0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan15 halaman

Biaya Kamar Kelas I RSUD Wonogiri

Penelitian ini menganalisis biaya rata-rata rumah sakit terhadap pasien rawat inap kelas 1 dan kaitannya dengan Standar Pelayanan Minimal. Tujuannya adalah mengetahui biaya rata-rata yang dikeluarkan rumah sakit berdasarkan metode variable costing. Hasilnya menunjukkan biaya rata-rata per kamar per hari pasien kelas 1 adalah Rp440.777, sedangkan tarifnya Rp420.000 sesuai peraturan daerah. Tar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan15 halaman

Biaya Kamar Kelas I RSUD Wonogiri

Penelitian ini menganalisis biaya rata-rata rumah sakit terhadap pasien rawat inap kelas 1 dan kaitannya dengan Standar Pelayanan Minimal. Tujuannya adalah mengetahui biaya rata-rata yang dikeluarkan rumah sakit berdasarkan metode variable costing. Hasilnya menunjukkan biaya rata-rata per kamar per hari pasien kelas 1 adalah Rp440.777, sedangkan tarifnya Rp420.000 sesuai peraturan daerah. Tar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS BIAYA RATA-RATA RUMAH SAKIT TERHADAP PASIEN RAWAT

INAP KELAS I DAN KAITANNYA DENGAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL


