Analisis Drainase Ramah Lingkungan
Analisis Drainase Ramah Lingkungan
Disusun Oleh :
Disusun Oleh:
1400822201106
Dengan ini Dosen Pembimbing Tugas Akhir Program Studi Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Batanghari menyatakan Tugas Akhir dengan judul dan
penyusunan sebagaimana diatas telah disetujui sesuai prosedur, ketentuan dan
kelaziman yang berlaku dan dapat diajukan dalam ujian komprehesif Kerja Praktek
Program Strata Satu (S-1) Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Batanghari.
Jambi, 2020
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Npm : 1400822201106
PANITIA PENGUJI
Disahkan Oleh:
iii
ABSTRAK
iv
KATA PENGANTAR
“Analisis Dimensi Saluran Drainase Akibat Genangan Air Pada Badan Jalan
percaya, jika sesuatu pekerjaan itu terselsaikan dengan baik tidak terlepas dari
karunia Allah SWT, dan juga interaksi antara doa dan ikhtiar dengan ketentuan yang
tinggi akan membuahkan hasil yang memuaskan, apapun pekerjaan yang dilakulkan.
Dalam penyelsaian Tugas Akhir ini, berbagai bentuk bantuan dan dukungan
telah penulis terima, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan
ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
1. Bapak Dr. Ir. H. Fakhrul Rozi Yamali, ME. Selaku Dekan Fakultas Teknik
Universitas Batanghari.
2. Ibu Elivira Handayani, ST, MT. Selaku ketua Program Studi Teknik Sipil
Universitas Batanghari.
4. Ibu Susiana, ST, MT. Selaku pembimbing II, yang banyak memberikan
v
5. Bapak dan Ibu dosen serta karyawan dan karyawati Fakultas Teknik
6. Orang Tua, Keluarga besar, dan Kakak tersayang terima kasih atas jerih
payah atas dukungan baik moril maupun material serta doa sehingga
Semoga bantuan dan do’a serta bimbingan yang telah diberikan baik secara
langsung maupun tidak langsung dapat menjadi amal ibadah yang diterima Allah
Subhanahuwataaa’ala.
Akhir kata Penulis mengucapkan semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat
bagi kita semua dan semoga amal dan budi semua pihak yang telah memberikan
bantuan dan bimbingan kepada penulis, semoga mendapatkan balasan yang setimpal
Jambi, 2020
Penulis
NPM: 1400822201106
vi
Motto
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu.
Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi
(Al-Baqarah: 216)
( H.R Muslim )
(QS. Ar-Ra’d:11)
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN
viii
2.3.2 Drainase Berdasarkan Tata Letaknya ............................. 7
4.1. Umum........................................................................................ 45
ix
4.2.3 Perhitungan Distribusi Log Person III.......................... 50
BAB V PENUTUP
LAMPIRAN
x
DAFTAR GAMBAR
xi
DAFTAR TABEL
xii
Tabel 4.16 Nilai Kritis Smirnov-Kolomogrov ............................................ 60
Tabel 4.22 Intensitas Curah Hujan Priode Ulang 100 Tahun ................... 66
xiii
Tabel 4.40 perhitungan Debit Rencana Persaluran .................................... 90
xiv
DAFTAR GRAFIK
xv
DAFTAR NOTASI
a dan b = Tetapan
P60 (T) = Perkiraan curah hujan jangka waktu 60 menit dengan periode
ulang tahun (mm/menit)
G = Koefisien kemencengan
xvi
log XTr = Nilai logaritma hujan rencana dengan periode ulang T
̅
log X = Nilai rata - rata dari log x (curah hujah)
P = Peluang (%)
Cs = Koefisien tampungan
C = Koefesien pengaliran
xvii
Ps = Keliling basah saluran (m3)
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
yang terjadi pada sistem drainase dapat merusak keseimbangan lingkungan dan
prasarana infrastruktur. Salah satu masalah yang terjadi akibat gangguan pada
drainase adalah banjir akibat intensitas curah hujan baik dalam skala kecil maupun
skala besar.
Selain itu faktor pertambahan penduduk juga ikut memberikan kontribusi dalam
bertambah tiap tahun menyebabkan perubahan tata guna lahan yang dulunya ruang
terbuka hijau menjadi kawasan yang kedap air. Salah satu dampaknya adalah
Pemanfaatan ruang di perkotaan sudah sangat padat dan sarat akan konflik
kepentingan pemanfaatan lahan. Daya dukung lingkungan seluruh wilayah pun telah
terancam dimana saat ini sebagian wilayah perkotaan dindentifikasi sebagai daerah
rawan banjir. Air adalah sumber kehidupan manusia yang harus dijaga
1
2
Kenali Besar, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, yang masih ditemui beberapa
permasalahan pada sistem drainase yang kurang berfungsi dengan baik. Ketika
intensitas curah hujan cukup tinggi mengakibatkan terjadinya genanggan air pada
badan jalan maupun bahu jalan yang menyebabkan aliran drainase tersumbat dan
Berdasarkan latar belakang diatas penulis akan mengkaji salah satu daerah yang
sering terjadi genanggan air dikala intensitas curah hujan tinggi pada studi kasus RT
04 Jalan Pattimura, Kelurahan Kenali Besar, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi.
1. Bagaimana luapan air dikala intensitas curah hujan yang tinggi pada
Kota Jambi.
Jambi.
1. Menghitung debit air yang ada pada saluran drainase dan meninjau eksisting
seperti kolam retensi dan sumur resapan agar mampu menampung debit air
Dalam penulisan Tugas Akhir ini agar pembahasan dalam studi ini tidak
2. Analisa debit banjir pada perencanaan saluran drainase hanya dilakukan pada
Kota Jambi.
Tahun 2009-2018.
4
Penelitian tugas akhir ini diharapkan dapat menjadi masukan dan kemajuan
bagi :
3. Dapat menjadi bahan masukan dan acuan serta referensi bagi peneliti lain dan
LANDASAN TEORI
2.1. Banjir
Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang
banyak dialiri oleh aliran sungai. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagai
hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi di kawasan
tersebut.
Banjir adalah suatu kondisi dimana tidak tertampungnya air dalam saluran
Banjir terjadi akibat adanya limpasan permukaan yang sangat besar yang di
sebabkan oleh hujan dan tidak dapat ditampung lagi oleh sungai atau saluran
2.2 Drainase
kelebihan air baik kelebihan air yang berada di atas permukaan tanah maupun air
yang berada di bawah permukaan tanah. Kelebihan air dapat disebabkan oleh
intensitas hujan yang tinggi atau akibat durasi hujan yang lama. Kebutuhan terhadap
drainase berawal dari kebutuhan air untuk kehidupan manusia dimana untuk
5
6
menjadi: (Wesli,2008)
1. Cara terbentuknya
2. Sistem pengalirannya
3. Tujuan/sasaran pembuatannya
4. Tata letaknya
5. Fungsinya
6. konstruksinya
saluran drainase terbentuk akibat gerusan air sesuai dengan kontur tanah. Drainase
ini terbentuk pada kondisi tanah yang cukup kemiringannya, sehingga air akan
Drainase buatan adalah sistem yang dibuat dengan maksud tertentu dan
pada pembuatannya.
