhatian suatu penelitian (Suharsimi, 2006) Definisi operasional
variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel Terikat (Dependent)
Variabel Dependent menurut (Sugiyono, 2010) adalah variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen
(bebas). Pada penelitian ini yang menjadi Variabel Dependent (Y) adalah
Kinerja Pegawai.
Menurut Mangkunegara (2015), Kinerja adalah hasil kerja yang
dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi,
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka
upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak
melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.
Indikator kinerja karyawan menurut Bernaddin dan Russel dalam
Priansa (2017) yaitu:
a. Kualitas pekerjaan
b. Kuantitas pekerjaan
c. Ketepatan Waktu
63
2. Variabel Penengah (Mediasi/Intervening)
Menurut (Sugiyono, 2010) "Variabel Intervening merupakan variabel
penyelantara yang terletak diantara variabel independen dan dependent,
sehingga variabel independent tidak langsung mempengaruhi berubahnya
atau timbulnya variabel dependen". Pada penelitian ini yang menjadi
Variabel Intervening
Motivasi kerja (Z)
Menurut Maruli (2020) Mengatakan bahwa motivasi Kerja adalah segala
sesuatu yang timbul dari hasrat seseorang, dengan menimbulkan gairah
serta keinginan dari dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi dan
mengarahkan serta memelihara perilaku untuk mencapai tujuan ataupun
keinginan yang sesuai dengan lingkup kerja.. indikator Motivasi Kerja
menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2009)
dalam Bayu Fadillah, et all (2013) sebagai berikut :
a) Tanggung Jawab
Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi terhadap pekerjaannya
b) Prestasi Kerja
Melakukan sesuatu/pekerjaan dengan sebaik-baiknya
c) Peluang Untuk Maju
Keinginan mendapatkan upah yang adil sesuai dengan pekerjaan
64
d) Pengakuan Atas Kinerja
Keinginan mendapatkan upah lebih tinggi dari biasanya.
e) Pekerjaan yang menantang
Keinginan untuk belajar menguasai pekerjaanya di bidangnya
3. Variabel Bebas (Independent)
Variabel bebas merupakan yang mempengaruhi varibel
terikatbaik itu secara positif atau negatif, serta sifatnya dapat berdiri
sendiri(Sugiyono, 2009). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
a. Self efficacy (X1)
Menurut Bandura efikasi diri adalah evaluasi seseorang terhadap
kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas,
mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan (Baron & Byrne, 2004).
Bandura juga menambahkan bahwa Efikasi diri merupakan hasil dari
proses kognitif yang terjadi pada diri individu.. ndikator self efficacy
mengacu pada Dimensi self efficacy yaitu dimensi level, dimensi
generality dan dimensi strenght Widiyanto (2012) Merumuskan
beberapa indikator self efficacy yaitu:
1. Handal mampu melakukan tugas tertentu. Individu percaya bahwa
mereka dapat melakukan tugas tertentu, dimana individu sendiri
yang menentukan tugas (tujuan) mana yang harus dilakukan..
2 Mampu dengan percaya diri memotivasi dirinya sendiri untuk
mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
65
Orang dapat meningkatkan motivasi dalam dirinya untuk memilih
dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan
tugas
3. Percayalah bahwa Anda dapat bekerja keras, gigih dan bekerja.
Seseorang bekerja keras untuk menyelesaikan tugas yang diberikan
kepadanya, menggunakan semua kekuatan yang dimilikinya.
4. Yakin bahwa diri mampu bertahan menghadapi hambatan dan
kesulitan. Individu mampu bertahan saat menghadapi kesulitan dan
hambatan yang muncul serta mampu bangkit dari kegagalan.
5. Yakin dapat menyelesaikan tugas yang memiliki range yang luas
ataupun sempit (spesifik). Individu yakin bahwa dalam setiap tugas
apapun dapat ia selesaikan meskipun itu luas ataupun spesifik.
b. Work Engagement (X2)
Work engagement merupakan sebuah konsep pemikiran dimana
karyawan yang memilki rasa engagement dalam kata lain yakni merasa
terikat terhadap pekerjaan mereka sehingga ketika mereka bekerja
mereka akan lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaan mereka.
