PENGELOLAAN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT (RSUP) DR. SARDJITO YOGYAKARTA
Tinjauan Terhadap Sistem dan Sub Sistem Rekam Medis
LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN
SEMESTER I TAHUN AKADEMIK 2022/2023
Disusun Oleh :
ALMAZANI SETYA MADITA 220205224
ELENA VILLANOVA ORYZA WIDODO 220205235
LUTVIA MAYASARI 220205246
RAIDIANA WULANDARI 220205256
PRODI D3 REKAM MEDIK DAN INFORMASI KESEHATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DUTA BANGSA
SURAKARTA
2023
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat,
hidayah, serta karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan
kunjungan lapangan yang berjudul “Pengelolaan Rekam Medis Dan Informasi
Kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta Tinjauan
Terhadap Sistem Dan Sub Sistem Rekam Medis” dengan baik dan tepat pada
waktunya.
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas serta sebagai suatu syarat kelulusan
dalam menyelesaikan program studi D3 Rekam Medik dan Informasi Kesehatan
Universitas Duta Bangsa Surakarta. Dalam pembuatan laporan ini diharapkan dapat
menambah wawasan tentang pengelolaan rekam medis di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta terhadap mahasiswa sehingga mampu dalam mengaplikasikan ilmu
rekam medis yang diperoleh selama pembelajaran, serta dapat mempersiapkan
mahasiswa pada praktik lapangan semester berikutnya.
Dalam proses penyusunan laporan ini, kami mendapatkan banyak dukungan serta
bimbingan dari berbagai pihak sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik
dan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih
kepada:
1. dr. Eniarti, [Link]., [Link]., M.M.R selaku Direktur RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
2. Dr. H. Singgih Purnomo, M.M., Selaku Rektor Universitas Duta Bangsa
Surakarta.
3. Warsi Maryati, S.K.M., MPH selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Duta Bangsa Surakarta.
iii
4. Linda Widyaningrum, [Link]., MPH selaku Ketua Prodi D3 RMIK Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakarta
5. Sauha Lulumanin, [Link] selaku dosen pembimbing laporan yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan kepada kami dalam penyusunan laporan.
6. Seluruh staff dan karyawan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito
Yogyakarta yang telah memberikan izin dan membantu selama kunjungan
lapangan.
7. Seluruh Staff D3 RMIK Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa dan
dosen pembibing kunjungan lapangan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.
Sardjito Yogyakarta.
8. Orang tua yang selalu memberikan dukungan dan juga doa.
Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari bahwa kami masih memiliki
banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat kami harapkan untuk bahan evaluasi di kemudian hari.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Surakarta, 23 Februari 2023
Penulis
iv
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN......................................Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................v
DAFTAR TABEL.....................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR...............................................................................................viii
DAFTAR LAMPIRAN..............................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................1
A. LATAR BELAKANG...................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH...............................................................................2
C. TUJUAN........................................................................................................3
D. MANFAAT....................................................................................................4
E. RUANG LINGKUP.......................................................................................4
BAB II LANDASAN TEORI.....................................................................................6
A. SEJARAH REKAM MEDIS.........................................................................6
B. REKAM MEDIS............................................................................................8
C. SISTEM DAN SUB SISTEM REKAM MEDIS.........................................14
D. SISTEM PENERIMAAN PASIEN.............................................................24
E. SISTEM PENGELOLAAN DATA REKAM MEDIS................................31
BAB III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN....................................35
A. GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT....................................................35
B. SISTEM REKAM MEDIS...........................................................................39
C. SISTEM PENERIMAAN PASIEN.............................................................43
v
D. SISTEM PENGELOLAAN DATA REKAM MEDIS................................48
BAB IV PENUTUP...................................................................................................55
A. KESIMPULAN............................................................................................55
B. SARAN........................................................................................................56
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................57
LAMPIRAN..............................................................................................................58
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 3. 1 Kode Warna Penjajaran.............................................................................41
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3. 1 Struktur Organisasi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta..............................37
Gambar 3. 2 Struktur Rekam Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta........................38
Gambar 3. 3 Aplikasi Klik Sardjito Aja.....................................................................45
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pendaftaran On Site.................................................................................58
Lampiran 2 Mesin APM (Anjungan Pendaftaran Mandiri)........................................58
Lampiran 3 Tempat Sidik Jari Pasien BPJS...............................................................59
Lampiran 4 Ruang Assembling..................................................................................59
Lampiran 5 Tempat Coding and Indexing..................................................................60
Lampiran 6 Tempat Analizing and Reporting............................................................60
Lampiran 7 Ruang Penggabungan Berkas Rekam Medis..........................................61
Lampiran 8 Loket Pelayanan Surat Keterangan Medis..............................................61
Lampiran 9 Ruang Filing............................................................................................62
ix
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Rumah sakit merupakan suatu sarana pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan kepada masyarakat, baik rawat jalan, rawat
inap, maupun gawat darurat yang diharapkan dapat memberikan pelayanan efektif
dan efisien kepada masyarakat. Dalam perwujudannya, diperlukan tata kerja yang
tertib, rapi, serta teliti dalam pendaftaran pasien maupun pengolahan data, maka
diperlukan suatu sistem yang akan menghasilkan informasi yang cepat, akurat,
dan tepat sesuai dengan kebutuhan pihak manajemen yaitu rekam medis.
Rekam medis sendiri menurut Permenkes No.24 tahun 2022 adalah dokumen
yang berisikan data identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Rekam medis merupakan
salah satu sub sistem rumah sakit berdasarkan peran dan kedudukan dalam sistem
pelayanan kesehatan untuk mencapai tujuan dalam hal peningkatan kualitas
pelayanan rumah sakit. Begitu pula dengan rekam medis sendiri yang memiliki
sistem dan sub sistem di dalamnya.
Sistem yang ada dalam rekam medis yaitu, sistem penamaan, sistem
penomoran yang terdiri dari UNS (Unit Numbering System), SNS (Serial
Numbering System), dan SUNS (Serial Unit Numbering System), sistem
penyimpanan yang terdiri dari sentralisasi dan desentralisasi, sistem penjajaran
1
2
yang terdiri dari SNF (Straight Numerical Filing), MDF (Middle Digit Filing),
dan TDF (Terminal Digit Filing), serta sistem penyusutan, dan pemusnahan.
Dalam mewujudkan pelayanan yang efektif dan efisien kepada masyarakat,
rumah sakit juga perlu memberikan bentuk pelayanan terhadap pasien. Terdapat
beberapa sistem penerimaan pasien untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang
efektif dan efisien, diantaranya adalah alur dan prosedur pendaftaran pasien rawat
jalan (TPPRJ), rawat inap (TPPRI), dan gawat darurat (TPPGD), dengan baik dan
benar.
Di dalam rekam medis, untuk mewujudkan rekam medis yang bermutu maka
terdapat suatu sistem pengelolaan data pasien yang meliputi alur dan prosedur
assembling dokumen rekam medis, verifikasi kelengkapan dokumen rekam
medis, coding dan indexing, analizing dan reporting, filing, pelayanan penelitian,
dan pelayanan surat keterangan medis.
Dalam observasi kunjungan lapangan dilakukan tinjauan terhadap sistem dan
sub sistem rekam medis apa saja yang diterapkan oleh Rumah Sakit Umum Pusat
(RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta serta pengelolaan rekam medis dan informasi
kesehatan yang diterapkan di dalamnya untuk mewujudkan terciptanya kualitas
pelayanan yang efektif dan efisien dalam rangka upaya peningkatan pelayanan
kesehatan.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sistem pengelolaan rekam medis dan informasi kesehatan yang
diterapkan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta ?
3
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengelolaan rekam medis dan informasi kesehatan di Rumah
Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta yang diterapkan melalui
tinjauan terhadap sistem dan sub sistem rekam medis.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui sejarah, visi, misi, dan struktur organisasi di Rumah Sakit
Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta.
b. Meninjau sistem dan sub sistem rekam medis apa saja yang diterapkan di
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta.
c. Mengetahui bagaimana sistem penerimaan pasien di Rumah Sakit Umum
Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta yang meliputi :
1) Alur dan prosedur pendaftaran pasien rawat jalan (TPPRJ)
2) Alur dan prosedur pendaftaran pasien rawat inap (TPPRI)
3) Alur dan prosedur pendaftaran pasien gawat darurat (TPPGD)
d. Mengetahui sistem pengelolaan data rekam medis di Rumah Sakit Umum
Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta yang meliputi :
4) Alur dan prosedur assembling dokumen rekam medis
5) Alur dan prosedur verifikasi kelengkapan dokumen rekam medis
6) Alur dan prosedur coding and indexing
7) Alur dan prosedur analizing and reporting
8) Alur dan prosedur filing
9) Alur dan prosedur penilitian
10) Alur dan prosedur surat keterangan medis
4
D. MANFAAT
1. Bagi pihak rumah sakit
Sebagai sebuah bahan telaah atau kajian untuk dipadankan dan dijadikan
bahan pertimbangan dalam melakukan evaluasi pengelolaan rekam medis dan
informasi kesehatan yang lebih baik kedepannya.
2. Bagi Institusi D3 Rekam Medik dan Informasi Kesehatan
a. Sebagai tambahan referensi dan perkembangan ilmu pengetahuan tentang
rekam medis untuk pendidikan di prodi D3 Rekam Medik dan Informasi
Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakartta.
Serta sebagai bahan evaluasi guna menambah wawasan dalam
memberikan materi pendidikan rekam medis.
b. Sebagai parameter dalam penilaian terhadap pemahaman mahasiswa
terhadap materi rekam medis yang telah diberikan.
3. Bagi Mahasiswa
Dapat menambah wawasan mahasiswa tentang penerapan rekam medis di
luar pembelajaran. Mahasiswa mendapat pengalaman melalui penelitian
dalam peninjauan sistem pengelolaan rekam medis yang di terapkan,
memberikan gambaran tentang bagaimana kerja sistem pengelolaan rekam
medis, serta mengasah softskil dan hardskil mahasiswa untuk diterapkan
dalam penelitian yang dilakukan terhadap tinjauan sistem dan sub sistem
rekam medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta.
