BAB II
GAMBARAN UMUM BPJS KETENAGAKERJAAN
A. Sejarah Berdirinya BPJS Ketenagakerjaan
Penyelenggaraan program jaminan sosial merupakan salah satu tangung
jawab dan kewajiban Negara - untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi
kepada masyarakat. Sesuai dengan kondisi kemampuan keuangan Negara. Indonesia
seperti halnya negara berkembang lainnya, mengembangkan program jaminan sosial
berdasarkan funded social security, yaitu jaminan sosial yang didanai oleh peserta
dan masih terbatas pada masyarakat pekerja di sektor formal.
Sejarah terbentuknya PT Jamsostek (Persero) mengalami proses yang
panjang, dimulai dari UU No.33/1947 jo UU No.2/1951 tentang kecelakaan kerja,
Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.48/1952 jo PMP No.8/1956 tentang
pengaturan bantuan untuk usaha penyelenggaraan kesehatan buruh, PMP No.15/1957
tentang pembentukan Yayasan Sosial Buruh, PMP No.5/1964 tentang pembentukan
Yayasan Dana Jaminan Sosial (YDJS), diberlakukannya UU No.14/1969 tentang
Pokok-pokok Tenaga Kerja. Secara kronologis proses lahirnya asuransi sosial tenaga
kerja semakin transparan.
Setelah mengalami kemajuan dan perkembangan, baik menyangkut landasan
hukum, bentuk perlindungan maupun cara penyelenggaraan, pada tahun 1977
diperoleh suatu tonggak sejarah penting dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah
18
19
(PP) No.33 tahun 1977 tentang pelaksanaan program asuransi sosial tenaga kerja
(ASTEK), yang mewajibkan setiap pemberi kerja/pengusaha swasta dan BUMN
untuk mengikuti program ASTEK. Terbit pula PP No.34/1977 tentang pembentukan
wadah penyelenggara ASTEK yaitu Perum Astek.
Tonggak penting berikutnya adalah lahirnya UU No.3 tahun 1992 tentang
Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Dan melalui PP No.36/1995 ditetapkannya
PT. Jamsostek sebagai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Program
Jamsostek memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi
tenaga kerja dan keluarganya, dengan memberikan kepastian berlangsungnya arus
penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya
penghasilan yang hilang, akibat risiko sosial.
Selanjutnya pada akhir tahun 2004, Pemerintah juga menerbitkan UU
Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Undang-undang itu
berhubungan dengan Amandemen UUD 1945 tentang perubahan pasal 34 ayat 2,
yang kini berbunyi: "Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh
rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan
martabat kemanusiaan". Manfaat perlindungan tersebut dapat memberikan rasa aman
kepada pekerja sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatkan motivasi
maupun produktivitas kerja.
Kiprah Perusahaan PT. Jamsostek (Persero) yang mengedepankan
kepentingan dan hak normatif Tenaga Kerja di Indonesia dengan memberikan
20
perlindungan 4 (empat) program, yang mencakup Program Jaminan Kecelakaan
Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya terus
berlanjutnya hingga berlakunya UU No 24 Tahun 2011.
Tahun 2011, ditetapkanlah UU No 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial. Sesuai dengan amanat undang-undang, tanggal 1
Januri 2014 PT Jamsostek akan berubah menjadi Badan Hukum Publik. PT
Jamsostek (Persero) yang bertransformsi menjadi BPJS (Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial) Ketenagakerjaan tetap dipercaya untuk menyelenggarakan program
jaminan sosial tenaga kerja, yang meliputi JKK, JKM, JHT dengan penambahan
Jaminan Pensiun mulai 1 Juli 2015.
Menyadari besar dan mulianya tanggung jawab tersebut, BPJS
Ketenagakerjaan pun terus meningkatkan kompetensi di seluruh lini pelayanan
sambil mengembangkan berbagai program dan manfaat yang langsung dapat
dinikmati oleh pekerja dan keluarganya.
