Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS)
Volume 3 Nomor 2, Desember 2020
e-ISSN : 2614-1574
p-ISSN : 2621-3249
MANAJEMEN BANDWIDTH PADA MIKROTIK DENGAN LIMITASI
BERTINGKAT MENGGUNAKAN METODE SIMPLE QUEUE
BANDWIDTH MANAGEMENT ON MIKROTIK WITH MULTILEVEL
LIMITATIONS USING THE SIMPLE QUEUE METHOD
Mochammad Arya Darmawan, Iskandar Fitri, Agus Iskandar
Universitas Nasional
mocharyadr@[Link]
ABSTRACT
The number of users that must beserved by the internet network can usually reach tenstohundreds of hosts
in a company. Therefore, selecting a router device is very important to support users and bandwidth
management at the company. In thiscase, tooptimize bandwidth usage, one must choose the right method
to manage it. The Simple Queue method can be implemented and developed with multilevel limitations.
What is meant by multilevel limitation is the existence of Queue Parent and Child Queue. Parent Queue is
a configuration that states the total real Bandwidth that is owned, while Child Queueis a configuration
applied toclients based on the Client's IP address. Thereisalso a configuration in the Child Queue to
determine the minimum and maximum limits for eachClient. Figure 14andTable 6 are the results of
multilevel limitation testing using the Simple Queue method withoneactive Client, twoactiveclients,
andthreeactive clients getting a throughput of 0.52 Mbps; 0.23 Mbps; 0.17 Mbps. Based on the
Telecommunications and Internet Protocol Harmonization Over Networks (TIPHON) throughput standard,
these results get excellent categories. Then, for Packet Loss results gain 0.8%; 0.4%; 0.9%. Based on the
TIPHON packet loss standard, the results are in a good category.
Keywords: QoS, Simple Queue, Mikrotik, Bandwidth, Multilevel Limitation.
\
ABSTRAK
Pada sebuah perusahaan, jumlah pengguna yang harus dilayani oleh jaringan internet biasanya dapat
mencapai puluhan hingga ratusan host. Maka dari itu, pemilihan sebuah perangkat Router sangat penting
untuk dapat menunjang pengguna dan manajemen bandwidth pada perusahaan tersebut. Dalam hal ini untuk
dapat mengoptimasi penggunaan bandwidth, haruslah memilih metode yang tepat untuk memanajemennya.
Metode Simple Queue dapat diimplementasikan dan dikembangkan dengan limitasi bertingkat. Yang
dimaksud dengan limitasi bertingkat yaitu adanya Queue Parent dan Child Queue. Queue Parent merupakan
sebuah konfigurasi yang menyatakan total bandwidth real yang dimiliki, sedangkan untuk Child Queue
merupakan konfigurasi yang diterapkan untuk Client berdasarkan alamat IP Address Client. Pada Child
Queue juga terdapat konfigurasi untuk menentukan limit minimum dan limit maksimum untuk setiap Client.
Pada gambar 16 dan tabel 6 merupakan hasil dari pengujian limitasi bertingkat menggunakan metode
Simple Queue dengan kondisi satu client aktif, dua client aktif, dan tiga client aktif mendapatkan hasil
Throughput 0,52 Mbps; 0,23 Mbps; 0,17 Mbps. Berdasarkan standar throughput Telecommunications and
Internet Protocol Harmonization Over Networks (TIPHON), hasil tersebut mendapat kategori sangat baik.
Kemudian, untuk hasil Packet Loss mendapatkan 0,8%; 0,4%; 0,9%. Berdasarkan standar packet loss
TIPHON, hasil tersebut mendapat kategori baik.