E. RUANG LINGKUP
1. Lingkup Keilmuan : Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
5
2. Lingkup Materi : Pengelolaan rekam medis dan informasi kesehatan
di rumah sakit
3. Lingkup Lokasi : Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito
Yogyakarta, Jl. Kesehatan 1 Yogyakarta
4. Lingkup Objek : Pengelolaan rekam medis dan informasi kesehatan
ditinjau dari sistem dan sub sistem rekam medis di
RSUP [Link] Yogyakarta
5. Lingkup Waktu : Kamis, 23 Februari 2022
BAB II
LANDASAN TEORI
A. SEJARAH REKAM MEDIS
Pencatatan, perekaman, atau pendokumentasian pemberian layanan kesehatan
beserta hasil-hasilnya telah dilakukan sejak sekitar 25.000 SM, yang terbukti
melalui beerapa bentuk catatan yang dibuat oleh berbagai negara sesuai dengan
perkembangan zaman peradaban tersebut.
Dari sebuah penemuan para arkeolog di dinding gua batu Spanyol, terdapat
peninggalan purba berupa lukisan mengenai praktek pengobatan tentang amputasi
jari tangan pada zaman paleoliticum. Banyak juga suku kuno di masa lampau
yang melakukan praktik trephinasi atau brain surgery dengan cara melubangi
kening pasien yang sakit dengan peralatan bedah sehingga roh jahat bisa keluar
dari badan yang sakit. Lukisan berwarna yang indah dalam gua batu di Lascaux,
Perancis (15.000-10.000 SM) yang menampilkan lukisan hasil buruan seperti
bison, rusa, kuda dan hewan ternak lain juga memberikan penafsiran bahwa
bangsa Perancis Kuno diduga berperilaku kesehatan yang baik serta mahir
melukis dan berburu. Lukisan itu ditemukan secara kebetulan pada tahun 1940 di
lorong bawah tanah oleh beberapa anak laki-laki yang sedang mencari anjing
yang jatuh ke lubang bawah tanah dan akhirnya mengantarkan mereka ke lorong
gua tempat lukisan itu berada.
Para tabib Mesir Kuno (3.000-2.500 SM) juga melakukan pendokumentasian
praktik kesehatan bersamaan dengan lahir dan majunya ilmu kedokteran. Salah
6
7
satu tabib kuno yang sangat tersohor adalah Toth yang diagungkan sebagai dewa,
dan juga Imhotep yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan. Kedua tabib Mesir
Kuno itu banyak menulis buku tentang kesehatan dalam bentuk gulungan
papyrus, semacam kertas berserat yang berasal dari tumbuhan di tepi sungai Nil,
dengan tulisan berbentuk simbol hieroglyph.
China yang terkenal dengan pengetahuan leluhurnya dari ribuan tahun yang
lalu tentang pemanfaatan tumbuh-tumbuhan dan binatang untuk kesehatan, juga
mempunyai catatan praktik pengobatan tradisional (sinshe) yang direkam di daun
lontar atau kertas kulit kayu. Para sinshe juga mendokumentasika tanda sakit
pasien pada model tubuh manusia (dummy) yang terbuat dari tembaga atau
gading. Praktik pendokumentasian melalui dummy juga dilakukan oleh bangsa
Babylonia.
Ibnu Sina yang merupakan tabib modern Asia Timur pada masa kejayaan
Islam menulis banyak buku tentang ilmu kesehatan dari hasil pendokumentasian
layanan terhadap pasien-pasiennya.
Di Indonesia terdapat sekitar 250 manuskirp (naskah) yang kebanyakan
berasal dari Bali, yang berisi tentang ramuan pengobatan. Manuskrip dicatat di
dalam daun lontar yang berukuran 3,2 – 4,5 cm sepanjang 35 -50 cm, dengan
menggunakan bahasa Jawa Kuno (Kawi), bahasa Bali termasuk Sansekerta, dan
naskah tersebut tidak mencantumkan nama penulis (anonim). Selain daun lontar,
ada beerapa sarana perekam lannya seperti kayu, kulit kayu, kulit binatang, dan
bambu.
Dengan adanya peninggalan-peninggalan yang ditemukan tersebut
terbuktinya bahwa kegiatan rekam medis telah dilakukan sejak zaman lampau.
8
Meskipun para praktisi kesehatan dunia semenjak masa pra sejarah menjalankan
praktik MIK sesuai dengan tingkat peradabannya masing-masing, namun baru di
awal abad ke-20 praktik MIK mulai berkembang maju dan menjadi sangat
berubah di akhir abad ke-20 seiring dengan munculnya revolusi dunia Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK). Pesatnya perkembangan bidang kedokteran,
manajemen pelayanan kesehatan, hukum kesehatan, dan teknologi informasi dan
komunikasi mendorong pergeseran paradigma dalam profesi Manajemen
Informasi Kesehatan (MIK) (Nisak, 2019).
B. REKAM MEDIS
1. Pengertian Rekam Medis
Rekam medis menurut Permenkes No.24 tahun 2022 adalah dokumen
yang berisikan data identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Menurut Hatta (2013), rekam medis merupakan kumpulan fakta tentang
kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan sakit,
pengobatan saat ini, dan saat lampau yang ditulis oleh para praktisi kesehatan
dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.
2. Tujuan Rekam Medis
Tujuan dibuatnya rekam medis yang utama adalah untuk menunjang
tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan
kesehatan. Tanpa dukungan suatu sistem pengelolaan rekam medis yang baik
9
dan benar tertib administrasi di sarana pelayanan kesehatan tidak akan
berhasil sebagaimana yang diharapkan.
Dalam buku Hatta (2013) mengemukakan ada 2 tujuan rekam medis yang
terdiri dari tujuan primer dan tujuan sekunder.
a. Tujuan Primer.
1) Bagi pasien
a) Mencatat jenis pelayanan yang telah diterima
b) Bukti pelayanan
c) Memungkinkan tenaga kesehatan dalam menilai dan menangani
kondisi resiko
d) Mengetahui biaya pelayanan
2) Bagi pihak pemberi pelayanan kesehatan
a) Membantu kelanjutan pelayanan (sarana komunikasi)
b) Menggambarkan keadaan penyakit dan penyebab (sebagai
pendukung diagnosis kerja)
c) Menunjang pengambilan keputusan tentang diagnosis dan
pengobatan
d) Menilai dan mengelola risiko perorangan pasien
e) Menfasilitasi pelayanan sesuai dengan pedoman praktik klinis
f) Mendokumentasikan faktor risiko pasien
g) Menilai dan mencatat keinginan serta kepuasan pasien
h) Menghasilkan rencana pelayanan
i) Menetapkan saran pencegahan atau promosi kesehatan
j) Sarana pengingat para klinis
10
k) Menunjang pelayanan pasien
l) Mendokumentasikan pelayaanan yang diberikan
3) Bagi manajemen pelayanan pasien
a) Mendokumentasikan adanya kasus penyakit gabungan dan
praktiknya
b) Menganalisis kegawatan penyakit
c) Merumuskan pedoman praktik penanganan risiko
d) Memberikan corak dalam penggunaaan sarana pelayanan (utilisasi)
e) Melaksanakan kegiatan menjaga mutu
4) Bagi penunjang pelayanan pasien
a) Alokasi sumber
b) Menganalisis kecenderungan dan mengembangkan dugaan
c) Menilai beban keja
d) Mengomunikasikan informasi berbagai unit kerja
5) Bagi pembayaran dan penggantian biaya
a) Mendokumentasikan unit pelayanan yang memungut biaya
pemeriksaan
b) Menetapkan biaya yang harus dibayar
c) Mengajukan klaim asuransi
d) Mempertimbangkan dan memutuskan klaim asuransi
e) Dasar dalam menetapkan ketidakmampuan dalam pembayaran
(mis kompensasi pekerja)
f) Menangani pengeluaran
11
g) Menyelenggarakan analisis aktuarial (tafsiran pra penetapan
asuransi)
b. Tujuan Sekunder yang berkaitan dengan lingkungan seputar pelayanan
pasien.
1) Edukasi
a) Mendokumentasikan pengalaman profesional di bidang kesehatan
b) Menyiapkan sesi pertemuan dan presentasi
c) Bahan pengajaran
2) Peraturan (regulasi)
a) Bukti pengajuan perkara ke pengadilan (litigasi)
b) Membantu pemasaran pengawasan
c) Menilai kepatuhan sesuai standar pelayanan
d) Sebagai dasar pemberian akreditasi bagi profesional dan rumah
sakit
e) Membandingkan organisasi pelayanan kesehatan
3) Riset
a) Mengembangkan produk baru
b) Melaksanakan riset klinis
c) Menilai teknologi
d) Studi keluaran pasien
e) Studi efektivitas serta analisis manfaat dan biaya pelayanan pasien
f) Mengidentifikasi populasi yang berisiko
g) Mengembangkan registrasi basis atau pangkalan data (data base )
h) Menilai manfaat dan biaya sistem rekaman
12
4) Pengambilan kebijakan
a) Mengalokasikan sumber-sumber
b) Melaksanakan rencana strategis
c) Memonitor kesehatan masyarakat
5) Industri
a) Melaksanakan riset dan perkembangan
b) Merencanakan strategi pemasaran
3. Aspek dan Kegunaan Rekam Medis
Selain menunjang administrasi dalam rangka meningkatkan pelayanan di
instansi pelayanan, dan sebagai dasar dalam menetapkan diagnosa dan
merencanakan tindakan, perawatan, pengobatan terhadap pasien, menurut
Mathar (2019) rekam medis mempunyai beberapa aspek kegunaan yang
dikenal dengan ALFRED, yang meliputi :
a. Administrasi
Dimana di dalamnya menyangkut tindakan dan tanggung jawab tenaga
medis dalam memberikan pelayanan.
b. Legal (hukum)
Dimana di dalam ream medis mempunyai nilai hukum dan bisa
membantu baik pasien maupun instansi pelayanan jika terjadi sesuatu
yang penanganannya memerlukan proses hukum dalam rangka atas dasar
keadilan.
c. Finansial (Keuangan)
13
Dalam rekam medis mempunyai nilai keuangan dalam artian
dokumen rekam medis merupakan berkas yang dapat digunakan untuk
menetapkan suatu biaya pelayanan yang diterima oleh pasien.
d. Riset (Penelitian)
Dalam rekam medis, isinya merupakan data dan informasi yang bisa
digunakan dalam penelitian atau mengembangkan penelitian.
e. Edukasi (Pendidikan)
Dalam dokumen rekam medis dapat digunakan data dan informasi
yang update sebagai bahan pengajaran.
f. Dokumentasi
Dalam rekam medis mengandung data atau informasi yang berfungsi
sebagai ingatan atau laporan yang nantinya dapat dipertanggungjawabkan
oleh pihak instansi pelayanan kesehatan.