Kini dengan sistem penyelenggaraan yang semakin maju, program BPJS
Ketenagakerjaan tidak hanya memberikan manfaat kepada pekerja dan pengusaha
saja, tetapi juga memberikan kontribusi penting bagi peningkatan pertumbuhan
ekonomi bangsa dan kesejahteraan masyarakat Indonesia1.
1
[Link] di akses tanggal 30 Maret
2016 pukul 15.45
21
B. Visi, Misi dan Prinsip BPJS Ketenagakerjaan
1. Visi
Menjadi Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berkelas dunia,
terpercaya, bersahabat dan unggul dalam Operasional dan Pelayanan.
2. Misi
Sebagai badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang memenuhi
perlindungan dasar bagi tenaga kerja serta menjadi mitra terpercaya bagi:
a) Tenaga Kerja, dengan memberikan perlindungan yang layak bagi tenaga
kerja dan keluarga.
b) Pengusaha, dengan menjadi mitra terpercaya untuk memberikan
perlindungan kepada tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas.
c) Negara, dengan berperan serta dalam pembangunan2.
BPJS Ketenagakerjaan dilandasi filosofi kemandirian dan harga diri untuk
mengatasi risiko sosial ekonomi. Kemandirian berarti tidak tergantung orang lain
dalam membiayai perawatan pada waktu sakit, kehidupan dihari tua maupun
keluarganya bila meninggal dunia. Harga diri berarti jaminan tersebut diperoleh
sebagai hak dan bukan dari belas kasihan orang lain. Agar pembiayaan dan
manfaatnya optimal, pelaksanaan program BPJS Ketenagakerjaan dilakukan secara
2
[Link] di akses tanggal 30
Maret 2016 pukul 15.45
22
gotong royong, dimana yang muda membantu yang tua, yang sehat membantu yang
sakit dan yang berpenghasilan tinggi membantu yang berpenghasilan rendah.
Motto BPJS Ketenagakerjaan adalah “ Menjadi Jembatan Menuju
Kesejahteraan Pekerja “ BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional
berdasarkan asas:
a. Kemanusiaan;
b. Manfaat; dan
c. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Menurut UU RI No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional, BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan
prinsip:
1) Kegotongroyongan; adalah prinsip kebersamaan antar peserta dalam
menanggung beban biaya Jaminan Sosial, yang diwujudkan dengan
kewajiban setiap peserta membayar iuran sesuai dengan tingkat gaji, upah,
atau penghasilannya. Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong
royong dari peserta yang mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam
bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat; peserta yang beresiko rendah
membantu yang beresiko tinggi; dan peserta yang sehat membantu yang
sakit. Melalui prinsip kegotong royongan ini, jaminan sosial dapat
menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
23
2) Nirlaba; adalah prinsip pengelolaan usaha yang mengutamakan penggunaan
hasil pengembangan dana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya dari
seluruh peserta3.
3) Keterbukaan; adalah prinsip mempermudah akses informasi yang lengkap,
benar, dan jelas bagi setiap peserta.
4) Kehati-Hatian; adalah prinsip pengelolaan dana secara cermat, teliti, aman,
dan tertib.
5) Akuntabilitas; adalah prinsip pelaksanaan program dan pengelolaan
keuangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
6) Portabilitas; Adalah prinsip memberikan jaminan yang berkelanjutan
meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
7) Kepesertaan Bersifat Wajib; adalah prinsip yang mengharuskan seluruh
penduduk menjadi peserta jaminan sosial, yang dilaksanakan secara
bertahap.
8) Dana Amanat; adalah bahwa iuran dan hasil pengembangannya merupakan
dana titipan dari peserta untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan
peserta jaminan sosial.
9) Hasil Pengelolaan Dana Jaminan Sosial Dipergunakan Seluruhnya Untuk
Pengembangan Program dan Untuk Sebesar-Besar Kepentingan Peserta.