Kata Kunci: QoS, Simple Queue, Mikrotik, Bandwidth, Limitasi Bertingkat
PENDAHULUAN Hal tersebut bukan hanya pada
Perkembangan teknologi pada saat perusahaan besar saja, melainkan setiap
ini, khususnya dalam bidang jaringan individu membutuhkan berbagai data
komputer telah berkembang dengan atau informasi yang terbaru melalui
pesat. Maka dari itu, manusia harus jaringan internet. Fenomena tersebut tak
melaksakan tugas dengan cepat dan tepat. terlepas dari bidang Information and
270
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
Communications Technology (ICT). Laboratorium Program Studi Teknik
Sebuah sistem yang telah menerapkan Informatika pada tahun 2019 oleh
bidang ICT, maka sistem tersebut akan Abdullah Nur’Ain S., Achmad Fuad,
terasa lebih canggih dan efisien dari pada Moh. Jamil bahwa dengan melakukan
sebuah sistem yang masih manual. perbandingan terhadap optimalisasi
Jaringan internet pun ikut manajemen bandwidth dengan metode
mengalami perkembangan yang cukup Simple Queue dan tanpa Simple Queue,
pesat seiring dengan perkembangan penulis telah berhasil mendapatkan
waktu, mulai dari media yang digunakan, parameter QOS yang lebih baik, yaitu
tingkat keamanannya, area cakupan, parameter QOS yang telah dilakukan
hingga kecepatan layanan data manajemen bandwidth dengan Simple
(Supendar & Handrianto, 2017). Pada Queue jauh lebih ideal yaitu dengan rata-
sebuah perusahaan, jumlah pengguna rata nilai QOS sebesar 286.646095
yang harus dilayani oleh jaringan dengan indeks 3,6 artinya berdasarkan
internet biasanya dapat mencapai standarisasi TIPHON, indeks tersebut
puluhan hingga ratusan host. Maka dari termasuk dalam kategori memuaskan (S.
itu, pemilihan sebuah perangkat Router Abdullah et al., 2019).
sangat penting untuk dapat menunjang Kemudian pada penelitian
pengguna dan manajemen bandwidth Bandwidth Management dengan Metode
pada perusahaan tersebut. Dalam hal ini Simple Queue Pada Stiper Sriwigama
untuk dapat mengoptimasi penggunaan Palembang pada tahun 2018 oleh
bandwidth, haruslah memilih metode Rahmat Novrianda D., bahwa pada
yang tepat untuk memanajemennya. penelitian ini bandwidth management
Pada suatu jaringan komputer harus dilakukan menggunakan prototype yang
memperkirakan dari aspek manajemen memanfaatkan USB modem dengan
jaringan, karena terkait dalam bandwidth 2,5 Mbps, serta dibagi kepada
kemampuannya untuk mengontrol, 5 AP (Access Point) dengan bandwidth
memonitoring serta merencanakan masing-masing AP adalah 512 Kbps
sistem dan jaringan itu sendiri (Effendi (Novrianda, 2018).
et al., 2018). Penggunaan metode sangat Kemudian pada tahun 2018 terdapat
penting untuk membagi sebuah penelitian dengan judul Penggunaan
bandwidth yang tersedia pada jaringan Metode Simple Queue Dalam
perusahaan. Untuk mengatasi Manajemen Bandwidth oleh Santoso
keterbatasan bandwidth pada perusahaan, Setiawan dan Mirza Maulana bahwa
metode tersebut dapat digunakan untuk dalam menggunakan metode Simple
mengatur dalam pemakaian bandwidth Queue memiliki manfaat yang sangat
agar dapat lebih efektif dalam berguna dalam menstabilkan koneksi
penggunaannya. Selain itu, metode internet pada tiap pengguna dalam suatu
Simple Queue dapat memanajemen perusahaan karena setiap pengguna
sebuah bandwidth agar tidak ada lagi mendapatkan hak bagian bandwidth
monopoli bandwidth dan tidak ada yang telah di limitasi oleh administrator
bandwidth yang terbuang atau tidak jaringan yang otomatis pengguna tidak
digunakan. perlu berebut untuk menggunakan
Berdasarkan Penelitian sebelumnya bandwidth. Selain itu metode Simple
tentang manajemen bandwidth yaitu Queue juga dapat di implementasikan
dengan judul Penerapan Metode Simple untuk mengontrol dan memproteksi pada
Queue Pada Manajemen Bandwith untuk setiap jaringan (Setiawan & Maulana,
Mengoptimalkan Bandwith di 2018).