(SPM) PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SOEDIRAN MANGUN
SUMARSO KABUPATEN WONOGIRI
Widayati
NIM. 16.01.0062
Program Studi Akuntansi
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Swastamandiri Surakarta
Jl. Tejonoto No.1, Danukusuman, Serengan, Surakarta, Jawa Tengah 57156
Abstrak
Penelitian ini dilalukan di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri
dengan obyek penelitian biaya-biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit pada pasien rawat
inap kelas 1 RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri tahun 2018. Jenis
penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data dokumentasi dan
observasi, teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.
Standar pelayanan minimal kesehatan merupakan standar pelayanan publik untuk
menjamin pelayanan kesehatan minimum yang berhak diperoleh masyarakat dari Pemerintah,
salah satunya lewat RSUD. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui biaya rata-rata yang
dikeluarkan rumah sakit pada pasien rawat inap kelas 1 berdasarkan metode variable costing
dengan tarif yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Daerah.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perhitungan biaya rata-rata berdasarkan variable
costing maka harga pokok kamar perhari perorang Rawat Inap Kelas I RSUD dr. Soediran
Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri adalah sebesar Rp Rp 440,777,- sedangkan tarif
Kelas I yang berlaku di rumah sakit sesuai dengan Perbub No.13 Tahun 2018 yaitu sebesar
Rp. 420.000,-. Jadi pola tarif yang ditetapkan oleh Pemerintah sudah relevan dengan kondisi
sekarang, bila dikaitkan dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Kata Kunci : Biaya Rata - Rata, Harga Pokok Kamar, RSUD
Abstract
The location of this research is RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri
Regency with the object of research is the the costs incurred by the hospital in hospitalized
patients grade 1 RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Regency in 2018. This type
of research is quantitative descriptive The data collected with the documentation and
observation, The analysis technique used in this research is quantitative descriptive.
Minimum health service standards is a standard of public service to guarantee
minimum health services entitled to be obtained public from government one of them through
the RSUD. The purpose of this study to find out the average cost released by the hospital in
hospitalized patients class 1 based on the variable costing method with rates set by Local
Government Regulations.
The analysis shows that according to the calculation of the average cost based on
variable costing, the basic price per room per day class 1 inpatient RSUD dr. Soediran
Mangun Sumarso Wonogiri Regency is IDR 440,777.- while the Class I tariff that applies in
hospitals is in accordance with Regent Regulation No.13 of 2018 is IDR 420,000.- So the
tariff patterns set by the Government are already relevant to current conditions, when
associated with Minimum Service Standards.
Keywords : Average Cost, Basic Room Price, RSUD
I. PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan tempat untuk memberikan pelayanan medik jangka pendek
dan jangka panjang yang meliputi kegiatan observasi, diagnostik, terapeutik dan rehabilitasi
bagi semua orang yang menderita sakit atau luka serta bagi mereka yang melahirkan dan juga
pelayanan rawat jalan bagi yang membutuhkan sesuai dengan penyakit yang dideritanya
(Soedarto, 2011). Masih menurut Soedarto, (2011) sekarang ini rumah sakit tidak saja
berfungsi sebagai tempat untuk pengobatan penyakit dan luka-luka, tetapi telah berkembang
ke arah kesatuan upaya pelayanan untuk seluruh masyarakat yang menyangkut aspek
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Rumah sakit bukan hanya sebuah tempat, tetapi
juga sebuah fasilitas, sebuah institusi dan sebuah organisasi. Oleh karena itu, rumah sakit
merupakan lembaga yang padat modal, padat karya, padat teknologi dan padat masalah yang
dihadapinya.
Arti pentingnya rumah sakit diatur dalam UU RI No. 44 Tahun 2009 dimana
disebutkan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap,
rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit tidak hanya berfungsi untuk memberikan
pelayanan medis tetapi juga menyelenggarakan kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan,
pelayanan penunjang medis dan nonmedis, pelayanan kesehatan kemasyarakatan, rujukan,
pendidikan, penelitian, pengembangan, administrasi umum dan keuangan.
Rumah sakit milik pemerintah, yang lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Umum,
mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh
masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tugas rumah sakit
umum adalah melaksanakan upaya pelayanankesehatan secara berdaya guna dan berhasil
guna dengan mengutamakan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi
dan terpadu dengan peningkatan dan pencegahan serta pelaksanaan upaya rujukan. Untuk
mencapai misi tersebut, rumah sakit perlu menyediakan berbagai macam fasilitas seperti alat-
alat kesehatan yang modern, tenaga ahli, kamar rawat inap pasien yang higienis, makanan
yang bergizi, obat-obatan, dan barbagai fasilitas penunjang lainnya.
Bentuk pelayanan optimal rumah sakit dapat ditentukan melalui indikator Standar
Pelayanan Minimal (SPM). SPM bidang kesehatan telah diatur dalam format standar SPM
memuat 3 materi pokok yaitu, rincian kewenangan, jenis pelayanan, dan indikator pencapaian
atau penyelesaian dan aktivitas pelayanan kesehatan yang dilakukan. Standar pelayanan
minimal kesehatan merupakan standar pelayanan publik untuk menjamin minimum
pelayanan kesehatan yang berhak diperoleh masyarakat dari Pemerintah, salah satunya lewat
Rumah Sakit Umum Daerah.
Dalam memberikan pelayanan, rumah sakit menetapkan suatu tarif tertentu. Besar
tarif biasanya akan berbanding lurus dengan tingkat pelayanan yang diberikan. Tarif rumah
sakit sendiri telah ditetapkan oleh pemerintah yang tertuang dalam SK Menteri Kesehatan
atau Peraturan Daerah. Adanya otonomi daerah memberikan wewenang bagi pemerintah
daerah untuk menetapkan standar rumah sakit umum di daerah tersebut. Penggunaan
akuntansi sektor publik diperlukan untuk mengetahui tarif yang seharusnya diberikan kepada
masyarakat atas jasa yang mereka terima sehingga dapat menutupi pengeluaran. Rumah sakit
mempunyai beberapa sumber pendapatan. Dan pendapatan terbesar rumah sakit berasal dari
pelayanan rawat inapnya.
Bila ditinjau dari tahun ke tahun, pendapatan Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soediran
Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri mengalami peningkatan, dimana tarif yang digunakan
tetap sama yaitu tarif yang berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri No.1 Tahun
2012 Tentang Retribusi Jasa Umum Di Kabupaten Wonogiri. Melihat kecenderungan
tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pola tarif pelayanan rumah sakit sudah tidak relevan
lagi dengan kondisi sekarang, dimana harga kebutuhan alat dan bahan kesehatan serta bahan-
bahan untuk kebutuhan operasional rumah sakit terus meningkat sementara tarif pelayanan
tetap menggunakan tarif berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri No.1 Tahun
2012. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pendapatan rumah sakit perlu diadakan
penyesuaian tarif pelayanan rumah sakit yang rasional berdasarkan hasil perhitungan unit
cost rumah sakit.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka permasalahan pokok yang dapat
dirumuskan dalam penelitian ini adalah Berapakah seharusnya tarif yang dibebankan pada
pasien rawat inap kelas I berdasarkan biaya rata-rata berdasarkan variabel costing Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri bila dikaitkan
dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM)?
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui biaya rata-
rata yang dikeluarkan rumah sakit pada pasien rawat inap kelas I berdasarkan metode
variable costing dengan tarif yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah daerah.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Pengertian Biaya
Menurut Mulyadi (2015:8) “Pengertian biaya dalam arti luas biaya adalah
pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau
kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Ada 4 unsur pokok dalam definisi biaya
tersebut :
1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi
2. Diukur dalam satuan uang,
3. Yang telah terjadi atau yang scara potensial akan terjadi,
4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.”
Menurut Horngren dalam Kautsar (2016:28) menyatakan bahwa biaya (cost)
didefinisikan sebagai sumber daya yang dikorbankan (sacrified) atau dilepaskan (forgone)
untuk mencapai tujuan tertentu.” Sedangkan pengertian biaya menurut Kieso (2011:10),
yaitu: “Cost is the value exchange at the time somethingis acquired” artinya biaya adalah
pertukaran nilai saat diperoleh sesuatu.
Menurut Sujarweni (2015:9) biaya mempunyai dua pengertian yaitu secara luas dan
secara sempit, mendefinisikan biaya sebagai berikut : Biaya dalam arti luas adalah
pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang dalam usahanya untuk
mendapatkan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu baik yang sudah terjadi dan belum
terjadi/baru direncanakan. Sedangkan biaya dalam arti sempit adalah pengorbanan sumber
ekonomi dalam satuan uang untuk memperoleh aktiva. Sedangkan Menurut Farid (2016:28)
mendefinisikan biaya adalah adalah kas atau nilai equivalen kas yang dikorbankan untuk
mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau dimasa
mendatang bagi organisasi.”