3
[Link] di akses tanggal 2 April 2016 pukul 10.25
24
adalah hasil berupa deviden dari pemegang saham yang dikembalikan untuk
kepentingan peserta jaminan sosial.
Nilai-Nilai Perusahaan (IPTIK) BPJS Ketenagakerjaan adalah :
a) Iman: Taqwa, berfikir positif, tanggung jawab, pelayanan tulus ikhlas.
b) Profesional: Berprestasi, bermental unggul, proaktif dan bersikap positif
terhadap perubahan dan pembaharuan.
c) Teladan: Berpandangan jauh kedepan, penghargaan dan pembimbingan
(reward & encouragement), pemberdayaan.
d) Integritas: Berani, komitmen, keterbukaan.
e) Kerjasama: Kebersamaan, menghargai pendapat, menghargai orang lain.
Etika Kerja Perusahaan (TOPAS) BPJS Ketenagakerjaan adalah :
1) Teamwork: Memiliki kemampuan dalam membangun kerjasama dengan
orang lain atau dengan kelompok untuk mencapai tujuan perusahaan.
2) Open Mind: Memiliki kemampuan untuk membuka pikiran dan menerima
gagasangagasan baru yang lebih baik.
3) Passion: Bersemangat dan antusias dalam melaksanakan pekerjaan.
4) Action: Segera melaksanakan rencana/pekerjaan/tugas yang telah disepakati
dan ditetapkan bersama
25
5) Sense: Rasa memiliki, kepedulian, ikut bertanggung jawab dan memiliki
inisiatif yang tinggi untuk memecahkan masalah perusahaan4.
C. Fungsi, Tugas dan Wewenang BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan berfungsi menyelenggarakan 4 program, yaitu
program Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Pensiun, Jaminan Kematian dan
Jaminan Hari Tua.
Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana tersebut diatas BPJS bertugas
untuk:
1. Melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta.
2. Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja.
3. Menerima bantuan iuran dari Pemerintah.
4. Mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentingan peserta.
5. Mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial.
6. Membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai
dengan ketentuan program jaminan sosial.
7. Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan
sosial kepada peserta dan masyarakat.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud di atas BPJS
berwenang:
1. Menagih pembayaran iuran.
4
[Link] di akses tanggal 30
Maret 2016 pukul 15.45
26
2. Menempatkan Dana Jaminan Sosial untuk investasi jangka pendek dan
jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas,
kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai.
3. Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan
pemberi kerja dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan jaminan sosial nasional.
4. Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai besar
pembayaran fasilitas kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang
ditetapkan oleh Pemerintah.
5. Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan.
6. Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi kerja yang
tidak memenuhi kewajibannya.
7. Melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai
ketidakpatuhannya dalam membayar iuran atau dalam memenuhi
kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
8. Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraan
program jaminan sosial.
9. Kewenangan menagih pembayaran iuran dalam arti meminta pembayaran
dalam hal terjadi penunggakan, kemacetan, atau kekurangan pembayaran,
kewenangan melakukan pengawasan dan kewenangan mengenakan sanksi
27
administratif yang diberikan kepada BPJS memperkuat kedudukan BPJS
sebagai badan hukum publik.
Menurut Undang – undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggaraan Jaminan Sosial, Dewan Pengawas terdiri atas 2 (dua) orang
unsur Pemerintah, 2 (dua) orang unsur Pekerja, dan 2 (dua) orang unsur Pemberi
Kerja, serta 1 (satu) orang unsur tokoh masyarakat. Anggota Dewan Pengawas
diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Salah seorang dari anggota Dewan
Pengawas ditetapkan sebagai ketua Dewan Pengawas oleh Presiden. Dalam
menjalankan fungsi, Dewan Pengawas bertugas untuk:
1. Melakukan pengawasan atas kebijakan pengelolaan BPJS dan kinerja
Direksi;
2. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan
Dana Jaminan Sosial oleh Direksi;
3. Memberikan saran, nasihat, dan pertimbangan kepada Direksi mengenai
kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan BPJS; dan
4. Menyampaikan laporan pengawasan penyelenggaraan Jaminan Sosial
sebagai bagian dari laporan BPJS kepada Presiden dengan tembusan
kepada DJSN.