271
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
Kemudian penelitian yang ENHAII MANDIRI 186 merupakan
dilakukan oleh Asep Wishnu dan Lembaga Penilaian Kesesuaian yang
Bambang Sugiantoro yaitu berdasarkan ditunjuk langsung oleh Kementerian
hasil pengukuran dan pengujian pada Pariwisata dan Terakreditasi oleh
penelitian yang telah dilakukan dapat Komite Akreditasi Nasional (KAN).
disimpulkan bahwa kinerja layanan Layanan pada PT. ENHAII MANDIRI
internet di SUKAnet WiFi di Fakultas 186 yaitu meliputi Lembaga Sertifikasi
Sains dan Teknologi UIN Sunan Usaha Pariwisata, Lembaga Sertifikasi
Kalijaga pada layanan streaming video Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah,
YouTube dengan menggunakan QoS, itu Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen,
bisa menyimpulkan bahwa kualitas Lembaga Sertifikasi Manajemen
kinerja layanan jaringan SUKAnet WiFi Organisasi Pendidikan, dan Lembaga
memiliki tingkat kualitas yang saat ini Pelatihan Manajemen.
belum maksimal mengacu pada standar Berdasarkan penelitian sebelumnya,
kualitas TIPHON karena ada dua metode Simple Queue dapat digunakan
parameter yang dikategorikan sebagai untuk mengatasi permasalahan dalam
buruk. Layanan itu perlu diperbaiki manajemen bandwidth, maka dari itu
untuk memenuhi kebutuhan layanan metode Simple Queue ini dapat
internet maksimal dengan lalu lintas diterapkan pada jaringan perusahaan PT.
pengguna yang tinggi (Wishnu & ENHAII MANDIRI 186 dan
Sugiantoro, 2018). dikembangkan dengan limitasi
Selanjutnya terdapat penelitian oleh bertingkat. Yang dimaksud dengan
Mhd Billy Sandi Saragih, dkk. Dengan limitasi bertingkat yaitu adanya Queue
mengatur bandwidth maka jaringan Parent dan Child Queue. Queue Parent
internet yang digunakan akan stabil. merupakan sebuah konfigurasi yang
Walaupun digunakan secara bersamaan, menyatakan total bandwidth real yang
namun tidak akan saling mempengaruhi dimiliki, sedangkan untuk Child Queue
karena bandwidth telah dibagi oleh merupakan konfigurasi yang diterapkan
setiap pengguna yang terkoneksi dengan untuk Client berdasarkan alamat IP
jaringan internet yang sama. Simple Address Client. Pada Child Queue juga
Queue adalah cara sederhana untuk terdapat konfigurasi untuk menentukan
membatasi Bandwidth berdasarkan limit minimum dan limit maksimum
Alamat IP Klien, baik Bandwidth untuk setiap Client.
Download atau Upload. Dari hasil speed
test dapat dilihat perbedaan sebelum dan METODE
sesudah dilakukan manajemen Dalam merancang sebuah jaringan
bandwidth pada pengguna, dengan max pada penelitian ini, penulis
download 1Mbps dan max upload 64k menggunakan metode NDLC (Network
(Saragih et al., 2020). Development Life Cycle) untuk tahap
Pada hakikatnya, perusahaan perancangan topologi jaringan. Yang
membutuhkan jaringan internet dengan mana metode NDLC yaitu sebuah
bandwidth yang besar dan mengatur pendekatan terhadap proses pertukaran
bandwidth tersebut agar banyak orang data yang berorientasi pada jaringan dan
dapat menggunakannya secara efektif setiap langkahnya tidak memiliki
(Amin & Indrajit, 2016). langkah awal dan tahapan akhir.
Studi kasus pada penelitian ini, yaitu Terdapat beberapa langkah-langkah
pada PT. ENHAII MANDIRI 186, yang pada metode NDLC yaitu analysis,
berlokasi di kota Bogor, Jawa Barat. PT. design, simulation prototyping,
272
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
implementation, monitoring, dan 4 HDD 500 GB RouterOS 5.20
management. Berikut ini merupakan 5 Winbox v5.2.0
gambar dari metode NDLC:
Pada penelitian ini, akan dianalisis
fitur manajemen bandwidth yang ada
pada router mikrotik. Setelah fitur
manajemen bandwidth tersebut
dikonfigurasi, kemudian akan dilakukan
pengukuran dengan beberapa parameter
Quality of Services (QoS).
B. Metode Simple Queue
Gambar 1. Metode NDLC
Manajemen bandwidth sangat
mudah dan efisien digunakan oleh
penyedia layanan internet apa pun
sehingga setiap pengguna mendapatkan
kecepatan dengan ukuran yang sama
tanpa mengganggu kecepatan pengguna
lain (Lesmana Siahaan et al., 2016).
Mengingat hal diatas, digunakan untuk
meningkatkan parameter QoS melalui
sistem operasi MikroTik RouterOS
(Mykola et al., 2018). Parameter QoS
yang mempengaruhi kinerja jaringan
adalah packet loss, delay, jitter dan
throughput (Sugeng et al., 2015).