Klasifikasi Biaya
Menurut Firdaus (2012:23) biaya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Objek biaya
Berdasarkan objek biaya (cost object) merupakan suatu dasar yang digunakan
untuk melakukan perhitungan biaya. Oleh Karen itu, dalam sebuah perusahaan terdapat
banyak hal yang dijadikan sebagai objek biaya di antaranya adalah objek biaya
berdasarkan : a) Produk, b) Jasa, c) Proyek, d) Konsumen, e) Merek, f) Aktivitas, g)
Departemen. Mengingat begitu banyaknya objek biaya yang dapat digunakan oleh
perusahaan, namun yang paling umum dilakukan perusahaan adalah berdasarkan produk,
departemen, dan aktivitas. Berikut ini akan diuraikan klasifikasi biaya berdasarkan
produk dan departemen, sedangkan untuk aktivitas akan dibahas pada bagian activity
based costing.
a. Produk
Berdasarkan Produk, Kegiatan manufaktur merupakan proses transformasi atas
bahan- bahan menjadi barang dengan menggunakan tenaga kerja dan fasilitas pabrik.
Biaya –biaya yang terjadi sehubungan dengan kegiatan manufaktur ini disebut biaya
produksi (production cost or manufacturing cost). Biaya ini diklasifikasikan dalam
tiga elemen utama sehubungan dengan produk yang dihasilkan, yaitu : bahan
langsung (direct material), tenaga kerja langsung (direct labor), dan overhead pabrik
(factory overhead). Pengklasifikasian seperti ini diperlukan untuk tujuan pengukuran
laba dan penentuan harga pokok produk yang akurat atau tepat serta pengendalian
biaya.
b. Departemen, dan lain-lain
Pengelempokan biaya dapat membantu manajemen dalam menentukan harga pokok
produk yang lebih tepat, dan pada ahirnya dapat mengukur laba yang layak.
Disamping itu juga berguna dalam mengendalikan biaya pabrik, terutama biaya
overhead pabrik.
2. Prilaku biaya
Ditinjau dari perilaku biaya terhadap perubahan dalam tingkat kegiatan atau
volume maka biaya-biaya dapat dikategorikan dalam tiga jenis biaya, yaitu: Biaya
variabel (variabel cost), biaya tetap (fixed cost), dan biaya semi variabel (semi variable
cost),agar dapat memudahkan manajemen dalam menyusun perencanaan atau anggaran
operasi dan mengendalikan biaya dengan baik maka untuk maksud tersebut biaya semi
variabel harus dipecah menjadi unsur variabel dan unsure tetap, kemudian digabungkan
kepada biaya variable atau biaya tetap. Dengan demikian hanya terdapat dua jenis dari
biaya, yaitu: biaya variabel dan biaya tetap.
3. Periode akuntansi
Dalam pengklasifikasikan biaya sehubungan dengan periode akuntansi, biaya-biaya
dibedakan berdasarkan waktu atau kapan biaya-biaya tersebut dibebankan terhadap
pendapatan (revenue). Pengklasifikasian seperti ini berguna bagi menajemen dalam
membandingkan beban-beban (expense) dengan pendapatan (revenue) secara layak dalam
rangka penyusunan laporan keuangan .
a. Biaya produk
Dalam perusahaan manufaktur, biaya ini sama dengan biaya produksi yaitu
bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Biaya-biaya pada
saat terjadinya dicatat dan da alokasikan sebgai persediaan, tetap apabila terjadi
penjualan atas persediaan atau produk, maka biaya dari persediaan akan menjadi
“harga/beban pokok penjualan” yang akan dibandingkan dengan pendapatan yang
terlealisir dari penjualan tersebut.
b. Biaya periode
Biaya-biaya yang tidak berkaitan dengan persediaan atau produk tetapi
berhubungan dengan periode waktu atau periode akuntansi . biaya periode ini bisa
bermanfaat untuk memperoleh pendapatan dalam beberapa periode akuntansi dan ada
juga yang member manfaat hanya untuk periode akuntansi yang berjalan. Contoh
biaya ini adalah biaya pemasaran dan biaya administrasi.
4. Fungsi manajemen atau jenis kegiatan fungsional
Menurut fungsi manajemen atau jenis kegiatan fungsional, Pengklasifikasian biaya
menurut jenis dari kegiatan fungsional bertujusn untuk membantu manajemen dalam
perencanaan, analisis, dan pengendalian biaya atas dasar fungsi-fungsi yang ada dalam
suatu organisai perusahaan.
Anggaran operasi disusun untuk setiap fungsi, dan selanjutkan dibandingkan
dengan biaya yang sesungguhnya terjadi dan juga dihimpun menurut fungsi-fungsi
tersebut. Penyimpangan yang terjadi akan di analisi oleh manajemen untuk melakukan
tindakan –tindakan perbaikan atas penyimpangan yang tidak wajar. Berdasarkan pada
jenis kegiatan fungsional maka biaya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Biaya produksi, biaya biaya terjadi untuk mengahasilkan produk hingga siap untuk
dijual.
b. Biaya penjualan, biaya biaya yang terjadi untuk menjual suatu produk atau jasa
c. Biaya umum/administrasi, biaya-biaya yang terjadi untuk memimpin, mengendalikan,
dan menjalankan suatu perusahaan.”

Pengertian Laporan Keuangan


Munawir (2004), menyebutkan bahwa “laporan keuangan adalah hasil dua daftar yang
disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan Kedua daftar itu adalah
daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi laba”.
Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76 / PMK.05 Tahun 2008 Tentang
Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum, Laporan Keuangan
adalah bentuk pertanggungjawaban BLUD berupa Laporan Realisasi Anggaran/Laporan
Operasional, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Ikatan Akuntansi Indonesia (2012:9) menyatakan bahwa unsur yang berkaitan secara
langsung dengan posisi keuangan adalah aset, kewajiban dan ekuitas. Masing-masing unsur
tersebut dapat diuraikan sabagai berikut :
1. Aset (Assets)
2. Kewajiban (Liabilities)
3. Ekuitas