D. Struktur Organisasi BPJS Ketenagakerjaan Cabang Serang
Adapun struktur organisasi BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Serang
dapat dilihat pada gambar berikut ini :
28
STRUKTUR ORGANISASI
BPJS KETENAGAKERJAAN SERANG
NASIPIYANTO
KEPALA KANTOR CABANG
ESTHA ANJASTAMA
SEKRETARIS KANTOR
CABANG
EFFI MUHAMMAD AGUS TEGUH KUSWINANDA BAYU HARY D. M MASBUKI MATTAIB ZULFIKAR. T
LOVITA AZ FANANI JUANDA SETIAWAN KABID MARWANTO KA. KCP KA. KCP KA. KCP KA. KCP
GASRIK KABID PPU KABID UMUM KABID PBPU PELAYANAN KABID KEU. & CIKANDE CILEGON LEBAK LABUAN
& SDM TI
RICKY AKBAR N ENOS IRMAN JODY NURAGA NOVITA ANDRIYANS AGHNESYIA HERU SEPTYAWAN.
RO SANDRO. S PMAP PPU PNT. M. SABARIA YAH .F RASLAH H
PNT. MADYA PELAYANAN PNT. M. PMPP PMPP PMPP PMPP
UMUM KEUANGAN
M. JAFIR. L ABDOEL BUKHORI PUTRI AQUILA ALVERINA. C FADHEL MAYA RIDHO JULIADI
RO HARIS N. MUSLIM PNT. M. PNT. M. MUHAMMA DAMAYANTI MUHELMI SAPUTRA
PNT. MADYA M/RO PELAYANAN KEUANGAN D PMPP PMPP PNT. M.
SDM PMPP PELAYANAN
FIRDAUS. M. R. R ANJIRI. A. J. HRP PUPUT. Y. IPHON. H. P ARDY NUGROHO
PMAP PU PNT. MADYA UMUM LESTARI PNT. MADYA TI PMAP PU
CSO
RIDHO HANIF ZIMMY ANDIKA P. RATIH. K. DEWI IDIL F. RUSTAN
M/RO PNT. MUDA KEARSIPAN CSO PNT. M. KEUANGAN
[Link] MASLIM LESMANA
M/RO CSO
RIZQI EKA S. SHERLY. A. P
M/RO CSO
DYSKA GADIS MAILANA
INDRATAMA CSO
M/RO
SETYO DEANTORO
PNT. M. PELAYANAN
Gambar 1.1
Struktur Organisasi BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang serang
29
E. Program - program BPJS Ketenagakerjan
1. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
Jaminan Kecelakaan Kerja adalah manfaat berupa uang tunai dan/atau
pelayanan kesehatan yang diberikan pada saat peserta mengalami Kecelakaan
Kerja atau penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.
Memberikan perlindungan atas risiko-risiko kecelakaan yang terjadi dalam
hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah
menuju tempat kerja atau sebaliknya dan penyakit yang disebabkan oleh
lingkungan kerja. Iuran dibayarkan oleh pemberi kerja yang dibayarkan (bagi
peserta penerima upah), tergantung pada tingkat risiko lingkungan kerja, yang
besarannya dievaluasi paling lama 2 (tahun) sekali, dan mengacu pada table
sebagai berikut5:
No. Tingkat Risiko Lingkungan Kerja Besaran Persentase
1. Tingkat Risiko Sangat Rendah 0,24 % dari upah
sebulan
2. Tingkat Risiko Rendah 0,54 % dari upah
sebulan
3. Tingkat Risiko Sedang 0,89 % dari upah
sebulan
4. Tingkat Risiko Tinggi 1,27 % dari upah
sebulan
5. Tingkat Risiko Sangat Tinggi 1,74 % dari upah
sebulan
5
[Link]
(JKK).html di akses tanggal 30 Maret 2016 pukul 15.45
30
Untuk kecelakaan kerja yang terjadi sejak 1 Juli 2015, harus diperhatikan
adanya masa kadaluarsa klaim untuk mendapatkan manfaat. Masa kadaluarsa
klaim selama selama 2 (dua) tahun dihitung dari tanggal kejadian kecelakaan.