A. Analisis Kebutuhan Sistem
Dalam penelitian ini, analisis
kebutuhan perangkat yang digunakan
untuk menjalankan simulasi ini yaitu:
1) Kebuthan Software: Windows 10,
GNS3 2.2.5, Oracle VM VirtualBox
6.1, RouterOS 5.20, Winbox 5.2.0.
2) Kebutuhan Hardware: Processor Gambar 2. Flowchart Metode Simple Queue
Core i3 2,4 Ghz., RAM 10 GB
DDR3 Low Voltage, SSD 250 GB, Simple Queue adalah metode untuk
HDD 500 GB membatasi bandwidth dengan sederhana
berdasarkan kecepatan data. Simple
Tabel 1. Analisa Kebutuhan Sistem Queue merupakan salah satu cara dalam
No Hardware Software manajemen bandwidth untuk diterapkan
1 Processor Core i3 Windows 10
2,4 Ghz.
pada jaringan skala kecil sampai skala
2 RAM 10 GB GNS3 v2.2.5 menengah agar dapat mengatur
DDR3 Low pemakaian bandwidth download dan
Voltage upload setiap pengguna. Keunggulan
3 SSD 250 GB Oracle VM metode Simple Queue yaitu dapat
VirtualBox v6.1
273
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
membatasi kecepatan pada peer to peer Tabel 3. Kategori Packet Loss Berdasarkan
connection, seperti dapat membatasi TIPHON
Kategori Degradasi Packet Loss
kecepatan data pada aplikasi Internet Sangat Baik 0%
Download Manager (IDM). Baik 3%
Pada bagian ini, metode Simple Sedang 15 %
Queue dapat diimplementasikan dan Buruk 25 %
dikembangkan dengan limitasi
bertingkat. Yang dimaksud dengan D. Konfigurasi Perangkat Jaringan
limitasi bertingkat yaitu adanya Queue Penerapan konfigurasi pada
Parent dan Child Queue. Queue Parent perangkat jaringan yang terdapat pada
merupakan sebuah konfigurasi yang topologi yaitu pada Router Mikrotik
menyatakan total bandwidth real yang akan menggunakan metode Simple
dimiliki, sedangkan untuk Child Queue Queue sebagai limitasi bandwidth,
merupakan konfigurasi yang diterapkan DHCP Client, static IP Address, DNS,
untuk Client berdasarkan alamat IP dan NAT Masquerade agar Router dan
Address Client. Pada Child Queue juga client terhubung ke internet dan untuk
terdapat konfigurasi untuk menentukan seluruh PC Client menggunakan static IP
limit minimum dan limit maksimum Address. Setelah sistem tersebut
untuk setiap Client. dirancang dan dikonfigurasi, kemudian
akan dilakukan pengujian terhadap
C. Parameter Quality of Service konfigurasi sistem tersebut berdasarkan
Quality of Services (QoS) parameter Quality of Services (QoS).
merupakan parameter atau standar yang
digunakan dalam manajemen bandwidth E. Pengujian Limitasi Bertingkat
dan dalam penerapannya penulis Penulis melakukan uji coba
menggunakan metode Simple Queue. konfigurasi Simple Queue ini dengan
Parameter Quality of Services pada cara menguji Throughput dan Packet
sebuah jaringan yaitu seperti Throughput, Loss pada client dengan kondisi
Packet Loss, Jitter, dan Delay. perbandingan client yang aktif
1) Throughput menggunakan bandwidth.
Throughput adalah kecepatan pada
suatu transfer data yang efektif dalam HASIL DAN PEMBAHASAN
satuan bps. Throughput merupakan
jumlah total kedatangan paket data yang
sukses pada tujuan selama rentang waktu
tertentu.