4. Kegunaan dari rekam medis adalah :
a. Sebagai alat komunikasi anatara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang
ikut ambil bagian dalam memberikan pelayanan, pengobatan, dan
perawatan kepada pasien.
b. Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan atau perawatan yang
diberikan kepada seorang pasien.
c. Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan, perkembangan
penyakit, dan pengobatan selama pasien berkunjung atau dirawat di rumah
sakit.
14
d. Sebagai bahan yang berguna untuk analisa data, penelitian dan evaluasi
terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada paien yang artinya
untuk menilai apakah pelayanan yang telah diberikan kepada pasien sudah
membuat pasien merasa uas atau lebih baik kondisinya dari sebelumnya
atau sembuh.
e. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter
dan tenaga kesehatan lainnya.
f. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan
penelitian dan pendidikan.
g. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medis
pasien.
h. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai
bahan dan laporan.
C. SISTEM DAN SUB SISTEM REKAM MEDIS
1. Sistem Penamaan Pasien
Menurut Shofari (2018), sistem penamaan dalam pelayanan rekam medis
adalah tata cara penulisan nama seseorang yang bertujuan untuk membedakan
satu pasien dengan pasien yang laindan untuk memudahkan dalam
pengindeksan Kartu Indeks Utama Pasien (KIUP).
Tata cara penulisan nama pasien di fasilitas pelayanan kesehatan yang
perlu diperhatikan adalah:
a. Nama pasien sendiri yang terdiri dari satu suku kata atau lebih
15
b. Penulisan nama sesuai dengan KTP/ e-KTP/ SIM/ Paspor/ identitas
lainnya yang masih berlaku.
c. Untuk keseragaman penulisan nama pasien digunakan ejaan baru yang
disempurnakan dengan menggunakan huruf cetak.
d. Perkataan Tuan, Bapak, saudara tidak dicantumkan dalam penulisan nama
pasien.
e. Apabila pasien berkewarganegaraan asing maka penulisan namanya harus
disesuaikan dengan paspor yang berlaku di Indonesia.
f. Bila seorang bayi yang baru lahir hingga saat pulang belum mempunyai
nama, maka penulisan namanya adalah Bayi Ny xxx.
Menurut Shofari (2018), tata cara penamaan pasien dalam fasilitas
pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Cara penulisan nama orang Indonesia
1) Nama Tunggal
Nama orang yang dapat terdiri dari satu suku kata, dua kata, atau
lebih. Nama orang yang hanya terdiri dari satu suku kata, di indeks
dengan sebagaimana nama itu disebut.
Contoh :
Nama : Hara
Penulisan : Hara
2) Nama Majemuk
Nama orang Indonesia yang majemuk dan oleh si pemilik nama
itu ditulis menjadi satu, diindeks sebagaimana nama itu ditulis.
Contoh :
16
Nama : Saripa Asma
Penulisan : Saripa Asma
3) Nama Keluarga
Nama orang Indonesia yang menggunakan nama keluarga, yang
diutamakan nama keluarganya.
Contoh :
Nama : Ismail Mathar
Penulisan : Mathar Ismail
b. Cara penulisan nama orang India, Jepang, Thailand, dan sejenisnya.
Kata akhir dijadikan kata tangkap utama dalam indeks, tanpa
memperhatikan apakah kata akhir itu nama keluarga atau nama klan.
Contoh :
1) Nama : Mahatma Gandhi
Penulisan : Gandhi, Mahatma
2) Nama : Saburo Ichikawa
Penulisan : Ichikawa, Saburo
c. Cara penulisan nama orang Arab, Persia, Turki, dan sejenisnya.
Contoh :
1) Nama : Sayyid Ibrahim
Penulisan : Ibrahim, Sayyid
2) Nama : Usman bin Affan
Penulisan : Affan, Usman bin
d. Cara penulisan nama orang Eropa, Amerika, dan sejenisnya.
17
Nama orang Eropa, Amerika, diindeks dan ditulis berdasar nama
keluarga.
Contoh :
1) Nama : Robertino Den Park
Penulisan : Park, Robertino Den
2) Nama : John Kennedy
Penulisan : Kennedy, John
2. Sistem Penomoran
Sistem penomoran dalam rekam medis yaitu tata cara penulisan nomor
yang diberikan kepada pasien yang datang berobat sebagai bagian dari
identitas pasien yang bersangkutan. Menurut Shofari (2018), ada tiga sistem
pemberian nomor pasien yaitu :
a. Unit Numbering System (UNS)
Sistem penomoran dimana sistem ini memberikan satu nomor rekam
medis pada pasien setiap pasien yang berkunjung dan digunakan
selamanya pada kunjungan berikutnya.
Kelebihan :
1) Informasi klinis dapat berkesinambungan.
Kekurangan :
1) Pengambilan data pasien akan lebih lama karena semua data dan
informasi mengenai pasien dan pelayanan pendaftaran pasien hanya
memiliki satu nomor.
b. Serial Numbering System (SNS)
18
Sistem penomoran dimana setiap pasien yang berkunjung ke rumah
sakit atau puskesmas selalu mendapatkan nomor baru. Misal melakukan
kunjungan 5 kali ke RS, maka akan mendapatkan 5 nomor rekam medis
yang berbeda.
Kelebihan :
1) Keuntungan dari menggunakan sistem ini adalah petugas lebih mudah
mengerjakannya.
Kekurangan :
1) Membutuhkan waktu lma untuk mencari atau mendapatkan berkas
rekam medis pasien karena satu pasien mendapatkan lebih dari satu
nomor rekam medis yang berbeda.
2) Informasi pelayanan klinisnya menjadi tidak berkesinambungan dan
dapat merugikan pasien.
c. Serial Unit Numbering System (SUNS)
Sistem penomoran dengan menggabungkan sistem seri dan unit.
Sistem dimana setiap pasien berkunjung diberikan nomor baru, tetapi
berkas rekam medisnya yang lama digabungkan dan disimpan dibawah
nomor yang baru.
Kelebihan :
1) Pelayanan menjadi lebih cepat karen tidak memilah antara pasien baru
atau lama.
Kekurangan :
1) Petugas mengalami kerepotan setelah selesai pelayanan
19
2) Informasi klinis tidak berkesinambungan.
3. Sistem Penjajaran
Sistem penjajaran dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat
ditemukan kembali dokumen rekam medik yang disimpan dalam rak filing.
Menurut Erawantini (2021), terdapat 3 sistem penjajaran yatu:
a. Straight Numerical filling ( SNF)
Sistem penjajaran dengan penomoran langsung adalah suatu tindakan
menjajar rekam medis di rak dengan mengurut nomor rekam medis secara
berkelanjutan. Sistem penyimpanan berdasarkan penomoran secara seri,
unit maupun seri unit dapat dijajar dengan sistem ini.
Kelebihan SNF :
1) Cepat dan mudah mengambil dokumen rekam medis dalam jumlah
banyak secara berurutan nomor rekam medisnya.
2) Pelatihan petugas dapat dilakukan dengan mudah.
3) Mudah melakukan penyusutan dokumen rekam medis yang sudah in
aktif dalam tahun yang sama.
Kekurangan :
1) Petugas harus teliti memperhatikan seluruh nomor.
2) Mudah terjadi kekeliruan simpan.
3) Makin besar angka yang diperhatikan semakin besar kemungkinan
terjadinya kesalahan.
b. Middle Digit Filing ( MDF)
Sistem penjajaran dengan sistem angka tengah adalah suatu tindakan
menjajar rekam medis berdasar urutan nomor rekam medis pada 2 angka
20
kelompok tengah. Angka yang di tengah menjadi urutan pertama,
pasangan angka yang terletak paling kiri menjadi angka kedua, angka
paling kanan menjadi angka ketiga.
Kelebihan :
1) Mudah dilakukan pembagian tugas.
2) Mudah melakukan pengendalian tanggungjawab petugas
3) Penyimpanan merata di seluruh rak
Kekurangan :
1) Pelatihan petugas sulit dilakukan
2) Sering terjadi salah letak
3) Sulit melakukan penyusutan rekam medis in aktif
4) Membutuhkan biaya awal lebih besar untuk menyiaokan rak seluruh
section nomor.
c. Terminal Digit Filling (TDF)
Sistem penjajaran dengan sistem angka akhir adalah suatu tindakan
menjajar rekam medis pada 2 angka kelompok terakhir.
Kelebihan :
1) Dokumen rekam medis tersebar merata diseluruh section
penyimpanan.
2) Mudah pengendalian dan tanggungjawab petugas.
3) Beban kerja petugas merata.
4) Rekam medis in aktif dapat diambil pada saat menambah dokumen
rekam medis baru di setiap section.
21
5) Dokumen rekam medis dapat terkontrol dan terhindar dari kekosongan
rak.
6) Kekeliruan menyimpan file dapat dicegah karena konsenterasi dua
angka terakhir.
Kekurangan :
1) Pelatihan petugas sulit dilakukan
2) Pelaksanaan sedikit lebih sulit
3) Sulit melakukan penyusutan karena harus melihat setiap section
4) Membutuhkan biaya awal lebih besar untuk menyiapkan rak seluruh
section nomor.
4. Sistem Penyimpanan
Penyimpanan dokumen rekam medik pasien dalam satu kesatuan, baik
dokumen rawat jalan maupun dokumen rawat inap di simpan dalam satu
folder. Syarat rekam medis dapat disimpan yaitu apabila pengisisan pada
lembar formulir rekam medis telah terisi dengan lengkap dan telah dirakit
sehingga riwayat pasien urut secara kronologis.
Menurut Mathar (2021), ditinjau dari pemusatan atau penyatuan rekam
medis maka cara penyimpanannya dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Sentralisasi
Sistem penyimpanan secara sentralisasi yaitu, suatu sistem
penyimpanan dengan cara menyatukan formulir rekam medis milik pasien
ke dalam satu kesatuan dimana rekam medis rawat jalan, rawat inap, dan
gawat darurat menjadi satu dalam satu folder.
Kelebihan :
22
1) Mengurangi dupikasi data dalam pemeliharaan dan penyimpanan
rekam medis.
2) Mengurangi jumlah biaya yang digunakan untuk peralatan dan
ruangan.