7
Drainase permukaan tanah adalah sistem drainase yang salurannya berada diatas
permukaan tanah yang pengaliran air terjadi karena adanya beda tinggi permukaan
saluran (slope).
Drainase bawah permukaan tanah adalah sistem drainase yang dialirkan di bawah
permukaan tanah (ditanam) biasanya karena sisi artistik atau pada suatu areal
yang tidak memungkinkan untuk mengalirkan air di atas permukaan tanah seperti
Drainase single purpose adalah saluran drainase yang berfungsi mengalirkan satu
Drainase multi purpose adalah saluran drainase yang berfungsi mengalirkan lebih
dari satu jenis air buangan, baik secara bercampur maupun bergantian misalnya
Drainase dengan sistem adalah suatu sistim pengeringan atau pengaliaran air pada
suatu kawasan yang dilakukan dengan mengaliri air melalui sistem tata saluran
Drainase dengan sistem resapan adalah sistem pengeringan atau pengaliran air
1. Drainase perkotaan.
perkotaan ke sungai.
lapangan terbang terutama pada runway ( landasan pacu) dan taxiway, agar
Drainase jalan raya adalah pengeringan atau pengaliran air di permukaan jalan
Drainase jalan kereta api adalah pengeringan atau pengaliran air di permukaan
di sepanjang jalur rel bertujuan mengindari kerusakan jalur rel kreta api.
Drainase tanggul dan dam adalah pengeringan atau pengaliran air di daerah sisi
luar tanggul dan dam bertujuan untuk mencegah keruntuhan tanggul dan dam
Drainase lapangan olahraga adalah pengeringan atau pengaliran air pada suatu
Drainase untuk keindaan kota adalah pembuatan drainase ini lebih ditujukan
Drainase untuk penambahan areal adalah pengeringan dan pengaliran air pada
daerah rawa ataupun laut yang tujuannya sebagai upaya untuk menambah
areal.
Sistim saluran yang permukaan airnya tidak terpengaruhi dengan udara luar
Sumur resapan merupakan skema sumur atau lubang pada permukaan tanah
yang dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah. Konsep
dasar sumur resapan pada hakikat adalah memberi kesempatan dan jalan pada air
hujan yang jatuh diatap atau lahan yang kedap air untuk meresap kedalam tanah
dengan jalan menampung air tersebut pada sistim resapan. Sumur resapan ini
merupakan sumur kosong dengan kapasitas tampung yang cukup besar sebelum air
Kolam retensi adalah suatu bak atau kolam yang dapat menampung atau
(dua) macam tergantung dari bahan pelapis dinding dan dasar kolam, yaitu kolam
alami atau [Link] alami adalah kolam retensi berbentuk seperti cekungan atau
bak resapan yang sudah terbentuk secara alami dan dapat dimanfaatkan baik pada
Kolam buatan atau kolam non alami adalah kolam retensi yang dibuat sengaja
didesain dengan bentuk dan kapasitas tertentu pada lokasi yang telah direncanakan
kolam retensi diperlukan analisis hidrologi untuk menentukan besaran debit banjir
konstruksi yang akan dibangun. Kemudian diperlukan data curah hujan untuk
merencanakan pemanfaatan air dan rancangan bangunan air adalah curah hujan rata-
rata diseluruh daerah yang bersangkutan, bukan data curah hujan pada titik tertentu
(Sosrodarsono, 1993)
Siklus hidrologi adalah sirklus air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke
transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses
siklus hidrologi tersebut dapat berjalan terus menerus. Air berevaporasi, kemudian
jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es, salju dan
hujan gerimis.
12
Keseimbangan siklus hidrologi ditandai oleh curah hujan yang tinggi didukung
dengan kapasitas tanah dalam menahan air seperti hutan di daerah hulu, ruang
terbuka dan jumlah bangunan di daerah hulu menyebabkan siklus hidrologi tidak
1. Pola siku
Pola siku adalah suatu pola dimana saluran cabang membentuk siku pada
SALURAN CABANG
SALURAN UTAMA
SALURAN CABANG
2. Pola Paralel
Pola paralel adalah suatu pola dimana saluran utama terletak sejajar
SALURAN CABANG
SALURAN CABANG
SALURAN CABANG
SALURAN UTAMA
SALURAN CABANG
SALURAN CABANG
SALURAN UTAMA
Pola grid iron merupakan pola jaringan drainase di mana sungai terletak
SALURAN UTAMA
4. Pola Alamiah
Pola alamiah adalah suatu pola jaringan drainase yang hampir sama
dengan pola siku, dimana sungai sebagai saluran utama berada di tengah
kota namun jaringan salurancabang tidak berbentuk siku pada gambar 2.5
SALURAN CABANG
SALURAN UTAMA
SALURAN CABANG
5. Pola radial
Pola radial adalah pola jaringan drainase yang mengalirkan air dari suatu
pusat sumber air memencar ke berbagai arah cocok digunakan pada area
6. Pola Jaring-Jaring
1. Dalam ilmu statistik dikenal bebrapa macam distribusi frekuensi dan empat jenis
a. Metode Normal
d. Metode Gumbel
1) Metode Normal
hujan disusun dari urutan yang terbesar sampai yang terkecil. Distribusi
normal atau kurva normal disebut juga distribusi Gauss. distribusi normal
berikut:
1 (x−μ)²
P(X) =σ exp [− ] − ∞ ≤ x ≤ ∞…..…………….….........…(2.1)
√2π 2σ²
karena telah dibuat tabel untuk keperluan perhitungan, dan juga dapat didekati
dengan:
̅
XT −X
KT ……………………………………………….……………...…(2.2)
S
17
Dimana:
𝞵 = Rata-rata nilai X
ulang T-tahun
̅
X = Nilai rata-rata hitung variat
disebut sebagai tabel nilai variabel reduksi Gauss (Variable reduced Gauss)
Dalam distribusi Log Normal dapat ditulis dalam bentuk rata-rata dan
1 (Y−μY)²
P(X) = Xσ√2π esp [− ] X > 0……………………………….........(2.3)
2σY²
Y = Log X
19
̅+KTS……………………......…………………………….........(2.4)
YT = Y
YT−Y
̅
KT = ………………………...…………….....…...……...............(2.5)
S
Dimana:
ulang T-tahunan
periode ulang
sudah konversi kedalam bentuk logaritmis, ternyata kedekatan antara data dan
teori tidak cukup kuat untuk menjustifikasi pemakaian distribusi Log Normal.