Tabel 2. Kategori Throughput Berdasarkan
TIPHON
Kategori Degradasi Throughput (bps)
Sangat Baik >100
Baik 75
Sedang 50
Buruk <25
2) Packet Loss
Packet Loss yaitu sebuah parameter
yang menggambarkan suatu kondisi
dengan menunjukkan banyaknya jumlah
total paket data yang hilang. Gambar 3. Rancangan Topologi Jaringan
274
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
Penulis membuat konsep desain Pada gambar 4 merupakan
topologi jaringan yaitu menggunakan konfigurasi IP Address pada interface
topologi star. Ciri dari topologi star Router. Terdapat tiga buah interface
yaitu terdapat switch core (terpusat) yang digunakan untuk konfigurasi IP
yang menghubungkan gateway dengan Address, yaitu interface ether 1, ether 2,
jaringan LAN. Pada desain topologi dan ether 3. Ether 1 merupakan interface
tersebut terdapat dua switch core yaitu yang terhubung ke jaringan internet
switch 1 dan switch 4. Switch 1 berfungsi (WAN) yang mana konfigurasi pada
sebagai penghubung jaringan pada ether 1 menggunakan DHCP Client
gedung 1 dengan gateway, sedangkan untuk mendapatkan IP Address dari
switch 4 menghubungkan antara jaringan Internet Service Provider (ISP).
gedung 2 dengan gateway. Pada Kemudian pada interface ether 2 dan
perancangan topologi jaringan Gambar 3 ether 3 merupakan interface yang
terdiri dari 1 Router, 4 Switch, dan 16 terhubung ke jaringan lokal (LAN), yang
PC. mana ether 2 terhubung ke jaringan lokal
Tabel 4. Daftar Perangkat Jaringan gedung 1, dan ether 3 terhubung ke
No Jenis Media Transmisi jaringan lokal gedung 2. Konfigurasi
Perangkat
1 Router Mikrotik Wired (UTP
yang digunakan pada ether 2 dan ether 3
(Gateway) Straight) yaitu menggunakan Static IP Address.
2 LAN Switch Wired (UTP cross-
over and Straight)
3 PC Client Wired (UTP
Straight)
Tabel 5. IP Address Router
Interface IP Address Metode
Ether 1 [Link]/24 DHCP
Client
Ether 2 [Link] /24 Static IP
Address
Ether 3 [Link] /24 Static IP
Address Gambar 5. Konfigurasi DHCP Client
Pada gambar 5 menunjukkan
A. Konfigurasi IP Address Router konfigurasi DHCP Client untuk
interface ether 1, yang mana ether 1
merupakan interface yang terhubung ke
jaringan internet (WAN). Dalam gambar
tersebut terdapat beberapa konfigurasi
seperti Use Peer DNS, Add Default
Route, IP Address yang mana semua itu
didapatkan secara otomatis dari Internet
Service Provider (ISP). Kemudian
konfigurasi tersebut akan berakhir pada
7 hari kedepan dan akan diperbarui
otomatis setelah 7 hari.
Gambar 4. Konfigurasi IP Address Router
275
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
Gambar 6. Konfigurasi DNS
Pada gambar 6 yaitu konfigurasi Gambar 8. Konfigurasi Simple Queue Total
Domain Name System (DNS) pada Bandwidth
Router. Pada konfigurasi tersebut Pada gambar 8 merupakan konfigurasi
menggunakan Dynamic Server yang Simple Queue Total Bandwidth (Queue
didapatkan dari Internet Service Parent) yang bertujuan untuk
Provider (ISP). Terlihat dalam gambar mendefinisikan total bandwidth real
tersebut terdapat beberapa konfigurasi yang dimiliki dengan menentukan
lainnya seperti Allow Remote Requests, Target Upload Max Limit dan Target
Max UDP Packet Size, Cache Size yang Download Max Limit. Pada penelitian
keduanya secara default mengisi kolom ini, total bandwidth yang digunakan
tersebut. sebesar 512 kbps untuk Target Upload
Max Limit dan 512 kbps untuk Target
Download Max Limit.
Gambar 7. Konfigurasi Firewall NAT
Dalam gambar 7 merupakan
konfigurasi Firewall NAT dengan action
Masquerade yang berfungsi untuk Gambar 9. Konfigurasi Simple Queue Client
menerjemahkan jaringan lokal agar Pada gambar 9 yaitu merupakan
terhubung ke internet. Kemudian konfigurasi Simple Queue untuk client
terdapat juga konfigurasi Chain yaitu (Child Queue) yang berfungsi sebagai
srcnat atau Source NAT. Selanjutnya limitasi bandwidth dengan menentukan
yaitu Dst Address merupakan tujuan target Address client. Dalam gambar
destinasi dari paket data dengan IP tersebut merupakan konfigurasi untuk
Address [Link]/0 yang berarti Client 1 dengan Target Address yaitu
mengarahkan pada jaringan internet [Link] atau IP Address pada PC
dengan melewati Out Interface ether1 Client 1. Kemudian terdapat juga Target
untuk melewatkan atau sebagai gateway Upload Max Limit dan Target Download
untuk paket data. Max Limit yang masing-masing sebesar
B. Konfigurasi Simple Queue 512 kbps sebagai batas upload dan
download untuk Client 1.