Biaya dan Hubungannya Dengan Volume


Menurut Carter (2002:43) biaya dalam hubungannya dengan volume dibagi atas :
1. Biaya Tetap
Bersifat konstan secara total dalam rentang yang relevan. Dengan kata lain, biaya
tetap per unit semakin kecil seiring dengan meningkatnya aktivitas dalam rentang yang
relevan. Tanggung jawab pengendalian untuk biaya tetap biasanya berada pada tingkat
manajemen menengah atau manajemen eksekutif dibandingkan dengan supervisor
operasi.
2. Biaya Variabel
Jumlah total biaya variabel berubah secara proporsional terhadap perubahan
aktivitas dalam rentang yang relevan. Dengan kata lain, biaya variabel menunjukkan
jumlah per unit yang relatif konstan dengan berubahnya aktivitas dalam rentang yang
relevan. Biasanya biaya variabel dapat dibebankan ke supervisor pada tingkat operasi
tertentu. Biaya variabel biasanya memasukkan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung.
3. Biaya Semivariabel
Beberapa jenis biaya memiliki elemen biaya tetap dan biaya variabel. Jenis biaya
ini disebut biaya semivariabel. Misalnya, biaya listrik biasanya adalah biaya
semivariabel. Listrik yang digunakan untuk pencahayaan cenderung menjadi biaya tetap
karena cahaya tetap diperlukan tanpa mempedulikan tingkat aktivitas, sementara listrik
yang digunakan sebagai tenaga untuk mengoperasikan peralatan akan bervariasi
bergantung pada penggunaan peralatan
Pembebanan Biaya
1. Full Costing
Menurut Samryn (2001:63), pendekatan full costing yang biasa juga disebut
sebagai pendekatan tradisional menghasilkan laporan laba rugi dimana biaya-biaya
diorganisir dan disajikan berdasarkan fungsi-fungsi produksi, administrasi, dan
penjualan.
2. Variabel Costing
Variabel costing menurut Samryn (2001:64) adalah suatu format laporan laba
rugi yang mengelompokkan biaya dimana biaya-biaya dipisahkan menurut kategori
biaya variabel dan biaya tetap dan tdak dipisahkan menurut fungsi-fungsi produksi,
administrasi, dan penjualan. Pendekatan ini juga dikenal dengan istilah direct costing
approach.
Menurut Prawironegoro (2009: 233) Variabel Costing adalah pengorbanan
sumber daya untuk menghasilkan barang atau jasa dimana hanya diperhitungkan biaya
variabel saja, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead pabrik variabel. Rumusnya yaitu :
VC = FC / Q (1)
Keterangan :
VC = Variabel costing
FC = Full costing
Q = Jumlah barang/produk

Definisi Rumah Sakit


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit, bahwa pengertian Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Menurut Muninjaya, (2004) rumah sakit merupakan suatu tempat yang
menyelenggarakan dua jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan
pelayanan administrasi. Sedangkan menurut Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri Nomor 5
Tahun 2018 Tentang Sistem Kesehatan Daerah, Rumah Sakit yang selanjutnya disingkat RS
adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat.

Pelayanan Rawat Inap


Patria Jati, 2009 berpendapat bahwa Rawat inap adalah pemeliharaan kesehatan
rumah sakit dimana penderita tinggal mondok sedikitnya satu hari berdasarkan rujukan dari
pelaksanaan pelayanan kesehatan atau rumah sakit pelaksanaan pelayanan kesehatan lain.
Rawat inap menurut Crosby dalam Nasution (2010) adalah kegiatan penderita yang
berkelanjutan ke rumah sakit untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berlangsung lebih
dari 24 jam. Secara khusus pelayanan rawat inap ditujukan untuk penderita atau pasien yang
memerlukan asuhan keperawatan secara terus menerus (Continous Nursing Care) hingga
terjadi penyembuhan. Sedangkan menurut Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri No. 01
Tahun 2012 Tentang Retribusi Jasa Umum Di Kabupaten Wonogiri, Pelayanan Rawat Inap
adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, perawatan, diagnosis, pengobatan,
rehabilitasi medik dan atau kesehatan lainnya dengan menempati tempat tidur. Pelayanan
kesehatan rawat inap, terdiri atas (a) Perawatan kelas III; dan (b) Perawatan kelas II.
Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit (SPM)
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 tentang penyusunan
Standar Pelayanan Minimal BAB 1 ayat (6) menyatakan Standar Pelayanan Minimal yang
selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang
merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga Negara secara minimal.
Ayat (7) Indikator SPM adalah tolak ukur untuk prestasi kuantitatif dan kualitatif yang
digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi dalam pencapaian
suatu SPM tertentu, berupa masukan, proses, hasil, dan atau manfaat pelayanan. Ayat (8)
Pelayanan dasar adalah jenis jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan.
Dalam penjelasan pasal 39 ayat (2) PP RI No 58 Tahun 2005 tentang pengelolaan
Keuangan Daerah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Standar Pelayanan Minimal
adalah tolak ukur kinerja dalam menentukan pencapaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang
merupakan urusan wajib daerah.

III. METODOLOGI PENELITIAN


Metode Penelitian
Menurut Sugiyono (2017 : 2) mengatakan, “Metode penelitian pada dasarnya
merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif komparatif dengan
pendekatan kuantitatif.
Pengertian deskriptif menurut (Nazir, 2005 : 58) adalah suatu metode dalam meneliti
status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun
suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk
membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Pendekatan kuantitatif dilihat dari segi tujuan, dipakai untuk menguji suatu teori,
untuk menyajikan suatu fakta atau mendeskripsikan statistik, untuk menunjukkan hubungan
antar variabel, dan adapula yang bersifat mengembangkan konsep, mengembangkan
pemahaman atau mendeskripsikan banyak hal.

Lokasi Penelitian dan Obyek Penelitian


Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten
Wonogiri. Objek dalam penelitian ini adalah Biaya-Biaya Yang Dikeluarkan Oleh Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri yang terletak di Jl.
Jenderal Ahmad Yani No.40, Joho Lor, Giriwono, Kec. Wonogiri, Kabupaten Wonogiri.

Jenis Data dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu berupa
data internal mengenai data-data keuangan berdasarkan biaya rata-rata yang dikeluarkan oleh
pihak rumah sakit bagi kebutuhan untuk pelayanan pasien pada ruang rawat inap kelas I
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri
Tahun 2018.
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh secara langsung oleh penulis dari objek
yang akan diteliti yaitu dari Karyawan bagian administrasi Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri.