20
yang menjadi perhatian ahli sumber daya air adalah Log Person Type III (LP
III). Tiga parameter penting dalam LP III yaitu harga rata-rata, simpangan baku
sama dengan nol maka perhitungan akan sama dengan log normal. Berikut ini
n ̅ )²
∑ (logXi−logX
s = √[ i=1 ] ………………............…….......(2.7)
n−1
n ∑n ̅ 3
i=1(logXi−logX)
G= …………………………..………....(2.8)
(n−1)(n−2)s3
rumus:
̅ + K. s………………………………………....(2.9)
LogXT = LogX
(Sumber: Suripin,2004)
4) Metode Gumbel
data merupakan data eksponensial. Jika jumlah populasi yang terbatas dapat
X =̅
X + SK……………………………………………..….....…(2.10)
dalam persamaan:
YT −Yn
KT = …………………..……………………..,….....(2.11)
Sn
Dimana:
berikut ini:
Tr −1
YT t = -In{ }………………………………………………......(2.12)
Tr
N 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10 0,4952 0,4996 0,5035 0,5070 0,5100 0,5128 0,5157 0,5181 0,5202 0,5520
20 0,5236 0,5252 0,5268 0,5283 0,5296 0,5309 0,5320 0,5332 0,5343 0,5353
30 0,5362 0,5371 0,5380 0,5388 0,5396 0,5403 0,5410 0,5418 0,5424 0,5436
40 0,5436 0,5442 0,5448 0,5453 0,5458 0,5463 0,5468 0,5473 0,5477 0,5481
50 0,5485 0,5489 0,5493 0,5497 0,5501 0,5504 0,5508 0,5511 0,5515 0,5518
60 0,5521 0,5524 0,5527 0,5530 0,5533 0,5535 0,5538 0,5540 0,5543 0,5545
70 0,5548 0,5550 0,5552 0,5555 0,5557 0,5559 0,5561 0,5563 0,5665 0,5567
80 0,5569 0,5570 0,5572 0,5574 0,5576 0,5578 0,5580 0,5581 0,5583 0,5585
90 0,5586 0,5587 0,5589 0,5591 0,5592 0,5593 0,5595 0,5596 0,5598 0,5599
100 0,5600 0,5602 0,5603 0,5604 0,5656 0,5607 0,5608 0,5609 0,5610 0,5611
(Sumber: Suripin,2003)
24
N 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10 0,9496 0,9676 0,9883 0,9971 1,0095 1.0206 1,0316 1,0411 1,0493 1,565
20 1,0628 1,0696 1,0754 1,0811 1,0864 1,0915 1,0961 1,1004 1,1047 1,1080
30 1,1124 1,1159 1,1193 1,1226 1,1255 1,1285 1,1313 1,1339 1,1363 1,1388
40 1,1413 1,1436 1,1458 1,1480 1,1499 1,1519 1,1538 1,1557 1,1547 1,1590
50 1,1607 1,1623 1,1638 1,1658 1,1667 1,1681 1,1696 1,1708 1,1721 1,1743
60 1,1747 1,1759 1,1770 1,1782 1,1793 1,1803 1,1814 1,1824 1,1834 1,1844
70 1,1854 1,1863 1,1873 1,1881 1,1890 1,1898 1,1906 1,1915 1,1923 1,1930
80 1,1938 1,1945 1,1953 1,1959 1,1967 1,1973 1,1980 1,1987 1,1994 1,2001
90 1,2007 1,2013 1,2020 1,2026 1,2032 1,2038 1,2044 1,2049 1,2055 1,2060
100 1,2065 1,2069 1,2073 1,2077 1,2081 1,2084 1,2087 1,2090 1,2093 1,2096
(Sumber: Suripin,2003)
(Sumber: Suripin,2003)
25
Dalam analisis Frekuensi data hujan atau data debit guna memperoleh nilai
hujan rencana atau debit rencana, dikenal beberapa distribusi probabilitas kontinu
yang sering digunakan, yaitu: Gumbel, Normal, Log Normal, dan Log Person Type
III.
Prosedur untuk uji smirnov - kolmogorov ini dilakukan dengan cara sebagai
Urutkan data dari besar ke kecil dan tentukan peluang dari masing - masing
m
P = ......................................................................................(2.13)
n+1
Dimana :
P = Peluang.
n = Jumlah data.
Intensitas hujan adakah jumlah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan atau
tergantung dari lamanya curah hujan dan frekuensi kejadiannya. Intensitas hujan
diperoleh dengan cara melakukan analisis data hujan baik secara statistik
maupun secara empiris. Intensitas hujan ialah ketinggian hujan yang terjadi pada
suatu kurun waktu air hujan kosentrasi. Biasanya intensitas hujan dihubungkan
𝑅24 24 2/3
I = ( ) .....................................................................................(2.14)
24 𝑡
Dimana :
a. Talbot
a
I = ................................................................................................(2.15)
t+b
b. Ishiguro
a
I = ................................................................................................(2.18)
√t+b
c. Sherman
a
I= ..(2.21)
tn
Di mana :
a dan b = Ketetapan.
Catchment area adalah daerah cakupan/ tangkapan apabila terjadi hujan. Semakin
besar catchment area maka semakin besar pula debit yang terjadi. Prinsip dasar
dari penentuan daerah tangkapan adalah dengan prinsip beda tinggi. Air akan
mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Untuk kawasan yang
cenderung datar pembagian catchment area dapat diasumsikan terbagi rata pada
catchment area berpatokan pada titik tertinggi, yang kemudian akan mengalir ke
6. Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir dari satu
titik terjauh dalam catchment area sampai pada titik yang ditinjau (titik kontrol)
setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi terpenuhi. Dalam perhitungan ini
28
berikut :
0.87. 𝐿2 0.385
Tc = ( ) ...............................................................................(2.24)
1000 . 𝑆
Dimana :
L = Panjang saluran(m).
S = Standar deviasi.
komponen, yaitu :
Tc = To + Td .................................................................................(2.25)
dimana ;
Lo 0,77
To = 0,0195( ) ..................................................................(2.26)
√So
1 𝐿1
Td = ....................................................................................(2.27)
3600 𝑉
Dimana :
Lo = jarak aliran terjauh dari atas tanah hingga saluran terdekat (m).
mengalirkan lebih sedikit air hujan dibandingkan dengan daerah yang memiliki
cekungan sama sekali. Efek tampungan oleh cekungan ini terhadap debit
2 𝑇𝑐
Cs= ......................................................................................(2.28)
2 𝑇𝑐+𝑇𝑑
Dimana :
Tc = Waktu konsentrasi(jam).