Perusahaan harus tertib melaporkan baik secara lisan (manual) ataupun elektronik
atas kejadian kecelakaan kepada BPJS Ketenagakerjaan selambatnya 2 kali 24
jam setelah kejadian kecelakaan, dan perusahaan segera menindaklanjuti laporan
yang telah dibuat tersebut dengan mengirimkan formulir kecelakaan kerja tahap I
yang telah dilengkapi dengan dokumen pendukung.
Manfaat yang diberikan, antara lain;
a. Pelayanan kesehatan (perawatan dan pengobatan), antara lain:
1) pemeriksaan dasar dan penunjang;
2) perawatan tingkat pertama dan lanjutan;
3) rawat inap dengan kelas ruang perawatan yang setara dengan kelas I
rumah sakit pemerintah;
4) perawatan intensif (HCU, ICCU, ICU);
5) penunjang diagnostic;
6) pengobatan dengan obat generik (diutamakan) dan/atau obat bermerk
(paten)
7) pelayanan khusus;
8) alat kesehatan dan implant;
9) jasa dokter/medis;
31
10) operasi;
11) transfusi darah (pelayanan darah); dan
12) rehabilitasi medik.
Pelayanan kesehatan diberikan tanpa batasan plafon sepanjang sesuai
kebutuhan medis (medical need). Pelayanan kesehatan diberikan melalui
fasilitas kesehatan yang telah bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan
(trauma center BPJS Ketenagakerjaan). Penggantian biaya (reimbursement)
atas perawatan dan pengobatan, hanya berlaku untuk daerah remote area atau
didaerah yang tidak ada trauma center BPJS Ketenagakerjaan. Penggantian
biaya diberikan sesuai ketentuan yang berlaku.
b. Santunan berbentuk uang, antara lain:
1) Penggantian biaya pengangkutan peserta yang mengalami kecelakaan
kerja/penyakit akibat kerja, ke rumah sakit dan/atau kerumahnya,
termasuk biaya pertolongan pertama pada kecelakaan;.
a) Angkutan darat/sungai/danau diganti maksimal Rp1.000.000,-
(satu juta rupiah).
b) Angkutan laut diganti maksimal Rp1.500.000 (satu setengah juta
rupiah).
c) Angkutan udara diganti maksimal Rp2.500.000 (dua setengah juta
rupiah).
32
Perhitungan biaya transportasi untuk kasus kecelakaan kerja yang
menggunakan lebih dari satu jenis transportasi berhak atas biaya maksimal
dari masing-masing angkutan yang digunakan dan diganti sesuai
bukti/kuitansi dengan penjumlahan batasan maksimal dari semua jenis
transportasi yang digunakan.
2) Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB), dengan perincian
penggantian, sebagai berikut:
a) 6 (enam) bulan pertama diberikan sebesar 100% dari upah.
b) 6 (enam) bulan kedua diberikan sebesar 75% dari upah.
c) 6 (enam) bulan ketiga dan seterusnya diberikan sebesar 50% dari
upah.
Dibayarkan kepada pemberi kerja (sebagai pengganti upah yang
diberikan kepada tenaga kerja) selama peserta tidak mampu bekerja
sampai peserta dinyatakan sembuh atau cacat sebagian anatomis atau
cacat sebagian fungsi atau cacat total tetap atau meninggal dunia
berdasarkan surat keterangan dokter yang merawat dan/atau dokter
penasehat.
3) Santunan Kecacatan
a) Cacat Sebagian Anatomis sebesar = % sesuai tabel x 80 x upah
sebulan.