3) Tata kerja dan persatuan mengenai kegiatan pencatatan medis mudah
disentralisasikan.
4) Mudah menerapkan sistem unit record.
Kerugian :
1) Petugas menjadi lebih sibuk karena harus menangani unit rawat jalan
dan rawat inap
2) Tempat penerimaan pasien harus bekerja selama 24 jam
b. Desentralisasi
Sistem penyimpanan berkas rekam medis secara desentralisasi yaitu
suatu sistem penyimpanan dengan cara memisahkan formulir rekam medis
rawat jalan, rawat inap, dan gawat darurat.
Keuntungan :
1) Efisiensi waktu sehingga pasien mendapat pelayanan lebih cepat
2) Beban kerja petugas lebih ringan
Kerugian :
1) Terjadi duplikasi pembuatan rekam medik
2) Biaya untuk peralatan dan ruangan lebih banyak
5. Sistem Penyusutan dan Pemusnahan
a. Penyusutan Rekam Medis
23
Penyusutan dokumen rekam medis adalah pengurangan jumlah
formulir yang terdapat di dalam berkas rekam medis dengan cara
mensortir/ memilih arsip dengan tanggal terakhir pasien tersebut dilayani
atau 5 tahun setelah pasien tersebut meninggal.
Menurut Mathar (2018), perlu diadakannya penyusutan dokumen
rekam medis dikarenakan beberapa faktor antara lain :
1) Terbatasnya ruang penyimpanan berkas rekam medis, dengan dokumen
rekam medis yang banyak yang disimpan dalam suatu ruangan dan
rollpack atau rak file, maka perlu dilakukan penyusutan dan
pemusnahan terhadap doumen rekam medis tersebut.
2) Terbatasnya rak penyimpanan berkas rekam medis.
3) Adanya pertambahan berkas rekam medis pasien baru tak seimbang
dengan penyusutan berkas in aktif.
4) Kurangnya tenaga khusus untuk pemeliharaan atau pengelolaan berkas
rekam medis in aktif.
Tujuan Penyusutan Rekam Medis :
1) Menjaga kerapihan penyusunan berkas rekam medis aktif
2) Memudahkan dalam retrieval berkas rekam medis aktif. Artinya
memudahkan untuk mencari dan menemukan kembali informasi
penting yang ada dalam dokumen rekam medis.
3) Menjaga informasi medis yang masih aktif atau yang masih
mengandung nilai guna.
4) Mengurangi beban kerja petugas dalam penanganan berkas aktif dan in
aktif.
24
b. Pemusnahan Rekam Medis
Pemusnahan rekam medis in aktif merupakan proses penghancuran
secara fisik berkas rekam medis in aktif yang telah berakhir fungsi dan
tidak memiliki nilai guna, rusak, tidak terbaca, dan tidak dapat dikenali
baik isi maupun bentuknya. Pemusnahan dilakukan dengan cara
membakar habis, mencacah, atau mendaur ulang, sehingga tidak dapat
dikenali lagi isi dan bentuknya.
Tujuan dari pemusnahan adalah :
1) Mengurangi beban penyimpanan dokumen rekam medis.
2) Mengabadikan formulir-formulir rekam medis yang memiliki nilai
guna.
Rekam medis dapat dimusnahkan dengan syarat :
1) Rekam medis yang sudah memenuhi syarat dimusnahkan, dilaporkan
kepada direktur rumah sakit.
2) Direktur rumah sakit membuat keputusan tentang pemusnahan rekam
medis dan menunjuk tim pemusnah rekam medis.
3) Tim pemusnah rekam medis melaksanakan pemusnahan dan membuat
berita acara pemusnahan yang disahkan direktur rumah sakit.
4) Berita acara dikirim kepada pemilik rumah sakit dengan tembusan
direktur jendral pelayanan medik.
5) Khusus untuk dokumen rekam medis yang tidak terbaca atau rusak
dapat langsung dimusnahkan dengan terlebih dahulu membuat
pernyataan ditas kertas bersegel yang ditandatangani oleh direktur
25
yang isnya menyatakan bahwa dokumen rekam medis susdah tidak
dapat dibaca sama sekali sehingga dapat dimusnahkan.
D. SISTEM PENERIMAAN PASIEN
1. Alur dan Prosedur Pendaftaran Pasien Rawat Jalan (TPPRJ)
Rawat Jalan atau disebut poliklinik merupakan pelayanan dimana pasien
melakukan antre untuk mendapatkan pelayanan medis. Hal ini sangat
berkaitan dengan efektivitas pelayanan yang diberikan melalui registrasi
pasien, pembayaran di kasir, transaksi pemberian obat dan penggunaan alat.
Menurut Wijaya dan Rosmala (2017), alur dan prosedur penerimaan
pasien rawat jalan adalah :
a. Pasien Baru Rawat Jalan
Pasien baru adalah pasien yang baru pertama kali datang untuk
keperluan berobat.
1) Pasien menuju petugas untuk mendapatkan nomor antrian. Pasien
yang datang bisa disebabkan oleh kemauan sendiri, rujukan rumah
sakit, rujukan dokter praktik, rujukan puskesmas, atau instansi
kesehatan lain.
2) Pasien menuju mesin antian dan mengambil nomor antrian
pendaftaran.
3) Pasien melaksanakan pendaftaran dengan identifikasi petugas
mengenai data pasien. Pasien akan meminta pasien atau keluarga
untuk mengisi formulir pendaftaran. Formulir pasien akan di cek
26
petugas dengan identitas lain sperti SIM/ KTP/ Paspor, dan lainnya.
Selanjutnya petugas akan mengecek dengan dokumen lainnya jika
pasien menggunakan asuransi kesehatan kemudian registrasi sesuai
klinik yang dituju.
4) Pasien akan mendapatkan kartu rekam medis dan berobat.
5) Pasien menuju klinik yang sesuai dengan pendaftaran dan menunggu
panggilan antrian sesuai nomor antrisan klinik.
6) Dokter melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan pasien.
7) Setelah pasien diperiksa dan berkonsultasi oleh dokter, lanjutan
pelayanan dapat berupa :
a) Sembuh, pasien melakukan pendaftaran di kasir dan mengambil
obat di apotek.
b) Jika pasien mendapatkan pengantar untuk pemeriksaan penunjang,
pasien menuju ke instalasi pemeriksaan penunjang dengan
membawa surat pengantar dari dokter.
c) Jika pasien dirujuk ke luar, dokter akan membuat surat pengantar
rujukan.
d) Jika pasien dikonsultasikan ke spesialis lain, maka dokter akan
membuat surat konsultasi.
e) Jika pasien dirawat maka, mengikuti alur pasien masuk rawat.
8) Pasien menyelesaikan pembayaran di kasir, mengambil obat di
appotek, dan pulang.
b. Pasien Lama Rawat jalan
27
Pasien lama rawat jalan adalah pasien yang sudah pernah berkunjung
ke rumah sakit untuk berobat, dan sudah terdata identitas dirinya serta
sudah memiliki kartu berobat. Pasien lama dapat dibedakan menjadi
pasien perjanjian dan pasien tidak perjanjian.
1) Pasien Perjanjian
Pasien perjajian adalah pasien yang sudah melakukan registrasi
awal ke klinik yang dituju dengan surat kontrol atau telepon.
a) Pasien datang ke petugas pendaftaran dengan membawa kartu
berobat dan menyebutkan sudah melakukan registrasi awal dengan
perjanjian.
b) Petugas akan mengecek dokumen lainnya untuk pasien asuransi
kesehatan.
c) Petugas akan mengecek registrasi dan memberikan nomor antrian
klinik yang dituju pasien.
d) Pasien akan mendapatkan nomor antrian klinik dan diarahkan
menunggu di klinik yang dituju.
e) Lalu pasien bisa berkonsultasi dengan dokter.
f) Pasien menyelesaikan pembayaran di kasir, mengambil obat di
appotek, dan pulang.
2) Pasien Tanpa Perjanjian
Pasien tanpa perjanjian adalah pasien yang datang langsung ke
instansi pelayanan kesehatan.
a) Pasien datang ke petugas pendaftaran untuk melakukan registrasi
ke klinik yang dituju dengan menyerahkan kartu berobat, dan
28
dokumen lainnya untuk pasien asuransi kesehatan serta surat
rujukan bila ada.
b) Petugas akan mencetak registrasi dan memberikan nomor antrian
klinik yang dituju pasien.
c) Pasien akan mendapatkan nomor antrian klinik dan diarahkan
menunggu di klinik yang dituju.
d) Pasien bisa berkonsultasi dengan dokter.
e) Pasien menyelesaikan pembayaran di kasir, mengambil obat di
appotek, dan pulang
2. Alur dan Prosedur Pendaftaran Rawat Inap (TPPRI)
Pelayanan rawat inap adalah pelayaanan rumah sakit yang diberikan tirah
baring di rumah sakit. Untuk rumah sakit khusus, disesuaikan dengan
spesifikasi rumah sakit tersebut.
Pasien yang melakukan perawatan dibagi menjadi 3 yaitu :
a) Pasien yang tidak urgent, yang artinya penundaan perawatan pasien
tersebut tidak akan mempengaruhi penyakitnya.
b) Pasien yang urgent tetapi tidak darurat gawat, yang artinya dapat
dimasukkan dalam daftar tunggu.
c) Pasien gawat darurat (emergency) maka harus langsung dirawat.
Alur pasien rawat inap sebagai berikut :
a) Pasien membawa surat pengantar rawat dari klinik rawat jalan/ gawat
darurat/ kamar bersalin ke pendaftaran rawat inap.
29
b) Pasien memesan kamar perawatan sesuai dengan jenis pembayaran (jika
pasien asuransi kesehatan akan dicek dengan palayanan dan kamar
perawatan sesuai dengan plafon pasien) dan melakukan registrasi
pendaftaran rawat inap.
c) Petugas menghubungi kamar perawatan untuk memesan kamar dan
menyiapkan hal-hal yang diperlukan dalam perawatan pasien berdasarkan
catatan dalam surat pengantar rawat.
d) Pasien diberi penjelasan general consent atau persetujuan umum dan
membubuhkan nama serta tanda tangan pada formulir tersebut.
e) Pasien kembali ke klinik/ ruang gawat darurat untuk dipasang infus dan
diberi gelng pasien. Kemudian perawat menghubungi ruang perawatan
sebelum membawa pasien ke ruang perawatan. Perawat akan serah terima
pasien dan rekam medis serta dokumen penunjang lainnya untuk
tindaklanjut perawatan pasien.
f) Pasien masuk ruang perawatan diterima dokter ruangan/ perawta ruangan.