8. Debit Rencana
Dimana :
P = Peluang
9. Analisis Hidrolika
Pada tahap awal analisa diasumsikan bahwa yang tejadi adalah aliran seragam.
Q = Aw . V ...........................................................................................(2.30)
𝑖
V = 𝑛 . R 2/3 . S 1/2 ................................................................................(2.31)
𝐴𝑤
R = ..................................................................................................(2.32)
𝑃
Dimana :
Dimana :
V = Kecepatan aliran(jam).
R = Jari-jari hidrolis.
Business
Perkotaan 0,70-0,90
Pinggiran 0,50-0,70
Perumahan
Apartemen 0,50-0,70
Industri
Ringan 0,50-0,80
Berat 0,60-0,90
Perkerasan
Atap 0,75-0,95
Datar 2% 0,05-0,10
Curam, 7% 0,15-0,20
Datar 2% 0,13-0,17
Curam, 7% 0,25-0,35
Hutan
Saluran adalah alur tempat aliran air yang sengaja dibuat manusia, secara
umum alirannya adalah steady flow (aliran tetap) (Diseminasi dan Sosialisasi
a). Tata guna lahan yang akan berpengaruh terhadap ketersediaan tanah.
b). Trapesium
c). Lingkaran.
Dimensi saluran harus mampu mengalirkan debit rencana atau dengan kata lain
debit yang dialirkan oleh saluran ( Qs ) sama atau lebih besar dari debit rencana
Qs ≥ Qrenc ...............................................................................................(2.34)
Qs = As.V ..............................................................................................(2.35)
Dimana :
As = Luas penampang.
V = Kecepatan aliran.
34
1. Logam
2. Bukan logam
a. Semen
b. Kayu
c. Beton
a. Bata
b. Pasangan batu
d. Aspal
digunakan. Nilai kemiringan dinding saluran dapat dilihat pada Tabel 2.8
Kemiringan
Batuan/cadas 0
Lempung 1,5
Lumpur berpasir 3
(Sumber:ISBN:979-8382-49-8)
Dalam Pencarian dimensi saluran ada beberapa rumus yang digunakan antara lain
Qrata−rata
As = ...........................................................................................(2.36)
V
37
h= √As ...............................................................................................(2.37)
b = √As .............................................................................................(2.38)
Ps = b + 2 h ........................................................................................(2.39)
A = b + h ............................................................................................(2.40)
As
Rs = ..............................................................................................(2.41)
Ps
h
w = √2 ..............................................................................................(2.42)
38
Qs = As.V .........................................................................................(2.43)
2. Penampang Trapesium
A = (b + mh) h...........................................................................(2.44)
1 h
Ps = b + 2h√1 + 𝑚² .........................................................................(2.46)
Rs = A/P .............................................................................................(2.47)
39
h
w = √2 ..............................................................................................(2.49)
D h
𝜽
b. Luas Penampang
𝜋
As = 𝑦 2 ...........................................................................(2.51)
2
c. Debit Saluran
Qs = As V........................................................................................(2.52)
40
Dimana :
V = Kecepatan aliran
S = Standar deviasi
METODOLOGI PENELITIAN
Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. Kelurahan Kenali Besar memiliki luas wilayah
11.28 Km². Lokasi penelitian ialah saluran drainase yang memiliki panjang 1 km dari
STA 0+000 sampai STA 0+200 berada di RT 04 Jalan Pattimura, Kelurahan Kenali
STA 0+200
STA 0+001
Gambar3.1 PetaLokasiPenelitian
referensi serta teori-teori dari berbagai macam buku, jurnal yang menunjang
41
42
a. Data Primer
penyebabnya.
b. Data Sekunder
drainase.
saluran drainase di Jalan Pattimura, analisis dilakukan dari segi hidrologi dan
hidraulika. Dari segi hidrologi adalah perhitungan curah hujan maksimum harian,
distribusi Log Normal, distribusi Gumbel,distribusi Pearson III dan distribusi Log
yang sesuai dengan kondisi daerah penelitian. Lakukan juga pengukuran terhadap
43
drainase eksisting tersebut mampu untuk menampung volume debit rencana yang
terjadi.
Jika dari hasil evaluasi diketahui bahwa saluran drainase eksisting tersebut
tidak mampu menampung volume debit rencana yang terjadi, maka dilakukan
redesign saluran drainase agar mampu menampung volume debit rencana yang
ada
3.5. MetodePenelitian
Alur penelitian yang direncanakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
3. Perhitungan hidrologi
Ya
AnalisaPerhitungan Debit Saluran Banjir Q Eksisting ≥ Q Rencana
44
BAB IV
4.1 Umum
Untuk menghitung debit dengan periode ulang tertentu, diperlukan juga hujan
maksimum dengan periode ulang tertentu. Hujan maksimum disebut juga hujan rencana.
Untuk menghitung hujan rencana penulis menggunakan empat jenis distribusi, yaitu:
1. Distribusi Normal
4. Distribusi Gumbel
45
46
(mm)
X̅ 333,75
Sd 52,089
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
47
∑(𝑥𝑖−𝑥)2 24419,325
Deviasi Standart S= √ =√ = 52,089
𝑛−1 9
Untuk T = 2 Tahun
Reduksi Gauss)
XT = X + (KT x S)
Curah Hujan