Menurut Schaufeli, Bakker, dan Salanova (2006) membagi indikator
employee engagement ke dalam 3 dimensi, yaitu:
1. Vigor
2. Dedication
3. Absorption
66
c. Kepemimpinan transaksional (X3)
Menurut Odumeru & Ifeanyi (2013) gaya kepemimpinan
transaksional adalah gaya kepemimpinan dimana seorang pemimpin
memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin
dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran.. Faktor yang
mempengaruhi gaya kepemimpinan transaksional Bass 1997), indikator-
indikatornya yaitu:
a. Imbalan Kontingen (Contingent Reward) adalah bawahan
memperoleh pengarahan dari pemimpin mengenai prosedur
pelaksanaan tugas dan target-target yang harus dicapai.
b. Manajemen eksepsi aktif (active management by exception)
adalah tingkah laku pemimpin yang selalu melakukan
pengawasan secara direktif terhadap bawahannya.
c. Manajemen eksepsi pasif (passive management by exception)
adalah pemimpin transaksional yang akan memberikan
peringatan.
E. Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
Analisis data merupakan proses penyederhanaan data kedalam bentuk
yang lebih mudah dibaca, dipahami dan di interprestasikan. Data yang di
analisis merupakan data hasil penelitian lapangan dan studi kepustakan.
67
Analisis data yang dilakukan dengan bantuan dari program SPSS (Statistical
Package for the Social Sciences) sebagai alat untuk meregresikan model yang
telah dirumuskan (Sugiyono, 2009).
1. Analisis Data Kualitatif
Analisa kualitatif merupakan penganalisaan data dengan
menggunakan data yang berwujud keterangan dan tidak dapat di ukur
dengan angka untuk menjelaskan perhitungan secara kualitatif.
2. Analisis Data Kuantitatif
Analisa ini digunakan untuk mengetahui pengaruh antara Self efficacy, work
Engagement, dan kepemimpinan transaksional Terhadap Kinerja dengan
motivasi kerja sebagai Variabel Intervening pada Dinas DLHKabupaten
Pemalang. Skala yang dipakai dalam penyusunan kuesioneradalah skala
ordinal (likert). Menurut (Sugiyono, 2009) yang dimaksuddengan skala
likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap,pendapat, dan
persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomenasosial. Dalam
penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik
oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dalampenelitian ini responden diminta menyatakan dalam 2 kategori pilihan
: Ya atau Tidak.
3. Teknik Analis Data
a. Uji Instrumen
1) Uji Validitas (Kesahihan)
68
Suatu alat yang digunakan untuk mengukur sah atau valid
tidaknya suatu kuesioner. Kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan
kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh
kuesioner. Uji Validitas dapat diketahui dengan melihat r hitung,
apabila r hitung > r tabel= valid, apabila r hitung < r tabel tidak valid
(D. Ghozali, 2011). Teknik yang dipakai untuk menguji validitas
kuesioner adalah teknik korelasi product moment sebagai berikut:
Keterangan
rxy = Koefisien korelasi
N = Jumlah subyek/responden
X = Skor
Y = Skor Jumlah
Dengan menggunakan level of significant 0,05 bila :
rhitung berarti item tersebut valid
rhitung berarti item tersebut tidak valid
2) Uji Reabilitas (Kehandalan)
Uji Reliabilitas dilakukan untuk mengukur suatu kuesioner
yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk (D Chevali,
2011) Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban
seorang terhadap pernyataan adalah konsisten Kriteria dikatakan
reliable apabila nilai r alpha 2 nilai standarisasi(cronbach
69
alphajsebesar 0,6 Pada penelitian ini untuk mencari reliabilitas
instrumen menggunakan
rumus Cronbach Alpha, sebagai berikut :
Keterangan
r11 = Realibilitas Instrumen
k = Banyaknya butir pertanyaan atau soal
= Jumlah varians butir
= Varians total
Kriteria Pengujian :
Cronbach Alpha> 0,60 berarti item tersebut reliabel.
Cronbach Alpha< 0,60 berarti item tersebut tidak reliabel.
b. Uji Asumsi Klasik
Agar mendapat regresi yang baik harus memenuhi asumsi yang
disyaratkan, yaitu uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas,
autokorelasi dan linieritas (Priyatno, 2009):
1) Uji Normalitas
Uji normalitas berguna pada tahap awal dalam metode
pemilihananalisis data. Pengujian ini diperlukan karena untuk
melakukan ujimengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti
70
distribusi [Link] satu cara termudah untuk melihat normalitas
residual adalah:
a) Analisis grafik
Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah
dengan melihat grafik probability plot yang
membandingkandistribusi kumulatif dari distribusi normal.