Teknik Pengumpulan Data


Pemilihan teknik pengumpulan data yang tepat sangat diperlukan dalam suatu
penelitian. Tanpa adanya teknik pengumpulan data yang tepat, maka data yang diperoleh
tidak mungkin memberikan hasil yang diinginkan. Untuk memperoleh data yang relevan
dengan masalah yang dibahas, penulis menggunakan metode :
1. Dokumentasi
Pengkajian terhadap beberapa data dari dokumen-dokumen perusahaan yang
relevan dengan judul baik bersumber dari dalam perusahaan, literature, website maupun
yang bersumber dari perpustakaan.
2. Observasi
Pengamatan secara langsung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.
Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri.

Teknik Analisis Data


Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yaitu
menggambarkan perhitungan harga pokok kamar rawat inap yang ada pada rumah sakit
kemudian membandingkannya dengan perhitungan harga pokok yang dipaparkan oleh
penulis dengan menggunakan variable costing. Hasil perhitungan dengan menggunakan
variable costing kemudian dikaitkan dengan indikator-indikator yang ada dalam standar
pelayanan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.
Menurut Prawironegoro (2009: 233) Variabel Costing adalah pengorbanan sumber
daya untuk menghasilkan barang atau jasa dimana hanya diperhitungkan biaya variabel saja,
yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik
variabel. Dengan mengetahui total biaya rawat inap kelas I, maka kita dapat menghitung
biaya rata-rata yang diperlukan untuk operasional sebuah jenis kamar perhari perorang
dengan rumus sebagai berikut :
Harga pokok rawat inap selama setahun
Harga Pokok Kamar/Hari/Orang =
Jumlah hari rawat inap selama setahun

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Deskripsi Singkat Obyek Penelitian
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soediran Mangun Sumarso adalah Rumah Sakit milik
Pemerintah Kabupaten Wonogiri yang bertugas menyelenggarakan pelayanan kesehatan
dengan upaya penyembuhan, pemulihan, peningkatan, pencegahan, pelayanan rujukan,
penelitian dan pengembangan serta pengabdian masyarakat. Rumah Sakit ini berdiri pada
lokasi strategis pada persimpangan Kabupaten Pacitan, Wonogiri dan Wonosari (Pawonsari)
serta Kabupaten Klaten dan Ponorogo.
Sejarah berdirinya RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso secara singkat dapat
diuraikan, bahwa sebelum dikelola oleh Pemerintah Kabupaten yang dulu disebut Pemerintah
Swatantra, RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso adalah milik Zending dan berlokasi di
Kampung Sanggrahan, Kabupaten Giripurwo, Kecamatan Wonogiri. Pada akhir tahun 1942
Parentah Kraton Mangkunegaran secara de facto ikut mengelola keberadaan rumah sakit
hingga akhir tahun 1950, yang selanjutnya pengelolaan dilimpahkan kepada Pemerintah
Daerah Swatantra Tingkat II Wonogiri.
Oleh karena lokasi di Kampung Sanggrahan dalam jangka panjang tidak memenuhi
persyaratan untuk pengembangan rumah sakit, berdasarkan hasil keputusan Dewan
Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) dan Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat
II Wonogiri tahun 1955, diputuskan mencari alternatif baru untuk lokasi rumahsakit. Pada
tahun itu juga, lokasi untuk rumah sakit telah diperoleh yaitu di Kampung Joho Lor,
Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri atau di Jalan Achmad Yani Nomor 40 Wonogiri
hingga sekarang.
Sekarang ini RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso telah terakreditasi Paripurna
berdasarkan Surat Akreditasi Rumah Sakit Nomor KARS-SERT/569/I/2017 tanggal 5 Januari
2017 dan telah melaksanakan evaluasi tahun pertama Akreditasi versi 2012 pada tanggal 11
Nopember 2017.
Hasil Penelitian
1. Pengakumulasian Biaya
Penelitian ini menganalisis Biaya Rata-Rata Rumah Sakit terhadap Pasien Rawat
Inap Kelas I dan Kaitannya dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pada Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri.
Unsur-unsur biaya dari kegiatan operasional pasien rawat inap kelas I Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri untuk
selanjutnya dijadikan acuan dalam pengakumulasian biaya. Adapun periode data yang
penulis gunakan adalah satu tahun 2018.
Unsur-unsur biaya rawat inap kelas I Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.
Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri yaitu sebagai berikut :
a. Jasa Dokter dan Perawat
Biaya yang dikeluarkan untuk jasa dokter dan para medis dalam melakukan tindakan
terhadap pasien
b. Biaya Makan Pasien
Biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit untuk makan dan minum pasien rawat inap
c. Biaya Laundry
Biaya cucian untuk perlengkapan tempat tidur dan perlengkapan kamar lainnya
seperti seprey, gorden, selimut dan lain-lain
d. Biaya Rekam Medik
Biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit dalam memberikan pelayanan berupa
dokumentasi hasil pemeriksan pasien.
e. Biaya Bahan medis habis pakai
Biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit untuk membeli bahan-bahan medis
penunjang pelayanan kesehatan yang masa pakainya relatif singkat.
f. Biaya gaji petugas gizi
Biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit untuk membayar gaji kontrak petugas
gizi.
g. Biaya gaji petugas kebersihan
Biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit untuk membayar upah harian petugas
kebersihan.
h. Biaya Listrik, air, telepon, internet dan fasilitas dalam kamar perawatan
Biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit untuk membayar pemakaian listrik,
air, telepon, internet dan fasilitas dalam kamar perawatan.
i. Biaya Sarana (fasilitas kamar)
Biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit untuk membayar fasilitas dalam
kamar rawat inap.
Tabel 4.3
Daftar Unsur-Unsur Biaya RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri
NO NAMA BIAYA TOTAL BIAYA
1 Biaya bahan makan pasien Rp 277.400.000,-
2 Biaya Laundry Rp 16.425.000,-
3 Biaya bahan medis habis pakai Rp [Link],-
4 Biaya gaji petugas gizi Rp 16.800.000,-
5 Biaya gaji petugas kebersihan Rp 7.200.000,-
6 Biaya rekam medic Rp 114.550.000,-
7 Biaya Listrik, Air, Telepon, faksili dan Internet Rp [Link],-
8 Biaya Sarana Rp 4.080.000,-
TOTAL Rp [Link],-
Sumber: RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri, data diolah kembali
2. Biaya Overhead Tetap dan Variabel.
Untuk menentukan biaya rata-rata rawat Inap kelas I RSUD dr. Soediran
Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri dengan metode variabel costing, penulis terlebih
dahulu menerapkan klasifikasi biaya dengan mengidentifikasi biaya tersebut apakah
termasuk biaya tetap atau biaya variabel menurut perilakunya dalam hubungannya dengan
penambahan volume kegiatan.
Biaya rata-rata per pasien RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten
Wonogiri merupakan biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pelayanan
kesehatan terhadap pasien. Biaya ini terdiri dari biaya tenaga keja langsung dan biaya
overhead. Total biaya per pasien rawat inap kelas I RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso
Kabupaten Wonogiri sebagai Berikut:
Tabel 4.4
Biaya Operasional Rawat Inap Kelas I
RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri Tahun 2018
NO NAMA BIAYA JUMLAH
Biaya tenaga kerja langsung:
Jasa Dokter & Perawat Rp. [Link],-
Biaya Overhead:
1 Biaya bahan makan pasien Rp 277.400.000,-
2 Biaya Laundry Rp 16.425.000,-
3 Biaya bahan medis habis pakai Rp [Link],-
4 Biaya gaji petugas gizi Rp 16.800.000,-
5 Biaya gaji petugas kebersihan Rp 7.200.000,-
6 Biaya rekam medic Rp 114.550.000,-
7 Biaya Listrik, Air, Telepon, faksili dan Internet Rp [Link],-
8 Biaya Sarana Rp 4.080.000,-
TOTAL Rp [Link],-
Sumber: RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri, data diolah kembali