3. Alur dan Prosedur Pendaftaran Pasien Gawat Darurat (TPPGD)
Unit Gawat Darurat (UGD) atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah
sakit merupakan tempat pelayanan yang melayani pasien selama 24 jam
sehari.
Instalasi Gawat Darurat disediakan untuk kebutuhan pasien yang dalam
kondisi gawat darurat dan harus segera dibawa ke rumah sakit unruk
mendapatkan penanganan darurat yang cepat. Sesuai dengan prinsip umum
pelayanan IGD pasien gawat darurat harus ditangani paling lama 5 (lima)
menit setelah pasien sampai d IGD.
30
Untuk prosedur pelayanan pasien di IGD, pasien ditolong terlebih dahulu
baru menyelesaikan proses [Link] mendapatkan pelayanan yang
cukup, kelanjutan penanganan pasien anatara lain :
a) Pasien pulang/ kontrol rawat jalan.
b) Pasien dirujuk ke rumah sakit lain dengan alasan tidak ada fasilitas/ kamar
penuh.
c) Pasien dirawat mengikuti prosedur masuk rawat inap.
Alur pasien gawat darurat adalah sebagai berikut :
a) Setelah pasien ditolong, keluarga/ pasien datang ke petugas pendaftaran.
b) Pasien akan diidentifikasi petugas pendaftaran apakah pasien baru atau
lama. untuk pasien baru, petugas akan meminta pasien/ keluarga untuk
mengisi formulir pendaftaran pasien baru.
c) Formulir pasien baru akan di cek petugas dengan identitas lain seperti
KTP/ SIM/ Paspor, dan lainnya. Untuk pasien asuransi kesehatan, petugas
akan mengecek dokumen yang berhubungan dengan asuransi atau
penjamin pasien tersebut. Setelah itu pasien melakukan registrasi dan
mendapatkan kartu berobat.
d) Untuk pasien lama, petugas akan menanyakan kartu berobat pasien, bila
pasien tidak membawa, petugas akan mencarikan nomor rekam medis
pasien pada MIUP.
e) Petugas akan melakukan validasi data pasien yang lama dan mengecek
dokumen lainnya untuk pasien asuransi kesehatan kemudian melakukan
registrasi.
31
f) Pasien atau keluarga diarahkan kembali ke pelayanan gawat darurat.
Kemudian setelah pasien selesai mendapat layanan kesehatan di gawat
darurat, tindak lanjut berikutnya dapat berupa :
1) Boleh pulang/ kontrol rawat jalan, pasien atau keluarga menyelesaikan
pembayaran di kasir dan mengambil obat di apotek.
2) Jika pasien dirujuk ke luar, dokter akan membuat surat pengantar
rujukan, pasien menyelesaikan pembayaran di kasir dan mengambil
obat di apotek.
3) Jika pasien dikonsultasikan ke spesialis lain, dokter akan membuat
surat konsultasi, pasien menyelesaikan pembayaran di kasir dan
mengambil obat di apotek.
4) Jika pasien dirawat, maka mengikuti alur pasien masuk rawat.
E. SISTEM PENGELOLAAN DATA REKAM MEDIS
1. Alur dan Prosedur Assembling Dokumen Rekam Medis
Assembling menurut Mathar (2021) merupakan proses mengumpulkan
kemudian mengurutkan berkas yang berisikan dokumen tentang identitas,
diagnosis pengobatan,anamnesis, pemeriksaan, tindakan, pengobatan, serta
pelayanan lannya yang diberikan kepada pasien.
Assembling yaitu satu fungsi unit rekam medis yang berfungsi sebagai
peneliti kelengkapan isi dan perakit rekam medis sebelum disimpan.
Assembling rekam medis akan memberi gambaran fakta terkait keadaan
32
pasien, riwayat penyakit, dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang ditulis
oleh profesi kesehatan dalam pelayanan rekam medis.
Diskripsi kegiatan pokok assembling :
a. Menyiapkan dokumen rekam medis yang baru dan kelengkapan formulir
didalamnya untuk keperluan unit yang membutuhkan.
b. Mencatat segala penggunaan dokumen rekam medis kedalam buku
kendali.
c. Mengalokasikan No. RM dan memberi tahu ke TPPRJ dan UGD.
d. Mengendalikan penggunaan nomor rekam medis agar tidak terjadi
duplikasi dalam penggunaan nomor rekam medis.
e. Mencatat penggunaan nomor rekam medis kedalam buku penggunaan
rekam medis.
f. Menerima pengembalian dokumen rekam medis dan sensus harian dari
unit pelayanan rekam medis.
g. Mencocokkan jumlah dokumen dengan jumlah pasien.
h. Meneliti kelengkapan isi dokumen
2. Alur dan Prosedur Verifikasi Kelengkapan Dokumen Rekam Medis
Menurut Sudra (2017) verifikasi berkas adalah pemeriksaan kembali
apakah data yang tercantum di rekam medis telah sesuai dengan data yang ada
atau belum.
3. Alur dan Prosedur Coding and Indexing
Koding adalah pemberian penetapan kode dengan menggunakan huruf
angka atau kombinasi huruf dalam angka yang mewakili komponen data.
33
Sedangkan indeks adalah istilah atau kata-kata penting yang tersusun
secara alfabetis untuk memberi informasi tentang halaman atau kata tersebut
ditemukan. Indeksing membuat tabulasi sesuai dengan kode yang sudah
dibuat ke dalam indeks-indeks.
Tata cara kegiatan koding dan indeksing menurut Mathar (2021):
a. Menerima rekam medis yang usdah lengkap dan KK dari assembling.
b. Meneliti dan mencatat kode penyakit, operasi atau tindakan medis
c. Menyusun atau mebuat daftar kode penyakit sebagai alat bantu kode
penyakit.
d. Mecatat data dan informasi rekam medis ke dalam formulir indeks
penyakit, operasi atau tindakan medis sebab kematian dan indeks dokter.
e. Menyimpan indeks penyakit, operasi, atau tindakan medis sebab kematian
dan dokter sesuai urutan abjad.
f. Menyerahkan rekam medis yang sudah lengkap dan kartu kendali ke
fungsi filing.
g. Menyediakan indeks penyakit.
h. Menyediakan indeks operasi, sebab kematian, dan indeks dokter untuk
keperluan tertentu.
i. Menyusun laporan jumlah dan jenis penyakit, operasi dan sebab kematian
menurut golongan umur pada periode tertentu berdasarkan indeks.
4. Alur dan Prosedur Analizing and Reporting
Analizing dan reporting menurut Mathar (2021) merupakan unit rekam
medis yang berfungsi sebagai penganalisis dan pelapor dalam sistem
pelayanan rekam medis yang masuk ke unit rekam medis untuk diolah
34
menjadi informasi yang disajikan dalam laporan guna pengambilan keputusan
manajemen di rumah sakit.
Diskripsi kegiatannya adalah :
a. Menerima Sensus Harian dari bagian Assembling yang berasal dari
berbagai Unit Pelayanan Rekam Medis.
b. Merekapitulasi Sensus Harian ke formulir Rekapitulasi harian, bulanan,
dan tribulanan.
c. Membuat Laporan Morbiditas Rawat Jalan rumah sakit berdasarkan
indeks penyakit Rawat Jalan.
d. Membuat Laporan Morbiditas Rawat Inap rumah sakit berdasarkan indeks
penyakit Rawat Inap.
e. Membuat Laporan Mortalitas rumah sakit berdasarkan indeks kematian.
f. Membuat Laporan jenis operasi rumah sakit berdasarkan indeks operasi/
tindakan.
g. Membuat Laporan kegiatan setiap dokter rumah sakit berdasarkan indeks
dokter.
5. Alur dan Prosedur filing
Filing adalah segala tindakan atau kegiatan yang berhubungan dengan
masalah pengumpulan, klarifikasi, penyimpanan, penempatan, pemeliharaan,
dan distribusi atas surat-surat, catatan-catatan, perhitungan-perhitungan,
grafik-grafik, data, maupun informasi lain dan tindakan tersebut dilakukan
dengan setepat-tepatnya dalam rangka melakukan suatu proses manajemen
serta catatan maupun dokumen tersebut dapat ditemukan kembali dengan
mudah.
35
Tata cara kegiatan filing dalam pelayanan rekam medis menurut Mathar
(2021) adalah :
a. Menerima dokumen rekam medis dari urusan coding indeksing dengan
buku ekspedisi.
b. Simpan berdasarkan metode angka secara berurutan.
c. Apabila dokumen lama diambil, maka cara pengembaliannya
menggunakan tracer dan mencatat setiap penggunaan dokumen rekam
medis.
d. Menyiapkan dokumen rekam medis bagi pasien dengan perjanjian yang
diperoleh informasinya dari TPPRJ dan TPPRI.
e. Mengekspedisi peminjaman dokumen rekam medis.
f. Melakukan penyusutan dokumen rekam medis secara periodik dan
memisahkan dokumen aktif dan non aktif.
g. Mengusulkan pemusnahan dokumen rekam medis kepada Komite rekam
medis.
BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT
1. Sejarah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Gagasan mendirikan Rumah Sakit Umum dan Pendidikan pada satu
lokasi guna pendidikan calon dokter dan dokter ahli serta untuk
pengembangan penelitian pertama kali dicetuskan oleh Prof. Dr. Sardjitopada
tahun 1954, dan karena dirasakan adanya kebutuhan mendesak perlunya
RSUP untuk mencukupi kebutuhan pelayanankesehatan bagi masyarakat di
Yogyakarta dan sekitarnya. Perjuangan tersebut baru berhasil tahun anggaran
1970/1971 menggunakan biaya dari Departemen Kesehatan RI di Pingit.
Namun karena lokasi tersebut tidak memadai, maka dipindahkan ke daerah
Sekip dengan nam RSUP Dr. Sardjito untuk mengenang perjuangan dan jasa-
jasa Prof. Dr. Sardjito.
RSUP Dr. Sardjito didirikan dengan SK MenKes RS No. 126/ka/[Link]/74
tanggal 13 Juni 1974, yaitu sebagai RSU tipe B pendidikan pengelolaan oleh
Depkes RI untuk melakukan pelayanan kesehatan masyarakat dan
melaksanakan sistem rujukan bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya,
serta dimanfaatkan guna kepentingan pendidikan calon dokter dan dokter ahli
oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.