Distribusi normal akanmembentuk satu garis lurus diagonal dan
ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika
distribusi data residualnormal, maka garis yang menggambarkan
data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Dasar
pengambilan keputusan:
- Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah
garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola
distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi
normalitas.
- Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti
arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan
pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi
asumsi normalitas.
b) Uji Kolmogrov-Smirnov (KS)
Normalitas data dapat diketahui dengan membandingkan antara p-
value yang diperoleh dengan taraf signifikansinya yang ditentukan
dalam penelitian ini, yaitu 5%, sehingga jika p-value lebih besar
71
dari 0,05, maka simpulannya adalah data berdistribusi normal,
artinya sebaran distribusi data memenuhi asumsi klasik
(Priyatno,2009).
2) Uji Multikolonieritas
Multikolonieritas adalah adanya suatu hubungan linier yang sempurna
antara beberapa atau semua variabel independen. Uji multikolonieritas
bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya
korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen
(Priyatno, 2009). Jika variabel independen saling berkorelasi, maka
variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah
variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel
independen sama dengan nol. Cara mendeteksi multikolonieritas dapat
dilihat dari nilai VIF (variance inflation faction) yang mempunyai
nilai VIF dibawah angka 10 dan toleransi dibawah angka 1 (Priyatno,
2009).
3) Uji Heteroskedastisitas
Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu pengamatan
kepengamatan lain. Jika variabel residual tersebut tetap, maka disebut
homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas, Model
regresi yang baik adalah homokedastisitas (Priyatno, 2009) Ada
tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik,
72
Scatterplot dasar yang digunakan untuk menentukan
heteroskedastisitas antara lain:
- Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola
tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian
menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi
heteroskedastisitas.
- Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik yang menyebar di atas
dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Ada tidaknya heterokedastisitas juga dapat dilakukan dengan
menggunakan glejser test dengan melihat signifikansi output yang
lebih besar. Jika nilai probabilitas (nilai sig) lebih besar dari 0,05
maka dapat disimpulkan tidak ada heterokedastisitas dan
sebaliknya (Priyatno, 2009).
4) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t-1
(sebelumnya). Dimana model regresi yang baik adalah yang regresi
yang bebas dari autokorelasi. Untuk menguji ada tidaknya
autokorelasi dapat dilihat nilai Durbin watson (D-W) dengan
ketentuan sebagai berikut(Priyatno, 2009):
73
- Bila nilai DW terletak antara batas atas atau upper bound (du) dan
(4- du), maka koefisien autokorelasi sama dengan nol, berarti tidak
ada autokorelasi.
- Bila nilai DW lebih rendah dari pada batas bawah atau lower bound
(dl), maka koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol, berarti
ada autokorelasi positif.
- Bila nilai DW lebih besar daripada (4 dl), maka koefisien
autokorelasi lebih kecil daripada nol, berarti ada autokorelasi
negatif.
- Bila nilai DW terletak di antara batas atas (du) dan batas bawah (dl)
ada DW terletak antara (4- du) dan (4- dl), maka hasilnya tidak
dapat disimpulkan.
5) Uji Linearitas (Test for Linearity)
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel
mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Uji ini
biasanya digunakan sebagai prasyarat dalam analisis korelasi atau
regresi linear (Priyatno, 2009). Dasar pengambilan keputusan dalam
uji linieritas adalah sebagai berikut :
- Jika nilai signifikansi (linearity < 0.05, maka hubungan antara X
dengan Y adalah linier.