Sedangkan penggolongan biaya overhead tetap dan overhead variabel dilakukan


berdasarkan perilakunya dalam hubungannya dengan penambahan volume kegiatan, apakah
biaya overhead tersebut berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau tidak.
Apabila biaya overhead tersebut berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan maka
dikategori sebagai biaya variabel. Dan jika sebaliknya maka akan dikategorikan sebagai biaya
overhead tetap.
Tabel 4.5
Penggolongan Biaya Overhead
Biaya Biaya
Unsur Biaya- Biaya Total Biaya
Overhead Tetap Overhead Variabel
Biaya bahan makan pasien Rp 277.400.000,- √
Biaya Laundry Rp 16.425.000,- √
Biaya bahan medis habis pakai Rp [Link],- √
Biaya gaji petugas gizi Rp 16.800.000,- √
Biaya gaji petugas kebersihan Rp 7.200.000,- √
Biaya rekam medik Rp 114.550.000,- √
Biaya Listrik, Air, Telepon, faksimili dan Internet Rp [Link],- √
Biaya Sarana Rp 4.080.000,- √
Total Rp 44.505.000,- Rp [Link],-
Sumber: RSUD) dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri, data diolah kembali

3. Perhitungan Biaya Rata-Rata.


Karena penulis menggunakan variable costing maka biaya yang diperhitungkan
ke dalam biaya rata-rata adalah semua biaya yang bersifat variabel. Dengan demikian
harga biaya rata-rata menurut metode variable costing terdiri dari unsur biaya sebagai
berikut :
Laporan Biaya Rata-Rata
RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri
Rawat Inap Kelas I Periode I Januari – 31 Desember 2018

Biaya Tenaga Kerja langsung :


Dokter & perawat Rp [Link],-
Biaya Overhead Tetap :
- Biaya Laundry Rp 16.425.000,-
- Biaya gaji petugas gizi Rp 16.800.000,-
- Biaya gaji petugas kebersihan Rp 7.200.000,-
- Biaya Sarana Rp 4.080.000,-
Biaya Overhead Variabel : Rp 44.505.000,-
- Biaya Makan Pasien Rp 277.400.000,-
- Biaya Bahan Medis Habis Pakai Rp [Link],-
- Biaya Listrik, Air, Telepon, dll Rp [Link],-
- Biaya Rekam Medik Rp 114.550.000,-
Rp [Link],-
Total biaya rawat inap kelas I Rp [Link],-
Dengan mengetahui total biaya rawat inap kelas I, maka kita dapat menghitung biaya
rata-rata yang diperlukan untuk operasional sebuah jenis kamar perhari perorang dengan
rumus sebagai berikut :
Harga pokok rawat inap selama setahun
Harga Pokok Kamar/Hari/Orang =
Jumlah hari rawat inap selama setahun