276
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
D. Pengujian Limitasi Bertingkat
Menggunakan Metode Simple Queue
1) Kondisi Satu Client Aktif
Gambar 10. Konfigurasi Simple Queue Client
Pada gambar 10 merupakan
konfigurasi advanced pada Simple
Queue client yang berfungsi untuk
menentukan limit at dan Parent. Pada
tahapan ini, terdapat konfigurasi
diantaranya Target Upload Limit At dan
Target Download Limit At yang masing- Gambar 12. Hasil Throughput Satu Client
masing sebesar 128 kbps sebagai Aktif
bandwidth minimum yang diapatkan Gambar diatas merupakan hasil
Client 1. Selanjutnya yaitu terdapat Throughput ketika kondisi hanya satu
konfigurasi Parent yang akan client yang aktif menggunakan
menentukan limitasi bertingkat tersebut. bandwidth. Maka client tersebut bisa
Konfigurasi Parent ini diarahkan pada mendapatkan hingga max limit.
Total Bandwidth sebagai bandwidth real 2) Kondisi Dua Client Aktif
yang sebelumnya telah dibuat untuk
menjalankan limitasi bertingkat.
C. Konfigurasi IP Address Client
Gambar 13. Hasil Throughput Dua Client
Aktif
Gambar 11. Konfigurasi IP Address Client Gambar 13 yaitu kondisi
Pada gambar diatas menunjukkan Throughput ketika terdapat dua client
konfigurasi IP Address, subnet mask, yang aktif menggunakan bandwidth.
gateway, dan DNS Server agar Cara kerjanya yaitu Router akan
terhubung dengan komputer lain dan memberikan limit-at semua client
jaringan internet. terlebih dahulu, kemudian sisa
bandwidth dibagi rata ke kedua client.
277
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
3) Kondisi Tiga Client Aktif 3) Pengujian Packet Loss dengan
kondisi 3 client aktif
menggunakan speedtest.
F. Hasil Pengujian
Gambar 15. Grafik Hasil Pengujian
Gambar 14. Hasil Throughput Tiga Client
Aktif Tabel 6. Data Hasil Pengujian
Client Throughput Packet Data
Pada gambar 14 merupakan hasil Aktif Loss Used
Throughput ketika terdapat tiga client 1 0,52 Mbps 0,8 % 0,7 MB
2 0,23 Mbps 0,4 % 0,3 MB
yang aktif menggunakan bandwidth. 3 0,17 Mbps 0,9 % 0,3 MB
Cara kerjanya yaitu sama seperti Pada gambar 15 dan tabel 6
sebelumnya, Router akan memberikan merupakan hasil dari pengujian limitasi
limit-at semua client terlebih dahulu, bertingkat menggunakan metode Simple
kemudian sisa bandwidth dibagi rata ke Queue dengan kondisi satu client aktif,
ketiga client. dua client aktif, dan tiga client aktif
E. Sekenario Pengujian mendapatkan hasil Throughput 0,52
Skenario pengujian peforma jaringan Mbps; 0,23 Mbps; 0,17 Mbps.
dengan limitasi bertingkat menggunakan Berdasarkan standar throughput
metode Simple Queue yaitu: Telecommunications and Internet
1) Pengujian Throughput Protocol Harmonization Over Networks
1) Pengujian Throughput dengan (TIPHON), hasil tersebut mendapat
kondisi 1 client aktif kategori sangat baik. Kemudian, untuk
menggunakan speedtest. hasil Packet Loss mendapatkan 0,8%;
2) Pengujian Throughput dengan 0,4%; 0,9%. Berdasarkan standar packet
kondisi 2 client aktif loss TIPHON, hasil tersebut mendapat
menggunakan speedtest. kategori baik.
3) Pengujian Throughput dengan
kondisi 3 client aktif SIMPULAN
menggunakan speedtest. Berdasarkan proses limitasi
2) Pengujian Packet Loss bertingkat menggunakan metode Simple
1) Pengujian Packet Loss dengan Queue terdapat beberapa poin penting,
kondisi 1 client aktif antara lain:
menggunakan speedtest. 1) Limitasi bertingkat menggunakan
2) Pengujian Packet Loss dengan metode Simple Queue dapat
kondisi 2 client aktif berfungsi dengan baik sebagai
menggunakan speedtest. manajemen bandwidth
menggunakan Router Mikrotik.