- Jika nilai signifikansi (linearity) > 0.05, maka hubungan antara X
dengan Y adalah tidak linier.
c. Analisa Regresi Linier Berganda
74
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yaitu Self
efficacy (X₁), work engagement(X₂), kepemimpinan transaksional (X3),
dan motivasi kerja (Z) terhadap kinerja pegawai(Y) adalah sebagai
berikut:
Y = a+b₁X₁+b₂X2+b3X3+ b5Z+e
Keterangan :
Y = Variabel dependent (kinerja pegawai)
a = Konstanta
b1 = Koefisien regresi Self efficacy
b2 = Koefisien regresi work engagement
b3 = Koefisien regresi kepemimpinan transaksional
b5 = Koefisien regresi kepuasan kerja
X1 = Variabel Self efficacy
X2 = Variabel work engagement
X3 = variabel kepemimpinan transaksional
Z = Variabel motivasi kerja
e = Kesalahan variabel pengganggu/error
d. Pengujian Hipotesis
1) Uji Signifikan Parsial (Uji t)
Uji t digunakan untuk mengetahui tingkat signifikan variabel bebas yaitu
yaitu self efficacy, work engagement, kepemimpinan transaksional dan
variabel intervening terhadap variabel terikat yaitu motivasi kerja secara
parsial. Kriteria yang digunakan untuk melakukan uji t yaitu jika
75
probabilitas signifikan dibawah 0,05 dan nilai t hitung lebih dari t tabel
maka variabel bebas secara individual berpengaruh signifikan diatas 0,05
maka variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
terikat (Ghozali, 2006). Rumus t hitung pada analisis regresi adalah:
Keterangan:
T = Signifikan
bi = Koefisien regresi variabel bebas
sbi = Standar error variabel bebas
Hipotesis yang digunakan dalam pengujian ini adalah:
- H0:β0 = 0, variabel (self efficacy, work engagement, kepemimpinan
transaksional dan kinerja karyawan) tidak mempunyai pengaruh
signifikan terhadap variabel terikat (motivasi).
- H1 :β1 β0 β1 ≠ 0, variabel bebas (self efficacy, work engagement,
kepemimpinan transaksional dan kinerja karyawan) mempunyai
pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (motivasi).
Dasar pengambilan keputusan :
- Dengan membandingkan nilai 1 hitung dengan t tabel dimana tingkat
sinifikansi 95% (a - 5%) :
Apabila thitung< ttabel, maka Ho diterima atau H, ditolak.
Apabila thitung> ttabel, maka Ho ditolak atau H, diterima.
76
- Dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi:
Apabila probabilitas signifikansi 2 0,05, maka Hoditerima atau II,
ditolak.
Apabila probabilitas signifikansi< 0,05, maka Hoditolak atau H diterima.
2) Analisis Jalur (Path Analysis)
Metode ini merupakan metode analisis perluasan dari analisis regresi
berganda yang digunakan untuk menguji penagruh variabel intervening
(Ghozali, 2006). Sedangkan menurut (Kuncoro & dan Ridwan, 2012)
analisis jalur (path analysis) adalah teknik analisi yang digunakan dalam
menguji besarnya sumbangan (konstribusi) langsung dan tidak langsung
yang diwujudkan oleh koefisien jalur pada setiap diagram jalur dari
hubungan kasual antara variabel X1, X2, dan X3 terhadap Y dan Z sebagai
variabel intervening.
Persamaan regresi :
Z = a+b1X1+b2X2+b3X3+e1 (1)
Keterangan :
A = Konstansa
X1 = Variabel self efficacy
X2 = Variabel work engagement
X3 = Variabel kepemimpinan transaksional
77
Z = Variabel motivasi kerja
Y = Variabel kinerja karyawan
e1, e2 = Variabel atau faktor residual
Model diatas menunjukan bahwa variabel dependen Y
dipengaruhi oleh tiga variabel independen X₁, X₂ dan X3 (self
efficacy ,work engagement, dan kepemimpinan transaksional).
Sementara itu variabel independen Z (motivasi kerja) terebut akan
mempengaruhi variabel dependen (kinerja pegawai) yang kedua yaitu Y
sebagaimana diketahui bahwa Z sebagai variabel intervening. Berikut
gambar diagram jalur:
Gambar 2
Diagram Jalur
Self Efficacy
(X1) H1
H4
Work Engagement Motivasi kerja Kinerja karyawan
(X2) (Z) (Y)
H5 H7
Kpemimpinan transaksional H6
(X3) H3
3
H2
78
3) Uji Sobel
Sobel test digunakan untuk menguji apakah pengaruh variabel
interveningyang dihasilkan pada analisis jalur signifikan atau tidak.