Periode Ulang (T) (XT)
No KT X S
Tahun (mm)
Curah Hujan
Maks (Xi) (Log Xi - Log
No Tahun (Log Xi) (Log Xi - Log X)
X)²
(mm)
X 333,75 2,518
S 0,071
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
49
Untuk T = 2 Tahun
KT = 0,00 (Dilihat Dari Tabel [Link] 17, Nilai Variabel Reduksi Gauss )
Log XT = Log X + ( KT x S )
XT = 329,881 mm
Untuk hasil perhitungan hujan Rencana distribusi Log Normal 5, 10, 20, 50,
100 tahun dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.5 Analisa Curah Hujan Rencana Distribusi Log Normal
Curah Hujan
Maks (Xi) (Log (Log Xi - Log (Log Xi - (Log Xi - Log
No Tahun
Xi) X) Log X)² X)³
(mm)
X 333,75 2,518
S 0,071
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
51
𝑛 ∑𝑛
𝑖=1( 𝑋𝑖−𝑋 )
3 10 𝑥 (−0,002167)
Koefisien Kemencengan ( G ) = ( 𝑛−1)( 𝑛−2)𝑆 3
= (9)(8)𝑥0,071³
= -0,841
Untuk T = 2 Tahun
Log XT = Log X + ( KT x S )
XT = 337,097 mm
Untuk hasil perhitungan hujan Rencana Distribusi Log-person III 5, 10, 20, 50,
100 tahun dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Analisa Curah Hujan Rencana Distribusi Log-person III
(mm)
X 333,75
S 52,089
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
53
Untuk T = 2 Tahun
Yn = 0.4952 (Dilihat Dari Tabel 2.3. Halaman 22, Reduced Mean (Yn)
Sn = 0. 9496 (Dilihat Dari Tabel 2.4. Halaman 22, Nilai Reduced Standart
Deviation (Sn)
Yt = 0.3668 (Dilihat Dari Tabel 2.5. Halaman 22, Reduced variant (Yt)
XT =X+(KxS)
93 + 19 𝑋𝑡 93 + 19 326,707
𝑃60 = [ 𝑥 ] = [ 𝑥 ] = 91,9376 𝑚𝑚/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
2 199 2 199
Untuk hasil perhitungan hujan Rencana Distribusi Gumbel 5, 10, 20, 50,
100 tahun dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut:
Tabel 4.9 Analisa Curah Hujan Rencana Distribusi Gumbel
Curah
Periode Hujan
No Ulang (T) Ytr Yn Sn X S K (XT) 𝑃60
Tahun (mm) (mm/menit)
-
1 2 0,3668 0,4952 0,9496 333,75 52,089 0,1352 326,707 91,9376
𝑃 60 ×60
Pi = (0,21 × Ln × (T) + 0,52) × (0,54 × 𝑡 0,25 – 0,50 ×( )
𝑇
91,937660 ×60
=(0,21 × Ln × (2) + 0,52) × (0,54 × 50,25 – 0,50 ×( )
5
= 225,783 mm/menit
Log
No Periode Ulang (T) Normal Normal Log-Person III Gumbel
Tahun (mm) (mm) (mm) (mm)
1 2 333,750 329,881 337,097 326,707
2 5 377,505 378,584 379,578 388,889
3 10 400,424 406,901 399,367 430,062
4 20 419,176 431,638 418,263 469,551
5 50 440,532 461,647 429,239 520,669
6 100 455,117 483,332 438,269 558,979
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
REKAPITULASI ANALISIS CURAH HUJAN RENCANA MAKSIMUM EMPAT METODE
600
CURAH HUJAN RENCANA (mm)
558.979
550
520.669
500 483.332
461.647
469.551
450 431.638 455.117
440.532 Normal (mm)
438.269
430.062
406.901 429.239
419.176 418.263 Log Normal (mm)
400 378.584 400.424 399.367 Log-Person III (mm)
388.889
377.505 379.578 Gumbel (mm)
350 329.881
333.75 337.097
326.707
300
2 5 10 20 50 100
PRIODE ULANG
55
Dari hasil analisis distribusi frekuensi hujan dengan empat metode tersebut diatas, maka yang digunakan periode ulang 10 Tahun
terlihat bahwa distribusi metode Gumbel Periode ulang 10 Tahun yang paling ekstrim sehingga data inilah yang digunakan untuk analisis
berikutnya.
Adapun hasil uji Smirnov-Kolmogorov empat metode tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
56
f(t)=
Curah Hujan Maks X 𝑚 𝐿𝑜𝑔 𝑋−𝑙𝑜𝑔 X̅ Luas Wilayah
No Tahun (X) Terurut Log Xi P(Xi)= dibawah P'(Xi) ΔP
𝑛+1 𝑆
(mm) (mm) Kurve Normal
1 2009 345,00 421,40 2,625 0,091 1,43 0,9236 0,076 -0,015
2 2010 389,00 389,00 2,590 0,182 0,94 0,8264 0,174 -0,008
3 2011 322,50 345,20 2,538 0,273 0,21 0,5832 0,417 0,144
4 2012 277,00 345,00 2,538 0,364 0,20 0,5793 0,421 0,057
5 2013 325,30 340,00 2,531 0,455 0,11 0,5438 0,456 0,002
6 2014 338,10 338,10 2,529 0,545 0,08 0,5319 0,468 -0,077
7 2015 345,20 325,30 2,512 0,636 -0,16 0,4364 0,564 -0,073
8 2016 234,00 322,50 2,509 0,727 -0,21 0,4168 0,583 -0,144
9 2017 340,00 277,00 2,442 0,818 -1,14 0,1271 0,873 0,055
10 2018 421,40 234,00 2,369 0,909 -2,17 0,0150 0,985 0,076
Rata-rata (X̅) 333,75 2,523 ΔP
0,144
Maksimum
Standar Deviasi (S) 0,071
Sumber : Hasil Perhitungan, 2019
57
f(t)=
Curah Hujan Maks X Log 𝑚 𝐿𝑜𝑔 𝑋−𝑙𝑜𝑔 X̅ Luas Wilayah
No Tahun (X) Terurut P(Xi)= dibawah P'(Xi) ΔP
Xi 𝑛+1 𝑆
(mm) (mm) Kurve Normal
1 2009 345,00 421,40 2,625 0,091 1,43 0,9236 0,076 -0,015
2 2010 389,00 389,00 2,590 0,182 0,94 0,8264 0,174 -0,008
3 2011 322,50 345,20 2,538 0,273 0,21 0,5832 0,417 0,144
4 2012 277,00 345,00 2,538 0,364 0,20 0,5793 0,421 0,057
5 2013 325,30 340,00 2,531 0,455 0,11 0,5438 0,456 0,002
6 2014 338,10 338,10 2,529 0,545 0,08 0,5319 0,468 -0,077
7 2015 345,20 325,30 2,512 0,636 -0,16 0,4364 0,564 -0,073
8 2016 234,00 322,50 2,509 0,727 -0,21 0,4168 0,583 -0,144
9 2017 340,00 277,00 2,442 0,818 -1,14 0,1271 0,873 0,055
10 2018 421,40 234,00 2,369 0,909 -2,17 0,015 0,985 0,076
Rata-rata (X̅) 333,75 2,523 ΔP
0,144
Maksimum
Standar Deviasi (S) 0,071
Sumber : Hasil Perhitungan, 2019
58
Tabel 4.15 Uji Smirnov-Kolmogrov Metode Gumbel
59
60
Kesimpulan :
0,41.
ΔP maksimum ≤ ΔP kritis
Dari hasil pengujian data curah hujan harian maksimum, didapat nilai ΔP
maksimum lebih kecil dari nilai ΔP kritis, dengan demikian artinya Distribusi
Probabilitas yang dipilih untuk empat metode tersebut ( Metode Normal, Metode
Log Normal, Metode Log Person III dan Metode Gumbel ) Dapat Diterima.