278
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
2) Konfigurasi yang dibutuhkan yaitu Engineering Trends and
metode Simple Queue sebagai Technology, 42(5), 218–222.
limitasi bandwidth, DHCP Client, [Link]
static IP Address, DNS, dan NAT ijett-v42p243
Masquerade. Mykola, G., Natalia, S., Oleksandr, L.,
3) Agar dapat menerapkan limitasi Václav, D., Jirí, Č., & Miroslav, L.
bertingkat menggunakan metode (2018). Double QoS
Simple Queue, harus menentukan Implementation in the Network
limit at dan Parent sebagai total Bandwidth Adjustment Task.
bandwidth. International Journal of Intelligent
4) Hasil dari pengujian limitasi Engineering and Systems, 11(1),
bertingkat menggunakan metode 20–29.
Simple Queue dengan kondisi satu [Link]
client aktif, dua client aktif, dan tiga 0228.03
client aktif mendapatkan hasil Novrianda, R. (2018). Bandwidth
Throughput 0,52 Mbps; 0,23 Mbps; Management Dengan Metode
0,17 Mbps. Berdasarkan standar Simple Queue Pada Stiper
TIPHON, hasil tersebut mendapat Sriwigama Palembang. Seminar
kategori sangat baik. Nasional Sistem Informasi
5) Hasil Packet Loss mendapatkan Indonesia, November.
0,8%; 0,4%; 0,9%. Berdasarkan S. Abdullah, N., Fuad, A., & Jamil, M.
standar packet loss TIPHON, hasil (2019). Penerapan Metode Simple
tersebut mendapat kategori baik. Queue Pada Manajemen Bandwith
untuk mengoptimalkan Bandwith
DAFTAR PUSTAKA Di Laboratorium Program Studi
Teknik Informatika. JIKO (Jurnal
Amin, R. A. A., & Indrajit, R. E. (2016). Informatika Dan Komputer), 2(1),
Analysis of effectiveness of using 6–13.
simple queue with per connection [Link]
queue (PCQ) in the bandwidth 1042
management (a case study at the Saragih, M. B. S., Gunawan, I., Kirana,
academy of information I. O., Sumarno, S., & Qurniawan,
management and computer H. (2020). Mikrotik Hotspot
Mataram (Amikom) Mataram). Network Implementation Using
Journal of Theoretical and Applied Simple Queue As Bandwidth
Information Technology, 83(3), Management: Mikrotik Hotspot
319–326. Network Implementation Using
Effendi, L., Nitra, R. O., & Fakhriza, M. Simple Queue As Bandwidth
H. (2018). Implementasi Management. Jurnal Mantik, 3(4),
Management QOS Bandwidth 758-765. Retrieved from
Untuk CCTV Menggunakan Metode [Link]
Simple Queue Pada BSI Cibitung. [Link]/mantik/article/view/729
5(6), 563–568. Setiawan, S., & Maulana, M. (2018).
Lesmana Siahaan, M. D., Sari Panjaitan, Penggunaan Metode Simple Queue
M., & Utama Siahaan, A. P. (2016). Dalam Manajemen Bandwidth.
MikroTik Bandwidth Management Jurnal Teknologi Informatika &
to Gain the Users Prosperity KomputerKomputer, 4(2), 60–63.
Prevalent. International Journal of Sugeng, W., Istiyanto, J. E., Mustofa, K.,
279
2020. Journal of Information Technology and Computer Science (INTECOMS) 3(2): 270-280
& Ashari, A. (2015). The Impact of
QoS Changes towards Network
Performance. International Jurnal
of Computer Networks and
Communications Security, 3(2),
48–53.
[Link]
lume3/issue2/p5_3-[Link]
Supendar, H., & Handrianto, Y. (2017).
Simple Queue dalam
Menyelesaikan Masalah
Manajemen Bandwidth pada
Mikrotik Bridge. Bina Insani ICT
Journal, 4(1), 21–30.
Wishnu, A., & Sugiantoro, B. (2018).
Streaming Video Service in
Wireless Network in Faculty of
Science and Technology UIN
Sunan Kalijaga. International
Journal on Informatics for
Development, 7(2), 74–79.
280