Sobel test menghendaki asumsi jumlah sampel besar dan nilai
koefisien mediasi berdistribusi normal (Ghozali, 2011). Uji sobel
merupakan uji untuk mengetahui apakah hubungan yang
melaluisebuah variabel mediasi secara signifikan mampu sebagai
mediator dalam hubungan
tersebut. Uji sobel ini dilakukan dengan cara menguji kekuatan
pengaruh tidak langsung variabel dependen (X) terhadap variabel
independen (Y) melalui variabel intervening(Z).
Pengaruh tidak langsung X ke Y melalui Z dihitung
dengancara mengalikan jalur X-Z (a) dengan jalur Z→Y (b) atau ab.
Jadi koefisien ab- (c- c'), dimana c adalah pengaruh X terhadap Y
tanpamengontrol Z, sedangkan c' adalah koefisien pengaruh X
terhadap Y setelah mengontrol Z. Standar error koefisien a dan b
ditulis dengan Sa dan Sb, besar nya standar error tidak langsung
(indirect effect). Sab dihitung dengan rumus berikut ini :
Keterangan :
Sa = Standar error koefisien a
79
Sb = Standar error koefisien b
B = Koefisien fariabel mediasi
Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung, maka kita perlu
menghitung nilai t dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut :
thitung = ab
sab
Nilai thitung ini dibandingkan dengan nilai ttabel dan jika nilai thitung
lebih besar dari nilai t tabel maka dapat disimpulkan bahwa terjadi
pengaruh mediasi.
80
Lampiran
81
Lampiran 1
INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS
ITB ADIAS
Program Studi: 1. Manajemen Perusahaan (D-III) 3. Akuntansi (S-1)
2. Manajemen (S-1) 4. Sistem Informasi (S-1)
Jl. Sindoro 39 Mulyoharjo Tlp. (0284) 322881, HP 0857 1388 2666Pemalang Jateng 52313
KUESIONER
ANALISIS PENGARUH SELF EFFICACY, WORK ENGAGEMENT, DAN KEPEMIMPINAN
TRANSAKSIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN MELALUI MOTIVASI KERJA
SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
(Studi Kasus di DLH kabupaten pemalang)
Dengan hormat,
Dalam rangka penyusunan Skripsi untuk menyelesaikan studi jenjang Strata 1
(S1) sesuai dengan judul dan tema tersebut diatas, maka memberitahukan bahwa
saya akan menyelenggarakan survey penelitian dengan Yth. Pegawai di DLH kab
pemalang.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka saya mohon bantuan
Bapak/Ibu/Saudara untuk bersedia mengisi angket sesuai dengan keadaan yang
dialami dan dirasakan. Saya menjamin penuh kerahasiaan informasi yang Bapak /
Saudara berikan.
Kemudian untuk kerjasama, bantuan dan kesediaannya meluangkan waktu
mengisi angket ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Mudah-mudahan bantuan
yang Bapak/Ibu/Saudara berikan dapat mendukung penyelesaian penyusunan Skripsi
ini.
Peneliti,
JUMMAEDI
NIM [Link]
82
I. IDENTITAS RESPONDEN
Petujuk : Berilah tanda (X) pada jawaban yang anda maksud.
Nama :.............................................................................
1. Jenis Kelamin
a. Laki – laki b. Perempuan
2. Umur
a. 20 tahun s/d 30 tahun c. 41 thun s/d 50 tahun
b. 31 tahun s/d 40 tahun d. > 50 Tahun
3. Pendidikan Terakhir
a. SMA / Sederajat c. S1
b. D III
4. Pendapatan perbulan
a. < Rp.2.000.000,- c. > Rp. 4.000.000,-
b. Rp. 2.000.000,- -Rp. 4.000.000,-
5. Status Martial
a. Menikah b. Belum menikah
II. DAFTAR PERTANYAAN
Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap paling sesuai dari
alternative jawaban yang tersedia.