36
37
Dalam kurun waktu 20 tahun, status RSUP Dr. Sardjito mengalami empat
kali perubahan. Pada tahun 1982-1993 menjadi UPT-Depkes, tahun 1993-
1998 UPT-Depkes Swadana Non PNBP, tahun 1998-2000 menjadi PNBP,
dan mulai tahun 2000-2005 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta berubah menjadi
Perjan (BUMN), tahun 2006-2009 UPT Depkes BLU RS.
Meskipun mengalami berbagai macam perubahan status, tidak
mempengaruhi kinerja RSUP Dr. Sardjito dalam mengemban visi dan
misinya bahkan penyelenggaraaan pelayaanan dan SDM yang dimiliki
semakin berkualitas, dapat dibuktikan dengan turunnya Surat Keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 1174/MENKES/SK/2204 pada tanggal 18 Oktober
2004 tentang penetapan kelas RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sebagai rumah
sakit umum kelas A yang merupakan rujukan untuk daerah Yogyakarta dan
Jawa Tengah bagian selatan.
2. Visi dan Misi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Visi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta: Rumah sakit berbudaya yang unggul
dalam pelayanan, pendidikan, dan penelitian.
Misi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta :
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang prima, berfokus pada pasien
dengan cakupan pangsa pasar global.
b. Menyelenggarakan pendidikan bermartabat yang bersinergi dengan
pelayanan dan pengabdian masyarakat.
38
c. Mengembangkan inovasi dan penelitian dalam berbagai bidang untuk
mencapai pelayanan yang bermutu sejalan dengan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
39
3. Struktur Organisasi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Gambar 3. 1 Struktur Organisasi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
40
Drektur Utama RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, yaitu [Link], [Link].
[Link]., M.M.R yang dibantu oleh 4 (empat) Direktorat dan masing-masing
direktorat tersebut bertanggung jawab akan bagian masing-masing
4. Struktur Organisasi Rekam Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Direktur Utama
Direktur
Pelayanan Direktur Direktur Direktur SDM,
Medik dan Perencanaaan Keuangan dan Pendididkan,
Keperawatan Organisasi BMN dan Penelitian
Penunjang
Kepala Instansi
Rekam Medis
PJ Verifikasi
PJ Logistik dan PJ Rekam
Koding dan
SDM Medis Pasien
Klaim BPJS
Gambar 3. 2 Struktur Rekam Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Pada posisi pertama dalam Struktur Organisasi Rekam Medis di RSUP
Dr. Sardjito Yogyakarta adalah Direktur Utama. Lalu Direktur Utama dibantu
oleh 4 (empat) Direktur Pembantu, yaitu Direktur Pelayanan Medik dan
Keperawatan Penunjang, Direktur Perancanaan, Organisasi dan Umum,
Direktur Keuangan dan BMN, Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian.
Organisasi Rekam Medis berada di bawah Direktur Pelayanan Medik, dan
Keperawatan Penunjang. Di bawah Direktur Pelayanan Medik, dan
41
Keperawatan Penunjang, terdapat Kepala Instalasi Rekam Medis yang
bertanggung jawab terhadap pengolahan Rekam Medis di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta. Kepala Instalasi Rekam Medis ini dibantu oleh 3 (tiga)
Penanggung Jawab, yang pertama Penanggung Jawab Rekam Medis Pasien,
kedua Penanggung jawab SDM dan logistic, ketiga Penanggung Jawab
Verifikasi Koding dan Klaim BPJS.
B. SISTEM REKAM MEDIS
1. Sistem Penamaan
Sistem penamaan yang digunakan dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
adalah sistem penamaan langsung dengan menggunakan nama asli dan sesuai
dengan identitas seperti KTP/ KK/ SIM/ Paspor, dan sebagainya.
Contoh :
Nama KTP : Laila Ayana
Penulisan : Laila Ayana
Sistem penamaan yang digunakan oleh RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
telah sesuai dan benar dengan salah satu landasan teori yang yang
dikemukakan oleh Shofari (2018) yang menyebutkan bahwa sistem penamaan
rekam medis haruslah sesuai dengan identitas seperti KTP/ KK/ SIM/ Paspor,
dan sebagainya. Tidak ada penambahan nama gelar maupun perkataan Tuan,
Bapak, saudara, dan seagainya. Kesegaraman penulisan nama pasien
digunakan ejaan baru yang disempurnakan dengan menggunakan huruf cetak.
42
Apabila pasien berkewarganegaraan asing maka penulisan namanya harus
disesuaikan dengan paspor yang berlaku di Indonesia.
2. Sistem Penomoran
Sistem penomoran yang digunakan dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
adalah menggunakan sistem UNS atau Unit Numbering System, yaitu sistem
yang memberikan satu nomor rekam medis pada pasien ketika pertama kali
berobat, dan digunakan untuk selamanya pada kunjungan berikutnya.
Karena RSUP Dr. Sardjito sudah menerapkan EMR (Electronic Medical
Record) maka penerapan sistem penomoran UNS menjadi sangatlah mudah
dan memiliki banyak keuntungan. Dengan penerapan sistem EMR (Electronic
Medical Record), untuk pencarian berkas akan sangatlah mudah dan tidak
memerlukan waktu yang lama dalam pencarian berkas.
Sistem penomoran yang diterapkan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
yaitu sistem penomoran UNS (Unit Numbering System), sudah sesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh Shofari (2018), dan juga diterapkan dengan baik
bahkan dengan pengembangan dan penerapan sistem rekam medis elektronik.
3. Sistem Penjajaran
Sistem penjajaran yang digunakan oleh RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
adalah TDF atau Terminal Digit Filing yang berfokus pada 2 (dua) angka
terakhir dan dua angka terakhir tersebut diberi kode warna. Sistem
penjajaran di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta terdiri dari 8 digit, dengan
43
pemberian kode warna pada setiap angka 2 digit terakhir untuk semakin
memudahkan dalam pencarian dan juga sistem penyimpanan.
Dalam penerapan sistem penjajaran sudah sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Erawantini (2021) dan dijalankan dengan baik bahkan
dengan ditambahkannya modifikasi dalam hal kode warna pada 2 digit angka
terakhir untuk lebih memudahkan dalam pencarian.
Tabel 3. 1 Kode Warna Penjajaran
Kod Warna Kod Warna
e e
0 Ungu 5 Coklat
1 Orange 6 Hijau Muda
2 Hijau Tua 7 Biru Tua
3 Biru 8 Kuning
4 Merah Muda 9 Merah
Contoh sistem penjajaran dengan TDF :
07 87 23 18
(Tersier) (Tersier) (Sekunder) (Primer)
4. Sistem Penyimpanan
Sistem penyimpanan yang diterapkan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
adalah sistem penyimpanan sentralisasi. Karena RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta sudah mulai menerapkan sistem EMR atau Elektronic Medical
Rcord, maka dengan adanya sistem rekam medis elektronik tersebut,
44
penerapan sistem penyimpanan dengan sistem sentralisasi menjadi semakin
mudah. Dalam peralihan sistem elektronik, berkas-berkas semakin lama
semakin berkurang dan suatu saat akan menghilang saat sudah 100% EMR
(Elektronic Medical Rcord).
Sistem sentralisasi yang diterapkan oleh RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Mathar (2021) bahwa
sistem penyimpanan ada 2 yaitu sentralisasi dan desentralisasi. RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta meggunakan sistem sentraliasasi karena memiliki
keuntungan yang lebih daripada sistem desentralisasi saat penerapan rekam
medis elektronik.
5. Sistem Penyusutan dan Pemusnahan
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menerapkan sistem penyusutan sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh Mathar (2018), yang menjelaskan bahwa
penyusutan dokumen rekam medis dilakukan dengan cara pengurangan
jumlah formulir yang terdapat di dalam berkas rekam medis dengan
mensortir/ memilih arsip sesuai tanggal terakhir pasien tersebut dilayani atau
5 tahun setelah pasien tersebut meninggal.
Penyusutan r (Placeholder1)ekam medis merupakan suatu proses
pemilahan rekam medis antara berkas yang aktif dan in aktif, untuk melihat
sejauh mana rekam medis tersebut memiliki nilai guna dan yang tidak
memiliki nilai guna.
Sistem penyusutan dilakukan saat 5 tahun sejak kunjungan terakhir
pasien. Tetapi ada beberapa kasus yang lebih dari 5 tahun seperti kasus
gangguan jiwa, HIV, TB, dan rehabilitasi narkoba.
45
Untuk prosesnya dimulai dari ruang filing, ditarik data lalu dipisahkan
antara berkas yang boleh dimusnahkan dan yang tidak boleh dimusnahkan.
Berkas-berkas yang tidak boleh dimusnahkan seperti ringkasan masuk dan
keluar, lembar operasi, identifikasi bayi, lembar persetujuan, dan lembar
kematian. Ada juga berkas lain yang tidak boleh dimusnahkan menurut
Mathar (2018) seperti berkas kasus operasi pemisahan bayi kembar siam,
operasi penyesuaian organ kelamin, SARS, flu burung dan sebagainya, karena
kasus-kasus tersebut dianggap sangat bernilai. Berkas yang tidak boleh
dimusnahkan disimpan, begitu juga dengan berkas yang boleh dimusnahkan,
disimpan di tempat tersendiri.
Untuk sistem pemusnahan, sudah pernah dilakukan sekali pada tahun
2013 sejak tahun 1982, dilakukan oleh pihak ketiga dengan cara
menghancurkan kertas menjadi kecil-kecil, lalu dibuat menjadi bubur.
C. SISTEM PENERIMAAN PASIEN
1. Alur dan Prosedur Pendaftaran Pasien Rawat Jalan (TPPRJ)
Sistem pendaftaran pasien rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
menggunakan sistem registrasi online, karena sudah mulai menerapkan sistem
EMR (Electronic Medical Record). Sistem registrasi online dengan sebuah
aplikasi/web yang bisa digunakan untuk pendaftaran online, bisa untuk pasien
BPJS maupun umum, dan pasien lama maupun baru, asalkan mengikuti
petunjuk yang ada di aplikasi. Aplikasi yang disediakan bernama Klik
46
Sardjito Aja. Sistem pendafataran online ini sudah bridging dengan aplikasi
mobile JKN BPJS.