33
b) Cacat Sebagian Fungsi = % berkurangnya fungsi x % sesuai tabel
x 80 x upah sebulan.
c) Cacat Total Tetap = 70% x 80 x upah sebulan.
Jenis dan besar persentase kecacatan dinyatakan oleh dokter yang
merawat atau dokter penasehat yang ditunjuk oleh Kementerian
Ketenagakerjaan RI, setelah peserta selesai menjalani perawatan dan
pengobatan. Tabel kecacatan diatur dalam Lampiran III Peraturan
Pemerintah No. 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program
Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
4) Santunan kematian dan biaya pemakaman
a) Santunan Kematian sebesar = 60 % x 80 x upah sebulan, sekurang
kurangnya sebesar Jaminan Kematian.
b) Biaya Pemakaman Rp3.000.000,-.
c) Santunan berkala selama 24 bulan yang dapat dibayar sekaligus=
24 x Rp200.000,- = Rp4.800.000,-.
c. Program Kembali Bekerja (Return to Work) berupa pendampingan kepada
peserta yang mengalami kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang
berpotensi mengalami kecacatan, mulai dari peserta masuk perawatan di
rumah sakit sampai peserta tersebut dapat kembali bekerja.
34
d. Kegiatan Promotif dan Preventif untuk mendukung terwujudnya
keselamatan dan kesehatan kerja sehingga dapat menurunkan angka
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
e. Rehabilitasi berupa alat bantu (orthese) dan/atau alat ganti (prothese) bagi
Peserta yang anggota badannya hilang atau tidak berfungsi akibat
Kecelakaan Kerja untuk setiap kasus dengan patokan harga yang
ditetapkan oleh Pusat Rehabilitasi Rumah Sakit Umum Pemerintah
ditambah 40% (empat puluh persen) dari harga tersebut serta biaya
rehabilitasi medik.
f. Beasiswa pendidikan anak bagi setiap peserta yang meninggal dunia atau
mengalami cacat total tetap akibat kecelakaan kerja sebesar
Rp12.000.000,- (dua belas juta rupiah) untuk setiap peserta.
g. Terdapat masa kadaluarsa klaim 2 tahun sejak kecelakaan terjadi dan tidak
dilaporkan oleh perusahaan.
2. Program Jaminan Kematian (JKM)
Jaminan kematian adalah Memberikan manfaat uang tunai yang diberikan
kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan
kerja6.
a. Iuran JKM
6
[Link]
(JKM).html di akses tanggal 30 Maret 2016 pukul 15.45
35
1) bagi peserta penerima gaji atau upah sebesar 0,30% (nol koma tiga
puluh persen) dari gaji atau upah sebulan.
2) Iuran JKM bagi peserta bukan penerima upah sebesar Rp 6.800,00
(enam ribu delapan ratus Rupiah) setiap bulan
b. Manfaat Jaminan Kematian dibayarkan kepada ahli waris peserta, apabila
peserta meninggal dunia dalam masa aktif (manfaat perlindungan 6 bulan
tidak berlaku lagi), terdiri atas:
1) Santunan sekaligus Rp16.200.000,00 (enam belas juta dua ratus ribu
rupiah);
2) Santunan berkala 24 x Rp200.000,00 = Rp4.800.000,00 (empat juta
delapan ratus ribu rupiah) yang dibayar sekaligus;
3) Biaya pemakaman sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan
4) Beasiswa pendidikan anak diberikan kepada setiap peserta yang
meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja dan telah memiliki
masa iur paling singkat 5 (lima) tahun yang diberikan sebanyak
Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) untuk setiap peserta.
3. Program Jaminan Pensiun
Jaminan pensiun adalah jaminan sosial yang bertujuan untuk
mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi peserta dan/atau ahli
warisnya dengan memberikan penghasilan setelah peserta memasuki usia
36
pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia 7. Manfaat pensiun
adalah sejumlah uang yang dibayarkan setiap bulan kepada peserta yang
memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau kepada ahli waris
bagi peserta yang meninggal dunia.