Derajat Kepercayaan α
n
0,2 0,1 0,05 0,01
5 0,48 0,54 0,61 0,73
10 0,34 0,38 0,41 0,51
15 0,27 0,31 0,35 0,41
20 0,24 0,27 0,3 0,36
25 0,21 0,24 0,27 0,32
30 0,19 0,22 0,24 0,29
35 0,18 0,2 0,23 0,27
40 0,17 0,19 0,21 0,25
45 0,16 0,18 0,2 0,24
50 0,15 0,17 0,19 0,23
1.07/𝑛0,25 122/𝑛0,5 1,36/𝑛0,5 1,63/𝑛0,5
n ≥ 50
Sumber:Wesli,2019
4.2.6 Perhitungan Intensitas Curah Hujan ( I )
Untuk hujan yang terjadi selama 5 menit sampai 2 jam, persamaan intensitas durasi hujan menggunakan perhitungan persamaan garis
regresi Intensity Duration Frequency Curve ( Kurva IDF ) dengan Metode Talbot, Ishiguro dan Sherman.
T I Log t x
Log t Log I Log t² txI I² t x I² √t Ix√t I² x √ t
Log I
(menit) (mm/menit)
5 225,783 0,699 2,354 1,645 0,489 1128,914 50977,868 254889,339 2,236 504,866 113989,978
10 168,984 1,000 2,228 2,228 1,000 1689,840 28555,605 285556,051 3,162 534,374 90300,752
20 117,845 1,301 2,071 2,695 1,693 2356,898 13887,421 277748,430 4,472 527,018 62106,437
30 93,472 1,477 1,971 2,911 2,182 2804,173 8737,094 262112,821 5,477 511,970 47855,035
40 78,754 1,602 1,896 3,038 2,567 3150,168 6202,223 248088,939 6,325 498,085 39226,305
60 61,368 1,778 1,788 3,179 3,162 3682,070 3766,011 225960,662 7,746 475,353 29171,396
80 51,169 1,903 1,709 3,252 3,622 4093,530 2618,279 209462,340 8,944 457,671 23418,602
120 39,384 2,079 1,595 3,317 4,323 4726,072 1551,094 186131,286 10,954 431,429 16991,384
Jumlah 836,759 11,840 15,612 22,265 19,036 23631,665 116295,596 1949949,867 49,317 3940,766 423059,889
Sumber : Hasil Perhitungan, 2019
61
Tabel 4.18 Perhitungan Intensitas Curah Hujan Priode Ulang 5 Tahun
T I Log t x
Log t Log I Log t² txI I² t x I² √t Ix√t I² x √ t
Log I
(menit) (mm/menit)
5 346,456 0,699 2,540 1,775 0,489 1732,281 120031,960 600159,801 2,236 774,700 268399,623
10 259,300 1,000 2,414 2,414 1,000 2593,005 67236,732 672367,324 3,162 819,980 212621,217
20 180,829 1,301 2,257 2,937 1,693 3616,583 32699,179 653983,580 4,472 808,693 146235,174
30 143,430 1,477 2,157 3,186 2,182 4302,911 20572,271 617168,137 5,477 785,600 112678,970
40 120,846 1,602 2,082 3,336 2,567 4833,829 14603,691 584147,649 6,325 764,296 92361,853
60 94,167 1,778 1,974 3,510 3,162 5650,016 8867,411 532044,637 7,746 729,414 68686,667
80 78,517 1,903 1,895 3,606 3,622 6281,387 6164,973 493197,859 8,944 702,280 55141,197
120 60,433 2,079 1,781 3,704 4,323 7252,002 3652,190 438262,800 10,954 662,014 40007,737
Jumlah 1283,980 11,840 17,100 24,467 19,036 36262,015 273828,408 4591331,786 49,317 6046,977 996132,438
62
Tabel 4.19 Perhitungan Intensitas Curah Hujan Priode Ulang 10 Tahun
T I Log t x
Log t Log I Log t² txI I² t x I² √t Ix√t I² x √ t
Log I
(menit) (mm/menit)
5 448,138 0,699 2,651 1,853 0,489 2240,690 200827,639 1004138,195 2,236 1002,067 449064,252
10 335,403 1,000 2,526 2,526 1,000 3354,027 112494,990 1124949,904 3,162 1060,637 355740,395
20 233,901 1,301 2,369 3,082 1,693 4678,016 54709,587 1094191,73 4,472 1046,036 244668,709
30 185,526 1,477 2,268 3,351 2,182 5565,775 34419,838 1032595,148 5,477 1016,167 188525,218
40 156,313 1,602 2,194 3,515 2,567 6252,513 24433,699 977347,9736 6,325 988,609 154532,283
60 121,804 1,778 2,086 3,709 3,162 7308,243 14836,225 890173,4846 7,746 943,490 114920,903
80 101,561 1,903 2,007 3,819 3,622 8124,916 10314,728 825178,2383 8,944 908,393 92257,732
120 78,170 2,079 1,893 3,936 4,323 9380,397 6110,545 733265,4012 10,954 856,309 66937,667
Jumlah 1660,816 11,840 17,994 25,790 19,036 46904,577 458147,251 7681840,075 49,317 7821,708 1666647,159
63
Tabel 4.20 Perhitungan Intensitas Curah Hujan Priode Ulang 20 Tahun
T I Log t x
Log t Log I Log t² txI I² t x I² √t Ix√t I² x √ t
Log I
(menit) (mm/menit)
5 560,256 0,699 2,748 1,921 0,489 2801,282 313887,266 1569436,332 2,236 1252,771 701873,265
10 419,316 1,000 2,623 2,623 1,000 4193,163 175826,122 1758261,224 3,162 1325,994 556011,019
20 292,420 1,301 2,466 3,208 1,693 5848,397 85509,358 1710187,168 4,472 1307,741 382409,476
30 231,942 1,477 2,365 3,494 2,182 6958,262 53797,122 1613913,652 5,477 1270,399 294658,971
40 195,420 1,602 2,291 3,670 2,567 7816,813 38189,102 1527564,061 6,325 1235,947 241529,085
60 152,278 1,778 2,183 3,881 3,162 9136,673 23188,551 1391313,084 7,746 1179,539 179617,747
80 126,971 1,903 2,104 4,004 3,622 10157,667 16121,595 1289727,563 8,944 1135,662 144195,925
120 97,727 2,079 1,990 4,138 4,323 11727,254 9550,589 1146070,698 10,954 1070,547 104621,462
Jumlah 2076,331 11,840 18,770 26,938 19,036 58639,510 716069,705 12006473,780 49,317 9778,601 2604916,950
64
Tabel 4.21 Perhitungan Intensitas Curah Hujan Priode Ulang 50 Tahun
T I Log t x
Log t Log I Log t² txI I² t x I² √t Ix√t I² x √ t
Log I
(menit) (mm/menit)
5 725,279 0,699 2,861 1,999 0,489 3626,397 526030,100 2630150,5 2,236 1621,774 1176239,062
10 542,825 1,000 2,735 2,735 1,000 5428,254 294659,397 2946593,974 3,162 1716,565 931794,830
20 378,552 1,301 2,578 3,354 1,693 7571,035 143301,437 2866028,742 4,472 1692,935 640863,509
30 300,260 1,477 2,477 3,660 2,182 9007,810 90156,271 2704688,119 5,477 1644,594 493806,231
40 252,981 1,602 2,403 3,850 2,567 10119,246 63999,464 2559978,572 6,325 1599,993 404768,152
60 197,131 1,778 2,295 4,080 3,162 11827,869 38860,691 2331641,449 7,746 1526,971 301013,617