Alur pendaftaran setelah pasien mendaftar secara online di web atau
aplikasi yang disediakan oleh RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, pada hari dan
jam yang telah ditentukan, pasien bisa datang dan melakukan check in di
mesin yang disebut mesin APM (Anjungan Pendaftaran Mandiri), untuk
memastikan bahwa pasien sudah datang. Check in di mesin APM caranya
dengan memasukkan nomor registrasi dari pendafataran online di aplikasi,
lalu klik check in. Mesin APM hanya terdapat di lantai 1. Untuk pasien umum
bisa langsung check in di hp.
Untuk pasien BPJS, setelah melakukan check in di mesin APM wajib
melakukan sidik jari. Sidik jari dilakukan karena merupakan ketentuan dari
pihak BPJS. Setelah melakukan sidik jari, pasien bisa menuju ke poliklinik
yang dituju. Untuk pelayaanan sidik jari, di setiap lantai gedung rawat jalan
terdapat tempat pelayanan sidik jari.
Selain sistem pendaftaran secara online melalui aplikasi, masih terdapat
loket pendaftaran atau yang disebut dengan pendaftaran on site. Pendafatran
on site disediakan bagi pasien yang tidak bisa melakukan registrasi
pendaftaran secara online. Pendaftaran on site yang disediakan berjumlah 15
loket. Untuk loket 1 sampai dengan loket 6 bisa juga untuk melayani
pendaftaran rawat inap. Untuk alur pendaftaran seperti pendaftaran pada
umunya, yaitu pasien mengambil nomor antrian lalu menunggu untuk
dipanggil. Setelah dipanggil, pasien menuju loket pendaftaran dengan
membawa berkas dan syarat yang diperlukan. Bagi pasien baru, petugas akan
47
meminta data pribadi pasien untuk dibuatkan nomor rekam medis, sedangkan
pasien yang lama hanya perlu memberikan nomor rekam medis, setelah itu
pasien bisa menuju ke poliklinik yang dituju.
Dalam hal alur dan pendaftaran pasien rawat jalan yang diterapkan di
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada dasarnya sama dengan teori yang telah
dikemukakan oleh Wijaya dan Rosmala (2017), hanya saja RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta melakukan modifikasi dengan menerapkan sistem pendaftaran
secara online dalam hal perwujudan sistem rekam medis elektronik.
Gambar 3. 3 Aplikasi Klik Sardjito Aja
48
Di dalam aplikasi Klik Sardjito Aja, terdapat berbagai macam fitur
diantaranya yaitu, Fitur untuk mengecek hasil laboratorium, radiologi,
patologi anatomi, fitur untuk pendaftaran online, resume medis, dokumen
SKDP, fitur untuk melihat antrian rawat jalan, raioterapi, check in BPJS, fitur
“Tekon” untuk bertanya-tanya secara langsung melalui smartphone, fitur
untuk pembayran digital, media edukasi pasien, fitur untuk melihat jadwal
dokter, status resep, antrian rawat inap, dan lain sebagainya.
2. Alur dan Prosedur Pendaftaran Pasien Rawat Inap (TPPRI)
Pendaftaran rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta terletak pada tiap-
tiap bangsal dan di gedung yang berbeda. Tetapi, pada gedung rawat jalan
terdapat pendaftaran on site yang menyediakan pelayanan rawat inap,
bertempat di pendaftaran on site loket 1 sampai dengan loket 6.
Keluarga pasien hanya perlu datang ke loket pendaftaran untuk
melakukan pendaftran rawat inap lalu petugas akan memberikan informasi
terkait tempat tidur, dan fasilitias kamar yang disediakan yang bisa dipilih
untuk ditempati pasien sesuai dengan kebutuhan pelayanaan yang diperlukan.
Untuk pasien BPJS atau JKN biasanya memiliki tipe kamar yang sudah
ditentukan. Lain hal dengan pasien umum, yang memiliki pilihan kamar yang
lebih banyak dan fasilitas yang lebih lengkap. Setelah memilih layanan dan
fasilitas kamar, petugas akan meminta untuk menandatangani lembar
persetujuan rawat inap dan mencatat di buku register. Kemudian keluarga
pasien akan darahkan ke ruang tunggu. Petugas akan memanggilkan perawat
49
bagian rawat inap untuk menyiapkan kamar yang dipilih dengan fasilitas yang
dibutuhkan, lalu pasien akan dijemput kembali oleh petugas dan diarahkan
untuk menuju kamar tersebut.
Untuk alur dan prosedur pendaftaran rawat inap yang diterapkan oleh
RSUP Dr. Srdjito Yogyakarta sama dan sudah sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Wijaya dan Rosmala (2017).
3. Alur dan Prosedur Pendaftaran Pasien Gawat Darurat (TPPGD)
Unit Gawat Darurat merupakan unit yang bekerja 24 jam. Dalam hal alur
dan prosedur pendaftaran pasien gawat darurat yang diterapkan di RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta sama dengan alur dan prosedur pendaftaran gawat
darurat pada umumnya dan sesuai dengan teori yang telah dikemukakan oleh
Wijaya dan Rosmala (2017).
Untuk alur dan prosedurnya, pasien akan ditolong terlebih dahulu
kemudian dari pihak keluarga atau pasien itu sendiri setelah melakukan
pemeriksaan dan dalam kondisi yang baik, baru bisa melakukan proses
administrasi dan registrasi. Setelah pasien selesai mendapat layanan kesehatan
di gawat darurat, tindak lanjut berikutnya tergantung dari kondisi pasien. Saat
pasien sembuh, pasien bisa pulang dan menyelesaikan pembayaran. Saat
pasien harus dirawat, maka pasien akan mengikuti alur pasien rawat inap, dan
akan disediakan berbagai macam pilihan kamar yang sesuai dengan
kebutuhan. RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta merupakan salah satu rumah sakit
rujukan terakhir di Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah, oleh karena itu
pasien yang datang kebanyakan pasien JKN/ BPJS dibandingkan dengan
pasien umum.
50
D. SISTEM PENGELOLAAN DATA REKAM MEDIS
1. Alur dan Prosedur Assembling Dokumen Rekam Medis
Pada bagian sistem pengelolaan data di assembling, karena RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta sudah mulai menerapkan sistem rekam medis elektronik,
maka berkas rekam medis yang fisik sudah mulai berkurang banyak dengan
petugas yang terbatas pula.
Tugas dari bagian assembling disini adalah merakit berkas rekam medis
pasien rawat inap yang sudah pulang, dan sudah di koding, lalu akan masuk
ke assembling untuk dirakit dan diurutkan sesuai dengan ketentuan, lalu
disetorkan ke bagian penggabungan data untuk digabungkan dengan berkas
rawat jalan dan disimpan di bagian filing.
Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ini juga disediakan ruang
penggabungan antara berkas rawat inap dan rawat jalan karena penerapan
rekam medis elektronik dan masih adanya sisa berkas yang lama, jadi perlu
adanya ruangan ini karena masih ada beberapa pasien rawat inap yang masih
memerlukan berkas.
Saat suatu saat sudah 100% EMR, assembling akan dihilangkan dan
petugas akan dialokasikan ke bagian-bagian lain yang membutuhkan tenaga
atau staff yang banyak seperti koding.
2. Alur dan Prosedur Verifikasi Kelengkapan Dokumen Rekam Medis
51
Menurut Sudra (2017) verifikasi berkas adalah pemeriksaan kembali
apakah data yang tercantum di rekam medis telah sesuai dengan data yang ada
atau belum.
Alur dan prosedur verivikasi kelengkapan dokumen dilakukan apabila
terdapat berkas rekam medis yang belum lengkap karena dokter atau perawat
belum mengisi diagnosa pasien, atau berkas belum ditandatangani dokter
yang bersangkutan, maka dokumen rekam medis tersebut harus dikembalikan
ke dokter, perawat atau tenaga medis yang bersangkutan untuk segera
dilengkapi. Dan petugas rekam medis bertugas untuk mengingatkan untuk
segara dilengkapi berkas-berkas tersebut.
52
3. Alur dan Prosedur Coding And Indexing
Pada bagian koding di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, pengkodingan
bagian rawat jalan dan rawat inap dipisahkan atau berada di tempat yang
berbeda.
Untuk koding rawat jalan dilakukan di gedung rawat jalan. Untuk
kunjungan pasien rawat jalan kurang lebih 3000 per hari. Di bagian koding,
satu orang sanggup mengkoding 100 lebih. Kadang ada yang bisa sampai
150,180. Untuk target rumah sakit sendiri adalah 110 per hari karena target
dan dikejar deadline untuk klaim BPJS.
Untuk ICD yang digunakan adalah ICD 10 untuk mengkoding penyakit,
dan ICD-9CM untuk mengkoding tindakan. ICD yang digunakan
menggunakan versi 2010. Untuk tata cara pengkodingan mengggunakan
koding secara elektronik, bukan menggunakan sebuah buku ICD. Sudah
disiapkan aplikasi untuk melakukan koding. Kode-kode yang ada di ICD
sudah dimasukkan ke aplikasi, dan sudah terintegrasi. Untuk mengkode,
cukup dengan menginput nama penyakit dan nanti akan langsung muncul
dengan sendiri deskripsinya. Selain mengkoding, petugas juga melakukan
verifikasi ke INA-CBGs. Proses verifikasi ini telah terintegrasi di aplikasi
SIMETRIS, sehingga petugas hanya perlu mengeklik dan nanti data akan
otomatis terkirim ke server BPJS.
Pengkoding yang terdapat disini adalah pengkoding untuk koding
JKN/BPJS. Untuk pasien yang non JKN/BPJS ada petugasnya sendiri yang
mengerjakan. Jumlah pengkoding untuk pasien JKN/BPJS lebih banyak
53
daripada petugas untuk pengkoding pasien umum atau non JKN/ BPJS,
karena pasien JKN/BPJS sangat banyak daripada pasien umum, karena
memang RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah rumah sakit rujukan terakhir
yang ada di Yogyakarta. Dari BPJS, dalam 1 bulan harus minimal yang
masuk klaim adalah 75% dari kunjungan dan direktur rumah sakit
mengusahakan target untuk bisa mendekati 100%.
Untuk koding bagian rawat inap dilakukan di bangsal rawat inap yang ada
di 2 tempat untuk koding rawat inap yang pertama gedung rawat inap 1, dan
yang kedua di gedung PJT (Pusat Jalur Terpadu). Koding rawat inap tugasnya
melakukan koding untuk pasien-pasien rawat inap yang berada di gedung ini
dan sekitarnya.