Peserta Program Jaminan Pensiun adalah pekerja yang terdaftar dan telah
membayar iuran. Peserta merupakan pekerja yang bekerja pada pemberi kerja
selain penyelenggara negara, yaitu peserta penerima upah yang terdiri dari:
1. Pekerja pada perusahaan
2. Pekerja pada orang perseorangan
Selain itu, pemberi kerja juga dapat mengikuti Program Jaminan Pensiun
sesuai dengan penahapan kepesertaan. Pekerja yang didaftarkan oleh pemberi
kerja mempunyai usia paling banyak 1 (satu) bulan sebelum memasuki usia
pensiun. Usia pensiun untuk pertama kali ditetapkan 56 tahun dan mulai 1
Januari 2019, usia pensiun menjadi 57 tahun dan selanjutnya bertambah 1
(satu) tahun untuk setiap 3 (tiga) tahun berikutnya sampai mencapai Usia
Pensiun 65 tahun.
Apabila pemberi kerja lalai tidak mendaftarkan Pekerjanya, Pekerja dapat
langsung mendaftarkan dirinya kepada BPJS Ketenagakerjaan. Apabila
peserta pindah tempat kerja, Peserta wajib memberitahukan kepesertaannya
kepada Pemberi Kerja tempat kerja baru dengan menunjukkan kartu peserta
7
[Link] di
akses tanggal 30 Maret 2016 pukul 15.45
37
BPJS Ketenagakerjaan. Selanjutnya Pemberi Kerja tempat kerja baru
meneruskan kepesertaan pekerja.
Iuran program jaminan pensiun dihitung sebesar 3%, yang terdiri atas 2%
iuran pemberi kerja dan 1% iuran [Link] setiap bulan yang dijadikan
dasar perhitungan iuran terdiri atas upah pokok dan tunjangan tetap. Untuk
tahun 2015 batas paling tinggi upah yang digunakan sebagai dasar
perhitungan ditetapkan sebesar Rp 7 Juta (tujuh juta rupiah).
BPJS Ketenagakerjaan menyesuaikan besaran upah dengan menggunakan
faktor pengali sebesar 1 (satu) ditambah tingkat pertumbuhan tahunan produk
domestik bruto tahun sebelumnya. Selanjutnya BPJS Ketenagakerjaan
menetapkan serta mengumumkan penyesuaian batas upah tertinggi paling
lama 1 (satu) bulan setelah lembaga yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan dibidang statistik (BPS) mengumumkan data produk domestik
bruto.
a) Mekanisme pembayaran iuran mengikuti program paket.
b) Pemberi kerja wajib membayar iuran paling lambat tanggal 15 bulan
berikutnya.
c) Pemberi kerja yang tidak memenuhi ketentuan pembayaran iuran
dikenakan denda sebesar 2% setiap bulan keterlambatan.
38
Manfaat Program Jaminan Pensiun
1. Manfaat Pensiun Hari Tua (MPHT). Berupa Uang tunai bulanan yang
diberikan kepada peserta (yang memenuhi masa iuran minimum 15
tahun yang setara dengan 180 bulan) saat memasuki usia pensiun sampai
dengan meninggal dunia;
2. Manfaat Pensiun Cacat (MPC). Berupa Uang tunai bulanan yang
diberikan kepada peserta (kejadian yang menyebabkan cacat total tetap
terjadi paling sedikit 1 bulan menjadi peserta dan density rate minimal
80%) yang mengalami cacat total tetap akibat kecelakaan tidak dapat
bekerja kembali atau akibat penyakit sampai meninggal dunia. Manfaat
pensiun cacat ini diberikan sampai dengan meninggal dunia atau peserta
bekerja kembali;
3. Manfaat Pensiun Janda/Duda (MPJD). Berupa Uang tunai bulanan yang
diberikan kepada janda/duda yang menjadi ahli waris (terdaftar di BPJS
Ketenagakerjaan) sampai dengan meninggal dunia atau menikah lagi,
dengan kondisi peserta meninggal dunia bila masa iuran kurang dari 15
tahun, dimana masa iuran yang digunakan dalam menghitung manfaat
adalah 15 tahun dengan ketentuan memenuhi minimal 1 tahun
kepesertaan dan density rate 80% atau meninggal dunia pada saat
memperoleh manfaat pensiun MPHT.