80 164,370 1,903 2,216 4,217 3,622 13149,597 27017,483 2161398,668 8,944 1470,170 241651,717
120 126,513 2,079 2,102 4,371 4,323 15181,503 16005,419 1920650,337 10,954 1385,875 175330,586
Jumlah 2687,912 11,840 19,667 28,266 19,036 75911,711 1200030,263 20121130,360 49,317 12658,877 4365467,704
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
65
Tabel 4.22 Perhitungan Intensitas Curah Hujan Priode Ulang 100 Tahun
T I Log t x
Log t Log I Log t² txI I² t x I² √t Ix√t I² x √ t
Log I
(menit) (mm/menit)
5 863,130 0,699 2,936 2,052 0,489 4315,649 744993,193 3724965,964 2,236 1930,017 1665855,422
10 645,998 1,000 2,810 2,810 1,000 6459,977 417313,088 4173130,877 3,162 2042,824 1319659,855
20 450,501 1,301 2,654 3,453 1,693 9010,028 202951,495 4059029,898 4,472 2014,703 907626,677
30 357,329 1,477 2,553 3,771 2,182 10719,884 127684,343 3830530,300 5,477 1957,174 699355,951
40 301,064 1,602 2,479 3,971 2,567 12042,565 90639,614 3625584,562 6,325 1904,097 573255,253
60 234,599 1,778 2,370 4,215 3,162 14075,939 55036,680 3302200,782 7,746 1817,196 426312,288
80 195,611 1,903 2,291 4,361 3,622 15648,881 38263,668 3061093,451 8,944 1749,598 342240,652
120 150,558 2,079 2,178 4,528 4,323 18066,983 22667,769 2720132,225 10,954 1649,282 248312,963
Jumlah 3198,791 11,840 20,271 29,161 19,036 90339,906 1699549,849 28496668,060 49,317 15064,892 6182619,061
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
66
67
Tabel 4.23 Perhitungan Intensitas Curah Hujan Priode Ulang Tiga Metode
(T) a B A b a N log a
d. Talbot
e. Ishiguro
836,759 x 3940,766−8×423059,889
b= = -0,378
8 x116295,596−836,7592
f. Sherman
𝑎
I=
𝑡+𝑏
800 801.563
700
673.545 659.108
600
INTENSITAS (mm)
DURASI (MENIT)
70
71
𝑎
I=
√𝑡+ 𝑏
800 783.254
700
622.05 Periode Ulang (mm/menit)
605.04
INTENSITAS (mm)
600
2 Tahun
522.702 Periode Ulang (mm/menit)
500 483.959 5 Tahun
Periode Ulang (mm/menit)
403.772 423.036 10 Tahun
400
374.15 355.473 Periode Ulang (mm/menit)
322.969 339.654
300 20 Tahun
274.592 285.408 291.256 Periode Ulang (mm/menit)
243.83 249.688 244.74 235.068
219.641 220.469 50 Tahun
200 189.054 197.525 202.186
162.72 169.805 176.349 169.894 163.758
136.335 151.221 152.582 137.604
116.909 122.048 131.238
100 110.66 94.355 104.975 106.295
88.849 76.189 81.156 85.023
61.491 52.889 65.732
42.837
0
5 10 20 30 40 60 80 120
DURASI (MENIT)
72
73
𝑎
I = 𝑡𝑛
2 5
(menit) Tahun Tahun 10 Tahun 20 Tahun 50 Tahun 100 Tahun
800
778.870
700
INTENSITAS (mm)
DURASI (MENIT)
74
Tabel 4.27 Perhitungan Standar Deviasi Rumus Talbot, Ishiguro, Sherman Priode Ulang 2 Tahun
I Terukur I Rumus
No
(menit) Pi (2 Tahun) Talbot Ishiguro Sherman
1 2 3 4 = (2-3)² 5 6 = (2-5)² 7 8 = (2-7)²
1 5 225,783 209,678 259,371 243,830 325,719 242,453 277,912
2 10 168,984 172,414 11,762 162,720 39,242 165,075 15,279
3 20 117,845 127,201 87,537 110,660 51,617 112,392 29,734
4 30 93,472 100,775 53,321 88,849 21,379 89,759 13,789
5 40 78,754 83,440 21,954 76,189 6,582 76,522 4,981
6 60 61,368 62,082 0,509 61,491 0,015 61,113 0,065
7 80 51,169 49,429 3,028 52,889 2,958 52,101 0,868
8 120 39,384 35,116 18,217 42,837 11,922 41,609 4,950
Jumlah 455,698 459,435 347,577
Standar Deviasi 7,481 7,512 6,515
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
75
Tabel 4.28 Perhitungan Standar Deviasi Rumus Talbot, Ishiguro, sherman Priode Ulang 5 Tahun
I Terukur I Rumus
No
(menit) Pi (2 Tahun) Talbot Ishiguro Sherman
76
Tabel 4.29 Perhitungan Standar Deviasi Rumus Talbot, Ishiguro, sherman Priode Ulang 10 Tahun
I Terukur I Rumus
No
(menit) Pi (2 Tahun) Talbot Ishiguro Sherman
77
Tabel 4.30 Perhitungan Standar Deviasi Rumus Talbot, Ishiguro, sherman Priode Ulang 20 Tahun
I Terukur I Rumus
No
(menit) Pi (2 Tahun) Talbot Ishiguro Sherman
78
Tabel 4.31 Perhitungan Standar Deviasi Rumus Talbot, Ishiguro, sherman Priode Ulang 50 Tahun
I Terukur I Rumus
No
(menit) Pi (2 Tahun) Talbot Ishiguro Sherman
79
Tabel 4.32 Perhitungan Standar Deviasi Rumus Talbot, Ishiguro, sherman Priode Ulang 100 Tahun
I Terukur I Rumus
No
(menit) Pi (2 Tahun) Talbot Ishiguro Sherman
80
81
Periode Ulang
No Metode Talbot Metode Ishiguro Metode Sherman
(Tahun)
1 2 7,481 7,512 6,515
2 5 11,538 11,585 10,065
3 10 14,947 15,008 13,045
4 20 18,701 18,778 16,325
5 50 24,224 24,323 21,150
6 100 35,108 28,953 25,178
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
Dari analisis data tersebut diatas dapat dipilih rumus sebagai persamaan regresi
[Link] pada tabel 4.33, dapat disimpulkan bahwa rumus yang sesuai untuk
menentukan Kurve IDF dengan periode ulang 2, 5, 10, 20, 50 dan 100 tahun adalah
500
483.959
481.279
416.172
400
INTENSITAS (mm)
342.210
327.681
322.969
300 Metode Talbot 10 Tahun (mm)
252.471 Metode Ishiguro 10 Tahun (mm)
223.102
219.641
200 200.019 Metode Sherman 10 Tahun (mm)
178.175
176.349 165.613
151.900
151.221
123.221
122.048
121.311
100 104.975
103.422
98.108 85.023
82.595
69.698
0
5 10 20 30 40 60 80 120
DURASI (MENIT)
82
83
Daerah tangkapan yang diambil pada studi kasus pada jalan Pattimura
daerah dipilih berdasarkan area pengaliran yang mengalir ke arah drainase studi
kasus. Berikut data luas area dengan pembagian zona, pada tabel di bawah ini :
Jumlah 1000 1
Jumlah 1000 1
Berikut langkah mencari kecepatan aliran (V) dan kemiringan saluran (So)
dibawah ini.