Untuk prosesnya hampir sama dengan yang di rawat jalan. Di rawat inap
biasanya 1 petugas mengerjakan sekitar 20-30 berkas rekam medis per hari,
Karena proses pengkodean rawat inap lebih lama dibangdingkan dengan
rawat jalan. Biasanya, saat mengerjakan 1 berkas bisa memakan waktu 15
sampai 30 menit. Di rawat inap tingkat pengkodeannya lebih sulit dari rawat
jalan.
Untuk koding rawat inap dan rawat jalan terdapat tim verivikator untuk
mengecek apakah ada kesalahan koding sebelum dikirim ke BPJS. Jika ada
kesalahan, para koder akan di beri catataan untuk dibenarkan dulu sebelum
kodingnya diajukan ke BPJS. Tekadang dari para verivikator ada yang lolos.
Kesalahannya dari para koding tidak terdetect maka nanti yang meminta
revisi dari pihak BPJS.
54
55
4. Alur dan Prosedur Analizing And Reporting
Dalam pelaporan atau reporting, tugasnya mengerjakan semua laporan
yang berkaitan dengan rekam medis, seperti laporan KLB (Kejadian Luar
Biasa), atau laporan yang harus dilaporkan ke Dinas Kesehatan.
Laporan ini terdiri dari 2 macam yaitu :
a. Laporan Internal
Laporan ini memuat catatan atau rekaman kegiatan yang telah selesai
dikerjakan oleh manajemen rumah sakit. Contoh dari laporan ini seperti,
laporan jumlah pengunjung dan kunjungan, laporan jumlah ruang dan
tempat tidur, laporan jumlah orang yang dirawat, laporan jumlah tempat
tidur yang digunakan, laporan perawatan yang diberikan pada pasien.
b. Laporan Eksternal
Laporan eksternal ini merupakan ini merupakan laporan yang
dibutuhkan dan ditujukan untuk pihak luar rumah sakit yaitu Direktorat
Jenderal Bina Pelayanan Medik Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi,
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Isi laporan ini antara lain :
a. RL 1 berisikan Data Dasar Rumah Sakit yang dilaporkan setiap waktu
apabila terdapat perubahan data dasar dari rumah sakit sehingga data
ini dapat dikatakan data yang yang bersifat terbarukan setiap saat.
b. RL 2 berisikan Data Ketenagaan dan dilaporkan setiap tahun.
c. RL 3 berisikan Data Kegiatan Pelayanan Rumah Sakit yang
dilaporkan periodik setiap tahun.
56
d. RL 4 berisikan Data Morbiditas atau Mortalitas yang dilaporkan setiap
tahun.
e. RL 5 merupakan Data Bulanan yang dilaporkan secara periodik setiap
bulan, berisikan data kunjungan dan data 10 (sepuluh) besar penyakit.
5. Alur dan Prosedur Filing
Sistem yang diterapkan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah sistem
gabungan. Sistem rekam medis elektronik dan manual. Penerapan sistem
gabungan ini dikarenakan untuk bagian rawat inap masih ada beberapa
bangsal yang membutuhkan berkas lama, dan juga terkadang ada beberapa
poliklinik yang meminta berkas rekam medis pasien untuk diantarkan. Hanya
untuk kasus-kasus tertentu yang memang poliklinik membutuhkan berkas
yang lama. Biasanya seperti pasien-pasien rawat inap yang sudah lama
mendiami RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Oleh karena itu masih belum bisa
sepenuhnya menerapkan sistem rekam medis elektronik.
Yang bertugas di bagian filing ini hanya ada 2 petugas di bagian rawat
jalan. Rak yang digunakan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ini
menggunakan rak roll o pack dan rak terbuka. Jika suatu saat sudah
menerapkan sistem rekam medis elektronik 100% maka sudah tidak ada filing
lagi.
6. Alur dan Prosedur Pelayanan Penelitian
Penelitian yaitu untuk melayani para peneliti yang melakukan penelitian
yang mengambil data rekam medis.
Prosesnya, ketika ada orang yang ingin melakukan penelitian, harus
mengurus perizinan di bagian diklat, lalu kalau sudah di acc bisa langsung ke
57
bagian pelaporan untuk melaporkan bahwa ingin melakukan penelitian, dan
melaporkan data yang ingin dipinjam apa saja, lalu akan dicarikan datanya di
bagian penelitian ini. Untuk pengembalian dokumen rekam medis ini hanya
diberi batas waktu 1 x 24 jam.
Di bagian penelitian ini juga bisa untuk melakukan TA/skripsi yang
membutuhkan data rekam medis.
7. Alur dan Prosedur Pelayaanan Surat Keterangan Medis
Surat keterangan medis adalah surat yang dibuat, isinya mengenai
keterangan data-data pasien yang digunaakan untuk keperluan tertentu, seperti
untuk klaim asuransi, alat bukti hukum, dan pengobatan lanjutan. Surat
keterangan medis dibuat oleh dokter yang merawat pasien. Surat keterangan
medis merupakan bentuk dari kegiatan pelepasan informasi medis sehingga
harus dilakukan sesuai dengan aturan.
Untuk prosesnya, surat keterangan medis tersebut diajukan oleh pasien
dengan catataan pasien itu sudah dewasa, cakap hukum, dan tidak gangguan
jiwa. Jika pasien tidak memenuhi kriteria tersebut, maka surat atau
wewenangnya bisa dilibatkan ke ahli warisnya atau orang yang menjadi
pengampunya. Lalu setelah mengajukan permohoman surat keterangan
medis, harus melampirkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Akta Kelahiran
atau KIA jika pasien berusia kurang dari 18 tahun.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dengan adanya kegiatan kunjungan lapangan ini, banyak wawasan dan
pengetahuan yang penulis dapatkan. Adapun kesimpulan dari pelaksanaan
kunjungan ini yaitu :
1. RSUP Dr. Sardjito merupakan rumah sakit umum tipe A yang dijadikan
sebagai rumah sakit rujukan pertama di Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian
selatan serta sebagai RS Swadana dan PNBP, sebagai RS Perjan, sebagai RS
Pendidikan, dan sebagai Badan Layanan Umum (BLU).
2. Sistem rekam medis yang meliputi sistem penamaan, penomoran, penjajaran,
penyimpanan, penyusutan dan pemusnahan dilaksanakan sesuai dengan teori.
Sistem penamaan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menggunakan sitem
penamaan langsung sesuai dengan identitas seperti di KTP/ SIM/ KK/
Paspor, dan lan sebagainya. Sistem penomoran di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta menggunakan UNS (Unit Numbering System), sistem penjajaran
menggunakan sistem TDF (Terminal Digit Filing), sistem penyimpanan
menggunakan sistem sentralisasi, dan sistem pemusnahan dilakukan dengan
cara dibuat menjadi bubur.
3. Sistem penerimaan pasien di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dibedakan
menjadi 3 yaitu Tempat Pendaftaran Rawat Jalan (TPPRJ), (Tempat
Pendaftaran Rawat Inap (TPPRI), dan Tempat Pendaftaran Gawat Darurat
58
59
(TPPGD), dengan alur dan prosedur yang sesuai dengan teori dan dengan
penerapan sistem rekam medis elektronik.
4. Sistem pengelolaan data rekam medis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang
terdiri dari alur dan prosedur assembling, verifikasi kelengkapan dokumen,
coding and indexing, analizing and reporting, filing, pelayanan penelitian,
dan pelayaanan Surat Keterangan Medis.
B. SARAN
Adapun saran yang ingin kami sampaikan adalah :
1. Dengan adanya penerapan sistem rekam medis elektronik yang sudah
diterapkan, RSUP [Link] Yogyakarta diharapkan dapat memberikan
dorongan terhadap rumah sakit lain untuk segera dalam penerapan ERM
(Electronic Medical Record) sesuai dengan ketentuan yang sudah berlaku.
2. Diharapkan kedepannya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik dan
berintegritas melalui penerapan rekam medis elektronik, dan melakukan
peningkatan kualitas untuk perlindungan agar suatu saat tidak terjadi
kebocoran data pada sistem rekam medis elektronik.
DAFTAR PUSTAKA
Erawantini, F., Suryana, A. L., & Afandi, K. (2021). Rekam Kesehtaan Elektronik
Dengan Clinical Decision Support System (CDSS). Kalimantan: UPT
Penerbitan Universitas Jember.
Handayuni, L. (2020). Rekam Medis Dalam Manajemen Informasi Kesehatan.
Sumatera Barat: CV INSAN CENDEKIA MANDIRI.
Ikawati, F. R. (2021). Buku Ajar Konsep Dasar Rekam Medis dan Informasi
Kesehatan. Malang: CV Literasi Nusantara Abadi.
Mathar, I. (2018). Manajemen Informasi Kesehatan Pengelolaan Dokumen Rekam
Medis. Yogyakarta: Deepublish.
Mathar, I., & Igayanti, I. B. (2022). Manajemen Informasi Kesehatan (Pengelolaan
Rekam Medis) Edisi Revisi. Yogyakarta: Deepublish Publisher.
Nisak, U. K. (2019). Pengantar Rekam Medis dan Manajemen Informasi Kesehatan.
Sidoarjo, Jawa Timur: UMSIDA Press.
Sabran, & Deharja, A. (2021). Buku Ajar Praktik Klinis Rekam Medis (Pengantar
Awal Turun Lapang). Kediri: CV Pelita Medika.
Setyawan, F. E., & Supriyanto, S. (2019). Manajemen Rumah Sakit. Sidoarjo:
Zifatama Jawara.
Shofari, B., Rachmani, E., Astuti, R., & Anjani, S. (2018). Dasar Pengelolaan Rekam
Medis dan Informasi Kesehatan. Semarang: UDINUS.
60
LAMPIRAN
Lampiran 1 Pendaftaran On Site
Lampiran 2 Mesin APM (Anjungan Pendaftaran Mandiri)
Lampiran 3 Tempat Sidik Jari Pasien BPJS
Lampiran 4 Ruang Assembling
Lampiran 5 Tempat Coding and Indexing
Lampiran 6 Tempat Analizing and Reporting
Lampiran 7 Ruang Penggabungan Berkas Rekam Medis
Lampiran 8 Loket Pelayanan Surat Keterangan Medis
Lampiran 9 Ruang Filing