39
4. Manfaat Pensiun Anak (MPA). Berupa Uang tunai bulanan yang
diberikan kepada anak yang menjadi ahli waris peserta (maksimal 2
orang anak yang didaftarkan pada program pensiun) sampai dengan usia
anak mencapai usia 23 (dua puluh tiga) tahun, atau bekerja, atau
menikah dengan kondisi peserta;
a) Meninggal dunia sebelum masa usia pensiun bila masa iur kurang dari
15 tahun, masa iuran yang digunakan dalam menghitung manfaat
adalah 15 tahun dengan ketentuan minimal kepesertaan 1 tahun dan
memenuhi density rate 80% dan tidak memiliki ahli waris janda/duda
atau
b) Meninggal dunia pada saat memperoleh manfaat pensiun MPHT dan
tidak memiliki ahli waris janda/duda atau
c) Janda/duda yang memperoleh manfaat pensiun MPHT meninggal
dunia.
5. Manfaat Pensiun Orang Tua (MPOT). Manfaat yang diberikan kepada
orang tua (bapak / ibu) yang menjadi ahli waris peserta lajang, bila masa
iur peserta lajang kurang dari 15 tahun, masa iur yang digunakan dalam
menghitung manfaat adalah 15 tahun dengan ketentuan memenuhi
minimal kepesertaan 1 tahun dan memenuhi density rate 80%.
40
6. Manfaat Lumpsum. Peserta tidak berhak atas manfaat pensiun bulanan,
akan tetapi berhak mendapatkan manfaat berupa akumulasi iurannya
ditambah hasil pengembangannya apabila:
a) Peserta memasuki Usia Pensiun dan tidak memenuhi masa iur
minimum 15 tahun
b) Mengalami cacat total tetap dan tidak memenuhi kejadian cacat
setelah minimal 1 bulan menjadi peserta dan minimal density rate
80%.
c) Peserta meninggal dunia dan tidak memenuhi masa kepesertaan
minimal 1 tahun menjadi peserta dan minimal density rate 80%.
7. Manfaat Pensiun diberikan berupa manfaat pasti yang ditetapkan sebagai
berikut:
a) Untuk 1 (satu) tahun pertama, Manfaat Pensiun dihitung berdasarkan
formula Manfaat Pensiun; dan
b) Untuk setiap 1 (satu) tahun selanjutnya, Manfaat Pensiun dihitung
sebesar Manfaat Pensiun dihitung sebesar Manfaat Pensiun tahun
sebelumnya dikali faktor indeksasi.
Formula Manfaat Pensiun adalah 1% (satu persen) dikali Masa iur
dibagi 12 (dua belas) bulan dikali rata-rata upah tahunan tertimbang selama
Masa Iur dibagi 12 (dua belas). Pembayaran Manfaat Pensiun dibayarkan
untuk pertama kali setelah dokumen pendukung secara lengkap dan
41
pembayaran Manfaat Pensiun bulan berikutnya setiap tanggal 1 bulan berjalan
dan apabila tanggal 1 jatuh pada hari libur, pembayaran dilaksanakan pada
hari kerja berikutnya.
Dalam hal peserta telah memasuki Usia Pensiun tetapi yang
bersangkutan diperkerjakan, Peserta dapat memilih untuk menerima Manfaat
Pensiun pada saat mencapai Usia Pensiun atau pada saat berhenti bekerja
dengan ketentuan paling lama 3 (tiga) tahun setelah Usia Pensiun. Penerima
manfaat pensiun adalah peserta atau ahli waris peserta yang berhak menerima
manfaat pensiun.