85
1–2 0,60
2–4 0,90
4–6 1,20
6–10 1,50
10–15 2,40
1) Mencari kecepatan aliran (V) dan kemiringan saluran (So) untuk saluran 1.
Karena beda tinggi kontur tanah 8 meter, maka kecepatan aliran (V) 1,50 m/detik
untuk saluran 1.
8
So = = 0,022 m
350
2). Mencari kecepatan aliran (V) dan kemiringan saluran (So) untuk saluran 2.
Karena beda tinggi kontur tanah 7 meter, maka kecepatan aliran (V) 1,50 m/detik
untuk saluran 2.
7
So = = 0,020 m
350
3) Mencari kecepatan aliran (V) dan kemiringan saluran (So) untuk saluran 3.
Karena beda tinggi kontur tanah 5 meter, maka kecepatan aliran (V) 1,20 m/detik
untuk saluran 3.
5
So = = 0,014 m
300
yang ada di jalan Pattimura, rata - rata Perumahan rapat Maka dalam perencanaan
drainase ini, untuk besarnya nilai koefisien pengaliran (C) diambil sesuai zona.
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan untuk mengalirkan air dari
titik yang paling jauh pada daerah aliran ke titik kontrol yang ditentukan di bagian
hilir suatu aliran. Rumus yang dipakai dalam waktu konsentrasi harga To, Td, dan Tc
dapat diperoleh rumus - rumus emperis, salah satunya adalah rumus kirpich, seperti
0,0195 LS 0,77
To =
60
( )
√So
LT
Td =
3600 x V
350
Td = = 0,064 jam
3600 x 1,50
Tc = To + Td
Untuk perhitungan waktu konsentrasi (To, Td, dan Tc) untuk saluran selanjutnya bisa
mengalirkan lebih sedikit air hujan dibandingkan dengan daerah yang tidak memiliki
cekungan sama sekali. Berikut rumus yang digunakan dalam perhitungan koefisien
2 Tc
Cs =
2 Tc+Td
2 x 0,178
Cs = = 0,735
2 (0,178+ 0,064)
𝑅24 24 2
It = ×( )3
24 𝑇𝑐
121,298 24 2
It = ×( )3 = 132,893 mm/jam
24 0,178
Perhitungan Intensitas terukur (It) untuk saluran selanjutnya dapat dilihat pada tabel
4.40.
QR = 0,[Link].I.A
Perhitungan debit rencana untuk saluran selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4.40.
89
Dimana :
Cs =Koefisien tampungan.
C = Koefisien pengaliran.
Tc = Waktu konsentrasi(jam).
Tabel 4.40Hasil Perhitungan Debit Rencana Persaluran QR = 0,[Link].I.A
No Saluran A LS LT V So C To Td Tc Cs I It QR
1 Saluran 1 0,3179 350 350 1,50 0,022 0,70 0,114 0,064 0,178 0,735 121,298 132,893 6,042
2 Saluran 2 0,2655 350 350 1,50 0,020 0,70 0,133 0,064 0,197 0,754 121,298 124,204 4,838
3 Saluran 3 0,2528 300 300 1,20 0,014 0,70 0,135 0,081 0,216 0,727 121,298 116,810 4,177
QR Rata-rata 5,019
Keterangan :
A = Luas catchment area (Km2). LS = Jarak yang ditempuh aliran di dalam saluran (m).
QR = Debit rencana (m3/detik). QR Total = Debit total (m3/detik). QT = Debit Eksisting (m3/detik).
90
QRRata - rata = Debit rata - rata (m3/detik).
Td = Conduit time, waktu yang diperlukan air hujan untuk mengalir di dalam saluran sampai ke tempat pengukuran (jam).
To =Inlet time, waktu yang diperlukan air hujan untuk mengalir dipermukaan tanah dari titik terjauh kesaluran terdekat (jam).
It = Intensitas Terukur
91
92
eksisting drainase berpenampang persegi panjang dengan lebar 0,805 m, tinggi 0,9
m. Dinding saluran beton dengan nilai koefisien manning 0,013 dan Debit rencana
h = 0,9 m
b = 0,805 m
a. Lebar saluran
b = 0,805 m
b. Tinggi saluran
h = 0,9 m
c. Tinggi jagaan
F = 10% × H
d. Kemiringan (S)
Jarak = 1000m
𝑘𝑜𝑛𝑡𝑢𝑟𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖−𝑘𝑜𝑛𝑡𝑢𝑟𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ
S=
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘
36−16
S= = 0,020 m
1000
𝐴 0,725
R= = = 0,278
𝑃 2,605
1
V = × 𝑅32 × 𝑆21
𝑛
94
1
V= × 0,27823 × 0,02012 = 4,634m3 /detik
0,013
Q=A×V
Dari hasil perhitungan debit kontrol (QT) di dapat 3,359 m3/detik lebih kecil
dari (QR) 5,019m3 /detik (Tidak Aman) maka perlu direncanakan redesain pada
dimensi saluran yang lebih aman pada Jalan Pattimura sebagai berikut:
95
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Dari data curah hujan selama 10 Tahun (2009-2018) di dapat intensitas hujan
dengan durasi 60 mm/jam sebesar 121,298 mm/jam dari rumus Sherman, dan
8,547m3 /detik
3. Untuk analisis saluran yamg ramah ligkungan dan ekonomis didapat dari kolam
m3 /detik
5.2 Saran
1. Saluran drainase yang kurang perawatan, serta dipenuhi sampah dan sedimentasi
2. Perlu himbauan terhadap masyarakat setempat dan sekitar jalan Pattimura akan
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Sultan Thaha Kota Jambi.
97
DOKUMENTASI
BULAN
NO KETERANGAN SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER JANUARI
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengumpulan persyaratan
1.
permohonan Tugas Akhir