Kriteria Jawaban :
Sangat Tidak Setuju 1
Tidak Setuju 2
Netral 3
Setuju 4
Sangat Setuju 5
83
SELF EFFICACY (X1)
NO Pertanyaan STS TS N S SS
Pada saat strees dan beban kerja
1 meningkat, saya tetap yakin dapat
menyelesaikan tugas saya dengan baik
Tingkat keyakinan saya atas pilihan
2 perilaku saya dalam melaksanakan
tugas tinggi
Tingkat keyakinan saya atas
kemampuan mengeluarkan usaha
3
semaksimal mungkin dalam
melaksanakan tugas tinggi
Tingkat keyakinan saya atas
kemampuan bertahan ketika
4
menghadapi rintangan saat
melaksanakan tugas tinggi
Tingkat keyakinan saya untuk dapat
5 mengatasi rintangan dalam
melaksanakan tinggi
WORK ENGAGEMENT (X2)
NO Pertanyaan STS TS N S SS
Anda memilii energy yang tinggi
1
(semangat dalam bekerja)
Anda memiliki ketekunan didalam
2 bekerja terhadap tugas yang anda
lakukan
Anda merasa nyaman terhadap
3
pekerjaan yang anda lakukan
84
KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL (X3)
NO Pertanyaan STS TS N S SS
Pimpinan memberikan arahan
1
mengenai prosedur pelaksanaan tugas
Pimpinan selalu mengoreksi setiap
2 kessalahan yang terjadi dalam proses
kerja yang saya lakukan
Pimpinan memberikan peringatan
3 ketika pekerjaan saya tidak sesuai
dengan target
KINERJA KARYAWAN (Y)
NO Pertanyaan STS TS N S SS
Saya mempu bekerja sesuai dengan
1
standar kerja yang tekah ditentukan
Saya mampu mencapai target kerja yang
2
telah ditentukan
Saya menyelesaikan pekerjaan tepat
3
waktu yang telah ditentukan
MOTIVASI KERJA (Z)
NO Pertanyaan STS TS N S SS
Saya mendapatkan kesempatan ikut
1 berpartisipasi dalam menentukan tujuan
yang ingin dicapai oleh atasan
Saya senantiasa berupaya menunjukan
2 kinerja terbaik agar atasan saya
memberikan posisi yang lebih tinggi
Saya bekerja dalam suasana kerja yang
3
kondusif
85
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, P. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia (Teori, Konsep dan Indikator).
Riau: Zanafa Publishing.
Apriwandi. (2011). Komitmen, Self-Efficacy, dan Motivasi: Pengaruh Umpan Balik
dan Insentif Pada Karyawan Non Manajemen. Jurnal Aset, 1-8.
Ardi, Venna Trilolita. (2017). Pengaruh Self Efficacy Terhadap Employee
Engagement dan Kinerja Karyawan (Study pada Karyawan PT
Telekomunikasi Indonesia Regional V Surabaya). Jurnal Administrasi dan
Bisnis, 52 (1), 163-172.
Bakker, Arnold B., Leiter, Michael P. (2010). Work Engagement: A Handbook of
Essential Theory and Research. New York: Psychology Press.
Fauzi, Selviani. (2015). Analisis Pengaruh Work Engagement, Organizational
Justice, Organizational Commitment dan Burnout Terhadap Kinerja
Karyawan Auditor Internal. Skripsi. Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Firdaus, R. Rafi. (2019). Pengaruh Stress Kerja dan Work Engagement Terhadap
Kinerja Karyawan dengan Komitmrn Organisasi sebagai Variabel
Intervening. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam
Indonesia.
.
Hasibuan, S.P. Malayu. (2005). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi.
Jakarta: Bumi Aksara.
Hasibuan, S.P. Malayu. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi
Jakarta: Bumi Askara.
Hidayat, Herman dan Setiawan, Ivan. (2016). Pengaruh Self Esteem dan Self
Efficacy Terhadap Kinerja Karyawan (Study pada Karyawan PT Tomo
Food Industri, Sumedang). Jurnal Sains Manajemen dan Akuntansi, 8 (2),
1-10.
Insan, A. Nur. (2017). Pengaruh Kepemimpinan Transaksional, Work Engagement
Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Motivasi Intrinsik (Studi Pada
Perusahaan Telekomunikasi di Kota Makassar Provinsi Sulawesi. Journal
of Business Studies. 2 (1), 1-18.
Konermann, J. (2011). Teachers’ Work Engagement. Dutch: Wohrmann Print
Service.
86
Kusnoto dan Sitorus. T. (2016). Kualitas Kehidupan Kerja, Self Efficacy, dan
Kinerja Karyawan: Efek Mediasi Motivasi Kerja: Studi pada PT Bank BRI
Cabang BSD. Jurnal Manajemen. 13 (2), 198-224.
Manalu, A. Rohana., Thamrin, R., Hasan, M., dan Syahputra, Deni. (2021).