[Link]
=
13.870
= 440,777
Jumlah hari rawat inap setahun dihitung dengan cara mengkalikan jumlah kamar
dengan jumlah hari dalam setahun. Melalui table 4.1 diketahui jumlah kamar rawat inap
kelas 1 sebanyak 38 kamar dikalikan jumlah hari dalam setahun 365 jadi jumlah hari
rawat inap setahun adalah 13.870
Jadi menurut perhitungan biaya rata-rata berdasarkan variable costing maka
harga pokok kamar perhari perorang rawat inap kelas I RSUD dr. Soediran Mangun
Sumarso Kabupaten Wonogiri adalah sebesar Rp 440.777,- sedangkan tarif Kelas I yang
berlaku di rumah sakit sesuai dengan Perbub No.13 Tahun 2018 tentang Tarif Pelayanan
Kesehatan Pada Badan Layanan Umum Daerah dr. Soediran Mangun Sumarso
Kabupaten Wonogiri yaitu sebesar Rp. 420.000,- dengan catatan tarif tersebut sudah
termasuk akomodasi, visit dokter, asuhan keperawatan/kebidanan dan asuhan gizi. Tetapi
biaya obat, tindakan medis dan pemeriksaan penunjang tidak termasuk tarif ini dan
dibayar pihak pasien sesuai penggunaannya. Pola tarif yang ditetapkan oleh pemerintah
dianggap tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Dimana harga kebutuhan alat dan
bahan kesehatan serta bahan-bahan untuk kebutuhan operasional rumah sakit terus
meningkat sementara tarif pelayanan sesuai dengan Peraturan Daerah yang berlaku.
4. Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit
Standar Pelayanan Minimal (SPM) di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso sudah
ditetapkan tanggal 20 Desember 2010, dengan Peraturan Bupati Wonogiri No 46 Tahun
2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Wonogiri No 39 Tahun 2010 tentang
Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soediran Mangun Sumarso
Kabupaten Wonogiri. Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri untuk instalasi rawat inap
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.6
Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM)
RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri
Realisasi
No Indikator Satuan Standar
2017 2018
Pemberi pelayanan rawat inap dokter spresialis dan
1 % 100 95 95
perawat minimal D3
2 Dokter penanggung jawab pasien rawat inap % 100 100 100
Ketersediaan pelayanan rawat inap (anak, dalam,
3 % 100 100 100
kebidanan dan bedah)
Jam visit dokter spesialis (komite) jam 08.00 s/d
4 % 100 98,5 98,25
14.00 setiap hari kerja
5 Kejadian infeksi pasca operasi % ≤ 1,5 1 0,37
6 Kejadian infeksi nosokomial % ≤ 1,5 3,1 6,55
Tidak adanya pasien jatuh yang berakibat kecacatan /
7 % 100 100 100
kematian
8 Kematian pasien ≥ 48 jam % ≤1 0,82 0,75
9 Kejadian pulang paksa % ≤5 1,23 0,85
10 Kepuasan pelanggan % ≥ 90 82,12 83,2
Penegakan diagnosis TB melalui pemeriksaan
11 % ≥ 60 100 100
mikroskopik TB
Terlaksananya kegiatan pencatatan dan pelaporan TB
12 % ≥ 60 100 100
di RS

Berdasarkan tabel 4.6 diatas terdapat beberapa Indikator yang belum mencapai target
dari sasaran mutu yang telah ditetapkan yakni Pemberi pelayanan rawat inap dokter spresialis
dan perawat minimal D3 realisasi 95 sedangkan standarnya 100, Jam visit dokter spesialis
(komite) jam 08.00 s/d 14.00 setiap hari kerja realisasi 98,25 sedangkan standarnya 100,
Kejadian infeksi nosokomial realisasi 6,55 sedangkan standarnya ≤ 1,5, Kepuasan pelanggan
realisasi 83,2 sedangkan standarnya ≥ 90.

Pembahasan
1. Pengakumulasian Biaya
Unsur-unsur biaya rawat inap kelas I Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.
Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri meliputi : Jasa Dokter & Perawat,
Biaya bahan makan pasien, Biaya Laundry, Biaya Rekam Medik, Biaya Bahan medis
habis pakai, Biaya gaji petugas gizi, Biaya gaji petugas kebersihan, Biaya Listrik, air,
telepon, internet dan fasilitas dalam kamar perawatan dan Biaya Sarana (fasilitas kamar)
dengan total biaya sebesar Rp [Link],-
2. Biaya Overhead Tetap dan Variabel.
Penggolongan biaya overhead tetap dan overhead variabel dilakukan berdasarkan
perilakunya dalam hubungannya dengan penambahan volume kegiatan, apakah biaya
overhead tersebut berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau tidak.
Apabila biaya overhead tersebut berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan
maka dikategori sebagai biaya variabel. Dan jika sebaliknya maka akan dikategorikan
sebagai biaya overhead tetap.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa biaya overhead tetap sebesar Rp
[Link],- sedangkan biaya overhead variabel sebesar Rp [Link],-
3. Perhitungan Biaya Rata-Rata.
Karena penulis menggunakan variable costing maka biaya yang diperhitungkan
ke dalam biaya rata-rata adalah semua biaya yang bersifat variabel. Dengan demikian
harga biaya rata-rata menurut metode variable costing adalah biaya overhead tetap Rp
[Link],- ditambah biaya overhead variabel Rp [Link],- jadi total biaya
rata - rata rawat inap kelas 1 sebesar Rp [Link],- setahun.
Dengan mengetahui total biaya rawat inap kelas I, maka kita dapat menghitung
biaya rata-rata yang diperlukan untuk operasional sebuah jenis kamar perhari perorang
dengan cara membandingkan Harga pokok rawat inap selama setahun dengan Jumlah hari
rawat inap selama setahun.
Diketahui Harga pokok rawat inap selama setahun adalah Rp [Link],-
sedangkan Jumlah hari rawat inap selama setahun adalah 13.870 jadi Harga Pokok
Kamar/Hari/Orang adalah sebesar Rp 440.777,-
Sedangkan tarif Kelas I yang berlaku di rumah sakit sesuai dengan Perbub No.13
Tahun 2018 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan Pada Badan Layanan Umum Daerah dr.
Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri yaitu sebesar Rp. 420.000,- dengan
catatan tarif tersebut sudah termasuk akomodasi, visit dokter, asuhan
keperawatan/kebidanan dan asuhan gizi. Tetapi biaya obat, tindakan medis dan
pemeriksaan penunjang tidak termasuk tarif ini dan dibayar pihak pasien sesuai
penggunaannya.
4. Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit
Berdasarkan penelitian diatas terdapat beberapa Indikator yang belum mencapai
target dari sasaran mutu yang telah ditetapkan yakni Pemberi pelayanan rawat inap dokter
spresialis dan perawat minimal D3 realisasi 95 sedangkan standarnya 100, Jam visit
dokter spesialis (komite) jam 08.00 s/d 14.00 setiap hari kerja realisasi 98,25 sedangkan
standarnya 100, Kejadian infeksi nosokomial realisasi 6,55 sedangkan standarnya ≤ 1,5,
Kepuasan pelanggan realisasi 83,2 sedangkan standarnya ≥ 90.
Sedangkan indikator Dokter penanggung jawab pasien rawat inap. Ketersediaan
pelayanan rawat inap (anak, dalam, kebidanan dan bedah), Tidak adanya pasien jatuh
yang berakibat kecacatan / kematian, Penegakan diagnosis TB melalui pemeriksaan
mikroskopik TB dan Terlaksananya kegiatan pencatatan dan pelaporan TB di RS sudah
memenuhi standar yang ditetapkan.

V. PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa tarif yang dibebankan pada pasien rawat inap kelas I berdasarkan
biaya rata-rata berdasarkan variabel costing Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soediran
Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri bila dikaitkan dengan Standar Pelayanan Minimal
(SPM) adalah Harga pokok rawat inap selama setahun adalah Rp [Link],- sedangkan
Jumlah hari rawat inap selama setahun adalah 13.870 jadi Harga Pokok Kamar/Hari/Orang
adalah sebesar Rp 440,777,- Sedangkan tarif Kelas I yang berlaku di rumah sakit sesuai
dengan Perbub No.13 Tahun 2018 Rp. 420.000,-. Jadi pola tarif yang ditetapkan oleh
Pemerintah Daerah sudah relevan dengan kondisi sekarang, bila dikaitkan dengan Standar
Pelayanan Minimal (SPM).

Saran
1. Bagi pihak penentu kebijakan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soediran Mangun
Sumarso Kabupaten Wonogiri diharapkan menambah lagi SDM yang sesuai dengan
bidangnya supaya target Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit tercapai dengan
cara menambah tenaga medis yang sesuai dengan bidangnya dan kompeten.
2. Untuk menghadapi persaingan antar rumah sakit yang semakin ketat, maka pihak rumah
sakit harus meningkatkan pelayanan kesehatan, fasilitas, dan kemudahan agar pasien
dapat merasa lebih nyaman serta mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin
meningkat.
3. Penentuan harga Tarif Rawat Inap Kelas I harus benar-benar dilakukan dengan sebaik-
baiknya sesuai dengan fasilitas yang diberikan dan data yang akurat mutlak diperlukan
untuk menilai keberhasilan suatu kegiatan dan sebagai bahan evaluasi untuk
pengembangan pelayanan dimasa yang akan datang. Untuk itu dipandang sangat perlu
adanya komitmen untuk mendapatkan pemenuhan data satu pintu yang akurat dan dapat
digunakan secara tepat waktu dan tepat guna.
4. Sebaiknya pihak rumah sakit tidak membeda-bedakan masyarakat dalam pemberian
pelayanan sehingga pasien maupun keluarga merasa nyaman dan diperhatikan.
Contohnya perbedaan perlakuan pada pasien BPJS dengan pasien umum dalam
pemberian obat, pasien BPJS diberi obat generic, sedangkan pasien umum diberi obat
paten.

DAFTAR PUSTAKA

A.A. Muninjaya. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Ahmad, Firdaus,. dan Abdullah, Wasilah. 2012. Akuntansi Biaya. Edisi 3. Salemba Empat

Carter, & Usry. 2002. Akuntansi Biaya Jilid 1 (Edisi 13). Yogyakarta : Salemba. Empat

Depkes RI. 2008. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 129 tahun 2008
mengenai Standar Pelayanan Minimal. Jakarta : Depkes RI

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), 2012. Standar Akuntasi Keuangan, Jakarta : Penerbit
Salemba.

Jati, Sutopo Patria, 2009, Konsep Dasar Tentang Manajemen Rumah Sakit,
[Link]
Sakit, diakses tanggal 14 Oktober 2019

Kieso et al,. 2011. Intermediate Accounting 14 th Edition. Asia: John Wiley & Sons Inc

Mulyadi. 2015. Akuntansi Biaya, Edisi 5. Yogyakarta : Sekolah Tinggi Ilmu. Manajemen
YKPN
Nasution, M. Nur. 2010. Manajemen Mutu Terpadu,Total Quality Manajemen Edisi II. Bogor
: Ghalia Indonesia

Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Peraturan Bupati Wonogiri Nomor 77 Tahun 2008 Tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi
dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri No.1 Tahun 2012 Retribusi Jasa Umum Di Kabupaten
Wonogiri

Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Sistem Kesehatan
Daerah

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 Tentang penyusunan


Standar Pelayanan Minimal

Prawironegoro, Darsono., & Ari Purwanti. 2009. Akuntansi Manajemen. Edisi


ketiga. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Salman, Kautsar Riza. 2016. Akuntansi Biaya. Edisi 2. Jakarta: Indeks.

Salman, Kautsar Riza dan Mochammad Farid. 2016. Akuntansi Manajemen. Jakarta: Indeks

Samryn, L.M. 2001. Akuntansi Manajerial. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung : Alfabeta

Sujarweni, V. Wiratna. 2015. Akuntansi Biaya. Yogyakarta : Pustaka Baru Press

Soedarto. 2011. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Sagung Seto.

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit

Anda mungkin juga menyukai