Pengaruh Work Engagement Terhadap Kinerja Pegawai BPJS
Ketenagakerjaan. Journal Economics and Management, 1 (2), 42-
[Link], A. A. Anwar Prabu. (2016). Manajemen Sumber Daya
Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mathis, R.L. & J.H. Jackson. (2006). Human Resource Management: Manajemen
Sumber Daya Manusia. Penerjemah oleh Dian Angelia. Jakarta: Salemba
Empat.
Miftahun dan Sugiyanto. (2010). Pengaruh Dukungan Social Dan Kepemimpinan
Transformasional Terhadap Komitmen Organisasi Dengan Mediator
Motivasi Kerja. Jurnal Psikologi, 37 (1), 94–109.
Mujasih. E., & Ratnaningsih, I. Z. (2012). Meningkatkan Work Engagement
Melalui Gaya Kepemimpinan Transforasional Dan Budaya Organisasi.
Jurnal Psikologi. 120.
Noviawati, Dian Rizki. (2016). Pengaruh Self Efficacy Terhadap Kinerja Karyawan
Dengan Motivasi Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada Karyawan
Divisi Finance Dan Divisi Human Resource PT Coca-Cola Distribution
Indonesia Surabaya). Jurnal Ilmu Manajemen, 4 (3), 1-12.
Pratiwi, M. (2015). Hubungan Antara Self-Efficacy dengan Perilaku Menyontek
pada Siswa SMP Ahmad Yani Turen Malang. Skripsi. Malang: Fakultas
Psikologi UIN Malik Ibrahim.
Prawirosentono, Suyadi. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia, Kebijakan
Kinerja Karyawan, Kiat Membangun Organisasi Kompetitif Era
Perdagangan Bebas Dunia. Yogyakarta: BPFE.
Putri, Ekawati N., Nuringwahyu, Sri., dan Hardati, Ratna N. (2019). Peranan
Motivasi dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Karyawan. Jurnal Ilmu
Administrasi Niaga/Bisnis, 8 (1), 26-32.
Qodariah. (2019). Analisis Deskripsi Pengaruh Work Engagement Terhadap
Kinerja Karyawan: Ability (A), Effort (E), Support (S), pada PT Seveyor
Indonesia. Jurnal Manjemen dan Bisnis, 2 (1), 53-64.
87
Ridwan, Engkos dan Kuncoro, Achmad. (2013). Cara Menggunakan dan
memaknai Path Analysis. Bandung: Alfabeta.
Robbins, Stephen P. & Coulter, Mary. 2010. Manajemen Edisi Kesepuluh.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Schaufeli, W. B., Bakker, A. B., & Salanova, M. (2006). The Measurement of
Work Engagement with a Short Questionnaire: A Cross- National
Study. Journal of Educational and Psychological Measurement, 66 (1),
701-716.
Setiawan, K. Agung., Sujana, I Wayan., & Novarini N. N. Ari. (2020). Pengaruh
Self Efficacy dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan pada PT Adi
Armada Tbk Bandung. Journal of Management and Business, 1 (2), 31-
40.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sumakto, W. A. dan Sami’an. (2013). Hubungan Keterikatan Kerja dengan
Kinerja pada Karyawan Hotel Surabaya Plaza. Jurnal Psikologi Industri
dan Organisasi, 2, 1-6.
Supriyanto, A. Sani dan Masyhuri Machfudz. (2010). Metodologi Riset
Manajemen Sumber daya Manusia. Malang: UIN Maliki Press.
Supriyanto, A. Sani dan Vivin Maharani. (2013). Metode Penelitian Sumber
Daya Manusia Teori, Kuisioner, dan Analisis Data. Malang: UIN-
Malang Press.
Swarjana, I. K. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Andi
Offset. Wibowo. (2010). Manajemen Kinerja. Jakarta: Rajawali Press.
Widayat, Amirullah. (2002). Riset Bisnis, Edisi Pertama. Surabaya: CV. Cahaya
Press.
Widodo, S. E. (2015). Manajemen Pengembangan Sumber Daya
[Link]: Pusaka Pelajar.
Yunita, Mutiara Mirah. (2019). Gambaran Motivasi Kerja dan Work
Engagement Ditinjau dari Urutan Kelahiran Karyawan. Jurnal Ilmiah
Psikologi Mind Set, 10 (1), 36-44